Semua tulisan dari Ahmad Abni

Guru PPKn MTs Negeri Bantaeng Kab. Bantaeng.

Guru Hanyut

Pemandangan yang cukup miris namun sungguh lucu. Entah dari mana sumber video itu sampai viral di media sosial. Di siang bolong, di tengah situasi banjir tetiba muncul springbad hanyut. Di atasnya masih terlelap seorang lelaki. Dinginnya air belum mampu membuatnya sadar. Begitu pula laju arus yang menyibakkan gemercik seperti membuainya untuk semakin lelap. Riuh sekaum massa di sekeliling dianggapnya sebagai pengantar tidur. Benar-benar ia telah hanyut. Hanyut dalam mimpinya dan juga hanyut di alam nyata.

***

Seorang guru baru saja menyampaikan keluhnya sesaat setelah keluar dari kelas yang diajarnya. Kali ini bukan soal tunjangannya yang lambat terbayarkan, bukan pula karena capaian angka kredit Pengembangan Keprofesian Berkelanjutannya (PKB) yang belum sampai target, ataupun bukan pula sebab karakter dan sikap siswa yang hiperaktif di kelasnya dan juga bukan karena menggosipkan rekan kerjanya yang gemar bergosip.

Sudah lazim, guru selalu merefleksi diri sehabis melaksanakan pembelajarannya di kelas. Memang karena merefleksi pembelajaran adalah tuntutan dan wadah untuk memperbaiki kualitas pembelajaran berikutnya. Wadah evaluasi pembelajaran, untuk mengorek kekurangan sekaligus mengumpul dan menghimpun kebaikan yang bisa dipertahankan. Refleksi dengan rekan sejawat akan memperkaya khasanah. Darinya bisa pula lahir inovasi-inovasi pembelajaran.    

Dia sungguh merasakan ada hal lain dari biasanya. Waktu berlalu begitu cepatnya di kelas, padahal alokasi waktu pembelajaran untuk setiap mata pelajaran adalah dua kali empat puluh menit. Muatan dan beban belajar siswa untuk jenjang Tsanawiyah atau SMP memang empat puluh menit setiap satu jam pembelajaran. Tapi kali ini dia merasakan waktu yang tersedia sangat tidak cukup di kelas. Masih sementara asyik jadi pemandu kelas, lonceng pergantian jam sudah berbunyi. Belum sepenuhnya desain pembelajaran dilaksanakan, waktu keburu habis. Sungguh nikmat di kelas dan siswa juga merasakan hal itu. Namun pembelajaran harus ditutup dengan rasa penasaran dan kurang puas.  

Serupa menonton pertandingan sepak bola. Di lapangan hijau, masing-masing tim memperagakan permainan apiknya, memainkan si kulit bundar. Kemenangan tim bukan hanya satu-satunya tujuan permainan. Pertunjukan skill, kerjasama tim, teknik operan tiki-taka cukup menghipnosis kita sebagai penonton. Ini sebentuk penegasan bahwa keindahan itu memang beragam bentuknya. Tidak hanya terbatas pada lukisan, melodi pada musik, suara pada nyanyian, putihnya awan, dan hijaunya pegunungan. Tidak pula keindahan itu pada tumpahan air sungai di dinding tebing. Duduk di balkon penonton ataupun di depan TV selama dua kali empat puluh lima menit, serasa berlalu begitu cepatnya. Saya juga membayangkan bagaimana para pemain tim yang apik itu menikmati permainan. Larut dalam berbagi bola, ngotot menyerang untuk mengejar kemenangan maupun bertahan mati-matian sampai tak terasa peluit panjang dibunyikan.

Guru, pemain bola ataupun penonton sama-sama hanyutnya. Mengajar ataupun saat mengerjakan administrasi pendukung pembelajaran berasa nikmat, guru berkeluh akan alokasi waktu yang dirasa kurang memadai, merasa waktu berlalu dengan cepatnya. Sesungguhnya ia telah mengalami kondisi flow seperti yang telah dipopulerkan oleh  Mihaly Csikszentmihalyi, seorang psikolog dan pakar kebahagiaan Universitas Chicago. Kiranya guru dituntut berada dalam kondisi flow dalam melaksanakan tugas-tugasnya, dimana seorang guru benar-benar konsentrasinya terserap dalam kenikmatan yang luar biasa sampai hanyut dalam keasyikan kerja. Segala energi difokuskan pada satu titik tujuan yang sebelumnya telah ia tetapkan. Dengan begitu, bekerja tidak lagi menjadi beban yang membuat kening berkerut.  

Sebagai guru memang ada kalanya kita terlempar jauh keluar dari kondisi flow ini. Merasakan situasi di mana semangat mengajar bertumbuh sampai berapi-apinya dan kadang pula kita dirundung semangat yang perlahan-lahan menurun ke level yang paling rendah. Tumbuhnya semangat dipantik oleh langkah inovasi yang disertai dengan adanya umpan balik terhadap inovasi tersebut. Pemantik semangat juga karena tantangan tinggi berbanding lurus dengan keterampilan yang sama tingginya. Jika tantangan mampu diselesaikannya dengan baik maka ia akan bereksperimen mencari tantangan lain.  

Lain halnya ketika kita menemukan tantangan besar saat mengajar di kelas. Dibutuhkan model, metode,  keterampilan, dan strategi mengajar yang jitu. Jika tidak, maka yang terjadi adalah kegagalan termasuk di dalamnya gagal menguasai kelas. Suhu dalam ruangan lambat laun akan dirasakan panas begitu menggigit. Satu jam pembelajaran di kelas akan dirasakan seperti masuk dalam bejana penuh dengan air mendidih. Sedikit-sedikit keluar kelas untuk menghindari kegugupan dan kebuntuan. Untung baik jika separuh waktu mengajarnya tidak dihabiskan hanya untuk marah-marah.  

Bukan hanya profesi guru, profesi lain pun pasti pernah merasakan situasi yang menjenuhkan dalam bekerja. Kejenuhan itu tidak muncul begitu saja. Penyebabnya bisa beragam. Perlu berhati-hati jika memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi tetapi tidak menemukan tantangan yang sebanding. Kita akan cenderung memelihara sikap meremehkan persoalan, muncullah perasaan bosan untuk berbuat. Menyelesaikan pekerjaan saat-saat injury time karena dengan itu ia menemukan tantangan berlomba dengan waktu.Bekerja tidak lagi nikmat dan hikmad. Kejenuhan tentu akan menjauhkan kita dari titik flow.    

Maqam tertinggi dari flow bukan pada tataran paradigma sekadar meyelesaikan pekerjaan – Get the Job Done (GJD) Guru harus bisa mencapai paradigma Konfirmasi Kepuasan Confirm Satisfaction (CS). Sangat terang benderang apa yang dijelaskan oleh Arvan Pradiansyah bahwa seseorang yang berparadigma GJD akan menganggap pekerjaan itu dinilai dari apa yang telah dilakukan. Suatu pekerjaan dianggap selesai ketika telah dilaksanakannya. Melaksanakan tugas dan pekerjaan hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja. Setelahnya akan menerima upah atas apa yang telah dikerjakannya. Orientasinya masih sebatas bekerja sebagai cara untuk mendapatkan penghasilan. Sikap penuh hitung-hitungan dalam bekerja sangat dikedepankannya sehingga setiap pekerjaannya harus dinilai dengan rupiah.

Patut juga dicurigai dengan meningkatnya minat pelamar masuk perguruan tinggi yang akan melahirkan sarjana guru. Jangan-jangan memang pelamar ini didominasi oleh orang-orang yang berparadigma GJD. Profesi guru telah dipandang sebagai ladang pekerjaan menjanjikan dengan penghasilan yang menggiurkan. Memang profesi guru belakangan ini tidak lagi seperti di zaman Omar Bakri dengan sepeda ontelnya.

Guru yang berparadigma GJD bisa pula terjerumus dalam flow yang keliru. Sudah terlalu nyaman dengan fasilitas tunjangan sampai lupa untuk meningkatkan empat kemampuan sebagaimana yang dipersyaratkan dalam regulasi yakni kemampuan pedagogik, kemampuan professional, kemampuan sosial dan kemampuan kepribadiannya. Seyogyanya fasilitas tunjangan dimanfaatkan untuk meng-adakan buku-buku referensi atau setidaknya punya perpustakaan pribadi, giat mengikuti pelatihan mandiri, ataupun melengkapi fasilitas teknologi yang menunjang kemudahan dalam tugas.

Zona nyaman kadang menerungku. Membatasi keluasan pengalaman kita. Lihatlah bagaimana burung yang sejak dari dini dipiara dan dipingit sang majikan. Disiapkan sangkar sebagai rumah semunya. Segala kebutuhannya dipenuhi. Dilatih agar kelak dapat menuruti perintah. Paling tidak dapat membanggakan dengan keindahan kicaunya. Rasa nyaman sejak kecil sampai dewasa membuatnya menjatuhkan pilihan pada sikap jinak. Padahal sesungguhnya habitat aslinya cukup kaya. Ia dapat terbang bebas, bertualang, menambah perbendaharaan kecerdasannya serta membangun imajinasinya sendiri.  

Para guru harus mampu melakukan lonjakan flow pada level paradigma CS. Bukan hanyut karena kebanalan sebagaimana hanyutnya pria dengan springbadnya di tengah banjir. Bukan pula hanyut karena terbuai mimpi atau janji manis, melainkan hanyut karena menikmati. Pada level ini, ukuran keberhasilan dari sebuah pekerjaan bukan lagi pada apa yang sudah dikerjakan melainkan apa yang sudah dikerjakan itu dirasakan manfaatnya oleh orang lain, termasuk di antaranya kepuasan dan kebermaknaan. Paradigma CS bukan hanya memperhatikan out put, melainkan bagaimana menghasilkan out come. Bisa jadi salah satu alasan inilah lahir dedengkot guru tanpa tanda jasa.

Ilustrasi: id.pngtree.com

Serupa Centurion

Chiron adalah seorang centurion sekaligus tuan guru yang mengajarkan seni berburu bagi para pangeran di zaman Yunani Kuno, dengan maksud untuk membekali para pangerann itu tentang keterampilan berperang, agar kelak mampu menjaga teritorialnya dari intimidasi perompak, penjarahan, maupun gangguan dan ekspansi kerajaan lain. Keahlian berburu yang melekat pada Chiron, merupakan bakat yang sengaja dikaruniakan oleh dewa-dewa kepadanya. Berburu menjadi sangat istimewa karena di dalamnya dituntut multi-talenta, mulai dari kemampuan mengatur siasat, koordinasi, keterampilan jelajah alam, keterampilan survive, ketenangan, keberanian, kedisiplinan, kemampuan mengejar, menangkap sampai bagaimana cara melumpuhkan. Tidak ada salahnya jika kita mengatakan bahwa berburu adalah bakat dasar untuk menjadi seorang centurion.

Osman Gazi sesungguhnya juga adalah seorang centurion suku Kayi dari Oghuz Turks. Keperkasaan Osman Gazi karena masa kanak-kanaknya telah ditempa dalam peliknya keadaan dan intimidasi, serangan serta perlakuan bangsa Mongol. Didikan Ertugrul sebagai Sang Ayah sekaligus ketua suku Kayi, membuatnya matang dalam suaka di wilayah Anatolia. Kehadiran Osman Gazi ibarat tumbuhan yang telah menguncupkan tunas baru bagi eksistensi suku Kayi. Kemampuan militer telah menubuh dalam relung kehidupan Osman Gazi, hingga mengantarkannya pada rentetan kemenangan besar dalam setiap perang yang dilakoninya.

Tidak sedikit keheroikan yang ditunjukkan olehnya, dari itu sahabat dan musuh menjadi segang di medan perang dan juga di meja perundingan. Pada akhirnya Osman Gazi mampu menancapkan lencana dan bendera kekuasaannya yang ditandai dengan berdirinya dinasti kesultanan Ottoman (Kesultanan Ustmaniyyah/Turki Usmani). Eksistensi dinasti yang dibangunnya itu sesuai dengan jargonnya “negara abadi” mampu meruntuhkan monarki Byzantium dan bahkan dapat bertahta hingga berabad-abad dengan tiga puluh enam sultan.          

Tak ada negara yang bisa tegak berdiri tanpa adanya angkatan bersenjata. Aforisme ini merupakan kesimpulan umum dari seorang Niccolo Macciavelli, terkait bagaimana pandangannya tentang militer. Ia memandang bahwa negara tanpa militer tak ubahnya sebuah istana megah, berisikan benda berharga intan permata serta emas, akan tetapi terlihat telanjang karena tak memiliki atap. Dalam kondisi ini akan mengundang siapa pun untuk melakukan penjarahan, mempreteli seluruh isi istana atau bahkan bisa saja mendudukinya dan dijadikan sebagai hunian tetap. Secara tidak langsung, godaan akan gemerlapnya kekayaan istana yang tak terlindungi itu merupakan penanda agitasi bagi timbulnya kejahatan.

Dalam kehidupan masyarakat sipil, kehadiran militer tidak boleh lagi dipandang sebagai antithesis, sebab masyarakat sipil tidak akan terjamin kenyamanannya dalam Negara, jika tidak didukung oleh kekuatan pertahanan dari gangguan agresi negara lain. Urgensi dari eksistensi pertahanan akan mengantarkan negara pada kemapanan ekonomi, terbangunnya aktivitas pendidikan, berjalannya hukum dengan tertib, terlaksana ibadah dengan khusyuk dan tidak akan dipandang sebelah mata oleh negara lain.    

Meski militer menjadi kekuatan utama pertahanan negara, namun ia pun perlu didukung oleh kekuatan tambahan dari masyarakat sipil. Dalam konteks ke-Indonesia-an kita, ruang untuk itu telah dikemas dalam konstitusi Indonesia (UUD NKRI 1945) pasal 30 ayat 1 yang menyatakan, “Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahan dan keamanan negara.” Secara historis, kemenangan bangsa Indonesia telah menyata, mampu melewati masa-masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan tahun 1945, dengan bersatu padunya kekuatan rakyat dan kekuatan militer serta kekuatan polisi Indonesia. Sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta bukan hanya sebatas akronim biasa, akan tetapi istilah ini telah melampaui maknanya itu sendiri. Pertahanan dan keamanan Indonesia tetap melibatkan seluruh rakyat sebagai warga negara, wilayah dan sumber daya nasional secara aktif, terpadu, terarah dan berkelanjutan.

Pertahanan rakyat semesta telah diformulasi sedemikian rupa menyerupai bentuk kerucut. Sebagai kekuatan utama, Tentara Nasional Indonesia (TNI) berada pada posisi puncak sementara Komponen Cadangan berada pada posisi medium dan Komponen Pendukung berada pada posisi dasar. Komponen utama dipersiagakan untuk menghadapi ancaman negara yang sifatnya militer maupun ancaman hybrid dan non militer, sementara Komponen Cadangan dipersiapkan untuk memperbesar dan memperkuat kekuatan serta kemampuan komponen utama. Komponen Cadangan dibekali dengan kemampuan militer yang memadai. Lain halnya Komponen Pendukung, ia dibentuk bukan untuk perlawanan fisik tetapi komponen ini memberikan dukungan melalui keahlian dan profesinya masing-masing.

Tentu muncul pertanyaan, sebenarnya siapa sih yang termasuk dalam Komponen Pendukung ini? Kekuatan pendukung ini cukup banyak sumbernya mulai dari polisi, resimen mahasiswa, Satpol PP, linmas, satgas partai, satpam, organisasi kepemudaan, dan organisasi bela diri, serta tenaga ahli sesuai dengan profesinya. Di samping itu, industri, sumber daya alam buatan/sarana prasarana dan sumber daya manusia yang dapat dibina secara fisik dan psikis bisa pula menjadi kekuatan pendukung.

Dengan lahirnya undang-undang nomor 23 tahun 2019 tentang pengelolaan sumber daya nasional untuk pertahanan negara, kini telah ditetapkan lebih kurang dari tiga ribu anggota komponen cadangan yang selanjutnya akan dilakukan perekrutan secara intens. Secara fungsional Komponen Cadangan ini tidak aktif setiap hari sebagaimana aktifnya militer, akan tetapi ia berfungsi secara incidental, yakni ketika negara dalam keadaan darurat militer. Komponen Cadangan dapat dimobilisasi kapan pun saat negara memerlukannya, walaupun tetap dalam persetujuan DPR, di mana komando dan kendalinya tetap ada ditangan panglima TNI. Intinya, kehadiran Komponen Cadangan hanya boleh dipergunakan untuk kepentingan pertahanan negara, tidak lebih dari itu. 

Namun perlu diingat bahwa Nusantara bukan hanya dikenal sebagai negara yang tanahnya subur, saking suburnya seringkali muncul anekdot bahwa tongkat pun dapat tumbuh dengan rindangnya. Sejak masa mempertahankan kemerdekaan sampai saat ini, negeri kita tak luput dari praktek-praktek pembangkangan. Bukannya terlalu naïf atas kehadiran Komponen Cadangan ini. Kita juga patut mawas diri untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa muncul kapan saja. Semisal intrik untuk menjadi kekuatan politik baru, atau menjadi alat untuk diperhadap-hadapkan dengan rakyatnya sendiri atau bahkan kita ragu akan kemampuannya untuk menjawab isu pertahanan nonkonvensional berupa serangan cyber, spionase dan terorisme. Isu ini penting karena kita tentu masih ingat beberapa waktu lalu, begitu kagetnya kita ketika negara lain mampu menyadap nomor handphone kepala negara yang juga sebagai kepala pemerintahan di negeri ini.    

Pedang yang awalnya tajam bisa saja tumpul jika dalam waktu lama dibiarkan tidak diasah. Bekal kemampuan militer yang hanya tiga bulan tentu akan cepat menguap jika tidak di-follow up. Dalam keadaan damai dan jauh dari perang konvensional, Komponen Cadangan tidak boleh lengah. Ibaratnya para pangeran, tetap berburu untuk mempertajam penguasaan atas lapisan tanah tempatnya berpijak, sekaligus untuk mengasah intuisi mengenali topografi sekitar. Politik praktis bukanlah ruang untuk “berburu” bagi Komponen Cadangan. Tugas komponen cadangan hanya untuk kepentingan pertahanan negara sebagai kekuatan tambahan TNI dan mobilisasi untuk kepentingan darurat.

Komponen Cadangan, mampukah bermetamorfosis serupa centurion di masa Yunani Kuno atau mampu mewarisi semangat dan keberanian dari Osman Gazi? Tentu saat ini adalah masih terlalu dini untuk memberikan penilaian. Kita tunggu saja aksi nyata dari kehadiran kolompok sukarela ini.


Sumber gambar: kompas.com/read/2020/08/21/090132926/mengenal-11-tunjangan-di-luar-gaji-pokok-yang-diterima-anggota-tni?page=all

Khutbah Perpisahan Nabi Saw

L’Etat C’es Moi (Negara adalah saya). Kalimat ini pernah diungkapkan oleh Raja Lois XIV di hadapan Parlemen Perancis. Konstitusi yang berlaku adalah pengejawantahan dari titah dan perintah Sang Raja. Ucapan Sang Raja akan menjadi undang-undang. Kehendak Sang Raja wajib dilaksanakan untuk mengisyaratkan kepatuhan dan ketaatan. Rakyat dinilai taat dan patuh kepada konstitusi jika melaksanakan titah raja. Tidak melaksanakan titah raja konsekuensinya adalah hukuman yang dapat berupa denda sampai hukuman mati. Raja menjadi sangat ditakuti. Ketertiban terwujud di atas bayang-bayang ketakutan rakyat.

Jika ingin Negara kuat, maka rakyat harus lemah. Manakala rakyat kuat, maka Negara akan menjadi lemah. Kalimat ini diungkapkan oleh Lord Shang Yang seorang negarawan, ilmuan sekaligus tokoh reformis dari Tiongkok Kuno. Shang Yang menempatkan negara dan rakyat pada oposisi biner. Negara dipandang sebagai subyek dan rakyat ditempatkan sebagi obyek. Untuk menjadi Negara kuat maka rakyat harus dijerumuskan pada level yang serendah-rendahnya. Rakyat perlu dijauhkan dari dunia pendidikan untuk mengebiri kecerdasannya. Jangan biarkan rakyat mengatur perniagaannya karena ia akan mapan secara ekonomi. Bebankan pajak yang tinggi sampai rakyat tercekik agar pemenuhan kebutuhan sehari-harinya sulit untuk tercukupi. Putuskan hukum seperti pisau agar dengannya rakyat gampang terjerat. Dengan begitu, rakyat lambat laun akan lemah secara fisik, lemah ekonomi dan juga lemah pengetahuan. Sementara grafik kekuatan negara akan beranjak menuju titik kulminasi. Negara akan bebas dari riak dan gelombang protes sehingga negara akan dengan mudah melanjutkan pekerjaan-pekerjaannya.

Niccolo Macciavelli menegaskan gagasannya bahwa penguasa harus memelihara kekuasaan dengan menjadi seperti “kancil” sekaligus seperti “singa”. Ia mengajarkan bahwa seorang raja harus memiliki kepandaian, kecerdikan dan kelincahan sebagaimana si kancil. Selain itu pula, ia tetap memelihara sifat-sifat yang kejam dan bertangan besi layaknya seperti singa.

Memang sangat ekstrim jika kita mengatakan bahwa lahirnya kekuasaan-kekuasaan absolut di dunia tidak lepas dari pengaruh gagasan dan pernyataan-pernyataan lisan dari tokoh tersebut. Namun gagasan ini sering menjadi rujukan bagi siapa saja yang berniat untuk mempertahankan kekauasaannya demi mereduksi dan mendekonstruksi tatanan alam semesta.   

Kita dapat memahami bahwa lisan memiliki pengaruh yang luar biasa dalam mengontruksi kebaikan atau bahkan keburukan. Lisan adalah potensi kodrati manusia yang diberikan Tuhan di mana manusia diberikan kebebasan untuk mengembangkannya. Sangat tergantung bagaimana kita punya itikad untuk memanfaatkan potensi itu.

Tak ada salahnya kami utarakan pula bagaimana Subcomadante Marcos memberikan nutrisi bagi pengikutnya melalui kata-kata. Menurutnya, kata-kata dapat melampaui batas demarkasi sosial. Pengaruh kata-kata terbilang lebih efektif mempengaruhi kawan maupun lawan ketimbang tajamnya peluru dan bombandirnya dinamik. Statmen-statmen Marcos mampu mengontruksi semangat perjuangan kelompok Zapatista sekaligus menciutkan nyali lawan.  

Kegigihan milisi Indonesia dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya melawan militer Britania Raya dan India Britania, juga merupakan simbol perlawanan yang diawali dari pidato menggelagar Bung Tomo. Tidak bisa dibanyangkan bagaimana milisi Indonesia mampu membuat tentara AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration)  itu kewalahan. Padahal dari segi kecanggihan dan kelengkapan senjata maupun amunisi jelas jauh lebih di atas ketimbang milisi Indonesia.

Jika luka fisik dapat dilihat secara kasat mata sehingga akan mudah untuk diobati. Lain hanya dengan luka hati. Dahsyatnya lisan sebagai senjata karena dapat menembus sampai ke relung hati manusia tanpa memberikan bekas sayatan pada kulit dan daging. Efek psikogisnya dapat membekas secara berkepanjangan membebani para korban sampai tidur saja susah dibuatnya. Efek paling tragis jika sampai para korban mengakhiri hidupnya untuk lepas dari beban batin itu.  

Bukan lagi perkara yang awam di telinga kita tentang pepatah,  “Kalau pedang melukai tubuh ada harapan akan sembuh, tapi kalau lidah melukai hati kemana obat hendak dicari?” Olehnya itu salah satu nasehat dari Imam Al-Gazali ketika berkumpul dengan murid-muridnya, bagaimana pentingnya menjaga lisan. Lidah adalah organ yang lembek tetapi mampu berubah menjadi senjata tajam yang dapat merusak dan melukai perasaan siapa pun bahkan sahabat sekalipun.

Dalam khutbah haji “perpisahan” Rasulullah saw. di Masjid Al-Khaif, Mina, Rasulullah menyampaikan tiga wasiat kepada para sahabatnya. Tahun dan haji kali ini tidak akan saya temui lagi untuk tahun-tahun berikutnya, di hari yang suci ini, bulan yang suci ini, dan tempat yang suci ini dengarkanlah wasiatku, serontak tangis haru jamaah haji mengetahui bahwa Rasulullah akan pergi selamanya. Dalam kesempatan itu beliau berwasiat yang salah satunya adalah bagaimana seorang muslim tetap menjaga persaudaraan sesama. Manusia yang bermanfaat adalah manusia yang mampu menyelamatkan sesamanya dari gangguan lisan dan tangannya. Bahkan jauh sebelumnya Rasulullah saw. telah mempraktekkannya di tengah-tengah pergaulan sosial kenegaraannya.

Rasulullah saw. pernah dalam suatu majelis kedatangan tamu, seorang wanita Quraisy. Wanita tersebut membawakan beberapa buah jeruk sebagai hadiah buat Rasulullah. Tentu Rasulullah menerimanya dengan gembira disertai dengan senyum penuh keikhlasan. Seluruh jeruk itu dimakan oleh Rasulullah tanpa sebiji pun disisakan untuk para sahabat. Setelah wanita itu pulang, para sahabat menanyakan mengapa tak sebiji pun disisakan buat mereka. Lalu Rasulullah saw. menjawab sesungguhnya buah jeruk itu rasanya sungguh sangat masam. Saya khawatir ada di antara kalian yang mengerutkan dahinya ataupun sampai memarahi wanita itu jika kalian turut memakan hadiahnya. Saya takut hatinya tersinggung dan saya juga khawatir jika setelah peristiwa ini kalian akan menjadi pembenci.   

Begitu hati-hatinya Rasulullah saw. dalam mengatur hati dan perasaan baik kepada sahabat maupun di luar sahabatnya. Padahal Rasulullah saw. tahu persis bahwa wanita Quraisy tersebut adalah suruhan para pembencinya dari para lelaki Quraisy. Niat jahat dari para pesuruh itu tak lain adalah untuk mencari sisi keburukan dari Sang Manusia mulia sebagai bahan rujukan olok-olokan. Lagi-lagi usaha untuk mendiskreditkan Rasulullah saw. kembali gagal. Setiap Rasulullah mendapatkan perlakuan yang buruk, selalunya dibalas dengan sikap yang ramah dan menggugah. Pantaslah titel rahmatallil ‘alamin dan penyempurna akhlak selalu melekat dalam eksistensinya.

Memang lahir dan wafatnya Rasulullah saw. bertepatan dengan tanggal 12 bulan Rabiul Awal. Jika lahirnya Rasulullah saw. bertepatan dengan Tahun Gajah, di mana masa itu Raja Abraha dan bala tentara bergajahnya takluk oleh pasukan burung Ababil. Sementara wafatnya Rasulullah saw. bertepatan dengan tahun ke 11 hijriah. Entah ini adalah sebuah kebetulan atau memang  tersimpan makna di baliknya. Yang jelas dalam setiap sirah perjalanan Rasulullah saw. tak lepas dari mukjizat dan bimbingan Jibril sang Ruhul Amin.

Ternyata, angka dua belas dalam Numerologi memiliki makna tersendiri sebagai tatanan kosmik. Coba kita perhatikan, dalam kurung waktu setahun ternyata terdiri dari dua belas bulan. Begitu pun dalam pergantian siang dan malam juga pisahkan dengan batas waktu dua belas jam. Jika boleh kita menarik hikmah atas angka dua belas sebagai tatanan kosmik, maka pada kelahiran dan kepergian Rasulullah saw. adalah bukti bagaimana perannya sebagai Rahmatallil ‘alamin. Kehadirannya di alam ini sebagai penyempurna akhlak manusia termasuk di dalamnya bagaimana bertutur dengan baik dan bermoral.

Potensi lisan manusia sepatutnyalah menjadi berkah dan rahmat bagi semesta alam bukan sebaliknya. Seumpama komunikator harus menjadikan khalayaknya sebagai mitra yang setara dan bukan untuk diperlakukan sebagai obyek manipulasi dan eksploitasi. Apa yang disampaikan Lois XIV, Lord Shang Yang, dan Macciavelli sekadar pengingat bagi kita bahwa potensi lisan dapat memengaruhi terbangunnya kerusakan. Jadilah penebar kebaikan sebagaimana wasiat Rasulullah di Mina saat Islam telah disempurnakan.

Wallahu a’lambissawab.     

Membeli Kerelaan

Sukini Dawud, baru saja meluapkan kebahagiaan berhasil membimbing Bilqis melewati masa krusial di hari pertama puasanya. Ini latihan puasa pertama Bilqis, anak perempuan Sukini, yang baru berusia 5 tahun. Sebelumnya sang ibu sempat khawatir, apakah anaknya mampu melewati tantangan demi tantangan setiap menitnya. Apalagi si Bilqis sehari-hari doyan ngemil, dan tempat paling favorit dalam rumah adalah meja makan dan kulkas.

Sungguh sulit, setiap jam Bilqis selalu ingin membatalkan puasanya. Trik demi trik dilakukan Sukini untuk mengulur waktu, mulai dari mengajaknya menonton film kartun kesayangan, larut menjadi teman bermain, sampai menceritakan kisah motivasi tentang keadaan surga penuh mainan. Jika mampu menyelesaikan puasanya hari itu, Bilqis berhak mendapatkan hadiah mainan. Alhasil, Bilqis berhasil menunaikan puasa pertamanya, dan kini telah siap bejuang menahan lapar di hari-hari berikutnya.

Kisah Ibu Sukini dan Bilqis satu cerita dari banyak kisah perjuangan bagi setiap keluarga mengenalkan ibadah puasa, rukun Islam ketiga, kepada anak-anaknya, yakni ibadah terpanjang di antara lima rukun Islam lainnya. Metodologi mengenalkan puasa bisa berpengaruh sama, atau berbeda, dan bahkan mungkin lebih sengit lagi dari ibu Sukini.

Saya juga ingin bercerita tentang putra kedua kami yang sementara duduk di kelas dua madrasah ibtidaiyah. Ia seakan-akan tak mau kalah dari kakaknya yang sudah duduk di kelas lima madrasah ibtidaiyah dalam menyambut ramadan tahun ini. Entah masih menyimpan memori Ramadan tahun lalu di mana kakaknya mendapatkan hadiah setelah mampu menuntaskan puasanya sebulan penuh. Atau karena ada motivasi lain dalam pikirannya. Saya tidak menanyakannya, apalagi ini masih di hari-hari pertama Ramadan.

Di malam pertama ramadan, tarawihnya berjalan lancar, puasanya pun sama lancarnya. Saya masih menunggu apa yang akan terjadi di hari selanjutnya. Sampailah di hari ke lima. Bak seorang pelaksana kegiatan yang mengajukan proposal untuk mendapatkan dukungan finansial, kini dia merengek minta dibelikan petasan dan akan saya tepati sepulang tarawih keesokan harinya. Sikap kompromi makin dia tunjukkan di malam itu, sampai dia tertidur lelap di masjid saat mubalig menyampaikan khotbahnya.

Ketika salat tarawih baru saja dimulai, ditandai peringatan dari imam, saya geser posisi tidurnya khawatir akan mengganggu saf dan kekhusyukan jemaah lain. Eh, bukannya melanjutkan tidurnya, ia malah langsung berdiri mengikuti rakaat demi rakaat tarawih. Berdiri sempoyongan bercampur rasa ngantuk, tapi akhirnya bisa sampai menuntaskan witir.   

Anak sejatinya perlu dilatih untuk mendekatkan dirinya pada dimensi tauhid, dimensi spiritual. Dan, bulan ramadan menjadi momen paling tepat menajamkan dimensi spiritual anak melalui banyak latihan ibadah. Hal ini bukan penderitaan meski harus menahan lapar dan dahaga, menunda tidur demi sholat lail, meluangkan waktu mengulang atau memperbaiki bacaan Al-Qur’annya, ditambah lagi harus bangun lebih awal untuk melaksanakan sahur.

Tak ada derita jika tulus menjalaninya. Ini bagian proses pembelajaran bagi anak untuk sampai pada titik puncak ruhaniahnya. Secara tidak langsung untuk  menjaganya agar tidak lupa perjanjian primordial dengan Tuhannya.

Ini adalah proses latihan, pendidikan, pembiasaan atau tarbiyah agar dapat bertahan sekaligus bentuk transformasi kedewasaan. Transformasi ini ibarat elang yang berproses mempertahankan kehidupan jasmaniahnya lebih lama sampai 70 tahun. Paruh yang menua, cakar memanjang dan lembek, bulu yang makin berat menebal diusia 40 tahun. Alat-alat vital kehidupannya di-repair agar bisa berfungsi kembali. Tetapi risikonya ia harus menanggung sakit, derita, dan juga lapar. Ini adalah bentuk kerelaan elang keluar dari zona nyamannya demi tujuan yang lebih tinggi, yakni bertahan hidup lebih panjang.

Paruh tua  itu dilepasnya secara paksa dengan cara mematuk-matuk batu karang. Menunggu kesempurnannya kemudian menggunakannya untuk mencabuti kuku dan bulu lebatnya. Kurang lebih seratus lima puluh hari elang mengunakan waktu untuk bertransformasi sampai semuanya berfungsi normal. Elang sudah siap menjalani kehidupan selanjutnya untuk 30 tahun kedepan.

Dari mana elang memperoleh informasi tentang kerelaan itu? Tentu dari habitatnya sendiri. Bisa jadi diajarkan induknya sebagaimana pertama kali ia diajarkan mengepakkan sayap untuk terbang.  Atau secara otodidak dipelajarinya dalam pergaulan sosialnya. Pelajaran hidup yang sangat berharga dari burung elang tentang kerelaan dan transformasi. Betapa banyak di antara kita sangsi melihat anak dirundung sakit dan derita, padahal semua itu dilakukan  dengan satu alasan yakni cinta.

Pengejawantahan rasa cinta terhadap anak cukup beragam bentuknya. Menurut Laurence Steinberg, dosen psikologi di Temple University,  menyatakan kadang di antara kita sebagai orangtua mengungkapkan rasa cinta dengan menggantinya melalui pemberian kemewahan, kepemilikan materi, membebaskannya dari beban pekerjaan, memberikan mainan kesukaan, memberikan hadiah, dan sebagainya.

Adapula sebagian orangtua memendam rasa cintanya dengan cara menjaga jarak agar nampak tidak manja. Ini juga bagian kecintaan kepada anak. Terlalu dalam menghujamkan rasa cinta kepada anak justru akan membuatnya berkarakter lemah.  Sebaliknya, anak diperlakukan dengan keras, akan membuatnya berkarakter kuat. Cara ini termasuk “aliran kuno” menurut Steinberg.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah benar seorang anak mesti diberikan hadiah agar mendorongnya melakukan kebaikan? Apakah pemberian hadiah juga merupakan bentuk rasa cinta itu?

Pemberian cinta dan kasih sayang kepada anak tidak mesti dengan cara memenuhi semua keinginan anak. Hati-hati, sangat tipis bedanya antara memberikan hadiah sebagai pemantik motivasi dengan membeli kerelaannya (sogok) untuk melakukan sesuatu. Harus ada batas antara apakah kita menunjukkan cinta dan kasih sayang , dengan bagaimana kita melakukan cinta dan kasih sayang itu. Kita semua mengyakini semua orangtua menginginkan anaknya berhasil, namun hal itu jangan menjadi alasan pembenar untuk menempuh segala cara.

Kerelaan merupakan sikap tanpa syarat. Ia lahir begitu saja dari dalam hati atas dasar keikhlasan. Tidak ada tendensi apapun dalam setiap tindakan sehingga semuanya terasa ringan. Adalah suatu hal yang wajar jika kita menjanjikan ataupun memberikan hadiah kepada anak-anak kita ketika mampu mencapai puncak perjuangannya. Diksi ini tentu berlaku terbatas bagi anak yang baru belajar termasuk yang baru menjajaki shaum ramadan.

Reward akan berbeda konteksnya jika ditujukan kepada remaja atau orang dewasa. Pada konteks remaja dan orang dewasa, harus ada pendekatan berbeda dan trik gombal demi melahirkan kerelaan. Jika tidak, maka sampai tua dalam aktivitas apa saja akan selalu melakukan sesuatu dengan menunggu hadiah di balik tindakannya.

Pemberian reward butuh sikap hati-hati agar tidak terkesan seperti sedang membeli kerelaan (sogokan). Semoga saja anak-anak kita menjalankan ibadah ramadan dengan dasar keikhlasan semata, dan bukan karena kita telah membeli kerelaannya.  

Wallahu’alam bissawab.


Sumber gambar: www.liputan6.com

Belajar dari Medusa dan Maria Ulfa

Awalnya Medusa merupakan sosok perempuan cantik nan perawan sebagai pendeta di kuil milik Dewi Athena. Namun dia dikutuk oleh Dewi Athena karena dianggap melanggar persyaratan sebagai pendeta setelah Poseidon yang merupakan rival Dewi Athena menodainya.

Setelah kutukan itu, Medusa menjelma menjadi sosok perempuan yang sangat menakutkan dalam mitologi Yunani. Diusir dari kuil dan tinggal di sebuah pulau berbatu, Sarpedon. Sosoknya berubah menjadi perempuan berambut ular, mata yang menyeramkan, kakinya menyerupai kaki ayam, kulit pecah-pecah, dan bersayap logam raksasa. Sangat ditakuti dan dianggap pembawa malapetaka. Siapa saja yang bertatapan langsung dengan mata Medusa maka akan berubah wujud menjadi batu.

Tidak ada lagi laki-laki ataupun dewa yang tertarik padanya selain Poseidon, tetapi Poseidon justru menghilang setelah merenggut segalanya. Kini, dewa-dewa telah membangun kekuatan dan bersekutu untuk menaklukkan dan menghancurkannya. Riwayat kehidupan Medusa berakhir setelah Perseus berhasil memenggal kepala Medusa atas bantuan Athena, Hermes, dan Hades.

Kisah Medusa tersebut bisa jadi hanya sebagai miniatur dari kehidupan yang sebenarnya di mana perempuan selalu menjadi objek di antara hubungan oposisi biner antara laki-laki dan perempuan. Segala sifat lahiriah dari perempuan seperti feminin, kelembutan, perasa menjadi titik lemah yang seringkali dimanfaatkan.

Selain korban self esteem dalam kodratnya sebagai sosok perempuan, Medusa juga menjadi kehilangan reputasi, integritas dan tanggung jawab sebagai pendeta atas stigma negatif yang dibangun oleh para dewa. Tanpa ada pembelaan, steorotip itu terus melabeli sosoknya yang sudah lemah, tidak ada lagi upaya untuk meremaind atas segala jasanya sebagai pelayan dewi kesejahretaan dan kebijaksanaan.

Cerita-cerita horor tentang sosok Medusa tak ubahnya dengan cerita horor yang ada di negeri kita. Dari cerita rakyat tempo dulu, cerpen-cerpen, novel-novel, komik, sampai yang diangkat dalam film-film modern, tokoh utamanya didominasi oleh perempuan.  Misalnya saja Suster Ngesot, Nini Thowok, Nyi Blorong, Si Manis Jembatan Ancol, dan sederetan cerita horor tentang perempuan yang menyeramkan. Bahkan sampai saat ini, bukan hanya anak-anak bahkan orang dewasa pun telah terkonstruksi dalam memorinya perasaan yang selalu diselimuti oleh ketakutan-ketakutan dalam kegelapan malam.

Tentu pertanyaannya adalah mengapa perempuan selalu diidentikkan dengan sosok yang menyeramkan? Saya teringat sebuah tulisan Kang Jalal dalam sebuah buku Islam Aktual; Refleksi Seorang Cendekiawan Muslim. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah narasi tentang wanita pun mejadi korban. Dari tulisan tersebut saya menyimpulkan bahwa maksud dari Kang Jalal adalah dalam dunia domestik rumah tangga, dunia industri, hubungan sosial, termasuk dalam urusan pemerintahan, bahkan jauh sebelum peradaban modern saat ini perempuan selalu saja menjadi korban.

Kita patut mencurigai bahwa sosok perempuan horor yang diangkat dalam tayangan film, bisa jadi merupakan bentuk eksploitasi terhadap perempuan itu sendiri. Metodologi untuk menaikkan rating dengan memanfaatkan sosok perempuan. Lagi-lagi perempuan dimanfaatkan untuk kepentingan industri.

Terlepas dari kecurigaan itu, cerita-cerita horor tentang perempuan yang menyeramkan adalah bentuk counter atas dominasi laki-laki sekaligus penegasan akan eksistensinya sebagai perempuan. Ini adalah bentuk lain dari perlawanan dan pembelaan perempuan atas hak-haknya dengan harapan di kemudian hari perempuan direken. Ketidakmampuan perempuan melakukan perlawanan fisik terhadap laki-laki-karena memang fisik laki-laki lebih garang, maka harus ada metodologi lain yang lebih mumpuni yakni membangun mistik perempuan.

Puncak dari emansipasi perempuan tentu bukan dengan membangun mistisisme. Masyarakat industri dan modern saat ini adalah mayarakat yang bebas dan penuh dengan kompetisi. Artinya siapa saja yang mempunyai kualitas pribadi dan kualitas sosial yang tinggi akan keluar menjadi pemenang, ada kesetaraan gender.

Tetapi perlu diingat bahwa perempuan sangat rawan untuk dieksploitasi. Perempuan selalu saja menjadi sasaran empuk kepentingan industri. Ia adalah sumber tenaga kerja yang murah, penarik dan seakan sosok perempuan menjadi roh dari sebuah produk. Produk apa saja tak akan dilirik oleh konsumen jika tidak dipublikasikan oleh perempuan. Bahkan pedagang kaki lima pun jika penjualnya adalah sosok perempuan cantik, maka warung dan jajanannya akan cepat viral.

Kekuatan utama dalam emansipasi tiada lain terletak pada ilmu pengetahuan. Dalam kitab suci Alquran surah Ar-Rahman ayat 33 menegaskan hal ini. Terjemahannya kurang lebih seperti berikut, “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”. Untuk menembus penjuru langit dan bumi termasuk di dalamnya emansipasi harus didukung oleh kekuatan ilmu pengetahuan.

Pada konteks itu, mari kita bercermin dari sosok Maria Ulfa. Kita sudah sering mendengar dan membaca bahwa dalam proses perumusan pondasi Negara Indonesia, di antara enam puluh dua anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)/ Dekoritsu Zunbi Coosakai, ada dua sosok perempuan yang ikut andil secara langsung, dia adalah Maria Ulfa dan Siti Sukaptinah.

Peran dan kapasitasnya dalam kongres BPUPKI tersebut tidak dapat dinafikan. Mereka ikut terlibat dalam perumusan dasar negara dan konstitusi. Kontribusi pemikirannya bahkan diakomodasi dalam pasal 27 ayat 1 UUD NRI 1945 tentang kesamaan kedudukan di depan hukum. Jika kita telisik lebih dalam lagi di antara 189 generasi pertama alumni sekolah Rechsschool, nama Maria Ulfa adalah salah satu di antaranya, perempuan pertama yang bergelar sarjana hukum. Sederet peran Maria Ulfa dalam lingkaran pemerintahan sampai menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1988 tidak dapat dipandang sebelah mata. Pantaslah beliau diberikan satu tempat sebagai peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.  

Jika dipersandingkan antara kisah Medusa dan Maria Ulfa memang terkesan tidak fair apalagi estimasi waktu di antara keduanya terlampau sangat jauh. Medusa hidup di zaman Yunani kuno di mana mitos-mitos masih menguasai relung hidup manusia, sementara Maria Ulfa hidup di abad ke-20 zaman millenium pertama (18 Agustus 1911 – 15 April 1988). Tetapi poinnya tidak terletak pada hitung-hitungan angka tahun. Poinnya adalah ilmu pengetahuan menjadi syarat mutlak bagi perempuan di mana pun posisinya.

Tentu saja Maria Ulfa menjadi sosok yang diperhitungkan bukan karena membangun mitos-mitos sebagaimana mitos yang menyelimuti Medusa atau bahkan cerita perempuan horor dalam film-film yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Perempuan di masa sekarang, era yang begitu kompleks, kini harus menjatuhkan pilihannya apakah mewujud seperti Medusa di masa lampau, atau menjadi perempuan horor untuk mempertahankan eksistensinya ataukah menjadi sosok Maria Ulfa. Silahkan memilih. terserah Anda!

Wallahu‘alam bissawab.  


Sumber gambar: Www.goodnewsfromindonesia.id/2020/06/08/belajar-dari-maria-ulfah-menteri-perempuan-pertama-di-indonesia