Semua tulisan dari Bahrul Amsal

Blogger paruh waktu. Ayah dari Banu El Baqir dan Laeeqa Syanum. Penulis buku Jejak Dunia yang Retak (2012), Kawan Rebahan: Eksistensialisme, Tubuh, dan Covid-19 (2021).

Hari-Hari yang Buruk

Hampir setiap orang pernah merasakan nasib sial. Atau bernasib buruk di hari-hari yang lain. Di masa lalu, saat masih di bangku sekolah, orang seperti saya menganggap Senin adalah hari yang buruk. Masuk sekolah mesti lebih cepat: upacara bendera. Berbaris dan berdiri panas-panasan hingga topi dan seragam seperti handuk basah.

Anda menjadi lebih sial jika tidak gesit mengambil tempat di bawah pohon rindang. Sebatang pohon mangga, misalnya, yang sering Anda lempari buahnya meski belum ranum.

Dan, hari itu Anda bisa saja akan menjadi terdakwa. Inilah saat ternahas Anda. Dunia sedang memunggungi diri Anda karena itulah hari paling bedebah: Anda telat datang lalu hanya berdiri bersama barisan anak-anak sial lainnya. Kali ini Anda berdiri di luar pagar sekolah. Tapi, bersama menjadi lebih mudah. Seringkali jika seseorang bersalah ia akan segera mencari orang yang bernasib sama untuk menormalisir perasaannya, ketakutannya. Itulah manusia, bahkan sebuah pelanggaran dapat menjadi lumrah jika disepakati banyak pihak.

Hari buruk lainnya, untuk saya adalah ketika di hari lain akan mempelajari matematika, fisika, atau kimia. Sudah sejak malam sebelumnya melihat roster pelajaran menjadi pekerjaan paling malas. Keburukan Anda menjadi dua kali lipat jika ketiga pelajaran itu bercokol di hari yang sama. Saya rasa guru atau siapa pun yang menyusun jadwal seperti ini perlu mempelajari ilmu psikologi dengan serius, atau ilmu pendidikan dengan lebih baik lagi.

Tidak semua orang menyukai ilmu perhitungan, sedangkan sebagian lainnya lagi akan menganggap ilmu seperti itu tidak akan berguna di kemudian hari. Mungkin orang semacam ini ada benarnya, karena tidak mungkin semua orang akan bekerja dengan menggunakan ilmu semacam itu setiap harinya. Dengan alasan ada orang-orang tertentu telah mempelajarinya mati-matian, maka tugas sebagian yang lainnya hanya untuk menikmati hasil kerjanya. Tapi, tidak tepat juga ilmu semacam matematika, misalnya, tidak akan berguna untuk masa depan seseorang. Setiap saya menghindari ilmu seperti ini di masa lalu, semakin membuat saya menyadari untuk saat ini perlu bagi setiap orang untuk memilikinya agar membantunya dapat berpikir analitis, memahami pola-pola, dan dapat membantunya untuk memecahkan masalah yang membutuhkan pendekatan logika.

Semakin ke sini, setiap bidang kehidupan memerlukan kesatuan ilmu-ilmu. Di dunia akademik, integrasi ilmu-ilmu juga sudah menjadi hal lumrah.

Saya tidak tahu apa arti hari buruk bagi Anda, dan juga apakah Anda hari ini sedang menjalani hari yang indah? Kita pernah mengalami hari-hari buruk yang cukup panjang, bahkan sampai tiga dekade lamanya. Hampir seluruh usia saya saat ini. Tidak bisa dibayangkan jika seseorang hidup di dalam hari-hari buruk seperti ketakutan menyatakan pendapat, kekhawatiran berkumpul dan berserikat, atau tidak ada jaminan kesehatan serta pendidikan yang mampu menjamin masa depan.

Bagi negara demokratis hari-hari buruk tidak sama persis dialami seperti negara otoriter. Bagi negara otoriter hampir semua orang tidak memiliki kebebasan berekspresi, dan bagi intelektualisme ini merupakan ancaman berbahaya. Sementara bagi negara demokratis, demokrasi bisa berjatuhan tidak sama seperti di negara otoriter yang menggunakan kudeta atau kekerasan, melainkan melalui pemerintahan hasil pemilu, yang sebelumnya telah melakukan rekayasa publik dengan mengubah aturan mainnya. Meminjam Levistky dan Ziblatt: “Kemunduruan demokrasi hari ini dimulai di kotak suara”.

Beberapa hari lalu kita telah melalui hari-hari paling menentukan, terutama untuk perjalanan bangsa ini. Bagi banyak orang, demokrasi ketika kali pertama ditemukan merupakan hari paling bahagia. Itulah saat ide-ide sakral yang berasal dari langit tidak akan lagi digunakan. Tiang-tiangnya telah diguncang oleh suara mayoritas. Dan, sejak saat itu suara mayoritaslah yang paling afdal menentukan kebahagiaan banyak orang.

Di dunia ini, tidak sedikit orang merasa bahagia jika mampu berpikir dalam-dalam menyerupai para filsuf. Mengoleksi banyak buku agar mengisi jiwanya yang kosong. Juga hampir semua orang yang menginginkan banyak uang untuk merasakan bahagia, sama seperti sekelompok orang yang cukup senang jika diberikan makanan gratis. Tapi, banyak orang akan merasakan hari buruk apabila roda kendaraannya pecah saat buru-buru mengejar pesawat. Saya kira banyak orang pernah mengalami ini.

Saya pernah kehilangan dompet, ditilang polisi, lalu sekali tempo gagal dalam sebuah tes wawancara. Semua itu hari buruk bagi saya. Anda juga mungkin memiliki pengalaman semacam itu, seperti salah memilih pasangan hidup, atau salah memilih figur pemimpin, misalnya. Sokrates adalah orang yang mengalami dampak buruk keduanya. Ia menikahi seorang perempuan super cerewet dan galak, tapi karena itu ia menjadi filsuf. Di banyak tempat, banyak bangsa-bangsa demokratis salah memilih pemimpin. Mereka justru memilih seorang calon diktator yang tidak akan membuat apa-apa selain hari-hari buruk setelahnya. Semoga Anda tidak.

Palestina vs. Israel: Nasionalisme dan Kolonialisme

(Suatu Tinjauan Sosiologi Kekerasan)


Kawasan Timur Tengah kembali memanas pasca kelompok Hamas Palestina menggencarkan serangan mendadak ke Israel tidak jauh di perbatasan Gaza, Sabtu (7/10/23) dini hari waktu setempat. Akhir pekan yang berubah mencekam, karena serangan ribuan nuklir itu tepat ditujukan ke Tel Aviv dan Yerusalem, menembus sistem pertahanan Iron Dome menghancurkan banyak bangunan. Frank Gardner, koresponden keamanan BBC, menyatakan serangan itu bisa lolos karena intelijen Israel “tertidur”.

Gempuran mendadak itu menambah catatan panjang “konflik” antara dua kawasan yang dimulai setengah abad lalu—penting untuk dicatat, termin konflik bukan istilah yang pas untuk menggambarkan keadaan sebenarnya di lapangan. Di kesempatan terpisah, perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut serangan itu tidak dapat dimaafkan dan menyebut kelompok Hamas merupakan organisasi teroris. Suatu pernyataan yang sebenarnya kontraproduktif mengingat sejarah panjang kolonialisme Israel atas warga Palestina. Dalam hal ini, kolonialisme Israel lebih berbahaya dari terorisme yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Kolonialisme Israel selama ini merupakan pendudukan, pembajakan, penindasan, dan pembunuhan yang dilakukan terang-terangan, tapi sunyi dari suara kritik sebagian besar negara-negara dunia. Karena itu, merupakan standar ganda menyesatkan dari pernyataan perdana menteri Israel itu.

Yang terjadi di Palestina saat ini, merupakan seperti dikatakan Ilan Pappe, sejarawan Yahudi pro Palestina, adalah suatu pembersihan etnis. Merupakan tindakan pengecut bagi Israel jika menginginkan suatu tatanan dunia hanya dengan tujuan melestarikan etnis atau suku bangsa tertentu. Sudah menjadi pemahaman umum, teori keunggulan manusia berdasarkan penampakan fisik, warna kulit, atau ras merupakan ilmu yang objektif. Karena tidak sesuai fakta-fakta empiris sudah lama teori ini ditinggalkan. Pappe menyebut Israel selama ini tengah mengembangkan propaganda keyakinan untuk membenarkan bahwa Israel-lah penduduk asli di Palestina, yang sebenarnya hanyalah mitos belaka.

Di beberapa media sosial beredar tentara-tentara Israel yang tertangkap dan menjadi tawanan militan Palestina. Galibnya tawanan sudah pasti merasakan ketakutan dan kekhawatiran persis seperti tawanan Israel yang beredar itu. Menjadi pertanyaan untuk konteks itu, seperti apakah dampak dari beragam peristiwa kekerasan perang bagi kedua belah pihak? Bagaimanakah perang jalanan bertahun-tahun membentuk psikologis mereka? Seperti apakah arti perang bagi Israel terlebih lagi Palestina? Pertanyaan ini tidak baik untuk saya jawab di sini, tapi satu hal yang pasti, tentara Israel yang nampak merengek minta dibebaskan cukup menggambarkan bagaimana situasi psikis militer Israel saat ini. Kekerasan perang nampaknya menjadi instrumen negatif, setidaknya untuk dirinya. Berbeda dengan sebuah tayangan seorang istri pejuang Palestina yang haru dan bahagia atas kabar kematian suaminya akibat serangan drone Israel. Tentu makna kematian disambut kebahagiaan wanita ini adalah syahid, satu konsep kematian yang tidak dipahami tentara sekuler masa kini.

Kekerasan seringkali menjadi momok, tapi kerap juga menjadi instrumen melahirkan kekerasan baru. Itu artinya, momok akan melahirkan momok baru, yang merupakan respons atas kekerasan sebelumnya. Persis seperti itulah dibilangkan Dom Camara, pemikir Amerika Latin, dengan konsep spiral kekerasannya, yang mengandaikan kekerasan akan saling berbalas kekerasan selama terjadi di tantanan personal, institusional, dan struktural. Tapi, di kawasan terkhusus Palestina, kekerasan tidak saja berbentuk spiral, melainkan seporadik dan menyebar sehingga lebih menyerupai ledakan-ledakan kecil yang dibalas dengan ledakan lainnya dengan eskalasi yang semakin meninggi. Dalam arti ini, kekerasan yang silih berganti bisa mempengaruhi tatanan budaya sehingga melahirkan tradisi kekerasan.

Patut disayangkan jika mengingat kesaksian banyak aktivis pendidikan di Palestina, yang mengatakan kolonialisme telah mengubah perangai anak-anak di Palestina. Anak-anak yang tumbuh di kawasan perang seperti Palestina akan tumbuh menjadi tidak normal karena kehilangan keriangan dan kegembiraan. Mereka akan berubah menjadi seseorang yang berjiwa keras, dan akan sulit menerima apalagi mempercayai orang asing. Masa anak-anak akibat perang, dengan kata lain, telah mentransformasikan jiwa polos mereka dari kebahagiaan menjadi rasa was-was dan kekhwatiran akut. Kekerasan perang memberikan dampak mental tidak main-main sampai dapat mengubah cara mereka merasa, berpikir, serta cara bertindak.

Di Palestina pendidikan hampir tidak berdampak signifikan, terutama apabila dilihat melalui fungsi edukasinya, disebabkan sebagian besar anak-anak enggan pergi bersekolah. Boleh dikata, pena dan papan tulis kehilangan daya pikatnya sehingga membuat ilmu pengetahuan tidak lebih dihargai jika itu tidak ditujukan untuk mendorong mereka menjadi pejuang jalanan. Mereka lebih senang disodori senjata atau batu-batu katapel untuk menjadi senjata konfrontasi dengan musuh-musuh tentara Israel. Toh jika mesti bersekolah di tenda pengungsian, mereka ingin belajar tentang bagaimana cara merakit bom, menyusun strategi perang, atau mengetahui teknik-teknik sabotase dibandingkan mesti mempelajari matematika atau astronomi, ilmu-ilmu yang sama sekali tidak cukup dibutuhkan untuk kondisi mereka saat ini.

Singkatnya, peperangan sangat berdampak bagi pertumbuhan perkembangan kejiwaan anak-anak Palestina. Bahkan kematian itu sendiri sudah menjadi ontologi kesadaran yang membuat setiap anak-anak sudah sangat akrab dengan peristiwa hidup mati, sampai-sampai belakangan ini setiap anak di Palestina menandai nama-namanya di telapak tangan mereka. Sewaktu-waktu jika satu di antara mereka mati terkena bom atau reruntuhan bangunan, membuat pekerjaan menjadi lebih mudah bagi keluarga mereka. Dengan nama itu setiap tubuh mungil mereka akan lebih mudah teridentifikasi.

Masyarakat Palestina saat ini boleh jadi tidak demikian akrab dengan gagasan-gagasan perubahan yang kerap ditemui di negara-negara modern, yang cukup antusias dengan kemajuan dan progresivitas sejarah yang diandaikan mengalami loncatan-loncatan kemajuan. Bagaimana mungkin gagasan semacam itu dapat mendorong wacana pembangunan di tempat mereka jika setiap saat, seinci demi seinci tanah mereka dirampas sehingga banyak di antaranya terancam tidak dapat memiliki tempat tinggal. Perang berkepanjangan apalagi, membuat hari-hari di antara mereka lebih mengutamakan gagasan mempertahankan kehidupan mereka dibandingkan berpikir untuk mengembangkan bangsanya. Seolah-olah pergerakan sejarah berhenti di Palestina.

Bahkan kematian itu sendiri sudah menjadi tujuan hidup alih-alih mengorientasikan semua dari apa yang mereka miliki kepada kehidupan. Dalam hal ini persis seperti dikatakan Baruch Spinoza, filsuf jelang modernisme, bahwa kebijaksanaan masyarakat modern lebih menaruh perhatian besar kepada kehidupan daripada kematian. Paling-paling untuk saat ini kematian bagi zaman kiwari hanya lebih dapat dipahami sebagai angka-angka statistik yang ditemui di lembaga-lembaga internasional ketimbang sebagai sebuah peristiwa bermakna. Singkatnya, dengan kesadaran semacam itu, kematian jika bagi sebagian kita menghindarinya, tidak untuk Palestina. Tidak banyak pilihan yang dapat mereka ambil selain mempersiapkan kemungkinan akhir dengan kematian yang lebih bermakna dalam rangka membela pertiwinya.

Kekerasan senantiasa berwajah ganda: konflik dan perang. Keduanya sulit dibenarkan apalagi jika di balik itu menyimpan sejumlah asumsi yang melegitimasi tindakan itu. Kita semua mengerti motif di balik perampasan tanah dilakukan Israel kepada Palestina didasarkan bukan atas narasi sejarah belaka, tapi juga karena didorong oleh nasionalisme sempit, yang sebenarnya cukup absurd. Bagaimana tidak, dibandingkan bangsa lain, Israel satu-satunya negara di dunia ini yang dasar nasionalismenya tidak dilahirkan dari sejarah pergerakan rakyat. Israel justru dibentuk atas lobi-lobi politik elite negara Eropa dalam rangka memperpanjang era kolonialisme baru. Tidak seperti Indonesia, misalnya, tidak akan ditemukan founding father yang sejak awal bergerak menghimpun kelompok terjajah untuk mendeklarasikan kemerdekaannya melalui pertumpahan darah sebelumnya.


Konflik dan perang merupakan kondisi yang dapat menghancurkan berbagai tatanan, termasuk di dalamnya sistem berpikir. Dalam keadaan itu, atas nama ras, agama, atau nasionalisme dapat mengubah persepsi dan berpeluang menjadi legitimasi yang membenarkan perilaku kekerasan. Dengan kata lain kekejaman perang yang menyebabkan kengerian, penderitaan, dan ketakutan tidak akan bermakna lagi karena alasan atas nama sebuah nilai yang menjadi dasar ideologisnya. Makanya tidak heran, selama masa perang tiga minggu belakangan, di media sosial Tik Tok, tidak sedikit konten kreator asal Israel memeragakan olok-olok kepada penduduk Palestina melalui gimik korban perang dengan akun reels mereka. Tidak sama sekali bersimpati apalagi empati kepada korban kekerasan perang, tapi itulah watak dari bangsa agresif yang menghilangkan karakteristik kemanusiaan bagi anak-anak bangsanya.

Indonesia dan Palestina memiliki semacam kesamaan, keduanya dekat secara perasaan yang sama-sama pernah mengalami kekerasan perang dari masa lalu. Karena itu secara psikologis sebagai bangsa solidaritas atas Palestina sama artinya dengan perasaan senasib dan sepenanggungan. Palestina bahkan negara pertama yang mengakui nasionalisme Indonesia. Jika begitu siapa yang mau beralasan untuk menerima kolonialisme Israel untuk palestina saat ini?


Sepak Bola, Politik, dan Kolonialisme

Konon dunia olah raga mesti dipisahkan dari politik, termasuk sepak bola, permainan kolektif paling banyak digandrungi di muka bumi saat ini. Pernyataan ini nampak aneh untuk tidak mengatakannya naif. Kiwari, sepak bola modern bukan lagi sekadar olah raga, tapi sudah menjadi industri, budaya, dan bahkan identitas, yang karena itu ketiga dimensi ini bertalian pula dengan politik. Asumsinya  sederhana, sepak bola sebagai sebuah organisasi tidak mungkin tanpa konteks politik, orientasi yang dijabarkan melalui struktur kekuasaan, visi misi, dan aturan institusi yang menopangnya sebagai sebuah olah raga.

Anda jika belum mengyakini kenyataan di atas saya sarankan menonton FIFA Uncovered, film dokumenter yang menguliti jaringan kepentingan, bisnis, dan korupsi di tubuh organisasi yang memayungi sepak bola dunia saat ini. Film dengan empat episode ini cukup gamblang menunjukan bagaimana lapangan sepak bola tidak sampai berjarak sejengkal dengan keputusan politis elite sepak bola di atas meja. Bahkan sudah bukan rahasia, sepanjang sejarah berdirinya, federasi sepakbola sekelas FIFA lekat dengan upaya bangsa-bangsa kolonial untuk mempertahankan kekuatan dunia lama melalui politik kulit bundar.

