Hari-Hari yang Buruk

Hampir setiap orang pernah merasakan nasib sial. Atau bernasib buruk di hari-hari yang lain. Di masa lalu, saat masih di bangku sekolah, orang seperti saya menganggap Senin adalah hari yang buruk. Masuk sekolah mesti lebih cepat: upacara bendera. Berbaris dan berdiri panas-panasan hingga topi dan seragam seperti handuk basah.

Anda menjadi lebih sial jika tidak gesit mengambil tempat di bawah pohon rindang. Sebatang pohon mangga, misalnya, yang sering Anda lempari buahnya meski belum ranum.

Dan, hari itu Anda bisa saja akan menjadi terdakwa. Inilah saat ternahas Anda. Dunia sedang memunggungi diri Anda karena itulah hari paling bedebah: Anda telat datang lalu hanya berdiri bersama barisan anak-anak sial lainnya. Kali ini Anda berdiri di luar pagar sekolah. Tapi, bersama menjadi lebih mudah. Seringkali jika seseorang bersalah ia akan segera mencari orang yang bernasib sama untuk menormalisir perasaannya, ketakutannya. Itulah manusia, bahkan sebuah pelanggaran dapat menjadi lumrah jika disepakati banyak pihak.

Hari buruk lainnya, untuk saya adalah ketika di hari lain akan mempelajari matematika, fisika, atau kimia. Sudah sejak malam sebelumnya melihat roster pelajaran menjadi pekerjaan paling malas. Keburukan Anda menjadi dua kali lipat jika ketiga pelajaran itu bercokol di hari yang sama. Saya rasa guru atau siapa pun yang menyusun jadwal seperti ini perlu mempelajari ilmu psikologi dengan serius, atau ilmu pendidikan dengan lebih baik lagi.

Tidak semua orang menyukai ilmu perhitungan, sedangkan sebagian lainnya lagi akan menganggap ilmu seperti itu tidak akan berguna di kemudian hari. Mungkin orang semacam ini ada benarnya, karena tidak mungkin semua orang akan bekerja dengan menggunakan ilmu semacam itu setiap harinya. Dengan alasan ada orang-orang tertentu telah mempelajarinya mati-matian, maka tugas sebagian yang lainnya hanya untuk menikmati hasil kerjanya. Tapi, tidak tepat juga ilmu semacam matematika, misalnya, tidak akan berguna untuk masa depan seseorang. Setiap saya menghindari ilmu seperti ini di masa lalu, semakin membuat saya menyadari untuk saat ini perlu bagi setiap orang untuk memilikinya agar membantunya dapat berpikir analitis, memahami pola-pola, dan dapat membantunya untuk memecahkan masalah yang membutuhkan pendekatan logika.

Semakin ke sini, setiap bidang kehidupan memerlukan kesatuan ilmu-ilmu. Di dunia akademik, integrasi ilmu-ilmu juga sudah menjadi hal lumrah.

Saya tidak tahu apa arti hari buruk bagi Anda, dan juga apakah Anda hari ini sedang menjalani hari yang indah? Kita pernah mengalami hari-hari buruk yang cukup panjang, bahkan sampai tiga dekade lamanya. Hampir seluruh usia saya saat ini. Tidak bisa dibayangkan jika seseorang hidup di dalam hari-hari buruk seperti ketakutan menyatakan pendapat, kekhawatiran berkumpul dan berserikat, atau tidak ada jaminan kesehatan serta pendidikan yang mampu menjamin masa depan.

Bagi negara demokratis hari-hari buruk tidak sama persis dialami seperti negara otoriter. Bagi negara otoriter hampir semua orang tidak memiliki kebebasan berekspresi, dan bagi intelektualisme ini merupakan ancaman berbahaya. Sementara bagi negara demokratis, demokrasi bisa berjatuhan tidak sama seperti di negara otoriter yang menggunakan kudeta atau kekerasan, melainkan melalui pemerintahan hasil pemilu, yang sebelumnya telah melakukan rekayasa publik dengan mengubah aturan mainnya. Meminjam Levistky dan Ziblatt: “Kemunduruan demokrasi hari ini dimulai di kotak suara”.

Beberapa hari lalu kita telah melalui hari-hari paling menentukan, terutama untuk perjalanan bangsa ini. Bagi banyak orang, demokrasi ketika kali pertama ditemukan merupakan hari paling bahagia. Itulah saat ide-ide sakral yang berasal dari langit tidak akan lagi digunakan. Tiang-tiangnya telah diguncang oleh suara mayoritas. Dan, sejak saat itu suara mayoritaslah yang paling afdal menentukan kebahagiaan banyak orang.

Di dunia ini, tidak sedikit orang merasa bahagia jika mampu berpikir dalam-dalam menyerupai para filsuf. Mengoleksi banyak buku agar mengisi jiwanya yang kosong. Juga hampir semua orang yang menginginkan banyak uang untuk merasakan bahagia, sama seperti sekelompok orang yang cukup senang jika diberikan makanan gratis. Tapi, banyak orang akan merasakan hari buruk apabila roda kendaraannya pecah saat buru-buru mengejar pesawat. Saya kira banyak orang pernah mengalami ini.

Saya pernah kehilangan dompet, ditilang polisi, lalu sekali tempo gagal dalam sebuah tes wawancara. Semua itu hari buruk bagi saya. Anda juga mungkin memiliki pengalaman semacam itu, seperti salah memilih pasangan hidup, atau salah memilih figur pemimpin, misalnya. Sokrates adalah orang yang mengalami dampak buruk keduanya. Ia menikahi seorang perempuan super cerewet dan galak, tapi karena itu ia menjadi filsuf. Di banyak tempat, banyak bangsa-bangsa demokratis salah memilih pemimpin. Mereka justru memilih seorang calon diktator yang tidak akan membuat apa-apa selain hari-hari buruk setelahnya. Semoga Anda tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *