Semua tulisan dari Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Ramadan Itu Bening

Ramadan Itu Bening

 

Embun tetesi batinku yang lusuh

Dari langit-langit pemilik cinta

Daun-daun kehidupan yang ranggas

Mekar dan lembut berhias damai

 

Kata firman-Nya, ini bulanku yang mulia

Bila engkau berbagi kasih sedepah

Ia akan mendatangimu sepuluh depah

Mengangkatmu ke puncak cinta

 

Bening subuh di antara senyap

Malaikat kasih membasuh hati

Para pejalan cinta yang tangguh

Mengantarnya ke tahta kemuliaan

 

Hulawa, Mei 2018.

 

Perdefinisi, puasa atau saum adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang secara sukarela berpantang dari makan dan minum serta melakukan hubungan dengan suami istri pada waktu yang telah ditentukan. Secara umum puasa ini hampir semua agama telah memerintahkan melakukannya, baik agama samawi maupun agama non samawi. Sehingga berkenan dengannya, secara umum hampir pula tidak ada perdebatan. Kecuali dikalangan ummat Islam ketika masuk pada hal menentukan waktu masuknya bulan ramadhan.

Secara umum, puasa dimotivasikan agar orang-orang yang menjalankan menerima manfaat, baik secara ruhaniah (spiritual) maupun secara fisik. Bagi ummat Islam secara khusus agar pelaksananya sampai kepada manusia yang bertakwa sedangkan secara pisik telah banyak dibahas oleh ahli gizi maupun para dokter diberbagai keahlian. Dan secara umum pula yang kerap disampaikan, bahwa puasa itu sebagai media detoksifikasi atawa sebagai media (aktifitas) mengeluarkan racun-racun yang semayam di dalam tubuh kita.

Ramadan adalah bulan di mana segala kebajikan yang dilaku akan dilipat gandakan pahalanya, sehingga sebuah frasa yang popular di tengah masyarakat bahwa di bulan Ramadan, bila engkau berbuat kebajikan sedepah maka kebajikan itu akan mendatangimu beribu depah, bahkan Tuhan membilangkankannya pula bahwa bulan Ramadan ini adalah bulan-Ku, pahalanya akan langsung kuberi dari-Ku.

Bulan Ramadan juga dibilangkan sebagai bulan pengampunan, sehingga apa bila seseorang menjalani puasa dengan baik, tidak makan dan minum dari waktu imsak hingga terbenamnya matahari, serta mengasah batinya untuk selalu berprasangka baik dan berlaku bajik dan bijak kepada sesama manusia, maka memasuki bulan syawal, manusia seperti ini diibaratkan Ia baru lahir kembali dalam keadaan suci sebagaimana bayi yang baru keluar dari rahim ibunya.

Itulah orang-orang yang meraih predikat takwa sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Al-Baqarah; 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang bertakwa.”

Menurut Imam Al-Ghazali dengan merujuk sebuah hadis, bahwa selain puasa yang sifatnya elementer, seperti tidak makan dan minum, serta menyalurkan hasrat birahi pun pada suami istri. Secara substansial intisari dari puasa itu di antaranya adalah “tidak berbohong, tidak menggunjing, tidak mengadu-domba, tidak bersumpah palsu, dan tidak memandang lawan jenis dengan syahwat.” Bila dalam berpuasa masih terjebak satu dari lima yang mesti dihindari di atas, pasti kualitas puasa kita akan terjatuh dan terpuruk.

Karena puasa itu juga bagian dari latihan meningkatkan akhlakul karimah sebagai salah satu misi utama dakwah Nabi, maka lima unsur yang dijelaskan Imam Al-Ghazali di atas adalah menjadi sangat penting dan utama, dalam mendukung proses peningkatan laku dan budi baik dalam kehidupan kita. Kata Imam Ghazali kemudian, bahwa Allah SWT telah menyediakan satu tempat khusus di surga, yang di pintunya bertuliskan Al-Rayyan (kesegaran, kedamaian) dan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang ahli puasa.

Secara sosiologis, bila kita mampu menahan diri untuk tidak melakukan lima hal di atas, maka nampaknya kehidupan masyarakat akan menjadi tenteram dan bening sebening-beningnya, kendati masyarakat masih berasyik-masyuk dengan suasana politik yang kerap menjadi tipu daya.

Jadi, sesungguhnya bila ingin melihat seseorang atau sebuah komunitas telah melaksanakan puasa dengan baik, maka lihatlah perubahan pada kejiwaannya yang terpancar dari perilakunya setelah puasa dilaksanakan selama sebulan penuh. Makanya dalam perspektif spiritualitas, kala ramadan telah beranjak meninggalkan semesta maka manusia-manusia yang telah menempa dirinya dengan segenap maksimalisasi kemampuannya menjalankan ibadah puasa, maka di gerbang Syawal, ia atawa mereka akan menjadi bening, sebening bayi yang baru lahir.

Tutur kata akan berhijrah dari pengumpat dan pencaci menjadi lemah-lembut, laku dan gerak geriknya, dari kasar hijrah mencerminkan akhlak tinggi atawa budi pekerti yang baik, dari kerap berprasangka buruk mengubah diri (hijrah) menjadi positif thingking selalu berprasangka baik. sebagaimana pesan Sayyidina Ali Bin Abu Thalib, bahwa, “Ilmu orang beriman itu ada pada amalnya, sedang orang munafik ada pada lisannya”

Bukankah salah satu tujuan bernegara adalah tercapainya sebuah negeri yang “Baldatun Tayyibah wa Robbun gafur” “sebuah negeri yang baik, sentosa, adil dan makmur, serta mendapat perlindungan Tuhan yang maha kuasa.” Nah, negeri impian untuk semua orang seperti yang kerap dipidatokan oleh para ustas dan ulama serta para pemimpin ini, syarat utamanya adalah melahirkan rakyat, warga, dan bangsa yang berkualitas bening, sebening embun.

Kualitas manusia-manusia takwa. Manusia-manusia yang telah tercerahkan oleh celupan ramadan karim. Manusia-manusia yang berprilaku saleh, manusia-manusia yang telah berhijrah hati dan lakunya oleh tempaan ramadan. Bukan manusia-manusia yang nampak secara fisik “bepakaian saleh”, tapi suka menyakiti sesamanya, baik fisik dan non fisik. Manusia-manusia yang suka pamer bila berbuat baik. manusia-manusia yang suka menyebar hoaks dan fitnah pada semesta raya. Manusia-manusia yang selalu merasa paling baik dan benar di antara manusia lain.

Dua style dalam mengarungi hidup ini sebagai bangsa terus akan “berperang”. Jadi, bila ingin memotret capaian negeri yang baik dan mendapat pengampunan dan perlindungan Tuhan, ya lihat saja sikap dan style warganya, apakah dia tipikal yang petama atawa yang kedua, wallahu a’lam bisyawwab.

Puasa mencakup dimensi sangat pribadi pada seseorang dan juga berdemensi universal untuk kebaikan dan kemaslahatan bangsa sebuah Negara dan untuk memberi spirit kesehatan lahir dan batin untuk warga sebuah Negara dan bangsanya. Sebab, seperti pembahasan pada alinea awal ditulisan ini, bahwa puasa itu menjadi ajaran dan perintah dihampir semua agama di bumi ini. Baik agama samawi atawa agama langit yang diantaranya adalah, Yahudi, Nasrani, dan Islam, maupun agama tabhi’i, yakni agama yang lahir secara alamiah dan proses natural dari kebudayaan sebuah komunitas atawa warga, seperti, Agama Hindu, Buddha, Shinto, dan Konghucu. Walaupun dengan jumlah dan waktu pelaksanaannya berbeda-beda, tapi secara substansial caranya secara umum sama, dengan menahan untuk tidak makan dan minum, menyalurkan nafsu syahwat kepada suami istri sekali pun. Bahkan pada masyarakat yang tidak mengenal agama sekalipun, seperti komunitas-komunitas primitive dan yang lainnya ditemukan adanya kebiasaan berpuasa.

Ada dua hal sehingga puasa disyariatkan oleh agama-agama yang ada, diantaranya pertama adalah, puasa sebagai alat untuk mendekatkan diri menuju Allah. Karena alasan inilah sehingga kita menemukan perintah puasa pada seluruh agama di dunia ini. yang kedua, agama dapat memenuhi kebutuhan spiritual kita. Bila semua orang yang beragama memperaktikkan sisi-sisi spiritualitas puasa secara baik dalam kehidupannya maka dapat dipastikan sebuah negeri seperti negeri yang indah ini, negeri kita tercinta Indonesia akan sampai pada suasana bangsa yang saling mengasihi dan mencintai. Sebuah Negeri yang berperadaban tinggi seperti yang dicitakan para founding fathers Negeri ini dan UUD serta perangkat politik dan hukum lainnya.

 

Sumber gambar: Koleksi Abdul Rasyid Idris

Fenomena Pesepeda dan Pandemic Covid-19

Sekira selustrum terakhir, aktivitas bersepeda seiring waktu mengalami perkembangan yang cukup pesat sehingga bermunculan berbagai komunitas pesepeda, mulai dari yang anggotanya beragam jenis sepeda, hingga yang mengkhususkan komunitasnya pada jenis sepeda tertentu, semisal sepeda lipat, MTB (Mountain Bike), bahkan tarakhir beberapa komunitas muncul dengan membawa bendera merk sepeda, dll.

Even-even pun semakin marak. Kalender even untuk tahun 2020 saja yang terjadwal ada puluhan, yang kemudian setelah pandemic Covid-19 diumumkan secara resmi oleh WHO (Word Health Organitation) dengan berbagai macam bahaya penyebarannya dan jenis virusnya, kemudian bersamaan pula diumumkannya oleh pemerintah Indonesia, dibarengi fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia), untuk menghindari kerumunan dan bahkan meniadakan sementara salat jumat, guna memotong mata rantai penyebaran virus corona yang dahsyat itu. Maka berguguran pula even-even bersepeda yang sudah terjadwal rapi. Bahkan event B2B (Bogor To Bandung) menempuh jarak sekira 130 Km yang pendaftarnya lebih seribu peserta dan telah melakukan pembayaran terpaksa dibatalkan dan hanya racepack yang dikirim ke rumah masing-masing, dan setahu saya tak satu pun peserta yang complain, semua bersabar untuk kebaikan bersama, mengikuti anjuran pemerintah dan fatwa ulama. Dalam rangka memeringati hari jadi Kabupaten Bone juga menginisiasi even bersepeda dengan jarak 67 Km yang juga akhirnya diundur hingga waktu yang belum ditentukan, padahal sudah banyak yang melakukan pembayaran, pun tak ada yang complain.

Tak dinyana, tiba-tiba beredar video dan foto oleh pengabar mainstream yang memberitakan sekelompok goweser bergerombol di tepi jalan masuk CPI (Centre Point Of Indonesia) yang masih satu kawasan dengan Pantai Losari, jumlah kerumunan yang terambil kamera lumayan banyak seolah tidak terjadi apa-apa, seolah himbauan pemerintah dan MUI berkenan dengan Covid-19 tak bertuah, tak ada apa-apanya, dan dipandang sebelah mata. Bahkan di sebuah billboard tak jauh dari situ yang lumayan besar dan benderang tulisannya mengingatkan khlayak untuk  “kembali ke rumah saja” tak dipedulikan pula, sebab mau dikatakan mereka tak tahu membaca atawa tak melihatnya sangat kecil kemungkinannya. Judul beritanya cukup provokatif “Komunitas Sepeda Makassar meremehkan Covid-19”. Tentu komunitas sepeda di Makassar yang sejak awal anjuran pemerintah Republik Indonesia dan MUI untuk di rumah saja dan tidak melakukan aktivitas secara berkelompok atawa berkerumun, langsung menyikapinya dengan bijak dan tegas sehingga gowes bareng yang hampir setiap pekan dilakukan untuk sementara ditiadakan. Bila ada yang mau gowes dilakukan sendiri-sendiri saja atawa paling banyak lima orang perkelompok dengan syarat yang sangat ketat. Harus memakai masker atau semacamnya. Jaga jarak, dan setelah gowes langsung kembali ke rumah, tidak lagi berkumpul di warkop dan sejenisnya sebagaimana yang lazim dilakukan sebelumnya. Pun mengikuti protokol yang disampaikan oleh para pakar virus dan kesehatan, bahwa bila usai beraktivitas di luar rumah setelah kembali langsung mencopot pakaian dan direndam di air sabun atawa langsung dicuci. Benda lainnya termasuk sepeda disemprotkan disinfektan.

Bagi saya, sejak menjamurnya pengabar berita online, judul berita provokatif seperti itu bukan hal yang luar biasa, dari yang mainstream hingga yang “abal-abal” seolah begitu sulit dibedakan. Seolah kaidah klasik dalam mencari dan menulis berita, yang termaktub dalam 5 W 1 H ; What: Apa, Who: Siapa, When: Kapan, Where: Di mana, Why: Kenapa, agar dalam menuliskan sebuah berita keakuratannya tetap terjamin, nampaknya sudah mulai buyar apatah lagi kuli tinta media “abal-abal”.

Di beberapa komunitas sepeda di Makassar, sejak awal diumumkan pandemic Covid-19 ini, telah dengan cepat menggalang empati. Kala dikabarkan bahwa para tenaga medis di rumah sakit kekurangan APD (Alat Pelindung Diri), mereka langsung menggalang dana untuk kebutuhan itu dan alhamdulillah tak terhitung terlalu lama terkumpul anggaran untuk sejumlah seratus APD yang disumbangkan kebeberapa rumah sakit, dan hal ini tidak diliput media, dan memang tidak perlu sebab hal ini gerakan cepat untuk kemanusiaan. Cukup diunggah di group WAG (Whatsapp Group) sebagai pertanggungjawaban ke anggotanya. Gerakan cepat seperti ini tidak hanya satu komunitas yang melakukannya, tapi beberapa dengan variasi sumbangsih beraneka ragam. Terakhir yang saya tahu, beberapa komunitas langsung turun ke lapangan berbagi masker dan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat yang bekerja secara serabutan.

Kurang lebih dua tahun terakhir saya menetap full di Makassar dan cukup aktif di beberapa komunitas sepeda, gerakan kawan-kawan di komunitas ini selain aktif bersepeda dan silaturrahim untuk sehat juga sangat aktif pada gerakan social. Jauh dari hiruk pikuk dan hingar bingar politik seperti yang sangat massif di medsos. Pun dalam suasana genting pandemic Covid-19 ini. Padahal di WAG komunitas pesepeda juga ada anggota DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) dari pelbagai partai.

Cukup prihatin bila menyaksi hiruk pikuk postingan negatif dan nyinyir berkenan dengan Covid-19 di negeri ini. Mestinya kita bersatu untuk mengawal pemutusan rantai penularan virus yang sangat cepat dan sangat berbahaya ini. Teringat Adlai Stevenson, yang pernah berucap lugas pada sahabatnya, Eleanor Roosevelt sebagai Ibu Negara atawa istri presiden Amerika Serikat 1933 – 1945, Franklin Delano Roosevelt,  yang begitu sarat dengan makna filosofis, bahwa “lebih baik menyalakan lilin dari pada mengutuk kegelapan”. Adlai menasehati sahabatnya itu ketika banyak mengeluh kala menghadapi masalah yang cukup pelik sebagai Ibu Negara. Nah, untuk kondisi saat ini, saya fikir ungkapan ini masih sangat relevan untuk kita sampaikan kepada para penyinyir dan para pengeluh di bangsa ini dalam menghadapai pandemik yang yang sedang melanda negeri tecinta ini.

Lance Amtrong, peraih juara Tour De France tujuh kali setelah sebelumnya menderita kanker otak yang yang cukup akut dalam memoar panjangnya yang ditulis bersama seorang wartawan olah raga, Sally Jankins, menuliskan beberapa episode dalam hidupnya setelah sembuh total dari penyakit yang diidapnya, ia mendirikan sebuah yayasan atawa lembaga sosial yang membantu anak-anak pengidap kanker di seluruh dunia. Bahwa nampaknya aktivitas bersepeda cukup padupadan dengan aktivitas sosial di mana keduanya sangat mengasyikkan. Satunya (bersepeda) menyehatkan raga, sedang satunya lagi (aktivitas sosial) menyehatkan jiwa.

Jadi, fenomena goweser atau pesepeda selustrum terakhir memang berkembang dengan pesat dengan motivasi utama untuk sehat tentunya dan mungkin beragam motivasi lainnya yang mengikutinya. Kita berharap kejadian yang diekspos oleh media beberapa waktu lalu tidak terulang lagi. Sebab kesadaran untuk bersepeda dengan baik memang butuh edukasi dan waktu yang menyertainya.

 

Maros, April 2020.

 

 

Aku Tak Jadi Membunuh Cintaku

Pagi selepas subuh, udara lembab meliputi semesta dan camp tempat Chandris melakukan aktivitasnya sehari-hari mengais nafkah bagi anak semata wayangnya. Pohon-pohon bergerak gemulai mengikuti irama semilir angin pagi yang berdesir sepoi. Para pekerja baru saja bersiap-siap ke kamar mandi membersihkan diri bersegera ke tempat kerjanya. Chandris, masih bermalas-malasan di depan kamarnya sembari mengisap dalam-dalam rokoknya yang menjadi kebiasaannya sebelum ke kamar mandi. Masih nampak galau setelah semalaman mengetahui putrinya sedang sakit di kampung seberang.

“Hallo.. Hai sayang.”

“Hai Pa.. kapan pulang?”

“Iya.. nanti ya, Papa masih kerja cari duit untuk, Rini kan?”

“Oke, Papa, jangan lama ya, dan Papa harus sehat.”

“Oke, sayang. Terima kasih.”

Percakapan seperti ini hampir setiap hari berlangsung yang mengharu-birukan hati Pak Chandris. Anak semata wayangnya baru berusia sekira lima tahun, centil-centilnya. Masa pertumbuhan yang masih butuh pelukan kasih dari sosok-sosok orang tua yang dikasihinya. Di mata dan hatinya penuh cinta titipan Ilahi. Laku kanaknya masih mengelana ke mana-mana tak bertujuan, mengembara mencari sepucuk kasih sayang yang selalu dirindukannya. Mencari sosok figur yang bisa mengantarnya menjadi anak bertumbuh penuh cinta.

Chandris, telah menduda sekira empat tahun lamanya, sejak Rini anak semata wayangnya berusia satu tahunan. Petaka rumah tangganya datang tak terduga, kala istrinya selama hidup berumah tangga melakoni hidupnya sebagai ibu tumah tangga yang dipilihnya sendiri dengan enjoy, senang dan bahagia. Tapi entah kenapa setelah anak peratamanya lahir yang telah sekira empat tahun ditunggunya, mendorong niat dan tekadnya untuk kembali ke ranah publik mengais nafkah sebagaimana yang pernah digelutinya kala ia masih gadis, setelah menamatkan kuliahnya. Malapetaka itu berawal dari situ, Chandris yang selama ini bekerja di perusahaan tambang jauh dari kotanya, dengan roster kerja yang cukup ketat tentu pertemuan dengan keluarga kecilnya juga periodik. Namun, sepanjang waktu hingga si buah hati lahir kebahagiaan berumah tangga bersama istri yang ia kasihi sangat dinikmatinya.

Perpisahan tak terelakkan setelah pertengkaran demi pertengkaran berlangsung secara intens terjadi. “Itu, Rini anak kita semata wayang butuh diemong setiap saat. Jadi, tolong pertimbangkan lagi aktivitasmu mencari nafkah di luar rumah, bukankah selama ini aku membanting tulang bekerja dengan gaji yang cukup telah kita jalani dengan baik dan bahagia?”

“Iya, tapi aku tidak bisa dikungkung terus di rumah, bosan jadinya. Kalau gaji kamu tidak mau kau berikan padaku tidak apa-apa, aku bisa membiayai hidupku sendiri,” tegas Murni suatu malam, kala Chandris memberi saran dan pertimbangan.

Dan kalimat pendek itulah yang membuat Chandris tersinggung berat. Bukankah selama ini kami tidak pernah mempermasalahkan soal uang dan sejenisnya, karena hubungan kami dilandasi dengan cinta yang kuat, keluh Chandris dalam hatinya.

Ia tak pernah habis pikir kenapa istri yang ia cintai berpikir dan bersikap seperti itu, bak terhipnotis oleh sesuatu di luar dari dirinya. Toh, selama ini bahkan sebelum mereka dikarunia seorang putri cantik tetap rukun-rukun saja tanpa sesuatu pun yang mengacaunya.

Dan akhirnya keduanya menyerah pada takdir setelah dalam rentang waktu yang tak terlalu panjang, mereka berdua memutuskan untuk berpisah. Jalan nampak buntu terhijab amarah. Cahaya pun tak ada di sana hingga di ujung upaya sekedip pun.

Sesungguhnya, dalam jedah sejenak masing-masing memiliki cinta, paling tidak cinta buah yang mereka semai bersama dalam mata indah Rini dan kasih di hatinya. Tapi, amarah menutupi segalanya, termasuk nasihat kasih dari orang tua keduanya. Keputusan ini menyakitkan keduanya terlebih gundah seorang anak yang lahir dari kasih sayang kedua orang tuanya yang sedang bergumul emosi tak terperih.

Putusan pengadilan dengan berbagai alasan-alasan hukum, Rini, balita mungil nan cantik bermata indah, hak pengasuhannya diberikan kepada ayahnya. Jadilah, Chandris sebagai lelaki muda pekerja professional menjalani hidupnya sebagai single parent. Rini, tinggal bersama kakek neneknya bila Chandris berangkat ke tempat kerja secara periodik dan menikmati hidup bahagia bersama Rini setiap kali menjalani waktu-waktu cutinya.

