Semua tulisan dari Nurul Aqilah Muslihah

Senang bergerak ke sana ke mari.

Jika Kamu adalah Hewan, Ingin Menjadi Hewan Apa?

Di homeschooling tempat dulu saya bekerja, kegiatan konseling sebaya menjadi tempat untuk melihat lebih dekat karakter murid. Setelah mereka melakukan proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di kelas, semuanya berkumpul dalam satu ruangan tertutup dengan fasilitas kelas pada umumnya, ada AC, papan tulis, meja, dan kursi belajar. Lalu bagian konseling memandu para murid, termasuk saya ikut terlibat sebagai peserta.

Sesi itu dimulai dengan pertanyaan, jika kita adalah hewan, maka akan menjadi hewan seperti apa? Masing-masing dari mereka menuliskannya dalam sebuah sticky notes. Nantinya, setelah selesai  masing-masing akan menceritakan alasan ingin menjadi hewan itu.

Konselor yang memandu, menjelaskan terlebih dahulu, katanya ia ingin menjadi lebah. Karena seekor lebah akan meninggalkan madu di setiap jejaknya. Sama halnya dengan dirinya, ia ingin meninggalkan pijakan manis pada setiap langkahnya. Walaupun beberapa bulan setelahnya, Ia meninggalkan sekolah beserta posisinya dalam keadaan kurang manis.

Setelah ia, saya mendapatkan giliran untuk bercerita. Saya ingin menjadi kura-kura. Agar bisa membawa rumahnya kemana saja. Rumah bukan secara fisik. Namun menyerap kata bahasa Inggris, yaitu home not house.

Salah satu murid, berbekas pada ingatan saya, kita beri nama saja, Alex. Bagaimana tidak, ia ingin menjadi babi. Ketika ditanya, ia hanya bilang mau saja. Tidak menjelaskan. Saya begitu heran dengan pemilihan tokoh hewannya, apalagi ia tidak menjelaskannya. Hewan babi dalam hidup saya yang beragama Islam turunan ini, menjadikan hewan itu bermakna negatif, jelek, dan haram. Saya lupa, jika Alex ini nonmuslim. Mungkin campuran Kristen Hindu. Ia sendiri pun ketika ditanya terkait kepercayaan dianut, seperti bingung menjelaskannya.  

Murid yang lainnya, ada yang ingin menjadi burung. Selebihnya, saya lupa. Maklum saja, kejadian itu sudah terlampau jauh untuk diingat. Tertimbun dalam keseharian lainnya, semisal apakah seprei telah diganti dua minggu lalu? Sudah sejak kapan, ikan lure ini menjadi penghuni kulkas? Dan ingatan-ingatan beberapa hari lalu lainnya. Berkaitan dengan cara kerja memori, sebenarnya menjadi hal yang cukup lucu. Ingatan bekerja ketika kita tidak ingin memikirkannya. Namun, teringat ketika kita berusaha setengah mampus untuk melupakan.

Menuliskan ini dengan rentang jarak sekitar tiga tahun, antara kejadian itu di masa sekarang membuat saya melakukan asumsi liar dan bebas. Sependek pengetahuan dari media sosial dan pengalaman pribadi. Dan, mungkin saja masing-masing karakter hewan tadi dapat menjadi gambaran umum karakter pada masing-masing generasi.

Di satu sisi, asumsi ini menjadi over generalisasi, di sisi lainnya dapat menjadi perwakilan hasil pendominasian dari keseluruhan karakter. Tapi tak apalah, hitung-hitung menjadi langkah awal untuk mengenal karakter generasi. 

Sebenarnya, hal ini saya kemukakan lantaran kepercayaan saya. Jika setiap karakter manusia itu banyak didominasi oleh kekuatan alam bawah sadar. Redaksi yang keluar berupa ucapan ataupun reaksi, apalagi secara spontan menggambarkan kekuatan alam bawah sadar. Barangkali saja, ungkapan pemilihan hewan-hewan adalah hasil akumulasi dari pikiran dan perasaan alam bawah sadar yang bergejolak. 

Seumpamanya begini, saya termasuk generasi milenial kelahiran 94, memilih kura-kura dengan pengharapan dapat membawa rumahnya ke mana-mana. Bisa jadi lantaran di generasi kami, semakin sulit mendapatkan rumah. Pendapatan kurang berkawan baik dengan harga tinggi rumah ataupun tanah. Belum lagi, jika pendapatan itu telah tergerus oleh kenaikan bahan pokok. Pepatah yang mengatakan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, untuk urusan menabung membeli rumah, pastilah belum berkenalan dengan inflasi. Apalagi jika keinginan itu terbentur generasi sandwich, di mana selain dirinya yang ia tanggung, terikut pula tanggungan untuk keluarganya. 

Selain secara fisik, perasaan untuk merasa nyaman dan aman seperti di rumah tidak mudah didapatkan. Ruang lingkup pekerjaan menggerus untuk senantiasa cuan, kesehatan mental menjadi anak kedua untuk dipikirkan, sedangkan pandangan patriarki masih saja menghantui perempuan maupun lelaki. 

Bagi perempuan, rasa aman berjalan tanpa di-catcalling menjadi barang langka. Sedangkan lelaki, bisa menunjukkan perasaan tanpa merasa bersalah adalah suatu keistimewaan. Jadi, hal itulah mengapa asumsi ini terbentuk. Selain keinginan menjadi kura-kura, teman saya si konselor ikut mungkin merasakan isu lainnya. Di mana, isu ini masih menjadi primadona di generasi kami, yaitu perasaan ingin diterima. 

Kami sebagai generasi pencinta media sosial, telah menerima beragam perkembangan aplikasi, sebut saja Friendster, Facebook, Twitter, Path, Instagram, lalu tiktok. Tanpa perlu hasil riset, kita sebagai pengguna medsos pasti sudah merasakan sendiri paparannya. Banyak juga konten di sosmed yang menyuarakan hal ini. Bahkan, pada pengaturan Instagram sudah ada notifikasi yang dapat diaktifkan,  jika terlalu banyak mengonsumsi per jamnya. Hasil dari itu pula menyebabkan kami dihantui oleh selalu ingin merasa disukai, tidak terbiasa untuk menolak, melakukan citra diri sebaik mungkin, lalu menumpahkan sisi gelap pada second account. Jadi seperti itulah penggambaran liar nan imajinatif dari kedua tokoh hewan.

Mari beralih pada si babi. Pada waktu itu saya menanyakan kepada si konselor, mengapa si murid itu memilih babi dan enggan menjawabnya. Lalu ia menjawab, mungkin karena tipikal murid ini suka bersenang-senang dan enggan bekerja. Dan memang, hasil awal berupa asesmen psikologi dan observasi akademik, si anak ini tergolong generasi Z.

Pendekatan personal dilakukan secara persuasif, ingin hidup serba instan, serta melek teknologi. Ia pun di antara murid tergolong anak kaya. Setiap datang ke sekolah berganti mobil. Mobilnya pun kategori kelas mewah. Namun, di sisi lain, anak ini senang bercerita, bergaul, dan rendah hati. Ia senang berbagi makan siang dengan teman-temannya.

Ketika jam makan siang tiba, ia memesan Go-food walaupun tanpa voucer makanan. Dan memang sama sekali tidak mengecek diskon pada saat memesan. Berbeda halnya dengan para Mr. dan Miss-nya ketika memesan makanan. Hal lebih dahulu dilakukan ialah melihat makanan dengan potongan diskon, lalu memesan secara beramai-ramai agar potongan menjadi lebih besar lagi.

Tokoh si babi ini mengingatkan saya pada Animal Farm karangan George Orwell, buku yang banyak terjual sewaktu saya mengelola toko buku. Secara ringkas, berkisah strata masyarakat dengan simbol tokoh hewan. Tokoh Babi digambarkan sebagai penguasa kelas atas, sedikit kerja, hobi bersenang-senang dengan menindas rakyat ataupun hewan lainnya. 

Namun, tokoh si babi dalam Animal Farm tentu saja tidak dapat dikorelasikan secara apple to apple dengan generasi Z. Keduanya berbeda pemaknaan dalam masing-masing konteks. Karena generasi Z pun memiliki banyak kekhasan, melahirkan kemampuan yang tidak terjadi pada generasi lainnya.

Pada artikel terbitan Whiteboard Journal  “Mengurai Paradoks Persepsi dan Stigma Seputar Gen Z” merangkum isi artikel, disebutkan jika generasi Z berkat teknologi dapat melakukan multitasking yang baik, hanya dengan menenteng iPhone, iPad dan AirPods, mereka dapat bekerja di mana saja. Selain itu, mereka menjadi generasi paling terbuka atas isu dan pandangan yang berbeda. 

Menutup tulisan ini, saya ingin mengemukakan, jika secara pribadi bukan penganut fanatik suatu generasi ataupun etnosentrisme dari generasi saya. Mengingat beberapa kali saya bertemu orang-orang yang begitu mengeluk-elukkan generasinya. Bahkan, penjelasan generasi X pernah dipaparkan secara atraktif pada dokumenter National Geographic berjudul “X: The Generation That Changed the World”.

Kendatipun, tidak menjadikan hasil itu sebagai suatu kemenangan generasi dari generasi lainnya, karena setiap generasi adalah spesial dan bertumbuh di masing-masing konteksnya. Toh, setiap individu yang lahir tidak pernah ditanyakan ia ingin lahir pada generasi mana. Masing-masing memiliki proses perjalanannya, hingga menuju generasi selanjutnya.

Akhir tulisan ini, jika sekiranya Anda diperhadapkan oleh pertanyaan si konselor, ingin menjadi hewan seperti apakah Anda? Mari menjawabnya pada pikiran masing-masing. 

Sumber gambar:

https://www.wallpaperbetter.com/id/hd-wallpaper-epgbf

Sekumpulan Kebetulan untuk Direncanakan

Sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut, jika saja tertarik. Lakukanlah percobaan sederhana ini! Di tempat kamu sekarang, cobalah melihat sekeliling, adakah kucing yang sedang kamu lihat? Atau kalau tidak ada, cobalah mencari kucing. Lalu lakukanlah ini, tatap kucing itu selama semenit. Apakah ia balas menatap? Atau mengeong? Atau mencoba pergi? Selanjutnya, pikirkanlah judul tulisan buku ini, Jika Kucing Bisa Bicara dan Esai-Esai Lainnya.

Bagaimana? Apakah sudah ada kalimat yang sekiranya mampir di kepalamu dari seekor kucing? Kalau belum, satu hal yang akan kamu ketahui terlebih dahulu, kamu miskin imajinasi, hehe. Canda, miskin. Maka ada baiknya kamu melanjutkan membaca review ini, dengan harapan kamu akan membaca buku ini dan buku-buku lainnya.

Bagi kamu yang telah mendapatkan ilham sebentuk imajinasi, mari kita lanjutkan imajinasi itu. Saya membayangkan kucing kami si Mirah akan berkata, “Tenang, rahasia kalian akan aman bersamaku”. Bagaimana tidak, si Mirah, kucing kampung jantan (bahkan, kucing pun punya kampung!) senang sekali ikut nimbrung mendengar orang-orang ngobrol. Jika ia sendirian di entah ruangan mana di rumah kami. Ia akan mencari sumber suara, lalu duduk di depan kami dengan posisi setengah berbaring dan mendengarkan, bahkan sampai ia tertidur. Mungkin ia merasa apa yang kami obrolkan tidak bisa pula ia imbangi, kemampuannya hanya sebatas mendengarkan. Kemampuan yang sangat jarang orang miliki.

Sebelum mengajak kamu untuk merasa yakin membaca isi buku ini, saya ingin menceritakan pertemuan saya dengan buku ini. Mengutip perkataan Adjie Santosoputro, panutan dari kawula muda yang sedang quarter life crisis, penulis dari buku, Mengheningkan Cinta, “Enggak ada pertemuan yang kebetulan. Justru di setiap pertemuan, selalu ada pesan dan alasan kenapa pertemuan itu tak terhindarkan.”

Berikut adalah kebetulan-kebetulan yang saya pikirkan, endapkan, hingga hikmah pun bisa dipetik.

Kebetulan pertama

Kebetulan bapak saya atau saya akrab panggil Abi selaku editor di buku ini. Saya mendengar informasi dari “orang dalam” dari kebetulan itu, jika ada anak kelas menulis yang akan menerbitkan bukunya. Kumpulan esai dari tulisan-tulisan di Kalaliterasi.com. Percakapan itu berupa potongan-potongan pembicaraan tentang judul buku ini hingga perencanaan terbitnya.

Kebetulan kedua

Masih kebetulan juga saya mendengar dari percakapan via handphone dan masih pula, itu hasil dari potongan percakapan. Si penulis “mengeluh” jika banyak yang ingin diberikan buku perdana yang ia lahirkan, walaupun pada saat itu belum di-aqiqah. Si editor-konsultan-penasehat-mentor, atau kita sebut saja si bapak paket komplit nan hemat, menyarankan jika ada baiknya karena buku tersebut dicetak terbatas, maka buku yang diberikan benar-benar untuk orang yang tepat. Setidaknya buku itu memang akan dibaca. Syukur-syukur bisa dipertukarkan dengan hasil bacaan buku ini. Tapi, dasar si penulis adalah tipikal people pleasure, demikian pengakuannya yang ia legitimasikan melalui tulisannya. Buku-bukunya sepertinya telah habis ia bagikan, seumpama kupon undian.

Kebetulan ketiga

Melanjutkan kebetulan kedua, saya menyarankan kepada si bapak editor, jika ada baiknya setiap orang yang meminta buku itu, mustilah menjanjikan sebentuk review buku. Hitung-hitung sebagai hadiah, penggembira hati si penulis. Namun, kata si bapak editor, mengingat iklim literasi di kampung belum se-massive di kota, sulit untuk membuat orang-orang mau menukarkan pemberian buku dengan hasil tulisan mereka.

Kebetulan keempat

Entah apa yang merasuki diri saya yang sedang senang bermalas-malasan untuk menulis, malah menggerakkan jempol mengetikkan saran dari kebetulan ketiga itu langsung kepada penulis.

Kebetulan kelima

Menanggapi kebetulan keempat, si penulis pun menciptakan kebetulan kelima. Ia menyisakan satu biji buku, melihat ada seorang anak nan polos bisa ia berikan dan dipertukarkan dengan bentuk review. Peluang ini pun ia lakukan secara gesit! Alhasil, buku sebiji itu pun sampai di pagi hari, dibawakan langsung selagi hangat oleh sang editor. Dengan titipan ucapan, “Untuk Miss Aqilah, ditunggu review positifnya, ya.” *insert emoticon smile, dan diakhiri dengan ucapan selamat membaca.

Itulah sekumpulan kebetulan dari pertemuan saya dengan buku ini. Marilah kita ulas secara jujur dan penuh suka cita isinya. Sebelum itu, saya hendak menitipkan kepada calon pembaca, “Barangkali saja esai-esai dalam buku ini ada kebetulan-kebetulan yang memang untukmu.” Sama halnya yang saya rasakan ketika membaca buku ini. Mengutip perkataan Gobind Vashdev dalam buku, Happiness Inside, “Bukan kejadian yang mengubah seseorang, tapi orang tersebut yang mengubah dirinya sendiri dengan mengambil sesuatu pelajaran dari kejadian itu. Begitu pula bukan buku atau orang lain yang mengubah seseorang. Namun, pelajaran yang diambil dari buku yang dibaca atau orang lain yang ia kenalinyalah yang mengubahnya.”

Buku ini terbagi atas lima bagian (kependidikan, kedirian, kemasyarakatan, keberagaman, dan keliterasian). Bagian kedua menjadi hal pertama, saya memulai penjelajahan. Entah mengapa, ketika membaca bagian ini, saya begitu relate. Sangat cocok dengan backsound tiktok, relate gak? Relate-lah! Haha. Membacanya seperti saya diberitahukan jika saya tidak mengalami itu sendirian. Walaupun di luar sana, sebagian manusia yang sedang berusia 25-30 tahun pasti akan merasakan hal ini juga. Rasanya dengan membaca bagian ini, kita tahu ada teman yang juga sedang berusaha menjalani hal itu dengan sebaik-baiknya. Bagian ini terdiri dari 10 esai. Cukup sulit untuk menentukan esai mana, menjadi favorit saya.

Bagian selanjutnya, saya membaca bagian kependidikan. Di bagian ini pula, saya masih merasakan, jika esai-esai yang terdiri dari 11 ini telah menjadi teman saya. Terkhusus teman berpikir. Hal paling menyenangkan dari bagian ini, ada suatu kisah tentang seorang anak meminta maaf kepada guru. Ia meminta maaf dengan penuh kesadaran, hasil dari refleksinya sendiri. Bukan karena kewajiban ataupun paksaan. Di bagian ini, bagi orang-orang macam saya yang terkadang pesimis dengan pendidikan di Indonesia, akan merasakan cahaya ilahi. Pencerahan. Di luar sana, ada manusia-manusia sedang bergerak secara pelan namun konsisten untuk suatu perubahan. Dan itu adalah suatu kabar baik.

Teruntuk esai, “Jika Kucing Bisa Bicara”, karena esai itulah saya berjanji tidak akan rasis dengan kucing hitam walau terlihat keji yang datang untuk makan bersama si Mirah dan esai tentang bunga, telah membuat saya sadar jika hendak memetik daun mati, akan begitu pelan, karena tahu bunga itu bisa saja sedang menahan sakit.

Esai “Tentang perundungan: Belajar dari kasus Ferdian dan Rizal”, membuat kita memikirkan kembali kemanusiaan dan timbullah pertanyaan, tipe manusia apa kita? Esai “Layang-Layang, Kenangan dan Kasih Sayang”, menarik kita untuk datang ke Bantaeng dan melihat secara langsung, dengan membawa harapan lebih tinggi akan menerbangkan layangan. Esai terakhir dan menjadi favorit saya ialah, “Pada Sederet Ketika di Semesta Paradigma”, merupakan cerita personal untuk memahami proses si penulis dalam menemukan dirinya di antara kata. Teruntuk esai-esai lainnya, saya sedang menikmatinya

Terakhir, kepada calon pembaca buku ini. Pertemuanmu dengan tulisan ini percayalah tidak sia-sia. Apakah akan menjadi lesson or blessing? Sila dipilih dan dinikmati dengan americano. Kepada penulis, terimakasih telah membuat buku ini menjadi kawan baru saya. Kawan yang sepi namun setia, siapa lagi selain buku? Selamat membaca dan semoga kalian tergugah untuk membelinya!

Judul Buku: Jika Kucing Bisa Bicara dan Esai-Esai Lainnya. Penulis: Ikbal Haming. Penyunting: Sulhan Yusuf. Penerbit: Liblitera dan Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan, Oktober, 2021. Tebal: xvi + 255 hal. Ukuran: 14 x 21 cm. ISBN: 978-602-6646-38-5.

Mandat Mencari Tempatnya

Kurang lebih dua tahun saya telah menjadi kepala sekolah di homeschooling swasta. Tahun kedua ini saya menandainya dengan hadirnya virus corona, surat edaran, social distancing dan work from home. Sebenar-benarnya ini adalah pekerjaan yang tidak pernah saya pikirkan. Apalagi merasa mampu. Bayangan akan terjadinya kekacauan. Orang tua siswa datang mengamuk dan memang pernah terjadi dan syukurlah semuanya telah terselesaikan dengan baik, menjadi bagian dari perjalanan dua tahun ini.

Kedatangan virus bukan menjadi bayangan dari ketakutan saya. Mungkin saja, orang lain pun demikian. Datang dari Wuhan masih tidak membuat orang-orang peduli. Bahkan menjadi jokes bagi pemerintah kita. Hingga virus itu datang menuju ke tempat-tempat yang tak asing bagi kita, tetangga, keluarga di kampung atau tempat gado-gado favorit.

Senin 16 maret 2020, secara resmi dinas pendidikan mengeluarkan surat edaran. sekolah diliburkan. proses belajar secara tatap muka terganti dengan belajar di rumah. Sehari sebelumnya, beberapa sekolah telah mengeluarkan pengumuman itu. Agenda seperti makan bersama, home visit, sosialisasi, dan outing class, terpaksa kami tunda. Beberapa siswa kami menyambutnya tanpa semangat. Sepulang sekolah, salah satu orang tua siswa kami memastikan apakah benar sekolah diliburkan?

Sebelumnya kami sudah menginformasikan di grup Forum Komunikasi Orang Tua, mengenai surat edaran itu. Ternyata, menurut anaknya dia tetap sekolah. Walaupun ia sudah mengatakan ke anaknya jika sekolah diliburkan. Si anak tetap ngotot ingin sekolah. Saya menutup pembicaraan itu dengan berjanji akan video call dengannya. Saya menganggap ini adalah suatu keberhasilan, membuat sekolah menjadi tempat menyenangkan. Selain alasan di rumah tidak tahu ingin melakukan apa.

Jumat, 20 maret 2020 menjadi hari pertama kami bekerja dari rumah. Ini menjadi kemenangan kecil setelah seminggu sebelumnya saya sudah begitu rajin menginformasikan kepada owner kami mengenai social distancing. Tiba-tiba saja saya teringat dengan pepatah di buku cetak Bahasa Indonesia kelas 5 SD, “Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Bagi sebagian orang, social distancing tidaklah perlu dilakukan.

Syukurlah setelah dialog panjang menandingi dialog kebangsaan, saya bisa meyakinkan dan akan bertanggung jawab, jika kami benar-benar akan bekerja seperti biasa, walaupun dari rumah. Terbukti di hari Jumat, kami lebih produktif dengan aturan pertama tidak boleh ada yang bekerja di atas tempat tidur. Bahkan saya telah membayangkan jam istirahat bisa digunakan dengan tidur siang. Seperti di kantor-kantor start up. Rasa segar sehabis bobo siang akan meningkatkan produktivitas dalam melanjutkan kerja. Bahkan mengalahkan ajaibnya bergelas-gelas kopi. Ini bukan bualan saya melainkan berdasarkan penelitian. Namun, angan-angan itu masih menjadi cita-cita luhur saya. Entahlah jika Senin ini, cita-cita itu dapat tercapai.

Sore ini, akibat corona dan pemberlakuan social distancing membuat semua anggota keluarga berada di rumah. Makan siang bersama, salat berjamaah di rumah yang dulunya sangat jarang dilakukan telah menjadi kegiatan sehari-hari. Obrolan mengenai virus corona dan di tempat-tempat terinfeksi mendominasi rumah kami. Selain tentu saja, percakapan di whatsapp mengenai virus masih berintensitas tinggi. Hingga obrolan itu berganti ketika saya membicarakan salah satu orang tua siswa menelpon menanyakan keadaan anaknya. Ia berada di Ternate. Sedangkan anaknya bersama kakak dan bibinya berada di Makassar.

Maksud hati ingin melindungi anaknya, ia berencana untuk datang ke Makassar atau kedua orang anaknya pulang ke Ternate. Saya memberikan sudut pandang lain, kemungkinan diantara mereka ada yang terjangkit dan membawa ke orang-orang terdekat. Larangan pulang kampung juga cukup massif di berbagai media sosial. Beberapa kasus telah terbukti, pulang kampung akan membawa virus ke daerah tujuan. Ketakutakannya akan pemerintah melakukan lockdown saya terangkan dengan pembicaraan mengenai rupiah yang melemah. Dan opini dari berbagai para ahli ekonomi, pemberlakuan lockdown adalah langkah terakhir. Setelah tes dilakukan massal dan social distancing ternyata tidak berhasil. Obrolan itu ditutup dengan keputusannya untuk tidak memulangkan anaknya ataupun kedatangannya ke Makassar.

Kawan saya berkata dan cukup baik untuk kita jadikan slogan, “Jaga jarak juga bentuk kasih sayang. Kamu tidak harus selalu ada.” Namun, sepertinya slogan itu tidak mempan untuk homo sapiens seperti kita. Manusia bebal dan keras kepala. Mampu mengalahkan homo sebelumnya seperti Neandertal ataupun Erectus. Namun, tidak mampu mengalahkan egonya. Kemarin malam, seorang penceramah yang diundang untuk acara takziyah, tepat di sebelah lorong rumah membuktikan itu. ia berkata, “Jika kita tidak harus takut dengan virus corona, melainkan hanya takut kepada Allah saja. Kalaupun Allah mengkehendaki akan tetap mati juga.” Tak hanya ustas saja yang beranggapan demikian. Ada banyak orang-orang serupa lainnya. Kalaupun memang menginginkan kematian, mereka lupa jika dirinya dapat menjadi penyebab matinya orang lain.

Pagi ini, ketika saya bekerja dari rumah, seorang siswa berkata dalam video call yang saya dan rekan-rekan kerja lainnya lakukan sembari menulis di dalam jurnalnya, “Cara membasmi corona, dengan stay at home.” Entah kenapa kami tertawa mendengarnya. Bukan meremehkan, namun kami tidak menyangka jika anak kelas 5 ,SD sudah tahu apa yang harus ia lakukan dalam melindungi dirinya dan keluarganya.

Entah kenapa pula, anak kelas 5 SD lebih bisa menerima secara logis penyebaran virus itu. daripada seorang ustas ataupun pak RT di kelurahan saya yang masih saja meremehkan corona. Tanpa mempedulikan fakta yang terjadi. Mungkin jurang dalam penerimaan informasi antara Generasi Z dengan Alpa adalah alasan yang cukup masuk akal.

Saya pun teringat dengan perkataan seorang kawan di tengah perbincangan kami mengenai tingkat literasi. Ia berkata jika sebenarnya setiap orang memiliki mandat sosial. Penjelasan lebih jauhnya adalah setiap orang memiliki tanggung jawab terhadap orang lain. Termasuk, tanggung jawab untuk melakukan social distancing dan berdiam diri di rumah, agar orang lain tetap dapat hidup.

Jauh sebelum virus ini muncul, kita sebagai manusia memiliki mandat sosial dalam mengupayakan literasi khususnya secara informatif terhadap orang-orang di sekitar kita. Teman saya pun merasa bersalah, mengiyakan perkataan pak RT dalam beberapa kali diskusi yang sebenarnya tidak ia sepakati dan memungkinkan ruang diskusi.

Namun, demi terciptanya kondisi lingkungan nan asri, ia lebih memilih untuk menganggukkan kepala. Dan ya, seperti kita lihat sekarang, kita sebagai manusia yang lebih memiliki keistimewaan dalam berpengetahuan menuntut orang-orang agar setara ataupun cukup sama seperti pengetahuan yang kita miliki.

Menutup tulisan ini, mungkin saja dapat menjadi renungan ataupun obrolan terlampau lepas, apa sebenarnya mandat sosial kita selain tentu saja untuk sementara waktu berdiam di rumah adalah mandat yang paling tepat.

Sumber gambar: Psikindonesia.Org.

Selonjoran Bersama Guru Han

Selepas membaca buku Bekisar Merah, karangan Ahmad Tohari, saya menghela napas panjang. Buku ini kurang sesuai dengan ekspektasi saya saat ini, walaupun diakhiri dengan happy ending, salah satu kesukaan saya ketika membaca buku. Kekurangpuasan saya berlanjut, pada buku setipis catatan belanja Ibu, Dekat Nyaring dari Sabda Armandio. Walau di awal terasa menyenangkan, namun ditutup dengan perasaan gantung, dan akhir cerita pun tidak berakhir happy ending.

Saya pun kembali mencari buku dengan harapan mendapatkan rasa senang, serta kepuasan setelah membacanya. Sembari memikirkan buku harapan itu, saya melihat quotes di salah satu instastory seorang kawan, “Cukuplah rayap saja yang menghancurkan buku.” (Guru Han). Sepertinya kalimat ini tidak asing. Benar saja, setelah berupaya mengingat sosok Guru Han, hal pertama terlintas di kepala saya, ia botak licin layaknya lampu taman.

Lalu semesta bekerja pada garis semestinya, seseorang menghubungi saya, mengirimkan rancangan bukunya, yang akan terbit di akhir bulan dalam bentuk format e-book. Tak lain adalah si Guru Han, panggilan yang sering disematkan pada Sulhan Yusuf. Ia menginginkan saya untuk menikmati bukunya. Harapan saya cukup tinggi, mengingat buku ini adalah merupakan kumpulan esai, yang telah terbit di beberapa media, dan di antaranya menjadi tulisan favorit saya.

Bukunya berjudul Pesona Sari diri, namun hingga e-book ini terbit menjadi buku setebal 529 halaman, saya belum benar-benar menuntaskannya. Layaknya menikmati segelas kopi hitam sebelum memulai hari. Sesap demi sesap saya nikmati, hingga menyisakan ampas. Walau pahit, tetap  saya sukai, menjadi suatu kebiasaan yang menyenangkan. Kebetulan pula si penulis buku ini, selain mengidolakan klub sepak bola Arsenal dan pecandu berat tembang-tembang Koes Plus, ia memiliki kebiasaan membawa kopi hitam tanpa gula ke mana saja. Si kopi hitam ini juga, menghiasi beberapa esai, di dalam buku Pesona Sari Diri.

Cara lain menikmati buku ini, dapat pula diumpamakan layaknya memakan nasi setiap hari. Menjadi kebutuhan dasar. Ketergantungan manusia akan hidup nyaman dan menyenangkan, dapat dilalui dengan membaca tulisan-tulisan ini. Akan ada berjuta cara menyelesaikan buku ini, selain saya sebutkan di atas, tergantung dari pembaca itu sendiri. Saya secara pribadi menikmatinya seperti meminum kopi. Tentu saja dengan gaya terbaik, berselonjoran di sore hari.

Buku bersampul hijau dengan gambar burung mirip Sun Conure ini, dapat dibaca dari berbagai pilihan bab sesuai selera. Saya memilih dengan memulai dari tulisan-tulisan di bab “Sari Diri”. Selain menjadi bab pertama di buku ini, ada tulisan dengan judul “Bahagia itu Mudah”, sangat menarik untuk dibaca. Selanjutnya ada tulian “Why not Share”, entah mengapa menjadi tulisan kedua. Seolah-olah hasil dari bacaan pertama patut untuk di-share.

Ada pula kosa kata tertentu menjadi judul tulisan, seperti kata “Tidur”, “Botak”, “Al-Ma’idah”, “Natal”, “Koprofilia”, dan terakhir “Uli”. Tentu saja pilihan kata ini tidak hanya mendatangkan rasa penasaran, namun memiliki kaitan erat dengan pengalaman ataupun pemikiran si penulis.

Bab pertama juga lebih banyak membahas pengalaman penulis. Jika diri ini sedang menginginkan tulisan ringan, tidak menggurui dan tentu saja membuat diri tentram. Bab ini sangat cocok dibaca terlebih dahulu. Bab kedua bertemakan “Teras Religiusitas”, sesuai dengan tema, kumpulan tulisan ini sangat berkaitan dengan hal-hal spiritual dan religius. Sangat cocok dibaca, jika hati dan jiwa sedang membutuhkan pelepas dahaga.

Bagian ketiga bertema “Beranda Publik”. Dua kata yang dapat menggambarkan apa yang sedang terjadi di masyarakat, semisal masalah sosial, politik, dan budaya. Terakhir bab “Pesona Persona”, belum saya sesapi sama sekali, kecuali judul “Uli”, karena mengenal pribadi tersebut.

Kumpulan tulisan di keempat bab ini, tidak terlepas dari kegemaran penulis dalam membaca karya Cak Nun, Ali Syariati, Jalaluddin Rakhmat dan penulis lainnya. Karenanya, jangan heran, jika tulisan ini bersifat jenaka seperti judul “Botak”. Dari bentuk kepala itu terciptalah tulisan kaya akan kebijaksanaan, ketika menyikapi suatu peristiwa yang dialami oleh penulis. Tepatnya, si penulis tersindir oleh kepalanya sendiri. Ada pula peristiwa viral, yang ia tuliskan secara gamblang, dengan mengelola konteks permasalahan itu, tanpa mengecam salah satu pihak, berjudul “Al-Ma’idah”.

Sebagian besar tulisan ini, dapat dinikmati dengan mudah melalui analogi sederhana. Tanpa menyederhanakan konteks. Tulisan-tulisan itu dapat pula menjadi cerminan keadaan manusia, dalam menghadapi masalah sehari-hari. Dapat dikatakan secara tidak langsung, tulisan di dalam buku ini menjadi ‘how to’ atau ‘bagaimana cara’. Namun jangan harap, jika buku ini dapat dihabiskan tanpa kendala. Salah satunya, penulis banyak menggunakan kosa kata unik, cukup asing dalam perbendaharaan kata di buku-buku. Maka, kamus KBBI menjadi teman dalam memecahkan kendala ini.

Berita baiknya, perbendaharaan kosa kata kita akan lebih kaya, terutama jika pembaca malas seperti saya untuk membuka kamus. Latar belakang penulis  yang akrab dengan hal-hal abstrak, pengandaian, dan filsafat, kadang kala menjadi kebingungan bagi pembaca yang menyukai kalimat-kalimat eksplisit, lantang, dan tidak bertele-tele. Bagi pembaca penyuka serba instan, buku ini cukup sulit, dibutuhkan kontemplasi dalam memahami maksud dari penulis. Sadar atau tidak, hal ini menjadi latihan kesabaran dalam menerima sesuatu.

Sebelum menutup perjumpaan saya dengan buku ini, terlebih dahulu saya bertanya ke diri sendiri, apakah harapan saya telah terpenuhi? Sepertinya saya belum bisa menjawabnya dan menyuruh diri ini untuk lebih bersabar. Selamat menikmati sajian di buku Pesona Sari Diri. Dan, bagian yang cukup penting saya sampaikan, buku ini tidak hanya menjadi rekomendasi dalam menemani hidup. Namun ada banyak hal baik yang akan hadir, jika buku ini dimiliki oleh segenap pembaca.

 

Kredit foto: Abby Pasker Bantaeng.

Manakala Rasis Jadi Gorengan

Seorang guru terburu-buru keluar dari kelas menuju ruang kantor. Ia duduk sambil berkata

“Miss, ada masalah tadi di kelas. Saya tidak tahu apakah ini masalah besar, tapi menurutku harus saya jelaskan di sini.”

Saya dan dua orang staf di kantor pun terdiam, dengan rasa cemas saya mendengarkan penuh perhatian informasi yang ia sampaikan. Ia bercerita jika sewaktu mengajar, antara siswa A dan B terjadi clash, karena perbedaan pendapat mengenai penilaian tugas yang diberikan. Lalu si B mengancam, tidak akan mengerjakan tugas, walau ia akan mendapatkan nilai nol, tetap ia terima. Akhir cerita, si guru tetap mengambil keputusan atas voting siswa terbanyak daripada memilih keinginan si B. Kami pun berjanji akan mengkomunikasikan masalah itu.

Sebenarnya, masalah ini tidak sebesar yang guru pikirkan. Hal ini wajar, melihat kondisi siswa berjumlah enam orang dengan latar belakang masalah berbeda belajar secara bersama. Sama halnya ketika mereka berada di sekolah formal, tempat mereka sebelumnya bersekolah. Namun, karena mereka berada di Home Schooling, sekolah non-formal, maka masalah seperti ini terlihat besar. Demi menciptakan kedamaian pasca kehebohan guru itu saya berkata, “Konflik itu adalah normal, yang menjadi pembeda adalah bagaimana kita merespon dan menyelesaikan. Akan lebih mengherankan, jika mereka tidak mengalami konflik sama sekali.”

Setelah memberi quotes terpuji, saya membuka instastory. Layaknya menonton iklan di televisi, silih berganti dengan durasi singkat menampilkan sejumlah kabar terkini dari netizen. Keberadaan pemeran utama monyet dari film Rise of the Planet of the Apes adalah paling banyak dibagikan melalui akun-akun yang di-repost. Tulisan “kami monyet jawa” dan “kami monyet sulawesi, mendukung pembebasan Papua Barat” menemani gambar pemeran itu. Terakhir gambar favorit namun paling sedih ialah caption berbunyi “kalau kami monyet, jangan paksa monyet kibarkan merah putih”.

Keheranan saya mengenai “monyet” ini terjawabkan melalui akun-akun yang telah di-repost. Kejadian ini dipicu oleh pengepungan aparat kepolisian, sipil dan TNI di Asrama Mahasiswa Papua. Mereka mengepung dengan mengeluarkan beraneka ragam nama-nama hewan, salah satunya monyet. Pengepungan itu terjadi di Surabaya, dengan dua kasus sebelumnya di daerah berbeda namun di Pulau Jawa. Disisi lain, layaknya pengetahuan dari nenek moyang secara turun-temurun, sumber daya alam Papua telah lama menjadi tambang emas terutama bagi Pulau Jawa. Tidak heran, caption Monyet Jawa pun menjadi favorit netizen.

Namun, belum pula tuntas penelusuran yang saya lakukan. Tiba-tiba saya teringat dengan kejadian salah seorang siswa bernama Farhat (bukan nama sebenarnya, namun lebih baik dari sebutan mawar ataupun bunga), ia berada di kelas satu SMA jurusan IPS. Sewaktu saya mengajar mapel sosiologi ia melihat di buku pelajaran, ada sekelompok orang Papua, lalu ia pun tertawa terbahak-bahak, dimana situasi itu sama sekali tidak lucu. Dengan rasa heran, saya bertanya kepadanya “Apa yang menurutnya lucu?” Ia menunjuk gambar itu. Dilanjutkan, ia bercerita mengenai ketidaksukaannya. Katanya, pernah suatu ketika ia bepergian dengan ayahnya naik pesawat, entah bagaimana kejadian rincinya, orang Papua itu bersikap kasar kepadanya. Sejak saat itu, di kepalanya hanya ada satu stigma, orang Papua itu kasar. Padahal, sejatinya kita tidak pernah tahu kedalaman hati seseorang hanya berdasarkan cara berbicaranya.

Sebagai guru sosiologi yang bijak dengan pengetahuan antropologi selama enam tahun namun tidak menjadi antropolog, saya berkata kepada dia “Apakah semua orang Papua seperti itu?” dia pun terdiam. Selanjutnya saya memberi pengandaian “Bagaimana seandainya Farhat dicap sebagai orang pemarah, hanya karena Farhat memakai jaket kulit dan bertampang sangar?” Pada akhirnya saya hanya berkata, “Kita tidak dapat menggeneralisirkan hanya karena satu kejadian” Maka sejak itu, ketika ia secara tidak sadar berkelakuan rasis, kami hanya berkata “Mau juga diperlakukan seperti itu?” Dia pun tertawa kecut.

Isu rasis merupakan gorengan paling nikmat. Kenapa? Karena hal itu dapat membuat kita merasa lebih baik hanya karena ada perbandingan yang tidak sepadan. Sangat nikmat bukan menjadi orang istimewa hanya karena kita merasa spesial, padahal kita bukanlah martabak pakai dua telur.

Dalam kajian antropologi, ada mata kuliah membahas relativisme budaya. Secara sederhana, semua budaya adalah sama. Masing-masing memiliki keisitimewaannya. Tidak ada yang lebih ataupun kurang dari yang lain. Pernyataaan ini dapat bermakna negatif ataupun positif dan tentu saja mengandung perdebatan. Namun karena ini bukan perkuliahan, maka saya tidak melanjutkan pro dan kontranya.

Secara kelulusan, saya merupakan jurusan antropologi. Namun demikian, tidak menutup kekhilafan saya dalam menikmati gorengan rasis ini. Sejak dua bulan terakhir, kantor kami kedatangan staf dan office boy berasal dari Surabaya. Pernah suatu ketika, mereka berdua berdiskusi mengenai pemasangan bingkai dengan logat khas Surabaya. Secara refleks saya berbalik kepada dua orang teman saya yang lahir dan besar di Makassar, berkata “Rasanya seperti ada di warung Sari Laut.” Kami pun tertawa. Kekhilafan lainnya, saya memiliki teman berasal dari Tegal, merantau di Makassar, masih dengan kekentalan logat tegalnya saya sekali lagi merasa seperti berada di warung makan tunjuk-tunjuk.

Sialnya, ketika saya diikutkan workshop nasional di Jogja, saya mengalami rasisnya orang Jakarta beserta orang Jawa mengenai orang Makassar. Apalagi selain kami dinilai kasar walaupun hati sehalus sutera. Belum lagi, keberangkatan itu bertepatan dengan pertandingan PSM vs Persija. Namun, mereka heran ketika saya dapat berkomunikasi mengikuti tempo bicara mereka, “Kok mba Aqilah bisa pelan bicaranya?” Saya hanya menjawab dengan terkekeh renyah “sudah kena’ jawanisasi mas.”

Sebenarnya “jawanisasi” ini merupakan hal lucu-lucu empuk. Ketika kawan-kawan saya datang ke Makassar, saya berusaha agar mereka bisa mengerti yang ingin saya sampaikan dengan cara tidak menggunakan logat Makassar. Sedangkan ketika, saya berada di luar Makassar, maka usaha itu tetap saya lakukan. Di manakah pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung?” Sepertinya sudah tenggelam dalam lautan manusia saling bersahutan memanggil mba dan mas.

Sejak itu, saya selalu saja diminta untuk berbicara logat Makassar agar mereka bisa tertawa. Hanya itu? Oh tentu tidak. Masih ada banyak hal yang saya alami ketika berempat hari bekerja berkedok liburan bersama cabang Jakarta dan bos Jogja tercinta.

Sejak saat itu, saya berjanji untuk tidak hanya menasehati Farhat saja. Namun, menasehati diri sendiri agar tidak memesan martabak spesial hanya untuk diri sendiri saja. Saatnya saya melanjutkan penelusuran yang sempat tertunda, sembari menikmati gorengan hangat.

 

Kredit gambar: https://lpmrhetor.com/menghapus-rasisme-dalam-kamus-kita/