Arsip Kategori: Cerpen

Rasa yang Tertahan Oleh Politik Brengsek

Riuh desiran ombak pada Desember yang rintik. Aku menatap jauh ke tengah laut. Di kejauhan, sesekali nampak muncul tenggelam cahaya lampu para nelayan. Malam ini, dalam pikirku, aku akan menabalkan hati yang lama tertahan. Perasaan yang lama terpendam. Aku berpikir inilah saatnya. Ini kesempatan yang terbaik kupunya. Mungkin agak sulit untuk menemukan momen seperti malam ini. Aku berpikir jika tidak malam ini, berakhirlah segalanya. Jika tidak malam ini, ada baiknya aku mengubur saja rasa ini dan melupakannya. Membiarkan berlalu dan ditelan oleh waktu. Tapi jika itu tidak terjadi pikirku, aku akan menahan “sakit” yang saya bisa pastikan begitu lama. Ya, lama—seiring  ia ditelan oleh waktu. Dan, itu pasti perjuangan melelahkan. Melupakan yang tak berarti itu mudah. Akan tetapi jika ia terkait pengalaman eksistensial itu pasti berat. Sekali lagi, butuh perjuangan yang tak mudah. Butuh sajen hati yang ikhlas. Aku tak bisa menyangkal kali ini, aku berada pada dua ruas rasa yang tak akan lolos dari konsekuensi. Menabalkan lalu bersedia menerima apa pun hasilnya atau tidak sama sekali.

***

Hujan masih saja rintik, tetap malam masih sama. Di kejauhan lampu nelayan masih timbul tenggelam. Aku masih sibuk dengan pikirannku. Memikirkan tentang cara yang tepat menuturkan perasaan yang kian lama ingin meletup. Ah, mengapa malam ini aku tak punya keberanian? Tidakkah dengan mengungkapkannya, aku akan lepas. Tidakkah dengan mengatakannya, akan membuat ia memahami. Tapi semuanya masih tertahan. Aku tak bisa menatar perasaanku dengan baik.

“Menurutmu, bagaimana dengan politik kita sekarang ini?”

Tanyanya kepadaku tiba-tiba, seketika membuatku terbangun dari pikiran-pikiranku.

“Tidak beres” jawabku singkat sambil menoleh kepadanya lalu kembali menatap ke depan melihat hamparan laut.

“Iya benar, politik kita sekarang memang tidak beres” Dia menimpali. Lalu dia melanjutkan, “lihat saja para politisi kita semakin rakus. Mereka tidak segan-segan melahap uang rakyat. Mereka tak sedikit pun memiliki empati terhadap rakyat. Mereka tak punya niat sedikit pun mensejahterakan rakyat. Mereka membuat undang-undang hanya untuk kepentingan pemodal. Coba saja kamu amati, terobosan apa yang telah dilakukan oleh politisi kita untuk rakyat. Yang ada, kebijakannya semakin melebarkan jarak antara kaya dan miskin”

“Iya seperti itu adanya” ujarku, membenarkan apa yang ia bilang. Aku tidak bersemangat berkomentar panjang. Dalam hati, aku berkata, “malam ini aku tidak tertarik berdiskusi. Apalagi membicarakan politik yang brengksek ini. Aku sebenarnya ingin kita mendiskusikan hal yang lain. Hal eksistensial. Tentang rasa ini. Aku ingin kita membicarakan rasa ini. Apakah kamu juga memiliki dan mengalami hal yang sama seperti apa yang kualami. Sekali lagi, ini yang ingin aku bicarakan”.

“Seandainya para pendiri bangsa menyaksikan kondisi bangsa sekarang ini, pasti ia akan sangat sedih. Apakah para politisi itu tidak tahu bagaimana perjuangan pendahulu kita mendirikan bangsa  ini. Apakah mereka tidak tahu penderitaan Tan Malaka, Soekarno dan tokoh yang lain, kadangkala mereka harus mendekam di penjara karena perjuangannya memerdekakan bangsa ini. Apakah mereka tidak pernah membaca sejarah itu. Ooo iya saya lupa mereka memang malas membaca”

“Iya seperti itulah politisi kita” jawabku singkat menimpali tuturnya yang panjang lebar. Dengan wajah yang datar, dalam hati aku merintih, “sudahlah aku tidak ingin berdiskusi. Apalagi tentang politik yang tai kucing ini. Sekali lagi, malam ini aku ingin memberi ruang pada hatiku agar lepas dari jerat rasa ini. Ya, dengan mengungkapkannya kepadamu itu adalah jalannya. Dengan membagi kepadamu yang sebenarnya orangnya adalah kamu sebagai subjek sekaligus objek dari rasa ini yang ingin dituju. Aku tak sanggup lagi menahannya. Tidakkah kau ingin mendengarnya? Tidakkah malam ini dengan rintik hujannya cukup romantis untuk membicarkan perasaan ini. Dari pada berbicara politik yang kelam ini”

“Lihat perilaku partai politik. Mereka hanya sibuk bertransaksi kekuasaan. Mereka tak memiliki ideologi yang jelas. Ada partai yang berlabel agama tapi korupsinya nomor satu. Partai begini benar-benar menggunakan agama sebagai topeng  untuk legitimasi dalam memuluskan kebejatannya. Mereka benar-benar lihai menampilkan diri sebagai kaum agamawan. Orang-orangnnya benar-benar seperti bal’am.”

“Betul sekali pendapatmu itu” tuturku lagi dengan singkat membenarkan apa dia sampaikan. Tapi dalam hati, perasaanku berontak. “Kenapa kamu masih melanjutkan bicara politik ini. Politik kita memang absurd. Sudahlah, aku ingin kita mendiskuskan sejarah awal adanya rasa ini. Kapan pertama kali ia muncul. Mungkin itu lebih berarti. Barangkali itu lebih manusiawi dan bisa memanusiakan kita dibanding mendiskusikan politik. Rasa ini mungkin lebih politik yang sesungguhnya dibanding apa ditampilkan oleh politisi kita. Tolonglah, sudahilah bicara politiknya. Aku ingin kamu menyediakan kuping kamu untuk mendengar rasa ini bercerita. Aku ingin kamu menyiapkan hatimu memberi jawaban yang tentunya rasa kita bisa saling bertaut. Aku sungguh berharap itu”.

“Ah sudahalah bicara politik. Sepertinya membicarakan kebobrokan politik tak ada habisnya” ujarnya sambil mengerutkan jidat.

Aku meresponnya dengan hanya tersenyum tapi dalam hati aku berkata “kenapa bukan dari awal kamu menyadarinya. Seandainya dari awal kamu tidak membicarakan politik, setidaknya rasa ini punya waktu yang banyak untuk mendaku kepadamu. Menyampaikan semua ruas-ruasnya hingga tak ada yang tersembunyi. Mengungkapkan ihwal percik-percik dan getaran-getaran yang mana akal tak mampu memasukinya. Yang mana indera tak mampu menjangkaunya. Tapi tak apalah barangkali di waktu yang tersisa, aku masih bisa mengungkapkan ke dalam rasa yang tidak berdimensi jarak ini. barangkali aku bisa meringkasnya dengan memasukkan kamu ke dalam durasi rasa ini ”

Sambil menoleh kepadaku “Oh iya menurut kamu apa sih yang mesti dilakukan dengan kondisi politik seperti ini?” Tanyanya kepadaku.

“Mmmmm..aku tidak tahu, soalnya politik kalut sekali” Aku menjawab seadanya yang sebenarnya, bisa saja aku jawab lebih panjang dan detail. Dan, mungkin di situ bisa ditemukan solusi kondisi politik sekarang. Tapi, dari awal aku tidak bersemangat membicarakan politik. Lagian juga, ia sudah mengatakan akan mengakhiri berbincangan politik ini. Tapi, mengapa ia masih melanjutkannya dengan bertanya demikian. Aduh kapan perasaanku punya waktu untuk saya sampaikan kepadamu cetusku dalam hati.

***

Masih seperti semula rintik masih setia menemani kami. Namun, yang berubah malam semakin larut. Waktu sudah menjelang dini hari. Suasana semakin sepi. Tibalah waktunya kami mengakhiri pembicarakan yang dari awal hingga akhir meluluh politik. Bagiku, malam ini adalah pembicaraan dengannya yang sungguh membosankan. Akhirnya, kami memilih beranjak pergi meninggalkan tepi pantai dan Gasebo tempat kami berteduh. Kami beranjak untuk bergegas pulang. Aku mengambil motor di parkiran, lalu menyalakannya. Kemudian dia naik jok belakang. Aku memboncengnya. Di jalan pulang tak ada sepatah kata lagi yang keluar dari bibir kami. Kami semua sibuk dengan lamunan masing-masing. Saya tidak tahu apa yang ia lamunkan. Mungkin masih tentang politik yang brengsek ini. Di atas motor dengan menatap kosong ke jalan yang sudah lengang, aku menggerutu. Dasar politik ternyata ia telah menyita semua waktu yang ada. Tak ada sedetik pun yang disisakan untuk mengungkap perasaanku kepadanya. Dasar politik. Bahkan rasa ini tak ia beri kesempatan. Sungguh kejam. Politik memang kotor dan licik. Bayangkan hal paling eksistesial saja ia tak beri ruang. Ia merebut semuanya dengan luas boroknya yang tak pernah cukup waktu menceritakannya. Dan orang yang aku cintai karena pikirin-pikirannya juga ia ambilnya. Sungguh kejam. Sekali lagi sungguh brengsek[*]

Burung Dua Lelaki

Merdekalah jiwa pada sakit yang mengoyak, pada perih yang kian mengerikan, pada rintih yang memeluk ringkih!

 Jendela mendongak di hadapanku. Namun, aku tak punya daya untuk melompat keluar. Tubuhku meronta tapi tetiba aku harus duduk manis karena tancapan jarum yang dari kawanan berbaju putih.

Sebenarnya aku sudah merasa sangat kuat. Aku pun merasa baik-baik saja. Tapi yang berkesan di benaknya hanya saat aku melucuti seluruh perabot-perabot yang menyelimuti tubuhku. Maka dikatuplah aku di sini. Kadang-kadang aku meraung tapi tak jarang kepalaku seperti akan pecah. Aku ingin melepaskan jiwa yang tidak pada tempatnya.

“Ayo diminum obatnya.” Suara centil yang seolah dilembut-lembutkan sambil melirik sinis; dia merayu. Aku tahu baginya ini hanya formalitas, bukan karena memandangku sebagai manusia. Aku geram tapi tak bisa menguasai tubuhku yang jinak.

“Awas kau! Ketika nanti kau mendekat akan kupatahkan lehermu!” Bayangan burung itu muncul lagi dipikiranku. “Dia sengaja diam! Aku tahu, dia melihatnya! Dia melihatnya!” Aku kembali menguasai ragaku. Aku melompat-lompat girang, berteriak menggapai merdekaku. Tapi, mereka bergegas menyergapku. Mereka serupa segerombolan semut yang menumpuk menjelma menjadi kapas, lalu-lalang mengeroyok manusia-manusia dalam museum keabnormalan jaringan pada otaknya; dalam anggapan mereka.

Aku menatap keluar lalui cela di antara jejeran batang besi, aku melihat makhluk itu lagi, tubuh menyerupai peliharaan lelakiku. Wajahnya yang bengis dengan tubuh tidak begitu kerdil, bulu kilap berwarna gelap. Dia meludahiku, menjulurkan lidahnya, mengejekku, tersenyum sinis bahkan tertawa terbahak dengan lepas.

Aku mengguncang tancapan besi di hadapanku, berusaha merebahkannya tapi sepertinya terlalu kuat—justru berbalik menggoyangkan tulangku. Kulihat dia kembali menertawaiku dibalik batangan besi yang jauh lebih kecil dan mengurung tubuhnya. Aku sangat membencinya. Memintal amarah tapi aku tak mampu menumpah-ruahkan segala jenis emosi tanpa kehadirannya di ruang pengap dengan aroma bahan kimia.

***

“Kau sudah memberi minum pada burung-burung itu Bandul?” Laki-laki berkumis itu muncul dari balik tirai sambil membenarkan ikat pinggangnya. Seperti biasa, wanita molek duduk manis di samping tirai, mengepulkan asap pekat. Dia memanggilku Bandul walaupun dia sangat tahu bahwa aku ini seorang lelaki. Kata nenek, dulu ibuku senang memakai bandul ketika mengandung, karena itulah saat aku lahir lelaki itu menertawakanku; katanya aku tak secantik bandul yang ibu kenakan. Dia memang gila; tertawa saat ibu sedang meregang nyawakarena menunjukkan wajahku ke dunia.

“Sudah, Pak!” Aku menundukkan kepala.

“Jago, Kau sudah beri makan?” Suaranya meninggi, teriakannya memecah celotehan burung-burung yang ada dalam tancapan besi-besi. Burung-burung itu bernyanyi saling bersahutan seperti sengaja ingin menenggelamkan suara nyaring itu. Mereka berhasil, aku terdiam—tersihir melodi mistik bagai mass in B minor yang membuat kakiku seperti tak lagi menyentuh tanah.

Seketika hantaman telapak mendarat di kepalaku saat aku belum sempat menjawab pertanyaannya. Dia mencengkramku lalu mendorongku.

“Kau dengar yang kukatakan? Mana Jago?” Dia berteriak di depan hidungku. Aku sesak; bau ini lebih menohok dari bau segala jenis kotoran burung.

“ Aku sudah memandikannya Pak! Dia ada di halaman belakang. Tadi aku ingin memberinya makan tapi dia tidak mau.” Aku berusaha menjawabnya dengan jelas sambil menahan sakit. Jago memang kurang ajar, selalu membuatku bermasalah dengan majikannya.

“Ah, alasan saja Kau!” Dia berbalik−keluar dan menarik tangan wanita yang telah berpindah ke depan pintu.

***

Belakangan aku sering melihatnya lalu-lalang di tempat ini, tapi tetiba dia berhenti—gadis berkacamata dengan senyum yang manis, matanya jeli berbinar dan suara yang anggun. Aku tak mampu menegakkan kepala saat dia berbicara padaku.

“Aku ingin membeli seekor burung parkit untuk bapakku! Bisa kah kau memilihkannya untukku?” Dia bercuap dengan suara yang cukup manja.

Aku memilihkan burung parkit berwarna biru, satu-satunya burung parkit biru yang ada di pasar ini. Tanpa sepatah kata kuserahkan padanya.

“Suarannya baguskan?” Dia menjawab uluran tanganku, mengambil sangkar dengan burung parkit biru di dalamnya.

Aku menganggguk dengan sunggingan senyum terbaik. Perempuan yang kemudian kukenal dengan nama Mala, gadis yang gemar memberikan burung parkit pada bapaknya sebagai bentuk kasih. Sangat berbeda denganku—hidup dengan bapak yang bengal.

Bapakku tidak waras jauh sebelum ibu melahirkan aku—bapakku memang gila, tidak pernah bisa singgah pada satu wanita, apalagi saat dia tahu bahwa ibuku mengandung. Wanita yang mengandung selayaknya diperlakukan sebagai seorang putri. Tapi, berbeda dengan ibuku, setiap saat dia harus berada dalam neraka. Kata orang-orang ada malaikat yang memelukku sehingga aku bisa lahir ke bumi, ibu pun kaku tanpa memberikan senyum bahagianya padaku.

***

Setiap hari bapaknya mengajak burung parkit itu berbicara. Katanya burung itu seperti halnya manusia; makhluk hidup. Perlu mendapatkan perlakuan yang baik. Burung bukan robot atau alat musik yang hanya mampu menghasilkan bunyi, menjadi petarung tanpa mendapatkan kasih sayang.

Dia bercerita padaku bahwa bapaknya sangat menyukai burung parkit. Terutama burung yang dia beli di tokoku. Sejak saat itu dia sering menghampiri tokoku untuk membeli burung serupa dengan warna yang berbeda. Aku melihat matanya berbinar setiap kali dia bercerita tentang bapaknya yang bahagia.

Aku mengangguk berusaha memahami. Sebenarnya aku tak begitu tertarik membahas sosok orangtua yang disebut bapak; aku hanya menyukai bibirnya tersenyum dan telingaku pun mulai bersahabat dengan tiap kicauan yang terlontar dari mulutnya.

Semakin lama menahan perasaan—seperti aliran listrik yang berselancar tiap kali menemukan sakelar—aku jatuh pada Mala. Kuberanikan diri meminangnya. Pertama kali melihat Mala; bapakku telihat sangat bahagia. Aku pikir bapak telah berubah; aku membawa seorang anak gadis untuk menjadi anak keduanya.

“Kau sungguh pandai memilih gadis!” Dia mengatakan itu padaku dengan tawa yang sangat renyah. Baru kali itu aku melihatnya tertawa seperti itu.

“Aku ingin menikahi Mala, apakah Bapak mengizinkannya?” Aku bertanya padanya dengan suara yang bergetar.

“Tentu saja! kau anak laki-laki, sudah saatnya kau berkelana dengan wanita!” Kalimatnya terdengar aneh, tapi yang ada dipikiranku sekarang adalah bapak mengizinkanku menikahi gadis itu.

Seumur hidup baru kali ini aku merasakan yang namanya kebahagiaan. Aku kira aku akan meledak; menghamburkan bahagia setelah mengalami penderitaan bertahun-tahun.

***

Sejak aku menikahi Mala, aku bingung melihat bapak. Dia seperti bunglon dalam kehidupanku. Sesaat lalu dia menjadi sangat beringas di hadapanku. Beberapa jam kemudian dia bersikap heroik saat aku bersama Mala.

Sore itu aku pulang, kuketuk pintu kamar, Mala tak ada. Baru kali ini pintu tak terkunci, kukelilingi tiap ruang sempit. Tanpa sadar aku hanya berputar-putar pada satu titik. yakni, ruangan tengah yang di sisi kananya terdapat dua kamar tidur, salah satu ruangan tempat di mana dia biasa menantiku pulang. Aku menyusuri kembali tiap sudut ruangan, tubuhku lemas melihat istriku tergeletak tanpa daya di ruang dapur.

Onggokan daging tanpa tulang telah binasa dari rahim istriku. Mala berkucur darah, mengalir segar dari pangkal pahanya. Dia bekata dengan nada yang nyaris tak terdengar “ba..pak…” Kukecup keningnya, kupeluk dia erat. Kusaksikan nyawa telah menjalar perlahan untuk meninggalkan raga tapi dia masih ragu untuk beranjak. Kubopong Mala segera dengan tergopoh.

Kata dokter anakku tidak bisa lagi bertahan di rahim ibunya. Mala masih nyenyak dengan sakitnya dalam bangsal. Calon anakku pergi sebelum terlahir. Aku sakit. Aku menanti Mala untuk bercerita banyak padaku, tetiba dia meremas tanganku yang sedang terpaku di sisi tempat tidur; menungguinya.

Kedua kelopak matanya terbuka, aku melihat kembali jendela hidupku yang ada di dalam kedua matanya walaupun nyaris redup karena duka, tak secemerlang saat aku mengucap janji menjadi lelakinya dengan dipersaksikan Tuhan.

“Ba..pak..,” dengan lirih dia berucap. Dia kembali merintih tanpa daya. Aku membelainya, aku merasakan sebuah beban yang tak sanggup disimpannya namun tak dapat dia utarakan tanpa air mata.

***

Kali kedua istriku tergeletak tanpa daya, dia terkulai di samping dipan. Rumah tak lagi seperti surga kami. Semua hancur lebur. Hanya Pay, burung beo peliharaanku yang dulu begitu cerewet. Pay melompat kiri-kanan tapi tanpa suara; tak seperti biasanya. Bangunan sempit, menjemput usia reok memuntahkan isinya, prabot berserakan seperti ikut mengamuk.

Dia telah berhasil, aku remuk dalam amarah yang tertahankan. Dia melahap istriku, kali pertama ketika Mala kutemukan di dalam dapur yang kutahu bahwa dia menyerang Mala. Tapi, kali ini tanpa ampun dia melucuti Mala yang tak lagi terhalang oleh janin setengah hidup.

Aku seharusnya menyelesaikan urusanku dengan lelaki itu sejak dulu. Mungkin dulu dia benar, aku pecundang. Aku tak mampu menggerakkan tangan saat dia menghajarku, meludahi wajahku yang masih saja tak dipandang sebagai pejantan.

Aku tak pernah meramalkan nestapa mendekap kami untuk beberapa saat. Dia meraung, meratapi sakit. Meronta, memelukku ketika aku di sampingnya.

Tiba-tiba aku ingin meraih belati yang ada di atas meja, tepat di samping kepala tempat tidur dengan seprei putih tanpa motif. Alat yang semestinya kupakai mengupas buah apel kesukaannya berharap agar dia segera pulih. Semakin kudengar dia berteriak dan menangis semakin teriris perih dadaku. Sesaat muncul sisa kebiadabannya dalam imajiku, ditembok-tembok yang menangis, pada lantai-lantai yang tertindih menjerit. Ada dorongan, aku berlari secepat mungkin untuk keluar, melewati berderet bangsal.

Kusaksikan dia tertawa di atas dipan lusuh yang terletak di ruang bagian dalam toko burung. Kuterkam dia tanpa ampun, kugorok dia sampai tak mampu lagi mengaung. Perempuan yang ada di antara kami menjerit ketakutan. Dia berteriak. Jika saja tanganku tak ditarik dan didekap erat oleh kerumunan manusia sudah kuhantam juga perempuan itu; ketololannya telah memberikan kesenangan pada lelaki itu.

Aku kini kaku di balik jeruji yang tegak dari besi. Namun, jiwaku bebas. Aku telah menjadi lelaki. Di saat yang sama sangsi meratapi wanitaku terpasung di balik terali, di ruang berbeda dengan ketidakwarasan yang tak sama.

Perempuan Terakhir dari Keluarga Petualang

Terkadang kita sepakat perihal pembunuhan, demi kebahagiaan orang lain. Dan, kita rela mati—mengubur segala impian, demi sebuah kepatuhan terhadap orang terkasih.

***

Saking cinta pada dunia petualangan, ayahku menamaiku dari nama sebuah gunung di kota tempat aku dilahirkan, Gunung Binaya. Jika Shakespeare, dramawan Inggris, risih menyoal what is a name—apalah arti sebuah nama, hal berbeda dengan ayahku, menamaiku Binaya, harapannya aku tumbuh seperti dirinya, seorang petualang.

Sebenarnya aku sendiri begitu tak memahami, kenapa kedua orangtuaku, terutama ayahku lebih betah di gunung daripada di rumah? Atau, kerapkali memasksaku menjejaki jalannya?

Hingga tibalah di suatu hari, segala keresahan selama ini, pun tak kuasa kubendung, laksana awan tak kuasa menampung butir-butir air, lalu menumpahi  menjadi hujan.

“Ayah, kenapa…,” suaraku masih perawan di rongga mulut. Seperti mengetahui maksudku, Ayah lalu memotongnya.

“Kunamaimu, Binaya, kelak kau menapak jalan kami, jadilah seorang petualang, Nak.” Suara Ayah lirih. Lamat-lamat kubiarkan kata-kata ayah berlalu begitu saja. Bak angin menerbangkan debu, lalu tiada.

Kami terdiam sejenak. Kutatap Ayah dalam-dalam. “Ayah telah mengusik hidupku dengan takdir yang dibuat ayah atas diriku. Petualangan, bukanlah duniaku dan bukan pula takdirku,” pekikku seperti petir memorak-porandakkan semesta.

Ayah semakin tajam melototnya, air mukanya memerah bak terik matahari.

“Ayah, aku lebih damai di sini, bersama buku-buku. Aku tak mau lari dari kenyataan hidup. Di sini, aku bisa berbagi bersama mereka yang membutuhkan,” cetusku pelan seiring hembusan angin yang berlawanan arah.

Tetapi apa yang dibalas ayahku.  Aku sontak dibuat kaget. “ Maling Kundang, tak lagi tinggal dalam legenda, tetapi di rumah kita, dia adalah kau!”  pekiknya penuh kesal. Sembari pergi meninggalkanku seorang diri.

Sejak saat itu, di rumah kami seperti neraka. Pertentangan disemai, seperti bangsa jin terhadap manusia. Dendam pegitu apik dipelihara, dibiarkan bermukim di rumah kami.

Seperti ayahku, kumiliki komitmen yang sama keras. Aku terus menolak, sebab petualang bukan duniaku. Duniaku adalah dunia keheningan, di perpustakaan atau ruang-ruang senyap jiwaku tinggal. Di sana, telah matang kubekali diriku dengan membaca, berdiskusi, hingga terlibat di dalam gerakan-gerakan literasi.

Namun, begitulah orangtua, katanya lebih mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi anaknya. Bagi ayahku, duniaku ini telah merampas segala hal dariku, dari wawancara kerja yang tak kunjung datang, jodoh yang masih dipeluk Tuhan, sampai-sampai aku tidak memiliki kebebasan dicecap. Tak seperti dunia mereka yang penuh purnarupa dan purnawarna.

Ayahku masih saja memaksa—dengan penuh kekesalan. “Andai saja saat itu, secuil kebebasan  diberikan Tuhan kepadakku, aku tak mau memilih lahir dari kantong rahim seorang petualang. Namun, kelahiranku adalah sebuah kutukkan bukan pilihanku,” gumamku, kali ini tanpa bersilat kata dengan Ayah.

Menyerahkan hidup demi sebuah kematian, seperti inilah imanku perihal petualangan. Atau, terkadang aku berpikir, sejatinya seorang pembunuh adalah orang-orang terdekat kita, meniadakan segala kehendak kita dan menggantikannya dengan kehendak mereka. Seorang pembunuh memiliki banyak cara melumat nyawa seseorang. Sama halnya seperti ayahku, pagi itu.

“Binaya. Sudah, siapkah kamu?” suara ayah melengking. Tingkah ayahku mirip-mirip tingkah penjajah yang berigas, sigap melumat darah leluhur-leluhur kita.

Ayo, packing!suaranya pelan tetapi beruris-giris, lalu darah bersimbah ruah. Kali ini, aku tak kuasa melawan, sebab dengan nekat ayahku menghunus  sebila belati ke leherku.

Aku begitu lemas tak berdaya, dengan sigap, sebuah keputusan begitu berat kubuat. Semata-mata demi pengabdian terhadap kedua orangtuaku. Terkadang kita sepakat soal pembunuhan, pembunuhan atas dunia sendiri, demi kebahagian orang lain.

Seperti dilahirkan kembali, kali ini aku mengimani rainkarnasi—diri yang baru dengan dunia yang baru. Aku sendiri tidak menyangka, dapatilah diriku di antara kesungguhan hidup dan kepura-puraan.

Di sana, di puncak gunung, aku merasakan hal yang berbeda, mungkin karena baru pertamakali dalam hidupku menjajaki bongkahan tanah yang lebih tinggi, hingga menyentuh singgasana Tuhan.

“Binaya, anakku, selamat datang di dunia kami, dunia petualangan. Gunung, rumah bagi jiwamu. Sebuah tempat pembebasan diri dari kekerasan dan pemerasan, tempat tinggal kita, Nak,” cetusnya.

Ayahku seperti meniup ruh ke dalam jiwaku. Di penghujung timpalnya yang sekarat, lalu ia tertawa lepas, dengan jiwanya yang bebas. Dari apa yang diucap ayahku, aku merasakan hal itu, seperti kawanan burung Walet yang terbang bebas di atas kepalaku, sembari mengajakku melihat  klorofil daun yang sedikit malu-malu dilukis cahaya matahari.

Bukan di rumah, tetapi di puncak gunung, awal kukenali dengan baik kedua orang tuaku. Sebab, setengah dari perjalanan hidup mereka dihabiskan di gunung. Keduanya percaya, gunung menjadi rumah kami yang kedua, di sana kebebasan dipetik, lalu rindu diterbangkan pada semesta.

Mulai detik itu, aku selalu mengekor ke mana pergi kedua orangtuaku. Dari besar jejeran gunung di negeri ini, kami telah menjejakinya. Kemolekan gunung kami dijamu,  seperti gadis perawan yang dikejar lelaki hidung belang, itulah kami terhadap gunung. Kebahagian semata, kami tunaikan dari setiap pendakian.

Terlalu jauh kaki menapak, terlalu banyak keindahan dipetik, aku telah melupakan tumpukan buku dan kesenyapan perpustakaan. Hingga, tiba pada sebuah pendakian, semua kembali beransur-ansur seperti semula. Hari di mana,  aku kembali kenali diriku yang sesungguhnya.

Hari itu, pagi masih buta, kami menyusuri hutan dengan melewati sebuah mukim yang tertutup bayangan pohon bambu.

“Wow, indah sekali negeri ini, Ayah.”

“Iya, Na,.” sahut Ayah dari punggung belakangku. Seketika itu, ibuku menoleh di wajahnya, sembari melemparkan senyumnya kepadaku. Kami pun berbalas senyum. Lalu, dari senyum itu, kembali kulempar pada kerumunan gadis dan pemuda belia yang berdiri di pojok-pojok gubuk membentuk kerumunan.

Mataku tak lepas dari sebuah kerumunan itu. Kuhentikan langkah kakiku. “Kenapa berhenti, Nak?” tegur ayah yang sudah berdiri disampingku.

“Apa yang kaulihat, Nak?” aku belum juga membalas tanya Ayah. Ibu berjalan mendekati arah kami, melempar pertanyaan yang sama. Dari kejauhan, seorang gadis kecil berjalan menghampiri kami, yang menepi dari badan jalan. Suaranya lepas dari badannya.

“Kalianlah guru yang dikirimkan untuk kami? ucapnya tidak jelas, tetapi aku bisa menangkap maknanya. Kami hanya berbalas pandang, tanpa menjawab tanyanya.  Sembari langkah kaki mendekat, aku merasakan nafasku sekarat.

“Ayo, Nak,” pinta Ibu, sembari melangkah meninggalkan kami. Aku masih terdiam seribu bahasa. Dalam hatiku, apa yang meski kusampaikan kepada gadis ini.

“Apa yang kau pikirka?” Sontak dibuat kaget dengan tanya Ayah.

“Oh, itu.” Kutatap muka gadis kecil itu dalam-dalam.

“Maksud kamu, gurunya, iya?” tanya Ayah lagi.

“Iya.” Sembari mengangguk kepalaku.

Gadis kecil itu, lalu membelakangi kami, pergi kembali pada kerumunan dengan jiwanya yang kosong, aku mengetahuinya dari sorot mata yang menatapku terakhir kalinya.

Di dalam perjalanan aku masih dihantui pertanyaan gadis itu. Aku merasakan diriku sebanarnya tinggal di sana. Membekali diri selama ini sebagai pegiat pendidikan, seharusnya di sanalah tempatku dengan segala impianku. Kali ini, aku benar-benar kehilangan sensasi kemolekan gunung atau danau-danau hijau. Hanya kembali menjadi pegiat pendidikanlah tingal di kepalaku, lalu turun membakar jiwaku.

Suatu hari, bermaksud kusampaikan niat untuk kembali ke mukim tersebut, kepada kedua orangtuaku, namun apa yang terjadi?

“Kamu siapanya mereka?”

“Ayah tidak mengizinkan.” Diujung timpalnya, airmukanya memerah.

“Tapi….,” bantahanku belum berakhir.  Disambut ayah lagi. “Pokoknya, Ayah tidak mengizinkan.”

Hari-hariku adalah pergolakan batinku, dengan ketidakiziman Ayah, sebagai pegiat pendidikan. Namun aku selalu percaya bahwa yang namanya pilihan harus ada yang dikorbankan. Entah, dalam bentuk apa?

Tepat hari Senin, tanpa kain bendera dikibarkan, di luar gubuk reyot btertulis nama, “Sekolah Alam.” Kupastikan diriku benar-benar berdiri berhadapan dengan gadis dan pemuda kecil yang kulihat, tempo hari.

“Namaku, Binaya, sahabat kalian.”

Sejak itu, kuyakinkan diriku sebagai sahabat mereka, bukan hanya menikmati keindahan alamnya saja, akan tetapi mendidik mereka agar tetap mempertahankan kemolekan alamnya, dari bidik panah sang pemburuh yang serakah, termasuk ayahku.

 

 

 

Teror Hantu

Lucas baru saja datang dari wangsa yang jauh: Belanda. Ia mengunjungi Kelurahan Samalewa, Pangkep, untuk meneliti sejarah Kerajaan Siang. “Ruangannya sudah dibersihkan Pak, silakan masuk. Biar saya yang mengangkat barang-barangnya,” kata pemilik indekos. Tapi Lucas hanya mengajukan telapak tangannya ke arah pemilik indekos, sebagai tanda penolakan. “Biar aku saja,” katanya, dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Sehingga dibawalah sendiri barangnya memasuki kamar.

Di Samalewa memang cukup banyak tersebar indekos. Sebab orang yang berasal dari kabupaten lain, khususnya kabupaten terdekat, memilih menyekolahkan anaknya di suatu sekolah menengah ternama di Pangkep yang didirikan di Samalewa. Sehingga, warga setempat memanfaatkan kesempatan itu. Beberapa warga mendirikan indekos untuk anak-anak dari luar yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Tapi Lucas datang sebagai sejarawan. Dan sebenarnya ia bisa menyewa tempat yang lebih mewah lagi. Cuma ia merasa indekos itu lebih dekat dari tempat penelitiannya, sehingga ia lebih memilih menetap di sana.

“Hai Sukri….,” pemilik indekos memanggil orang yang melintasinya setelah beberapa detik yang lalu Lucas memasuki kamarnya. Orang itu menghampirinya. Kemudian terjadilah percakapan antara keduanya.

“ Tadi malam anakku mengaku ditakut-takuti oleh hantu itu.”

“Dia melihat wajahnya?”

“Seperti anak-anak yang lainnya, dia tidak melihatnya. Hantu itu menakut-nakutinya dengan membuat gelas di hadapannya melayang-layang.”

“Terus?”

“Yah, anak saya ketakutan. Dia tak mau keluar rumah.”

“Meskipun itu siang-siang?”

Pemilik indekos hanya menganggukkan kepalanya.

Permbicaraan mereka didengar oleh Lucas. Sebab si empunya indekos bercengkrama dengan Sukri tidak jauh dari kamarnya. Sehingga pastilah Lucas mendengarnya. Tapi, sepertinya bule itu menganggap serius pembicaraan mereka. Sehingga belum juga puas beristirahat, ia pergi mengintip mereka dibalik jendela, kemudian menguping pembicaraan mereka. Sukri menyadari bahwa Lucas sedang mengintip mereka. Sehingga saat Sukri menatapnya, Lucas berhenti mengintip, dan langsung menutup jendela dengan gorden.

“Dia datang dari Belanda, katanya mau meneliti,” kata pemilik indekos untuk memberikan penjelasan terhadap Sukri mengenai bule itu.

“Dari mana kau tahu?”

“Dia sendiri yang kasih tahu.”

“Memangnya kamu pintar bahasa bule?’

“Dia pintar bahasa Indonesia.”

***

Masih pagi-pagi sekali Lucas sudah mulai menjelajah untuk memulai penelitian. Ia hendak mengunjungi setiap tokoh masyarakat dengan didampingi oleh Sukri. Tentu saja kemarin, sudah terjadi kesepakatan antara Lucas dan Sukri untuk bersama-sama ke rumah masing-masing tokoh masyarakat. Setelah bercengkrama dengan pemilik indekos, Sukri mendatangi Lucas di kamarnya dan bercerita banyak hal khususnya mengenai kondisi Samalewa dan beberapa hal mengenai Kerajaan Siang. Oleh karena Lucas memberitahu niatnya untuk bertemu para tokoh masyarakat kepada Sukri, sehingga Sukri menawarkan kesediaannya untuk menemani Lucas. Pastinya Lucas menerima ajakan itu.

Tokoh masyarakat petama yang mereka kunjungi untuk hari ini adalah Syarifuddin. Seorang yang menurut Sukri bisa memberikan banyak informasi mengenai sejarah Kerajaan Siang dan perihal lain mengenai kebudayaan Pangkep. Mereka hanya berjalan kaki. Dari arah belakang, terlihat rombongan bocah mengikuti mereka sedari tadi. Tentulah bagi para bocah itu, melihat bule adalah hal yang sangat langka, dan hanya bisa mereka temui pada tayangan televisi. Tapi di tengah-tengah perjalanan, Lucas bertanya mengenai hal yang sebenarnya dianggap ganjil oleh Sukri. Sebab menurut Sukri, yang juga seorang guru fisika, sekiranya seorang peneliti tidak peduli dengan hal yang dipertanyakan oleh Lucas.

“Apakah benar di sini ada hantu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau juga percaya hantu?”

Lucas hanya diam, sembari ditatap penuh heran oleh Sukri.

“Kita sudah sampai”

***

Kediaman Syarifuddin adalah rumah panggung. Di dalam rumahnya berisi perabotan yang terbuat dari logam dan tembaga. Dinding rumahnya berhiaskan foto keluarga dan lukisan pantai di kala sore hari. Mereka kemudian duduk bersama di ruang tamu, dan ditemani oleh sang empunya rumah. Mereka berbincang-bincang sembari anak perempuan Syarifuddin menghidangkan teh dan pisang goreng di atas meja.

“Hmmm… kamu datang dari Belanda yah.” Syarifuddin memulai pembicaraan.

“Iya, Pak”

“Apa yang kamu mau ketahui tentang Kerajaan Siang?”

“Begini Pak….eeee….”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….” Anak perempuan Syarifuddin tetiba berteriak saat memasuki dapur. Mereka segera menuju ke sana.

“Kamu kenapa, Nak?” Syarifuddin menghampiri anaknya.

“Ada hantu!” Anak perempuannya terlihat gemetaran dan menutup matanya saking ketakutannya.

Tapi Lucas, Sukri, begitu pun Syarifuddin tidak melihat apapun kecuali perabotan dapur ,beberapa ikat sayur, tiga ekor ikan bandeng mentah yang disimpan di atas piring, dan rempah-rempah.

“Bagaimana wajahnya?” kata Sukri.

Anak Syarifuddin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Panci itu tadi melayang-layang. pasti hantu itu yang melakukannya,” sembari menunjuk panci yang berada di atas kompor.

Kemudian istri Syarifuddin datang, dan menemani anaknya masuk ke kamarnya. Dan segera Syarifuddin membaca ayat kursi dan beberapa mantra kuno yang bahkan Sukri tidak tahu maksudnya apalagi Lucas.

“Dia sedang apa?” Tanya Lucas

“Mengusir hantu.” Sukri memandangi Lucas dan berkata, “Kamu sakit yah?”

Lucas dengan tubuh yang gemetaran, wajah yang pucat, dan berkeringat hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah melakukan ritual pengusiran hantu, Syarifuddin langsung berkata penuh murka di hadapan Sukri dan Lucas. “Aku tidak terima kalau daerah ini diteror oleh hantu!” Kemudian ia menatap Sukri dan berkata, “Sampaikan pada pak lurah bahwa sebentar malam kumpul di rumahku. Biar saya yang kumpulkan semua tokoh adat. Kita akan lakukan ritual pengusiran hantu. Sudah banyak anak-anak yang diteror oleh hantu busuk itu. Ini tak bisa dibiarkan!”

Sukri hanya mengangguk.

***

Langit menghitam, dihiasi dengan pendar gemintang. Siang telah berganti malam. Di kamarnya, Lucas sedang sibuk membuat kalung yang talinya dilingkari susunan bawang putih. Setelah selesai, Lucas mengenakkannya di leher, sembari memegang salib. Raut wajahnya nampak cemas. Sedang tubuhnya disandarkan di pojok dinding. Dia terlihat sangat ketakutan.

Sebenarnya Lucas sangat takut dengan yang namanya hantu. Dia tidak pernah lupa akan trauma masa kecilnya. Suatu ketika, di usia 5 tahun, Lucas mengaku pernah ditakut-takuti oleh hantu. Saat Lucas sedang berak di kamar mandi, ia melihat sabun dan sikat gigi melayang-layang. Sehingga, belum juga ia selesai berak, ia langsung keluar dari kamar mandi menuju kasur, dan membungkus tubuhnya dengan selimut.

Beberapa kali dia memberitahu ibunya, kakaknya dan ayahnya, tapi mereka tidak percaya, bahkan hanya dianggap lelucon. “Mana ada sabun dan sikat gigi melayang –layang.” kata kakaknya. Tapi teman Lucas percaya terhadap ceritanya. Suatu ketika, Lucas menceritakan pengalamannya saat diteror hantu pada seorang temannya. Temannya juga mengatakan bahwa ia pernah mengalaminya. Dia menunjukkan suatu gambar hantu kepada Lucas. Gambar itu adalah drakula. “Sebenarnya Hantu itu adalah ini,” kata temannya sambil menunjuk gambar tersebut. Seketika Lucas ketakutan saat melihatnya, bahkan sempat kencing celana.

Saat ini, dia merasa pergi ke tempat yang salah. Sebab, ternyata tempat yang ia kunjungi di teror oleh hantu. Sementara, kita ketahui bersama, Lucas sangat alergi dengan hantu. Dan aura kamar yang hening, ditambah suara jangkrik yang mengepung telinganya, membuat ia semakin ketakutan. Oleh karena merasa sudah tak tahan, akhirnya ia menelpon Sukri, dan mengundang ke indekos untuk sekadar menemaninya.

“Halo, ini dengan Sukri?”

***

Sukri tertawa terbahak-bahak setelah melihat penampilan Lucas yang menggunakan kalung bawang putih. “Kau tak mengerti, ini juga cara mengusir Hantu,” kata Lucas membela dirinya dari sindiran Sukri.

“Kok peneliti percaya hantu sih.”

“Peneliti juga manusia.”

“Iya, tapi kan, seorang peneliti itu selalu bersikap ilmiah. Hal-hal yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah tak mungkinlah dipercayainya.”

“Jadi kau mau bilang tak usah mempercayai hantu?”

“Kita kan belum membuktikannya secara ilmiah. Kamu ini akademisi atau bukan sih.”

“Persoalannya, sudah banyak yang diteror olehnya.”

“Tapi kan bisa saja mereka hanya terpenjara oleh fantasinya. Sehingga hantu yang sebenarnya ilusi, kemudian dianggap nyata.”

Lucas hanya diam.

“Begini saja,” Sukri melanjutkan pembicaraan, “Kita ke rumahnya Pak Syarifuddin saja. Di sana dilangsungkan ritual pengusiran hantu. Siapa tahu dengan menyaksikannya, kamu menjadi lega, dan akhirnya tercipta sugesti dalam pikiranmu bahwa hantu itu benar-benar telah minggat. Gimana?”

Lucas hanya mengangggukkan kepala.

***

Seperti tadi siang, mereka hanya berjalan kaki menuju rumah Syarifuddin, namun sudah tidak lagi diikuti oleh kawanan bocah yang keheranan dan takjub karena melihat bule. Jalanan yang dilaluinya sangat gelap, karena tak ditunjang oleh lampu jalan. Pun, terlihat sangat sunyi karena semua warga memilih nimbrung di rumahnya masing-masing, apalagi dengan adanya rumor mengenai teror hantu, pastilah di malam hari mereka tidak berani keluar, meskipun hantu ini sangat pandai menyesuaikan diri dengan situasi. Sebab di siang hari, ia juga bisa melakukan teror.

Di tengah-tengah perjalanan, mereka berdua tetiba berhenti. Ada sesosok orang yang sedang berdiri di tengah-tengah jalanan. Oleh karena gelap, mereka tidak bisa mengenali orang itu. Pun, mereka hanya dibekali pencahayaan yang tak cukup terang dari handpone-nya. Maka pastilah tidak bisa digunakan untuk menerangi perihal yang jaraknya cukup jauh.

Maka untuk memastikannya, mereka berdua melanjutkan perjalanan, sembari mendekati orang itu. Dan setibanya di sana, “Ha…ha… hantuuuuuuuuuuuuu…..” Sukri berteriak dan lari terbirit-birit pasca melihat orang itu. Parasnya sangat jelek, seperti wajahnya dipenuhi bisul. Rambutnya panjang menyentuh tanah. Sedang pakaiannya serupa gamis berwarna putih, sangat kotor dan kumuh. Dia sangat menakutkan. Dialah hantu itu. Tapi yang aneh adalah, Justru Lucas tidak lari. Padahal hantu itu sudah jelas ada dihadapannya.

“Kata Sukri ada hantu tapi kok aku tidak melihatnya.” Lucas mengarahkan penglihatannya di setiap penjuru. Tapi tidak melihat apa pun, seperti batu yang melayang, atau ranting pohon yang melayang. Kemudian dia berkata, “Maaf, anda siapa?”

“Akulah hantunya.”

Lucas hanya diam, sambil memandangi hantu itu.

“ Kamu tidak takut yah?” kata hantu itu.

“Hahahaha…jangan bercanda begitu. Nanti hantunya benar-benar datang”

“Akulah hantunya, Bego!”

“ hahahahaha… kau kira saya goblok. Hantu itu pakai jas hitam, wajahnya pucat pasih, dan memiliki dua taring. ”

Hantu itu kebingungan. Dia akhirnya berlalu, meninggalkan Lucas seorang diri.