Arsip Kategori: Esai

Semesta Manusia: Tribute to Nirwan Arsuka

Refleksi 100 hari wafatnya Nirwan Ahmad Arsuka

Bagi insan yang lebih dulu mencapai keabadian, hanya warisannya akan menjadi penanda jejak selaku pengabdi. Ia akan abadi karena abdinya. Dari pengabdian ke pengabadian. Baik di bentala, maupun di nirwana.

Begitulah sosok seorang pengabdi, Nirwan Ahmad Arsuka,  yang sementara diabadikan oleh para penerusnya. Nirwan lahir di Kampung Ulo, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 5 September 1967 dan wafat di Jakarta, 6 Agustus 2023. Lalu dimakamkan di tanah kelahirannya. Selain dikenal sebagai pejuang literasi, Nirwan pun diakrabi selakon seorang intelektual garda depan. Tulisan-tulisannya merambah dalam bidang sains, sosial, budaya, seni, sastra, dan agama.

Jelang hingga peringatan 100 hari wafatnya Nirwan, sang pendiri Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), serangkaian helatan digelar. Ahad, 5 Nopember 2023, diadakan temu daring oleh keluarga besar Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Acara ini serupa persiapan menyambut peringatan 100 hari wafatnya Nirwan.

Selain itu, dibincangkan pula potret kelembagaan PBI dan mekanisme formalitasnya, serta korelasinya dengan sekotah simpul pustaka. Perbincangan ini dimediasi oleh Faiz Ahsoul, pelaksana tugas PBI. Simpai simpulan percakapan, bagaimana merawat warisan Nirwan yang semula bernuansa personal, diadaptasi dalam bentuk kelembagaan. Spiritnya, meneruskan kerja-kerja seorang pengabdi, Nirwan Arsuka, yang telah mengabadi.

Arkian, 18-26 Nopember 2023, hajatan sepekan Tribute to Semesta Manusia. Simpul-simpul PBI di seluruh Nusantara mengisi pekan peringatan 100 hari tersebut, beragam aktivitas. Didahului acara Prosesi Mattampung (penanaman batu nisan) di Barru oleh keluarga besar almarhum Nirwan Arsuka. Tepatnya, Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023. Prosesi Mattampung ini merupakan acara adat, sebentuk tradisi di kampung halaman Nirwan.

Berikutnya, sederet simpul pustaka mengadakan hajatan dengan caranya masing-masing. Sabtu, 18 Nopember, di Malioboro, Yogyakarta, Perpustakaan Gerak Girli Malioboro Bergerak, menyajikan acara Story Telling Mattampung dan Doa Bersama.

Lalu, Sabtu, 18 Nopember 2023,Ibuku dan Angkot Pustaka, mendedahkan acara Biblioterapi dan Doa Bersama, di Pesantren Sirojul Munir Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tak ketinggalan simpul pustaka Rumba KIH, pada Ahad, 19 Nopember 2023, melakukan Penanaman Pohon dan Doa Bersama di Blitar, Jawa Timur.

Masih di hari Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023, simpul pustaka Sigupai Membaco dan Perpustakaan Rumah Teras Baca di Gorontalo, menghadirkan PakBukLing (Lapak Baca Buku Keliling) dan Doa Bersama. Pun dari RBCD, selain melakukan Lapak Buku, juga Baca Puisi dan Doa Bersama.

Dari Taman Kota Sumpiuh Banyumas, Jawa Tengah, simpul pustaka Lapak Baca Motor Pustaka Griya Baca Jelita (Jendela Literasi Tanah Air) melakukan Doa Bersama untuk Nirwan. Selanjutnya, Kamis, 23 Nopember 2023, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, via Motor Literasi (Molit) Peradaban, mengusung “Percakapan Hilirisasi Budaya ala Nirwan”, dirangkai Pembacaan Puisi dan Esai, Pidato Kebudayaan, dan Doa Bersama.

Tentu, masih banyak lagi aktivitas simpul pustaka yang belum saya deretkan. Sekadar penegasan saja, ada ratusan simpul pustaka berkegiatan, guna didedikasikan buat Nirwan, baik yang terpublikasi maupun menempuh jalan senyap.

Kalakian, pucuk acara Sepekan Tribute to Semesta Manusia, dalam rangka 100 hari wafatnya Nirwan, berpuncak pada sawala dan dialog buku Semesta Manusia, anggitan Nirwan Ahmad Arsuka. Sawala dilaksanakan secara daring, Ahad 23 Nopember 2023. Pemantik sawala, Ulil Absar Abdalla, FX Rudy Gunawan, Ernawiyati, dan Nur Sybli.

Dipandu oleh Fathul Rakhman dari simpul pustaka  Sekolah Literasi Rinjani. Sebelumnya dibuka oleh MC, Syamsiah Lukman dari simpul pustaka Perahu Pustaka Laica Abbacang. Tak lupa menyilakan perwakilan keluarga besar Nirwan, diwakili ponakan, Muh. Iftikar Sahid, untuk memberi sambutan. Ia bertutur, ada cita dari pamannya yang belum terwujud, membikin lembaga pendidikan bagi orang-orang kurang beruntung.

Tema “Semesta Manusia” diambil dari judul buku karya Nirwan Ahmad  Arsuka. Sebuah buku putih setebal bantal balita, 808 halaman, Penerbit Ombak. Berisi kumpulan tulisan yang merangkum hampir seluruh ide, gagasan, dan isi kepala almarhum.

Sekotah tulisan yang terhimpun dalam buku putih Semesta Manusia, sebelumnya pernah dimuat media, khususnya media cetak, termasuk teks Pidato Kebudayaan, Dialog Semesta, dan beberapa tulisan sempat masuk media online.

Secara garis besar, ada 8 tema yang diusung dalam buku putih: Sains, Manusia, Seni, Sastra, Agama, Indonesia, Pustaka Bergerak, dan Kuda. Namun, dalam diskusi, sebagai alat bantu Dialog Semesta Manusia, dirangkum menjadi empat tema: Manusia, Sains, Budaya, dan Pustaka Bergerak.

FX Rudy Gunawan bertindak selaku pemantik awal. Bagi Rudy, Nirwan adalah manusia multidimensional. Pembelajar otodidak. Mampu menyederhanakan pemikiran rumit. Seorang penggerak, punya mimpi besar untuk kemajuan bangsa. Sejak mahasiswa, bersama Nirwan sudah terlibat gerakan penghentian ketidakadilan dan kediktatoran.

Rudy bertemu kembali dengan Nirwan di Jakarta, ketika media cetak Tempo, Editor, dan Detik, diberedel oleh rezim Soeharto. Ikut mendinamisir Aliansi Jurnalistik Independen dan berkumpul di Komunitas Utan Kayu Jakarta. Setelah berkonsentrasi pada aktivitas mutakhir masing-masing, Nirwan memilih wilayah literasi untuk mewujudkan mimpinya. Jejaring Nirwan mesti diteruskan.

Nur Sybli menguatkan penabalan Rudy. Ia menegaskan, PBI merupakan rumah kita bersama untuk berbagi energi kebaikan. Apatah lagi, di rumah bersama ini, kita berangkat dari keragaman lintas agama, budaya, suku, profesi, pendidikan, dan latar sosial lainnya.

Saatnya menguatkan warisan Nirwan dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia para penggerak. Penguatan kapasitas itu bisa beragam bentuknya, sesuai tantangan masing-masing. Namun, perlu ada kapasistas bersama, sebagai standar sebagai seorang pegiat dan penggiat literasi. Dan, sepertinya dibutuhkan sesi lain untuk menindaklanjuti sodoran minda ini.

Setelahnya, giliran Ernawiyati memaparkan pikiran. Erna lebih banyak mengapresiasi tulisan terakhir dari Nirwan Arsuka di harian Kompas, berjudul “Hilirisasi Budaya”. Menurutnya, minda Nirwan ditulisan ini sangat bernilai tinggi, satu warisan intelektual yang harus diapresiasi bersama. Tawaran hilirisasi budaya ala Nirwan, bisa dijadikan semacam peta pemajuan budaya, sebagai lapik pembangunan bangsa Indonesia. Menariknya, peta ini bisa ditafsirkan secara mandiri, sesuai dengan konteks masing-masing.

Akhirnya, Ulil Absar Abdalla memungkasi percakapan. Ia memulai dengan bagaimana ia bertemu dengan Nirwan di Freedom Institute, sesama pendiri. Perkawanan di Freedom Institute cukup lama, sehingga ia amat mengenal pemikiran Nirwan. Ulil berpendapat, Nirwan adalah persona yang memenuhi seorang intelektual yang sangat komplit. Minatnya sangat luas terhadap berbagai macam isu.

Ciri khas generasi Nirwan, kemampuan menulis dengan baik. Keunggulannya terletak pada daya jelajah pada sains sangat dalam. Bukan saja sains popular, tetapi pada inti sains. Lebih dari itu, kelantipannya mengawinkan sains dengan sastra. Sosok langka, hampir mustahil negeri ini melahirkan seorang Nirwan.

Sesudah tidak bersama lagi di Freedom Institute, Ulil kaget dengan pilihan Nirwan, mendirikan PBI dan menghabiskan energinya untuk gerakan literasi. Ulil menilai, pilihan Nirwan merupakan kelanjutan dari aktivitas di Freedom Institute, mengingat Nirwan mengepalai perpustakaan lengkap, berisi buku-buku bergizi tinggi.

Nirwan percaya pada kekuatan buku yang mengubah seseorang, sebab buku menyebarkan tradisi berpikir saintifik. Berpikir ilmiah sewajah dengan fondasi penting dalam membangun masyarakat. Inilah yang menyemangati Nirwan, untuk memindahkan spirit perpustakaan di Freedom Institute ke seluruh penjuru mata angin di wilayah Nusantara, lewat PBI.

Simpulan Ulil memantapkan tentang warisan Nirwan. Tradisi menulis yang baik, berpikir saintifik, minatnya begitu luas meskipun tidak menarik bagi banyak orang. Di pucuk percakapan, Ulil mendakukan kesiapannya menjadi bagian dari PBI, sebagai bentuk perkawanan abadi dengan Nirwan.

Nirwan telah mengabadi dalam dua ruang. Di bentala karena ada warisan pengabdiannya. Di nirwana sebab itulah tujuan akhir sekotah insan. Ya, Nirwan nyata di bentala dan sunyata di nirwana.

Fatherless

Dewasa ini banyak istilah psikologis yang populer di kalangan masyarakat, seperti healing, toxic relationship, ansos, burn out, mindfulness, self diagnose dan masih banyak lagi. Kepopuleran istilah psikologis tersebut tidak jauh dari dampak bermedia sosial.

Individu yang saat ini tiap waktu memakai smartphone-nya untuk menjelajah dunia maya, kerap kali bertemu dengan istilah-istilah psikologis yang telah disebutkan. Tentu hal ini merupakan suatu kemajuan, di mana masyarakat sudah lebih aware dengan kesehatan mental mereka.

Di mata masyarakat, psikologi yang mempelajari mengenai ilmu kejiwaan dan perilaku merupakan suatu ilmu yang menarik. Terlebih jika ilmu tersebut menjelaskan mengenai kepribadian, hingga asal-usul mengapa seseorang berperilaku tertentu.

Salah satu istilah yang cukup menarik untuk ditelaah lebih jauh adalah istilah fatherless. Fatherless merupakan kondisi di mana seseorang kehilangan sosok ayah dalam kehidupannya. Kehilangan sosok ayah dapat diartikan tidak adanya ayah secara fisik maupun psikis. Kondisi ini dapat terjadi dikarenakan ayah yang meninggal dunia, perceraian, hingga tidak berpartisipasinya ayah dalam tumbuh kembang anak.

Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa peran ayah dalam keluarga bukan hanya mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Namun, juga untuk memberi contoh konsep maskulitinas terhadap sang anak, baik laki-laki maupun perempuan.

Pada anak laki-laki, sifat maskulin diharapkan bisa lebih dominan, dibanding dengan sifat feminim. Hal ini agar anak laki-laki dapat menjadi sosok berani, mandiri, dan tegas dalam kehidupannya. Sebagai sosok yang akan menjadi kepala keluarga, hal yang wajar jika laki-laki mesti memiliki sifat berani, mandiri dan tegas, agar dapat memberi rasa aman dan nyaman dalam keluarganya.

Manakala anak laki-laki tidak diberi contoh akan konsep maskulinitas pada dirinya sejak kecil, ia akan cenderung pasif, bergantung dengan orang lain, sulit membuat keputusan, bahkan bingung mengenai identitas gendernya.

Anak laki-laki yang tumbuh bersama sifat feminim dominan dari Ibu, ataupun kakak perempuannya, sulit untuk menentukan bagaimana sifat maskulin yang seharusnya dominan dari dalam dirinya. Anak laki-laki dengan sifat feminim yang lebih dominan, akan cenderung menunjukkan sifat dan sikap serupa.

Sehingga, tidak jarang jika anak laki-laki dengan sifat feminim yang dominan, akan mengikuti lingkungan dengan sifat yang dominannya pula, dalam hal ini bergaul dengan anak perempuan. Bergaul atau berteman dengan lawan jenis sebenarnya bukanlah hal yang mesti dijauhkan dari anak, akan tetapi anak mesti diperkenalkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dan apa identitas gender mereka.

Bergaulnya dengan anak perempuan tentu membuatnya semakin tidak mengenal bagaimana sifat maskulin yang sebenarnya. Sifat maskulin yang semakin redup ini, tentu cukup meresahkan bagi tumbuh kembang anak, salah satu dampaknya ialah terjadinya krisis identitas atau anak sulit mengenali identitas gendernya.

Bahkan, anak yang tidak mempunyai kelekatan dengan ayah, akan cenderung mencari sosok yang dapat berperan menjadi ‘ayah’ di dalam hidupnya, di mana dapat memberikan rasa aman dan nyaman.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sundari, A. R., dan Herdajani, F pada tahun 2013, hilangnya sosok ayah pada perkembangan anak dapat menyebabkan anak mempunyai kepercayaan diri rendah, bersikap agresi, malu, kesepian, hingga rendahnya kontrol diri.

Tentu hal ini tidak diharapkan terjadi pada diri anak laki-laki maupun perempuan. Maka dari itu, peran ayah dalam keluarga sangatlah penting. Ayah yang dapat memberi contoh bagaiman konsep maskulinitas pada diri, dan memberi kelekatan pada anak, akan menjadikan individu menjadi sosok yang sesuai dengan porsinya masing-masing. Laki-laki yang memiliki sifat maskulin dominan, dan perempuan yang memiliki sifat feminim dominan.

Akan tetapi, sifat maskulin tidak semestinya menguasai diri laki-laki seutuhnya, begitu pula dengan perempuan. Anak laki-laki juga mesti memiliki sifat feminim dalam dirinya, agar dapat berperilaku lembut, memiliki empati, sabar, merawat dan sifat ‘keperempuanan’ lainnya. Sederhananya, seorang laki-laki yang diibaratkan menggunakan logika, mesti mempunyai perasaan pula dalam menentukan jalan hidupnya.

Hal ini serupa dengan konsep anima, dan animus yang dikemukakan oleh Carl Gustav Jung, salah seorang tokoh psikoanalisis. Anima dan animus merupakan salah satu bagian dari arketipe dalam konteks collective unconscious  atau ketidaksadaran kolektif yang biasa dikenal juga sebagai alam bawah sadar.

Anima merupakan bagian feminim dari dalam diri laki-laki, sedangkan animus merupakan bagian maskulin dari dalam diri perempuan. Seorang laki-laki mesti mengenali dan mengendalikan sisi feminim dalam dirinya agar tidak lebih dominan. Hal ini pula yang dapat membuat seorang laki-laki dapat lebih memahami dan menghargai perempuan.

Maka dari itu, peran ayah dalam tumbuh kembang anak yang kerap kali dipandang sebelah mata, sebenarnya memiliki peran penting. Meskipun budaya di Indonesia masih terbelenggu dengan patriarki, sudah sewajarnya kita sebagai individu yang lebih sadar, mesti membebaskan dari lingkaran setan yang sudah dibangun secara turun menurun.

Mengubah Tragedi Menjadi Komedi

REFLEKSI ATAS PERTEMUAN DENGAN TEMAN DAN GURU KEHIDUPAN

Penderitaan dalam kajian filsafat didistingsikan dalam tiga perspektif. Perspektif pertama memandang penderitaan sebagai sebuah kondisi yang sebisa mungkin dihindari. Hal ini dapat ditemui dalam filsafat hedonisme oleh penjelasan Epikurus. Perspektif kedua memandang penderitaan sebagai hal yang harus dihindari dan berada di luar kendali manusia. Filsafat Stoikisme menerangkan jika seseorang menderita akibat persepsi kognitif yang ia bentuk sendiri. Agar bahagia, maka cukup dengan mengendalikan rasionalitas yang membentuk persepsi tadi. Perspektif ketiga memandang penderitaan adalah bagian dari kehidupan. Nietzche melanjutkan perspektif kedua hanya saja pandangannya atas derita lebih optimis. Kebijaksanaan kelak berkembang kala didahului penderitaan (Nesa, 2023). Perspektif ini barangkali sejalan dengan pernyataan “mengubah tragedi menjadi komedi”.

