Keharusan Mengeja Ulang Cak Nur

Hujan yang awet sejak Jumat hingga Sabtu malam, 13 Januari 2023, tak menyurutkan sekaum anak muda-mahasiswa, untuk menyata di Warkop Bundu Talasalapang. Mereka membikin hajatan bertajuk Makassar, Road to Bazar & Dialog Titik Temu Pemikiran: Cak Nur dan Buya Syafii Maarif. Bertema, “Meramu Pikiran; Merawat Keberagaman dalam Bingkai Keindonesiaan”.

Hajatan diinisiasi oleh HMJ PAI Unismuh Makassar. Saya perkirakan penghadir mendekati seratus orang. Pemantik percakapan sebagaimana tercantum di spanduk acara, Sulhan Yusuf (CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng) dan Asratillah (Direktur Profetik Institute). Secara teknis, oleh pemandu acara, Sulhan diminta untuk membedah gagasan Cak Nur, sementara Asratillah mendedah pikiran Buya Syafii.

Sebagai pemantik yang didapuk membedah minda Cak Nur, saya memulainya dengan mengenalkan selintas kilas latar belakang kehidupan pendidikan sang guru bangsa. Nurcholis Madjid, popular dipanggil Cak Nur, lahir 17 Maret 1939. Wafat Senin, 29 Agustus 2005. Menempuh mendidikan di SR, masuk Pesantren Moderen Gontor, kuliah di IAIN Ciputat, lalu melanjutkan program doktornya di Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Kalakian, memahami Cak Nur, saya ajukan dua sudut pandang: konteks dan konten. Konteks terikat tahapan aktivitas personal dan sosial, sebentuk pergerakan ragawi. Adapun konten, terkait  kandungan pemikiran, serupa pergulatan jiwa.  

Sebagai konteks, pertama saat aktivis HMI: menulis Nilai Dasar Perjuangan (NDP), 1969. Kedua, dinisbatkan selaku penarik gerbong pembaharuan pemikiran Islam: menyajikan makalah untuk diskusi terbatas dinisiasi oleh PII, 1970. Ketiga, cendekiawan muslim garda depan: tatkala menyampaikan pidato di TIM 1992, plus aktivitas di Paramadina, hingga wafat dan digelari guru bangsa, 2015.

Konteks gerakan bermuatan konten, pertama, NDP. Buku kecil ini, semacam pedoman ideologi Islam bagi HMI. Berisi gagasan: Dasar-Dasar Kepercayaan, Pengertian-Pengertian Dasar tentang Kemanusiaan, Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir), Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan, Individu dan Masyarakat, Keadilan sosial dan Keadilan Ekonomi, Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan. NDP ditulis setelah melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan ibadah haji. Ketika safari, bertemu dengan banyak pemikir. Kala ibadah haji, lahir berbagai renungan.

Konten kedua, makalah  “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Sajian makalah ini memicu perdebatan panjang di kalangan cendekiawan muslim. Pro dan kontra tersaji sangat panas dan dinamis. Tak mengapa saya penggal gagasan utama dalam makalah tersebut. Pertama, tentang sekularisasi—desakralisasi, termuat pula tohokan minda, Islam Yes, Politik Islam, No? Minda defenitif Cak Nur berkaitan sekularisasi, tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum Muslim menjadi sekularis, tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat dari kecendrungan untuk meng-ukhrawi-kannya.

Kedua,  Intelectual freedom-Kebebasan berpikir. Menurut Cak Nur, seharusnya umat Islam mempunyai kemantapan kepercayaan bahwa semua bentuk pikiran dan ide, betapa pun aneh kedengarannya di telinga , haruslah mendapatkan jalan untuk dinyatakan . Sebab, tidak jarang dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang umumnya semula dikira salah dan palsu itu ternyata kemudian benar.

Ketiga, Idea of progress, sikap terbuka. Ditegaskan Cak Nur, kita harus bersedia mendengarkan perkembangan ide-ide kemanusiaan dengan spektrum seluas mungkin, kemudian memilih mana yang menurut ukuran-ukuran obyektif mengandung kebenaran.

