Semua tulisan dari Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. CEO Boetta Ilmoe_Rumah Pengetahuan Bantaeng. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), Pesona Sari Diri (2019), Maksim Daeng Litere (2021), dan Gemuruh Literasi (2023). Kiwari, selaku anggota redaksi Kalaliterasi.com.

Keharusan Mengeja Ulang Cak Nur

Hujan yang awet sejak Jumat hingga Sabtu malam, 13 Januari 2023, tak menyurutkan sekaum anak muda-mahasiswa, untuk menyata di Warkop Bundu Talasalapang. Mereka membikin hajatan bertajuk Makassar, Road to Bazar & Dialog Titik Temu Pemikiran: Cak Nur dan Buya Syafii Maarif. Bertema, “Meramu Pikiran; Merawat Keberagaman dalam Bingkai Keindonesiaan”.

Hajatan diinisiasi oleh HMJ PAI Unismuh Makassar. Saya perkirakan penghadir mendekati seratus orang. Pemantik percakapan sebagaimana tercantum di spanduk acara, Sulhan Yusuf (CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng) dan Asratillah (Direktur Profetik Institute). Secara teknis, oleh pemandu acara, Sulhan diminta untuk membedah gagasan Cak Nur, sementara Asratillah mendedah pikiran Buya Syafii.

Sebagai pemantik yang didapuk membedah minda Cak Nur, saya memulainya dengan mengenalkan selintas kilas latar belakang kehidupan pendidikan sang guru bangsa. Nurcholis Madjid, popular dipanggil Cak Nur, lahir 17 Maret 1939. Wafat Senin, 29 Agustus 2005. Menempuh mendidikan di SR, masuk Pesantren Moderen Gontor, kuliah di IAIN Ciputat, lalu melanjutkan program doktornya di Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Kalakian, memahami Cak Nur, saya ajukan dua sudut pandang: konteks dan konten. Konteks terikat tahapan aktivitas personal dan sosial, sebentuk pergerakan ragawi. Adapun konten, terkait  kandungan pemikiran, serupa pergulatan jiwa.  

Sebagai konteks, pertama saat aktivis HMI: menulis Nilai Dasar Perjuangan (NDP), 1969. Kedua, dinisbatkan selaku penarik gerbong pembaharuan pemikiran Islam: menyajikan makalah untuk diskusi terbatas dinisiasi oleh PII, 1970. Ketiga, cendekiawan muslim garda depan: tatkala menyampaikan pidato di TIM 1992, plus aktivitas di Paramadina, hingga wafat dan digelari guru bangsa, 2015.

Konteks gerakan bermuatan konten, pertama, NDP. Buku kecil ini, semacam pedoman ideologi Islam bagi HMI. Berisi gagasan: Dasar-Dasar Kepercayaan, Pengertian-Pengertian Dasar tentang Kemanusiaan, Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir), Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan, Individu dan Masyarakat, Keadilan sosial dan Keadilan Ekonomi, Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan. NDP ditulis setelah melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan ibadah haji. Ketika safari, bertemu dengan banyak pemikir. Kala ibadah haji, lahir berbagai renungan.

Konten kedua, makalah  “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Sajian makalah ini memicu perdebatan panjang di kalangan cendekiawan muslim. Pro dan kontra tersaji sangat panas dan dinamis. Tak mengapa saya penggal gagasan utama dalam makalah tersebut. Pertama, tentang sekularisasi—desakralisasi, termuat pula tohokan minda, Islam Yes, Politik Islam, No? Minda defenitif Cak Nur berkaitan sekularisasi, tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum Muslim menjadi sekularis, tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat dari kecendrungan untuk meng-ukhrawi-kannya.

Kedua,  Intelectual freedom-Kebebasan berpikir. Menurut Cak Nur, seharusnya umat Islam mempunyai kemantapan kepercayaan bahwa semua bentuk pikiran dan ide, betapa pun aneh kedengarannya di telinga , haruslah mendapatkan jalan untuk dinyatakan . Sebab, tidak jarang dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang umumnya semula dikira salah dan palsu itu ternyata kemudian benar.

Ketiga, Idea of progress, sikap terbuka. Ditegaskan Cak Nur, kita harus bersedia mendengarkan perkembangan ide-ide kemanusiaan dengan spektrum seluas mungkin, kemudian memilih mana yang menurut ukuran-ukuran obyektif mengandung kebenaran.

Konten ketiga, Pluralitas ke Pluralisme. Pidato di TIM, menabalkan minda, kemajemukan atau pluralitas umat manusia, merupakan suatu kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Maka pluralitas itu meningkat menjadi pluralisme, yaitu suatu sistem nilai yang memandang secara posistif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.

Arkian, bagi Cak Nur, pluralisme Indonesia terumuskan secara ideologis dalam Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila bersifat dinamis, maka Pancasila harus diperjuangkan dalam watak dan proses masyarakat yang dinamis pula. Di sini terletak arti pentingnya kebebasan-kebebasan asasi, khususnya kebebasan menyatakan pendapat.

Pucuk pemetaan pemikiran Cak Nur, saya kunci dalam penegasan pentingnya memahami Islam sebagai doktrin dan peradaban. Doktrin Islam bersifat universal dan kosmopolit, yang dibumikan menjadi peradaban. Strategi pembumian pemikiran Cak Nur, mewujud dalam rupa,  Islam diintegrasikan dengan kemanusiaan, kemoderenan, politik, dan keindonesiaan.

Nah, dikarenakan hajatan HMJ PAI ini bertujuan mencari titik temu pemikiran dengan guru bangsa lainnya, Buya Syafii Maarif, maka saya sodorkan satu kutipan pendakuan dari Buya, saat menulis satu pengantar terhadap buku, Cak Nur Sang Guru Bangsa, anggitan Muhammad Wahyuni Nafis. Artikel Buya berjudul, “Cak Nur, Sahabatku: Mengapa Cepat Pergi?”

Buya Syafii bilang, “Sekiranya tidak pernah sama-sama belajar di Universitas Chicago selama beberapa tahun pada seperlima terakhir abad ke-20, saya tentu tidak akan kenal dekat dengan Cak Nur, yang kemudian ditakdirkan muncul menjadi salah seorang intelektual kelas berat Indonesia. Penampilan fisiknya yang selalu sederhana, tetapi otak besarnya telah lama menggeluti masalah-masalah besar yang menyangkut keislaman, kemoderenan, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.”

Pendakuan Buya yang saya kutipkan, cukup menjadi jembatan pengantar untuk sesi penyajian pikiran Buya, didedahkan oleh Asratillah. Dan, eloknya lagi, pancingan saya langsung disambar oleh Asratillah. Selama penyajiannya, saya ikut membatinkan pikiran-pikiran Buya, sekaligus menyeleraskan minda Cak Nur. Simpai simpulan saya, tiada sedikit titik-titik temu pemikiran. Paling tidak, baik Cak Nur maupun Buya Syafii sama-sama berguru pada seorang cendekiawan muslim kelas dunia, Fazlur Rahman, selama kuliah di Universitas Chicago.

Respon penghadir terhadap bentangan pemikiran kedua guru bangsa tersebut, cukup mendapat apresiasi. Namun, hingga perjalanan pulang diiringi rintik hujan dan saya tiba di mukim, tersisa seonggok tanya, masihkah kaum muda mahasiswa serius mempercakapkan tema-tema pemikiran semacam itu?

Pasalnya, tak sedikit stigma dialamatkan kepada kaum muda mahasiswa, bahwa ketertarikan pada percakapan intelektual, tak banyak diminati lagi. Untungnya, saya sudah mempersiapkan pelampung, berupa rekomendasi agar mengeja buku-buku Cak Nur, bila ingin mendalami lebih jauh sepak terjang minda sang guru bangsa.

Cuman dua buku Cak Nur saya tunjukkan, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan dan Islam Doktrin dan Peradaban, agar dieja oleh mereka, sebab saya pun mengeja ulang buku-buku tersebut, tatkala didapuk selaku pemantik. Waima, saya sudah membaca saat mahasiswa di akhir tahun 80-an dan awal 90-an, tapi ketika mengeja ulang di kiwari, rasanya makin tinggi nilai gizinya, buat menjalani kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Utamanya di tahun politik yang tunggang langgang dinamikanya.   

Semesta Manusia: Tribute to Nirwan Arsuka

Refleksi 100 hari wafatnya Nirwan Ahmad Arsuka

Bagi insan yang lebih dulu mencapai keabadian, hanya warisannya akan menjadi penanda jejak selaku pengabdi. Ia akan abadi karena abdinya. Dari pengabdian ke pengabadian. Baik di bentala, maupun di nirwana.

Begitulah sosok seorang pengabdi, Nirwan Ahmad Arsuka,  yang sementara diabadikan oleh para penerusnya. Nirwan lahir di Kampung Ulo, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 5 September 1967 dan wafat di Jakarta, 6 Agustus 2023. Lalu dimakamkan di tanah kelahirannya. Selain dikenal sebagai pejuang literasi, Nirwan pun diakrabi selakon seorang intelektual garda depan. Tulisan-tulisannya merambah dalam bidang sains, sosial, budaya, seni, sastra, dan agama.

Jelang hingga peringatan 100 hari wafatnya Nirwan, sang pendiri Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), serangkaian helatan digelar. Ahad, 5 Nopember 2023, diadakan temu daring oleh keluarga besar Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Acara ini serupa persiapan menyambut peringatan 100 hari wafatnya Nirwan.

Selain itu, dibincangkan pula potret kelembagaan PBI dan mekanisme formalitasnya, serta korelasinya dengan sekotah simpul pustaka. Perbincangan ini dimediasi oleh Faiz Ahsoul, pelaksana tugas PBI. Simpai simpulan percakapan, bagaimana merawat warisan Nirwan yang semula bernuansa personal, diadaptasi dalam bentuk kelembagaan. Spiritnya, meneruskan kerja-kerja seorang pengabdi, Nirwan Arsuka, yang telah mengabadi.

Arkian, 18-26 Nopember 2023, hajatan sepekan Tribute to Semesta Manusia. Simpul-simpul PBI di seluruh Nusantara mengisi pekan peringatan 100 hari tersebut, beragam aktivitas. Didahului acara Prosesi Mattampung (penanaman batu nisan) di Barru oleh keluarga besar almarhum Nirwan Arsuka. Tepatnya, Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023. Prosesi Mattampung ini merupakan acara adat, sebentuk tradisi di kampung halaman Nirwan.

Berikutnya, sederet simpul pustaka mengadakan hajatan dengan caranya masing-masing. Sabtu, 18 Nopember, di Malioboro, Yogyakarta, Perpustakaan Gerak Girli Malioboro Bergerak, menyajikan acara Story Telling Mattampung dan Doa Bersama.

Lalu, Sabtu, 18 Nopember 2023,Ibuku dan Angkot Pustaka, mendedahkan acara Biblioterapi dan Doa Bersama, di Pesantren Sirojul Munir Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tak ketinggalan simpul pustaka Rumba KIH, pada Ahad, 19 Nopember 2023, melakukan Penanaman Pohon dan Doa Bersama di Blitar, Jawa Timur.

Masih di hari Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023, simpul pustaka Sigupai Membaco dan Perpustakaan Rumah Teras Baca di Gorontalo, menghadirkan PakBukLing (Lapak Baca Buku Keliling) dan Doa Bersama. Pun dari RBCD, selain melakukan Lapak Buku, juga Baca Puisi dan Doa Bersama.

Dari Taman Kota Sumpiuh Banyumas, Jawa Tengah, simpul pustaka Lapak Baca Motor Pustaka Griya Baca Jelita (Jendela Literasi Tanah Air) melakukan Doa Bersama untuk Nirwan. Selanjutnya, Kamis, 23 Nopember 2023, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, via Motor Literasi (Molit) Peradaban, mengusung “Percakapan Hilirisasi Budaya ala Nirwan”, dirangkai Pembacaan Puisi dan Esai, Pidato Kebudayaan, dan Doa Bersama.

Tentu, masih banyak lagi aktivitas simpul pustaka yang belum saya deretkan. Sekadar penegasan saja, ada ratusan simpul pustaka berkegiatan, guna didedikasikan buat Nirwan, baik yang terpublikasi maupun menempuh jalan senyap.

Kalakian, pucuk acara Sepekan Tribute to Semesta Manusia, dalam rangka 100 hari wafatnya Nirwan, berpuncak pada sawala dan dialog buku Semesta Manusia, anggitan Nirwan Ahmad Arsuka. Sawala dilaksanakan secara daring, Ahad 23 Nopember 2023. Pemantik sawala, Ulil Absar Abdalla, FX Rudy Gunawan, Ernawiyati, dan Nur Sybli.

Dipandu oleh Fathul Rakhman dari simpul pustaka  Sekolah Literasi Rinjani. Sebelumnya dibuka oleh MC, Syamsiah Lukman dari simpul pustaka Perahu Pustaka Laica Abbacang. Tak lupa menyilakan perwakilan keluarga besar Nirwan, diwakili ponakan, Muh. Iftikar Sahid, untuk memberi sambutan. Ia bertutur, ada cita dari pamannya yang belum terwujud, membikin lembaga pendidikan bagi orang-orang kurang beruntung.

Tema “Semesta Manusia” diambil dari judul buku karya Nirwan Ahmad  Arsuka. Sebuah buku putih setebal bantal balita, 808 halaman, Penerbit Ombak. Berisi kumpulan tulisan yang merangkum hampir seluruh ide, gagasan, dan isi kepala almarhum.

Sekotah tulisan yang terhimpun dalam buku putih Semesta Manusia, sebelumnya pernah dimuat media, khususnya media cetak, termasuk teks Pidato Kebudayaan, Dialog Semesta, dan beberapa tulisan sempat masuk media online.

Secara garis besar, ada 8 tema yang diusung dalam buku putih: Sains, Manusia, Seni, Sastra, Agama, Indonesia, Pustaka Bergerak, dan Kuda. Namun, dalam diskusi, sebagai alat bantu Dialog Semesta Manusia, dirangkum menjadi empat tema: Manusia, Sains, Budaya, dan Pustaka Bergerak.

FX Rudy Gunawan bertindak selaku pemantik awal. Bagi Rudy, Nirwan adalah manusia multidimensional. Pembelajar otodidak. Mampu menyederhanakan pemikiran rumit. Seorang penggerak, punya mimpi besar untuk kemajuan bangsa. Sejak mahasiswa, bersama Nirwan sudah terlibat gerakan penghentian ketidakadilan dan kediktatoran.

Rudy bertemu kembali dengan Nirwan di Jakarta, ketika media cetak Tempo, Editor, dan Detik, diberedel oleh rezim Soeharto. Ikut mendinamisir Aliansi Jurnalistik Independen dan berkumpul di Komunitas Utan Kayu Jakarta. Setelah berkonsentrasi pada aktivitas mutakhir masing-masing, Nirwan memilih wilayah literasi untuk mewujudkan mimpinya. Jejaring Nirwan mesti diteruskan.

Nur Sybli menguatkan penabalan Rudy. Ia menegaskan, PBI merupakan rumah kita bersama untuk berbagi energi kebaikan. Apatah lagi, di rumah bersama ini, kita berangkat dari keragaman lintas agama, budaya, suku, profesi, pendidikan, dan latar sosial lainnya.

Saatnya menguatkan warisan Nirwan dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia para penggerak. Penguatan kapasitas itu bisa beragam bentuknya, sesuai tantangan masing-masing. Namun, perlu ada kapasistas bersama, sebagai standar sebagai seorang pegiat dan penggiat literasi. Dan, sepertinya dibutuhkan sesi lain untuk menindaklanjuti sodoran minda ini.

Setelahnya, giliran Ernawiyati memaparkan pikiran. Erna lebih banyak mengapresiasi tulisan terakhir dari Nirwan Arsuka di harian Kompas, berjudul “Hilirisasi Budaya”. Menurutnya, minda Nirwan ditulisan ini sangat bernilai tinggi, satu warisan intelektual yang harus diapresiasi bersama. Tawaran hilirisasi budaya ala Nirwan, bisa dijadikan semacam peta pemajuan budaya, sebagai lapik pembangunan bangsa Indonesia. Menariknya, peta ini bisa ditafsirkan secara mandiri, sesuai dengan konteks masing-masing.

Akhirnya, Ulil Absar Abdalla memungkasi percakapan. Ia memulai dengan bagaimana ia bertemu dengan Nirwan di Freedom Institute, sesama pendiri. Perkawanan di Freedom Institute cukup lama, sehingga ia amat mengenal pemikiran Nirwan. Ulil berpendapat, Nirwan adalah persona yang memenuhi seorang intelektual yang sangat komplit. Minatnya sangat luas terhadap berbagai macam isu.

Ciri khas generasi Nirwan, kemampuan menulis dengan baik. Keunggulannya terletak pada daya jelajah pada sains sangat dalam. Bukan saja sains popular, tetapi pada inti sains. Lebih dari itu, kelantipannya mengawinkan sains dengan sastra. Sosok langka, hampir mustahil negeri ini melahirkan seorang Nirwan.

Sesudah tidak bersama lagi di Freedom Institute, Ulil kaget dengan pilihan Nirwan, mendirikan PBI dan menghabiskan energinya untuk gerakan literasi. Ulil menilai, pilihan Nirwan merupakan kelanjutan dari aktivitas di Freedom Institute, mengingat Nirwan mengepalai perpustakaan lengkap, berisi buku-buku bergizi tinggi.

Nirwan percaya pada kekuatan buku yang mengubah seseorang, sebab buku menyebarkan tradisi berpikir saintifik. Berpikir ilmiah sewajah dengan fondasi penting dalam membangun masyarakat. Inilah yang menyemangati Nirwan, untuk memindahkan spirit perpustakaan di Freedom Institute ke seluruh penjuru mata angin di wilayah Nusantara, lewat PBI.

Simpulan Ulil memantapkan tentang warisan Nirwan. Tradisi menulis yang baik, berpikir saintifik, minatnya begitu luas meskipun tidak menarik bagi banyak orang. Di pucuk percakapan, Ulil mendakukan kesiapannya menjadi bagian dari PBI, sebagai bentuk perkawanan abadi dengan Nirwan.

Nirwan telah mengabadi dalam dua ruang. Di bentala karena ada warisan pengabdiannya. Di nirwana sebab itulah tujuan akhir sekotah insan. Ya, Nirwan nyata di bentala dan sunyata di nirwana.

Cerita-Cerita tentang Perbedaan Lebaran

Jelang salat Duhur di satu masjid, saya bersua dengan seorang kepala desa, yang pasangannya menjabat komisioner KPUD. Iseng-iseng saya bertanya, “Kapan lebaran Pakde?” Sembari tersenyum ia berujar, “Nyonyaku sudah lebaran besok, Jumat. Ia sudah izin ikut penetapan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Kalau saya menanti pengumuman pemerintah, kemungkinan Sabtu.”

Saya segera bisa memahami pasutri tersebut. Maklum saja, sang nyonya merupakan aktivis perempuan Ortom Muhammadiyah sebelum menjadi komisioner. Sedang sang kepala desa, corak keberagamaanya lebih merujuk pada Nahdatul Ulama (NU). Apatah lagi, dugaan saya, ia mengikut pada putusan pemerintah sebab ia bagian dari aparatus pemerintah, meskipun tidak harus demikian.

Usai salat Duhur, saya mencarinya, ingin bercakap-cakap lebih dalam tentang sikap berbeda lebaran dalam satu keluarga. Namun, ia menghilang entah kemana dan sedang menyongsong urusan apa. Pastinya, saya sudah dapat gambaran bahwa tiada masalah bagi mereka untuk berbeda dalam melaksanakan lebaran Idulfitri, karena mereka telah melebarkan lapik fitrinya.

***

Esok harinya: Jumat. Lebaran Idulfitri berlangsung di salah satu masjid pusat Kota Bantaeng. Pelaksanaan salat Idulfitri dipusatkan di Masjid Raya Bantaeng buat warga Muhammadiyah dan yang mengikutinya. Pasalnya, tidak harus menjadi warga Muhammadiyah untuk ikut berlebaran di hari Jumat. Siapa pun asalkan seorang muslim dan setuju dengan penetapan Muhammadiyah, boleh berlebaran di hari Jumat tahun 2023 ini.

Saya pun meninggalkan mukim, menuju kantor, tempat mengasah pendapat buat mengasuh pendapatan, guna menyelesaikan satu naskah suntingan proposal kompetisi inovasi KIPP tingkat nasional, sekaligus mengunggah satu esai buat Kalaliterasi.com, buah pikir seorang kawan, terkait Idulfitri, berjudul, “Meniada di Hari Fitri”.

Kala saya berkhusyuk ria mengerjakan urusan kata-kata tersebut, muncul seorang kawan. Ia seorang direktur perkumpulan pemberdayaan masyarakat bentukan kami. Dia mampir ke kantor kami, sebab ia milihat motor saya parkir di depan kantor. Entah mengapa, antara bakal pertanyaan saya dan jawabannya sama. Terkait dengan dari mana dan jawabannya, “Mengantar istri salat Idulfitri di Masjid Raya Bantaeng.”. Kawan saya ini, seorang penghayat keagamaan ala NU, sementara istrinya, aktivis perempuan di Muhammadiyah. Selang berlaksa detik, ia pamit buat menjemput sang istri, karena sudah tunai salat Idulfitrinya.

***

Ketika kawan kerja saya menanti panggilan jemput sang istri, saya lalu bercerita penuh kelakar, bahwa di keluarga besar pasangan saya, kami pernah empat kali gelombang salat Idulfitri. Saya sudah lupa tahun persisnya, tapi peristiwanya akan selalu saya kenang, tatkala terjadi perbedaan pelaksanaan lebaran Idulfitri.

Di keluarga pasangan saya, punya tujuh saudara, dengan orientasi keberagamaan beragam. Pun, bapak dan ibu mertua saya. Sekali waktu, kami berkumpul di Makassar, untuk berlebaran yang saya sudah lupa tahun persisnya. seorang lago saya lebih awal melaksanakan salat Idulfitri, sebab merujuk pada fatwa kelompok muslim An-Nazir yang berpusat di seputar Danau Mawang, Kabupaten Gowa. Walaupun saat ia pergi ke lokasi salat, seperti mobil Panther, suaranya nyaris tak terdengar.

Sepulang dari salat, ia tersenyum penuh kegembiraan, penanda seseorang telah meraih kemenangan, setelah melalu pertempuran di bulan Ramadan. Ia menjabat tangan saya, sembari mengajak mojok, ingin mengatakan sesuatu, agak rahasia, “Saya sudama salat Idulfitri. Ikutka An-Nazir di Mawang. Banyak kuliat temanta di sana Kak. He..he..he”. Ia menggoda saya, seolah bertanya kenapa tak ikut. Memang di Jemaah An-Nazir, banyak kawan saya. Bahkan Imamnya, almarhum Ust. Lukman Bakti, merupakan junior saya di HMI MPO. Imamnya An-Nazir sekarang, Ust. Syamiruddin Pademmui, pun rekan seperjuangan saya di HMI MPO asal Cabang Palopo.

***

Hari berikutnya, masih bertengkar antara subuh dan pagi. Adik ipar saya yang kuliah di Universitas Brawijaya Malang, mendapat telepon dari temannya di Malang, menguritakan bahwa salah satu kampus Unismuh, akan melaksanakan salat Idulfitri. Mendengar urita sang kawan, tindakan pertamanya, membatalkan puasa, waima salat Idulfitrinya ikut ramai esoknya, seperti warga Muhammadiyah pada umumnya.

Seingat saya, urita sang kawan dari adik ipar saya, sejalan dengan waktu yang ditetapkan oleh Jemaah Tarekat Naqasandiyah berpusat di Sumatera. Adapun mayoritas rujukan salat Idulfitri di keluarga pasangan saya, khususnya di tahun yang saya sudah lupa persisnya itu, lebih banyak merujuk ke fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah. Termasuk mertua saya.

Cerita belum selesai. Ternyata, ada satu lagi lago, masih setia menanti penetapan pemerintah, yang penetapan waktu lebarannya sehari setelah keputusan Muhammadiyah. Nah, bayangkanlah kisanak-nyisanak, betapa dinamisnya cara beragama kami di keluarga pasangan saya. Cukup beragam, tapi seragam dalam menu lebaran: Burasa, ketupat, coto, opor, dan teman-temannya. Plus aneka kue kering dalam satu nama: kue lebaran.

***

Tahun 2023, kembali terjadi perbedaan lebaran. Muhammadiyah menetapkan 21 April 2023, Jumat, sebagai hari lebaran. Sementara pemerintah lewat Sidang Isbat dan NU, mengukuhkan 22 April 2023, Sabtu, sebagai 1 Syawal 1444 H. Reaksi umat pun beragam, mulai dari kajian ilmiah hingga meme lucu penghibur hati bermunculan. Namun, yang ajaib, dan kepastiannya tak terbantahkan, semua umat Islam Indonesia tetap sepakat, 21 April 2023, sebagai Hari Kartini, serupa hari raya buat kaum perempuan Indonesia. 

Mengapa Hari Kartini perlu diajukan sebagai interupsi di atas perbedaan? Agar semuanya menjadi tercerahkan. Pasalnya, kelompok paling menentukan suksesnya lebaran adalah kaum perempuan. Mau jatuh di hari Jumat atau Sabtu, kaum perempuan penentunya. Maka di hari lebaran yang berbeda, kaum perempuan, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya.

Nah, bagi saya yang sudah pernah mengalami perbedaan empat gelombang pelaksanaan lebaran salat Idulfitri, jikalau hanya menghadapi perbedaan dua gelombang, terasa biasa saja. Lalu apa sikap paling mutakhir saya? Menjadi Nu-hammadiyah. Maksudnya, saya orang NU, tapi seiman dengan kaum perserikatan Muhammadiyah. Harapan saya selalu mengemuka, manakala terjadi perbedaan lebaran, puasa terakhir saya diundang oleh saudara seiman Muhammadiyah untuk berbuka di mukimnya, sebab burasa dan kawan-kawannya sudah siap disantap. Dan, usai bersantap, saya akan menabalkan kata, agar besok ke mukim saya, untuk bersantap burasa dan teman pengiringnya. Boleh berbeda hari lebaran, tapi burasa dan ketupat kita masih sama bentuknya.***

Kredit gambar: sangpencerah.id

Banjir Amarah

“Persamaan banjir dan marah,meluap kemana-mana. Apalagi jika bersatu: banjir marah, maka sempurnalah derita.” ( Maksim Daeng Litere, 160620)

Warga Kota Makassar cemas berjemaah. Air diperkirakan akan menggenangi kota hingga dua meter. Makassar siaga satu. Potongan video Wali Kota Makassar, Dani Pomanto, beredar mengimbau warga kota agar waspada. Kala mengimbau, ia sendiri berada di lokasi ketinggian air sepinggangnya. BMKG mengedarkan urita, pentingnya mewaspadai cuaca ekstrim, 12-16 Februari 2023. Pun, ketika saya tuliskan esai ini, hujan menderas, air masih menggenangi mukim saya. Pokoknya, pusat dan pinggiran Kota Makassar diterungku air. Pascabanjir, saya baca di teks berjalan televisi, ribuan orang mengungsi.

Sebagai warga Kota Makassar, pemukim di pinggiran kota, punya pengalaman intens dengan banjir. Sekadar menghangatkan ingatan. Tahun 1994, saya mulai mukim di bagian selatan kota. Enam belas tahun kemudian, pertama kalinya air menggenangi mukim saya. Banjir melanda Kota Makassar dengan ketinggian selutut di dalam rumah saya. Padahal, untuk ukuran sesama pemukim, rumah saya tergolong tinggi sejak awal dibangun, sekira pertengahan tahun 1980-an.

Tahun-tahun berikutnya, sudah jadi langganan banjir. Air selutut di dalam rumah sudah biasa. Seolah lutut saya jadi ukuran air. Lalu apa kerugian dari berkali-kali diserang banjir? Harta benda tidak banyak. Peralatan dan perabot berbahan serbuk kayu, sudah amblas sejak genangan pertama. Namun, harta paling berharga berupa bahan bacaan dan buku,  ratusan dimangsa air. Baik yang di toko maupun koleksi ruang baca. Maklum saja, rumah saya sekaligus menjadi tempat jual buku: Toko Buku Paradigma Ilmu.

Banjir demi banjir bertamu. Marah demi marah bertumpuk. Hingga kemarahan tiada lagi tersisa. Banjir masih ada, tapi kemarahan saya sudah habis. Saya teringat dengan Maksim Daeng Litere (170620), “Prilaku marah, diutus sebagai jebakan. Persis sebagai perangkap tikus.” Jadi, banjir terkini melanda Kota Makassar, memang lebih tinggi dari biasanya di mukim saya. Naik sejengkal. Artinya sudah sepaha. Lumayan pertambahannya, dari lutut ke paha. Adakah kerugian? Beberapa buku berenang, menikmati kejayaan air.

Sewaktu banjir terkini mengepung Kota Makassar, banyak sekali kemarahan publik muncul. Di media sosial, warga kota memuntahkan kemarahannya. Saya mengempatinya dari luar kota, sebab saya berada di satu daerah, 120 km dari Makassar: Kabupaten Bantaeng. Saya tetap bertanya kabar keadaan di mukim, mereka tenang menghadapi banjir. Bahkan, ketika saya menyatakan ingin segera ke Makassar, pasangan saya mencegah, sebab siapa tahu perjalanan tidak mulus, bisa-bisa muncul masalah baru. Terkadang saya membatin, orang-orang marah mungkin karena pemula. Baru pertama kali kena banjir.

Hari kedua setelah banjir, baru saya ke Makassar. Tiba di rumah, saya tetap disambut keramahan, tiada kemarahan. Saya mulai menelisik dampak banjir, siapa tahu ada yang luput dari penyelematan. Benar saja adanya. Di salah satu kamar, selama ini didiami putri saya yang sudah hijrah ke Bantaeng, ada satu kardus dan kantongan, luput dari perhatian. Alamak. Isinya buku-buku bergizi tinggi dan berkas: ijazah.

Tandasnya kemarahan saya, kemungkinan besar karena saya menganggap air, juga sebagai korban. Pasalnya, banyak daerah resapan air, tempat air selama ini hidup tenang, menyuakakan diri telah diusik. Sebagai misal, di wilayah pemukiman saya, semulanya terdapat banyak rawa-rawa, tetapi disulap menjadi perumahan. Setidaknya, ada tiga kompleks perumahan. Tentu lebih banyak lagi di bagian lain dalam Kota Makassar.

Artinya, air diserobot mukimnya. Maka air mencari tempat lebih rendah. Air menemukan salah satu tempatnya di rumah saya, sebab lebih rendah. Belum pernah direnovasi untuk ditinggikan. Sesama korban, lebih baik berdamai. Yah, berdamai dengan banjir. Air bah saya perlakukan sebagai tamu. Ia bisa datang dan pergi kapan saja.

Di mukim kami, seisi rumah mulai tumbuh sikap beramah-tamah dengan air. Isi rumah ditata sedemikian rupa, agar air selaku tamu datang, bisa nyaman adanya. Kami mulai mengganti perabot tahan air, berbahan plastik dan aluminium. Rak buku, terbuat dari kayu, kami kosongkan dua jenjang paling bawah. Air pun tak kuasa memanjat, meskipun ada satu dua buku melompat. Mungkin buku ingin mencoba jadi ikan.  

Ada kisanak-nyisanak yang mengusulkan, agar lantai rumah dinaikkan dan badan rumah ditinggikan. Usulan jitu, tapi kami belum punya cuan. “Pengauasa-penguasa, beri hambamu uang,” kata Iwan Fals. Saran paling praktis, waima paling rumit. Kerumitannya bisa memancing hadirnya kemarahan baru. Maksim Daeng Litere (201020) menegaskan, “Marah serupa tahi kopi didasar gelas. Sesekali naik ke permukaan, ketika diaduk buat diadu.”

Cukuplah kerumitan itu, disetubuhi oleh obsesi para penata kota yang mengidamkan Makassar, sebagai kota dunia, Kota Metaverse. Ingat, semetropolis apa pun satu kota, pasti ada kumuhnya. Saya tidak sedang memproklamasikan, mukim saya merupakan salah satu representasinya. Namun, patut diperhitungkan sebagai “polisi tidur”, gundukannya menjadi interupsi bagi pelaju jalan.

Meskipun saya sudah kehabisan marah, tapi saya memaklumi warga Kota Makassar atau warga kota-kota lain langganan banjir, masih memuntahkan amarahnya, seperti air banjir meluap kemana-mana. Air bah sebagai simbol kemarahan, saya tetap ingin kendalikan agar menjadi keramahan. Sebab, rasa marah itu tidak seperti air mengalir di sungai. Banjir hanya serupa luapan dari terserobotnya aliran dan penampungan, serta peresapannya.

Benar kata bijak bestari, ketika kita merasa marah, sadari amarah kita. Saat kita menyadari perasaan itu, kita tidak lagi terhanyut di dalamnya. Kesadaran membuat kita mampu melihat perasaan itu dari luar. Kesadaran bersifat murni, sama seperti langit yang terbentang. Amarah bisa membuat langit mendung sejenak, tapi perasaan itu tak dapat mengotorinya. Perasaan negatif datang dan pergi seperti awan mendung, tetapi langit yang terbentang luas akan tetap ada.

Tutur bijak bestari tersebut, saya nukilkan secara lugas dari Haemin Sunim, seorang guru meditasi Budha Zen dan penulis paling berpengaruh di Korea Selatan. Sunim menabalkan dalam salah satu buku larisnya, terjual lebih tiga juta eksamplar di Korea Selatan, berjudul The Tings You Can See Only When You Slow Down. Hal-hal yang dapat terlihat, saat engkau melambat.

Kala melambat di tengah seruduk kecepatan sahut menyahut kemarahann warga, saya melihat air sebagai korban, terbirit-birit penuh kemarahan. Menyerbu kota, disumpahi secara serapah, tapi begitu tiba di mukim saya, ia tenang menggenang, menyisakan kenang. Kenangan genangan menjadi kesenangan, seperti tembang kenangan yang ditembangkan ulang, demi mengawetkan keramahan, biar derita hengkang tunggang-langgang.  

Tetra Sari Diri(?)

Tak sedikit kisanak dan nyisanak menohokkan tanya, kala saya mengada di persamuhan literasi, bagaimana proses kreatif menulis buku? Biasanya, saya ajukan respon, empat buku saya tidak pernah direncanakan mewujud buku. Pasalnya, sekotah buku lahir, karena akumulasi dari kumpulan tulisan. Berkat rajin menabung tulisan di celengan minda. Segenap minda, saya ikat lewat tulisan, lalu saya tabung dalam berbagai genre tulisan: fiksi (sastra) dan nonfiksi (opini).

Tulisan bergenre fiksi saya tuangkan berupa puisi dan epigram. Sedangkan opini saya ruangkan berbentuk esai. AirMataDarah (sehimpunan puisi), Tutur Jiwa dan Maksim Daeng Litere (keduanya epigram), sedangkan Pesona Sari Diri (sekumpulan esai). Uniknya, keempat buku tersebut, tiada pengantar dari saya selaku penulis. Cuman, pendakuan rasa terima kasih saja kepada semua pelibat lahirnya buku.

Kiwari, saya sering menyempatkan diri mengeja kembali keempatnya. Mencari benang putih pengikat minda secara keseluruhan. Subjektivitas saya merasai kesinambungan minda, kemudian terobjektivikasi dalam bentangan puisi, epigram, dan opini. Objektivikasi bisa nyata beragam, tapi subjektivikasi mampu tampak seragam: sari diri.

Berlapikan asumsi demikian, saya coba balik pembacaan. Saya mengeja seluruh prolog maupun epilog buku, didedahkan oleh sahabat maupun guru saya, guna menyerap subketivikasinya terhadap objektivikasi tuangan dan ruangan minda saya. Dan, subjektivikasi mereka lewat bentangan prolog-epilog, saya objektivikasi kembali. Reken-reken sejenis resensi terbatas atas prolog-epilog keempat buku. Jadi, bukan semacam resensi atas buku sendiri. Melainkan, sekadar mencari keterkaitan dari penulis prolog-epilog, kemungkinan adanya benang merah: sari diri.

AirMataDarah, terbit 2015, penerbit Liblitera bekerjasama Komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.  Ada dua sosok pemberi pengantar. Alto Makmuralto, selaku penyunting sekaligus bertindak representasi penerbit. Dul Abdurrahman, selakon sastrawan dan kritikus sastra. Subjektivikasi keduanya, akan saya nukilkan secara bebas.

Dul Abdurrahman mengemukakan argumen, pada umumnya, jenis sajak terbagi atas sajak pastoral dan sajak prelude. Sajak pastoral lebih condong menggunakan gaya bahasa denotatif. Sajak pastoral melukiskan sesuatu apa adanya. Jenis sajak ini menghindari simbol-simbol atau metafora. Sajak pastoral lebih gampang dinikmati, dan juga gampang dipahami.

Sajak prelude tidak lagi melukiskan apa adanya, tapi sudah menggunakan simbol-simbol tertentu serta ragam gaya bahasa lainnya seperti personifikasi dan metafora. Jenis sajak ini menggunakan bahasa konotasi, sehingga untuk memahaminya butuh interpretasi. Sajak-sajak lirik-sufistik sebagai bentuknya.

Lalu bagaimana dengan puisi-puisi dalam AirMataDarah? Dul menegaskan, sebagaimana halnya dengan penyair-penyair kontemporer lainnya, Sulhan Yusuf terlihat memadukan keduanya. Ataukah boleh jadi, Sulhan Yusuf masih mencari model tanda tangan yang pas baginya, kelak akan menjadi ciri khasnya sendiri.

Dul mengibaratkan AirMataDarah seperti Rumah Kebahagiaan dan Keabadian. Di dalamnya terdapat perabot-perabot pengabdian, keikhlasan, keselarasan. Ada juga asesoris kebijaksanaan. Rumah Kebahagiaan yang ditawarkan, serupa Rumah Keabadian, ditumbuhi jejeran pohon-pohon rindang yang menciptakan kesejukan. Bukan dijejali oleh rombongan binatang yang penuh kegaduhan. Semakin tua sebuah pohon, maka akarnya semakin dalam mencengkram bumi. Bahkan, semakin kuatlah ia dalam kehidupan. Sebaliknya, hewan begitu bermusuhan dengan waktu. Semakin bertambahnya waktu, maka semakin tua dan lemahlah dia, dan juga semakin dekatlah kematian. Bagi hewan, waktu ibarat jarum-jarum kematian yang setiap saat bisa menusuk.

Alto pun ikut bertutur, pada puisi-puisi Sulhan akan kita jumpai kata-kata seperti: azali, pejalan, maqam, keabadian, ruhani, jiwa, dan semacamnya. Bukankah kata-kata semacam itu sangat identik dengan dunia para pesuluk? Ya, benar. Dan karena itu patut diduga jikalau Sulhan sesungguhnya adalah seorang pesuluk. Hanya saja ia berpura-pura menjadi pedagang buku, pecandu kopi pahit, penggila Koes Plus dan Arsenal, serta pegiat facebook yang unyu-unyu. Begitulah memang kiranya penganut suluk Malamatiyah.

Tutur Jiwa, terbit 2017, penerbit Liblitera bekerjasama Komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng.  Alwy Rachman, lebih akrab saya sapa Kak Alwy, seorang budayawan, mengistilahkan pengantarnya sebagai pracitra. Berlapis-lapis kisah terdedahkan, hingga saya bisa mendapatkan subjektivikasinya. Bila saya ekstrak durasi waktu menanti, sekira lebih setahun. Setiap saya sua, beliau selalu bilang sementara dibaca. Dan, saya tiada lelah menanti pracitra itu.

Sekali waktu, saya bertandang ke ruang kerjanya di Lephas Unhas. Tiba-tiba beliau menyampaikan bahwa sudah selesai. Jujur, saya seperti mau terbang, untung saja ada langit-langit ruangan menjadi perintang. Pendakuannya, ketika menuliskan pracitra, Kak Alwy hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam. Namun, merahiminya di pikiran butuh waktu lama.

Kak Alwy kemudian menabalkan kepada saya, ia menemukan istilah untuk jenis tulisan-tulisan dalam Tutur Jiwa, “Literasi Paragraf Tunggal”. Baginya, belum pernah menemukan jenis tulisan semacam itu. Jadi, beliau mendaku, ia menemukan istilah sedangkan saya membikin bentuknya. Kami tidak pernah mengumumkan sebagai genre baru dalam penulisan sastra. Cuman, menurut Kak Alwy: unik.

Ah, lebih elok bila saya ajukan saja penggalan pracitra Kak Alwy. Di rentang panjang peradaban, sejak dulu hingga kini, “kisah” selalu didudukkan di kedalaman wajahnya yang jamak: sebagai  mata air, sebagai nyala api inspirasi, sebagai refleksi, dan sebagai percakapan yang melingkar. Di percakapan yang melingkar itu pula, manusia menggerakkan kedirian dan eksistensinya. Di satu momen, manusia berada di ketinggian, dan di momen lain ia menemukan dirinya di kerendahan.

Di momen gerak ke ketinggian dan ke kerendahan inilah sekumpulan literasi “Tutur Jiwa”, ditulis oleh Sulhan Yusuf, sejatinya dicerap. Di kerendahan, Sulhan Yusuf membincang manusia melalui satir yang santun, bukan sarkasme yang kasar. Satir santun dialamatkan kepada politikus, kepada demokrasi, dan kepada kekuasaan. Di ketinggian, Sulhan Yusuf berkisah tentang cinta, tentang persahabatan, dan tentang kedirian, tentang hak, dan tentang jiwa.

“Tutur Jiwa” adalah literasi “paragraf tunggal”. Uniknya, Sulhan Yusuf di sini menjalankan perilaku tulis “paragraf tunggal” untuk menciptakan “rongga yang luas” untuk menyimpan kisah. Apa pun tajuknya, apa pun ruang hidupnya, siapa pun aktornya, kisah yang dibangun Sulhan Yusuf berujung pada “jiwa”. Lebih unik lagi, Sulhan membangun kisah lewat “genre percakapan”, suatu genre yang sejauh ini dipercaya oleh sastrawan untuk menggerakkan jiwa pembaca.

“Tutur Jiwa” berdiri di atas “keselamatan jiwa”, sebagai representasi dari takjub manusia atas pesona “jiwa”. Berisi diskripsi atas manusia yang bergerak di ketinggian dan kerendahan untuk paham perjalanan lelah manusia mencari “The Soul of soul” (Jiwa dari segala jiwa).

Pesona Sari Diri, terbit 2019, penerbit Liblitera bekerjasama Komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Dua sosok pengapit, Bahrul Amsal menyodorkan prolog dan Muhajir MA mendedahkan epilog. Keduanya aktivis di Paradigma Institute, pengelola kelas menulis, sekaligus jejeran redaktur Kalaliterasi.com.  

Bahrul menorehkan ungkapan, Pesona Sari Diri, saya kira adalah pembuktian. Bukan kepada siapa-siapa, melainkan kepada penulis sendiri. Ini mungkin cenderung personal. Tapi, apa yang lepas dari personalitas? Tanpa personalitas yang kukuh –suatu titik subjektivitas— semuanya bakal mudah menguap. Saya kira beragam tulisan di buku ini adalah energi luar biasa, dilambari dari kekuatan diri yang dahsyat.

Itulah sebabnya, esai-esai dari buku ini tiada arti tanpa kemendasaran “diri”. “Diri” di sini tentu tidak semata-mata entitas biologi belaka. Bukan pula sekadar hubungan fisiologis yang menghasilkan gerak mekanik laiknya mesin. Namun, jauh dari tilikan materialistik, “diri” adalah suatu asal tempat berpijak “kesadaran”. Titik alamat yang menimbulkan keinsafan insani (cukup diri).

Maka, ketika keinsafan ini menjadi aktual, beragam fenomena tidak lagi menjadi data-data indrawi yang berhamburan di selaksa ruang waktu, melainkan berubah, bertransformasi, bergerak, berpindah, dan berkembang dalam kemendasaran diri penulis. Melihat, mengamati, merefleksi, dan menuangkannya ke dalam tulisan adalah buah dari semua itu.

Muhajir, memungkasi Pesona Sari Diri dengan epilog. Saya nukilkan saja sari patinya. Sebagai orang modern, kita terlalu sibuk menapaki keseharian. Jadwal-jadwal padat mengintai hidup kita. Pekerjaan remeh-temeh memenuhi rutinitas kita. Namun, justru karena itu kita gagal menyelami kedalaman. Setidaknya, ada dua bentuk kedalaman yang gagal disentuh manusia karena diterungku oleh keseharian: pertama, momen pengalaman eksistensial yang bersifat pra-preflektif. Kedua, momen permenungan yang bersifat reflektif.

Jika yang pertama menjauhkan manusia dari Ada-nya, maka yang kedua menjauhkan manusia dari pesan-pesan moral, hikmah, falsafah. Itu karena kesibukan praktis membuat kita jauh dari kontemplasi. Sehingga akal budi kita tidak jernih memandang jutaan hikmah pada hal-hal yang tampak.

Sulhan memang adalah aktivis literasi yang tulen. Pemahaman terhadap arti penting literasi, karena literasi membahagiakan jiwa. Satu pesan yang sangat dalam, lahir justru dari penjara keseharian. Sejatinya, Sulhan menghadapi keseharian yang dangkal dan remeh-temeh bukan sebagai rutinitas biasa saja. Namun, sebagai jalan menyelami kedalaman, menyingkap pesan-pesan kehidupan. Keseriusan Sulhan memahami keseharian, barangkali bisa diartikan sebagai sebuah ajakan untuk sesekali berkelana di alam permenungan.

Kehadiran Pesona Sari Diri akhirnya jadi penegasan, betapa keringnya pengetahuan kita, saat menyadari ada banyak hal yang tidak kita ketahui, justru tertuang dalam kumpulan esai ini. Barangkali, kita terlalu sibuk berputar-putar di permukaan, hingga tak kunjung sampai di kedalaman.

Maksim Daeng Litere, terbit 2021, penerbit Liblitera bekerjasama Komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Muhammad Nur Jabir, Direktur Rumi Institute Jakarta, membentangkan prolog, memahkotai dengan sederet penjelas penuh makna.

Tarian pena dari Muhammad Nur, penuh pesona. Saya ajak saja untuk mengikuti penggalan-penggalan tuturnya. Ada saat kata-kata mekar di dalam hati sanubari seseorang. Kata-kata itu tak hanya menemukan kehidupan, tetapi juga menemukan maknanya yang paling batin, seolah berada di taman surgawi, memetik buah makna keindahannya yang paling indah. Saat kata tak lagi menemukan makna, kata itu sudah menemukan ajalnya. Walau tak mati, tetapi tak bertuan dan tak bersinggasana. Kata-kata itu hanya keluar dan masuk tanpa arah di setiap lidah seseorang.

Makna ibarat jiwa bagi kata-kata dan kata-kata seperti tubuh. Jiwa yang indah akan melahirkan kata-kata indah. Semakin indah dan lembut jiwa seseorang, semakin indah kata-kata yang akan keluar dari lisannya dan akan semakin dalam maknanya. Harmoni keindahan antara jiwa, kata, dan makna semakin menjelma. Menembus setiap hati para pendengarnya.

Segala keharmonian itu berasal dari keluasan jiwa. Dan keluasan jiwa berakar dari sebuah pengalaman atas sesuatu, entah pengalaman tentang kehidupan atau pengalaman tentang pencarian makna. Tetapi tentu tak semua pengalaman itu berhasil menemukan kata dan seuntai kalimat. Kekayaan pengetahuan seseorang juga memberi pengaruh penting dalam merangkai suatu pengalaman menjadi kata-kata.

Pada akhirnya, Maksim Daeng Litere mengajak kita semua untuk berdialektika dengan kata dan makna. Dialektika ini tentu terjadi di dalam jiwa yang tenang, agar mampu menghidupkan jiwa-jiwa yang lain. Dunia sekarang ini butuh pemaknaan yang menghidupkan, bukan sekadar kata yang tak punya jiwa dan hampa. Walau terlihat indah tetapi tak memberikan apa pun kecuali kehampaan.

Daeng Litere adalah pejuang makna. Sudah menyerahkan seluruh makna hidupnya dalam membangun literasi. Para pejuang makna adalah para pejuang peradaban. Tak akan ada imbalan yang setimpal dengan apa pun bagi para pejuang peradaban. Dan satu-satunya yang dibutuhkan dalam membaca Maksim Daeng Litere adalah permenungan.

Sekotah penulis prolog dan epilog, telah membabarkan subjektivikasinya terhadap objektivikasi di empat buku saya. Simpai simpulan gegabah dari saya, ada benang merah dari para pembabar tentang keberagaman ungkapan, meski tiba pada maksud: soul (jiwa) atau kedirian. Pun, saya temalikan dengan benang putih: sari diri.