Semesta Manusia: Tribute to Nirwan Arsuka

Refleksi 100 hari wafatnya Nirwan Ahmad Arsuka

Bagi insan yang lebih dulu mencapai keabadian, hanya warisannya akan menjadi penanda jejak selaku pengabdi. Ia akan abadi karena abdinya. Dari pengabdian ke pengabadian. Baik di bentala, maupun di nirwana.

Begitulah sosok seorang pengabdi, Nirwan Ahmad Arsuka,  yang sementara diabadikan oleh para penerusnya. Nirwan lahir di Kampung Ulo, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 5 September 1967 dan wafat di Jakarta, 6 Agustus 2023. Lalu dimakamkan di tanah kelahirannya. Selain dikenal sebagai pejuang literasi, Nirwan pun diakrabi selakon seorang intelektual garda depan. Tulisan-tulisannya merambah dalam bidang sains, sosial, budaya, seni, sastra, dan agama.

Jelang hingga peringatan 100 hari wafatnya Nirwan, sang pendiri Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), serangkaian helatan digelar. Ahad, 5 Nopember 2023, diadakan temu daring oleh keluarga besar Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Acara ini serupa persiapan menyambut peringatan 100 hari wafatnya Nirwan.

Selain itu, dibincangkan pula potret kelembagaan PBI dan mekanisme formalitasnya, serta korelasinya dengan sekotah simpul pustaka. Perbincangan ini dimediasi oleh Faiz Ahsoul, pelaksana tugas PBI. Simpai simpulan percakapan, bagaimana merawat warisan Nirwan yang semula bernuansa personal, diadaptasi dalam bentuk kelembagaan. Spiritnya, meneruskan kerja-kerja seorang pengabdi, Nirwan Arsuka, yang telah mengabadi.

Arkian, 18-26 Nopember 2023, hajatan sepekan Tribute to Semesta Manusia. Simpul-simpul PBI di seluruh Nusantara mengisi pekan peringatan 100 hari tersebut, beragam aktivitas. Didahului acara Prosesi Mattampung (penanaman batu nisan) di Barru oleh keluarga besar almarhum Nirwan Arsuka. Tepatnya, Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023. Prosesi Mattampung ini merupakan acara adat, sebentuk tradisi di kampung halaman Nirwan.

Berikutnya, sederet simpul pustaka mengadakan hajatan dengan caranya masing-masing. Sabtu, 18 Nopember, di Malioboro, Yogyakarta, Perpustakaan Gerak Girli Malioboro Bergerak, menyajikan acara Story Telling Mattampung dan Doa Bersama.

Lalu, Sabtu, 18 Nopember 2023,Ibuku dan Angkot Pustaka, mendedahkan acara Biblioterapi dan Doa Bersama, di Pesantren Sirojul Munir Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tak ketinggalan simpul pustaka Rumba KIH, pada Ahad, 19 Nopember 2023, melakukan Penanaman Pohon dan Doa Bersama di Blitar, Jawa Timur.

Masih di hari Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023, simpul pustaka Sigupai Membaco dan Perpustakaan Rumah Teras Baca di Gorontalo, menghadirkan PakBukLing (Lapak Baca Buku Keliling) dan Doa Bersama. Pun dari RBCD, selain melakukan Lapak Buku, juga Baca Puisi dan Doa Bersama.

Dari Taman Kota Sumpiuh Banyumas, Jawa Tengah, simpul pustaka Lapak Baca Motor Pustaka Griya Baca Jelita (Jendela Literasi Tanah Air) melakukan Doa Bersama untuk Nirwan. Selanjutnya, Kamis, 23 Nopember 2023, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, via Motor Literasi (Molit) Peradaban, mengusung “Percakapan Hilirisasi Budaya ala Nirwan”, dirangkai Pembacaan Puisi dan Esai, Pidato Kebudayaan, dan Doa Bersama.

Tentu, masih banyak lagi aktivitas simpul pustaka yang belum saya deretkan. Sekadar penegasan saja, ada ratusan simpul pustaka berkegiatan, guna didedikasikan buat Nirwan, baik yang terpublikasi maupun menempuh jalan senyap.

Kalakian, pucuk acara Sepekan Tribute to Semesta Manusia, dalam rangka 100 hari wafatnya Nirwan, berpuncak pada sawala dan dialog buku Semesta Manusia, anggitan Nirwan Ahmad Arsuka. Sawala dilaksanakan secara daring, Ahad 23 Nopember 2023. Pemantik sawala, Ulil Absar Abdalla, FX Rudy Gunawan, Ernawiyati, dan Nur Sybli.

Dipandu oleh Fathul Rakhman dari simpul pustaka  Sekolah Literasi Rinjani. Sebelumnya dibuka oleh MC, Syamsiah Lukman dari simpul pustaka Perahu Pustaka Laica Abbacang. Tak lupa menyilakan perwakilan keluarga besar Nirwan, diwakili ponakan, Muh. Iftikar Sahid, untuk memberi sambutan. Ia bertutur, ada cita dari pamannya yang belum terwujud, membikin lembaga pendidikan bagi orang-orang kurang beruntung.

