Arsip Kategori: Esai

Bersahabat dengan Mycobacterium Tuberculosis

Pernah baca buku kedokteran? Kalau belum, luangkan waktumu. Banyak hal menarik di dalam sana. Di sana diceritakan bagaimana jantungmu bekerja memompa darah ke seluruh tubuh. Ada juga cerita bagaimana kamu bisa lari dengan kerja sistem otot. Bahkan, paru-parumu yang kembang kempis itu diceritakan dengan lugas.

Iya, organ itu di dadamu. Kiri dan kanan menggelantung di depanmu. Di dalam kulitmu, dilindungi ruas-ruas tulang iga. Tempelkan daun telingamu, kamu bisa mendengar suaranya. Seperti ada angin yang asik hilir mudik di dalam sana.

Jika ditanya berapa kali menarik nafas dalam semenit, mungkin kita akan terbata-bata, tidak sadar punya paru-paru. Sepertinya 18 kali, mungkin 20 kali. Agar lebih akurat bisa juga segera melihat jam tangan untuk segera menghitung hilir mudik angin dalam semenit. Sadar sedang tarik-tarik nafas sekaligus sadar kalau ternyata ada paru-paru. Ternyata kamu hidup dan proses hidup membutuhkan paru-paru yang kembang kempis.

***

Pernah saat penulis berada di sebuah layanan pusat kesehatan masyarakat terpampang secarik kertas. Ukurannya besar seperti melotot dengan warna mencolok. Awas kuman TB! Gunakan pelindung diri berupa masker. Itu tulisannya lalu ada gambar organ paru-paru.

Dalam berbagai jurnal medis, TB lazim dikenal dengan tuberculosis. Penyakit yang menyerang paru-paru disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Ukurannya mini sampai butuh sebuah mikroskop untuk melihatnya. Coba tanya kepada pakar tentang makhluk kecil ini jikalau tertarik.

Intinya begitu, ada makhluk yang lebih kecil dibandingkan manusia. Spesies yang tidak akan kau tahu atas izin siapa menetap di paru-parumu. Entahlah mungkin sel paru-parumu jatuh cinta atau saling membenci dengan bakteri ini. Celakanya, ia bertahan di dalam sana. Bereproduksi, iya beranak cucu, sampai banyak.

Kau akan sesak, tetapi itu bukan kau. Itu reaksi protes tubuhmu. Oksigen tidak sampai ke mereka. Ibarat perang, para mycrobacterium itu telah mendominasi kekuasaan paru-paru sebagai pemilik tunggal oksigen. Sisa dari perebutan itu kau akan batuk mengeluarkan darah.

***

Mungkin, kita akan menyimpan cerita tentang manusia yang ditulis oleh penulis buku kedokteran. Detail, sampai-sampai urat di ujung jari itu bernama. Bukan hanya itu, narasi fungsi normal tubuh diceritakan di sana. Perjalanan bagaimana terpajang penyakit sekaligus mengobati juga ada. Akan tetapi, di sana, di dalam buku-buku medis itu jangan harapkan kehadiran kemanusiaan.

“Kalau bisa, pulanglah engkau ke Blora untuk dua atau empat hari. Ayahmu sakit. Tadinya malaria dan batuk. Kemudian ditambah dengan ambeien. Akhirnya ketahuan kena tbc. Ayahmu ada di rumahsakit sekarang, dan telah empat kali memuntahkan darah.”

Kalimat di atas cerita dari sepucuk surat. Dalam Roman karya Pramoedya Anantar Toer judulnya Bukan Pasar Malam. Cerita kemanusiaan tentang perjumpaan kembali seorang anak dan ayahnya yang terkena sakit TB.

Keadaan kabar sakit seseorang yang berharga selalu menghadirkan kegugupan. Dua hal yang akan membuat itu ada. Pertama, orang yang sakit itu sendiri. Kedua adalah uang. Dalam peristiwa yang diceritakan oleh Bukan Pasar Malam, kedua hal itu muncul. Tidak pelak, masalah mengutang akan hadir.

Tidak ada tahun yang pasti kapan Bukan Pasar Malam ditulis oleh Pramoedya, tetapi tahun 1951 Penerbit Balai Pustaka menerbitkan buku ini. Buku Bukan Pasar Malam adalah dokumentasi abadi peperangan manusia melawan penyakit TB.

Artinya kurun waktu 65 tahun, Indonesia sudah berkutat dengan penyakit TB. Mungkin lebih lama melampaui waktu sebelum adanya buku Bukan Pasar Malam. Ironisnya, penyakit TB ini tetap menetap dan sepertinya harapan agar penyakit ini akan menjadi langka masih jauh.

Butuh waktu lama untuk agar harapan ini bisa terwujud. Mulai dari sanatorium, pemberian obat anti TB, penggunaan masker, sampai para pengawas obat diprogramkan untuk menanggulangi penyebaran penyakit pernafasan ini. Semuanya akan sia-sia jika upaya ini tidak didukung oleh penderita TB. Mulailah menyayangi kesehatan Indonesia dengan dimulai dari diri sendiri.

Catatan Kecil Tentang “Mohr”

Karl Marx lebih dari sebuah nama. Karl Marx adalah sebuah pemahaman. Perspektif. Kita tahu, sejak dia menggedor dunia dengan pikirannya, suatu tatanan tidak sekadar utopis. Masyarakat tanpa segregasi, yang jadi utopia sosialis sebelumnya, di tangan Marx  jadi ilmiah. Itu disebutnya komunisme.

5 Mei 1818, Marx lahir di Trier. Kota di perbatasan barat Jerman, waktu itu termasuk Prussia. Besar dari rahim Yahudi, kemudian berpindah agama; protestan. Konon rasa “emoh” Marx terhadap agama karena pilihan masa lalu orang tuanya yang gampang berpindah keyakinan. Kuliah hukum agar melanjutkan pekerjaan sang ayah, notaris. Karl Marx muda tidak terlalu tertarik hukum. Dia berminat jadi penyair. Terutama dilihat dari surat kepada ayahnya yang ditulisnya di bulan November selama studinya di Berlin tahun 1837.

Ketika saya membaca surat Marx yang ditulis tanggal 10-11 itu, sejak muda Marx telah membangun disiplin keilmuan yang ketat. Dia bercerita pengalaman keilmuannya kepada ayahnya. Bagaimana dia juga berkembara dengan puisipuisi liris sampai soalsaal filosofis, terutama tesistesis Hegel.

Marx tulis, “begitu tiba di Berlin, aku memutuskan segala ikatan yang ada dengan handai taulan, jarang berkunjung dan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam ilmu pengetahuan dan kesenian”1 Di sini Marx mau bilang betapa konsentrasinya hanya untuk ilmu pengetahuan dan seni, sampaisampai harus menjadi orang yang menarik diri dari hiruk pikuk.

Membaca surat Marx berarti membaca gairah seorang muda berusia 19 tahun yang disiplin belajar ilmu hukum, membaca banyak buku, dan menerjemahkan beberapa buku. Sejarah seni, musik, sejarah Jerman, dan puisi untuk menyebut beberapa disiplin di antaranya, yang menarik perhatiannya. Dan, seperti yang ditulisnya, ada dorongan untuk bergelut dengan filsafat. Akibatnya, Marx muda tumbuh tanpa tanggungtanggung, menjadi seorang intelektual.

Agak sulit menemukan kebiasaan Marx muda di situasi sekarang. Mau menulis surat panjang kepada seorang ayah. Menceritakan pengalaman belajarnya di tanah jauh. Menceritakan tokoh apa saja yang telah dibahasnya. Buku apa saja yang telah dibuatkan catatannya. Kritiknya terhadap pemikiran Hegel. Dan rasa rindunya kepada Jenny, kekasihnya.

Yang membaca tulisantulisan awal Marx setidaknya tahu, bahwa suatu pilihan intelektual butuh pertimbangan yang matang. Tak ada jalan panjang tanpa bekal yang ditimang, matangmatang. Jauh hari saat menyelesaikan studinya di Gymnasium, dia sudah pikir panjang ihwal tekad yang dipilihnya. Dia tulis “karenanya, kita mesti dengan serius memeriksa apakah kita telah betul-betul terinspirasi dalam pilihan profesi kita, apakah suara hati menyetujuinya, ataukah inspirasi lain adalah khayalan, dan apa yang kita kira panggilan sang dewa sebetulnya merupakan tipu daya atas diri sendiri. Namun bagaimana kita bisa mengenali  ini kecuali dengan melacak sumber inspirasi itu sendiri?”2

Kita mesti serius memeriksa apa yang menjadi pilihan. Begitu ucap Marx muda. Bahwa menjadi pengembara butuh keseriusan lebih dari yang dikira. Saya pikir, secara biografis, seorang penimbang adalah orang yang tahu apa yang dibutuhkannya. Apa yang harus menjadi tujuannya. Tujuan mesti dipilah apakah itu suara hati atau hanya tipuan sesat belaka. Di masa mudanya Marx sudah memalu niatnya dari yang dia sebut “kerja bagi umat manusia.” “Karenanya, kita tak akan merasa kecil, terbatas, atau merasakan kegembiraan yang egois. Kebahagiaan kita akan jadi milik banyak orang.”3

Kalau kita membaca habis esai pendek yang jadi tugas akhir Gymnasiumnya itu, akan terlihat bahwa Marx sedang dalam masa yang tegang. Bisa dibilang di umurnya yang baru 17 itu, Marx muda sudah mulai membangun komitmen atas profesi yang kelak dijalani. Akan sangat jauh berbeda dengan anakanak usia muda saat ini yang lebih memilih cara yang fleksibel dalam memilih. Marx muda sudah berpikir berat. Dia sudah mulai membangun kesadaran atas nasib masyarakatnya. Dan, atas posisi itulah yang nanti akan menjadikannya pemikir sosial berpengaruh.

Saya pribadi sulit membayangkan pemikiran Marx muda yang menulis “…petunjuk utama yang mesti mengarahkan kita dalam pilihan profesi adalah kesejahteraan umat manusia dan penyempurnaan diri kita sendiri. tak boleh dipandang bahwa kedua kepentingan itu berselisih, bahwa yang satu akan menghancurkan yang lain. Justru sebaliknya, kodrat manusia telah terbangun sedemikian rupa sehingga ia hanya bisa meraih kesempurnaan dirinya dengan cara bekerja bagi penyempurnaan sesamanya.”4

Mari membayangkan kesadaran macam apa yang mendasari Marx muda menulis demikian. Di situ dia sudah berpikir keselarasan antara yang individual dan yang sosial dalam hubungannya dengan masyarakat banyak. Makanya tidak terlalu salah kalau kita mau menyebut bibit awal perhatian Marx terhadap hukum dialektika masyarakat dimulainya dari periode ini.  Bahkan dalam perspektif humanisme, Marx muda sudah menunjukkan karakter dasar manusia sebagai mahluk sosial. Karena hanya dengan cara itulah dia bilang manusia hanya sempurna bila ada hubungan kerja sama antara sesamanya. Dalam konteks ini saya mau bilang, perspektif humanisme yang akan mendasari pemikiranpemikiran Marx selanjutnya, sudah disebutnya secara eksplisit di usia 17 tahun. Di usia muda dia sudah mulai membentuk kesadaran sosialnya.

Marx muda dengan begitu tumbuh menjadi pembaca yang evaluatif. Anak muda yang diskursif. Dan juga kritis. Itu ditunjukkannya saat tergabung dengan The Young Hegelian saat di Berlin. Di saat inilah dia menjadi pembaca yang taat. Dari yang ditulis Nyoto dalam Marxisme: Ilmu dan Amal, bahkan Marx tidak menyusun bukubuku di dalam lemari bukunya menurut ukuran besarnya atau ukuran tebalnya, juga tidak menurut serinya, melainkan menurut isinya, sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya.5

Di Berlin Marx tidak membaca Hegel secara sentimentil. Walaupun awalnya Hegel disebutsebut sebagai guru revolusi, itu tidak menjadikan pemikirannya layak diterima begitu saja. Melalui Feurbach, murid yang pernah berguru dari Hegel, Marx menemukan cela pemikiran yang menjadi jalan lain dalam memahami kenyataan.

Atas kritik Feurbach terhadap Hegel, Marx merumuskan eksposisi berupa pertanyaan atas klaim roh absolut Hegel. Bagaimanakah cara memahami yang absolut, yang dianggap rasional, padahal yang rasional hanyalah dalam subjek pemikir, padahal dunia tak seperti yang dibayangkan. Dengan kata lain, bagaimanakah memahami “yang roh yang absolut” dalam filsafat Hegel, sementara baik Hegel sendiri adalah pemikir yang subjektif.

Di bagian itulah ada frasa yang sering diucapkan, “Hegel berjalan dengan terbalik, dia berjalan dengan kepalanya” yang menjadi semacam statement sentimentil untuk mengkritik dasar pemikiran Hegel. Marx dengan kesadaran baru atas filsafat Hegel, menemukan suatu cara berfilsafat yang berbeda dari filsuf umumnya. Kesadaran itu bisa dikalimatisasi menjadi “Hegel hanya merumuskan pikiran, filsafat harusnya merumuskan kenyataan.” Dari kesadaran macam inilah kelak filsafat Marx hanya mungkin dipahami sebagai bagian yang tidak sekadar merepetisi situasi masyarakat menjadi rumusrumus filsafat, melainkan masuk ke dalam dan mengubahnya secara langsung. Banyak orang bilang, di tangan Marx, filsafat menjadi praksis.

Mengenal Marx berarti juga mengikutkan satu persona yang karib menjadi sahabatnya. Semenjak mendapatkan tekanan saat memimpin harian koran yang liberal dan progresif, Marx pindah ke Paris. Di Paris dia bertemu tokoh-tokoh sosialis Prancis semisal Proudhon dan juga tokoh sosialis yang juga pelarian dari Jerman. Dan tentu sang “jenderal” panggilan keluarga anakanak Marx terhadap Friedrich Engels.

Biografi Marx tanpa Engels akan sulit memberikan input yang berarti saat masuk keperjalanan pemikiran Marx. Melalui Engels-lah Marx menemukan fakta objektif sumber keterasingan manusia. Engels yang sebelumnya anak pengusaha tekstil, menemukan terang kenyataan bahwa buruh manusia bukanlah mesin yang harus diperlakukan semenamena. Di pabrik Manchester ketika dia mengepalai suatu bagian tugas Ayahnya, kenyataan itu yang membuatnya sadar bahwa tatanan industri yang sedang berkembang banyak berdiri di atas penghisapan kaum buruh. Setelahnya lewat The Holy Family dan setelah German Ideology,  Marx bersama kawan karib ini menjelma menjadi pasangan intelektual bapak sosialisme.

Saya kira dari kekariban Marx dan Engels ada hal yang luput, bahwa barang siapa tengah merancang suatu rumus pemikiran, harus memiliki semacam kawan dialog. Kekariban Marx dan Engels, bagi saya adalah suatu model bagaimana suatu kerja kolektif didasarkan. Marx dan Engels menjadi simbol yang mewakili suatu tindak pikiran filosofis; dialog.

Baik Marx dan Engels, melalui karya intelektual bersama, sama halnya Socrates dan Platon, menghidupkan esensi dari seni berpikir melalui dialog sebagai mekanisme dialektis dalam menemukan jalan keluar atas problem yang dihadapi. Lewat dialog keduanya, diskursus jadi soal yang kolektif, bukan sekadar pemikiran monologis yang selama ini diketahui sebagai inti filsafat. Saya kira dari sini Manifesto Komunis yang disusun keduanya, tidak sekadar seruan kolektif terhadap masyarakat pekerja, melainkan bagaimana suatu karya pemikiran sedari awal sudah harus menunjukkan dimensi kolektifnya.

Banyak yang berharga dari Marx, termasuk sisi lain bahwa Marx bukan saja pemikir yang mudah murung dan keras, tapi juga seperti yang ditulis putrinya Eleanor, bahwa Marx orang yang humoris yang punya  segudang cerita yang bisa membuat orang tertawa.  Seorang ayah yang senang membelikan  dan membacakan novel kepada anaknya di usia yang masih sangat muda. Juga seorang kepala keluarga yang lebih sering jadi teman anakanaknya. Mohr, begitu panggilan anakanaknya terhadap Marx, kadang bermain “kudakudaan” seperti yang ditulis Eleanor “Dengan duduk di pundaknya, memegangi rambutnya yang lebat, hitam dan beberapa yang sudah menguban, saya puas “mengendarainya” berkeliling kebun kecil kami dan mengitari lapangan yang melingkari rumah kami di Grafton Terrace.”6

Marx mati di London 14 Maret 1883. Usianya genap 64 tahun. Dia sakit selama 15 bulan di  akhir hidupnya, akibat radang pernapasan yang membuatnya mengalami brongkhitis akut. Pemakamannya hanya dihadiri sembilan sampai sebelas orang. Tapi pemikirannya saya kira banyak yang jadi pegangan bagi banyak orang. 7


  1. Martin Suryajaya, Teks-Teks Kunci Filsafat marx, Resist Book,2016: hlm. 10
  2. ibid, hal 7
  1. ibid
  2. http://indoprogress.com/2015/07/marx-dan-tauladan-bagi-remaja/
  3. marxistsfr.org/indonesia/archive/marx-eleanor/001.htm
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx

Muasal

Pada akhirnya, orang-orang akan mencari muasalnya, tempat segalanya bermula. Kau akan ke kampung halaman, ke pohon mangga dekat rumahmu, atau mungkin ke rumah perempuan yang pernah kau perkosa. Sebab di sana ada sehimpun masa silam, suatu ruang-waktu di mana takdir menulis sejarahmu, menciptakanmu. Dan kau akan ke mana-mana, tapi juga tak akan kemana- mana. Sebab, kau akan merindukan perihal permulaan. Juga, barangkali penyesalan, atau dendam, membawamu menemui tempat di mana suatu ihwal dimulai.

Aku hanya ke UNM. Tepatnya, di kantin Fakultas Ilmu Pendidikan. Ruang yang bagiku, tak hanya kupahami sebagai pelepas lapar dan dahaga, atau sekadar kongkow bersama masyarakat kampus. Tapi juga sebagai—seumpama studio film—ruang di mana sejadi-jadinya diriku saat ini terekam.

Memang telah banyak berubah dari tata ruangnya. Tapi meja-meja itu, suara orang-orang di dalamnya, pelayan kantin itu, seperti mengubah kembali kantin ini seperti sedia kala. Suatu ingatan seperti tergesah menginterupsi masa kini, dan hadirkan kesilaman: tentang aku dan beberapa teman saling berdebat membincang Tuhan, politik, dan kampus yang centang perenang, terkadang hampir baku pukul. Tentang aku yang bertemu dengan orang-orang cerdas, dan mengubah rute menuju pilihan hidup yang tak banyak digandrungi banyak orang: menggeliati diskursus, buku, dan menulis.

Kau akan membaca tulisan ini dan mengatakan, “Ini kisah hidupmu, hanya itu yang kau ceritakan?” Sebuah kisah, bagaimanapun itu, pasti akan merekam tokoh lain yang bukan siapa-siapa dalam hidupmu, tapi penting untuk diceritakan. Di kantin ini terekam jejak hidup nenek pemulung. Ia memang bukanlah persona yang menentukan kisah-kisah hidupku. Tapi, dia adalah tokoh bisa dibilang unik. Justru karena itu, dia adalah “yang lain”, yang terletak di pinggiran kisah, dan memaksaku mengangkatnya kepermukaan.

Terkadang, aku senang menuliskan sehimpun kisah orang-orang di pinggiran cerita, yang kerap diabaikan. Justru karena itu, aku selalu gagal menyelesaikan tulisan tentang diriku sendiri. Selalu ada persona yang, saat kusentil dalam sebuah cerita, selalu ingin kukisahkan panjang lebar. Seperti nenek pemulung itu. Maka cukuplah kau tahu, kantin ini punya sejarah dalam rentang masa hidupku.

***

Aku tak tahu namanya. Dan semua “penghuni” kantin waktu itu juga pasti tak menahu. Dia tak penting untuk diketahui bagi mereka dan, seperti itu juga aku. Kami hanyalah mahasiswa urban yang secara kebudayaan, sudah dikondisikan oleh individualisme modern, yang sukar bersalaman kepada orang asing dan sekadar bertanya, “Apa kabar?”, “Siapa namamu?” Kami juga lahir dari imaji gaya hidup orang kota yang penuh hura-hura, yang membuat kami semakin tak peduli pada apa yang dirasa tak penting untuk diketahui.

Toh, jika nenek pemulung itu ditempatkan dalam sekat-sekat kenangan kami, ia hanya digantung di pojok dinding ingatan; sejumput kisah pinggiran. Orang-orang hanya mengetahui, ada nenek tua yang kerjanya memulung sampah. Itu saja. Selebihnya, teka-teki.

Aku mungkin satu dari sedikit orang yang memiliki ingatan lebih tentang nenek pemulung itu. Meski pemulung banyak memasuki area kantin ini, tapi dia lain. Dan itu yang mendorongku untuk merekam fragmen tantangnya, meski hal demikian tak kunjung membuatku mengetahui namanya. Aku kenang betul, dia senang meminum Teh Gelas untuk membanjur tenggorokannya yang kering. Dan dia hanya pemulung, bukan peminta-minta.

Sejauh yang aku ingat, dia tidak pernah menjulurkan telapak tangannya kehadapan orang lain, dan minta dikasihani dengan sejumlah uang, meskipun recehan. Dia hanya punya kepentingan dengan limbah plastik yang tumpah ruah di kolong meja, juga di atas meja—jika pemilik sampah masih memakai meja itu, dia meminta izin dulu sebelum dimasukkan ke kantong plastik.

Mengingat gelagatnya, aku tetiba menyadari, kaum miskin kota tak sepenuhnya menyerah pada nasib yang dirancang oleh sistem sosial yang obscene. Ketika banyak dari kaum miskin kota harus rela menjadi pencuri, dan peminta-minta, nenek pemulung itu berbeda. Ia hidup tanpa melewati jalan pintas. Meskipun barangkali ia menyadari, tubuhnya yang ringkih tak akan selamanya mampu memunguti sampah plastik satu per satu.

Tapi kau pasti menyadarinya juga. Seberat apapun pekerjaan yang nenek pemulung itu jalani, kantin ini seperti surga di dalam pandangan mata sipitnya itu. Sampah plastik yang tumpah ruah akibat laku konsumtif yang berlebihan dari masyarakat kampus harus ia pungut, mulai dari pagi sampai sore hari, demi penghasilan yang sebenarnya tak seberapa—setidaknya dalam “kepala” masyarakat kelas menengah seperti kita.

Dia akan berjalan menyusuri kantin dengan langkah gontai dan lemah. Dan tak ada upaya menginterupsi rutinitas dan perbincangan orang-orang di mejanya masing-masing dengan menjulurkan telapak tangannya, selain dengan terpaksa dan malu-malu harus meminta sampah plastik di hadapan pemiliknya. Dia selalu soliter di hadapan kepungan orang-orang ramai. Dia selalu sunyi di gegap gempita suasana kantin. Dia sendirian.

Oh, iya. Aku lupa. Sebenarnya aku pernah sekali berinteraksi dengan nenek pemulung itu. Suatu ketika, aku beranjak meninggalkan kantin. Belum jauh dari kantin, kudengar suara parau dari arah belakangku. Itu suaranya. Aku berhenti karena dia berjalan menghampiriku. Setibanya di hadapanku, dia memberikan dompetku yang terjatuh dan tergeletak di kolong meja. Aku meraihnya. Dia kemudian tersenyum, dan berlalu, saat kusadari aku belum juga mengetahui namanya.

Bahkan kopiku hampir habis dan sekalipun tak kulihat nenek pemulung itu. Ini sudah sangat lama saat aku mengunjungi kantin ini terakhir kali. Pastilah aku tak tahu kapan ia tak lagi beraktivitas di tempat ini. Juga, mengapa ia mesti meninggalkan kantin yang seperti surga para pemulung itu, aku tak tahu. Aku menduga-duga saja. Barangkali dia ke tempat-tempat di mana karirnya sebagai pemulung dimulai; di jalanan, atau tempat pembuangan sampah. Pada akhirnya, orang-orang akan mencari muasalnya, tempat segalanya bermula.

Hidup dan Segala Resah Tentangnya

Perbuatan baik adalah yang membuat hatimu tenteram, 

Sedangkan perbuatan buruk adalah yang membuat hatimu gelisah

—Hadis Nabi—

Apa yang menarik dari hidup? Bahwa di sana ada setumpuk masalah dengan berbagai macam bentuknya. Dengan berbagai wajahnya yang datang pada manusia tanpa jeda. Tanpa titik akhir jelas. Ia tak sedikit menghadirkan keresahan yang sangat. Sepertinya hidup adalah perhelatan penderitaan. Ia seakan mengingatkan kita pada Budha bahwa, “hidup adalah penderitaan dan manusia tidak bisa lepas darinya. Mungkin sang Budha ingin mengisyaraktkan kepada kita semua, bahwa manusia itu sendiri dalam eksistensinya adalah masalah.

Bagi kaum eksistensialis, masalah bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Masalah adalah penanda akan eksistensi. Melupakan masalah berarti sama halnya melupakan eksistensi. Benar bahwa masalah melahirkan kerisauan, kegundahan, kecemasan pada yang mengalaminya. Jika mengalami itu, maka resah dianggap sebagai sikap cengeng. Namun tidakkah ia adalah sikap batin yang memberikan sedikit ruang padanya untuk merefleksi? Bukankah resah adalah jalan untuk berdialog dengan diri? Di sana ada tanya pada relung jiwa tentang kesalahan pada diri. Pada ruang ini, mungkin resah ingin kita beri batasan sebagai konsekuensi eksistensial terhadap realitas yang dihadapi.

Keresahan adalah enigma yang selalu ada pada manusia. “Besarnya” keresahan itu biasanya hadir tergantung pada konsepsi realitas (wujud) yang kita bangun. Pada premis ini mungkin kita ingin menilai resah sebagai sesuatu yang bertingkat seperti tingkatan realitas (wujud) dalam pandangan filsafat. Manusia merasakan keresahan, mungkin saja tak bisa di pisahkan dengan tingkat kesadaran. Di sana ada yang merasakan keresahan, jika pada dirinya tak memiliki materi yang banyak. Pada posisi itu, kita menempatkan materi sebegai suatu syarat yang real dalam eksistensi kita. keresahan ini kerena tak memiliki materi.

Jika kaum materialis, menilai penanda eksistensi adalah materi. Lain halnya dengan Platon. Dia melihat materi sebagai citra, imaji. Di mana, bila kita terikat dengannya maka ia menjadi penjara. Platon terlalu risih pada materi tapi perlu untuk direnungkan. Barangkali pandangan Platon ini, mengisyaratkan bahwa keresahan karena materi membuat kita terpenjara. Platon sepertinya mengajarkan bahwa yang demikian sangatlah rendah tingkatannya. Boleh jadi Platon ingin menyampaikan seharusnya keresahan kita pada materi perlu beranjak darinya. Menuju keresahan semestinya-resah karena adanya kesadaran akan jarak diri kita dengan dunia idea.

Lain Platon, lain kaum sufi. Menurutnya, resah hadir karena kita masih mengaggap diri sebagai eksistensi yang real. Tidakkah yang real itu hanyalah wujud (al-Haqq) dan kita adalah manifestasi (tajalli)? Bukankah wujud itu “tunggal“ tak berbilang. Bila menganggap diri wujud maka ada dua eksistensi (wujud). Cahaya itu cuma satu, hanya pada intesitasnya berbeda. Maka sang sufi mungkin ingin bertutur bahwa resah yang semestinya adalah kesadaran untuk “peniadaan” diri dan mengakui secara penyaksian bahwa hanya Dia-lah yang Wujud.

Barangkali antara Platon dan sang sufi (urafa) ingin mengajarkan kita kepada sebuah resah pada hidup yang transenden. resah yang tak terpenjara pada objek yang pada dasarnya tidak ada—tidak real. Mungkin ia hendak menyampaikan semestinya keresahan kita, karena tak “mengikatkan” diri kita pada wujud. Menjadi keresahan karena diri tak terpancarkan cahaya dan itu berarti kegelapan. Berada dalam kegelapan berarti berada pada ke-alpa-an wujud.