Semua tulisan dari William Gunawan

Lahir di Makassar, pada 16 Februari 1991. Terlibat dalam Komunitas Literasi Makassar, ia mengaku banyak mendapatkan kejutan-kejutan dan manusia cerdas. Setelah selesai sekolah medis selama 7 tahun, sekarang sudah jadi dokter. Mondar-mandir di koridor rumah sakit kayak kain pel. Telah menulis buku berjudul: "Sekolah Medis dan Bikini Bottom" (2019). Dapat dihubungi melalui Email: wwdableyu@gmail.com.

Pertama Kali ke Getengan

Saya memiliki cita-cita meninggalkan tempat ini dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Jujur, kau akan selalu memiliki banyak alasan untuk berujar belum siap. Dalam hati, ada beribu pertanyaan, apa yang akan saya hadapi saat berada di sini. Sedetik, sejam, sehari, seminggu, setahun, entahlah, yang penting cuman menyiapkan pantat lalu ditempelkan di kursi dan mulailah. Carilah posisi senyaman mungkin dan mulailah mengusir kepanikan. Lalu, menyusun berbagai siasat untuk angkat kaki segera.

“Kita jemput dulu kepala puskesmas di Buntu Burake”, ujarnya.

Ucapan supir ambulance itu membuyarkan lamunan saya. Padahal, sudah kugarap sedemikian rupa siasat agar dapat meninggalkan tempat tugas segera.

“Sebentar lagi, akan sampai. 10 menit ji perjalanan dari Makale ke Getengan, dok”, lanjutnya.

Dia adalah supir ambulance Puskesmas Getengan. Martinus namanya. Belakangan, saya baru tahu, kalau dia akrab dipanggil oleh orang-orang di Puskesmas dengan sebutan Papa Keti. Kami menumpang di mobil ambulance. Dari jam 7 pagi, saat kabut dan hawa dingin masih menutupi tempat tinggal kami, dia sudah ada di sana menunggu kami berlima.

Hari pertama, kami sewajarnya membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk menuju ke suatu tempat yang sama sekali kau tidak tahu harus mengarah ke mana. Walaupun, kau tahu dan memiliki kendaraan menuju ke tempat itu. Untungnya, orang-orang baik di sini tidak ada habis jumlahnya yang bersedia membantu kami.

***

Kami dokter internship. Jumlah kami 15 orang. Hari ini, di dalam mobil ambulance, kami berlima. Selebihnya, sepuluh orang berada di rumah sakit. Kami masing-masing berasal dari perguruan tinggi yang berbeda-beda. 1 orang dari UNAIR, 2 orang dari UNHAS, 3 orang bersekolah di UNSRAT, dan paling banyak 9 orang dari UKI Jakarta.

Dokter internship itu ada sebab sebutan dari kementerian kesehatan. Kau tahu, kan kalau pemerintah itu gemar membuat program untuk mendapatkan tenaga kesehatan yang bersedia untuk ditaruh di manapun. Entah ini sial atau beruntung sebagai dokter yang baru lulus dari pendidikan kedokteran ditempatkan di desa Getengan. Celakanya ini wajib. Saya akan berada selama 4 bulan di Puskesmas lalu 8 bulan akan melaksanakan tugas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Oh iya, saya lupa memperkenalkan tempat ini. Getengan adalah sebuah desa di Kecamatan Mengkendek. Getengan ini berjarak 13 kilometer dari Makale, pusat kota dari kabupaten Tana Toraja. Kalau mau naik bus dari Makassar, kira-kira siapkan pantat untuk betah duduk selama 6 jam menggunakan bus kecil. Yah, kalau dari Makale ke Getengan menggunakan motor bisa tiba dengan menempuh waktu sekitar 20 menit dengan kecepatan tidak terlalu kencang.

***

Ambulance berhenti di depan rumah. Mungil. Pagar kayu dicat putih, rumah itu menambah nilai indah rumah itu. Sekeliling halaman depan rumah bertaburan pot-pot bunga. Rumput-rumput mungil hijau tumbuh menjalar.

Mesin mobil ambulance masih berderu. Asap knalpot perlahan-lahan mengisi tempat kami berlima duduk. Seorang teman membuka jendela. Udara pengap karbon knalpot pelan-pelan bertukar dengan udara segar. Bercampur dan hilir mudik di dalam sini.

“Ambulance ini sepertinya sudah lama. Kalau tidak pernah dipelihara pastinya sudah berakhir di tempat timbang besi bekas.”

Beda sekali bentuk fisik ambulance di pedesaan dengan di kota. Saya masih ingat bentuk fisik ambulance di kota. Bentuk mereka megah, sirine meraung-raung, sampai-sampai butuh pasukan bermotor yang memegang tongkat untuk membuka jalan dengan segera. Padahal, ambulance di kota itu sudah berisik terdengar.

Berbeda dengan ambulance di pedesaan. Pikirku, orang yang berada di dalamnya akan hikmat berdoa. Mungkin bukan hanya orang yang sakit atau keluarga pasiennya, bisa saja supir ambulance ataupun tenaga medis yang mengantar menuju ke rumah sakit. Pasalnya, kursi berbentuk tapal kuda tersedia di sini. Ada yang memanjang ke belakang seukuran manusia, cukup untuk pasien tidur. Lalu kursi memanjang ke samping untuk pengantar, serta kursi untuk paramedis duduk di samping pasien. Tidak ada peralatan medis yang canggih seperti ambulance-ambulance di film Barat. Bahkan yang paling sederhana pun, tiang infus ataupun tabung oksigen tidak ada di dalam ambulance ini.

“Dok.” sambil membuka kaca pemisah antara supir dan ruang tempat kami.

“Sebentar ada ballo 5 Liter itu. Ini acara untuk menyambut dokter internship baru. Kami juga ada bakar daging. Sebentar malam nah. Tinggal maki menginap satu malam di rumah dinas dokter puskesmas. Makan daging babi ji semua toh”, kata pak sopir.

Pak supir itu menutup kaca pemisah. Dia tersenyum, Kepala puskesmas sudah berjalan menuju ke ambulance. Dia duduk di kursi depan. Mobil perlahan-lahan turun menuju jalan poros menuju ke Getengan.

“Iya, pak. Di Manado tinggal kaki meja yang tidak dimakan”, sahabat saya menyambar ajakan pak supir itu.

Dalam beberapa jam ke depan, saya akan melanggar untuk meminum-minuman yang menurunkan kesadaran. Perlahan-lahan mobil ambulance meninggalkan Buntu Burake dan perlahan-lahan juga kedua tangan patung Jesus muncul menampakkan diri memberkati Kota Makale. Dan mobil ambulance ini memang sengaja dibuat agar orang di dalamnya bisa berdoa dengan hikmat.

 

Memelihara Keingintahuan Manusia

Sejujurnya, ada ingatan kecil yang enggan saya masukkan ke ruang pelupaan. Saat pertama kali membaca sains sebagai hal yang mengagumkan. Akan tetapi, di balik ruang mengagumkan itu terselip kecemasan dan kecurigaan.

Kekaguman itu datang dari seorang bernama Sir Alexander Flemming. Seorang berkebangsaan Skotlandia secara tidak sengaja menemukan Penicillin pada tahun 1929. Penicillin adalah antibiotik pertama yang menggaris manusia dari ancaman kematian infeksi bakteri. Tercatat rentang waktu antara 2000 sampai 2010 konsumsi antibiotik meningkat lebih dari 30 persen. Catatan ini memperpanjang sejarah manusia melawan mikroorganisme.

Cerita lain datang dari penyakit variola. Penyakit cacar yang disebabkan oleh infeksi Variola virus. Ditularkan lewat udara melalui droplet. Manusia yang terinfeksi punya kemungkinan berakhir dengan kematian. Kampanye menggunakan vaksin yang intensif World Health Organization (WHO) lakukan sejak tahun 1967. WHO menyatakan dunia bebas dari variola pada tahun 1976.

Penyakit variola ini bisa punah sebab seorang bernama Edward Jenner menggali keingintahuannya. Di usia 13 tahun, dia mengamati bagaimana virus ini menular dari satu manusia ke manusia lainnya. Sampai akhirnya, dia menemukan vaksin untuk penyakit mematikan ini.

Beruntung kini kita memiliki google untuk melacak informasi sebab lembaran kertas tidak akan cukup menceritakan kembali, kekaguman saya atas pencapaian sains saat ini. Kita bisa berada di posisi ini sebab beberapa manusia masih merawat curiosity (keingintahuan) manusia.

Jika ditanya seberapa penting keingintahuan itu? Mungkin kita akan punya jawaban masing-masing. Kita mungkin bisa ke bulan, membuat jantung orang lain berpindah ke rongga dada yang bukan asalnya, bahkan bisa membuat replika diri kita sendiri melalui kloning.

Alih-alih merawat keingintahuan kita. Di lingkungan belajar kita, kegiatan itu dikekang. Yang saat ini kita lakukan untuk memuaskan dahaga keingintahuan kita melalui hafalan. Saya ragu apakah dengan cara menghafal itu bisa benar-benar merawat keingintahuan kita.

Kegiatan merawat keingintahuan harus dengan membiasakan memeluk imajinasi dengan proses percakapan. Ini yang membuat keingintahuan menjelma menjadi pikiran tumbuh. Bukan hanya itu, menyerahkan kesemua tafsir hidup manusia ke dalam Kekuasaan Mutlak akan menyebabkan semua hal-hal di dunia ini menjadi final, tidak punya ketersambungan.

Dalam sebuah buku The Web of Life ditulis oleh Fritjof Capra tahun 1997 dikatan bahwa terjadi pemahaman baru mengenai kehidupan dilihat dari garda depan ilmiah perubahan pola pikir dari suatu pandangan mekanistik menjadi ekologis. Semua dipandang bak jaring-jaring yang memiliki keterhubungan. Semakin dalam masalah-masalah dipelajari, semakin kita percaya bahwa mereka bukan sesuatu yang dapat dimengerti secara terpisah.

Tantangan ini yang belum dijawab oleh kita hari ini. Menciptakan suasana yang mampu mempertahankan kehidupan. Lingkungan sosial dan kultural, tempat kita dapat memuaskan kebutuhan dan aspirasi kita tanpa mengurangi kesempatan bagi generasi masa depan.

Yang jelas, Museum of American History sudah menunjukkan suatu gambaran besar peristiwa sains ke depan. Di dalam museum itu diadakan pameran tentang perkembangan sains di Amerika. Pihak penyandang dana berharap dapat melihat kecanggihan pencapaian mutakhir di bidang sains.

Harapan didapatkan justru kebalikannya, yakni deretan bencana akibat kiprah dunia ilmu dan teknologi. Perusakan lingkungan yang parah, senjata pemusnah massal, peracun makanan oleh berbagai zat kimia, robotisasi industri yang mengancam para buruh pabrik, ketidakadilan sosial, berbagai eksperimen tak bermoral. Begitulah yang ditulis dalam jurnal berjudul Pergeseran Paradigma: Pada Sains, Filsafat, dan Agama Saat Ini oleh Bambang Sugiharto dengan mengutip Robert L. Park dalam essai The Danger of Voodoo Science di The New York Times pada 9 Juli 1995.

Saya tidak akan bosan mengulangi kata keingintahuan. Iya, dia yang menumbuhkan kesadaran manusia. Kekuatan itu hanya bisa ditumbukembangkan melalui kegiatan pengembangan sains literatur yang berkualitas. Serta, adanya interupsi-interupsi dari kita yang punya kecemasan agar keingintahuan manusia tidak terbunuh.

 

Sumber Gambar: https://pendidikanbuahhati.files.wordpress.com/2011/09/pertanyaan.jpg

Plasenta Perempuan

Segerombolan petugas medis panik. Sepasang kaki posisi litotomi tidak cukup untuk membebaskan bayi dari jalan lahir. Membantu persalinan bukan pekerjaan gampang.

“Besar bayinya kapang ini?” sahut dia.

“Angkat mi kakinya sampai menempel perut,” nada panik terdengar

Saya termangut-mangut ngeri menyaksikan proses persalinan. Sahabat saya itu punya keberanian lebih. Pelatihan membantu persalinan digabungkan dengan membaca buku sepertinya cukup bagi dia.

“Sudah mi, bu. Tarik maki nafas ta.”

Nada panik sepertinya sudah mereka. Diiringi tangisan bayi menggenangi seisi ruangan. Saya beranjak maju. Memakai alat pelindung diri. Gunting dan klem berukuran sedang membuatku seperti tukang daging.

Darah dan air ketuban bercecer. Spoit berisi uterotonika disematkan tegak lurus menghujam paha kiri ibu. Klem berukuran sedang itu menjepit sebuah tali yang sudah terpisah dari bayi. Gerakan mengeluarkan plasenta pada pelatihan lalu muncul di kepalaku disusul dengan seorang bernama Lauralee Sherwood.

Lauralee Sherwood bukan kekasih saya. Apalagi seorang perempuan yang berhasil mencuri pandangan, jatuh hati, lalu enggan untuk diungkapkan. Dia juga bukan seorang dewasa yang jengkel dengan pertanyaan-pertanyaan anak kecil.

Dia adalah seorang yang bercerita banyak tentang plasenta. Di dalam bukunya berjudul Human Physiology: From Cell to System. Menurutnya, plasenta adalah pelindung mudigah. Setelah selesai bertugas melayani mudigah, ia harus keluar dari dalam rahim.

Melalui tali pusat yang terdiri dari dua arteri dan satu vena, mudigah memperoleh nutrisi dan membuang sisa metabolisme. Plasenta juga melakukan fungsi pencernaan, pernafasan, dan ginjal untuk mudigah. Jangan lupakan fungsi plasenta bersama air ketuban meredam benturan pada mudigah. Plasenta juga menghilangkan mual muntah pada ibu hamil.

Lauralee Sherwood adalah orang baik yang merawat rasa ingin tahu penikmat sains. Dia menjadi orang dewasa yang menjawab pertanyaan fungsi tubuh. Saya sendiri lebih memilih buku dibanding harus berselancar di website. Selain menyesatkan, kadang rasa lapar pertanyaanku belum lampias.
Kalian tahu plasenta berisi pembuluh darah. Jangan heran, jumlah kedaruratan disebabkan perdarahan setelah melahirkan banyak terjadi. Sisa-sisa plasenta, kotiledon, tidak sungguh-sunggu diusir keluar secara bersih dari dalam sana. Mengerikan! Keringat dingin bercucuran.

Temanku menyiapkan sebuah kantong plastik. Tawa cengengesannya menjengkelkan. Plasenta sudah muncul keluar dari dalam sana. Berangsur-angsur perdarahan mereda. Pelatihan persalinan betul-betul membantu untuk saya yang malas membaca buku.
Ibu itu sudah bersih. Kasur tempatnya berbaring sudah bebas dari darah dan ketuban. Alat yang digunakan membantu persalinan disterilkan kembali. Bakteri memang menjadi musuh besar manusia saat infeksi. Duduk memang paling nikmat sambil mengamati sosial media. Bayaran setimpal untuk mengusir lelah. Menikmati foto, membaca status, ataupun menonton video.

Tiba-tiba, saya tertarik dengan sebuah video. How umbilical cord blood save your life? Video itu awal berbicara tentang darah dari tali pusar yang dapat menyelamatkan hidupmu. Dilanjutkan dengan berbagai penjelasan metode ilmiah serta hal-hal yang tidak pernah kamu jumpa sebelumnya. Video itu berakhir dengan menceritakan seorang bernama Chris berhasil terselamatkan hidupnya dari penyakit leukemia dengan tiga kantong darah tali pusar.

Saya takjub menonton itu, tapi tunggu dulu. Apakah sungguh-sungguh manusia membutuhkan ini tanpa mengorbankan yang lain?

Di Indonesia, manusia gagap diperhadapkan dengan kemajuan sains. Hari ini mungkin kita berhadapan dengan plasenta yang berakhir di kantong plastik. Mungkin sudah ada ribuan yang sudah membusuk. Mungkin ada juga yang sudah dikubur, dibiarkan tumbuh, dan kelak manusia yang dulu hidup bersama plasenta memandang saudaranya.

Tidak perlu terlalu gelisah. Indonesia tetap tidak akan melek sains. Kita hari ini hidup sebagai konsumen hasil sains. Toh, eksploitasi besar-besaran untuk menunjang sains tumbuh besar. Masalahnya, kita tahu bahwa kita bukan sedang berada di ruang kompromi. Menegosiasikan kepentingan tentang siapa sang pemenang dalam membebaskan manusia dari berbagai penyakit.

Demikian juga dengan plasenta. Mungkin ada berbondong-bondong perempuan bertukar ovum, menjadikan rahimnya sebagai tempat tumbuh plasenta, atau banyak kemungkinan lain yang bisa diekploitasi. Mereka mempertukarkan tubuh dengan materi. Kerumunan yang tidak berkuasa atas tubuhnya. Ini mungkin cuman mimpi buruk saya.

Menyaksikan video itu, saya makin percaya kata Rocky Gerung. Perempuan adalah pemberi hidup. Ia menghasilkan manusia juga mengobati peradaban.

Pendarahan Tisu Sosial Kita

Belakangan ini, ketakutan kita akan kerusakan-kerusakan “tisu sosial” semakin menunjukkan kenyataaannya. Ketidakpercayaan yang dibangun antar generasi menjadi bahan yang ramai menyeruak di permukaan. Padahal, masih banyak hal baik yang bisa dikelola untuk merukunkan rasa memiliki kita sebagai sebuah bangsa yang harmonis.

Seorang pemikir bernama George Orwell dalam esainya Can Sosialist Be Happy diterbitkan Tribune edisi 3 pada tahun 1946. Dengan gaya satire, Orwell menuliskan tentang hal utopis yang berusaha dihidupkan, yakni surga. Utopis secara etimologi tidak berarti “tempat yang baik”, melainkan “tempat yang tidak benar-benar ada”.

Orwell juga dalam esainya itu menceritakan kembali ramalan dunia yang utopis seperti dalam karya H.G. Wells. Dunia yang didambakan atau paling tidak dunia yang Wells dambakan. Dunia di mana segala kejahatan dan penderitaan yang kita alami sekarang telah menghilang. Kebodohan, perang, kemiskinan, kekotoran, penyakit, kefrustasian, kelaparan, ketakutan, pekerjaan yang terlampau keras, semuanya lenyap. Bukannya kita semua menginginkan hal-hal yang Wells ingin tiadakan?

Seperti penghuni utopis lainnya, mereka hanya ingin menghindari recoknya hidup. Hidup mereka membosankan, sama sekali tidak berkesan, “layak”, dan terbebas bukan hanya dari perselisihan, kekacauan, atau kegelisahan macam apa pun, tapi juga dari “gairah”. Mereka memilih menghindari kasih sayang dan tampaknya mati dengan senang hati ketika waktunya sudah tiba.

***

Belum lama ini, luka kita akibat teror yang perlahan-lahan sudah mulai menyembuh, kini robek lukanya, terbuka lalu berdarah lagi. Kabar duka itu datang dari Samarinda. Bom molotov menghantam gereja. Sedihnya, korban berjatuhan dan seorang anak kecil meninggal dunia akibat teror mengerikan ini.

Di sisi lain pelaku pengeboman adalah juga korban utopia. Dia menjelma menjadi korban demi mewujudkan sebuah perjuangan yang utopis, yakni diiming-iming hidup bahagia setelah berjuang lalu mencapai surga.Mungkin itu hanya kisah berulang dari peristiwa-peristiwa perdarahan di bangsa ini dengan iming-iming surga.

Mengapa menerjemahkan menggapai kebahagiaan surga di masa kini justru diperoleh dengan cara-cara terbalik? Dia diperoleh dengan perdarahan, dengan teriakan-teriakan yang spontan menolak “yang lain” atau pun yang “bukan kita”. Bahkan diwariskan dengan nyata ke generasi lebih muda untuk terpenjara dalam logika hitam-putih.

Mungkin benar, kalimat reflektif seorang Jakob Sumardjo dalam tulisannya Kulit atau Isi. Kita benar-benar hidup dalam dunia hitam-putih. Sampai-sampai penulis esai tersebut menuliskan kalimat tanya yang begitu dalam. Apakah kalau berasal dari satu kelompok tertentu, masalah laten akan dapat diatasi? Apakah kita ingin persoalan menahun ini akan selesai atau tidak? Baik oleh orang normal kita atau “orang lain” itu?

Harus berapa lama, bangsa ini melalui pendarahan-pendarahan agar belajar harmonis? Sampai saat ini, penulis masih ragu bahwa dunia ini dicirikan dengan adanya kebalikan. Ini adalah dikatakan Heracritus, filsuf asal Yunani yang hidup kira-kira 540-480 SM. Jika tidak pernah sakit, kita tidak tahu seperti apa rasanya sehat. Jika tidak mengenal kelaparan, kita tidak akan merasakan senangnya menjadi kenyang. Jika tidak pernah ada perang, kita tidak dapat menghargai perdamaian.

Betapa usangnya pemikiran hitam-putih ini mengungkung isi kepala kita. Padahal, lokalitas kita menganut cara-cara organik untuk mencapai keharmonisan itu. Bahkan, di dalam tubuh kita yang organik. Respon dari perdarahan adalah ketidakpercayaan. Kaki dan tangan yang lumpuh, sementara otak kita yang berdarah benar-benar dalam keadaan sekarat. Apakah kita mengincar kenikmatan seperti itu? Bahwa kenikmatan terhebat di surga adalah menonton siksaan yang dilakukan pada para penghuni neraka.

Jadi, sahabat bisakah aku menjabat tanganmu. Kita sama-sama menyembuhkan luka ini. Lalu, menerbitkan sebilah senyum di bibir ini lagi. Sebagai manusia yang sebangsa, tentunya.

(Catatan redaksi: Tisu sosial adalah istilah yang diacu dari Emile Durkheim, yang menunjuk suatu medan kritis yang begitu rentan dimasuki kepentingan tertentu, yang mampu membelah keutuhan bermasyarakat semisal: asal-usul, wilayah, kepentingan, pikiran, kepercayaan, naluri bersosialisasi, tradisi historis, dan bahasa)

Ilustrasi: http://www.human-awareness.com/category/conflicts/

Bersahabat dengan Mycobacterium Tuberculosis

Pernah baca buku kedokteran? Kalau belum, luangkan waktumu. Banyak hal menarik di dalam sana. Di sana diceritakan bagaimana jantungmu bekerja memompa darah ke seluruh tubuh. Ada juga cerita bagaimana kamu bisa lari dengan kerja sistem otot. Bahkan, paru-parumu yang kembang kempis itu diceritakan dengan lugas.

Iya, organ itu di dadamu. Kiri dan kanan menggelantung di depanmu. Di dalam kulitmu, dilindungi ruas-ruas tulang iga. Tempelkan daun telingamu, kamu bisa mendengar suaranya. Seperti ada angin yang asik hilir mudik di dalam sana.

Jika ditanya berapa kali menarik nafas dalam semenit, mungkin kita akan terbata-bata, tidak sadar punya paru-paru. Sepertinya 18 kali, mungkin 20 kali. Agar lebih akurat bisa juga segera melihat jam tangan untuk segera menghitung hilir mudik angin dalam semenit. Sadar sedang tarik-tarik nafas sekaligus sadar kalau ternyata ada paru-paru. Ternyata kamu hidup dan proses hidup membutuhkan paru-paru yang kembang kempis.

***

Pernah saat penulis berada di sebuah layanan pusat kesehatan masyarakat terpampang secarik kertas. Ukurannya besar seperti melotot dengan warna mencolok. Awas kuman TB! Gunakan pelindung diri berupa masker. Itu tulisannya lalu ada gambar organ paru-paru.

Dalam berbagai jurnal medis, TB lazim dikenal dengan tuberculosis. Penyakit yang menyerang paru-paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Ukurannya mini sampai butuh sebuah mikroskop untuk melihatnya. Coba tanya kepada pakar tentang makhluk kecil ini jikalau tertarik.

Intinya begitu, ada makhluk yang lebih kecil dibandingkan manusia. Spesies yang tidak akan kau tahu atas izin siapa menetap di paru-parumu. Entahlah mungkin sel paru-parumu jatuh cinta atau saling membenci dengan bakteri ini. Celakanya, ia bertahan di dalam sana. Bereproduksi, iya beranak cucu, sampai banyak.

Kau akan sesak, tetapi itu bukan kau. Itu reaksi protes tubuhmu. Oksigen tidak sampai ke mereka. Ibarat perang, para mycrobacterium itu telah mendominasi kekuasaan paru-paru sebagai pemilik tunggal oksigen. Sisa dari perebutan itu kau akan batuk mengeluarkan darah.

***

Mungkin, kita akan menyimpan cerita tentang manusia yang ditulis oleh penulis buku kedokteran. Detail, sampai-sampai urat di ujung jari itu bernama. Bukan hanya itu, narasi fungsi normal tubuh diceritakan di sana. Perjalanan bagaimana terpajang penyakit sekaligus mengobati juga ada. Akan tetapi, di sana, di dalam buku-buku medis itu jangan harapkan kehadiran kemanusiaan.

“Kalau bisa, pulanglah engkau ke Blora untuk dua atau empat hari. Ayahmu sakit. Tadinya malaria dan batuk. Kemudian ditambah dengan ambeien. Akhirnya ketahuan kena tbc. Ayahmu ada di rumahsakit sekarang, dan telah empat kali memuntahkan darah.”

Kalimat di atas cerita dari sepucuk surat. Dalam Roman karya Pramoedya Anantar Toer judulnya Bukan Pasar Malam. Cerita kemanusiaan tentang perjumpaan kembali seorang anak dan ayahnya yang terkena sakit TB.

Keadaan kabar sakit seseorang yang berharga selalu menghadirkan kegugupan. Dua hal yang akan membuat itu ada. Pertama, orang yang sakit itu sendiri. Kedua adalah uang. Dalam peristiwa yang diceritakan oleh Bukan Pasar Malam, kedua hal itu muncul. Tidak pelak, masalah mengutang akan hadir.

Tidak ada tahun yang pasti kapan Bukan Pasar Malam ditulis oleh Pramoedya, tetapi tahun 1951 Penerbit Balai Pustaka menerbitkan buku ini. Buku Bukan Pasar Malam adalah dokumentasi abadi peperangan manusia melawan penyakit TB.

Artinya kurun waktu 65 tahun, Indonesia sudah berkutat dengan penyakit TB. Mungkin lebih lama melampaui waktu sebelum adanya buku Bukan Pasar Malam. Ironisnya, penyakit TB ini tetap menetap dan sepertinya harapan agar penyakit ini akan menjadi langka masih jauh.

Butuh waktu lama untuk agar harapan ini bisa terwujud. Mulai dari sanatorium, pemberian obat anti TB, penggunaan masker, sampai para pengawas obat diprogramkan untuk menanggulangi penyebaran penyakit pernafasan ini. Semuanya akan sia-sia jika upaya ini tidak didukung oleh penderita TB. Mulailah menyayangi kesehatan Indonesia dengan dimulai dari diri sendiri.