Tema “Semesta Manusia” diambil dari judul buku karya Nirwan Ahmad  Arsuka. Sebuah buku putih setebal bantal balita, 808 halaman, Penerbit Ombak. Berisi kumpulan tulisan yang merangkum hampir seluruh ide, gagasan, dan isi kepala almarhum.

Sekotah tulisan yang terhimpun dalam buku putih Semesta Manusia, sebelumnya pernah dimuat media, khususnya media cetak, termasuk teks Pidato Kebudayaan, Dialog Semesta, dan beberapa tulisan sempat masuk media online.

Secara garis besar, ada 8 tema yang diusung dalam buku putih: Sains, Manusia, Seni, Sastra, Agama, Indonesia, Pustaka Bergerak, dan Kuda. Namun, dalam diskusi, sebagai alat bantu Dialog Semesta Manusia, dirangkum menjadi empat tema: Manusia, Sains, Budaya, dan Pustaka Bergerak.

FX Rudy Gunawan bertindak selaku pemantik awal. Bagi Rudy, Nirwan adalah manusia multidimensional. Pembelajar otodidak. Mampu menyederhanakan pemikiran rumit. Seorang penggerak, punya mimpi besar untuk kemajuan bangsa. Sejak mahasiswa, bersama Nirwan sudah terlibat gerakan penghentian ketidakadilan dan kediktatoran.

Rudy bertemu kembali dengan Nirwan di Jakarta, ketika media cetak Tempo, Editor, dan Detik, diberedel oleh rezim Soeharto. Ikut mendinamisir Aliansi Jurnalistik Independen dan berkumpul di Komunitas Utan Kayu Jakarta. Setelah berkonsentrasi pada aktivitas mutakhir masing-masing, Nirwan memilih wilayah literasi untuk mewujudkan mimpinya. Jejaring Nirwan mesti diteruskan.

Nur Sybli menguatkan penabalan Rudy. Ia menegaskan, PBI merupakan rumah kita bersama untuk berbagi energi kebaikan. Apatah lagi, di rumah bersama ini, kita berangkat dari keragaman lintas agama, budaya, suku, profesi, pendidikan, dan latar sosial lainnya.

Saatnya menguatkan warisan Nirwan dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia para penggerak. Penguatan kapasitas itu bisa beragam bentuknya, sesuai tantangan masing-masing. Namun, perlu ada kapasistas bersama, sebagai standar sebagai seorang pegiat dan penggiat literasi. Dan, sepertinya dibutuhkan sesi lain untuk menindaklanjuti sodoran minda ini.

Setelahnya, giliran Ernawiyati memaparkan pikiran. Erna lebih banyak mengapresiasi tulisan terakhir dari Nirwan Arsuka di harian Kompas, berjudul “Hilirisasi Budaya”. Menurutnya, minda Nirwan ditulisan ini sangat bernilai tinggi, satu warisan intelektual yang harus diapresiasi bersama. Tawaran hilirisasi budaya ala Nirwan, bisa dijadikan semacam peta pemajuan budaya, sebagai lapik pembangunan bangsa Indonesia. Menariknya, peta ini bisa ditafsirkan secara mandiri, sesuai dengan konteks masing-masing.

Akhirnya, Ulil Absar Abdalla memungkasi percakapan. Ia memulai dengan bagaimana ia bertemu dengan Nirwan di Freedom Institute, sesama pendiri. Perkawanan di Freedom Institute cukup lama, sehingga ia amat mengenal pemikiran Nirwan. Ulil berpendapat, Nirwan adalah persona yang memenuhi seorang intelektual yang sangat komplit. Minatnya sangat luas terhadap berbagai macam isu.

Ciri khas generasi Nirwan, kemampuan menulis dengan baik. Keunggulannya terletak pada daya jelajah pada sains sangat dalam. Bukan saja sains popular, tetapi pada inti sains. Lebih dari itu, kelantipannya mengawinkan sains dengan sastra. Sosok langka, hampir mustahil negeri ini melahirkan seorang Nirwan.

Sesudah tidak bersama lagi di Freedom Institute, Ulil kaget dengan pilihan Nirwan, mendirikan PBI dan menghabiskan energinya untuk gerakan literasi. Ulil menilai, pilihan Nirwan merupakan kelanjutan dari aktivitas di Freedom Institute, mengingat Nirwan mengepalai perpustakaan lengkap, berisi buku-buku bergizi tinggi.

Nirwan percaya pada kekuatan buku yang mengubah seseorang, sebab buku menyebarkan tradisi berpikir saintifik. Berpikir ilmiah sewajah dengan fondasi penting dalam membangun masyarakat. Inilah yang menyemangati Nirwan, untuk memindahkan spirit perpustakaan di Freedom Institute ke seluruh penjuru mata angin di wilayah Nusantara, lewat PBI.

Simpulan Ulil memantapkan tentang warisan Nirwan. Tradisi menulis yang baik, berpikir saintifik, minatnya begitu luas meskipun tidak menarik bagi banyak orang. Di pucuk percakapan, Ulil mendakukan kesiapannya menjadi bagian dari PBI, sebagai bentuk perkawanan abadi dengan Nirwan.

Nirwan telah mengabadi dalam dua ruang. Di bentala karena ada warisan pengabdiannya. Di nirwana sebab itulah tujuan akhir sekotah insan. Ya, Nirwan nyata di bentala dan sunyata di nirwana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *