Semua tulisan dari Ferdhiyadi N

Bercita-cita menjadi Power Ranger Merah. Saat ini aktif sebagai Pustakawan di "Ruang Abstrak Literasi". Fans PSM Makassar dan Inter Milan. Senang membaca, berdikusi dan jalan-jalan.

Menakar Nalar Demokrasi Rakyat dan Mahasiswa

Bahas Pemilu, demokrasi dan politik itu berat yah, cukup politisi, akademisi, mahasiswa, dan aktivis saja. Rakyat tidak akan kuat, karena rakyat hanyalah objek yang pasif atau pelengkap dalam sebuah negara demokrasi yang masih didominasi oleh kuasa modal, kekuatan elit oligarki yang dilakukan dengan praktik tranksaksional. Tulisan ini mencoba untuk mengkritisi tulisan sebelumnya dari Sopian Tamrin berjudul Mahasiswa dan Kosongnya Nalar Demokrasi yang dipublikasikan kalaliterasi.com pada tanggal 17 Maret 2019.

Pernyataan mengenai rakyat masih gagap, awam dan mentalitasnya rentan dalam berbagai penyimpangan politik adalah pernyataan yang harus ditinjau kembali, apa dasar konseptual dan faktualnya dari tulisan Sofyan Thamrin. Jika tidak, kita justru akan menggeneralisasikan bahwa kesadaran politik rakyat seperti itulah keadaannya. Bahwa memang betul adanya jika masih ada rakyat yang menggantungkan nasibnya melalui konstetasi pemilu dengan ilusi-ilusi dan hoax yang disebarkan oleh banyaknya politisi demi mendapatkan suara rakyat.

Tetapi, situasi tersebut terjadi juga tidak bisa terlepas dari praktik politik kotor yang dijalankan oleh elit oligarki melalui partai politik borjuasi yang memiliki kepentingan untuk melanggengkan kekuasaan ekonomi dan politiknya. Mungkin Sopian Tamrin paham bahwa di negara berkembang seperti Indonesia sistem politik dan demokrasi hanyalah kedok demi memuluskan akumulasi kapital secara massif melalui skema penguasaan sumber daya alam, tenaga kerja murah dan pasar. Pemilu di negeri ini bukanlah sesuatu yang sakral dan bisa mengubah sendi-sendi kehidupan rakyat menjadi lebih baik kedepannya.

Ada yang menarik dari tulisan Roanne van Voorst seorang antropolog dari Belanda dalam bukunya Tempat Terbaik di Dunia yang mengulas tentang salah satu kampung kumuh dan miskin di Kota Jakarta. Kemiskinan membuat rakyat tidak berputus asa untuk bertahan hidup dan beradaptasi dengan kondisi yang selalu berubah-ubah setiap saat. Solidaritas dan kreatifitas menjadi kekuatan bagi rakyat miskin untuk mengatasi persoalan yang mereka hadapi.

Di pesisir Makassar, tepatnya di salah satu Kampung Nelayan Tallo yang kumuh dan miskin begitu beragam cara rakyat melihat konstestasi pemilu 2019. Beberapa dari mereka bahkan justu tidak melihat pemilu sebagai solusi jangka panjang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, sebaliknya momen Pemilu menjadi salah satu cara mereka untuk mendapatkan uang dan kebutuhan sembako yang didapatkan langsung dari calon-calon legislatif. Apakah ini pragmatis? Sebaliknya ini adalah salah strategi politik rakyat untuk bertahan hidup dari kondisi kemiskinan dan ancaman penggusuran dengan memanfaatkan momen Pemilu.

Soal apakah mereka akan memberikan suaranya kepada siapa, masih bisa saja berubah menjelang detik-detik pemilihan. Kesadaran politik rakyat juga sudah pasti berbeda pada situasi mereka diperhadapkan langsung pada konflik sumber daya alam. Data dari Konsorsium Pembaruan Agraria mencatat sedikitnya 364 orang menjadi korban dari konflik agraria di Indonesia sepanjang 2018. Dari jumlah tersebut, sepuluh orang petani dan pejuang agraria telah terbunuh dan sebannyak 216 dikriminalisasi hanya karena mempertahankan hak atas tanah dan sumber daya alam tempat mereka bertahan hidup.

Tidak usah jauh-jauh kita melihat contoh kasus, di Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Bulukumba konflik lahan yang melibatkan petani dan masyarakat adat Kajang dengan PT. LONSUM telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Bagaimana rakyat yang telah terbangun kesadaran politiknya justru melihat konstetasi Pemilu hanyalah persoalan taktik semata dalam memperkuat posisi gerakan sosialnya, apakah akan menggunakan hak suaranya atau tidak. Secara politik mereka tentunya sadar pemerintah dan wakil-wakil rakyat yang terpilih sejak pemilu-pemilu sebelumnya tidak bisa berbuat banyak dalam mengembalilkan status tanah adat mereka. Berbicara tentang politik tidaklah tunggal atau identik dengan kekuasaan semata tetapi juga menyentuh beragam aspek yang terjadi di tengah-tengah rakyat.

Bagaimana dengan Mahasiswa?

Pernyataan selanjutnya dari tulisan Sopian Tamrin, terkait bagaimana mahasiswa mesti hadir dalam menambal kegagapan politik masyarakat awam juga merupakan pernyataan yang menarik untuk diperdebatkan. Pernyataan tersebut seolah memosisikan mahasiswa sebagai aktor utama yang harus hadir memberikan solusi dalam memperbaiki mental berdemokrasi rakyat masih berada pada usia anak-anak. Mitos heroisme dan romantisme masa lalu gerakan mahasiswa tahun 1966, 1974, dan 1998 sepertinya menjadi dasar Sopian Tamrin mengeluarkan pernyataan tersebut. Tanpa menafikan peran gerakan mahasiswa Indonesia dalam perubahan politik dan sosial yang terjadi di Indonesia, Ernest Mandel berpendapat bahwa kesatuan teori dan praktek dalam gerakan mahasiswa dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama jika mahasiswa meleburkan diri dalam gerakan progresif di tengah-tengah rakyat atau terintegrasi ke dalam gerakan buruh, tani dan nelayan.

Meskipun mahasiwa memiliki waktu luang untuk mendapatkan produksi pengetahuan di kampus dan akses informasi terkait perkembangan situasi politik yang terjadi bukan berarti mereka juga memiliki kesadaran politik yang sama untuk memperbaiki kualitas demokrasi dan menjaga rakyat dari praktek pemilu yang transaksional. Kebijakan sistem pendidikan Indonesia terutama sektor pendidikan tinggi yang orientasinya mengarah pada liberalisasi, komersialisasi dan privatisasi untuk kepentingan globalisasi ekonomi juga menjadi penghambat bagi mahasiswa dalam membangun nalar-nalar kritis dan mengembangkan diri melalui ruang-ruang ilmiah di kampus.

Bahkan untuk konstetasi Pemilu, ada juga mahasiswa yang dulunya pernah terlibat dalam dunia gerakan mahasiswa justru menjadi bagian dalam skema politik tranksaksional itu sendiri. Istilah Antonio Gramsci, intelektual tradisional yang tidak sulit berkompromi dengan penguasa atau main aman meskipun harus mengkhianati cita-citanya sendiri. Sikap kritis progresif mahasiswa justru akan lahir pada situasi dimana mahasiswa belajar di tengah-tengah rakyat yang merasakan ketidakadilan dari kebijakan yang lahir dari penguasa.

Sebagai penutup tulisan ini, lebih lanjut menurut Gramsci; seorang intelektual bukan perantara dari teori-teori abstrak untuk dicangkokkan pada lapisan massa awam, tapi seorang yang mendasarkan pengetahuan dari fakta-fakta sosial yang ada di lingkungannya. Semoga kita tidak menyimpulkan secara dikotomis atau hitam-putih semata melihat posisi rakyat dan mahasiswa dalam konstetasi pemilu 2019.

Sumber gambar: https://oxfordschoolofphotography.wordpress.com/2013/04/28/the-masks-we-wear/

Gerakan Mahasiswa, eh… Sekelompok Mahasiswa Kota Makasar Tolak Film Dilan 1991

Gerakan mahasiswa Kota Makassar kembali viral diberitakan oleh berbagai media beberapa hari yang lalu. Mungkin sangat berlebihan jika saya menyebutnya gerakan, lebih tepatnya sekelompok kecil mahasiswa yang mengaku memegang teguh falsafah Bugis-Makassar ini mengepung mal yang menayangkan sekuel film Dilan 1991. Alasannya begitu kritis, film tersebut katanya tidak sesuai dengan budaya timur yang santun dan bisa memicu kekerasan dalam dunia pendidikan.

Bisa jadi setelah mereka menganalisa situasi umum perkembangan kapitalisme internasional dan memadukannya dengan situasi khusus kondisi pendidikan di Indonesia, maka ditariklah sebuah kesimpulan yang lahir dari kondisi objektif. “Bahwa salah satu akar masalah dalam dunia pendidikan Indonesia adalah film-film yang melenceng dari konteks budaya Indonesia, dan Film Dilan 1991 pantas untuk ditolak pemutarannya”. Izinkan saya tertawa, sebelum melanjutkan tulisan ini. Hahahahaha.

Begitu progresifnya sekelompok mahasiswa ini, mereka juga kemudian memaksa masuk gedung bioskop di salah satu mal di Kota Makassar. Tujuannya, boikot film Dilan 1991! Waduh, lantas bagaimana dengan begitu banyaknya tayangan sinetron dan FTV bertebaran diberbagai stasiun televisi yang juga sering diadukan oleh masyarakat kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena dianggap meresahkan dan membahayakan pertumbuhan fisik dan psikologi anak?

Apa sekelompok mahasiswa ini juga melakukan aksi demonstrasi sebelum-sebelumnya? Kenapa mesti film Dilan 1991? Kan banyak juga film-film Indonesia yang bergenre horor tapi adegannya terkesan vulgar karena pemerannya lebih banyak mengekspos lekuk tubuhnya dibandingkan adegan seramnya. Itu pernah diprotes juga tidak? Pertanyaanku banyak juga yah. Hahahahaha.

Saya bukan pengamat film, saya hanya penikmat film dan film Dilan 1991 adalah film yang harus saya nonton. Alasannya sederhana, pertama film Dilan 1990 sudah saya nonton, jadi film Dilan 1991 adalah kelanjutannya jadi wajib saya nonton. Kedua saya menyukai tulisan-tulisan Papa Pidi Baiq sejak era Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama dan Drunken Marmut, yang terakhir ini belum saya baca. Dan tiga edisi Novel Dilan dan Milea semuanya sudah saya baca dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Lantas apakah mereka setelah membaca novel dan menonton film Dilan mayoritas dari mereka melakukan tindakan kekerasan?

Dan ingat juga, maraknya kasus kekerasan geng motor di Kota Makassar bukan karena pengaruh film Dilan tapi jauh sebelum film Dilan tayang, kekerasan geng motor sampai saat ini belum juga bisa teratasi. Syukur-syukur kalau sekelompok mahasiswa ini tahu siapa itu Papa Pidi Baiq, sosok penting dibalik film Dilan yang juga mendirikan Negara Kesatuan Republik The Panas Dalam. Seharusnya sekelompok mahasiswa ini juga melakukan protes keras kepada Pidi Baiq karena telah mendirikan negara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cinta ini. Pidi Baiq, anti pancasila! Hahahahaha.

Saya makan durian dulu sebelum melanjutkan tulisan ini.

Tadi malam, di media sosial Facebook, teman saya Mujahidin Musa Al-Kafirun membagikan video aksi demonstrasi sekelompok mahasiswa yang sedang berjuang memboikot bioskop yang menayangkan Film Dilan 1991 dan menulis status lalu menandai akun Facebook saya. Kurang lebih tulisan statusnya seperti ini: adaji pas demo UKT ini mahasiswa kah?

Saya pun langsung berkomentar: Mungkin di kampusnya biaya kuliah gratis. Jadi teman-teman pembaca yang budiman sedikit penjelasan dulu. UKT ini merupakan Uang Kuliah Tunggal yang merupakan model pembayaran biaya kuliah di kampus-kampus negeri di Indonesia. UKT ini sejak tahun 2013 sudah diprotes oleh mahasiswa-mahasiswa perguruan tinggi negeri seantero negeri karena semakin memberatkan biaya kuliah mahasiswa.

Banyak riset dari organisasi mahasiswa yang menyebutkan bahwa sejak sistem pembayaran UKT ini diterapkan terjadi kenaikan dua sampai tiga kali lipat biaya kuliah di kampus-kampus negeri. Menurut Andi Alauddin nama bekennya AL, salah seorang aktivis mahasiswa di kampus menara 17 lantai Makassar, “UKT merupakan buktinya nyata Neo-Liberalisasi dalam dunia pendidikan karena negara kita masuk dalam skema World Trade Organisation dan telah menjadikan sektor pendidikan sebagai salah sektor publik yang bisa dijadikan komoditas”.

Semacam education for profit. Kajiannya berat deh. Bisa jadi sekelompok mahasiswa anti Film Dilan ini tidak paham kalau dunia pendidikan semakin diskriminatif dan masyarakat yang dikategorikan miskin begitu susah mengenyam pendidikan formal yang berkualitas kalau tidak punya uang akibat dari kebijakan sistem pendidikan kita yang terjebak dalam skema pasar bebas global.

Tapi kita harus tetap berpikir positif, bisa jadi di kampus tempat sekelompok mahasiswa ini kuliah, biaya kuliah gratis atau murah sehingga tidak ada lagi isu pokok yang berkaitan dengan hak-hak mahasiswa yang bisa diadvokasi di kampus mereka. Punna Upa’.

Mereka kemudian keluar kampus dan menganalisa isu-isu yang berkaitan dengan hak-hak rakyat, salah satunya tolak pemutaran film Dilan karena telah melenceng dari budaya Siri’ na Pacce! Sekelompok mahasiswa ini betul-betul memegang teguh filosofi: perjuangan sesungguhnya adalah ketika berjuang bersama rakyat, pendidikan yang sesungguhnya adalah hidup ditengah-tengah rakyat. Alam raya sekolahku!

Terkhusus kepada para warganet  fansnya Iqbal dan Vanesha berhentilah menghujat sekelompok mahasiswa ini dan menuduhnya jomblo. Kalau pun seandainya mereka jomblo, setidaknya mereka adalah jomblo-jomblo terhormat yang sedang memperjuangkan kualitas pendidikan Indonesia menjadi lebih baik. Hahahahaha.

Dan sebelum saya tutup tulisan ini, kepada pembaca yang budiman jangan lupa nonton Film Dilan 1991, ajak gebetannmu, bayarkan tiketnya. Setidaknya itu adalah modus terbaik dan setelah menonton film ini ungkapkan langsung perasaanmu kepadanya “Aku Mencintaimu, biarlah, ini urusanku. Bagaimana engkau kepadaku, terserah, itu urusanmu!”.

 

Ibu Mega: Sosok Perempuan Pesisir yang Peduli Pendidikan

Kami mendapat suntikan energi baru.  Setelah menyelenggarakan agenda pembahasan kurikulum Kelas Anak Pesisir, esoknya kami langsung mengajak Teman Belajar baru untuk meninjau lokasi-lokasi yang dijadikan sebagai ruang kelas terbuka Kelas Anak Pesisir Komunitas Ruang Abstrak Literasi.

Letaknya di kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Pantai Marbo Tallo dan di salah satu beranda rumah masyarakat Kampung Karabba. Lokasi yang terakhir di Kampung Karabba adalah lokasi baru Kelas Anak Pesisir yang baru. Tidak jauh dari Pantai Marbo Tallo sekitar kurang lebih satu kilometer kita sudah tiba di lokasi yang masih termasuk bagian dari Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.

Pemukiman padat, tidak tertata dan terkesan kumuh yang berada di atas laut. Rumah-rumah penduduk semuanya terbuat dari kayu dan jembatan kayu seadanya sebagai penghubung dari rumah ke rumah yang hampir ambruk adalah gambaran lokasi baru Kelas Anak Pesisir di Kampung Karabba. Ibu Mega adalah salah satu masyarakat yang berbaik hati untuk meminjamkan beranda rumahnya sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran setiap hari sabtu dan minggu sore.

Kami beruntung bertemu dengan Ibu Mega, sosok Ibu sederhana yang merelakan mimpi-mimpinya untuk tidak melanjutkan kuliahnya dan memilih bekerja demi membantu biaya pengobatan orang tuanya yang sakit pada waktu itu. Sementara suami Ibu Mega, Pak Firman bekerja sebagai sopir pribadi dengan pendapatan yang tidak menentu setiap harinya.

Kehidupan keras telah dilalui Ibu Mega sejak kecil dan kesadarannya tentang pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah nasib ditularkan ke anak perempuan satu-satunya bernama Indah yang sudah beranjak naik ke kelas enam sekolah dasar. Kami melihat Indah begitu bersemangat dan menikmati setiap hal-hal baru yang didapatkan dari proses belajar di sekolahnya maupun di Kelas Anak Pesisir.

Siang itu kami pertama kali bertemu Ibu Mega dan menjelaskan maksud dan tujuan kami mengadakan Kelas Anak Pesisir untuk anak-anak di Kampung Karabba. Singkat cerita.

“Iye, di sini anak-anak masih banyak yang belum bisa membaca, ada anak usia kelas 5 SD belum bisa membaca padahal sekolah ji juga,” keluh Ibu Mega menjelaskan.

“kalau bisa ki’ bantu anak-anak disini supaya bisa banyak na tau juga, nanti saya yang cerita sama orang tuanya anak-anak disini supaya na dorong juga anak-anaknya ikut belajar,” lanjut Ibu Mega.

“Jadi kapan kami bisa mulai kelasnya Bu?” kata seorang teman kepada Ibu Mega.

“Kalau bisa jaki’ sore ini, nda papa juga,” jawab Ibu Mega dengan lugas.

Setelah itu, sebulan terakhir beranda rumah sederhana Ibu Mega berukuran lima kali dua meter didapuk menjadi tempat Kelas Anak Pesisir kami yang baru. Setiap kami ingin memulai kelas Ibu Mega dengan ikhlas membantu kami memanggil anak-anak dan begitu setianya mengikuti jalannya proses kelas hingga akhir.

Kami sendiri agak khawatir dengan kapasitas beranda rumah Ibu Mega yang sebenarnya hanya memuat sekitar dua puluh orang usia kategori anak-anak sementara ada sekitar tiga puluh anak-anak di Kampung Karabba yang aktif di Kelas Anak Pesisir yang tiap pekannya selalu antusias menunggu kami sebelum kelas di mulai.

Mengantipasi kemungkinan terburuk ketika kelas berlangsung, kami pun mendiskusikan hal ini kepada Ibu Mega. Untuk sementara yang bisa kami lakukan adalah menambah beberapa batang bambu sebagai tiang penyanggah agar rumah di atas laut tersebut tidak ambruk.

***

Bagi kami, Ibu Mega adalah pejuang pendidikan yang sesungguhnya. Mengajarkan kami tentang semangat untuk terus peduli terhadap kondisi pendidikan anak-anak pesisir yang begitu kompleks permasalahannya. Ada kekuatan di balik keterbatasan manusia. Karena dengan keterbatasan kita dapat merasakan suatu fase titik terendah dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya tetapi tidak semua manusia bisa melewati proses ini.

Ibu Mega telah menjadi guru kehidupan dan teladan bagi kami yang selama ini berkutat dalam kekakuan sistem pendidikan formal dan kemudian terjebak hanya sekedar untuk mengejar gaji, pangkat dan jabatan seperti kata Pramoedya Ananta Toer.

Konsep dan tujuan pendidikan telah banyak dicetuskan oleh para tokoh.  Pada hakikatnya mereka sependapat. Bahwa pendidikan adalah proses menjadikan manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Tetapi, soal konsep dan tujuan pendidikan negeri ini sama sekali tidak diketahui oleh Ibu Mega sendiri.

Karena kepedulian dan semangat Ibu Mega terhadap pendidikan anak-anak pesisir di Kampung Karabba tidak didapatkannya dalam ruang-ruang formal pendidikan itu sendiri.  Melainkan dari kondisi ketidakadilan sistem pendidikan yang dirasakannya langsung dan masih terjadi hingga saat ini. Dan memang betul bahwa pengetahuan sejati adalah pengalaman dari keadaan yang membangun kesadaran. Ibu Mega telah membuktikan hal tersebut.

Merayakan Makna Kemerdekaan dalam Bayang-bayang Penggusuran

“Apakah kamu masih percaya negara?” seorang teman bertanya dengan serius.

“Apakah kita masih bisa mengatakan merdeka jika kemiskinan dan ketidakadilan masih nyata dilihat di depan mata?” lanjut bertanya kembali”

“Ah, sudah mi, pertanyaannmu tidak penting,” jawabku dengan santai

Seriuska ini bertanya cika’,” menatapku dengan tatapan tajam.

“Oke begini, bersama dengan warga Tallo, kami berencana akan mendirikan negara; Republik Rakyat Tallo (RRT) dan menjalin kerjasama serius dengan Negara Cina,” balasku dengan canda.

***

Malam itu hujan puisi berjatuhan di Pantai Marbo Tallo. Pak Ardi salah seorang Ketua RT juga turut membacakan puisi dan setelah itu diikuti secara bergantian oleh anak-anak muda setempat. Hanya bermodalkan pinjaman gitar akustik dan sound system dari salah satu organisasi UKM mahasiswa di kampus dan dengan pencahayaan lampu yang seadanya, bale-bale itu seketika menjadi panggung pertunjukan bagi para pencinta puisi.

Warga sedang merayakan ritus kemerdekaan dengan mengadakan lomba baca puisi khusus untuk anak-anak di Kampung Manggarabombang, Kelurahan Tallo tetapi ternyata di luar dugaan, sekitar ratusan warga yang hadir malam itu betul-betul menikmati setiap bait-bait puisi yang dibacakan.

Yasid, salah seorang anak yang mengikuti lomba baca puisi malam itu, membuat suasana menjadi hening dan membuat para pendengarnya larut terbawa emosi dengan puisi berjudul “Ibu” yang dibacakannya penuh penghayatan. Puisi bukan hanya milik dari yang menulis dan membaca puisi, puisi adalah bahasa perasaan, menjadi milik baginya yang menjadikan rasa sebagai jembatan untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Puisi pun bisa menjadi hidup, penuh khidmat di tempat-tempat yang diklaim sebagai kawasan kumuh, ilegal, dan latar ekonomi warganya kebanyakan berkutat dalam kemiskinan.

Merayakan ritus kemerdekaan di pesisir Tallo merupakan tahun kedua bagi saya dan teman-teman Komunitas Ruang Abstrak Literasi. Itu artinya pula kami sudah memasuki tahun kedua mengambil peran dalam gerakan literasi di pesisir Tallo dengan segala dinamikanya yang membuat kami tetap bertahan hingga saat ini.

Tahun ini juga, perayaan kemerdekaan dengan berbagai macam lomba mulai dari olahraga, seni dan permainan tradisional dilaksanakan di dua kampung, yakni Kampung Manggarabombang dan Kampung Gampancayya, Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo.

Tidak banyak waktu untuk mempersiapkan semua hal, mulai dari konsep perayaan hingga teknis persiapan lomba. Tetapi warga terkhusus anak-anak muda di Tallo terlihat begitu kompak dan bersemangat untuk melibatkan dirinya menyukseskan ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-73.Dua minggu sebelum perlombaan dimulai, kepanitiaan bersama terbentuk dengan melibatkan tokoh-tokoh warga setempat, anak-anak muda dan komunitas.

Tahun ini juga kami bersyukur, Komunitas Mata Kita Sul-Sel dan Agen Obat Manjur KPK (Komisi Pemberantasan Anti Korupsi) dan beberapa relawan mahasiswa dari beberapa kampus di Kota Makassar juga ikut berpartisipasi, merayakan bersama kemerdekaan selama kurang lebih satu minggu dengan warga pesisir Tallo.

Di pesisir Tallo kita mencoba merayakan makna ritus kemerdekaan di tempat yang sesungguhnya belum sepenuhnya dapat dikatakan merdeka jika tolak ukurnya adalah terpenuhinya hak-hak dasar sebagai warga negara, seperti hak atas tempat tinggal kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kesejahteraan dan lain-lain. Secara kasat mata kita bisa melihat langsung kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh warga pesisir Tallo, salah satu contoh kasus adalah warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Banyak warga yang mengeluh karena mereka harus mengeluarkan biaya setiap bulan kisaran Rp. 300 ribu hingga Rp. 600 ribu untuk membeli air di pedagang air dengan harga Rp. 3.000 per gerobak dengan isi 12 jergen dengan kebutuhan air setiap harinya 3 sampai 5 gerobak.

Belum lagi ketika menyinggung soal tangkapan hasil laut nelayan yang semakin menurun akibat dari limbah industri yang dibuang oleh perusahaan di muara Sungai Tallo dan proyek rakus reklamasi yang semakin luas sehingga daerah tangkapan ikan juga semakin terbatas. Oleh Pemerintah Kota Makassar, pesisir Tallo pun mendapat klaim sebagai kawasan kumuh dan identik dengan kemiskinan yang tentu membutuhkan sentuhan program penataan versi pemerintah.

Melalui program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) yang merupakan proyek pemerintah pusat atau dikenal dengan sebutan National Slum Upgrading Project, Kota Makassar menjadi salah satu kota dari 269 Kota di Indonesia yang melaksanakan program ini.

Program KOTAKU sekilas merupakan program yang akan bermanfaat karena akan menata kawasan pemukiman yang dianggap kumuh dengan model pendampingan sosial ekonomi untuk keberlanjutan penghidupan warga yang telah tinggal di pemukiman tersebut. Kelurahan Tallo dan Kelurahan Buloa adalah dua kelurahan di Kecamatan Tallo yang dipilih sebagai lokasi prioritas program KOTAKU.

Tetapi fakta lain dari hasil riset yang diterbitkan Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Sulawesi Selatan bersama dengan Koalisi Pemantau Pembangunan Infrastruktur pada Oktober 2017, mengungkap bahwa program KOTAKU perlu mendapat perhatian serius dari berbagai pihak. Selain karena pembiayaan proyek dari utang Bank Dunia dan Asian Infrastruktur Investment Bank (AIIB) yang akan menambah beban negara, proyek ini juga tidak melibatkan langsung warga yang terkena dampak, mulai dari perencanaan awal dan sosialisasi terbuka.

Sehingga warga menganggap bahwa program KOTAKU justru akan menggusur mereka dari tempat tinggalnya dan berpotensi menghilangkan hak warga atas pekerjaan sertalingkungan yang rusak karena reklamasi. Kesimpulannya bahwa program KOTAKU adalah upaya tersistematis untuk mengusir orang miskin di perkotaan dengan mengesampingkan hak asasi sebagai manusia dan sebagai warga negara.

Merdeka bagi warga pesisir Tallo adalah ketika mereka merayakan ritus kemerdekaan dengan tertawa bahagia, terlibat dalam setiap lomba-lomba yang dipertandingkan atau sekedar meramaikan diri menjadi penonton. Setelah semuanya selesai, mereka akan kembali semula pada suatu kondisi yang sesungguhnya belum merdeka dengan terus bertahan dari kerasnya arus kehidupan yang tidak adil.

Bagi saya ruang untuk memaknai bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang simbol-simbol nasionalisme tetapi turut menciptakaan rasa merdeka di tempat yang belum sepenuhnya merdeka dari bayang-bayang penggusuran. Untuk itu saya belajar banyak hal pada warga pesisir di Tallo bagaimana menjadi merdeka dengan cara sederhana.

Manusia Murahan dan Tuhan yang Maha Pemurah

Syukur. Manusia seperti saya masih diberikan kesempatan untuk menjumpai kembali bulan Ramadan tahun ini. Bulan dengan segala keberkahan dan kemuliaannya. Bulan terbaik untuk sejenak menyepi, mengakui kekuasaan dan kebesaranNya. Bulan bertabur emas pahala. Bulan yang melatih kesabaran dan wujud rasa syukur sebagai manusia. Percayalah bahwa tulisan ini tidak akan bermanfaat bagi mereka yang tidak percaya dan meragu akan keberadaan tunggal pemilik semesta dan teruntuk mereka yang mengaku paling beragama. Ketahuilah para pembaca, bisa jadi mungkin kalian sama seperti saya yang merasakan bulan Ramadan ini seperti motor yang sudah lama tidak diservis dan kemudian masuk bengkel lalu setelah itu kembali sedikit menjadi baik dan akhirnya melupa lagi setelahnya. Tapi setidaknya itu sedikit lebih baik dari mereka yang bersembunyi di balik topeng-topeng agama tetapi hasrat busuknya hanya untuk merebut panggung kuasa di negara sirkus ini.

