Pemikiran Maulawi dan Miskawiah Tentang Metafisika Penciptaan

Berbagai varian dalam khazanah pemikiran Islam, secara keseluruhan hampir semuanya bersepakat bahwa Tuhan merupakan wujud niscaya yang tak tersentuh ‘adam atau ketiadaan─beberapa filosof menyebutnya wâjibul wujûd.[1] Ahli ‘irfan mengenalnya sebagai wujûd haqîqî[2]─ segala kesempurnaan ada pada-Nya. Di antara kesempurnaan dan kamâlât-Nya adalah Fayyâdh dan Jawâd, yaitu kemurahan-Nya yang tiada terbendung.[3] Karena itu kemurahan yang melimpah dari Tuhan mengejawantah dengan melakukan penciptaan, sehingga dengan demikian kelaziman Fayyâdh adalah tiada lain selain mencipta. Dengan kata lain jika sesuatu layak tercipta namun tidak diciptakan, maka tentu akan menyalahi kesempurnaan sebagaimana yang dimaksudkan. Karena itu dapat dikatakan Fayyâdh tidak lain dari zat Tuhan itu sendiri dan tidaklah di luar zat-Nya. Jadi sejatinya dalam konteks penciptaan, Tuhan sebagai pelaku serta tujuan final tidaklah terpisahkan dan satu kesatuan dari zat-nya.[4]

Dalam sebuah ungkapan ‘irfâni mengatakan bahwa pada maqam ‘izzah[5] tiada satupun bersama-Nya, pada maqam tersebut antara ‘isyq, ‘âsyiq, serta ma’syûq adalah satu dan tidaklah berbeda. Lalu Allah ingin menciptakan ghayr (yang lain), maka terciptalah alam (hudûts al-‘âlam). Dia membuka kanz[6] serta perbendaharaan ghaib yang terpendam dan tersembunyi, dan lalu memercikkan kanz pada alam yang kemudian menampakkan nama dan sifat-sifat-Nya dalam manifestasi-Nya.[7] Jika ditinjau dari sudut pandang levelitas dan tingkatan, maqam hakikat lebih utama dan mengatasi aspek khalqiat, maka ketika kesempurnaan mempunyai pengertian yang seharusnya tidak memiliki karakter yang bersifat melenyapkan, mewahdat dan murni, tentulah sistem pluralitas dalam penciptaan menjadi mungkin dan kontinu. Karena itu pada dimensi ini akan nampaklah Haq yang “termanifestasi pada makhluk” namun tetap terselubung dari aspek keburukan.[8] Sedangkan makhluq, ia terelasi dengan manifestasi yang membentang dari Haq kepadanya.[9]

Salah satu tokoh irfan kenamaan yakni syeikh Maulana Jalaluddin Muhammad Balkhi atau masyhur di Indonesia dengan sebutan Jalaluddin Rumi,[10] beliau menganggap dunia, alam raya dan kehidupan beserta berbagai haditsah, semuanya bernaung dalam satu konsep yaitu penciptaan, dan Jalaluddin memandang penciptaan dalam kerangka Wahdat. Menurutnya dunia adalah baru sementara manusia (idealnya) cenderung pada sesuatu yang Baqa (abadi) dan seyogianya sama sekali tidak hirau akan kebaruan karena di balik dunia hudûts[11] ini terdapat alam lain.

Menurut Maulana Jalaluddin terdapat saling pertentangan yang terus-menerus dalam hamparan semesta raya beserta kontinuitas gerakan dan perubahan pada materi. Setiap makhluq yang memiliki daya bernutrisi akan mengalami keteruraian dan pembagian. Tanah menyerap air, menumbuhkan ratusan macam tumbuhan, hewan hingga manusia. Maka dalam pandangan Maulana berlaku hukum âkil wa ma’kul sehingga alam dan penghuninya adalah maujud yang terserak dan terbagi. Dalam keyakinan Maulana terdapat kesatuan eksistensial antara alam dan âdam (manusia), namun meski demikian beliau percaya dengan pengamatan yang cermat akan terlihat dialektika tanpa henti di alam raya, antara zarrah dengan zarrah lain senantiasa bertentangan. Namun pertentangan dan dialektika tersebut merupakan dinamika yang berdiam dalam kesempurnaan.

