Citayam Fashion Week: Kelakar Para Makar

Awal muncul penuh cibiran, lambat laun dapat dukungan, pada akhirnya menjadi kenangan, karena Indonesia hanya senang dengan konten musiman

Malam teramat sulit dijinakkan, mata susah berdamai dengan kantuk, saya dan Puang Lolong pun membuka ponsel masing-masing. Seperti biasa, Puang Lolong membuka aplikasi TikTok yang menjadi ritualnya sebelum ia mengakhiri malam lalu hanyut dalam mimpi. Ia menatap ponselnya dengan pandangan khusyuk tanpa menoleh sedikit pun. Lalu, saya iseng memantau apa yang ditonton Puang Lolong.

Terlihat, konten TikTok itu mempertontonkan dua anak remaja, sedang diwawancara perihal asmara dan harga pakaian yang mereka kenakan. Dalih-dalih mereka mengundang gelak tawa bagi saya, lantaran mereka adalah bocil-bocil ingin menunjukkan kepercayaan dirinya dengan busana yang aneh, tetapi dengan harga murah. Walhasil, saya mencoba menggerakkan jemari menggeledah warta fenomena itu.

Tak butuh waktu lama saya menemukan konten itu. Rupanya, konten yang disaksikan Puang Lolong adalah fenomena Citayam Fashion Week yang mengundang perhatian sejagat maya.

Citayam Fashion Week ini dianggap sebagai kreasi anak bangsa +62, ajang adu konten, ajang adu fashion. Di balik ajang mereka, tentu kelihaian sang kreator dan desainer turut mengada dan menghiasi panggung lucu ini.  Kreator dan desainer berjalan beriringan, berkarib demi keuntungan, dan saling melengkapi kekurangan. Desainer selalu diterjang kalimat, “seberapa mampu menghasilkan produk berkualitas yang laku dijual”. Namun, kiwari, justru dengan sokongan bala tentara sang kreator memunculkan wacana,  “seberapa mampu menghasilkan konten yang laku dijual”. Baju, celana, tas, dan aksesoris lainnya, yah, bisa terjual melalui pertolongan sang kreator.

Citayam Fashion Week bermula dari seorang remaja bernama Abdul Sofial Lail, akrab disapa dengan sebutan Ale, senang dengan trend fashion Jepang yang lagi viral di pusat perbelanjaan Harajuku. Hingga, ia pun membuat konten dengan jumlah viewers dan subscribe melimpah ruah menjadi pundi-pundi rupiah.

Sontak, membuat Ale tercengang. Ia pun menyuarakan bahwa Indonesia saat ini, membutuhkan banyak anak muda untuk bisa berkarya, dan pemerintah perlu menyediakan wadah bagi para remaja untuk menyalurkan hobi mereka. “Mungkin disediain ajang atau event fashion week biar anak-anak di sini terorganisir, tujuan mereka ke sini enggak Cuma nongkrong doang. Tapi lebih ke hal yang positif,” pungkasnya. Itulah suara-suara generasi milenial yang berkarya dengan versi mereka. Konten yang dibuat tak perlu berupa informasi yang memperkaya wawasan, tapi cukup dengan konten yang menghibur para peminatnya.

Benar saja, dilansir dari Kompas.com, Anis Baswedan bertutur, “negara itu tidak mengatur lewat doorstop, negara itu tidak diatur lewat komentar, negara itu diatur lewat regulasi. Selama tidak ada regulasinya, berarti tidak ada larangan”. Tak lupa pula, Ridwan Kamil di akun Instagramnya tampak ikut lenggak-lenggok tebar pesona di panggung anak muda ini. Kelihatannya, itu juga sikap dukungan beliau.

Beberapa batang Surya tercabut dari wadahnya. Kujepit di sela-sela jemari sembari merenung. Saya pun menduga bahwa fenomena ini adalah petanda tatkala anak muda tidak menemukan ruang oleh budaya mainstream yang sering dikuasai oleh para elite penguasa yang punya debut di media massa atau ruang publik yang mewah. Pesona busana selama ini dikemudikan oleh artis papan atas dengan tampilan good looking, dan sponsor perusahaan. Kini, berusaha diubah oleh fenomena ini.

Kreativitas mereka berbusana nyentrik, tanpa adanya merek-merek ternama, mengingatkan saya kepada filsuf, Antonio Gramsci dengan teori hegemoninya. Bagaimana negara mampu merekayasa sedemikian rupa untuk menciptakan pemikiran bahwa semua berjalan dengan alami tanpa ada rekayasa.

Fungsi pakaian yang awalnya dirancang untuk perlindungan diri malah berubah menjadi petualangan mencari jati diri. Fashion menciptakan kelas sosial di tengah hiruk-pikuk masyarakat global. Fashion adalah hegemoni kultural yang ditanamkan melalui institusi masyarakat, seperti keluarga, pendidikan, agama, media massa, budaya populer dan sebagainya. Semua ini bentuk kesuksesan kapitalis dengan slogannya “Food, Fun, Fashion”.

Mengaitkan pendapat dari Gramsci. Belakangan ini, Citayam Fashion Week, bukan lagi jadi ajang adu gaya bagi kafilah dekil. Walakin, jadi ajang adu bisnis kaum borjuis. Mereka melirik dengan tatapan keserakahan, menilai bisa menjadi target pasar yang luas. Ada potensi bisnis yang bisa mendongkrak kekayaan, sehingga para kaum kapitalis mengincar dan memberikan tutur manis semanis madu, dengan kalimat pamungkas, “kami bagian dari kalian, kami ingin membantu kalian”. Di sinilah, praktek hegemoni dimainkan, merayu tetapi sebenarnya memaksa secara halus.

Perusahaan pun memproduksi model-model pakaian yang nyentrik dengan harga murah, kendati dengan kualitas bahan seadanya, meninabobokkan remaja agar hanyut dalam angan-angan pada ranah hiburan negeri ini. Benar saja, salah seorang artis tanah air, melihat peluang ini sebagai pasar dalam mengembangkan perusahaannya. Ia pun mendaftarkan merek Citayam Fashion Week ke Kemenhukam. Tentu saja, ia mendapat respon tak sedap dari netizen. Ahh, netizen kok dilawan, slebew. Itu baru dari seorang artis, belum lagi sekelas kapitalis handal yang sudah lihai memainkan irama ini.

INGAT! kapitalis tidak hanya bermain dengan perusahaan besar, jika melihat potensi keuntungan di kaum proletar, ia pun tampil bersandiwara di depan layar. Namun, di balik layar, mereka berkelakar dengan para makar. Manakala Citayam Fashion Week sudah dikuasai oleh para kaum elite, maka panggung ini, bukan lagi ajang adu fashion. Tapi, jadi ajang adu bisnis bagi kaum kapitalis, dan hanya meninggalkan sebuah kenangan, Citayam Fashion RIP.

Sumber gambar: https://lifestyle.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *