Semua tulisan dari Asran Salam

Founder Rumah Baca Akkitanawa, Wakil Ketua Pemuda Muhammadiyah Luwu. Rekaktur Kalaliterasi.com.

Ramalan Gattaca dan Kenyataan Crispr-Cas9

Gattaca sebuah cerita lama. Sebuah fiksi ilmiah yang dirilis 1997. Anredw Niccol sang sutradara seperti sedang meramal akan masa depan. Melalui aktor Ethan Hawke berperan sebagai Vincent,  Niccol ingin menggambarkan masa depan manusia. Masa depan genetika yang bisa direkayasa.

Gattaca film yang bercerita tantang Vincent yang terlahir tak sempurna. Gennya mengalami cacat sejak lahir. Tak punya masa depan. Namun, ia tak mau menyerah pada keadaan. Cita-citanya menjadi astronot dan terbang ke luar angkasa masih tertanam kuat di dalam dirinya. Syarat bahwa hanya “manusia sempurna” yang bisa melakukan semua itu tak membuatnya surut.

Vincent bekerjasama dengan seseorang yang terlahir sebagai “manusia sempurna” Jerome E. Morrow (Jude Law) tapi pada kenyataannya harus hidup cacat akibat kecelakaan mobil dan menjalani hidup dengan bantuan kursi roda.Walau demikian, secara hukum, Jerome, tetap dianggap sebagai “manusia sempurna”.

Vincent Freeman dan Jerome E. Morrow dengan teliti dan dukungan teknologi canggih yang mereka buat dan kembangkan, semua dijalankan secara disiplin, akhirnya berhasil mengelabui segala sistem deteksi gen yang ada.

Vincent bisa memastikan tubuhnya bersih dari kemungkinan unsur tubuh seperti rambut yang bisa dipakai untuk identifikasi saat keluar rumah. Cita-cita Vincent sebagai astronot terbang ke ruang angkasa pun nyaris terwujud. Tapi, pembunuhan di Gattaca–pusat stasiun angkasa tempatnya kerja menunda semuanya.

Roger Ebert kritikus film Chicago Sun-Times, punya catatan menarik tentang Gattaca. Ia memulai catannya dengan pertanyaan “apa itu rekayasa genetika?” Sebuah tanya tentang sesuatu yang dimungkinkan: rekayasa genetika. Lalu ia memberi jawaban atas tanya yang ia ajukan sendiri. “Make the child perfect in the test tube, and save money later. Throw in perfect health, a high IQ and a long life-span, and you have the brave new world of “Gattaca,”….”.

Roger Ebert melihat Gattaca sebagai film memberikan harapan. Harapan akan lahir dengan kesempurnaan gen, kesehatan yang sempurna, intelegensi yang tinggi serta hidup yang panjang. Dan bagi Roger, Gattaca adalah dunia baru yang berani dihadirkan.

***

Jauh dari Gattaca sejak pertama kali dirilis, diputar di bioskop. Di sebuah cafe, Poerto Rico tahun 2011, dua perempuan bertemu setelah mengikuti konferensi ilmuwan. Satu dari Perancis satu lagi dari Amerika. Emmanuelle Chanpentier dan Jennifer Douda. Akhirnya mereka membangun kesepakakatan kerja sama.

Mereka ingin membuat ulang gunting genetik bakteri dalam tabung reaksi. Ini sesarinya untuk melanjutkan apa yang dilakukan oleh Chanpentier sebelumnya. Mereka ingin lebih menyempurnakannya. Mereka sedang merancang sejarah masa depan dunia. Yang dulu mungkin masih fiksi. Masih cerita dalam film-film seperti Gattaca.

Setahun setelah pertemuan itu. Tahun 2012 mereka merilis temuanya dalam makalah. Dan inilah tonggak baru dalam ilmu genetika: gunting genetik Crispr-Cas9. Ini bisa digunakan semua mahluk hidup. Dengan gunting genetik Crispr-Cas9, kita bisa menikmati tumbuhan yang tahan akan hama. Kita akan menanam bibit yang unggul tanpa harus menggunkan lagi racun hama. Makan bisa semakin sehat.

Hal buruk dari manusia bisa dibuang. Bisa digunting. Gen buruk bisa dipotong dan akan lahir manusia yang lebih sempurna. Penyakit manusia bisa diatasi. Kanker semakim mudah disembuhkan. Penyakit turunan bisa diputus. Gen bisa lagi tak diwariskan turun menurun seperti selama ini. Evolusinya bisa dibelokkan sesuai dengan yang kita inginkan.

Hadirnya gunting genetik Crispr-Cas9 kita bisa bayangkan bila nasib manusia sebenarnya sudah ditentukan sejak ia lahir. Elemen genetikal dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Semua bisa dideteksi oleh teknologi secara tepat dan akurat. Dan lalu bisa menjadi standar paten nasib seseorang. Kita tak lagi berharap pada pendidikan dan kemampuan–apa pun itu. Tapi semuanya pada elemen genetikal.

***

Pada laju temuan yang kian pesat. Sains dan teknologi semakin terang benderang. Dulu, di tulisan yang lain, saya pernah menuturkan bahwa untuk abadi bagi sains tak mesti mensyaratkan kematian. Keabadian bisa sekarang dan di sini. Di dunia ini. Ini adalah proyek besar sains yang makin kesini semakin laju.

Saya tidak tahu persis memosisikan agama pada laju ini. Keyakinan seolah mulai terbentuk dengan apa yang ditawarkan sains dan teknologi. Entah kedepan seperti apa. Tapi, sepertinya kejutan akan terus hadir bersama rasa penasaran manusia “menaklukkan” yang selama ini disebut keterbatasan. Mengatasi ketidaktahuan manusia dan keinginan lebih banyak untuk menyingkap misteri semesta.

Bala Tentara Itu, Memisahkan Cinta yang Mesra

Pohon-pohon tumbuh subur.  Lebat. Tanah tak pernah kering. Walau berbulan-bulan hujan tak turun. Setiap pagi dan menjelang magrib kabut tipis turun pelan-pelan menyelimuti gunung yang menjulang tinggi. Aku dilahirkan dan tumbuh di dataran tinggi. Aku dilahirkan sebelum bangsaku merdeka. Sekitar tahun 1940. Namun tahun itu bukanlah tahun pasti atas kelahiranku. Itu hanya perhitungan ala kadarnya dari orang tuaku. Di masa itu, di masa bangsaku masih terjajah tanggal dan tahun lahir tidaklah begitu penting. Yang lebih penting adalah bagaimana tetap bisa bertahan hidup.

Hidup di dataran tinggi, daerahku tidaklah terlalu tersentuh kaum penjajah. Kecuali beberapa kali para tentara penjajah datang bersama pengajar agama mereka. Mengajak warga desaku agar meyakini agama mereka. Namun orang-orang desaku sudah memiliki keyakinan sejak turun temurun dari leluhurnya. Dan warga desaku sangat berpegang pada ajaran leluhur itu. Pengajar agama baru itu, tak banyak menemui hasil. Hanya segelintir orang saja yang ikut. Sebagian besar tetap pada keyakinan leluhur.

Ayahku salah satu pemuka agama leluhur. Di antara pemuka agama yang ada, ia paling dituakan. Warga desa silih berganti datang meminta petunjuk kepada ayahku. Setiap ingin memulai menanam, pindah rumah, atau ingin mengadakan pesta perkawinan, warga pasti datang ke rumahku. Meminta waktu dan hari yang baik. Berharap jauh dari bencana. Ayahku sebelum memberi petuah, sejenak melakukan ritual di ruangan khusus di rumah kami. Setelah itu, baru memberi petunjuk.

***

Sandalen. Itulah nama yang berikan oleh orang tuaku. Aku tidak tahu persis artinya. Tapi pernah waktu aku masih kecil, ayahku bercerita bahwa nama itu berasal dari mimpi ayahku. Ia bermimpi melihat cahaya terang hingga matanya silau diiringi suara yang mengulang-ulang kata Sandalen. Saat itu, ibuku tak lama lagi melahirkan diriku.

Menurut ayahku, saat menafsir mimpinya, bahwa Sandalen itu adalah cahaya terang kebenaran. Yang memisahkan gelap. Cahaya yang menembus langit. Sebenarnya, aku tidak pernah peduli dengan segala macam tafsiran namaku hingga aku besar nama itu tetaplah nama.

Namun seiring usiaku bertambah. Kala remajaku menanjak, Bagian tertentu tubuhku mulai menonjol. Orang-orang di desaku sering terpukau karena melihat wajahku bercahaya. Cantik dan damai. Meneduhkan. Hingga orang-orang sangat senang memandangiku. Anak muda berlomba menarik perhatianku. Yang membuat mereka semakin penasaran karena aku tak pernah menggubris mereka. Di antara pemuda itu, ada satu yang tak pernah berusaha menarik perhatianku. Ia pemuda ceria muda bergaul pada siapa pun kecuali kepada gadis-gadis desa. Ia sangat pemalu. Jangankan bicara, bertatapan saja ia tidak pernah. Salmon kikuk bila berdekatan dengan perempuan.

Sikap Salmon yang pemalu pada wanita, justru membuatku penasaran. Aku yang tak tersentuh perhatian oleh anak muda yang lain, malah berupaya mencuri perhatian Salmon. Aku melihat ia seperti memiliki daya magis yang selalu membuatku merasa tenang bila melihatnya. Sebenarnya ia tidak tampan bila dibandingkan dengan anak muda yang lain. Salmon perawakannya biasa saja. Tapi aku sangat tertarik padanya.

Pernah suatu hari, kala pesta panen dihelat, semua orang berkumpul di rumahku. Pekarangan rumahku yang luas disulap menjadi tempat pesta. Jauh sebelum hari pesta panen, warga sudah bergotong royong membuat tenda yang rangkanya dari bambu. Tiang-tiang yang menopang rangka diambil dari pohon kecil yang ada di hutan.

Ada ritual tertentu yang dilakukan oleh ayahku sebelum warga menebang pohon di hutan. Ayah sebelumnya duduk di depan pohon yang ditebang mulutnya komat-kamit membaca mantra tertentu. Baru setelah itu warga dipersilahkan menebang. Tapi setelah menebang pohon, warga yang lain diperintahkan mencari bibit pohon untuk ditanam sekitar pohon yang telah ditebang.

Anak muda desaku tanpa kecuali ikut membantu para tetua. Salmon yang riang begitu menghibur kawan-kawannya dengan lelucon. Dengan cerita-cerita lucu yang membuat semua yang mendengarnya akan tertawa terpingkal-pingkal. Tak ada yang membenci Salmon. Semua orang senang    dan menyayangi Salmon.

Aku bersama gadis desa yang lain, juga sibuk menyiapkan makanan. Sesekali sekelompok anak muda yang sedang berkumpul di mana Salmon ada, berkelakar hingga terdengar di tempat kami para gadis-gadis bekerja. Teman-temanku pun jadi riuh bergosip. Mengurai satu per satu watak anak-anak muda itu. Dan kesimpulannya sama denganku. Mereka sangat respek pada Salmon yang pemalu pada wanita namun  sangat riang ke sesama lelaki.

***

Aku kembang yang mekar tak tersentuh di desaku. Salmon adalah kumbang yang tak pernah hinggap pada kembang. Aku mengaguminya. Sepertinya aku jatuh cinta padanya. Entah melalui apa aku harus menyampaikan perasaanku. Aku tak mungkin meminta gadis lain yang memberitahu Salmon. Sebab gadis-gadis lain juga menaruh hati padanya. Aku mencari cara. Hingga alamat untuk mendekatinya terbuka lebar. Aku tahu bahwa kebun ayah Salmon berdekatan dengan kebun ayahku. Salmon tidak pernah absen membantu ayahnya di kebun.

Di pagi yang cerah, matahari sudah sedepah ketika ibu selesai menyiapkan sarapan. Ayah, ibu dan dua orang kakakku, kami sarapan bersama. Selepas itu, ayah dan dua saudaraku bersiap-siap ke kebun. Aku pun meminta untuk ikut bersama mereka. Saudaraku yang tua menyela.

“Kok baru kali ini mau ikut ke kebun.”

“Aku sumpek di rumah terus,” jawabku sambil tersenyum.

“Yang penting tidak merepotkan,” celetuk kakakku yang satu.

“Ok. Saya jamin.”

Aku akhirnya dibolehkan ikut. Kami menelusuri jalan setapak menuju kebun. Jalan yang sisi kanannya jurang sedang di sisi kirinya adalah gunung. Kami butuh jalan sekitar satu jam untuk tiba di kebun. Jalannya yang mendaki membuatnya kami melambat. Aku harus berapa kali istirahat. Aku tak menyangka medannya seberat ini. Aku kira jalannya tidak terlalu terjal sebagaimana jalan-jalan di dekat rumah. Hanya ayahku yang menungguiku bila aku singgah istirahat. Kakakku yang jauh di depan cuma sempat berteriak mengejek, “masih mau ikut!”. Mereka tidak tahu yang sebenarnya bahwa aku mengambil resiko berjalan seperti ini agar aku bisa bertemu Salmon dan berharap saling menyapa lebih akrab.

Tiba di kebun dengan nafas terengah-engah kakakku yang sedari tadi tiba, bahkan sudah menikmati kopi dan menghisap rokok menertawai meledek dan mengulang kata yang diteriakkan sebelumnya; masih mau ikut! Aku hanya cemberut menanggapi ucapannya. Mereka tertawa terbahak-bahak, ayahku juga ikut seperti puas melihat penderitaanku.

Aku memilih istirahat dengan berbaring di pondok kebun. Sedang ayah dan kedua kakakku sudah sibuk membersihkan rumput yang menjalar dan mengelilingi batang cengkeh. Satu per satu batang cengkeh dibersihkan. Kulihat ayahku ke arah pohon cengkeh yang berbatasan dengan kebun Salmon. Tak lama itu, kudengar sayup ayahku mengobrol. Aku menghampiri ayahku. Berjalan dengan sisa tenaga. Aku ingin memastikan bahwa ayahku mengobrol dengan ayahnya Salmon. Benar. Ayahku sedang duduk di bawah pohon cengkeh begitu pun dengan ayah Salmon.

Mereka berdua memang sangat akrab satu sama lain. Melihatku datang. Ayah Salmon menyapaku. Aku membalas sapaannya sambil menundukkan kepala. Tak lama itu, yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Sepertinya apa yang kurencanakan sesuai yang aku harapkan. Salmon muncul yang terlihat kelelahan. Ternyata ia datang mengambil air minum yang dibawa oleh ayahnya. Ia melihatku sambil tersenyum. Jantungku berdebar-debar. Ini kali pertama ia tersenyum sama perempuan. Mudah-mudahan ini pertanda baik. Gumamku dalam hati.

***

Aku hanya tamatan Sekolah Rakyat. Hampir semua remaja di desaku lulusan Sekolah Rakyat. Bahkan ada beberapa tidak mengenyam bangku sekolah. Tak ada yang mampu melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi sebab sekolah lanjutan hanya ada di kecamatan yang jaraknya sangat jauh. Untuk sampai di kecamatan bisa ditempuh satu hari. Hal termewah yang kami punya jika sudah bisa baca tulis. Sudah bisa menulis catatan tentang perasaan kami. Semacam menulis di buku diary.

Dengan kemampuan bisa menulis, aku menuliskan perasaanku terhadap Salmon. Di atas buku tulis, aku mengurai bagaimana cinta ini muncul seperti benih, tumbuh seperti pohon yang kian hari batangnya semakin kuat. Rantingnya   menjalar ke mana-mana. Sisa menunggu buah yang manis dan lezat.

Di situ aku tulis begitu bahagianya jika kelak aku dapat bersanding dengan Salmon. Sama-sama mengucap janji suci di depan altar pemujaan. Sama-sama membesarkan anak. Menemaninya berlarian menulusuri lereng-lereng gunung desaku. Mengajarkan ajaran-ajaran suci leluhur sebagaimana yang diajarkan kepada kami. Ajaran yang harus menghargai sesama, mengambil dari alam secukupnya sebab bila berlebihan Tuhan akan murka. Mengajarkan tentang pentingnya menjaga nyawa sesama. Sebab membunuh satu orang sama saja membunuh semua orang.

Hampir setiap hari aku menuliskan perasaanku hingga buku tulis jadi penuh. Semuanya sudah tertuang di buku tulis itu. Tapi aku tetap dihantui pikiran untuk apa aku menulis semua ini. Jika Salmon tidak tahu. Jika Salmon tak membacanya. Aku terus berpikir bagaimana cara perasaanku ini diketahui oleh Salmon. Dan bagaimana caranya buku tulis ini bisa dibacanya.

***

Pagi yang bersahabat. Kabut tak begitu tebal. Jarak pandang lumayan jauh. Aku bersama ayah dan kedua kakakku menelusuri jalan yang sering dilalui menuju kebun. Kini aku rajin ke kebun. Alasannya agar aku bisa bertemu Salmon. Walau tak pernah berduaan cerita. Tapi melihatnya tersenyum padaku itu sudah menyenangkan. Buku catatan perasaan aku bawa. Berharap di kebun ada kesempatan memberikan kepada Salmon. Tentunya tanpa sepengetahuan ayah dan kakakku.

Tiba di kebun seperti biasa dengan nafas terengah-engah. Lagi-lagi ketawa mengejek dari kedua kakakku terdengar jelas. Setelah beristirahat sejenak, ayah dan kakakku bekerja menaburi kotoran sapi ke tanah dekat batang cengkeh. Ini akan menjadi pupuk yang bisa menyuburkan tanaman.

Sedang aku memilih beristirahat di bawah pohon batang cengkeh yang rindang dekat kebun Salmon. Berharap Salmon lewat dan buku catatan berisi segudang perasaanku bisa kuberikan padanya. Dan benar Salmon ternyata sedang bekerja pas batas kebun ayahku. Kudengar dari sayatan parangnya membabat rumput menjalar melilit batang cengkeh miliknya.

Aku memberanikan diri menghampirinya. Ketika aku semakin mendekat dan menyadari kedatanganku Salmon terkejut lalu kelihatan salah tingkah. Walau demikian ia berusaha senyum melihatku. Aku menyapanya. Ia membalas dengan terbata-bata. Rupanya ia masih gugup. Setelah menjelaskan maksud kedatanganku aku mengeluarkan buku catatan perasaanku lalu memberinya. Ia menerimanya dengan wajah masih keheranan bercampur gugup. Aku mengira ia tidak menyangka aku akan menghampirinya seperti ini. Sebelum aku kembali dan ayah melihatku, aku berpesan padanya untuk membalas catatan perasaanku. Ia menganggukkan kepala tanda setuju sambil tersenyum namun masih dengan wajah keheranan.

***

Berapa hari berselang aku memberikan buku catatan perasaanku,  di batas kebun ayahku dan bapaknya. Di bawa terik matahari dibarengi dengan hawa dingin pegunungan, Salmon memberiku balasan tapi tidak dalam bentuk buku catatan seperti milikku. Aku melihat hanya beberapa lembar kertas yang telah dilipat.

Aku mengambil kertas itu lalu kemudian buru-buru meninggalkannya. Takut ketahuan oleh ayahku beserta kedua saudaraku. Namun sebelum benar-benar aku meninggalkannya, aku tetap berterima kasih kepadanya karena mau membalas catatanku. Setibanya di rumah, belum sempat mandi dan ganti baju, aku membuka surat balasannya. Dengan perasaan deg-degan, aku mulai membacanya.

Dari surat itu, aku baru tahu ternyata Salmon juga sangat menyukaiku. Bahkan ia sudah menyampaikan ke bapaknya untuk datang ke rumah melamarku. Namun bapaknya enggan untuk datang. Alasannya, mana bisa keluargaku yang terpandang, khususnya ayahku sebagai pemuka agama menerima keluarganya yang biasa-biasa saja. Tapi dengan buku catatan perasaanku, ia berupaya meyakinkan bapaknya.

***

Salah satu yang menyenangkan dalam hidup jika yang diharapkan terjadi. Setidaknya itulah saya rasakan kala orang tua Salmon datang ke rumahku. Datang menemui kedua orang tuaku. Menyampaikan keinginan anaknya yang hendak menikahiku. Ayahku memanggilku dan meminta pendapatku. Kedua orang tuaku tidak mau memberi keputusan sebelum meminta pendapatku. Aku tersipu malu saat harus dimintai pendapat. Tapi aku harus menjawab. Aku tidak mau ayahku mengambil keputusan lain dari yang kuinginkan.

“Salmon lelaki yang ramah, santun dan tidak memiliki jejak yang buruk. Aku tidak masalah jika ayah menerimanya untukku.”

Mendengar pendapatku, ayahku mengambil keputusan dan menyampaikan kepada orang tua Salmon bahwa kehendak anakmu diterima. Berikutnya, ayahku meminta membicarakan hari perayaan dilain waktu. Untuk hari perayaan perlu untuk diundang tetua kampung.

Setiap pagi wajahku berseri. Tak rasanya menunggu hari perayaan pernikahan kami. Hari-hari terasa lama. Putaran waktu seolah lambat. Lusa tetua kampung akan berkumpul di rumahku. Mereka akan membicarakan hari pernikahanku. Memilih hari yang cocok. Hari dalam tradisi di desaku yang tak menghadirkan bencana.

***

Sudah tersiar kabar, negeriku sudah menyatakan merdeka. Para penjajah telah takluk. Mereka sudah pulang ke negerinya sendiri. Ternyata kemerdekaan negeri sudah lama diumumkan namun baru beberapa hari lalu tiba di desaku. Yang membawa kabar salah satu warga yang baru saja pulang dari kecamatan.

Negeri ini, katanya sudah menjadi negeri yang berdaulat. Sudah bisa menentukan nasib sendiri. Bisa membangun daerah sendiri. Tapi para tetua di kampung menanggapi kemerdekaan ini biasa saja. Ini mungkin karena daerah kami tidak merasakan langsung penjajahan. Masyarakat desaku sudah hidup damai dengan apa yang mereka miliki sekarang. Mungkin di batok kepala timbul pertanyaan apa arti kemerdekaan bagi kami warga desa yang jauh di pelosok seperti ini.

Tapi dalam laju waktu, kemerdekaan itu pada akhirnya punya dampak di desaku. Kali ini bukan dampak baik. Kedamaian desa kami terusik. Terkoyak oleh kemerdekaan yang diperebutkan oleh sesama mereka. Kini muncul di mana-mana pasukan bersenjata melawan pemerintah negeri ini. Alasannya bermacam-macam. Salah satu pasukan bersenjata yang terdiri eks pejuang yang merangkul dan memaksa masyarakat untuk bergabung tiba di desaku. Mereka punya cita-cita ingin menegakkan ajaran agama Islam. Ingin mendirikan negara Islam.

Pasukan itu tiba di subuh hari lengkap dengan senjata. Di subuh hari itu, mereka  mengetuk pintu rumahku. Ibu yang sedari tadi bangun dan bekerja di dapur terkejut. Siapa gerangan di subuh hari begini yang mengetuk pintu. Ibu menebak, mungkin yang datang salah satu warga yang kerabatnya sakit. Biasanya memang begitu jika ada warga yang sakit datang pasti ke rumah untuk diobati. Ayahku dianggap mampu memiliki keahlian dalam menyembuhkan beberapa penyakit.

Tapi kali ini sungguh di luar dugaan. Pas ibu saya membuka pintu. Ia kaget luar biasa melihat orang asing datang.

“Di mana bapak?” tanya yang mengetuk pintu.

“Masih tidur pak,” jawab ibu saya.

“Bangunkan! kami dari pasukan jihad ingin bicara,” dengan suara yang keras dan lantang meminta kepada ibuku sambil menodongkan senjata.

Ibuku berbalik melangkah ke tempat tidur ayahku dengan langkah yang gemetar. Tak lama itu, ayahku menemui orang-orang itu.

“Ada ya apa?” tanya ayahku dengan sopan

“Bapak tetua di kampung ini?”

“Benar pak”

Setelah mengaku demikian, ayahku kemudian disuruh untuk ikut dengan mereka. Sambil menodongkan senjata. Ayahku mau tak mau harus ikut. Walau ayahku tak pernah berhenti bertanya. Apa sebenarnya yang terjadi. Aku yang menyaksikan di sela-sela dinding kamarku gemetaran dan penuh kekawatiran. Kuatir pada ayahku.

Matahari mulai muncul. Kabut masih menyertai matahari. Walau kali ini sangat tebal. Cuaca sangat dingin.  Ayahku bersama laki-laki muda dan tua, ternyata di kumpul di salah satu tanah lapang. Di sana mereka disampaikan oleh komandan pasukan jihad itu bahwa maksud kedatangan mereka adalah mengajak warga desaku untuk bergabung dengan mereka. Memeluk agama mereka. Bagi warga yang tidak mau ikut. Dipersilakan pergi dari desaku. Dan hartanya bukan lagi miliknya. Kalau melawan tidak ada pilihan lain. Mereka akan ditembak mati.

Ayahku berupaya bernegosiasi dengan pasukan jihad itu. Ayahku meminta bahwa warga akan menanggung semua hidup mereka asal yang tidak ikut dengan mereka tidak diusir dari desa. Namun komandan pasukan jihad itu tetap bersikeras bahwa tak ada pilihan selain yang mereka tawarkan.

Warga semuanya ketakutan. Tak ada yang berani mengangkat wajahnya. Tak ada yang berani bicara selain ayahku. Upaya ayahku bernegosiasi gagal total. Desaku yang awal damai dan tenteram menjadi mencekam. Pagi itu tak lagi seindah dengan pagi-pagi sebelumnya.

Pukul 10 pagi, suasana tak ada yang berubah. Para lelaki desa masih dikumpul. Kemudian tak lama itu tanpa terkecuali semua warga di kumpulkan. Tibalah waktunya kami harus memilih. Mengikuti mereka atau meninggalkan desa dan tak lagi memiliki harta benda. Semuanya menjadi miliki mereka. Mendengar pilihannya seperti itu, salah satu warga menjadi marah dan mencoba melawan dengan menyerang salah satu pasukan jihad. Namun naas menimpanya. Ia tewas dengan beberapa tembakan.

Saat-saat getir dan memilukan itu harus dihadapi oleh warga desa. Dilema mengintai dalam benak mereka. Ketakutan menjalar ke tubuh mereka. Bagaimana tidak mereka tidak pernah merasakan seperti ini. Tidak pernah berada pada situasi sesulit ini.

Dengan wajah memerah penuh amarah yang ditahan. Ayahku melangkah maju. Kemudian ia berbicara di hadapan warga. Bahwa ayahku tak ingin mengikuti mereka dan siap meninggalkan desa ini. Ayahku kemudian memisahkan diri. Mendengar itu, ibu-ibu menangis histeris. Tak lama itu sebagian besar warga desa mengikuti ayahku. Dari jauh aku melihat keluarga Salmon tak mengikuti rombongan kami. Ia tetap tinggal. Sudah pasti ia memilih mengikuti pasukan jihad itu.

Siang itu juga, dengan hanya membawa beberapa lembar pakaian, makanan secukupnya, kami rombongan yang menolak mengikuti mereka meninggalkan desa. Wajah sedih penuh amarah terlihat jelas. Kami rombongan menelusuri jalan menuju hutan yang lebih dalam. Yang tujuh sebuah lembah. Kami akhirnya bermukim di tempat itu.

***

Februari 1965 semuanya berakhir. Pemerintah akhirnya menumpas pasukan jihad. Sekitar 3 tahun kami menderita di lembah itu. Terancam kelaparan. Kami hanya memakan apa yang disediakan oleh alam. Kami lama bergelut dengan dingin yang menyengat hingga bisa bernaung di pondok yang baru dibuat oleh para lelaki.

Setelah semuanya berakhir. Semuanya dipastikan aman. Kami semua kembali ke desa. Walau beberapa orang tetap memilih tinggal di lebah. Sayang meninggalkan apa yang mereka mulai. Di sisi lain rasa trauma masih mendekapnya dalam. Ayahku memutuskan pulang ke desa tapi tetap dengan pegangan jika semuanya belum aman betul, ia akan kembali ke lembah. Setiba di desa setelah berjalan beberapa hari bersama rombongan semua jadi jelas bahwa desa memang sudah aman. Situasi desa belum banyak yang berubah. Selain adanya bangunan baru peribadatan yakni masjid.

Melihat kami balik ke desa. Warga yang sebelumnya ikut pada pasukan jihad menjadi takut kepada kami. Tapi ayahku sudah berpesan kepada kami semua bagaimanapun mereka adalah saudara kita. Biarkan mereka seperti itu, dan menjalani apa yang mereka yakini. Intinya jangan pernah menggangu mereka.

Ayahku menuju rumah yang kami tinggal. Rumah itu sudah kosong. Konon setelah kami tinggal, menjadi hunian pasukan jihad itu. Di jalan menuju rumah. Ayahku bertemu dengan ayah Salmon. Mereka berpelukan sambil menangis.Selama 3 tahun ini, ternyata ayah Salmon yang merawat kebun ayahku. Walau hasilnya para pasukan jihad itu yang nikmati.

Tak terasa sudah satu bulan kami pulang ke desa. Di antara warga yang baru pulang dengan yang tinggal dan sudah berubah keyakinan menjadi Islam terjadi kikuk. Satu sama lain. Perasaan dikhianati masih tersimpan dalam lubuk hati para warga yang menolak. Sementara itu, perasaan benar juga menghinggapi mereka yang berubah keyakinan. Alasan untuk bertahan hidup yang mereka pegangi.

Setahun berlalu. Semuanya mulai kembali normal walau tetap ada yang berbeda. Sebagian sudah memiliki keyakinan lain. Di sore yang ranum. Kabut-kabut tebal sudah mulai berseliweran hawa dingin mulai menusuk. Ayah Salmon datang ke rumah. Ia bermaksud melanjutkan apa yang dulu terhenti oleh badai pasukan jihad. Bermaksud meneruskan pembicaraan waktu pernikahan aku dan Salmon. Ayahku menerima ayah Salmon. Namun tak menerima untuk maksud ayah Salmon. Ayahku tak lagi ingin meneruskan pernikahan kami. Alasannya tak lain tak bukan adalah keyakinan. Dan aku harus menerima itu begitu pundengan Salmon.

Pada akhirnya kami harus berjalan pada gelombang yang berbeda. Ada titik kami dipertemukan, namun ada garis yang memisahkan. Agama datang tak ramah pada cinta kami.  Sebenarnya bukan pada agamanya. Tapi cara manusia menjalaninya. Kami dipisah oleh cara menjalaninya. Orang tuaku tak menginginkan ada beda keyakinan dalam lingkup rumah tangga. Karena itu sangat merepotkan.Kami saling mencintaiseperti matahari yang tak pernah lelah menyinari bumi.

 

Ilustrasi: https://www.shutterstock.com/tr/video/clip-12989141-love-story-happy-end-couple-walking-sunset

Pohon Tua dan Kisah Cinta yang Muram

Bagaimana caranya engkau membujuk ayahmu agar merestui hubungan kita. Tidakkah ayahmu, sangat tidak menyukai ayahku? Bukankah ayahmu menganggap keluargaku, terutama ayahku sebagai orang meyimpang. Dan sibuk menyampaikan ke warga-warga yang lain. Melarang warga yang lain untuk bergaul dengan keluargaku. Kita memang saling mencintai. Tapi adanya ini, aku tidak tahu hubungan kita seperti apa. Apalagi bila sudah ketahuan oleh ayahmu.

Aslam kekasihku hanya terdiam lesu di saat aku mencecar pertanyaan demikian. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Sebab ia tahu persis bagaimana kekehnya kedua orang tuanya terutama ayahnya terhadap keluargaku. Ia tidak bisa menerima kebiasaan keluargaku.

Aku dan Aslam sudah saling mencintai sejak kelas satu Madrasah Aliyah. Kini, kami sebentar lagi akan wisuda. Kami kuliah di kampus sama walau berbeda jurusan. Ia mengambil Jurusan Ekonomi, aku Jurusan Tata Boga.

***

Aku anak terakhir di keluargaku. Tumbuh dan besar dari asupan keringat orang tuaku sebagai petani. Setiap pagi, Ayahku menelusuri jalan tani untuk sampai di sawahnya. Sawahnya tidak terlalu luas. Tapi hasil panennya bisa membuat di rumah tidak membeli beras berbulan-bulan. Tak hanya itu, sebagian hasil panen bisa untuk menyekolahkan saudara-saudaraku juga aku.

Desa tempatku lahir, sebagian besar warganya hidup dari bertani. Ada yang PNS namun tidak seberapa. Desaku, berada di pinggir gunung dan jauh dari kota. Bila ingin ke kota, kami bisa menghabiskan berjam-jam untuk tiba.

Dari segi agama, warga desaku terbilang taat. Islam menjadi agama satu-satunya yang ada. Hanya satu masjid yang ada dan selalu ramai di waktu-waktu salat. Yang paling ramai adalah waktu Magrib dan Isya dan juga waktu salat Jumat. Ayahku salah satu orang yang rajin ke masjid. Waktu Magrib dan Isya ia tak pernah absen.

Sore selepas dari sawah, ayahku pasti bergegas bersih-bersih kemudian memakai baju kemejanya pakai sarung dan kopiahnya setelah itu berangkat ke masjid untuk salat Magrib berjamaah. Hal ini dilakukannya setiap saat kecuali ia mengalami tidak enak badan.

Jarak antara rumah dan masjid tidak terlalu jauh. Ada sekitar setengah kilometer. Untuk sampai di masjid, warga desa yang berada sebelah selatan masjid harus melawati pohon beringin besar yang berumur puluhan tahun. Saking tuanya, batangnya membutuhkan lima orang dewasa yang saling berpegangan untuk bisa melingkarinya. Daunnya sangat lebat. Rantingnya sangat banyak. Bila lapuk berjatuhan sendiri.

Konon, dari cerita-cerita orang tua dulu pohon itu sangat angker. Orang bercerita bahwa pohon itu memiliki penghuni. Tapi sudah beberapa tahun belakangan cerita keangkeran pohon itu mulai memudar. Warga bahkan sudah berani mengambil rantingnya yang jatuh jadi kayu bakar.

***

Di daerahku sebentar lagi akan diadakan pemilihan kepala daerah. Ada tiga pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati. Mereka sedang berlomba “menjual” dirinya ke masyarakat. Silih berganti tim sukses datang merayu masyarakat. Debat antara pendukung masuk hingga pelosok dusun. Di pos-pos ronda pada acara domino malam hari, tidak sedikit para pendukung yang berbeda adu jotos. Mereka sama-sama ngotot mengatakan calonnya yang hebat dan akan menang.

Atmosfer Pilkada menyisir sampai di desaku. Warga desaku yang sebelumnya adem ayem mulai sedikit tegang. Walau tidak separah desa tetangga. Para tokoh masyarakat mulai jalan senyap memperkenalkan calonnya ke warga. Di desaku, sebenarnya cenderung pilihannya bersatu pada salah satu calon yang memang memiliki kekerabatan dengan orang-orang di desaku. Walau demikian tetap saja warga lain memiliki pilihan lain.

Baliho kandidat mulai ramai. Di pinggir jalan sudah terpasangan gambar senyum ramah para kandidat. Pohon-pohon tanpa kecuali termasuk pohon besar yang berumur puluhan tahun itu tak luput dipasangi gambar kandidat. Paku-paku menancap pada batang pohon untuk menguatkan gambar agar tidak jatuh.

***

Hari Jumat yang terik, matahari bersinar dengan damai. Panasnya terasa hangat saja, karena desaku yang dekat pegunungan. Bahkan bila sore hari hawa sejuk mulai menusuk tubuh.

Radio masjid mulai terdengar. Lantunan ayat suci sudah menggema. Itu penanda sebentar lagi salat Jumat segera dilaksanakan. Ayahku sudah siap-siap berangkat. Setelah memasang kopiahnya, ia mengambil sendal kemudian melangkah menuju masjid. Di jalan sebelum tiba di masjid, ia sempat menoleh ke arah pohon besar. Ia melihat gambar terpasang. Dalam hati ia bergumam mengapa dipasang juga gambar di pohon itu.

Setibanya di masjid, selepas salat sunah. Protokol naik ke mimbar. Ia membacakan susunan acara salat Jumat kali ini. Yang bertindak selaku khatib dan imam salat adalah Ustaz Mansur. Ia adalah guruku di Madrasah. Ia merupakan alumni dari Timur Tengah. Di desa, ia sangat disegani selain karena banyak mengapal ayat alquran dan Hadis, ia juga dikenal tegas dan keras.

Ustaz Mansur memulai khotbahnya. Setelah memberi pujian kepada Allah Swt. dan Nabi Muhammad Saw, ia masuk kepada inti. Awalnya mengajak umat kepada ketauhidan hingga menyerempet ke urusan Pilkada. Ia menyindir orang-orang yang memilih kandidat yang tidak seiman sebagai tindakan menentang perintah Allah. Orang-orang seperti itu menurutnya, layak untuk kita kucilkan. Bahkan kalau perlu diperangi. Memang Pilkada kali ini, ada sepasang calon bupatinya Muslim dan wakilnya Nasrani.

Setelah khotbah, salat Jumat pun sudah selesai. Jamaah bergegas meninggalkan masjid menuju rumah masing-masing. Ayahku pun demikian. Ia berjalan menuju rumah dan di depannya ada Ustaz Mansur jalan sambil mengobrol dengan jamaah lain. Dari masjid, lebih dulu rumah Ustaz Mansur kemudian rumahku.

Ada sekitar 10 rumah yang mengantarai rumahku dengan rumah Ustaz Mansur. Antara keluarga Ustaz Mansur dan keluargaku tidak terlalu akrab akan tetapi tetap saling menyapa dengan baik walaupun dingin. Menurut cerita, Ustaz Mansur tidak terlalu respek kepada keluargaku khusus pada ayahku sebab masih menjalankan tradisi seperti baca doa di hari-hari tertentu, barzanji, serta tahlilan. Namun ayahku cuek saja. Dan tetap teguh menjalankan tradisi tersebut.

***

“Aku tidak akan pernah ke masjid lagi,” cetus ayahku dengan wajah kesal saat baru saja pulang dari salat Jumat. Kami seisi rumah jadi kaget mendengarnya.

“Ada apa?” tanya ibuku penuh keheranan.

“Kok masjid dijadikan tempat kampanye dan menjelek-jelekkan orang lain,” jawab ayahku.

“Bisa-bisanya masjid dijadikan tempat mengkafirkan dan mengutuk yang berbeda keyakinan. Bahkan orang tidak memilih yang seiman dianggap kafir,” lanjut ayahku yang masih kesal.

Semenjak khotbah Ustaz Mansur itu, ayahku tidak pernah lagi ke masjid desaku walau salat magrib dan isya. Ia hanya salat di rumah. Bila hari Jumat, ayahku memilih salat Jumat di masjid desa tetangga.

Hari dan bulan berlalu, warga desaku mulai bergosip atas ketidakhadiran lagi ayahku di masjid. Macam-macam cerita beredar. Ada yang mengatakan bahwa ayahku sedang mempelajari ajaran tertentu. Ajaran yang bertentangan dengan Islam. Berkembang juga isu bahwa ayahku sedang persugihan. Ustaz Mansur semakin tidak respek kepada keluargaku. Kepada ayahku. Ia bahkan menyampaikan ke warga agar hati-hati dengan keluargaku. Ia menyampaikan bahwa di rumahku perilaku bidah dan menyesatkan masih dipraktikkan.

***

Sore, ketika matahari mulai redup. Hawa dingin merangkak. Para petani satu persatu mulai pulang dari sawah. Sekitar pukul lima, Aslam kekasihku datang berkunjung ke rumahku. Membawakanku novel Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Marcel miliknya. Dari sekian kali aku ingin membaca novel itu, namun tidak ada waktu yang tepat. Aku rasa inilah waktunya yang tepat. Di saat lebih banyak di kampung. Sebab kuliah sudah rampung. Ujian meja telah selesai. Sisa menunggu jadwal wisuda.

Saat masuk di rumah ia ditemani ayahku. Aku hanya keluar menemuinya untuk mengambil buku. Setelah itu, kembali ke kamar. Di tradisi desa kami, bila ada tamu laki-laki, anak perempuan harus di dalam. Tapi di dalam kamarku yang memang bersampingan langsung dengan ruang tamu, aku bisa menguping pembicaraan mereka.

Kudengar ayahku bertanya tentang kondisi keluarga Aslam. Aslam menjawabnya sebagaimana mestinya. Kemudian kudengar lagi, dengan terbata-bata, Aslam menyampaikan niatnya untuk melamarku selepas wisuda. Mendengar niat Aslam itu, ayahku meresponnya dengan baik. Cuma ayahku mengingatkan pada Aslam agar terlebih dahulu membicarakan dengan baik di keluarganya.

Setelah kedatangannya di sore itu, Aslam menjadi sering berkunjung ke rumahku. Ia semakin akrab dengan keluargaku. Dengan ayahku. Karena keseringan datang ke rumahku. Warga desa akhirnya menjadi tahu hubungan kami. Cerita mulai merebak. Ada yang meresponnya dengan positif. Tak sedikit menanggapinya dengan negatif.

Merebaknya cerita, akhirnya masuk juga ke rumah Aslam. Ayahnya menjadi murka. Kata-kata tak pantas harus didengar oleh Aslam tentang keluargaku. Ustaz Mansur ayahnya menjelaskan semuanya, bahwa keluarganya tidak cocok dengan keluargaku. Menurutnya, keluargaku punya paham yang berbeda dengan keluarganya.

Keluarga kita memegang teguh nilai-nilai Tauhid. Mereka masih melakukan praktik bidah. Kamu tahu Aslam, ayahnya tidak pernah lagi ke masjid. Itu tanda bahwa mereka memang punya paham yang menyesatkan. Orang di desa semua tahu bawah ayahnya punya aliran tertentu. Ayahnya diduga melakukan persugihan. Pokonya ayah tidak merestui jika mau menikah dengan anaknya. Kamu cari saja perempuan yang lain.

Mendengar itu, Aslam terasa terpukul. Ia tidak mendapat restu dari ayahnya untuk menikahiku. Aku tahu Aslam sangat mencintaiku. Kami saling mencintai. Kami sudah mengenal karakter masing-masing. Selama kami berhubungan hanya bisa dihitung jari kami bersitegang. Aslam orangnya lembut. Perasa dan sangat peduli. Dan ia sangat menghormatiku sebagai perempuan. Tak pernah sekali pun suaranya meninggi di hadapanku. Justru aku yang sering meninggi.

Bertahun hubungan kami lewati. Kala hendak memasuki gerbang yang lebih tinggi, situasi ini datang. Kadang aku dan Aslam berpikir mengapa masalah mereka harus turun ke kami. Apakah mereka tidak peduli pada perasaan kami. Ayahku juga sudah mulai mengeras. Merasa tersinggung dengan perilaku Ustaz Mansur. Namun demikian ayahku tetap menyenangi Aslam. Cinta kami diuji. Entah apakah kami bisa melewati ini.

***

Hari-hari semakin muram. Daun menjadi layu. Ranting berjatuhan. Hawa dingin semakin menusuk. Aku tidak pernah lagi bertemu dengan Aslam. Komunikasi hanya berjalan melalui pesan singkat. Kami saling menguatkan. Kami masih berkeyakinan bahwa cinta kami akan mengalahkan orang tua kami—khususnya ayah Aslam. Cinta kami yang tulus akan meluluhkan kerasnya prinsip mereka. Prinsip ayah Aslam. Kami yakin akan itu. Kami percaya jika cinta memang milik kami, Tuhan akan memberikannya tanpa kompromi.

Pagi baru saja merekah. Matahari masih sejengkal, warga desaku tiba-tiba dihebohkan oleh kejadian aneh di pohon beringin puluhan tahun itu. Di dahannya yang menjulur pas di atas jalan desa tergantung kepala kerbau. Darahnya masih segar. Semua warga desa keheranan. Semua bertanya-tanya siapa kira-kira menggantung kepala kerbau itu.

Warga yang memiliki kerbau, mengecek satu per satu punyanya. Namun tak ada satu pun dari mereka kehilangan kerbau. Dan kejadian itu terus berulang setiap hari Jumat. Pernah suatu hari Ustaz Mansur beserta jamaah lain sepulang dari salat Isya dikagetkan oleh dahan dan daun pohon tua itu bergoyang kencang padahal tak ada badai. Esoknya ditemukan lagi kepala kerbau dengan darah yang masih segar.

Dengan kejadian yang berulang, warga jadi ketakutan. Masih sore desa menjadi sepi. Semua orang sudah di rumah masing-masing. Desaku seperti desa mati bila sore menjelang Magrib. Bahkan siang tak ada lagi yang kumpul-kumpul seperti biasanya. Tak ada lagi orang yang pergi salat berjamaah di masjid. Ustaz Mansur tidak pernah lagi memimpin salat. Masjid jadi sepi.

Melihat situasi desa yang tidak normal, ayahku kelihatan gusar. Sepertinya dia tahu sumber masalahnya. Di Kamis sore menjelang magrib, ia bersama dengan pamanku. Adik dari ibuku. Mendatangi pohon tua yang semakin menyeramkan dari sebelumnya. Bagaimana tidak, rantingnya menumpuk di bawahnya. Sebab tak ada lagi warga yang berani mengambilnya untuk jadi kayu bakar.

Ayahku bersama pamanku tiba di bawah pohon tua itu. Ia membersihkannya. Ranting dan daun dikumpulnya. Gambar kandidat yang dipaku di batangnya dicabuti satu per satu kemudian dikumpulkan bersama ranting dan daun itu lalu dibakarnya.

Selepas itu, malamnya di rumah berkumpul beberapa orang dari kerabat ayah dan ibuku. Mereka datang atas permintaan ayahku. Setelah berkumpul mereka zikir bersama. Berdoa kepada Allah agar desa kami dijauhi mara bahaya. Menurut ayahku, peristiwa yang terjadi di desa tidak lepas sikap arogan warganya yang memaku pohon yang ada untuk memasang gambar-gambar kandidat. Apalagi pohon beringin tua itu.

Setelah zikir di rumah itu, kejadian di desa tidak pernah terjadi lagi. Namun warga masih enggan pergi ke masjid salat berjamaah. Akhirnya ayahku kembali ke masjid. Seperti sediakala ia datang setiap magrib. Melihat ayahku sudah ke masjid, warga lain pun sudah mulai ikut. Dan desa kembali normal.

Apa yang dilakukan ayahku untuk mengembalikan desa kembali normal, menjadi pembicaraan hangat warga desa. Dan semenjak itu, setiap malam Jumat selepas salat Isya, banyak warga datang ke rumah untuk zikir bersama.

Namun sikap Ustaz Mansur tetap seperti semula. Masih menganggap ayahku menyimpang dari ajaran murni Islam. Hal ini tentu juga berimbas pada hubunganku dengan Aslam.

***

Sepertinya situasi baik belum juga memihak kepada kami. Cinta kami semakin menuai badai yang besar. Ustaz Mansur masih juga bersikeras tak akan menikahkanku dengan anaknya. Lagi-lagi alasannya, ada prinsip akidah yang berbeda. Karena itu sikap kerasnya ayahnya itu, Aslam mengajakku mengambil jalan nekat. Dia memintaku untuk lari dari desa. Biar di tempat lain nantinya baru menikah. Namun aku menolaknya.

Aku tak mau mempermalukan orang tuaku. Aku juga memikirkan nasib ayahnya yang dihargai di desa. Perbuatan ini pasti akan menurunkan penghargaan orang lain pada mereka. Bisa jadi ayahku akan dicaci karena dianggap punya anak perempuan sepertiku. Ustaz Mansur akan menjadikannya bulan-bulanan cacian. Mungkin saja ia akan membuat isu bahwa aku memelet anaknya hingga lari bersamaku.

Penolakanku membuat Aslam terpukul. Alasan yang kuberikan kepadanya tak ia terima. Ia tetap terus memintaku untuk pergi bersama. Menurutnya, kami hanya akan dibenci beberapa waktu saja. Setelah kami punya anak mereka pasti akan menerima. Pokonya Aslam ingin memperjuangkan cinta dengan cara apa pun. Tapi aku tetap menolak. Aku masih berpikir. Sedang Aslam memintaku untuk tak berpikir. Karena aku tetap pada pilihanku walau dalam hati seperti tersayat-sayat perih. Lukanya entah sampai kapan bisa sembuh. Cinta masih bersemi namun tak bisa berkembang. Ia terkutuk oleh situasi yang brengsek.

Semenjak kami mengambil keputusan itu, bertahun berlalu. Aslam tak pernah lagi keluar rumah. Menurut cerita beredar ia banyak murung dalam kamar. Tak banyak cerita sama orang lain termasuk ayahnya Ustaz Mansur. Sedang aku, beberapa laki-laki datang melamarku, namun aku menolaknya. Walau umurku tak mudah lagi. Dalam hati kecilku tetap menanti ada keajaiban. Situasi berubah. Dan Aslam datang melamarku atas restu ayahnya. Walau kelak kami tak bisa lagi punya anak.

 

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/565905509412388731/

Kisah yang Tak Sepenuhnya Bahagia

Sebelum malam datang. Di sore hari awan hitam menutupi langit. Sepertinya sebentar lagi hujan. Biasanya begitu bila mendung datang. Aku sudah di rumah yang kita sepakati sebagai sekretariat. Di tempat itulah aku banyak berinteraksi denganmu. Di sanalah mata kita sering kali bertemu. Tutur saling balas dalam dialog. Banyak hal kita bicarakan. Yang jelas kita sedang belajar untuk berpikir. Tidak dalam arti biasa.

Seiring perjalanan waktu. Malam itu tiba. Malam yang tak kusangka. Bunga yang mekar di hatiku harus keluar dalam bentuk kata-kata. Kata-kata yang belakangan melahirkan air mata. Menelurkan luka yang disenangi. Menyisakan duka yang perih namun sungguh nikmat. Mungkin Rumi benar obat derita ada dalam derita. Itu aku rasakan. Entah dengan dirimu.

“Kakak perlu verifikasi apa yang kakak rasakan. Mungkin itu hanya mood saja.”

Begitulah kamu menyikapi kata-kata yang keluar dari mulutku.

“Iya,” jawabku singkat.

Aku menyetujui saranmu. Aku tak berani menyanggah bahwa rasa ini bukanlah sesaat. Sebab aku belum benar-benar merenunginya. Tapi dalam hati aku bergumam. Baru kali ini aku merasakan ini. Aku tak pernah sebelumnya seperti ini. Segala waktu terisi dengan abjad namamu.

“Kak, sama yang lain kita tak pernah merasakan seperti ini?” tanyamu memutus lamunanku.

“Iya, baru kali ini,” singkat saja aku menjawab.

“Kak coba refleksi ulang. Coba uji ulang,” saranmu masih sama. Aku mengiyakan saja.

“Iya, aku akan mengujinya. Tapi jika ini benar apa yang saya lakukan?”

Kamu tidak menjawab tanya yang kuajukan. Kamu hanya diam sambil menatap langit yang menghitam. Rintik hujan turun. Kata-kata tak lagi ada. Kita diam menyendiri dalam pikiran masing-masing. Setelah itu, kantuk menyerang. Kita memilih tempat lalu lelap. Bersama yang lain. Bersama kawan-kawan.

***

Malam itu aku sungguh menyesal. Tak ada malam yang paling aku sesali selain malam itu. Malam yang di mana esoknya Nabi Agung lahir di muka bumi. Lahir menjadi rahmat semesta alam. Seharusnya malam itu, aku diam saja memandangimu setelah engkau terbangun dari tidurmu. Aku yang sedari awal tak pernah memejamkan mata, cukup dengan sendiri dalam pikiranku. Aku harusnya tak menyampaikan bunga yang mekar di hatiku. Seharusnya aku biarkan saja durinya melukaiku tanpa batas. Biarkan lukanya yang tak berdarah menjadi derita hidupku.

Malam itu, malam yang paradoks dengan awan yang menutupi bintang di langit. Seharusnya aku memilih seperti pilihan kaum tarekat syatahat. Memendam rasa cinta pada perempuan lalu cintanya dialihkan kepada Tuhan. Tapi aku tak memilihnya. Itulah yang membuatku sesal. Sepatutnya derita ini hanya milikku tidak menjadi miliknya. Dia tidak ikut serta merasakannya.
Tapi malam itu, semua menjadi awal bahagia sekaligus derita. Kita bahagia jika tak memikirkan yang lain. Tak peduli pada orang sekitar. Mungkin benar kata Sartre bahwa orang lain adalah neraka bagimu. Bagi kita. Saat itu, kita menjalani dengan baik-baik bila pikiran tak dihantui oleh kerumunan luar.

Buktinya kita berani melangkah pada kesunyian yang suci. Menyatukan diri dalam ikrar yang tak biasa. Di masjid tua saksi sejarah masuknya Islam kota kita, kita duduk berhadapan tanpa siapa pun yang lain. Engkau membaca ikrar suci. Aku mengaminkan sebagai bukti sah. Kita bersalaman. Engkau mencium tanganku. Aku mengecup keningmu.

Dua hari berselang, masih tak memikirkan yang lain. Kita hanya peduli pada cinta yang sedang mekar. Yang datang tanpa awal sejarah. Tiba-tiba saja hinggap pada relung semesta kita. Di sebuah kamar yang aku sewa. Di hotel yang huruf pertamanya sama dengan awal namaku. Engkau datang dengan tas yang biasa engkau bawa. Warna hitam. Isinya adalah buku-buku yang sedang engkau baca.

Setiba dalam kamar, engkau membuka jilbab yang sebelumnya, engkau menegaskan bahwa aku sah melihat rambutmu. Aku sah melihatnya. Itu untuk ukuran kita berdua, yang kita sadar memilihnya. Dalam kamar, televisi menyala. Kamar terasa dingin. Pendingin ruangan sedari tadi hidup. Engkau duduk di sampingku di atas tempat tidur sambil bercakap. Aku memelukmu. Engkau merangkulku. Kita menikmati setitik surga dalam kefanaan. Tak ada aku dan engkau. Yang ada hanya kita dalam dekapan yang mesra. Ini pertama kalinya engkau lakukan, seperti itu gumammu padaku. Baru kali ini terangmu. Aku tahu pikirku dalam diam.

“Apakah engkau menyesal dengan ini semua,” tanyaku dengan tatapan sendu. Di balik tanya itu, aku tahu dan sadar ada realitas yang sulit dilompati jika kita menyadari ada orang-orang di sekitar kita.

“Aku tidak menyesal sama sekali. Sebab aku melakukan dengan orang yang aku cintai,” jawabmu sambil tersenyum padaku.

Kau melanjutkan bahwa aku telah mengajarimu dalam segala hal. Dalam hati aku berkata benarkah demikian?

Pasca di kamar hotel itu, kita selalu mengulanginya hingga tak terhitung merasakan tepi surga. Di tempat lain juga beberapa kali. Lalu kembali ke hotel itu lagi, kita bercengkerama tanpa aku dan engkau. Hingga suatu waktu engkau berkata tak bisa melupakan hotel itu.

***

Engkau perempuan yang meluluhkan tembok tebal keakuanku. Nalarmu yang cemerlang berbanding dengan jidatmu yang lebar, wajahmu yang bulat, hidungmu yang tak mancung juga tak pesek, matamu yang bulat tidak sipit, gigimu yang tertata rapi di balik tawamu, bibirmu yang sedikit tebal dan tentunya tubuhmu yang mungil semua berpadu. Tapi bukan semua itu alasan aku jatuh cinta. Entah apa alasannya hingga sekarang belum aku temukan. Atau memang mungkin cinta benar-benar tak membutuhkan alasan?

Jauh sebelum malam itu, kita berjumpa dalam medan yang tak biasa. Buku dan diskusi yang mengakrabkan kita. Hingga waktu terus bergerak melaju tak terduga menghasilkan seribu cerita. Dan datanglah sesuatu yang tak disangka. Tak diduga. Tak dinginkan juga tak ditolak. Cinta sungguh misterius. Aku jatuh cinta. Engkau mencintaiku sepenuh hati begitu akumu.

Engkau pernah berkata kepadaku di saat awal-awal kita saling mengetahui bahwa ada cinta yang mekar di ruas hati kita. Beberapa kali engkau ingin mengakhiri hidup. Cinta yang datang tak bisa engkau tampung. Bukan karena cintanya. Tapi pada waktu datangnya yang tidak tepat. Ia datang kala ada kenyataan bahwa aku telah dimiliki. Sebenarnya aku merasakan hal sama. Ada sesak di dada jika harus menerima bahwa aku telah dimiliki sedang di sisi lain aku ingin kita bersama. Derai air mata tak lengkap mengurai situasi hati yang kalut. Ia hanya melegakan tak mengobati.

Apa yang engkau ceritakan kepadaku perihal inginmu mengakhiri hidup ternyata engkau cerita pada teman akrabmu. Walau engkau tak bertutur kepadanya secara detail. Ini aku tahu kala temanmu itu menguraikan kepadaku. Menurut temanmu, di dalam kamar kosmu engkau mengurung diri. Hampir tiap hari meneteskan air mata. Menangis sekencang-kencang. Seperti orang gila. Sebenarnya aku tahu semua yang engkau alami. Sebab aku mengalami hal sama. Kita bahagia di sisi lain. Derita di belahan lain.

***

Tak ada yang bisa menahan laju waktu. Dua bulan setelah malam itu. Kita masih melewati hari penuh haru. Air mata tak pernah sepi menemani perjalanan yang berliku. Ada tembok tebal yang tak mau kita terobos. Ada karang yang tak mau kita pecahkan dengan gelombang cinta. Kita masih memilih sepi. Memilih tak terdengar oleh yang lain. Kita menyimpannya dengan baik dalam rahasia. Tak satu pun yang tahu apa yang kita alami. Apa yang kita rasakan.

“Kak, apa berani meninggalkan yang memiliki kakak sekarang?” tanyamu sepertinya ingin mengetahui seserius apa diriku.

“Aku berani. Ayo kita pergi sekarang meninggalkan kota ini,” jawabku sambil mengajak untuk lari jauh. Yang tak terjangkau oleh orang-orang yang memiliki kita.

“Apa kakak tidak pernah memikirkan sakit yang dirasakan yang memiliki kakak sekarang?” sebuah tanya yang kau ajukan untuk mengajakku memikirkan yang sebenarnya ia tahu jawabannya.

“Tentu aku memikirkannya. Tapi aku ingin bahagia.”

“Kita sangat egois kak, jika hanya memikirkan diri kita. Mungkin aku sangat bahagia seandainya kakak belum dimiliki,” ia menimpali jawaban yang aku berikan.

Menurutmu, engkau sangat mencintaiku. Di antara petualangan cintamu—lebih tepatnya petualangan sukamu—hanya kepadaku engkau merasakan sepenuhnya penuh. Pada laki-laki yang lain sebelumnya, engkau tak memiliki rasa seperti sekarang ini. Rasa seperti pada diriku. Aku mempercayai itu dengan lugu. Dengan sikap dan lakumu yang menyerahkan dirimu segalanya padaku.

***

Kita terus bergerak ke depan. Aku melihat dirinya mengalami dilema. Aku juga demikian. Dilema yang tiada tara. Luka mengintainya. Apa pun yang dipilih semuanya luka. Seperti kehadiran cinta di antara kita hanya perantara untuk mengajarkan derita yang sebenarnya. Mengajarkan cara mengambil pilihan tidak juga benar tapi mungkin tepat. Sebab bagiku dalam cinta tak ada oposisi biner. Tak mengenal salah-benar. Ia prakonsepsi. Sulit nalar menerimanya.

Hari-hari semakin kelam. Semakin ke sini sepertinya semakin mengimpit. Rahasia tak selamanya bisa disimpan. Suatu waktu yang mungkin cepat, apa yang kami rasa akan menjadi opini publik. Menjadi diketahui oleh banyak orang.

“Kak, berani kita tinggalkan yang kita miliki sekarang?” tanya itu kembali menyeruak mengisi hari yang tersudut.

“Iya, ayo kita pergi sekarang,” aku meyakinkan. Mungkin apa yang kita lakukan hanya akan dikutuk oleh mereka beberapa bulan, paling lama beberapa tahun. Setelahnya mereka akan melupakan.

“Kak, aku tak bisa membayangkan wajah-wajah mereka yang kita tinggal. Wajah-wajah yang memiliki kakak. Aku telah menyakiti mereka.”

“Ayo kita pergi sekarang. Tidak usah pikirkan mereka,” ajakku lagi padanya.

“Aku tidak bisa kak. Aku tidak bisa pergi. Aku tak sanggup menyakiti mereka. Biarlah aku yang sakit,” caranya menolak ajakanku.

“Kita terlalu egois bila hanya memikirkan diri kita berdua,” lanjutnya untuk menegaskan bahwa ia tak mau pergi.

Aku mungkin egois tetap ingin mengajakmu pergi. Tapi tidakkah cinta memang membuat kita egois bahwa kekasih hanya ingin bersama dengan kekasihnya. Perpisahan adalah nestapa tanpa batas. Sedih yang panjang. Bunyi yang senyap. Hening yang mencekam. Kematian masih bernyawa.

***

“Lalu seperti apa yang harus kita lakukan?”

Tanyaku padanya saat hening bulan puasa di kamarnya. Kamar kosnya yang tak luas cukup untuk tidur melepas penat. Namun mewah untuk ukuran mahasiswa. Apalagi untuk mahasiswa yang sekarat dengan hitungan semeter.
Teman-temannya sudah banyak yang memakai toga. Sedang ia masih sibuk dengan warna-warni pemikiran walau ia tetap berupaya menyelesaikan nilai yang tersendat.

Aku laki-laki yang telah memakai toga. Menyukai petualangan alam. Bekerja secara bebas untuk menyambung hidup. Besar dari keluarga yang biasa secara ekonomi. Cukup untuk makan. Aku sangat menyukai buku. Hobiku membaca pikiran-pikiran hebat.

“Aku ingin kita pisah saja kak. Aku pikir kita tak bisa sama,” jawabnya seperti hantaman gelombang berlapis. Membuatku oleng. Seolah semua dinding kamar kosnya runtuh menimpaku.

“Kamu tidak mencintaiku lagi,” aku mengajukan tanya sembari menatapnya. Bulir-bulir bening yang kecil menetes di pipiku. Aku mengusapnya.

Ia menatap layar HPnya. Seperti tak mau melihatku.

“Bukan itu kak, aku tidak bisa sama denganmu. Aku tak bisa menyakiti. Biarkan aku belajar mencintai lain. Ajari aku,” pintanya padaku.

“Aku ingin ini yang terakhir. Ikatan kita cukup sampai hari ini,” lagi pintanya.

Aku semakin terpojok. Dadaku berdegup kencang. Aku menahan sesuatu. Bulir-bulir kecil semakin deras mengalir di pipiku. Aku bersujud di depannya meminta agar membatalkan keinginannya itu. Aku bahkan merayunya lagi. Meyakinkannya untuk pergi bersama. Namun ia tetap menolak. Aku berontak menolak. Merengek seperti anak kecil. Tak lama itu, ia juga meneteskan bulir-bulir. Aku memeluknya. Ia berbaring kaku.

“Kak, ada laki-laki yang mendekat padaku. Kak, ikhlaskan aku untuk bersamanya,” kata-kata itu seperti ledakan besar yang efeknya membuatku linglung. Bagaimana mungkin aku mengabulkan apa yang dimintanya. Aku tetap merengek agar ia tidak meminta itu. Tapi ia bersikukuh memohon dengan pipi yang basah. Aku tahu ia meminta bukan karena ia mencintai laki-laki itu. Mungkin hanya suka saja. Karena satu waktu ia pernah berkata kepadaku beda cinta dan suka. Karena ia hanya ingin melepaskan diri dariku. Lakai-laki itu, sepertinya hanya menjadi pelariannya karena tak bisa bersama denganku. Itu menurutku. Aku tidak tahu pasti.

Selepas buka puasa, aku memeluknya. Aku menciumnya. Kami saling berpelukan. Tak lama itu, aku berbalik mengendap keluar kamarnya. Meninggalkannya dengan pipi yang basah. Aku berjalan dengan kepala lesu. Semunya telah berakhir. Ikatan telah berujung.

