Semua tulisan dari Adiyat Rizki

Kader Pend. Antropologi, dan juga UKM LKIMB UNM. Memiliki cita-cita sederhana "Cuti Massal".

Gerakan Buta Politik

Tetiba saja foto-foto mahasiswa yang mengikat kepalanya dengan kain putih atau potongan spanduk putih bertuliskan ‘save unm’ meramaikan media sosial. Mereka mengunggah kemeriahan dengan komentar dan hastag yang beragam. Seolah-olah seantero negeri ini harus tahu dan wajib dikabari bahwa di sini, di UNM (Universitas Negeri Makassar) ada yang tidak beres. UNM sedang sakit, sedang krisis, krisis demokrasi dan pembudayaan. Maka serentaklah mahasiswa mengikat kepala mereka dengan kain putih atau potongan spanduk yang bertuliskan ‘save unm’.

Kenapa UNM sakit? Ini hanya bisa dijelaskan jika mahasiswa atau orang sehat yang mendiagnosisnya. Kenapa bisa demikian? Inilah salah satu tujuan kenapa saya menulis tentang aksi yang dilakukan oleh mahasiswa UNM pada hari Kamis, 4 September 2017, di pelataran gedung Menara (gading) Phinisi dengan tuntutan menolak surat edaran nomor 3883/UN36/TU/2017. Dan tulisan ini bertujuan sebagai arsip. Sehingga ke depan bisa dijadikan sebagai bahan evaluasi dan rujukan untuk aksi-aksi berikutnya (pede sekali coy).

Gaya Pendidikan UNM: Melampaui Pendidikan Gaya Bank

Pendidikan, baik formal maupun non-formal berfungsi sebagai kegiatan tranformasi ilmu-pengetahuan. Secara umum memang kita lebih cenderung memahami proses pendidikan sebagai aktivitas tranformasi ilmu. Kalau kita ingin menelaah lebih jauh, pahaman atau definisi yang demikian itu sebenarnya tidaklah tepat, jika kita menganggap bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

Proses transformasi ilmu-pengetahuan memiliki makna pengengkangan. Transformasi mengandaikan dikotomi subjek-objek. Di mana subjek (pengajar) sebagai pemilik ilmu pengetahuan yang hendak mentrasferkan ilmu pengetahuan yang dimiliki kepada si objek (yang diajar). Dengan posisi dikotomis yang sedemikian rupa, maka sangat mungkin terjadi adanya pengengkangan. Atau lebih populernya ‘pendidikan gaya bank’.

Di kampus UNM, pendidikan gaya bank bisa dibilang jarang dipraktikkan. Ini bukan berarti proses pendidikan di UNM menggunakan pemahaman pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia. Di UNM bisa dibilang gaya pendidikan yang diterapkan malah melampaui pendidikan gaya bank. Karena sangat jarang (bukan berarti tidak ada) didapati dosen yang memosisikan mahasiswa sebagai objek yang tidak tahu apa-apa. Tapi, parahnya yang terjadi malah melebihi pendidikan gaya bank. Mahasiswa tidak dilihat sebagai mahluk yang tidak tahu apa-apa, melaikan mahluk yang banyak tahu jika, setiap pertemuan dosen tidak lagi membahas secara detail materi pembahasan dan itu digantikan dengan tugas makalah.

Saya melihat pemberian tugas kuliah tanpa pertimbangan yang matang akan membawa aktivitas pendidikan pada kegiatan yang hampa. Kadang juga terdapat dosen yang menggunakan metode penugasan sebagai topeng. Kenapa saya menyebutnya topeng? Tugas dijadikan topeng untuk menutupi sebuah kebenaran. Apa kebenarannya? Kebenarannya adalah dosen tidak memahami matakuliah yang diajar secara penuh. Tugas kadang dijadikan topeng untuk menutupi ketidaktahuan seorang dosen. Tapi bukan berarti semua dosen UNM demikian. Ada juga dosen yang pemikiran dan gaya mengajarnya itu disenangi dan disegani karena intelektualnya. Sebenarnya masih banyak kecurigaan saya terhadap metode penugasan.

Dari metode penugasan (makalah) ini bisa kita lihat sebagai gaya pendidikan yang sangat dilematis. Dilematisnya adalah di satu sisi mahasiswa dilihat sebagai subjek yang banyak tahu sehingga pada pertemuan pertama langsung disuruh membuat makalah. Anehnya, 1000 (seribu) dari 1001 (seribu satu) mahasiswa UNM tidaklah tahu menulis. Inilah titik dilematisnya. Jika ada masalah semacam ini, seharusnya dosen juga harus mengajar teknik penulisan.

Memang kalau kita menelisik lebih jauh. Masuk ke dalam lorong waktu yang setiap dindingnya terdapat informasi-informasi tentang sejarah. Nah, saat memasuki lorong waktu itu saya mendapatkan sebuah informasi yang amat penting. Fernando Baez dalam karyanya Penghancuran Buku dari Masa ke Masa menulis bahwa Aristoteles, filsuf dari Stageria, memberi murid-muridnya tugas agar mereka mau membaca. Ini perlu kita diskusikan lebih lanjut. Bagaimana jenis tugasnya?

Ada dua metode penugasan yang diberikan Aristoteles pada murid-muridnya. Pertama, pelajaran acroatic atau acroamatic (lisan) yang hanya diberikan untuk siswa baru. Berupa diskusi di mana gagasan-gagasan mendalam dibicarakan sambil jalan-jalan. Berbeda dengan apa yang terjadi di sini. Di mana mahasiswa baru (sebagian besar) diberikan tugas untuk membuat sebuah makalah dan kemudian mendiskusiakannya. Dan kita juga selalu saja kuliah di dalam kelas. Seolah-olah kuliah itu harus di kelas, kalau tidak di kelas bukan kuliah. Tapi di UNM, kebanyakan dosen langsung menyuruh mahasiswa baru untuk membuat tugas berupa makalah.

Kedua, pelajaran exiteric atau exterior bagi para kader. Di sini, karya-karya terkenal seorang pemikir –misalnya Muhammad Iqbal—dibaca dan dideklamasikan. Setiap muridnya berperan tertentu dan Aristoteles sendiri yang memoderatori percakapan ini. Saya dan teman-teman saya menyebut metode ini dengan nama ‘bedah naskah’. Jujur, metode semacam ini walaupun pernah saya dapat dalam ruang kuliah, tidaklah seasyik yang saya dapat di organisasi mahasiswa.

Secara matematis kita bisa mendapati satu matakuliah biasanya tiga tugas makalah dalam satu semester. Jadi jika ada 10 matakuliah dalam satu semester, berarti ada 30 tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Dan ingat, 1000 (seribu) dari 1001 (seribu satu) mahasiswa, tidak tahu menulis. Lalu bagaimana mereka mengerjakan dan menyelesaikannya? Dan begitu setiap pertemuan. Apakah manusia akan tercipta dari proses pendidikan semacam itu? Biarkan Phinisi yang menjawabnya.

Surat Edaran: Upaya Pembodahan Sistemik atau Pengalihan Isu?

Tuntutan pencabutan surat nomor 3115/UN36/TAU/2017, mengenai pelarangan mahasiswa baru (maba) dalam kegiatan yang dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan menjadi isu sentral 1 bulan terakhir di UNM. Anda harus tahu dan pasti setelah mengetahui hal ini anda akan merasa ditampar dan tak menyangka. Jujur, saya tidak pernah melihat ada aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa Makassar terkhusus mahasiswa UNM, di mana aksi massa dilakukan dua kali dalam sebulan dengan isu pencabutan surat edaran ini.

Bagi saya, ini menunjukan betapa karakter reaksioner masih menjangkiti gerakan mahasiswa UNM. Tanpa ada analisis struktural atau pun politik yang mendalam. Seandainya kita memilih mendiamkan beberapa waktu surat edaran ini, kita gunakan waktu itu untuk memikirkan kembali asbabun nuzulnya surat edaran ini. Betulkah sebab-musabab surat edaran ini muncul dikarenakan banyaknya mahasiswa semesrter tiga yang D.O dini dikarenakan IPK-nya tidak memenuhi standar kelulusan? Dan benarkah penyebab dari anjloknya IPK mahasiswa semester tiga ini dikarenakan oleh kegiatan kemahasiswaan? Sebagaimana pernyataan yang terdapat dalam surat tersebut.

Tentu kita semua akan memepertanyakan argumen tersebut. Pasalnya, pimpinan universitas terlalu memaksakan bahwa yang menjadi faktor utama mahasiswa tidak memperoleh standar IPK yang ditentukan ialah kesibukannya di kegiatan lembaga kemahasiswaan. Saya tidak perlu menjabarkannya lebih detail lagi. Intinya kita semua tahu bahwa pimpinan universitas terperangkap pada fallacy of dramatic instance.

Sebelumnya ada yang menafsirkan surat edaran ini sebagai bentuk pembodohan sistemik. Tafsiran ini saya temui dari surat edaran tandingan yang dibuat oleh suadara/saudari Nur Agustin. Sekedar info, Nur Agustin ini adalah nama yang bertanda tangan di surat edaran tandingan tersebut, jadi sampai sekarang keberadaannya (jenis kelamin dan lain sebagainya) belum diketahui publik; anonim.

Menurut Nur Agustin, surat edaran ini bentuk upaya pimpinan universitas memotok regenarasi intelektual dikalangan mahasiswa. Adanya pelarangan maba untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh lembaga kemahasiswaan, dilihat oleh Nur Agustin, sebagai upaya pemutusan tali komunikasi intelektual. Sederhananya ini adalah pembodohan sistemik. Karena proses pembodohan ini dilancarkan secara struktural dan sistematis.

Perlu kita ajukan pertanyaan atas tafsiran tersebut. Jika memang Pimpinan Universitas memiliki motivasi sebagaimana yang dikatakan oleh Saudara/i Nur Agustin. Bukankah langkah yang paling tepat adalah pemberian tugas yang lebih banyak ketimbang mengeluarkan surat edaran tersebut? Toh nyatanya kita tetap melakukan pengkaderan informal walaupun surat edaran itu ada.

Saya pernah mendiskusan surat edaran ini dengan seorang teman. Hasil dari pendiskusian itu menyimpulkan bahwa sebenarnya surat edaran ini adalah bentuk pengalihan isu. Sekali lagi saya katakan, ini adalah pengalihan isu. Dari apa? Ya, dari tuntan kita bersama, TOLAK UU-DIKTI (skala nasional) dan TURUNKAN UKT di ATAS SEMESTER 8 (skala regional).

Seperti yang telah saya katakan di atas, karakter reaksioner masih menjangkiti gerakan kita hari ini. Tidakkah kita memulai tuntutan ini sejak tahun 2013 (saya hitung saat saya menjadi mahasiswa)? Dan beberapa bulan yang lalu, saat angkatan 2013 melampaui batas normal masa studinya (masuk semester 9) tiba-tiba saja Rektor mengeluarkan kebijakan yang sangat merugikan mahasiswa semester 8 ke atas. Di mana mahasiswa angkatan 2013 yang pertama kali mendapatkan sistem UKT telah memasuki semester 9, mahasiswa bidikmisi dan UKT Rp.0 dipaksa membayar UKT Rp. 1.000.000. dan mahasiswa lainnya tetap membayar sebagaiman yang telah ditentukan di awal wawancara. Saat itu kita menggelar aksi massa, kawan-kawan. Tapi kita pulang dengan tangan hampa. Dan saat surat edaran itu keluar, kita seolah-olah lupa dengan tuntutan kita sebelumnya. Ada apa dengan kita?

Ingat, sebagian besar kebijakan yang lahir sesudah UU No. 12 thn 2012 tentang Pendidikan Tinggi (UU DikTi) adalah konsekuensi dari serangkaian protes yang kita lancarkan. Bagi saya analisis yang ditawarkan oleh Nur Agustin tidaklah memadai. Tapi perlu kita acungi jempol atas aksi unik yang dilakukannya. Kita musti belajar dari dia. Jikalau Nur Agustin adalah seorang perempuan, biarkan saya mencumbu tanda tangan serta keberaniannya.

Oh iya, saya lupa. Setelah kedua kalinya kita menggelar aksi menolak surat edaran tersebut, bukannya dicabut tapi malah ditinjau kembali. Hasil lainnya adalah maba diperbolehkan mengikuti kegiatan lembaga kemahasiswaaan hanya pada hari sabtu dan minggu. Bagi saya itu bukan hasil. Biarpun Pimpinan Universitas tidak mencabut surat edaran itu, kita tetap bisa mengikutkan maba dikegiatan LK saat hari libur. Dan anehnya kita anggap itu sebagai kemenangan. Aduh.

Mari Baca Gerakan Kita: Sebuah Upaya Refleksi

Jujur, gerakan massa yang kita konstruk hari ini adalah gerakan buta politik. Basis massa kita mayoritas mereka yang buta politik. Anda tahu buta yang paling berbahaya itu apa? Seorang penyair Jerman menjawab; buta politik.

Bertolt Bracht, mengatakan, “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Sangat frontal memang, tapi inilah yang terjadi dewasa ini. Kebanyakan dari kita telah dijangkiti oleh penyakit berbahaya ini; buta politik. Ia tidak tahu bahawa dari kebodohan politiknya lah biaya pendidikan ini makin mahal dan bangsat. Tapi karena kebutaan politiknya dia tidak merasa bersalah sama sekali. Di sini saya juga mau bilang, orang yang apatis itu pun pantas kita sebut sebagai musuh. Karena dari sikap apatisnya banyak anak-anak indonesia yang harus hidup miskin dan mati kelaparan. Sikap apatis sama saja dengan buta politik.

Penting bagi fungsionaris LK (Lembaga Kemahasiswaan) untuk menggelar pendidkan politik. Mulai dari pembenahan kurikulum pengakaderan kita yang terpecah. Masing-masing himpunan memiliki kurikulim pengkaderan sendiri. Nah, untuk mengatasi hal ini, kiranya MAPERWA UNM membuat kurikulum pengkaderan umum. Kalaupun tidak bisa sampai di sana, berdasarkan banyak pertimbangan. Setidaknya hal-hal yang menjadi permasalahan bersama harus dimasukkan kedalam kurikulum pengkaderannya kita. Misal, memasukan pembahasan mengenai UU Dikti dan Sistem UKT, Sejarah dan Strategi Gerakan, kedalam kurikulum pengkaderannya kita.

Untuk merobohkan tirani pendidikan ini haruslah dengan gerakan politik yang terpimpin. Dan untuk mewujudkan itu, perlu bagi kita untuk menghilangakan ego daerah, jurusan, dan fakultas, menjadi ego keadilan sosial dan ekonomi. Karena ini menjadi salah satu faktor penghambat membuat gerakan kita tahan lama dan solid. Sepertinya kita perlu menggelar konsolidasi akbar untuk membicarakan ini.

Surat untuk Lily

Aku memiliki rasa ini. Izinkan aku untuk memiliharanya, merawatnya, dan mengaguminya. Rasa yang bagiku mengubah laut menjadi tawar. Dan aku meneguknya serasa aku di tengah padang tandus dan haus, aku pada langkah yang melelahkan menemukan sebuah oase di bawah sebatang pohon. Pohon itulah satu-satunya yang hijau. Mendekatinya mengatarkanku pada pertemuanku dengan sekubang oase yang segar. Aku lelah dan haus. Meneguknya adalah menghilangkan dahaga. Membasahi tenggorokanku.

Rasa hilangnya dahaga inilah yang ingin aku rawat. Tak akan kulupakan bagaiman air segar itu mengalir di lubang leherku. Membasahi dinding leherku yang kering. Bagaimanapun rasa itu adalah pengetahuanku yang tak terpisah dariku. Pengalaman itu hadir tanpa batas denganku. Aku yakin pengetahuan itu yang sering mereka namakan sebagai pengetahuan huduri. Huduri, di mana antara aku dengan pengetahuan tak memiliki batas. Sepeti yang aku katakan tadi, bahwa saat air segar itu mengalir dan membasahi dinding tenggorokanku, hanya akulah yang tahu bagaimana nikmatnya rasa itu ada. Sulit bagiku untuk mengutarakan atau menggambarkan rasa itu dengan kata-kata. Bagiku aksara yang diciptakan oleh manusia tak selamanya mampu mewakili rasa-rasa yang menjadi ilmu huduri. Ia terbatas. Bukan, bukan kerena terbatasnya aksara itu, tapi karena tak terpisahnya aku dengan pengetahuan itu (huduri). Sebuah rasa yang hanya aku seorang yang tahu, bahkan para rahib tak bisa membacanya.

Walaupun aksara yang sering kita gunakan ini tak mampu mewakili rasa yang kualami. Pada prinsipnya, bagaimanapun, karena engkau adalah jiwa yang memuji kejujuran. Dengan segala kemampuan yang ada kuarahkan agar—setidaknya tersampaikan walau sedikit— bisa kau pahami dengan pengetahuan dan pengalaman yang kau miliki, aku harap engkau bisa memahaminya. Saat kau memahaminya, maka saat itulah aku mewujud dalam jiwa dan ragamu. Bilapun demikian, aku tetap ‘menjadi’. Entah itu mewakili hanya sebagian kecil dari jiwaku. Jiwa yang mengalami peristiwa dahsyat menjungkir-balikan dunia yang selama ini kita anggap mapan. Maka pahamilah aku dalam kesunyianmu. Pahamilah aku dalam gelapmu. Dengarlah suaraku dalam ketulianmu. Sebutlah namaku dalam kebisuanmu. Agar (hanya) akulah yang mampu memahami apa yang kau pahami.

Cinta adalah semesta. Sepanjang sejarah umat manusia. Sepanjang sejarah para pencinta. Semuanya, tak mampu meneropong cinta yang utuh. Menjelajah cinta sampai pada ujung batasnya. Karena cinta adalah semesta, sedang kita adalah insan yang kecil, kerdil, dan bukan apa-apa bagi cinta. Cinta yang kita alami hanyalah tetesan embun pagi yang menetes jatuh di ujung daun.

Aku sering mendengar orang berucap “cinta itu butuh pengorbanan”. Bagiku mereka bukanlah insan yang memahami cinta yang transenden. Mereka hanya mengalami penglihatan pada embun yang menetes jatuh tanpa membuka mulutnya dan membiarkan embun itu membasahi tenggorokan mereka. Apa yang mampu kita korbankan pada cinta. Cinta telah cukup untuk cinta. Cinta tak meminta apa-apa pada insan yang ingin menyatu dengannya. Pengorbanan seperti apa yang ingin kita penuhi untuk cinta? Apakah tidak kejam jika cinta meminta suatu untuk dikorbankan? Padahal Dialah yang menuntun kita pada kesucian. Pantaskah cinta menerima derita dari insan yang berkorban. Cinta telah sempurna untuk cinta. Cinta bukanlah suatu yang dialami oleh dua insan yang mencinta. Cinta bukanlah kasih-sayang ibu pada anaknya. Cinta bukanlah hormat anak pada kedua orang tuanya. Cinta bukanlah perlindungan si kuat pada si lemah. Tapi cinta adalah semuanya.

Itulah yang aku alami. Aku laksana batang bohon yang terombang-ambing di tengah samudra. Keadaan itulah membuatku sadar bahwa aku bukanlah apa-apa di hadapan cinta. Ia menguasaiku. Menjagaku dari kebodohan. Dengan cinta pada ilmu aku tercerahkan. Melihat rupamu dari cahaya ilmu yang suci. Aku mencarimu dengan ilmu dari cintaku. Cinta mengajarku untuk ‘menjadi’, bukan’ memiliki’. Pantaskah aku memiliki engkau yang sempurna? Engakau yang di hidupkan dengan nafas cinta. Engkau adalah milik sang cinta. Aku ingin ‘menjadi’, bukan ‘memiliki’. Menjadi dirimu. Mencintaimu, sama halnya aku mencintai diriku.

Sejauh ini apakah kau memahami apa yang kutuliskan untukmu? Ini adalah surat dengan air mata yang mengalir di pipiku. Kesedihanku mendalam. Seperti ada luka yang menganga di hatiku. Laksana sebilah pedang telah menghunus hatiku dan merobeknya. Luka. Aku menangis, sebab rasa cinta ini seharusnya aku rahasiakan darimu. Mulutku telah berhasil aku bungkam. Telah ku jahit mulutku beberapa jahitan. Agar dia (mulut) tidak mengatakan “aku mencintai mu”.

Tapi aku lengah. Mata yang tak sempat aku tutup melihat beberapa lembar kertas dan pena. Refleks saja jari-jemariku meraih pena itu dan menggenggamnya. Kalimat demi klimat telah kutuliskan sedemikian rupa. Aku tak kuasa menyimpan rasa ini bahkan ragaku ingin mengekspresikannya. Tubuhku ingin menari saat mendengar suling bambu yang dimainkan oleh bocah pengembala.

Kau tahu kenapa aku harus merahasiakan ini semua? Pastinya engkau pernah mendengar cerita dari seorang sufi, dia di juluki Al-Halajj. Yang berlari sambil berteriak di tengah sibuknya pasar, Al-Halajj mengatakan ” Ana Al-haq. Ana Al-haq (Akulah Kebenaran, akulah Kebenaran).” Sontak saja pengunjung pasar pada keheranan. “Siapa dia mengaku sebagai Kebenaran (Tuhan),” lirih seorang pengunjung. Akhir kisah dari Al-Halaj, kepala, kedua tangannya, dan kedua kakinya dipisahkan dari tubuhnya. Ia mati dengan perjumpaannya. Aku takut akan mengalami hal serupa.

Cinta memicu ledakan yang maha dahsyat. Membuatku menjadi gila bila aku tak mencurahkan sebagian dari apa yang aku alami. Aku harus mengekspresikan ini semua. Jadi kupilih cara untuk itu. Aku memilih pena dan kertas untuk menyimpan rasa yang kualami. Dan engaku yang telah kujadikan diriku, pantaslah kau menghukumku. Kerena telah lancang mewujud menjadi jiwamu. Tapi apakah kau akan marah? Sejatinya cintalah yang menyeruku untuk melakukan ini semua. Aku tak punya pilihan selain melakoninya. Aku menjadi aktor dari skenario besar yang telah ditulis oleh cinta dalam kitabnya yang suci.

Ujung jariku. Manjadi tanda bahwa aku mengalami pertemuan besar ini. Dan engaku jiwa yang kucinta dengan nafas cinta mebuatku mengenal cinta, walau tetes embun di ujung daun. Jika sampai pada kalimat terakhir ini masih tak kau pahami apa yang kumaksud. Aku tegaskan, datanglah, temui cinta. Agar cinta memberimu penglihatan yang bersih, pendengaran yang jelas, perasaan yang peka. Dengan semua itu aku dan kau telah menjadi dan mencair dalam samudra cinta. Biarlah kehidupan mengapung di atas kita berdua.

Aku adalah orang yang sering merenung. Bahkan untuk memilih mana yang bagus antara celana warna hitam atau biru langit, itu biasa memakan waktu beberapa jam. Aku harus merenungi kedua warna tersebut sedalam mungkin. Sampai-sampai aku tenggelam dalam warna biru dan hitam. Warna itu menyatu. Lahirlah warna baru dari perpaduan kedua warna tadi dalam perenunganku. Pada akhirnya aku berhenti merenung dan memilih warna yang terakhir, perpaduan antara hitam dan biru, jadilah aku pemilih yang adil. Dan aku menyukai warna yang terakhir. Tapi sayang si penjual malah tak punya stok celana untuk warna yang terakhir (gabunan warna hitam dan biru).

Dengan hati yang senang aku pulang tanpa membawa celana selembar pun. “Barisan Soekarno” masih tesusun rapih di dalam dompetku. Dalam perenungan itu menjagaku dari budaya konsumtif. Aku tidak mudah tersesat dalam budaya konsumtif. Sebab kebiasaanku merenung yang menolongku melakukan tindakan-tindakan yang sia-sia.

Dengan alasan inilah aku menulis isi hatiku untukmu. Agar kau ikut merenungi apa yang telah kusampaikan padamu. Cinta yang ‘menjadi’ dalam diriku harus kau renungi segera mungkin. Kiranya kau pahami dengan amat dalam. Ada lelaki yang memandang dari jauh. Ada lelaki yang memperhatikan langkahmu. Ada lelaki yang mengagumi ciptaan Tuhan. Ada lelaki yang bingung dengan pertanyaan “apa yang dilakukan Putri kayangan di bumi ini”.

Bukan berlebihan. Tapi, aku adalah pembaca sejarah. Aku sering menemukan orang-orang menulis surat cintanya pada insan yang mereka cintai. Aku tak ingin mengungkapkan cinta dengan mulut yang hanya bisa merangkai kalimat yang tak bermakna lagi dangkal. Aku (lewat surat ini) ingin mengajakmu dalam rasa cinta yang menjadi dalam jiwaku. Begitu dalam. Aku sangsi melakukan ritual bodoh yang sering aku temui di sekitarku, mengatakan cinta dengan bunga, coklat, bahkan dengan kondom. Aku memilih cara yang mulia, cara yang dilakukan Tuhan pada hambanya. Di mana Tuhan menyampaikan Firmannya pada hambanya dan hamba itu menulis apa yang ia dengar dari Tuhannya.

Karena Tuhan adalah Cinta. Aku menuliskan apa yang telah Ia berikan padaku. Rasa cintaku untukmu yang dari-Nya ku tuliskan lewat surat ini. Saat kau membaca suratku untukmu, yakinlah kau sedang membaca Nikmat-Nya. Aku memilih cara yang mulia untuk mengungkapkan isi hatiku. Lewat surat. Lewat perenungan.

Dengan nama Suci-Nya, izinkan aku menjadi dalam jiwamu.

Makassar, 15 Desember 2016, Sekret LKIMB UNM

 

Ilustrasi: http://phoenixleo.deviantart.com/

Bumbu Dapur dan Puisi-puisi Lainnya

Bumbu Dapur

Suatu hari kau mengajak ku kepasar

Kata mu ingin beli ikan segar

Mungkin juga bahan dapur lainnya

Yah sekarang kita di pasar

Ibu-ibu menjajalkan dagangannya

Mengintai satu per satu

Berharap ada yang lebih baik

Sekarang musim hujan

Walau lumpur bercampur dengan sampah

Langkahmu tetap mantap dan indah

Kau memandangku, matamu mengatakan

“Ikan tuna menu hari ini sayang”

Senyumku adalah iya

Ikan tuna dibungkus dengan pelepah pisang

Oh yah masih ada

Bumbu dapur, mari kita penuhi itu sayang.

[Makassar, 15 januari 2017]

 

Aku dan Aku-Aku yang lain

Aku tidak perlu menghadap ke langit untuk memahami-Mu

Aku tidak perlu melihat di mana senja akan menghilang untuk menemukan-Mu

Atau menengok di mana fajar akan nampak

Aku hanya perlu menutup mata

Mendengarkan irama nafasku

Memahami bagaimana udara-udara itu masuk dan keluar menjadi racun

Mendengarkan darahku terpompa

Aku hanya perlu menutup mataku

Mengalir dalam jaringan-jaringan kecil

Siapa aku?

Dari mana aku?

 

Ku putar kembali gerak-gerak yang tercipta

Ada yang menyebutnya sebuah ledakan besar

Ada yang menyebutnya sebuah sel dari laut

Tapi ada yang bilang itu cahaya

Yang membuat kaum Musa tertidur 1000 tahun

Yang membuat Jibril hancur bila menyekap tirai

Lalu bagaimana aku menemukanmu?

Lalu adakah orang yang memutar bola matanya untuk melihat matanya sendiri tanpa bercermin?

 

Aku hanya perlu menutup mata

Sebab aku adalah Eangkau

Tapi Engakau bukanlah aku

 

Dan di manakah aku dan aku-aku yang lain akan kembali?

Selain pada Aku yang Esa

Dan aku hanya menemukan-Mu dari pikiranku

Aku hanya menebak apakah itu Dirimu?

Aku hanya ingin bersujud

Lalu pada apakah aku bersujud?

Pada Engkau yang kucipta dalam akal-akalan?

Sengguh aku hanya meminum segelas air dari samudera yang luas

 

Puisiku adalah Aku, Tapi bukan Aku

Puisiku adalah kata sederhana

Tapi bukan untuk mereka yang sederhana

Puisiku adalah kata-kata yang kupungut dari jalanan

Tapi bukan untuk mereka yang hidup di jalanan

Puisiku adalah nyanyian malam tunawisma

Tapi bukan untuk mereka tinggali

Puisiku adalah sampah yang berserakan

Tapi bukan menjadi tempat sampah

Puisiku adalah dosa dosa penguasa

Tapi bukan untuk menghukum mereka

Puisiku adalah kesakitan

Tapi bukan obat

Puisiku adalah ibadah

Tapi tidak bernilai pahala

Puisiku adalah pemberontakan

Tapi bukan untuk di kenang

Puisiku adalah aku

Tapi bukan untuk aku

Puisiku untuk….. Aku tak tahu

Untuk apa

Puisiku adalah kematianku

Tapi bukan kuburanku

 

Makassar, 9 Februari 2017

 

Ilustrasi: https://in.pinterest.com/pin/381820874636360361/

Menggugat Kampus dan Pernak-Perniknya

Aku menghabiskan uang orangtuaku hanya untuk membiayai aku kuliah agar aku tahu betapa itu semua rutininats yang tak bermakna. Seperti seorang dungu yang memenuhi kewajibanya mengisi absen. Aku memang kuliah di salah satu universitas negeri. Yah, aku kuliah di Kota Daeng dengan kampus “tit”.

Bagiku, apa yang kulakukan jauh lebih bermakna yang dikerjakan oleh penjual somai, atau tukang ojek. Penjual somai kedatangannya ditunggu-tunggu penikmat somai, begitupun tukang ojek kehadirannya membantu kemudahan transportasi bagi masyarakat. Tapi yang menungguku di ruang kuliah adalah tugas, absen, bangku, ruang kuliah yang sumpek, dosen dengan segala kebosanannya, dan sebagian mahasiswa lainnya dengan segala kepasifannya. Dunia kampus, begitupun organisasi mahasiswa di dalamnya dengan budaya buta hurufnya menambah ketidakbermaknaannya kampus.

Sekarang aku memasuki tahun anggaran ke-tiga. Aku sengaja menyebutnya tahun anggaran bukan tahun ajaran. Argumenku jelas, bahwa memang hanya uang yang menjalankan segala aktifitas dalam kampus. Aku tidak bakalan diizikan mengikuti aktifitas kuliah jika tak membayar. Tapi lebih parahnya lagi orang yang dikenakan skorsing kuliah (satu semester sampai tiga semester) malah masih diwajibkan membayar uang kuliah. Kadang di sisi ini aku bingung dengan semboyan “uang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.”

Adakah orang bodoh membayar agar tidak mendapat apa-apa? Dan ini terjadi di kampus yang katanya menelurkan kaum intelektual. Jika demikian tidak mengherankan banyak koruptur, penindas dan lain sebagainya bertelur dari rahim kampus. Karena banyak kajadian aneh yang tak masuk akal malah dipraktekkan di dunia kampus. Pertama, membayar untuk sesuatu yang tak bermanfaat, seperti yang saya katakan di atas. Skorsing berarti kita dilarang mengikuti aktifitas perkuliahan, tapi masih diwajibkan membayar. Dengan begitu di kampus skorsing pun memiliki nilai ekonomis yang bisa dijual. Ibarat seorang pengangguran membayar kepada si penjual waktu nganggur agar dia bisa menikmati masa pengangguran. Bodoh sekali.

Jika kau mengalami atau setidaknya melihat kajadian ini di kampus tempat kau menggali ilmu, maka segeralah keluar dari kampus itu, sungguh hanya kedunguan yang akan kau peroleh kelak. Kau hanya membayar waktu untuk mengulur kau agar tidak cepat nganggur saja. Tidak ada ilmu di dalamnya, bahkan profesornya, mahasiswanya, dan segala pernak-perniknya. Aku sudah mengalami kejadian itu. Mudah-mudahan setalah menulis ini aku tak muncul lagi di kampus.

Kedua, mahluk yang bernama profesor tak rela jika ia mengajar mahasiswa baru. Jika ada matakuliah Anda yang berawalan “pengantar……” seharusnya profesorlah/orang yang profesional di bidang itu sebagai orang yang mengantarmu memahami secara komprehensif jurusan keilmuan yang kau emban. Yang terjadi malah sebaliknya. Seperti di jurusanku, dosen yang mengajar matakuliah yang berawalan “Pengantar……….” malah seorang dungu dengan sejuta tugasnya.

Aku masih ingat saat di mana aku sedang botak (gara-gara senior bangsat yang tidak menghargai budaya nusantara mencukur rambutku seperti orang gila. Senior bangsat yang tak menghargai perjuangan mahasiswa tempo dulu yang melawan kebijakan gundul yang diterapkan oleh kampus di bawah pengawasan Jepang. Sudah jelas ini dikarenakan kebutaannya terhadap buku/sejarah. Coba kau baca buku “Dilarang Gondrong” pastinya kau memahami apa yang saya maksudkan) dengan segala ketidak tahuanku tiba-tiba dengan lancang dosen yang memegang matakuliah “pengantar…….” menyuruh aku dan teman-temanku yang lain untuk membuat makalah tentang Antropologi dan Rung lingkup Keilmuannya. Batapa dungu dan bodohnya kami saat itu, kami menerima saja dengan sikap pasif.

Bayangkan mahasiswa baru dengan kepala plontos disuruh mengerjakan tugas yang amat berat itu. Jujur saat itu aku tak tahu bagaimana prosedur penulisan makalah, begitupun tentang antropologi dengan ruanglingkup keilmuannya. Saya malah disuruh mengerjakan sesuatu yang saya tidak tahu dalam bentuk yang saya tidak tahu (makalah). Ibarat seseorang yang bodoh pada matematika dan tidak bisa bahasa inggris, tiba-tiba disuruh mengerjakan soal matematika dalam bahasa inggris. Sungguh kedungan sejati yang sedang dipraktikkan oleh dosen matakuliah “Pengantar……….” saat itu.

Jika ada yang marah dengan sikapku yang kurangajar dalam tulisan ini, maka kalianlah yang kumaksud dalam tulisan ini. Dengan atmosfir pengajaran seperti itu, kita ingin menghilang budaya copy paste di dunia kampus? Saya yang sedari SMA memiliki kebiasaan nyontek, dengan harapan datang kuliah bisa meninggalkan kebiasaan buruk itu. Harapan itu pupus sembari masifnya cara pengajaran seperti itu.

Ketiga, sikap ambivalensi. Di dunia kampuslah berkembang biaknya sikap ambivalensi ini. Terutama mahasiswanya. Seperti yang dibilangkan tokoh psikologi Jascues Lacan, mahluk yang lahir dari praktek penjajahan adalah mahluk dengan subjek yang terbelah. Bangsa yang baru saja terlepas dari cengkraman kolonialisme membentuk sifat dualistik. Satu sisi ia membenci penindasan/penjajahan, di lain sisi ia merindukan praktek-praktek penindasan/penjajahan tersebut.

Sikap seberti itulah yang dibilangkan oleh Lacan sebagai subjek yang terbelah. Dan lagi-lagi subjek-subjek yang terbelah itu banyak berkembang biak di dalam kampus. Salah satu contoh yang menjelaskan kasus ini adalah diwajibkannya mahasiswa baru untuk menggunduli kapalanya. Saya akan sedikit lega ketika hanya dosen yang menyuruh maba melakukan ini, tapi yang terjadi di lapangan malah mahsiswalah (senior) yang menjadi pelopor menegakan kebijakan ini. Setela MABA selasai mengikuti proses kaderisasi yang tak bermartabat tersebut (kewajiban untuk gundul), dengan muka/subjek yang berbeda (senior) menyarankan juniornya yang sudah ia gunduli kepalanya untuk memanjangkan rambut/gondrong dengan doktrin sebagai simbol perlawanan.

Aku ingin menjelaskan kasus ini dengan kalimat yang saya dapat dari sebuah novel (saya lupa apa judulnya), kira-kira begini kalimat di dalamnya “untuk menjadi pemberontak sejati, terlebih dahulu harus menjadi budak sejati”. Sama seperti aktor dalam novel tersebut (lagi-lagi saya lupa nama aktor) dia mengatakan “itu sebuah logika yang sangat sesat dan buta”. Apakah untuk mengatakan bahwa pincang itu tidak menyenangkan, saya harus pincang terleboh dahulu? Jika kau mengiyakan, maka yang saya maksud dalam kasus di atas adalah kamu. Jika gondrong adalah simbol perlawan, maka botak simbol perbudakan/penindasan.

Sikap ambivalensi ini memang marak dipraktikan oleh kalangan mahasiswa. Masih dengan kasus yang sama, bahwa dalam mulut mereka membenci penindasan, penghisapan, korupsi, dan watak tidak manusiawi lainya. Namun dalam perilaku keseharian mereka jalankan dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Itulah jika semboyan dengan kalimat “berperilakulah seperti apa yang kau katakan” masih kita pegang teguh. Sungguh, bagi saya semboyan itu malah menyuruh orang berdusta. Sebab jika seperti itu, jika kau mangatakan “bangun pagilah, karena di situ rezki dilimpahkan,” padahal kau tidak mengerjakan seperti yang kau ucap. Maka kamu menjadi pendusta, kamu tidak melakukan seperti apa yang kamu ucapkan. Seharusnya semboyan itu diubah menjadi seperti ini “katakanlah apa yang kamu lakukan”, ada muatan imperatif terhadap kejujuran dengan kalimat itu. Jika semboyan itu yang kita pegang teguh, dengan kasus bangun pagi, kamu akan mengatakan seperti ini “jujur aku malas bangun pagi, tapi aku rajin bangun siang.” Bukankah kita menyukai kejujuran? Jika kamu tidak suka, maka yang aku maksud dalam tulisan ini adalah kamu.

Keempat, phobia filsafat oleh sebagian besar mahasiswa. Sejauh ini saya masih melihat mahasiswa sebagai pengidap phobia filsafat paling banyak di dunia kampus. Poin ini tidak bermaksud mengkritik dosen, karena saya jarang bergaul dengan dosen dengan durasi yang panjang, sampai saya harus bermalam di rumah dosen. Sehingga dalam poin phobia filsafat murni berangkat dari kedekatan saya dengan kalangan mahasiswa.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin buka-setengah-setengah, saya harus buka-bukaan, sebagaimana yang saya sering dengar dari kalangan mahasiswa yang sering menuntut transparansi dana di pihak universitas. Bagi saya sikap ketidaksetujuan, ataupun sikap kritis pula harus ditransparasikan sejelas-jelasnya. Sekali lagi jika anda marah dengan poin keempat ini, maka yang saya maksud sebagai pengidap phobia filsafat adalah Anda. Tidak bisa dinafikan,ada sebagian dari mahasiswa yang sangat gandrung mendalami kajian filsafat sampai-sampai ia tenggelam dengan sejuta pertanyaan, sampai-sampai ia mengatakan “aku meragukan semua yang ada, tidak ada yang pasti, kecuali satu yang pasti saat ini, bahwa yang pasti adalah aku sedang dalam keraguan yang amat sangat.”

Untuk menjelaskan fenomena phobia filsafat ini, ada kisah yang menurut hemat saya bisa dikategorikan phobia filsafat di kalangan mahasiswa. Jadi saya pernah, mengadakan kelas logika, tapi bukan dalam kampus melainkan di sekret salah satu organisasi yang sering saya ikuti kajian logikanya. Dalam kelas logika ini saya mengundang beberapa MABA untuk mengikutinya. Tiba-tiba saja saya mendengar banyak kawan-kawan saya melarang untuk mengajak MABA dengan alasan “itu (kajian logika) masih sangat berat bagi maba. Yang harus kamu kasih (ajari) mestinya dinamika organisasi dan kampus.” Saya dengan sesal menjawab, “bagi saya, dinamika organisasi dan kampus lebih berat dan sangat kompleks. Dan sebagai dasar untuk maba haruslah diajari cara berlogika yang baik dan benar. Sehingga dalam melihat dinamika organisasi dan kampus, maba yang sudah mengikuti kajian logika bisa dengan mudah memahaminya. Tanpa kita ajari, karena dinamika organisasi dan kamus adalah dinamika individu-individu yang berfikir.” Akhirnya saya dan sebagian yang mau ikut bergabung menuju lokasi kajian merasakan sedikit sesal

Tidakkah kita pernah membaca, atau sedangkalnya mendengar orang-orang mengatakan bahwa ibunya pengetahuan adalah filsafat. Di sana letak kebijaksanaan. Sejatinya filsafat adalah dialog. Dialog ini terbagi dua, internal dan eksternal. Dialog internal, biasa kita dengar dengan istilah perenungan. Aktifitas ini sudah dilakukan oleh pendahulu, tetuah, dan para tokoh bangsa kita. Perenungan, sebagaimana yang di ajarkan Nabi Muhammad saat dia melakukannya di gua hira. Nabi dalam kesunyian yang dialami dalam gua hira mencoba mencari jalan keluar dari kajahiliaan Kota Makkah saat itu. Dengan hati dan pikiran yang tenang difokuskan mencari akar permasalahan, suara Jibril pun mengagetkan Beliau.  “Iqro” ucap Jibril. Saya hanya ingin menggambarkan betapa filsafat memberikan jeda bagi manusia untuk merenungi makna sebuah kehidupan. Apalagi di era hujan informasi ini kita sangat perlu untuk jeda bermandi dengan informasi-informasi yang sejatinya mendangkalkan nalar kita. Maka sangat diperlukan perenungan. Filsafat menyuruh kita untuk merenung. Mancari kebijaksanaan.

Dengan phobia filsafat ini jelas kampus tidak menyediakan ruang untuk saya berenung. Setelah dilakukan dialog internal, selanjutnya mesti dilakukan dialog eksternal. Di tahap inilah yang agak rumit bagi saya. Saya harus mendialogkan apa yang saya dapatkan dari perenungan yang telah saya lakukan pada orang lain. Terkadang orang yang saya temani menganggap saya bodoh dan gila. Apa boleh buat, sejarah membuktikan orang-orang yang selepas perenungan acap kali dianggap gila jika ia mengutarakan hasil perenungannya. Di sinilah letak phobia filsafat itu terjadi. Mereka takut gila seperti saya. Maka dengan lantang Michel Foucault bertanya pada mereka yang merasa waras, apa indikator seseorang itu bisa dikatakan gila?

Jika, Anda berada di kelompok orang yang Anda anggap gila, dan Anda sendirian di dalam kelompok itu. Pertanyaannya, siapakah yang akan di sebut gila? Anda kah? Atau kelompok orang gila itu? Bayangkan sendiri. Jika indikatornya adalah mayoritas, maka betapa bodohnya kita hari ini.

Saya lupa jelaskan pada awal tulisan, bahwa maksud tulisan saya ini salah satunya mengkritik si pengkritik(mahasiswa). Sama halnya Kant, mencoba mengkritik akal budi dengan akal budi. Jadi saya mengkritik mehasiswa dari pandangan mahasiswa. Karena saya juga mahasiswa. Jika si pengkritik (mahasiswa) enggan untuk dikritik, lagi-lagi saya tegaskan “bahwa benar kampuslah yang menelurkan para anti kritik dan penindas.”

Saya memberikan ruang bagi tulisan ini untuk salah dan kritik dari sidang pembaca yang budiman. Tapi saya hanya menerima kritikan dengan membuat tulisan tandingan dari kisah yang saya tuliskan di sini. Kenapa demikian, persoalannya ucapan hanya akan terbawa angin. Besok atau lusa, kritikan (ucapan) tidak meninggalkan apa-apa kecuali kebisuan. Dan bagi orang yang merasa tersinggung dengan tulisan saya, saya siap untuk berdialog lewat tulisan.

Baiklah, saya kira sampai di sini. Sidang pembaca yang budiman, jika Anda menemukan keempat poin di atas dalam dunia kampus dan organisasi mahasiswa, segeralah Anda menghindar sebab di sana kedunguan sedang menyebarkan virusnya. Saran saya, “rawatlah akal sehat Anda dengan membaca, dan awetkan ide Anda dengan menulis. Jika demikian maka Anda sudah menemukan cara untuk hidup abadi.”

Chairil Anwar berucap dalam syairnya “aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Bukankah dari menulis kita dapat melakukan itu?

 

Sumber gambar: http://bosgalang.blogspot.co.id/