Konten ketiga, Pluralitas ke Pluralisme. Pidato di TIM, menabalkan minda, kemajemukan atau pluralitas umat manusia, merupakan suatu kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Maka pluralitas itu meningkat menjadi pluralisme, yaitu suatu sistem nilai yang memandang secara posistif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.

Arkian, bagi Cak Nur, pluralisme Indonesia terumuskan secara ideologis dalam Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila bersifat dinamis, maka Pancasila harus diperjuangkan dalam watak dan proses masyarakat yang dinamis pula. Di sini terletak arti pentingnya kebebasan-kebebasan asasi, khususnya kebebasan menyatakan pendapat.

Pucuk pemetaan pemikiran Cak Nur, saya kunci dalam penegasan pentingnya memahami Islam sebagai doktrin dan peradaban. Doktrin Islam bersifat universal dan kosmopolit, yang dibumikan menjadi peradaban. Strategi pembumian pemikiran Cak Nur, mewujud dalam rupa,  Islam diintegrasikan dengan kemanusiaan, kemoderenan, politik, dan keindonesiaan.

Nah, dikarenakan hajatan HMJ PAI ini bertujuan mencari titik temu pemikiran dengan guru bangsa lainnya, Buya Syafii Maarif, maka saya sodorkan satu kutipan pendakuan dari Buya, saat menulis satu pengantar terhadap buku, Cak Nur Sang Guru Bangsa, anggitan Muhammad Wahyuni Nafis. Artikel Buya berjudul, “Cak Nur, Sahabatku: Mengapa Cepat Pergi?”

Buya Syafii bilang, “Sekiranya tidak pernah sama-sama belajar di Universitas Chicago selama beberapa tahun pada seperlima terakhir abad ke-20, saya tentu tidak akan kenal dekat dengan Cak Nur, yang kemudian ditakdirkan muncul menjadi salah seorang intelektual kelas berat Indonesia. Penampilan fisiknya yang selalu sederhana, tetapi otak besarnya telah lama menggeluti masalah-masalah besar yang menyangkut keislaman, kemoderenan, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.”

Pendakuan Buya yang saya kutipkan, cukup menjadi jembatan pengantar untuk sesi penyajian pikiran Buya, didedahkan oleh Asratillah. Dan, eloknya lagi, pancingan saya langsung disambar oleh Asratillah. Selama penyajiannya, saya ikut membatinkan pikiran-pikiran Buya, sekaligus menyeleraskan minda Cak Nur. Simpai simpulan saya, tiada sedikit titik-titik temu pemikiran. Paling tidak, baik Cak Nur maupun Buya Syafii sama-sama berguru pada seorang cendekiawan muslim kelas dunia, Fazlur Rahman, selama kuliah di Universitas Chicago.

Respon penghadir terhadap bentangan pemikiran kedua guru bangsa tersebut, cukup mendapat apresiasi. Namun, hingga perjalanan pulang diiringi rintik hujan dan saya tiba di mukim, tersisa seonggok tanya, masihkah kaum muda mahasiswa serius mempercakapkan tema-tema pemikiran semacam itu?

Pasalnya, tak sedikit stigma dialamatkan kepada kaum muda mahasiswa, bahwa ketertarikan pada percakapan intelektual, tak banyak diminati lagi. Untungnya, saya sudah mempersiapkan pelampung, berupa rekomendasi agar mengeja buku-buku Cak Nur, bila ingin mendalami lebih jauh sepak terjang minda sang guru bangsa.

Cuman dua buku Cak Nur saya tunjukkan, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan dan Islam Doktrin dan Peradaban, agar dieja oleh mereka, sebab saya pun mengeja ulang buku-buku tersebut, tatkala didapuk selaku pemantik. Waima, saya sudah membaca saat mahasiswa di akhir tahun 80-an dan awal 90-an, tapi ketika mengeja ulang di kiwari, rasanya makin tinggi nilai gizinya, buat menjalani kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Utamanya di tahun politik yang tunggang langgang dinamikanya.   

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *