Indonesia: Makin Ke Sini Makin Ke Sana

Belakangan ini, yang menduduki singgasana kerajaan adalah rating. Kritik dan masukan netizen bukanlah standarisasi bagus yang bisa mendongkrak popularitas. Suara netizen bak kicauan burung, sepintas merdu terdengar oleh kuping-kuping aparatur negara. Masuk di telinga kanan keluar di telinga kiri. Inilah Indonesia, makin ke sini, malah makin ke sana.

Pementasan kasus dan fenomena liar dari Juli sampai Agustus turut menghiasi jagat maya, mulai dari fenomena Citayam Fashion Week, perseteruan Pesulap Merah dengan Gus Samsudin, karyawan Alfamart yang dianggap melanggar UU ITE, sampai pada dramatisasi Sambo yang sampai detik ini, tak jua menemukan ujung jangkanya.

Di tengah arus informasi yang semakin liar, jua mengingatkan saya beberapa hari lalu pada HUT RI ke-77 tahun, muncul bocah cilik mengenakan blangkon tampil di panggung kecil yang disediakan panitia pelaksana upacara kemerdekaan, bocil itu bernama Farel Prayoga. Farel melantunkan irama-irama dangdut koplo, mencoba menghibur para pengurus negeri lewat lagu  “Ojo Dibandingke”. Fenomena ini menyita perhatian netizen. Lagu yang dinyanyikan Farel membuat para aparatur negara jua ikut meronggeng menikmati lagu itu.

Penampilan Farel sukses memukau para pengurus negeri di Istana Merdeka. Cover lagu yang khas dengan cengkok koplo dangdut yang meliuk-liuk, membuat Kemenkumham, Yasonna Laoly sigap menobatkan Farel menjadi Duta Kekayaan Intelektual Pelajar Bidang Seni dan Budaya tahun 2022. Seirama sigapnya Baim Wong ingin mendaftarkan CFW ke HAKI.

Namun, intelektualnya di mana sih? Bukankah intelektual itu cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan, lha kok iya cuman nyanyi lagu dan coveran doang bisa menjadi Duta Kekayaan Intelektual, bagaimana dengan pelajar-pelajar kita yang berhasil mengharumkan nama Indonesia lewat olimpiade dan karya seni lainnya? Lagi-lagi dan lagi-lagi, yang berpotensi akan terkalahkan oleh yang viralisasi. Sepintar itu Yasonna menobatkan? Ahh barangkali semua orang juga bakalan pintar kalau minum Tolak Angin. Makin aneh aja negeri wakanda ini.

Dilansir dari kanal Detikedu, Menurut Yasonna, “sosok Farel ini sangat menginspirasi pelajar Indonesia. Diharapkan Farel dapat menginspirasi para pelajar untuk menghormati, menghargai budaya tradisional dengan mengenalkan bahasa Jawa melalui lagu dan seni,”.

Farel diangkat jadi Duta Kekayaan Intelektual yah tentu meniscayakan tanggung jawab besar untuk merangkul anak-anak Indonesia melakukan hal-hal positif dalam bidang seni dan budaya. Namun, kebingungan saya, mungkinkah Farel punya kapasitas untuk bertanggung jawab melakukan hal itu? Meragukan iya, lha kok dengan entengnya mengangkat duta sembarangan tanpa melihat prestasi dan potensi, asal viral aja bisa jadi duta. Ngerti kan sekarang? Ngerti dong, masa nggak ngerti.

Anggun saja dengan kualitas suara indah nan menggelegar bak pria perkasa, sudah go international hanya jadi Duta Shampoo. Apa kabar juga dengan band Coklat yang merilis lagu “bendera” tapi tak jua jadi duta. Yah, keanehan ini rasa-rasanya sudah mendekati kegilaan, masih hangat jua di ingatan saya tahun 2016 lalu, Zaskia Gotik diangkat jadi Duta Pancasila, padahal nggak hafal Pancasila. Ahh sebentar lagi, bakalan banyak jadi duta di negeri ini, mungkin Gus Samsudin diangkat jadi Duta Dukun Indonesia, atau si Pesulap Merah diangkat jadi Duta Pemberantas Kebohongan, atau si Sambo diangkat jadi Duta Konsorsium 303. Indonesiaku makin ke sini, malah makin ke sana.

Hari kemerdekaan mestinya menjadi momen tepat memaksimalkan dan merapalkan doa untuk para pahlawan yang gugur demi kemakmuran negeri ini. Namun upacara kemerdekaan RI sekarang seperti ajang kesenian koplo saja. Hari kemerdekaan yang sakral diisi dengan lagu percintaan. Yah, saya sih respect untuk mempromosikan budaya Indonesia, tapi nggak gini juga sih. Memberikan apresiasi kepada Farel itu wajar saja, tapi jangan terlalu berlebihan.

Saya teringat dengan tokoh sufi Hazrat Inayat Khan. Khan ini, seorang tokoh sufi yang sukses dengan gerakan ajaran gaya musiknya, baik di Timur maupun di Barat. Pikiran-pikirannya dikenal sebagai tasawuf universal. Ajarannya membuat banyak non-muslim ikut berpartisipasi. Khan ini, mampu menyatukan gaya musik India Utara yang banyak pengaruh Persia-Arab dengan gaya musik India Selatan yang khas musik tradisionalnya. Dalam bimbingan kakeknya, Khan mewarisi bakat musik kakeknya dan gerakan dakwahnya menggunakan musik. Di umur 28 sampai 44 tahun, Khan keliling Eropa dan Amerika menyebarkan ajarannya. Nah, ini sudah jadi Duta Musik India dengan gaya musik sakralnya.

Menurut Khan, di sekeliling kita sebenarnya semua adalah musik. Manusia pun juga digambarkan oleh Khan sebagai musik. Manusia adalah miniatur alam semesta yang harus seirama dengan alam semesta. Dalam denyut nadinya, dalam detak jantungnya, dalam vibrasinya, semua adalah irama. Dan Jagalah irama alam semesta ini! Sebab, hanya manusialah yang berpotensi merusak irama semesta.

Maka, bagi saya, kiranya perlu diperkenalkan adalah musik yang punya nilai-nilai sakralitas. Contohnya pementasan sinrilik di daerah Sulawesi Selatan diiringi musik dan isi lagu sarat dengan nilai spiritual. Musik itu bisa jadi sarana pendidikan seperti yang diajarkan oleh Khan. Menurut Khan, sakralitas itu cakupannya ada tiga: love, harmony, beauty. Tiga hal ini yang dibawa Khan ke Barat.

Barat itu punya rasio yang keras, kapital melanglang buana, produk sains yang kaku. Cinta tidak bisa masuk dalam skema sains Barat, apalagi harmoni. Harmoni hanya bisa terjadi manakala kita hidup sejajar dengan alam.

Makanya, salah asuh dan salah memberi penghargaan tentu berbahaya. Mestinya, anak seperti Farel itu menyanyi dengan lagu anak-anak bertema sekolah, bermain, cita-cita, dan lainnya. Dan, ini sudah punya nilai pendidikan yang sakral.

Beginilah akibatnya manakala pemangku kebijakan hanya jadi legalisator tapi buta terhadap konten kreator. Semudah itu melegalkan duta untuk sesuatu yang viral sesaat. Alangkah lucunya negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *