Semua tulisan dari Syarif Lahmady

Lahir di Ambon 01 Juni 1992, suka kopi dan rokok, senang menggosip Tuhan dan perempuan, pegiat literasi di Paradigma Institute Makassar.

Orang-orang Berbaju Putih di Malam Natal

Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan Natal kembali memeriahkan kota Ambon. Namun tetap sama, ketegangan masih saja menggerogoti hati sebagian orang, termasuk Saleh— Lelaki yang baru tiba di Ambon tiga hari yang lalu, setelah lima tahun mengecap pendidikan di salah satu universitas di Makassar.

Kabar-kabar akan terjadi lagi kerusuhan, masih saja bermukim di kapala sebagian orang. Kendati demikian, setiap hari-hari besar (Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru), ketegangan selalu saja terjadi. Hal ini lantaran luka sejarah, terjadinya kerusuhan di tahun 1999 silam, masih membekas dalam hati dan benak sebagian masyarakan Ambon. Luka yang hanya dapat diobati dengan maaf, cinta dan kesadaran hidup berdampingan dengan harmonis sebagai orang Basudara[1].

***

Magrib membayang, senja hampir hilang ditelan malam, bunyi petasan sebagai tanda dimulainya malam Natal, terdengan santer di telinga. Saleh melangkah di tengah-tengah keramaian Terminal Mardika; pedagang pakaian, pedangan “kaki lima”, angkot yang parkir berjejer menunggu penumpang, orang-orang yang berlalu lalang di sana, menyesaki terminal itu.

Bunyi petasan, teriak pedagang-pedagang yang menawarkan barang jualan mereka, bising suara knalpot angkot dan motor yang melintas, suara orang-orang berbicara, membuat suasana menjadi hiruk-pikuk.

Saleh hendak mengunjungi temannya di Waihaong, lelaki itu tak dapat menyembunyikan perasaannya. Meski tampak tenang, namun rasa cemas berkecamuk dalam hatinya, sebab, di terminal itu, tempat pejumpaan orang dari segala penjuru kota Ambon, Islam-Kristen bercampur-baur di sana. Kecemasannya itu lantaran kabar yang disampaikan seoarang temannya kemarin malam, bahwa ketegangan terjadi di daerah Batu Merah, orang-orang berjaga-jaga hingga tengah malam.

Saleh kemudian mengambil angkot menuju Waihaong. Selama perjalanan, beberapa kali ia melihat pohon natal yang dihias lampu-lampu, menghiasi samping-samping jalan. Dan orang-orang berpakaian rapi, mulai terlihat menuju gereja.

Saat angkot yang ditumpanginya berhenti di lampu merah perempatan Jalan A.Y Patty—di depan Masjid Al-Fatah, ia melihat sekumpulan polisi sedang berjaga-jaga di pos perempatan itu. Hal itu membuatnya semakin cemas. Sementara di depan sana, tepanya di perempatan Tugu Trikora, kerumunan orang Kristen dengan pakaian rapi, ramai berjalan menuju Gereja Silo, ada juga yang datang dengan mobil dan motor. Hal itu semakin memperparah suasana batinnya. Bagaimanapun juga, peristiwa kala itu, masih terbayang dalam pikirannya. Saat kerusuhan mencapai puncak keganasannya, di sanalah— di perempatan Tugu Trikora, ia menyaksikan kepala tertebas parang hingga lepas dari badan, darah tumpah membanjur permukaan aspal, tubuh-tubuh meregang nyawa kembali ke muasal.

“Bagaimana jika sampai di depan sana, lalu sesuatu terjadi?” ia menduga-duga dalam hatinya.

Pikirannya mulai tak karuan, kecemasan berubah jadi ketakutan, ketegangan pun tampak pada dirinya, ia gelisah di tempat duduknya, tatapannya tajam menyelidiki.

Lampu hijau menyala, angkot bergerak mendekati Tugu Trikora—karena itu jalur yang akan dilewati. Ia berusaha tenang, karena ia melihar sopir dan penumpang lainnya terlihat tenang-tenang saja.

Hanya beberapa depa saja mobil angkot yang ditumpanginya tiba di perempatan itu, namun tiba-tiba harus berhenti di sana, karena kemacetan yang terjadi di depan gereja Silo. Tatapannya semakin tajam menyelidiki, meski tubuhnya tenang di tempat duduknya, bola mata bergerak liar penuh curiga, kilau matanya berbinar ketakutan.

Seketika ia sontak kaget, menyaksikan pemandangan di depannya, saat mobil angkot membelok ke kanan melewati depan Gereja Silo, ia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya , ia menatap heran-heran pada beberapa orang berpakaian putih dan songkok putih, yang terlihat di depan gereja; ada yang terlihat sedang membantu mengatur lalu lintas jalan depan gereja, agar tidak terjadi kemacetan panjang, ada yang membantu orang-orang kristen yang hendak ke gereja menyeberang jalan, ada yang berdiri di depan gereja terlihat seperti berjaga-jaga. Keningnya mengerut, tatapannya menyiratkan keheranan. Meski mobil angkot perlahan bergerak menjauhi Gereja Silo, tapi pandangannya tetap tertuju pada orang-orang berbaju putih itu. Melihat tingkahnya, para penumpang lain menatapnya heran-heran.

Nyong![2]Ose kanapa?[3]” tanya seorang wanita paruh baya yang duduk di hadapannya.

“Ha!” suara perempuan itu mengagetkannya, “Itu,” telunjuknya menunjuk ke arah orang-orang berbaju putih itu.

“Mereka sedang apa?” tanyanya

“Oh! Itu orang-orang muslim yang menjaga keamanan gereja,” jawab wanita paruh baya itu.

“Sekarang itu, kalau Natal orang muslim menjaga kemanan gereja-gereja, sedangkan kalau Idul Fitri, Orang kristen menjaga keamanan masjid-masjid,” lanjut perempuan itu menjelaskan.

Saleh hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan wanita paruh baya itu, perasaan cemas dan takut berubah menjadi ketenangan yang begitu damai.

“Aku seperti menyaksikan Muhammad dan Isa ada di tengah orang-orang itu,” gumamnya dalam hati.

Ia pun duduk tenang di tempat duduknya sembari memandangi kembang api yang meletus warna-warni membedaki langit kota Ambon, lalu tersenyum.

[1] Bersaudara

[2] Panggilan untuk seorang pemuda

[3] Kamu kenapa

Celengan Impian

Sorak-sorai teman-temannya membuat suasana kelas menjadi gaduh. Pak Bato mengetuk meja berulang kali sembari menyeru, “Anak-anak mohon tenang!” Keributan itu bermula ketika Pak Bato, wali kelas tiga sekaligus guru sejarah di SD itu, menanyakan Danu tentang impian dan cita-citanya. Danu awalnya menolak untuk menjawab pertanyaan gurunya. Sebab, ia menilai ada yang aneh dengan impain dan cita-citanya. Berbeda dengan teman-teman kelasnya yang lain: ada yang ingin jadi dokter agar bisa menolong orang sakit, ada yang ingin jadi tentara agar bisa berperang seperti jagoan di film-film, ada yang ingin jadi guru agar bisa menjewer telinga siswa yang tidak buat tugas, ada yang ingin jadi imam masjid agar selalu mendapat undangan tahlilan dan membawa pulang banyak kue. Yang terakhir itu impian dan cita-cita Icak, teman sebangkunya.

Dalam kondisi duduk terdiam di kursinya, bocah lelaki itu terus mendebati pikirannya, “Bagaimana cara mewujudkan impian dan cita-citaku?” tanyanya dalam hati. “Apa impian dan cita-citaku bisa terwujud?” ia semakin larut dalam pertimbangan-pertimbangannya sendiri. Kalau impian dan cita-cita seperti teman-temannya yang lain, mungkin saja bisa terwujud. Dengan sekolah setinggi-tingginya, semua itu akan digapai. Kecuali impian dan cita-cita Icak, karena tak perlu menjadi imam untuk mewujudkan cita-citanya, sebab hanya kue yang jadi tujuannya.

“Apa impian dan cita-citamu Danu?” Pak Bato kembali bertanya.

Kali ini ia tak bisa lagi menghindar dengan terus terdiam. Pak Bato terus-terus bertanya hingga membuatnya terpojok, diperparah dengan tatapan semua teman-teman kelasnya yang tertuju padanya.

“Bilang! Apa impian dan cita-citamu? Semua anak harus punya impian dan cita-cita,” kata Pak Bato yang berdiri di samping mejanya.

“Kamu mau jadi polisi?” tanya Pak Bato sembari menatap Danu yang tertunduk.

Bocah itu menggeleng kepala.

“Jadi presiden?”

Kembali ia menggeleng kepala.

“Lalu kamu mau jadi apa?”

Danu mengeluarkan bekas kaleng mentega yang dilubangi bagian tutupnya menyerupai celengan dan memperlihatkannya pada Pak Bato. Melihat hal itu, seisi kelas menjadi gaduh dengan tawa dan sorak teman-temannya yang mencibir. Pak Bato pun tak mampu menahan hatinya yang tergelitik dengan kejanggalan itu, dan segaris tawa pun lepas dari wajahnya yang mulai keriput.

Danu tertunduk malu karena ditertawai teman-temannya. Tak lepas, Icak pun ikut tertawa.

Pak Bato segera menenangkan suasana kelas, dan kembali menatap Danu dengan sisa tawa di wajahnya.

“Maksud kamu apa Danu dengan celengan itu?” tanya Pak Bato.

Danu membenam wajahnya, kepalanya tertunduk di atas lipatan kedua tangannya, matanya menekur sepatunya yang menggesek-gesek lantai di kolong mejanya.

“Tak apa, setiap anak boleh memiliki impian dan cita-citanya sendiri. Terserah! Apa saja,” kata Pak Bato membujuk sembari mengelus-elus punggungnya.

Pak Bato terus membujuk Danu agar mau menjelaskan mengenai celengan yang di perlihatkannya. Selain ia harus membuat setiap siswanya mampu menjelaskan impian dan cita-cita mereka sesuai dengan indikator pembelajaran, ia pun penasaran dengan maksud celengan yang diperlihatkan Danu.

Akhirnya Danu pun berhasil dibujuknya, dan perlahan bocah lelaki itu mengangkat kepalanya memandangi teman-temannya yang menatapnya bingung, ada juga yang menatapnya dengan senyum menahan tawa. Kemudian ia menatap wajah Pak Bato dengan wajahnya yang malu-malu.

“Apa Nak? Bilang! Tidak apa-apa,” ucap Pak Bato meyakinkan Danu yang terlihat hendak bicara namun ragu-ragu.

“Impian dan cita-citaku ada dalam celengan ini, aku menulisnya di kertas dan memasukannya ke dalam celengan,” kata Danu menjelaskan dengan suara sedikit gemetar.

“Oh…” Seru Pak Bato.

“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Pak Bato menggali lebih dalam, berusaha membuat Danu menjelaskan alasannya.

“Karena cita-cita itu tak boleh diucapkan,”

“Kenapa?”

“Karena kalau diucapkan, nanti iblis dengar, dan iblis akan menggagalkannya,” jelas Danu

“Siapa yang bilang begitu?” tanya Pak Bato.

“Ibuku,” jawab Danu datar.

***

Danu dan ibunya tinggal di sebuah rumah di batas desa, dekat lapang sepak bola. Rumah itu dibeli ibunya dari seorang pensiunan PNS yang pindah ke kota, dengan uang tabungan dari hasil usaha jahitannya.

Rumah berarsitek tahun 90an itu memiliki dua kamar. Kamar tengah, sebagai kamar tidur Danu dan ibunya, sementara kamar depan di jadikan tempat usaha jahitan oleh ibunya. Rumah itu hanya dihuni Danu dan ibunya, sedangkan ayahnya entah di mana? Siapa dia pun Danu tak tahu. Di beranda depan, ada dua kursi santai dan meja kayu berwana cokelat di antaranya, bunga-bunga yang bermekaran dalam pot yang tertata rapi di sana, satu pohon cermai yang tumbuh dekat pintu pagar. Di sanalah bisanya Danu bermain saat sore hari. Kadang duduk di kursi sambil melihat orang-orang bermain bola di lapangan. Kadang juga termenung di sana melihat sepasang orangtua membawa anak mereka bermain di lapangan itu, dan itu membuat Danu iri.

Hingga suatu hari datang seseorang mencari ibunya. Dari wajahnya, lelaki itu usianya tak beda jauh dengan ibunya. Sepertinya, ibunya mengenal lelaki itu dengan baik. Karena setelah ibunya membukakan pintu untuk lelaki itu, ibunya sempat kaget melihat orang itu, dan kemudian berbicara dengannya seperti tak asing. Setelah memberikan sepucuk surat yang terbungkus dalam amplop, lelaki itu lalu pergi.

Danu yang sedari tadi mengintip dari balik tirai pintu antara ruang tamu dan ruang keluarga, mendekati ibunya. Didapati ibunya sedang membaca isi surat tadi yang diberikan lelaki itu. Pipinya lembap, matanya berkaca-kaca, jari telunjuk tangan kanannya menyeka tetesan air mata di ujung matanya, “Ibu kenapa?” tanya Danu sembari membenam wajahnya dalam pelukan ibunya.

“Siapkan barang-barangmu Nak, kita pergi!” kata ibunya dengan suara isak.

“Kita mau ke mana?” tanya Danu heran-heran

“Siapkan saja barang-barangmu, besok Ibu ke sekolah meminta surat pindahmu”.

***

Pagi itu, setelah menemui kepala sekolah untuk memintah surat pindah Danu, ibunya pun menemui Pak Bato. Namun beliau tak ditemui di ruangannya, “Silakan duduk dulu Bu, saya panggil dulu Pak Bato, seperinya sedang mengajar di kelas,” kata seorang guru, dan mempersilahkan ibunya duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Pak Barto.

Beberapa menit kemudian, terdengar seseorang mengucap salam dari arah pintu ruangan itu. Ibunya pun sekonyong-konyong membalas salam itu, dan memalingkan kepala ke arah orang itu. Seketika perempuan itu kaget, sekelabatan ia berdiri dari tempat duduknya, “Ilyas!” serunya sembari menatap heran-heran lelaki yang berdiri di hadapanya. Keningnya mengkerut-kerut, tatapannya tajam, binar matanya seolah menyelidiki. Lelaki itu juga kaget melihat perempuan di hadapannya, “Maya!” serunya sembari menunjuk perempuan itu. “Kok kamu di sini?” tanya lelaki itu. Sekilas keduanya beradu pandang. Kemudian lelaki itu melangkah masuk dan duduk di kursinya dan mempersilahkan perempuan itu kembali duduk.

“Oh! Jadi kamu yang dibilang Pak Bato?” kata Maya.

“Itu nama asliku,” jawab Ilyas atau yang biasa disapa Pak Bato.

“Hmmm, jadi Ilyas itu nama samaranmu?”

Lelaki itu hanya mengangguk.

“Kamu belum jawab pertanyaanku, kok kamu bisa ada di sini?” tanya lelaki itu.

“Ceritanya panjang,” jawab Maya datar.

“Dulu aku dengar dari teman angkatanmu, bahwa kamu tiba-tiba menghilang dari kampus dan tidak melanjutkan kuliahmu,” ucap Ilyas

“Itu semua karena ini!” perempuan itu membanting celengan bekas kaleng mentega itu di atas meja di hadapannya dengan keras, hingga lelaki itu dibuat kaget dengan suara dentumannya.

“Apa ini?” spontan Ilyas kaget.

“Itu titipan anakmu! Dia memintamu membaca tulisan-tulisan yang ada di dalam celengan itu pada teman-teman kelasnya,” jelas maya

“Haaa! Maksud kamu?” seru Ilyas heran-heran.

“Kamu masih ingat saat malam pesta di acara wisudamu?” suara Maya sedikit sinis.

Lelaki itu hanya menatapnya heran-heran degan mulut menganga.

“Tiga bulan setelah kejadian malam itu, aku memberanikan diri periksa ke rumah sakit dan hasilnya positif aku hamil. Kehamilanku dengan cepat diketahui ibuku. Aku sempat mencarimu ke kontrakanmu, tapi kata pemilik kontrakan kamu sudah pulang kampung, dan aku tak tahu bagaimana cara menghubungimu. Hingga usia kehamilanku memasuki tujuh bulan, ayahku mengetahui keadaanku. Dia marah sekali, aku nyaris dibunuhnya, karena dianggap membuat malu keluarga. Aku lantas diusirnya dari rumah. Ibuku yang tak tega dengan kondisiku, diam-diam meminta pembantu di rumah kami saat itu untuk membawaku ke kampungnya, berikut segala biaya hidup hingga biaya persalinanku dititipkan padanya. Maka sampailah aku di sini. Hingga kemarin sore, datang sopir ayahku membawa surat dari ibu dan memberi tahuku bahwa ayahku meninggal tiga hari yang lalu, dan ibu memintaku kembali ke kota karena ibu sendiri di rumah, dengan membawa serta Danu. Danu akan sekolah di sana. Untuk itu, aku datang menemui kepala sekolah meminta surat pindahnya, dan memberikan titipan celengan itu untukmu,” terang Maya.

Ilyas hanya termenung memandangi Maya—mantan kekasihnya. Pikirannya melayang menembus waktu yang telah bertahun-tahun berlalu.

“Aku sudah Sembilan tahun tinggal di desa ini, baru hari ini aku bertemu denganmu,” kata mantan kekasihnya itu mengagetkannya.

“Haaa! Aku baru dipindah tugas di sekolah ini Tiga bulan yang lalu,” jelas Ilyas

Maya kemudian pamit pulang, meninggalkan Ilyas sendiri di ruang itu dengan renungan atas apa yang diungkapnya.

Ilyas lalu membongkar isi celengan yang berisi carik-carik kertas itu, ke atas mejanya. Jumlah kertas itu sebanyak berapa kali ia meminta siswanya menceritakan tentang impian dan cita-cita mereka. Karena setiap ia bertanya tentang impian dan cita-cita, Danu selalu menuliskan impian dan cita-citanya pada secarik kertas lalu memasukannya ke dalam celengan tersebut. Tulisan di carik-carik kertas itu semuanya sama, “Aku ingin punya seorang ayah, agar dapat mengajaknya main bola bersama setiap sore di depan rumah”. Tanpa sadar air mata Ilyas jatuh dari kelopak matanya membasahi tulisan di secarik kertas yang sedang di bacanya.

Sumber gambar: http://dhffy.deviantart.com/art/A-child-night-dream-276839367

Aroma Kebohongan

Telah bertahun-tahun lelaki itu menjadi pelanggan setia di warung kopi milik pria tua itu, bahkan setiap pagi dan petang di setiap hari, ia tak absen menyempatkan diri ke warung kopi miliknya. Kecuali hari jumat, karena hari itu ia tak bekerja, dan hanya berdiam diri di rumah.

Berbeda dengan hari-hari selama tiga tahun yang telah berlalu, hari itu pemilik warung kopi itu mengungkapkan sesuatu yang tak pernah dibayangkan lelaki itu, ia tak menyangka bahwa pria tua yang hidup sudah setengah abad itu, mengungkapkan sesuatu yang begitu menguras pikiran hingga nyaris membuatnya gila memahami maksudnya. Sebab, selama tiga tahun menjadi pelanggan setianya, tak pernah sekalipun ia mendengar pria tua itu berbicara sekatapun pada pelanggan yang datang ke warungnya, termasuk dirinya. Bahkan sekadar menyapa atau berterima kasih pun tidak. Tapi justru sebaliknya, pria tua itu hanya memandangi setiap orang dengan roman wajah yang datar, wajah yang tidak terlihat sebagai seorang yang pemarah, tidak juga sebagai seorang yang ramah, apalagi lucu. Tatapannya tetap sama pada siapa saja. Bahkan orang-orang menganggapnya bisu. Dan semenjak kedatangannya tiga tahun yang silam di desa itu, tak seorang pun tau dari mana asalnya.

Tapi hari itu, lelaki itu di buat kaget dengan peristiwa tersebut:

Pertama, karena ternyata pria tua itu bisa berbicara.

Kedua, tak dibayangkannya bahwa pria tua itu mengungkapkan sesuatu yang tak biasa diungkapkan orang pada umumnya.

 ***

Pagi itu, seperti biasanya di hari Senin, lelaki itu selalu disuruh Kong Aconga membawa kiriman barang ke terminal bus untuk dititipkan pada seorang sopir bus.

Saat bus yang ditunggunya tiba, ia melangkah naik berdesakan dengan penumpang yang hendak turun. Setelah memberikan barang bawaannya pada sopir bus itu, dan menerima secarik kertas yang nanti akan diberikan pada bosnya, ia berjejeri dengan beberapa sisa penumpang yang juga hendak turun dari bus. Setelah melompat turun dari bus, tiba-tiba seseorang menyenggolnya dari belakang. Sekelabatan ia menengok melihat orang itu. Orang itu tampak begitu tergesa-gesa, dan hanya menengoknya tanpa meminta maaf atau senyum sebagai isyarat, lalu melanjutkan langkahnya.

“Sepertinya dia orang baru,” gumam lelaki itu dalam hati dengan sedikit kejengkelan. Lelaki itu terus mengawasi punggung orang itu seiring langkahnya menjauh, jalannya sedikit tertatih karena usianya yang cukup terbilang tua. Orang itu mengenakan jaket kulit berwarna hitam, topi pet hitam yang menutupi rambunya yang ikal panjang sebahu, dan menggendong tasnya.

***

Fajar beringsut menjejaki pagi, embun mengkristal di dedaunan, udara dingin perlahan tersapu sinar mentari pagi, lelaki itu mengayun sepedanya menelusuri jalanan di ujung Desa Kapok melewati perkebunan cokelat menuju gudang rempah milik Kong Aconga— tempatnya bekerja, yang berjarak satu kilometer di sebelah utara dari Desa Kapok. Lelaki itu berhenti mengayung sepedanya, membiarkan sepedanya melesat dengan sisa kecepatannya. Pandangannya tertuju pada warung kopi yang baru dibangun di samping jalan itu. Tepatnya antara perkebunan cokelat dan kebun jagung. Lelaki itu terus memandangi warung kopi itu, hingga sepedanya perlahan telah berlalu melewati warung itu, dan ia dikagetkan dengan sepedanya yang terguncang kerikil samping jalan, dan sekonyong-konyong ia kembali menatap depan jalan dan membelokkan sepedanya kembali memasuki jalanan, kemudian berhenti di sana. Bola matanya berputar-putar, keningnya mengerut, matanya menyipit, seperti sedang mengingat sesuatu.

“Oh! Orang itu,” serunya begitu mengingatnya. “Dia yang di terminal waktu itu”.

“Tapi apa yang dia buat di situ? Apa dia pemilik warung kopi itu?” lelaki itu bertatnya-tanya dalam hatinya. Tak mampu membendung rasa penasarannya, ia memutar kembali sepedanya, dan menghampiri warung itu.

“Permisi,” ucapnya dengan senyum. Namun pria tua itu tak menjawab, dia menatapnya dengan wajah yang datar. Sama persis dengan yang ia lihat sebulan yang lalu di terminal.

Pria tua itu hanya berdiri dibalik mejanya, tak menunjukan gerak-gerik layaknya para pelayan pada umumnya. Ia tetap tenang di tempatnya dengan terus memandangi lelaki itu. Merasa gugup dan kaku, lelaki itu memesan segelas kopi. Pria tua itu pun berlalu ke dalam membuat kopi pesanannya.

Lelaki itu duduk di bangku panjang dekat jendela warung itu, mengedarkan padangan menyelidiki setiap sudut ruang, “warung ini nyaman juga,” katanya pelan. Warung berdinding anyaman bambu dan atap yang tersusun dari daun pohon sagu yang dianyam rapi. Sebuah lukisan besar dipajang di dinding yang menengadah pintu masuk—lukisan para petani yang sedang menanam padi di sawah dengan gunung-gunung hijau menjulang tinggi di belakangnya, dan sinar matahari yang menguning dari balik gunung-gunung itu. Semua itu memilik fantasi tersendiri.

Lelaki itu membuang mata keluar jendela. Matanya dibuat takjub dengan pemandangan di depannya, kebun jagung yang membentang panjang dengan daun-daun yang mulai menguning, pohon-pohon yang menghijau di kejauhan sana hingga ke kaki bukit yang disinari matahari pagi itu. Sejenak ia larut dalam keindahan yang menggugah itu.

Kini matanya sayup, ia menarik nafas dalam-dalam, “Harum apa itu?” katanya sembari menengok mencari sumber keharuman itu. Didapati pria tua itu berdiri di sampingnya membawa kopi pesanannya. Kopi itu menguapkan gumpalan asap tipis yang mengepul dengan keharuman yang sulit dijelaskannya. Pria tua itu meletakkan kopi pesanannya di atas meja di depannya, dan kembali ke balik mejanya.

“Kopi apa ini? Aromanya harum sekali,” kata lelaki itu dengan terus memandangi segelas kopi di depannya yang menguapkan asap tipis yang mengepul ke udara dengan aroma yang semakin menyengat di hidung. Ia kembali memandangi pria tua itu dengan tatapan menaksir-naksir penuh tanda tanya. Pria tua itu hanya memandanginya dengan sikapnya yang tenang, sekilas mereka hanya saling pandang.

Pagi itu belum ada pengunjung lain, hanya lelaki itu.

Lelaki itu mengangkat gelas kopinya. Bibirnya belum menyentuh bibir gelas, hidungnya telah ditaklukan keharuman kopi yang semakin dahsayat. Lelaki itu menahan nafas, lalu menghembuskannya lagi, matanya berbinar puas, saat kopi itu diseruputnya. Sejenak ia terdiam dengan posisi tetap seperti itu, sebelum akhirnya meletakan pelan gelas kopinya kembali ke meja, dan kembali menatap pria tua itu dengan tatapan yang penuh ketakjuban.

Semenjak hari itu, lelaki itu selalu menyempatkan diri ke warung kopi itu, saat hendak ke gudang tempat kerjanya maupun sepulang kerja.

Hingga suatu hari, ia pulang dari tempat kerja dengan wajah yang lesu, dan tampak tak bergairah. Lelaki itu mendorong sepedanya berjalan menelusuri jalanan. Matanya menekur ujung sendalnya yang menendang-nendang kerikil di samping jalan. Ia dipecat Kong Aconga. Pengusaha rempah berdarah Tionghoa itu menuduhnya menyelundup sekarung biji cokelat kering dari gudang. Meskipun menyadari bahwa bukan ia pelakunya, tapi karena ia adalah kepala gudang di tempat itu, maka ia yang bertanggung jawab atas kehilangan tersebut.

Karena mendorong sepeda, dan jarak yang cukup jauh, lelaki itu tiba di depan warung kopi saat hari mulai gelap. Ia pun singgah di warung kopi itu seperti biasanya, memarkir sepedanya di depan warung kopi itu, dan masuk ke dalamnya dan duduk di bangku dekat jendela tempat biasnya duduk.

Magrib membayang, kicauan burung-burung yang bergerombolan terbang kembali kesangkarnya, para petani kebun jagung yang mulai bepulangan, udara dingin dan hembusan angin yang mulai kencang, membuat lelaki itu semakin sendu terduduk di bangku sembari menatap keluar jendela.

Melihat sikap lelaki itu yang tak seperti biasnya, pria tua itu mendekatinya sembari menyodorkan segelas kopi, dan tetap berdiri di dekatnya. Lelaki itu terheran-heran dengan sikap pria tua itu. Namun ia segera meminum kopi itu untuk menghilangkan segala kepenatan di kepalanya. Seperti biasa, keharuman kopi itu selalu membuat suasana hatinya menjadi tenteram, sebelum rasanya yang membuat insomnia sesaat dan larut dalam kenikmatannya.

“Tfuuuueeeiii” lelaki itu memuntahkan kopi itu dan meludah-ludah.

“Kopi apa ini? Kenapa pahit sekali,” bentaknya, kemudian berdiri menatap pria tua itu penuh kejengkelan. Matanya berbinar-binar, air mukanya memerah.

“Kau keseringan minum kopi manis yang banyak gula dan madunya, hingga lupa bahwa kopi sebenarnya pahit. Hidungmu terlalu lengah dengan keharumannya, ” ungkap pria tua itu.

Lelaki itu menatap pria tua itu heran-heran.

“Sengaja kubuatkan kau kopi tanpa gula dan madu, agar kau tahu bahwa, bukan cuman hidup saja yang pahit di dunia ini,” lanjut pria tua itu.

Tiba-tiba suara seorang perempuan muncul dari dapur dan memanggil “Mamang Tan”, lalu pria tua itu memalingkan kepala ke arah orang itu, kemudian berjalan mendekatinya. Lelaki itu menatap pria tua itu kebingungan seiring langkahnya mendekati perempuan yang memangilnya. Saat itu baru ia tahu bahwa pria tua itu bernama Mamang Tan.

Beberepa saat kemudian, Mamang Tan kembali menghampiri lelaki itu yang masih berdiri di sana dengan tatapan yang semakin terheran-heran, dan berkata padanya, “Aku pengusaha warung kopi, tapi tak pernah aku meminumnya, karena aku tahu kopi itu pahit. Dan, pahit dan manis itu tak mungkin menyatu . Gula dan madu hanya untuk mengelabui lidah. Begitupula aromanya”.

“Tiga tahun aku di warung kopi ini, selama itu pula aku menyaksikan orang-orang menghirup aroma kebohongan sebelum meneguknya,” lanjutnya menerangkan lalu berbalik pergi.

Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti dan berbalik menatap lelaki itu.

“Siapa namamu? Aku bahkan belum mengetahui namamu, padahal kau pelanggan setiaku,” tanya Mamang Tan.

“Bahrul Ilyas Boufakar” jawab lelaki itu datar.

Mamang Tan mengangguk, kemudian berkata “Kopi itu gratis untukmu”.

Bahrul Ilyas Boufakar pun melangkah keluar menuju sepedanya yang di parkir di depan warung itu sembari berkata pelan “iya! Aroma kebohongan,” ia pun tersenyum sambil mengangguk-angguk.