Semua tulisan dari Dion Syaif Saen

Pekerja seni di Bantaeng

Jadah, antara Nasib dan Nasabnya.

Hidup memang berkalang ilalang, dari setiap persoalan anak manusia. Penghinaan dan hujatan itu begitu mudah terlontar, bagi manusia yang juga terlahir dari setetes air hina.

Kisah manusia yang umum terjadi. Syahwat dan martabat tak serakaat dengan tabiat. Cara berpikir yang amat pekat. Bertindak Tuhan saling melaknat.

Sepertinya tak tabu lagi, kisah anak lahir di luar nikah. Budaya tak bisa melerai, dia seperti mati suri dalam aturannya sendiri, manusia makin terbang dalam sensasi dan fantasinya. Agama hanya menakuti sesaat. Manusia hanya melihat satu titik saat itu saja. Tak menjadi perujuk serta perajut dalam satu tajuk, dengan petunjuk lainnya yang bisa lebih sejuk.

Dr. P. A. Van der Wij dalam buku berjudul Filsuf-filsuf besar tentang manusia. Pertama apakah hidup kita saat ini masih bermakna? Dan, kedua, jika masih bermakna yang bagaimana? Dua pertanyaan itu timbul dari kegelisahan eksistensial. Ketika manusia diperhadapkan bayang-bayang hari esok.

Pertanyaan itulah kemudian menjadi refleksi intensif. Sementara kita masih merasakan keresahan, kegelisahan dari setiap sudut pandang kita hadapi. Menjadi cermin bagi kita untuk memahami persoalan-persoalan yang pelik bahkan remeh-temeh. Tentunya secara manusia dimensi etis itu memberi pengaruh bagi setiap insan, untuk tidak saling mencacah, apatahlagi merampas hak-hak sosial.

Betapa renyah, dan jemawanya kita, melupakan ari-ari kita sendiri, saat pecahnya ketuban seorang perempuan, lalu dihinakan. Menyeretnya ke kubangan yang terasing. DR samuel Jhonson dalam buku La Tahzan pada tema Karunia dan Ganjaran mengatakan: “Bukankah kebiasaan melihat sisi baik dari semua peristiwa jauh lebih berharga daripada mendapatkan penghasilan seribu poundsterling dalam setahun”.

Terlahir Sulung dari keluarga sederhana, Anaknya baik, santun, pernah tadarusan dan belajar iqra dekat rumahnya. Di kelas dia tergolong anak pintar. Hanya saja kurikulum dan kompetensi guru yang gengsi megapresiasi. Jadah suka berkhayal, bermimpi ini dan itu. Hingga saat beranjak tumbuh menjalani hidup penuh kesepian. hidupnya terasing, dipandang sinis, oleh manusia sekitarnya, lingkungan, bahkan keluarganya sendiri.

Jadah, mendapatkan perlakuan setiap hari dengan perundungan. Kemudian mengajak Tuhan berdialog, atas kemalangan yang menimpa dan menanggungnya sendiri. Ia terlahir sebagai anak di luar nikah. Secara hukum sosial pasti berlaku secara kultur. Tetiba dia reinkarnasi, terbang menuju nirwana dengan suka cita. Akan tetapi apa daya, sayapnya ditembaki peluru makian hingga ke rongga dadanya. Bagai seribu anak panah menancap tak punya ampun.

Dia mengadu entah ke mana. Ibuku dipaksa, dibujuk serta dirayu untuk meladeni ayahku kala itu. Ia pasrah, oleh kecamuk ayahku yang mendidih. Pada akhirnya menemukan diriku dalam rahimnya.

Suara sesak Jadah menganulir perasaannya sendiri. Malang nasibnya, hajat kedua orang tuanya berakhir berubah menjadi hujat.

Lalu bagaimana nasab seorang Jadah? QS al- Ahzab:4-5. Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya, dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan mawla-mawlamu.

Mengutip di halaman Republika.co.id. Imam Ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla menjelaskan, anak itu di nasabkan kepada ibunya. Jika ibunya berzina dan kemudian mengandungnya. Tidak dinasabkan kepada lelakinya. Beberapa pendapat lain, senada dalam hukum nasab anak di luar nikah; Anak hasil zina adalah anak yang lahir sebagai akibat dari hubungan badan di luar pernikahan, sah menurut ketentuan agama. Anak ini tidak mempunyai hubungan nasab, wali, nikah, waris, dan nafkah.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat Fatwanya. Nomor 11 Tahun 2012 menjelaskan, pemerintah berwenang menjatuhkan hukuman tazir kepada pezina yang mengakibatkan lahirnya anak dengan mewajibkannya mencukupi kebutuhan hidup anak tersebut. Memberikan harta setelah ia meninggal melalui washiyyah wajibah. Hukuman ini bertujuan untuk melindungi anak. Bukan untuk mengesahkan hubungan nasab antara anak tersebut dengan lelaki yang mengakibatkan kelahirannya. (Republika.co.id)

Secara hukum di dunia, tak seiring bagaimana perasaan yang dirasakan Jadah, atau mungkin saja manusia makin hari makin menjadi teroris secara psikis, mental, ataukah kepunahannya manusia dalam memahami agama yang menyejukkan, budaya mengasah akal, terjungkal dalam kedangkalan.

Nasib dan nasab sang Jadah, bukan hanya menjadi perenungan semata, sebab kita kadang abai. Jadah merasakan bagaimana perlakuan terhadapnya. Manusia makin pemarah, tak ada lagi yang ramah. Jadah memunguti ranting lukanya, dia jadikan pena, di atas tanah kehinaannya, menulis namanya dengan huruf kapital. Air matanya jatuh berderai, luruh tak bertenaga. Dan, pada akhirnya rubuh di pelukan ibunya.

Dia berbisik dengan suaranya yang parau. Aku melahirkanmu sebagai anak yang baik, dengan santun, beradab. kutimang dengan segenap doa, Saat orang-orang memamah dengan anak panah sinis kehinaan kepadaku, ibulah yang hina. Mereka memang jahat Jadah. Sungguh.

Dengan terisak, tangisnya ringkih membubung ke langit. Dia memeluk Jadah, yang kini terbaring hening.


Sumber gambar: www.idntimes.com/science/experiment/abraham-herdyanto/hari-genetika-sedunia-manfaat-mengenali-keturunan

Toxic Relationship: Atas Nama Cinta?

Setiap pasangan memiliki potensi beracun. Tak mengenal, sebagaimana manusia yang merasa cendekia, seniman, budayawan, dan orang alim. Atau seolah-olah romantis. Cinta itu sabana dan telaga menyejukkan. Bukan menjadikannya slogan semata. Cinta itu sakral. Saya kemudian tergugat, tergurah, dan tergugah, pada fenomena hubungan beracun ini. Sejatinya pasangan, hubungan itu bersemi dan saling melengkapi.

Apa itu toxic relathionship? Toxic relationship adalah hubungan yang ditandai dengan perilaku buruk, tidak sehat secara emosional yang dilakukan salah satu pihak kepada pasangannya. Tidak jarang merusak secara fisik. Orang yang terlibat atau terjebak dalam hubungan toxic relationship, biasanya akan menguras banyak energi, hingga merusak harga diri. Idealnya, hubungan yang sehat melibatkan perhatian timbal balik, rasa hormat, kasih sayang, serta kesejahteraan. Sebagaimana impian semua pasangan.

Toxic relationship ditandai dengan suasana tidak nyaman dan aman. Sikap egois selalu mendominasi. Hubungan tersebut tidak akan berlangsung lama, hanya akan meruntuhkan tahta kerajaan cinta, yang dulu diagungkan, saat masa perkenalan, berjanji saling melengkapi dan melindungi. Namun, tidak happy ending. Cinta bukan sekejap mendekap, dia bertahap seperti rindu menggebu tidak menjadi beku. Tetapi realitas pada hubungan ini, semua terasa kaku. Plato menambahkan, “Sebagaimana cemburu, rasa memiliki, itu kadar cinta paling terendah.”

Suatu hubungan tidak sehat, berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun mental seseorang. Hubungan ini pula, sesungguhnya tidak hanya terjadi pada sepasang kekasih, suami istri, tapi juga bisa terjadi pada orang-orang sekitar kita: teman, kelompok, lingkungan, bahkan keluarga.

Secara umum ini telah terjadi. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak dalam toxic relationship. Maka jangan merasa aman dalam sebuah hubungan.

Justru, tanpa sadar pernah memperlakukan orang sekitar kita, merasa tidak nyaman, merasa tersinggung secara tutur, atau melalui gerak tubuh bisa berpotensi menimbulkan reaksi negatif, bahkan secara psikis. Atau bisa saja di antara kita pernah memperlakukan pasangan seperti dominasi peran, lalu pasangan hanya memilih diam.

Ciri sederhananya, ketika membuat salah satu pihak merasa tertekan, tersakiti hatinya, hingga berlarut menjadi prahara yang tidak bisa lagi dilerai. Inilah mengapa toxic relationship tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Maka dalam kasus ini, butuh penanganan khusus, apakah itu dengan berkonsultasi pada pihak psikiater, atau orang paling dipercaya, terutama keluarga tentunya. Agar ini tidak berdampak buruk pada hubungan beracun ini.

“Atas nama cinta” hanya ingin merasakan sensasi dan khasiat. Ada kata sepakat, sama-sama ingin memikat dan terikat, tetapi memiliki tabiat. Apalagi cinta erotik misalnya. Fokusnya adalah kesenangan jasmaniah, nalurinya penuh fantasi mencari kesenangan fisik. Cinta ini sangat ironi. Tidak boleh berhenti apalagi terbawa suasana di tahap ini.

Seseorang akan menjadi korban perasaanya sendiri. Nah, ciri seperti ini telah banyak terjadi. Dia akan patuh dan menjadi budak cinta yang sesungguhnya. Seperti pertama kali mengalami pubertas, atau bahkan berkali-kali merasakan jatuh cinta, penuh bahasa perayu, meniru deretan roman-roman percintaan. Sungguh amat klasik merasakan asik, tetapi pandai berkelik. Cukup menggelitik rasanya, baru tumbuh seputik berani memetik.

Ada juga hubungan merasa memiliki, takut kehilangan terhadap pasangan. Hubungan sepertiini, akan mengabaikan kebaikan yang lain seperti keluarga, persahabatan, bahkan orang tua. Inilah “pecinta ala kadal”. Beberapa sumber menegaskan, hubungan ini sebaiknya segeralahmengakhirinya. Jangan bertaruh “atas mama cinta”.

Apakah kita juga aman dalam isitilah toxic relathionship? Hati-hati. Jangan-jangan kita salah satu pelaku pula pada hubungan ini tanpa kita sadari. Baik terhadap pasangan, suami istri, teman, tetangga, pada keluarga (orang tua). Saya kira tak ada salahnya juga kita menelusuri dan sejenak merenungkannya.

Dilansir dari Time, ahli komunikasi dan psikologi yang berbasis di California AS, Dr Lillian Glass, kali pertama memperkenalkan istilah “toxic” lewat bukunya bertajuk Toxic People pada 1995. Ia menyebut toxic relationship artinya hubungan yang bersifat merusak karena konflik, tidak saling mendukung, muncul persaingan, sampai hilangnya rasa hormat, dankekompakan.

Ketidakmampuan menerima perlakuan sifat setiap pasangan, sebagaimana cinta, dia muncul seketika secara alami. Dia hadir sebagai penyucian hati, pikiran, emosi dan rohaniah. Bukan sekadar bumbu penyedap dalam hubungan. Sujiwo Tejo menambahkan, mencintai bukan sebatas angka-angka. Jika kau memilih karena dia perhatian, dan telah memiliki kemampuan materi, itu juga tidak menjamin kebahagiaan.

Henry Manampiring, dalam bukunya Filosofi Teras. Menghubungkan bahwa lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah mazhab menemukan akar masalah dan juga solusi dari banyak emosi negatif. Upaya mengetahui sifat, karakter dan mengatasi emosi negatif, menghasilkan mental yang tangguh dalam menghadapi setiap sesi kehidupan di dunia ini.

Memilih pasangan bukan sekadar dalam kadar yang melewati radar mata, dia adalah rasa. Penerimaan secara keseluruhan. Menerima konsekuensi dari sebuah pilihan. Bukan semata menata kata.

Atas nama cinta, bukan aksi sejuta kata-kata, seribu rayuan, dan rangkaian sajak-sajak semata, Tetapi hubungan itu bisa bertahan ketika mencintai, tetapi menerima kekurangan, menghargai satu sama lain. Bukan hanya meletakkan bunga mawar dan mahar, dengan sebatang lilin di sudut ruang sebuah restoran, sembari meminjam puisi cinta romantis, tetapi berakhir tragis.

Ilustrasi: Adam Martinakis, pixelle.co

Pandemik Corona dan Tradisi Ramadan: dari Angan sampai Kenangan

 

Ziarah di makam sepi, kebanyakan orang memakai setengah topeng (masker). Saat bertemu kerabat, hanya senyuman, terasa ganjil tanpa jabat tangan. “Maaf, kita dituntut jaga jarak!”

Saya hendak memekik, namun mereka menuduh saya gila! Saya kembali bertanya pada pusara seorang syekh bernama Abdul Gani. Jarak rumah saya, tidak begitu jauh dari makam para raja-raja Bantaeng tempatnya terkubur, dan La Tenri Ruwa dimakamkan; kini namanya menjadi ikon situs sejarah di Bantaeng. Saya mengajaknya bercakap, “Tenangkah engkau di alammu, atau resah dengan keberadaan kami yang kini dilanda penyakit kronis zaman dan peradaban?” Lalu, saya mengiriminya doa ke langit, tampak awan berteduh di atas saya, sore menjelang petang. Rusuh tanpa risalah, masalah yang curang dalam solusi, hingga kebiasaan yang tersemat selama ini, berada di ujung tanduk.

Sepatutnya, tidaklah harus saling menunjuk, orang-orang yang paling bertanggung jawab pada situasi pandemi covid 19 sekarang ini.  Apatah lagi, kehadiran corona virus tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan. Memang sangat terasa perbedaannya, Ramadan hadir dengan tidak biasa seperti sebelumnya. Semisal, anak-anak ramai menjelang tarwih berbondong-bondong ke masjid, orang dewasa mengatur jadwalnya seperti halnya anak remaja yang berkumpul menentukan pilihan masjid tempat tarwihnya jika malam dengan songkok barunya, dan sejumlah varian lainnya yang secara budaya telah berlangsung sejak lama. Kehadiran wabah yang makin menakutkan dan “menakut-nakuti” ini, mengakibatkan semua telah berubah secara cepat dan massif. Orang-orang di seluruh penjuru dunia takluk, tidak melakukan apa-apa termasuk salat tarwih, dan pembatasan berskala besar pada nilai sosial budaya yang telah kita anut bersama.

Ramadan akhirnya menjadi bulan tumpahnya gerutu manusia. Salah satu ladangnya adalah media sosial. Sebuah ladang pelampiasan sisi lain manusia yang senang saling menuduh, lalu menyalahkan satu sama lain yang akhirnya dibaca, dan dianggap sebagai kebenaran valid. Banyak pendapat yang tertuangkan di media sosial, alih-alih menenangkan orang-orang di masa pandemi corona, berbalik menjadi pernyataan yang memprakarsai kepanikan khalayak. Jika ini tidak terbendung, bisa jadi akan terlahir sebuah kebiasaan saling menuangkan opini tanpa kontrol diri, dan berujung kekacauan tanpa kendali.

Kondisi saat ini, semisal pusara menggigil. Aroma kedamaian tercium sungguh samar oleh pandemi dan hiruk pikuk opini orang-orang yang sungguh beku, mendinginkan kemanusiaan dari sisi psikis dan budaya. Ibaratnya, kita sedang hidup dalam relung dan renung yang dipasung. Sepertinya butuh lebih banyak “nutrisi” mengeja suasana ini agar lebih jeli memilah solusi yang tepat tentang nilai kemanusiaam yang kini hampir diusaikan, oleh seribu pesona dan beragam cara. Ada beberapa tipologi manusia yang dapat menjadi rujukan. Ada orang-orang yang penuh takzim membantu meski pada hal-hal kecil. Ada yang memilih berdiam, sebatas menyimak sahaja. Ada pula yang bergerak langsung ke medan “pertempuran”, entah mereka para medis, ibu rumah tangga yang stay at home, bapak-bapak tulang punggung rezeki keluarga yang tetap harus bekerja, atau para pengojek online sebagai kurir “kehidupan” di tengah wabah corona. Namun, tidak sedikit pula yang menjadi “pengeruh” suasana, yaitu mereka yang penuh semangat membalikkan opini publik demi kepentingan pribadinya, atau mereka yang sulit membedakan mana yang lazim (pantas) dan yang kurang lazim dilakukan. Sujiwo Tejo mengatakan dalam buku “Ngawurnya Karena Benar“, “Bagaimana kita mengubah suatu kelaziman kalau yang lazim itu sendiri tak kita sadari?”

Kekhwatiran itu makin berspekulasi. Dari sebuah kebiasaan dan ketidaklaziman yang kini dipancing untuk patuh pula. Atau mungkin saya saja mengalami sindrom itu? Kadang tidak tenang, kacau, tragis, paranoid, dan cendrung menyiksa diri sendiri. Sebagaimana pemikiran seorang filsuf abad pencerahan, Jean Jacques Rousseau, bahwa orang-orang beradab di masa kini adalah para “pemakai topeng”.

Kemewahan, seni, dan ilmu pengetahuan hanyalah fana, sebuah muslihat yang justru menjauhkan manusia dari kodratnya sendiri. Tokoh romantisme ini, dikenal sebagai sosok yang memiliki watak tidak stabil, dan mudah marah. Dia juga mudah menyerah kepada setiap wanita cantik sehingga memiliki banyak anak yang semuanya dititipkan di panti asuhan. Dalam laku berpikirnya, dia kadang merasa dirinya terpecah-belah antara perasaan dan akal budi, meski demikian dia mampu berkontemplasi yang membuat dirinya melahirkan karya-karya. Menyikapi apa yang terjadi sekarang, saya merasa berada dalam diri Rousseau yang membabat pikiran para filsuf rasionalisme. Rousseau berteori bahwa alam murni itu baik dan indah, sehingga segala sesuatu yang dekat dengan alam murni, baik dan indah adanya. Saya hendak mengatakan, “Kembalikan semua pada posisi sebenarnya. Pada kebiasaan semestinya!

Tahukah? Raut cahaya cemerlang itu seperti tiada berseri menjelang kehadirannya. Yah, pada hari pertama hujan lebat, angin wara-wiri di antara daun mangga, anggrek, dan atap-atap rumah yang membuatnya saling bergesek mengacaukan keadaan. Bias dan kiat seketika. Sejengkal jarak, di dekat saya sebuah kitab mengundang gulana.

Rasa rindu pada suasana Ramadan dulu, mematuk.  Menghabiskan waktu berada di masjid, ikut pesantren kilat, atau pun tadarusan adalah sebentuk aktivitas pengisi bulan penuh rahmat dan ampunan ini. Saya terpengaruh oleh ingatan-ingatan itu. Pada dinding kaca, saya menemukan mimik ini dipenuhi kecemasan dan ketakutan saat mengingat pandemik ini akan bersentuhan lama dengan Ramadan. Pesonanya, saya pastikan akan pudar, sepi oleh aktivitas yang membuatnya senantiasa dinantikan. Siang setelah salat Zuhur, saya mendaras kitab suci lagi mulai dari awal Alif Lam Mim. Sampai beberapa lembar, setadah hujan mengguyur di luar jendela, saya rekatkan kembali dan bertahan pada kondisi yang tidak lazim ini.

Haidar Bagir, dalam bukunya “Islam Tuhan Islam Manusia”, menulis bahwa, akal adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang menjadikan manusia makhluk paling mulia (Ahsan taqwin). Maka, saya bahkan melepaskan keyakinan keislaman ini dari segala bentuk otoritas tafsir sesuai dengan akal. Namun, saya akan menerima tafsir otoritatif jika itu bersumber pada bukti-bukti yang meyakinkan secara intelektual, dan berdasar pada prinsip-prinsip ilmiah yang saya yakini kebenarannya.

Jika direnungkan, otoritas keyakinan manusia sesungguhnya sangat kuat. Hanya saja, kini otoritas itu mulai berbelok, menghancurkan tatanan budaya, tradisi, bahkan secara agama itu sendiri. Dia seperti virus baru yang secara cepat memengaruhi sifat berkebudayaan dan keberagamaan yang saya yakini selama ini.

Benar juga teori konspirasi dan analisis yang pernah ada pada zaman-zaman sebelumnya. Antara ketakutan, kecemasan, sampai pada akhirnya kita terpapar bukan karena covidnya yang gesit, tetapi karena sifat, cara, dan kebiasaan berbudaya dan beragama kita yang mulai genit semasa pandemik kurang lebih empat bulan ini. Kita semisal dipasung manusia-manusia yang memiliki otoritas lebih, dan mampu mencipta opini memukau, serta membalikkan kondisi yang seolah-olah masih butuh waktu lama membaik. Pun pada keadaan yang serba salah, dan serba terpaksa.

Selama dua hari ini, saya telah membaca dua surah. Namun, terasa hambar. Padahal, Ramadan yang telah lalu, saat membaca kitab ini, saya sungguh menikmatinya. Tidak terasa, Ramadan telah sampai pada hari ini, ingin rasanya kembali menikmatinya tuntas. Seperti jatuh cinta lagi dan melewati fase pubertas sebagaimana dahulu merangkai kehangatan. Walakin, jatuh cinta di masa begini, sungguh menggelisahkan, dan  bagai berkencan di tengah pusaran badai. Menahan rindu itu berat. Lamun, biarlah ini menjadi kidung cinta ilahi, dalam sepi. Tetap bersemi, sembari terpasung. Saya menikmati sahaja keberadaan ini.

 


 

Sumber gambar: google