Semua tulisan dari Ade Sulmi Indrajat

Pria kelahiran Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini adalah alumnus dari UIN Alauddin Makassar jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Saat ini salah satu kesibukan utamanya adalah sebagai ASN di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantaeng. Juga sebagai Direktur Ranu Prima College cabang Bantaeng dan inisiator Ikatan Guru Indonesia ( IGI ).Bantaeng. Dan, bergiat di komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menerbitkan buku Sawah dan Kebun Kurma di Tengah Laut (2019) dan Mengikat Rindu di Ranting Rapuh (2019).

Sungguh, Saya Tidak Sedang Mempersoalkan Kebaikan Anda Sekalian

Tulisan ini bisa saja resisten pada banyak orang, karena akan bergerak menyoal niat pada hati manusia. Kita paham betul, bahwa niat ialah suatu yang abstrak, yang berkelindan hanya di antara si hamba dan Tuhannya. Namun, izinkan saya bertanya satu hal. Apakah salah bila saya menyebut, bahwa Ramadan kita, entah anda setuju atau tidak, masih bergerak pada kebaikan-kebaikan subjektif? Kebaikan-kebaikan individual? Semisal, kita sudah paham betul, bahwa Ramadan ialah bulan yang menjanjikan ganjaran pahala yang jauh berlipat untuk semua tindak kebaikan di dalamnya. Maka dari itu, oleh kita, Ramadan dijadikan bulan yang penuh sesak dengan niatan dan tindakan kebaikan. Aksi berbagi dan bersedekah ialah kebaikan yang paling memenuhi ruang-ruang bermasyarakat kita di masa Ramadan seperti ini.

Lalu di mana sisi subjektif dan individualitasnya? Ia terletak pada kealpaan kita seolah kata “lapar”, “miskin” dan “susah” tidak pernah ada di luar bulan Ramadan. Maka patut kita renungi, bahwa bisa saja selama ini, sensitifitas kita pada penderitaan si fakir, selalu hanya dibatasi oleh subjektivitas kita akan ganjaran pahala yang “membludak” di bulan Ramadan. Kita akan melakukan kebaikan, apabila ada implikasinya pada urusan pahala, surga dan neraka kita. Tentu saja ini adalah standar keselamatan yang normatif sesuai koridor agama, namun bukankah sebuah jalan ilahi bila kebaikan-kebaikan kita telah bergerak pada dimensi yang sunyi, yang urusan pahala dan surganya biarlah menjadi hak prerogatif Allah saja.  

Pada soalan yang lain. Gelaran-gelaran kebaikan yang kita lakukan di bulan Ramadan entah mengapa terkesan lebih dipaksakan meriah dibanding berhikmah. Aksi berbagi yang dilakukan hanya sepersekian menit, namun foto-foto dan bentangan spanduk di tengah kemacetan jalan raya  bisa berlangsung jauh lebih lama dan membuat kita para pengguna jalan kadang bingung antara mau terharu atau menggerutu.

Maka, menyoal kebaikan-kebaikan kita yang bisa jadi masih bersifat subjektif, individualis dan “yang penting meriah” itu, maka izinkan saya membincangkan mimpi saya, tentang sesuatu yang saya harapkan hadir di Ramadan kita, di masa depan kelak.

                                                                        ***

Kelak, di suatu Ramadan, kita sudah bisa menyaksikan sore hari yang lengang, tanpa bentangan spanduk “Ramadan Berbagi” dari alumni ini dan itu, komunitas yang di sana dan dan di situ.

Kelak, di suatu Ramadan, timeline media sosial kita tidak perlu lagi dipenuhi foto-foto senyum getir para fakir miskin yang disodorkan sebungkus nasi yang kita bawa. 

Kelak, di suatu Ramadan, kita bisa saja bersepakat untuk reuni dengan para sahabat, berkumpul dengan rekan kerja, komunitas, dan organisasi, namun bukan untuk membahas detail acara berbagi, lokasi jalan raya yang dipilih, format spanduk dan gaya foto yang estetis saat berbagi. Kita membahas aksi berbagi yang kita desain sesunyi mungkin, sesepi mungkin, yang bahkan tangan kiri kita pun tidak mengetahui bahwa tangan kanan kita baru saja memberi.

Kelak, di suatu Ramadan, jalan-jalan di sore hari masih lengang, namun rupanya, di subuh, pagi dan siang hari, semua organisasi dan komunitas itu telah bergerak melancarkan aksi senyapnya untuk bergerilya, menemui tiap rumah dan gubuk yang rapuh, memberi bahan makanan dan sedekah lainnya, berjabat tangan berterima kasih, lalu pulang. Kamera handphone masih mereka simpan di dalam tas, tidak dipergunakan sama sekali dalam kegiatan ini.

Kelak di suatu Ramadan, kita ingin menyaksikan sore yang lengang, dengan para daeng becak, sopir angkutan, petugas kebersihan yang masih tetap bekerja dengan hati yang tenang, karena mereka tahu, bahan makanan di rumah masih senantiasa cukup untuk menambah panjang nafas mereka. Orang-orang baik selalu datang diam-diam, menyodorkan bantuan, lalu pergi begitu saja.

Kelak di suatu Ramadan, para anggota organisasi, ikatan alumni dan komunitas akan bertebaran di mana-mana tanpa dress code tertentu, lalu diam-diam bergerak memasukkan amplop sedekah ke kantong para fakir, lalu berjalan pergi. Hilang ditelan sunyi. Lagi-lagi kamera handphone di mana? Ya, masih di dalam saku dan tas mereka.  

Dan tibalah saatnya, kelak, di suatu Ramadan, setiap instansi, organisasi, komunitas, dan ikatan alumni, akan kembali reuni. Bukan untuk membahas niatan berbagi di bulan Ramadan lagi, namun juga niatan memberi dan berbagi di bulan-bulan lainnya. Mereka sadar, ukuran lambung tidak pernah mengecil di luar bulan Ramadan.

Sungguh, tiada maksud hati ingin menggugat semua kebaikan-kebaikan yang telah kita jalankan selama ini, karena diri ini pun juga kadang masih terjebak dan terlarut pada aksi yang mainstream ini. Namun tiada yang salah, bila ini semua berangkat menjadi sebuah ajakan pada diri pribadi dan kita semua, untuk melangkah pada level kebaikan selanjutnya yang lebih mempertimbangkan esensi, bukan publikasi, lebih mengedepankan niat suci, bukan karena ingin dipuji. Sungguh tiada yang meragukan niat baik para tuan dan puan yang dirahmati Allah sekalian. Ini hanyalah ajakan melangkah pada jalan sunyi, yang mungkin kurang puja-puji, namun sungguh diberkahi ilahi.

Satpol PP Dibelenggu di Bulan Ramadan

Sudah beberapa tahun ini, di setiap awal Ramadan, Kota Serang, khususnya para personel Satpol PP di sana, akan selalu menjadi sorotan warganet terkait Perda yang mereka jalankan tentang penutupan warung-warung makan di siang hari saat bulan Ramadan. Hal ini jugalah yang membuat kami di Satpol PP di kota lain, meskipun bukan anggota Satpol PP Kota Serang, akan ikut menanggung “kutukan digital” yang sama dengan yang mereka rasakan. Maka dari itu, mari sedikit melihat sudut pandang saya sebagai seorang anggota Satpol PP yang pada bulan Ramadan mulia ini, kadang ikut-ikutan merasa seperti setan yang terbelenggu, tapi kami terbelenggu dengan stigma dan prasangka yang nggak ketulungan.

Meski telah direvisi beberapa kali, pada dasarnya Peraturan Pemerintah terkait tugas Satpol tidak pernah berubah banyak. Satpol PP masih berstatus sebagai satu-satunya instansi penegak Perda dan Perkada. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2018 yang terbaru, terang benderang disampaikan bahwa Satpol PP memang ditugaskan untuk meng-handle tiga hal. Pertama penegakan Perda dan Perkada. kedua penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman, dan terakhir perlindungan masyarakat. Kalau mau dibikin simple, maksudnya seperti ini loh. Kami di Satpol memang kerjaannya adalah penegakan alias eksekutor to’. Mau lari kemana juga, Satpol tidak akan pernah bisa memaksa masuk ke semua ranah teknis apalagi ujug-ujug mengkritik isu-isu pragmatis dan ideologis.

Kasus penutupan warung di Serang pekan kemarin sudah jelas sekali adalah bagian dari tugas Satpol PP. Ya, menegakkan perda dan perkada, alias memastikan masyarakat menjalankan peraturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Masalah kemudian aturan ini terkesan old fashioned, katro’ dan tidak masuk akal, ya itu dimensinya sudah lain lagi. Bola panas semestinya sudah bergulir ke pihak yang menyusun dan menerbitkan aturan. Ingat, Satpol PP berada pada ranah penegakan dan pengawasan, bukan pada ranah penyusunan apalagi pengesahan. Camkan itu kisanak! Hehehehe.

Tapi terkadang, meskipun sudah dijelaskan berputar-putar sambil bersalto-salto, Satpol memang sudah terstigma sebagai the one and only alias satu-satunya pelaku antagonis oleh sebagian netizen. Padahal, tugas yang kami laksanakan di lapangan ya memang kerjaan kolektif. Ceritanya tidak seperti yang anda bayangkan seperti anggota Satpol yang sedang ngabuburit lewat di bawah jembatan, lalu karena mager lantas mengatakan “Eh teman-teman, ada PKL tuh, gusur yuk!”

Penertiban dan eksekusi lainnya itu adalah jalan terakhir setelah teguran lisan dan tulisan yang disampaikan berminggu-minggu sebelumnya, lalu diperkuat dengan berbagai rekomendasi dan pertimbangan yang diberikan dari berbagai instansi lain yang berhubungan. Kita di Satpol tidak pernah jalan sendiri kayak jomblo broow.

Dari sisi saya pribadi, meskipun juga bekerja sebagai anggota Satpol PP, polemik di Serang itu tidak lebih sebagai urusan rumah tangga daerah lain. Kami para anggota Satpol mungkin bernaung dalam satu institusi yang sama di bawah komando Kemendagri, tapi kalau sudah terkait produk hukum daerah, ya secara formalitas urusannya sudah sangat pribadi. Persis seperti saya yang tidak berhak mencampuri urusan ketika anda diomeli istri gara-gara tidak sengaja menjatuhkan puntung rokok di atas taplak meja. Lagipula produk-produk hukum seperti ini sudah pasti telah melalui diskusi dan pembahasan kolektif dengan Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daerah).

Lebih dalam lagi, Perda dan Perkada yang dibuat di setiap daerah sudah pasti merupakan turunan dari aturan yang lebih tinggi, tapi Perda dan Perkada ini juga akan disesuaikan dengan kebutuhan dan ciri khas masing-masing daerah (puja… otonomi daerah). Bisa jadi, karena Pemerintah Kota Serang memang ter-branding sebagai daerah yang relijiyes, ya turunan-turunan aturan di sana bisa jadi mengarah ke penguatan keagamaan. Anda boleh saja tidak setuju, tapi begitulah pola-pola pemerintahan dan (mungkin) hitung-hitungan politis itu bekerja. Ya, koentji penerbitan aturan ini adalah keunikan dan kebutuhan daerah. Tidak mungkinlah Pemkot Manado akan ikut-ikutan bikin peraturan Ramadan seperti ini.

Jadi tulisan ini memang bukan untuk mengkritisi aturan yang dibuat. Saya sih mungkin banyak akal, tapi masih sedikit kurang nakal seperti yang anda harapkan untuk berkomentar lebih jauh terkait kasus ini. Lagipula, saat ini kan saya menulisnya sebagai seorang Satpol. Kalau menulisnya sebagai seorang Social Justice Warrior (SJW), atau aktifis literasi, wah bisa liar sekali saya.   

Jadi poin utamanya adalah, kami para Satpol, memang diperintahkan negara untuk menegakkan aturan-aturan yang dibuat oleh lingkaran eksekutif dan legislatif, yang notabenenya juga adalah hasil pilihan terbaik dari proses berdemokrasi masyarakat setempat. Kami para anggota Satpol secara pribadi boleh setuju atau tidak dengan keputusan pemerintah, tapi sayangnya, dalam menjalankan tugas, jawaban kami hanya, “Siap laksanakan !!!” Jalur komando itu tetap satu bung.

Jujur yah, kadang kita ngiri juga sih waktu melihat adik-adik mahasiswi ngasih bunga ke personel TNI-Polri yang dulu mengamankan demo Omnibus Law sambil mengatakan “Kita tahu bapak sekalian hanya menjalankan perintah”. Hufftt ya Allah ya Rabb… kapan yah kami bisa menertibkan bangunan liar trus pemilik bangunan menghidangkan sepiring bakwan gratis sambil menyampaikan “Bapak ngerti dek, kamu cuman jalanin tugas”. Halahhhh ngimpi.

Gambar: qureta.com

Tuhan Kerumunan

 

Arion Sihombing sedang melakukan ibadah minggu di rumah bersama keluarga intinya. Semenjak pandemi Covid-19, dia menjalankan anjuran pemerintah untuk beribadah dari rumah. Tidak berselang lama, khidmatnya ibadah langsung buyar seketika, ketika Pak Haji dan Pak RT datang marah-marah, sambil membawa balok kayu memprotes mereka yang melaksanakan ibadah di rumahnya.

Mereka dengan angkuhnya mengatakan bahwa ibadah mereka dilarang di sini. “Itu nggak boleh” kata Pak Haji dan Pak RT. Tidak ada alasan khusus mengapa mereka melarang, namun yang jelas pak Haji dan Pak RT ini mungkin lupa, bahwa 1400 tahun yang lalu, seorang manusia mulia bernama Muhammad bin Abdullah, mempersilahkan umat Kristiani dari Najran untuk beribadah di masjid dan membuatkan mereka perjanjian damai, yang mewajibkan umat muslim melindungi saudara-saudaranya tersebut hingga akhir zaman.

Kita, umat muslim di Indonesia mungkin saja selalu merasa tenang dengan keberadaan kita. Ya, karena kita mayoritas, dan standar berkehidupan para minoritas kadang diatur oleh standar-standar yang ditetapkan oleh mayoritas. Itu hukum alam yang lumrah memang.

Namun, sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah di tengah pandemi ini, kita (umat Muslim) masih mayoritas? Secara kuantitatif mungkin iya, tapi secara kualitatif dan aktivitas, kita semua kini adalah minoritas. Corona telah memaksa kita kembali ke rumah masing-masing. Semangat beragama yang kadang meluap-luap di tengah kerumunan, kini meredup di tengah kesendirian. Transendensi kita sedang diuji.

Orang-orang intoleran seperti Pak RT dan Pak Haji di tengah pandemi ini adalah gambaran betapa kecanduannya mereka dengan kerumunan dan kekuatan komunal yang dihasilkannya. Menganggap diri sebagai mayoritas yang kini ibadahnya juga dibatasi oleh pemerintah, menjadikan mereka turut kesal dengan ibadah-ibadah lain yang kini posisinya sama dengan mereka. Mereka kesal karena kini mereka sama. Sama-sama beribadah dari rumah dan sama-sama sepi.

Sewaktu menjadi minoritas di Amerika, Saya pernah salat di lorong kampus, di taman, di gudang museum, bahkan pernah juga di pinggir jalan. Kesemua salat saya itu berlangsung aman. Pernah suatu ketika, saat menjadi sukarelawan di World and Food Festival di Washington DC, saya dan beberapa teman mahasiswa muslim lainnya hendak melaksanakan salat duhur. Sayang sekali, masjid terdekat sangat jauh dari tempat kami. Terlebih, waktu istirahat yang kami dapatkan hanya sejam, tidak cukup untuk bepergian ke masjid terdekat. Alhasil, kami salat di pinggir jalan. Kami berempat saat itu dan memutuskan untuk saling salat bergantian. Kami bertugas saling menjaga jikalau saja ada orang yang mengganggu atau melakukan hal-hal buruk kepada kami.

Kami pun salat. Saat saya menjaga teman yang salat, saya melihat orang-orang yang lewat di depan kami nampak mengambil jarak agar tidak terlalu dekat. Mereka takut mengganggu. Mereka yang awalnya berjalan sambil bercengkrama dengan suara yang sedikit keras terdengar menurunkan volume suaranya atau bahkan diam sejenak. Seorang tunawisma yang mangkal di dekat kami yang awalnya sangat ribut berjualan buku juga ikutan tenang. Dia duduk, dan nampak mengawasi dan ikut menjaga kami jika saja ada orang yang akan mengganggu kami.

Pernah pula suatu waktu, saya dan beberapa teman lainnya sedang mengikuti seminar di kampus. Pada rundown acara, tidak ada jadwal istirahat pada siang hari, namun ketika waktu salat tiba, kami meminta izin pada panitia untuk melaksanakan salat Duhur sekitar 20 menit. Lalu apa yang terjadi? Panitia mengumumkan pada peserta seminar yang lain bahwa acara break hingga 30 menit ke depan.

Mengingat semua kejadian tersebut, dan melihat tingkah Pak RT dan Pak Haji ini, ingin rasanya saya kembali ke Amerika dan menciumi tangan-tangan mereka semua yang dengan penuh ketulusan menjaga saya ketika salat. Saya ingin berkata “Terima kasih telah menjadi tuan rumah yang baik, dan maafkan saya yang belum bisa menjadi saudara yang baik bagi saudara-saudaramu disini.”

Saya yakin bahwa tidak ada yang buruk atau baik sepenuhnya di kedua negara ini. Amerika ataupun Indonesia tetap saja akan memiliki orang-orang “gilanya” yang merasa telah memenangkan hati Tuhan kala menindas orang lain, yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka. Di Amerika ada juga muslim yang menjadi korban diskriminasi akibat islamophobia, namun, selalu saja ada orang-orang Kristen, atau bahkan orang-orang Atheis baik hati yang ikut pasang badan membela mereka di sana. Pun di Indonesia, di saat umat Kristen dan agama lainnya mengalami diskriminasi, akan selalu saja ada muslim-muslim baik hati yang memasang kuda-kuda membela saudara-saudara sebangsa mereka.

Berkaca dari perjalanan saya yang telah menjalani peran sebagai mayoritas dan minoritas, saya jadi mengingat tanah kelahiran saya, Bantaeng. Bantaeng adalah wilayah multikultural perpaduan Muslim sebagai mayoritas dan Kristen, serta Konghucu sebagai minoritas. Saya selalu berharap bahwa pandemi ini akan semakin melatih sensibilitas umat muslim untuk merasakan “uniknya” menjadi minoritas.

Kita bisa belajar, apakah transendensi kita masih kuat di kala malam hari, ketika masjid tak lagi riuh oleh lirih kata “Aamiinn” kita. Corona dan beribadah dari rumah adalah sebuah kelas akselerasi bagi umat muslim di Indonesia, khususnya di Bantaeng untuk naik derajat menjadi umat-umat muslim yang Muttaqin dan Muhsinin.

ODP Rasa DPO

Namanya Rebecca Walter, dia seorang profesor di bidang komunikasi. Gayanya jangan ditanya. Sepatu boots, jeans casual ala Boot Cut Jeans, dan kemeja polos lengan 3/4 jadi busana andalannya kala mengajar. Pada mata kuliah komunikasi budaya yang diampunya hari ini, dia meminta pendapat kami tentang pandemi corona dan bagaimana ia memunculkan xenophobia dalam masyarakat Amerika yang majemuk.

Xenophobia adalah perilaku kebencian yang diarahkan pada orang asing, ras, atau kelompok tertentu. Saya pun mengacungkan tangan dan menjelaskan bahwa banyak warga kulit putih Amerika menganggap orang-orang Asia sebagai biang kerok munculnya Covid-19. Mereka tak mau ambil pusing orang asia siapa yang mereka maksud. Mereka sapu rata saja mem-bully semua orang Asia. Mereka mungkin lupa, kalau Sebagian besar orang-orang Asian-America ini boro-boro pernah mudik ke Cina, mengingat nama kakek-nenek leluhurnya saja mereka mungkin sudah lupa.

Lebih dalam, kepada Rebecca saya menjelaskan, di Indonesia, fenomenanya berbeda, xenophobia tidak terlalu marak di sana, namun kebencian dan bully terhadap orang-orang asli yang berasal dari komunitas itu sendiri sangat terasa. Ada perawat yang diusir dari indekosnya, dan juga ODP yang dikucilkan warga.

Dia tiba-tiba menyela pembicaraan saya dan mengatakan “Hofstede Cultural Dimension”. Saya pun mengiyakan. “Ya, itu jawabannya”. Geert Hofstede, seorang sosiolog ternama dalam teori dimensi budayanya membedakan pola interaksi antara budaya barat dan timur. Salah satu dimensi yang dibahas dalam teorinya adalah tentang Individualistic Society dan Collectivistic Society. Orang Amerika itu bersifat individualis, para tetangga jarang yang kenal satu sama lain, tidak ada yang namanya teman sekampung karena hampir mereka semua bukan asli daerah itu. Mereka juga gemar berpindah-pindah hunian dan gemar mengganti pekerjaan bila sudah bosan.

Kurangnya keterikatan sosial inilah, yang menjadikan sasaran ketakutan dan kemarahan orang Amerika, lebih bersifat umum dan diarahkan pada ras atau kelompok masyarakat tertentu. Untuk hal prasangka kejahatan misalnya, mereka kadang mengasosiasikannya dengan ras kulit hitam. Untuk urusan terorisme, ya siapa lagi kalau bukan kelompok Muslim, dan untuk urusan Corona? Ya, orang-orang Asian-american berkulit kuning (Asia Timur) lah yang kena getahnya kali ini.

Rebecca semakin tertarik, dia lalu naik duduk di atas meja. Dosen di Amerika memang sangat slengean dalam urusan formalitas mengajar. Saya lalu melanjutkan. Hofstede mengategorikan kami orang-orang Indonesia sebagai masyarakat collectivist yang cenderung memiliki ikatan historis yang kuat, saling mengenal, dan melebur dalam komunitas yang khas.

Nah sekarang, kenapa untuk urusan Corona, masyarakat kami “sedikit” lebih beringas kepada sesama warga asli sendiri? Karena setelah corona, ada identitas dan segmen baru dalam kehidupan bermasyarakat kami, yakni identitas sebagai Orang Dalam Pemantauan atau ODP. Bila sebelumnya warga desa sangat guyub dengan warga lama namun cenderung waspada dengan warga baru, sekarang, meskipun dengan warga lama, mereka akan merasa tidak aman bila di antara mereka ada yang berstatus ODP.

Setelah menyimak pandangan saya, Rebecca menyimpulkan, “Yes, we don’t have any idea”. Kita tidak punya ide katanya. Kita tidak tahu ke depan bagaimana. Ini adalah era disrupsi. Corona akan mendisrupsi pola lama kita dan menciptakan keseimbangan yang baru, let’s see katanya.

Beberapa minggu kemudian saya pulang ke Indonesia. Jumlah kasus covid-19 yang meroket di Amerika menjadikan semua fasilitas umum termasuk kampus ditutup. Pihak pemberi beasiswa memutuskan untuk memulangkan saya secepatnya dan melanjutkan perkuliahan secara daring di Indonesia. Saya sebenarnya sudah melupakan diskusi dengan Rebecca beberapa minggu yang lalu. Saya menganggap itu hanya sampai di ruang kelas saja. Ternyata tidak. Apa yang saya diskusikan kini saya alami sendiri. Saya menyaksikan bagaimana corona telah mendisrupsi masyarakat tempat asal saya.

Saat tiba di Makassar dan dalam perjalanan pulang ke Bantaeng, banyak yang mengirimkan pesan dan bertanya “Eh, betulan ko pulang? Astaga!”. Pesan ini sangat jelas menggambarkan ada ketakutan dari mereka terhadap kepulangan saya. Beberapa juga bertanya “Eh, ndak bawa jako virus deh?”. Masih banyak pesan dan chat via Whatsapp yang sebagian besarnya adalah bully verbal.

Di tengah kebingungan, saya mencoba mengirimkan email pada Rebecca untuk berdiskusi, tentang apa yang harus saya lakukan terkait permasalahan ini. Dia sangat responsif membalas email. Tidak sampai sehari dia sudah membalas email saya. Dia menanyakan kabar dan kesehatan saya serta memberikan jadwal video call.

Tibalah waktunya kami melakukan video call. Saya menceritakan bagaimana respons masyarakat sekitar dengan status ODP saya dan bully yang saya hadapi. Saya sangat merasakan ketulusan dari matanya. Dia ikut-ikutan stres dan terpukul mendengar itu. Kami mencoba membincangkan beberapa teori komunikasi yang pernah kami bahas dan study case yang dia pahami.

Hampir sejam kami berbicara, tiba-tiba dia menjentikkan jarinya berkali-kali. Dia nampaknya telah mendapatkan ide. Dia meminta saya mengingat-ngingat bagaimana teori tentang identity development lalu menghubungkannya dengan self-appraisal theory. Pembahasan kami cukup panjang bila dibahas di sini, namun satu kesimpulan, dia mengatakan, “Ade, be open! Tell them the truth”. Saya menangkap maksudnya. Dia meminta saya terbuka.

Hasil pembicaraan itulah yang akhirnya mendorong saya membuat semacam self-publication, dan saya menganggap di Facebook lah saya bisa menjangkau lebih banyak orang dibanding media yang lain. Maka jadilah saya membuat sebuah status Facebook tentang status ODP saya dan bagaimana saya berusaha tetap sehat dan waras selama pandemi di Amerika.

Saya juga bercerita tentang upaya saya menjaga physical-distancing selama penerbangan pulang ke Indonesia. Saya bahkan memasang foto tangan saya yang mulai menghitam dan berdarah-darah akibat iritasi oleh hand sanitizer yang telah saya gunakan ratusan kali selama penerbangan demi menghindari terinfeksi. Pada akhir status tersebut, saya mengatakan “Ya, saya ODP, saya mengerti ketakutan anda, dan saya tahu kewajiban saya.”

Lalu apa yang saya dapatkan dari self-publication tersebut? Status Facebook saya berhasil mendapatkan 187 likes, 212 komentar dan dibagikan sebanyak 21 kali. Statistik yang jauh berbeda dibandingkan status facebook saya yang lain. Secara garis besar orang-orang berkomentar “Andai begini semua ki itu orang ODP di’, pasti tenang ki juga”.

Akhirnya saya menemukan jawabannya, “ketakutan”. Ya, mereka takut saya membawa virus, dan tanpa sadar, ketakutan alamiah inilah yang mendorong mereka pada respons-respons negatif seperti bully. Saya mencoba berdamai dengan ketakutan mereka. Ibarat sedang berkomunikasi, status Facebook saya seolah-olah berkata, “Iya, mungkin saya memang telah terkena corona selama di Amerika atau di penerbangan, tapi tenang saja, saya akan stay di rumah, menjaga diri saya, dan juga menjaga kalian. Mohon doakan saya!”

 

Sumber gambar: Media Indonesia

 

Toilet

Selama di Amerika, saya akan mencoba menuliskan beberapa hal positif dari perilaku dan interaksi masyarakatnya yang menurut saya sangat patut kita ikuti dan teladani. Eh tunggu dulu, sepertinya kita tidak perlu ikut-ikutan dan meneladani, karena sepertinya apa yang mereka lakukan di sini terkait kedisiplinan, kebersihan, keteraturan dan penghormatan tanpa sekat sosial sudah jauh dikenalkan lewat naskah-naskah suci agama dan pesan-pesan adat budaya kita. Mungkin lebih tepatnya untuk mengingatkan kita bahwa ada bangsa di luar sana yang jauh lebih mengamalkan nilai-nilai positif yang kita tuliskan dalam lembaran-lembaran kitab suci dan lontara’ kita, dibanding kita sendiri, terutama saya secara pribadi.

Tulisan berikut ini boleh jadi subjektif, karena memang yang saya jadikan patokan hanyalah kampus saya di Northern Virginia Community College. Tapi tak apalah kita belajar sedikit. Di Amerika, salah satu konsep dasar dalam bermasyarakatnya adalah Equality atau Kesetaraan. Saya belum terlalu mengamati bagaimana kondisi lingkungan kerja di lembaga-lembaga swasta, namun untuk lembaga pemerintah, kesetaraan itu sangat terasa.

Ada beberapa contoh yang mungkin bisa saya sampaikan. Pertama, kebanyakan dosen di sini lebih senang dipanggil dengan namanya langsung, embel-embel Profesor tidak terlalu menjadi patokan utama bagaimana mereka disapa, meskipun mereka sebenarnya adalah para profesor dengan ratusan publikasi internasional.

Kedua, di dalam kelas, pada beberapa mata kuliah, anda bebas untuk makan dan minum asal tidak mengganggu proses belajar mengajar didalam, karena makan dan minum adalah hak anda. Bahkan, suatu ketika, teman saya pernah tertidur hingga mendengkur di dalam kelas, profesor yang sedang mengajar saat itu hanya berkata “Kasihan, sepertinya dia sangat lelah hari ini”. Alhasil teman saya itu tidur di dalam kelas dengan penuh kedamaian sampai kelas usai.

Ini bukan berarti di semua kelas kita bisa melakukannya. Karena pada beberapa mata kuliah juga ada dosen-dosen yang lumayan ketat untuk urusan makan-minum, menggunakan telepon genggam apalagi tidur dalam kelas, tapi, jikalau pun kita melakukan hal itu, mereka akan menegur dengan cara elegan seperti seorang teman yang mengajak kita keluar sebentar lalu berbicara empat mata dan kadang menawarkan solusi seperti apakah kita butuh waktu untuk makan ataupun menggunakan telepon genggam saat di dalam kelas.

Intinya, masing-masing dosen di sini punya karakteristiknya masing-masing, mulai dari yang paling slengean dengan mengajar di kelas dengan celana jeans, baju kaos polo dan beberapa tato keren di badan, sampai yang sangat ketat dengan berbagai macam aturan yang membuat kita serasa belajar di negeri sejauh belasan ribu kilometer disana. Tapi satu poin utama bahwa posisi dosen dan mahasiswa dalam hal berinteraksi satu sama lain boleh dibilang sangat setara. Mereka semua sangat terbuka dan menerima semua masukan yang kita berikan terkait bagaimana proses belajar mengajar yang akan kita jalani kedepan.

Namun, berlepas dari prinsip kesetaraan di kelas itu, ada satu hal yang setelah sekian lama baru saya sadari. Di sini, saya juga bekerja paruh waktu di kantor kampus di bagian Faculty and Staff Resource Center. Di kantor ini pula lah ruangan Dekan berada. Setelah bekerja sekitar satu bulan, saya baru menyadari bahwa ruangan dekan ini hampir sama besar dengan ruangan staf lainnya. Di dalamnya hanya ada beberapa komputer dan setumpuk berkas. Printer disediakan di ruang tengah dengan koneksi nirkabel.

Jadi, bila “Pak Dekan” hendak mencetak sesuatu di komputernya, dia tetap harus berjalan keluar ruangan dan mengambil hasil printnya. Beberapa kali saya menawarkan dia untuk memanggil saya saja untuk mengambilkan hasil printnya tapi dia menolak. Menurutnya, kita semua sama di sini, yang membedakan hanya Jobdesk dan tanggung jawabnya.

Belum lagi bila kita berbicara bagaimana mereka berinteraksi di kantor. Sangat jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan di Indonesia. Prinsip equality alias kesetaraan itu memang betul-betul sudah mendarah daging di sini. Pernah suatu hari, di hari pertama saya bekerja di sini, seorang staff kampus datang kepada saya di kantor dan bertanya kurang lebih begini “Hey, si Brad masuk kantor kah hari ini?” Saya pun bingung dan mencoba bertanya kepada staf lain yang lebih senior.

Saya bertanya kurang lebih begini “Eh, di depan ada staf yang cari si Brad, si Brad itu staf bagian mana?”. Teman saya dengan santainya menjawab, “Owh sepertinya dia masuk hari ini. Coba kamu cek di ruangannya di ujung sana.” Saya pun berjalan menuju keruangan paling ujung itu dan menemukan sebuah nama di pintu yang bertuliskan “Dr. Bradley, Dean of LRT”. What? Ternyata si Brad itu pak dekan yah? Saya sepertinya lupa bahwa dalam banyak hal di sini, gelar akademik dan jabatan hanya dipakai di saat kepentingan akademik dan kepentingan dinas. Jadi bila berinteraksi biasa saja, semua itu hilang.

Dari sekian banyak peristiwa unik yang saya alami di sini, saya menemukan satu hal yang menurut saya sangat lucu. Tidak seperti di negara yang berjarak belasan ribu kilometer dari sini, yang di setiap ruangan “bosnya” selalu memiliki toilet dan ruang tamu masing-masing, di sini, ruangan si Dekan tidak memiliki ruangan tamu dan toiletnya sendiri. Hampir semua mahasiswa, staf, dosen hingga dekan di sini menggunakan toilet umum yang tersedia, alhasil, hampir 80% toilet umum di kampus ini selalu bersih dan harum sepanjang hari.

Mungkin karena toilet umum di sini memang betul-betul “Umum”, alhasil pihak-pihak yang bertanggung jawab mengelola kebersihan dan kenyamanan toilet bakal bekerja serius dalam mengelola toiletnya karena si “Big Boss” juga memakai toilet yang sama dengan yang dipakai mahasiswa dan stafnya. Apakah kita juga bisa menerapkannya?

 

Sumber gambar: Google