Relasi sepak bola dan politik sudah sejak awal berkelindan bersamaan dengan praktik politik aneksasi. Beberapa pihak berkeyakinan sejarah awal permainan ini berkaitan dengan cerita masyur sepasukan perang Julius Caesar yang mengimpornya masuk ke tanah Inggris bersamaan dengan kepentingan perang saat itu. Versi paling dramatis dari kisah ini mengatakan bahwa bola perdana saat itu menggunakan kepala pasukan Romawi yang terbunuh dalam pertempuran.

Sudah sejak awal konsep olahraga, termasuk sepak bola, berhubungan dengan kedisiplinan di medan perang, meski dalam praktiknya sepak bola secara teknik tidak fungsional seperti tinju atau lempar lembing, misalnya, yang dapat dimanfaatkan di dalam perang. Dibandingkan dengan olah raga lempar lembing atau tinju, sepak bola kalah pamor ketika di masa lalu ketangkasan seseorang prajurit lebih sering ditunjukkan dengan cara ketika ia mampu mengalahkan musuh dalam ajang duel. Meski demikian, pertalian sepak bola dan politik, tidak saja dapat dilihat dari aspek-aspek langsung dari tujuan permainannya itu sendiri, yang selain dapat membangun kedisiplinan, juga mampu melahirkan jiwa korsa bagi pihak-pihak yang terkait dengannya. Dalam konteks ini lah nasionalisme dapat dimengerti sebagai identitas bersama ketika itu diperlukan untuk menunjukkan kesetiaan terhadap suatu negara.

Relasi sepak bola dan politik tidak selamanya akur seperti, misalnya, yang terjadi sebelum abad 19, ketika di Inggris permainan ini dianggap dapat menjadi biang keonaran di jalan-jalan, atau di taman-taman. Sebelum kerajaan memberlakukan aturan penjara bagi yang memainkanya, cap sebagai kriminil akan disematkan dengan kewajiban membayar denda bagi warga yang memainkannya. Tentu ini masih terkait dengan pandangan bahwa olah raga ini tidak berhubungan sama sekali dengan keperluan kerajaan untuk melahirkan prajurit perang yang tangkas dalam berduel.

Melalui cara pandang politik, sepak bola bukan olah raga yang dapat memberikan keuntungan bagi kekuasaan kerajaan, karena tidak seperti memanah, misalnya, yang kegunaan teknik dan fisiknya dapat dialihkan ke dalam perang perebutan wilayah. Dengan narasi yang seperti itu, tidak aneh bahkan dalam drama King Lear karya Shakespeare 1606, memainkan sepak bola akan dianggap sebagai pelecehan dan penghinaan kepada kaum bangsawan.  Mengapa dianggap sebagai penghinaan, itu dikarenakan dilihat dari konteks relasinya, warga yang bermain sepak bola sedang menunjukkan rasa tidak setianya kepada elite bangsawan yang menjadi pemerintahan setempat.

Meski demikian, saat raja-raja di Inggris berusaha menghapus sepak bola dari wilayahnya, permainan ini dapat tetap hidup di sekolah-sekolah dan universitas. Permainan ini bahkan lebih awal diformulasikan ke dalam aturan-uturan pertama kali oleh pelajar-pelajar sekolah dan mahasiswa-mahasiswa di universitas. Hingga 1863, menurut catatan sejarawan sepak bola Luciano Wernickle, itu lah fondasi awal ketika sepak bola dimainkan dengan sejumlah kesepakatan mengenai ukuran lapangan, jumlah pemain, atau perlunya gawang yang dulu bisa berupa  batu, pohon, atau pintu gerbang sekolah mereka. 

Dalam sejarah Indonesia hubungan sepakbola dan politik setidak-tidaknya ditandai dari dua momen bersejarah. Yang pertama adalah saat Soekarno tidak  mengundang Israel dan Taiwan dalam penyelenggaran Asian Games 1962 sebagai reaksi terhadap Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang tidak mengikutsertakan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Vietnam Utara dalam Olimpiade. Mendapatkan sanksi keanggotaan dari komite  olimpiade, Soekarno kemudian menyelenggarakan olimpiade tandingan bernama Ganefo (Games of the Emerging Forces) yang diikuti 51 negara dari benua Asia, Afrika, Amerika Latin, bahkan Eropa.

Kedua, ada hubungannya dengan sejarah PSSI yang membuat sepakbola menjadi ajang perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di masa penjajahan. Ada masa ketika pemerintah Hindia Belanda menyelenggarakan “pesta kolonial” selama berhari-hari untuk memamerkan kemajuan teknologi, kebudayaan, dan ekonomi negeri penjajah kepada wilayah jajahan. Dalam penyelenggaraan itu dimeriahkan pula dengan pertandingan sepak bola yang sudah mulai marak dimainkan oleh kalangan pemerintah hindia belanda (mungkin inilah cikal bakal gelaran pameran atau pasar malam seperti yang sering dilakukan birokrasi-birokrasi selama ini, yang dahulu merupakan kegiatan pemerintah Hindia Belanda  dalam rangka menunjukkan keunggulannya atas warga pribumi).

Saat itu, pemerintah Hindia Belanda tidak membiarkan sepak bola dimainkan bebas oleh bumiputera karena dapat menginisiasi sentimen kolektif dan dapat membangkitkan perlawanan rakyat atas Belanda. Ini nampak kontradiktif dengan kebiasaan praktik kolonialisme di tanah jajahan yang sering mengimpor kebiasaan mereka, seperti memanfaatkan sebidang tanah di belakang rumah untuk bermain olah raga seperti misalnya sepak bola, atau kriket, seperti yang dilakukan Inggris di India.

Seperti diketahui, praktik kolonialisme seperti di Hindia Belanda tidak saja menggunakan saluran pendidikan dan pemerintahan untuk mengontrol perlawanan rakyat di tanah jajahannya, tapi juga menggunakan olah raga seperti sepak bola demi melanggengkan supremasinya. Dalam hal ini untuk menegakkan supremasi kulit putih, bahkan dalam soal kekuatan fisik dan mentalitas, sepak bola menjadi sarana efisien dan efektif untuk menanamkan nilai-nilai bangsa kulit putih yang lebih elitis, beradab, dan berpendidikan dibandingkan dengan masyarakat jajahan.

Seolah membenarkan justifikasi teori kekuasaan terkait relasinya dengan wacana, kekuatan kolonialisme kerap menggunakan sarana wacana olahraga untuk menegakkan kontrol atas wilayah kekuasaannya. Gambaran mengenai ini sampai sekarang tercermin pula dalam dunia sepak bola yang mengetengahkan supremasi bangsa-bangsa kolonial, dibanding negara dunia ketiga, sebagai raja-raja sepak bola. 

Belakangan sepak bola dan politik menjadi perbincangan hangat terkait pro kontra kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara Piala Dunia U-20 tahun 2023. Dikarenakan Israel ikut serta di dalamnya membuat sebagian pihak menunjukkan sikap tegas agar negeri zionis itu lebih afdol tidak menginjakkan kakinya di bumi pertiwi. Melalui konstitusi, Indonesia sudah menyatakan dari awal dalam pembukaan UUD 1945, sebagai suatu bangsa, Indonesia  merupakan bangsa anti penjajah dikarenakan penjajahan dengan alasan apapun tidak akan dapat dibenarkan. Penjajahan dengan vulgar memeragakan tindak tanduk perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Karena itu, Indonesia juga menyatakan setiap bangsa berhak merdeka untuk menentukan sendiri nasibnya. Tidak ada di masa kini bangsa yang menganggap dirinya lebih superior dari bangsa lainnya.

Bagi sebagian orang kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20 merupakan kiamat, dan bagi sebagian yang lain, justru itu tidak ada hubungannya dengan cita-cita ketika sepak bola tidak dimainkan berdasarkan agenda yang sportif. Jamak diketahui, jangankan sepak bola, olah raga pada umumnaya tidak akan menjadi permainan yang menyenangkan semua pihak kalau dilakukan tanpa nilai-nilai sportivitas, yakni idealisme dalam dunia olah raga untuk menjunjung tinggi keadilan, kesetaraan, keterbukaan, dan pengakuan kepada lawan main. Tanpa nilai-nilai ini olah raga apa pun yang dimainkan manusia hanya sama artinya seperti sabung ayam. Tanpa kehormatan dan kebanggaan.

Jadi dari perspektif ini saja, implisit di dalamnya olah raga, terkhusus sepak bola, merupakan pernyataan politik, tetapi dengan pendekatan permainan yang dilakukan ke dalam kerangka kerja sama tim demi meraih kemenangan. Apabila pengertian manusia sebagai zoon politicon seperti pandangan Aristoteles diandaikan dalam dunia olah raga, pemain-pemain sepak bola dalam hal ini juga merupakan subjek politik yang sedang menyatakan semacam gagasan melalui cara mereka bermain dan bertindak di dalam lapangan. Dengan kata lain, konteks ini tidak dapat serta merta dilepaskan dari benih-benih politik yang selama ini terejewantah ke dalam wacana negara, pemerintah, atau kekuasaan itu sendiri. Dengan kata lain, pengandaian dimensi akal budi ke dalam permainan “olah otak” seperti dalam politik, tidak jauh berbeda secara substansial dari dunia olah raga.

Itu sebabnya, bukan hal aneh apabila dimensi politik dalam dunia olah raga juga ditemukan dalam nilai yang sama melalui nilai sportivitas, yang bermakna setiap olah raga mesti mengedepankan nilai kesetaraan, keadilan, dan keterbukaan untuk dapat dimainkan dengan kemartabatan sebagai bagian dari peradaban manusia. Dengan demikian, olah raga termasuk sepak bola di dalamnya, tidak akan dapat diterima sebagai suatu ajang permainan jika sebelumnya tidak menyepakati klausul yang inheren di dalamnya yaitu dimensi politis dari nilai sportivitas.

Menurut saya melalui konteks inilah, mengapa penolakan Indonesia terhadap Israel yang terjadi dalam sepak bola bisa dipahami. Israel, jangankan sepak bola yang merupakan derivasi dari identitas politiknya, keberadaannya sebagai suatu bangsa juga tidak dapat diakui dikarenakan masih menjalankan praktik agresi kepada Palestina. Dari sini dapat dimengerti, melalui sepak bola Indonesia sedang memperlihatkan politik pengakuannya untuk tidak sama sekali menunjukkan penerimaan kepada entitas penjajah sekalipun itu adalah Israel.  Menurut saya, ini jauh lebih penting dikarenakan kolonialisme tidak saja dikemukakan melalui agresi kekerasan, tapi juga melalui kebudayaan tidak terkecuali di dalamnya adalah olah raga.

The Wind Will Carry Us: Manusia itu Bukan Apa-Apa

“Death is the worst. When you close your eyes on this world, this beauty, the wonders of nature, it means you’ll never be coming back”

Kali ini The Wind Will Carry Us (1999) lebih memberikan ”ruang”  yang besar kepada perempuan, dan lebih banyak mengedepankan peluang pembacaan yang lebih feministik jika dibandingkan dengan Taste Of Cherry (1997), film besutan Abbas Kiarostami yang lain, yang sama-sama beride sentral kematian. Judul The Wind Will Carry Us diambil dari penggalan puisi Forough Farrokhzad penyair sekaligus aktivis progressif feminis Iran yang mati muda akibat kecelakaan mobil pada 1962. Dengan mengambil penggalan penyair beride politik feminis sebagai judul filmnya, apakah Kiarostami sedang menyatakan ide-ide kritisnya terkait dengan paham politiknya, atau itu juga berarti menandai suatu pesan eskatologik di dalam filmnya?

Dengan pertanyaan seperti ini akan sesuai dengan nuansa umum film Kiarostami yang lebih sering mengundang beragam pertanyaan, sehingga akan membuat penontonnya lebih banyak berpikir laiknya seorang filosof. Tapi, untuk mengatakan film-film Kiarostami tidak berdampak eksistensial kepada penikmatnya merupakan kesalahan fatal. Meski senantiasa berangkat dari premis sederhana, film-film garapannya lebih mengedepankan kompleksitas kemanusiaan.

