Semua tulisan dari Muhidin M. Dahlan

Penulis buku "Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur" dan Guru Utama di program Kelas Menulis Kreatif yang diselenggarakan Radio Buku Yogyakarta.

Pustakawan Pasif, Pustakawan Aktif: Mencintai Buku Sampai Mati dalam 17 Tweet

Menyambut lewatnya upacara bersama dalam Hari Buku (Internasional), izinkan saya menurunkan 17 paragraf yang saya sebut dengan “17 tweet”. Kali ini, topiknya tentang para pustakawan se-Indonesia, figur yang mencintai buku melebihi siapa pun di dunia ini. Untuk melihat genting dan baik-baik sajanya tradisi membaca buku masyarakat kita, lihat saja tradisi harian para pustakawan itu. Sesederhana itu.

  1. Pernah dengar istilah “disrupsi”. Orang buku kerap memakainya. Terlebih, pustakawan. Yang dimaksud “Era Disrupsi” adalah masa saat yang akar tercerabut. Akar dari kata “pustakawan” adalah “pustaka”. Di era disrupsi, jika “pustaka” (di)hilang(kan), tinggalah “wan”. Saat si “(i)wan” itu, saat si sosok lebih penting dari pustaka, itulah era disrupsi. Orang lebih sibuk bicara si Maimunah dan si Paijo, tapi lupa ambil bagian dalam “musyawarah buku”.
  2. Pustakawan itu orang buku. Titik. Jika begitu pengertian dasarnya (definisi nomor urut 1 di Kamus Besar), konsekuensinya pustakawan adalah orang pertama yang paling tahu tentang buku. Ia selalu berada dalam pusaran besar peristiwa buku.
  3. Lawan disrupsi adalah radikal. Wah, istilah apa ini. Pustakawan itu radikal hanya jika ia kembali ke dunia buku yang sebenar-benarnya.
  4. Pustakawan di era radikal tahu betul “wan” itu hanya tiga kata, sementara “pustaka” tujuh kata. Tsah. Iya, tahulah, Malih Tong Tong. Kalau huruf “pustaka” lebih banyak dari “wan”
  5. Meletakkan pustakawan dalam konteks “radikal”, barulah kita merasakan dalam dunia kepustakawanan drama soal buku itu bergemuruh. Ia tumbuh bersama sejarah buku yang tak biasa-biasa saja. Sejarah buku tumbuh dengan segala ketegangan, sebagaimana bangsa dan negara ini lahir.
  6. Meletakkan pustakawan dalam konteks “radikal”, barulah kita bisa menikmati cerita-cerita horor yang dipancarkan para peneguk kebenaran yang melibatkan pustakawan, sebagaimana cerita abad tengah di The Name of the Rose (Umberto Eco).
  7. Meletakkan pustakawan dalam konteks “radikal”, cerita dari dunia para pustakawan kita berhubungan dengan buku menjadi dramaturgi yang hidup sekaligus ironis. Ada kisah bagaimana H.B. Jassin membangun batu bata perpustakaan yang dijaganya dengan memburu satu demi satu penambah koleksi di antero Jakarta dengan jalan berkeliling jalan kaki. Dan, itu dilakukan sampai akhir hayat. Pramoedya Ananta Toer selama puluhan tahun hingga mati mengorganisasi serpihan informasi dalam penjara-rumah tanpa ada kepastian bagaimana hasil akhirnya.
  8. Pustakawan itu pengelola buku, pengorganisasi buku dalam jumlah banyak dalam sebuah rumah bernama perpustakaan. Dalam pengertian yang radikal, ia adalah fasilitator/moderator dari suara poliponik yang muncul dari banyak buku. Tugas pustakawan melindungi suara yang berbeda, menempatkan suara secara pas dalam sebuah harmoni. Supaya lebih mudah pengorganisasian, dia butuh alat bernama teknologi pengelolaan informasi. IT itu adalah alat. Tak ada alat itu, ya, enggak apa-apa juga. Umur buku lebih tua dari IT dengan segala kecakapannya. Sebab, penggerak mesin turbo kecintaan pada buku itu adalah kecintaan 24 karat.
  9. Saya membagi dua macam pustakawan: pasif dan aktif. Pustakawan pasif adalah sosok yang tinggal di sebuah ruang dan terus-menerus melakukan pembicaraan bersama suara-suara ide yang riuh dalam perpustakaan. Pustakawan jenis ini selalu memundaki moral dengan klaim yang keterlaluan dan keras kepala bahwa perpustakaannya berisi koleksi-koleksi yang terpilih dengan kurasi yang ketat. Siapa kuratornya, ya, si pustakawan.
  10. Sebagai kurator, si pustakawan pasif ini mestilah menyaratkan pengetahuan yang turah-turah atas buku. Sebab, untuk membandingkan kualitas gagasan, mestilah ia melakukan timbangan-timbangan yang kuat. Nah, budaya menimbang buku adalah budayanya seorang pustakawan. Pustakawan jenis ini jika berkumpul, melahirkan panduan kepada masyarakat berupa sejumlah daftar buku-buku yang “penting” dan “berpengaruh” untuk menemani sisa hidup yang pendek. Antara lain, 100 Buku Penting yang Harus Dibaca untuk Memahami Dunia Pertanian di Indonesia; 500 Buku Babon Humaniora yang Penting untuk Dibaca Mahasiswa Fakultas Teknik; 360 Buku Anak Terbaik Sepanjang Masa; 1001 Buku Fiksi yang Harus Dibaca Sebelum Anda Mati; dan Ensiklopedia Lengkap Fiksi Indonesia: Pokok dan Tokoh. Adakah buku-buku itu disusun pustakawan kita yang berorganisasi sana berasosiasi sini? Itu hanya fantasi saya saja, Saudara.
  11. Jika Anda tak suka bicara dan dunia yang berisik dalam pengertian denotatif, jadilah pustakawan jenis pasif ini. Hidupnya ia habiskan untuk mengabdi pada ide dan suara dari buku yang dipancarkan oleh penulisnya. Hasil dialognya yang intens kadang ia bagikan dengan publik lewat esai-esai timbangan buku. Atau, ia melahirkan artikel-artikel yang menantang otak untuk berdialektika. Sampai di sini, pustakawan adalah seorang pemikir. Paling tidak, perenung. (me.re.nung /v/ (1) memandang; menatap (2) diam memikirkan sesuatu; termangu).
  12. Mari bicara jenis pustakawan jenis dua, yakni pustakawan aktif. Pustakawan jenis ini menggerakkan buku untuk sampai ke pembaca yang sulit dijangkau oleh cara-cara yang “konservatif”. Spesies pustakawan seperti ini, dari ciri yang fisikal saja sudah terlihat: gembel. Mengapa? Mereka lebih banyak menghabiskan praktik mencintai buku secara sungguh-sungguh di lapangan. Mereka berkeringat memanggul buku dari kota ke desa; dari ruang berpendingin ke kampung-kampung kumuh; dari pulau ke pulau; dari trotoar ke trotoar.
  13. Pustakawan aktif adalah mereka yang tak mau menunggu toko-toko buku hadir sampai di kecamatan di seluruh Indonesia dan dengan segala cara memastikan demokratisasi persebaran ide dengan segala mimpi yang dikandungnya lewat jalan memanggul buku-buku untuk sampai ke pihak yang selama ini mustahil memegang sebuah benda organik dan ajaib bernama buku.
  14. Kerja pustakawan aktif inilah yang membuat Anda melihat dan menonton foto dan video anak-anak pulau yang namanya saja Anda baru dengar berkerumun sedemikian rupa untuk memegang, membuka, dan mereguk benda organik ajaib bernama buku. Dan, setelah itu mereka tersenyum. Pustakawan aktif itu adalah pustakawan bergerak. Dengan pundak-lutut-kaki, mereka melintasi hadangan air raya dan lumpur selutut demi sebuah garansi: sebuah buku mesti bertemu warga.
  15. Nah, sudah tahu bedanya, bukan, mana pustakawan pasif dan mana yang aktif? Dan, keduanya sama-sama penting dengan posisi serta porsi tugasnya masing-masing. Keduanya dipertemukan satu hal: radikal dalam melihat dan menempatkan buku.
  16. Pada pustakawan pasif, “monster” yang siap menerkamnya adalah kesunyian. Tapi, ini soal “standar” masing-masing pustakawan. Ada pustakawan yang dianggap sukses jika rumah yang dijaganya selalu ramai dikunjungi orang. Tapi, sebagaimana sekaten, suasana seperti itu setahun sekali. Sebab, jika keramaian adalah target Anda, mengapa ngotot menjadi seorang pustakawan. Jadi panitia pasar malam saja itu lebih baik. Pahalanya kemungkinan banyak sekali karena membuat orang terhibur.
  17. Sunyi mestinya senapas dengan kerja pustakawan. Pada sunyi, seorang pustakawan bekerja. Suasana sunyi berbeda dengan suasana yang serba bosan. Dalam sunyi-yang-bekerja, pustakawan merancang riset, menimbang buku, memimpin musyawarah agung buku-buku. Hanya pustakawan yang tak punya proyek-ide yang terbetik di tempurung kepalanya untuk bunuh diri dalam kesunyian di rumah buku. Bunuh diri macam-macam pengertiannya, salah satunya adalah menyesal dan mengutuk diri mengapa ada di dunia perpustakaan ini. Bersekolah di jurusan perpustakaan pula.

Muhidin M. Dahlan, bergiat di perpustakaan Gelaranibuku Yayasan Indonesia Buku.

Umat, Akuilah PKI Itu Lahir dari Rahim Gerakan Islam di Tengah Pandemi Influenza

Lagi, dan lagi. Umat kembali marah-marah dengan merah. Marah-marah tak keruan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bahkan, dengan agak sembrono  menyama-nyamakan PKI dengan PDIP, partai yang sedang menguasai hajat hidup orang banyak.

Menyamakan PDIP dengan PKI, maaf, sesungguhnya menghina PKI itu sendiri.

PKI itu penyayang buruh dan pemberi hadiah untuk umat yang kere dalam berbagai profesi, terutama buruh, apa yang kemudian disebut THR (tunjangan hari raya), sementara PDIP kan tidak. PKI emoh dengan undang-undang yang potensial tidak menguntungkan buruh dan keluarga kerenya, sementara PDIP kan tidak. PKI nehi kepada oligarki yang segelintir jumlahnya itu, PDIP kan tidak begitu terlalu. PKI begini, sementara PDIP begitu.

Sudahlah, berhentilah memakan umpan untuk memurkai sesuatu yang sesungguhnya tidak sepadan. Apalagi, sesuatu itu sudah menjadi hantu gentayangan begitu lama di langit hitam politik Indonesia. Hantu yang dijadikan aib sekaligus stigma.

Sudahilah mengusung amarah yang sesungguhnya fatamorgana ketimbang melihat kenyataan yang nanar; hidup sehari-hari makin terjepit oleh pandemi flu dan resesi ekonomi. Umat marah kepada hantu, tetapi lupa di hadapannya digenjet oleh iuran asuransi kesehatan yang dinaikkan pemerintah, sementara pelayanan makin amburadul.

Alih-alih memurkai PKI, di hadapan terjangan Covid-19 yang tidak juga mau surut ini, barangkali kita bisa becermin kepada sejarah, semacam pengakuan.

Saya mengajak Anda memasuki gelombang pertama pandemi flu spanyol di Hindia Belanda. Media massa semasa menyebut pandemi ini dengan “wabah influenza”. Jarum waktu menunjuk warsa 1918 saat pandemi ini tiba di negeri yang dipimpin Gubernur Jenderal Johan Paul Graaf van Limburg Stirum.

Saat terjangan pertama pandemi ini, bagaimana reaksi pergerakan umat yang dimotori Sarekat Islam (SI) dengan persebaran cabang hingga ke Gorontalo, Jambi, Bengkulu?

Setidaknya, ada tiga isu besar yang pasang bersamaan dengan jumlah umat yang terpapar influenza: penghinaan agama, pembelaan buruh, dan pemilihan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (Volksraad).

Ada satu pihak di tubuh gerakan umat berbasis utama di perkotaan ini—dalam hal ini dimotori Presiden Centraal Sarekat Islam (CSI)—lebih mengutamakan isu penodaan agama dan kesibukan ikut serta mendapatkan kursi di Volksraad. Sementara di pihak lain emoh dengan dua isu itu. Terutama turut serta dalam barisan pemanggul isu agama yang justru merugikan anggota karena mengeluarkan banyak iuran untuk kegiatan rapat-rapat.

Ada yang lebih penting dari itu, yakni belapati terhadap keluarga buruh Hindia yang mayoritas beragama Islam yang terjepit oleh dua pandemi: influenza dan juragan pabrik/perusahaan.

Isu agama yang dimaksud adalah kemunculan artikel di surat kabar Djawi Hisworo di Surakarta. Koran ini dikelola para pegiat Sarekat Islam Cabang Surakarta dengan motor utamanya adalah jurnalis didikan Tirto Adhi Soerjo, Martodharsono. Djawi Hisworo terserimpet dengan memuat satu artikel kecil yang menyebut Nabi Muhammad ngombe chiu (meminum air oplosan dengan status “keras” alias minuman keras).

Isu ini menggelembung luar biasa besarnya karena “ditangani secara serius” Tjokroaminoto dari Surabaya. Bahkan, untuk membekuk sesama anggota Sarekat Islam bernama Marthodarsono ini dibentuk laskar bernama Tentara Kandjeng Nabi Moehammad (TKNM). Demonstrasi besar-besaran digelar. Vargadering atau rapat-rapat umum dibuka untuk mempabrikasi isu ini.

Bahkan, Hadji Misbach tergoda ikut serta dalam mengamplifikasinya dengan membentuk laskar serupa di Kauman, Surakarta dengan nama: Sidiq, Amanah, Tabligh, Vatonah (SATV).

Isu penodaan agama ini mestinya bisa diselesaikan secara baik-baik dalam internal organisasi, dalam hal ini Sarekat Islam (SI), justru ter-blow up sedemikian-demikian justru oleh para pimpinan besarnya. Apa lagi, Martodharsono ini pengurus teras Sarekat Islam (SI) di Surakarta bersama Mas Marco Kartodikromo.

Namun, tidak bagi Tjokroaminoto. Sepertinya, isu ini buat menghajar SI Surakarta yang memang di tahun-tahun sebelumnya menentang CSI ikut serta menjadi parit besar Indie Werbaar, Pertahanan Hindia. Milisi Indie Werbaar ini dibentuk di berbagai kota dibentuk sebagai belanusa rakyat jajahan kepada Belanda yang dibayangi suramnya Perang Dunia I.

Isu penodaan agama ini juga dipakai sebagai panggung agar CSI mendapatkan kursi di Volksraad yang pembentukannya sedang berlangsung. Selain SI di Surakarta, SI di Semarang dan Yogyakarta memberi tentangan yang cukup keras atas keikutsertaan Sarekat Islam dalam tubuh dewan rakyat bentukan Gubernur Jenderal itu. Sejarah akhirnya mencatat, saat Volksraad diresmikan pada Mei 1918 di tengah grafik pandemi influenza terus menaik, di kolom daftar, terdapat dua nama dari CSI: Tjokroaminoto dan Abdoel Moeis.

Itu tadi di satu pihak.

Bagaimana pihak lainnya? Pihak lain yang saya maksudkan adalah Sarekat Islam di tiga cabang: Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang. Untuk ringkasnya, saya menyebutnya dengan SI Joglosemar.

Di tengah pandemi influenza, SI Joglosemar ini memilih melakukan belapati atau pembelaan mati-matian atas rentannya kehidupan buruh yang notabene adalah umat Islam. Mereka fokus memberikan asistensi, pendampingan, dan advokasi atas buruh. Saudara-saudara, jika ada yang bertanya bagaimana paras sejarah gerakan buruh di Indonesia, sebut saja dengan sepenuh keyakinan bahwa gerakan buruh itu mula-mula lahir dari rahim umat Islam, bukan dari mana-mana.

Jika di pihak sana bikin laskar atau tentara-tentaraan untuk mengganyang sesama aktivis SI, Sarekat Islam Yogya membentuk laskar pembela buruh dengan nama: Tentara Boeroeh Adidarmo. Tentara ini dipimpin ketua SI Yogyakarta, Soerjopranoto. Setelah dua tahun pandemi influenza, tokoh yang juga kakak kandung Ki Hadjar Dewantara ini diberi gelar: “Si Raja Mogok”.

