Arsip Kategori: Esai

Sebuah Esai untuk Hari Pendidikan Nasional

Selamat hari pendidikan nasional bagi guru, ojol, siswa-siswi, penjaga gerbang sekolah, mahasiswa, penjual di kantin, satpam kampus, dosen, dan semua orang yang pernah duduk menjadi seorang pelajar, di sebuah sekolah, di suatu perguruan tinggi.

Pendidikan saya kira adalah mesin transformasi. Suatu waktu, anak seorang petani, berseragam, bersepatu, ia bersekolah dan tidak lama dapat bercita-cita menjadi seorang insinyur tidak seperti pekerjaan orangtuanya. Anak seorang tukang becak pasca menyemat gelar bisa diterima di perusahaan multinasional, dan di tempat lain, membuat seorang anak muda pelosok setelah meninggalkan kerbau dan sawahnya, pergi ke kota dan bersekolah bercita-cita ingin menjadi seorang presiden di negeri yang hampir semuanya adalah laut

Pendidikan memang memberikan peluang-peluang baru, wawasan baru, dan memperkenalkan keterampilan-keterampilan baru yang diciptakan melalui kebudayaan, tapi di saat bersamaan mengubah cara orang berpikir melahirkan kebiasaan baru dengan risiko meninggalkan adat kebiasan lama.

Keluarga petani terancam kehilangan pengetahuan bercocok tanam setelah anaknya pergi bersekolah di kota. Anak seorang ketua adat terancam kehilangan kearifan lokal setelah menerima pendidikan modern. Dan anak pelosok tadi sudah gengsi bertungkuslumus dengan kerbaunya karena lebih memilih pergi dari sawahnya mengejar impian-impian barunya di kota.

Pendidikan bukan sekolah, meski banyak orang kadung mengidentikkan keduanya. Itu ulah birokratisasi, saat masyarakat menyadari pentingnya suatu lembaga publik agar dapat mengerjakan tugas-tugas yang tidak dapat mereka sanggupi di dalam keluarga. Di masa lalu, keluarga merupakan lembaga utama dan tertua untuk membentuk karakter anak-anak sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak lain melanjutkan kerja parenting yang tidak dapat lagi dilakukan oleh para orangtua. Kebiasaan berubah, dari scola matterna menjadi scola in loco parentis. Dari tangan seorang ibu diserahkan kepada guru-guru bijak bestari. Setelah itu, tempat asuh yang makin menjadi sering itu menginisiasi lahirnya lembaga pendidikan yang kelak akan disebut almamater (ibu yang mengasuh).

Dari sini bisa jadi pendidikan itu berkarakter feminin ketimbang maskulin sehingga awalnya bagi anak-anak yang mengenyamnya dapat merasakan kedekatan, kasih sayang, dan merasa diayomi. Bisa jadi dalam buaian feminin pertanyaan akan dibalas jawaban, protes akan dibalas senyuman, dan gugatan akan dibalas gugahan.

Saat ini pendidikan adalah barang istimewa. Tidak semua orang dapat merasakannya. Banyak kritikus menyatakan itu semua karena pendidikan telah menjadi komoditas. Ia menjadi barang dagangan yang mengubah relasi ilmu pengetahuan menjadi relasi transaksional. Mengubah orang-orang di dalamnya seperti sedang beraktivitas di dalam suatu pasar. Meriah tapi tidak sanggup untuk mendapatkan produk yang diharapkan. Terlalu tinggi. Mahal.

Tapi meskipun demikian, ia tetap direspons dengan cara yang hampir sama: upacara. Suatu cara yang ditentukan negara ketimbang lembaga pendidikan itu sendiri. Seolah-olah lembaga-lembaga pendidikan telah kehilangan inisiatif untuk mengisi momen pentingnya sendiri. Barangkali hanya di negara ini hari pendidikan diperingati seolah-olah sedang menghadapi perang dengan cara membentuk barisan, berseragam, dan perlu protokol untuk mengaturnya. Hari pendidikan sebaiknya-baiknya cara untuk menyambutnya, menurut saya, dengan membuka pertemuan-pertemuan akademis, melakukan publikasi karya ilmiah, penganugerahan jasa, mengadakan pameran pendidikan, seminar-seminar sains, atau menggelarnya selama sepekan dalam semangat ilmu pengetahuan. Vibesnya lebih terasa.

Di atas ini beberapa gambar yang saya temukan di salah satu perguruan tinggi yang tidak perlu saya sebutkan namanya, yaitu UNM. Seseorang (atau sekelompok) menuliskannya dengan cukup menyakinkan, dan sepertinya ditulis dalam rangka hari pendidikan nasional—setidaknya begitu yang saya kira. Satu dua gambar di antaranya sudah cukup jelas diperuntukkan untuk merespon isu ketenagakerjaan, yang masih cukup relate dengan hari Buruh Internasional kemarin. Sementara sisanya mengingatkan saya kepada salah satu cerpen Eka Kurniawan, Corat Coret di Toilet. Tapi, ini kamar kencing yang berbeda dari toilet Eka Kurniawan di dalam cerpennya, yang saling sambung komentar antara pengunjungnya sehingga menampilkan suatu percakapan. Tidak ada cermin di toilet ini, yang dapat menjadi metafor tentang pentingnya refleksi bagi wacana kritis. Dan juga tiada tulisan dari gincu merah menandai kata-kata elite yang lebih sering menjadi pemanis bibir.

Meski demikian ini menjadi satu sinyalemen bahwa aspirasi dari bawah masih hidup dari ceruk-ceruk perguruan tinggi, meski dari pandangan elite tindakan semacam ini bisa dinyatakan sebagai vandalisme ketimbang pemberontakan yang ditengarai kelompok perlawanan bersenjata. Ini mungkin juga tanda-tanda saluran aspirasi sedang mampet dan perlu perbaikan, atau simbol kegagalan elite pelajar yang sedang mengalami disorientasi apalagi frustasi ketika menjabarkan dengan cukup visioner bagaimana peran publik mereka ketika diperhadapkan dengan masalah-masalah yang lebih luas dari sekadar masalah lokal dan terbatas di kampus mereka, sehingga lebih memilih menyampaikannya dengan cara terbatas dan terisolir.

Atau ini sekaligus sebagai tanda kehancuran epistemik di sebagian besar kubu pelajar yang tidak sanggup menjangkau pemikiran yang lebih panjang dan ilmiah, sehingga tidak sanggup dituangkan kedalam karya-karya publikasi yang lebih argumentatif dan komunikatif. Itu menjadi satu soal internal yang mesti dipecahkan dikarenakan masalah selama ini hanya dapat tuangkan ke dalam idiom jargonistik ketimbang pikiran-pikiran yang terlatih.

Tapi, menurut saya tindakan semacam ini tidak usah direspons secara berlebihan apalagi mendatangkan satuan keamanan untuk memberikan pelajaran kepada entah siapa yang melakukannya. Ini bisa dianggap sebagai gaya curhat sekelompok mahasiswa yang tidak dibekali rasa percaya diri tapi berani diam-diam menulisnya seperti seseorang yang sedang jatuh cinta. Ia malu bertemu langsung dengan perempuan idamannya sehingga memerlukan medium tidak langsung demi mengatakan uneg-uneg perasaannya.

Syahdan, begitulah makna edukasi (ed: keluar, care: menarik). Yakni sudah merupakan fitrahnya pendidikan itu “menarik keluar” apa saja yang ada di dalam pikiran pelajar untuk dibicarakan bersama, ketimbang seperti anggapan sebagian pendidik selama ini yaitu terdorong memasukkan sesuatu ke dalam benak anak-anak asuhnya untuk mengharapkan kesepakatan. Itu.

Tulisan ini pertama kali terbit 2 Mei 2023 diterbitkan ulang demi pendidikan

Bergelung Marlena dan Puisi Lainnya

TAK ADA YANG ABADI

Tak ada yang abadi di sini Ziecho

Lautan darah bersimbah berlutut pada maut

Tuhan tak pernah berbaik hati pada leluhur yang telanjang

Ia tuan berani disembah

Disetiap bayangan berkunjung

Sejatinya semua ini fana Ziecho

Lorong-lorong, rumah, kenyataan tak ada di sini

Azroil adalah wahyu dikirim Jibril

Tempat di mana orang-orang mengejar ruh dan kepala

Jatuh, remuk, hancur, lebur akhirnya

Hanya abu dan ke abu-abuan yang tunggal

Rumah terakhir Ziecho

Engkau hendak ke mana, dan kau tahu

Peradaban saat ini, pernyataan dan kenyataan setipis kapas

Untuk kau bedakan perlu hidup abadi

Yogyakarta, 2024.

***

BERGELUNG MARLENA

Marlena…

Kudengar tentangmu

Dari penyair di seluruh penjuru kota

Membaca romantikamu

Berdecak kagum menembus relung jiwa

Marlena…

Engkau selalu dirundung pekat

Yang dititipkan malam dalam rupa malaikat

Kelembutanmu bagai rajutan sutra

Yang dianyam bersama balutan baja

Marlena…

Semoga romantikamu bukan sandiwara

Sebagai lelaki Madura

Bisakah kau menjadi Ibu bagi jantung kota

Menjelma tanda

Serupa jiwa sakera

Yang tak gentar pada peradaban ganda

Marlena…

Biarkan kupersembahkan gelung dari anyaman batu

Supaya celurit dan keris tahu

Kau benar-benar terlahir dari rahim Madura

Wanita dengan taring baja

Dengan kibasan sarung

Dan lilitan kain di kepala

Serupa mahkota

Memukau seantero cakrawala

Tidakkah kau lupa saat kita bertegur sapa

Kau lantang berkata: “lebih baik bersimpah darah, dari pada terbuang rupa”

Yogyakarta, 2024.

***

SAJAK UNTUKMU

I/

Aku bungkam

Ketika kilau bintang gemintang

Berhamburan jadi pelengkap langit malam

Bagi pemimpi di ujung harapnya

II/

Aku bungkam

Bila malam menjelma kumbang

Di antara celah-celah ilalang

Yang dibalut tembok pengahalang

III/

Aku bungkam

Ketika purnama masih kelabu

Dengan elegi tawa yang menyesakkan

Di sudut jalan sana

Aku berusaha mengutarakan rindu

Tanpa seorang pun yang tahu

Mungkin

Tak ada salahnya, jika kau dengarkan

Sejenak tentang seorang penyair

Kala mendefinisikan hatinya dalam puisi

Akan aksara cinta yang diabadikan

Yogyakarta, 2024.

***

PERGI

Hanya sekuntum bunga melati yang bisaku bawa

Bersama langkah berat merelakan keindahan

Pada genagan air di matamu

Dengan lentik hitam pekat

Menatap hari esok yang begitu tak terduga

Berubah atau masih sama

Seyum atau malah tangis

Sebatas luka atau sampai darah

Yogyakarta, 2024.

***

YA

Jika suaramu adalah denyut

Maka degupku adalah kamu

Aku bersyukur melihat rangkuman bulu matamu

Berhasil ku raih hadiah paling berharga

Mantra sutarji kurapal

Memutus langkah dengan sapa

Mimpi pura- pura berpaling

Padahal kebahagiaan senatiasa sempurna

Dari jauh tatapan buncah menugaskan

Senyum untuk tidak berpaling

Tiba- tiba aroma kasih menyemerbak kemungkinan

Bahwa langit dan laut berbeda jauh

Kekasih

Penyair pernah memanjat do’ a

“Tuhan bila mencintainya adalah sebuah dosa

Maka sediakan tempat bagiku di neraka”*

Dalam hati aku tidak pernah mengimpikan

Teluk surga.

Bahkan aku ingin menyambung rindu

Pada sunyi sumudara.

Yogyakarta, 2024.

*Wira Negara : Destilasi Alkena

Mbah Benu dan Kisah Nabi Musa

Tidak usah Anda tertawakan seorang kyai yang berlebaran pasca “menelepon” Tuhan, dan setelah itu Anda jumawa melihat keyakinan Anda merupakan doktrin yang paling benar. Sifat seperti itu akan merusak kepribadian Anda. Anda jangan lupa, si Iblis akhirnya menanggung kutukan seumur hidupnya hanya karena suatu waktu nyinyir kepada Adam.

Ini masih kalah banding dengan beberapa orang di masa lalu yang sangat antusias menjadi nabi atau anak tuhan pasca bertemu Jibril di suatu tempat. Atau pengakuan si pemikir pembunuh tuhan yang menyatakan dunia sudah tidak bisa diselamatkan lagi kecuali dengan membunuhnya. Apalagi dibanding pengakuan Firaun berabad-abad lalu sebagai tuhan, Mbah Benu pimpinan jemaah Aolia Giriharjo tidak ada apa-apanya.

Jadi biasa saja. Anda perlu juga ingat kembali agama punya banyak fasilitas untuk beragam pengalaman seorang manusia. Apalagi Tuhan yang —saya kira Anda tahu— memiliki 1001 cara untuk berhubungan dengan ciptaannya. Saat ini masa penghabisan ramadan, yang seharusnya membuat diri kita makin “selow” melihat beragam ekspresi keagamaan. Toh, cerita seperti Mbah Benu sudah sering kita dengarkan.

Saya nyaris juga mengutuk kyai si penelepon tuhan, meski hanya melihatnya saat diwawancarai salah satu stasiun Tv. Dari keperawakannya yang sudah uzur menandai panjangnya usia yang ia pakai untuk mencari kebijaksanaan melalui agamanya. Tapi, kesadaran kerap datang terlambat, dan mulai menyadari apa hak kita sesungguhnya untuk menjastifikasi keputusan yang telah diambilnya. Seorang kyai dengan ratusan jemaah, saya kira bukan pemuka agama biasa.

Di negeri ini tidak gampang mengumpulkan orang dalam jangka waktu lama untuk menuntut kesetiaan mereka. Mengemongnya, mendidik, dan memberikan bimbingan agama bagi sekelompok warga yang kelak menjadi jemaah. Sebuah kekuatan religius yang bukan main. Kecuali dalam politik, agama salah satu perangkat kesetiaan yang tidak dengan mudah dapat dijelaskan seperti yang kita lihat melalui tayangan media massa.

Sebagai sebuah fenomena, Mbah Benu adalah sebuah fenomenologi agama, yakni ekspresi yang perlu dipahami dari konteksnya sendiri. Meski seringkali setiap penilaian atas sesuatu telah dibingkai oleh prasangka, kepercayaan, atau nilai tertentu, sebuah pendekatan untuk melihat melalui kacamata si pelaku perlu untuk diperhatikan. Dunia ini tidak hanya bisa dilihat dari sepasang mata belaka, melainkan membutuhkan kehadiran orang lain agar dunia ini tidak berlari hanya seperti yang kita inginkan.

Istilah menelepon tuhan yang dikatakan Mbah Benu menurut saya hanya persoalan semantik belaka. Setidaknya dari sisi kegunaan, ”menelepon tuhan” hanya kiasan untuk melambangkan model hubungan antara hamba dan Tuhannya belaka. Suatu diksi yang sama persis dengan kemajuan zaman kiwari di mana banyak orang mulai diresahkan dengan manfaat benda canggih bernama smartphone itu.

Tapi, apakah betul tuhan memiliki nomor khusus sehingga setiap orang dapat menghubunginya jika dalam keadaan kepepet? Sudah pasti tidak. Tuhan bukan bagian dari sistem teknologi informasi dan komunikasi canggih, yang dibekali kecerdasan atau intelegensi tiada tara melebihi kapasitas berpikir manusia. Sebaliknya, semua kecanggihan sistem informasi itu telah menjadi tuhan abad 21, yang merebut hati manusia dan kesetiaannya.

Bukan tidak mungkin selama ini kepercayaan manusia lebih percaya dengan beragam informasi yang tersedia di dalam dunia maya. Segala yang Anda inginkan dapat dengan mudah diakses. Informasi yang telah lama tersimpan ditimpa beragam informasi terbaru dapat Anda panggil dengan mengetikkan kata-kata kuncinya. Jangankan informasi dari masa lalu, peristiwa yang bakal terjadi di masa depan dapat dengan mudah disusun berdasarkan algoritma super ketat. Sensasi pengalaman semacam itu tidak pernah dialami sebelumnya, sekalipun seringkali dinyatakan melalui doktrin agama seluruh kejadian kehidupan ini telah tersimpan di kitab kejadian bernama Lauhul Mahfudz.

Era kiwari pengalaman interaksi manusia lebih mudah dialami via dunia maya. Hampir semua dilakukan saat ini mesti dikoneksikan ke dalamnya. Sudah menjadi agama. Kebiasaan yang sukar ditinggalkan. Saking sukarnya, pengaruh internet sampai menancapkan tiang-tiang signalnya sampai di jiwa manusia. Mengubah orientasi spiritual manusia dan pengalaman kebatinan tentang agama yang semula rahasia dan tersembunyi terekspose sedemikian rupa bagai sejumlah tayangan iklan. Banal dan narsistik.

Alkisah seorang pengikut Nabi Musa ditemukan sedang menyeru tuhannya. Dalam rintihannya ia ingin menyisir rambut tuhan, mengikat tali sepatunya, dan memberikan pengkidmatan terbaik kepada tuhannya. Jika perlu ia ingin melayani tuhannya seperti seorang raja. Mendengar permintaan umatnya itu, Musa marah. Tuhan bukan zat yang pantas diserupakan dengan makhluknya. Ia tidak layak disisir karena tidak berkepala, apalagi bersepatu. Kemudian muncul suara bergema mengisi seantero langit. Tuhan kecewa dengan Musa setelah nabinya itu ditegur. Sesungguhnya Tuhan senang dengan keintiman umatnya itu. “Aku tidak melihat kata-kata, tapi isi hati hambaku,” begitu kira-kira yang disampaikan Tuhan kepada Nabi Musa.

Di kisah itu Nabi Musa diminta mencari umatnya untuk menyatakan maaf. Tapi sayang setelah berkelana mencarinya Musa tidak menemukannya.

Galibnya kisah-kisah berbau tasawuf, narasi tentang umat nabi Musa ini perlu diintrepetasikan dengan bijak. Begitu pula apa yang dilakukan Mbah Benu kurang lebih mengindikasikan pendekatan keagamaan lain di luar dari tinjuan ilmu fiqih. Dari sisi ini, tidak semua orang dapat memahami jalan pikiran Mbah Benu sehingga karena itu tidak layak untuk menghakiminya secara berlebihan.

Sekelumit Gagasan tentang Keabadian

Selama ini saya mengira saya abadi. Atau setidaknya dapat hidup tidak berubah meski waktu bergerak-gerak sampai kesini.

Sudah sejak lama saya menyadari tubuh saya berhenti menjadi lebih tinggi, sama halnya seperti raut muka saya yang tidak menunjukkan indikasi perubahan. Wajah saya seperti berjalan di tempat persis seperti lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lalu. Saya seperi sosok highlander, mitologi manusia abadi yang berasal dari ketinggian gunung-gunung di Scotlandia. Tidak akan mati sebelum kepalanya dipenggal. Saya seperti seseorang yang hidup di dalam zaman yang berhenti bergerak saat setiap orang yang saya kenal berubah setiap waktu. Saya tidak mengalami banyak perubahan setelah itu. Itu ciri-ciri keabadian menurutku.

Ada suatu masa karena itu saya ingin menjadi begini-begini saja, yang saat itu berarti hidup menyerupai anak-anak yang melihat kehidupannya dengan cara begini-begini saja pula. Bebas, tanpa beban, dan terutama tidak ada tanggung jawab yang perlu dipikul.

Saya rasa kehidupan seperti dalam cerita Peter Pan di saat ini bukan hanya terjadi dalam dunia fiksi saja.

Di beberapa negara, terutama Jepang kecenderungan sebagian orang memilih model kehidupannya menjadi lebih mudah setelah ia memilih usia yang diinginkan. Selama ini kebebasan yang dimiliki manusia hanya bisa mendorongnya memilih jenis kelamin yang ia harapkan, atau sama sekali tidak memilih satu kepercayaan agama yang terlanjur dipilih banyak orang. Anda jika ingin menjadi seperti seorang anak berusia 14 tahun maka pilihlah itu sebagai usia Anda saat ini. Itulah trans-age, fenomena memilih usia berdasarkan keadaan mental seseorang.

Di Jepang, pria bernama Jackie memilih hidup berdasarkan usia yang ia pilih karena menolak usianya yang telah 39 tahun. Ia selalu menyatakan kepada siapa saja kalau usianya masih 28 tahun dikarenakan menginginkan kebebasan dan keceriaan anak muda yang sudah mulai jarang dialami orang-orang yang memasuki usia kepala empat.

Sama seperti Jackie, saya selama ini menginginkan usia saya berhenti di 24. Karena itu bukan hal yang aneh jika setiap orang memiliki keinginan untuk kehidupan yang lebih lama melebihi seperti kehidupan sekarang.

Tapi, gagasan itu kemudian mulai berubah. Di kepala, saya menemukan beberapa helai rambut memutih. Itu artinya, setiap orang bakal menghadapi usia yang makin panjang, setelah ia disadarkan dari tanda-tanda perubahan seperti yang saya alami beberapa waktu lalu pasca berulang tahun.

Keabadian merupakan gagasan yang telah berumur panjang. Bahkan ia merupakan obsesi yang sampai saat ini berusaha dipecahkan melalui berbagai cara, termasuk sains.

Sejak era Yunani antik di masa Plato, gagasan keabadian dinyatakan melalui keazalian jiwa yang mendiami suatu tatanan metafisis tempat ide-ide universal berada. Semua orang saat itu memiliki sejumlah pengetahuan yang tidak terbatas dikarenakan langsung dapat mengakses ide-ide keabadian yang tidak berubah, pasti, dan menyeluruh. Di kondisi ini, bahkan konsep waktu dan tempat tidak relevan sehingga memungkinkan setiap apa yang ada dapat aktual tanpa melalui suatu proses spasial dan waktu.

Saat ini, sains berusaha merealisasi ide-ide semacam itu, dan ini bukan suatu hal yang mustahil. Setidaknya tampak dari upaya industri kecantikan yang menjual gagasan mengenai konsep awet muda melalui beragam produk dan treatment agar banyak orang kembali seperti kehidupannya 15 tahun lalu.

Melalui pendekatan yang lebih canggih, tekhnik pembekuan sel-sel dari diri seseorang agar ia bisa dibangkitkan di masa depan sudah makin populer, terutama di beberapa tempat negara barat.  Pembekuan otak menggunakan nitrogen cair merupakan tekhnik medis saat ini yang bisa memberikan harapan bagi orang yang percaya bahwa di masa depan ia bisa hidup kembali meski telah berganti tubuh.

Keyakinan semacam ini tidak ada salahnya dikarenakan obsesi hidup kekal sudah merupakan keinginan yang tertanam di setiap jiwa manusia. Cara-cara seperti ini bukan sesuatu yang baru dikarenakan di masa lalu, bahkan seorang raja seperti Firaun telah menggunakan tekhnik pembalseman untuk mempertahankan dirinya agar terus dapat awet, sementara jiwanya melanjutkan perjalanan ke alam baka tanpa perlu khawatir kehabisan harta.

Terkait harta, banyak orang kaya memiliki gagasan kebadian dengan cara membeli segala hal yang dapat ia beli. Selama ia memiliki banyak uang, keabadian dapat ia miliki dengan memperbanyak koleksi mobil mewah, perhiasan, tas mahal, atau bahkan mengoleksi jam tangan branded seakan-akan setiap jarum jam yang berputar di dalamnya akan menambah waktu menjadi dua kali lipat lebih lama. Tapi memang, jiwa yang telah tenggelam di dalam keberlimpahan materi sering menganggap semua yang ia miliki bakal bertahan selamanya.

Mungkin karena itu konsep keabadian tidak selamanya pantas untuk kehidupan manapun. Terutama jika gagasan itu berkaitan dengan keberadaan sesuatu di dalam ruang dan waktu. Bahkan ketika Anda memiliki kekuasaan, yang kerap membuat sifat seseorang cepat berubah menjadi seratus delapan puluh derajat sehingga menghendaki agar ia menjadi pemimpin selamanya.