Pernyataan “mengubah tragedi menjadi komedi” ini cukup menggilitik jika ditarik dalam ranah kehidupan. Galibnya, suatu kesepakatan jika tragedi itu tidak mengenakkan. Ia menggeliat sembari mengusik kenyamanan dan status quo. Ajaibnya, ada yang rela hidup berdampingan dengan tragedi. Potret itu barangkali yang memotivasi segelintir komedian untuk menjadikan sebagian tragedi menjadi komedi yang dikenal sebagai dark jokes. Entah karena gap ataupun konten yang usang hingga memuncaki gairah komedian beralih pada konten yang eksentrik, liar dan penuh kontra.

Dark jokes sendiri merupakan jenis komedi yang bersumber dari sisi gelap kehidupan sehari-hari. Kehidupan sehari-hari itu terjadi di dunia olahraga, politik, agama, rasisme, terorisme hingga peperangan (Anastasya, 2021). Karenanya ia bersifat sensitif. Membicarakan komedi gelap ini dapat menjalar dalam ruang-ruang yang selama ini dinilai sakral, suci dan tabu. Pada ruang penghormatan dan martabat kemanusiaan. Ataupun pada mereka yang tergolong minoritas dan tereksklusi.

Penulis pernah berkunjung sembari berdiskusi dengan pasangan suami-istri difabel. Keduanya terbilang ramah dan akrab. Sang istri berujar “kami biasa bercanda sesama difabel mas hehehe. Jangan tersinggung yah. Kadang kami bercanda dan tertawa karena salah seorang teman kami pernah tabrak tiang listrik mas”. Pada kesempatan lain, ia bercanda “kalau sering berkunjung, nanti mas anterin saya ke pasar yah”.

Hal ini cukup berbeda pada kesempatan lain. Dark jokes yang dibawa dalam konten stand up comedy menuai kecaman. Kecaman ini datang dari LSM maupun aktivis disabilitas. Mereka menilai bahwa penertawaan atas tragedi disabilitas sebagai bentuk pencideraan atas apa yang selama ini mereka perjuangkan berupa penghormatan dan pemenuhan hak-hak disabilitas. sebagai contoh, salah seorang komika yang menuturkan jika orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) kebal dari covid-19. Hal ini lantas mengundang reaksi dari aktivis pemerhati ODGJ.

Kedua kondisi ini mengundang tanya. Bolehkah menertawakan tragedi disabilitas? sampai dimana batas penertawaan itu? Apakah ada tujuan dalam penertawaan disabilitas? Penulis mengklasifikasikan beberapa refleksi bahwa ada beberapa makna tersirat dalam pernyataan “mengubah tragedi menjadi komedi” khususnya mengenai disabilitas.

Mengubah tragedi menjadi komedi: Bentuk Perdamaian dan Penerimaan diri Yang Tuntas

Pandangan ini berada dalam tataran individu. Masing-masing pihak memiliki sikap berbeda saat mengalami disabilitas. Karenanya pandangan ini bersifat subyektif. Ada yang sepenuhnya berdamai dengan kondisi ini. Di sisi lain, ada yang menolak dan tidak sepenuhnya menerima kondisi disabilitas. Kisah suami istri tadi adalah contoh sikap penerimaan diri atas kondisi mereka. Baik kesengsaraan maupun kesenangan adalah dua kondisi yang senantiasa mewarnai kehidupan di dunia. Kehampaan seakan sirna karena diisi optimisme dan keyakinan. Kerjakan apa yang bisa dikerjakan. Tertawa atas apa yang bisa ditertawakan. Mengalah pada batasan dan di luar kewajaran. Paling tidak bermanfaat bagi diri terlebih dahulu. “cuci piring sendiri sehabis makan itu luar biasa mas” imbuh seorang teman difabel. Karena hal-hal besar bermula dari hal-hal kecil.

Namun ada kisah bagaimana seorang individu yang baru saja kehilangan anggota tubuh dan hampir merenggang nyawanya sendiri (bunuh diri). Perlu bertahun-tahun untuk menerima kondisi disabilitasnya. Adapula kisah tentang seorang pejabat yang malu kemudian menyembunyikan anaknya yang menderita disabilitas. Pandangan-pandangan ini bukanlah pandangan arus utama. Hal itu membutuhkan kebijaksanaan pada diri individu difabel beserta keluarganya. Tentu penyuaraannya dari individu yang mengalami disabilitas itu sendiri.

Mengubah Tragedi menjadi komedi: Bentuk Kritik Sosial

Pandangan ini datang dari individu difabel yang kreatif. Ia mampu mengarahkan pengalaman menjadi konten kritik sosial. Ia meneropong jauh kedepan. Pengalaman adalah guru terbaik kilahnya. Kisah ini datang dari individu disabilitas yang menempuh pendidikan kemudian mengalami hal tidak mengenakkan karena bangunan yang tidak ramah disabilitas. Alhasil, ia menjadikan pengalaman tersebut sebagai video parodi. Selang beberapa waktu kemudian, instansi tadi melakukan rekonstruksi bangunan dengan menambahkan guiding block. Pandangan ini juga bukan pandangan arus utama. Ini hanya dimiliki oleh individu-individu yang kreatif, cerdas dan kritis. Mampu mengubah sesuatu menjadi bernilai.

Blindman Jaka, seorang komika disabilitas menerangkan bahwa membawa materi disabilitas menjadi konten humor sah-sah saja namun perlu mempertimbangkan banyak hal. Termasuk stigmatisasi terhadap difabel kala konten humor disabilitas menjadi viral dan perjuangan aktivis mencapai inklusivitas. Ia menjelaskan bahwa penyampaian humor disabilitasnya dilandasi konteks sebagai kritik atas perlakuan orang-orang sekitar dan pemerintah terhadap difabel (Tempo, 2021).

Mengubah Tragedi menjadi komedi: Menyentuh Sensitivitas

Pandangan ini datang dari aktivis dan pemerhati hak-hak difabel. Menurut mereka, ada beragam hak-hak difabel yang belum terpenuhi. Hal ini ditambah stigma terhadap orang cacat sebagai orang yang kasihan, sakit dan tidak mampu. Implikasinya pada peminggiran mereka dalam aktivitas masyarakat dengan dalih normal. Apa dan siapa yang tidak mengikuti kenormalan dianggap menyimpang (deviance). Alih-alih mengembalikan harmonisasi namun berujung pada degradasi. Intervensi jauh dari assesmen dan lebih banyak mengedepankan asistensi. Potensi kian redup dan majal padahal akan ada kontribusi jika potensi itu terus diasah dan diasuh. Hal ini didokumentasikan dengan baik bagaimana individu difabel mengguncang tanah air karena prestasinya menembus babak final kompetensi musik bergengsi.

Sebagaimana karakter komedi gelap tadi yang eksentrik dan tidak biasa, barangkali kekhawatiran itulah melandasi pandangan ini karena menyentuh sensitivitas dan keintiman individu. Kuswandi (2022) dalam penelitian menunjukkan jika komedi gelap dipersepsikan positif dan negatif oleh informannya. Walaupun demikian, informan tetap terbuka dalam menanggapi konten komedi gelap yang murni sebagai lelucon. Hanya saja, ada batasan seperti; ruang lingkup, cara penyampaian dan kapasitas diri yang perlu mendapat perhatian. Ruang lingkup inilah yang seakan luput dari komunikator maupun komunikan komedi gelap. Kemudian diperparah media sosial dan cancel culture yang melihat konten secara sekilas dan tidak utuh.

Bukan Pandangan Arus Utama

Mengubah tragedi menjadi komedi bukan merupakan pandangan arus utama. Ini lahir  setelah merasakan asam garam kehidupan. Bukan tidak mungkin pula dengan cepat tersingkap tabir oleh individu-individu tertentu yang mampu menyibak hikmah dibalik tragedi. Masih sedikit pemahaman masyarakat mengenai disabilitas dan partisipasi difabel di dalamnya. Tulisan ini mengapresiasi pandangan individu-individu difabel yang menerima kondisi diri dan mengubah sesuatu menjadi bernilai. kemudian mendukung pandangan terakhir untuk mengangkat posisi kelompok difabel berikut dengan hak-hak mereka yang selama ini masih belum terpenuhi.

Palestina vs. Israel: Nasionalisme dan Kolonialisme

(Suatu Tinjauan Sosiologi Kekerasan)


Kawasan Timur Tengah kembali memanas pasca kelompok Hamas Palestina menggencarkan serangan mendadak ke Israel tidak jauh di perbatasan Gaza, Sabtu (7/10/23) dini hari waktu setempat. Akhir pekan yang berubah mencekam, karena serangan ribuan nuklir itu tepat ditujukan ke Tel Aviv dan Yerusalem, menembus sistem pertahanan Iron Dome menghancurkan banyak bangunan. Frank Gardner, koresponden keamanan BBC, menyatakan serangan itu bisa lolos karena intelijen Israel “tertidur”.

Gempuran mendadak itu menambah catatan panjang “konflik” antara dua kawasan yang dimulai setengah abad lalu—penting untuk dicatat, termin konflik bukan istilah yang pas untuk menggambarkan keadaan sebenarnya di lapangan. Di kesempatan terpisah, perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyebut serangan itu tidak dapat dimaafkan dan menyebut kelompok Hamas merupakan organisasi teroris. Suatu pernyataan yang sebenarnya kontraproduktif mengingat sejarah panjang kolonialisme Israel atas warga Palestina. Dalam hal ini, kolonialisme Israel lebih berbahaya dari terorisme yang dilakukan sembunyi-sembunyi. Kolonialisme Israel selama ini merupakan pendudukan, pembajakan, penindasan, dan pembunuhan yang dilakukan terang-terangan, tapi sunyi dari suara kritik sebagian besar negara-negara dunia. Karena itu, merupakan standar ganda menyesatkan dari pernyataan perdana menteri Israel itu.

Yang terjadi di Palestina saat ini, merupakan seperti dikatakan Ilan Pappe, sejarawan Yahudi pro Palestina, adalah suatu pembersihan etnis. Merupakan tindakan pengecut bagi Israel jika menginginkan suatu tatanan dunia hanya dengan tujuan melestarikan etnis atau suku bangsa tertentu. Sudah menjadi pemahaman umum, teori keunggulan manusia berdasarkan penampakan fisik, warna kulit, atau ras merupakan ilmu yang objektif. Karena tidak sesuai fakta-fakta empiris sudah lama teori ini ditinggalkan. Pappe menyebut Israel selama ini tengah mengembangkan propaganda keyakinan untuk membenarkan bahwa Israel-lah penduduk asli di Palestina, yang sebenarnya hanyalah mitos belaka.