The Wind Will Carry Us telah mengulang adegan pembukanya persis seperti Taste of Cherry, yaitu scene sebuah mobil berjenis Land Rover yang meliuk-liuk di antara bebukitan dikelilingi sabana, sementara angin terlihat membuatnya bergoyang-goyang seperti sedang dipandu untuk menyatakan gerak alam yang memukau. Dengan tekhnik long-shot, mobil ini meliuk-meliuk di antara jalanan tak beraspal, menandai bahwa film ini banyak menyediakan ruang filosofis bak jalan pikiran seorang penikmat ide-ide filsafat.

Tapi, film ini tidak sepenuhnya film tentang itu, melainkan kita akan dibawa kepada pergulatan perasaan, tarik ulur yang melibatkan ambisi manusia dan dari apa yang tidak dapat ia jangkau: ajal, alam, dan takdir. Dalam hal ini, ini terkait waktu, medan enigmatik antara kesementaraan dan keabadian, seperti dalam penggalan puisi yang menjadi bagian penting dalam film Kiarostami ini: “Bulan merah dan gelisah… Awan menunggu lahirnya hujan… Satu detik, dan kemudian tidak ada.”

Melalui Behzad Dourani, seorang reporter bersama dua krunya, kita akan menuju Siah Darreh (Lembah Kegelapan), sebuah kampung Kurdi udik yang berasal dari masa silam terletak 400 mil dari Teheran, Iran. Rumah-rumah mereka berdiri di atas tebing-tebing bebatuan, saling menempel, berjejal, dan tumpang tindih mengikuti gaya bangungan Pueblo yang terbuat dari lumpur keras, suatu kesan yang kontras dengan konteks zaman kekinian.

Maka jadilah Behzad bersama rombongannya dengan tipikal orang kota, yang kemudian mengalami sesat alamat ketika memasuki wilayah desa yang sepenuhnya hanya dikelilingi bukit-bukit maha luas. Beruntung rombongan ini dipandu oleh Farzad, bocah lelaki lokal yang akan menyanggupi seluruh keperluan mereka selama tinggal di desa ini.

Lalu untuk apa mereka melakukan perjalanan jauh sampai ke tempat yang signal handpone saja sulit? Rupanya karena seorang perempuan tua bernama Nyonya Malek yang  telah berusia 100 tahun. Mereka tinggal di Siah Darreh demi menunggu ajal Nyonya Malek, dan akan membuat film dokumenter mengenai ritual kematian yang dilakukan berdasarkan kebiasaan lokal masyarakat setempat. Sesuatu yang membawa nilai eksotisme dan spiritual bagi masyarakat kota seperti diwakilkan melalui kehadiran Behzad.

Selama menunggu Nyonya Malek sakaratul maut, tidak sekalipun kamera Kiarostami mewakili harapan penonton untuk dapat melihat langsung nenek misterius yang berusia satu abad itu. Ia hanya muncul melalui percakapan antara Behzad dan Farzad, melalui bingkai jendela biru sebuah rumah yang di dalamnya diketahui sedang terbaring seorang nenek sekarat—sesuatu yang juga berlaku kepada dua kru Behzad yang sama sekali tidak pernah tampak di depan kamera selain hanya mendengarkan dialog mereka dengan Behzad sebagai fokusnya.

Namun rencana tinggal rencana. Mereka makin lama makin frustasi dikarenakan tidak ada tanda-tanda ajal bakal menjemput Nyonya Malek. Dari hari ke hari Nyonya Malek makin membaik, yang karena itu membuat  mereka tidak akan dapat membuat film dokumenter seperti yang direncanakan sebelumya.

Eksotisme dalam Kamera

Peradaban modern merupakan konsepsi kehidupan yang terlampau rasionalistik, terukur, dan cepat. Tentu kegamblangan ini ditampakkan Kiarostami melalui adegan-adegan dilakukan Behzad saat berkomunikasi dengan atasannya menggunakan telepon genggam yang sama sekali tidak berfungsi, kecuali jika Behzad keluar mencari jaringan sampai di atas bukit kuburan. Ini satu tema yang mencolok mengenai problem modernitas ketika diperhadapkan dengan keadaan-keadaan yang belum dapat ia identifikasi sebagai bagian dari dirinya.

Tapi problem kebudayaan yang eksplisit dalam film ini tentu saja mengenai cara pandang masyarakat modern kepada hal-hal yang bernuansa eksotis dan spiritual. Itu sebab dahaga itu dimunculkan melalui motif dokumentasi yang sejak awal menjadi kepentingan jurnalistik Behzad. Ritual kematian dalam hal ini, apalagi masih dibalut dengan tradisi lokal, sudah tentu merupakan rangkaian upacara yang akan menjadi komoditas ekonomi melalui kemasan media massa. Sesuatu hal yang di masa sekarang menjadi bagian dari ekonomi pariwisata, dan dikukuhkan melalui program pemerintah untuk menjual eksostisme kepada dunia internasional yang notabene sangat menginginkan hal-hal yang berbau local wisdom.

Domestifikasi dan Paradoksnya

Formulasi pengambilan gambar Kiarostami bergerak di antara alam bebas, rumah-rumah bergaya Pueblo, dan sedikit karakter yang lebih banyak hanya diisi oleh Behzad. Seringkali Kiarostami memberikan perspektif yang luas melalui alam bebas; bukit, tanah lapang, dan siluet pegunungan dengan cakrawala luas permainan panoramik yang dinamis, dan di satu sisi kembali menyorot lebih dekat kehidupan domestik komunitas yang lebih banyak mengungkapkan kehidupan statik.

Di antara perpindahan dua landscape itulah perempuan tanpa disadari menjadi wacana yang tidak bisa diabaikan dalam film ini.  

Perempuan komunitas masyarakat Kurdi menjadi representasi gagasan tentang stigma beradab-abad mengenai kedudukan perempuan di tengah masyarakat. Makanya peralihan scene demi scene, perempuan menjadi sosok domestik dalam ruang lingkup kehidupan komunitas yang lebih banyak diperlihatkan melalui sorot pengambilan gambar Kiarostami—yang paling vulgar adalah scene saat Behzad mengambil susu sapi dengan memasuki area gelap berupa dapur (atau kandang), dengan sosok perempuan muda di dalamnya yang tidak sama sekali ditampakkan wajahnya; suatu permainan representatif menyangkut posisi perempuan yang mengalami domestifikasi atas dasar tradisi.

Sementara di sisi lain, tidak sekalipun ditemukan aktifitas mencolok mengenai peran laki-laki selain diceritakan lebih banyak menggunakan waktunya di ladang-ladang persawahan. “Penundaan” kehadiran laki-laki dalam cerita Kiarostami mengindikasikan signifikansi kekuasaan dan wewenang laki-laki yang meski sangat jarang tampak, tapi cukup menentukan terkait segala apa yang menjadi bagian dari wilayah keputusan, seperti yang selama ini terjadi melalui budaya patriarki.

Dengan indikasi semacam ini, tidak berlebihan jika dikatakan justru melalui keberadaan sosok Behzad yang berambisi dapat mendokumentasikan kematian sesosok perempuan tua, memperlihatkan sisi paradoksal dikarenakan dalam melakukan tugas jurnalistiknya, ia juga didesak oleh seorang perempuan melalui komunikasi via telepon yang tidak sama sekali terlihat sosoknya. Meski demikian, keberadaan sosok perempuan ini di sepanjang penceritaan sangat berpengaruh kepada keberadaan Behzad di desa itu.

Berlalu bersama Angin

Menjelang akhir, Behzad disadarkan mengenai kedudukannya sebagai makhluk fana—setidaknya seperti yang saya tangkap berkenaan dengan pergulatannya atas waktu. Di hadapan semua itu, setiap rencana yang berasal dari ambisi dan harapan, tidak dapat digdaya. Dialog-dialog ditunjukkan Behzad dengan seorang dokter kampung jelang pupusnya ambisinya, menjadi perangkat kesadaran bagi penonton yang sejak awal mulai memahami bahwasannya di dalam waktu segalanya akan bergerak berdasarkan hukumnya sendiri.

Dalam arti ini, manusia sebagai makhluk yang kerap berposisi superior atas keinginan-keinginannya mau tak mau akan dikembalikan kepada ruang negoisasi di dalam dirinya. Dengan kata lain, apalah arti semua harapan, cita-cita, apalagi ambisi, jika di luar dari itu masih banyak hal yang tidak dapat dikendalikan olehnya, termasuk di dalamnya: takdir, atau ajal, atau yang lebih substansial dari itu, misteri ego!

Bulan merah dan gelisah… Awan menunggu lahirnya hujan… Satu detik, dan kemudian tidak ada.”

Directed byAbbas Kiarostami
Written byAbbas Kiarostami
Produced byAbbas Kiarostami
StarringBehzad Dorani
CinematographyMahmoud Kalari
Distributed byNew Yorker Films (USA)
Release date6 September 1999 (Venice Film Festival)
Running time118 minutes
LanguagePersian

Apokaliptik Sepak Bola

“Butuh seratus tahun lagi melihat seorang pesepak bola seperti Lionel Messi,” kata teman saya, yang saya tahu merupakan penggemar berat Inter Milan. Kami berdiskusi tentang piala dunia, aktivisme kemahasiswaan, dan sekelumit masalah dalam dunia akademik. Tidak lama, tapi tidak bisa juga dibilang singkat. Dan, setelah itu tidak ada euforia, setidaknya yang ditunjukkan olehnya, dan juga diri saya yang dikarenakan bukan penggemar Argentina. Tidak lama kami berpisah, dan pernyataannya yang tidak disangka itu terngiang-ngiang mengusik benak saya.

Mengapa membutuhkan waktu seratus tahun lamanya? Mengapa mesti orang seperti Lionel Messi? Bagaimana kalau tidak sampai seratus tahun, separuh penduduk dunia mulai meninggalkan sepak bola? Bagaimana jika dua puluh tahun saja, si kulit bundar sudah tidak lagi dimainkan di masa depan?

Barangkali abad 21 merupakan fase terakhir masyarakat dunia dapat menyaksikan sepak bola. Dan Lionel Messi merupakan prototype pesepak bola mutakhir dan akhir untuk saat ini. Sudah tidak ada lagi pesepak bola yang menyerupai dirinya. Hatta Cristiano Ronaldo sekalipun, lawan tanding yang kerap dipersandingkan media dan kedua penggemarnya. Messi disebut-disebut pemain bertalenta yang dilahirkan alam, dengan bakat tiada dua sehingga sepak bola menjadi lebih bermartabat dikarenakan pernah dimainkan seorang manusia dengan kemuliaan kaki kirinya.

Dia bak Achilles keturunan Hercules, anak Zeus setengah manusia setengah dewa yang dapat melakukan hal-hal di luar nalar melalui kehebatan kelahinya.

Lionel Messi karena itu tidak sekadar persoalan semantik, dari namanya yang benar-benar menjadi “juru selamat.” Ia bermain dengan tekun, menunduk seperti kutu (la pulga), membuat dirinya menjadi lebih kecil saat menggiring bola, berkelit benar-benar seperti kutu rambut, dan melalui kaki kirinya melahirkan sekeranjang gol yang tidak pernah diciptakan banyak pemain bola manapun. Dalam hal ini caranya bermain bagai anomali sepak bola, persis kelahiran Juru Selamat yang muncul di tengah-tengah keadaan masyarakat Jerusalem yang memburuk.

Oleh sebab itu bukan sekadar Argentina tapi bisa saja Lionel Messi penyelamat untuk sepak bola dunia, yang akan segera berakhir setelah namanya menutup jejeran legenda sepak bola, sejak era Zamora, Puskas, Kruyff, bahkan Diego Maradona, satu-satunya pesepak bola yang membuat penggemarnya menciptakan agama demi dirinya bernama Iglesia Maradoniana (Gereja Maradona). Kedatangannya akan menutup buku catatan rekor sepak bola. Mengakhiri olahraga ini di muka bumi yang ditandai melalui fotonya yang sedang mencium bola dunia emas, yang tidak lama lagi akan menjadi foto iconik di mana-mana.

