Kalaliterasi

(Kelas Literasi Paradigma Institute)

Apokaliptik Sepak Bola

“Butuh seratus tahun lagi melihat seorang pesepak bola seperti Lionel Messi,” kata teman saya, yang saya tahu merupakan penggemar berat Inter Milan. Kami berdiskusi tentang piala dunia, aktivisme kemahasiswaan, dan sekelumit masalah dalam dunia akademik. Tidak lama, tapi tidak bisa juga dibilang singkat. Dan, setelah itu tidak ada euforia, setidaknya yang ditunjukkan olehnya, dan juga diri saya yang dikarenakan bukan penggemar Argentina. Tidak lama kami berpisah, dan pernyataannya yang tidak disangka itu terngiang-ngiang mengusik benak saya.

Mengapa membutuhkan waktu seratus tahun lamanya? Mengapa mesti orang seperti Lionel Messi? Bagaimana kalau tidak sampai seratus tahun, separuh penduduk dunia mulai meninggalkan sepak bola? Bagaimana jika dua puluh tahun saja, si kulit bundar sudah tidak lagi dimainkan di masa depan?

Barangkali abad 21 merupakan fase terakhir masyarakat dunia dapat menyaksikan sepak bola. Dan Lionel Messi merupakan prototype pesepak bola mutakhir dan akhir untuk saat ini. Sudah tidak ada lagi pesepak bola yang menyerupai dirinya. Hatta Cristiano Ronaldo sekalipun, lawan tanding yang kerap dipersandingkan media dan kedua penggemarnya. Messi disebut-disebut pemain bertalenta yang dilahirkan alam, dengan bakat tiada dua sehingga sepak bola menjadi lebih bermartabat dikarenakan pernah dimainkan seorang manusia dengan kemuliaan kaki kirinya.

Dia bak Achilles keturunan Hercules, anak Zeus setengah manusia setengah dewa yang dapat melakukan hal-hal di luar nalar melalui kehebatan kelahinya.

Lionel Messi karena itu tidak sekadar persoalan semantik, dari namanya yang benar-benar menjadi “juru selamat.” Ia bermain dengan tekun, menunduk seperti kutu (la pulga), membuat dirinya menjadi lebih kecil saat menggiring bola, berkelit benar-benar seperti kutu rambut, dan melalui kaki kirinya melahirkan sekeranjang gol yang tidak pernah diciptakan banyak pemain bola manapun. Dalam hal ini caranya bermain bagai anomali sepak bola, persis kelahiran Juru Selamat yang muncul di tengah-tengah keadaan masyarakat Jerusalem yang memburuk.

Oleh sebab itu bukan sekadar Argentina tapi bisa saja Lionel Messi penyelamat untuk sepak bola dunia, yang akan segera berakhir setelah namanya menutup jejeran legenda sepak bola, sejak era Zamora, Puskas, Kruyff, bahkan Diego Maradona, satu-satunya pesepak bola yang membuat penggemarnya menciptakan agama demi dirinya bernama Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona). Kedatangannya akan menutup buku catatan rekor sepak bola. Mengakhiri olahraga ini di muka bumi yang ditandai melalui fotonya yang sedang mencium bola dunia emas, yang tidak lama lagi akan menjadi foto iconik di mana-mana.

Sepak bola bukanlah agama, tapi fanatisme dapat muncul tanpa terduga sehingga membuat olahraga seperti sepak bola dapat membuat penggemarnya memberlakukannya seperti agama, dan menjadikan sang idola seperti tuhan. 1998 merupakan tahun terpenting bagi Iglesia Maradoniana yang didirikan oleh penggemar berat Maradona yaitu Hector Campomar, Alejandro Veron dan Hernan Amez, di Rosario Argentina. Sampai saat ini, gerakan ini aktif mengkampanyekan 10 ajaran agamanya yang menjadikan sepak bola sebagai ajang siar kasih sayang, dan menjadikan jersi Argentina sebagai jubah sucinya. Diperkirakan sekarang anggota mereka mencapai 200 ribu orang tersebar di 130 negara, dan menjadikan hari kelahiran Maradona sebagai hari natal mereka.

Belum lama ini perhelatan sepak bola dunia telah ditutup dengan pesta kemenangan Tim Tango setelah drama adu tendang 12 meter mengalahkan Perancis sebagai juara bertahan. Messi dinobatkan menjadi pemain terbaik di Lusail Iconic Stadium berkapasitas 88.000 penonton, menggunakan jubah hitam laiknya pandit agama, yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Pencapaiannya akan dianggap sebagai batas prestasi maksimal bagi pemain sepak bola, menjadi legenda, dan bisa jadi dianggap sebagai nabinya sepak bola dunia.

Di masa lalu hanya ada satu pemain yang menyita publik sepak bola karena gaya bermainnya yang tidak pernah ditemukan sebelumnya, bahkan Pele sekalipun, yang konon telah mencetak 1.279 gol di sepanjang karir sepak bolanya. Adalah Ronaldo Luís Nazário de Lima, yang belum genap 20 tahun dapat menyabet gelar Ballon d’or saat berkostum Barcelona di 1999. Karena itu ia dijuluki El Phenomenom, predikat yang mensinyalir suatu fenomena anomalistik dalam dunia sepak bola saat itu.

Tapi setelah itu dunia kulit bundar segera menyadari, sepak bola terus berkembang dan masih terus melahirkan talenta-talenta baru yang kehebatannya lebih dahsyat dari seorang Ronaldo. Sampai kemudian muncul nama-nama beken seperti Ronaldinho, Rooney, Eden Hazard, dan Cristiano Ronaldo, tapi tidak satupun yang cukup dapat menjadi pemain seperti Messi, pemain yang seolah-olah berasal dari dunia lain. Hanyalah Lionel Messi digadang merupakan titisan pesepak bola seperti Maradona, si Tangan Tuhan, karena baik postur, kecepatan, dan juga gaya driblenya yang mirip dengannya. Hingga akhirnya di partai final dalam menghadapi Perancis, Messi cs. dapat menorehkan kali ketiga bagi Argentina untuk merajai sepak bola seantero dunia. Suatu pencapaian kolektif bagi sepak bola Amerika Latin untuk dunia, dan sudah tentu menjadi tinta emas bagi Messi yang telah menggenapkan sejumlah gelar domestik dan dunia.

Menurut catatan sejarah diakui FIFA, sepak bola merupakan permainan yang pertama kali muncul di masa Cina Kuno, tepatnya di masa Dinasti Han abad 3 SM bernama Ts’uh Kuh. Kemudian ditemukan permainan sejenis bernama Kemari di Jepang; Epislcyros di Yunani; Harpastum di Romawi; dan Tlachtli di  Aztec, yang semua merupakan nenek moyang sepak bola modern saat ini.

Tentu cerita dramatik bagi sebagian orang selama ini sepak bola dapat menyeberang ke Inggris setelah imporan rombongan pasukan Julius Caesar yang menggunakan kepala mayat tentara Romawi sebagai bolanya. Sejak saat itu ”sepak bola” dimainkan di jalanan atau ladang yang bisa melibatkan dua desa dengan dua puluh, lima puluh, atau bisa mencapai ratusan pemain masing-masing tim. Kemudian tiba era ketika permainan ini dimainkan oleh pelajar-pelajar di asrama sekolah elite di kota London, yang masing-masing kamar berisi sebelas pelajar sehingga mulai saat itulah kebiasaan sebelasa lawan sebelas menjadi lumrah.   

Dari abad lampau hingga kini, kata Luciano Wernickle dalam Mengapa Sebelas Lawan Sebelas, sepak bola terus berubah: ukuran lapangan, jenis bola, jumlah pemain, model tiang gawang, sampai keberadaan kartu merah dan kartu kuning. Menyesuaikan dengan perubahan-perubahan itu semua, para pemainnya sebagai bagian hidup di dalamnya juga mengalami perubahan dan evolusi cara mengolah kulit bundar.

Sepak bola abad 21 sudah sangat maju baik dari segi penyelenggaraan, tim-tim yang berlaga, dan kualitas pemainnya apakah itu terkait fisik dan intelektualitas permainan. Mulai dari aturan terbaru offside sampai penggunaan chip sepatu dan teknologi Electronic Performance and Tracking Systems (EPTS) yang dapat dimanfaatkan pelatih untuk mengkoordinasi data-data pemain selama merumput. Sepak bola makin kesini telah menuju masa puncaknya, dan itu telah membuat piala dunia 2022 yang diselenggarakan di Qatar merupakan pagelaran sepak bola terbaik. Sebagai era puncak sepak bola di ajang ini pula beberapa nama akan menjadi bersinar, dan tentu Messi menjadi pemain sepak bola abad 21 paling fenomenal terkait pencapaiannya.

Jadi, jika saja sepak bola menjadi bagian perwatakan dunia saat ini, yang mengalami dekadensi, kekeroposan, dan kehancuran, dan setelah itu mendasari kemunculan seorang juru selamat, bisa jadi Lionel Messi menjadi salah satu pemain yang menandai era kanonik dalam sepak bola. Para penikmat sepak bola tentu penasaran, jika rivalitas seperti ”pemain robotik” Ronaldo versus Lionel Messi yang dinyatakan pemain dari galaksi lain berakhir, apakah itu mengisyaratkan sepak bola di masa depan telah memasuki era apokaliptik?


Sumber gambar: www.fcbarcelona.es

The following two tabs change content below.
Blogger paruh waktu dan ayah dari Banu T. El Baqir. Penulis buku "Jejak Dunia yang Retak" (2012).