“Papa mau pergi lagi?”

“Iya, sayang, kan mau cari duit untuk beli mainan, Rini.”

“Tapi, kan mainan, Rini masih banyak.”

“Iya, juga untuk beli baju, Rini kan.”

“Baju, Rini juga masih banyak kok”

“Beli susu juga, sayang.”

“Susu Rini juga masih ada kok di kulkas, kalau habis tidak usah minum susu, minum air saja.”

Jawaban-jawaban, Rini pada bapaknya yang ia sayangi sebagai ungkapan hati anak belia yang masih butuh kasih sayang, sangat menyentak. Chandris, nyaris menumpahkan air hangat haru nan perih di tebing-tebing pipinya, namun ia berusaha menahannya sekuat tenaga, berusaha nampak tegar di kerumunan orang banyak, di bandara suatu siang kala hendak berangkat menunaikan tugasnya untuk periode selanjutnya.

Hatinya berkecamuk gemuruh sedikit linglung dan gundah bercampur baur. Akhirnya, ia bertekad untuk mengambil jalan-jalan terbaik untuk anak terkasihnya. Ia menundukkan kepala sejenak sembari berdoa agar dikuatkan menghadapi cobaan-cobaan hidup dan memutuskan segala yang terbaik untuk Rini, anaknya yang ia cintai.

Rini, yang masih duduk di kelas nol besar taman kanak-kanak “bahagia” di kotanya. Usia ranum-ranumnya untuk seorang anak untuk dipeluk sepenuh kasih dan selalu mengundang rindu yang mengumpal-gumpal kala Chandris sedang sibuk-sibuknya bekerja di kantornya sebagai finance.

***

Masa single parent telah dilaluinya selama jelang tiga tahun, hingga suatu ketika lewat media sosial di mana ia aktif bersosialisasi untuk membunuh rasa gundah dan rindunya pada Rini yang selalu menyiksanya, hatinya digetarkan oleh seorang perempuan yang ia kenal di facebook, teman kencan di Medsos sejak beberapa bulan terakhir.

Secara fisik ia belum pernah sua dengan perempuan itu, kecuali saling berbagi foto-foto terkini dan juga sesekali melakukan video call. Masing-masing  telah bercerita tentang perjalanan hidupnya yang setali dua uang, masing-masing duda dan janda cerai dengan permasalahan yang berbeda tentunya, namun secara klasik persamaannya sama-sama tidak cocok lagi dengan pasangan terdahulunya. Dari sisi pandangan hidup banyak hal yang mereka berdua cocok, pun hobi beberapa yang cocok, hingga mereka berdua membuat janji ketemu kala Chandris nanti cuti pada priode berikutnya.

Sesungguhnya, Chandris masih ragu apakah masih bisa mendapatkan ibu pengganti dari ibu kandung Rini dalam waktu dekat ini. Melihat perkembangan emosional Rini yang cepat dan sensitif itu. Tumbuh kembangnya terlampau cepat, sensitivitas emosionalnya melampaui usianya.

Dialog-dialog via telepon dan secara langsung bila field break dari kantornya sangat terasa betapa sensitivitas Rini sangat kuat dan tajam. Hingga kerap kewalahan dibuatnya dalam menjawab hal yang terkait berbagai hal, apatah lagi pada aspek durasi waktu pertemuannya yang ia sangat butuhkan.

Hal inilah yang membuat Chandris kerap disambangi rasa gundah yang menggunung lewat hari-harinya yang panjang di tempat kerja. Untungnya beberapa asistennya dapat membantunya dengan baik dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban yang mesti dilakoninya sebagai karyawan yang cukup disegani selama ini. Pikirannya kerap tak bisa fokus dalam pekerjaan walau nampak ceria dan enjoy saja. Dalam kesehariannya secara fisik ia cukup bisa mengantisipasi segala galau yang berkecamuk di dalam hatinya apatah lagi bila ia berhadapan dengan teman-teman sejawatnya, karena memang dasar pembawaannya ceria dan selalu enjoy selama ini. Kecuali beberapa asistennya, sedikit tahu tentang pekerjaan-pekerjaan yang biasanya ia kerjakan dengan baik tapi beberapa bulan terakhir kerapkali pekerjaannya dibantu oleh mereka yang sangat jarang melakukannya, kerena ia dikenal sebagai pekerja yang tekun dan ulet.

“Aku cuti besok, semoga kita bisa ketemu di kota pada hari ketiga cuti saya.”

“Kalau besok malam saja, bagaimana Chand?”

“Kayaknya, gak bisa, Din. Biasanya aku emong dan manjakan dulu Rini.”

“Bawa saja toh.. pas pada waktu kita ketemuan, supaya bisa kenal lebih dekat dan lebih akrab dengan Rini.”

“Sepertinya belum bisa, Din.”

“Ya.. sudah, kamu aja yang atur, semoga waktuku tidak tabrakan dengan kegiatan lainnya.”

“Semoga saja waktunya klop waktu yang  kumaksud.”

Saling berjawab di whatsapp antara, Chandris dan Dinda jadi mengambang. Di sana ada ego yang mulai berselancar. Chandris sulit menentukan sikap. Antara cintanya yang kuat pada anak semata wayangnya, Rini yang lahir dari hati dan kalbu terdalamnya. Sementara, dengan Dinda sudah mulai tumbuh benih-benih sukanya yang mulai merambat ke hatinya. Dua pilihan yang kerap memusingkannya, walau secara naluria pasti pilihan utamanya membahagiakan, Rini, putri cantik yang lahir dari darah dagingnya.

***

“Horreee… Papa pulang besok..”

Rini, memekik sembari berlari kearah kakeknya, setelah melemparkan hp-nya ke sofa. Kakeknya menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Pukul berapa besok bapakmu tiba, sayang?”

“Seperti biasa, Kek, sore, sekira pukul tiga.”

“Mau jemput di bandara atau tunggu di rumah saja?” Tutur kakeknya lembut.

“Jemput di bandara saja ya, kek”

“Oke, kalau gitu cepat bobo ya, agar bisa bangun pagi.”

Dialog-dialog sepenuh kasih dan manja antara kakek dan cucu ini saban waktu berlangsung nyaris tanpa jeda. Sebagaimana lazimnya, kakek dan Nenek lebih cenderung memanjakan cucunya apatahlagi bila sang cucu tak sesering sua dan serumah ibu-bapaknya. Rini, adalah cucu semata wayang berusia lima tahunan.

Perkembangan pisik dan psikologinya melampaui rata-rata anak-anak sebayanya. Hiperaktif dan sensitif. Ia tak mau diam, pergerakan fisik dan celoteh verbalnya paralel dan seimbang. Lantaran itu, kakek dan neneknya kerap kewalahan mengemongnya. Itu salah satu faktor, Chandris sebagai ayah single parent berpikir untuk resign dari tempat ia bekerja mengais nafkah selama beberapa tahun terakhir.

