Semua tulisan dari Andi Ulfa Wulandari

Alumni Akidah Filsafat Islam UINAM yang saat ini mengasuh komunitas Cadar Garis Lucu dan Founder AUW Institue. Dapat dihubungi melalui IG : @andiulfawulandari atau FB: Andi Ulfa Wulandari

Hypatia, Perempuan Filosof Pecinta Ilmu Pengetahuan

“Saya tidak memikirkan representasi kecantikan yang lebih baik daripada seseorang yang tidak takut menjadi dirinya sendiri.” Pernyataan Emma Stone ini memberi sugesti pada saya betapa cantiknya seorang perempuan yang dikisahkan oleh dosen-dosen filsafat, dan yang digambarkan dalam film Agora yang pernah saya tonton.

Sekitar 8 Maret 415 Masehi, kota Alexandria (Mesir) telah menjadi saksi bisu atas manisnya sebuah ilmu, getirnya perjuangan, dan kerasnya risiko dari sebuah perbedaan paham. Di kota ini, hidup seorang perempuan bernama Hypatia, putri matematikawan handal, Theon. Hypatia dilahirkan sekitar tahun 370 M dan meninggal sekitar 415 M di Alexandria. Ia adalah seorang filosof dan ilmuwan yang sangat cerdas. Hypatia terkenal pada keahliannya dalam bidang matematika terutama soal kerucut dan astronomi. Sejarah mencatat bahwa ia pernah membuat astrolab dan hidrometer, tetapi perlu digarisbawahi bahwa dia bukanlah penemu awal kedua alat ini.

Hypatia adalah seorang paganisme, meskipun begitu ia adalah gadis yang sangat menjunjung tinggi toleransi. Ia sangat toleran pada orang-orang Kristen, Yahudi, dan yang lainnya. Bahkan beberapa muridnya beragama Kristen seperti Synesius. Hypatia mengambil alih akademia Alexandria dan memiliki banyak murid, ia disenangi oleh murid-muridnya karena kecerdasan dan sikapnya yang tidak membeda-bedakan. Pernah suatu ketika kedua muridnya sedang terlibat perdebatan, Hypatia menjadi penengah dan kalimat yang ia ucapkan sangat berkesan bagi saya:

“Banyak hal yang bisa menyatukan kita ketimbang yang menceraikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi di luar sana, kita adalah saudara. Kita adalah saudara.”

Fantastic, sangat sesuai dengan apa yang terjadi di Alexandria kala itu. di mana di Agora (sebuah tempat pertemuan) sedang terjadi pertentangan sengit. Perang berkecamuk antara pemeluk Kristen dan penganut paham Yunani Kuno. Jika kalian pernah menonton film “Agora”, begitulah kira-kira gambaran yang terjadi di Alexandria, bahkan mungkin bisa saja jauh lebih sadis.

Hypatia mengajar di Alexandria selama bertahun-tahun, ia telah mengembangkan pemikiran filsafat terutama filsafat Plotinus. Ia terkenal dengan aliran Neo-Platonisme, kuliah-kuliahnya banyak disenangi orang tetapi juga tak sedikit yang membenci. Hypatia menjadi simbol kebebasan berpikir, dan bagi saya juga menjadi simbol kebebasan perempuan. Bisa kita bayangkan bersama, ia hidup di era di mana perempuan hanya memiliki sedikit kesempatan berbicara dan dianggap tak ubahnya sebuah barang. Tetapi, Hypatia ini dengan beraninya bergerak bebas di tengah lingkungan yang didominasi oleh budaya patriarki.

Neo-Platonisme disebut-sebut sebagai sintesis dari semua ajaran filsafat sampai saat itu. dan sebagai penerus Neo-Platonisme, Hypatia berpandangan bahwa agama-agama formal dan dogmatis itu semuanya keliru, tak semestinya diterima begitu saja sebagai sesuatu yang sudah final oleh mereka yang tahu menghargai dirinya. Demikianlah seorang Hypatia dalam menanggapi sesuatu di sekitarnya dengan sangat kritis dan rasional. Di dalam film Agora, sosok Hypatia dilakonkan sebagai seorang yang lincah, tidak bisa tenang (dalam arti selalu ingin mencari tahu sesuatu), ia tidak akan tinggal diam tanpa memikirkan tentang alam semesta, lalu mengambil alat peraga untuk uji coba. Hypatia adalah seorang pembaca yang ulung, ia lebih memilih untuk menyelamatkan buku-bukunya dibanding melarikan diri tanpa membawa ilmu-ilmu itu. 

Saat itu, umat Kristiani secara terang-terangan menyinggung tentang penyembah patung-patung atau berhala, karena keyakinan mereka bahwa Tuhan itu satu. Keluarga besar akademia Alexandria yang banyak menyembah patung ini akhirnya naik pitam dan mengumpulkan pasukan untuk menyerang umat Kristen. Perang terus berkecamuk hingga banyak nyawa yang berjatuhan, mereka pun saling menyandra. Alexandria ternyata telah didominasi oleh orang-orang Kristen, hingga pemerintah menengahi persoalan ini dan dengan sangat terpaksa membuat Hypatia bersama kawan-kawannya harus mengalah meninggalkan akademia. Di tengah kepanikan itu, Hypatia meminta tolong kepada Orestes untuk membawa Theon, ayahnya, yang tengah terluka agar pergi meninggalkan tempat mereka. Sementara Hypatia masih sibuk memasukkan buku-buku di perpustakaan ke dalam karung.

Suasana semakin genting, para parabolani (persaudaraan Kristen) telah berhasil mendobrak gerbang dan memasuki kawasan mereka. Davus, budak dari ayah Hypatia yang masuk Kristen itu, diminta untuk membawa karung-karung berisi buku. Hanya sedikit yang bisa ia selamatkan, karena pasukan Kristiani semakin dekat dan mencekam. Akhirnya, perpustakaan itu dibumihanguskan, buku-buku berhamburan dibakar oleh parabolani, patung-patung dihancurkan. Hari itu, menjadi babak awal dari kegentingan hidup filsuf perempuan ini.

Hypatia sempat menulis tafsir untuk Aritmetika karya Diofantos  dan juga tafsir untuk risalah Apolonios mengenai irisan kerucut. Hypatia sangat berpengaruh di kalangan elite politik Alexandria kala itu. Selain cerdas, Hypatia juga digambarkan sebagai sosok berparas cantik. Ia sempat menasehati Orestes, muridnya yang sekaligus juga prefek Romawi di Alexandria, yang saat itu tengah terlibat persaingan politik dengan Cryil, seorang uskup. Sehingga timbullah cerita yang mengatakan bahwa Hypatialah yang telah memengaruhi Orestes. Akhirnya, pada Maret tahun 415 M, ketika Hypatia sedang dalam perjalanan pulang ke perpustakaan, ia diadang oleh serombongan parabolani. Hypatia ditarik paksa lalu dibunuh dengan keji. Dalam film Agora digambarkan sosok hypatia ditelanjangi oleh sekelompok laki-laki parabolani kemudian dilempari batu hingga mati. Kemudian ada penjelasan di akhir film yang mengatakan bahwa tubuh Hypatia dimutilasi lalu diseret keliling kota Alexandria.

Nah, beberapa sumber yang lain termasuk tulisan Cak Nur mengatakan bahwa Hypatia dikuliti layaknya binatang kemudian dibakar. Dialah Hypatia, perempuan yang dibunuh karena kecerdasannya, karena kegigihannya dalam mempertahankan apa yang ia yakini (filsafat Neo-Platonisme). Pembunuhan terhadap Hypatia telah mengguncang kekaisaran dan disematkanlah Hypatia sebagai martir untuk filsafat. Akhirnya, tokoh Neo-Platonisme sesudahnya menjadi semakin pedas dalam mengkritik Kristen.

Pada abad Renaissance, Hypatia menjadi simbol perlawanan terhadap agama Kristen. Pada abad ke-19 karya-karya sastra Eropa menjadikan Hypatia sebagai orang Helen terakhir. Jadi Hypatia juga dikatakan sebagai Neo-Helenisme. Lalu pada abad ke-20, Hypatia menjadi simbol dalam pergerakan hak perempuan. Sebenarnya sangat banyak yang membahas Hypatia dengan versi yang berbeda-beda. Untuk itu, saya berusaha menyajikan sesuatu yang cukup familiar tentang beliau. Oh ya, saya hampir lupa memberikan informasi ini, bahwa salah seorang muridnya yang menuliskan tentang beliau mengatakan bahwa Hypatia adalah seorang perawan. Ia tidak memiliki pasangan dan keturunan, dan kurang lebih meninggal pada usianya yang ke- 45 tahun.

Nama Hypatia dinobatkan sebagai seorang cendekiawan perempuan, dan menjadi teladan bagi wanita setelahnya. Sebagai bentuk penghargaan, beberapa jurnal feminis  internasional mengambil nama dari nama Hypatia, seperti Yunani Hypatia: Feminis Studies, dsb. Juga terdapat sebuah yayasan bernama Hypatia Trust. Dan di bidang astronomi, nama Hypatia diabadikan sebagai nama asteroid sabuk utama yaitu 238 Hypatia, kawah bulan Hypatia juga dinamai dari namanya.

Berabad-abad sebelum Kepler dan Galileo, Hypatia sudah berjuang lebih dulu di tengah otoritas gereja. Hypatia adalah cerminan perihal hegemoni dan relasi kekuasaan yang tidak seimbang tentang mayoritas-minoritas. Hypatia adalah simbol sejarah bahwa dari zaman ke zaman perempuan menjadi sosok yang paling sering dijadikan objek kekerasan. Akar budaya patriarki dengan anggapannya  bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah dan bodoh, secara tidak langsung pemikiran ini memberikan sumbangsi pada kesengsaraan kaum perempuan.

Saya tidak ingin terlalu jauh berapi-api melawan tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Tetapi, kita mulai dengan prinsip 3M ala Aa Gym, yaitu: mulai dari diri sendiri, mulai dari sesuatu yang kecil, dan mulai dari sekarang. Hypatia adalah secuil contoh dari perempuan-perempuan hebat yang namanya abadi sepanjang sejarah, seperti Sitti Khadijah binti Khuwailid, Rabi’ah al-Adawiyah, Maryam binti Imran, Asma binti Abu Bakar, Maryam al-Astrolabe, dan masih banyak lagi . Mari meneladani keteguhan mereka, ketegaran, dan semangat mereka dalam belajar dan berjuang.  Kita belajar dari Hypatia bahwa semangat hidupnya untuk tetap mengabdi pada ilmu pengetahuan membuat namanya terkenal dan sangat diperhitungkan hari ini. Kita belajar dari sosok ini tentang bagaimana memupuk semangat untuk mandiri, cerdas, dan memiliki mental yang kuat. Hypatia, di tengah kecaman otoritas gereja, ia tetap berdikari di atas keyakinannya, dan ia tetaplah pengikut Plotinus yang setia. Kesetiannya sangat patut juga untuk ditiru. Termasuk pada karakternya yang tidak mudah mengumbar rasa kepada siapa pun. Karena baginya, logika ikut andil dalam penentuan pasangan, bukan hanya melulu perasaan. Itu yang membuatnya unik dan berbeda.


Sumber gambar: https://labiqbikul.medium.com/filsuf-perempuan-tersebut-bernama-hypatia-4dd5dfd49f71

Tidak Ada Hal Baik dan Hal Buruk, Bahagia ala Stoik

“Tidak satu pun milik kita, tidak juga tubuh kita. Kita selalu menyewa, tak pernah memiliki.” Kalimat ini berhasil mencuri perhatian saya, mengambil jeda sesaat untuk menyunggingkan senyum. Benar, Epictetus telah menampar saya dengan gagasannya yang memang masuk akal namun sebenarnya kurang realistis, atau mungkin tepatnya tidak berprikemanusiaan dan prikebinatangan (karena binatang pun tidak ingin kehilangan). Dengan gamblang dia mengatakan bahwa ketika sesuatu hilang, relakan dengan mudah dan segera, bersyukur atas waktu ketika kau bersamanya. 

Kalimat yang begitu ringan diucapkan namun implementasinya begitu berat. Sementara Epictetus terus mengingatkan sembari menyarankan agar mengatasi kehilangan-kehilangan kecil lebih dulu sebelum berpindah kepada bentuk kehilangan yang lebih besar. Apa kau pernah kehilangan topimu? Dalam perspektif Filsafat Stoik, kamu tidak sungguh-sungguh kehilangan topimu, kamu telah mengembalikannya. Sehingga kamu tidak mesti kecewa dan trauma, karena ibaratnya sama saja ketika kamu mengembalikan buku ke perpustakaan. Meskipun kamu telah membeli dengan uangmu, namun dalam Stoik, itu bukanlah milikmu. Marcus Aerelius pun begitu, Sang Kaisar Romawi ini berusaha mengingatkan kita bahwa semua yang kita sayangi suatu saat akan hilang, layaknya dedaunan di pohon. Maka kita harus selalu waspada, jangan sampai rasa senang terhadapnya membuat kita sangat menyayanginya. Sehingga saat ia hilang, kedamaian pikiran akan hancur dan buyar. 

Cara berpikir inilah yang digunakan dalam Filsafat Stoik, yaitu salah satu aliran filsafat Yunani yang paling bertahan lama bahkan relevan dengan kehidupan manusia modern saat ini. Stoikisme menawarkan art of living atau seni menjalani hidup. Menurut Stoikisme, orang yang menerapkan filsafatnya dalam kehidupan sehari-hari lebih patut dihargai daripada  orang yang hanya sekedar pandai bicara tentang macam-macam teori filsafat. Stoikisme sendiri menawarkan kebahagiaan dalam pengertian absence of troubles atau bebas masalah yang berasal dari emosi negatif. Semakin berkurang emosi negatif, semakin dekat pula kita dengan kebahagiaan. Agaknya Stoikisme ingin berkata: ubah apa yang bisa kita ubah, dan terima apa yang tidak bisa kitaubah. Misalnya, masa lalu telah berlalu, untuk apa terlalu menyesalinya. Masa depan belumlah datang, untuk apa terlalu dikhawatirkan. Kita hidup disini, saat ini, mengapa kita tidak syukuri.

Salah satu seni untuk hidup bahagia adalah dengan life in present moment, agar pikiran kita terbebas dari berbagai asumsi negatif yang dapat menimbulkan kegelisahan, ketakutan, dan penderitaan. Pada dasarnya, kesedihan dan penderitaan hadir dengan dua diskursus. Pertama, memutuskan hidup, dan kedua menguatkan hidup. Manusia yang berada pada jenis pertama akan menganggap kematian sebagai penawar dari rasa sakit yang dideritanya, sehingga berpikir bahwa kematian jauh lebih baik dari kehidupan ini, karena akan menghentikan semua derita yang dialaminya. Sementara jenis kedua, menerima dan menyambut datangnya rasa sakit karena menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan. Filsafat menawarkan kebahagiaan, apakah ingin hidup bernilai lalu mati terkenang? Ataukah hidup susah, lalu mati konyol? Tak ada larangan bersedih atau menangis, silakan, agar hukum alam tetap berlanjut. Tapi ada satu hukum kebahagiaan: bahwa kesedihan adalah ladang kebijakasanaan. Maka tak ada hidup yang benar-benar menderita, karena derita sekali pun adalah peluang menjadi manusia super. 

“Pilihlah untuk tidak tersakiti, maka kamu tidak akan merasa sakit. Pilihlah untuk tidak pernah merasakan sakit, maka kamu tidak akan tersakiti.” Demikian pesan Kaisar Marcus Aurelius, yang berarti bahwa jika kita tertekan oleh sesuatu yang eksternal, rasa sakit itu bukan karena hal itu sendiri, tetapi karena perkiraan dan pikiran kita sendiri; dan hal ini dapat kita kendalikan kapan saja. Karena jiwa dan pikiran berada di bawah kendali kita. Segala sesuatu yang menggangu kita sebenarnya berasal dari cara penilaian  yang keliru. Cara pandang kita yang keliru dalam menyikapi sesuatu dalam hidup membuat kita stres, gelisah, emosi, dan marah-marah tidak jelas. 

Semua hal yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah netral. Tidak ada hal positif dan negatif, tidak ada hal baik dan hal buruk. Yang menjadikan sesuatu itu positif dan negatif, baik dan buruk adalah interpretasi kita terhadapnya. Ada hal penting untuk kita kedepankan yaitu self control (pengendalian diri) dari sikap fatalistik. Sejatinya dunia ini berasal dari satu prinsip rasional, semuanya telah dirancang sebagai hukum alam (sebab-akibat) atau dalam agama Islam disebut sunnatullah. Manusia sisa menjalankan peran masing-masing dan menjaga pola harmoni dengan alam tersebut. Karena manusia terikat oleh alam, tinggal bagaimana menjaga keselarasan harmoni alam semesta, dengan cara berbuat kebajikan. Ketika Tuhan, alam, dan pikiran selaras, maka dapat tercipta hidup yang harmonis untuk mencapai ketenangan jiwa. Tidak satu pun manusia yang hidup tanpa masalah, tapi masalah hadir bukan untuk membuat manusia menderita. Kita diberi kemerdekaan berupa pilihan, apakah memilih untuk bersedih dan meratap, ataukah menerima dan mengontrol diri agar bisa menjalani ujian hidup dengan baik. Manusia memiliki peluang untuk menciptakan kebahagiaannya sendiri melalui rasio yang telah dianugerahkan Tuhan. 

Filsafat Stoik menawarkan sesuatu yang menarik yang disebut dengan dikotomi kendali. Ada hal-hal yang berada di bawah kendali manusia, seperti mengendalikan cara pandangnya, jiwa, emosi, dan tindakannya. Tetapi juga ada hal yang berada di luar kendali, seperti penilaian orang lain, kepergian seseorang, dimarahi atasan,  jalanan macet, dsb. Jika kita menyandarkan kebahagiaan di luar diri, maka kita akan menderita dan sakit hati ketika sesuatu itu tidak seperti yang kita harapkan. Sebaliknya, jika kebahagaiaan itu kita ciptakan dari dalam diri, tidak sesuatu pun di luar sana yang mampu menjadi alasan untuk kita menderita. Manusia memiliki kekuatan dan kemerdekaan untuk mengatur pikirannya.

Kita mungkin memiliki masalah di tempat kerja, baik itu dengan pimpinan, rekan kerja, bahkan dengan tugas-tugas yang menumpuk. Dalam perjalanan pulang, kita dihadapkan dengan kemacetan lalu lintas, dan ketika tiba di rumah kita disambut dengan keributan anak-anak serta pasangan yang bawel. Situasi ini mungkin akan menjadi pemicu emosi dan stres, namun semua kekacauan itu sebenarnya timbul akibat persepsi kita sendiri. Ada dua kemungkinan yang lahir ketika kita dihadapkan dengan problematika hidup. Pertama, apakah masalah itu membuat kita down (jatuh) dan putus asa. Kedua, apakah menjadi challenge dan pemicu semangat untuk menguji kualitas kita. 

Bayangkan, jika dalam dunia kerja kita tidak pernah mendapatkan tantangan, bisa jadi kita tidak berkembang dan hanya berada pada posisi stagnan. Di tengah kemacetan, kita bisa menggunakan waktu itu untuk membuka lembaran buku atau membaca Kitab suci, daripada harus menguras energi dengan marah-marah. Mendengar suara tangis dan keributan anak-anak bukankah dambaan oleh mereka yang belum dianugerahi keturunan? Disambut celoteh pasangan bukankah mengajarkan kita untuk menjadi pendengar yang baik? Juga menjadi manusia yang sabar dan bijak. Teringat perkataan seorang filosof Yunani, Socrates, “Jika kau mendapat istri yang baik kau akan bahagia, dan jika kau mendapat istri yang buruk,  kau akan menjadi filsuf.” Tentunya bukan tanpa alasan Socrates berkata demikian. Dalam artian, ketika dihadapkan dengan seseorang yang berperilaku kurang baik terhadap kita, kita memiliki peluang untuk belajar menjadi manusia yang bijaksana, ketimbang membalasnya dengan emosi negatif. Maka pada kondisi apapun,  sebenarnya kita bisa memilih untuk tetap bersyukur dan bahagia.