Semua tulisan dari Ma'ruf Nurhalis

Lahir di Makassar, 5 Mei 1996. Mahasiswa Jurusan Akidah filsafat UIN Alauddin Makassar

Membakar Hantu di Bulan Ramadan

Bulan Ramadan disebut sebagai bulan yang panas, barangkali dapat diartikan akan membakar kepalsuan hidup kita di dunia ini. Apa yang palsu dari hidup kita? Adalah menciptakan hantu di antara kemanusiaan dan kebinatangan kita. Hantu itu menyebabkan kemanusiaan kita melihat kebinatangan kita sebagai hantu dan kebinatangan kita melihat kemanusiaan kita juga sebagai hantu. Hantu itu menyebabkan timbulnya rasa takut terhadap diri kita sendiri. Dengan takut terhadap diri sendiri kita akan takut terhadapa diri-diri yang lain (orang lain). Orang yang takut dengan sesamanya akan menjalin hubungan dominasi. Maksudnya hubungan itu dijalin untuk saling menguasai satu sama lain.

Manusia dikaruniai akal budi yang membuatnya senantiasa bertanya akan kehidupan sekaligus sadar bahwa di sini dan sekarang ia sedang menjalani kehidupan. Akal budi ini membuat kita sadar akan sebuah kebebasan sekaligus keteraturan yang menjamin kebebasan itu. Manusia bebas tetapi akan mati. Akal budi yang sadar akan kematian itu membuat kita cemas dalam menjalani kebebasan sebagai anugerah dari ke-ada-an kita di dunia ini. Karena kecemasan akan kematian itu, kita tercabik oleh kebebasan kita sendiri. Agama mesti mendidik subjek tak sadar diri dengan menggambarkan kehidupan setelah mati dengan “kata bersayap” untuk mengatasi kecemasan manusia. Tetapi “kata bersayap” dunia setelah mati itu malah menggoda manusia untuk terbang meninggalkan kehidupannya di dunia fana ini. manusia memanfaatkan kebebasannya dengan tunduk kepada aturan agama. Kebebasan itu menjadi palsu. Orang menjalani hidup dalam ketakutan yang lebih canggih, seperti menjadikan “Tuhan” sebagai “hantu” yang lebih menakutkan, karena kehidupan setelah mati, kita lupa akan ke-ada-an kita di sini dan sekarang. Kebebasan yang seharusnya di manfaatkan untuk menjadi subjek sadar diri( menjadi diri sendiri) malah berubah menjadi kebebasan bebek yang bebas mengekor ke mana sang induk pergi.

Manusia pasti akan mati, dan fakta manusia akan mati adalah salah satu kehidupan manusia yang asli. Kematian membuat kita sadar berada dalam sebuah eksistensi, di mana kita sedang mengada dan sedang dijadikan. Kecemasan adalah keaslian manusia bahwa ia sadar tak tahu dari mana dan akan ke mana, tetapi menempuh eksistensi sebagai cara mengetahui. Untuk itu kebebasan diperlukan dalam bereksistensi. sang “Penjadi” tidak begitu saja melempar manusia ke dalam dunia untuk mengada dan hilang ingatan, tetapi “Sang Pengada” memberi kebebasan sebagai penjamin eksistensi manusia di dalam Dunia serba gerak.

Berpuasa di bulan Ramadan adalah syariat Islam yang bertujuan untuk mengajarkan manusia bercakap dengan dirinya sendiri, dengan kebinatangannya dan dengan kemanusiaanya. Kebinatangan manusia adalah tubuhnya dan kemanusiaan manusia adalah akal budinya. Kebinatangan tubuh bukan berarti bahwa tubuh adalah parasit (pengganggu) dari ke-ada-an kita, tetapi justru karena tubuhlah kita mampu untuk menjadi subjek sadar diri. Dengan segala komponen tubuh, kita mampu berada di sini dan sekarang dalam dunia yang terus mengada. Tubuh yang membuat kita mampu merasakan tubuh lain secara universal. Puasa juga di tempuh oleh tubuh orang-orang terdahulu untuk menahan diri dalam waktu yang ditentukan. Dengan menahan itu kita mampu untuk bercakap dengan tubuh kita sendiri dan bila bermanja-manja dengan percakapan itu, kita mampu bercakap dengan tubuh orang lain dan tubuh -tubuh orang sebelum kita. Percakapan ini akan membuat kita sadar akan sebuah relasi eksistensi pada kehidupan sosial. Relasi horizontal yang melampaui spesies kita sendiri sebagai binatang yang berpikir di sini dan sekarang, maksudnya, percakapan bersama kebinatangan. kita menjadi mampu melihat gerak-gerak materi di kosmos ini yang menampak kepada tubuh kita. Sehingga kita dapat bijak hidup di alam semesta.

Bagaimana dengan percakapan dengan kemanusiaan kita? Percakapan dengan kemanusian kita adalah percakapan vertikal. Percakapan vertikal adalah percakapan lanjut dari subjek yang telah bercakap secara horizontal dengan ke binatangannya. Yang asli dari manusia adalah dia yang sadar akan daya penjamin eksistensi. Daya penjamin itu adalah daya yang mengayomi mengadanya manusia dalam gerak durasi. Subjek yang sadar diri tahu betul keadaan di mana ia bergerak sekarang sebagai keadaan mengada di dalam Ada yang mengada melalui dirinya sendiri. Ada yang mengada itu selalu nampak sebagai objek, objek yang menampak melalui keutuhan yang dimengerti oleh akal budi. Maka dari itu percakapan terhadap kemanusiaan kita adalah percakapan dengan Ada yang mengada melalui dirinya sendiri. Sebuah percakapan horizontal ke dalam vertikal yang mengatasi kepalsuan hidup kita.

Dengan berpuasa di bulan Ramadan kita berkesempatan untuk menjadi subjek sadar diri. Subjek yang senantiasa bercakap dengan kebinatangannya dan kemanusiaannya. Sebuah percakapan yang membuat ke-aku-an kita jadi asli sehingga “Tuhan” tidak lagi menjadi “hantu”. Dan rasa takut terhadap hantu akan membuat relasi eksistensi aku dan dia( sebagai tubuh lain) akan menjadi kita.

Sebulan penuh percakapan itu dapat dimanja-manjakan, barangkali bila kita beruntung, percakapan itu akan menampakkan Ada kepada kita di malam Lailatul qadar. Dan bila tidak beruntung, kita setidaknya dalam sebulan akan meraih kemenangan terhadap hantu yang kita ciptakan sendiri di hari raya.

Selamat berpuasa, selamat bercakap dengan diri sendiri.

Kehendak Buta

Hari ini ayahku naik pitam lantaran saya jatuhkan lampu senter klasik miliknya. Aku tak sengaja menjatuhkannya. Hanya saja lampu senter itulah yang memang hendak menjatuhkan dirinya sendiri. Tapi Ayah sudah terlanjur marah. Ia berkata kepadaku dengan mata yang melotot.

“Ini lampu senter Ayah sudah lama sekali. Umurnya sudah setua dirimu. Sekarang kalaupun Ayah cari samanya. Ayah tidak akan dapat di pasar manapun!”

“Kan sudah tua memang Ayah, harus sudah diganti?” kataku mencoba membela diri.

“Ganti gimana, kamu tahu bagaimana rasanya cari duit, susah Nak. Nanti kamu juga akan rasakan susahnya cari uang.”Ayah semakin kesal saja mendengar pembelaanku. Matanya jadi besar dan menyala.

“Maaf Ayah,” kataku berbelas kasih sambil tundukkan kepala.

Ayahku pergi begitu saja membawa lampu senternya keluar rumah. Mungkin ia akan pergi ke tukang servis. Tapi aku pesimis, kalau tukang servis itu dapat memulihkan keadaan lampu senter itu menjadi seperti semula. Aku tahu Ayah masih ingin marah. Tapi Ayah tahu, marah berlebih-lebihan hanya akan mendatangkan penyakit.

Melihat Ayah pergi. Saya memutuskan untuk masuk ke kamar. Menyesali perbuatanku yang ceroboh. Dengan hati yang dipenuhi penyesalan. Aku menuju lemari buku. Di sana aku meraih sebuah buku filsafat yang sudah usang, warisan peninggalan Kakek.

Kakekku adalah seorang filsuf, begitu kata orang. Ketika masih hidup, Kakek selalu mengajakku ke kamarnya yang penuh dengan tumpukan buku. Ia selalu mengajakku untuk berpikir, kadang sampai otakku berasap. Kakek selalu menggodaku dengan pertanyaan, “Siapa kamu?” Sampai kemudian ibuku pernah mengkritik Kakek, tentu saja dengan sopan. Lantaran karena pertanyaan “Siapa kamu?” membuatku sakit panas sampai muncul cacar, sehingga harus tidak sekolah selama dua minggu. Tapi aku berpikir, filsafat dan cacar tidak punya hubungan apapun. Sepeninggal Kakek, warisan buku dan pertanyaan “Siapa kamu?” diteruskan kepada ayahku, dan Ibu selalu was-was ketika setiap malam aku membaca buku filsafat dan berdiskusi dengan Ayah.

Aku raih buku itu. Aku buka secara acak. Di mana saja halamannya akan saya baca. Lalu saya dapati sebuah kutipan yang menarik hati.

“Kita seperti gerombolan babi-babi kedinginan, yang berdesakan untuk mendapatkan sedikit kehangatan; memang tidak nyaman saling berhimpitan, tetapi sungguh sengsara jika berjauhan.”

Lebih lanjut aku baca. Buku itu berbicara kepadaku soal kehendak sebagai kejahatan dan soal kehidupan adalah penderitaan. Alasannya, kehidupan yang dijalani manusia selalu berlandaskan keinginan, dan apa yang diinginkan selalu lebih besar dan lebih banyak daripada yang diperoleh. Keinginan itu selalu menginginkan lebih dan lebih sedangkan pemenuhan selalu terbatas. Sepanjang kita terperangkap pada keinginan-keinginan kita. Maka kita tidak akan pernah mempunyai kebahagiaan dan kedamaian.

“Ah tidak, buku ini hanya menambah lesuh hatiku,” kataku di dalam hati yang makin pesimis.

Di tambah lagi, aku mengingat perkataan ayahku tadi.

“Susah cari duit Nak, nanti kau akan rasakan juga.” Begitulah Ayah berbicara menurutkan kehendak buta filsuf Schopenhauer, seorang filsuf yang memiliki mata yang sayu.

Orang dewasa menurutkan keinginanya mencari duit lantaran takut menghadapi mati tanpa ada jejak tertinggal di dunia. Pemenuhan terhadap jejak itu mengakibatkannya sengsara. Katanya mencari duit untuk pemenuhan anaknya sehingga rela banting tulang sampai patah-patah untuk kebahagiaan turunannya. Padahal tiada pula ia mampu pastikan bahwa anaknya juga akan bahagia.

“Oh Ayah, begitu kasihan dirimu.” Itu ucapku dalam hati semakin pesimis saja.

Semakin lama aku membaca buku ini semakin gelap mataku. Semakin gelap aku memikirkan kesalahan lantaran dimarahi Ayah. Dan hanya ingin melontarkan balik kesalahan itu padanya. Tapi di akhir teks buku itu aku mendapati pencerahan.

Setidaknya untuk bahagia, orang perlu untuk menjadi bahagia semacam kebahagian anak-anak. Yang menurutkan apa yang menjadi keinginan hatinya. Sehingga tiada orang lain yang mampu pengaruhi pilihannya sehingga bisa ia menjadi bahagia lantaran ia sadari kehendaknya.

Namun jadi permasalahan ketika manusia dibenturkan pada persoalan biologis. Orang pasti tidak akan tetap sebagai anak-anak. Orang pasti akan menuju kedewasaan. Kalaupun tetap tinggal sebagai anak-anak, orang -orang kebanyakan akan menyebutnya sebagai “yang lain” atau orang yang mengalami kegagalan dalam mental. Kalaupun ada orang dewasa yang bermental sehat namun bersikap anak-anak, akan dianggap aneh juga oleh kultur.

Aku tutup buku itu. Hatiku semakin hitam saja. Rasanya pesimis dan malas menjalani kenyataan yang akan datang. Terbesit di hatiku, sebuah cita-cita tidak ingin pernah dewasa dan mencari uang. Hanya ingin menjadi seorang anak-anak untuk selamanya.

“Assalamu alaikum.” Salam itu dari Ayahku. Dia pasti baru saja pulang membawa lampu senter miliknya. Aku harus meminta maaf dan menghadap di pangkuannya. Aku keluar kamar dan mendapati ayahku sedang duduk di ruang tamu sambil memegang lampu senternya.

“Ayah, bagaimana keadaan lampu senternya?” kataku bertanya dengan sangat sopan. Dia memandang ke arahku. Kali ini matanya redup dan damai.

“Sini Nak duduk di samping Ayah,” begitu katanya. Dan aku menuruti perkataanya.

“Aku minta maaf, Ayah sudah memarahimu. Seharusnya Ayah tidak boleh memiliki keterikatan dengan benda. Benda itu begitu rapuh, kita tidak bisa selamanya akan memiliki benda tersebut.” Ayahku kali ini berpikir filosofis. Aku kira ayahku sudah redup marahnya.

“Aku ingin bertanya Ayah.”

“Bertanyalah Nak.”

“ Apakah benar, bahwa hidup ini hanyalah sebuah penderitaan? Apakah Ayah sengsara mencari uang untuk saya?”

“ Mengapa kau bertanya seperti itu?” Ayahku penasaran.

“Aku dapat dari buku Kakek.” Ayahku pasti tahu buku apa itu.

“Itu menurut kehendak buta Nak. Maksudnya seseorang melakukan pekerjaanya menurutkan nafsunya. Padahal nafsu itu tiada akan dapat pemuasan. Sehingga jika dapat hasil seseorang lantaran keinginan nafsunya, ia akan selalu meminta lebih. Ketika kita menurutkan nafsu. Kita akan hidup menderita.”

“Kalau begitu kita harus bekerja dengan apa Ayah, biar tidak menderita?” tanyaku , mencoba cari jalan keluar.

“ CINTA. Jawabannya adalah cinta. Orang tidak akan menderita karena cinta. Cinta membawa seseorang ikhlas. Apapun pekerjaan yang ia geluti akan ia jalani dengan tulus. Ia rela banting tulang. Namun karena beralasan cinta. Ia hiraukan rasa sakit. Lantaran cinta adalah penyembuh rasa sakit orang.”

“Cinta itu apa Ayah?” pikirku, cinta itu sama sulitnya dengan pelajaran Bahasa Inggris di sekolah.

“Cinta itu seperti engkau bernyanyi di sebuah ruangan tertutup, sendirian. Lalu kau yakin, Ayah dan Ibu sedang mendengarmu di luar ruangan. Meski engkau tidak bisa memastikannya.Tapi kau terus bernyanyi dengan indah, lantaran kau ingin membahagiakan Ayah dan Ibu sekaligus membahagiakan dirimu sendiri.”

Aku sedikit susah menerjemahkan perumpamaan itu. Tapi sedikit aku akhirnya bisa paham. Itu seperti yang pernah dijelaskan kakek, ketika memaparkan syair pemain suling dari Jalaluddin Rumi.

“ Lalu apakah Ayah mencintai pekerjaan Ayah sebagai seorang Novelis?” tanyaku menggodanya, aku semakin ingin tahu.

“Ayah mencintai pekerjaan Ayah. Tetapi Ayah lebih mencintai dirimu. Terkadang seorang pekerja akan dapat situasi jenuh dengan pekerjaanya. Tetapi karena mereka memiliki orang terkasih, mereka akan selalu bersemangat untuk bekerja agar bisa melihat senyum orang-orang yang mereka cintai. Untuk itu Ayah akan selalu menulis . Karena Ayah mencintai kalian sebagai keluarga Ayah.”

“Jadi Ayah mencintai lampu senter atau anak Ayah?” tanyaku kembali menggodanya.

“ Hahaha. Tentu saja Ayah lebih mencintai anak Ayah. Karena anak Ayah kan nantinya juga akan dewasa. Dan akan membelikan Ayah lampu senter baru,” ayahku tersenyum, kali ini ia yang menggodaku.

Aku tertawa mendengar jawaban Ayah. Hatiku cerah sekarang. Lantaran dialektika yang baru saja saya alami bersama. Aku jadi tahu untuk tidak menerima begitu saja sebuah pendapat sebelum adanya pendapat lain.

Aku mencintai ayahku. Dan aku akan mendewasakan diriku. dan juga menjadi Ayah nantinya. Proses pendewasaan itu adalah proses kita dapat mencintai dengan tulus. Walau tak dapat diindrai. Kita tetap harus memiliki cinta yang ikhlas. Cinta akan selalu ada, kita tidak harus menjadi anak-anak untuk mencintai. Karena dalam segi apapun kita memiliki hak untuk mencintai. Cintalah yang akan membuat kita bahagia.

Narcisius dan Nasehat Danau

Masih dapat saya petik kenangan bersamamu Tetta. Malam itu saya tidak bisa tenang, tidak juga mampu untuk tertidur padahal malam sudah larut. Ammah sudah berpesan kepadaku untuk membasuh muka dengan air wudu agar diri terjauhkan dari gangguan jin seraya malafalkan ayat Kursi dan tiga surah Kul hua Allah sebanyak tiga kali sebelum tidur agar terhindar dari sihir dan mendapati mimpi yang indah.

Rukun itu sudah saya laksanakan tetapi kepala dan bantal tidak juga mau berdamai. Sedangkan Ammah sudah pulas sejak tadi. saya masih terjaga sambil memandang cahaya bulan lewat jendela kamar. Bukan karena gangguan jin atau kekuatan mistik hitam yang membuatku gelisah. Tapi kepulangan Tetta yang belum juga ada tanda.

Adalah karena Tetta ahli bersyair dan berroyong saya tidak mau tertidur sebelum mendengar Tetta berkisah. Dan sekarang sudah hampir tengah malam. Ammah bilang kalau Tetta akan pulang di waktu yang sama. Jadilah saya begadang menunggu Tetta.

“Tok, tok tok. Assalamu alaikum.”

Benar pulalah apa kata Ammah. Tetta pulang pas tengah malam. Aku bangkit menyalakan lampu kamar mendengar suara berat Tetta di luar rumah. Aku lepas landas berlari ke depan pintu tapi karena terburu-buru, aku jadi lupa dengan kuncinya.

“Walaikum salam, sabar Tetta, kuambilkan dulu kuncinya.”

Kunci pintu itu tergantung di atas TV yang letaknya semeter saja dari meja makan. Aku meraihnya dan kembali ke depan pintu. Dan aku buka pintu itu sehingga terdengar bunyi meyeringit ulah engsel pintu yang mesti diminyaki.

“ Astagfirullah. Kenapa belum tidur Nak?”

“Saya menunggu Tetta.”

“Apa yang membuatmu menunggu Tetta?”

“Malam-malam yang lalu, Tetta berkisah soal perjalanan para burung. Tentang cerita cinta Batara Guru. Juga hikayat Hayy bin Yaqzan. Dan tidak bisalah saya terlelap tanpa mendengar kisah dari Tetta sebagaimana biasanya.”

“Kalau begitu berangkatlah ke tempat tidurmu, tunggulah Tetta di sana, Tetta hendak dulu berganti pakaian.”

Aku menurut perkataan Tetta. Kembali berjalan ke tempat tidur dan duduk diam di atas Kasur memasang wajah penasaran laksana kucing yang sedang menunggu makan.

Ada kiranya lima menit Tetta berganti pakaian. Dan menemuiku di kamar. Dan Tetta berjalan menghampiriku dan duduk di sampingku.

“Kamu ingin Tetta ber kisah apa?”

“Apa saja Tetta, selama itu mampu saya tangkap.”

“Baiklah kalau begitu. Menurutkan keinginanmu. Tetta akan berkisah. Tapi janganlah kiranya meminta lebih karena malam telah larut. Sedang esok kamu mesti ke sekolah.”

“Baiklah Tetta.”

“Rebahkanlah tubuhmu Nak. Sandarkan kepalamu ke bantal seraya dengarkanlah Tetta bercerita. Mudah-mudahan jadi berkah untukmu.

Bismillahi rahmani Rahim. Dahulu kala hiduplah seorang lelaki tampan rupawan yang menjadi buah bibir para perempuan di negerinya. Ke manalah ia menginjakkan kaki di situlah perempuan berbisik-bisik soal ketampanannya. Lelaki itu bernama Narcisius. Amat masyhurlah wajahnya, Konon katanya dialah lelaki paling tampan seantero negeri.

“Jadi orang pada saat itu menjadikan wajah Narcisius sebagai pelipur lara di kala orang mendapati nasib kejelekan. Wajah eloknya jadilah pusat untuk memuja syukur kepada Allah Ta’ala. Sedang ada pula perempuan hamil di negeri itu tidaklah lagi mengidam buah cempedak atau jeruk purut. Tapi para suami haruslah menemani sang istri untuk memandang Narcisius walau sesaat. Para istri itu lalu akan melafalkan doa semoga anaknya akan dapat wajah yang elok nan rupawan macam Narcisius.

“Tapi apa yang dinilai orang ke pada Narcisius tidaklah sebagaimana adanya. Narcisius amatlah tampan luar tapi di dalam hatinya ia lemah. Ia tiada berkawan dengan lelaki lain. Karena laki-laki lain pastilah terganggu dengan Narcisius karena jadi pujaan para wanita. Tidak pula ia akan berkawan dengan perempuan, kalau pun ia berani berkawan dengan salah satu perempuan, jadilah perempuan lain iri. Dan mereka akhirnya saling menyambak rambut sehingga hanya mendatangkan keributan.

“Hiduplah Narcisius menyendiri tiada berkawan. Tiada pula saling mengadu kasih. Hidupnya sebagai musafir tak bisa membuatnya mengeluarkan isi hati kepada sanak-saudara. Karena tinggal jauh dari rumah orangtua.

“Hanyalah tinggal sebuah danau di belakang bukit desa tempatnya mengadu dan menyendiri. Saat malam tiba ke sanalah ia melangkahkan kaki sembunyi-sembunyi. Karena takut orang melihat dan mengikutinya hingga ke danau. Dan jika orang sudah tahu, tidak ada lagilah tempat untuk Narcisius mengeluarkan isi hatinya.”

“Malang kian nasib Narcisius itu tetta.”

“ Benar Nak. Banyak orang hendak mempercantik diri tapi rupanya jikalau cantik itu juga kelewat batas. Hanya mendatangkan masalah jua. Sebagaimana tertulis bagi hidup Narcisius.”

“Benar Tetta. Saya teringat Tetta pernah mengutip Aristoteles yang berkata untuk hidup moderat.”

“ Betul Nak, tapi apa yang dihadapi Narcisius tidak bisa serta merta di pertautkan dengan hidup moderat Aristoteles. Karena rupa Narcisius adalah bikinan Allah Ta’la dari lahir.”

“Saya mengerti Tetta, lanjutkanlah. Amatlah saya penasaran apa yang diperbuat Narcisius di danau.”

“Di sanalah ia bercermin Nak, di tenang permukaan air yang memancarkan pantulan cahaya bulan. Sehingga di sanalah ia memandang wajahnya sendiri. Dan tahukah engkau Nak. Narcisius menangisi dirinya di sana. Menyesali akan berkah berwajah tampan rupawan. Saban hari, seperti itu juga. Narcisius menyayat hatinya sendiri karena ingin hidup sederhana saja tanpa puja-puji dari orang-orang di desa. Karena rupanya puja-puji itu amat dekat dengan persangkaan buruk orang-orang yang merasa ingin juga dipuji. Jadilah hidup Narcisius diikuti oleh keresahan hati akan ada saja ancaman dari orang yang tidak menyukai keberadaannya.

“Tapi rupanya kesedihan Narcisius disaksikan oleh para malaikat. Dan di antara berjutaan malaikat di langit, malaikat yang mengatur danaulah yang menyimpan perhatian kepada Narcisius. Ia bermohon kepada Allah Ta’ala. Karena tak tahan dengan hidup nestapa yang di tempuh oleh Narcisius. Ia bermohon agar diberilah danau itu lidah tempat Narcisius bercermin. Allah Ta’ala mengabulkannya.

“‘Hey Narcisius, mengapa engkau terus saja menangis di hadapanku,’ begitulah danau itu berucap.

“Narcisius kaget mendengar suara di tempat yang sepi orang yang punya mulut.

“‘Siapa gerangan yang bersuara di sana.’

“‘Akulah Danau, tempat kau bercermin.’

“Semakin bingunglah Narcisius mendapati keajaiban ini, ia lantas bertanya. ‘Mengapa engkau bisa berbicara. Atau aku baru saja tergigit serangga yang punya sengat bikin mabuk, sehingga hilanglah fungsi daun telingaku.’

“‘Tidak, engaku tidak tertipu oleh telingamu. Dikehendakilah saya untuk bertutur biar dapat saya sampaikan nasehat buat kau barangkali dapat berberkah untuk hidupmu.’

“‘Nasehat apakah itu. Sungguh amat saya perlu nasehat agar bisa jalani hidup yang berat ini. Sudah saya naik turunkan niat ingin bunuh diri. Tapi pesan orangtua lebih kuat saya pegangi.’

“‘Janganlah engkau bunuh diri. Tuhan sudah gariskan apa yang mesti kau lewati. Jalanilah hidup. Akan saya berikan engkau nasehat sebagai keluasan petunjuk dari Allah Ta’ala. Tapi sebelum itu, berilah saya kesempatan untuk bertanya padamu Narcisius.’

“‘Bertanyalah. Saya persilakan.’

“‘Apakah dikau tak mensyukuri nikmat Tuhan berwajahkan keindahan sehingga jadilah orang suka memandang dirimu?’

“‘Apalah artinya wajah yang tampan ini jika hidup sendiri menjadi kesialan?’

“‘Mengapa tidak saja kau berbuat baik kepada tetanggamu. Barangkali itu dapat menyenangkan dirimu seraya orang lain dapat pula senang hatinya.’

“‘Apalah yang mesti saya bantukan. Kalaupun saya mau, orang lain jadilah ingin pula di bantu.’

“‘Mengapa tidak kau cobakan saja?’

“‘Sekali dicoba hanya akan datang masalah lagi makin buruklah garis takdirku.’

“‘Bagaimanakah engkau memandang mereka yang memuja memuji ketampananmu, tiadakah engkau berterima kasih kepada mereka?’

“‘Mengapa perlu saya berterima kasih. Karena nafsu mereka jadilah saya orang yang terpenjara. Hendak minum teh di pekarangan rumah, adalah orang pula datang menjerit ke arahku. Selain itu ada pula yang menyimpan benci di hatinya lantaran saya di tuduh menganggu istri orang. Padahal tiadalah saya pernah menyebut satu pun nama perempuan di desa ini.’

“‘Kalau begitu izinkanlah saya menyampaikan sepatah kata nasehat agar bisa kiranya jadi petuah hidupmu agar tidak berkalang airmata. Dan bercermin ke padaku dengan rupa putus asa. Padahal Allah Ta’ala tiada menyukai hambanya yang putus asa.’

“‘Apa nasehat itu wahai Danau”

“‘Letak kesialan hidupmu bukanlah karena ketampanan wajahmu. Rupanya itu ujian kepada engkau sebagaimana Tuhan menguji hamba yang lainnya. Tiadalah engkau terpenjara lantaran orang lain. Tetapi dirimulah sendiri yang memasang jeruji di hatimu. Orang lain adalah cerminan dirimu sebagaimana engkau bercermin di permukaan air ini. Kau dapati wajahmu yang sial sehingga engkau memandang segalanya menjadi sial. Padahal sendainya engkau bijak memandang dan mencintai dirimu akan turut pula cintamu kepada orang lain. Maka terimalah ketampananmu seraya engkau bersolek juga untuk hatimu. Jagalah dirimu dan jagalah tetanggamu. Cintailah orang-orang di desamu sebagai mana engkau mencintai dirimu sendiri. Berkawanlah engkau kepada kawan yang berhati luhur. Jauhilah orang yang menjerumuskanmu dari ingat kepada Tuhan. Janganlah engkau takut dipermusuh. Karena perbuatan baik akan selalu dihalangi oleh syaitan.’

“Narcisius tersentuh hatinya dengan nasihat dari Danau. Ia jadi insaf dengan dirinya sendiri. Bersujudlah ia memohon Tobat Kepada Allah Ta’ala. Seraya berikhtiar untuk memperbaiki diri dan memupuk cinta kepada sesama.

“Pada saat Narcisius bersujud. Dicabutlah lisan danau itu. Ia mungkin akan berbicara lagi jika Tuhan menghendaki.

“Jadi seperti itulah kisah Narcisius. Ambillah buah kebijaksanaan dari cerita ini anakku. Karena sesungguhnya amat merugi orang yang tinggi diri. Sebagaimana danau itu berpesan. Jikalau kau benci kepada seseorang karena wataknya. Tengoklah kembali dirimu. Barangkali dirimu yang sesungguhnya engkau benci. Jangan pernah engkau ucapkan caci maki kepada orang lain karena barangkali engkau lebih hina dari dirinya. Jika engkau melihat sesuatu dan engkau tidak menyukaianya. Lafalkan Astagfirullah, karena timbul cinta orang lantaran cinta kepada dirinya. Timbul pula kebencian kepada orang lain lantaran bencinya ia kepada diri sendiri. Begitulah simpulan kisah ini. aku harap engkau bisa tidur lelap anakku.”

“Terima kasih Tetta”.

Seingatku malam itu hanya kata terima kasih itu yang sempat ku ingat karena setelah itu. Ingatan yang masih dapat saya gambarkan bahwa Terbangunlah aku Karena bunyi orang mengaji dari toak Masjid. Dan Tetta datang membangunkanku.

Catatan: Kisah Narcisius dan Danau dalam cerpen ini terinspirasi dari mitologi Yunani antik tentang Hikayat Narcissus. Maka dari nama tokoh dan sebagian sudut pandang cerita sudah diubah penulisnya sesuai kebutuhan cerita pendek.

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/pin/307159637068315440/

Musik Kosmik yang Terdengar dari Beranda Warkop

Engkau ditemani kopi hitam dengan satu setengah sendok gula kesukaanmu, sedang aku memesan kopi susu yang moderat. Kita duduk berdua di warkop yang sedang sepi pengunjung, sore itu kita duduk di lantai dua, tepatnya di beranda. Dari sini Kita bisa melihat kesibukan lalu lalang kendaraan yang kadang kala melaju cepat dan terkadang bunyi rem menyeringit terdengar.

Di beranda itu kita juga dapat melihat kesibukan alam, saat langit menjadi abu-abu, lalu engkau kasihan melihat kucing putih polos itu terjerembab dari atas tembok ke tempat sampah, angin mulai rajin membelai dedaunan di pinggir jalan. Dan itu adalah tanda,  awan gelap mengumpulkan nyali. Hasil dari evavorasi kimiawi antara awan dan air laut, benar saja hujan turun membuat atap menjadi ribut. Sayonara suasana gerah.

Tapi rupanya engkau tak peduli dengan semua itu, kopi hitam di sampingmu sudah habis setengah gelas dan sejam yang lalu menjadi terbisu. Kau begitu asyik menjelaskan kepadaku bagaimana seharusnya menghayati estetika musik Beethoven. Dengan begitu semangat engkau berimajinasi seolah engkau adalah Beethoven yang sedang memainkan sebuah orkestra akbar di zaman Aufklarung. Jari jemarimu menari, matamu terpejam, kepalamu bergerak ke kiri ke kanan, seperti seseorang yang sedang khusyuk berzikir. Tapi aku tahu engkau sedang memainkan warna-warni imajinasimu. Meja persegi berwarna hitam polos di hadapan kita engkau ibaratkan sebagai sebuah piano klasik, dan engkau memainkannya  dengan begitu Tawadhu dan istiqomah. Dalam hati lalu aku berkata, “ Untung saja Sayang, warkop ini sedang sepi, orang lain mungkin akan menganggapmu aneh, Karena mengira kopimu terlalu pekat,” batinku.

Sedetik setelah Fur Elise selesai. Kau buka mata cantikmu, lalu tersenyum manis ke arahku. Aku tahu ada sesuatu yang ingin engkau sampaikan. Aku lalu memberimu wajah yang penasaran.

“Sayang, Fur Elise memang terdengar seram, tapi bagi saya ini music yang sangat Indah, sangat indah, ya indah, indah banget.” Begitulah katamu, mengulang kata indah berkali-kali. Aku tahu itu adalah sebuah keadaan mental di mana engkau mendapati sebuah pengalaman yang sulit engkau cakapkan.

“ mungkin Chopin juga bisa mengajarimu sebuah keindahan,” kataku ke padamu,

“ Tidak, sebelum Chopin, aku ingin mendengar Toccata and Fugue dari Sebastian Bach.” Begitulah keinginanmu. Aku tahu sebelum ini, Sebastian bach juga telah membuatmu jatuh cinta.

“ Tapi Toccata and Fugue punya daya Tarik yang kuat,” nasehatku.

“ Biarlah, aku hanya ingin mengalami Ekstase.” Wajahmu begitu yakin, sebagaimana biasanya engkau adalah perempuan yang bernyali nekad.

Engkau mulai mendengar Sebastian Bach, engkau pejamkan matamu, mulai khidmat lagi. Hujan mulai semakin merapat. Deras terdengar menyentuh atap. Suasana terasa dingin di kulitku. Aku tahu tubuhmu juga merasakannya. Tapi engkau sudah fokus dengan indra pendengaranmu. Sehingga bagian tubuh lain raup dari perhatianmu. Kulepas sweater merah hitam yang kukenakan. Kusibakkan dengan pelan. Aku berdiri, lalu berjalan ke belakang kursimu. Ku selimuti belakang badanmu, tempat mendaratnya angin bersuhu rendah. Biar engkau tetap hangat mendengar Sbastian Bach.

Aku duduk kembali, melihat ekspresi wajahmu, alis matamu bergerak berubah-ubah. Kadang cemas, kadang sedih, kadang lalu merasa legah, alis matamu itu punya banyak gambaran. Aku sudah sering melukis wajahmu Dinda. Alis matamu punya garis yang kentara. Aku sering membaca isi hatimu dari setiap gerakan alis matamu itu. Tetapi posisi alis matamu yang tidak konsisten itu membuatku resah. Engkau tidak boleh terlalu jauh menikmati Sebastian Bach. Alis matamu menyeringit, hendak bersentuhan  satu sama lain, yang lalu membentuk lipatan di keningmu. Aku tahu engkau sampai pada batang nada yang tragis. Aku khawatir. Ku letakkan tangan kananku di kepalamu, ku usap dengan halus. Engkau menjadi tenang lalu membuka mata.

“ Ada apa sayang?” katamu kepadaku dengan wajah yang heran. Aku melihat rupa keletihan.

“ Dinda, sekarang letakkan smartphone itu, lepaskan dulu headshet di telingamu, dan tatap mataku.”

“ Ada apa sayang?” engkau masih juga heran.

“ Apa yang kau rasakan saat mendengarkan Sbastian Bach?”.

“ Hmmmm…” Engkau berpikir mencoba menyatukan setiap kata yang mengalir di otakmu.

“Aku terbawa emosi, menurutku, dan entahlah menurut intrepretasi orang lain, Sbastian Bach membuatku ingin menari di atas garis nada, seperti angin, lepas dalam kesepian, lalu menjadi putri salju di tengah gurun gobi. ”

“ Ada lagi sayang?” Tapi batinku menyebut, “ Ada perumpaan yang lebih anarkis lagi sayang?”.

“ Aeperti Cinderella di tengah kerumunan perumahan orang kaya. Atau membaca buku komunisme di depan rezim pra 1998.”

Aku tersenyum mendengar kejujuran metaforamu. Lalu entah mengapa aku mencium keningmu yang selalu terlipat itu. Engkau terdiam, aku bisa merasakan hangat kebingunganmu. Tapi aku hanya ingin mengatakan lewat kecupan itu, bahwa aku bangga memiliki kekasih sepertimu. Tapi kau masih terdiam, lalu aku mengusap kepalamu melucuti seluruh egoismeku. Mencoba menenangkanmu sambil mencurahkan seluruh daya ketuhananku.

“Tahukah engkau Sayang. Phytagoras pernah berkata bahwa Tuhan ada di dalam setiap tangga nada. Saat manusia yang bersengketa tidak dapat berdamai lewat tulisan, tidak juga dengan perkataan kadang musik menjadi cahaya timur untuk mengembalikan keberadaban manusia. Bagiku musik itu adalah ruh bumi, musik yang dimainkan oleh para maestro zaman romantisme apalagi yang dimainkan oleh jiwa spiritual mistik abad pertengahan di dunia Islam adalah kumpulan suara kosmik. Musik pada saat itu menjadi pintu ma’rifat menyusun nada yang sarat kontemplasi sehingga terdengar substansial. Namun saat ini musik dikuasai oleh manusia yang bergejolak bermain dengan nada yang relatif. Sebuah musik yang menuju fase bunuh diri sehingga manusia yang mendengarkannya menjadi miskin eksistensi,  memperumit kegelisahan.Tetapi saat aku melihatmu khidmat mendengarkan Sbastian Bach dan Beethoven aku melihat jum’at kiamat masih jauh,” jelasku sambil memegang tanganmu seraya menatap cahaya di matamu.

“Bagaimana menurutmu?”

“ Aku tidak banyak tahu tentang musik romantisme, serta semua penjelasanmu, tetapi sebagai yang awam aku telah jatuh cinta pada setiap ketukan nada dari maestro ini.” Engkau tersenyum mengucapkannya, dan senyuman itu mengatasi keringat dinginku.

“ Kayaknya, kopi hitamnya mulai dingin nih?” ucapku mencoba membawamu kembali kepermukaan.

“ Hahaha, terlalu keasyikan, jadi lupa daratan.” Engkau tertawa.

Hujan mulai reda, pelayan Warkop menyetel dangdut Remix. Lagu “ Adu Domba “ Bung Rhoma mulai bermain. Dan itu menandakan bahwa kami benar-benar telah kembali ke permukaan.

Terlempar dan Puisi-puisi Lainnya

Perkenalan Diri

Assalamu alaikum Warah matullahi Wabarakatuh.

Hay teman-teman, perkenalkan nama saya Tragis,
saya tinggal di bawah tanah,
hari lahirku hari matiku.
Hobiku merencanakan untuk bunuh diri.
Citaku-citaku adalah mati.

Terima kasih atas waktunya, salam kenal.

 

Terlempar

Terkadang kita tuli untuk mendengar nyanyian rumput yang kita bakar.

Seringkali kita membusukkan angin harum dari sari pati pepohonan di samping rumah.

Kita hanya peduli untuk hidup kita yang semakin jauh dari tempat kita bermula.

Menyibukkan diri di jalan yang bukan jalan kita.

Kehidupan ini memang adalah mengalami kesalahan.

Tapi kesalahan mengajarkan kita arti dari kebenaran.

Namun kita betah dengan kenyamanan untuk selalu berbuat salah.

Sehingga pesan-pesan kebenaran melayang sudah.

Lupalah kita bahwa kita sedang terlempar dan tersesat.

Lupa kita dari mana dan akan ke mana.

Kesalahan membuat kita nyaman dengan kepedihan, kejatuhan dan kesedihan yang dalam.

Jika kita memang sepenuhnya telah lupa dan tersesat.

Tapi setidak-tidaknya kita masih memiliki pertanyaan.

Jika pertanyaan itu masih ada maka jawaban akan selalu tersedia.

Selama masih ada pertanyaan di sana akan ada keraguan.

Setidaknya dengan keraguan itu, kita masih memeliki sebagain  besar kemanusiaan kita.

Dengan ragu kita masih berkesempatan untuk menjadi manusiawi.

Mengingat kembali dan mengumpulkan kembali pesan-pesan kebenaran.

 

Payudara

Aku sebelum aku, mengingat Payudara Ibu

Aku lupa tapi aku merindukannya.

Lalu Aku menjadi aku, papan tulis dan buku tulis.

Serta rotan milik Ayah, bekas hitam di betisku.

Aku masih ingin Payudara Ibu.

Suara Ayah bergema, menjadikan tubuhku reruntuhan.

Menuntunku ke dalam botol, menjadi binatang.

Binatang yang bercermin di cermin-cermin busuk.

Aku melihat tubuhku sebagai mayat, mayat yang penuh tambal luka.

Sisa peperangan dengan Ayah dan bekas-bekas rantai yang berkarat.

Ibu, bebaskanlah aku.

Bebaskanlah aku dari botol yang mengikat kemanusiaanku.

Padamu Ibu, aku menyerahkan tubuhku menjadi manusia lagi.

Sebagai manusia yang menyusu di Payudara Ibu.

Ibu, aku butuh Payudaramu.

Payudara yang mengisi botol-botol kosong.

Payudara yang merajut pecahan-pecahan kaca di dalam botol.

Payudara yang membungkam mulut Ayah.

Ibu, atasilah kecantikanmu itu.

Biar bening Payudaramu, menanam sebuah hutan di mataku.

Terang,gelap, serangga-serangga kecil kecil bernyanyi, burung-burung berkicau. Serta gua bukan hanya menjadi wc umum.

Aku dan mereka merindukan Payudara Ibu, yang mengatasi kehancuran makna.

Sebelum segalanya menjadi tubuh.

Tubuh yang membusuk