Bagi Adidarmo, membela umat yang tertindas—dalam hal ini kaum buruh—adalah darma besar, darma agung yang diberikan oleh kalangan terpelajar. Tugas tentara buruh di bawah lisensi dari SI Joglosemar ini adalah membangkitkan keberanian buruh untuk menuntut hak-haknya. Jika perlu mogok.

Hasilnya, saat pandemi berlangsung dan pemerintah sibuk melakukan penanganan, secara sporadis buruh melakukan berbagai mogok kerja. Memang, masih sporadis. Namun, di mana ada aksi mogok, di situ ada SI Joglosemar, di situ ada Adidarmo.

Misal, pemogokan buruh di pabrik industri mebel “Andriesse” di Poncol, Semarang pada 5 Februari 1918. Aksi pemogokan yang tergolong cukup besar ini dikawal secara khusus koran Sinar Djawa miliki SI Semarang. Hoofdredactuer Sinar Djawa adalah Semaoen yang sekaligus Ketua SI Semarang.

Untuk memperkuat posisi isu, Tentara Boeroeh Adidarmo bikin koran sendiri dengan nama Medan Budiman. Dari nama laskar dan nama koran kita tahu imajinasi macam apa di kepala para penggeraknya. Bahwa, berjuang bersama kaum buruh adalah darma agung adalah sebudiman-budimannya perjuangan. Bahwa, perjuangan budiman umat adalah keadilan ekonomi. Bahwa, mengkritisi dan perjuangan menghapus undang-undang yang merugikan buruh, seperti Poenale Sanctie—undang-undang Cipta Kerja yang mengatur tentang sanksi yang akan diberikan kepada kaum kuli/buruh perkebunan jika mereka melanggar kontrak kerja—adalah darma besar.

Di aras realitas inilah SI Joglosemar berjumpa dan berlaga di barisan yang sama dengan ISDV atau Indische Sociaal-Democratische Vereeniging. Perhimpunan aktivis sosial demokratik ini dimotori orang Belanda. Saat Sneevliet dijebloskan di penjara Semarang, SI Joglosemar terus melakukan advokasi. Begitu pula sebaliknya, saat ada aktivis SI Joglosemar terkena delik, ISDV yang bersuara sangat lantang.

Mas Marco Kartodikromo, aktivis SI Surakarta dan juga seorang jurnalis, dengan terus terang menyebut alasan mengapa mereka membela Sneevliet. Di koran Sinar Djawa edisi 8 April 1918 ia menulis: “Bagi kalangan ‘kaoem pergerakan rakjat’ Sneevliet adalah seorang berbangsa Belanda ataoe seorang ‘pembela kita kaoem rendah dan kaoem tertindas’, orang ‘kromo’ jang berkata teroes terang”.

Bergandengan tangan dengan ISDV, SI Joglosemar seperti mendapatkan amunisi untuk total berada di medan juang buruh Hindia. Bukalah Medan Boediman edisi 24 April 1918, kita mendapatkan pandangan kontribusi macam apa dan bagaimana yang diberikan ISDV saat gerakan umat di Sarekat Islam ini berada dalam gelanggang buruh pabrik gula.

Mengutip orang terkuat kedua di ISDV, Adolf Baars, laskar buruh di Tentara Boeroeh Adidarmo memberi atribusi bahwa seluruh pabrik gula di Jawa adalah milik sekelompok kecil orang, yaitu kaum kapitalis. Orang-orang kapitalis menyewa tanah-tanah kaum buruh dengan harga yang murah untuk dijadikan perkebunan. Kaum buruh bekerja keras, tetapi hanya diberi sedikit upah. Lanjut Baars, ISDV menghendaki pembagian hasil yang lebih bijak demi kesejahteraan kaum buruh.

Saat ISDV, misalnya, membentuk cabang di Yogyakarta, dengan cepat SI Yogya dan Tentara Boeroeh Adidarmo melepas penggiatnya untuk memimpin ISDV.

Kita kemudian tahu, sepanjang September 1918 hingga 1919, buruh-buruh di Jawa memiliki keberanian. Mereka maju dengan saf-saf yang rapi dengan diimami Sarekat Islam.

Kekuatan inilah yang kemudian melahirkan apa yang kemudian umat kenal dengan nama: Partai Komunis Indonesia atau PKI. Pengelola PKI generasi awal pada 1920, ya, orang-orang Sarekat Islam ini, terutama faksi Sarekat Islam Joglosemar.

Jadi, umat, akuilah dengan sepahit-pahit kenyataan bahwa PKI itu lahir dari tubuh umat yang sedang dicincang oleh pandemi influenza selama tiga tahun 1918-1920. Bahwa PKI itu bagian dari sejarah pergerakan umat ini. Bahwa ada suatu masa bagaimana pergerakan umat Islam ini sangat peka dengan isu-isu krusial tentang ekonomi politik yang berkeadilan semacam isu buruh dengan segala perangkat undang-undang pembunuh ekonomi kaum buruh.

Itu.


Sumber gambar: https://www.pancaran.net/136/sarekat-dagang-islam-dan-kebangkitan-nasional/

Apa yang Dilakukan Pegiat Pustaka di Masa Pandemi?

Pandemi Covid-19 atau C-19 bukan bencana biasa. Ia memaksa semua orang yang tidak berkepentingan langsung dengan wabah untuk masuk rumah, menghindari banyak orang, dan hidup bersih.

Pegiat pustaka tidak termasuk pihak “berkepentingan langsung” dengan penanganan wabah ini. Pegiat pustaka yang bersenjatakan buku-buku tidak terkait langsung dengan C-19, sebagaimana tenaga kesehatan di semua tingkat (darurat medis), gudang pangan (darurat pangan), dan transportasi (darurat distribusi).

Karena tidak terkait langsung, pegiat pustaka mesti tahu diri, enggak usah mondar-mandir di jalan raya bagi-bagi buku. Sebab, makhluk halus yang menjadi musuh bersama dunia ini tidak segan kepada siapa pun. Dia menghukum siapa saja yang mengabaikan protokol yang ditetapkan para ilmuwan.

Ya, bukan pegiat pustaka atau literasi yang menjadi imam memandu perang ini. Mereka bukan pihak yang bisa melihat langsung wujudiah si setan tak bertulang belakang ini, melainkan ilmuwan-ilmuwan kesehatan dengan peralatan-peralatan khusus.

Jadi, pegiat buku harus tahu diri. Masuk kandang semua. Saling sahut-sahutan saja di berbagai platform yang memungkinkan untuk berkomunikasi. Saling ejek dan saling menyemangati untuk tidak mati lebih cepat.

Jika pegiat pustaka sebelum wabah ini “resmi” masuk menurut pengumuman resmi dari pemerintahan resmi hasil Pemilu 2019 pada awal Maret 2020 mengarahkan segala pandangan juangnya keluar, wabah siklus 100 tahun ini memaksa haluan ke dalam. Memaksa pegiat pustaka berdiam di kandang seperti makhluk-makhluk yang saban pekan ramai di kunjungi wisatawan domestik di kebun-kebun raya di banyak kota besar.

Pegiat pustaka mestinya tidak mati gaya saat diterungku berbulan-bulan di kandangnya. Sebab, mereka punya modal dalam kandangnya berupa buku-buku. Virus bajingan ini justru saat ini  ingin menguji ketepatgunaan pernyataan klise “buku adalah jendela dunia”.

Lihatlah dunia lewat jendela buku, bukan dengan berjalan-jalan pakai mata kaki, tetapi lewat mata yang turun ke hati menjadi mata hati.

Matikah pegiat pustaka akibat C-19?

Mestinya, tidak.

Covid-19 menguji pribadi-pribadi mereka yang sesumbar tiap waktu mencintai buku itu dengan menerangi pikirannya dengan membaca yang tekun tanpa digoda oleh hiruk-pikuk urusan glamor. Jika cinta buku, sentuhlah, bacalah. Buktikan cinta mati dua puluh tiga sekian karat itu kepada buku.

Jika bertahun-tahun buku menjadi gada pemukul kebodohan untuk mereka yang tidak tersentuh pada bacaan, buku yang dipanggul-panggul itu meraih-raih per-HATI-an si pemilik itu untuk mendaras isinya. Sendiri. Tanpa siapa. Mereguk kesenyapannya dalam kandang-kandang sempit.

Buku yang sudah terkumpul beberapa tahun, baik lewat belanja dari uang saku semasa kuliah maupun bantuan donatur via Free Cargo Literacy Program, oleh Covid-19, butuh perhatian. Bukan oleh siapa-siapa, tetapi oleh yang mendaku diri sebagai perawatnya, sebagai pemundaknya yang paling kencang berteriak.

Si C-19 telah membikin dunia yang selama ini bergegas dan ngegas untuk mengambil jeda yang ekstrem. Lewat gertakan angka kematian memilukan dan kesunyian kota-kota pongah yang mendalam.

Ayo, buktikan kata-kata Mohammad Hatta yang perlahan menjadi sekadar buih bahwa buku teman dalam kesunyian  kebebasan berkehendak tetap tegak sekalipun dalam bui.

Jika ada pegiat pustaka yang justru terlihat gabut, linglung, dan frustasi lantaran si C-19 merebut kegiatan literasinya di taman kota, di kafe-kafe, di bawah jembatan layang, di pulau-pulau eksotik, di atas armada bermesin, tanyakanlah apakah buku-buku yang selama ini tinggal bersamanya tidak cukup menjadi teman dalam hidup minim suara dan perjumpaan cakap?

Jika bosan dengan hanya membaca, buku masih menuntut untuk, misalnya, dipelihara secara khusus. Jika selama ini lupa membersihkannya dari debu, ambillah kemoceng dan kain lap. Usaplah satu demi satu dengan penuh perasaan, seperti seorang ibu muda memandikan putra pertamanya. Jika jumlah buku ada 500 judul, misalnya, dibutuhkan waktu 1000 menit untuk melakukan mandi bersama dengan buku-buku. Lakukan dua pekan sekali. Termasuk menyampulnya jika tersedia plastik khusus.

Atau, membuat katalog untuk proses identifikasi. Atau apalah.

Bersibuk-sibuklah dengan buku di kamar sempit. Sebab, kamar sempit itu hanya ruang fisik, pikiran yang dilambari lembar-lembar buku membuatnya jembar. Susunlah buku dengan segala rupa cara. Tiru para cendekia Islam masa silam yang menyusun buku bersandar pada “kesucian” dan se-“magnum opus” apa itu buku. Tidak seperti pustakawan pemakai sistem Dewey, cendekia seperti yang dinukil Ziauddin Sardar menempatkan kitab suci dirak teratas, disusul buku hadis, lalu tafsir, dan seterusnya hingga buku-buku “profan” yang melalaikan hamba kepada pencipta di rak terbawah.

Atau, variasi warna kover. Atau, variasi kebesaran nama penulis.

Pendeknya, pegiat pustaka oleh C-19 memberi kesempatan yang luar biasa untuk menyibukkan diri dengan buku.

Tentu saja, sesekali meninju pemerintah yang tidak becus mengobarkan perang semesta atas C-19 jika punya cadangan pulsa.

Jika tidak punya pulsa, tidak usah menggerutu. Buku tidak butuh pulsa. Buku tidak butuh PLN. Bahkan, tidak butuh laptop dan smartphone. Buku butuh mata, butuh hati, butuh cintamu.

Jika pun butuh alat, buku ingin sebatang pensil dan kertas-kertas bekas. Masih menyimpan banyak pensil yang biasa disediakan pihak hotel saat menghadiri meeting-meeting literasi, bukan?

Syukuri jika persediaan pensil masih banyak. Habiskan itu hingga potongan terakhir yang masih bisa dijepit oleh jari, sebagaimana si tokoh utama lakukan di buku Lapar karya Knut Hamsun.

Gunakan alat yang barangkali sudah lupa cara menggunakannya itu sekarang karena buku butuh juga diingat dengan cara menuliskan “sari diri” si buku–pinjam judul sebuah buku bersampul hijau toska karya penulis yang mendaku diri “Daeng Litere”.

Cara sederhana mengingat buku itu adalah dengan jalan meresensinya. Resensi banyak bentuknya. Bisa pendek, bisa juga panjang. Soal resensi itu, bisa baca buku saya berjudul Inilah Resensi di toko-toko buku independen. Termasuk toko buku yang memiliki situsweb yang memuat tulisan ini.

Pembaca, itulah contoh penulisan konten untuk menjual buku sendiri di tengah amukan wabah C-19. Itu.***

 


Sumber gambar: http://www.seasonedbooks.com/