Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Seni Memerdekakan Diri

Kadang kala, kita dituntut untuk sukses oleh orang-orang sekitar. Harus punya ini, bisa beli itu, jadi ini, dll. Padahal, bukankah definisi sukses antara saya, kamu, dan dia itu berbeda? Hal ini seringkali menjadi problematika di masyarakat, menyebabkan seseorang tidak mampu menjadi apa yang ia inginkan.

Sebagai generasi Z, saat ini sedang dihadapkan oleh suatu tantangan. Dituntut sukses berdasarkan definisi orang lain. Salah satunya, berasal dari standar kesuksesan para orang tua. Mempunyai banyak penghasilan, menduduki jabatan, memiliki rumah, dan sebagainya. Dituntut melakukan sesuatu hal, yang sebenarnya bukan tujuan hidup kita. 

Belum lagi terintimidasi oleh teman-teman sebaya yang telah sukses. Merintis bisnis di usia muda, memiliki karier cemerlang, hingga menikah muda. Parahnya, kita dituntut berdasarkan definisi sukses di media sosial. Yakni dengan kesibukan, merupakan sebuah kesuksesan.

Beberapa waktu lalu, saya melihat aktivitas teman-teman seperjuangan di media sosial. Hampir tiap waktu, mereka membagikan momen kesibukan. Ada yang sibuk dengan urusan pekerjaan, kuliah, hingga sekadar membagikan kegiatan sosialisasi.

Unggahan tersebut membuat diri ini menatapi nasib, sambil menelaah kondisi sekitar. Lamunan di kala itu, membuat saya menyadari sebuah kesalahan. Mendefinisikan kesuksesan sebagai materi, status sosial, hingga kekuasaan. Nyatanya kesuksesan merupakan hal yang sangat pribadi, dan tidak bisa disamakan untuk setiap orang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sukses berarti, berhasil; beruntung. Sementara Cambridge Dictionary memberikan pemahaman, bahwa sukses terjadi ketika individu berhasil mencapai hal yang benar-benar diinginkan. Sederhananya, sukses adalah pencapaian dari tujuan yang telah direncanakan.

Ini berarti, tingkatan kesuksesan bagi setiap orang berbeda-beda. Mungkin saja bagi sebagian orang, dengan memiliki kesibukan, banyak harta, bahagia merupakan kesuksesan. Termasuk kepada mereka yang terbiasa bangun kesiangan, jika berhasil bangun lebih pagi, itu sebuah kesuksesan.

Namun, ada kalanya seseorang salah dalam mendefinisikan kata sukses itu. Hal ini dapat dilihat berdasarkan pengalaman dari seseorang, menceritakan kisah hidupnya melalui media sosial. Sebut saja Ali, memiliki cita-cita hidup di kota besar dan bekerja pada perusahaan impian. Singkat cerita keinginannya terwujud. Namun ia sangat sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk bertemu keluarga. Meskipun demikian, dirinya terbilang sukses. 

Suatu waktu, ia merasa tersiksa batin. Selama berada di perantauan, telah melewati banyak momen penting di kampung halamannya. Mulai dari kerabat yang meninggal, adik kecelakaan, pernikahan kakak, hingga momen Idulfitri dan Iduladha yang dilaluinya seorang diri. Hal tersebut membuat dirinya stres, karena mengkhawatirkan beberapa peristiwa suram kedepan. Termasuk kesehatan kedua orang tuanya yang telah menua. Ali pun jatuh sakit dan dirawat pada sebuah rumah sakit, di daerah perantauannya.

Kejadian itu, membuatnya memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Meninggalkan semua pencapaian yang telah ia raih. Kini ia memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga, bisa merawat sekaligus menjadi tempat curahan hati kedua orang tuanya. Alhasil hidupnya lebih bahagia. Meskipun kondisi finansial tidak sebanyak dahulu, namun terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dari pengalaman Ali kita menyadari, manusia cenderung terobsesi pada kesuksesan. Membuatnya menjadi gila kerja, super sibuk, hingga lupa dengan kebahagiaan. 

Saya setuju dengan pemikiran Robert Holden mengenai generasi sibuk, yang dituangkan dalam bukunya Success Intelligence. Menyadarkan para pembaca, menjadi sibuk bukanlah jaminan sukses. Jadwal kerja sibuk bukan sebagai bukti pencapaian yang hebat. Melainkan yang mampu bekerja secara produktif dan hidup bahagia. 

Salah satu alasan mengapa banyak orang sukses tidak bahagia, bukan karena tidak cukup banyak mengakumulasi barang. Melainkan tidak benar-benar mengetahui, apa yang sebenarnya mereka inginkan. 

Mereka meraih banyak hal, tetapi kesibukan membuatnya tidak dapat menikmatinya. Dalam berbagai kondisi, kesibukan selalu menang. Mungkin kita memiliki pasangan, tapi tidak memiliki waktu bersamanya. Memiliki anak-anak yang tampaknya tumbuh terlalu cepat, membuat kita tidak memiliki waktu untuk mengurusnya, bahkan dalam sehari suaranya tidak sempat terdengar. Memiliki sahabat yang mengasyikkan, tapi jarang untuk kita temui. 

Dari sini saya mendefinisikan kesuksesan, sebagai pencapaian tujuan yang menghasilkan kebahagiaan. Kita tidak perlu membebani diri terlalu berat dengan definisi sukses orang lain. Impian kita tidak harus ditentukan oleh pemikiran orang lain. Yang harus kita lakukan, mendefinisikan sukses versi diri kita sendiri. 

Mungkin kita tidak menyadari, sebuah kesalahan yang mampu menghalangi kebahagiaan, yakni memprioritaskan orang lain. Kita seringkali menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain, mengikuti prespektifnya, hingga bertanggung jawab atas kebahagiaannya. Hal tersebut membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri. Inilah salah satu penghalang hidup sukses dan bahagia. Sebab, kebahagiaan tidak tercipta dari orang lain, melainkan dari pribadi masing-masing.

Kita hidup bukan untuk menyenangkan orang lain, melainkan bertanggung jawab untuk diri kita sendiri. Saya setuju dengan cetusan Gita Savitri, seorang konten kreator yang mengatakan, kita berhak untuk hidup mandiri. Artinya, tidak bergantung pada keinginan, perasaan, ataupun pemikiran orang lain. 

Untuk itu, mari berhenti berpikir tidak sehat tentang diri sendiri. Misalnya, membandingkan pencapaian kita dengan orang lain. Karena nyatanya, manusia memiliki waktu dan rezekinya masing-masing. Mungkin ada yang sudah sukses di usia muda, seperti Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, sukses di saat usianya masih 19 tahun.

Namun tidak dapat dimungkiri, ada juga yang sukses saat memasuki lanjut usia. Seperti Ray Kroc, sukses mengembangkan McDonald’s setelah berusia 52 tahun. Bahkan Kolonel Sanders, pendiri KFC, sukses setelah berusia 62 tahun. Ini membuktikan, kita memiliki waktu berbeda-beda untuk sukses. Sebab, kesuksesan bukan ajang perlombaan, melainkan sebuah proses menjadi lebih baik dari hari kemarin. Yang perlu kita lakukan, membandingkan diri hari ini dengan hari kemarin, bukan dengan orang lain. Karena jaminan dari kesuksesan adalah tindakan yang kita perbuat hari ini.

Jadi, kita memiliki definisi sukses yang berbeda-beda. Karenanya, kesuksesan bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk dicapai sesuai tempo masing-masing orang. Mari memerdekakan diri dengan merevolusi mindset, jangan biarkan orang lain mendikte dirimu!

Fokus pada tujuan dan menghiraukan segala cacian. Tetap berproses secara berkualitas, dengan menjadi versi terbaik dari diri. Selambat apa pun prosesmu, sepanjang tiap hari terjadi perbaikan, disitulah kesuksesan itu bermula dan terbentuk. Yang terpenting, bertindak dan konsisten!

The following two tabs change content below.

Sri Rahayu

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar. Salah satu peserta Kelas Menulis Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.

Latest posts by Sri Rahayu (see all)