Arsip Kategori: Esai

Di Fort Rotterdam, Malik Mengisahkan ‘Kelapa Sawit Membunuh Manusia’

“Sawit itu seperti militer: bercak hitam dan hijau. Itu membunuh orang…” — Sophie Chao.

SUATU siang, di sela-sela Saya tunai satu hajat, datang sebuah pesan WhatsApp dari Malik Rumakat. “Kak, Icak! Sehari dua katong bacarita sagu di Fort Rotterdam Makassar.” Malik juga memberitahu, kalau ia tak sendiri, bakal hadir juga Kasim Rumain. Dua utusan Wanu Sinema, pada lokakarya Bacarita Digital Volume Dua “Kekayaan Pangan Nusantara”  yang dihelat Rumata’ Artspace dan Kemendikbudristek, di penghujung Februari, bulan kemarin.

Saya sambut private chat itu dengan dua perasaan, senang dan cemas. Perasaan senang karena tak lama lagi dikunjungi saudara sepersusuan, sedangkan perasaan cemas gara-gara khawatir adik saya terseok-seok menempuh perjalanan sejauh 1212 kilometer, 751 mil. Malik memulai titik berangkat dari Kian Darat-Seram Timur, menuju Bula kota Kabupaten Seram Bagian Timur (jarak tempuh 95,2 kilometer atau perjalan darat selama 2 jam 22 menit). Selanjutnya dari Bula ke Ambon kota Provinsi Maluku (jarak tempuh 304 kilometer atau perjalan darat selama 24 jam), dan perjalanan berakhir di Kota Makassar (penerbangan nonstop selama 1 jam, 40 menit).

Tatkala tiba di Fort Rotterdam, atau saat dihimpit puluhan manusia, Malik menyadari satu hal—kemudian ditengkan kepada Saya, selagi kami ‘ngopi proletar’ di kontrakan Antang (satu hari setelah kegiatan Bacarita). “Ini semua berkat sagu, meski kadang Beta remehkan di meja makan.” Malik tak membayangkan sebelumnya, sagu yang ia anggap enteng di tiap ‘gelar tikar’, yang bakal membawa dirinya berlayar sejauh 1.212 kilometer 751 mil dari pelosok Seram Timur, bertemu dan bercakap dengan segenap orang di kota.  

Hari itu, di benteng yang menjadi penanda kota Makassar, perempuan-lelaki, tua-muda merangsek dari satu stand ke stand pameran lain, kemudian mereka bergumul di meja jamuan, yang jaga Malik dan Kasim. Sebuah kenap beralas daun pisang, di sana tergolek olahan pangan sagu (sagu bambu dan sagu tumbu), ikan Julung, dan kenari asap. Saya di sana, menyaksikan hilir-mudik puluhan manusia yang tumpang tindih di meja jamuan itu. Seakan-akan Saya diperhadapkan dengan ‘The Last Supper’, lukisan perjamuan terakhir karya Leonardo Da Vinci. Sementara Malik atau Kasim, mereka sontak kaget, lantaran orang-orang kota ini memamah habis sagu dan ikan Julung yang tersaji.

Sialnya, mereka tak cuma mencicipi, orang kota ini, begitu liar mengulik rupa cerita kreativitas meramu—cerita-cerita yang selama ini cuma dijumpai di dapur-dapur pelosok atau menjadi otoritas perempuan. Malik, laiknya rohaniwan yang mengisah ‘Lima Roti dan Dua Ikan’ kepada murid-murid Sekolah Minggu—tapi dirawikan Malik, melampaui yang dicatat Alkitab, yakni ‘Dua Puluh Roti (Sagu) dan Lima Ikan (Julung)’.

Menariknya, Malik bergerak membawa mereka melampaui cerita ‘bagaimana sagu diramu’, menuju cerita ‘kepunahan sagu’ yang menunggu waktu saja. Hemat Malik, kisah nahas sagu ini (atau pangan yang lain), perlu diketahui orang kota. Sebab mereka tak punya tradisi menanam, kecuali tradisi membelanjakan pangan yang datang dari kampung, yang kata Malik, pangan-pangan itu tengah dibinasa oleh ‘orang kota’ sendiri. Melalui perkebunan raksasa.

Mula-mula Malik mendaku, “Sagu bisa disimpan selama satu tahun, atau lebih lama dari waktu itu lagi, tanpa formalin.” Orang-orang kota ini tampak tercengang, saat Malik mendegus keunggulan sagu. “Andaikata benar ramalan 11 miliar jiwa dilanda kelaparan di hari mendatang, setidaknya usia sagu yang panjang itu, sanggup mengatasi musibah tersebut.”

Mungkin sebagian besar orang tak percaya. Tetapi satu fakta yang dikemukanan Malik, Saya kira tak bisa disangkal. Di hadapan puluhan orang yang khidmat memasang kuping itu, Malik berkata. “Sekarang, di museum  Kew Royal Botanic Gardens, di London, Inggris. Tersimpan tiga lempeng sagu dalam kondisi utuh (mungkin masih layak dikonsumsi), meskipun sagu itu sudah berusia 164 tahun. Sagu berumur satu abad lebih itu, dibawa Alfred Russel Wallace ahli botani Inggris dari Waras-waras Seram Timur, pada 1 Juni 1860.”

Gagasan yang kemudian dibangun Malik, kalau sagu yang tersimpan di Kew Gardens, yang berumur satu abad lebih itu, adalah suatu simulasi ketahanan pangan. Dan boleh jadi, itu jawaban pasti yang diberi pangan sagu, dalam mengatasi rasa cemas miliar manusia yang diprediksi akan kesulitan mengakses makanan di masa mendatang.

Baru-baru ini PBB memproyeksikan populasi dunia pada 2050 akan mencapai 9,7 miliar, dan pada 2100 mencapai 11 miliar orang. Ledakan populasi manusia ini, tentu terjadi peningkatan akan kebutuhan asupan makanan. Itulah mengapa FAO, organiasi pangan dunia menaksirkan, produksi pertanian global pada 2050 harus 60% lebih tinggi dibandingkan produksi tahun 2005-2007 jika dunia ingin memenuhi kebutuhan pangannya. Dua informasi penting ini, lekas-lekas disanggah Malik, “Asalkan sumber pangan jangan dirusak!” kemudian Malik menohok, “Faktanya, kini hutan sagu pelan-pelan dibinaskan!”

Apa buktinya? Laporan Statistik Produksi Kehutanan 2020. Volume produksi sagu kuartal I 2023 mencapai 2,37 ribu ton. Angkanya meningkat tipis pada kuartal II 2,38 ribu, kemudian meningkat lagi pada kuartal III mencapai 2,41 ribu ton. Memasuki kuartal IV produksi sagu turun drastis menjadi 1,76 ribu ton. Apa pasalnya? Berbagai studi menyimpulkan kalau penurunan volume produksi sagu ini, dilatari oleh populasi pohon sagu yang menurun tajam sebagai akibat dari massifnya konversi hutan sagu menjadi lahan-lahan sawit.

Kelapa sawit membunuh manusia

Secara rata-rata nasional, luas perkebunan kelapa sawit Indonesia tumbuh 53,09% dalam kurun waktu 2011-2020. Luas lahan tertinggi dicapai pada 2020, yakni sebesar 14.586.599 Juta hektare. Di Maluku dan Papua, luas area sawit sebesar 179.314 hektare. Kenaikan lebih dari dua kali lipat ini berawal dari area sawit seluas 59.077 hektare di 2011, menjadi 238.391 hektare pada 2020 (Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, 2023). 

Di Maluku dan Papua, sebaran area sawit sebesar 179.314 hektare, tentu mengancam ekosistem hutan sagu. Maluku, semisalnya, ‘dusun-dusun’ sagu terus dibabat, dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, populasi tanaman sagu anjlok dari sekitar 100.000 hektare pada era 1960-1970 menjadi 58.000 hektare pada 2016. (Kompas, 2017). Sementara pada 2022, turun menjadi 30-an ribu hektare. Di Papua, semisal di Salawati Daratan Kabupaten Sorong, PT Inti Kebun Lestari mendapat izin konsesi seluas 28.256 hektare. Dari luas lahan kelapa sawit tersebut, sekitar 1.700 hektare merupakan hutan sagu milik empat marga: Mili, Malakabu, Fes, dan Libra ( EcoNusa,  2022).

Masifnya konversi hutan sagu jadi lahan sawit, membikin kerusakan lingkungan tak sedikit. Dampak paling mencolok dari aktivitas ini, yakni deforestasi dan kerusakan habitat. Kita tahu, penebangan hutan sebesar-besarnya (termasuk sagu), sama artinya, pengrusakan terhadap ‘rumah’ berbagai spesies tanaman dan hewan. Itulah mengapa banyak spesies hewan (juga sagu) terancam punah karena perubahan drastis pada hunian mereka. Imbas lain ketika perkebunan sawit berlangsung, yaitu pencemaran tanah dan air, hasil dari penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya. Efek jangka panjangnya; manusia, hewan, dan tumbuhan begitu sulit mengakses air yang layak—syarat tumbuh kembangnya.

Kehadiran perkebunan sawit di Papua, menyebabkan tingkat kerawanan pangan, malnutrisi, dan stunting yang sangat tinggi—padahal semula Papua adalah lumbung pangan sagu nomor kedua di Indonesia (Data pertanian 2021, Papua memproduksi sekitar 69.421 ton sagu). Masyarakat tradisional Papua mengandalkan hutan dan sungai sebagai persediaan makanan melalui perburuan, penangkapan ikan, serta pemanenan sagu dan umbi-umbian. Tetapi, geliatnya konversi hutan sagu jadi lahan sawit, disusul pencemaran air oleh pestisida, membikin masyarakat Papua terbengkalai mengakses kebutuhan primer mereka, yakni makanan dan air bersih.

Sophie Chao, Indonesianis dari University of Sydney, Australia. Saat meneliti suku Marind di Merauke selama 18 bulan, Chao melihat orang Papua punya hubungan khusus dengan dengan tanah dan hutan. Menurut Chao, dalam kosmologi Marind, tumbuhan dan hewan seperti kerabat. Masyarakat memandang tanaman baru semacam sawit seperti penjajah karena mengambil alih tanah dan semua sumber daya mereka. Hasil penelitian Chao ini kemudian terdokumentasi dalam buku In the Shadow of the Palms: More-Than-Human Becomings in West Papua yang terbit pada 2022.

Chao berkesimpulan dalam In the Shadow of the Palm: Dispersed Ontologies Among Marind, West Papua (2018), kira-kira begini: ‘kelapa sawit membunuh sagu’. Atau lebih tepatnya, ‘kelapa sawit membunuh manusia’. Musababnya, suku Marind menganggap hutan, pohon dan binatang sebagai kerabat mereka sendiri. Atau bagian dari manusia. Itulah mengapa ketika hutan sagu dibinasakan, sama artinya membinasakan manusia Marind. Chao dengan puisitis melukis, “Pohon sawit adalah ‘pohon tentara’. Soalnya, sawit itu seperti militer: bercak hitam dan hijau. Itu membunuh orang. Ini sangat kuat. Itu orang Indonesia, bukan orang Papua. Itu memakan kita. Duri Sawit, tajam seperti bilah bayonet. Buahnya keras dan bulat seperti peluru. Merah, seperti darah.” 

Dampak besar lainya dibikin pohon sawit, kataChao, terjadi konflik horizontal dan vertikal. konfliknya bukan hanya antara masyarakat, dengan pemerintah, atau perusahaan. Tetapi konflik melibatkan satu masyarakat, dengan masyarakat lain. Berupa konfilik tanah, kompensasi, partisipasi, dan pembagian keuntungan ketika proyek perkebunan ini tiba.

***

Malik benar, jika  kita terus-menerus menuruti keinginan pasar yang tak terbatas di dunia yang terbatas ini, maka kita akan menghadapi kehancuran lingkungan yang tak terperi. Dan kehancuran itu datang lebih cepat, daripada yang diduga. Dengan begitu, hemat Malik, prospek ketahanan pangan untuk miliaran manusia (termasuk anak-cucu kita) di masa depan merupakan sebuah khayalan.

Studi-studi yang datang belakangan, memberi kita ketidakpastian tentang dua hal yang sangat vital pada pertanian hari depan, yakni stagnasi lahan garapan, dan kelangkaan air. Perkebunan sawit, kata Malik, salah satu aktor yang merusak dua unsur penting pertanian berkelanjutan itu. Meminjam bahasa Chao, kelapa sawit membunuh sagu, yang pada gilirannya, kelapa sawit membunuh manusia.

Kiranya kita perlu revisi pandangan ‘manusia adalah pusat segalanya’. Padahal kata Malik, alam-lah yang mengatur manusia. Semisal air. Air yang mengatur manusia untuk pertanian. Ketika tidak ada air, maka tidak ada aktivitas ekonomi. Artinya mata pencaharian terhambat, dan selanjutnya manusia sulit mengakses segala kebutuhannya.

Syahdan. Satu hari di penghujung Februari bulan kemarin, Malik Rumakat terseok-seok menempuh perjalanan sejauh 1212 kilometer, 751 mil, tiba Fort Rotterdam. Di hadapan puluhan orang yang khidmat memasang kuping. Malik, seperti Chao, mengisah kelapa sawit membunuh sagu, pada gilirannya, sawit membunuh manusia.

Hari-Hari yang Buruk

Hampir setiap orang pernah merasakan nasib sial. Atau bernasib buruk di hari-hari yang lain. Di masa lalu, saat masih di bangku sekolah, orang seperti saya menganggap Senin adalah hari yang buruk. Masuk sekolah mesti lebih cepat: upacara bendera. Berbaris dan berdiri panas-panasan hingga topi dan seragam seperti handuk basah.

Anda menjadi lebih sial jika tidak gesit mengambil tempat di bawah pohon rindang. Sebatang pohon mangga, misalnya, yang sering Anda lempari buahnya meski belum ranum.

Dan, hari itu Anda bisa saja akan menjadi terdakwa. Inilah saat ternahas Anda. Dunia sedang memunggungi diri Anda karena itulah hari paling bedebah: Anda telat datang lalu hanya berdiri bersama barisan anak-anak sial lainnya. Kali ini Anda berdiri di luar pagar sekolah. Tapi, bersama menjadi lebih mudah. Seringkali jika seseorang bersalah ia akan segera mencari orang yang bernasib sama untuk menormalisir perasaannya, ketakutannya. Itulah manusia, bahkan sebuah pelanggaran dapat menjadi lumrah jika disepakati banyak pihak.

Hari buruk lainnya, untuk saya adalah ketika di hari lain akan mempelajari matematika, fisika, atau kimia. Sudah sejak malam sebelumnya melihat roster pelajaran menjadi pekerjaan paling malas. Keburukan Anda menjadi dua kali lipat jika ketiga pelajaran itu bercokol di hari yang sama. Saya rasa guru atau siapa pun yang menyusun jadwal seperti ini perlu mempelajari ilmu psikologi dengan serius, atau ilmu pendidikan dengan lebih baik lagi.

Tidak semua orang menyukai ilmu perhitungan, sedangkan sebagian lainnya lagi akan menganggap ilmu seperti itu tidak akan berguna di kemudian hari. Mungkin orang semacam ini ada benarnya, karena tidak mungkin semua orang akan bekerja dengan menggunakan ilmu semacam itu setiap harinya. Dengan alasan ada orang-orang tertentu telah mempelajarinya mati-matian, maka tugas sebagian yang lainnya hanya untuk menikmati hasil kerjanya. Tapi, tidak tepat juga ilmu semacam matematika, misalnya, tidak akan berguna untuk masa depan seseorang. Setiap saya menghindari ilmu seperti ini di masa lalu, semakin membuat saya menyadari untuk saat ini perlu bagi setiap orang untuk memilikinya agar membantunya dapat berpikir analitis, memahami pola-pola, dan dapat membantunya untuk memecahkan masalah yang membutuhkan pendekatan logika.

Semakin ke sini, setiap bidang kehidupan memerlukan kesatuan ilmu-ilmu. Di dunia akademik, integrasi ilmu-ilmu juga sudah menjadi hal lumrah.

Saya tidak tahu apa arti hari buruk bagi Anda, dan juga apakah Anda hari ini sedang menjalani hari yang indah? Kita pernah mengalami hari-hari buruk yang cukup panjang, bahkan sampai tiga dekade lamanya. Hampir seluruh usia saya saat ini. Tidak bisa dibayangkan jika seseorang hidup di dalam hari-hari buruk seperti ketakutan menyatakan pendapat, kekhawatiran berkumpul dan berserikat, atau tidak ada jaminan kesehatan serta pendidikan yang mampu menjamin masa depan.

Bagi negara demokratis hari-hari buruk tidak sama persis dialami seperti negara otoriter. Bagi negara otoriter hampir semua orang tidak memiliki kebebasan berekspresi, dan bagi intelektualisme ini merupakan ancaman berbahaya. Sementara bagi negara demokratis, demokrasi bisa berjatuhan tidak sama seperti di negara otoriter yang menggunakan kudeta atau kekerasan, melainkan melalui pemerintahan hasil pemilu, yang sebelumnya telah melakukan rekayasa publik dengan mengubah aturan mainnya. Meminjam Levistky dan Ziblatt: “Kemunduruan demokrasi hari ini dimulai di kotak suara”.

Beberapa hari lalu kita telah melalui hari-hari paling menentukan, terutama untuk perjalanan bangsa ini. Bagi banyak orang, demokrasi ketika kali pertama ditemukan merupakan hari paling bahagia. Itulah saat ide-ide sakral yang berasal dari langit tidak akan lagi digunakan. Tiang-tiangnya telah diguncang oleh suara mayoritas. Dan, sejak saat itu suara mayoritaslah yang paling afdal menentukan kebahagiaan banyak orang.

Di dunia ini, tidak sedikit orang merasa bahagia jika mampu berpikir dalam-dalam menyerupai para filsuf. Mengoleksi banyak buku agar mengisi jiwanya yang kosong. Juga hampir semua orang yang menginginkan banyak uang untuk merasakan bahagia, sama seperti sekelompok orang yang cukup senang jika diberikan makanan gratis. Tapi, banyak orang akan merasakan hari buruk apabila roda kendaraannya pecah saat buru-buru mengejar pesawat. Saya kira banyak orang pernah mengalami ini.

Saya pernah kehilangan dompet, ditilang polisi, lalu sekali tempo gagal dalam sebuah tes wawancara. Semua itu hari buruk bagi saya. Anda juga mungkin memiliki pengalaman semacam itu, seperti salah memilih pasangan hidup, atau salah memilih figur pemimpin, misalnya. Sokrates adalah orang yang mengalami dampak buruk keduanya. Ia menikahi seorang perempuan super cerewet dan galak, tapi karena itu ia menjadi filsuf. Di banyak tempat, banyak bangsa-bangsa demokratis salah memilih pemimpin. Mereka justru memilih seorang calon diktator yang tidak akan membuat apa-apa selain hari-hari buruk setelahnya. Semoga Anda tidak.