Dengan demikian pertentangan lahiriah merupakan akibat yang berharmoni dengan dinamika batiniah. Oleh karena itu alam raya senantiasa dalam perubahan. Setiap sebab memiliki pengaruh, dan pengaruh sendiri kemudian menjadi sebab hingga kemudian membuahkan hasil lain yang luar biasa. Setiap sebab lebih utama dari pada akibat. Maulana mencontohkan meskipun dahan yang melahirkan buah sehingga dianggap lebih utama, tetapi pada sisi estetik tentu buah lebih utama dari pada dahan. Secara universal maulana meyakini kontinuitas alam semesta tidaklah bergulir menuju kehancuran, namun senantiasa progres menuju kebaruan, perbaikan, dan keindahan.[12]

Sementara dari perspektif filsafat salah satu pemikiran tokoh yang cukup layak disebutkan terkait topik penciptaan ─meski beliau lebih dikenal sebagai filosof akhlaq─ Ibnu Miskawaih[13] yang banyak mengikuti pendapat dan metode berpikir Aristoteles, beliau menempatkan gerak materi sebagai struktur pondasi argumentasinya. Gerak yang mencakup berbagai varian perubahan adalah karakter yang tak terelakkan dari seluruh benda jasmani. Namun gerak tidak bersumber dari jism[14] sendiri dan karena itu butuh pada suatu sumber eksternal atau penggerak utama. Jika dianggap gerak datang dari zat jism sendiri, maka anggapan tersebut akan bertentangan dengan kebiasaan dan pengalaman. Misalnya, manusia dengan ragam anggota tubuhnya bergerak dengan bebas, namun satupun dari anggota tubuhnya tidak bergerak berpisah dari yang lainnya, dan ini berarti gerak tidak bersal dari organ tubuh. Jadi rangkaian sebab-sebab yang bergerak haruslah berakhir pada sebab yang ia sendiri tidak bergerak namun membawa segala sesuatu pada pergerakan. Secara zat sebab utama gerak haruslah tidak bergerak, karena asumsi gerak pada sebab utama melazimkan terjadinya tasalsul[15]pada sebab yang bergerak, dan ini adalah batil.[16]

Akan tetapi karakteristik hukum perubahan tidak berlaku pada perkara kulli[17]. Sementara perkara juz’i[18] menerima perubahan, karena sifat sesuatu yang kulli adalah tetap. Berdasarkan zatnya materi mengalami hukum perubahan, sementara maujud-maujud[19] yang makin terbebas dari materi maka akan makin berkuranglah ia terkena dan terdampak oleh perubahan. Karena itu Tuhan yang merupakan mujarrad[20] dan nonmateri murni, secara mutlak tak akan mengalami perubahan. Oleh karena aspek nonmateri-sempurnaNya Tuhan tersebut sehingga bagi kita manusia sulit untuk mengkonseptualisasi dan menggambarkan Tuhan, bahkan mustahil dan tidak mungkin.[21]

Berbagai korelasi materi seperti kategori bentuk dan warna adalah diawali oleh ketiadaan belaka, sehingga ia adalah huduts. Demikian pula materi utama[22] sebagaimana korelasi materi ia juga adalah huduts. Sebab meskipun sebagai materi pertama, ia merupakan perkara juz’i yang karakter tersebut meliputi dan identik pada seluruh zatnya. Sementara pada level substansi materi, ia-pun termasuk dari keseluruhan bagian materi yang tidak terpisah dengan forma dan shurah[23] serta tidak akan dapat aktual meng-ada di alam eksternal tanpa forma. Oleh karena itu materi pertama yang sebagaimana materi, ia sama sekali tidak lain dari perkara yang tidak akan terpisah dengan forma. Pun sebagaimana telah diketahui forma tidaklah qadim.[24] Maka materi pertama sebagaimana shurah dan forma adalah huduts.[25]

Sebab final atau illat nahayi[26]hanya menciptakan satu makhluk kemudian makhluk tersebut menjadi pencipta bagi maujud-maujud lainnya, yang kedua menarik yang ketiga, dan demikianlah seterusnya penciptaan kemudian berlanjut. Ibnu Miskawaih memiliki pemikiran tentang penciptaan dengan metode Neoplatonisme[27]. Emanasi-faydh[28] Ilahi dalam rentetanNya yang senantiasa dari kehalusan nonmateri membentang dan makin mendekat kearah terbentuknya materi, dan kemudian menciptakan unsur-unsur permulaan eksistensi kebumian. Unsur-unsur permulaan berhubungan dan saling terkait antara satu sama lain, dan dengan hubungan serta kesalingterkaitan tersebut bentuk-bentuk dan sifat transenden kehidupan terrealisasi. Dalam pandangan Ibnu Miskawaih kombinasi substansi-substansi awal menyebabkan manifestasi kehidupan yang paling terdahulu, yaitu alam yang masih beku. Kemudian evolusi sampai pada level yang lebih tinggi dan mulailah muncul alam nabati[29] ─mula-mula rerumputan yang tumbuh secara otomatis dan kemudian semak belukar serta ragam pepohonan yang memiliki sebagian sifat-sifat kehewanan, sehingga terhitung sebagai tapal batas alam kehewanan. Perwujudan kehidupan yang bukan hewan dan bukan tumbuhan adalah seperti marjan[30]/koral yang memiliki kedua-dua daya hewani dan nabati, sebagai perantara alam nabati dan alam hewani. Setelah makhluk-makhluk perantara tersebut bermunculanlah makhluk jenis siput yang memiliki kemampuan bergerak dan indra peraba. Indra peraba lambat laun berubah dan menyebabkan indra lain. Maka kemudian berlanjut ke level hewan tingkat tinggi dengan memanfaatkan kecerdasan yang kian bertambah, tapal batas tingkatan derajat insaniah adalah kehidupan golongan kera. Evolusi kemudian lebih menyempurna dan perlahan-lahan menjadi seperti manusia, tegak berdiri, dan percaya Tuhan. Pada akhirnya rentetan hewaniah setelahnya muncullah manusia.[31]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim

Al-‘Abidi, Syaikh Falah dan Sayyid Sa’ad al-Musawi. Mizan al-Fikr. terj. Irwan Kurniawan, Buku Saku Logika: Sebuah Daras Ringkas. Cet.II; Jakarta: Sadra International Institute, 2019.

Amid, Hasan. Farhangge Farsi Amid. Cet.I; Rahe Rosyd, 1389 H.Sy.

Azmayesh, Sayyed Mostafa. Erfane Iran. Tehran: Entesyarate Haqiqat, 1387 H.Sy.

Baghir, Haidar. Buku Saku Filsafat Islam. Cet.II; Bandung: Mizan, 2006.

Brijanian, Marie dan Tayyebe Beigam rais. Farhangge Estelahate Falsafe va Olume ejtema’ei.Cet.II; Tehran: 1373 H.Sy.

Corbin, Henri. Tarikhe Falsafe-e Eslami.Terj. Jawad Thabathabai, cet.III; Entesyarate Kawir.

Gulpeinarli, Abdol Baqi. Mawlana Jalal al-Din: Life, Philosophy and selected. terj. dan syarah Taufiq Subhani, Mawlana Jalaluddin: Zendegani, Falsafe, Atsar wa Gozidei az Anha. Tehran: Pazyuhesygah-e Olum-e Ensani va Motale’at-e Farhanggi, 1375 H.Sy.

‘Iraqi, Fakhruddin. Lum’at. riset oleh Muhammad Khwajwi. Cet. I; Tehran: Entesyarate Movla, 1363 H.Sy.

 Jabir, Muhammad Nur. Dalil Pembuktian Tuhan: Antara Nalar dan Teks dalam Menyoal Doktrin Akidah. Cet.I; Makassar: Chamran Press, 2018.

Khomeini, Imam. Tafsir Sure-e Hamd. Tehran: Moassese-e Tanzim va Nasyre Atsare Emam Khomeini, 1375 H.Sy.

Lahuri, Muhammad Iqbal. Seire Falsafe dar Iran. Cet.IV; Tehran: Moassese-e Entesyarate Amir Kabir, 1357 H.Sy.

Muthahhari, Murtadha. Kulliyate Olume Eslamie 2: Kalam, Erfan, Hekmate ‘Amali. Cet.XXXV; Qom: Entesyarate Shadra, 1389 H.Sy.

Qasemi, Jawad. Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq. Cet.I; Masyhad: Bonyade Pazyuhesyhaye Eslami, 1385 H.Sy.

Sajjadi, Sayyid Ja’far. Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi. Entesyarate Sa’di, 1338 H.Sy.

Sajjadi, Sayyid Zia’uddin. Moqaddamei bar Mabanie Er fan va Tasawwuf. Cet.XV; Tehran: Sazmane Motale’e va Tadvine Kotobe Olume Ensanie Danesygahha, 1388 H.Sy.

Thabathabai, Muhammad Husain. Tarjume-e Tafsir Al-Mizan. Jil.17. Cet.V; Qom: Jame’e-e Modarresin Hauze-e Elmie-e Qom Daftare Entesyarate Eslami, 1374 H.Sy.

Yazdi, Muhammad Taqi Misbah. Ma’aref-e Qor’an: Khudasyenasi, Keyhansyenasi, Insansyenasi.Cet.VII; Qom: Entesyarate Mo’assese-e Amuzesyi va Pazyuhesyie Emam Khomeini, 1393 H.Sy.


[1]Muhammad Nur Jabir, Dalil Pembuktian Tuhan: Antara Nalar dan Teks dalam Menyoal Doktrin Akidah (cet.I; Makassar: Chamran Press, 2018), h. 89-91.

[2]Murtadha Muthahhari, Kulliyate Ulume Eslamie 2: Kalam, Erfan, Hekmate ‘Amali (cet.XXXV; Qom: Entesyarate Shadra, 1389 H.Sy), h. 89.

[3]وَمَا كَانَ عَطَاۤءُ رَبِّalكَ مَحْظُوْرًا

dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi (Q. S. 17:20).

[4]Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ma’aref-e Qor’an: Khudasyenasi, Keyhansyenasi, Insansyenasi (cet.VII; Qom: Entesyarate Mo’assese-e Amuzesyi va Pazyuhesyie Emam Khomeini, 1393 H.Sy.), h. 154-179.

[5]‘Izzah pada makna awalnya lebih berorientasi pada konsep Qahir dan Ghalib yang bermakna “kuat” ataupun “dominan” dan sama sekali tidak bermakna maqhur dan maghlub yaitu takluk dan tunduk. Akan tetapi makna hakikinya mengkhusus pada Allah Azza waJalla, sebab selain Allah semua maujud adalah faqir secara zat, dan pada dirinya sendiri maujud-maujud tersebut adalah zalil yaitu lemah, sementara tidak sedikitpun demikian pada Zat Allah sebagai Malik atau pemilik dan pemegang kuasa yang memberikan pengaruh -Nya. Akan tetapi dengan rahmat-Nya Allah memberikan manfaat pada maujud-maujud tersebut. Muhammad Husain Thabathabai, Tarjume-e Tafsir Al-Mizan, Jil.17 (cet.V; Qom: Jame’e-e Modarresin Hauze-e Elmie-e Qom Daftare Entesyarate Eslami, 1374 H.Sy.), h. 27.

[6]Sebuah hadits qudsi yang sangat terkenal “kuntu kanzan makhfiyan, fa ahbibtu an a’rifa  fakhalaqtu alkhalq: Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, tetapi Aku ingin dikenal maka Kuciptakanlah ciptaan”. Imam Khomeini, Tafsir Sure-e Hamd (Tehran: Moassese-e Tanzim va Nasyre Atsare Emam Khomeini, 1375 H.Sy), h. 73.

[7]Fakhruddin ‘Iraqi, Lum’at, riset oleh Muhammad Khwajwi (cet. I; Tehran: Entesyarate Movla, 1363 H.Sy), h. 4.

[8]Menururt hemat penulis keburukan yang dimaksud disini adalah kualitas dan karakteristik yang muncul oleh karena perbandingan di antara entitas yang berbeda-beda. Salah satu konsekwensi logis dari perbedaan adalah timbulnya semacam pemahaman bahwa entitas-entitas tersebut akan saling membatasi. Akibatnya, semua entitas tersebut akan dianggap terbatas, sementara keterbatasanlah yang berpotensi membuat keburukan dapat terjadi. Namun demikian hal ini hanya bisa terjadi pada entitas-entitas yang selevel serta memiliki esensi dan mahiyah, sementara pada level hakikat wujud dan eksistensi hal tersebut tidak mungkin terjadi, sehingga keburukan mustahil berlaku pada Zat Al-Haq.

[9]Sayyed Mostafa Azmayesh, Erfane Iran (cet.I; Tehran: Entesyarate Haqiqat, 1387 H.Sy), h. 105.

[10]Beliau bernama asli Jalaluddin Muhammad, ia dikenal pula dengan sebutan Mawlawi yaitu Yang Mulia, lahir pada tanggal 6 Rabiul Awal 604 H di Balkhan  yang  masuk Afganistan sekarang. Sejak umur 6 tahun ia mengikuti ayahnya menunaikan ibadah haji, dan kemudian turut mengembara ke berbagai negeri-negeri Persia seperti Naisyabur dan beberapa negeri lainnya, perjalanannya kemudian berakhir di Konya Romawi bagian timur sebelum Islam. Di Iran ia dikenal dengan nama Mawlawi atau Maulana, sementara di Barat ia masyhur sebagai Jalaluddin Rumi. Berdasarkan kelahirannya sebagai Jalaluddin Muhammad Balkhi tentu tidak akan keliru jika Jalaluddin dianggap milik Afganistan, namun Semua karya-karya Jalaluddin ditulis dalam bahasa Persia dengan keilmuan yang beliau dapatkan selama pengembaraannya di pedalaman Iran dan ditambah lagi guru-gurunya yang berasal dari Iran, akan dengan mudah jika ia diklaim sebagai milik Iran, sementara Konya sebagai persinggahan terakhirnya menjadi alasan penisbahannya sebagai Rumi. Boleh jadi karena ini, mungkinkah Maulawi menjadi sengketa pemilikan; Afganistan, Iran, atau Turki. Silahkan lihat Sayyid Zia’uddin Sajjadi, Moqaddamei bar Mabanie Er fan va Tasawwuf (Cet.XV; Tehran: Sazmane Motale’e va Tadvine Kotobe Olume Ensanie Danesygahha, 1388 H.Sy), h. 140-150.

[11]Secara umum hudûts bermakna sesuatu yang ada namun didahului oleh ketiadaan dan sesuatu yang membutuhkan hal lain sebagai sebab atau ‘illat. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi (Entesyarate Sa’di, 1338), h. 109.

[12]Abdol Baqi Gulpeinarli, Mawlana Jalal al-Din: Life, Philosophy and selected, terj. dan syarah Taufiq Subhani, Mawlana Jalaluddin: Zendegani, Falsafe, Atsar wa Gozidei az Anha (Tehran: Pazyuhesygah-e Olum-e Ensani va Motale’at-e Farhanggi, 1375 H.Sy),h. 293-295.

[13]Beliau bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub Miskawaih semasa dengan Al-Biruni dan Ibnu Sina, ia merupakan salah satu filsuf Iran/Persia yang nasabnya tersambung pada Zartusyt. Salah satu karyanya yang sangat terkenal adalah sebuah risalah akhlaq filosofis yang berjudul Tahzib Al-akhlaq, karya lainnya adalah sebuah karya berbahasa Persia Jawidane Kherad. Henri Corbin, Tarikhe Falsafe-e Eslami,Terj. Jawad Thabathabai, (cet.III; Entesyarate Kawir), h. 208.

[14]Jism merupakan substansi parsial yang bisa ditunjuk secara lahiriah-indrawi serta boleh disentuh, atau perkara yang memiliki tiga dimensi yakni panjang, lebar, dan kedalaman/tinggi. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 103.

[15]Dalam istilah Inggris terdapat kata infinite regress atau regressio ad infinitum menurut versi latin yang sepadan dengan tasalsul. Secara bahasa tasalsul bermakna berurutan terus-menerus dan juga bermakna seperti rantai, namun secara istilah adalah rangkaian perkara yang tidak terbatas sedemikian rupa sehingga rangkaian sebelumnya berkonsekwensi pada rangkaian selanjutnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 82. Lihat pula Marie Brijanian dan Tayyebe Beigam rais, Farhangge Estelahate Falsafe va Olume ejtema’ei (cet.II; Tehran: 1373 H.Sy), h.  422. Dan juga Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq (cet.I; Masyhad: Bonyade Pazyuhesyhaye Eslami 1385 H.Sy), h. 44.

[16]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran (cet.IV; Tehran: Moassese-e Entesyarate Amir Kabir 1357 H.Sy) h. 30.

[17]Kulli disebut pula konsep universal, yaitu pahaman yang dapat diterapkan pada lebih dari satu objek. Syaikh Falah al-‘Abidi dan Sayyid Sa’ad al-Musawi, Mizan al-Fikr, terj. Irwan Kurniawan, Buku Saku Logika: Sebuah Daras Ringkas (cet.II; Jakarta: Sadra International Institute, 2019), h. 31.

[18]Juz’i adalah konsep partikular, yaitu pahaman yang tidak bisa diterapkan pada lebih dari satu objek Syaikh Falah al-‘Abidi dan Sayyid Sa’ad al-Musawi, Mizan al-Fikr, h. 31.