Di beberapa media sosial beredar tentara-tentara Israel yang tertangkap dan menjadi tawanan militan Palestina. Galibnya tawanan sudah pasti merasakan ketakutan dan kekhawatiran persis seperti tawanan Israel yang beredar itu. Menjadi pertanyaan untuk konteks itu, seperti apakah dampak dari beragam peristiwa kekerasan perang bagi kedua belah pihak? Bagaimanakah perang jalanan bertahun-tahun membentuk psikologis mereka? Seperti apakah arti perang bagi Israel terlebih lagi Palestina? Pertanyaan ini tidak baik untuk saya jawab di sini, tapi satu hal yang pasti, tentara Israel yang nampak merengek minta dibebaskan cukup menggambarkan bagaimana situasi psikis militer Israel saat ini. Kekerasan perang nampaknya menjadi instrumen negatif, setidaknya untuk dirinya. Berbeda dengan sebuah tayangan seorang istri pejuang Palestina yang haru dan bahagia atas kabar kematian suaminya akibat serangan drone Israel. Tentu makna kematian disambut kebahagiaan wanita ini adalah syahid, satu konsep kematian yang tidak dipahami tentara sekuler masa kini.

Kekerasan seringkali menjadi momok, tapi kerap juga menjadi instrumen melahirkan kekerasan baru. Itu artinya, momok akan melahirkan momok baru, yang merupakan respons atas kekerasan sebelumnya. Persis seperti itulah dibilangkan Dom Camara, pemikir Amerika Latin, dengan konsep spiral kekerasannya, yang mengandaikan kekerasan akan saling berbalas kekerasan selama terjadi di tantanan personal, institusional, dan struktural. Tapi, di kawasan terkhusus Palestina, kekerasan tidak saja berbentuk spiral, melainkan seporadik dan menyebar sehingga lebih menyerupai ledakan-ledakan kecil yang dibalas dengan ledakan lainnya dengan eskalasi yang semakin meninggi. Dalam arti ini, kekerasan yang silih berganti bisa mempengaruhi tatanan budaya sehingga melahirkan tradisi kekerasan.

Patut disayangkan jika mengingat kesaksian banyak aktivis pendidikan di Palestina, yang mengatakan kolonialisme telah mengubah perangai anak-anak di Palestina. Anak-anak yang tumbuh di kawasan perang seperti Palestina akan tumbuh menjadi tidak normal karena kehilangan keriangan dan kegembiraan. Mereka akan berubah menjadi seseorang yang berjiwa keras, dan akan sulit menerima apalagi mempercayai orang asing. Masa anak-anak akibat perang, dengan kata lain, telah mentransformasikan jiwa polos mereka dari kebahagiaan menjadi rasa was-was dan kekhwatiran akut. Kekerasan perang memberikan dampak mental tidak main-main sampai dapat mengubah cara mereka merasa, berpikir, serta cara bertindak.

Di Palestina pendidikan hampir tidak berdampak signifikan, terutama apabila dilihat melalui fungsi edukasinya, disebabkan sebagian besar anak-anak enggan pergi bersekolah. Boleh dikata, pena dan papan tulis kehilangan daya pikatnya sehingga membuat ilmu pengetahuan tidak lebih dihargai jika itu tidak ditujukan untuk mendorong mereka menjadi pejuang jalanan. Mereka lebih senang disodori senjata atau batu-batu katapel untuk menjadi senjata konfrontasi dengan musuh-musuh tentara Israel. Toh jika mesti bersekolah di tenda pengungsian, mereka ingin belajar tentang bagaimana cara merakit bom, menyusun strategi perang, atau mengetahui teknik-teknik sabotase dibandingkan mesti mempelajari matematika atau astronomi, ilmu-ilmu yang sama sekali tidak cukup dibutuhkan untuk kondisi mereka saat ini.

Singkatnya, peperangan sangat berdampak bagi pertumbuhan perkembangan kejiwaan anak-anak Palestina. Bahkan kematian itu sendiri sudah menjadi ontologi kesadaran yang membuat setiap anak-anak sudah sangat akrab dengan peristiwa hidup mati, sampai-sampai belakangan ini setiap anak di Palestina menandai nama-namanya di telapak tangan mereka. Sewaktu-waktu jika satu di antara mereka mati terkena bom atau reruntuhan bangunan, membuat pekerjaan menjadi lebih mudah bagi keluarga mereka. Dengan nama itu setiap tubuh mungil mereka akan lebih mudah teridentifikasi.

Masyarakat Palestina saat ini boleh jadi tidak demikian akrab dengan gagasan-gagasan perubahan yang kerap ditemui di negara-negara modern, yang cukup antusias dengan kemajuan dan progresivitas sejarah yang diandaikan mengalami loncatan-loncatan kemajuan. Bagaimana mungkin gagasan semacam itu dapat mendorong wacana pembangunan di tempat mereka jika setiap saat, seinci demi seinci tanah mereka dirampas sehingga banyak di antaranya terancam tidak dapat memiliki tempat tinggal. Perang berkepanjangan apalagi, membuat hari-hari di antara mereka lebih mengutamakan gagasan mempertahankan kehidupan mereka dibandingkan berpikir untuk mengembangkan bangsanya. Seolah-olah pergerakan sejarah berhenti di Palestina.

Bahkan kematian itu sendiri sudah menjadi tujuan hidup alih-alih mengorientasikan semua dari apa yang mereka miliki kepada kehidupan. Dalam hal ini persis seperti dikatakan Baruch Spinoza, filsuf jelang modernisme, bahwa kebijaksanaan masyarakat modern lebih menaruh perhatian besar kepada kehidupan daripada kematian. Paling-paling untuk saat ini kematian bagi zaman kiwari hanya lebih dapat dipahami sebagai angka-angka statistik yang ditemui di lembaga-lembaga internasional ketimbang sebagai sebuah peristiwa bermakna. Singkatnya, dengan kesadaran semacam itu, kematian jika bagi sebagian kita menghindarinya, tidak untuk Palestina. Tidak banyak pilihan yang dapat mereka ambil selain mempersiapkan kemungkinan akhir dengan kematian yang lebih bermakna dalam rangka membela pertiwinya.

Kekerasan senantiasa berwajah ganda: konflik dan perang. Keduanya sulit dibenarkan apalagi jika di balik itu menyimpan sejumlah asumsi yang melegitimasi tindakan itu. Kita semua mengerti motif di balik perampasan tanah dilakukan Israel kepada Palestina didasarkan bukan atas narasi sejarah belaka, tapi juga karena didorong oleh nasionalisme sempit, yang sebenarnya cukup absurd. Bagaimana tidak, dibandingkan bangsa lain, Israel satu-satunya negara di dunia ini yang dasar nasionalismenya tidak dilahirkan dari sejarah pergerakan rakyat. Israel justru dibentuk atas lobi-lobi politik elite negara Eropa dalam rangka memperpanjang era kolonialisme baru. Tidak seperti Indonesia, misalnya, tidak akan ditemukan founding father yang sejak awal bergerak menghimpun kelompok terjajah untuk mendeklarasikan kemerdekaannya melalui pertumpahan darah sebelumnya.


Konflik dan perang merupakan kondisi yang dapat menghancurkan berbagai tatanan, termasuk di dalamnya sistem berpikir. Dalam keadaan itu, atas nama ras, agama, atau nasionalisme dapat mengubah persepsi dan berpeluang menjadi legitimasi yang membenarkan perilaku kekerasan. Dengan kata lain kekejaman perang yang menyebabkan kengerian, penderitaan, dan ketakutan tidak akan bermakna lagi karena alasan atas nama sebuah nilai yang menjadi dasar ideologisnya. Makanya tidak heran, selama masa perang tiga minggu belakangan, di media sosial Tik Tok, tidak sedikit konten kreator asal Israel memeragakan olok-olok kepada penduduk Palestina melalui gimik korban perang dengan akun reels mereka. Tidak sama sekali bersimpati apalagi empati kepada korban kekerasan perang, tapi itulah watak dari bangsa agresif yang menghilangkan karakteristik kemanusiaan bagi anak-anak bangsanya.

Indonesia dan Palestina memiliki semacam kesamaan, keduanya dekat secara perasaan yang sama-sama pernah mengalami kekerasan perang dari masa lalu. Karena itu secara psikologis sebagai bangsa solidaritas atas Palestina sama artinya dengan perasaan senasib dan sepenanggungan. Palestina bahkan negara pertama yang mengakui nasionalisme Indonesia. Jika begitu siapa yang mau beralasan untuk menerima kolonialisme Israel untuk palestina saat ini?


Penderitaan; Suatu Tinjauan Filsafat

Aktivitas manusia di era sosial media adalah produksi dan distribusi konten. Konten quote-quote adalah konten yang paling banyak berseliweran. Quotation adalah sebuah kalimat atau syair pendek yang disampaikan dalam rangka memberi makna ataupun mengobati perasaan derita dalam hidup. Penderitaan divisualisasikan dan didistribusikan melalui quote pada jejaring sosial media dalam upaya agar setiap orang diharapkan dapat sembuh dari penderitaannya. Mengapa kita menderita? Apakah hanya manusia yang menderita? Dari perspektif filsafat, satu-satunya makhluk alam yang merasakan penderitaan adalah manusia. Hal ini karena hanya manusia yang memiliki pengetahuan tentang kemewaktuan atau kemampuan kesadaran akan masa lalu, kini, dan nanti. Melalui kesadaran itu manusia mampu menghubungkan kegelisahan yang dirasakan saat ini dengan kejadian di masa lalu yang membuatnya menderita. Penderitaan lampau akhirnya menjadikan manusia hari ini, dan keadaan sekarang tentu diarahkan agar di masa depan menjadi lebih baik.

Penderitaan dari tinjauan filsafat dapat difragmentasikan kedalam tiga cara pandang. Pertama, paradigma bahwa penderitaan adalah fenomena yang wajib kita hindari. Hidup tanpa derita adalah hidup yang paling bahagia. Pandangan ini digaungkan pada era filsafat Yunani. Lebih spesifiknya pada era helenisme, pandangan filsafat hedonisme dan stoikisme mewakili corak berpikir yang menolak hidup di bawah payung penderitaan. Menurut hedonisme Epikurus, penderitaan dihindari melalui pengoptimalan kenikmatan. Berbeda pada era sebelum filsafatnya, Epikureanisme memandang kenikmatan sebagai epifani atas terpenuhinya hal yang kita butuhkan.

Kenikmatan dipahami dua bentuk, yakni terdiri atas kenikmatan dinamis dan kenikmatan statis. Kenikmatan dinamis adalah kenikmatan yang diperoleh ketika proses ketercapaian kepuasan berlangsung. Sementara kenikmatan statis adalah keadaan ekuilibrium yang tercipta ketika kepuasan itu tercapai. Misalnya, kenikmatan yang diperoleh dari upaya untuk memuaskan rasa lapar yang masih berlangsung maka itu disebut kenikmatan dinamis. Namun rasa tenang muncul pasca terpuaskannya rasa lapar adalah kenikmatan statis. Bagi Epikurus, kenikmatan yang lebih murni adalah kenikmatan statis, karena ketika jasmani mencapai keadaan ekuilibrium, penderitaan pun lenyap. Maka untuk menjaga keadaan ekuilibrium tersebut, Epikurus menganjurkan agar tidak mewujudkan kenikmatan yang didasari oleh keinginan yang meluap-luap dan tidak terbatas.

Sementara itu, filsafat Stoikisme mencoba menghindari penderitaan dengan mengabaikannya, segala fenomena yang ada di luar kendali-menyebabkan kita menderita-sebaiknya dinafikan. Penderitaan bagi Stoik lahir dari persepsi yang terbentuk pada diri kita atas sesuatu di luar diri kita. Kita menderita akibat persepsi kognitif yang kita bentuk sendiri. Agar hidup bahagia, maka cukup dengan mengendalikan rasionalitas yang membentuk persepsi kita atas sesuatu.

Kedua, cara pandang yang menolak menghindari penderitaan atas dasar kenyataan bahwa kita sepatutnya tidak dapat menghindar. Kehidupan adalah rangkaian berkelindan dengan penderitaan itu sendiri. Olehnya itu kebahagiaan menjadi bagian kecil dari perjalanan kehidupan manusia. Semacam terminal persinggahan atau peristirahatan manusia dalam menjalani kehidupan penuh derita. Bahagia itu sesaat, penderitaan itulah yang hakiki. Mustahil menemukan hidup yang tidak terdapat penderitaan di dalamnya. Cara pandang seperti ini diwakilkan oleh filsuf Arthur Schopenhauer (1788-1860).

Baginya, penderitaan dapat muncul karena manusia memiliki will (kehendak). Will ini diartikannya sebagai nafas atau energi utama yang menggerakkan kehidupan kita. Dorongan tersebut membuat kita hidup dan melakukan sesuatu. Segala sesuatu bersumber darinya, sehingga penderitaan adalah suatu keadaan ketika kehendak tidak terwujud. Misalnya, saat kita berkehendak memiliki si A jadi pasangan, maka seluruh energi dan potensi diarahkan untuk mendapatkannya. Namun ketika kenyataan si A menolak menjadi pasangan kita terjadi, maka saat itulah penderitaan tiba.

Sebaliknya, Penderitaan tidak menghampiri jika kita tidak memiliki kehendak memiliki si A. Atas dasar itu, Schopenhauer menganggap bahwa biang keladi kita menderita ialah kehendak/will. Kehendak adalah hasrat berlebih, kemauan yang baka, buruk, hina, dan seterusnya. Olehnya itu kehendak mesti dikendalikan. Mengendalikan kehendak bagi dia adalah dengan hidup asketis. Hidup dengan menghindari kemewahan, mengebiri diri dari kehidupan dunia yang dianggap sebagai sumber kejumudan. Pendekatan pesimisme terhadap kejumudan dunia selanjutnya menjadi magnum opus dari filsafatnya dan memberi pengaruh bagi pemikiran setelahnya.

Ketiga adalah cara pandang filsafat Friedrich Wilhelm Nietzsche (1844-1900). Pandangan Nietzsche tentang penderitaan merupakan kelanjutan pandangan Schopenhauer. Sebagaimana Nietzsche sendiri mengakui Schopenhauer sebagai gurunya dalam hal memaknai penderitaan. Senafas dengan gurunya, bagi Nietzsche penderitaan adalah bagian kehidupan manusia. Akan tetapi, bertentangan dengannya Nietzche memilih paradigma optimis dalam menghadapi kehidupan. Kebijaksanaan dapat berkembang melalui penderitaan. Semakin sering kita menderita, ditempa musibah dan semacamnya, maka semakin mapan dan matang pula kita dalam menjalani hidup.

Penderitaan tidak perlu dihindari, bahkan penderitaan semestinya dirangkul dan dijadikan teman dalam menjalani hidup. Penderitaan menjadi batu loncatan, ruang bagi jiwa kita ditempa agar kuat dalam menghadapi hidup beserta problemnya. Hampir seluruh tokoh-tokoh revolusioner dunia lahir dari rahim penderitaan. Nelson Mandela di Afrika, dilahirkan dari penderitaan hidup di penjara selama 27 tahun di Pulau Robben, Pollsmoor, dan Victor Verster. Ruhullah Imam Khomeini merupakan Tokoh revolusioner modern. Beliau melalui penderitaan ke penderitaan untuk dapat menumbangkan rezim Reza Shah Pahlevi (1941-1979). Terusir dari negaranya, kerabat, dan keluarganya kurang lebih selama 15 tahun. “Pelaut ulung tidak pernah dilahirkan dari laut yang tenang”. Kiranya demikian tokoh-tokoh besar menjalani kehidupannya. Mereka menunjukkan sikap optimisme dalam menghadapi penderitaan. Akhirnya bagi Nietzsche Penderitaan adalah madrasah bagi penciptaan manusia sempurna (Ubermensch). Cara manusia menjalani penderitaan adalah cara manusia menyempurna.

Syahdan, dapat diuraikan simpulan sederhana dari problema di atas. Penderitaan, derita, rasa sakit adalah bagian dari kehidupan. Sebagaimana bahagia, senang, tertawa juga bagian lain dari hidup kita. Kenyataannya kita cenderung menghindari penderitaan dari pada meraih kebahagiaan. Karena saat terhindar dari derita, saat itulah kita sementara nongki pada terminal kebahagiaan.

Term derita pada dasarnya menjadi salah satu aspek kajian sufisme Islam. Terminologi derita dalam sufisme Islam dimaknai sebagai keterpisahaan eksistensi diri dari kesempurnaan. Manusia menderita akibat jarak antara kesempurnaan dengan eksistensinya. Fakta ontologis tersebut bertransformasi pada wujud kesehariannya. Sehingga dari perspektif sufisme sejatinya tidak ada fenomena lahiriah yang dapat membuatnya menderita. Orang-orang pilihan, suci, dan murni tentu meneguk derita dengan penuh kebahagiaan. Sebagaimana persaksian Siti Zaenab RA ketika disindir dengan pertanyaan menohok dari kekuasaan atas nasib nahas yang menimpa saudaranya, Imam Husain di Karbala. Beliau memaknai derita dengan berkata, “Tidak ada yang ku lihat kecuali keindahan”.

Sumber gambar: rumahfilsafat.com