Waktu bersama, Rini anak semata wayangnya sangat singkat dibanding waktunya mencari nafkah di kampung seberang. Waktunya yang singkat bersama Rini, di waktu-waktu cutinya dibuatnya seberkualitas mungkin. Dia tidak mau ada waktu jeda yang mebuatnya terdapat ruang kosong dalam kebersamaannya. Termasuk, Dinda, yang telah dikenalnya dan dijadikannya kekasih. Pusaran cintanya saat ini berpusar pada, Rini. Dia sadar betul bahwa mencintai anaknya sebagai darah dagingnya, sabagai amanah yang diberi Tuhan yang maha cinta adalah representasi cintanya padaNya. Ia tak keliru dalam  memilah skala prioritas cintanya. Walaupun, Dinda pun telah menangkap cintanya yang selama ini hampa dibawa angin beliung terbang entah kemana.

Sebagaimana kebiasaannya selama ini bila Chandris sedang cuti, aktivitasnya rutin mengantar Rini ke sekolah. Menemaninya seharian penuh sejak bangun dari tidur hingga tidur kembali dengan rupa-rupa aktivitas, baik yang rutin, terencana dan yang spontanitas. Tapi, tak sedikitpun membuatnya bosan dan merasa jenuh. Justru semangat hidupnya semakin buncah bila anak semata wayangnya itu ada di sisinya dalam keadaan apapun.

Setelah tiga hari menikmati masa cutinya, Chandris rupanya tak kuat juga menahan gejolak cintanya pada Dinda. Dia mencoba menghubunginya untuk sua melepas kangen bersama yang selama ini ditahannya karena faktor pertimbangan Rini, dan soal gengsi untuk memulainya setelah menyampaikan keberatannya untuk ketemuan begitu tiba di kotanya karena alasan memanjakan Rini. Akhirnya janji ketemuan disepakati juga. Di sebuah sore yang ranum di tepi kota mungil itu terdapat sebuah kafe Tepi Kuala. Café yang berexterior dan interior indah. Terletak di tepi sungai yang berseberangan dengan hamparan persawahan yang luas.

“Hai Rini. Assalamu alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” Chandris mendahului sebab dia tahu, Rini tak langsung menjawabnya. Ia khawatir pertemuan pertama antara, Dinda dan Rini mengalami hambatan psikologis dan bermasalah. Padahal harapannya sangat besar bahwa pada pertemuan pertama ini akan menumbuhkan harapan-harapan yang baik untuk semuanya, agar kesungguhan untuk membawa, Dinda ke pelaminan tidak terkendala oleh hubungan antara Rini dan Dinda.

“Nama kamu, Dinda ya ?”

“Iya, lengkapnya, Dinda Asmaraloka”

“Kamu apanya Bapak saya”

“Temannya,” dengan suara terbata-bata, walaupun senyumnya tetap mengembang.

Sesungguhnya, Dinda berharap dengan menyebutkan nama lengkapnya “Dinda Asmaraloka”, Rini akan menyambutnya dengan kalimat, “namanya indah sekali”, seperti biasa bila berkenalan dengan siapa saja. Tapi, Dinda telat menyadarinya bila Rini itu masih berusia kanak yang belum paham keindahan arti sebuah nama.

Pertemuan pertama tiga anak manusia ini berlangsung sedikit kaku walaupun, Chandris dan Dinda berusaha menciptakan suasana secair-cairnya. Namun, Rini kerap mengajukan tanya yang tak terduga dan mengejutkan keduanya. Pertemuan yang tetap menyimpan gundah yang tak selesai.

Sebelum Chandris meninggalkan kotanya untuk kembali mengais nafkah di kampung seberang, seperti biasanya sejak mengenal Dinda, pertemuan keduanya tetap berlangsung dalam suasana romantis. Namun pertemuan kali ini, Chandris sedikit memaksa agar dirinya dipertemukan dengan keluarga Dinda. Paling tidak dengan Ibu dan Ayahnya serta saudara kandungnya.

“Kenapa harus ketemu sakarang,” ketus Dinda.

“Aku serius ingin menyuntingmu sebagai istri, dan menjadi bagian dari keluarga besarmu.”

“Oooo.. persis kalimat yang dulu diutarakan oleh mantan suamiku ketika ingin menyuntingku sebagai istri.”

Sontak Chandris tak bisa menahan rasa kesal dan kecewanya, walaupun tak diungkapkan secara verbal namun di wajah dan gestur tubuhnya memperlihatkan dengan sangat terang benderang. Ia kecewa berat dengan pernyataan kalimat pendek dari, Dinda. Tersinggung dipersamakan dengan mantan suami perempuan yang baru saja mebuatnya jatuh cinta. Karena marahnya Ia berjanji dalam hatinya untuk berusaha membunuh cintanya pada, Dinda, yang baru saja kuncup seumur jagung. Pertemuan yang awalnya romantis berakhir dengan hambar bak punama empat belas yang tertutupi awan pekat tanpa bintang-bintang.

Cinta.

Engkau ingin membunuhnya?

Tidak akan

Sebab, ia ilahia.

Yang mungkin mati.

Rasa suka kamu.

Sebab, ia fana.

Cinta.

Kasih Tuhan.

Berkecambah di situ.

Dalam perjalanan panjang menuju tempat ia mengais nafkah yang jauh di seberang, ia teringat sepotong puisi karya sahabatnya yang pernah ia baca di sebuah antologi. Hingga ia bimbang menarik garis tegas berkenaan dengan hubungannya dengan Dinda. Cinta kah? Atau suka kah? Bergelayut memenuhi ruang pikir dan hatinya. Galau dan gundah menemani langkahnya menuju kesibukan di kantornya keesokan harinya.

Kakek dan nenek Rini tidak kepalang bahagianya, kala suatu malam mereka bertiga berbaring di ruang keluarga sembari nonton tv. Rini berkisah tentang calon mama barunya yang mirip seorang presenter yang sedang mereka tonton di tv.

“Rini, pernah ketemu dengan calon mama kamu itu?”

“Tadi dia membawakanku kue di sekolah, Nek.”

“Ooo, ya. Orangnya baik dong?”

“Ya, iyalah, Nek,” mereka bertiga tergelak.

“Rini suka padanya?” Canda Kakeknya.

“Kan Rini, butuh mama, ya iyalah suka,” lagi-lagi mereka bertiga tergelak dan saling berpelukan.

Nenek dan kakeknya sudah pernah mendengar langsung dari ayahnya berkenaan calon Istri Chandris dan merasa cocok. Tapi ia khawatir tidak cocok dengan Rini. Padahal ia kadung jatuh hati. Hingga suatu waktu kala Chandris cuti lagi dan kembali ke rumahnya. Kedua orang tuanya menanyainya dan sedikit mendesak untuk melamar Dinda. “Tapi, nampaknya, Rini tidak suka, Dinda, Mak”

“Siapa yang bilang?” Celetuk ayahnya yang nguping tak jauh dari mereka.

“Sudah pernah kupertemukan, tapi Rini cuek dan ketus setiap perkataannya pada Dinda.”

“Dan lagi pula aku sudah bertekad untuk meninggalkannya. Biar aku hidup dengan Rini saja. Bahkan aku juga telah berpikir untuk resign dari kantorku.”

Berkenaan dengan resign dari kantornya, Ayah dan Ibunya juga juga sepakat karena Rini harus dekat dengan orang tuanya. Tapi perkembangan hubungan antara Rini dan Dinda, sama sekali tak diketahuinya.

Hingga di suatu hari libur, Rini mengajak bapaknya ketemu Dinda di tempat mereka pertama kali sua bertiga. Di sebuah cafetaria yang tempatnya romantis, di sebuah tepi sungai dan di sebelahnya terhampar sawah yang sangat luas.

“Papa, aku mau Dinda jadi Mamaku.” Bisik Rini dalam perjalanan menuju tempat janji ketemu antara Rini dan Dinda.

“Aku tak jadi membunuh cintaku,” gumam Chandris.

 


Sumber gambar: hipwee.com

Perempuan Tangguh

Catatan pendek mengenang, Zohra Andi Baso

Awal tahun ini aku merasa terberkati, sebab oleh teman-temannya di KPI (Koalisi Perempuan Indonesia, istriku diajak menghadiri kongres ke V KPI yang mereka gelar dengan tema besar “Festival Kepemimpinan Perempuan dan SDG’s (Sustainable Development Goals)” di Surabaya. Bisikan pertama mengajakku aku bergeming, sebab aku merasa tidak ada urgensinya hadir, walaupun banyak di antara aktivis perempuan yang bergabung di KPI adalah teman-temanku, baik yang aktif di Makassar maupun di Seknas (sekretariat nasional). Tapi bujukannya luluhkan hatiku, kala beberapa teman dan istriku, menambahkan bahwa kehadiran kita di sana dalam rangka mengenang Kak Zohra, begitu sapaan sehari-hari kami buat Zohra Andi Baso.

Kemudian istriku menambahkan, bagaimana kalau kita mengikut sertakan sepeda, gowes keliling-keliling Surabaya, Madura via jembatan Suramadu, dan kalau bisa kita gowes dari Surabaya ke Malang, untuk marayai hari pernikahan kita yang ke 32. Dengan alasan-alasan itulah aku rasanya tak berkutik. Sebab yang terbayang adalah kenangan buat Kak Zohra, ketemu perempuan tangguh yang lain seperti Khofifah Indarparawansa gubernur Jawa Timur saat ini. kemudian melihat-lihat dan menyaksikan langsung hasil karya seorang perempuan tangguh lainnya lagi, yakni Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini.

Kongres ke V KPI dihelat di asrama Haji Jawa Timur, Sukolilo Surabaya, pada 19–24 Februari 2020. Peserta dari seluruh Indonesia berjumlah sekira delapan ratusan orang. seperti biasanya, even-even seperti ini yang dikelola oleh kawan-kawan dari gerakan c[vil society selalu dihelat dengan “sederhana”. Ada persembahan pagelaran tari “padduppa” oleh peserta dari Sulawesi Selatan dan beberapa hiburan lainnya dari provinsi yang berbeda-beda.

Pembukaan kongres ke V KPI ini ditandai dengan pemukulan gong oleh Khofifah Indarparawansa selaku Gubernur Jawa Timur, sekaligus tuan rumah, dilanjutkan dengan penyajian materi sebagai keynote speaker. Beliau mengurai dan mejelaskan substansi dan penjabaran program-program turunan MDG’s, termasuk target dan capaian program-programnya di Propinsi Jawa Timur yang beliau pimpin.

Selama pembukaan kongres ke V ini berlangsung, kenangku tak hentinya melanglang jauh. Terbayang kegigihan, Kak Zohra memperjuangkan kemandirian kaum perempuan di ranah domestik dan publik, hingga akhir hayatnya. Bila berkenan dengan issu-issu gerakan kesetaraan gender, Kak Zohra adalah sosok terdepan di Sulsel dan di negeri ini. Lihatlah kiprahnya, yang ternyata beliau adalah salah satu perintis berdirinya organisasi ini beberapa tahun silam. Beliau masuk pada jajaran terdepan di organisasi ini, saat awal berdirinya atawa pada kongres koalisi perempuan ini pertama kali dan kedua kalinya dihelat di Jogyakarta dan Jakarta.

Namun, Kak Zohra tidak berhenti di situ, selain tumbuh dan besar sebagai kuli tinta di zamannya, beliau juga adalah pejuang lingkungan dan pembelaan pada kaum tertindas. Jadi, pada sosoknya terhimpun kejuangan komplit untuk tidak mengatakan hampir semua usianya dijalani untuk perjuangan kemanusiaan. Sosoknya sangat keras tapi tetap bijaksana pada hal-hal yang dianggapnya prinsip dalam perjuangannya. Kerap kali aku dilibatkan atawa dimasukkan dalam tim kala melakukan advokasi atawa pembelaan pada masyarakat tertindas.

Suatu waktu yang aku sudah lupa waktu tepatnya, terjadi “perseteruan” antara masyarakat dengan pemilik perkebunan karet di Kabupaten Bulukumba. Kala itu gesekannya sangat keras sehingga memakan korban. Satu di antara penggerak dari protes warga kepada perusahaan pengelola kebun karet di kejar-kejar oleh pihak keamanan, oleh beliau dibelanya dengan full power. Teman aktivis itu kami lindungi di sebuah tempat agar tidak tertangkap oleh pihak keamanan. Aku termasuk yang mengawalnya. Sembari beliau melakukan lobby-lobby kepada pihak-pihak yang berkompoten, termasuk pada Kapolda Sulsel ketika itu.

Alhamadulillah atas lobby-lobby beliau setelah piha korps baju coklat itu melakukan investigasi kasus secara cermat maka mereka mendapati kekeliruan tindakan di luar SOP yang ada sebagai sangsi pada pimpinannya diberi sangsi mutasi. Kawan kami pun yang semula di kejar-kejar itu kembali bisa beraktivitas melakukan pendampingan masyarakat seperti semula yang dilakukannya. Ini bahagian peristiwa “perjuangan” yang sangat berkesan bagiku dan kawan-kawan aktivis NGO (Non Government Organisation) atawa kerap dibilangkan pula LSM (Lembaga Swasdaya Masyarakat) kala itu. perjuangan yang heroik tanpa menggunakan bedil.

Peristiwa kedua yang sangat berkesan adalah pecahnya pertikaian massal atawa konflik antar agama dan etnis di di Ambon secara khusus dan Maluku secara umum. Seperti biasanya, konflik seperti ini tidaklah berdisi sendiri, tapi selalu saja saja terprovokasi oleh kepentingan politik para elit politik, baik yang ada di pusat (Jakarta) maupun kepentingan elit politik di daerah. Dan sumbuh konflik yang paling sensitif dan mudah terbakar ditataran masyarakat adalah isu-isu agama dan etnis.

Setelah melihat dan mengamati eskalasi konfliknya yang bisa saja berkelindan ke daerah-daerah lain seperti Makassar dan sekitarnya, maka oleh Kak Zohra pun melakukan inisiatif mengumpulkan para aktivis LSM untuk ketemu dan mendiskusikan membantu penanganan konflik di Maluku itu yang sudah mulai tak terkendali, sebab korban yang berjatuhan sudah terbilang banyak, baik yang terlibat langsung maupun yang tidak mengerti sebab-sebab konflik itu terjadi.

Setelah beberepa kali pertemuan dilangsungkan yang difasilitasi langsung oleh beliau di kantornya, maka dibentuklah sebuah koalisi adhock yang kami bilangkan “Koalisi Masyarakat Sulsel Untuk Perdamaian” yang kami singkat (KMSP), dan secara aklamasi mendaulat aku sebagai koordinatornya, dengan beberapa anggota yang harus bekerja secara cepat. Setelah melakukan mapping secara luas, maka langkah-langkah strategis lebih awal kami lakukan adalah melakukan sosialisasi dalam berbagai bentuk berkenaan dengan konflik dan perdamaian di tengah-tengah masyarakat luas.

