Akil, Amrin, dan Madjid

Akil, Amrin, dan Madjid. Siapa mereka? Mungkin bagi orang kebanyakan bukanlah siapa-siapa. Bukan para pesohor, tapi mereka penempuh jalan sunyi di keramaian masing-masing. Ketiganya pun menuntaskan kesunyiannya, karena telah berpulang pada keabadian.

Bagi sebagian orang, tentu selain keluarga masing-masing, ketiganya amat berarti bagi satu organisasi yang mengadernya, lalu menjadi aktivis, baik di zaman kemahasiswaan mereka, tepatnya di HMI MPO Cabang Makassar, maupun setelah menjadi alumni.

Bagi HMI MPO, khususnya Cabang Makassar, di Era Reformasi, maupun sesudahnya hingga di kekinian, mereka bertiga merupakan trio gelandang dalam satu tim sepak bola. Ibarat dalam kesebelasan Arsenal, trio gelandang bisa berfungsi sebagai gelandang serang maupun bertahan. Bila punya peluang, tak segan-segan mereka ikut cetak bola.

Waima usia biologis mereka berbeda-beda, tapi mereka segenarasi di HMI MPO Cabang Makassar. Uniknya, mereka bertiga tak pernah menjadi ketua umum. Bagai dalam tim kesebelasan sepakbola, mereka tidak pernah jadi kapten.

Namun, daya jelajah pengabdian boleh jadi melampaui jabatan struktural. Sebab, ketika mereka bertumbuh dalam arena mengemban amanah, jabatan ketua umum di HMI MPO Cabang Makassar, tak diperebutkan. Prosesnya nyaris selalu aklamasi.

Wafatnya Akil beberapa waktu lalu, Selasa, 28 Mei 2024, cukup mengagetkan banyak pihak. Pasalnya, pagi hari masih mengantar anaknya ke sekolah, setelahnya main bulu tangkis. Dan, di tempat berolah raga inilah ia pingsan. Lalu, sekitar pukul 10.00 WITA lewat, dokter menyatakan wafat.

Aku sendiri sedang di luar kota, berada di Bantaeng dengan beberapa agenda sampai akhir bulan. Sehingga tidak sempat melayat plus acara takziyah. Hanya pasanganku yang melayat. Urita wafatnya Akil pun kuperoleh dari japri pasangan saya, beserta video berdurasi 8 detik, saat Akil masih diberi pertolongan di lapangan oleh rekan-rekannya.

Muhammad Akil Rahman, salah seorang juniorku di HMI. Amat banyak kenangan bersamanya, baik sebagai aktivis semasa mahasiswa maupun setelahnya. Bahkan hingga berkeluarga. Keluargaku dan keluarganya sangat dekat, termasuk lokasi mukimnya tergolong tak terlalu jauh. Masih dalam kawasan Alauddin-Mannuruki Makassar.

Sewaktu Reformasi 1998 bergulir, selain aktif di HMI, ia juga bergabung dalam gerakan Solid Unhas. Ia pernah menjadi Bendahara HMI MPO Cabang Makassar. Sesudah mengurus HMI, ia banyak membantu saya di Paradigma Institute, menjadi lingkaran dalam. Lalu saya memintanya untuk bergabung ke Kopel Makassar. Arkian, Akil terangkat jadi dosen di UIN Alauddin Makassar, perlahan mulai konsentrasi mengajar dan studi. Ia sementara S3.

Bapaknya Akil, Abdul Rahman, mantan Kepala Kanwil Depag Provinsi Sulawesi Selatan. Sewaktu menjabat Kakanwil, bapaknya juga mengikuti kuliah S2, Pascasarjana UMI, program magister agama. Nah, saya bertemu dengannya sesama mahasiswa pascasarjana, satu kelas. Bahkan seringkali pergi dan pulang bersama, numpang di mobilnya. Dan, bila ibunya Akil mencarinya, cukup sang bapak mengontak saya, di mana Akil?

Sewaktu Akil telah berkeluarga, sebagai pasangan muda, ia membuka kursus sempoa. Dua putriku menjadi muridnya. Hubungan kami menjadi intim. Ketika ia sudah punya putri tiga orang, acapkali kugoda, agar punya anak laki-laki. Lalu, ia bertanya apa jaminannya, kalau yang lahir berikut sudah laki-laki? Dengan tangkas kujawab, jaminannya saya. Bukankah keluargaku, tiga putri berturut-turut? Nanti anak keempat: putra. Akil terkekeh, persis seperti bapaknya terkekeh, kala kami saling canda.

Perjumpaan terakhirku dengan Akil, sekitar tiga bulan lalu, kala Amrin wafat. Amrin Massalinri meninggal sehari sebelum Pemilu Legislatif dan Presiden 2024. Tepatnya, Rabu, 13 Februari 2024, sewaktu matahari masih semenjana teriknya. Amrin, juga junior saya di HMI MPO Cabang Makassar. Secara biologis lebih berumur tinimbang Akil. Wafatnya Amrin pun cukup mengagetkan, hanya demam tinggi selama tiga hari.

Sepak terjang Amrin selama ber-HMI dan setelahnya seperti Declan Rice, sang gelandang bertahan dan sesekali menyerang dari Arsenal. Tidak ada capeknya. Sekotah aktivitas dijelajahinya. Tukang demo, baik di kampus, jalanan, kantor gubernur, apatah lagi kantor DPR.

Saking aktifnya sebagai aktivis mahasiswa, ia tidak menyelesaikan studinya di UNM. Pungkas bermahasiswa, ia berkeluarga, lalu membuka usaha pengetikan di bilangan Tamalanrea depan Pintu 1 Unhas. Uniknya, banyak mahasiswa yang sementara S2 dan S3, pengelolaan datanya digarap oleh Amrin.

Aku pun buka Toko Buku dan Komunitas Papirus di Kompleks Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) Tamalanrea Makassar. Jadi, aku bertetangga dengan Amrin. Begitu juga beberapa kawan yang ikut buka usaha.

Kawasan depan Pintu 1 Unhas dan Kompleks PDM, menjadi salah satu arena konsolidasi Alumni HMI MPO Cabang Makassar. Secara informal terbentuk jejaring Komunitas Hijau Hitam. Lagi-lagi Amrin menjadi gelandang jelajah, meskipun saya didapuk sebagai kaptennya.

Aktivitas terakhir Amrin, masih di kawasan Tamalanrea Makassar. Menjadi Marbot salah satu masjid, sembari bergiat sosial lainnya, lewat lembaga keagamaan dan komunitas sosial. Sesekali membantu Kopel, karena memang berkolega dengan pengelola Kopel. Paling terakhir, Amrin menjadi relawan pemenangan pasangan capres dan anggota legislatif, yang masih dalam jejaring alumni HMI MPO.

Salah seorang yang ikut meramaikan pergelandangan di area Pintu 1 Unhas dan Kompleks PDM, Madjid. Ada satu kios pengetikan komputer sekaligus jasa penerjemahan Bahasa Inggris digawangi Madjid. Maklum, Madjid sarjana Sastra Inggris Unhas.

Madjid Bati, putra kelahiran Tidore, merantau ke Makassar, menjadi mahasiswa Unhas. Ia pun masuk HMI MPO Cabang Makassar. Selain menjadi pengader, ia juga menjabat bendahara. Di tangan Madjid, disiplin penagihan iuran cabang melambung. Khususnya yang kurasakan.

Sebagai kenangan patutlah kuceritakan. Sekretariat cabang waktu itu di Pa’bambaeng. Aku sudah mukim di Alauddin, Gunung Sari. Sekali waktu, ia datang menagih iuran cabang. Jujur, uangnya belum tersedia. Madjid juga tidak bilang akan ke mukimku. Semacam sidaklah. Kutanya, naik apa Jid? Jalan kaki, katanya. Berikutnya, ia utarakan maksud untuk menagih iuran.

Ommale, karena terkesimak bin takjub atas jalan kakinya, aku tak kuasa untuk menolak bayar iuran. Akhirnya, pasanganku yang bergegas ke pasar dekat rumah, kucegat agar jangan ke pasar, berikan uangnya untuk Madjid. Pasanganku kaget binti heran. Nanti Madjid pergi baru kubilang duduk perkaranya. Aku sangat percaya militansi Madjid dan sering kuutarakan kepada bendahara berikutnya, agar mencontoh Madjid.

Madjid kemudian menceburkan diri ke aktivitas anti korupsi. Lembaga anti rusuah, Kopel menjadikan Madjid sebagai gelandang jelajahnya. Bahkan, mendelegasikan Madjid ke Jakarta untuk membuka perwakilan Kopel. Dalam aktivitasnya kemudian, masih senapas Kopel, ia menghembuskan napas terakhirnya. Madjid wafat, 23 Juni 2021.

Jadi, Akil, Amrin, dan Madjid, serupa trio gelandang yang berputar-putar dalam semesta HMI MPO Cabang Makassar, Paradigma-Papirus, dan Kopel. Sekotah tempat persinggahan itu, masih dalam satu selimut besar: Komunitas Hijau Hitam.  

Di keabadian mungkin saja mereka sementara merancang komunitas, paling tidak Komunitas Hijau Hitam, sebagaimana yang dijalani selama melata di bentala. Komunitas yang mereka bikin, tentulah dalam rangka mempersiapkan kedatangan kami, baik para kakandanya maupun adindanya di HMI MPO Cabang Makassar.

Imajinasiku mengemuka, tentu para senior atau yang lebih duluan berangkat pada keabadian, merasa bahagia karena kedatangan kalian bertiga. Mirip Arsenal yang baru saja mentransfer tiga gelandang jelajah, serang-bertahan, buat menghadapi perlagaan musim berikutnya.

Kalian tidak mati, melainkan masih hidup di antara kami, seperti janji Allah yang masih kupegang teguh. Cuma kalian lebih dahulu menyeberang ke alam yang pasti akan kutuju pula.

Akil, Amrin, dan Madjid, tolong konsolidasi dengan sekotah pentolan HMI MPO Cabang Makassar  yang pulang lebih dahulu pada keabadian. Temui Kalmuddin, mantan ketua cabang dan Arsyad Fadlan, mantan ketua Badko Intim. Jangan lupa, sowan ke Kak Udin (Syaharuddin Parakasi).

Satu harapanku, buatlah program kerja untuk menyambut kami yang datang belakangan. Ingat, karena kalian lebih dulu masuk ke alam sana, maka kalian pun akan jadi senior-senior kami yang masih tertinggal di bentala, yang makin ambyar bin rungkad ini.

One thought on “Akil, Amrin, dan Madjid”

  1. Kak Akil, kak Amrin, dan Kak Majid. Ketiganya sangat berjasa dalam perjalan hidup saya, menumbuhkan semangat, kejujuran, kemandirian, amanah, dan tanggung jawab. Mengajarkan dan menjadi contoh…istiqamah dalam perjuangan. Doa terbaik dari saya: Allahummagfirlahum warhamhum, wa’afihi, wa’fu anhum.
    Kepada Kak Udin Parakkasi, Kak Arsyad Fadlan, dan Kak Kalmuddin. Engkau telah menjadi almarmuhm. Insya Allah dengan amal jariahmu akan mengantarkanmu pada keabadian dalam kebahagiaan di syurga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *