Semua tulisan dari Alfit Lyceum

Direktur Lyceum Philosophia Institute.

Mengampunkan Diri Dengan Idul Fitri

13 mei 2021, umat Islam merayakan idul fitri. Bertepatan dengan itu, umat Kristen memperingati kenaikan Isa Al-masih. Betapa indahnya, dua hari besar Agama, merealita sama-sama. Mungkinkah ini sinyal alam? Petanda harmoni semesta? Bahwa yang berbeda, bisa dan mesti berdampingan dalam damai.

Mungkin memang begitu. Walaupun tampaknya, hanya mungkin semata, dan terkesan cocologi. Sebab, hari, tanggal, bulan dan tahun, adalah perkara iktibari (konsensus). Yang iktibari, tidak bisa dijadikan petanda dari realitas hakiki (non konsensus). Terlepas dari itu, semua kita, Muslim-Kristen, bergembira di 13 mei. Kecuali, mereka yang berteologi benci.

Tentang Ramadan, Indonesia memiliki tampilan yang berbeda. Betapa tidak, selain warna-warni makanan, juga terdapat tradisi mudik. Yaitu, pulang ke kampung menjelang idul fitri. Sebenarnya, idul fitri semakna dengan mudik. Namun, bukan mudik yang dipraktikkan dalam tradisi nusantara. Melainkan, mudik dalam makna yang lebih tinggi.

Iya, setidaknya, mudik memiliki dua makna: Pertama, mudik imanen. Yaitu, gerak pergi dari kota, menuju kampung. Di sini, kota-kampung bermakna tempat. Kedua, mudik transenden. Yaitu, gerak menjadi, dari kota menjadi kampung. Kota-kampung yang dimaksud adalah sifat. Biasa kita istilahkan dengan “ngota” dan “ngampung atau ndeso”.

Kita bahas yang pertama. Mudik imanen adalah mudik yang dipraktikkan dalam tradisi tahunan Nusantara kita. Menjelang idul fitri, yang di kota, berbondong-bondong pulang kampung. Sudah dua kali lebaran, korona datang bertamu dan tak kunjung pulang. Sudah dua kali lebaran pula, pemerintah melarang mudik jenis ini. Dan, berontaklah sebagian pemudik. Mereka menerobos barikade aparat. Tak peduli pemerintah menentang, tak peduli korona menumpang. Intinya, wajib mudik [entah siapa yang mewajibkannya].

Sebagian, mencoba merasionalisasi aksi pembangkangan pemudik. Menurutnya, itu adalah pemberontakan. Dalam anggapan mereka, kota adalah kekeruhan, kekacauan, keterpenjaraan dan semacamnya. Sedang kampung adalah kejernihan, kenyamanan, kebebasan dan sejenisnya. Disimpulkanlah, mudik adalah gerak menuju kebebasan, adalah gerak perfeksi. Dan itu, tak bisa dibendung. Membendungnya, melahirkan pemberontakan.

Tentu, itu adalah rasionalisasi yang tak rasional. Menjadikannya sebagai tendensi mudik, akan berbuah kecewa. Betapa tidak, sebagai tempat, kampung dan kota tak lagi berbeda nilai. Kampung telah mengota. Ragam tindak eksploitasi yang semula mempolusi kota, kini, juga mempolusi kampung. Tikus-tikus kantor misalnya, telah mengendus-ngendus brankas desa. Sehingga, mencari ketenangan, kejernihan, kebebasan dst di kampung, tak lagi semudah berselancar di dunia maya. Yah tentu, saya tidak sedang over generalisasi.

Maka, mari kita tinggalkan rasionalisasi-rasionalisasi yang tak rasional, dan berpotensi berakhir bencana. Akan lebih baik, jika larangan mudik disikapi secara konstruktif. Misalnya, menjadikan larangan mudik sebagai momentum menempa jiwa. Kita belajar menjalin relasi antar jiwa. Hingga, jiwa tetap terkoneksi dengan jejiwa mereka yang terkasih, walau raga terpisah ruang dan waktu. Apalah artinya kedekatan raga, bila jiwa saling menjauh.

Bukankah dunia adalah alam ghoib, alam keterpisahan, alam ketercerai-beraian? Bahkan dua jari kita pun, saling terpisah. Maka bersiaplah untuk berpisah. Sebelum akhirnya, kondisi atau maut, benar-benar memisahkan. Kala perpisahan tiba, dan jiwa belum terkoneksi, maka hilanglah seluruh relasi. Yang tersisa, hanyalah cerita yang akhirnya usang, meski belum selesai.

Atau bisa juga, pelarangan mudik disikapi sebagai peluang untuk mudik transenden. Seperti yang akan kita bahas berikut

Dalam mudik transenden, kota-kampung dimaknai secara simbolis. Kota adalah simbol keangkuhan, kebisingan, kompetisi, perlawanan dan perebutan, serta hal-hal semacamnya. Sebaliknya, kampung adalah simbol kesahajaan, keteduhan, kerja-sama, perkawanan, pengorbanan dan hal-hal sejenis lainnya. Dengan ini, kota-kampung adalah nilai, adalah sifat.

Artinya apa? Artinya, seseorang bisa tetap mudik [transenden], tanpa harus mudik [imanen]. Apalah artinya beranjak ke kampung, jika diri masih ngota. Terlebih lagi, jika sampai mengotakan penduduk kampung, dengan paham kotaisme. Biarlah raga berpijak di kota, namun jiwa dan laku telah ngampung. Di kota, kita mengampungkan diri dengan mewujudkan nilai-nilai kampung dalam diri.

Mudik transenden atau mengampungkan diri adalah proses menjadi, bukan gerak pergi. Dalam bahasa Persia, raftani nist, syudani ast (bukan pergi, tapi menjadi). Yakni, diri bisa menjadi kampung, tanpa harus pergi ke kampung. Idealnya, idul fitri adalah ajang mudik transenden. Beridul fitri, berarti berupaya mengampungkan diri, di manapun kaki berpijak.

Idul fitri sebagai proses mengammpungkan diri, sejalan dengan pemaknaan Pof. Ebrahim Dinani. Dalam hemat guru besar Filsafat berdarah Persia itu, idul fitri adalah kembali ke diri insani. Puasa diartikannya sebagai latihan menghilangkan dominasi sifat-sifat hewani dalam diri. Hingga akhirnya, diri kembali suci, kembali murni berhias sifat-sifat insani. Inilah hakikat idul fitri. Ia mengembalikan manusia pada fitrah kemanusiaannya, sebagai manusia yang ngampung.

Selamat idul fitri. Mohon maaf lahir batin.

Tentang Ramadan, Indonesia memiliki tampilan yang berbeda. Betapa tidak, selain warna-warni makanan, juga terdapat tradisi mudik. Yaitu, pulang ke kampung menjelang idul fitri. Sebenarnya, idul fitri semakna dengan mudik. Namun, bukan mudik yang dipraktikkan dalam tradisi nusantara. Melainkan, mudik dalam makna yang lebih tinggi.

Iya, setidaknya, mudik memiliki dua makna: Pertama, mudik imanen. Yaitu, gerak pergi dari kota, menuju kampung. Di sini, kota-kampung bermakna tempat. Kedua, mudik transenden. Yaitu, gerak menjadi, dari kota menjadi kampung. Kota-kampung yang dimaksud adalah sifat. Biasa kita istilahkan dengan “ngota” dan “ngampung atau ndeso”.

Kita bahas yang pertama. Mudik imanen adalah mudik yang dipraktikkan dalam tradisi tahunan Nusantara kita. Menjelang idul fitri, yang di kota, berbondong-bondong pulang kampung. Sudah dua kali lebaran, korona datang bertamu dan tak kunjung pulang. Sudah dua kali lebaran pula, pemerintah melarang mudik jenis ini. Dan, berontaklah sebagian pemudik. Mereka menerobos barikade aparat. Tak peduli pemerintah menentang, tak peduli korona menumpang. Intinya, wajib mudik [entah siapa yang mewajibkannya].

Sebagian, mencoba merasionalisasi aksi pembangkangan pemudik. Menurutnya, itu adalah pemberontakan. Dalam anggapan mereka, kota adalah kekeruhan, kekacauan, keterpenjaraan dan semacamnya. Sedang kampung adalah kejernihan, kenyamanan, kebebasan dan sejenisnya. Disimpulkanlah, mudik adalah gerak menuju kebebasan, adalah gerak perfeksi. Dan itu, tak bisa dibendung. Membendungnya, melahirkan pemberontakan.

Tentu, itu adalah rasionalisasi yang tak rasional. Menjadikannya sebagai tendensi mudik, akan berbuah kecewa. Betapa tidak, sebagai tempat, kampung dan kota tak lagi berbeda nilai. Kampung telah mengota. Ragam tindak eksploitasi yang semula mempolusi kota, kini, juga mempolusi kampung. Tikus-tikus kantor misalnya, telah mengendus-ngendus brankas desa. Sehingga, mencari ketenangan, kejernihan, kebebasan dst di kampung, tak lagi semudah berselancar di dunia maya. Yah tentu, saya tidak sedang over generalisasi.

Maka, mari kita tinggalkan rasionalisasi-rasionalisasi yang tak rasional, dan berpotensi berakhir bencana. Akan lebih baik, jika larangan mudik disikapi secara konstruktif. Misalnya, menjadikan larangan mudik sebagai momentum menempa jiwa. Kita belajar menjalin relasi antar jiwa. Hingga, jiwa tetap terkoneksi dengan jejiwa mereka yang terkasih, walau raga terpisah ruang dan waktu. Apalah artinya kedekatan raga, bila jiwa saling menjauh.

Bukankah dunia adalah alam ghoib, alam keterpisahan, alam ketercerai-beraian? Bahkan dua jari kita pun, saling terpisah. Maka bersiaplah untuk berpisah. Sebelum akhirnya, kondisi atau maut, benar-benar memisahkan. Kala perpisahan tiba, dan jiwa belum terkoneksi, maka hilanglah seluruh relasi. Yang tersisa, hanyalah cerita yang akhirnya usang, meski belum selesai.

Atau bisa juga, pelarangan mudik disikapi sebagai peluang untuk mudik transenden. Seperti yang akan kita bahas berikut

Dalam mudik transenden, kota-kampung dimaknai secara simbolis. Kota adalah simbol keangkuhan, kebisingan, kompetisi, perlawanan dan perebutan, serta hal-hal semacamnya. Sebaliknya, kampung adalah simbol kesahajaan, keteduhan, kerja-sama, perkawanan, pengorbanan dan hal-hal sejenis lainnya. Dengan ini, kota-kampung adalah nilai, adalah sifat.

Artinya apa? Artinya, seseorang bisa tetap mudik [transenden], tanpa harus mudik [imanen]. Apalah artinya beranjak ke kampung, jika diri masih ngota. Terlebih lagi, jika sampai mengotakan penduduk kampung, dengan paham kotaisme. Biarlah raga berpijak di kota, namun jiwa dan laku telah ngampung. Di kota, kita mengampungkan diri dengan mewujudkan nilai-nilai kampung dalam diri.

Mudik transenden atau mengampungkan diri adalah proses menjadi, bukan gerak pergi. Dalam bahasa Persia, raftani nist, syudani ast (bukan pergi, tapi menjadi). Yakni, diri bisa menjadi kampung, tanpa harus pergi ke kampung. Idealnya, idul fitri adalah ajang mudik transenden. Beridul fitri, berarti berupaya mengampungkan diri, di manapun kaki berpijak.

Idul fitri sebagai proses mengammpungkan diri, sejalan dengan pemaknaan Pof. Ebrahim Dinani. Dalam hemat guru besar Filsafat berdarah Persia itu, idul fitri adalah kembali ke diri insani. Puasa diartikannya sebagai latihan menghilangkan dominasi sifat-sifat hewani dalam diri. Hingga akhirnya, diri kembali suci, kembali murni berhias sifat-sifat insani. Inilah hakikat idul fitri. Ia mengembalikan manusia pada fitrah kemanusiaannya, sebagai manusia yang ngampung.

Selamat idul fitri. Mohon maaf lahir batin.


Sumber gambar: www.suara.com/news/2021/05/09/152642/ucapan-idul-fitri-2021-untuk-guru-mohon-maaf-lahir-dan-batin

Pro-Kontra Masuk Gereja dan Sikap Bijak Kita

Penduduk dunia maya kembali dibikin heboh. Gegaranya, Gus Miftah berpidato di dalam gereja. Salib putih yang terpampang jelas di belakangnya, tampaknya, membuat panas sebagian kalangan. Maka hebohlah dunia maya.

Walaupun heboh-hebohnya di dunia maya, namun efeknya menyembur ke dunia nyata. Apa yang ditampilkan di dunia maya, akan membentuk paradigma dan mengarahkan tingkah laku manusia di dunia nyata. Tidak niscaya memang, tapi seringkali. Maka dunia maya, tak bisa sepenuhnya dianggap maya, lantas meremehkannya. Dunia maya adalah dunia nyata yang lain, dengan efek yang juga nyata.

Pun dengan pro-kontra masuk gereja yang menghebohkan jagad maya. Efeknya di dunia nyata, bukan hanya melanggengkan kebencian pada gereja, tapi juga meluaskan   wilayah kaderisasinya. Hingga, makin banyak saja para pembenci agama lain beserta segala simbol yang berkaitan dengannya. Ini, jika yang mendominasi jagad maya adalah pandangan yang kontra. Efeknya akan lain, jika yang memenangkan dominasi adalah pandangan yang pro.

By the way, bagaimana sih sebenarnya hukum masuk gereja? Untuk jawabannya, mari kita simak mukaddimah berikut.

Dalam setiap disiplin ilmu, terdapat dua jenis masalah. Yaitu, masalah badihi, dan masalah spekulatif. Masalah badihi adalah masalah yang kebenarannya niscaya diafirmasi oleh semua pihak. Karenanya, masalah badihi tidak akan melahirkan silang pendapat. Beda halnya dengan masalah spekulatif, yang karena kerumitannya, akan melahirkan perbedaan pandangan.

Sebagai misal, dalam filsafat, sebagian prinsipnya bersifat badihi. Katakanlah prinsip kausalitas, bahwa setiap akibat butuh pada sebab. Setiap yang berakal sehat, pastilah sepakat dengan prinsip ini. Sebab memang, ia termasuk masalah badihi dalam filsafat.

Lain halnya dengan masalah-masalah spekukatif, semisal prinsip keashilan wujud; bahwa yang memenuhi realitas, adalah wujud semata, bukan mahiah. Atau masalah gerak substansi; bahwa selain tampilan luarnya (aksiden), inti (substansi) sesuatu juga ikut bergerak. Semua ini adalah masalah spekulatif. Maka jangan heran, jika para filosof saling debat dan saling lempar argumentasi.

Contoh lain, dalam ilmu fiqh. Berkenaan dengan hukum wajibnya sholat yang lima, semua mazhab satu paham. Ini adalah masalah badihi dalam agama (min dhoruriyyatid dini). Namun tidak demikian dengan masalah tata cara sholat. Misalnya, apakah harus sedekap, atau tidak. Yang sedekap, apakah di atas perut, di atas dada, di samping, atau mungkin juga ada yang meyakini di atas jidat. Semua itu tidaklah masalah. Sebab masalahnya adalah masalah spekulatif. Setiap mazhab punya pandangan serta argumentasi (dalil) masing-masing.

Demikian mukaddimahnya. Lantas, bagaimana dengan hukum Muslim masuk gereja? Badihi, atau spekulatif? Laa roiba fihi, itu masuk kategori spekulatif. Artinya, jangan heran, jika para ulama berbeda pandangan. Beranda yutub saya hilir-mudik respon atas masalah ini. Ada yang pro, ada pula yang kontra. Baik yang pro, maupun yang kontra, keduanya diwakili oleh ulama yang bukan kaleng-kaleng. Artinya, pandangan mereka, pastilah bersandar pada dalil.

Hukum masuk gereja, biarlah para ulama yang mencari tahunya. Hasil pencarian mereka, kita dapati, ada yang membolehkan, ada yang mengharamkan. Kita yang awam-awam (mukallidun) ini, tak perlu merepotkan diri. Sebab memang, kita tidak punya kompetensi di ranah itu. Biarlah masalah ulama, dibahas di meja ulama. Masalah awam, disuguhkan di meja awam. Menyajikan masalah di meja yang salah, adalah petaka.

Sikap kita, cukup dengar pandangan ulama yang dikiblati, lalu patuhi. Jika ulama yang kita kiblati mengharamkan, maka jangan masuk gereja. Jika membolehkan, maka masuklah. Tidak perlu mengotori hati, dengan menuding pandangan kelompok lain tak sejalan dengan ajaran Tuhan. Apatah lagi, sampai tega mengkafirkan, memurtadkan hingga menghalalkan darah mereka. Seolah-olah, Tuhan telah mengkonfirmasi kebenaran pandangan kita, dan kesalahan pandangan mereka.

Padahal faktanya, untuk masalah yang spekulatif seperti ini, tidak ada satu pandangan pun yang telah dikonfirmasi/dinegasi Tuhan. Ulama-ulama kita, dengan dalilnya masing-masing, berupaya menerka-nerka “pikiran Tuhan”.

Dengan ini, setiap pandangan, memiliki potensi yang sama untuk benar atau salah. Kendatipun secara subjektif, setiap kita meyakini kebenaran pandangan ulama kita masing-masing. Namun objektifnya, Ada kemungkinan, pandangan ulama kita yang salah. Sebagaimana mungkinnya, pandangan ulama mereka yang benar.

Maka saling menghormatilah. Hargai kerja-kerja ulama kita dalam menyibak maksud Tuhan. Jangan katakan, mereka tak sejalan dengan quran dan hadis. Sebab sekali lagi, mereka juga berdalilkan quran dan hadis. Katakanlah, mereka tak sejalan dengan pandangan kita/ulama kita. Dan, menyelisih pandangan ulama kita-kita yang tidak maksum ini, bukanlah keharaman.

Jangan bertingkah seperti mereka yang memborong slogan “kembali pada quran dan hadis”. Sebab, itu akan membangun opini, bahwa yang berbeda dengan mereka, tidak kembali pada quran dan hadis. Persis seperti seruan “bela Islam”, yang seolah-olah menegaskan bahwa mereka yang tidak ikut aksi, berarti tidak ikut bela Islam. Padahal sekali lagi, ini adalah masalah perbedaan pandangan, sebagai implikasi niscaya dari masalah yang spekulatif.


Sumber gambar: https://simakterus.com/

Agama Teror(is)

Seperti biasa, umat kristiani beribadah penuh khidmat di minggu pagi. Khotbah kedamaian, keselamatan dan kasih sayang para pastor/pendeta menyirami jejiwa para jemaat. Oh betapa teduhnya, betapa damainya.

Tapi, keheningan minggu pagi itu tiba-tiba pecah. Sepasang manusia [untuk tidak menyebutnya serigala], meledakkan dirinya di depan gerbang Katedral. Keduanya berboncengan motor, mengenakan penutup kepala, tapi bukan helm. Yang lelaki bersurban, yang perempuan berjilbab plus cadar. Beruntung, ledakan itu hanya mematikan mereka berdua.

Usai itu, bermunculanlah dua opini. Yang satu meyakini keterkaitan teroris dengan agama. Yang lainnya meyakini ketidakterkaitan agama dengan teroris. Kedua opini tersebut, tentu saja benar, dan tidak kontradiksi. Bahkan dalam hemat saya; meyakini ketidakterkaitan teroris dengan agama, itu sama dungunya dengan meyakini keterkaitan agama dengan teroris.

Betapa tidak, teroris yang bebaru ini mati konyol di depan katedral Makassar, pastilah beragama Islam, bahkan militan dalam berislam. Mereka membuktikan militansinya dengan berani [baca; nekat] meledakkan dirinya dengan dalih sedang berjihad.

Jadi jelas, para teroris di Makassar itu berkaitan dengan agama Islam, bahkan merasa sedang menjalankan ajaran Islam. Memang tak bisa dibayangkan, tapi itulah yang terjadi. Mereka merasa sedang beribadah dengan membunuh orang-orang yang tak bersalah.

Tak bermaksud menggeneralisir teroris beragama Islam, tapi kebanyakan mereka memang beragama Islam dengan wajah bercadar, dan dagu berjanggut. Teroris yang hanya berbikini, hampir tak pernah ditemukan.

Mengatakan bahwa teroris tak berkaitan dengan agama, jika bukan karena kedunguan, pastilah bermotif pengaburan. Pengaburan akan fakta, bahwa kebanyakan teroris (merasa) sedang menjalankan perintah Tuhan. Itulah mengapa, para pembunuh yang bukan teroris, akan merasa bersalah atas tindak pembunuhannya. Sementara pembunuh yang teroris, merasa berpahala dengan membunuh.

Pengaburan fakta tersebut berimplikasi pada;

Satu, hilangnya kewaspadaan dalam memilih tempat kajian/pengajian agama. Seolah, semua kelompok agama (khususnya Islam) itu sama. Padahal nyatanya, teroris berawal dari salah pilih ustad dan salah nongkrong tempat pengajian, lalu berakhir pada mati konyol.

Dua, hilangnya evaluasi dan pembacaan ulang terhadap ajaran Islam yang diyakini. Padahal penting untuk meninjau kembali corak keberislaman yang dianut. Jangan sampai, keberislaman yang dianut bercorak radikal, yang ditularkan oleh “ustad-ustad” berpaham radikal. Diantara ciri keberislaman yang radikal adalah “panas” melihat agama lain, hingga berniat untuk membunuhnya.

Tiga, matinya nalar kritis terhadap sosok yang diustadkan. Menganggap sosok yang diustadkan sebagai manusia suci. Hal ini semakin menjadi-jadi, bila sosok yang diustadkan kebetulan bergelar habib. Akibatnya, terjadilah apa yang kita sebut dengan ulama-isasi kriminal, atau mengulamakan kriminal; menganggap kriminal sebagai ulama.

Agama, tidak berkaitan dengan teroris. Itu benar. Tapi juga benar, bahwa agama sering  ditafsirkan secara salah, sadar atau tidak sadar, yang akhirnya membuahi “Islam” Radikal dan melahirkan para teroris berjubah agama.

Maka sekali lagi, agama manapun tidak berkaitan dengan teroris, para terorislah yang mengaitkan diri dengan agama. Agama tidak mengajarkan terorisme, para terorislah yang meneror berdasarkan pahaman agamanya.

Dari sini juga bisa disimpulkan, bahwa terorisme tidak kenal tingkat pendidikan dan strata sosial. Seseorang bisa saja menjadi teroris, tanpa peduli apakah ia berpendidikan tinggi atau rendah, berekonomi borjuis atau proletar.

Alasannya, terorisme hanya butuh satu syarat, yaitu; semangat beragama yang berapi-api, sembari meliburkan akal sehat. Militansi tanpa akal sehat adalah banteng yang menggila dengan mata tertutup.

Waspadalah

Sains dan Agama: Dunia Manusia & Tatanan Hidup Manusiawi

Berkata Murtadha Muthahhari; “Ilmu Pengetahuan (sains) menjadikan dunia ini sebagai dunia manusia. Keimanan  menjadikan kehidupan ini sebagai kehidupan manusiawi”.

Ilmu pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan ilmiah duniawi (empirik). Yaitu, pengetahuan yang dalam hemat Descartes, hanya memiliki nilai praktis.

Adalah fakta yang benderang, bahwa dengan sains dan teknologi, spesies manusia mampu melampaui spesies lain, baik spesies yang segenus dengan manusia dalam kehewanan, maupun yang berbeda genus. Semuanya tunduk tak berdaya, di bawah kontrol manusia. Manusia menjadi raja di alam ini.

Itulah mengapa Muthahhari mengatakan; Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini sebagai dunia manusia. Yakni, diantara spesies-spesies lain, spesies manusia adalah penguasa dunia, adalah spesies yang membuat spesies lain bertekuk lutut di hadapannya. Semua itu berkat sains, satu hal yang dimiliki oleh manusia dan mustahil dimiliki spesies-spesies lain.

Namun demikian, ilmu pengetahuan tidak serta-merta melahirkan tatanan dunia yang harmonis. Yakni, berkat ilmu pengetahuan (IP), boleh jadi (dan memang telah terjadi), manusia menjadi penguasa dan pengontrol dunia.

Lihat saja, berkat IP, manusia mampu menyelam ke dasar laut lebih dalam dari seekor ikan, dan mampu terbang ke angkasa lebih tinggi dari seekor burung. Akan tetapi, seperti yang digalaukan Jean Paul Sarte, semua itu tidak meniscayakan manusia mampu berjalan di bumi sebagai manusia.

Teknologi menawarkan kemudahan, sekaligus juga memberikan kegalauan-kegalauan baru bagi yang belum memilikinya. Teknologi menjadi alat penjajahan model baru, pada manusia dan pada alam. Alam dikuras tanpa diisi. Deru teknologi menenggelamkan suara “protes” alam dalam bentuk bencana-bencana. Inilah dunia manusia dengan tatanan hewani.

Menurut Muthahhari, iman akan mewujudkan tatanan hidup insani. Yaitu tatanan harmonis antara sesama ciptaan, dan pada Tuhan. Iman yang dimaksud adalah sistem keyakinan terhadap adanya nilai-nilai transenden- metafisik, disamping nilai-nilai imanen-praktis. Keyakinan terhadap eksistensi Tuhan sebagai wujud indefenden mutlak, dan menjadi tujuan gerak. Iman ini mesti merasuk ke jiwa, hingga tak mudah tergadaikan demi kenyamanan.

Iman akan mengarahkan IP menuju arah transendensi. Iman bukan hanya menjadikan teknologi sebagai alat pengkhidmatan pada manusia, tapi juga menjadikan pengkhidmatan pada manusia SEBAGAI [salah satu] bentuk penghambaan pada Tuhan. Sehingga, IP bukan hanya bermanfaat bagi entitas lain, tapi juga bagi perfeksi jiwa pemiliknya.

Walhasil, masih kata Muthahhari, “IP di tangan ilmuwan tanpa iman seperti sebilah pedang tajam di tangan pemabuk yang kejam”. Tentu, pedang tersebut tidak hanya melukai yang lain, tetapi juga melukai diri sendiri.

Dengan iman, tersingkaplah arah transenden yang mesti dituju para ilmuan. Dengan iman pula, terbedakanlah ‘alim robbani dengan ‘alim duniawi. Antara yang berkhidmat pada manusia dengan dasar ketuhanan, dan dengan yang berkhidmat pada manusia tanpa dasar ketuhanan. Antara yang meyakini kemendasaran Tuhan (asholatulhaq) dengan yang meyakini kemendasaran manusia (asholatunnas).

Pijakan tindakan praktis, bukan hal yang remeh. Melalaikannya akan mengurangi (jika tidak menghilangkan) nilai perbuatan.

Kata Ayatullah Fayyazi (yang buku “ma’refat syenasi” nya telah saya terjemahkan dengan judul “Buku Daras Epistemologi Islam”); perbuatan sia-sia adalah perbuatan yang disertai kelalaian pada Tuhan.

Sementara kata Muthahhari; Mereka yang melakukan aksi-aksi praktis lahiriah, namun melalaikan dimensi batiniah (jiwa, iman dan hal-hal transenden lainnya), sembari berkata, “semua perkara transenden itu tidak penting dan mitos semata, kita mesti dekat dengan realitas dan bla, bla, bla”, sesungguhnya adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa itu jihad, apa itu amal sholeh, dan apa itu hijrah.


Sumber gambar: www.umc.org/en/content/ask-the-umc-what-is-meant-by-the-term-image-of-god

Diri Baru di Tahun Baru

Tidak semua yang baru mesti dirayakan. Sebagiannya, justru harus disedihkan. Sebab, yang baru tidak berarti lebih baik dan lebih sempurna dari yang lama. Sementara objek perayaan adalah kebaikan dan kesempurnaan. Manusia waras mana yang merayakan hal baru yang tidak lebih baik dari yang lama.

Tahun baru berarti awal tahun. Dan itu, adalah cerita berlalunya akhir tahun. Akhir tahun adalah evaluasi sekaligus penilaian. Nilai diri di awal tahun ditentukan dari hasil evaluasi dan penilaian atas diri di akhir tahun. Ini persis dengan keluarnya manusia dari alam dunia, menuju alam akhirat. Awal akhirat ditentukan oleh akhir dunia; su’ul khotimah atau husnul khotimah.

Dengan ini, idealnya, akhir tahun dilalui dengan kontemplasi dan evaluasi diri. Dengan begitu, kita bisa menentukan, apakah tahun baru dirayakan atau disedihkan. Ukurannya adalah nilai diri.

Apa itu nilai diri? Dalam filsafat, diri (nafs) yakni jiwa. Jiwa manusia adalah jiwa pemikir (nafs an-nathiqoh). Jadi, nilai diri dilihat dari kualitas pikiran. Dan kualitas pikiran akan menentukan kualitas ideologi dan pandangan dunia. Dengan ini, kualitas jiwa (nilai diri) dilihat dari kualitas ideologi dan pandangan dunia yang diyakini.

Nilai diri tidak bisa ditentukan oleh corak raga. Raga adalah busana. Kata Sa’di, tubuh manusia mulia karena jiwanya. Pakaian yang indah ini bukan neraca kemanusiaan. Sekiranya mata, telinga, mulut dan hidung adalah neraca kemanusiaan, lantas apa bedanya lukisan manusia di dinding dengan manusia?

Busana baru kadang digunakan oleh orang yang sama. Anehnya, kadang seseorang lebih memilih berganti busana di saat kebusukan ideologi dan pandangan dunianya yang telah usang, mulai tercium (disadari) oleh publik.

Rasionalnya, diri usang yang buruk, diganti dengan diri baru yang lebih baik. Artinya, ideologi dan pandangan dunia yang telah usang dengan aroma busuk irasionalitas diganti dengan ideologi dan pandangan dunia yang baru dengan wangi rasionalitas.

Tapi, bagaimana hendak mengganti ideologi dan pandangan dunia, bila ia sendiri tak mencium aroma busuknya, dan menduga wewangian sebagai virus mematikan.

Bukankah mereka yang lama hidup dalam gelap akan menduga cahaya sebagai penyakit? Atau seperti yang disabdakan Nietzsche, burung yang besar dalam sangkar akan menduga terbang sebagai penyimpangan. Baginya, seruan terbang adalah bid’ah, dan kullu bid’ah dholalah, wa kullu dholalah finnar.

Menyedihkan. Tapi biarlah, itu urusan mereka. Urusan kita adalah menghindari kesalahan berpikir dengan tidak menilai buku dari kovernya. Dengan begitu, kita tetap mengenali mana cahaya mana kegelapan, mana kulit mana isi. Ambillah duri, bila diakhiri dengan an. Buanglah an, yang diawali dengan kotor.

Semua ini, tanpa mengurangi arti penting busana. Busana tetap memiliki nilai pada posisi-posisi yang telah disepakati. Adalah kesalahan, bila anda berbusana putih abu-abu di sekolah dasar. Atau, memodifikasi pakaian kepegawaian hingga lebih mirip busana Arab.

Jadi, kita tidak sedang menegasi urgensi busana pada tempatnya. Kita sekedar menegaskan bahwa nilai sesuatu terletak pada isi. Dan busana, bukan ukuran isi. Tahun baru, mesti diawali dengan meninjau ulang isi diri; yaitu ideologi dan pandangan dunia. Apalah artinya merayakan tahun baru, bila kita sekedar mengenakan jubah baru yang dibaliknya masih tersembunyi jiwa yang usang.

Mengakhiri ini, kita simak kisah berikut sebagai bahan renungan:

Dikisahkan, seorang pengecut bertemu dengan seorang pejuang. Kepada pejuang, pengecut meminta: “kumohon, berikan pakaianmu padaku, ingin kukenakan agar aku mendapat berkah dan menjadi pejuang seperti anda”.

Si pejuang menimpali: “wahai engkau, jawablah pertanyaanku, lalu kuberikan pakaianku”. “Bertanyalah”. Pinta si pengecut.

Si pejuang bertanya:”Dengan memakai pakaian ulama, apakah seorang preman akan jadi ulama?”

“Tentu tidak”. Jawab si pengecut.

“Dengan memakai pakaian preman, apakah seorang ulama akan jadi preman? ” Tanya pejuang lagi, dan dijawab pengecut dengan jawaban yang sama. “Tentu tidak”. Katanya.

Pejuang melanjutkan: “wahai engkau, ketahuilah, jangankan dengan memakai pakaianku, menguliti kulitku lalu menempelkannya ke tubuhmu pun tidak akan membuatmu menjadi pejuang sepertiku. Tahu kenapa? Karena pejuang bukan pada pakaian, tapi pada jiwa”.

Selamat tahun baru duhai jiwa-jiwa yang baru dengan pikiran-pikiran baru yang lebih rasional.


Sumber gambar: Google