Semua tulisan dari Irfan Tawakkal

Irfan Tawakkal, lahir di Kolaka, 16 April 1984. Aktif sebagai pendamping profesional, Kementrian Desa RI di Kabupaten Bantaeng. Salah seorang peserta Kelas Menulis Rumah Baca Panrita Nurung dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.

Tradisi Nyekar dan Misi Intelektual

Tradisi nyekar merupakan laku purba pada sebagian besar masyarakat kita. Tradisi ini makin kuat pengaruhnya manakala dotrin agama ikut menguatkan.  Di sebagian masyarakat, utamanya di kampung-kampung menjadikan nyekar sebagai wahana memelihara kualitas spritualitas, tentu dengan ragam ritual di dalamnya. Tradisi  berabad-abad lamanya ini, sudah menjadi denyut kehidupan masyarakat kita, hingga dipercaya membawa keberkahan hidup. Dari tradisi nyekar ini pula, memberi semacam multiplier effect, yakni mendorong sektor lainnya tumbuh, semisal di bidang ekonomi, pariwisata, dll. Hal ini semakin menguatkan keyakinan, nyekar membawa berkah kehidupan.

Di setiap tempat, di mana tradisi masyarakat membiak, memiliki khasnya masing-masing, terutama mengenai ritual yang dipercayai oleh masyarakat memiliki nilai spiritualistik, sedangkan lain-lainnya dianggap formal adanya. Entah sejak kapan  nyekar menjadi sebuah tradisi di tengah-tengah masyarakat. Konon kabarnya, laku nyekar sudah berlangsung sejak zaman prasejarah, hingga masuknya Islam sebagai agama baru. Seiring perkembangan zaman, tradisi nyekar justru dipakai sebagai sarana dakwah ajaran Islam, tentu saja, ini makin menguatan kohesi antar agama dan budaya lokal terhadap peradaban Islam di Nusantara .

Ada banyak makam-makan kuno yang dipercaya masyakarat sebagai makam keramat. Makam itu dipercaya memiliki karomah, sebab, makam seseorang tersebut dipercaya sebagai titisan Tuhan atau wali Allah Swt. Mengapa orang-orang percaya makan tersebut adalah wali Allah? Sebagai besar masyarakat mempercayai, Allah menitipkan walinya  di setiap zaman, tugasnya menuntun manusia senantiasa berada di jalan kebenaran. Wali Allah atau titisan Tuhan merupakan wasilah kenabian, mereka meneruskan cita-cita kenabian, agar bumi terus tegak diporos kebenaran. Dalam keseharian, kehidupan wali Allah hidup seperti manusia biasa lainnya, tanpa  seorangpun mengetahui dirinya adalah wali, kecuali Allah Swt. Di kehidupan sosial, para utusan Tuhan mengemban amanah Ilahi, mereka hidup mengabdi kepada Tuhan, ajaran-ajaran Ilahia didakwahkan kepada sengenap manusia, agar manusia mengikuti fitrahnya. Olehnya itu, para wali  memiliki peran penting semasa hidupnya, sehingga manakala mangkat dari kehidupan dunia, segenap manusia yang mengenalnya, menziarahi kubur demi mendapatkan keberkahan hidup atas jasa-jasanya.

Setiap daerah atau wilayah memiliki seseorang yang dianggap titisan Tuhan. Saban hari makamnya tak henti-henti orang menziarahinya. Biasanya, tujuan para penziarah ialah melepas  hajat atau sekedar  ngalap berkah. Dahulu kala, pada zaman prasejarah, masyarakat di  Sulawesi Selatan, dikenal dengan nama To Manurung. Sosok To Manurung dianggap raja atau ratu adil, diutus Tuhan memimpin masyarakat Bugis Makassar. Kehadiran To Manurung  membawa keberkahan bagi semesta, saat kehadirannya, kehidupan masyarakat menjadi aman sentosa, setelah terjadi kemelut antar warga yang berkepanjangan. Di kemudian hari To Manurung beranak pinak dengan warga lokal, sehingga lahirlah peradaban baru di tanah Bugis Makassar. Cerita ini sering kita dengar dan baca dalam tulisan-tulisan ilmiah maupun cerita-cerita hikayat Sulawesi Selatan.

Lain padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Pribahasa itu menandaskan setiap daerah memiliki adat ciri khas berbeda, begitu pula dengan tradisi nyekar atau menziarahi kubur di masing-masing daerah. Seiring berjalannya waktu, peradaban manusia makin maju, dinamika dalam masyarakat makin beragam, sehingga masyarakat membutuhkan orang-orang khusus yang bisa memecahkan masalah serta meningkatkan kualitas manusia di segala aspek kehidupan. Ali Syariati seorang scholar kawakan asal Iran, menamakan orang-orang tersebut termasud golongan rausyanfikr, seorang pemikiran yang tercerahkan atau sering kita sebut sebagai intelektual.

Menurut Julian Benda (1927), intelektual adalah seorang pejuang kebenaran serta keadilan. Tujuannya semata-mata demi kemaslahatan umat dan cita-cita  ketuhanan, jauh dari semangat materi, apalagi kepentingan sesaat. Diskursus pemaknaan intelektual, lebih lanjut, coba didedahkan oleh Regis Debray, menurutnya, dalam perkembangan intelektual terbagi dalam tiga tahap. Tahap pertama, intelektual dimaknai sebagai seorang pengajar atau guru. Pada konteks Nusantara, akrab disebut dengan kiyai atau ulama. Pada tahap kedua, siapapun yang memiliki kemampuan menulis , baik tulisan essais, novel maupun tulisan lainnya, dapat disebut seorang intelektual. Sedangkan tahap ketiga, kaum intelek di zaman ini sudah bergeser jauh. Seseorang akan disebut sebagai intelektual ketika ia mampu tampil di media massa.

Kecenderungan intelektual generasi ketiga ini, seringkali mengabaikan standar nilai-nilai etik, yaitu profesionalitas dan kejujuran. Sering kita lihat dan dengar mereka ini tidak segan melacurkan dirinya kepada penguasa. Menjual keahliannya demi memenuhi pesanan penguasa yang zalim. Apapun dia akan dilakukan agar bisa dekat dengan penguasa. Sejatinya seorang intelektual mampu menggunakan keahliannya untuk kebaikan masyarakat banyak, arkian, eksisitensinya memberi kontribusinya terhadap bumi yang dipijaknya, bukan justru hidup dalam ilusi dan utopia belaka. Ini pula menjadi minda seorang sosiolog kawakan, Antonia Gramsci, mengkategorikan intelektual menjadi dua macam, yakni intelektual organik dan intelektual tradisional.

Teori yang dikemukakan Antonio Gramsci, mempunyai garis singgung dengan konsep rausyanfikr yang di populerkan Ali Syariati. Scholar asal Persia itu menjelaskan kehadiran rausyanfikr di tengah-tengah masyarkat yang terbelakang, membuatnya dijuluki sebagai pewaris perjuangan nabi.  Hal itu bukannya tanpa alasan, kehadiran kaum intelektual ini, memutus tali kesenjangan antara teori ideal dan tindakan praksis yang terjadi pada kaum pelajar, rakyat jelatan dan kaum agamawan. Sehingga amanah sebagai kaum pendidik, tidak hanya memberi solusi, namun menjadi pengerek perubahan ditengah-tengah masyarakat yang masih tertidur secara pemikiran dan tumbuhnya berbagai penyakit sosial.

Secara inheren manusia dititipkan amanah oleh Tuhan, tentu saja amanah itu dijalankan secara personal maupun sosial, sesuai dengan profesi masing-masing orang. Definitnya, baik personal maupun sosial, tujuannya, semata-mata mengabdi kepada Tuhan. Jika dirunut sejarah manusia, pada setiap zaman, tak putus-putusnya Tuhan memberi karunia kepada orang-orang pilihan, untuk menjadi wasilahnya. Orang-orang pilihan ini berada di segala bidang kehidupan, tidak hanya berada di rumah-rumah ibadah, mereka hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan perbaikan. mereka pun hadir tak mesti mengenakan pernak-pernik agama (jubah, peci,dll), namun yang lebih esensi, mereka memiliki pemikiran luas dan pandangan hidup yang luhur.

Sejatinya para intelektual tak pernah putus. Mereka eksis sepanjang zaman, konon, eksistensinya membuat tiang langit tetap tegak. Mereka hadir meneruskan tradisi luhur dari orang dahulu, kehadirannya terus berlanjut hingga akhir zaman, mesti personnya berbeda, namun misinya tetap sama dari dulu hingga akhir zaman, yakni misi kenabian.     

Mati, Siapa Takut!

“Kebanyakan manusia tertidur, mereka tersadar saat mereka mati” Rasulullah saw.

Lazim adanya, jika sebagian manusia takut akan kematian. Umumnya kematian dianggap pemutus segala kelezatan duniawi  paling mengerikan, padahal hampir setiap hari kita mendengar atau melihat peristiwa kematian. Kematian merupakan proses kehidupan. Kita mengenal betul beragam kematian sepanjang sejarah manusia, mati sakit, bunuh diri, perang, kecelakaan, melahirkan, tenggelam dan masih banyak lainnya. Meski demikian, kita masih takut mati.

Sesungguhnya rasa  takut mati tidaklah masuk akal, bukankah setiap yang bernyawa pasti mati, lalu apa yang menyebabkan sebagian orang takut. Menurut Komaruddin Hidayat, penulis buku Psikologi kematian, mengatakan, rasa takut mati itu berakar pada keinginan laten untuk selalu hidup nyaman. Rasa itu kemudian beranak pinak, yaitu takut akan bayang-bayang ketakutan itu sendiri. Sehingga muncul ungkapan, musuh terbesar dan terdekat kita adalah rasa takut itu sendiri yang berakar kuat dalam diri. 

Tentu, motif rasa takut bersifat personal, tergantung tingkat kesadaran masing-masing. Semakin tinggi intelektual dan spiritual seseorang, makin mendambakan kematian. Hal itu tergambar menjelang detik detik terakhir kematian Jalaluddin Rumi, manakala seorang temannya menangis sambil berdoa untuk kesembuhannya, tapi Rumi menjawab, “Hai kawan, tinggal sejenak langkahku untuk memasuki kehidupan yang jauh lebih indah dari dunia ini, tetapi mengapa engkau menangis sedih dan menahan-nahan diriku untuk menunda babak kehidupan baru yang sudah aku tunggu-tunggu.”

Hidup dan mati sebuah keniscayaan, setiap makhluk akan mengalaminya. Tanpa disadari, setiap waktu kita mengalami kematian, sebab, kesempurnaan akan digapai melalui jalan kematian, sebagaimana kata Rumi, dulu aku mineral, lalu mati kemudian menjadi tumbuhan, dari tumbuhan aku mati, lalu menjadi hewan, dari hewan aku mati lagi, lalu menjadi manusia. Lalu mengapa mesti takut mati, karena kematian tak membuatku kekurangan apa pun. 

Hidup ini senantiasa bergerak. Sadar maupun tak sadar, kita telah berkali-kali mati dan berkali-kali hidup. Esoteris tubuh, pikiran, jiwa, alam sekitar dan lainnya, kesemuanya bergerak. Kemanakah gerak itu berakhir? Pada akhirnya akan bergerak menuju ilahi. Tuhan yang senantiasa bersama kita, bertahta di dalam wujud kita yang paling batin. “Dan sesunguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya.” [53:42]

Kematian yang kita alami dari waktu ke waktu menandakan kita berjalan menuju titik tujuan, yaitu keabadian. Kesadaran akan tujuan hidup akan membuat kita optimis menjalankan kehidupan. Tentu, dengan kesadaran yang  rasional. Alangkah absurdnya kehidupan ini jika seorang pahlawan disamakan dengan seorang pecundang, andaikata tak ada mahkamah pengadilan akhirat yang betul-betul adil. Di kehidupan akhirat lah neraca keadilan benar-benar ditegakkan, segala pahala dan dosa dibalas seadil-adilnya. Itulah mengapa manusia takut mati, alasan lainnya, disebabkan seseorang banyak berbuat dosa, lebih banyak kejahatannya ketimbang kebaikannya, sehingga takut akan siksa di akhirat kelak.

Ibnu Sina, dikenal juga Avicenna di dunia barat, seorang filsuf besar, membabarkan tentang kematian. Menurutnya, tiga alasaan seseorang takut kematian, pertama, seorang tidak punya bekal cukup menghadapi kematian. Kedua,  dalam benaknya, kematian adalah sesuatu yang menyiksa. Ketiga, tatkala hati seseorang telah terikat dan terpaut  kenikmatan-kenikmatan dunia, padahal alam akhirat lebih sempurna dari dunia. Lebih lanjut, Ibnu Sina mengatakan, “jika kamu lari dari kematian, maka, kematian akan menghampirimu.” Bukankah tidur di malam hari adalah contoh kecil dari kematian. terangnya.

Lalu, bagaimana kita memaknai kematian? Mengetahui dan meyakini kematian tidaklah cukup, hakikatnya, bagaimana kita terus menyadari dalam diri tanpa pernah lalai darinya. Kesadaran akan mati akan membawa pengaruh besar dalam kehidupan. Kesadarann yang dimaksud, paling tidak, menyadari sepenuh hati, bahwa, kehidupan akhirat abadi dan kehidupan dunia sesaat, menimbang antara yang terbatas dan yang tak terbatas. Tentu, jika kita sedikit merenung, tidaklah sudi kita mau menukar sesuatu yang abadi dan tak terbatas dengan yang sementara dan terbatas.

Cara memaknai kematian, tentu, berangkat dari latar belakang seseorang. Faktor lingkungan, pendidikan, usia, status ekonomi, dll, sangat menentukan cara pandang seseorang. Memaknai segala sesuatu, tidak harus berbeda, banyak juga sebagian dari kita, sama cara pandangnya. Misalnya kata Martin Heidegger, hidup manusia adalah suatu kehadiran yang tertuju kearah kematian. Lain pula menurut Immanuel Kant, hidup menjadi tidak bermakna jika tidak dilandasi dengan metafisis. Adapun yang dimaksud metafisis. Pertama, adanya keyakinan setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya secara otonom. Kedua, adanya keabadian hidup setelah mati. Ketiga, Tuhan sebagai penyelenggara mahkamah akhirat secara tuntas dan adil.

Di kalangan kaum sufi, kematian digambarkan sebagai pintu gerbang menapaki kehidupan baru yang lebih indah. Kematian bukanlah kehancuran atau perjalanan turun, melainkan jenjang naik. Bagaikan sebuah pohon keabadian yang selalu tumbuh. Sebagian dari mereka yang telah mencapai makrifat Allah sedemikian tinggi, tidak ada yang lebih mendambahkahkan kecuali keridaan Allah, mereka menyakini keridaan Allah  di atas segalanya.

Memaknai kematian tidak lepas dari kehidupan dunia. Perumpamaan dunia dan kehidupannya digambarkan Imam Ali, karramallahu wajhah, “Penghuni dunia laksana kafilah yang sedang berjalan dengan tujuan tertentu,yaitu hingga mereka bisa sampai pada sebuah tempat yang nyaman, tentram, makmur dan damai, sebuah tempat yang dapat memberikan seluruh keinginan serta dambaan manusia. Sedangkan perumpamaan yang tertipu dengan dunia, laksana orang-orang yang tinggal di sebuah tempat yang subur, lalu pergi menuju tempat tandus, tempat yang baru mereka datangi dan tempati.”

Selain mengharapkan keridaan ilahi, sikap berserah diri pula merupakan jalan keselamatan. Sikap menyerahkan segalanya hanya kepada kehendakNya merupakan puncak kebahagian. Setiap kita berjalan menuju  pintu kematian, kita mesti yakin seraya berserah diri, sesungguhnya, segalanya milik ilahi, pada akhirnya kita akan kembali kepada-Nya. Setiap perjalanan pulang selalu saja membahagiakan, entah itu mudik, pulang ke rumah, dll.  Kerap kali peristiwa itu kita rayakan bersama keluarga. Begitu pula, manakala kita pulang ke kampung keabadian membawa amal saleh, jika tidak, maka penyesalan dan rasa sedih akan dirasakan selamanya. Seperti disebutkan dalam sebuah ayat Al-Qur.’an, Dia mengatakan, “Alangkah baiknya sekirannya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”

Fenomena Silariang Manusia Bugis-Makassar

“Cabutlah pohon perkawinan dengan sekop kegadisan.”

Entah sudah beberapa kali kejadian silariang (kawin lari)di kampung kami terjadi. Sebulan lalu, tiga anak gadis silariang, minggat dari mukimnya, pergi jauh meninggalkan kampung halaman, bersama lelaki idamannya. Konon ceritanya, pasangan muda-mudi sedang dirundung kasmaran itu, tidak mendapat restu orang tuanya. Akhirnya, silariang menjadi jalan pintas, pilihan satu-satunya. Tentu, kejadian itu merupakan siri (malu) bagi keluarga dan orang tuanya. Biasanya pada kasus silariang, anak gadis tersebut dikenakan sangsi adat, yaitu disingkirkan dari rumpun keluarga dan masyarakat kampung, lebih ekstrimya,  akan dibunuh jika ditemukan keberadaanya. Namun, sangsi dibunuh sudah jarang terjadi, sebab bertentangan dengan hukum formal dan kemanusiaan.

Silariang, merupakan fenomena purba, terjadi dikehidupan masyarakat seluruh daerah dan ditingkatan sosial. Mungkin yang membedakannya, cara penyelesaiannya dan sanksi adat yang diberikan, tentu, disesuaikan budaya masing-masing. Umumnya, pernikahan di Sulawesi Selatan sarat dengan prosesi adat, sudah pasti ada makna terkandung di dalamnya. Persoalan muncul manakalah kondisi sosiologi, psikologi atau ekonomi seseorang tidak selaras dengan kehendak adat dan budaya suku Bugis Makassar.

Salah satu syarat mutlak seorang laki-laki yang hendak menikahi gadis Bugis Makassar ialah uang panaik. Umumnya uang panaik berupa uang tunai. Nilainya bervariasi, disesuaikan dengan tingkat strata sosial, pendidikan, pekerjaan, dsb.

Pada kebanyakan kasus, ada beberapa penyebab pasangan laki-laki dan perempuan memustuskan jalan silariang, antara lain. Pertama, mahar atau uang panaik memberatkan kaum lelaki, manakalah hendak melamar wanita idamannya. Mengapa mahal ? secara filosofi, ketika seorang laki-laki hendak melamar gadis Bugis-Makassar, pihak keluarga perempuan ingin melihat keteguhan hati seorang laki-laki yang hendak mempersunting anak gadisnya, salah satunya dengan memenuhi prasyarat uang panaik yang jumlahnya tinggi. Mungkin, dengan cara itu seorang laki-laki akan mempunyai rasa tanggung jawab besar terhadap calon istrinya. kelak tidak akan menyia-nyiakan istrinya.   

Kedua, tidak mendapat restu orang tua. Salah satu penyebanya, bisa jadi, perbedaan strata sosial. Bangsawan atau rakyat , hartawan atau kaum papa, dll. Kondisi masyarakat Bugis-Makassar masih kental dengan strata sosial. Biasanya untuk mempertahankan talian darah, utamanya kaum bangsawan, akan menikahkan anak gadisnya dengan laki-laki dari kalangan kaumnya sendiri. Ketiga, terjadi skandal percintaan. Silarang bisa terjadi, jika kedua pasangan kepergok melakukan skandal cinta. Jalan satu-satunya silariang.  Meski jalan ini tidak dikehendaki, serta merta dilakukan untuk menghindari pergolakan masyarakat. Ketiga penyebab di atas adalah fenomena umum, namun kemungkinan masih banyak faktor penyebabnya lainya.   

Perkara silariang dapat  dipandang sebagai fenomena sosial, budaya dan keagamaan, ketiganya saling mempengaruhi. Secara sosial, posisi perempuan kalau tidak mau dikatakan sebagai korban, meski keduanya saling rasa. Perempuan sebagai seorang pendidik manusia pertama, akan mengalami keterbelakangan kualitas sumber daya manusia, sebab ruang untuk mendapatkan pendidikan menjadi terbatas, sementara zaman makin berkembang. Apalagi, bila pasangan tersebut masih usia dini. Selanjutnya, secara pisikologi pun perpengaruh pada jiwa dan raga perempuan. Jika kondisi itu berlangsung lama akan melahirkan generasi gagal tumbuh kembang. Secara ekonomi dan politik pun juga mempegaruhi kehidupan perempuan, apalagi kebanyakan kasus silariang  kondisi ekonomi dan politik perempuan belum mapan. Misalnya saja, secara ekonomi perempuan sulit mendapat bantuan modal usaha, lebih sulit lagi jika ingin bekerja pada sektor formal, sebab akan terkendala soal administrasi kependudukan. Adapun secara politik, jelas perempuan tersebut tidak mendapat ruang terlibat langsung ditengah-tengah masyarakat, baik untuk menyalurkan pendapat maupun terlibat dalam partisipasi politik.

Pandangan dunia manusia Bugis- Makassar sangat dipengaruhi oleh adat dan budaya. Atas dasar itulah landasan peradapan dibangun. Menurut Radhar Panca Dahana, sastrawan Indonesia, menuliskan dalam bukunya, Kebudayaan Dalam politik, “maka, sebelum sebuah bangsa memiliki aturan main, mekanisme hidup bersama, sistem politik, ekonomi, bahkan sebelum ia jadi Negara, lebih dulu ia menjadi sebuah entitas budaya”. Di titik ini, budaya Bugis- Makassar menjelaskan dirinya, menyatakan keberadaannya yang berbeda di antara entitas budaya lainnya. Maka, tidak mengherankan bila penyebaran agama Islam di kerajaan Bugis-Makassar, lebih mudah masuk melalui infilterasi budaya.

Kebudayaan yang menjadi pandangan dunia akan menjadi landasan, platform untuk mengembangkan, membangun, atau menempatkan diri dalam pergaulan sosial. Kegagalan atau penafikan nilai budaya, diyakini, memberi kontribusi bagi retak dan runtuhnya bangunan sosial. Di sinilah prolematikan itu terjadi. Apakah fenomena silariang merupakan penafikan nilai budaya atau kegagalan mempraktekkan nilai budaya. Tarik menarik perbedaan di kalangan masyarakat tak bisa dinafikkan. Sebagian orang menganggap, prosesi adat pernikahan mengalami kapitalisasi budaya, sebab nilai mahar pernikahan telah mengalami rasionalitas materi, maka, terjadi persaingan gengsi di tengah masyarakat.  sebagian lagi masih menganggap uang mahar sebagai bentuk kesungguhan hati laki-laki, menawarkan diri menjadi bagian rumpun keluarga. Dengan begitu seorang laki-laki tidak mudah menyia-nyiakan amanah didapatkannya. Maka, tidak mengherankan laki-laki selatan dikenal sebagai pekerja keras, ulet  berusaha dan cakap berniaga.

Selanjutnya bagaimana kedudukan perempuan dalam dunia Islam. Menurut scholar asal Persia, Murtadha Muthahhari, dalam bukunya Filsafat Perempuan Dalam Islam, menabalkan, sama sekali tidak ada bukti atau indikasi dalam Alquran tentang apa yang ditemukan atau terdapat dalam beberapa kitab suci bahwa perempuan diciptakan dari varieties yang lebih rendah kualitasnya daripada laki-laki. Sebagaimana pada beberapa ayat Alquran dengan gamblang mengatakan “Kami ciptakan perempuan dari natur laki-laki dan dari esensi yang sama dengan esensi laki-laki.” Mengenai Adam, Alquran mengatakan “Yang menciptakan kamu dari satu esensi yang tunggal, dan menciptkan darinya pasangannya.” (QS. An-Nisa’[4];1). Berkenaan dengan laki-laki, Alquran mengatakan dalam beberapa tempat “ Allah menciptakan pasanganmu dari jenismu sendiri”

Masih menurut pandangan Murtadha Muthahari, sekaitan pertayaan tentang kewenangan orang tua (Ayah) atas diri anak perempuan. Apakah izin ayah dibutuhkan dalam perkawinan anak perempuan yang menikah untuk pertama kalinya.? Sebelum menjawab itu, ada topik lain yang dipandang betul-betul pasti dalam kaitannya denga perkawinan. Anak laki- laki, bila sudah mencapai usia akil balik. Sepenuhnya memiliki jiwa dan pikiran matang. Dia memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya dan tak ada seorang pun berhak ikut campur. Namun, ada sedikit perbedaan, jika seorang anak perempuan, pernah menikah, tetapi kini menjanda, maka, tidak ada seorang pun berhak ikut campur tangan dalam urusannya, atau sama halnya dengan perlakuan laki-laki.

Situasi berbeda jika anak perempuan masih perawan dan hendak memasuki kehidupan pernikahan. Sebuah kisah di zaman Nabi Saw., menceritakan. Dalam keadaan risau, seorang gadis menemui Nabi Saw. “Apa yang telah dilakukan ayahmu terhadap dirimu?” Tanya Nabi Saw. “Ayah punya seorang kemenakan laki-laki,” jawab Si gadis. “Dan ayah menikahkan aku tanpa berkonsultasi terlebih dulu padaku.” Lalu, Nabi jawab, “Sekarang ayahmu sudah melakukannya. Engkau tidak boleh menentangnya. Terimalah, dan jadilah istri saudara sepupumu.”

“Wahai Rasulullah! Aku tidak menyukai saudara sepupuku itu. Mana mungkin aku menjadi istri dari seorang laki-laki tidak aku sukai.”

“Kalau engkau tidak menyukainya selesailah sudah masalahnya. Engkau memiliki kewenangan penuh. Pilihlah laki-laki yang engkau sukai untuk menjadi suamimu.”

Dari kisah di atas  menandakan para ayah tidak punya hak mutlak memutuskan dan menikahkan putri-putri mereka dengan orang yang tidak disukai.

Karena ayah tidak memiliki kewengan mutlak diri anak perempuan terhadap laki-laki pilihan ayah, apakah itu juga persetujuan ayah terhadap anak perempuan bukanlah syarat bagi sahnya sebuah perkawinan?

Ada perbedaan pendapat berkenaan dengan hal ini. Bagi fakih masa belakangan berpendapat persetujuan ayah bukanlah syarat mutlak, namun sebagian fakih memandang sebagai syarat mutlak. 

Alasan mengapa harus ada persetujuan mutlak dari ayah, sebab, pada umumya gadis yang baru pertama kali melakukan pernikahan, belumlah berpengalaman dengan laki-laki, sedangkan ayahnya lebih mengetahui sentiment (perasaan) laki-laki dan memiliki beberapa kulifikasi. Tentu di sini setiap ayah menginginkan kebaikan kebahagian bagi anak perempuan. Perihal ini, erat kaitan dengan psikologis laki-laki dan perempuan. Secara psikoligis kecenderungan watak laki-laki biasanya ganas (Predatori), sedang perenpuan mempuyai sisi loyatitas dan ketulusan. Sebagaimana ungkapan, “Laki-laki adalah hamba nafsunya, sedangkan perempuan adalah tawanan perasaan kasih sayangnya sendiri”

Masjid Dan Kesalehan Sosial

Dan orang beriman dan mengerjakan amal kebaikan, kelak akan kami masukan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih besar perkataannya daripada Allah?” ( QS. 4 : 122)

Kehidupan umat muslim sangat erat hubungan dengan keberadaan masjid. Dalam sejarah peradaban Islam masjid merupakan tempat Allah memberikan petunjuk bagi manusia dan alam semesta melalui wasilah Nabi Muhammad Saw., sebagaimana Allah berfirman “Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” (Qs. 3 : 96). Masjid selain tempat turunnya wahyu, di zaman itu pula, masjid tempat menyatukan umat yang berasal dari suku dan bangsa berbeda-beda. Pendeknya, cikal bakal peradaban Islam dimulai dari masjid. Atas dasar itulah hingga sampai sekarang umat muslim menjadikan Mekkah sebagai Baitulharam, kiblat umat Islam.

Semenjak masa kanak-kanak para orang tua kita sudah akrab mengenalkan dengan kehidupan masjid. Di masjid lah pertama kali kita belajar mengeja hurut Al-Qur’an, sampai menghafal ayat-ayatnya. Pembelajaran Al-Qur’an di masjid tentu memberikan kesan dan pengalaman batin. Itulah yang kemudian membentuk karakter kita sebagai umat muslim menjadikan Al-Qur’an sebagai way of life, agar kelak menjadi ummatin salamatan fiddin.

Secara umum  fungsi masjid sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, pemberdayaan, dll. Sebagaimana yang dilakukan beberapa daerah berinisiatif membangun pusat keislaman atau Islamic Center. Sebagai contoh yang dilakukan  pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat membangun kawasan Islamic Center dengan sebuah masjid yang diberi nama Nurul Islam.  Tentu, seyogianya masjid bukan semata-mata tempat ibadah, sepertinya pada umumnya di lingkungan kita. Saya agak miris melihat sebagian masjid dibangun hanya tempat ibadah semata. Tiap tahun ke tahun pengelola masjid sibuk merenovasi bagunanannya, namun alpa membangun keimanaan jamaahnya, sehingga yang terlihat bangunan makin mewah dan jamaah makin sepi. Salah satu penyebab hal ini terjadi dikarenakan nilai pembagunan masjid jauh dari nilai-nilai keumatan. Selain masjid sebagai sarana ibadah yang sudah menjadi nilai mutlak, sudah seharusnya pula masjid menjadi sarana pemenuhan nilai-nilai kemanusiaan, misalnya pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dakwah dan nilai nilai yang dibutuhkan masyarakat lokal.

Melihat fenomena kekinian di beberapa daerah khususnya di kampung-kampung, keberadaan masjid makin pesat pembagunan, tapi sayang miskin dengan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. Bukankah  Nabi bersabda, “Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain;” “Sebaik-baik manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amalnya.” 

Sebagai contoh yang mesti dilakukan oleh masjid ialah, pengembangan pendidikan umat . Dr. Muhammad Javad As-Sahlani, dalam At-Tarbiyah wa At-Ta’lim fi Al-Qur’an Al-karim, mendefinisikan pendidikan Islam sebagai proses mendekatkan manusia kepada tingkat kesempurnaan, dan mengembangkan kemampuan. Itu berarti pendidikan Islam identik dengan dakwah Islam. Ada beberapa model dakwah Islam dalam pendidikan yang digambarkan oleh Jalaluddin Rakhmat , dalam bukunya Islam Alternatif yakni tilawah ( membaca ayat-ayat Allah), Tazkiyah ( menyucikan diri sendiri), ta’lim ( mengajarkan Al- Kitab dan Al-Hikmah), dan  ishlah (yang dipakai untuk meringkaskan pengertian tentang “ melepaskan beban dan belenggu-belenggu”).

Selain pengembangan pendidikan dan dakwah sudah saatnya pula masjid peka terhadap kohesi sosial umat. Kerap kita mendengar sepenggal hadits qudsi “Dalam setiap jiwa yang kelaparan dan kehausan, Allah begitu dekat. Apa kalian tak pernah mengasah hati nurani?”.  Selain ibadah ritual yang dilakukan di masjid, sangat diharapkan pula masjid mampu mengubah masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik. pendeknya dimensi ritual masjid harus tercermin pada dimensi sosial. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa ibadah yang tidak disertai dengan amal saleh dalam kehidupan sosial tidak diterima Allah. Mereka yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan, mereka yang salat malam dan shaum tetapi menyakiti tetangganya, mereka yang beribadah tetapi merampas hak orang lain, dan sebagainya dinyatakan tidak melaksanakan agamanya. Kekurangan dalam ibadah ditebus (kifarat-nya) dengan menunjukan amal saleh, seperti memberikan makan orang miskin, tetapi cacat dalam kehidupan sosial tidak  ditebus dengan ibadah ritual. Hal ini menandakan Islam lebih banyak menekankan dimensi sosial ketimbang dimensi ritual. 

Kemunduran peran pengurus  Masjid tidak terlepas dari cara pandang melihat disparitas ibadah secara integratif. Jika ingin masalah sosial kemiskinan, kelaparan teratasi, maka perlu adanya usaha bersama untuk membantu kelompok-kelompok lemah. Salah-satu caranya, melibat seluruh elemen masyarakat dan lembaga-lembaga masjid yang kurang mendapat perhatian selama ini.  

Kurban Kendaraan Ketakwaan

sembelilah aurat kebinatangan yang menerungku aura sari diri. (Maksim Daeng Litere. 310720)

Momen Idul Adha sudah terlihat gemerlapnya, para pedagang hewan kurban mulai menjajal hewan ternaknya kepada khalayak untuk dipersembahkan kepada-Nya sebagai bentuk ketakwaan. Bagi hewan kurban adalah jalan takdirnya menyerahkan darah dan dagingnya, sebagai bukti pengabdiannya kepada Tuhan. Adapun pembeli, berkurban menjadi kendaraan yang bakal membawa seorang hamba pada level ketakwaan. Konon  setiap helai bulu hewan kurban akan menjadi saksi hidup ketakwaan seorang hamba di akhirat kelak. Sedangkan pedagang memastikan hewan kurban yang bakal disembelih layak dikomsumsi (halal.) Definitnya, pedagang, pembeli dan hewan kurban masing-masing menjalani perannya sebagai bukti ketakwaannya kepada sang Pencipta.

Kehidupan dunia adalah ujian, segala sesuatu yang kita miliki merupakan titipan maha pencipta. Sebagaimana firman Allah mengatakan “Sesungguhnya kami telah jadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya” (QS. Al-Kahf: 7.) Jikalau seorang hamba sadar tentang konsep kepemilikan, maka segala sesuatu yang dimilikinya akan dipersembahkan semata-mata untuk Sang Pemilik. Di atas kesadaran itu, segala sesuatu mestilah diikat dengan keikhlasan. Sebab dengan ikhlas sesuatu yang samar akan jelas keberadaannya. Sebagaimana Imam Ibnu ‘Athaillah pernah berkata “Amal adalah kerangka yang mati, dan nyawanya adalah keikhlasan yang ada dalam amalan tersebut” 

Tindakan berkurban suatu laku purba yang dilakukan orang-orang terdahulu. Kisahnya berawal dari perjalanan hidup Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Untuk menguji  ketakwaan sang nabi, Allah memberikan perintah kepada kedua Nabi itu untuk berkurban. Melalui mimpi, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih anak semata wayangnya Ismail sebagai bentuk penyerahan kurban kepada Allah. Dengan keyakinan dan penyerahan diri kepada Allah, kedua Nabi itu dengan sadar serta ikhlas memenuhi perintah Allah, walaupun  di balik perintah itu, Allah hanya ingin menguji ketakwaan Nabi Ibrahim dan Ismail. Pada  ujung kisah itu Allah mengganti hewan sembelihannya berupa hewan ternak di zaman itu. Dari kisah monumental itu, salah-satu ibrah yang bisa didapatkan sebagaimana Allah gambarkan  dalam firmanNya. “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, bertawakkal lah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan” (QS. Hud:123). Sejatinya segala yang ada di bumi dan langit adalah milik-Nya, sedangkan yang kita genggam adalan titipan sebagai sarana untuk menjadi orang bertakwa. 

Sependek pengetahuan saya, jika takwa dipandang melalui asal usul kata, maka takwa tersusun dari bagunan kata taubat, tawakkal, tawaduk, qana’a, warak dan yakin. Taubat adalah sikap penyesalan terhadap tindakan yang telah diperbuat seorang hamba serta dengan sadar memohon ampunan dan ridho-Nya dan akhirnya kembali pada jalan agama yang benar. Tawakkal atau berserah diri adalah sikap melepaskan (letting go), bahwa segala kepemilikan dan penguasaan ada pada Allah Swt. Menurut istilah filsafat, Allah adalah wujud sedangkan ciptaannya adalah manifestasinya (tajalli.) selanjutnya Tawaduk adalah sikap merendahkan hati. Sikap ini menunjukkan hakikat manusia, bahwa sesungguhnya manusia sama di mata Allah, kecuali orang yang bertakwa sebagaimana firman Allah dalam Qur’an Surah Al-Hujarat ayat 13.

Berikutnya, Qana’an atau sikap merasa cukup akan limpahan rahmat Allah Swt. Jika sikap ini menghidu dalam diri, maka rasa syukur akan terpatri dalam jiwa, sebab merasa cukup akan mendatangkan lebih banyak kebaikan, sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat kepadamu” (QS. Ibrahim:7). Salah-satu kekuatan yang sangat berharga di dalam buku Rahasia Magnet Rezeki, anggitan Nasrullah adalah ciri sifat syukur. Sebab dengan bersyukur terbitlah ketenangan hati. Lebih jauh Marci Shimoff mengatakan “Syukur adalah jalan yang mutlak untuk mendatangkan lebih banyak kebaikan ke dalam hidup anda.”  

Selanjutnya warak adalah sifat mendahulukan kehati-hatian terhadap perkara yang belum jelas hukum halal dan haramnya. Bisa dikatakan sifat warak sebagai sensor pengendalian diri. Menurut Nasrullah seorang penulis buku Rahasia Magnet Rezki, ada tiga sumber pengendali dalam diri manusia. Pikiran, perasaan dan jiwa. Kesemuanya saling bertautan, namun menurut hasil penelitian Danah Zohar dan Ian Marshall, bahwa jiwa menjadi pondasi dalam melakukan berbagai aktivitas kehidupan. Memiliki jiwa yang tenang akan menarik energi, mengundang rezeki, bahkan keajaiban hidup. 

Kata terakhir, Yakin atau sama halnya dengan tidak ada keraguan terhadap suatu kebenaran. Allah berfirman “Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termaksud orang-orang yang ragu” (QS. Al-Baqarah:147). secara singkat kebenaran dalam islam terbagi tiga perihal, yakni  Iman, Islam dan Iksan. Jika diulik secara sederhana, iman adalah keyakinan hamba terhadap kebenaran Tuhan dan ciptaannya. Kata Rumi, “Sejak awal hingga kapan pun segala sesuatu adalah satu. Manusia, alam, Tuhan sejatinya semua itu satu, diikat cinta kalau saja kita tahu.” Sedangkan Islam menyangkut penyerahan diri seorang hamba terhadap Tuhan sebagai jalan keselamatan, dan iksan adalah perbuatan atau amalan baik  seorang hamba terhadap Tuhan, mahluk dan alam  semesta, dan atas kebaikan itu, maka sesunggunya Allah mengetahuinya. 

  Wallahualam Bissawab.