Kampanye dengan baliho-baliho besar di ruang-ruang publik di Kota Makassar dan sekitarnya, membagikan panflet-panflet tentang pentingnya perdamaian di masyarakat. Mencetak sticker dan baju kaus untuk kampanye perdamaian. Melakukan langsung seminar-seminar, baik yang berskala kecil (terbatas) maupun secara besar-besaran. Pertunjukan kesenian di beberapa tempat hingga di tingkat kelurahan. Dari aktivitas-aktivitas langsung di masyarakat, kami juga menggalang dan mengajak lembaga-lembaga lain dan tokoh-tokoh masyarakat Sulsel untuk bergabung mengawal misi perdamaian dan kemanusiaan ini, seperti FKUB (Fotum Kerukunan Ummat Beragama), Forum Rektor, dan lembaga-lembaga lainnya. Kami pun mengundang Raja-raja yang ada di Maluku untuk mendiskusikan jalan keluar perdamaian konflik di Maluku itu.

Suatu waktu, masih berkenaan dengan konflik Ambon atawa Maluku, Gubernur Sulsel, kala itu dipimpin Zainal Basri Palaguna, mengundang tokoh masyatakat Sulsel dan lembaga-lembaga yang berkaitan dengan agama, etnis, dan NGO. Aku dan Kak Zohra hadir berdua. Karena sesuatu hal kami agak terlambat datang setelah para undangan telah hadir semua di rumah jabatan gubernur kala itu. Melihat Kak Zohra datang, bapak gubernur berdiri menyambutnya dan mempersilahkan ajudan mengambil kursi agar Kak Zohra bisa duduk di sampingnya (gubernur), tapi beliau menampiknya bila hanya satu kursi, harus dua dan kursi itu untuk aku juga.

Aku kaget dan membisikinya, “Kak Zohra saja yang di depan biar aku di belakang saja” tapi lagi-lagi beliau menampiknya dan tetap bersikukuh agar aku duduk di depan, kemudian beliau menjelaskan kepada hadirin bahwa ini adik saya yang kami daulat sebagai koordinator “Koalisi Masyarakat Sulsel Untuk Perdamaian” untuk membantu tercapainya perdamaian di Maluku dan juga agar konfliknya tidak merembet kemana-mana, termasuk di Makassar dan sekitarnya. Itu salah satu sisi egalitarian dan kesetaraan Kak Zohra pada sesiapa saja.

Peristiwa yang lain adalah, ketika sebuah perusahaan berskala internasional yang bergerak di bidang perkebunan dan penyediaan bibit (kapas) transgenik ingin mereka pasok ke Indonesia termasuk di Sulawesi Selatan. Maka Kak Zohra pun berinisiatif menghimpun kami untuk melakukan perlawanan agar bibit transgenik ini tidak masuk di Sulawesi Selatan. Dari seminar dan lokakarya untuk semua pihak yang terlibat hingga aksi langsung di lapangan, termasuk menghalang-halangi kedatangan bibit tersebut di bandara yang di kawal ketat oleh pihak keamanan hingga berkejar-kejaran di jalan raya, hehehe… Untuk case ini memang terlalu berat kami hadapi, sebab kebijakannya dari pemerintah pusat di bawah istana yang sangat otoriter kala itu.

***

Kongres KPI yang pertama di Jogyakarta, pada  14-17 Desember 1998 mendeklarasikan 15 presidium yang mewakili sangat beragam kelompok kepentingan perempuan. Antarini Arna sebagai koordinator presdiun Nasional, dan Nursyahbani Katjasungkana sebagai sekretaris Jenderal. Nanti pada kongres ke II yang diselenggarakan pada Januari 14–18 2005 di Jakarta, memilih Kak Zohra Andi Baso sebagai Koordinator Presidium Nasional yang sebelumnya sebagai anggota, dan Masruchah sebagai Sekretaris Jenderal KPI.

Melihat dari beragam organisasi yang digelutinya, pemihakannya pada kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam durasi waktu yang cukup panjang, maka tidak terlalu berlebihan bila kami menganggapnya sebagai perempuan tangguh yang menghabiskan usianya untuk semua gerakan yang dianggapnya jalan kebenaran. Semoga beliau diberi jalan yang lapang di sisi Tuhannya. Oleh seorang perempuan tangguh lainnya dari negeri nun jauh, pernah menyampaikan pesan indah tentang gerakan kemanusiaan penuh cinta, Bunda Tresa, “Berbuatlah mesti dengan hal-hal kecil untuk kemanusiaan dengan cinta yang besar”

 


Sumber gambar: Pojoksatu.id

Dahon Clasic dan Heritage Kota Makassar

Sabtu pagi itu beberapa komunitas pesepeda di Kota Makassar telah membuat kesepakatan untuk rute gowesnya. Komunitas kami pun demikian adanya, Komunitas Dahon Classic yang baru saja dideklarasikan keberadaannya. Untuk merayakan kehadiran komunitas kecil ini, maka kami mengawalinya dengan gowes bareng, walaupun dengan member yang sangat terbatas. Dari jumlah keseluruhan anggotanya 14 orang, yang sempat ikut gowes bersama pagi itu hanya 8 orang, itu juga terkait dengan beberepa event bersepeda di Kota Makassar yang bersamaan, jadi beberapa di antara kami tidak sempat bergabung karena di event tersebut mereka punya peran penting.

Sesuai kesepakatan beberapa hari sebelumnya bahwa tikum (titik kumpul) untuk gowes bersama ini, di halaman Kantor BRI (Bank Rakyat Indonesia) yang terletak di bilangan jalan Jendral Ahmad Yani, pas bersebelahan dengan kantor Walikota Makassar. Setelah peserta gowes berdatangan satu per satu, waktu telah mendekati pukul delapan, barulah bersepada bersama ini dimulai. Dari kebiasaan di beberapa komunitas sepeda yang ada di Kota Makassar, awal start di Sabtu pagi itu terbilang sudah mulai telat.

Rute yang disepakati hari itu adalah ke tempat-tempat heritage yang masih tersisa di Kota Makassar, di antaranya adalah Gedung Mulo, Benteng Fort Rotteradam, Pelabuhan Paotere, Makam Raja-raja Tallo di Kampung Tallo – Mangarabombang Kota Makassar.

Sebelum berangkat, dengan santai kami bercengkrama bercerita tentang dinamika Kota Makassar. Maka sebagai peserta yang tertua di antara semua peserta dan bertepatan dengan aku lahir dan tumbuh kembang di kota berjuluk Anging Mammiri ini, maka kuceritakanlah bahwa tempat atawa lokasi yang sementara kita pijak ini yang menjadi tikum kita, dulu berdiri sebuah hotel yang terbesar dan termegah di kota ini, bernama Hotel Grand. Hotelnya masih peninggalan Belanda dan berarsitektur klasik, sama dengan tipe sepeda yang kita pakai saat ini. Berdiri dua gedung besar yang disambung dengan koridor terbuat dari kayu di lantai atasnya menambah artistik bangunannya. Halamannya sangat luar ditumbuhi pepohonan dan beraneka ragam bunga-bunga nan indah. Di salah satu sisinya di bagian depan terdapat air mancur yang mengesankan kemewahan. Kuceritakan pula bahwa Kantor Wali Kota Makassar, sebelum dialihfungsikan sebagai kantor walikota, dan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan dipindahkan ke bilangan jalan Urip Sumoharjo, di Kampung Panaikang. Itu pun setelah memindahkan kuburan etnis Cina yang terbilang cukup tua.

Perjalanan pun kami mulai dari bilangan Jalan Ahmad Yani, kemudian berbelok kanan ke Jalan Kajao Laliddo. Di jalan ini berhambur kenangan yang cukup banyak, di antaranya Bioskop Capitol yang berganti nama sebanyak dua kali, yakni Bioskop Madya dan Bioskop Mitra yang saat ini telah berubah menjadi Kantor BRI (Bank Rakyat Indonesia)  sembari bercengkrama mengumbar tawa. Tahu tidak kataku, di sebelah kiri kita ini  persis di tepi Lapangan Karebosi ini dan berseberangan dengan Bioskop Mitra, dulu berdiri tempat berjudi bernama “King” judi lotre yang pengundian angka-angkanya dinyanyikan seorang vokalis dan diiringi band pengiring. Gedungnya berdinding semi terbuka jadi tidak perlu berpendingin cukup kipas angin di beberapa titik sebab tempat judi “King” ini selalu dijubeli pengunjung yang hendak berjudi sekaligus mencari hiburan.

Setelah melewati dua tempat yang pernah banyak dikunjungi oleh warga Kota Makassar dan sekitarnya, di pertigaan Jalan Kajao Laliddo dan Jalan RA. Kartini, persis di depan pintu pagar gereja tua kami mampir sejenak berpose mengambil gambar dan  selfie-selfie karena kami menganggap gereja tua ini termasuk heritage yang masih tersisa di Kota Makassar. Dari gereja tua, kami gowes lagi menyusuri Jalan Kajaolalido dan Jalan Bontolempangan. Sebelum sampai Jalan Bontolempangang, di depan Hotel Singgasana kuceritakan pada teman-temanku bahwa di pojok itu yang saat ini menjadi halaman parkir Hotel Singgasana itu dulunya adalah perpustakaan Kota Makassar yang cukup representatif di zamannya. Teman-temanku yang relatif masih muda terheran-heran “masa sih” “iya dulu tempat itu adalah perpustakaan Kota Makassar yang bangunannya sudah tergolong antik, tapi entah alasan apa perpustakaan dienyahkan” tegasku.

Beberapa menit kemudian setelah melintasi Jalan Kajaolalido, Jalan Bontolempangan, dan sepotong Jalan Sungai Saddang, sampailah kami di Gedung Mulo (Meer Uitgebreid Lager Ondewijs) yang dibangun pada tahun 1920, sebagai tempat bersekolah bagi anak-anak pribumi yang orangtuanya bekerja untuk pemerintahan kolonial Belanda. Gedung Mulo ini letaknya di Jalan Jenderal Sudirman yang diapit oleh Jalan Sungai Saddang dan Jalan Gunung Batu Putih. Di tempat itu kami tidak panjang lebar mendiskusikan tentang sejarah berdirinya Mulo, hanya mengambil gambar pada spot-spot yang menampakkan keaslian dan sisi antiknya gedung bersama klasiknya sepeda kami, Dahon classic, sebagai sepeda lipat yang awal-awal dijual bebas di masyarakat. Kami ingin memotret dua sisi yang sama-sama mengikuti perjalanan sejarah masing-masing.

Dari Gedung Mulo, kami menyusuri kembali Jalan Sungai Saddang dan sempat menepi sejenak di pojok Jalan Arif  Rate karena hujan walaupun tidak terlalu deras. Kala hujan masih menyisakan rintik, kami melanjutkan perjalanan menuju Benteng Fort Rotterdam atau kerap pula dibilangkan Benteng Jumpandang atawa Ujung Pandang, sebagai salah satu heritage yang paling legendaris di Kota Makassar, bangunan berupa benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke IX bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung di tepi selat Makassar. Awalnya bangunannya hanya terbuat dari tanah liat lalu kemudian oleh Raja Gowa ke XIV Sultan Alauddin merekonstruksi bangunannya berganti batu padas yang bersumber dari pegunungan karts yang terdapat di Kabupaten Maros. Bangunanya bila dipotret dari udara nampak berbentuk seperti seekor penyu. Konon mengikuti filosofi yang dianut Kerajaan Gowa bahwa penyu bisa hidup di darat maupun di laut, begitu pun Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Benteng ini kerap pula disebut Benteng “Pannyua” yang mungkin dari sisi arsitekturnya yang menyerupai pannyu atawa penyu. Dari benteng bernama Benteng Jumpandang atawa Benteng Ujung Pandang, oleh Cornelis Speelman mengganti nama menjadi Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di kampung halamannya Belanda, setelah penandatanganan Perjanjian Bungayya Kerajaan Gowa-Tallo, di mana salah satu pasalnya adalah menyerahkan Benteng Jumpandang ini pada Belanda, yang sebelumnya benteng ini merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa.

Di Benteng Pannyua ini, kami hanya mengambil gambar sepeda-sepeda kami di spot-spot tertentu yang bisa menggambarkan padu padan antara gedung-gedung peninggalan sejarah dengan menghentikan sepeda kami. Setelah puas berfoto dan bervideo ria, kami melanjutkan perjalanan ke pelabuhan rakyat, Pelabuhan Paotere yang berlokasi di bilangan Jalan Sabutung yang letaknya di ujung paling utara Kota Makassar.

Pelabuhan Paotere adalah juga peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang dibangun pada abad ke XIV sewaktu diawali dengan pemberangkatan sekira 200 armada perahu phinisi  ke Malaka. Hingga kini pelabuhan rakyat ini masih diriuhi perahu rakyat berupa phinisi dan lambo. Pelabuhan Paotere hingga saat ini masih menjadi heritage yang masih menyisakan pasang surut kenangan masa lampau, bukan hanya perahu phinisi dan lambonya, tetapi juga mobil-mobil truk pengangkut barang pergi dan datang dari pelabuhan ini nampak antik. Suasana inilah yang menjadikan para fotografer dan para peselfie sebagai destinasi wisata yang murah meriah untuk mengambil gambar yang sangat eksotik. Karena matahari semakin jauh merangkak ke atas menambah gerah dan panasnya bumi, makanya perjalanan ke makam Raja-Raja Tallo terpaksa ditunda untuk perjalanan selanjutnya.

***

Dahon adalah produsen sekaligus merek sebuah sepeda lipat yang didirikan oleh David T. Hon pada tahun 1982, yang bermarkas di Los Angeles California, seorang fisikawan. Pada awal didirikan, Dahon memiliki visi “mobilitas hijau atawa green mobility”, sebuah bentuk transportasi yang tidak hanya berfungsi untuk menyehatkan penggunanya, tetapi juga melestarikan lingkungan untuk generasi berikutnya. DR Hon, yang tak hentinya melakukan inovasi sebagai dinamika dalam berbagai hal pada sepeda lipat juga dikenal sebagai bapak sepeda lipat modern. Pada tahun 2006 ia adalah produsen sepeda lipat terbesar di dunia. Menguasai pangsa pasar hingga dua per tiga dari seluruh pangsa pasar sepeda lipat dunia. Pada awal tahun 2020 ini, Dahon juga telah membangun pabrik di Kendal Jawa Tengah dengan mengambil mitra produsen sepeda Indonesia yakni Element.