Semua tulisan dari RA

RA Yahya, Lahir di Makassar seperempat abad yang lalu, tepatnya 18 Agustus. Menulis bukanlah prioritas utama, namun soal berkicau sepertinya sudah bakat lahiriah. Admin Purchase di bidang IT ini, menyukai dunia traveling dan musik. Muai Thay adalah olah raga favoritnya, dan masa lalu adalah hal sepele yang ingin dilupakan. Menghabiskan waktu terbanyak di depan layar berukuran 14 inch adalah hobinya. Entah untuk menulis, mendengarkan musik atau hanya menonton. Kenali lewat karya, bukan lewat nama. Ikuti kicauannya di akun FB : lollypop15love atau dapat melalui e-mail : lollypop15love@gmail.com

Lalat Saja Masih Berempati

 

Dia yang menjadi penikmat sampah, belajar lama untuk berinteraksi.

Sedangkan, mereka yang tiap hari berinteraksi, belajar lama untuk berempati.

***

“Manusia tak lagi punya rasa empati”. Ucapnya sinis

Terjadi penekaan intonasi, perubahan raut wajah dan bahkan tak ada kedipan yang terlihat. Secara diplomatis, kalimat tanpa majas hiperbola itu, keluar secara spontan dari mulut Asran Salam. Mungkin saja, kalimat itu diperuntukkan pada para pengacau ulung. Tapi entah mengapa, aku yang hanya berjarak sekitar empat langkah darinya, seakan ikut dirajam paksa.

“Apa kau pernah melihat pertarungan brutal antara Mike Tyson dan Evander Holyfield?” Usiaku saat itu masih tujuh tahun. Tapi, melihat bagaimana Tyson di diskualifikasi setelah menggigit telinga Holyfield, bagian itu tak pernah luput dari ingatan. Tak ada bedanya dengan kejadian pekan kedua Kelas Literasi Paradigma Institute, hampir sepekan berlalu. Jangankan lupa, rasa sakit hatiku justru tak kunjung berkurang.

Pukulan keras mendarat di sela-sela alunan musik beraliran Fankot. Musik tempo upbeat dengan bass line yang menggema, seolah menjadi daya tarik bagi pria di sudut kanan bangunan Ipteks. Pria berkulit putih, tingginya kira-kira 170 cm. Jangan bertanya perihal keyakinan, tato salip di lengan kanan, menjadi bukti yang tak bisa terbantahkan. Pria itu tak sendiri, seorang lainnya asik menahan punching pad setiap kali pukulan di layangkan.

Situasi di sudut kiri menunjukkan perbedaan yang mencolok. Suguhan gerak tubuh dipertontonkan pada ruang terbuka. Menurutku, pemandangan itu seperti kawanan lalat yang sedang asik menikmati tumpukan sampah. Jika kamu membayangkan pertunjukan ini seperti sebuah seni, sudah pasti jawabannya adalah bukan. Perpaduan unsur raga, irama dan rasa, ketiganya tak melebur menjadi kesatuan yang harmonis.

Hal yang paling memilukan bagiku adalah, kelas literasi pekan ini, berada di antara dua pergulatan makluk Tuhan, yang boleh jadi telah kehilangan rasa empati. Bila diibaratkan dalam sebuah pertandingan tinju, aku seperti berada di sudut putih (baca: bagian tengah) bangunan ini. Tak ada wasit dalam pertandingan, pergulatan alot berlangsung hingga akhir. Sudut kiri-kanan bangunan ini menyuguhkan duel paling glamor  di sepanjang pertunjukan.

Aku duduk mematung, tak menangkap poin penting pada pertemuan kali ini. Petarung utama dalam kelas literasi adalah Imhe Puan Mawar. Sedangkan aku, hanyalah secuil upil di antara puluhan pegiat literasi. Tak ada yang kondusif selama kelas berlangsung, emosiku mulai tersulut ketika suara pemateri tak lagi terdengar.

“Sial, tak tahu diri, tak tahu malu, tak tahu aturan”.

Rentetan kalimat dengan awalan kata “tak” saling bersahutan dalam hati.

“Bayangkan saja, bagaimana rasanya terjebak dalam kawanan zombie yang siap memangsamu kapan saja”. Hal yang sama terjadi hari itu. Satu sama lain manusia bahkan tak saling perduli dengan apa yang mereka lakukan. Entahlah, mungkin mereka pemilik dunia ini. Hingga aku tak punya kuasa untuk protes. Atau mungkin pula dia adalah pemilik bangunan ini, sedang aku hanyalah penyewa sementara. Ternyata dugaanku tak sepenuhnya benar. Aku memang penyewa sementara, dan mirisnya lagi mereka sama denganku namun bertingkah bak penguasa.

***

Aroma material sisa, menampar hidungku. Meski terlahir dengan organ penciuman yang berukuran lebih kecil, warisan faktor genetik dari orang tuaku adalah satu-satunya bagian tubuhku yang menuai kontroversi. Mulai dari sebutan pesek, hidung nyungsep dan mahkota jambu air, indra yang satu ini memang paling menarik. Tak salah lagi, di beberapa tempat, terlihat tumpukan sampah organik-anorganik yang menjadi bulan-bulanan pasukan lalat. Bangunan ini cukup luas, dan sampah lebih memikat di bandingkan berkencan dengan lalat betina.

Aku berdecak kagum, memahami setiap gerakan. Pola hidup lalat yang menyukai timbunan sampah, membuat mereka berinteraksi antara satu lalat dengan lalat lainnya. Ini lebih memungkinkan bagi serangga dari ordo Diptera ini untuk bersarang dan berkembang biak. Hewan yang memilih berinteraksi dengan gerakan udara ini, tak pernah menggangu satu sama lain. Bila jatah makanan habis, mereka berlalu pergi, tak menggangu yang lain. Entahlah, pemandangan itu semacam bentuk kepekaan mereka memahami sesamanya.

“Bagaimana bisa, serangga yang hanya memiliki sekumpulan neuron di kepalanya, justru lebih berlogika dan berempati?” Aku mencermati sekelilingku, kali ini dengan pandangan lebih jeli. Puluhan manusia, masing-masing dilengkapi satu kepala dan otak berisi 100 juta jumlah neuron di dalamnya. Aku menekuk lutut, memeluk erat dan tetap menjaga keseimbangan.

Keringat dingin, sorot mataku tak berpaling dari pria berbaju hitam itu. Rasanya aku ingin protes pada kalimat yang tadi dia ucapkan. Aku kini terisak dalam hati, kaku dengan tanyaku yang tak terjawab.

“Mengapa manusia tak mampu berempati? Haruskah kami berguru pada lalat?”

Sayup-sayup terdengar musik yang perlahan berhenti. Terjadi pergeseran suasana, tak ada lagi musik Fankot terdengar. Para pengacau di sudut kiri bangunan ini, terlihat lelah mempertontonkan body language miliknya.

“Akhirnya”. Ucapku menunduk, berharap kali ini lebih tenang.

Semenit kemudian, keadaan justru bertambah buruk. Pria berwajah oriental itu mengambil alih daerah kekuasaan.

“Hook…Hook…Hook…”

“Hook…Hook…Hook…”

Irama yang terdengar lebih mirip teriakan pria yang berlari kencang. Entahlah, mungkin pria itu akan mencapai puncak gunung tertinggi.

Aku menarik lengan bajuku, berbalik arah dan akan melangkah pergi.

“Gedung ini, sungguh aku tak membencinya. Hanya saja, lebih baik melepaskan ratusan lalat untuk berinteraksi, dibandingkan menyimpan satu manusia tanpa rasa empati.

French Angelfish dan Sepucuk Surat untuk Bunda

Ada yang salah denganku sejak peristiwa naas itu terjadi, ketika berdiri sekujur tubuhku merasakan sakit, ototku seketika melemah. Dokter berkata pada Ayah, aku hanya mengalami gangguan keseimbangan, dan sepertinya tak ada jalan lain selain menggunakan tongkat sebagai Alat bantu. Kulihat Ayah mengulurkan tangannya, menyambut tangan sang dokter yang lebih dulu mengajaknya berjabat tangan. Entah sudah berapa lama aku terbaring di Rumah Sakit Abdul Wahab, namun satu yang pasti, tak ada Bunda di sampingku.

Ayah berbalik, menghampiriku yang masih terbaring lemah tak berdaya. Ayah terlihat baik-baik saja, namun aku tahu, di dalam batinnya terjadi pemberontakan yang teramat hebat. Aku tak ingin bertanya tentang Bunda, cukup waktu yang menjawab. Demikian pula terlihat jelas di wajah Ayah, dia tak ingin aku bertanya hal itu padanya. Usiaku masih sepuluh tahun, masih bocah tengik yang duduk di bangku sekolah dasar.

Tiga hari berlalu, dokter akhirnya memutuskan aku sudah bisa beristirahat di rumah. Terlihat Ayah bersemangat mengajari bagaimana menggunakan tongkat. Tinggi tongkat itu optimalnya sekitar dua hingga tiga jari di bawah ketiakku, sedangkan tinggi pegangan dari tongkat kurang lebih setinggi pinggangku. Memang terkesan tampak sederhana, namun tanpa dukungan Ayah, mungkin sulit untuk bisa dengan cepat beradaptasi. Dan lagi-lagi, aku tak melihat Bunda berada di ruang perawatan rumah sakit.

***

Waktu cukup cepat berlalu, aku sudah cukup dewasa tuk menikam Ayah dengan berbagai pertanyaan konyol. “Mengapa Ayah tak segera menikah?” ucapku sambil menyeruput kopi yang berada di atas meja belajar. Namun Ayah justru tertawa menimpali pertanyaanku, mungkin bagi Ayah ini hanyalah lelucon. Tapi tidak denganku, usia Ayah masih terbilang muda, belum genap tiga puluh lima tahun. Hal wajar bila Ayah memiliki hasrat untuk menikah lagi. Tapi sekali lagi, Ayah terkekeh sambil mencubit pipiku. “Nak…Kamu saja yang menikah, beri Ayah cucu yang cantik,” ucap Ayah dengan kerutan jelas pada dahinya.

Tiap kali bertanya pada Ayah tentang Bunda, tak pernah ada sedikitpun kalimat yang terlontar dari mulut sang Ayah. Selain senyuman pahit yang berusaha di tahannya, terlihat pula kantong matanya memerah. Dipandanginya lukisan sepasang ikan yang berada di dinding ruang tamu. Yah… Sejatinya hanya lukisan itu yang mampu membuat Ayah sedikit terhibur. Sepasang French Angelfish tergambar di sana, dengan sirip perut dan sirip punggung berwarna biru membentang lebar ke arah ekor. Terdapat pula dua buah sirip di bagian dada yang menjuntai sampai bagian ekor.

“Kau tahu ikan itu Nak?” ucap Ayah padaku yang kini berusia hampir seperempat abad

“Tidak,” ucapku mengangguk pasti

Lukisan itu sudah hampir dua tahun bertengger di sana, entah apa yang memikat pada gambar ikan yang habitatnya berasal dari perairan Amazon. Yang aku tahu, ikan yang tergolong dalam famili Cichlidae ini, memang menarik dari segi warna dan jenis yang bervariasi. “Selain itu apalagi Ayah?” ucapku seolah menunjukkan kecerdasan kognitifku pada Ayah. Maklum saja, aku mengambil jurusan ilmu Biologi pada salah satu perguruan tinggi dan untuk klasifikasi mahluk hidup sudah menjadi santapanku sehari-hari.

“Banyak hal tak hanya bisa kau dapatkan dari bangku kuliah Nak, termasuk tentang lukisan French Angelfish yang menguatkan Ayah hingga kini,” ucapan ayah seakan menghunjam jantungku.

“Maksud Ayah?” aku kali ini menggaruk kepala yang tak gatal. Bingung sekaligus ingin Ayah menjelaskan maksud ucapannya. Namun Ayah memilih meninggalkanku dalam keheningan, dan kini hanya bersama lukisan yang diletakkannya di atas meja belajarku.

“Apalagi Yah…?” ucapku merengek pada Ayah ditemani keringat dingin, yang kini menyambangi perlahan menyambangi tubuhku.

“Esok ulang tahun bunda Nak, jangan lupa kita harus kesana,” ucap Ayah berlalu pergi

Rasanya baru saja aku ingin membanggakan diri pada Ayah, betapa hebatnya dia memiliki anak dengan indeks prestasi 3,92 di awal tahun pertama kuliah. Namun ternyata, ucapan Ayah tadi justru membuatku terlihat bodoh dan tak bisa mendeskripsikan apa-apa tentang ikan.

Terlahir dengan bentuk tubuhnya yang pipih seperti anak panah, memiliki kepala kecil dan pada bagian mata terdapat warna merah muda. Demikian pula, sisik yang kasar dan hidup di perairan air tawar. Sepertinya memang tak ada yang istimewa dari ikan yang ukuran tubuhnya bisa mencapai panjang 7,5 cm hingga 25 cm. “Entahlah apa yang dipikirkan oleh Ayah tentang lukisan ini, apapun itu, Aku akan mencari alasannya…!!!” sambil menutup buku Anatomi dan Morfologi pada hewan.

***

Baju hitam yang dia kenakan, terlihat serasi dengan pecinya yang berwarna senada. Dia seolah tahu, inilah pakaian terbaik yang diinginkan sang istri. Dan baginya, tak ada lagi pakaian terbaik, selain apa yang dikenakannya saat ini. Bukannya tak ada, selain cinta yang menggerogoti seluruh hati dan pikirannya, baju itu adalah satu-satunya baju terakhir yang dijahit sang istri untuknya. Yah, itu adalah baju terakhir pemberian Bunda untuk Ayah, sebelum akhirnya si jago merah terlihat puas melahap seisi rumah dan merenggut nyawa Bunda.

Hari ini ulang tahun Bunda, Ayah dengan tegap melangkahkan kakinya yang seakan mengakar pada bumi. Langkahnya perlahan, sama pelannya dengan hembusan angin yang begitu lembut mengusap rambutnya. Kesedihan tergambar jelas pada wajah Ayah, dan aku tak berani menatapnya lebih dari tiga detik. Demikian pula bambu yang tumbuh sejajar, menyebarkan perakaran dan Rhizomanya di bawah tanah pemakaman. Seakan pelepah, tangkai dan helai daunnya, tunduk dan berbisik satu sama lain tuk menguatkan langkah Ayah.

Aku tahu ayah sangat mencintai Bunda, itulah mengapa hingga detik ini, dia tak pernah ingin menggantikannya dengan wanita lain. Berada di depan pusara Bunda, adalah hal yang menyakitkan baginya, namun hanya ini satu-satunya cara tuk menyambangi Bunda yang tulangnya kini menyatu dengan tanah. Aku hanya bisa terdiam di kejauhan, membiarkan Ayah melepaskan rindu untuk kekasihnya.

Cukup lama Ayah merefleksikan emosinya, sesekali terdengar suara ketika kondisi emosi dihayatinya dengan intens. Di akhir percakapan dengan pusara sang bunda, Ayah mengangguk pasti dan memintaku duduk di sampingnya. Sepucuk surat berwarna merah muda dia selipakan di nisan Bunda, tertancap pula mawar putih yang melambangkan rasa cinta yang sejati, kemurnian hati, kesucian, juga keanggunan.

Ayah kini hendak beranjak pergi, Aku memberanikan diri menatap Ayah, sembari menyeka air mata yang kini membasahi wajah tirusnya. Aku baru tahu makna lukisan dinding yang membuat Ayah selalu tersenyum. Selayaknya cinta sejati, kisah Ayah dan Bunda tak ada bedanya dengan kebersamaan sepasang French Angelfish yang berburu, berkelana dan berkomitmen tuk tinggal bersama. Hingga waktu pada akhirnya tak lagi berpihak, dan salah satu di antaranya meninggal, sang kekasih yang ditinggalkan memilih mengikrarkan dirinya untuk hidup dalam kesendirian.

Aku tak tahu apa isi dalam surat Ayah untuk Bunda. Tapi aku kini tahu, alasan mengapa Ayah tak pernah ingin menikah lagi. Bukan karena dia tak memiliki hasrat tuk memadu kasih pada wanita lain. Hanya saja, Ayah telah melewati banyak hal bersama kekasihnya, dan kini cintanya di hatinya telah dihabiskan tuk mengasihi dan menyayangi satu wanita, dan yang kutahu pasti wanita itu hanyalah Bunda.

Ilustrasi: http://agnes-cecile.deviantart.com/art/just-one-hour-memory-III-252761513

Secangkir Rindu

Kau adalah puisi, bukan puisi yang sering kubaca atau sering kudengar, tapi puisi yang justru sering kau lihat namun sulit kuterjemahkan maknanya.

Tak mudah memaafkan dan mengabaikan apa yang orang lain lakukan padamu. Terkadang muncul rasa benci yang justru menggerogoti tubuh, hati dan pikiranmu. Seseorang pernah berkata padaku, mungkin dengan mengikhlaskan dan memaafkan akan membuat hidupku jauh lebih baik. Namun aku katakan padanya, “Pernahkah kamu berada di situasi yang sama denganku ?”

Kilat menyambar, gemurung angin mulai berceloteh pada alam, bahwa hujan sebentar lagi akan datang. Lampu tiba-tiba saja padam, aku sama sekali tak terlihat cemas. Kunikmati hembusan angin malam yang bertiup kencang. Menyandingkan si hitam pekat tanpa gula, di ruang rindu dan kuteguk perlahan. Pahit, namun coba kuteguk hingga akhir. Yang terhindang di hadapanku rasanya bukan kopi, tapi secangkir rindu. Meneguknya perlahan, seakan memaki rasa di lintas imaji. Meneguknya sekaligus, pahitnya bak deskripsi mencecar hati. “Sayang, aku rindu padamu, mengapa kau masih asyik menawan hati dan mengajaknya bermain ilusi.”

Ingatanku sekejap berkelana tentang kita. Malam itu, setelan jas berwarna hitam dilengkapi dasi pita berwarna senada. Aku ingat saat terakhir kita bertemu. Tampak kau panik melihat jam tangan Alexander Christie yang melingkar di pergelangan tanganmu. Cincin pertunangan kita telah kuletakkan di saku, siap kusodorkan menghiasi jari manismu. Saat melangkahkan kaki menuju meja makan, keringat dingin telah lebih dulu menyelimutiku. Perlahan alunan musik instrumen menuntun langkahku yang kini mulai teratur. Malam ini spesial untuk kita berdua, terlebih untukku yang siap meminangmu. Kau terlihat pucat pasi melihatku duduk di hadapanmu. Sulit menerka apa yang terjadi, kali ini kulihat di matamu, sorotan tajam dengan gerak tubuh yang kaku. Kau yang terlihat lebih gugup, namun matamu tak berbicara padaku.

Dari kejauhan tampak seorang pria memandangimu, melangkah perlahan dan kini tepat berada di hadapanmu. Suasana semakin tak bisa kupahami, melihat seorang pria berlutut di hadapanmu lebih dulu, membuatku tak bisa berkata apa-apa. Aku mencoba mengigat siapa dia, lalu kupastikan bahwa pria itu benar adalah dia yang pernah mengisi hatimu. Aku geram sayang, sungguh pemandangan ini membuatku naik pitam.

Sayang, aku tahu pria itu adalah dia. Si pecundang yang tak pernah berani menemuimu. Kelas bangsawan yang kini tampak seperti kaum rendahan itu, memohon untuk kembali padamu. Pecundang itu pernah memakimu sayang, baginya kau hanyalah seorang gadis yang bisa digunakan, saat tidak kubutuhkan, dia bisa membuangmu.

“Mana mungkin kelas bangsawan berketurunan raja sepertiku menikah dengan orang desa sepertimu, dari keluarga yang biasa-biasa saja?” Dia laki-laki Bugis-Makassar, dengan bangga meninggikan egonya di hadapanmu. Harga diri dijadikannya sebagai alibi. Tak masuk akal baginya, jika menikah denganmu, sekalipun kamu adalah ibu dari anaknya. Demikian kalimat itu, dia dengungkan ke telingamu, ketika luka caesar yang kau tanggung, masih terasa sakit setiap menitnya.

Aroma busuk akan tercium di mana-mana sekuat apapun kamu menutupinya. Siri’ sebagai harga diri ataupun kehormatan yang dijunjung tinggi keluarga pecundang itu, menodai kehormatan anak gadis orang lain, tanpa mau bertanggung jawab. Saat itu aku masih ingat sayang, kau hanya meminta Ritaroang Siri’ yang artinya ditegakkan kehormatannya, karena bagimu tak mungkin meminta pria lain menjadi Passampo Siri’ yang artinya penutup malu. “Aku bukan ingin mengingatkanmu masa sulit itu sayang, tapi bukankah pria yang selalu ada untukmu hanyalah aku?”

Apa kau masih ingat sayang, saat kau sibuk menenangkan diri, mengumpulkan semua tenaga untuk berdiri tegak di hadapan dia. Menghela napas panjang seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tak bisa. Kala itu aku hanya bisa terdiam sayang, yang kudengar hanya suara isak tangismu yang perlahan mulai samar.

Kau gapai tas kulitmu yang sedari tadi menjadi saksi bisu, dalam ruang yang menjadi perhelatan perdebatanmu. Kau katakan padanya “Apa pantas pria sepertinya disebut sebagai bangsawan?” Sekali pun sulit bagimu, kau katakan lagi “Dia itu hanya sampah. Orang sepertinya bahkan tidak pantas disebut sebagai orang desa.”

Pecundang itu yang notabene adalah orang yang mengatakan dirinya beradat, justru menghilang dan memilihmu orang lain mengalami penderitaan seumur hidup. Orangtua seharusnya mengajarkan anaknya bagaimana cara mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tapi yang dilakukan kelas bangsawan itu, secara diplomatis menyodorkan uang padamu, dan ingin kau berlalu pergi. “Apa kau ingat itu sayang?”. Melihat sikapmu yang demikian membencinya, membuatku merasa akan memenangkan hatimu lebih dari dia.

Sayang, makan malam kita benar-benar sempurna. Sifat dermawanmu kau tunjukkan di hadapannya, dan juga di hadapanku. Pecundang yang dulu membuangmu seperti seonggok kertas, kau buat berlutut dan meminta maaf padamu. Aku tahu sayang kau masih menyimpan cinta dan rindu padanya. Kelemahan terbesarmu adalah tak tega melihat orang lain memohon padamu, terlebih lagi dia adalah ayah dari putri kecilmu. Tepat di hari aku akan memintamu menjadi pendamping hidupku. Aku melihat raut wajahmu yang khawatir sayang. Aku tahu benar, raut wajah itu bukan karena kau khawatir padaku. Kau khawatir padanya, pada pecundang yang masih berlutut saat kau berlari meninggalkannya.

Aku bertanya padamu dalam diamku, saat kita bertemu di lain kesempatan. Ku lihat kau menunjuk seorang pria, yang tengah memegang erat tangan gadis kecilmu. Usianya kini enam tahun, pengingat kita ternyata sudah lama tak bertemu.

Sayang, kau bilang padaku. Pecundang itu masih memenangkan hatimu. “Melihatnya berlutut di hadapanmu kala itu, aku merasa bukan dia yang menyedihkan tetapi aku. Dia orang jahat, itu memang benar. Tapi perasaanmu padanya adalah perasaan yang tetap nyata dan tulus hingga saat ini. Itulah yang menyakitiku sayang, sekarang rasanya perasaan ini menjadi sia-sia. Aku diam di sini menikmati secangkir rindu yang terakhir. Darinya aku belajar sayang. Seorang pecundang, apa pantas sepertinya disebut sebagai bangsawan?” Di balik kesakitan yang kini kurasakan karena sikapmu, aku masih tak bisa mengerti. Mengapa saat punya kesempatan, kamu tak membalas semua hinaan dia padamu. Kamu justru diam, berlalu pergi dan tak melakukan apa-apa.

Sayang, dari kisahmu dengannya, aku pun belajar, tak peduli kamu pernah kalah, berbuat salah atau bahkan jatuh berkali-kali, bersikaplah biasa saja, jangan seperti pecundang yang bersembunyi atau bahkan diam-diam lalu menghilang. Itu mungkin saja adalah permulaan untuk hidup lebih baik, nikmati saja. Mungkin di akhir permainan justru dia yang yang membuatmu terluka, akan merasakan kekalahan yang jauh lebih menyakitkan. Ibarat mata air, kamu masih menjadi sumber kehidupan untukku di masa lalu.

“Apakah bila aku berlutut padamu hari ini, apa kau akan kembali padaku?”. Karena cintaku padamu sayang, sekalipun aku tak ikhlas melihat pecundang itu memenangkan permainan. Aku tetap tidak ingin memperlihatkan kesakitanku padamu, sekalipun aku pernah terluka karenamu. Aku tak ingin seperti mereka sayang, yang biasa disebut sebagai bangkai hidup yang hidup. Di sisa terakhir kopi yang kuteguk, menutup kenanganku denganmu, sepertinya aku akan menangis sepanjang malam, ditemani kenanganmu. Kau tahu arti tangisan ini sayang, aku menangis karena memikirkanmu, yang masih jadi puisi dalam setiap karyaku.

Makassar, 18 januari 2017

Ilustrasi: http://faust-sayuri.deviantart.com/art/coffee-318510632

Burung Tetangga

Sudah enam bulan lamanya, aku berjibaku dengan tradisi yang berbeda dan kini menjadi warga Bali. Bertepatan dengan seminggu Rabu Kliwon Wuku Dungulan perayaan 210 hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan). Perayaan Hari Raya Galungan, menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang menjadi makna filosofis yang dijadikan benang merah pada perayaan upacara keagamaan oleh umat Hindu. Hari ini bertepatan pula dengan seminggu lamanya aku dan burung tetangga tak pernah saling menyapa.

Selama beberapa bulan terakhir aku tak pernah bercerita pada seorang pria. Satu-satunya yang berjenis kelamin jantan yang selalu menyapaku adalah burung milik tetangga. Berasal dari kingdom animalia, dia selalu bahagia memenuhi kebutuhan proteinnya dengan serangga. Dengan bangga kuperkenalkan, salah satu dari kelas aves bergenus gracula ini adalah sahabat terbaikku. Entah aku yang gila, atau mungkin kami berdualah yang tak bisa dipahami oleh orang lain. “Ah…Apapun opini mereka itu bukanlah hal yang penting, yang terpenting adalah kami berdua saling memahami satu sama lain.”

Dia yang tampak gagah dan tampan ini, tidak lain adalah penghuni hutan yang tinggal pada tajuk pohon yang tinggi. Kini dia tak lagi berada di habitatnya, di bukit-bukit dataran rendah dengan daerah ketinggian 1000–2000 m di atas permukaan laut. Buah-buahan yang berdaging tebal dan tidak keras adalah kesukaannya, kepiawaiannya dalam berbicara, menjadikannya banyak dipelihara. Itulah yang membuatnya harus terasingkan jauh dari hutan-hutan basah yang selalu dikunjunginya.

Si Beo kini terpenjara, berada dalam sangkar berwarna coklat, dia terlihat memamerkan tubuhnya yang tampak lebih kekar, sedang hatinya terus merasakan gundah yang berkepanjangan. Entah sejak kapan burung Beo cerdas yang berasal dari Nias ini menjadi dukun ampuh yang selalu berceloteh padaku. Beo dengan jumlah empat jari kaki dan paru yang berwarna kuning, gelambir yang menyatu pada posisi kepala belakang, sedikit warna putih pada bagian sayap dengan keseluruhan warna bulu yang cerah mengilap, kerap kali menjadi pembaca pikiran yang selalu tepat menebak apa yang tak pernah kukatakan padanya.

Hubungan kami cukup erat, Ada makna mendalam sejak percakapanku yang terakhir bersamanya. Akhir-akhir ini wajahnya memang selalu murung dan sinis tiap kali menatapku. Aku memberanikan diri bertanya padanya namun sepertinya dia enggan menjawab.

“Beo…Katakan padaku, apa yang salah dengan inginku?

“Sudah empat hari berselang, sekali pun kamu tak pernah menyapa. Terakhir kali percakapan kita kau akhiri dengan tatapan sinis, kali ini apa lagi?

“Cukup !!! Aku tak ingin bertengkar lagi denganmu.

“Hari-hari yang kulewati sudah cukup merepotkan. Tak bisakah kita berdamai saja?

“Aku rindu dengan kicauanmu yang mengajakku berdebat tentang hujan yang berbohong pada tanah, bahwa dia tak pernah lelah terjatuh berkali-kali. Aku rindu saat kamu menyuguhiku lelucon aneh padahal kamu berusaha menghiburku yang sedang terluka. Aku juga rindu saat terakhir kali kamu terus menyalahkan dia yang pergi dan tak mungkin bisa kembali di pelukku,” protesku dengan wajah yang sedikit geram.

***

Burung milik tetangga memberi isyarat, memintaku duduk sejajar bersamanya. Kandangnya yang bau amis tak membuatku ingin beranjak pergi meninggalkannya. Si Burung mungkin berpikir perbincangan hari ini lebih rahasia dibandingkan kasus kriminal yang harus dipecahkan oleh segerombolan Agen CIA.

Letakku kini sejajar dengannya. Bukannya menjawab rentetan pertanyaan yang ku ajukan, bukan pula bercerita tentang pawisik dari Dewi Durga (Dewi Durgha), yang menjelaskan kepada raja alasan mengapa leluhurnya selalu berumur pendek. Melainkan memberiku petuah dari makna upacara Galungan yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif ( Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya.

Setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi, seluruh umat Hindu kerap memasang penjor. Aku masih melihat puluhan jejak penjor ditancapkan pada lebuh yang pernah terpajang pada hari Penampahan Galungan. Penjor yang menjadi lambang pertiwi bhuwana agung, dipercaya memberikan kehidupan dan keselamatan. Sebagai simbol gunung, penjor diyakini memberikan keselamatan. Hiasan-hiasan berupa daun seperti daun cemara, andong, paku pipid dan pajis ali berdampingan dengan buah-buahan seperti jagung, kelapa, ketela, pisang termasuk pala bungkah, pala wija dan pala gantung. Pelengkap lain yang banyak berserakan tebu dan pis bolong, yang terletak di depan sebelah kanan pintu masuk pekarangan. Sanggah dan lengkungan ujung penjor menghadap ke tengah jalan yang terbuat dari sebatang bambu yang ujungnya melengkung, dihiasi dengan janur/daun enau yang muda serta daun-daunan lainnya (plawa).

Si Beo memintaku memetik pelajaran pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang, menyucikan diri sendiri yang berarti menyucikan pula kekuatan yang ada di dalam diri. Dalam lontar Bali disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada Redite (minggu) Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan mendiamkan pikiran agar tak terus menerus dirasuki oleh perihal buruk sejenis benci dan dendam yang kian bersarang dalam hati.

“Kau sibuk berbagi kata untuk hal yang selalu berjalan di luar logika. Meniru yang rapuh, mengutuk yang maruk, memaki yang sibuk memprediksi. Kepandainmu mengalahkan DIA yang hakiki. Kau terlalu sibuk bercanda pada kecoa yang tak paham apa-apa. Kadang pula hanya membunuh satu per satu semut merah, yang berada di pinggir kardus yang kau sulap menjadi tempat sampah. Tersenyum di balik masa lalu yang kelam, berusaha mengganti hati yang telah patah dan sebagian lagi justru telah menyatu dengan hatimu yang semakin tebal dengan rasa benci. Kau bisa membohongi mereka, tapi tak bisa membohongiku. Kau pandai menyembunyikan luka tapi kenapa tak berdaya di hadapanku. Aku benci dirimu yang menjadi munafik di hadapan mereka, begitu kuat dan tak terkalahkan. “Apa kau tahu betapa tertariknya Drosophilla melanogaster ketika melihatmu memelas di hadapanku, tak ubahnya seperti seonggok nasi bungkus yang sudah tiga hari tak disentuh?”

Beo tak memintaku melakukan Tapa Brata, seperti yang pernah dilakukan Raja Sri Jayakasunu yang belakang terkenal dengan istilah Dewa Sraya — artinya mendekatkan diri pada Para Dewa. Sebab dia tahu benar, baginya bisikan religius tak akan pernah datang padaku selama aku masih pandai berbohong pada diriku sendiri.

“Kamu tahu mengapa kamu masih diselimuti perasaan bersalah atau mungkin ingin membunuh mereka yang kini membuatmu menjadi singa yang siap menerkam? Rasa benci yang terus menggerogoti tubuhmu, menjadikanmu bersikap tanpa berpikir, seperti binatang saja. Itu karena kamu tak pernah menyucikan diri. Jika berat bagimu mendirikan salat, apa berat pula bagimu untuk berwudu? Setidaknya dampak fisiologis dan psikologinya dapat menyucikan dirimu. Makna sesungguhnya yang ingin Beo sampaikan padaku perihal minggu Paing Wuku Dungulan, mengalahkan Butha Galungan yang berarti hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri seseorang.

“Kita memang tak selamanya bisa memenangkan permainan dalam hidup, namun selama kamu masih berusaha, kamu akan selalu punya kesempatan dan harapan untuk mengubah semuanya menjadi lebih baik. Indra Loka, hanya itu pencapaian yang aku inginkan darimu?”

“Bisakah kau berjanji padaku untuk memenuhinya?” ucap si Beo yang kini memalingkan wajahnya.

“Aku bukannya marah padamu, hanya saja aku kecewa melihatmu berusaha membahagiakan orang lain sekalipun kamu harus terluka. Aku ingin kau berdamai dengan dirimu, itu saja…!!!” Soal celetohanku hari ini, aku rasa kau harus memikirkannya.

Makassar, 16 Januari 2017

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/sheshina_katy/parrot/