Semua tulisan dari Sitti Zuhraeni

Sitti Zuhraeni. Lahir di Bantaeng, 15 Mei 1982. Buah hati kesebelas dari pasangan Kyai Abdul Djabbar dan Sitti Rohani. Aktif sebagai tenaga pendidik di MAS. Ma'arif NU Lasepang Bantaeng sejak tahun 2004 hingga sekarang.

Jangan Memiskinkan Diri!

 

“Pak, bantuan untuk saya mana?” Seorang Ibu berteriak ke arah dua relawan yang sedang bagi-bagi sembako sambil menadahkan tangannya.

“Em…, anu Bu. Em…, saya tanya ke posko dulu yah!” Sahut salah satu di antara mereka, lalu melengos pergi sembari melirik dua unit mobil pribadi yang terparkir di garasi rumah si Ibu.

***

Kedatangan pandemi Covid-19 pada catur wulan pertama tahun 2020, perlahan tumbangkan dapur rakyat jelata. Terutama yang hidup di daerah perkotaan. Mereka yang bersandar pada gaji harian sangat merasakan akibat dari wabah ini sebab sumber penghasilannya tidak lagi beroperasi.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi bencana bagi pekerja harian itu. Para tukang becak, loper koran, pedagang kaki lima, kuli bangunan, tukang parkir, dan berbagai jenis mata pencaharian lainnya terpaksa ‘cuti’ demi kebaikan bersama.

Dalam rangka menyelamatkan kehidupan sesama manusia, pemerintah pusat mulai membagikan bantuan sembako ke masyarakat ‘akar rumput’. Termasuk Pemerintah Kabupaten Bantaeng, tentunya. Dana bantuan tersebut dialokasikan ke Dinas Sosial dan dana kelurahan/desa. Pada waktu yang hampir bersamaan, para aparat kelurahan/desa di Kabupaten Bantaeng mendistribusikan bantuan tersebut langsung ke warga yang membutuhkan.

Selain itu, beberapa pihak swasta, organisasi-organisasi kemasyarakatan, anggota parlemen, bahkan beberapa pengusaha juga turut ambil bagian dalam aksi membantu masyarakat yang terimbas wabah. Ada yang mengambil data dari kelurahan/desa, ada juga yang langsung terjun ke rumah-rumah penduduk untuk memberikan dermanya. (Betapa mulia hati para dermawan dan semoga Allah melipat gandakan rezeki mereka. Aamiin…)

Cuplikan ilustrasi di atas merupakan salah satu gambaran kondisi nyata di lapangan. Ketika pembagian bantuan dilakukan, ada-ada saja komentar atau pertanyaan yang timbul di masyarakat. Ironisnya, ujaran-ujaran tersebut bukan hanya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, tetapi juga dari kalangan orang-orang ‘berada’.

Pemerintah tidak adil lah, data tidak akurat lah, pembagian tidak merata lah, dan masih banyak lagi nada-nada protes yang terdengar sumbang di masyarakat. Padahal nih kalau dipikir-pikir secara saksama, betapa banyaknya hal urgen yang mesti diurusi oleh pemerintah dalam situasi seperti sekarang ini. (Jadi mengertilah, duhai warga masyarakat!)

Pemerintah bekerja keras dimulai dari penanganan pasien terinfeksi, pengadaan APD bagi tenaga medis, stabilisasi keamanan wilayah, penanganan masalah sosial dan ekonomi, mencegah terjadinya penimbunan barang, mengantisipasi ancaman penjarahan hingga ke berbagai persoalan-persoalan teknis lainnya. Selain itu, Pemerintah juga sedang menggalakkan kegiatan sosialisasi ke masyarakat dalam rangka menjaga kebersihan dan meningkatkan imunitas tubuh. (Coba bayangkan bagaimana repotnya pemerintah saat ini!)

Jadi sebagai bentuk kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebaiknya jangan ada pihak yang malah menambah keruh suasana. Alih-alih membantu, ini malah akan menambah beban pemerintah. Cukup dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah, sebenarnya itu sudah sangat membantu. (So, tunggu apa lagi?)

Ketika para distributor bantuan sembako melewati mukim kita, maka bersyukurlah. Ini menjadi penanda bahwa kehidupan kita masih lebih baik daripada orang lain. Ini menunjukkan  bahwa ternyata masih banyak orang yang lebih membutuhkan dari kita. Lalu mengapa mesti protes? Tidak terima?

Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menggerakkan hati para relawan itu untuk mau masuk di satu rumah dan melewati rumah lainnya? Bukankah segala sesuatu yang terjadi di dunia ini atas kehendak Allah? Lalu mengapa manusia selalu menganggap bahwa rezeki mereka tergantung pada bantuan pemerintah saja? Bukankah Allah telah menyiapkan alam semesta ini untuk memenuhi kebutuhan manusia?

وَهُوَ ٱلَّذِي سَخَّرَ ٱلۡبَحۡرَ لِتَأۡكُلُواْ مِنۡهُ لَحۡمٗا طَرِيّٗا وَتَسۡتَخۡرِجُواْ مِنۡهُ حِلۡيَةٗ تَلۡبَسُونَهَاۖ وَتَرَى ٱلۡفُلۡكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ  ١٤

“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”

Betapa luas rahmat Tuhan yang tersedia di bumi ini. Saatnya manusia ‘back to nature’ dalam arti yang sesungguhnya. Mereka yang bermukim di sekitar pesisir pantai, silakan kembali mengeksplor hasil lautan sebagai sumber bahan pangan. Mereka yang punya lahan pertanian, optimalkan lagi kebiasaan para pendahulu dalam bercocok tanam. Mereka yang punya pekarangan yang memadai, manfaatkan untuk memelihara ternak maupun menanam buah dan sayuran.

Menurut PBB, Indonesia merupakan negara  yang memiliki garis pantai sepanjang 95.181 kilometer, menjadi urutan keempat terpanjang di dunia. Dengan wilayah laut seluas itu, maka Indonesia termasuk salah satu negara maritim dunia yang memiliki banyak sumber daya alam di bidang kelautan.

Belum lagi kekayaan alam hasil pertaniannya. Letak pulau-pulau di Indonesia yang strategis dan berada persis di atas garis khatulistiwa membuatnya mendapatkan sinar matahari dengan intensitas konstan dan seimbang setiap harinya. Lalu nikmat Tuhan yang mana lagi yang manusia dustakan?

فَبِأَيِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  ١٣

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Pandemi ini mengingatkan manusia bahwa kebutuhan primernya hanyalah sandang, pangan, dan papan saja. Embel-embel lain yang selama ini dianggap sesuatu yang dibutuhkan, ternyata cuma perhiasan belaka. Kendaraan mewah, pakaian indah, dan segala macam aksesoris lainnya kini tinggal menjadi pajangan yang menghiasi rumah.

Lalu mengapa masih ada manusia yang memiskinkan diri di hadapan sesamanya? Padahal  manusia itu sendiri adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna dibanding makhluk lainnya (ahsanu taqwim). Dia memiliki akal untuk terus survive dalam kondisi apapun. Dia mempunyai daya untuk mengeksplor alam sebaik-baiknya.

Ketika ada bantuan (sembako ataupun uang) yang sampai ke tangan, sedangkan di sekitar  rumah masih ada orang yang lebih membutuhkan dan tidak kebagian, segera alihkan bantuan itu untuk mereka. Dengan begitu, sesungguhnya kita telah membantu pemerintah dalam menangani segunung problematika saat ini. Sekaligus menjadi penanda bahwa ternyata hati ini tidaklah miskin.

Wallahu a’lam.

Sumber gambar: Tinta Pembaharuan

 

 

 

 

Mengintip Rahasia di Balik Instruksi Fenomenal Tuhan

Ramadan merupakan bulan spesial yang sensasinya teramat didamba umat muslimin. Ada beberapa aktivitas ibadah fisik dan mental dilakukan khusus di dalamnya. Ibadah-ibadah khusus itulah yang menjadikannya berbeda, lebih unik dan teristimewa dibanding sebelas bulan lainnya.

Perintah berpuasa, mendirikan sholat tarawih, dan membayar zakat fitrah adalah bentuk ibadah khusus yang merupakan manifestasi dari rukun-rukun Islam. Ketiga ibadah tersebut termasuk dalam kategori ibadah mahdhah. Artinya, dia memiliki petunjuk teknis (juknis) pelaksanaannya dan sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak masa kenabian Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Selain itu, ada beberapa kebiasaan baik yang secara garis besar frekuensinya juga meningkat di bulan puasa. Membaca ayat-ayat suci dalam kitab Al-Qur’an, bersedekah, dan peka terhadap sesama menjadi semakin rutin dilakukan.

Seluruh aktivitas ini bersentuhan langsung ke pribadi manusia maupun ke lingkungan masyarakatnya demi menjaga kemaslahatan umat dan bertaqarrub kepada Allah. Amaliah-amaliah tersebut dikenal dengan istilah ibadah ghairu mahdhah.

Kedua jenis ibadah tersebut saling terpaut satu sama lain. Ketika satu ibadah mahdhah dikerjakan sesuai tata aturan yang berlaku, maka ada ibadah ghairu mahdhah yang menyertainya. Jika dikerjakan dengan keimanan dan penuh pengharapan, maka ibadahnya akan mendatangkan rahmat dan ampunan dari Sang Maha Memberi. Bahkan Allah menyiapkan grand prize bagi para pemenang, yakni janji-Nya  untuk bertemu langsung dengan hamba-Nya yang bertakwa. Takbirr!!! (Allaahu akbar!)

Berpuasa sebulan lamanya hanya diwajibkan bagi seluruh muslimin yang beriman saja. (yang tidak beriman, minggir!) Terkecuali bagi orang-orang tertentu dengan kondisi tertentu, boleh tidak melakukannya. Tetapi, dia harus menggantinya dengan berpuasa di luar Ramadan ataupun membayar fidyah.

Instruksi langsung yang diberikan Allah kepada mukminin ini sangat populer digaungkan setiap Ramadan tiba. Derajat ketakwaan menjadi tujuan utamanya. Namun, ada rahasia dibalik makna kata ‘takwa’ yang jarang dibahas di mimbar-mimbar masjid. Nah, coba kita mengulik dua ayat penjelasan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam QS. Ali Imran ayat 133 dan 134:

۞وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ  ١٣٣ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ  ١٣٤

  1. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
  2. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dari sini dapat dilihat adanya hubungan erat antara berpuasa, ketakwaan dan aktivitas ibadah lainnya. Maka tampaklah tiga ciri orang yang termasuk kategori bertakwa, yaitu:

a. Orang yang menafkahkan hartanya dalam kondisi lapang maupun sempit

Dengan kata lain, orang kaya dan juga orang yang tidak kaya sangat direkomendasikan untuk bersedekah. Maka wajarlah sehingga mayoritas ‘ulama sepakat mengajarkan, “jangan menunggu kaya baru mau bersedekah, tapi bersedekahlah agar engkau kaya!” Lalu anjuran ini diperkuat dalam QS. Saba’ ayat 39:

قُلۡ إِنَّ رَبِّي يَبۡسُطُ ٱلرِّزۡقَ لِمَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ وَيَقۡدِرُ لَهُۥۚ وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَهُوَ يُخۡلِفُهُۥۖ وَهُوَ خَيۡرُ ٱلرَّٰزِقِينَ  ٣٩

  1. Katakanlah: “Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)”. Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.

b. Orang yang menahan amarahnya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ المسيَّب، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، قال: “لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرُعة، وَلَكِنَّ الشَّدِيدَ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ”.

Imam Ahmad  mengatakan,  telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Az-Zuhri, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. yang telah bersabda: “Orang yang kuat itu bukanlah karena jago gulat, tetapi orang kuat ialah orang yang dapat menahan dirinya dikala sedang marah.”

Ketika orang sedang tersulut api amarah, maka hilanglah akal sehatnya. Jika dia tidak segera mengingat Tuhannya, segala bentuk keburukan akan terjadi. Panas seluruh tubuhnya dan  wajahnya tampak menakutkan. Matanya memerah, giginya bertaring, kepalanya bertanduk, lalu keluarlah asap dari lubang hidung dan telinganya (Iiih…sereem!!!). Kata-kata yang terucap pastinya tak terkontrol lagi. Coba bayangkan! Betapa marah itu akan mengurangi kecantikan dan kegagahan seseorang. (Masih mau marah? Kalau aku sih enggak!)

c. Orang yang mau memaafkan kesalahan orang lain

Nah, ini yang paling berat, pemirsa! Memaafkan kesalahan orang lain. Iyya kalau orang tersebut meminta maaf duluan. Kalau tidak? Di sini letak ‘keberatan’nya. Banyak orang yang baru mau memaafkan jika orang lain sudah meminta maaf. Padahal jelas-jelas dalam ayat tersebut dikatakan “memaafkan (kesalahan) orang”, bukan “memaafkan kesalahan orang yang meminta maaf”.

Kisah hidup para Nabi telah mendidik manusia untuk menjadi pemaaf. Betapa kuat pribadi Nabi Yusuf ‘Alaihis Salaam yang memaafkan Zulaikha -istri Putifar (orang kepercayaan Raja Mesir saat itu)- yang menjebloskannya ke penjara Zawiah selama belasan tahun. Betapa tegarnya beliau memaafkan kejahatan saudara-saudaranya yang tega membuangnya ke sumur. Bahkan mengajak mereka tinggal di Mesir ketika beliau telah sukses menjadi pejabat Negara.

Betapa lembut hati Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memaafkan suku Quraisy di Mekah yang rajin menghinanya serta melemparinya dengan kotoran yang menjijikkan. Beliau juga mengampuni suku bani Tsaqif di Thaif yang pernah melemparinya dengan batu hingga beliau berdarah-darah. Saking kelewatannya mereka, hingga malaikat datang menawarkan diri untuk memberi ‘pelajaran’ kepada penduduk Thaif. Namun, Rasulullah menolaknya. (Shalluu ‘alannabiyy!!!)

Kisah para pendahulu menjadi bukti bahwa manusia bisa mencapai derajat takwa. Bukanlah hal mustahil jika dia terus berlatih, membiasakan diri, sembari memohon pertolongan Allah. Kira-kira bisakah kita bersedekah dalam kondisi apapun, menahan amarah, dan memaafkan? Jika Allah berkehendak, siapa yang dapat menghalangi-Nya?

Wallahu a’lam.


Sumber gambar: www.nbcnews.com

Kedatangan Tamu Istimewa, Bumi Menginstal Ulang Dirinya

Tahun ini dunia sedang kedatangan dua tamu istimewa. Keduanya merupakan makhluk Tuhan yang tak kasatmata, tak dapat disentuh, tak bisa diraba, bahkan tak mampu diterawang. Mereka datang di saat yang hampir bersamaan. Tapi anehnya, perlakuan dan penerimaan manusia terhadap keduanya sangat bertolak belakang.

Kedatangan tamu pertama disambut dengan penuh histeria, ketakutan, bahkan kepanikan. Begitu dia datang, seluruh lini kehidupan menutup diri. Sedangkan ketika tamu kedua tiba, dia disambut penuh euforia, penghargaan tinggi dan kebahagiaan tiada tara. Bahkan beberapa hari sebelum kedatangannya, manusia sudah menyiapkan berbagai hal demi menyambutnya. Ada apa dengan kedua tamu ini? Coba kita telusuri akar persoalannya.

Tamu pertama disebut istimewa sebab kehadirannya yang tidak pernah disangka-sangka oleh siapapun. Dia datang tak dijemput, pulang tak diantar (hehehe…kayak jelangkung saja yah?!). Tak tanggung-tanggung, hanya dalam hitungan hari dia menyambangi banyak negara melalui berbagai perantara. Tak ada satupun yang mau disentuh olehnya. Tak seorangpun yang rela ditemuinya. Siapakah dia? Mengapa dia sangat tidak diharapkan? Jreng, jreng, jreng…. Dialah si cantik Coronavirus.

Dia disebut sebagai virus atau mikroorganisme sebab ukurannya yang teramat kecil. Saking kecilnya sehingga tidak dapat dilihat melalui mikroskop biasa.  Dia hanya bisa ditangkap netra jika menggunakan mikroskop elektron (Tapi, bukan elekton loh!). Dia kunamai si cantik karena bentuknya yang unik dan warnanya yang eksentrik (Padahal aku tidak yakin juga dia itu perempuan atau laki, hehehe…)

Dia merupakan sekumpulan virus yang dapat menginfeksi sistem saluran pernapasan (Mungkin jika datang sendirian, dia tidak akan menginfeksi yah?). Dalam banyak kasus ditemukan bahwa virus ini hanya menyebabkan infeksi pernapasan ringan sampai sedang, tetapi di beberapa kasus lainnya dia mengakibatkan infeksi pernapasan berat. Terutama jika yang terpapar adalah orang lanjut usia, ibu hamil, perokok, penderita penyakit kronis, ataupun orang yang memiliki daya tahan tubuh yang lemah.

Si cantik Coronavirus dapat menginfeksi siapa saja. Berbagai reaksi tubuh manusia yang terinfeksi olehnya, tergantung kondisi fisik mereka. Jika sistem kekebalannya kuat, maka dia tidak merasakan gejala apapun. Sebaliknya, jika imunitas tubuhnya lemah, bisa fatal akibatnya. Hal inilah yang menyebabkan hingga kini sudah beribu jumlah korban jiwa.

Tamu istimewa yang kedua sangat berbeda dengan yang pertama. Kedatangannya begitu dirindukan oleh kaum muslimin. Dia dielu-elukan di langit dan di bumi. Digemakan kabar kedatangannya di dunia nyata dan dunia maya. Semua makhluk menantinya, bahkan berhari-hari sebelumnya.

Tamu ini setiap tahun datang menyapa dunia. Dia membawa berjuta berkah dari Sang Khalik. Dia memiliki beberapa momentum istimewa di dalamnya. Ada puluhan hari yang agung dan malam yang diberkahi bersamanya. Dia bulan kesembilan Hijriah, bulan Ramadhan.

Betapa manusia sangat mengimpikan berjumpa dengan Lailatul Qadar yang diyakini berkahnya mampu menyaingi ibadah selama kurang lebih 83 tahun lamanya.  Siapa yang tidak tergiur dengan janji Tuhan itu? Sementara usia manusia sekarang rata-rata hanya berkisar 60-70 tahun saja. Kalaupun ada yang lebih dari itu, jumlahnya hanya segelintir orang saja.

Lalu pertanyaan yang timbul kemudian, mengapa terjadi perlakuan yang berbeda terhadap kedua tamu ini? Padahal tamu itu adalah raja. Agama apapun di dunia mengajarkan seluruh umatnya untuk menghormati para tamu, tidak boleh ada perbedaan perlakuan terhadap mereka. Dalam sebuah hadis Rasululullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

 

مَن كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari)

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahkan pernah menegur sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akibat membedakan perlakuan terhadap tamunya. Sangat jelas termaktub dalam QS. ‘Abasa ayat 1 – 11:

 

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰٓ  ١ أَن جَآءَهُ ٱلۡأَعۡمَىٰ  ٢ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّهُۥ يَزَّكَّىٰٓ  ٣ أَوۡ يَذَّكَّرُ فَتَنفَعَهُ ٱلذِّكۡرَىٰٓ  ٤ أَمَّا مَنِ ٱسۡتَغۡنَىٰ  ٥ فَأَنتَ لَهُۥ تَصَدَّىٰ  ٦ وَمَا عَلَيۡكَ أَلَّا يَزَّكَّىٰ  ٧ وَأَمَّا مَن جَآءَكَ يَسۡعَىٰ  ٨ وَهُوَ يَخۡشَىٰ  ٩ فَأَنتَ عَنۡهُ تَلَهَّىٰ  ١٠ كَلَّآ إِنَّهَا تَذۡكِرَةٞ  ١١

 

Terjemahan:

  1. Dia bermuka masam dan berpaling,
  2. Karena telah datang seorang buta kepadanya.
  3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
  4. Atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
  5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
  6. Maka kamu melayaninya.
  7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
  8. Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
  9. Sedang ia takut kepada (Allah),
  10. Maka kamu mengabaikannya.
  11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,

 

Berdasar pada kedua dalil di atas, manusia diajarkan agar menyambut tamunya dengan hati lapang, tak berkeluh kesah, dan tanpa perlakuan yang berbeda. Pada waktu Coronavirus mewabah, banyak orang yang mengeluhkan kedatangannya, protes, tidak senang, benci, bahkan menghujat Tuhan dan mempertanyakan keberadaannya. Padahal dibalik musibah, pasti Allah memberi berkah yang menyertainya. Sesudah kesulitan, akan ada kemudahan-kemudahan.

Dengan adanya epidemi saat ini, bumi mulai membersihkan dirinya secara jasmaniyah (kayak mandi kembang gitu!). Dia memulihkan diri dari ‘sakit’ yang mendera selama berabad-abad lamanya. Lapisan ozon kembali menebal, udara yang dihirup semakin segar, langit menjadi lebih cerah, laut bersih dari polusi, dan masih banyak lagi perubahan baik lainnya. (Andai bumi bisa bicara, dia pasti akan bilang “wow, segaarr!!!”)

Ketika si cantik Corona menyapa, saat itulah titik awal instalasi rehabilitasi ulang bumi terhadap dirinya. Banyak yang tidak menyadari bahwa selama ini bumilah yang sebenarnya tercemar dan terinfeksi oleh ‘virus-virus’ hasil perbuatan manusia. Virus-virus itu berasal dari kelakuan manusia yang mengeksploitasi alam dan mengabaikan pelestarian lingkungannya. Kini saatnya manusia mengambil ibrah dari pandemik ini bahwa bumi dan manusia harus saling mendukung dalam mempertahankan kehidupannya. Tak boleh ada yang merusak lingkungan sehingga alam bisa tetap lestari.

Wallahu a’lam.

 


Sumber gambar: https://cmo.adobe.com