Semua tulisan dari Siti Indah Khanazahrah

Lahir di Kabupaten Enrekang 5 Juli 1991. Sekarang menetap di Pondok Nugraha, Tidung, Makassar. Pendidikan terakhir, S2 Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Pengurus Masika ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Makassar dan Pengasuh Rumah Kajian Filsafat Makassar.

Stoikisme Memandang Persoalan Hidup: Esai Anti-Galau

Stoikisme muncul pada abad ke-3 di Yunani dan Romawi kuno, ditemukan oleh filsuf Yunani bernama Zeno. Selanjutnya dikembangkan oleh sederet filsuf Romawi seperti Seneca, Epictetus sang budak, dan Marcus Aurelius seorang kaisar Romawi. Suatu kelangkaan bahwa seorang budak dan seorang kaisar bisa bertemu lalu bersama-sama mengimani satu tradisi pemikiran atau sebuah falsafah hidup, padahal Epictetus maupun Marcus Aurelius memiliki pengalaman hidup yang sangat jauh berbeda.

Secara sederhana stoikisme menganut prinsip bahwa kehidupan ini harus disikapi secara rasional. Stoikisme mengandaikan bahwa secara keseluruhan alam semesta ini adalah kosmos; sebuah tatanan sehingga segala sesuatunya tidak mungkin mengalami kekacauan. Apabila terjadi kekacauan maka itu hanyalah penampakannya saja. Seperti kekacauan seolah-olah yang ketika diteliti lebih mendalam, menyimpan keteraturan, susunan yang simetris, tatanan yang harmonis dan terkelola secara rasional.

Inilah yang menjadi dasar bagi stoikisme dalam ajaran etikanya. Misalnya saat menyikapi penderitaan dengan menggunakan sudut pandang “dari kejauhan” yang oleh Marcus Aurelius diistilahkan “memandang bagaikan burung di angkasa”. Penderitaan dianggap sebagai sesuatu yang jauh, berada di luar diri kita dan tidak semestinya mempengaruhi ketenangan diri kita. Kita adalah yang memandang diri kita dari kejauhan. Demikian juga dalam berelasi, seorang stoik memandang orang lain dan segala sesuatu terhimpun dalam satu logos yang seharusnya hidup berdampingan dengan selaras.

Diantara aliran-aliran filsafat, stoikismelah yang paling lama berjaya yaitu sekitar 500 tahun dan dianut mulai kalangan budak sampai aristokrat. Stoikisme dianggap sangat berguna dalam keseharian karena menuntun manusia untuk senantiasa stabil, damai, terutama ketika menghadapi situasi paling rumit sekalipun dalam hidup. Stoikisme memandang penting penguasaan diri karena dengan menguasai diri, kita menjadi mudah mengelola emosi dan tahan mental. Salah satu prinsip stoikisme adalah kita hanya bisa mengendalikan apa yang berada dalam kendali kita, seperti pikiran dan tindakan kita.

Sedangkan segala yang di luar dari pikiran dan tindakan sendiri adalah di luar kendali. Kita tidak memiliki kesanggupan mengontrol sesuatu yang bukan bagian dari wilayah kerja pikiran kita. Dan karena itu, yang bisa dilakukan atau yang bisa dikendalikan hanyalah penilaian kita terhadap segala yang ada di luar diri kita. Perihal eksternal atau segala yang ada di luar diri kita di antaranya adalah keseluruhan situasi, peristiwa, perilaku, tindakan, dan persepsi orang lain akan diri kita.

Stoikisme yang menekankan dimensi internal (batin) manusia, sangat berguna dalam kehidupan terutama saat berhadapan dengan penderitaan. Maka suatu kewajaran ketika di zaman modern ini stoikisme menjadi dasar psikoterapi terutama untuk kasus depresi. Di sisi lain, stoikisme menjadi sebuah filosofi praktis atau konsep hidup yang bagi manusia bisa dilatih, digunakan, dan diterapkan dalam keseharian. Yang kita bisa uraikan menjadi beberapa langkah :

Pertama, melatih kemalangan. Pada dasarnya semua manusia takut mengalami penderitaan, apa dan bagaimanapun bentuk penderitaan itu. Maka manusia perlu melakukan latihan-latihan atas apa yang paling ditakutkan lalu kemudian melakukan simulasi. Para stoik menyarankan, untuk melatih ketangguhan menghadapi penderitaan, bisa dengan cara membayangkan atau mempraktekkan secara langsung skenario-skenario terburuk yang bisa menimpa manusia. Hal tersebut untuk melatih manusia, agar bisa dalam kondisi baik-baik saja ketika ditimpa kemalangan.

Filsuf stoik, Seneca memberikan contoh. Dalam setahun sebanyak 2 kali menerapkan perilaku sederhana seperti menanggalkan pakaian bagusnya, lalu memakai baju kumal dan kotor. Menggunakan lantai yang kasar untuk tidur, memakan roti yang sudah keras dan meminum air dari mangkuk hewan peliharaannya. Melalui contoh tersebut, Seneca ingin menempatkan diri dalam situasi dan kondisi yang tidak nyaman untuk membentuk stabilitas dan keseimbangan mentalnya. Demikian juga bagi kita, bisa melatih kemalangan dengan cara hidup yang sangat sederhana atau membayangkan secara detail keadaan paling parah yang bisa menimpa kita. Berupaya mencari solusi, apa saja yang akan dilakukan ketika harus menghadapi kemalangan itu. Dengan latihan kemalangan, bisa menjadikan kita selalu dalam ketenangan meski kemalangan benar-benar datang dalam hidup kita. Seneca mengatakan; “kemalangan yang tidak terduga seringkali yang paling menyakitkan. Karena itu, orang yang bijak sudah memikirkan kemalangan itu lebih dahulu.”

Kedua, dikotomi kendali. Stoikisme menganut prinsip dasar bahwa manusia tidak seharusnya melawan sabda alam. Manusia harus selaras dengan alam dan fokus pada apa yang bisa dikendalikan. Oleh karena itu, dalam memandang realitas kita harus bisa membedakan apa yang mampu kita ubah dan yang tidak mampu diubah; apa yang mampu kita pengaruhi, dan yang tidak mampu dipengaruhi. Misalnya ketika kita menginginkan untuk dihargai orang lain, hal yang bisa dilakukan hanyalah bagaimana membentuk diri kita sebaik mungkin, menjalin relasi yang damai, membangun cinta kasih dan sejenisnya. Tidak perlu meminta terlebih memaksa orang lain menghargai kita karena sekeras apapun itu dilakukan, persepsi orang lain sudah bukan dalam wilayah kendali kita. Kita hanya membuang-buang waktu ketika memaksakan mengubah persepsi orang lain. Akan lebih bermanfaat jika waktu dan tenaga kita difokuskan untuk memikirkan dan mengubah segala yang bisa dikendalikan.

Ketiga, melatih menulis. Salah satu aktivitas wajib para filsuf stoik adalah menulis. Bagi mereka menulis adalah bentuk permenungan diri untuk bisa lebih jauh mengenal diri. Dan dengan mengenal diri bisa lebih mudah mengontrol emosi termasuk apa saja yang harus dilakukan untuk memelihara keseimbangan mental. Tentang apa yang bisa ditulis dalam keseharian, para stoik menyarankan menulis apapun yang dianggap menarik; apakah itu sesuatu yang di dengar atau disaksikan langsung, hal-hal yang harus disyukuri, termasuk kemalangan atau derita yang dijumpai pada hari itu.

Keempat, melatih persepsi. Marcus Aurelius berkata, “memilih untuk tidak tersakiti, maka kita tidak akan tersakiti.” Jika kita menolak tersakiti maka kita tidak akan tersakiti. Ini salah satu mantra yang kerap didendangkan dalam stoikisme, bahwa segala kenyataan di alam raya ini bersifat netral, manusialah yang memberinya rasa. Misalnya ketika menghadapi rekan kerja yang tidak kooperatif, maka kita bisa mengendalikan diri. Jadikan momen ini sebagai motivasi dan kesempatan yang menguntungkan.

Kelima, memandang sesuatu dari kejauhan atau perspektif luas. Ketika menemui kemalangan, cobalah berhenti atau mundur selangkah. Langkah tersebut membuat kita bisa mengamati kemalangan dalam konteks yang lebih luas dan memastikan diri tetap tenang. Ibarat seorang astronot yang mengamati bumi dari kejauhan, menyadarkan betapa kecilnya manusia dengan segala permasalahan-permasalahan hidupnya. Filsuf stoik, Pierre Hadot mengatakan; “memandang dari atas mengubah penilaian kita pada sejumlah hal; kemewahan, kekuasaan, perang dan sejumlah kekhawatiran kita dalam kehidupan sehari-hari jadi terlihat konyol.”

Keenam, tidak ada yang kekal, semuanya fana. Pada dasarnya kita semua telah memahami tentang kefanaan hidup. Tentang semua pencapaian hidup seperti identitas, prestasi, reputasi, kepemilikan barang atau manusia, semuanya tidak ada yang permanen dalam hidup kita. Maka yang perlu difokuskan menurut para stoik adalah kehidupan sekarang. Pikirkan untuk membangun diri menjadi pribadi yang baik, jalin tali kasih dan lakukan segala yang benar untuk mengisi keseharian kita.

Ketujuh, mengingat hari kematian. Marcus Aurelius mengatakan, “kita bisa meninggalkan hidup ini kapan saja, maka jadikanlah ini penentu apa yang kita lakukan, katakan dan pikirkan.” Tidak ada yang tidak gentar di hadapamn kematian. Memikirkan kematian tentu melahirkan kecemasan bahkan depresi bagi manusia. Oleh karena itu, para stoik menyaranakan kematian perlu ditafsir ulang untuk mendapatkan pemahaman yang lebih menenangkan. Para stoik memandang, memikirkan atau memahami kematian seharusnya melahirkan kerendahan hati, dan membangun semangat dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna.

Kedelapan, mencintai takdir. Filsuf stoik, Epictetus yang juga seorang budak mengalami kelumpuhan permanen, dalam hidupnya menghadapi kesulitan berkepanjangan. Ia mengatakan, “jangan berharap sesuatu terjadi seperti yang kau inginkan, sebaliknya berharaplah apa yang terjadi, terjadi sebagaimana mestinya, maka itu kau akan bahagia”. Cobalah menerima apapun yang terjadi dalam hidup kita; seberapa pun menantangnya keadaan itu, bahkan cintailah situasi itu untuk memudahkan mengubahnya menjadi motivasi dan peluang. Raih sebanyak mungkin peluang, fokus pada bagaimana membangun diri yang lebih baik.

Penderitaan, kemalangan, cemas, gelisah dan sebagainya memang mutlak dirasakan oleh semua yang bernyawa terutama manusia. Tetapi saya maupun Anda tentu tidak menginginkan kehidupan di bawah bayang-bayang derita yang berlarut. Dengan akal kita bisa memikirkan cara apa yang dilakukan sehingga hidup bisa lebih berwarna, damai dan produktif. Menjalani terapi atau meditasi telah banyak dilakukan, atau bisa juga memilih menganut filosofi praktis seperti stoikisme ini. Filosofi ini akan menuntun manusia mudah mengendalikan emosi, sehingga segala derita yang ada lebih mudah dicegah atau setidak-tidaknya berkurang. Tentu tidak mudah mengamalkan filosofi ini, tetapi dengan kesabaran dan ketekunan semoga bisa membantu dan stoikisme bisa menjadi langkah bagi Anda merasa lebih tenang dan bahagia. Selamat mencoba..!!

Perempuan, Terorisme, dan Problem Literasi

Sejarah perempuan selalu diwarnai eksploitasi yang mengharukan. Hari ini, permasalahan yang sama belum berakhir. Hanya “wajah” eksploitasinya yang berbeda baik waktu maupun konteksnya. Faktanya bisa disaksikan, bagaimana dunia industri memosisikan perempuan, bagaimana interaksi perempuan dalam dunia digital yang destruktif, rendahnya keterlibatan perempuan dalam dunia literasi yang memunculkan konsekuensi-konsekuensi baru seperti minimnya pengetahuan perempuan atas dirinya, dunia sosialnya, dan skill yang cenderung tidak ditumbuhkembangkan. Situasi perempuan demikian mengungkung geraknya. Kepada siapa dan di manapun perempuan membangun relasi, eksploitasi akan selalu hadir menjadi “kawan” seperjalanannya.

Dari literasi yang rendah itulah akhirnya menjadi sumber kerentanan bagi perempuan dalam segala aspek hidupnya, termasuk fenomena teror saat ini, yang juga melibatkan perempuan. Seorang psikolog, Arijani Lasmawati menerangkan, akar penyebab keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme setidaknya ada dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah terkait kecenderungan psikologi perempuan yang rentan mengalami masalah emosional, seperti mudah cemas, stres, dan kekhawatiran. Sedangkan faktor eksternalnya adalah relasi sosial personal di dalam keluarga, misalnya antara ibu dan anak atau suami dan istri.

Faktor lain yang sifatnya lebih umum sebagaimana dibuktikan beberapa penelitian adalah, pertama, perempuan dianggap lebih loyal dan patuh, sehingga memudahkan dalam perekrutan anggota. Kedua, perempuan mudah yakin dan tunduk dengan nuansa yang berbalut keagamaan. Ketiga, perempuan sangat mudah mengakses media sosial karena lebih banyak waktu luang. Keempat, posisi perempuan lebih strategis sebagai perangkap yang dapat mengelabui aparat penegak hukum. Kelima, pelibatan perempuan dalam terorisme sangat signifikan karena eksistensi doktrin patuh dan ketundukan pada suami, serta kepiawaian perempuan dalam melakukan mobilisasi atas sesamanya perempuan.

Fenomena lain menyangkut eksploitasi perempuan, terhimpun dalam pusaran sistem kapitalisme. Perempuan yang tadinya terdomestifikasi tetiba digiring ke ranah publik memenuhi peran-peran strategis pabrik dalam rangka keuntungan pabrik sebesar-besarnya, sembari menggaungkan semangat kesetaraan.

Tanpa disadari, perempuan menyumbang keuntungan banyak atas pabrik dan industri, tidak hanya dari aspek tenaga, tetapi memanfaatkan tubuh perempuan sebagai komoditi. Contohnya, pabrik mematenkan standarisasi kecantikan tertentu dan secara tidak langsung menarik perempuan pada konsep hidup tersebut. Demikian seterusnya, diciptakan berbagai kebutuhan bagi konsep hidup cantik tetap awet dan keuntungan mengalir tanpa henti bagi industri.

Sekali lagi, eksploitasi perempuan terjadi dalam banyak ruang, bahkan tidak jarang tanpa sadar perempuan menjadi salah satu penyumbangnya. Semua itu berawal dari kemiskinan literasi bagi perempuan. Perempuan menjadi rentan terbelenggu dalam bias pemahaman, termasuk pemahaman bias gender.

Cenderung pasif atau justru percaya begitu saja atas narasi purba patriarki yang memosisikan perempuan sebagai makhluk second class. Mitos yang lain seperti tidak mumpuni secara pemikiran, sumber dosa, dan emosionalis, menjadi pijakan bagi perempuan dianggap dangkal mencerna ajaran agama sehingga mudah menerima doktrin yang keliru terkait konsep ketaatan, jihad, kafir, thagut, khilafah, negara Islam, dan lain sebagainya.

Termasuk bagian literasi yang sangat urgen adalah keterlibatan perempuan dalam pengetahuan atau disiplin ilmu-ilmu rasional seperti logika dan filsafat. Bila melihat situasi secara umum hari ini, panggung intelektual kita masih minim diisi perempuan. Ketika di antara mereka terlibat, tradisi kita masih memosisikan laki-laki lebih mumpuni derajat pengetahuannya dibanding perempuan. Tradisi kita masih mengistimewakan laki-laki dalam banyak hal dan lebih layak menjadi acuan.

Situasi ini bukan tanpa dasar. Di sisi lain, perempuan harus berbesar hati menerima keadaan mereka yang memang cenderung abai dalam kesadaran dan partisipasi berliterasi. Banyak hal menjadi pemicu, salah satu di antaranya adalah pengaruh doktrin yang menitiberatkan fitrah perempuan kurang mumpuni dalam mencerna pengetahuan-pengetahuan terutama ilmu-ilmu rasional.

Atas dasar ini, lahir sikap pragmatis bagi perempuan bahwa menghabiskan waktu melakoni dunia pengetahuan atau panggung intelektual adalah sesuatu yang sia-sia. Demikian seterusnya berkembang mitos tentang irasionalitas perempuan sehingga lahir pola maupun perilaku-perilaku perempuan yang dinilai tidak logis. Contohnya, ketika menginterpretasika  masalah keagamaan, perempuan cenderung eksklusif sehingga menimbulkan sikap intoleransi dan rasa permusuhan serta kebencian terhadap orang dan kelompok yang berbeda.

Ini menjadi tugas kita bersama, bagaimana membangun identitas baru bagi perempuan yang berlandaskan pengetahuan. Di sisi lain pemerintah punya peran strategis mendorong dan menggalakkan program literasi bagi perempuan untuk mengubah cara pandang dari kungkungan ideologi patriarki dan pemahaman Islam radikal. Salah satu contohnya adalah pemerintah melalui kementerian terkait melakukan program revitalisasi keluarga Indonesia. Pun kementerian terkait bisa melakukan kerjasama dengan instansi-instansi terkait untuk mengedukasi perempuan dengan pemahaman Islam yang nir kekerasan dan ramah gender.

Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah dalam mewujudkan cita-cita bagi perempuan bermartabat. Tentu saja upaya yang dimaksud adalah yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan bukan simbolitas belaka. Lebih jauh, sebagaimana dikatakan Musdah Mulia, “pemerintah perlu melakukan counter penafsiran sehingga interpretasi keagamaan yang sejuk, humanis dan toleran menjadi dominan dalam keluarga dan masyarakat”.

Perempuan (ibu) misalnya yang harus mengambil peran strategis dalam keluarga karena lebih banyak menghabiskan waktu mendidik atau berinteraksi dengan anak. Selain itu, menurut Musdah Mulia, “pemerintah perlu mengembangkan budaya-budaya damai dan menghargai sesama, khususnya melalui pendidikan dalam arti seluas-luasnya, terutama pendidikan dalam keluarga. Terakhir dan sangat penting, negara perlu mendorong agar interpretasi agama dan pandangan ideologi yang inklusif, demokratis, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan menjadi dominan di masyarakat”.

Mengapa Literasi

Pada dasarnya, literasi bukan hanya sebatas keterampilan membaca dan menulis. Lebih jauh literasi adalah sebuah keterampilan berpikir dalam membaca kata dan dunia serta mencari relasi di antara keduanya untuk memecahkan masalah kehidupan. Pakar pendidikan, Alwasilah mengungkapkan tujuh prinsip dasar literasi yang seharusnya menjadi acuan dewasa ini, di antaranya:

1). Literasi adalah kecakapan hidup (life skills) yang memungkinkan manusia berfungsi maksimal sebagai anggota masyarakat. 2). Literasi mencakup kemampuan reseptif dan produktif dalam upaya berwacana secara tertulis maupun secara lisan 3). Literasi adalah kemampuan memecahkan masalah. 4). Literasi adalah refleksi penguasaan dan apresiasi budaya. 5). Literasi adalah kegiatan refleksi (diri). 6). Literasi adalah hasil kolaborasi. 7). Literasi adalah kegiatan melakukan interprestasi.

Mengacu pada prinsip literasi tersebut, maka menjadi keharusan bagi semua baik laki-laki maupun perempuan bisa menerapkan prinsip tersebut sebagai tanggung jawab bagi diri dan kelangsungan peradaban. Di sisi lain, peran literasi diharapkan menjadi pintu pembebasan untuk menghilangkan stereotype yang dilekatkan pada tubuh perempuan, karena ruh dari literasi itu sendiri adalah pembebasan manusia dari belenggu yang mengungkungnya. Melalui literasi juga, diharapkan ketidakadilan yang melanggeng puluhan abad pada tubuh perempuan bisa diatasi. Pun semua ruang yang menjadi subjek ketidakadilan bagi tubuh perempuan seperti partai-partai, media, institusi, hukum, LSM, birokrasi yang feodal, dan tradisi patriarki segera diakhiri.

Tentu saja harapan pembebasan melalui literasi tidak dengan hanya menabur doa, tetapi kesadaran dan upaya yang gigih secara bersama-sama untuk mewujudkan kebudayaan baru yang egaliter. Terlebih, bagi kalangan aktivis maupun intelektualis mengambil peran inti, karena tujuan etis dari literasi adalah memanusiakan manusia. Sekali lagi, perlu upaya kolektif membangun kesadaran kritik ketidakadilan, karena hanya dengan terus-menerus menggugat ketidakadilan yang menimpa perempuan, maka kita menulis ulang hukum dan peradaban yang lebih egalitarian.

Dengan literasi, perempuan menemukan arti penting dirinya seraya berupaya keluar dari lingkaran problematika yang mengungkungnya. Dengan literasi juga, perempuan menulis ulang identitasnya sebagai subjek yang eksis dibawah pondasi pengetahuan; jauh dari bayang-bayang teror, dan sebagainya. Tradisi lama yang subordinatif sudah seharusnya ditinggalkan dan posisi kesederajatan antara laki-laki dan perempuan sudah seharusnya dihidupkan. Sindirian Gadis Arivia terkait Libidonomics: “Andai kata tubuh perempuan dapat dijadikan saham, saya anjurkan bermain saham agar cepat menjadi kaya sebab tubuh perempuan di seluruh dunia selalu laku untuk dijual”.

Harapannya tidak lagi terdengar sindiran itu, sebab perempuan telah tercerahkan. Perempuan tidak hanya bermartabat sebagaimana laki-laki, tetapi punya peran strategis dalam keluarga dan masyarakat. Atas segala kekuatan yang dimiliki, tidak ada lagi alasan bagi perempuan untuk pasif, tetapi berani memberikan sumbangsih pemikiran dan tindakan untuk kehidupan yang lebih adil.

Ilustrasi: https://airpowerasia.com/