Semua tulisan dari Ikbal Haming

Lahir di Bantaeng, guru PJOK, pustakawan Rumah Baca Panrita Nurung, dan penulis buku kumpulan esai, "Jika Kucing Bisa Bicara" (2021).

Awan Mendung Perundungan di Sekolah

Ketika bersepakat akan memiliki anak. Pasangan saya sudah jauh-jauh hari memikirkan pendidikan anak. Ia hendak menabung, bahkan ketika si calon murid ini belum ditiupkan roh oleh Tuhan. Pengalaman bertahun-tahun sebagai kepala sekolah di homeschooling, bertemu dan mendengar kisah anak-anak yang ‘terluka’ akibat sekolah, membuatnya skeptis terhadap pendidikan di sekolah formal. Ia tidak ingin kelak anak kami mengalami hal serupa. Pemerintah memang menyediakan sekolah gratis, tapi kadang justru dibayar dengan tekanan psikis. Baginya, tak apa membayar, asal mental tak ambyar. Hal yang membuat saya sedikit was-was.

Sebagai seorang guru di sekolah formal, saya tak bisa membela sekolah banyak-banyak. Jika pasangan saya hanya mendengar cerita pilu murid-muridnya, saya justru beberapa kali melihat dengan mata sendiri. Setengah yakin, saya menyatakan apologi, bahwa seburuk-buruknya sekolah, masih akan lebih buruk dunia tanpa sekolah.

Beberapa malam lalu, seorang senior saya bercerita, putrinya mengalami perundungan karena tidak memakai jilbab ke sekolah. Sialnya, perundungan bukan hanya dilakukan oleh temannya, melainkan turut dilanggengkan pula oleh gurunya. Setelah sekian lama, si anak yang mungkin tertekan, akhirnya menyerah dan memutuskan akan berjilbab di kelas V. Saya lalu menimpali, bisa jadi temannya begitu, karena adanya pembiaran, dan gagalnya guru dalam ing ngarsa sung tuladha. Bagaimana pun juga, guru masih dianggap oleh murid sebagai pemegang otoritas kebenaran di sekolah. Apa yang ia lakukan, akan diikuti oleh muridnya.

Pertanyaannya kemudian, apakah gurunya tidak menyadari, bahwa yang dilakukannya juga masuk dalam kategori perundungan?

Supaya makin terang, sekalian saja saya terangkan defenisi perundungan paling sederhana menurut KBBI, bahwa merundung itu mengganggu; mengusik terus menerus; menyusahkan. Menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun psikis, dalam bentuk kekerasan verbal, sosial, atau fisik berulang kali dan dari waktu ke waktu, seperti memanggil nama seseorang dengan julukan yang tidak disukai, memukul, mendorong, menyebarkan rumor, mengancam, atau merongrong juga termasuk perundungan.

Informasi ini menjadi urgen, sebab dalam survei Kemendikbudristek ditemukan fakta bahwa semakin pendidik/kepala satuan pendidikan paham tentang konsep perundungan, makin berkurang pula insiden perundungan terjadi.

Sebangun dengan itu, survei karakter yang dilakukan oleh Kemendikbudristek yang melibatkan 260 ribu sekolah di level SD/Madrasah hingga SMA/SMK, dengan 6,5 juta murid dan 3,1 juta yang terlibat ditemukankah fakta bahwa ada 24,4 persen potensi perundungan atau bullying di lingkungan sekolah. Ini bukan kumpulan angka semata, melainkan ironi.

Bapak Ibu Guru, sudah waktunya melakukan refleksi, bahwa bukan cuman murid kita selama ini yang menyusahkan guru, tapi guru pun—entah sadar atau tidak—melakukan  hal serupa. Guru yang mengatai cu’reng (dekil), sakkulu (bau), dan dongok, pada murid-muridnya, sejatinya sedang merundung, meski ia berkilah hanya menasihati. Nasihat tidak membikin malu, juga tak dipamerkan di depan umum, sebab itu bisa menstimulus murid-murid saling melabeli satu sama lain dengan dalih bercanda.

Ini tentu kontradiktif dengan harapan Mas Menteri dalam pidato Peringatan Hari Pendidikan Nasioal beberapa waktu lalu. Merdeka Belajar, jelasnya, adalah cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara, yaitu pendidikan yang menuntut minat, bakat, dan potensi peserta didik agar mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya sebagai seorang manusia dan anggota masyarakat. Selamanya itu akan jadi utopia, jika sekolah tidak segera berbenah, menyingkap awan mendung perundungan yang menggantung di kepala murid-murid.

Olehnya, penting bagi sekolah untuk menyusun program pencegahan dan penanggulangan perundungan. Sekolah harus memfasilitasi guru dan murid agar memiliki pemahaman konsep perundungan yang setara dan holistik. Sebab, temuan studi UNICEF di Kabupaten Sorong, 87% guru yang dimintai pendapat merasa bahwa sekolah menangani isu pelecehan dengan serius. Namun, hanya 9% pelajar yang merasa bahwa guru telah menangani laporan pelecehan dengan sepenuh hati.

Jurang perbedaan persepsi yang besar mengenai perundungan antara guru dan murid adalah hal yang mengkhawatirkan dan perlu ditindaklanjuti. Guru mungkin saja merasa hanya menasihati, tapi menyampaikannya tidak dalam porsi dan momen yang pas, apalagi memaksa, pasti mengusik perasaan murid. Temannya yang lain mungkin berdalil hanya bercanda, tapi candaan yang berulang, akhirnya menusuk tulang. Di sinilah peran sekolah menjembatani perbedaan persepsi itu.

Tetiba saya ingat sebuah pesan seorang bijak, “Hati-hati dengan kata-katamu,” ujarnya, “begitu diucapkan mereka hanya bisa dimaafkan, tapi tidak dilupakan.”

Kredit gambar: Pixabay.com

Tak Ada Perpustakaan, Musala pun Jadi

Akhir warsa lalu, 19 November 2022, sekolah kami kedatangan buku gratis dari Kemdikbud, sebagai salah satu bentuk dukungan GLN (Gerakan Literasi Nasional). Totalnya enam kardus berisi ratusan buku, jumlah yang banyak untuk sekolah kami.

Saya membuka kardus, memeriksa buku. Isinya ada komik kesukaan anak-anak. Saya memanggil dua murid dan memperlihatkan pagina-pagina buku. Saya lalu menanyakan, apakah mereka ingin membaca atau tidak, yang kemudian disambut dengan anggukan setuju dan binaran mata. Saya silakan mereka duduk di salah satu kursi di ruang guru.

Tak lama berselang, karena penasaran, beberapa rombongan anak pun menyerbu ruang guru. Melihat temannya membaca, mereka lalu menawarkan diri juga, “Mauka juga membaca, Pak.” Hingga kantor penuh dengan puluhan anak-anak. Karena kursi yang terbatas, mereka tak keberatan duduk di lantai, ada pula yang selonjoran di dekat pintu, sisanya memilih berdiri.

Melihat antusiasme anak-anak terhadap buku, saya lalu ingat sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reading dan Literasi Discover Center of Cincinnati’s Children’s Hospital, mereka menemukan fakta melalui pemindaian otak, bahwa membaca meningkatkan perkembangan anak. Ternyata di area otak yang mengatur bahasa dan literasi bersinar merah pada pemindaian saat anak-anak membaca buku. Bahkan screen time, tidak membantu anak-anak meningkatkan otak anak dengan cara yang sama seperti buku.

Saya kemudian memikirkan bagaimana memfasilitasi gairah baca anak-anak yang memuncak. Sedang bangunan perpustakaan tidak memadai. Kondisinya berdebu, atapnya rapuh, dan suasananya remang-remang nan mistis, mengingat bangunan itu delapan tahun lebih tua dari saya. Menaruh buku di situ akan membuat anak enggan masuk membaca.

Saya berdiskusi dengan guru lainnya, meminta masukan dan pendapat. Bagaimana jika sekiranya perpustakaan kita pindahkan ke musala sekolah saja. Mengingat musalanya lapang dan sangat memadai untuk dijadikan perpustakaan.

Musala yang dibangun berkat swadaya masyarakat dan pihak sekolah ini, sangat bisa difungsikan sebagai perpustakaan. Apatahlagi mengingat selama ini, musala hanya digunakan sekali dalam sepekan, yaitu di hari Jumat untuk salat duha, sebab tak ada air yang bisa dipakai berwudu. Dalam pikiran saya, selain digunakan untuk salat, alangkah baik dan bergunanya jika manfanfaatkan pula untuk aktivitas literasi. Saat itu, di kepala saya bahkan sudah ada ide akronim, yaitu Pak Mus (Perpustakaan Musala) SDN 48 Kaloling.

Kala ide itu muncul, kepala sekolah sedang sakit, saya pun menghubungi beliau via telepon, yang langsung disetujui. Saya tidak ingin kehilangan momentum merevitalisasi perpustakaan sekolah. Gairah saya sungguh membara, melihat murid di sekolah antusias membaca.

Ketika izin sudah diperoleh, dibantu oleh guru kelas VI, Pak Ihwanul Muslimin, kami bersama murid-murid sekolah mengeluarkan lemari dari perpustakaan lama, lalu membersihkannya dari debu dan tanah rayap. Kemudian mengangkatnya masuk ke musala. Anak-anak sungguh bersemangat, mereka berlomba membantu.

Besoknya, saya lalu men-stempel dan menginventarisir buku-buku tersebut, membuat buku kunjungan, serta buku peminjaman-pengembalian buku. Hal tersebut dilakukan agar anak-anak bisa meminjam buku sesegera mungkin. Waktu di sekolah terbatas, sehingga mereka hanya bisa membaca di pagi hari sebelum apel, sekira 15 menit, dan di waktu istirahat sekitar 15 menitan pula. Sejauh pengamatan, seringkali mereka masih ingin membaca, tapi karena bel sudah berbunyi, terpaksa buku harus mereka simpan dulu, lalu masuk ke kelas masing-masing.

Di awal, saya hanya membolehkan murid meminjam satu buku, itu pun baru boleh diambil kala istirahat kedua. Sebab, saat itu belum banyak buku yang tersedia, hanya satu kardus buku yang kami buka—isinya sekira 50-an buku. Hal ini dilakukan agar anak lain yang hendak membaca di waktu istirahat pertama, punya lebih banyak opsi buku-buku. Dalam pikiran saya, kalau bukunya langsung diambil, maka anak yang lain tidak akan kebagian kesempatan membaca.

Memang, banyak anak yang bertanya, “Apakah boleh pinjam dua atau tiga buku, Pak?” yang saya sahuti dengan menanyakan alasan mau meminjam sejumlah itu. Katanya, jika hanya meminjam satu buku, seringkali mereka masih mau membaca, tapi bukunya sudah selesai.

Mendengarnya, saya lalu berinisiatif untuk membuka satu kardus buku lagi. Ada ketakutan berdosa jika tidak memfasilitasi anak-anak membaca. Buku kiriman Kemdikbud adalah amanah yang harus disalurkan cepat dan tepat. Apalagi jika melihat rapor pendidikan sekolah kami yang memosisikan kemampuan aspek literasi-numerasi yang masih di bawah rerata. Selama anak-anak mau membaca buku. Maka selama itu pulalah saya akan perjuangkan (hak) mereka mati-matian.

Penelitian yang diterbitkan oleh National Literacy Trust menunjukkan bahwa kaum muda yang menggunakan perpustakaan hampir dua kali lebih mungkin menjadi pembaca di atas rata-rata daripada anak-anak yang tidak. Maka tepatlah jika sedari kecil, saat masih muda belia, anak-anak sudah semestinya diakrabkan dengan buku-buku.

Syahdan, dampak hadirnya perpustakaan bisa disaksikan langsung. Akhir-akhir ini, saya tiba pada simpaian catatan, bahwa kehadiran perpustakaan ternyata bukan hanya perkara minat baca. Saya juga melihat perpustakaan ini menjadi medium anak-anak berlatih memfasihkan bacaan mereka, khususnya mereka yang berada di fase A (Kelas I—II) dan fase B (Kelas III—IV). Hal ini terlihat dari data buku peminjaman, yang mencatat bahwa justru murid-murid yang belum fasih membaca, adalah yang paling rajin berkunjung dan meminjam buku.

Sedang murid yang berada di fase C (kelas V—VI), butuh stimulus dan upaya lebih untuk meningkatkan antusiasme mereka berkunjung ke Pak Mus. Kami sudah merancang beberapa program mingguan dan bulanan, agar kegiatan di perpustakaan menjadi lebih variatif. Supaya perpustakaan menjadi lebih dekat dan akrab dengan kehidupan murid di sekolah, kini dan nanti.

Literasi generasi untuk generasi literasi.

Sekolah, Guru Ann, dan Perkara Cita-Cita

Dengan perahu, Guru Ann menemui Chon, ia memintanya ke sekolah, mengikuti ujian semester, supaya bisa lulus. Tapi Guru Ann kembali dengan kecewa, muridnya itu ingin tetap di rumah, membantu ayahnya memancing. Beberapa waktu lalu, di sekolah kapal itu, si Chon memang pernah mengutaran keinginannya.

“Saya tidak suka matematika, tidak apa-apa kan saya tidak mempelajarinya?” Kata Chon.

Tidak mempelajarinya? Balas Guru Ann heran, “Jadi bagaimana kau bisa jadi dokter atau insinyur?”

“Saya tidak ingin menjadi seperti mereka. Saya ingin menjadi nelayan,” jawab Chon yakin.

“Serius?” Guru Ann seolah tak percaya.

“Ya, Ayahku nelayan. Kakekku juga nelayan.”

“Chon, ada banyak hal yang bisa kau lakukan. Kau masih kecil, jadi kau punya banyak waktu untuk memikirkannya… Chon, apa pun yang terjadi, jangan berhenti sekolah.” Pesan Guru Ann.

Adegan di atas memang tidak terjadi di Indonesia, juga tak ada di dunia nyata, melainkan hadir dalam kepala Nithiwat Tharathorn, sutradara film drama Thailand Teacher’s Diary. Meski begitu, perdebatan Guru Ann dan Chon di depan papan tulis kapur pada suatu hari itu, terasa begitu dekat dengan realitas pendidikan kita.

Saya memahami perasaan Guru Ann. Lima tahun lalu, saya pernah mengalami hal serupa. “Mau jadi petani, Pak,” jawab seorang murid, kala saya tanya terkait cita-citanya. Meski awalnya ia sulit berkata-kata, barulah setelah diksi “cita-cita” diganti dengan “mau jadi apa”, ia lekas menjawab.

Saya tentu berharap ia menyebut pekerjaan lain yang mentereng, paling tidak yang lebih menghasilkan, seperti teman-temannya yang lain. Namun, barangkali, cita-cita itu sendiri asing baginya. Agak sulit menerka masa depan, jika bapak ibu jadi TKA di Malaysia, jika sekolah adalah opsi kedua setelah rumput kambing.

Atau, barangkali cita-cita bagi sebagian anak adalah sebuah utopia, atau kata abstak, atau kumpulan pekerjaan-pekerjaan yang acapkali mereka saksikan di lingkungannya—dan gawainya. Laiknya seorang anak, yang bermimpi menjadi guru, karena melihat gurunya memperoleh banyak hadiah makanan saat pembagian rapor tiba. Bukan karena ingin mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Motifnya memang jauh dari kata heroik,  mungkin itulah sebabnya, orang dewasa menertawakannya.

Tapi, apakah Chon tidak pantas belajar matematika hanya karena ia hendak menjadi nelayan? Apakah murid saya yang mau jadi petani itu akan sia-sia saja sekolah? Apakah sekolah hanya milik para calon sarjana, dokter, dan insinyur? Tentu tidak.

Kekhilafan paradigmatik ini bermula, sebab masyarakat kita masih memandang sekolah, seperti pabrik yang menyulap anak-anak mereka yang manis menjadi pekerja-pekerja materialis. Mereka berpikir sarjana, dokter, dan insinyur lebih menjanjikan secara ekonomis, karenanya, ia akan lebih membahagiakan. Orang seperti Chon selamanya tidak akan bahagia, karena ia hanya seorang nelayan.

Guru Ann—sebagaimana guru-guru yang lain—ingin melihat muridnya tumbuh lebih baik. Jika mungkin, menariknya keluar dari kubangan lumpur kemiskinan. “Anda ingin anak Anda memancing ikan seumur hidupnya?” Gugat Guru Ann pada ayah Chon. Tapi bagi ayah Chon, sehari tidak memancing, adalah satu hari tanpa makan. Pilihannya terkadang hanya antara mengisi kepala atau perut. Serumit itu.

Banyak anak-anak seperti Chon di Indonesia, mereka yang bersekolah sembari bekerja membantu orang tua, yang kemudian membentuk “cita-cita” di kepalanya. Sekolah tak boleh memberikan pilihan mati antara sekolah atau bekerja. Sebab, bagi keluarga anak, pilihan-pilihan itu melukai. Ada anak yang hanya tinggal berdua dengan neneknya yang sepuh, hingga ia mesti pandai membagi waktu bersekolah dan membantu bekerja.

Irham Ali Saifuddin, dari International Labour Organization (ILO) mengatakan bahwa harus dibedakan antara pekerja anak dan anak yang bekerja. Kalau yang dilarang itu pekerja anak. Sehingga, apabila orang tua sekadar meminta bantuan anak, tidak harus masuk dalam kategori mempekerjakan anak. Selama anak masih mendapatkan hak dan bisa menjalani kewajibannya.

Meminta Chon dan murid saya membanting setir cita-citanya sungguh tak patut. Menjadi nelayan dan petani yang berpendidikan bukanlah sebuah anomali, justru kita butuh orang-orang macam mereka. Dan, sekolah sudah semestinya membekali mereka dengan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan untuk bisa menjalani kehidupan.

Olehnya, sudah saatnya tujuan-tujuan belajar disederhanakan, mendekatkannya pada problematika keseharian. Murid belajar matematika, supaya ia kelak jadi dokter atau insinyur itu tak salah, tapi tujuan belajar bisa amat personal. Sebab, jika tujuan belajar itu disodorkan pada Chon dan murid saya, tentu ia akan nirgairah, sebab dokter dan insinyur bukan kehendak mereka.

Maka tepatlah ketika Guru Song—guru baru yang menggantikan Guru Ann yang pindah ke sekolah lain—meminta Chon kembali ke sekolah. Ikutlah denganku ke sekolah, kata Guru Song, kau bisa menolong ayahmu nanti, “Kalau kau sekolah, tidak ada yang bisa menipumu.” Di sinilah tujuan belajar menjadi amat personal bagi Chon, mengingat ia seorang nelayan. Jika bisa bersekolah dengan baik, belajar matematika dengan tekun,  maka ia bisa menjual hasil lautnya tanpa khawatir salah hitung dan ditipu orang lain. Dengan begitu, Chon juga bisa hidup bahagia, tinimbang ia jadi dokter atau insinyur—pekerjaan yang tak dikehendakinya.

Dalam pengantarnya pada Finnish Lesson karangan Pasi Sahlberg, Haidar Bagir mengingatkan bahwa segala macam keterampilan dan kemampuan akademik, merupakan sarana untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu kebahagian lahir batin. Sebab, banyak negara yang makmur, hanya melihat tujuan pendidikan sebagai jalan mencapai kemakmuran material setinggi mungkin. Maka, kadang ditemui adanya negara yang penguasaan sains-teknologinya tinggi, tapi terpuruk dalam urutan indeks kebahagiaan.

Kepada Chon dan murid saya itu, entah nelayan, petani, polisi, tentara, dokter, apa pun mimpimu di masa datang, saya ingin mengulang pesan Guru Ann, “Berjanjilah padaku, apa pun yang terjadi, jangan berhenti sekolah.” Sebab, pendidikan, kata Du Bois seorang pengarang Amerika, bukan hanya mengajarkan kerja, tapi juga kehidupan.

Kredit gambar: shutterstock.com

Kenang Guru dalam Kening Murid

“Zaman sekolah dulu, guru sangat ditakuti dan dihormati, dulu kami benjol dipukul guru karena kami nakal, boro-boro lapor polisi, lapor orang tua malah kita tambah benjol, tapi kami tidak cengeng dan menerima “hajaran” guru tersebut, beda sama zaman sekarang.” Begitu bunyi unggahan akun Instagram sandiwarapemuda yang pengikutnya mencapai 260 ribu, caption-nya tentu saja Selamat Hari Guru Nasional, bukan Selamat Hari Menormalisasi Kekerasan Guru.

Di kekinian, komparasi murid zaman old dan murid zaman now lumrah kita jumpai. Bahkan tak jarang keluar dari mulut guru itu sendiri, “Dulu sewaktu jadi murid saya lebih mudah diajar, murid sekarang susahnya minta ampun.” Konon katanya, itu disebabkan karena guru dilarang melakukan kekerasan terhadap murid. Akhirnya, murid menjadi nakal dan patoa-toai. Apakah benar demikian? Atau itulah jebakan romantisisme masa lalu?

Sebagian orang mengira, cara-cara dulu selalu relevan, hanya karena saat itu dirasa makbul. Padahal hidup makin dinamis dan masa lalu tak selamanya manis. Zaman beralih, generasi bersilih. Ilmu pengetahuan terus diperbaharui, cara dulu tinggalkanlah dahulu.

Patutlah jika paragraf kedua pidato Hari Guru Nasional 2022, Mas Menteri mengingatkan, “Ketangguhan ini didorong oleh kemauan untuk terus berubah, meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak lagi sesuai dengan tantangan dan kebutuhan zaman. Hal ini juga didorong oleh semangat kita untuk terus berinovasi, menciptakan perubahan dan kebaruan yang membawa kita melompat ke masa depan.”

Sewaktu di pesantren, di halaman masjid saya pernah dihajar dengan bambu di bagian betis, karena masbuk. Centang biru di betis saya bertahan tiga hari. Ibu yang melihat itu sedikit kecewa. Saya pun tak tahu, relasi antara hajaran di betis dengan masbuk. Toh, ada yang beberapa kali dihajar, tapi tetap masbuk juga. Artinya cara-cara seperti itu tidak efektif. Guru saya saat itu juga tak mau mendengar penjelasan, masbuk ya masbuk saja. Saya tak diajak berkomunikasi, merefleksikan kesalahan juga tidak. Saya pasrah saja, mungkin begitulah namanya dididik.

Di kelas pun demikian, guru Matematika saya galaknya nauzubillah. Detik-detik menunggunya datang adalah masa-masa kelam di kelas. Saya sering membatinkan doa dirinya sakit agar tak masuk meng(h)ajar. Penggaris kayu di tangan, kata-katanya pedas, dan raut muka ganas, benar-benar kombinasi maut yang membikin saya takut. Sialnya, saya ini tipe murid yang buntu di pelajaran Matematika. Beberapa kali saya harus menghafal jawaban untuk berjaga-jaga, saat tiba-tiba telunjuknya menikam saya, menyuruh maju ke depan mengerjakan soal. Suasana benar-benar mencekam. Padahal kelas bukan penjara, dan guru bukan sipir. Tapi saya terima saja, mungkin itulah rupanya diajar.

Tetapi, penelitian Ilham di Jurnal Paradigma tahun 2013, menyebut bahwa kekerasan guru terhadap murid, melahirkan trauma berkepanjangan yang akan menimbulkan kebencian terhadap sekolah. “ Jangan salahkan anak jika dia takut sekolah,” ujar Kak Seto. Bisa jadi karena sekolah begitu menakutkan baginya.

Dilansir Gorontalo Post, seorang murid kelas VI di SDN Kecamatan Tibawa mengalami trauma berat dan sebulan lamanya tak mau ke sekolah. Ia dipukul gurunya, hanya karena terlambat datang ke sekolah. Ironisnya, perlakuan kasar itu disaksikan teman-temannya usai upacara. Saat diajak ke sekolah oleh tim dinas pendidikan dan Polres Gorontalo, korban gemetar dan dingin sekujur tubuh. Sang guru akhirnya dimutasi, meninggalkan muridnya yang ringkih.

Penelitian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyebut banyak dampak kekerasan pada anak, seperti anak yang mendapat kekerasan, bisa berubah menjadi pelaku kekerasan, perasaaan tidak berguna, sehingga bersikap murung dan sulit memercayai orang lain. Anak juga menjadi depresif, sulit mengendalikan emosi, dan susah berkonsentrasi. Akhirnya, kesehatannya terganggu, kecerdasannya pun sulit berkembang.

Saya harus jujur mengatakan, dengan segala hormat pada guru-guruku itu. Saya hanya mengingat hajarannya, bukan ajarannya. Mengajar dengan cara menghajar, bukan ajaran sama sekali. Sekolah bukanlah barak miiter. Dan saya tak berniat menjadi tentara. Sungguh cara-cara demikian tak membuat murid merasa lebih baik.. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau, cakap Soe Hok Gie.

Syukurnya, kenang guru terselamatkan di kening saya, berkat guru lain yang bersikap baik. Keramahannya, senyumnya, dan caranya mengajar menyisakan memori manis masa sekolah.

Ketika bertemu kini, saya selalu menyempatkan diri melakukan 3S: Senyum, Sapa, dan Salam. Saya menghormatinya, karena caranya memperlakukan murid di kelas dulu. Dalam dirinya menyata kata-kata penulis Amerika, William Arthur Ward, the mediocre teacher tells. The good teacher explain. The superior teacher demonstrates. The great teacher inspires.

Kini, kala akhirnya jadi guru, saya selalu berupaya mengimitasi guru baik dulu semasa sekolah. Mengingat-ingat, tentang bagaimana caranya memperlakukan murid. Setidaknya, kalau belum bisa jadi guru yang menginspirasi, cukup jadi guru yang tidak marah ketika murid salah. Menjadi tegas, bukan keras. Bertindak pas dan tidak beringas. Sembari tertatih-tatih berlatih menjadi guru yang lebih baik saban hari.

Mari kembali ke paragraf awal. Membandingkan murid dulu dan kini tentu tidaklah adil. Tiap generasi, punya masa dan tantangannya, tapi tak menjadikan satu lebih unggul dari yang lain. Mengatai murid sekarang lebih lemah, hanya karena tak tahan dihantam tentu tuduhan yang melukai.

Seri Laporan Project Mulatatuli tentang #GenerasiBurnout—meski dalam konteks yang berbeda—menjabarkan bahwa generasi sekarang bukannya lembek, tapi mereka lebih berpengetahuan dari pada generasi sebelumnya, sehingga lebih banyak menginsafi tentang apa yang patut dan tidak patut diterima sebagai manusia.

Kalau orang tua murid keberatan anaknya dihajar, itu bukanlah tanda kelemahan. Mereka menyadari bahwa cara-cara seperti itu tak patut lagi, sebab penelitian membuktikan cara seperti itu lebih banyak mudaratnya, tinimbang manfaatnya.

Lagi pula, di generasi mana pun, saya yakin manusianya lebih suka diajar dengan kasih sayang, tinimbang dihajar kiri kanan.

Akhirnya, seperti yang selalu diingatkan orang, suatu hari murid mungkin lupa rumus yang diberikan gurunya, tak tahu lagi teori yang pernah dipelajarinya, tapi ia akan selalu ingat bagaimana guru memperlakukannya di sekolah. Jadi, jika Anda adalah guru, ingin dikenang apa Anda di kening murid?

Sumber gambar: Hipwe.com

Yang Fana adalah Perpustakaan, Minat Baca Abadi

Purnama lalu, 18 Oktober 2022 kita memperingati Hari Perpustakaan Sekolah Internasional. Tak ada twibbon bertebaran, tidak ada ajakan membaca dari presiden, Mas Menteri pun sepertinya enggan berpidato, paling tidak mengajak sekolah memikirkan ulang perpustakaannya masing-masing. Kita juga sepertinya sama saja. Perpustakaan sekolah seolah hidup segan, mati tak mau. Antara ada dan tiada. Fisiknya kokoh berdiri, tapi fungsinya keok dan suri.

Sepertinya, perpustakaan sekolah memang dipandang tak penting-penting amat. Data Kompas menyebut dari 148.673 SD (Sekolah Dasar) di Indonesia, lebih dari 50.341 sekolah belum memiliki perpustakaan. Itu pun hanya 13.927 perpustakaan yang kondisinya baik, sisanya rusak ringan, sedang, dan berat. Jika peringkat literasi rendah, mungkin karena perpustakaan kita masih payah.

Padahal, murid kita menggantungkan nasib minat bacanya di perpustakaan, sebab uang ibu bapaknya hanya cukup buat makan. Kalaupun uang ada, buku tak pernah masuk daftar belanja, yang ada hanya buku tulis, sialnya ia tak bisa dibaca.

Jika ditilik rendahnya literasi Indonesia, dugaan saya, salah satu penyakit kronisnya adalah perpustakaan sekolah. Kita lebih senang menyalahkan anak yang asyik main Mobile Legend, tapi tak menawarkan opsi lain yang sepadan. Game dan gawai senantiasa diperbaharui, didesain agar anak makin betah berlama-lama. Sayangnya, perpustakaan sekolah sejak saya sekolah, hingga kini jadi guru, kondisinya tak banyak berubah. Masih begitu-begitu saja.

Beberapa bulan lalu, di Ruang Rapat Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, dihelat Focus Discussion Grup (FGD) tentang Membangun Budaya Literasi di Sekolah. Moderator mengajukan tanya ihwal “das sein” dan “das sollen” perpustakaan sekolah, sebagai salah satu penyangga utama tegaknya literasi di sana.

Saya pun mengurai jawaban, hasil dari pengalaman semasa sekolah, juga realitas yang saya amati kini. Setidaknya, ada tiga problem utama yang dihadapi perpustakaan sekolah.

Pertama, terkait kondisi perpustakaan. Harus diakui, bangunan perpustakaan di sekolah bisa dibilang kurang nyaman. Ia mungkin hanya sedikit lebih baik dari gudang sekolah—untuk tidak mengatakan sama. Kondisinya berdebu, panas, dan remang-remang. Dengan keadaannya yang seperti rumah hantu itu, agak sulit mengajak anak datang membaca. Orang dewasa pun mungkin enggan. Takut jika asik membaca, kesurupan tiba-tiba. Perpustakaan kita sepertinya sedang sakit.

Padahal, sebagai ujung tombak literasi sekolah, perpustakaan seyogianya dibuat senyaman dan seaman mungkin. Jika perlu lebih nyaman dari kantor guru, supaya guru nongkinya di perpustakaan. Apa yang lebih indah dari murid dan guru, duduk bersama membaca buku?

Redesain perpustakaan sekolah, mesti menjawab problem fundamental. Kita bisa memulainya dengan menjawab pertanyaan sederhana: Apa sih fasilitas yang dibutuhkan? Apa yang kita inginkan dari perpustakaan? Perpustakaan seperti apa yang diangankan murid? Semua pertanyaan ini, sebentuk pengumpulan informasi dari berbagai pihak, guna mendesain perpustakaan yang benar-benar menjawab kebutuhan.

Problem kedua, koleksi buku yang tidak variatif. Kalau perpustakaan sekolah Anda bersih, bagus, dan tidak panas, tapi murid di sekolah tetap malas ke perpustakaan, mungkin penyakitnya adalah koleksi buku. Barangkali isi perpustakaan, dijejali dengan buku mata pelajaran, atau buku cara memelihara ayam. Tak ada yang menarik minat baca.

Saya pernah survei kecil-kecilan, membawa buku komik bergambar pinjaman Boetta Ilmoe ke sekolah. Saya tak menawari murid membaca, hanya meletakkan buku di atas meja guru. Ketika murid mendekat dan melihat sampulnya, mereka lekas mengambil guna dibaca, yang kemudian diikuti pula oleh temannya yang lain. Tak butuh waktu lama, sekitar 10-an komik di meja ludes. Sehabis dibaca, mereka lalu bertukar buku dengan teman.

Esoknya pun demikian. Hingga segenap komik selesai mereka eja. Sayangnya, saya tak punya stok yang memadai, hingga ketika besoknya membawa komik yang sama, mereka menagih yang baru, yang belum pernah mereka baca. Saya bilang hanya itu, tidak ada yang lain lagi, mereka pun kecewa. Beberapa hari setelahnya masih sempat ditanyakan, hingga perlahan mereka lupa kenangan manis bersama buku. Bahwa ternyata mereka juga (pernah) suka membaca.

Memang seantusias itulah mereka saat bertemu buku yang pas. Tak ada lagi drama pemaksaan membaca, sebab dalam diri anak-anak bertebaran benih-benih keingintahuan. Tuhan takkan berfirman iqra’, tanpa menyemai hasrat baca dalam dada manusia. Minat baca sudah nyata, bahkan sebelum perpustakaan ada. Ia abadi.

Saya selalu ingat memori itu, jika guru mengeluhkan murid-muridnya malas membaca. Apakah benar demikian? Atau justru kita yang gagal memfasilitasi mereka?

Sudah waktunya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) selain digunakan membeli buku paket, dimanfaatkan pula membeli buku bacaan anak. Buku lebih dari kumpulan kata-kata, ia memastikan cerahnya masa depan kita-kita. Saya sungguh yakin, salah satu cara jitu mendongkrang literasi murid, adalah merevitalisasi perpustakaan sekolahnya.

Sebangun dengan itu, penting pula bagi perpustakaan sekolah menyusun program berkelanjutan dan partisipatif. Ahmad Baedowi dalam bukunya Calak Edu 2, menyarankan perpustakaan sekolah mengembangkan strategi, agar anak menjadi tertarik ke perpustakaan. Programnya seperti fun with book, weekly reading hours, atau memfasilitasi murid menceritakan hasil bacaannya di depan teman-teman. Di sini, menyata ungkapan, perpustakaan itu bukan kata benda, melainkan kata kerja.

Problem ketiga, penjaga perpustakaan yang koro-koroangnya minta ampun. Kalau perpustakaan Anda bagus, punya koleksi buku variatif, tapi murid masih segan  ke perpustakaan. Mungkin karena pustakawannya segalak Uchiha Madara. Sedikit senyum, banyak manyun. Padahal perpustakaan adalah lembaga yang bergerak di bidang jasa, jadi sudah sepatutnya pelayanan yang diberikan sehumanis Naruto.

Bayangkan saja, ketika murid melewati pintu perpustakaan, disambut tatapan sinis pustakawan, saat melihat-melihat buku, mereka diteriaki agar tidak membongkar buku. Gairah bacanya langsung hilang separuh. Ketika membaca dengan suara nyaring, dikomentari lagi agar jangan ribut. Nafsu bacanya pun lenyap seketika. Murid yang terluka lalu pergi, perpustakaan tetap rapi dan sepi. Inikah yang kita impikan?

Padahal, dengan sedikit upaya, pustakawan bisa menjalin relasi dengan murid, melibatkannya dalam kerja-kerja kepustakawanan: membantu di jam istirahat, membuat pajangan bersama, bahkan pengelolaan perpustakaan bisa dipercayakan ke murid, sebagai bentuk aktualisasi diri, pustakawan cukup menjadi fasilitator saja. Ini tentu akan menghadirkan iklim perpustakaan yang inklusif dan bersahabat.

Ironisnya, pustakawan kita memang tidak punya ilmu perpustakaan yang memadai. Sebab, pos pustakawan sekolah biasanya diisi oleh guru, yang sebagian besar waktunya habis di kelas. Jika pemerintah serius, formasi pustakawan di sekolah mesti dibuka, dan diisi oleh para sarjana perpustakaan. Kalau berat, pustakawan cum guru ini, harus diberikan pelatihan manajemen perpustakaan, agar murid tak menerus jadi korban.

Saya membayangkan, perpustakaan menjadi surga kecil untuk murid, yang selalu jadi alasan mereka ingin tetap ke sekolah, yang mengawal minat bacanya tetap menyala. Mewujudkannya memang butuh sedikit biaya, secuil kemauan, dan lebih banyak usaha. Tapi itu bukan masalah, bukankah—kata Walter Croncite, eks wartawan di Amerika—berapa pun harga perpustakaan, harganya lebih murah dibanding bangsa yang bodoh.