***

Aku seperti bermimpi pernah mengikat suci dengannya. Ia seperti senja yang dinikmati namun cepat berlalu. Tapi ia selalu menyisakan kenangan dan harapan bahwa esok ada kemungkinan ia datang lagi. Biarlah takdir melangkah menemukan bagaimana kita ke depan. Sebuah tanda tanya di mana jawaban tak bisa diprediksi. Semua serba misteri seperti misterinya cinta yang datang pada kami secara tiba-tiba tanpa isyarat. Tubuh terpisah oleh jarak. Oleh pandang yang berbeda. Tapi entah dengan hati kita. Di sini cinta itu masih tumbuh walau kemarau panjang menghantamnya. Walau dirimu sudah pamit. Tak ada yang berubah. Memang seperti itulah cinta tak pernah berubah yang berubah kita yang tak lagi sama.

Tak ada yang memudar. Seperti dalam cerita Eka Kurniawan Cinta Tak Ada Mati. Aku masih di sini dengan cinta yang sama. Cinta sejak awal tumbuh. Kau besarkan. Kau beri ornamen. Tak ada berubah. Cintaku menunggu. Walau entah sampai kapan. Tak ada waktu yang pasti. Ia tetap setia menunggu. Ini kedengarannya absurd. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Tapi demikian memang cinta. Ia akan melakukan di luar batas nalar. Ia akan bekerja dengan caranya sendiri. Tanpa kita bisa menolaknya. Kita hanya bisa menerimanya sebagai takdir.

Apa yang kulakukan?

Cinta mengatakan. Menunggu. Itu saja. Walau kini pelaminan telah kau tunaikan tidak dengan laki-laki yang kau pinta seperti di hari yang muram kala itu. Dipelukan terperosot waktu itu. Diciuman kering karena ikatan akan berakhir. Dalam cumbu yang luka. Kata tak ada lagi. Aku sunyi. Entah dengan dirimu.

Kita hanya memendam sajak. Puisi yang sepi.

Ilustrasi: https://www.theglobeandmail.com/amp/globe-investor/a-warning-for-couples-who-have-split-but-not-divorced/article36226294/

Anies Tak Lagi Sama

 

Waktu jadi mahasiswa, Anies Baswedan adalah salah satu pemateri saya di acara pertemuan BEM se-Indonesia. Saya mewakili kampus, Universitas Negeri Makassar—tempat saya kuliah. Saat itu, Anies bicara tentang peran intelektual dalam konstelasi perubahan di Indonesia. Intinya, perjalanan bangsa ini ke depan akan ditentukan oleh seorang intelektual namun memiliki jiwa interpreneur. Panggung politik Indonesia akan dikuasai oleh intelektual semacam ini. Dan Anies tentunya menyarankan agar kami memikirkan untuk memilih model seperti.

Sejak pertemuan BEM se-Indonesia itu, akhirnya, saya jadi salah satu pengagum beliau. Pengagum gagasan-gagasannya. Indonesia mengajar adalah salah satu gagasannya yang brilian untuk terlibat menyelesaikan problem pendidikan di pelosok. Waktu program ini berjalan sangat spektakuler. Sebab banyak anak orang kaya lulusan luar negeri rela ikut program ini. Meninggalkan kenikmatan kota. Masuk ke desa-desa yang tak memiliki lampu. Tanpa akses internet. Semangatnya hanya satu, berbagi dengan mereka yang sudah lama tak tersentuh. Tak diperhatikan khususnya dalam dunia pendidikan. Barangkali gagasannya yang dianggap memiliki kebaruan itu, ia banyak diundang jadi pembicara di mana-mana. Dalam hingga luar negeri. Ia tampil sebagai sosok intelektual yang komplet.

Waktu terus bergerak. Melaju seperti biasanya tentunya dengan beragam peristiwa mengikutinya. Momen politik tiba. Jokowi bersama Ahok menang di Pilkada Jakarta. Tampilnya Jokowi ke panggung politik nasional, punya warna baru. Secara, Jokowi bukanlah siapa-siapa. Bukan dari keturunan penguasa. Ia seorang pengusaha mebel di Solo yang percaya jadi Wali Kota Solo. Berselang dua tahun, oleh PDIP, Jokowi diusung jadi presiden melawan Prabowo. Ini salah satu Pilpres yang sungguh memilukan. Hoaks merebak dan menjalar. Yang paling banyak diserang adalah kubu Jokowi. Mungkin kita masih ingat bagaimana Jokowi dituduh sebagai anak PKI. Orang tuanya keturunan Cina dll.

Karena politik yang menggunakan hoaks sebagai salah satu strateginya, sentimen suku, agama dan ras mencuat. Keretakan bangsa benihnya tumbuh. Anies yang waktu itu di kubu Jokowi menulis di Kompas. Judulnya sangat menohok situasi sosial politik kebangsaan. “Tenun Kebangsaan” begitu judul tulisannya. Sebuah tulisan mengurai secara tidak langsung tentang keterlibatan oleh banyak pihak termasuk oleh etnis Tionghoa (Cina) dalam memerdekakan bangsa. Bangsa kita berdiri di atas keragaman. Kita perlu merawatnya.

Singkat cerita, Jokowi menang Pilpres. Otomatis Ahok jadi Gubernur Jakarta. Anies diangkat jadi Menteri Pendidikan. Di Jakarta, Ahok beraksi. Ahok bergerak memperbaiki Jakarta tentunya dengan ragam kelemahannya. Menggusur rakyat salah satunya. Kawan-kawan aktivis sosial mengkritik ini. Ini sangat tidak memihak. Ahok tutup mata atas kritik itu. Ia semakin laju. Barangkali tak luput dari ingatan bagaimana Ahok berhadapan dengan DPR. Ahok menolak tunduk pada permainan anggaran DPR. Ahok memotong semua anggaran yang tidak rasional, walau DPR harus meradang. Berkat dukungan publik Ahok menang. DPR Jakarta tak bisa berbuat apa-apa.

Produksi kebencian terhadap Ahok semakin meninggi. Ahok mulai tak disenangi. Kaum “agamawan” terkhusus kelompok FPI pun ikut menyikat Ahok. Mungkin ide pembubaran FPI oleh Ahok dianggap melecehkan Islam. Ahok yang beragama Kristen itulah sumber masalahnya bagi mereka. Jakarta tidak boleh dipimpin oleh orang “kafir”. Ahok Kristen, Ahok kafir. Ayat Alquran ditafsir untuk mendukung bahwa orang Islam tidak boleh dipimpin oleh bukan Islam. Walau ulama lain sekaliber Quraish Shihab punya tafsir lain. Ahok tak apa-apa memimpin Jakarta. Islam tak pernah melarang. Salah satu argumentasinya Indonesia bukan negara Islam. Sehingga Tafsir orang Kristen tidak boleh memimpin orang Islam dalam keindonesiaan lebih bersifat politis dibanding teologis. Puncak kebencian Ahok diproduksi massal setelah kasus surah Almaidah ayat 51. Ahok jadi bulan-bulanan sebagian umat Islam. Para politikus ikut bermain. Media mencipta framing. Aksi massa berjilid-jilid terjadi. Kubu Prabowo penumpang hebat dalam aksi massa itu.

Kasus Almaidah bertepatan dengan pencalonan Ahok bersama Djarot maju Pilgub DKI. Elektabilitas Ahok lagi tinggi-tingginya. Gelombang massa menolak Ahok semakin membesar. Pesertanya tidak hanya dari Jakarta. Hampir seluruh Indonesia mengutus orang “memerangi” Ahok. Lain sisi, Jokowi melakukan pembongkaran kabinet. Anies dipecat jadi Menteri Pendidikan. Rumor berkembang Anies tidak terlalu kuat di-back up oleh partai politik. Saya salah satu pengagum Anies kecewa atas pemecatan dirinya. Pikir saya kala itu, Anies baiknya memang kembali ke kampus. Berbagi gagasan dengan mahasiswa. Politik tak bisa menerima orang independen seperti Anies. Begitu pikir saya. Namun perjalanan bercerita lain. Godaan politik datang. Anies ditawari jadi calon gubernur oleh Partai Gerindra. Partai Prabowo untuk melawan Ahok di Jakarta. Anies menerimanya tawaran itu, di saat bersamaan serangan ras, suku dan agama terhadap Ahok lagi membludaknya.

Anies seolah tak peduli. Ia malah menikmati dukungan dari orang-orang yang menyerang Ahok dengan alasan agama, suku dan rasnya. Ia menari di atasnya. Tenun kebangsaan jadi lupa. Beberapa kali ia ketemu dengan kelompok yang dulu menuduhnya liberal, sekuler bahkan Syiah. Debat kandidat tiba. Adu program berlangsung. Anies menawarkan program yang populis untuk rakyat kecil yang mana Ahok tak lakukan. Barangkali dalam kacamata Ahok untuk Jakarta itu mustahil. Tak ada penggusuran, rakyat kecil harus punya rumah, maka DP O rupiah adalah solusinya. Itu sejumlah kecil janji Anies. Dan masih banyak yang lain.

Dalam kacamata saya, Anies telah berubah. Kini ini murni jadi politikus. Ia sudah tak lagi bisa dibaca sebagai subjek Intelektual semata seperti yang lalu-lalu. Ia telah menjadi subjek politik—politikus. Yang terbaru janji DP 0 rupiah ternyata tak bisa menyentuh semua masyarakat. Tetap ada syarat pendapatan warga. Tiga juta lebih batas minimal yang bisa disentuh. Terbaru Warga Sunter harus menerima kenyataan sebagai warga tergusur. Janji tinggallah janji. Semua telah berubah. Angin bertiup tak menentu. Anies menikmati arah mana angin bertiup di situlah ia. Ciri khas politikus.