Semua tulisan dari Andi Ummul Khaeratih

Perempuan kelahiran Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Salah seorang penyintas QLC. Aktif sebagai pengajar di salah satu sekolah swasta di Kabupaten Bantaeng.

Membebaskan Perempuan dari Jeruji Stigma

Surat Kartini kepada Dr. Adriani (24 September 1902)

Benarkah gerangan bahwa perempuan itu baru sempurna rasa sanubarinya, baru sempurna berkembang, hanya jika ia sudah kawin?

Karena kemuliaan perempuan yang semurninya dan seindahnya adalah menjadi ibu? Tetapi mestilah perempuan beranak dahulu, maka baru boleh menjadi ibu menurut arti perkataan itu yang seharusnya, yakni makhluk yang semata-mata berhati kasih dan tahu berkorban?

Bila benar demikian, betapa rendahnya pendapatan dunia mengatakan, bahwa sebagian darah daging sendiri sajalah yang dapat dikasihi, serta dengan mengorbankan dan menyerahkan diri segenapnya! Alangkah banyak ibu, yang namanya saja “ibu” hanya karena mereka ada melahirkan anak ke dunia ini, tetapi lain daripada itu tiada patut memakai nama ibu itu. Seorang perempuan yang mengorbankan diri untuk orang lain, dengan segala cinta yang ada dalam hatinya, dengan segala asyik yang ada padanya, perempuan itu “ibu”lah dalam hati sanubarinya.

Bagi kami lebih tinggi ibu yang jadi ibu karena hati sanubarinya itu daripada yang jadi ibu karena badannya.

Harapan dan doa kami dengan sangat, bila di kemudian hari boleh kiranya cita-cita kami berwujud, kami mengajar di dalam sekolah, anak-anak kami janganlah hanya menyebutkan kami “ibu” di mulut saja, melainkan juga dihati.

Pernah, saya jumpai seorang ibu dengan gelar sarjana, berkeinginan melanjutkan studi ke jenjang S2, malang puatang, sang suami menghendaki sebaliknya, “Fokus mengasuh buah hati saja, tidak ada pekerjaan lebih mulia, tinimbang menjadi seorang ibunda.” timpal sang suami.

Sekali dua, telinga saya dipaksa berhadapan dengan kalimah “Salah sendiri, punya aurat tak dijaga, kucing lapar disodori ikan, siapa yang tak tergugah?” Para penyintas kekerasan seksual itu seolah belum cukup disiksa dengan segunung trauma di kepala.

Ada pula perempuan berujung ditalak suami, karena dianggap terlalu mandiri, lantaran punya prinsip dan pikiran sendiri.

Di sisi lain, ada yang sedang nyaman meniti karir dan belum siap membuka hati, namun terpaksa menerima pinangan orang asing, karena takut dicap “terlalu pemilih” di usia yang konon sudah harus menyandang status sebagai istri.

Pun dapat kita temui, seorang istri beruntung, berpasang suami yang mafhum akan hak-hak perempuan, namun masih harus rela jadi bahan olokan, bulan-bulanan media, lantaran kabarnya menentang fitrah. Keputusan untuk tidak memiliki anak sepanjang hidup, menjadi sebab musababnya. Istilah modern yang belakangan sedang populer-populernya: Childfree.

Adalah Gita Savitri Devi, lebih akrab disapa Gitasav, seorang konten kreator muda, pemengaruh media sosial, penulis buku, dan menyelesaikan S1 di Freie Universitat, Berlin, Jerman. Kemampuan public speaking yang mumpuni, membuatnya tertarik untuk secara aktif dan kritis, mengupas isu-isu global di channel youtubenya.

Betapa menarik, mendapati animo masyarakat gegap gempita, menjejal menggurui: salah, menentang kodrat, egois, sesat, hina, dan pelbagai maklumat hingga membawa-bawa dalil yang ditafsirkan sekenanya, asal menguntungkan opininya.

Media-media tanah air pun tidak tinggal diam. Sigap dan piawai mengambil peran. Sebagian memilih menampilkan sudut pandang secara objektif dan mengedukasi, sebagian yang lain memilih tunduk pada selera pasar. Secara tidak langsung ikut mencecar keputusan perempuan 29 tahun tersebut.

Menjadi berbeda di tengah masyarakat konvensional merupakan hal yang melelahkan. Jiwa dan raga. Menginginkan sesuatu sedikit di luar jalur saja, sudah dicap salah. Tidak cukup sampai di situ, perempuan dipaksa terbiasa menerima penghakiman dari dunia sosial, karena berusaha melawan dan membentur tembok konstruksi tradisi masyarakat.

Perempuan mesti dandan, harus lemah lembut, tidak boleh bersuara lantang, harus bisa lebih mengorbankan diri untuk keluarga, perempuan harus menikah, harus di usia muda, nanti expired! Perempuan mesti melahirkan dan mengurus keluarga, perempuan harus jadi istri dan harus jadi ibu!

Mitos-mitos keharusan tadi yang agaknya sedikit banyak memantik ragam komentar kontra, terhadap keputusan Gitasav, masyarakat patriarkal acap kali beranggapan, memiliki rahim senantiasa berbanding lurus dengan keharusan memfungsikan rahim tersebut, mitos keharusan berlanjut ketika si puan memiliki anak, cara mendidik, bagaimana si anak tumbuh, mengasuh, dan pemberian pendidikan kepada anak pun akan turut dibebankan kepada perempuan sebagai keharusan dalam perannya menjadi ibu. Belum lagi keharusan-keharusan di ranah domestik yang tidak kalah mutlaknya.

Konotasi perempuan dari masa ke masa berkutat pada pemaknaan harus ini, mesti ini dan mesti itu.

Jadi, ketika mereka bertemu situasi, di mana perempuan secara sadar dan tahu akan hak-haknya sebagai manusia utuh, yang juga boleh punya pilihan, dan memperjuangkan pilihan tersebut, mereka refleks terheran-heran.

Menukil pemikiran Kalis Mardiasih, seorang Esais dan Aktivis perempuan, “Perempuan adalah subjek dengan kesadaran yang boleh melakukan aktivitas yang baik dan bermanfaat. Fitrah perempuan dapat menalar semua peristiwa dengan pengetahuan yang ia miliki. Fitrah perempuan memberikan pendapat dengan bertanggung jawab dalam diskusi yang setara dengan siapa pun.”

Dengan menyadari hal tersebut, maka menjadi urgensi bagi masyarakat, untuk berhenti mengamini stereotip, yang konsisten memperlakukan perempuan tak ubahnya makhluk liyan, subordinat, mesti dibimbing, diarahkan, dan tidak punya kapasitas kewarasan yang cukup memadai untuk mengambil sebuah keputusan.

Tengara yang menimpa Gitasav ini, mengindikasikan betapa sulitnya perempuan, bahkan untuk sekadar mengambil keputusan yang bahkan merupakan otoritasnya sepenuhnya. Sebuah ironi yang semakin menerangkan, mengapa hingga abad yang sarat kemajuan ini, masih banyak perempuan yang menjawab “tidak tahu” jika ditanya menginginkan apa dalam hidup. Kalau pun punya jawaban pasti, kemungkinan besar keinginan tersebut dilakukan untuk orang lain, misal suami/anak/orang tua/ dan lain-lain.

Mari mengiakan, betapa banyak puan yang menggadaikan bakat, potensi dan cita-cita, hanya karena kisut dengan respon orang-orang sekitar. Betapa banyak jati diri yang harus dikubur dalam-dalam, mendustai kehendak pribadi, yang muaranya lagi-lagi mengorbankan kenyamanan sendiri.

“Dulu, ketika membaca alasan childfree, adalah soal ketahanan pangan hingga perubahan iklim yang mengakibatkan bumi jadi ruang yang makin tidak aman, saya versi remaja yang tahu bahwa saya menginginkan anak di masa depan, berseru dalam hati: Iya ya. Jadi PR nya gimana caranya mewariskan bumi yang lebih baik, jika kita ingin menambah populasi. Ketika mendengar basis childfree adalah karena subjek secara sadar mengaku tak siap mental untuk membesarkanseorang anak, saya yang sampai hari ini menginginkan anak pun seperti diingatkan: bagaimana mempersiapkan diri menjadi orang tua yang sehat mental lahir batin dan berkomitmen pada tiap anak yang terlahir di dunia?” tutur Kalis Mardiasih masih seputar childfree.

“Terima kasih, pemikiran perempuan childfree menjadi cermin bagi saya untuk berhati-hati dan lebih berkomitmen pada anak yang telah kami hadirkan ke dunia.”

“Awal nikah mulai ke psikiater, didiagnosa bipolar. Itu ternyata dari keturunan. Jadi mikirngapain aku menurunkan ini ke anakku nanti?’” netizen lain ikut menimpali positif.

Jadi, mengapa kita harus berebut salah dan benar, ketika kita punya pilihan untuk berdiskusi dan berefleksi ke arah yang lebih bahagia?

Misal, bagaimana agar perempuan yang merencanakan kehamilan bisa sehat mental? Bagaimana menghadirkan akses kesehatan reproduksi yang terjangkau dan akses konseling yang aman dan murah? Bagaimana mengusahakan pembagian kerja adil gender setelah kelahiran anak?

Keluarga Indonesia rasa-rasanya sangat perlu memahami konsep boundaries, yakni batas atau ruang antara diri sendiri dengan orang lain. Konsep yang telah dipopulerkan oleh penulis swadaya dan kelompok pendukung sejak pertengahan 1980-an ini, nyaris tidak pernah diajarkan di lingkup keluarga Indonesia, sama tabunya dengan mengenalkan pendidikan seks sejak dini. Padahal, dua entitas pola pikir ini merupakan hal vital dan esensial dalam pembentukan identitas diri.

Manusia, termasuk perempuan, merupakan makhluk kompleks. Setiap tindakan lahir dari alasan-alasan yang didasari pertimbangan-pertimbangan internal dan bersifat privasi. Pun jauh dari ranah dan otoritas eksternal, bahkan untuk sekadar mengomentari, tanpa consent atawa persetujuan yang bersangkutan, apalagi sampai menghakimi. Boundary.

Pasangan yang memilih childfree, mungkin saja merupakan korban dari orang tua yang tidak siap punya anak, entah itu secara mental, finansial atau aspek lain. Perempuan yang memilih untuk tidak menikah barangkali merupakan pribadi yang tidak suka ditemani, menyukai kesendirian, atau beberapa kemungkinan lain. Penting dipahami, bahwa dari sekian banyak kemungkinan tersebut, tidak satu pun diantaranya, tersimpan pembenaran untuk mendikte standar bahagia orang lain.

Kehidupan pribadi seorang individu, termasuk hubungannya dengan Tuhan adalah otoritas masing-masing, yang seharusnya kedap campur tangan siapa pun, sepanjang tidak mengganggu supremasi dan hak individu lain. Sementara hubungan kemanusiaan adalah urusan bersama, sebab melibatkan hubungan kesalingan antara satu dengan yang lain. Olehnya, mari mulai membangun relasi sosial yang sehat, utamanya bagi perempuan, dengan menghormati batasan-batasan internal masing pribadi. Boundary.

Dengan begitu, tidak ada lagi stigma dangkal yang menyalahkan korban pelecehan dari pakaian yang dikenakan. Orang-orang perlu memandang keberagaman cara berbusana sebagai bagian dari pengekspresian diri, dan berhenti memandang perempuan sebagai objek yang berusaha “memamerkan” sesuatu.

Perempuan tidak lagi merasa perlu, berulang kali menjabarkan alasan dari ketetapan yang diambil sebagai pertanggungjawaban atas masa depannya sendiri. Tidak lagi perlu, berulang kali meyakinkan, bahwa ia sadar dan berdaya atas dirinya sendiri.

Mari belajar menempatkan perempuan sebagai subjek aktif yang berdaya dan mampu berbuat, memutuskan secara sadar, dan bertanggung jawab penuh atas konsekuensi dan risiko dari keputusan tersebut, bukan semata objek pasif, yang menunggu diperlakukan sekehendak pihak tertentu.

Dengan menyadari ini, maka sewajarnya, perempuan tidak lagi berhutang penjelasan apa pun, kepada siapa pun.

“Saya lajang. Saya memilih tidak menikah. Saya bahagia.”

“Saya menikah. Saya memilih tidak melahirkan anak. Saya bahagia.”

“Saya perempuan, istri dan ibu. Saya memilih menikah dan melahirkan anak. Saya bahagia.” Tubuhmu. Otoritasmu.Tubuhku. Otoritasku.

Ancaman Serius Pembajakan Buku dan Ajakan untuk Bertobat

Di kancah internasional, posisi Indonesia di bidang perbukuan terbilang tidak mengesankan, bahkan bisa dikata mengecewakan. Mari berbesar hati mengakui hal tersebut.

Bukan hanya dari segi minat baca yang rendah, kecilnya jumlah buku yang dihasilkan per tahun dibanding dengan jumlah penduduk, dan maraknya pelanggaran hak cipta penerbitan buku, juga turut menyumbang andil di balik tidak mengesankannya citra negara kita dalam hal literasi di mata dunia.

Di lingkup Asia, Indonesia bisa dibilang negara yang permisif tentang pelanggaran hak cipta. Merujuk data Political and Economic Risk Consultancy (PERC), Indonesia berada di urutan teratas sebagai negara dengan catatan paling buruk dalam perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual. Saya ulangi. Paling buruk!

Ya tidak heran, kalau tempo hari, salah satu penulis kondang tanah air, mencak-mencak di media sosial menanggapi ulah oknum pembajakan buku, isi konten yang dianggap cukup tegas dan lugas mengingatkan pembacanya untuk lebih teliti membedakan buku ori dan buku bajakan, justru menuai kritik dan makian yang tak kalah deras.

Fenomena yang lagi-lagi menjadi sebuah teguran, bahwa tantangan negara kita bukan hanya seputar perlawanan terhadap oknum-oknum yang terlibat dalam pembajakan buku, tetapi juga minimnya kesadaran perihal betapa kejam dan nistanya perbuatan tersebut.

“Ya mau bagaimana, saya berasal dari kalangan bawah yang keadaan ekonominya cukup sulit untuk membeli buku original.”

“Bukankah setiap orang berhak memperoleh pengetahuan?”

“Duh, saya juga ogah beli buku dari penulis arogan.”

Lamat saya, menyelia satu persatu ulasan opini warganet.

Padahal, cuitan Tere Liye di salah satu akun sosmednya ini punya dasar kuat, seorang penulis kondang yang tulisannya cukup populer di kalangan remaja, yang penggalan-penggalan quote dari buku-bukunya cukup ramai berseliweran di linimasa media sosial, saya kira tidaklah keliru menarik kesimpulan, bahwa beliau termasuk korban yang paling dirugikan dalam tindak kejahatan pembajakan ini.

Kendati sudah diperkuat oleh argumen dari pegiat-pegiat literasi yang lain, mulai dari Iqbal Aji Daryono, Puthut EA hingga sastrawan Eka Kurniawan misalnya, tak ketinggalan turut menimpali, hitung-hitung bermaksud membantu mengedukasi barangkali. Seperti sia-sia, derasnya opini pembenaran beberapa netizen masih saja bebal, menolak sadar apalagi bertobat.

Komentar-komentar yang berhasil membuat saya gemas karena kesal, sekaligus mengingatkan saya pada diri sendiri di masa lalu, saya yang masih naïf dan polos. Saat itu, awam saya hanya menghirau rasa ingin tahu yang kepalang besar, sampai abai dan kurang ngeh terhadap kualitas kertas dan packaging si-buku bajakan, yang ternyata merupakan ciri khas dan cukup mudah dikenali, minimal bagi orang yang terbiasa memegang buku original.

Bedanya, yang saya lakukan ketika seseorang mengedukasi tentang buku bajakan adalah langsung dirundung perasaan bersalah, segera bertobat, menyadari kesalahan, serta berikhtiar untuk tidak mengulangi. Bukan ingin bermaksud sok bijak, saya hanya sulit memahami bagaimana iktikad baik nan sederhana saya kala itu, menjadi perkara sulit dilakukan bagi beberapa orang, yang juga sempat khilaf menjadi konsumen buku bajakan, serupa yang saya lakukan dimasa lalu.

Bagian memuakkan ketika berbicara tentang usaha melawan pembajakan adalah, kita dipaksa untuk berhadapan dengan narasi lama yang tidak putus diulang saban warsa: kemiskinan.

Para pembajak dengan lihainya playing victim, sigap memosisikan diri sebagai pihak lemah yang tidak seharusnya mendapat rundungan dan penindasan. Sebaliknya, pihak lawan dipandang sebagai villain yang tujuannya hanya mengusik jalan rezeki manusia lain.

Lagipula, menggunakan narasi kemiskinan tidak serta merta menjadikan tindak pembajakan menjadi sesuatu yang benar. Pembajakan ibarat seseorang yang mencuri hak orang lain, oknum pencuri tidak akan memperoleh pembenaran karena yang bersangkutan miskin, atau apa pun alasannya.

Kenapa tidak mengamen, nebeng jadi tukang parkir, berdagang asongan atau paling tidak menjadi pengemis di lampu merah, tinimbang harus memilih jalan nista dengan merampas hak dan berujung merugikan orang lain?

Tidak jauh berbeda dengan kasus pembajakan buku, kita selalu punya alternatif, alih-alih terus-terusan merengek dengan dalih kemiskinan. Mengapa tidak menabung dulu sampai punya uang cukup, atau minimal meminjam buku ke teman dekat, atau seperti yang diserukan Tere Liye dalam postingannya, bisa dengan mendownload di aplikasi iPusnas, yang tidak perlu kuota besar untuk mengakses banyak judul buku secara gratis, atau sekurang-kurangnya bisa dengan membeli buku-buku bekas original, sudah banyak tersedia di banyak platform e-commerce, dan dapat diakses dengan mudah. Langkah-langkah yang saya kira jauh lebih terhormat, ketimbang harus membeli buku bajakan.

Masalah pembajakan ini sudah masuk ranah serius, meresahkan, bahkan merusak budaya dan ekosistem literasi Indonesia.

Benar, pengetahuan milik semua orang, namun nilai produksinya bukanlah hal yang bisa dianggap sambil lalu mengingat kompleksnya perjalanan olah jerih payah intelektualisme suatu pihak, yang proses pengerjaannya bukan sehari atau dua hari.

Pembajakan buku bisa dibilang sebagai salah satu kejahatan peradaban di dunia, karena mereka merusak semua lapisan dan tatanan dalam dunia perbukuan, merugikan negara, utamanya para pekerja penerbitan dan banyak lapisan lainnya, yang menggantungkan hidup dari terjualnya buku original.

Buku yang sampai di tangan konsumen merupakan hasil kolaborasi alot, padat, dan berdurasi panjang antara penulis, editor, ahli bahasa, penerbit, layouter, bahkan juga para pekerja di pabrik kertas. Belum lagi, karya tersebut masih harus melewati waktu berbulan-bulan melalui pemeriksaan, sebelum akhirnya dipajang di etalase-etalase toko buku.

Alur kerja penuh keringat tersebut tidak dihormati oleh mereka yang memilih jalan rezeki dengan membajak buku, mereka cukup menjiplak sebuah judul buku lalu menduplikasi, siapa peduli jerih payah penulis dan penerbit.

Pembajak merusak semua tatanan dan alur industri perbukuan tersebut. Dan jika dibiarkan, pada akhirnya akan membunuh industri perbukuan secara menyeluruh.

Imbasnya, konsumen pun tak luput menjadi salah satu pihak yang dirugikan, selaku pembaca yang akan kehilangan kesempatan untuk menikmati terbitan bermutu.

Dari segi hukum, Indonesia sebenarnya sudah memiliki payung hukum yang cukup jelas terkait hal ini, sebut saja Undang Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, dimana cuplikan isinya lazim terlampir di halaman depan buku, komplit seruan penerbit untuk tidak menduplikasi buku-buku yang mereka terbitkan. Hukum pidananya secara tekstual 1—4 tahun penjara dan denda mulai dari seratus juta sampai empat miliar rupiah.

Namun secara implikatif, aturan tersebut nyatanya mandul, melihat realita masih tingginya angka pembajakan buku di Indonesia. Gelagat setengah hati pemerintah dalam mendukung para penulis dan pelaku industri perbukuan semakin visibel, menilik problem pajak penulis yang terkesan

memberatkan, sampai kesulitannya masyarakat mengakses perpustakaan-perpustakaan yang benar-benar layak sebagai tempat membaca.

Aparat harus berani menindak tegas para pembajak, sebagaimana ketika mereka dengan gagah dan percaya dirinya pasang badan, tidak tanggung-tanggung turun langsung merazia buku-buku kiri di berbagai daerah, padahal buku tersebut asli dan tidak bermasalah secara hukum. Instansi-instansi terkait juga harus berani secara terbuka dan gamblang dalam mengeluarkan himbauan keras, plus menetapkan sanksi yang konkret, khususnya untuk kios-kios atau toko buku kelontong, yang saat ini masih marak.

Poin yang tak kalah genting ialah, mengedukasi para pembaca bahwa menjual/membeli buku bajakan berarti mendukung aksi kejahatan, kriminalitas berupa pembajakan hak cipta dan hak-hak ekonomi orang-orang yang terlibat dalam industri buku. Para pembaca harus paham, bahwa dengan membeli buku bajakan, berarti merusak masa depan dunia perbukuan indonesia.

Sebagai konsumen, bukankah akan lebih menenteramkan, jika kita turut andil dalam kemajuan literasi Indonesia, alih-alih menjadi penyebab rusaknya citra bangsa.

Semoga tidak ada lagi narasi dangkal, yang memandang usaha perlawanan pembajakan buku, sebagai upaya memutus jalan rezeki dan tempat makan para pedagang buku, apalagi menuduh serakah, sebab katanya ogah berbagi makan. Lah, memangnya penulis, pekerja percetakan, penerbit dan teman-temannya juga tidak butuh makan?


Sumber gambar: Mizanpublishing.com

Quarter Life Crisis? Siapa Takut!

Bun, hidup berjalan seperti bajingan…

Tulisan ini didekasikan untuk sejawat seperjuangan, yang saat ini mungkin saja mengalami nasib yang sedang bajingan-bajingannya, serupa penggalan lirik lagu Nadin Amizah di atas.

Anggap  saja  sebentuk  panggilan  support  system,  dari  sesama  penyintas  quarter  life  crisis.

Sekalian curhat sih. He he.

Quarter- life- crisis (qlc). Dalam terjemahannya, memiliki arti krisis seperempat abad, atau kerap disebut krisis jati diri, semantik fenomena psikososial, dan tidak jarang menjangkiti mereka, yang beringsut pada kurun transisi, dari fase remaja ke fase dewasa. Lazim ditemukan pada milenial di rentang usia 25 sampai 30-an. Ya, namanya juga krisis seperempat abad.

Alexandra Robbins & Abby Wilner dalam bukunya, Quarterlife crisis: The Unique Challenges of Life in Your Twenties, merupakan ahli pertama yang menggugah istilah ini, berpangka penelitian terhadap kaum muda Amerika Serikat, yang kemudian dijuluki sebagai “twentysomething”, individu yang baru saja meninggalkan kenyamanan hidup sebagai remaja, menuju dunia nyata, mulai mengenal tuntutan sosial laiknya individu dewasa.

Lazimnya, jika seseorang telah menuntaskan kewajiban belajar di bangku kuliah, maka secara tidak langsung sudah dianggap dewasa. Teman-teman fresh graduate pasti relate-lah, bagaimana pusingnya menjadi manusia (yang konon sudah) dewasa, setelah melalui fase perkuliahan. Teori belajar, kemudian merealisasikan dan mengaplikasikan studi yang telah diterima di bangku kuliah, tidaklah semudah memindahkan tali toga di momen wisuda.

Bagaimana tidak, fase yang sebelumnya dihabiskan dengan fokus menuntut ilmu semata, ketawa ketiwi sambil gibahin senior, belum mengenal beban finansial dan tuntutan lain selain belajar,lengkap dengan teman-teman yang masih setia membersamai, melalui asam getir dunia perkuliahan. Sepelik-pelik masalah yang dihadapi saat itu, paling tidak jauh dari perkara drama mengejar tanda tangan dosen, atau tatkala harus bertemu dan menghadapi dosen killer.

Tahun-tahun yang aman, tenteram, dan sentosa itu mendadak berubah ketika negara api menyerang, maksud saya, ketika dunia nyata mulai menampakkan wujud aslinya, memunculkan tanda tanya besar. Fresh graduate, fresh problems.

Hikmatnya, tantangan yang diterima ketika kuliah/sekolah, dan tantangan yang diperoleh ketika memasuki dunia kerja, lebih banyak tidak simultan.

Sebagai acuan, selama duduk di bangku kuliah, pelajaran yang ditanamkan hanya sebatas teori yang bersifat formal dan ilmiah. Tidak ada mata kuliah khusus, yang mengajarkan cara bertahan hidup di dunia orang dewasa, atau kiat memilih pekerjaan untuk manusia yang tidak tahu bakat dan passion-nya apa, atau mungkin tips melewati fase quarter life crisis, tanpa kesulitan dan risiko cedera, misalnya. Tidak ada!

Bagaimana tidak terkesiap, terkejut dan ter-ter lainnya, setelah menjejak sekian belas/puluh tahun, dengan bergantung kepada orang tua, lalu begitu menyandang gelar sarjana, tiba-tiba dilepas begitu saja ke dunia antah berantah, yang sama sekali asing dan sangat jauh dari zona nyaman.

Sinambung, turut mengambil andil, kerabat-kerabat dekat, teman nongkrong, teman seangkatan dari playgroup hingga kuliah, paman, tante, sepupu satu kali hingga sekian kali, tiba-tiba saja tanpa instruksi dan aba-aba, kompak menjelma juri pengamat, tekun sekali menanyakan, progres apa saja yang telah dicapai dalam hidup setiap bersua.

Dalihnya sih, “sekadar mengingatkan”, tapi lama kelamaan, kok terkesan mengatur, bahkan seolah menghakimi.

Dari pertanyaan, “Kapan nikah?” Lama-lama, narasi pertanyaannya berganti menjadi, “Makanya, jadi orang jangan pilih-pilih, nanti tidak laku!” Kalimat “Kapan wisuda?” Besok lusa, bisa berubah bunyi, “Makanya kuliah yang benar, jangan taunya cuma main dan organisasi tok.”

Fenomena yang akan membuat anda berharap, seandainya saja lidah memiliki tulang, tentu beberapa orang tidak akan sebegitu cerewet dan berisiknya.

Padahal, tanpa dicekoki pertanyaan-pertanyaan memuakkan tersebut, otak kita sudah cukup jadi alarm ampuh, bahkan seringkali tidak tahu jeda mengulang pertanyaan-pertanyaan serupa.

Kerja di mana ya, selanjutnya? Di kantor A sepertinya cocok, tapi jam kerja terlalu padat, takut stres. Di tempat B jam kerja aman, tapi finansial mana cukup kalau cuma segitu. Di lembaga X katanya sedang lowong, tapi kan tidak sesuai passion… apa lanjut S2 saja ya, tapi kan mahal. Atau langsung nikah? Tapi sama siapa? Saya kan jomlo, eh…

Sekelumit gambaran keruwetan hidup seorang penyintas quarter life crisis, segudang pertanyaan menuntut segera dijawab, alih-alih menemukan jawaban yang tepat, malah tidak jarang berbuntut kata “tapi” yang tidak kalah banyak.

Setelah dibingungkan soal cinta dan karir, dibuat kalang kabut oleh pertanyaan-pertanyaan sensitif dari sanak saudara, quarter life crisis ternyata belum berhenti sampai disitu. Setidaknya pada beberapa orang, si-quarter life crisis ini berpotensi memberi efek insecurities. Tentu, ketika melihat teman-teman seusia kita sudah lebih sukses, mapan, punya anak lima, sementara kita, masih belum kemana-mana.

Gejolak insecure ini pun masih punya peluang beranak-pinak, membelah diri menjadi beberapa bagian, umumnya berupa rasa minder, kesepian, ragu akan potensi diri, merasa gagal, dan puncaknya bisa berakhir dengan mengutuk dan membenci diri sendiri.

Ck ck ck. Mampus kau dikoyak-koyak sepi quarter life crisis.

Indikasi inilah yang dimaksud Robbins William, sebagai salah satu faktor pemicu terjadinya quarter life crisis, the locked-out form, istilah yang dipakai ketika individu merasa tidak mampu,atau tidak siap menanggung tuntutan peran manusia dewasa.

Tafsiran serupa jua, yang berusaha dirunut dari uraian tulisan di atas. Seorang individu yang hendak dikata dewasa, tapi kok rasa-rasanya masih belum mampu dan kuasa?

Kendati merupakan gejala psikologi yang terbilang umum, namun, tetap diperlukan kiat dan siasat tertentu, agar tidak sampai mempengaruhi aspek hidup yang lain.

Upaya ini dapat dimulai, dengan memandang badai krisis ini sebagai proses/anak tangga, untuk naik kelas ke taraf hidup selanjutnya, jadikan kegagalan dan ketidakpastian sebagai pengalaman, serta kesempatan untuk belajar. Bersikap abai dengan menghindar, atau lari dari masalah tidak akan menyelesaikan apapun.

Fokus dan percaya pada potensi yang dimiliki, pun berhenti membandingkan pencapaian diri dengan pencapaian orang lain. Hidup bukanlah kompetisi atau perlombaan, waktu yang cepat ≠ waktu yang tepat. Setiap manusia memiliki jalan, garis waktu, dan jatah bahagianya masing-masing. Tentu, dilihat dari seberapa tekunnya usaha pemantasan diri manusia, menuju titik itu.

Singkatnya, sebaik-baik upaya yang dapat dilakukan, yakni penerimaan dan bertawakal melalui proses. Penerimaan diri dengan segala kekurangannya, juga untuk segala hal yang berada di luar kendali.

Semegah-megah manusia membangun rencana, sedigdaya bagaimanapun suatu usaha, Tuhan jualah setinggi-tinggi Pemasti keputusan dan Maha Mengetahui yang terbaik untuk hamba-Nya.

Sepanjang sudah mengupayakan yang terbaik di level maksimal masing-masing, maka selebihnya, tinggal berbaik sangka dan percaya kepada sang Maha Pengendali kehidupan.

Usaha, ikhtiar dan doa, selalu punya daya magis, dan mekanisme kerjanya sendiri.

Do good and good will come to you, bukankah begitu, twenties?


Sumber gambar: www.baktinusa.id/seni-bertindak-pintar-menghadapi-quarter-life-crisis/