[19]Lafaz maujud kadang bermakna sesuatu yang ada dan kadang termaknakan pada wujud itu sendiri yaitu keberadaan. Dan maujud sebagaimana maujud tidak mengkhusus pada suatu perkara dan masalah fisik, namun secara mutlak adalah objek ilmu Ilahi. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 324.

[20]Para Hukuma berkata mujarrad adalah perkara ruhani murni dan tidak bercampur dengan materi, di antara yang dapat disebutkan sebagai mujarrad adalah aqal dan jiwa atau nafs, umumnya aqal dianggap sebagai mujarrad murni sementara nafs secara zat adalah maujud mujarrad namun masih terkait dengan materi dalam aktivitasnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h.  292.

[21]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[22]Secara istilah disebut materia prima atau hayula awwali (dalam bahasa Arab), yaitu materi pertama alam jasmani yang mengalami kerusakan dan kemenjadian. Jika dipikirkan lebih mendalam akan didapatkan bahwa jism dan benda terdapat sesuatu yang merupakan wadah pemberlakuan forma, dan intisari yang merupakan media perubahan dan perkembangan sebagaimana tanah berubah jadi tumbuhan yang menjadi benih hewan dan manusia. Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq, h. 170, lihat juga Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h.  361

[23]Hal yang menyebabkan keutamaan sesuatu dari yang lain dan menjadi keadaan aktualnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 167.[24]Para penganut dahriun menganggap materi pertama adalah qadim sedang forma/surah merupakan ma’lul dari aktivitas Tuhan dalam penciptaan. Jadi hayula atau materi original bertautan dari satu forma ke forma lain, karena itu forma yang lebih awal tentulah sirna secara keseluruhan. Sebab, jika forma terdahulu tidak sempurna meniada apakah ia harus pindah ke jism lain atau ataukah tinggal pada jism yang sebelumnya tersebut. Kemungkinan pertama tidak sesuai dengan pengalaman. Misalnya, jika suatu kubus dibuat dari sebatang lilin (yang bulat silinder), bentuk bulatnya yang asli tidaklah berpindah ke benda lain. Kemungkinan kedua juga tertolak karena menyebabkan dua bentuk berlawanan (bulat dan kubus) dapat berkumpul pada satu benda. Maka dapat dipahami dengan munculnya bentuk baru, bentuk lama mutlak akan meniada. Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[25]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[26]Sebab yang merupakan penggerak pertama tindakan dan secara pertimbangan mendahului sebab-sebab lain, dan pada wujud eksternalnya ditemukan setelah didapati mengaktualnya seluruh sebab-sebab tersebut. Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq, h. 57, dan Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 202.

[27]NeoPlatonisme merupakan suatu aliran filsafat yang bertolak dari gagasan Plato, dan menafsirkannya dengan cara khusus. Aliran ini mengaitkan segala sesuatu dengan suatu Zat transenden semacam Tuhan (Yang Satu atau The One) sebagai prinsip kesatuan, melalui deretan perantara-perantara yang turun dari Yang Satu itu lewat proses emanasi. Haidar Baghir, Buku Saku Filsafat Islam (cet.II; Bandung: Mizan, 2006), h. 15.

[28]Emanasi-faidh Ilahi adalah luberan dan limpahan Ilahi, doktrin penciptaan menurut kaum filosof. Yakni, suatu keadaan niscaya ─serta tak terjadi dalam waktu─ yang di dalamnya terwujud ciptaan-ciptaan dari Tuhan. Ciptaan-ciptaan ini terwujud secara bertingkat-tingkat. Dari ciptaan yang lebih tinggi atau “lebih dulu” secara niscaya, lalu terwujud ciptaan-ciptaan dalam tingkat yang lebih rendah. Tercakup dalam ciptaan-ciptaan ini adalah berbagai tingkat akal, malaikat, jiwa planet-planet beserta wadagnya, bermula dari Akal Pertama, Malaikat Pertama, Sfera (Planet) Paling Jauh, hingga ─yang terendah─ planet bumi, yang bersifat sepenuhnya material. Haidar Baghir, Buku Saku Filsafat Islam, h. 12.

[29]Salah satu dari tiga daya yang menjadi sumber serta penyebab tumbuh dan berkembang. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 328. Hasan Amid, Farhangge Farsi Amid (cet.I; Rahe Rosyd, 1389 H.Sy), h. 1010.[30]Sejenis hewan laut yang mirip dengan tumbuhan dan menempel di permukaan tanah seperti tumbuhan. Hasan Amid, Farhangge Farsi Amid, h. 930.

[31]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 35.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *