Semua tulisan dari Sandra Dewi

Sandra Dewi murid KLPI angakatan 2. Lahir di Pangkajene, 24 Mei 1989. Besar dikeluarga NU dan membawa nama Filsafat dalam berbagai literaturnya sebagaimana studi yang diampu. Alamat Jl. Dg. Ramang, Btn Gelora Baddoka Indah blok G3/13. Hobi mereview buku/film, menulis essai dan prosa, dan berjuang membesarkan komunitas yang diembannya.

Peran Perempuan untuk Keadilan Ekologis

Lingkungan ataupun ekosistem telah menjadi pembahasan lama yang tidak berhenti diteriakkan. Hampir setiap hari, ekspolitasi alam menyebabkan pergulatan sosial, antara masyarakat miskin, kekayaan alam, dan munculnya kaum pemilik modal yang rakus dan rasis. Membahas isu-isu lingkungan akan mengembalikan ingatan purba kita terhadap ratusan tahun lalu saat seluruh bangsa besar mengekspansi jajahannya guna memperluas kekayaan tanpa memperhatikan proses umur perbaharuannya. Portugis, Belanda, Jepang, atau seperti Inggris ke Malaysia dan India, dan yang paling laris adalah kisah Jerman membabat Inggris meski bersekutu oleh Amerika.

Dari data Asosiasi Industri Plastik (INAPLas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton pertahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut. Sedang data dari Sustainable Waste Indonesia tahun 2017, dari angka tersebut baru 7 persen yang didaur ulang, sementara 69 persen lainnya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA). Dan selebihnya 29 persen menjadi pencemaran lingkungan atau Illegal dumping.

Dan terakhir melalui data Kementrian Lingkungan Hidup pada postingan 2018, untuk data tahun 2017 jenis sampah organik mencapai 60 persen dan kedua terbesar adalah 16 persen dari sampah plastik. Jika dilihat dari foto udara, dapat dibayangkan bagaimana sampah terkhusus plastik memenuhi permukaan bumi yang berasal dari pusat perbelanjaan, dapur rumah tangga hingga perusahan logistik dan kurir. Sampah yang sepanjang jalan dipunguti, disapu, dikampanyekan oleh  Tri Rismaharini Wali Kota Surabaya merupakan keresahan besar terutama perempuan yang selama ini paling dekat dengan wilayah domestik, pengelolaan sampah rumahan, hingga program penghijauan yang masih saja kurang.

Nakabuye Hilda, di Uganda, aktif menyerukan seluruh lapisan masyarakat bukan hanya sesama anak muda, tapi seluruhnya untuk mau mengangkat sampah di laut yang telah tercemar dan menyumbangkan racun dan limbah terbesar penyebab kerusakan ekosistem laut. Nakabuye bersuara untuk merekontruksi kultur domestik yang kotor pada nilai-nilai humanis yang bersih dan seimbang. Ada sampah maka ada pengelolaan sampah. Ada limbah maka harusnya pemerintah melaksanakan aturan jelas UU perlindungan ekosistem, satwa dan habitat lingkungan agar limbah pun sampah bisa dialih fungsikan sebagai bagian dari prisma mahluk hidup.

Pada dasarnya sampah bukan sesuatu yang berbahaya jika saja pihak pemodal mampu mengolah limbah industri agar tidak kontaminan dalam konsentrasi tinggi terhadap lingkungan. Limbah adalah sampah lain yang berkontaminasi dengan komponen lingkungan, rawan beracun dan mudah sekali merusak. Limbah dan pencemarannya merupakan pembahasan penting karena pengerusakan alam telah menjadi isu global, kontruktif dan dimuat dalam forum penting berupa UU Perlindungan Hutan dan lingkungan serta tata kelola limbah dalam bentuk amdal.

Pada acara bertajuk “Jambore Perempuan Pejuang Tanah Air” pada tahun 2017 lalu, datang berbagai perempuan yang menamai dirinya Perempuan Pejuang Tanah Air, berkumpul menyampaikan data dan berdiskusi memikirkan berbagai kondisi alam dan lingkungan yang terdampak sampah pun limbah industri beracun. Ada banyak perempuan tua dan muda berkumpul, mencairkan hati dan pikiran setelah sibuk menekuri kasus-kasus sosial yang terimbas dari pabrik-pabrik besar dan pemodal kapitalis.

Hampir seluruh aura acara berisi orasi, teriakan murka, mengutuk pengerusakan alam, pengeksploitasian lingkungan, dan penggunaan plastik sekali pakai. Dalam suatu wawancara, seorang mahasiswa mendeklarasikan gerakan ekobrick, semacam daur ulang sampah plastik untuk dibuat dalam bentuk hasta karya multifungsi dan ramah lingkungan. Upaya-upaya kecil ikut muncul saling meniru mengembangkan diri dan melahirkan swacipta mandiri.

Titik Balik yang Menguras Emosi

Bukan gampang sekadar duduk sedia menyuarakan pelbagai pemanasan global, perubahan iklim, dampak limbah beracun, hingga penggusuran masyarakat adat dalam hutan konservatif secara rasial dan konfrontatif. Hampir semua perempuan dan meja perjuangan menyampaikan pelecehan hingga pengasingan karena mulut-mulut provokatif, serta penjilat budak kapitalis.

Dalam masa perang melawan kasus-kasus yang dihadapi Perempuan Pejuang Tanah Air telah banyak yang kehilangan rumah tangga, ditinggal anak dan keluarga, dibuang oleh dewan adat, dikeluarkan dalam serikat tani bahkan ada yang sampai dianggap mati karena dianggap sok idealis. Mendapat tekanan dari pihak pabrik, diserang setiap hari oleh kaum penjilat dan tengkulak yang berusaha menanggalkan dan menggagalkan seluruh upaya untuk melindungi hak-hak kawan tertindas dan lingkungannya adalah suratan yang musti dilewati.

Di Nusa Tenggara Timur ada mama Aleta Baun, perempuan Mollo yang getol berteriak untuk memperjuangkan hak-hak para warga adat menentang perusahaan marmer yang ada di sana. Bergerilya tiap malam bersama puluhan ibu-ibu sekampung menenun di celah bukit, sepanjang tahun, sampai ditahun kedua, kedua perusahaan PT Soe Indah Marmer dan PT Karya Asta Alam berhenti beroprasi. Proses panjang ini meraih penghargaan dari Yap Thiam Hien tahun 2016, The goldman environmental prize di San Fransisco, Amerika Serikat. Meski kenyataannya dalam perjuangan tersebut, mama Aleta mendapat stigma pelacur, akibat gerilya pada malam hari.

Tidak jauh beda dengan Gunarti, perempuan Kendeng, yang berteriak menolak pembangunan pabrik semen di Rembang. Mendapatkan stigma miris karena dianggap berlebihan sebagai perempuan yang harusnya didapur dan hanya mengurus anak. Ataupun Eva susanti hanafi yang dikenal sebagai Eva Bande, perempuan Luwuk, meneriakkan keadilan malah dipenjara karena membela petani melawan perusahaan sawit PT Kurnia Luwuk Sejati di Banggai.

Hampir seluruh perempuan dalam jambore tersebut memiliki titik balik yang suram, bahkan mendapatkan banyak kecaman meskipun akhirnya menerima penghargaan dalam medali yayasan lingkungan global. Tapi bukankah titik balik seharusnya tidak boleh dibiarkan, karena hakikatnya mereka membela yang seharusnya. Mengembalikan hak preogratif warga negara terhadap tanah yang ditinggalinya, sebagaimana dalam Alquran surah Ar-Ruum ayat 41, “telah nampak kerusakan di darat dan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Alam dan perempuan bisa dibilang dua subjek yang sering diekploitasi dan terdampak limbah dan sampah. Dalam banyak kasus kekerasan seksual, perempuan meramu diri dalam pahit getir melawan tindakan kasar yang acap kali diterima dari perilaku kuasa laki-laki, sama ketika membahas relasi kuasa pemilik modal kepada buruh dan petani. Perempuan yang lekat pada sentuhan kerusakan dan kekerasan tidak akan sulit berteriak menyatakan perlawanan untuk menolak berbagai pembangunan industri di atas lahan-lahan yang dipaksa dijual dan akhirnya lahan sekitar lainnya harus menanggung limbah pun sampah yang dilepas pihak pabrik.

Mengapa titik balik dari usaha merawat alam tidak mampu menyadarkan banyak pihak bahwa ekosistem dan manusia mampu bertahan tanpa industri polusi, limbah dan sampah. Agar warga adat dan petani-petani di desa tidak perlu merasakan tekanan status antara industri melawan petani konservatif. Mengapa pembangunan besar justru membuat kerusakan bagi lingkungan dalam nilai tinggi, pada pemberdayaan masyarakat miskin dan petani ikut rusak bersama nilai-nilai humanis antara manusia dan alam.

Ilustrasi: https://www.theguardian.com/environment/2020/feb/06/eco-gender-gap-why-saving-planet-seen-womens-work

Mengulik NF Gadis Sadistis Dari Sisi perempuan

Menulis opini NF, gadis kecil yang membunuh tetangganya yang balita secara sadis dan sadar akan menjadi masalah rumit. Saya yakin ada banyak perempuan di luar sana yang memandang gadis ini sebagai ketimpangan. Dan mungkin ada banyak yang menganggapnya kriminal dan gangguan kejiwaan. Tidak salah. Namun untuk kasus ini saya akan sedikit berasumsi praduga tak bersalah seperti headline berita di pelataran media sosial “NF adalah korban kekerasan seksual dan mengalami gangguan kejiwaan.”

Saat membaca soal NF di bulan Maret, di benak saya sebagai perempuan adalah orang tua dan sekolahnya. Ini tidak lepas dari kebiasaan yang menjadi tolok ukur karakter dan pola pikir anak. Dalam studi parenting, orangtua dianggap sebagai pondasi penting bagaimana anak-anak mampu bertahan di wilayah publik tanpa ada kontrol langsung. Atau dalam banyak pembahasan sosial-budaya, lingkungan dan sekolah adalah faktor pendukung pola pikir dan karakter tiap anak. Semua mengarah pada pembentukan kejiwaan dan kemapanan mental anak, apatah lagi dalam hal ini seorang perempuan.

Dalam sebuah postingan seseorang di media sosial yang mengaku sebagai teman NF, dia menyebutkan bahwa gangguan kejiwaan NF sudah tampak dari fantasi seks yang dimilikinya. Umur 15 tahun yang dimilikinya ternyata cukup luas untuk seorang anak yang mampu mengambil keputusan melakukan hubungan seksual dalam bentuk masokis.

Hubungan seksual yang berbahaya ini lantas terjadi atas dorongan kasar hanya untuk kepuasan seksual. Parafilia pada pelaku memuat berbagai tanya, terutama asal muasal dan kontrol orangtua pada pelaku.  Kecendrungan masokis yang memiliki dorongan, fantasi, dan perilaku seksual yang intens dan berulang kali dengan cara dipukuli, disakiti, diikat dan dilecehkan, adalah sebuah proses yang mungkin berjalan paling tidak enam bulan. Fakta masokis pelaku membuka tabir mengapa dia secara tidak normal mampu melakukan perilaku sadistis.

Teringat pada serial psikologi, dalam film Fifthy Shades of Grey, film yang ditolak banyak negara tapi laris dan berhasil menyelesaikan serial secara komplet. Dalam adegan fifthy Fifthy Shades of Grey ada banyak kekerasan seksual, sadis, dan menyentuh pada adegan seksual yang menggunakan alat-alat kasar untuk sekadar menghasilkan kepuasan seksual.

Dalam drama tersebut, sebab utamanya terjadi ketika tokoh-tokoh yang terlibat mengungkap fakta mengapa kecendrungan seksual yang sadis tersebut bermula. Semua dari nilai-nilai dominan, sado-masokis, aktif dan pasif, atau pada kepuasan-kepuasan yang tidak dilatari oleh hasrat dan cinta.

Dalam film yang berlatar romantis-erotis, jika dikaitkan karakter NF bisa kita tebak memiliki pola-pola berinteraksi seperti apa. American Psychiatric Associations Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorder, menyatakan masokis dan sadimasokis dialami terjadi atas gangguan kepribadian, penyalahgunaan obat-obat, kecemasan dan gangguan afeksi. Ini belum pada refleksi psikoanalisa yang untuk memaparkan bagaimana parafilia ini menjadi bagian dari pembahasan kesadaran dan prinsip sosial-psikologis pada pertumbuhan anak dan tanggung jawab moral hubungan bertetangga dan konsekuensi relasi superior-inferior.

Saat melakukan pembunuhan NF sedang hamil, NF mengalami kekerasan seksual dan tidak mampu melakukan perlawan hingga akhirnya melakukan pembunuhan dan mengakuinya pada kepolisian. Dalam barang bukti tulisan yang pelaku buat, terjadi implikasi bagaimana kepribadiannya ini memicu perbuatan sadis.

Kehamilannya bahkan mungkin bisa pula memicu perlakuan sadis atau pembunuhan yang dilakukannya, mengingat hormon dan kesadaran perempuan hamil terjadi secara acak dan sering dalam kondisi yang lemah. Sejauh pantauan dari hasil bacaan media sosial soal NF, saya merasakan sebuah ketakutan. Bagaimana jika keputusannya merawat anaknya tidak berakhir baik, menjadi ibu bukan perkara satu atau dua tahun sebagaimana saat menyusuinya. Tapi menjadi ibu itu selamanya.

Tanggung jawab melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, hingga mengontrol secara tidak langsung pada anak akan terus terjadi dan tidak bisa diselesaikan hanya dengan kondisi tua atau sakit. Menjadi ibu ataupun hamil, sebenarnya dua hal yang berbeda. Apatah lagi jika NF belum menyadari apa yang dilakukannya sebagai kejahatan sadis dan apa yang dipikulnya secara moril adalah perbuatan yang berpengaruh pada masa depannya.

Dalam penjelasan K.H. Husein Muhammad, terdapat penjelasan muharib, seiring dengan pemakna dalam surah Al-maidah ayat 33, muharib juga bermakna melukai, melakukan ancaman, atau pelecehan seksual. Hal ini diambil dari pandangan Ibnu Hazim, yang secara terang-terangan menganggap hirabah dalam kata muharib adalah pelecehan seksual.

Kekuasaaan dan kekerasan adalah dua hal yang jika disematkan pada satu subjek akan sangat berbahaya, sedang jika dihadapkan pada perempuan, logika kita sering diarahkan kepada kemungkinan sikap kuasa laki-laki pada perempuan. Hal ini menurut Kiai adalah kecenderungan konstruksi sosial yang dimapankan. Kisah NF yang mengalami kekerasan seksual dan psikis membuat kita mencari tahu siapa laki-laki yang dengan tega merusak mental, kepribadian dan mengubah pola tingkahnya sehingga berujung pada sadistis.

Dicatat dari hasil penjelasan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementrian Sosial, Harry Hikmat mengatakan “NF adalah korban kekerasan seksual oleh dua orang pamannya dan seorang pacarnya,” penyataan itu akhirnya membuka fakta lingkungan dan orangtua macam apa yang tega membuat seorang gadis kehilangan akal sehatnya dan terjebak pada gangguan kejiwaan. Nilai dominan dan ancaman pada korban rasanya cukup untuk dianggap muharib dan hal ini harusnya tidak hanya didampingi selama NF mengalami persidangan melainkan hingga masa pendidikan parenting dijalani. Rehabilitasi mungkin akan mengobati tapi tanggung jawab moril atas kesalahannya dan tanggung jawab besar pada anaknya tidak boleh diputus hanya sampai proses persidangan.

Dalam RUU-PKS kita mendesak pemerintah melakukan pendampingan terperinci dan adil pada pelaku sekaligus korban. NF adalah pelaku sekaligus korban yang paling banyak menerima dampak. Fakta bahwa usianya masih lima belas tahun, perempuan hamil, dan sebentar lagi akan memilki anak akan sangat urgen untuk disikapi secara intens, karena NF bisa saja mengalami berbagai persoalan jika dibenturkan pada persoalan hormon, dan masa-masa hamil yang tidak bisa diwakili. Masa hamil NF terasa sangat miris, apalagi pernyataan kesiapannya masih berada dalam ambang kesadaran dibawah rata-rata.

Upaya merehabilitasi dan dukungan hukum bukanlah akhir dari proses menyelamatkan NF dan mengeksekusi kasus ini. Ada banyak tugas yang menanti jika ternyata NF akhirnya melahirkan anaknya dalam stigma masyarakat yang keras. Tidak menikah, membunuh, masokis, masih muda, dan melahirkan anak dari hasil kekerasan seksual oleh pasangannya, adalah beban tambahan yang seharusnya dipikirkan kedepan, mengingat NF juga dalam pribadi yang tidak sadar dan siap.


 

Ilustrasi: https:https://silvygambar.blogspot.com/2020/01/sedih-gambar-wanita-menangis-animasi.html

Pemuda dalam Lingkaran Konflik Kepentingan

Menggugat adalah sengketa antara pihak yang dirugikan dan merugikan. Dalam beberapa kasus sengketa penting sekali andil lembaga hukum untuk melihat siapa yang mampu membuktikan kebenarannya. Namun seringkali sengketa berakhir dengan siapa yang bayar paling besar kepada mediator atau siapa yang paling kuat mengakusisi posisinya. Dalam sejarah misalnya kita bahkan pernah dijajah dan harus melihat pihak asing berebut tanah yang menjadi hak kita, tetapi bangsa Indonesia yang menjadi pribumi malah tidak muncul dalam sengketa karena menjadi tawanan perang, pihak asing berebut menguasai dalam dekade panjang hingga akhirnya masyarakat nusantara menjadi tuan rumah di rumah sendiri. Sebuah spekulasi sejarah dan hukum yang memilukan tapi nyata hingga di masyarakat kesinian.

Gugatan atas sengketa kali ini datang dari ribuan aktivis dan pengamat politik yang tidak pro terhadap program yang dikeluarkan presiden pada masa pandemi meskipun program tersebut bagian dari penanganan dampak pandemi terhadap tingginya jumlah pegawai, buruh, dan pemuda yang dipecat atau PHK oleh perusahaan karena kebijakan dan putusan efisiensi. Namun hal kritis dari beberapa pengamat ekonomi dan politik kontra terhadap kasus ini, meski digadang mampu menanggulangi persoalan sosial-ekonomi justru kebijakan ini dianggap tidak relevan, tidak perlu, bahkan melanggar hukum. Semua karena simulasi program terkait ditangani oleh mitra perusahaan milik staf khusus presiden.

Lalu apa ikatan yang mengkorelasikan kasus pandemi, program prakerja dan para pemuda inovatif staf khusus ini. Awalnya, beberapa staf khusus ini melakukan rangkap jabatan, mengeksekusi tender tanpa lelang, dan membuat kesalahan administratif. Segelintir masyarakat mungkin bisa memaklumi rangkap jabatan dan kesalahan administratif jika dilihat dari sudut pandang birokrasi dan sepak terjang hingga integritasnya. Tapi pihak penggugat secara terbuka menyampaikan apa yang mereka sesalkan tidak bisa dimaklumi sebagai dasar tuntutan sejumlah uang dan sejumlah kesalahan yang tidak layak sebagai staf khusus.

Dari sejarahnya pemilihan staf khusus memiliki kriteria sulit yang terdiri dari peneliti, akademisi, hingga profesional ahli di berbagai bidang. Sejarah mengungkapkan makna pemuda yang lekat pada staf khusus sekarang adalah warisan sejarah yang tidak main-main, makna pemuda sebagai pembawa “nyala” percis dalam penjelasan sejarah-politik adalah semangat revolusi. Salah satu pemuda revolusioner yang dikaitkan pada nyala tersebut adalah Soekarno yang ditembang sebagai panglima fajar yang secara semiotik dianggap cahaya dalam kelam peradaban Indonesia pada penjajahan asing dahulu, juga sosok muda perempuan lainnya pada abad ke-19 yakni Kartini, hampir seluruh suratnya mengutuk kegelapan memberi simbol bagaimana cahaya bagi pemuda adalah semangat perubahan dalam literatur lintas budaya. Salah satu isi suratnya “we don’t intend to make our students to become half Europeans or Javanese mimicking Europeans”. 

Irisan dari sense of contuinity dalam bahasan sejarah, pemuda dalam simbol “nyala” atau “semangat revolusioner” membuka fakta miris bahwa pemuda hari ini terputus dari ingatan kolektif bangsa dimasa lalu. Sebuah jarak dimana mereka malah memahami birokrasi dalam ruang sempit, kapitalisme, borjuisme, pada akumulasi sisa-sisa doktrin dari politik bapakisme atau politik-kekeluargaan (familial-politico) khas Soeharto. Pemuda bentukan privilij yang khas tentang pamrih, tentang hak istimewa yang disispkan pada UU dalam penjelasan khusus yang mencakup eonomi, sosial dan politik mereduksi revolusi, pemuda, dalam moralitas, politik dan lintas generasi, sebagaimana penjelasan Ben Anderson pada pembacaan terhadap gerakan Budi Utomo.

Pemuda dalam pergerakan memiliki peran protagonis pada sejarah peradaban, dan pemikiran progresif. Pada kontruksi political wiil di atas, pemuda dalam nyala revolusioner tidak memikirkan fee melainkan value. Mereka aktif mewakafkan pengetahuan dan meringkus kesenjangan dalam aksi solidaritas heroik yang serta merta menempatkannya pada ujung tombak kemerdekaan saat itu. Prinsip moral commitment pemuda dalam semangat revolusioner oleh Albert Camus, tidak memburu keuntungan maupun kepentingan pribadi, adalah prinsip lahirnya kata nyala yang mengindikasi pada harapan diantara keadaan buruk menimpa suatu bangsa.

Staf khusus dan hak istimewanya adalah tanggung jawab berdasarkan UU dan Peppres no 17 tahun 2012 pasal 1 dan 2 bersifat operasional 24 jam bersama presiden. Menunjukkan integritas dan nasionalisme di atas hak otoratif sebagai seseorang dalam jabatan khusus dan atau CEO perusahaan baik sebelum menjadi staf khusus. Dan konflik kepentingan adalah mekanisme struktural yang diskondisi dari rangkap jabatan staf khusus. Dalam banyak pandangan pihak yang bergelut dalam birokrasi, konflik kepentingan ini masih dimaklumi jika ditelusuri sebagai pemberdayaan untuk perusahaan muda yang sedang menuju persaingan global, namun tidak di masa pandemik saat negara dirudung resesi dan rendahnya harga sumber daya alam dan sumber energi pada pasar Internasional..

Sorotan tajam pihak penggugat karena hak istimewa para pengusaha muda ini telah menyebabkan keputusan mitra perusahaan di tengah pandemi covid-19 jatuh dalam putusan oligarki. Penjelasan Donny Gahral Adian sebagai staf juru bicara kepresidenan menegaskan bahwa pemilihan perusahaan mitra ini sudah sesuai aturan justru kembali mengungkapkan bagaimana pemerintah mengambil keputusan yang tidak proporsional. Melibatkan mesin virtual untuk merekayasa subsidi dana tunjangan langsung kedalam pogram kartu prakerja menelan biaya besar dan tidak efektif adalah tindak korupsi, apalagi jika diaplikasikan secara merata.

Karena peta kondisi ekonomi negara sebelum dan selama pandemik menunjukkan bahwa ada banyak KK yang tidak menjangkau listrik, kuota internet, bahkan tidak memerlukan program ini karena posisnya sebagai buruh harian dan waktu kerjanya tidak sefleksibel mengakses jaringan internet pada program prakerja. Jauh lebih fungsional jika dananya dipakai untuk mensponsori BLK yang telah lama ada dan memiliki output riil di masyarakat bahkan hingga pelosok desa, dan jika staf khusus ini memang punya empati seharusnya proyek prakerja dilahirkan dalam program percuma tanpa dana pemerintah untuk mewujudkan nyala revolusioner dan pemberdayaan yang menjadi alasan rasional terpilihnya sebagai staf khusus.

Tendensi publik pada staf khusus bukan sekedar menyoroti rangkap jabatan yang sedari awala adalah alasan profesional presiden memilihnya. Kecerdasan dan riwayat pendidikan mereka sebagai pemuda sangat diapresiasi, dan memberi harapan lahirnya kultur dan nilai-nilai baik kedepannya. Berbeda jika dikaitkan dengan konflik kepentingan yang sangat riskan merusak sistem keadilan, sistem ekonomi Negara yang melewatkan fungsi dan tujuan awal pemebentukan staf khusus yang terdiri pemuda-pemuda sukses tersebut.

Apa yang digugat masyarakat adalah memelihara kondisi kritis agar tidak chaos, tingkat pengangguran tinggi menghadapi ketidakstabilan politik, keresahan bisa berubah kerusuhan, bisa jadi kriminalias, bisa jadi ekstrimisme. Tujuan program kerja sebagai penanggulangan pengangguran seharusnya menjamin keberlangsungan hidup masyarakat secara merata, dan tidak mengekspose mitra perusahaan yang justru tidak memiliki dampak besar pada pekerja, petani, pedagang pasar, buruh harian, buruh kasar, hingga jenis pekerja desa yang kebanyakan hancur bukan karena dipecat, tapi karena perputaran uang sedang layu dan merosot.

 

Gambar: https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/money/read/2020/04/26/093238626/deretan-stafsus-jokowi-ekonom-pengusaha-hingga-relawan-pemilu

Dove Kembali Hadirkan Reintrepetasi Laba di Tengah Pandemi

Saya rasa pandemi Covid-19 semakin hari semakin akrab dan tidak lagi begitu menakutkan seperti awal mula pemerintah dan aktivis serukan untuk merumahkan segala aktivitas. Berbagai pergerakan sosial masyarakat dikontrol dari bilik-bilik privasi untuk menghalau kemungkinan ledakan pasien positif dan naiknya data kematian karena virus Covid-19. Virus dengan berbagai sejarah dan isu-isu yang menungganginya ini telah merebut perhatian global dan meringsek ke lapisan konglomerat. Jika pandemi berdampak pada kaum proletar mungkin sudah biasa, tapi kemudian menjadi seru rasanya ketika bigdaya dan figur tersohor dibuat pula kelimpungan mengurasi ekonomi dan nasib usahanya.

Di Korea Selatan pemerintahnya sibuk menggerakkan rapid tes dan PCR agar data-data total penduduk bisa dipisahakan antara yang ODP, suspek, PDP, dan positif, segera dipotong dan dimukimkan secara ketat di ruang inkubator nasional. Korea Selatan melaksanakan berbagai peluang untuk menyelamatkan rakyatnya agar tidak ada yang tumbang walaupun pada akhirnya ada yang meninggal, Korea Selatan memilih memberdayakan tim medis dan menjaga rakyatnya. Sesari informasi di media elektronik mengungkapkan bahwa virus ini mampu mamatikan pasien jika usianya rentan, punya penyakit bawaan, dan imun tubuhnya diambang lemah, atau prinsipnya komplikasi.

Hampir senasib dengan gejala virus flu lainnya. Dengan bolak-balik RATAS (rapat terbatas) dan pergulatan opini, pemerintah di negara manapun melakukan pencegahan separatis meski ada anjuran WHO dan nasihat para ilmuwan profesional. Pandemi global yang berasal dari binatang ini tidak pelak bergemuruh merisaukan banyak pihak dan seluruh lapisan masyarakat. Apalagi yang tersisa? tentu saja rasionalitas dan nilai-nilai kemanusiaan.

Amerika sebagai negara adikuasa yang dominan membiayai organisasi kesehatan dunia, WHO, akhirnya menghentikan donasi dan fokus meredam berbagai tekanan rakyatnya yang mulai terprovokasi dan keluar kejalanan berdemonstrasi menolak swakarantina. Sebagai negara yang kerap ditandai sebagai pihak konspirasi, tentu ini kabar lucu untuk negara lain atau musuhnya sekalipun. Pandemi dengan akurasi data yang nyaris dipenuhi sketsa konspirasi hingga menelurkan banyak praktik-praktik perlawanan, ilmu spekulasi positivisme, menambah dereta tajam bagaimana mental tiap orang dikerumuni oleh info ancaman. Setiap orang dipaksa berdiam sebagai bentuk soliter nan solider.

Di indonesia yang notabene dikuasai oleh masyarakat muslim, hingga kini masih sering meributkan selebrasi keagamaan yang dilarang, ditunda, ditiadakan hanya karena penularan massiv sars-cov2 ini. Buat banyak aliran agama Islam, meniadakan salat berjamaah telah menurunkan akidah dan menguji keberimanan. Namun sekali lagi ini ditampik dan dilarang oleh pemuka agama. Indonesia adalah negara dengan daya komsumsi besar, jumlah penduduk sangat mendukung agresivitas putaran uang, bahkan sebagian besar kini lahir dari ekonomi syariah yang juntrungannya masih simpang siur.

Banyak perusahaan di masa pandemi memilih meredam aktivitasnya dan melaksanakan WFH, ataupun merumahkan pegawai dengan status kontrak atau mitra. Seluruh aktivitas perusahaan menunjukkan kondisi cari aman, dan melarikan sisa aset untuk mempertahan eksistensi hingga masa pandemi berakhir. Tapi siapa sangka salah satu perusahaan terapi kecantikan, Dove, melakukan “pemberdayaan” untuk berdampak kepada masyarakat. Memberi cerminan berbeda dalam menghadapi masa-masa resesi pandemi covid-19.

Di sebuah ulasan akun Instagram platform creative consultant, Vosvoyers, Dove ditampilkan melakukan tendangan telak terhadap rendahnya putaran uang saat ini. Melalui gerakan amal, produk dari Unilever itu menunjukkan kepeduliannya, dampaknya, secara gamblang sesuai dengan konsepnya yaitu “courage is beautifull.”

Sejak pandemi berlangsung Dove mengkampanyekan nilai-nilai kecantikan dari para perawat perempuan yang tengah menjadi garda terdepan melawan pandemi ini. Apresiasi besar semakin nyata ketika perusaan Dove di Inggris menghentikan penjualan dan menyiarkan iklan dengan seruan “we dont care which soap you use, we care that you care.

Kampanye humanis di balik stigma industri kapitalis yang cuma menghitung laba besar, menggiring opini masyarakat untuk membeli produk Dove tanpa harus menunggangi label halal, ecofriendly, serta meluruskan makna cantik yang purnarupa ke dalam satu konsep baku warna kulit. Dove adalah contoh industri value yang sedang marak di zaman generasi milenial berhasil meraup simpati dengan konotasi sentimentil.

Pandemi menjadi panggung tersendiri bagi banyak pihak untuk menghidupkan kembali riwayat jatuhnya harga barang dan rendahnya daya beli. Dove merepresentasi nilai peduli dalam bentuk pemberdayaan. Menggunakan kekuasaan untuk menyetop penjualan dan melakukan iklan-iklan berbau kepedulian agar konsumen menjatuhkan pilihannya pada Dove tanpa harus ada iming-iming kecantikan. Kecantikan dari dalam adalah bagian dari konsep yang dibangun agar Dove secara tidak langsung berhasil menciptakan pasar barunya. Karena dalam ilmu pemberdayaan kita mampu mengontrol melalui semacam tindakan nyata, pemulihan, ikatan emosional, pembangunan dengan harapan kemanusiaan, melalui kepercayaan. Kepercayaan inilah mata uang yang dipakai untuk membeli prodak-prodak dove.

Apapun yang kita coba lakukan di masa swakarantina ini tentu bukan untuk menghidupi diri sendiri tapi untuk saling menguatkan dan menjadikan kepedulian sebagai tameng kedua menghalangi gelombang setelah pandemi yakni chaos-nya masyarakat dan hilangnya simpati rakyat kepada pemerintah. Naiknya emosi kaum muda untuk melakukan demo-demo penolakan terhadap upaya-upaya genting yang rawan risiko. Apalagi industri sedang jatuh, dan rakyat miskin diserang kecemburuan sosial atas konglomerat yang belum kehabisan harta.

Gambar: https://fineartamerica.com/featured/dollar-puzzle-2-chris-van-es.html

Kim Ji-young dan Depresi Pengasuh yang Asih

Lanjutkan membaca Kim Ji-young dan Depresi Pengasuh yang Asih