Tuhan Satu, Dua, dan Tiga

“Hari sial”, ya, begitulah istilah yang sering dipakai sebagian orang ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya. Seperti kehilangan uang, jatuh dari pohon, lost contact sama gebetan, dan masih banyak lagi. Setiap orang berbeda dalam menanggapi hal tersebut, bisa dilihat bagaimana kondisi seseorang yang baru saja ditinggal oleh pasangannya, raut wajahnya yang suram, semangatnya yang memudar, ditambah isi dompet yang menipis membuat dirinya merasa begitu hampa dan menyebut dirinya dengan istilah sad boy. Aneh jika dia ingin berlarut-larut dalam hal tersebut.

Tentu setiap orang ingin bahagia. Ketika “hari sial” terjadi, setiap orang punya cara masing-masing untuk beranjak dari kesialan menuju kebahagiaan. Ketika kehilangan uang, dia bisa bekerja untuk mendapatkan uang, ketika putus cinta, dia bisa mencari yang baru atau memulai kebiasaan baru seperti, bangun di sepertiga malam untuk mengeluh kepada Tuhannya, memohon pertolongan dari sakit hati yang berkepanjangan dan lain-lain. “hari sial” mungkin tidak terjadi setiap hari, tetapi dampak dari hari itu bisa membekas berhari-hari.

“Hari sial” terjadi pada setiap orang bisa dalam peristiwa yang sama dan berbeda. Dua orang bisa sama sialnya, yaitu kehilangan uang. Tapi cara mereka untuk mendapatkan uang bisa berbeda, si A dengan cara baik dan si B dengan cara yang buruk. Atau dua orang yang sama-sama putus cinta, keduanya juga bisa dengan cara yang sama untuk mengatasi itu, yaitu mengeluh kepada Tuhan, tapi berbeda dalam isi keluhannya. Si A mengeluh dan meminta Tuhan untuk membalas perbuatan mantannya, sementara si B memohon diberi kelapangan jiwa agar lebih sabar dan ikhlas.

Tuhan menjadi salah satu yang dibutuhkan ketika “hari sial” itu terjadi. Tuhan dibutuhkan berdasarkan kesialan apa yang terjadi. Anda kekurangan uang? Mintalah kepada Tuhan yang maha kaya, mintalah agar Tuhan mempercepat pertemuan anda dengan seseorang yang didambakan. Lalu, apa maksud dari hipotesis “Tuhan itu satu”? Apakah itu benar? Si A merasa terdzolimi oleh si B dan meminta agar Tuhan membalas perbuatan si B, sementara si B sangat yakin bahwa dialah yang benar. Apakah mereka punya Tuhan yang berbeda untuk saling mengadu sehingga terjadi perang antara dua Tuhan? Lalu aku bertanya, manakah yang menang di antara mereka wahai Tuhanku? Dan Tuhanku menjawab, “sungguh bodoh Tuhan yang disembah kedua orang itu”.

Masih dengan pertanyaan yang sama, bagaimana dengan hipotesis “Tuhan itu satu”? Jika lima orang dengan kesialan yang berbeda, bukankah mereka membutuhkan jalan keluar yang berbeda? Jika Tuhan itu satu, apakah mereka harus menunggu Tuhan menyelesaikan satu persatu kesialan mereka? Tuhan seperti penjual jajanan yang harus mengurus satu persatu pelanggannya. Aku bertanya kepada Tuhanku, manakah yang benar-benar Tuhan di antara kalian wahai Tuhanku? Dia menjawab, siapakah yang engkau yakini sebagai Tuhan?  Tentu saja Engkau Tuhanku. Dia berkata, mereka pun akan menjawab sepertimu jika ditanya yang mana Tuhan mereka.

Tapi, bukankan seseorang bisa mengalami kesialan yang berbeda-beda? Jika Tuhannya hanya satu, apakah dia akan meminta pertolongan kepada Tuhan temannya? untuk menyelesaikan kesialannya yang lain. Konsekuensinya, dia akan mengakui ada Tuhan selain Tuhannya sendiri. Apakah dia tega mengkhianati Tuhannya?

Si A memiliki kesialan yang berbeda dengan si B, C, dan D. Mereka mengeluh dengan keluhan yang berbeda kepada Tuhan. Apakah hal itu meniscayakan banyaknya Tuhan? Atau benar bahwa Tuhan itu satu dan memiliki kemampuan yang luar biasa, sehingga dia mampu menyelesaikan masalah-masalah hambanya? Keduanya bisa dibenarkan. Benar bahwa Tuhan itu banyak, si A memiliki Tuhan yang berbeda dengan si B, C, dan D. Tuhan banyak berdasarkan pemahaman setiap hamba yang berbeda tentang-Nya. Setiap orang punya pemahaman yang berbeda terhadap Tuhan. Lalu bagaimana dengan Tuhan itu satu? Ya benar, Tuhan juga satu. Dari Tuhan yang satu itulah muncul Tuhan yang banyak. Si A melihat Tuhan dari sisi ke-maha kayanya, si B melihat Tuhan dari sisi ke-maha kuatnya, begitu pun si C dan D, sehingga berbedalah Tuhan dalam pemahaman mereka. Mereka membutuhkan Tuhan berdasarkan kesialan apa yang mereka alami.

Si A mengatakan Tuhan itu maha kaya, si B mengatakan Tuhan itu maha kuat, si C dengan tegas mengatakan Tuhan itu maha kasih dan seterusnya. Bukankah benar bahwa begitulah Tuhan? Sehingga Tuhanku adalah 1, 2, 3 dan seterusnya berdasarkan sejauh mana pemahaman tentang Tuhan itu. Karena dari Tuhan yang satu itulah tercipta Tuhan yang banyak berdasarkan berapa banyak pemahaman tentang-Nya.

Maha suci Tuhan dari segala prasangka buruk ciptaannya yang lemah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *