Arsip Kategori: Cerpen

Di Balik Tingkap Saoraja Arumpone

Saya masih mengingat peristiwa tempo itu, kala usiaku baru menginjak dua dasawarsa. Tepat di tahun 1859 Besse Kajuara—seorang perempuan pemberani yang kukenal sekaligus Mangkau Raja Bone—diungsikan oleh Ade’ Pitue—Dewan Adat Kerajaan Bone—untuk meninggalkan Saoraja—istana kerajaan—dan Kota Watampone, ibu negeri Kerajaan Bone tuk menghindar dari kejaran pasukan De Vierde Bonische Expeditie, ikut pula bersamanya Arajang—benda pusaka—Kerajaan Bone. 

Diungsikannya Besse Kajuara kala itu sesungguhnya bukanlah keinginannya sendiri, melainkan pertimbangan Ade’ Pitue. Karena raja tak boleh ditangkap oleh Belanda, demikian pula Arajang tak boleh dirampas oleh si mata putih, karena raja adalah simbol perlawanan kami saat itu, dan karena raja adalah kerajaan itu sendiri. Raja tertangkap maka selesai sudah peperangan.

Dan kini, di usiaku yang ke enam puluh enam tahun, di tahun 1905, dalam Saoraja Arumpone ini, peristiwa itu terulang lagi.

***

HAMPIR semalaman saya tidak bisa tidur nyenyak, kewaspadaan selalu mengintai, suasana perang memang tak mengenakkan. Kabar terakhir yang kudengar serdadu Belanda di bawah pimpinan Kolonel C.H. van Loenen telah membangun bivak di sepanjang garis pantai Bajoe, pun kudengar beberapa pasukan Marsose telah memasuki gerbang Kota Wattampone. Jikalau terus begini tinggal menunggu waktu mereka mendobrak pintu Saoraja ini.

Sesekali saya mengintip dari balik tingkap, memerhatikan suasana sekitaran istana kerajaan yang telah lengang. Belum ada tanda-tanda kedatangan serdadu Belanda, walaupun matahari mulai meninggi. Di dalam istana ini, tinggal saya seorang bangsawan kerajaan, para anggota Ade’ Pitue juga telah mengungsi, membawa Arajang—benda pusaka kerajaan—yang telah menjadi alat legitimasi kekuasaan raja sejak masa Mata Silompoe Mannurungge ri Matajang pada abad ke XIV lalu. Adapun Arumpone—sebutan lain dari mangkau—mungkin telah memasuki wilayah Palakka, Arumpone dikawal oleh pasukan regular kerajaan di bawah pimpinan Petta Ponggawae—panglima kerajaan—Abdul Hamid yang tak lain dan tak bukan putra Arumpone, La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Sejenak kuberlalu dari tempatku, kemudian menuju ruang tamu Saoraja—yang terbuat dari kayu bitti’ ini—sungguh rapi nan bersih, dayang-dayang istana merawatnya dengan baik, bahkan saat perang pun mereka masih menunaikan tugasnya. Masih kuingat kemarin sore saat perang berkecamuk mereka masih menyempatkan membersihkan ruangan ini. Di ruang tamu inilah: saya, anggota Ade’ Pitue, dan Petta Ponggawae bersama Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri membahas surat yang dilayangkan pemerintahan Hindia-Belanda melalui salah seorang utusanya. Ada dua surat yang dikirimkan Tomarajae—yang dipertuan—di Makassar. Pertama, surat tertanggal 22 Juni 1905—berisikan pemberitahuan tentang realisasi pembaharuan kontrak yang ditandatangani Arumpone tempo itu. Dan surat kedua pada bulan Juli 1905 yang salah satu isinya meminta pihak Kerajaan Bone menyerahkan hak pengelolaan Pelabuhan Bajoe dan Pelabuhan Pallime ke pihak Hindia-Belanda. Tentu saja permintaan ini kami tolak, kami geram! Selama ini kedua pelabuhan itulah yang menjadi urat nadi perekonomian Kerajaan Bone—yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Kerajaan Bone. Jikalau Belanda menginginkannya apa jadinya kerajaan ini? Pun sudah cukup pedih apa yang kami rasakan, status Kerajaan Bone yang mulanya kerajaan sekutu Belanda—bondgenootscap—diubah menjadi kerajaan pinjaman—yang menyebabkan segala tindak-tanduk kerajaan harus diketahui pemerintah Belanda melalui Tomarajae di Fort Rotterdam. Dan lebih menyakitkan lagi, kami hanya diberikan waktu 24 jam untuk menjawab tuntutan itu.

***

SUBUH-SUBUH betul saya selaku tomairilaleng dan juga merangkap sebagai pabicarae—juru bicara kerajaan—memanggil Haji Dulung, syahbandar Pelabuhan Bajoe menghadap ke Saoraja. Meminta perkenaannya sesegera mungkin mengirimkan surat balasan Arumpone kepada Kolonel van Loenen di atas geladak kapalnya—yang sedang membuang sauh di lepas Pantai Bajoe.

“Syahbandar Bajoe,” sahut Arumpone yang duduk di ruang tengah Saoraja.

“Iya Puang! Sembah patik Haji Dulung syahbandar pelabuhan.”

“Sampaikan segera surat ini ke panglima perang Belanda yang membuang sauh di depan Perairan Bajoe. Surat ini harus ada sebelum jam delapan pagi. Pacu kudamu secepat mungkin, cari jalan pintas, dan berhati-hatilah jangan sampai surat ini jatuh.”

“Siap laksanakan Puang,” sahut Haji Dulung yang menerima surat itu, kemudian ia berlalu meninggalkan Saoraja, sesaat kemudian kudengar suara kuda meringkik disusul langkah pacu kuda yang berlari kencang. Di saat bersamaan seribu satu pikiran berkelebat, membayangkan reaksi Kolonel van Loenen atas balasan surat itu—yang tentunya tak mengenakan hati dan mungkin akan memulai kembali perang yang pernah terjadi. Cepat atau lambat pihak Belanda pasti akan meletupkan bedil.

***

DI dekat tingkap Saoraja saya tersadar dari lamunan, seorang dayang-dayang istana menghampiriku sembari memberikan nasi dan lauk seadanya untuk sarapan pagi. Ah, saking kalutnya saya lupa bahwa rupanya saya tak sendirian, ada dua orang dayang-dayang istana menemaniku, keduanya adalah perempuan Bone yang telah uzur, sudah cukup lama mereka menjadi abdi yang mengurusi urusan rumah tangga istana.

Tabe’, permisi Puang, sudah waktunya Puang Tomairilaleng Kerajaan Bone untuk sarapan,” sahut salah seorang dari mereka lalu menyerahkan nasi dan lauk seadanya serta cerek dan gelas. Mereka kemudian berlalu kemudian memberikan takzim.

Sejenak kutatapi sarapan pagi itu, lalu kutaruh begitu saja, saya tak menyentuhnya sama sekali. Sungguh saya tak merasa kelaparan, walaupun kemarin sore dan malamnya perut ini belum diisi makanan. Pikiranku kalut nan gelisah, memikirkan nasib Arumpone La Pawawoi Karaeng Sigeri dalam pelariannya. Semalam kami mengadakan pertemuan, memikirkan langkah taktis dalam perang ini, setelah berunding kami memutuskan untuk mengungsikan Arumpone ke daerah Palakka, sebelah utara Kerajaan Bone. Pilihan ini memang sulit, mengingat usia Arumpone telah uzur dan di sisi lain jarak antara Wattampone dan Palakka cukup jauh. Tidak hanya itu, skenario terburuk jika serdadu Belanda mengejar Arumpone, maka beliau akan diungsikan lagi menuju Tana Toraja dan itu bukanlah perjalanan yang mudah.

Puang, kami telah bersepakat untuk mengungsikan Puang Arumpone ke luar dari Kota Wattampone, keadaan perang ini begitu genting, apatah lagi musuh telah berhasil mendarat dan menyerang kubu-kubu pertahanan di sepanjang Perairan Bajoe. Hanya menunggu waktu Wattampone jatuh ke tangan serdadu Belanda pimpinan Kolonel van Loenen. Puang tak bisa lagi berlama-lama di sini, kami khawatir Puang akan ditangkap Belanda, dengan tertangkapnya Raja Bone maka perlawanan telah tiada, raja adalah simbol dan marwah kerajaan, raja adalah kerajaan itu sendiri. Kami telah mempersiapkan segalanya Puang. Petta Ponggawae akan mengawal rombongan Arumpone. Hanya inilah pilihan kita untuk melawan Belanda, perang gereliya. Selama Arumpone hidup, selama itu pula perang akan berkobar.” Itulah yang saya sampaikan ke Arumpone mewakili para bangsawan kerajaan yang menyempatkan hadir. Pilihan paling taktis memang bergerilya, kondisi telah memaksa kami untuk mengambil pilihan yang sulit, pun persenjataan Kerajaan Bone terlampau jauh tertinggal tinimbang persenjataan milik Belanda.

***

MATAHARI semakin meninggi, kekalutan yang menghinggapi perlahan-lahan mulai menguap, ada ketegaran yang mulai menyelubungi hati. Masih jelas malam itu terbayang wajah Arumpone yang membiaskan keengganan meninggalkan istana, langkahnya terasa berat ketika menuruni anak tangga istana, tapi bagi kami itulah pilihan terbaik. Lamat-lamat kurapalkan doa untuk keselamatan Arumpone dan Kerajaan Bone. 

Kini dari balik tingkap kumengintip kedatangan para serdadu Belanda dan Marsose, mereka mengendap-ngendap dengan siaga, memasuki kawasan istana. Wattampone nampaknya telah jatuh. Tetapi marwah kerajaan belum redup karena mereka belum berhasil menangkap Arumpone. Mereka pasti kecele ketika memasuki Saoraja Arumpone karena tak menemukan junjunganku—La Pawawoi Karaeng Sigeri.

Sejenak ku menghela nafas yang panjang dan sesegera mungkin  menuju ruang tengah sembari memanggil dayang-dayang istana, memintanya meninggalkan Saoraja  melalui pintu belakang istana, tetapi mereka menggelengkan kepala seraya berkukuh untuk menemaniku di Saoraja Arumpone ini.Kudengar pintu Saoraja didobrak, saya hanya berdiri menatap pintu itu seraya merapalkan beribu doa keselamatan untuk Arumpone. Hanya ketegaran dan keikhlasan yang menemaniku menghadapi segala kemungkinan. Ya Dewata Sewae, Ya Karaeng Allah Ta’Ala. Apa yang mesti hamba lakukan ketika mereka telah memasuki Saoraja ini? Tanyaku pada diri sendiri. Belum sempat kutemukan jawaban dari pertanyaanku, pintu Saoraja telah terbuka oleh serdadu Belanda dan kulihat di ujung sana moncong bedil mengarah tepat ke jantungku

Memoar Luka

Secercah sinar mentari terpancar dari ufuk Timur, ceracau burung bersenandung melintas di wajah langit, mereka menunjukkan pesonanya pada segerombolan penduduk di kota metropolis ini.

Di sudut kamar yang mungil, pandanganku tertuju pada sebuah buku istimewa yang terkapar di atas rak buku. Benda itu mulai lapuk selapuk perasaanku yang getir, meski kerap kali kenangan itu menyeruak dalam sendi-sendi ingatanku dan rasa perih itu seperti belati yang mengoyak hatiku. Tapi kini, kamu menjadi sepenggal kisah yang kubaca sebagai pelajaran. Harusnya kita tidak ada dalam rencana.

Kriiingg….lamunanku mulai sadar ketika bunyi nada dering ponsel mengejutkanku.

“Halo, kamu di mana? Ayo berangkat, keburu telat,”  ujar Kiki tak sabar ingin bergegas pergi.

“Iya tunggu, tidak lama lagi selesai,” jawabku ketus tak bersemangat sambil memoles make up di wajahku.

Teman-temanku mulai berkumpul di halaman rumah, kulihat raut wajah mereka tak karuan, kadang tertawa cengar-cengir, namun juga kadang sedih, entah apakah penampakan wajah mereka menggambarkan kebahagiaan atau justru ikut larut dalam kesedihanku? Sungguh, aku menyaksikan bahagia versus kesedihan saling mengalahkan.

Janur kuning melengkung, kemilau gaun, dan deru sepatu para kondangan menambah kecerahan cuaca hari ini. Dua jalur telah di sediakan untuk para tamu, tempat laki-laki dan perempuan, dihijab. Resepsi pernikahan ini terkesan syar’i.

Kulihat di sekelilingku, kebahagiaan terpancar di segala penjuru gedung ini, hanya aku yang tidak bahagia. Aku merasa ini adalah titik terekstrim yang harus kuhadapi. Pertama kalinya aku merasakan sesak di dada. rasa perih mulai menyusup. Dadaku bergemuruh kencang, seperti petir yang menyambar hingga nanar di mataku. Tak tertahan saat kulihat wanita anggun dengan gaun putih  tampak bahagia dengan status yang mengikatnya sekarang. Lalu, sepasang mataku melirik di balik pembatas yang tingginya sebahu. Kulihat dia. Yah dia! berjas hitam tampak elegan. Si lelaki yang saat ini bersanding dengan wanita lain adalah kekasihku.

Tatapan netraku tertuju kepadanya, lalu senyumnya menyapaku. Namun, senyum itu bagai rajaman luka yang tertancap di dadaku, semakin tersungging senyum di bibirnya semakin sayatan-sayatan itu terasa menggores batinku. Lamunanku mulai liar mengupas kembali rekaman memori yang sempat singgah di sanubariku.

***

Awal kisah sebelum benih- benih cinta itu tumbuh bertahta. Namaku Azzahrah dan lelaki itu Adam. Awal pertemuan yang tak disengaja adalah skenario dari Sang Maha Pemberi cinta. Aku dan dia adalah teman kelas di kampus. Terbayang segala hari dan detik yang bergulir, tak jarang kami selalu berpapasan. Bagaimana tidak, selain sekelas, kami juga selalu satu kelompok untuk presentasi, dan mengerjakan tugas kelompok bersama. Kadang aku heran, apakah ini hanya kebetulan atau Tuhan memang sengaja menitipkan kisah ini kepada kami.

Aku memiliki posisi di kelas sebagai sekretaris, sehingga jabatan ini menjadi alasan dia setiap pagi menyerbuku dengan pertanyaan yang sama. Zahra, Apakah dosen sudah masuk? Kuliah masuk jam berapa? Dosen siapa yang masuk? Kabarin yah, kalau dosennya sudah datang. Dan seterusnya. Pertanyaan itu seakan menjadi sarapanku setiap pagi.

Seiring berjalannya waktu, timbul rasa aneh yang tak kutahu apa artinya dan aku pun tak mau tahu. Perhatiannya kepadaku tak pernah kudefenisikan sebagai cinta, sebab aku belum pernah mengenal cinta, dan aku tak pernah peduli tentang itu. Yang kupahami, segala sikapnya hanya bentuk manifestasi kebaikan seorang teman kepada temannya. Tapi,  ada rasa nyaman yang menggerogoti perasaanku. Aku merasa, aku masih anak kecil yang belum paham tentang cinta. Tapi anehnya, ketika aku berpapasan dengannya, jantungku berdebar kencang, pipiku memerah, dan aku selalu salah tingkah.

Teman-teman sekelasku selalu meledekku, mereka seolah seperti kompor yang selalu memanasi kami berdua.

“Zahra, sepertinya Adam menyukaimu, diam-diam dia selalu memperhatikanmu, cieee,” lontaran teman-temanku yang tak pernah kugubris.

Suatu hari, kami sekelas pergi liburan. Teman kelasku selalu mensiasati kami berdua, agar kami bisa berbarengan dan berboncengan motor dengannya. Obrolan santai mengalir di sepanjang perjalanan. Satu lagi, momen yang tak bisa kulupakan, kupikir ini hal  lebay yang sering kusaksikan di film-film lokal. Dan, saat ini aku mengalaminya juga.

Saat hujan mengguyur begitu derasnya, dia menyodorkan jas hujan miliknya, bahkan helmnya sekalipun. Awalnya aku menolaknya, tapi dia bersikeras dan jika ditolak katanya aku tidak menghargai pemberiannya. Jadi aku menerimanya. Kuperhatikan, dia lebih mementingkan diriku dibanding dirinya. Di sinilah aku mulai tersentuh dengan sinyal-sinyal cinta yang mulai memahamkanku bahwa cinta itu fenomena alamiah yang tumbuh dengan sendirinya tanpa disengaja.

Semakin hari, perasaan itu semakin menggebu-gebu, aku mulai menyukainya. Hal kecil yang dia lakukan membuatku merasa nyaman. Dia selalu menegur kesalahanku, membantuku, melarangku untuk bebas bergaul dengan laki-laki lain, suka memberiku wejangan, menyuruhku aktif mengikuti kajian kemuslimahan di organisasinya. Dan tak jarang pula, dia selalu mengirimkanku makanan. Selain itu, keberaniannya menemui orang tuaku membuatku semakin terkesima, apalagi dia menyinggung perihal pernikahan. Kuperhatikan, matanya menatap orang tuaku, dengan patahan-patahan kata penuh harap dari matanya. Dan aku tahu, mata adalah bahasa yang paling jujur.

***

Aku semakin yakin, bahwa dia serius denganku. Meski, di antara kami tidak pernah saling mengungkapkan perasaan suka. Tapi, keyakinan kami menyatu bahwa sikapnya dan sikapku menunjukkan kami saling mencintai. Dan sejak itu, aku memutuskan bahwa dia adalah kekasihku.

Beberapa tahun telah berlalu, banyak cerita haru mengundang cerita baru. Di saat kami mulai sibuk bergelut dengan tahap penyelesaian studi strata satu (S1), aku terharu denganya. Dia begitu gesit mengerjakan skripsinya. Hingga akhirnya, dia lebih dahulu menyandang gelar, dan aku masih jauh tertinggal. Selang beberapa minggu, kami tak pernah komunikasi.  Aku mulai resah dan mencoba menetralkan perasaanku dengan berbaik sangka padanya. Mungkin dia sibuk.

Malam itu, remang-remang kamar kecilku mulai membisik mataku untuk terlelap dalam keheningan. Tiba-tiba, notifikasi ponsel mengetuk mataku untuk terbangun lagi. aku menerima sebuah pesan dari seseorang yang kunantikan selama ini.

Maaf atas segala kesalahan Ädam, perkara takdir memang sulit untuk ditebak. Jiwa menginginkan ini, namun Allah memberikan itu. Terkadang yang kita anggap baik, belum tentu baik di mata Allah, dan Allah akan memberi yang terbaik. Semoga dimudahkan segala urusannya, selalu berbuat baik kepada orang tua. Dan ketahuilah, rencana Allah yang terbaik dan Takdir Allah pasti yang terbaik karena sang maha menetapkan adalah hakim yang paling bijaksana.

Butir bening berguguran dari kedua mataku, aku tersendu menangis membaca pesannya. Entah mengapa aku menangis, perasaanku mulai penuh kekhawatiran dan bertanya-tanya tentang apa sebenarnya yang terjadi. Pesanku pun tidak dibalas lagi.

Beberapa hari aku dirundung rasa penasaran. Kudengar ponselku tak hentinya berbunyi. Grup kelas mulai heboh, kulihat temanku menyampaikan kabar gembira di grup WhatsApp. Dia menyampaikan bahwa tertanyata ada salah satu ikhwan di kelas kami diam-diam sudah melangsungkan acara lamaran, tapi objek berita itu masih anonim. Kami dipenuhi rasa penasaran mengenai siapa ikhwan itu. Hingga berita ini menjadi buah bibir di kelas kami.

Beberapa hari kemudian, sebuah undangan digital dibagikan oleh Adam di grup kelas. Aku kaget, tanganku gemetar, seketika energi tubuhku lenyap, dan  sesak itu terasa memukul batinku saat kulihat namanya tertulis di undangan itu. Jadwal pernikahannya esok lusa, dia akan melangsungkan pesta pernikahan bersama perempuan yang ternyata murobbiku di rutinitas kajian yang selalu kuikuti. Faktanya, mereka memang satu organisasi.

***

“Kak,” Seketika, pramusaji datang membuyarkan lamunanku dan menawarkan ice cream padaku. Aku kembali terfokus pada pasangan bahagia yang kusaksikan di atas pelaminan megah itu. Kali ini, aku berada di episode drama patah hati, dan aku menunggu episode mengejutkan selanjutnya. Aku kira, yang dekat akan semakin dekat, namun tidak selamanya. Ternyata yang dekat bisa jadi memilih tempat jauh untuk berlabuh. itu adalah nasibku sekarang.

Kukatakan pada hatiku, ikhlaskan, dia bukan jodohmu, kita hanya ditakdirkan untuk saling mengenal, dekat dan setelah itu selesai.


Sumber gambar: www.popbela.com/relationship/single/amalia-azizah/bersyukur-dari-patah-hati

Di Ruang Tunggu Bandara

“Maaf boleh duduk di sini?” tiba-tiba seseorang menyapaku, saya hanya tersenyum dan mepersilakannya.

“Zalsabila Cornelia Endy,” gadis itu menjulurkan tangan kemudian memperkenalkan dirinya

“Yardan Michael Julian,” sahutku lalu meraih ulurannya kemudian menjabat tangannya dengan erat.

“Lagi menunggu pesawat yah?” tanyanya sekadar basa-basi, tentu tanpa kujawab pun ia akan tahu dengan hanya melihat tiket pesawat yang tergeletak manja di samping secangkir cappuccino.

“Sama, saya juga sementara menunggu penerbangan, pesawat yang akan kutumpangi take-off empat jam lagi,” sahutnya kembali, tanpa mempersilakan saya menjawab pertanyaan yang ia layangkan kepadaku sebelumnya.

Gadis cantik itu kemudian mengambil sesuatu dalam tas yang berlogo L-V, kukira ia hendak mengambil ponsel, rupanya ia sedang mengambil satu bungkus sigaret. Kemudian menyulut api lewat pemantik, asap kemudian mengepul di udara. Ia menghisap sigaret tersebut sembari sesekali memejamkan mata, menikmati tiap ujung tembakau yang tersulut api.

“Ibuku pernah bilang kepadaku, dulu kalau mau bepergian, harus menunjukkan kartu vaksin dan hasil tes PCR serta hasil SWAB Antigen, tapi itu dulu, sekarang telah berbeda.”

Saya hanya mengangguk menanggapi seadanya, apa yang ia ucapkan memang benar. Ayahku pernah bercerita, bahwa dahulu bumi dilanda satu penyakit yang dinamakan COVID-19, virus yang menyerang saluran pernafasan seseorang, virus itu menyebar begitu cepat hingga statusnya menjadi pandemi.  Ayahku pun pernah berkisah, karena virus itu ia menghabiskan masa SMA nya dengan begitu hambar, belajar lewat dunia maya hingga menapaki jenjang sarjana. Pandemi itu baru benar-benar menjadi endemik ketika seluruh masyarakat telah melaksanakan vaksinasi dan tercipta kekebalan komunal.

Bahkan kata ayah, ketika pernah diadakan sekolah tatap muka terbatas, ia harus menjaga jarak dengan kawan sebayanya, selalu mencuci tangan, bukan sekali, namun berkali-kali. Pun dalam setiap aktivitasnya memakai masker. Apa yang diceritakan ayahku membawa imajinasi kepada sebuah aktivitas yang rumit.

“Ia benar, sekarang nampak normal kembali,” sahutku datar.

“Ibuku pernah bercerita, bahwa bencana itu bisa saja dicegah jika penguasa saat itu menerapkan karantina wilayah, dengan menutup semua pintu masuk baik laut dan udara. Agar mobilitas masyarakat dari wilayah terdampak virus tidak masuk ke negeri ini. Tapi penguasa kala itu memandang remeh hingga virus itu masuk dan menyebar begitu cepatnya. Perekonomian sempat terseok-seok, bahkan banyak orang-orang yang memanfaatkan peluang di tengah bencana,” gadis itu menghentikan ucapannya. Kemudian menghisap sekali lagi sigaret dan menyumbulkan asap ke udara.

“Mungkin ayah atau ibumu pernah mengisahkan ini, bahwa di masa itu seorang menteri dengan teganya berbuat korup, menyunat dana bantuan sosial. Mungkin pula beliau-beliau menceritakan bagaimana masyarakat melancarkan kritik atas ketidakcakapan dalam menangani pandemi melalui kampanye mural yang estetik.” Gadis itu menghentikan ucapannya, sigaret di jemarinya kemudian dimatikan dengan ujungnya ditekan keras pada asbak yang ada di hadapanku.

Sekali lagi, saya hanya mengangguk, karena cerita itu memang pernah dikisahkan oleh ibuku, betapa beberapa kali ironi terjadi di negeri ini. Ibu pun pernah berkisah ketika dilakukan pengetatan dan pembatasan mobilisasi, ia harus dengan rela membatalkan perjalanan menuju seberang, melayat nenek yang berpulang. Saat itu Ibu bercerita betapa hatinya tersayat ketika tidak bisa bepergian sedangkan di saat bersamaan banyak tenaga kerja asing masuk ke negeri ini.

Ada pula kisah pembungkaman kritik masyarakat melalui mural, katanya, beberapa seniman membuat mural yang tampak sarkas, lalu keesokan harinya mural itu telah lenyap. Lenyapnya mural tersebut kemudian ditanggapi dingin oleh masyarakat, bahkan sebuah organisasi non profit membuka sayembara kritik mural, juara pertama ketika mural tersebut dihapus oleh aparat setempat. Jadi secara tidak langsung membuat pemangku kebijakan menjadi juri atas lomba tersebut.

Kini gilaran saya yang mengambil sesuatu dari tas ku, mengambil sigaret lalu menyulutnya dengan api. Gadis di depanku tak mau kalah, ia pun mengambil satu batang sigaret, kami sama-sama mengembuskan asap dari tembakau yang terbakar, untungnya kedai kopi di bandara ini memiliki smoking area.

“Kamu sudah baca berita daring belum? Tentang tragedi jatuhnya pesawat pagi tadi?” gadis itu kemudian membelokkan pembicaraan, kini yang ia kisahkan hanyalah tragedi bencana yang pernah terjadi di negeri ini.

“Ayahku pernah berkisah, mengenai tragedi jatuhnya pesawat terbang di awal bulan Januari 2021, pun ayah pernah berkisah tragedi tenggelamnya kapal selam di bulan April. Kata beliau, itu adalah tragedi pertama di negeri ini, kasus pertama tenggelamnya kapal selam, hingga ia menyelam menuju keabadian, On Eternal Patrol, kata ayahku.” Dari bibir bergincu merah itu kemudian menyumbulkan asap, saya pun membalasnya dengan mengembuskan asap putih. Lantas ia pun kembali menyinggung perihal peristiwa jatuhnya pesawat terbang tadi pagi.

Ia, gadis itu, tanpa henti bercerita, tanpa kami sadari kami telah membunuh waktu begitu lama. Suara riuh kemudian menyelimuti bandara, tentunya karena kasus pagi tadi, tentang jatuhnya pesawat yang membawa penumpang. Ucapan duka cita dan simpati mengalir melalui media sosial. Bahkan layar kaca tanpa henti menampilkan berita jatuhnya pesawat terbang tersebut. Saya kemudian menatap layar kaca di atas sana, berita menayangkan jatuhnya pesawat terbang di laut lepas, di sana kulihat jelas beberapa nama.

“Itu namamu kan?!” celetuk gadis itu tiba-tiba kepadaku, pandanganku kualihkan kepadanya lalu tersenyum.

“Iya, benar itu namaku, dan ada juga namamu terpampang disana, kan?!.”

Sesaat kemudian hening, kudengar namaku dan namanya dipanggil, kami kemudian beranjak dari kedai kopi ini, lalu bergegas menyusuri ruang tunggu dan menuju aprone bandara. Pesawat yang akan kami tumpangi telah tiba, sebentar lagi take-off dan mengangkasa, membawa kami menuju keabadian di ujung sana….

Cat si Kucing

Memasuki musim penghujan, orang-orang di kota tempat Gwen tinggal mulai menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Toko roti yang tadinya hanya memproduksi seratus buah setiap harinya, kini memperbanyak lagi produksinya di musim hujan. Namun berbanding terbalik dengan makanan laut yang biasanya beraneka ragam. Tentu tak ada yang berani melaut di tengah-tengah kencangnya ombak. Para penduduk kota mulai beralih mengonsumsi daging merah sebagai gantinya.

Begitu pun dengan jenis sayuran yang kini pilihannya sudah terbatas. Tak ada lagi sayuran jenis hijau yang biasa ditemui di pasar. Banyak yang terendam air hingga gagal panen. Nais —seekor kelinci piaraan Gwen— yang sehari-harinya mengonsumsi sayuran hijau dan wortel, juga mulai membiasakan diri dengan makanan kemasan. Meski harganya relatif jauh lebih mahal jika dibanding sayuran.

Ketika Gwen memberi Nais semangkuk makanan kemasan, mata Nais begitu berbinar-binar. Jarang betul ia menjumpai makanan jenis ini. Sebab ia tahu, Gwen harus merogoh kantung lebih dalam untuk makanan kemasan yang ia beli di Pet Shop seberang. Meski Nais belum pernah ke sana, ia pernah mencuri dengar ketika Gwen berbincang-bincang dengan supir pick up pengangkut sayuran. Bahwa, harga sayuran lebih murah dibanding kemasan. Meski lebih murah, kandungan gizi pada sayuran lebih banyak, tentu saja.

Makanan kemasan itu menipu, rasanya Nais ingin memberi tahu Gwen demikian. Agar Gwen berhenti membeli makanan kaleng atau susu kemasan. Yang diiming-imingi pemandangan alam seakan-akan susu segar pada sapi langsung ditampung pada susu kotak yang ia beli. Nais mengetahui hal itu, dari kerabatnya di kota sebelah. Kebetulan sekali, tempat Nais bermukin dahulu, berdampingan dengan kawanan sapi perah. Kawanan Sapi itu saling berebut cerita bagaimana proses susu yang mereka hasilkan dijual di supermarket dan diminum oleh para penduduk kota.

Hasil susu perah yang dihasilkan oleh mereka, akan ditampung dalam sebuah tangki besar. Dan diberikan rasa perisa untuk memperkuat aroma susu dan bahan pengawet agar tahan lama. Adapun susu berbentuk bubuk, itu adalah hasil saringan (sisa dari susu yang disaring atau limbah susu). Kemudian, didistribusikan ke mini market. Susu asli tanpa pengawet bisa saja dikonsumsi, namun harganya relatif lebih tinggi dan cepat rusak. Biasanya, susu itu dimasukkan ke dalam botol kaca dan didistribusikan ke rumah penduduk kota sesuai pesanan.

“Jika makanan kemasan yang Gwen konsumsi itu menipu, apa terjadi hal yang sama pada makanan kemasan milikku?” Sepanjang hari, Nais memikirkan hal itu. Meski ia sedikit khawatir, namun ia begitu lahap menghabiskan makanan pada mangkuknya.

 — — 

Tempat Nais bermukim sering kedatangan tamu. Mulai dari yang menetap lama atau sekadar datang menyapa lalu pergi. Biasanya, yang menetap lama ialah mereka yang dari perjalanan teramat jauh. Terbang berjam-jam atau mereka yang kehilangan arah pulang. Mereka yang kehilangan arah pulang, Nais bisa menuntunnya kembali. Tentu karena Nais sudah menetap cukup lama, ia mengenal hampir semua jalan dan penduduk. Terang saja, sebab kota ini ialah kota kecil yang berada di dekat kawasan pesisir. Meski beberapa ruas jalannya masih berupa jalan setapak, namun ada begitu banyak yang melabuhkan kapalnya di dermaga.

Pada cuaca yang sedang mendung, Nais kedatangan seekor kucing dari antah berantah bernama Cat. Cat seekor pejantan peranakan asli. Ia mulai bercerita bahwa betapa ia diperlakukan berbeda dengan kucing ras. Kucing ras sering mendapatkan perlakuan yang istimewa. Semisal mereka diberi makanan kaleng kualitas terbaik maupun susu kemasan dan mereka juga lebih mudah diterima hanya karena mereka berbulu indah. Cat ingat betul ketika ia sekadar berkunjung ke daerah pemukiman, ia langsung diusir. Padahal ia sedang duduk menunggu makanan sisa. 

Pernah Cat begitu lapar, terpaksa ia mengambil daging mentah yang sedang dicincang oleh seorang ibu muda. Tentu ia langsung mendapat pukulan telak di tengkuknya. Matanya berkaca-kaca mengingat hal itu. Tentu ia tak akan sampai hati mencuri jika ia tak begitu lapar. 

Adapun saat-saat haus, ia akan mencari wadah-wadah. Sebab wadah tersebut biasanya berisi air hujan atau menyisakan tetesan embun.

Ketika tengah hari tiba, ia ingin berteduh dari teriknya sengatan matahari. Tanpa ia sadari, ia tertidur di teras pada rumah yang sedang tak berpenghuni. Ia merasa sangat damai, setidaknya meski perutnya belum terisi, ia tidak diusir.

Meski sering diusir bahkan nyaris disiram air, Cat tak sampai hati untuk memendam rasa benci perbuatan yang dilakukan padanya. Ia hanya memilih pergi dan memilah mana kira-kira rumah yang bersahabat. Betapa mulia hati Cat!

Nais menyimak dengan seksama. Malang betul nasib Cat. Baginya Cat adalah representasi dari kucing-kucing liar yang tidak beruntung. Nais lalu menawari Cat untuk tinggal di sini, meski ia sedikit ragu akan mendapatkan persetujuan. 

Saat Nais ingin mengajak Cat menemui Gwen, ia bergeming. Cat meminta waktu untuk berpikir. Ia bertanya jumlah anggota keluarga di rumah ini. Jika lebih dari empat, maka ia akan mempertimbangkan untuk tinggal. Karena rumah ini akan sering memasak dan berarti akan menyisakan beberapa makanan sisa. Setidaknya ia tidak akan merasa lapar meski itu hanya memakan makanan sisa.

Selepas Senja Hari itu

Hujan dan senja adalah kesukaan kita berdua. Entah mengapa kita suka duduk di bibir pantai, di bawah pohon trembesi, kala kaki langit mulai menjingga, dan orang-orang sudah ingin pulang. Kita menghitung jumlah perahu nelayan hilir mudik, serupa titik-titik di tengah laut. Memungut dedaunan tanggal yang tak lagi hendak tinggal di dahan. Atau menertawakan kepiting pantai beradu capit, saling berebut tempat di atas bebatuan. Mereka lucu, katamu.

 “Apa yang membedakan laut dengan pantai, Cha?” Tanyaku, memecah sunyi senja kala itu.

“Tidak tahu,” jawabmu memalingkan pandangmu ke arahku, lalu diam, dan kembali menatap laut.

Aku ikut terdiam saat itu, karena memang hanya ingin mendengar suaramu saja, juga melihat  senyummu yang belakangan ini terasa berbeda. Seperti ada duka yang tak mau kaubuka, seperti ada perih yang tak hendak kaubagi. Matamu yang bening juga nampak hening, seolah ada air mata yang tertahan di sana. Sayangnya, aku tak cukup berani untuk bertanya ada apa. Sebab aku yakin kau akan menceritakannya sendiri. Bukankah aku selalu menjadi yang pertama mendengar semua keluh kesahmu? Sayangnya, hari ini kau nampak berbeda. Tumben sekali perempuan bersahaja ini diam dengan semua hiruk pikuk yang ada di kepalanya.

Lampu perahu berkedip di hadapan kita, seperti bintang-bintang langit. Barangkali langit memang adalah cermin samudra. Pun sebaliknya. Gelap perlahan menyeruak, pohon berubah monokrom. Kita diam cukup lama, rasanya kita tak pernah sekikuk ini sebelumnya. Sikapmu saat itu, benar-benar seperti senja yang indah dan jingga, menyimpan misteri tak terhingga. Waktu berlalu tanpa jawaban kegelisahanmu. Lalu, kita memutuskan untuk pulang.

“Cha…. Kau tau kan kita sama-sama menyukai senja, kan?”

“Ya… tentu saja, untuk itulah kita ada di sini sekarang,” jawabmu lagi

“kau tahu tidak apa yang membuat senja itu menarik?”

“Apa?” tanyamu sembari membersihkan sepatumu  dari sisa-sisa pasir pantai

“Karena semburat jingga matahari di saat senja selalu memberi isyarat, bahwa besok dia akan kembali untuk menjaga”

Kau tersenyum simpul dengan sorot mata yang tidak lagi berbinar, membuatku semakin khawatir.

Kita akhirnya pulang, Aku dengan motorku, kau dengan mobilmu.

Esok paginya, kau mengirimiku sebuah pesan cinta, ada kalimat puisi, selamat tidur, dan ucapan maaf dalam rentetan isinya. Dari waktu pengiriman, aku yakin kau mengirimnya di sepertiga malam kala tidurku sedang lelap-lelapnya. Kau mungkin sengaja, agar aku tak membalas pesanmu saat itu juga. Atau mungkin, di tengah rasa resahmu yang dalam, kau terbangun tengah malam untuk bisa berbincang dengan Tuhan. Itu hanya dugaanku, yang selalu sok tahu tentang dirimu. Ada apa?

Seminggu, dua minggu, hingga berbulan tak ada kabar darimu. Aku tidak bisa menghubungi melalui telepon maupun sosial mediamu yang aksesnya mulai tertutup. Pikiranku berkecamuk. Hati perlahan remuk. Pikiranku benar-benar kalut, seperti kabut di puncak gunung. Ribuan pertanyaan lalu lalang di kepala. Ada apa?

Apakah pesan malam itu adalah isyarat selamat tinggal?

Aku terus berusaha mencari keberadaanmu, kepergianmu secara mendadak menyisakan luka dan memori batin yang tidak bisa aku jelaskan. Dengan sedikit paksaan, aku mencarimu melalui temanmu.

Akhirnya aku paham betapa bodohnya aku tak pandai membaca isyarat itu.

Kau dijodohkan dengan lelaki lain, yang lebih baik dalam segala hal, kecuali dalam mencintaimu. Aku yakin ia tak ada apa-apanya dibanding aku. Ternyata pernikahanmu berlangsung sehari setelah pertemuan kita di senja terakhir kala itu.

Aku tenggelam dalam kesedihan, mencoba menyibukkan diri, berusaha bertahan hidup meski perasaan ini kembali mati. Perasaan yang tadinya tumbuh subur karena kehadiranmu kini telah gersang.

Apa kau merasakan hal yang sama, Cha? Sama-sama patah hati atas perpisahan yang ditakdirkan semesta?

Dalam usaha melupakanmu aku bersikeras menghilangkan semua jejakmu, termasuk menghapus foto-fotomu, puisi-puisi yang pernah kau kirim, juga rencana-rencana kita di masa datang yang berakhir nirmakna.

Tapi bagaiamana aku menghapus yang berserak di kepalaku, dan membekas di hatiku? Bagaimana? Aku benar-benar tidak bisa hidup seperti ini terus menerus. Hidupku sudah berat akhir-akhir ini, dan semakin berat setiap hari ketika kau pergi. Apalagi yang bisa membuatku bahagia. Pribadi yang dulu kau kenal menyenangkan dan ramah senyum, kini menjelma orang yang dingin dan kaku. Aku mungkin sudah berubah. Menjadi tipikal orang yang paling kau benci. Ketika kita bertemu suatu hari nanti, aku mungkin bukan lagi lelaki yang dulu pernah kau cinta.

Cha, kini aku tak tahu harus bagaimana. Terkadang, beberapa kali dalam hidup, aku berpikir, Bisakah aku jatuh cinta lagi? Rasanya berat mengenal perempuan lain setelah mengenalmu. Aku terlalu takut mengecewakan. Takut dikecewakan lagi. Ketakutan ini bertarung sepanjang waktu.  Dan siapa pun nanti yang jadi pemenangnya, yang kalah tetaplah aku. Aku.

Cha, bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah tahu perbedaan laut dan pantai? Apakah senjamu kini terasa lebih menyenangkan?

***

Aku mencintaimu

Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

Sajak Sapardi yang kukirim malam itu. Menjadi puisi, juga pesan terakhir untukmu. Kau bilang menyukai penyair macam Sapardi dan Aan Mansyur. “Aku suka syair-syair mereka yang melankolis.” Katamu saat menghadiahkan buku Hujan Bulan Juni, tepat di hari Eyang Sapardi meninggal. Bagimu itulah cara terbaik mengenang penyair hebat—dengan membaca karya-karyanya. Aku yang malas pada puisi ini, tak mengerti yang kau ucapkan.

“Aku tak suka puisi, An.” Ketusku saat itu.

“Tak apa, kau akan menyukainya nanti.”

“Aku tak yakin, bagaimana mungkin aku menyukai sesuatu yang tidak aku mengerti,“ Keluhku, sembari meletakkan buku di pangkuan.

“Cha, puisi untuk  dinikmati, bukan untuk kau mengerti,” Jawabmu dengan senyum.

Kau menatap ke langit, seperti anak kecil yang melihat wajah ibunya, “Kelak, akan datang suatu masa, di mana kau akan menikmati puisi meski tak paham maknanya sama sekali. Aku berharap masa itu tak pernah tiba.” Katamu lirih.

***

Setelah mengirim pesan itu, aku harus mengganti nomor baru. Begitulah kesepakatanku dengan keluarga, atas janji pertemuan kita petang itu. Iya, keluarga memang melarang keras kita bertemu saat itu. Tapi aku bersikap tak kalah keras. Bagiku, mungkin itulah satu-satunya kesempatanku melihatmu sebelum hidup bersama laki-laki lain. Ahh, bisakah aku melakukannya? Siang itu, aku memohon pada ibu, mengemis pada bapak. Air mataku telah kutumpahkan sebelum pertemuan kita. Menjelma sungai kering di musim kemarau. Suaraku pun berubah parau. Aku tak ingin kau membaca isyarat apa-apa. Tidak di mataku, tidak pula di wajahku, An.

“Apa yang membedakan laut dan pantai, Cha?” Tanyamu dengan polosnya—seolah aku juga adalah muridmu di sekolah. Aku menatapmu sejenak, dan hanya menjawab tak tahu. Saat itu aku sungguh ingin bicara banyak, An, tapi aku takut semuanya diambil alih air mataku. Ini pertemuan terakhir kita, dan tak boleh dinodai oleh air mata. Tak boleh sama sekali. Kita memang suka hujan, An. Tapi yang jatuh dari langit, bukan dari mata salah satu di antara kita. Kau pernah bilang kan, kala hujan turun, rasa-rasanya hanya ada kita bertiga saja di dunia: aku, kau, dan hujan. Semuanya menjadi bunyi-bunyi yang sunyi. Hening dan tenang. Kita ingin hujan tak usah usai. Agar percakapan kita tak pernah selesai. Agar kita bisa menikmatinya selamanya. Apakah di surga kelak ada hujan juga, An?

An, Jika bukan karena ibu, aku mungkin sudah mengajakmu pergi petang itu. Ke tempat jauh, memulai kehidupan baru, walau tanpa restu. Ke tempat di mana kita tak mengenal orang-orang, juga tak dikenal oleh mereka. Rasanya mengenalmu saja sudah cukup, An. Kau paling baik, paling mengerti. Rasanya aku tak butuh yang lain lagi. Tapi aku memikirkan perasaan ibu, An. Meski ia tak pernah memikirkan perasaanku sama sekali jika itu berkenaan tentangmu. Aku sendiri tak tahu kenapa ibu membencimu begitu dalam. Memilih antara kau dan ibu adalah pilihan tersulit dalam hidupku. Kehilangan salah satunya sungguh akan membuatku kehilangan saparuh hidup. Meski, kau tahu sendiri pilihanku seperti apa, An. Iya, aku memilih ibu dibanding engkau. Kau pasti kecewa. Aku tak berharap kau memaafkanku, An. Jujur, kau boleh benci atas pilihanku. Dan jika itu bisa membuatmu melupakanku, mungkin membenciku adalah cara lain mencintaiku. Lakukanlah! Tak apa, An. Tak apa.

Malam ini sungguh dingin. Hujan turun lagi, An. Aku sungguh membencinya. Barangkali benar kata orang, An, langit adalah mata yang tak henti-hentinya menangis. Kini semuanya sungguh ramai, tak ada lagi kita berdua, semuanya merasuk dan menusukku dalam sekali, berkali-kali. Mengingatkanku padamu. Tentang puisi-puisi yang kaukirim untukku saat hujan. Pada kenangan dan angan-angan. Pada Air mata dan kata-kata. Semuanya tentang kita.

 “Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku—dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.” Membaca puisi Aan Mansyur. Akhirnya, aku paham An, mengapa puisi diciptakan. Dan aku membencinya. Sungguh.

Foto: Dion Syaef Saen.