Sepak bola bukanlah agama, tapi fanatisme dapat muncul tanpa terduga sehingga membuat olahraga seperti sepak bola dapat membuat penggemarnya memberlakukannya seperti agama, dan menjadikan sang idola seperti tuhan. 1998 merupakan tahun terpenting bagi Iglesia Maradoniana yang didirikan oleh penggemar berat Maradona yaitu Hector Campomar, Alejandro Veron dan Hernan Amez, di Rosario Argentina. Sampai saat ini, gerakan ini aktif mengkampanyekan 10 ajaran agamanya yang menjadikan sepak bola sebagai ajang siar kasih sayang, dan menjadikan jersi Argentina sebagai jubah sucinya. Diperkirakan sekarang anggota mereka mencapai 200 ribu orang tersebar di 130 negara, dan menjadikan hari kelahiran Maradona sebagai hari natal mereka.

Belum lama ini perhelatan sepak bola dunia telah ditutup dengan pesta kemenangan Tim Tango setelah drama adu tendang 12 meter mengalahkan Perancis sebagai juara bertahan. Messi dinobatkan menjadi pemain terbaik di Lusail Iconic Stadium berkapasitas 88.000 penonton, menggunakan jubah hitam laiknya pandit agama, yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Pencapaiannya akan dianggap sebagai batas prestasi maksimal bagi pemain sepak bola, menjadi legenda, dan bisa jadi dianggap sebagai nabinya sepak bola dunia.

Di masa lalu hanya ada satu pemain yang menyita publik sepak bola karena gaya bermainnya yang tidak pernah ditemukan sebelumnya, bahkan Pele sekalipun, yang konon telah mencetak 1.279 gol di sepanjang karir sepak bolanya. Adalah Ronaldo Luís Nazário de Lima, yang belum genap 20 tahun dapat menyabet gelar Ballon d’or saat berkostum Barcelona di 1999. Karena itu ia dijuluki El Phenomenom, predikat yang mensinyalir suatu fenomena anomalistik dalam dunia sepak bola saat itu.

Tapi setelah itu dunia kulit bundar segera menyadari, sepak bola terus berkembang dan masih terus melahirkan talenta-talenta baru yang kehebatannya lebih dahsyat dari seorang Ronaldo. Sampai kemudian muncul nama-nama beken seperti Ronaldinho, Rooney, Eden Hazard, dan Cristiano Ronaldo, tapi tidak satupun yang cukup dapat menjadi pemain seperti Messi, pemain yang seolah-olah berasal dari dunia lain. Hanyalah Lionel Messi digadang merupakan titisan pesepak bola seperti Maradona, si Tangan Tuhan, karena baik postur, kecepatan, dan juga gaya driblenya yang mirip dengannya. Hingga akhirnya di partai final dalam menghadapi Perancis, Messi cs. dapat menorehkan kali ketiga bagi Argentina untuk merajai sepak bola seantero dunia. Suatu pencapaian kolektif bagi sepak bola Amerika Latin untuk dunia, dan sudah tentu menjadi tinta emas bagi Messi yang telah menggenapkan sejumlah gelar domestik dan dunia.

Menurut catatan sejarah diakui FIFA, sepak bola merupakan permainan yang pertama kali muncul di masa Cina Kuno, tepatnya di masa Dinasti Han abad 3 SM bernama Ts’uh Kuh. Kemudian ditemukan permainan sejenis bernama Kemari di Jepang; Epislcyros di Yunani; Harpastum di Romawi; dan Tlachtli di  Aztec, yang semua merupakan nenek moyang sepak bola modern saat ini.

Tentu cerita dramatik bagi sebagian orang selama ini sepak bola dapat menyeberang ke Inggris setelah imporan rombongan pasukan Julius Caesar yang menggunakan kepala mayat tentara Romawi sebagai bolanya. Sejak saat itu ”sepak bola” dimainkan di jalanan atau ladang yang bisa melibatkan dua desa dengan dua puluh, lima puluh, atau bisa mencapai ratusan pemain masing-masing tim. Kemudian tiba era ketika permainan ini dimainkan oleh pelajar-pelajar di asrama sekolah elite di kota London, yang masing-masing kamar berisi sebelas pelajar sehingga mulai saat itulah kebiasaan sebelasa lawan sebelas menjadi lumrah.   

Dari abad lampau hingga kini, kata Luciano Wernickle dalam Mengapa Sebelas Lawan Sebelas, sepak bola terus berubah: ukuran lapangan, jenis bola, jumlah pemain, model tiang gawang, sampai keberadaan kartu merah dan kartu kuning. Menyesuaikan dengan perubahan-perubahan itu semua, para pemainnya sebagai bagian hidup di dalamnya juga mengalami perubahan dan evolusi cara mengolah kulit bundar.

Sepak bola abad 21 sudah sangat maju baik dari segi penyelenggaraan, tim-tim yang berlaga, dan kualitas pemainnya apakah itu terkait fisik dan intelektualitas permainan. Mulai dari aturan terbaru offside sampai penggunaan chip sepatu dan teknologi Electronic Performance and Tracking Systems (EPTS) yang dapat dimanfaatkan pelatih untuk mengkoordinasi data-data pemain selama merumput. Sepak bola makin kesini telah menuju masa puncaknya, dan itu telah membuat piala dunia 2022 yang diselenggarakan di Qatar merupakan pagelaran sepak bola terbaik. Sebagai era puncak sepak bola di ajang ini pula beberapa nama akan menjadi bersinar, dan tentu Messi menjadi pemain sepak bola abad 21 paling fenomenal terkait pencapaiannya.

Jadi, jika saja sepak bola menjadi bagian perwatakan dunia saat ini, yang mengalami dekadensi, kekeroposan, dan kehancuran, dan setelah itu mendasari kemunculan seorang juru selamat, bisa jadi Lionel Messi menjadi salah satu pemain yang menandai era kanonik dalam sepak bola. Para penikmat sepak bola tentu penasaran, jika rivalitas seperti ”pemain robotik” Ronaldo versus Lionel Messi yang dinyatakan pemain dari galaksi lain berakhir, apakah itu mengisyaratkan sepak bola di masa depan telah memasuki era apokaliptik?


Sumber gambar: www.fcbarcelona.es