Tidak bisa dibayangkan jika di masa sekarang semua orang dapat hidup lebih lama dan tidak sekalipun ajal menghampirinya. Membuat kekayaannya abadi, jabatannya abadi, dan semuanya serba bertahan lama. Itu artinya di sisi lain ada kemiskinan yang abadi, bawahan yang abadi, serta struktur yang tidak bisa berubah pun selama-lamanya. Sudah pasti dengan semua keabadian itu akan mempertahankan ketidakadilan, ketimpangan, dan penindasan selama manusia bisa membayangkannya. Imbasnya, kehidupan ini akan terjerumus di dalam nihilisme, kepadatan, mengalami krisis multidimensi, dan kebosanan mulai melanda yang akan mendorong satu dua orang akan berani memikirkan ide tentang bagaimana caranya mengakhiri hidupnya.

Itulah sebabnya, kehidupan abadi di satu sisi adalah kutukan, sama seperti si Iblis atau Sisipus yang dikutuk Dewa Zeus untuk hidup selamanya hanya demi melakukan hukuman tanpa henti sampai ia sendiri kehilangan kepercayaan atas nilai-nilai. Kutukan Sisipus mesti mengangkat batu di pagi hari sampai ia melihatnya jatuh dari atas bukit setelah malam tiba. Begitu seterusnya yang ia lakukan seumur hidup, selama-lamanya.

Saat ini, menurut saya, meski tidak hidup abadi, hampir semua orang hidup dengan kutukannya sendiri-sendiri. Ada yang mesti menanggung hidup melarat pasca habis-habisan di atas meja judi, mengalami nasib sial berupa perceraian setelah melanggar perjanjian pernikahan, atau bernasib malang setelah biaya hidup berubah drastis akibat kesalahan kebijakan ekonomi-politik. Ya, yang namanya kutukan merupakan nasib buruk, kemalangan, dan nahas imbas dari kesalahan melakukan sesuatu, seperti misal menyerahkan semua urusan hidup kita kepada sistem atau orang yang salah.  

Di Fort Rotterdam, Malik Mengisahkan ‘Kelapa Sawit Membunuh Manusia’

“Sawit itu seperti militer: bercak hitam dan hijau. Itu membunuh orang…” — Sophie Chao.

SUATU siang, di sela-sela Saya tunai satu hajat, datang sebuah pesan WhatsApp dari Malik Rumakat. “Kak, Icak! Sehari dua katong bacarita sagu di Fort Rotterdam Makassar.” Malik juga memberitahu, kalau ia tak sendiri, bakal hadir juga Kasim Rumain. Dua utusan Wanu Sinema, pada lokakarya Bacarita Digital Volume Dua “Kekayaan Pangan Nusantara”  yang dihelat Rumata’ Artspace dan Kemendikbudristek, di penghujung Februari, bulan kemarin.

Saya sambut private chat itu dengan dua perasaan, senang dan cemas. Perasaan senang karena tak lama lagi dikunjungi saudara sepersusuan, sedangkan perasaan cemas gara-gara khawatir adik saya terseok-seok menempuh perjalanan sejauh 1212 kilometer, 751 mil. Malik memulai titik berangkat dari Kian Darat-Seram Timur, menuju Bula kota Kabupaten Seram Bagian Timur (jarak tempuh 95,2 kilometer atau perjalan darat selama 2 jam 22 menit). Selanjutnya dari Bula ke Ambon kota Provinsi Maluku (jarak tempuh 304 kilometer atau perjalan darat selama 24 jam), dan perjalanan berakhir di Kota Makassar (penerbangan nonstop selama 1 jam, 40 menit).

Tatkala tiba di Fort Rotterdam, atau saat dihimpit puluhan manusia, Malik menyadari satu hal—kemudian ditengkan kepada Saya, selagi kami ‘ngopi proletar’ di kontrakan Antang (satu hari setelah kegiatan Bacarita). “Ini semua berkat sagu, meski kadang Beta remehkan di meja makan.” Malik tak membayangkan sebelumnya, sagu yang ia anggap enteng di tiap ‘gelar tikar’, yang bakal membawa dirinya berlayar sejauh 1.212 kilometer 751 mil dari pelosok Seram Timur, bertemu dan bercakap dengan segenap orang di kota.  

Hari itu, di benteng yang menjadi penanda kota Makassar, perempuan-lelaki, tua-muda merangsek dari satu stand ke stand pameran lain, kemudian mereka bergumul di meja jamuan, yang jaga Malik dan Kasim. Sebuah kenap beralas daun pisang, di sana tergolek olahan pangan sagu (sagu bambu dan sagu tumbu), ikan Julung, dan kenari asap. Saya di sana, menyaksikan hilir-mudik puluhan manusia yang tumpang tindih di meja jamuan itu. Seakan-akan Saya diperhadapkan dengan ‘The Last Supper’, lukisan perjamuan terakhir karya Leonardo Da Vinci. Sementara Malik atau Kasim, mereka sontak kaget, lantaran orang-orang kota ini memamah habis sagu dan ikan Julung yang tersaji.

Sialnya, mereka tak cuma mencicipi, orang kota ini, begitu liar mengulik rupa cerita kreativitas meramu—cerita-cerita yang selama ini cuma dijumpai di dapur-dapur pelosok atau menjadi otoritas perempuan. Malik, laiknya rohaniwan yang mengisah ‘Lima Roti dan Dua Ikan’ kepada murid-murid Sekolah Minggu—tapi dirawikan Malik, melampaui yang dicatat Alkitab, yakni ‘Dua Puluh Roti (Sagu) dan Lima Ikan (Julung)’.

Menariknya, Malik bergerak membawa mereka melampaui cerita ‘bagaimana sagu diramu’, menuju cerita ‘kepunahan sagu’ yang menunggu waktu saja. Hemat Malik, kisah nahas sagu ini (atau pangan yang lain), perlu diketahui orang kota. Sebab mereka tak punya tradisi menanam, kecuali tradisi membelanjakan pangan yang datang dari kampung, yang kata Malik, pangan-pangan itu tengah dibinasa oleh ‘orang kota’ sendiri. Melalui perkebunan raksasa.

Mula-mula Malik mendaku, “Sagu bisa disimpan selama satu tahun, atau lebih lama dari waktu itu lagi, tanpa formalin.” Orang-orang kota ini tampak tercengang, saat Malik mendegus keunggulan sagu. “Andaikata benar ramalan 11 miliar jiwa dilanda kelaparan di hari mendatang, setidaknya usia sagu yang panjang itu, sanggup mengatasi musibah tersebut.”

Mungkin sebagian besar orang tak percaya. Tetapi satu fakta yang dikemukanan Malik, Saya kira tak bisa disangkal. Di hadapan puluhan orang yang khidmat memasang kuping itu, Malik berkata. “Sekarang, di museum  Kew Royal Botanic Gardens, di London, Inggris. Tersimpan tiga lempeng sagu dalam kondisi utuh (mungkin masih layak dikonsumsi), meskipun sagu itu sudah berusia 164 tahun. Sagu berumur satu abad lebih itu, dibawa Alfred Russel Wallace ahli botani Inggris dari Waras-waras Seram Timur, pada 1 Juni 1860.”

Gagasan yang kemudian dibangun Malik, kalau sagu yang tersimpan di Kew Gardens, yang berumur satu abad lebih itu, adalah suatu simulasi ketahanan pangan. Dan boleh jadi, itu jawaban pasti yang diberi pangan sagu, dalam mengatasi rasa cemas miliar manusia yang diprediksi akan kesulitan mengakses makanan di masa mendatang.

Baru-baru ini PBB memproyeksikan populasi dunia pada 2050 akan mencapai 9,7 miliar, dan pada 2100 mencapai 11 miliar orang. Ledakan populasi manusia ini, tentu terjadi peningkatan akan kebutuhan asupan makanan. Itulah mengapa FAO, organiasi pangan dunia menaksirkan, produksi pertanian global pada 2050 harus 60% lebih tinggi dibandingkan produksi tahun 2005-2007 jika dunia ingin memenuhi kebutuhan pangannya. Dua informasi penting ini, lekas-lekas disanggah Malik, “Asalkan sumber pangan jangan dirusak!” kemudian Malik menohok, “Faktanya, kini hutan sagu pelan-pelan dibinaskan!”

Apa buktinya? Laporan Statistik Produksi Kehutanan 2020. Volume produksi sagu kuartal I 2023 mencapai 2,37 ribu ton. Angkanya meningkat tipis pada kuartal II 2,38 ribu, kemudian meningkat lagi pada kuartal III mencapai 2,41 ribu ton. Memasuki kuartal IV produksi sagu turun drastis menjadi 1,76 ribu ton. Apa pasalnya? Berbagai studi menyimpulkan kalau penurunan volume produksi sagu ini, dilatari oleh populasi pohon sagu yang menurun tajam sebagai akibat dari massifnya konversi hutan sagu menjadi lahan-lahan sawit.

Kelapa sawit membunuh manusia

Secara rata-rata nasional, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia tumbuh 53,09% dalam kurun waktu 2011-2020. Luas lahan tertinggi dicapai pada 2020, yakni sebesar 14.586.599 Juta hektare. Di Maluku dan Papua, luas area sawit sebesar 179.314 hektare. Kenaikan lebih dari dua kali lipat ini berawal dari area sawit seluas 59.077 hektare di 2011, menjadi 238.391 hektare pada 2020 (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, 2023). 

Di Maluku dan Papua, sebaran area sawit sebesar 179.314 hektare, tentu mengancam ekosistem hutan sagu. Maluku, semisalnya, ‘dusun-dusun’ sagu terus dibabat, dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, populasi tanaman sagu anjlok dari sekitar 100.000 hektare pada era 1960-1970 menjadi 58.000 hektare pada 2016. (Kompas, 2017). Sementara pada 2022, turun menjadi 30-an ribu hektare. Di Papua, semisal di Salawati Daratan Kabupaten Sorong, PT Inti Kebun Lestari mendapat izin konsesi seluas 28.256 hektare. Dari luas lahan kelapa sawit tersebut, sekitar 1.700 hektare merupakan hutan sagu milik empat marga: Mili, Malakabu, Fes, dan Libra ( EcoNusa,  2022).

Masifnya konversi hutan sagu jadi lahan sawit, membikin kerusakan lingkungan tak sedikit. Dampak paling mencolok dari aktivitas ini, yakni deforestasi dan kerusakan habitat. Kita tahu, penebangan hutan sebesar-besarnya (termasuk sagu), sama artinya, pengrusakan terhadap ‘rumah’ berbagai spesies tanaman dan hewan. Itulah mengapa banyak spesies hewan (juga sagu) terancam punah karena perubahan drastis pada hunian mereka. Imbas lain ketika perkebunan sawit berlangsung, yaitu pencemaran tanah dan air, hasil dari penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya. Efek jangka panjangnya; manusia, hewan, dan tumbuhan begitu sulit mengakses air yang layak—syarat tumbuh kembangnya.

Kehadiran perkebunan sawit di Papua, menyebabkan tingkat kerawanan pangan, malnutrisi, dan stunting yang sangat tinggi—padahal semula Papua adalah lumbung pangan sagu nomor kedua di Indonesia (Data pertanian 2021, Papua memproduksi sekitar 69.421 ton sagu). Masyarakat tradisional Papua mengandalkan hutan dan sungai sebagai persediaan makanan melalui perburuan, penangkapan ikan, serta pemanenan sagu dan umbi-umbian. Tetapi, geliatnya konversi hutan sagu jadi lahan sawit, disusul pencemaran air oleh pestisida, membikin masyarakat Papua terbengkalai mengakses kebutuhan primer mereka, yakni makanan dan air bersih.

Sophie Chao, Indonesianis dari University of Sydney, Australia. Saat meneliti suku Marind di Merauke selama 18 bulan, Chao melihat orang Papua punya hubungan khusus dengan dengan tanah dan hutan. Menurut Chao, dalam kosmologi Marind, tumbuhan dan hewan seperti kerabat. Masyarakat memandang tanaman baru semacam sawit seperti penjajah karena mengambil alih tanah dan semua sumber daya mereka. Hasil penelitian Chao ini kemudian terdokumentasi dalam buku In the Shadow of the Palms: More-Than-Human Becomings in West Papua yang terbit pada 2022.

Chao berkesimpulan dalam In the Shadow of the Palm: Dispersed Ontologies Among Marind, West Papua (2018), kira-kira begini: ‘kelapa sawit membunuh sagu’. Atau lebih tepatnya, ‘kelapa sawit membunuh manusia’. Musababnya, suku Marind menganggap hutan, pohon dan binatang sebagai kerabat mereka sendiri. Atau bagian dari manusia. Itulah mengapa ketika hutan sagu dibinasakan, sama artinya membinasakan manusia Marind. Chao dengan puisitis melukis, “Pohon sawit adalah ‘pohon tentara’. Soalnya, sawit itu seperti militer: bercak hitam dan hijau. Itu membunuh orang. Ini sangat kuat. Itu orang Indonesia, bukan orang Papua. Itu memakan kita. Duri Sawit, tajam seperti bilah bayonet. Buahnya keras dan bulat seperti peluru. Merah, seperti darah.” 

Dampak besar lainya dibikin pohon sawit, kataChao, terjadi konflik horizontal dan vertikal. konfliknya bukan hanya antara masyarakat, dengan pemerintah, atau perusahaan. Tetapi konflik melibatkan satu masyarakat, dengan masyarakat lain. Berupa konfilik tanah, kompensasi, partisipasi, dan pembagian keuntungan ketika proyek perkebunan ini tiba.

***

Malik benar, jika  kita terus-menerus menuruti keinginan pasar yang tak terbatas di dunia yang terbatas ini, maka kita akan menghadapi kehancuran lingkungan yang tak terperi. Dan kehancuran itu datang lebih cepat, daripada yang diduga. Dengan begitu, hemat Malik, prospek ketahanan pangan untuk miliaran manusia (termasuk anak-cucu kita) di masa depan merupakan sebuah khayalan.

Studi-studi yang datang belakangan, memberi kita ketidakpastian tentang dua hal yang sangat vital pada pertanian hari depan, yakni stagnasi lahan garapan, dan kelangkaan air. Perkebunan sawit, kata Malik, salah satu aktor yang merusak dua unsur penting pertanian berkelanjutan itu. Meminjam bahasa Chao, kelapa sawit membunuh sagu, yang pada gilirannya, kelapa sawit membunuh manusia.

Kiranya kita perlu revisi pandangan ‘manusia adalah pusat segalanya’. Padahal kata Malik, alam-lah yang mengatur manusia. Semisal air. Air yang mengatur manusia untuk pertanian. Ketika tidak ada air, maka tidak ada aktivitas ekonomi. Artinya mata pencaharian terhambat, dan selanjutnya manusia sulit mengakses segala kebutuhannya.

Syahdan. Satu hari di penghujung Februari bulan kemarin, Malik Rumakat terseok-seok menempuh perjalanan sejauh 1212 kilometer, 751 mil, tiba Fort Rotterdam. Di hadapan puluhan orang yang khidmat memasang kuping. Malik, seperti Chao, mengisah kelapa sawit membunuh sagu, pada gilirannya, sawit membunuh manusia.