Semua tulisan dari Nurkhaeratunnisa

Mahasiswa Jurusan Studi agama-agama UIN Makassar. Aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Menyukai film, novel dan senja. Asal Bantaeng.

Jam Karet

Time is money. Kalimat yang terdengar begitu familier. Kalimat yang bergitu singkat tapi juga begitu jelas. Kalimat ini sering mengudara dalam benakku belakangan. Kudapati mentalku ciut setelah beberapa waktu lalu merenungi banyak hal. Menerawang waktu yang kubuang percuma dengan duduk santai, nge-scrool TikTok tiap hari, nge-drakor siang malam dan menunda banyak hal yang harusnya sudah kutuntaskan.

Pepatah ini dipopulerkan oleh seorang pedagang Amerika bernama Benjamin Franklin dalam essainya yang berjudul Advice to a Young Tradesman dan kemudian dimuat dalam buku George Fisher tahun 1748, The American Instructor: or Young Man’s Best Companion. Franklin menjadikan kalimat ini sebagai pengukur kemalasan seseorang, dengan mengumpamakan perhitungan upah melalui waktu yang kita habiskan. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk bersantai dan melakukan hal-hal yang sia-sia, maka semakin sedikit pula uang yang akan kita hasilkan.

Time is money atau waktu adalah uang. Slogan yang cukup populer memang, bahkan kerap kali diteriakkan lantang tapi sangat sulit diimplementasikan dalam kehidupan bukan? Meski sedikit berbau kapitalis, slogan ini tentu tak akan membawa kerugian jika dijadikan sebagai life style atau gaya hidup.

Zaman sekarang siapa lagi yang tak kenal uang? Siapa yang tak membutuhkan uang? Siapa yang menganggap uang sebagai hal yang tak penting? Bahkan tak jarang orang-orang menghabiskan waktunya untuk menghasilkan uang. Oleh sebab itu waktu diumpamakan sebagai uang. Meski demikian, uang tak selamanya menjadi sumber kebahagiaan.

Orang-orang yang selalu menghargai waktu adalah orang-orang yang disiplin dan punya produktivitas yang tinggi. Setiap orang memiliki hitungan waktu yang sama dengan tingkat produktivitas yang berbeda, tentu karena setiap orang punya manajemen waktu yang berbeda. Disiplin erat kaitannya dengan waktu, bahkan dalam agama banyak ritus-ritus yang berkaitan dengan waktu. Tentu hal ini merupakan contoh kecil tentang bagaimana pentingnya mendisiplinkan diri, baik dari segi ibadah maupun di segala aspek kehidupan.

Hal ini mengingatkan aku dengan seorang teman di pondok pesantren 4 tahun lalu. Berbeda dengan santri yang lainnya, ia tidak terkenal begitu pandai dalam urusan akademik, dan tak menunjukkan ketertarikannya dalam berbagai kegiatan ekstrakulikuler lainnya. Satu-satunya hal yang membuatnya menonjol adalah karena ia selalu datang tepat waktu, dan tidak pernah melewatkan berbagai kegiatan. Tak jarang, ia akan bangun pada pukul 03.00 dini hari untuk mempersiapakan diri di esok hari, menyiapkan pakaian, buku, menata lemari, mencuci pakaian, hingga mengulang pelajaran dan lain sebagainya.

Karena terbiasa mendisiplinkan diri dan pandai mengatur waktu, dia selalu menyelesaikan sesuatu lebih awal. Alhasil, ia bisa punya banyak waktu untuk menikmati waktu-waktu senggang, lebih teliti dan terlihat enjoy dalam menjalangkan aktivitas kesehariannya. Berbeda dengan beberapa santri yang kewalahan dan merasa terbebani, karena pekerjaan dan tugas menumpuk yang menuntut diselesaikan secara bersamaan. Bukan karena punya waktu yang berbeda, tetapi karena kurang disiplin dan terikat dengan sistem jam karet.

Jam karet sudah begitu terkenal sebagai “jam Indonesia” entah mengapa julukan ini disematkan kepada Indonesia. Aku sempat berfikir, apakah karena Indonesia termasuk salah satu negara penghasil karet terbesar? Yang hasilnya diangkut puluhan mobil truk besar dan senantiasa menjadi perusak utama indra penciuman.

Mereka (truk pengangkut karet) dengan gagah perkasa melewati jalan-jalan raya, meninggalkan kenangan yang tak pernah dilupakan siapapun. Sedetik kehadirannya menyisakan aroma yang luar biasa estetik bagi indra penciuman. Hingga beberapa orang sampai mengumpat, mual, bahkan tak bisa makan karenanya. Memikirkannya saja membuat saya tiba-tiba terkena phantosmia –kondisi seseorang dapat mencium bau kurang sedap yang sebenarnya tidak ada– Ahhh, meresahkan memang.

Tapi, siapapun tak akan heran jika julukan jam karet disematkan kepada Indonesia dengan menjadikan petinggi-petinggi sebagai patokan. Bukan hanya sekali atau dua kali, hampir di setiap acara, beberapa petinggi atau tokoh-tokoh masyarakat kerap kali menyepelekan kalimat on time.

Contohnya saja ketika diundang di sebuah acara, beberapa di antaranya akan datang terlambat, hingga membuat seluruh rangkaian acara juga harus diundur. Entah dengan alasan karena banyak kesibukan atau hanya sebatas menyibukkan diri. Mereka datang terlambat tapi juga masih disambut dengan begitu penuh penghormatan, diberi pangggung, disanjung bak seorang dewa, tapi tak acuh terhadap waktu. Belum lagi harus pamit lebih cepat karena berbagai alasan yang mau tidak mau harus diterima. Sudah datang terlambat, tapi malah pulang lebih cepat. Cilaka!

Lalu bagaimana dengan kita? Kita masih terperangkap dengan jam karet kita masing-masing. Melewati waktu yang ditentukan sendiri, dan melanggar janji yang disepakati sendiri. Terlalu banyak menolerir diri, memberi ruang untuk berleha-leha dengan waktu, apa lagi dengan mengatasnamakan lelah atau kantuk sebagai alasan.

Hingga kebiasaan ini menjadi karakter yang melekat dalam diri tanpa kita sadari. Buya Hamka pernah berkata “Salah satu pengkerdilan terkejam adalah hidup dalam membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah”.

Tak jarang, kita bertekat dengan menyusun banyak rencana di malam hari, untuk dilakukan esok hari. Namun pada esok hari, kita menaruh jam karet di setiap rencana. Menunda segala hal yang akan kita kerjakan, dan berakhir rebahan seharian. Alhasil, Kalimat disiplin yang ditanamkan dalam diri hanya bersifat semu dan artifisial semata.

Seorang psikolog praktik swasta di New York, sekaligus penulis buku How to Beat Procrastination in The Digital Age. Dr. Linda Sapadin mengatakan bahwa, seorang yang suka terlambat adalah orang yang perfeksionis. Beberapa ahli juga menyatakan bahwa orang dengan kebiasaan terlambat cenderung lebih kreatif, inovatif dan multitasking. Meski tentunya menjengkelkan dan dapat merugikan orang lain.

Dr. Linda Sapidin juga menambahkan bahwa beberapa keterlambatan muncul karena sebuah masalah berfikir yang obsesif. Keterlambatan muncul karena kehilangan fokus waktu terhadap sesuatu. Selain itu di beberapa hal dalam kehidupan sosial malah akan dianggap sebagai egois, kurang peka dan kurang empati terhadap orang lain. Kepribadian ini tentunya dianggap cenderung meremehkan waktu dan dianggap sebagai orang dengan gangguan persepsi waktu.

Karena terlalu nyaman dengan zona jam karet, sedikit demi sedikit kaliamat on time perlahan bergeser dari jalur kita. Bahkan sering kali on time disalahartikan sebagai berangkat di jam yang dijadwalakan. Kalau jam karet digunakan menunda waktu istirahat untuk menuntaskan pekerjaan, masih mending sih. Tapi jangan sampai tak istirahat juga dong! Coba jam karetnya dipakai pas lagi janjian sama doi, yahhh akibat ditanggung sendiri.

Mengingat betapa pentingnya disiplin, maka mari untuk berjaji menghilangkan “jam karet” dalam keseharian, secara perlahan. Jika bukan untuk diri sendiri, setidaknya mari mengubahnya sebagai bentuk menghargai orang lain, yang bisa jadi punya persepsi waktu yang berbeda dengan kita. Mari saling mengingatkan, tak terlepas diri saya pribadi yang tengah mencandu jam karet. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Seorang bijak pernah berkata “Musuh terberat bagi seseorang adalah diri sendiri, dan tantangan paling berat bagi diri sendiri adalah keterlambatan”.  Yuk “on time”!


Sumber gambar: https://cakrawalacreative.com/pembuatan-video-profil/manajemen-waktu/

Agama Masa Depan: Tragedi atau Solusi?

