Semua tulisan dari Arman Syarif

Guru PPKn SMK Telkom Makassar dan Alumni Sekolah Demokrasi Program Komunitas Indonesia untuk Demokrasi Jakarta

Memilih Menjadi Sekrup dan Puisi-Puisi Lainnya

Aku, Kau, dan Dinding

kau dan aku tak ada habisnya

walau hawa aspal membakar isi kepala

dan perut tercekik lapar dahaga

tetap teguh berdiri bersuara

di hadapan dinding yang berpura-pura lupa

 

di sana kita teriaki

kuping dinding memerah tak peduli

dan kita terus bergantian berorasi

demi sekadar menanti

mulut dinding melontarkan harapan basi

 

tapi itu dulu sekali

sebelum dinding menelan jati diri…

 

kini aku sendiri meninju dinding

walau kau asyik meninjau dinding

kini aku sendiri mengepal di depan dinding

meski kau tak henti mengepul di balik dinding

kini aku sendiri menanduk muka dinding

walau kau terus menunduk di kaki dinding

 

Gowa, 26 Juli 2020

 

 

Zaman yang Sepi dari Manusia

Terminal sepi

jalanan sepi

rumah ibadah sepi

perpustakaan sepi

 

Balai pelayanan sepi

selasar rumah sepi

meja makan sepi

kedai kopi sepi

 

Begitu lengang

tak ada suara percakapan manusia

tuk saling kenal saling merekatkan

saling mengingatkan

 

Kehangatan

kebersamaan

seperti sedang mengungsi

nun jauh di pulau nan sepi

 

Lalu ke mana orang-orang?

tanyaku kepada dinding

dinding pun teriak

kayak kesurupan:

 

“semua nyaris hilang, tertelan

teknologi unggah unduh

teknologi pencet-pencet

teknologi intip-intip”

 

Gowa, 09 Januari  2020

 

 

Memilih Menjadi Sekrup

“Persetan dengan moralitas umum

yang membelenggu

persetan segala rupa atribut sosial

yang determinis

setiap orang bebas memaku dan memilih arah tuju,” tandasnya

 

Sebelas tahun waktu dijalani

dalam perkhidmatan

lunglai langkah laku

padam gelora perjuangan

di depan godaan hidup

yang menjamin ketercukupan isi perut

 

Alur hidup berputar di jalanan usai

semenjak arah angin mengubah haluan

himpunan kata-kata protes

dan kepal tangan kiri

yang kerap meninju cakrawala bisu

bukan lagi zamannya

 

Sejak mengakhiri satu babakan waktu

yang cukup melelahkan

Ia sudah memilih menjadi sekrup

dengan uliran paling menawan

ia telah menggadaikan isi kepalanya

kemudian menjelma menjadi penyangga

pabrik pengrusak ekologi dan kemanusiaan

 

Makassar, 28 November 2019

 

Ilustrasi: https://in.pinterest.com/pin/25121710409612509/

Di antara Detak Jarum Jam Pagi dan Puisi-puisi Lainnya

Di antara Detak Jarum Jam Pagi

Di antara detak jarum jam pagi
tekadmu berkumpul
kau tak butuh secangkir kopi
tak butuh sentuhan matahari merah
cukup kecupan hangat di kening
dari sang istri

Bergegaslah langkahmu
membelah gigil pagi
mengabaikan embun
mengabaikan halimun

Di antara detak jarum jam pagi
hadirmu,
memantik senyuman
pengabdianmu,
mengenyangkan perut sang tuan
dan atas nama orang-orang tercinta
engkau rela keringatmu diolah
pabrik pengeruk air mata

Makassar, 02 Desember 2019

 

Gerombolan

Sekelompok orang-orang lugu
berhamburan di pelosok kampung
membawa kabar langit
esok tiada kelam

Kata-katanya apik
gema suaranya bagai halilintar
tiga slogan diulang-ulangnya:
hidupkan harapan mati
tumbangkan pesimisme
runtuhkan skeptisisme

Orang-orang telah menabalkan
berduyun-berduyun menanam harapan
oh sayang,
baru seumur jagung
para jelata memanen luka

Karsa menggulung pilu
di jalan mengulum durkarsa
kusangka sekelompok pembebas
rupanya gerombolan bandit

Makassar, 03 Desember 2019

 

Layar Kosong

Aku sudah terseok-seok
mengelilingi empat penjuru kota
mencari keramaian
berharap ada layar pertunjukan

Aku memasuki lorong-lorong kota
memandangi satu persatu
setiap bangunan di atas punggung jalan
yang berdiri semrawut

Di atas putus asa
akhirnya kudapati kerumunan orang
melotot di depan layar pertunjukan
tapi mengapa
tak ada apa-apa yang kutemukan
kecuali suara dan gambar kosong

Begitu kencang kabar angin
namun ketika biji mata berkumpul
tak ada sajian penghilang dahaga
hanya suguhan hiperrealitas
yang kekalkan kekosongan jiwa

Makassar, 27 November 2019

Wajah-wajah di Atas Aspal dan Puisi-puisi Lainnya

Wajah-wajah di Atas Aspal

1)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara genangan air
berlapis-lapis cemas
murung menatap dunia

2)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara derai air hujan
menumpahkan air mata
karena lapak dagangmu digusur

3)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara desiran lembut angin pagi
membelai tubuh kurusmu
yang lelah hidup menggelandang

4)
kutemukan wajahmu di atas aspal
di antara beningnya kaca mobil mewah
menahan perih mengulum rasa malu
lalu merengek meminta kehidupan

5)
kutemukan wajahmu di atas aspal
berdiri tegak dengan lipstik merah
menempel tebal di bibir indahmu
sambil merayu-rayu matahari

6)
kutemukan wajahmu di atas aspal
terhuyung-huyung memulung mimpi
lalu roboh terkapar

(catatan langit)

Menambang Mimpi untuk Menumbang Masa Depan

nun jauh di pulau seberang, matahari pagi telah merayap di langit timur. pelan matanya membelalak di balik celah dedaunan basah. bias cahayanya berdatangan mengetuk jendela-jendela hati orang-orang pagi. ketika terbangun, setengah dari mereka bergegas kembali menyulam mimpi suram

berbondong-bondong menjual diri demi sekeping mimpi masa depan, namun tak menyadari nilai yang diperoleh tak sepadan dengan harga diri. dimulailah penambangan, tangan mencakar-cakar di tengah kebisingan yang berdesing-desing. dimulailah teriakan-teriakan lantang di tengah gerincing suara-suara mesin

sementara tuan-tuan penentu takdir, berbekal jari telunjuk raksasa tak berjasa, berdiri angkuh di antara tumpukan mimpi. telunjuknya sanggup mengubah seseorang menjadi budak, bahkan dengan kuasanya, siap melemparkan seseorang ke kolong jembatan ketika tak mampu lagi menambang mimpi

di daratan berdebu itu, angin telah berbisik, tanah-tanah kering dan batu kerikil jadi saksi atas penambangan mimpi. semuanya sama, penumbang masa depan: hanya memikirkan cara membesarkan perut sendiri. hingga yang tersisa adalah manusia-manusia tanpa kepala menggali masa depan yang telah terkalahkan

(catatan langit, 31 juli 2019)

Aku Bisa Apa, Hanya Rakyat Jelata

Aku bisa apa
Hanya rakyat jelata
Tugasku hanya mengangguk
Atas perintah tuan kecil tuan besar
Sebab menggeleng; menunjukkan ketidaksetujuan
Akan mengundang nasib suram buram:
Namaku bisa dicoret dari daftar penerima subsidi penyambung hidup

Aku bisa apa melihat kezaliman
Kecuali hanya bisa menelan air liur yang begitu pahittt
Bila berkata seperti kaum terdidik di kota
Nanti dikira korban agitasi
Dan sedang merencanakan aksi pembangkangan
Atau nanti dibilangi tidak sopan, tak tahu tata krama

Aku bisa apa
Melihat orang-orang berdasi makan kertas, makan kursi, makan aspal bahkan memakan jatah raskin untukku
Aku hanya bisa gigit jari melihat drama kalian, mungkin hingga aku mati karena dicekik kemiskinan

(catatan langit, 15 agustus 2019)

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/tmm-textures/art/Painted-Asphalt-2-195480602

Jika Hidup adalah Perjalanan dan Puisi-puisi Lainnya

Jika Hidup adalah Perjalanan

Jika hidup adalah perjalanan
Maka buanglah beban
yang melekat di pundak
Agar ringan kaki melangkah

Jika hidup adalah perjalanan pulang
menuju Tuhan
Maka rapikan diri segera
Agar tak malu di hadapan-Nya

Perjalanan amat singkat
Jangan terlena di jalan

(Catatan langit, 3 Februari 2019)

 

Beri Aku Kata

Beri aku sembilan kata
Akan kurangkai syair terindah
Sebagai teman malam sepimu

Beri aku enam kata
Maka akan kupaksa penaku
Goreskan cerita pengantar tidur
Agar kau terjaga sepanjang malam

Beri aku tiga kata: aaa ccccc kkkk
Maka aku akan lumpuh seketika

Tak sanggup menafsir rasa
Tak sanggup membendung rasa
Tak sanggup mendeskripsikan rasa
Kata akan habis
Habis ditelan rasa
Habis…

(Catatan langit, 3 Februari 2019)

 

Bayang-bayang Kelam Masa Lalu

Menghabiskan waktu
Di pelataran parkir yang lengang
Menghadap benteng tua
Peninggalan pemerintah kolonial Belanda
Juga pernah diduduki tentara Dai Nippon
Dikelilingi pepohonan seusia kemerdekaan RI

Sosok pemuda kembali mencari esensi
Di balik eksistensinya yang rapuh diterpa zaman
Ketika menghela nafas hadirkan kontradiksi dalam benak
Mungkin ratusan pandangan hidup yang pernah dilahap berkelahi dipikiran
Seperti menyibak butir-butir hujan agar penglihatan luas

Mana jiwamu yang dulu
Mana mimpimu
Yang pernah kau teriakkan
Tak ada lagi
Yang kutemukan
Dirimu masih memuja
bayang-bayang kelam masa lalu
Bunuh dirimu sekarang juga…

(Catatan langit)
Makassar, 2 Februari 2019

 

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/realitydream/art/The-journey-XI-272510882

Menanti Presiden Pemberani untuk Indonesia Baru

Memimpin adalah jalan derita (prinsip H. Agus Salim)

Mengawali tulisan ini, penulis mengutip falsafah penantian sosiolog dan cendekiawan muslim Iran, Ali Syariati. Dalam buku yang berjudul Para Pemimpin Mustadhafin: Sejarah Panjang Perjuangan Melawan Penindasan dan Kezaliman (2001), ia menjelaskan, penantian adalah sintesis dari dua prinsip yang bertentangan yakni kebenaran dan kenyataan. Penantian merupakan jalan untuk mengatakan tidak terhadap realitas (yang timpang dan kontradiksi dengan kebenaran). Seseorang yang sedang menanti adalah bentuk sanggahan atas kondisi yang ada sekarang. Lanjut Ali Syariati:Orang yang menanti memiliki harapan dan orang yang berharap adalah hidup. Penantian adalah keyakinan pada masa depan, dengan maksud menolak masa kini. Orang yang puas dengan masa kini tidaklah menanti. Sebaliknya, ia konservatif. Ia takut akan masa depan, ia khawatir terhadap segala peristiwa. Ia menyukai status quo dan mencoba untuk mempertahankannya. Berangkat dari uraian tersebut, setidaknya bangsa ini menanti dua hal: Presiden pemberani dan Indonesia baru.

Presiden Pemberani

Presiden pemberani adalah presiden yang mampu mengambil sikap dan tindakan dalam segala kondisi. Presiden yang dalam kondisi sulit mampu menentukan pilihan, tanpa rasa takut apalagi ragu dalam mengambil keputusan. Hanya presiden pemberanilah yang mampu menolong rakyatnya, hanya presiden pemberanilah yang mampu menyelamatkan bangsa ini dari kubangan korupsi, kemiskinan, ketidakadilan ekonomi, ancaman disintegrasi nasional, jebakan politik utang luar negeri, dominasi asing atas aset-aset bangsa (kapitalisme global) dan berbagai permasalahan bangsa lainnya. Adapun persoalan kepintaran dan kecerdasan dalam memimpin, bagi penulis adalah hal kedua. Mengapa? Kepintaran dan kecerdasan tak akan berguna tanpa modal nyali atau keberanian bertindak. Tapi sekali lagi perlu digarisbawahi, berani yang dimaksud ialah dalam konteks untuk menolong rakyat dan bangsanya dari berbagai kemelut.

Mereka yang Berani

Para pemimpin bangsa kita nampaknya harus belajar dari keberanian beberapa presiden yang (sedang) pernah menjabat di masing-masing negaranya. Dari literatur yang ada, Presiden Bolivia Evo Morales yang menjabat untuk ketiga kalinya, berani melakukan kebijakan nasionalisasi atas sejumlah perusahaan asing yang beroperasi di negaranya, seperti perusahaan gas alam, perusahaan listrik milik Spanyol, dan melakukan renegosiasi yang lebih menguntungkan Bolivia, tinimbang pihak asing.

Mantan Presiden Argentina, Nestor Kirchner (1950-2010) menjabat dari tahun 2003 hingga 2007 pernah mengangkat menteri khusus untuk memburu mantan presiden yang kejam. Ia berjasa membebaskan negaranya dari krisis ekonomi. Ia pun menolak membayar utang luar negeri. Dari total utang negaranya sekitar 102,6 miliar dolar AS, Netsor Kirchner menyatakan hanya sanggup membayar US$38,5 ─ US$41,8 miliar.

Almarhum Hugo Rafael Chaves Frias (1954-2013) yang lebih akrab disapa Hugo Chaves waktu menjabat Presiden Venezuela juga pernah menetapkan kebijakan nasionalisasi. Seperti menasionalisasi berbagai proyek minyak bernilai miliaran dolar yang dipelopori perusahaan raksasa minyak Exxon Mobil dan ConocoPhilips, ia pun mengambil alih kepemilikan perusahaan telepon milik Amerika Serikat, bank milik Spanyol, perusahaan tambang emas milik Kanada, perusahaan daging asal Inggris dan pengeboran minyak perusahaan Amerika Serikat.

Dapat kita tegaskan, dalam kamus politik pemimpin-pemimpin di atas tak mengenal rasa takut untuk dikucilkan dari pergaulan global, tak takut akan kecaman dunia internasional demi memperjuangkan kepentingan nasionalnnya

Yang lebih gila lagi tentang keberanian beberapa pemimpin untuk memangkas gaji, agar anggaran negara lebih banyak dipergunakan untuk kesejahteraan rakyatnya. Seperti Evo Morales yang melakukan pemotongan gaji untuk semua kabinetnya, bahkan gajinya sendiri pun ia pangkas sekitar 50 %. Evo Morales tak sendiri, seolah-olah ia menginspirasi beberapa presiden pemberani lainnya. Sebut saja Jose Mujica, semasa memimpin Urugay dari tahun 2010 hingga 2015 rela gajinya yang kisaran Rp. 141,4 juta dipotong sampai 90 %. Mantan Presiden Brasil, Dilma Rousseff yang memimpin sejak 2011 sampai 2016 juga pernah memangkas gajinya sekitar 10 % pertahun, termasuk gaji wakilnya (dulu) Michel Temer dan jajaran menteri dalam kabinetnya ia potong.

Hal yang sama akan dilakukan oleh Presiden baru terpilih Meksiko (dilantik Desember mendatang), Andres Manuel Lopez Obrador yang bersedia memangkas 60 % gajinya sebagai upaya penghematan keuangan negara. Ia berkomitmen hanya akan menerima gaji sekitar Rp. 82 juta perbulan, ini kontras dengan presiden Enrique Pena Nieto yang menerima gaji lebih dari 200 juta perbulan.

Keberanian menempuh kebijakan yang populis tidak hanya dalam hal nasionalisasi dan pengurangan gaji, sejumlah presiden juga menunjukkan kebijakan yang sangat berpihak kepada rakyat miskin. Sebutlah kebijakan di bidang kesehatan Hugo Chaves yang meminta satu orang dokter harus bertanggung jawab terhadap beberapa keluarga miskin. Fidel Castro (1926-2016) semasa hidup dan memimpin Kuba pernah menetapkan pendidikan gratis untuk semua jenjang buat penduduknya. Mahmoud Ahmadinejad yang memimpin Iran dari tahun 2005 sampai 2013 pernah membangun perumahan rakyat miskin, selain itu ia juga dikenal sebagai pemimpin politik yang sering mengecam kebijakan ekonomi politik Amerika Serikat dan kerap menyerukan anti Israel.

Sebenarnya bangsa Indonesia juga pernah memiliki pemimpin pemberani seperti Ir. Soekarno yang menempuh kebijakan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan yang dikelola oleh Belanda sekitar tahun 1957─1960. Lalu apakah mungkin pemimpin bernyali besar akan lahir kembali di negeri ini, di era sekarang ini ? Wallahu a’lam bish-shawabi. Saya sendiri melihat, banyak pemimpin yang lahir dari pemilu demokratis tetapi ‘tak punya’ nyali atau keberanian dalam bertindak mengubah keadaan, mengambil kebijakan mesti tidak menyenangkan atau ditentang pihak asing. Kita lihat saja nanti.

Indonesia Baru

‘Indonesia lama’ adalah Indonesia yang penuh dengan KKN, kekerasan, pelanggaran HAM, dan utang luar negeri. Indonesia lama adalah negara yang anti kesejahteraan sosial, anti keadilan. Indonesia lama, mengutip istilah Amin Rais (2001) penuh dengan mentalitas permisif, penuh money politic, hipokrisi, mentalitas egosentris, lemahnya patriotisme dan nasionalisme bangsa. Kata Amin Rais, “dengan adanya globalisasi dan liberalisasi, kita telah dengan secara tidak sadar melacurkan kepentingan nasional kepada kepentingan asing”.

Negara Indonesia lama itu masih berkutat pada penyakit mental seperti yang pernah dikemukakan oleh antropolog termasyhur Indonesia, Koentjaraningrat. Dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan (1974), Koentjaraningrat memaparkan kelemahan-kelemahan dalam mentalitas masyarakat kita : (1) sifat mentalitas yang meremehkan mutu; (2) sifat mentalitas yang suka menerabas; (3) sifat tak percaya kepada diri sendiri; (4) sifat tak berdisiplin murni; (5) sifat mentalitas yang suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh.

Sedangkan ‘Indonesia baru’ adalah Indonesia yang bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. Indonesia baru adalah negara yang sejahtera, adil, dan demokratis, bebas dari utang luar negeri dan penyakit mental, yang bersungguh-sungguh membumikan konsep Trisakti Bung Karno: kemandirian-kedaulatan politik, kemandirian ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan.

Indonesia lama adalah masa lalu, sedangkan Indonesia baru adalah masa depan. Indonesia lama adalah realitas, Indonesia baru adalah impian dan harapan (idealitas). Indonesia lama adalah jalan mundur sedangkan Indonesia baru merupakan jalan menuju kemajuan di segala lini kehidupan. Indonesia baru menuntut keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang ini. Indonesia baru masih tertimbun oleh watak manusia lama, yang kontra kemajuan dan keadilan. Indonesia lama masih jauh’ dari misi dan tujuan negara, sedangkan Indonesia baru amat dekat dari tujuan negara. Dan untuk memajukan dan mewujudkan Indonesia baru itu, kita butuh presiden yang pemberani. []

Literatur Penunjang :

Ali Syariati, Para Pemimpin Mustadhafin: Sejarah Panjang Perjuangan Melawan

Penindasan dan Kezaliman, Bandung: Muthahhari Paperbacks, 2001

Eko Prasetyo, Inilah Presiden Radikal, Yogyakarta: Resist Book, 2006

Amin Rais, dkk., Reformasi dalam Stagnasi, Jakarta: Yayasan Al-Mukmin, 2001

Koentjaraningrat, Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta: PT. Gramedia, 1974)

https://id.m.wikipedia.org
www.berdikarionline.com
m.liputan6.com
https://nasional.kompas.com
https://www.bbc.com
https://m.detik.com
https://international.sindonews.com

 

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/firmanjp/art/Jokowi-Prabowo-in-WPAP-465059763