Semua tulisan dari Rini Ajeng DP

Mahasiswa Sosiologi FIS-H UNM. Siswa di Kelas Menulis Paradigma Institute Makassar. Ketua Kohati HMI MPO Cabang Makassar 2022-2023

Siapa Takut Menjadi Perempuan Unik

“Mereka menertawakanku karena aku berbeda, dan aku menertawakan mereka karena mereka sama”

Seperti itulah kalimat yang telah dilontarkan oleh Kurt Cobain, sosok penyanyi dan gitaris yang lahir dari negeri Paman Sam yang asyik berkecimpung di dunia musik. Lalu apakah tulisan ini akan membahas tentang sosok Kurt Cobain? Tentu saja tidak. Namun mari mencoba  refleksikan makna dari kalimat tersebut.

Fenomena menjadi sama dengan orang lain mungkin sudah biasa, namun menjadi berbeda dengan orang lain, jauh lebih menantang dan luar biasa. Apalagi jika kalimat ini mampu diimplementasikan oleh kaum hawa.

Menjadi seorang perempuan, sama halnya jika kita menjadi sosok yang ambigu, hal ini dikarenakan perempuan kerap kali terpenjara dengan dua pilihan, yakni bebas dari ketertindasan atau hidup dalam kesengsaraan, yang memaksa mereka untuk terjun di ranah tersebut, perempuan dalam lingkungan sosialnya kerap kali dianggap sebagai makhluk yang posisi derajatnya berada di bawah laki-laki. Kendati demikian, perempuan juga harus memiliki kesadaran untuk bangkit dan berupaya agar dapat setara dengan laki-laki terkhusus dalam hal memperoleh hak-haknya.

Kiwari, kita dapat menyaksikan ada begitu banyak perempuan yang berlomba-lomba untuk dapat menyesuaikan dirinya dengan trend di zamannya, terkhusus pada hal yang berkaitan dengan produk kecantikan, hingga pada akhirnya sistem kapitalisme muncul melenggak naik ke atas permukaan, hal ini mampu melahirkan peristiwa eksploitasi terhadap kaum perempuan. Berbicara sedikit tentang kapitalisasi dan eksploitasi. Industri yang berkembang saat ini, seperti industri produk kecantikan, fashion, dan sebagainya merupakan bentuk kapitalisasi dalam lingkup masyarakat, bahkan lingkup secara luas. Dengan hadirnya kapitalisasi ini banyak perempuan yang tidak sadar bahwa apa yang selama ini mereka gunakan, dan apa yang selama ini mereka lakukan ialah hasil olahan praktik kapitalisme. Walhasil banyak tubuh perempuan yang dijarahi bahkan dijadikan konsumsi publik yang berujung pada eksploitasi.

Perempuan jika mampu mengolah akal yang telah dianugerahkan oleh Tuhan YME kepadanya, pasti akan berpikir bahwa hal yang paling utama ialah bagaimana caranya agar anugerah dari Tuhan tersebut dapat digunakan sebaik mungkin demi kebermanfaatan sebagai hal yang bersifat primer, dan menomorduakan hal-hal yang bersifat sekunder seperti menggunakan produk kecantikan untuk menghindari dirinya dari tindakan eksploitasi oleh kapitalisme.

Perempuan diciptakan menjadi sosok makhluk yang memiliki keunikan tersendiri, dan lebih unik lagi jika perempuan tersebut mampu membuat keunikannya tidak sama seperti keunikan yang orang lain punya. Sebut saja di zaman sekarang, mungkin di zaman sekarang hal yang menandakan orang tersebut unik, yakni orang yang mencoba untuk berdikari di atas idealisme yang mereka miliki, yang tidak mudah ikut arus  selayaknya orang lain pada umumnya. Dan jika hal ini dapat diimplementasikan oleh perempuan, tentu saja hal tersebut akan menambah damage dari perempuan itu sendiri.

Sebut saja beberapa perempuan yang saat ini dianggap unik dan menonjol oleh masyarakat di zaman sekarang. Seperti Najwa Shihab,  Kalis Mardiasih, dan lain sebagainya. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang, apakah Najwa Shihab, Kalis Mardiasih dan berbagai perempuan inspiratif lainnya tidak cantik? Tentu saja bukan hal itu maksud dari tulisan ini melainkan mereka lebih jarang terlihat memiliki ciri khas seperti yang telah disebutkan sebelumnya, selain itu tentunya mereka memiliki sisi keunikan tersendiri yang jarang orang lain punya, yakni kecerdasan dan keelokan luar dalam diri mereka yang mampu membuat mereka jauh lebih menonjol dibandingkan dengan perempuan pada umumnya, dan secara tidak langsung kecerdasan pada diri mereka menjadikan mereka terlihat lebih berkarisma.

Perempuan unik, adalah perempuan cerdas dengan segala potensi yang mereka miliki, yang mampu bertahan di berbagai kondisi, yang memiliki semangat leadership dan chritical thinking yang tinggi, yang teduh wajahnya dan tabah hatinya, serta perempuan yang tidak mudah terjerumus dan mengikuti arus yang akan menjadikan dirinya jatuh dan tersungkur dalam lembah eksploitasi.

Dan perlu digaris bawahi, jika spirit perjuangan mereka ini tidak dapat diukur oleh penilaian masyarakat, mereka tidak akan tumbang meskipun mereka menghadapi berbagai problematika, mereka akan menjadi kuat setelah dihantam oleh badai kegagalan, mereka akan bertahan dalam dunia dan pribadi yang berbeda, namun meluncur dalam hal yang bermanfaat bagi sesamanya.

Perempuan yang unik, tidak fokus pada hal negatif, mereka akan berproses menjadi sosok yang positif,  menjadi motivator untuk dirinya sendiri dan orang lain, perempuan yang unik tidak akan cepat merasa puas, mereka seterusnya lapar dan haus akan tantangan, mereka tidak akan menjadi sosok yang pasif, melainkan mereka akan menjadi sosok yang aktif demi kebermanfaatan.

Perempuan yang unik tidak menyukai zona nyaman, mereka akan merasa tersiksa jika berada di zona tersebut, mereka lebih senang berpetualang bersama imajinasi mereka, mereka lebih bersemangat untuk berkeringat di bawah terik intelektual, riset, dan pergerakan, mereka tidak akan berfokus pada perdebatan sumur, dapur dan kasur, melainkan mereka akan berfokus pada perjuangan menumbangkan penyimpangan kultur.

Jika hari ini kita masih menjadi perempuan yang sama, kita akan selalu ditertawakan oleh perempuan yang berbeda. Jika hari ini kita masih berlomba-lomba agar terlihat mengikuti zaman, maka kita akan senantiasa diperbudak oleh zaman itu sendiri. Maka dari itu sebagai perempuan yang seharusnya sadar akan posisi mereka di lingkungan mereka sendiri, harus lebih berpikir berbeda dan memiliki ciri khas yang unik, tentunya mereka akan menjadi sosok yang mampu bermanfaat bagi orang lain, terkhusus orang yang ada di sekitarnya.

Siapkah kita menjadi Perempuan Unik? Perempuan Unik? Siapa Takut!!!

Demonstrasi di Masa Pandemi (Mahasiswa Bersatu Melawan Korona Turun ke Jalan)

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, dan beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Seperti itulah kurang lebih pepatah yang pernah diucapkan Bung Karno dalam pidatonya. Dalam kalimat ini pemuda merupakan elemen penting bagi sebuah negara, dan tentunya kualitas sebuah negara itu biasanya diukur melalui kualitas pemudanya. Negara yang memiliki pemuda yang berkualitas dan produktif tentunya akan menjadi sebuah negara yang unggul dan maju.

Salah satu bagian pemuda adalah mahasiswa. Mahasiswa bukan hanya mereka yang sekadar belajar di kampus setelah itu kembali pulang kerumah. Justru esensi mahasiswa yang sebenarnya  lebih dari itu, mahasiswa bukan lagi seorang siswa yang tugasnya belajar, bukan hanya sebagai rakyat, dan bukan pula sebagai pemerintah. Di sini mahasiswa memiliki tempat proporsional sendiri di lingkungan masyarakat, namun bukan berarti mahasiswa memisahkan diri dari masyarakat. Justru mahasiswa haruslah lebih dekat dengan masyarakat itu sendiri.

Berbicara tentang masyarakat, kali ini Indonesia sedang berada di fase sulit-sulitnya. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan saat ini masyarakat tengah dilema. Di tengah pandemi ini, keadaan perekonomian Masyarakat sedang melemah. Banyak keluarga mengalami defisit pemasukan, belum lagi jika dalam sebuah keluarga memiliki anak yang sedang bersekolah ataupun berkuliah yang harus menambah pengeluaran keuangan. Hal ini akan semakin membuat masyarakat kebingungan, di mana lagi ia akan mendapatkan pemasukan untuk menambal perut lapar keluarganya, menyuapkan ilmu di bangku sekolah, dan kuliah untuk anaknya. Bagaimana cara mereka menyelimuti keluarganya dari kedinginan, dan melindungi nyenyak tidur keluarganya dari hujan, sementara di saat bersamaan mereka sulit mendapatkan pekerjaan sementara pengeluaran semakin hari semakin meningkat.

“Bagai tamu tak di undang”

Sebuah perumpamaan yang sangat pas untuk mewakili keadaan saat ini yang seolah-olah pandemi ini mengajak kita untuk menghitung sudah  berapa banyak jumlah orang yang terpapar, terlempar, atau menggelepar. Yang membuat hidup seolah-olah hanya sekadar deretan angka tak disangka. Bukan hanya itu, kehadiran pandemi ini justru semakin memperkeruh keadaan sebuah negara.

Ditambah lagi kebijakan sekolah dan kampus yang tidak pro mahasiswa, adanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) secara besar-besaran dikarenakan bangkrutnya perusahaan tertentu, dan juga beberapa rentetan kebijakan pemerintah yang baru-baru saja marak diperbincangkan yang sama sekali tidak pro rakyat, mulai dari Omnibus Law, dan beberapa kebijakan lainnya. Yang semakin membuat geram para mahasiswa,

Wiji Tukul pernah berkata dalam puisinya

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang; suara dibungkam; kritik dilarang tanpa alasan; dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: Lawan!” 

Kalimat ini sangat pas untuk menggambarkan kondisi peran mahasiswa sekarang yang memilih cara kritik melalui demonstrasi, meskipun dalam pelaksanaannya menuai banyak pandangan miring. Akan tetapi jalan inilah yang paling efektif digunakan oleh para mahasiswa, selain karena bosan dengan pembungkaman dan penindasan yang dialami oleh masyarakat, hal ini juga dapat dijadikan sebagai alat guna melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dan berani menyuarakan aspirasi di depan umum untuk membela sebuah kebenaran.

Bagi mahasiswa itu sendiri pandemi yang terjadi bukanlah sebuah penghalang untuk menghentikan aksi demonstrasi. Baginya ketidakadilan dan keserakahan oligarki dan birokrasi jauh lebih ganas dan mematikan dibandingkan dengan merebaknya virus ini. Meskipun demikian dalam melakukan kegiatan aksi demonstrasi ini para mahasiswa juga diharapkan untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Maka dari itu mereka menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker, handsanitizer, dll., dalam melakukan demontrasi tersebut.

Dari permasalahan ini ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan. Baik dari pemerintah maupun masyarakat dan mahasiswa itu sendiri. Di antaranya, pelaksanaan demonstrasi ini pada dasarnya berawal dari rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah, maka dari itu pemerintah seharusnya membuat sebuah kebijakan yang mampu menarik simpati masyarakatnya. Selain itu juga masyarakat harusnya lebih kreatif dalam menghadapi sebuah masalah, terkhusus di musim pandemi ini, digitalisasi sangat penting dalam membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,  seperti membuka bisnis online, kursus online, bengkel online, dan pekerjaan yang berbasis online lainnya. Tidak sampai di situ saja adapun inti dari penyelesaian dari permasalahan ini ialah mampu menerapkan sikap saling kasih antar masyarakat, maupun masyarakat dengan pemerintah. Sebuah perbedaan karena masalah adalah rahmat, yang jika mampu dikelola dengan baik akan menciptakan integritas dengan sendirinya.

Kalau bukan kita dari kalangan mahasiswa, siapa lagi yang akan membantu kita dalam memberantas ketidakadilan?