Agama, sebuah kata yang dalam sejarah berabad-abad tahun lalu, hingga saat ini menjadi pembahasan tanpa batas kedaluwarsa. Term yang selalu dimaknai sebagai sesuatu yang suci, benar, dan damai bahkan dikatakan sebagai solusi dari krisis kemanusiaan. Namun, realita yang terjadi dewasa ini memperlihatkan agama bukan lagi sebagai solusi, tapi sumber dari masalah. Hal ini tercermin dari kenyataan umat yang mengaku beragama, cenderung membawa keimanan ke dalam fenomena-fenomena kekerasan yang terjadi di negeri ini.

Kalimat seperti agama sebagai sumber kebenaran, sumber nilai dan sumber keadilan. Menjadi terdengar lucu karena kemudian orang-orang yang mengaku beragama lebih senang saling mengolok, saling menuduh, bahkan saling membunuh hanya karena perbedaan. Harusnya sebagai negara multikultural, masyarakat dengan seribu perbedaan sudah dikunci dengan makna Bhineka Tunggal Ika.

Sekiranya kalimat-kalimat tersebut hanya menjadi doktrin keagamaan, sebagaimana penggalan kalimat terkenal “agama adalah candu” dianggap sebagai saripati konsepsi Karl Marx. Tentang gejala keagamaan oleh para pendukung dan penentangnya, memberikan kita gambaran bagaimana agama hanya dijadikan obat penenang disetiap problema kemanusiaan dahulu maupun saat ini.

Di beberapa kesempatan, agama terlihat begitu seksi, memikat, dan menjerat ia muncul di permukaan dengan begitu elegan. Menampakkan kedamaian para pemeluknya, serta menjunjung tinggi paradigma pluralisme. Immanuel Kant sebagai filsuf utama yang dijadikan patokan paradigma plural, berpendapat bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang mencintai pertemanan. Namun sekaligus berjiwa kompetitif, dan menyukai Harmoni.

Sejalan dengan konsep manusia Kant, J. Rousseau yang juga merupakan filsuf asal Prancis dalam teorinya mengenai masyarakat kontrak sosial. Kontrak yang mendorong kesadaran manusia dan membentuk sebuah mekanisme untuk melakukan kontrol, dengan tujuan menghindari ketidaktoleranan dan kelabilan. Maka perlu ada kontrak sosial dalam masyarakat terutama masyarakat multikultural.

 Mengapa tindakan kekerasan terhadap kelompok yang memiliki ideologi berbeda, kerap menjadikan doktrin dan dalil agama untuk membenarkan tindakannya? Mengapa kelompok yang menolak tindakan kekerasan juga menjadikan dalil dan doktrin agama yang sama untuk menyalahkan tindakan pihak lain? Mengapa masih saja terjadi konflik horizontal antar komunitas yang mengatas namakan agama? Mengapa pekik-pekik yang awalnya dimaksudkan untuk mengagungkan Tuhan, malah menjadi alat untuk saling menghakimi dan membantai?

Sebab, karena doktrin-doktrin keagamaan tidak lagi bermakna kebesaran Tuhan. Melainkan disalahartikan dengan merobohkan pagar kemaksiatan, dan membasmi tempat-tempat suci kelompok lain. Bahkan teks-teks agama dengan mudahnya dijadikan justifikasi tindakan kekerasan.  Menjadikan agama  yang  nyaman dan damai menjadi mendadak seram dan kelam

Di beberapa bagian negara, bahkan dunia mengatakan agama sebagai pembawa malapetaka, sedangkan di bagian lainnya masih tetap kokoh mengatakan bahwa agama adalah solusi. Seorang penulis Amerika, Charles Kimbal dalam bukunya Kala Agama jadi Bencana, yang diterjemahkan dari judul aslinya When Religion Become Evil. Menjelaskan ada lima tanda yang membuktikan bahwa agama mampu menjadi parasit dan membawa bencana.

Pertama, ketika suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran tunggal. Hal ini ditandai dengan adanya sikap eksklusif dalam beragama, menganggap bahwa kebenaran mutlak hanya dimiliki oleh agamanya, dan agama lain atau orang-orang yang tidak sepaham dengannya harus dibasmi. Bersikap eksklusif memang diperlukan untuk menjaga komitmen dan keimanan, tapi tidak digunakan untuk memandang agama lain, dan malah menimbulkan sikap ingin menghina, mengolok-olok, membunuh dan konflik-konflik lainnya.

Kedua, adanya ketaatan yang buta kepada pemimpin keagamaan. Hal ini ditandai dengan sikap percaya buta terhadap doktrin keagamaan, yang dilontarkan pemimpin-pemimpin agama. Sehingga menimbulkan kejahatan atas nama agama, berdasar dari hasil penafsiran yang membolehkan hal-hal seperti bom bunuh diri, membunuh orang yang tidak seiman, dan lain sebagainya. Ini juga dapat terjadi karena kita kurang untuk menelaah lebih banyak sumber, dan membandingkannya. Sehinga perkataan-perkataan figur pemimpin agama kadang membius kita.

Ketiga, agama mulai gandrung merindukan zaman ideal. Kemudian memaksakan keadaan dan mulai menghalalkan berbagai cara untuk sampai kepada tahap tersebut. Seperti problem yang memanas bealakangan ini, beberapa kolompok bersikeras untuk menjadikan negeri demokrasi ini sebagai khilafah. Hal ini malah akan mendorong terjadinya konflik-konflik lain.

Keempat, agama membiarkan dan membenarkan tujuan yang menghalalkan segala cara. Tujuan yang berusaha untuk dicapai dengan membenarkan segala cara, merupakan tindakan yang sangat berbahaya. karena hal itu bahkan dapat menggunakan tindakan kriminal untuk mewujudkan tujuannya, dan berakibat mematikan rasa kemanusian.

Kelima, adanya seruan perang suci demi mencapai suatu tujuan. Hal ini dapat menjadi sumber api yang akan menyebabkan peristiwa besar. Seperti halnya perang salib yang terjadi antara umat Kristen dan Islam yang menyebabkan banyak korban jiwa. Peristiwa ini juga merupakan peristiwa besar yang dapat membuat suatu bangsa menjadi bercerai berai dan berujung intoleransi.

Jika menarik hal tersebut kedalam konsep negara yang multikultural ini. Melihat tujuan negara didirikan salah satunya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan bukan hanya dalam artian mumpuni dari segi intelektual, tapi negara mencita-citakan masyarakatnya memiliki kesadaran dan kepekaan. Kesadaran akan dirinya, keberadaannya dan kesadaran akan tujuan hidupnya.

Bangsa yang dicita-citakan adalah bangsa yang tak hanya mampu mengolah pikiran tapi juga mampu mengolah tindakan. Bukan bangsa yang hanya mampu membaca segudang buku, tapi juga bangsa yang mampu membaca situasi dan kondisi. Bukan bangsa yang micin dan bucin, tapi bangsa yang kreatif dan inivatif. Bukan bangsa yang tau mengkritik tapi tidak solutif, yang menjadikan agama sebagai patokan sumber nilai kehidupan bukan sebagai obat pembius orang-orang tak berdaya.

Tidak mudah menemukan jawaban dari pelbagai polemik dan problem keagamaan, yang sekaligus juga sebagai problem kemanusian. Apatah lagi dengan berpegang pada satu agama semata, sekalipun berbagai penelitian ilmiah terus dilakukan. Maka hal yang paling dekat dengan dimensi masyarkatlah yang harus ditampakkan. Yaitu sistem nilai yang di dasarkan pada nilai-nilai keagamaan, bukankah semua agama mengajarkan kebaikan? Dan tentunya tak ada kebaikan yang saling bertabrakan.

Padahal perbedaan diciptakan untuk menyatukan, ia akan indah ketika kita saling menerima dan saling menghargai. Tak perlu memaksakan menggabungkan hal yang berbeda, cukup berdiri di tempat masing-masing, menerima perbedaan dan saling merangkul dalam keragaman.

Cinta muncul bukan karena kita sama, tapi karena kita saling menerima dan melengkapi.

Bagai Paus 52-Hz

Satu dua katak melompat dari tepi sungai. Gesekan ranting dan dedaunan pohon serta deru air yang jernih membuat satu melodi indah. Sebotol susu dan sekotak roti menemaniku menikmati kedamaian alam. Sambil memandangi hamparan sawah dan jejeran-jejeran gunung. Sudah 15 tahun aku tak pernah berkunjung ke sini, wajar saja tak banyak orang yang kukenal. Hanya karena kakek tak kuat lagi mengunjungiku di kota, maka aku yang harus mengunjunginya di desa. Tak banyak memori tentang tempat ini, aku bahkan belum menemukan teman selama di sini. Sudah 3 hari aku duduk di bawah pohon dengan sebuah buku.

Sore hari ketika aku akan pulang ke rumah. Seorang gadis duduk di tepi sungai sambil memegangi sebuah kertas lusuh. Kuberanikan diriku untuk menyapanya, hanya saja ia langsung kabur setelah melihatku. Lalu kuperhatikan penampilanku. “Ah… tak ada yang salah denganku, lalu apa dia yang salah..?” gumanku dalam hati.

Keesokan harinya, aku berjalan-jalan berkeliling di pasar desa, tiba-tiba saja suara gemuruh dari sebuah toko kecil itu menghentikan langkahku. Seorang lelaki dengan tubuh besar dan kekar menyeret seorang gadis dengan beberapa lebam dan luka pada wajah dan tangannya. Lelaki itu mengumpat sambil terus memukuli gadis tersebut. Kuperhatikan orang-orang di sekelilingku, mereka hanya terdiam menyaksikan adegan mengerikan itu, bahkan beberapa orang sibuk dengan dunia mereka masing-masing seperti tak terjadi apa-apa. Yah… pemandangan ini tak asing lagi bagiku, kupikir juga tak asing juga bagi mereka yang ada di tempat ini. Hanya saja aku masih tak percaya adegan seperti ini juga terjadi di desa.

Hal lain yang membuatku heran adalah gadis yang dipukuli itu hanya tersenyum, seperti ia tak merasa kesakitan sama sekali. Kudekati gadis itu ketika lelaki yang memukulinya itu masuk ke dalam toko. “Apa kau baik-baik saja..?” Aku bertanya kepadanya sambil memperhatikan lukanya. Dia hanya mengangguk dan tersenyum kemudian beranjak meninggalkanku. Benar-benar orang misterius, kemarin dia lari saat melihatku dan hari ini dia pergi begitu saja saat aku berusaha membantunya.

Entah apa yang ada dalam pikiranku, aku terus saja mengikutinya seolah dia punya magnet, dan membuatku kelihatan seperti seorang penguntit. Tiba-tiba sebuah motor dari arah yang berlawanan melaju dengan kencang menuju gadis itu. Sontak saja kutarik lengannya ketepi jalan. “Dasar gadis bodoh, kau ingin mati..?” semburku setengah emosi. “Jika kau mau bunuh diri jangan di hadapanku, kau tahu betapa khawatirnya aku?” sambungku lagi, “Aku bukan mengkhawatirkanmu, aku khawatir jika aku harus jadi saksi kematianmu,” kataku lagi setelah melihatnya hanya tersenyum tanpa penyesalan. Ini benar-benar membuatku gila. Dia baru saja babak belur dan hampir mati, tapi dia hanya tersenyum dan tak mengucapkan apa-apa.

Aku mencoba menenangkan diriku lalu kubawa dia ke bawah pohon untuk membersihkan dan membalut lukanya. 5 menit, 10 menit, 20 menit. Tak ada pembicaraan, kami hanya menatap rumput-rumput hijau di depan kami, hening. “Bolehka aku tau siapa namamu..?” tanyaku membuka pembicaraan. “Aku rasa kita sebaya, apakah rumahmu dekat dari sini..?” tanyaku lagi melihatnya hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyannku. “Apakah aku membuatmu tak nyaman..? Maaf atas perkataanku tadi tentang kau bunuh diri..” Dia masih tetap tak menjawab dan hanya terus tersenyum. Aku bertanya-tanya, apakah dia tuli? Apakah dia bisu? Aku kemudian beranjak dan ingin pulang saja.

“Terimakasih.” suara itu menghentikan langkahku. Aku berbalik dan kembali duduk di sebelahnya. “Maaf membuatmu khawatir, dan terimakasih telah mengkhawatirkanku,” ucapnya dengan senyum yang tak pernah hilang itu. “Apakah kau baik-baik saja dengan luka-luka itu?” tanyaku. “Yah… aku baik-baik saja ini sudah biasa, kau tak usah mengkhawatirkanku lagi, sebaiknya kau pulang,” katanya sambil beranjak dan pergi begitu saja.

Hampir sebulan aku ada di desa, dan sudah seminggu aku terus mengunjungi gadis itu, bercoloteh ini itu kepadanya, meski dia hanya tersenyum kemudian pergi. Sudah sering pula aku melihatnya dipukuli oleh pemilik toko dan seorang lelaki di rumahnya, mungkin ayahnya, dan dia tetap tersenyum seperti biasa. Tetapi hari ini beda, dia tak ada di toko, dia juga tak ada di pinggir sungai tempatnya mencuci nampan, aku tak bisa menemukannya hari ini.

Hari-hari terus berlalu, sudah empat hari aku belum lelihatnya. “Kemana gadis bodoh itu pergi..?” ucapku kesal. Tiba-tiba seorang pemuda mendekatiku, umurnya kira-kira 25 tahun, gayanya sepertinya orang kota. “Hai, Mr. William Watkins,” sapanya sambil tersenyum. Aku melihat sekeliling tapi tak ada orang lain selain diriku di sini, lalu siapa yang disebut pria itu sebagai Dr.William? “Aku rasa kau sedang menunggu seseorang di sini. Tapi sepertinya dia kak akan pernah datang lagi” dia berbicara entah dengan siapa. Tapi aku memilih mendengarkannya. “Namaku adalah Bayu, aku seorang mahasiswa psikologi di salah satu universitas. Aku ke sini untuk meneliti dan objek penelitianku adalah orang yang kau tunggu.” Dia memperkenalkan diri tanpa diminta, dan aku semakin bingung.

“Aku memilihnya karena aku pikir ada sesuatu yang aneh dengannya. Yah, itu karena aku melihatnya dipukuli beberapa kali dan dia tetap tersenyum. Mungkinkah kau juga penasaran dengan hal itu..?” ucapannya kali ini membuatku tersentak. Sejak tadi dia membicarakan gadis itu, gadis yang sedang kutunggu. “Apakah kau tahu penyebannya?” tanyaku penasaran. “Sebenarnya namanya adalah Sekar, dia hidup bersama dengan ayahnya yang kasar. Ia dulunya anak yang ramah dan ceria, hanya saja semenjak ibunya meninggal ia harus dipukuli oleh ayahnya setiap waktu. Dan mendapat penghinaan dari banyak orang, akhirnya dia dikurung oleh ayahnya selama berhari-hari, tanpa diberi makan. Entah apa yang telah terjadi di dalam sana, tetapi menurut penelitianku ia ditimpa stres berat, ia tak lagi punya emosi. Tak ada ekspresi, seperti robot. Semuanya seperti terhapus dari kepalanya,” Jelas bayu.

“Lalu mengapa dia tersenyum?” tanyaku. “Dia bekerja di sebuah mini market dan dia harus selalu tersenyum kepada pelanggan yang datang. Dari situlah ia belajar tersenyum. Dia terus tersenyum tapi hatinya hampa, sepi, kosong. Hingga kau datang,” kata bayu. “Lalu kenapa kau memanggilku dr. William dan apa maksudmu mengatakan dia tak akan datang?” tanyaku.

“Yah.. Dia tidak akan datang, sebab 2 hari yang lalu seorang menemukan jasadnya di pinggiran sungai desa sebelah, sepertinya dia terjatuh di sungai dan dibawa arus. Dia telah pergi untuk selama-lamanya. Dan saat polisi melakukan investigasi, aku menemukan sebuah kertas di saku celananya, di sana ada namamu dengan gambar seekor paus.” Bayu kemudian memberikan kertas yang ditemukannya itu kepadaku. Aku membuka kertas kusut itu, ada gambar seekor paus kecil digambar dengan rapi, dan ada namaku di sana. Seketika saja air mataku menetes.
katya.

“Katya kau tahu kisah seekor paus kesepian?” tanya Bayu. Aku menggeleng tak tahu sambil terus terisak, tapi tetap mendengarkan Bayu. “Kisah ini bermula pada saat angkatan laut Amerika hendak mencari keberadaan kapal selam Rusia. Suara bising nyanyian seekor paus terekam. Paus pada umumnya bernyanyi 17 hingga 18 hertz tetapi paus ini berkomunikasi di 52-Hz. Dr.William Watkins menemukan nyanyian paus itu saat memilah rekaman, dan dia mempelajari paus tersebut. Ia adalah paus yang terpisah 20 tahun dari gerombolannya. Dia terus bernyanyi dalam lantunan yang begitu berbeda, sayup dan kesepian, tapi tak satupun temannya yang mendengarnya,” jelas Bayu. “Itu sebabnya kau memanggilku Dr.William..?” tanyaku. “Ya,” jawab Bayu.

“Katya, kau telah menemukan paus 52-Hz,” ucap bayu sambil memegang pundakku. Dia pergi dan meninggalkanku yang masih termenung.

Sumber gambar: http://www.romanjeunesse.com/2016/02/21/les-trois-peches-de-moby-dick/