Pembaca yang baik hati, tulisan ini mungkin terkesan ngawur karena tidak punya dalil yang kuat dan saya terlalu percaya diri membahas tentang Tuhan tetapi percayalah wahai pembaca (terkesan memaksakan) bahwa tulisan ini memang bukan ditulis oleh ahli agama. Saya menulis ini sebagai pelampiasan rindu dalam menyambut bulan Ramadan, mengingat Ibu dan Bapak di kampung. Ramadan tahun ini saya mungkin salah satu dari mereka di kota ini yang tidak menikmati tradisi sahur dan buka puasa bersama keluarga di kampung.

Pembaca yang budiman, pertama saya menyampaikan duka cita yang mendalam bagi para korban dari aksi-aksi teror  yang kita lihat bersama merebak di negeri ini. Bukannya malah berempati, justru saya melihat banyak dari mereka yang semakin memperkeruh keadaan dan menambah ketakutan kita dari pernyataan-pernyataannya yang tendesius dan emosional. Tetapi lebih jengkel lagi ketika melihat para politisi beradu pendapat di media, saling menjatuhkan terkait motif, pelaku dan banyak hal lainnya yang berkaitan dengan aksi-aksi teror tersebut padahal bisa jadi itu hanyalah bagian dari intrik dan taktik politik kotornya. Yang pastinya menurut saya pelaku dan dalang utamanya adalah manusia-manusia murahan terlepas dari apakah mereka menjadikan agama sebagai alasannya. Pengetahuan saya dangkal melanjutkan pembahasan di paragraf ini.

Manusia-manusia murahan dan Tuhan yang Maha Pemurah adalah kontradiksi manusia sebagai pewaris sementara dari bumi dan Tuhan yang begitu baiknya memberikan kehidupan pada bumi dan segala isinya. Manusia-manusia murahan juga menafsirkan keliru ajaranNya dengan jalan kekerasan atau membunuh sesamanya manusia. Maha Pemurah sang pemilik segalaNya, adalah kesempatan, kemudahan dan kasih sayang yang diberikan kepadaNya bagi yang tulus menyesali dan memperbaiki segala kesalahan kita agar lebih bermakna sebagai manusia. Sementara manusia-manusia murahan sebaliknya tidak bersyukur kepada nikmat kehidupan yang telah diberikan kepada manusia sejak dari dalam kandungan dan pertama kalinya melihat dunia serta nikmat-nikmat yang tidak terhitung nilainya. Tuhan memberi tanpa sama sekali mengharapkan apa-apa dari makhluk ciptaaNnya yang sempurna yaitu manusia.

Manusia-manusia murahan itu juga melekat kepada saya dan bisa jadi anda-anda sekalian yang membaca tulisan ngawur ini. Momen di bulan Ramadan ini adalah nikmatNya yang datang kembali kepada kita semua yang masih diberikan nafas kehidupan untuk semakin lebih bersujud dan bersyukur kepada Tuhan yang Maha Pemurah serta menghargai sekecil apapun perbedaan sesama manusia. Sesungguhnya kita hanyalah bagian kecil dari jagad raya ciptaaNya yang telah diwarisi setitik surgaNya yang bernama bumi. Tugas kita bersama adalah merawatnya bersama. Olehnya itu, saya juga secara sepihak mengeluarkan imbauan atas nama manusia untuk mengajak kepada pembaca sekalian berjihad di jalan literasi, membaca keadaan dan tidak merampas kebebasan sesama manusia

Saya menutup tulisan ngawur ini agar terkesan seolah-olah bijak dengan mengutip kata-kata Rumi, “Yakinlah, di Jalan-Cinta itu: Tuhan akan selalu bersamamu.”