Jembatan Ingatan dari Laut Bercerita

Era Reformasi yang dipancang sejak 1998—ditandai dengan jatuhnya rezim Soeharto—kini mendekati usia 24 tahun. Bagi sebagian generasi tua dan sebagian lagi generasi milenial, peristiwa ini tentu masih diingat sebagai peristiwa huru-hara politik—krisis ekonomi, penjarahan, pemerkosaan, aksi demonstrasi, penculikan, dan sebagainya.

Lalu bagaimana dengan generasi muda yang lahir setelahnya atau lazim disebut Gen-Z? Apakah mereka mengetahui dan memahami peristiwa apa yang sebetulnya terjadi? Sejauh mana imajinasi dan kesadaran mereka terhadap sejarah politik negara dan bangsa mereka sendiri—dalam hal ini peristiwa 1998?

Atas pertimbangan itulah, kurang lebihnya, Leila S. Chudori, sastrawan perempuan Indonesia, menulis novelnya berjudul “Laut Bercerita”. Novel yang telah naik cetak 20 kali ini memberikan gambaran betapa tidak berperikemanusiaannya rezim militer Soeharto, namun sekaligus menjadi pengingat: tanpa ada gerakan pemuda dan para mahasiswa, mustahil perubahan penting bisa terjadi di Indonesia ini. Namun, mirisnya, beberapa pemuda dan mahasiswa tersebut mesti membayar mahal kepada penguasa zalim atas tekad mereka dengan cara dikejar, disiksa, diculik, dan dibunuh.

Nah, “Laut Bercerita” dapat menjadi jembatan ingatan yang akan mengajak kita merenungi kembali satu sisi peristiwa kemanusiaan yang pernah terjadi pada tahun 1998 itu: penculikan dan penghilangan paksa. Melalui sudut fokus inilah Leila S. Chudori mengajak kita menyelami kisah novelnya setebal 379 tersebut. Kasus tersebut masih belum tuntas hingga hari ini, dan keluarga penyintas masih setia setiap Kamis berdiri di depan istana kepresidenan, menuntut keadilan, yang kemudian disebut sebagai Aksi Kamisan.

Laut Bercerita. Ini Laut, nama pendek tokoh utama dari Laut Wibisono. Ia seorang aktivis mahasiswa. Di dalam novel ini, sebagian bab akan diisi oleh suaranya dari bawah laut, pasca suksesi penyiksaan, tentang perjalanan hidup yang telah ia alami. Si Laut bersama sahabatnya, Sunu, Alex, Kinan, Daniel, Gusti, Julius, Bram dan beberapa aktivis lainnya berjuang melawan kekejaman rezim. Mereka lantas menyewa sebuah rumah kontrakan di Seyegan, Yogyakarta. Di tempat inilah mereka rutin berdiskusi dan menyusun aksi secara diam-diam.

Secara teknik dan narasi novel ini menggunakan pola plot maju mundur. Kisah-kisah yang mengalir berjalin kelindan antara peliknya perjuangan sehari-hari dalam pertemanan, suka-duka menjalankan aksi baik di jalanan atau di akar rumput di desa-desa, sampai perihal jalinan asmara yang sungguh memilukan walaupun kadang liar.

Narasi “Laut Bercerita” terbilang ringan yang nyaris terkesan ‘ngepop’. Namun, menurut saya, justru metode ini jadi media efektif untuk menghantarkan sejarah kelam bangsa sendiri ke generasi muda. Sejauh ini saya lihat yang mengapresiasi novel ini sebagian besar adalah generasi 90an akhir atau 2000an awal.

Namun, ini bukan novel ideologis. Dia justru memfokuskan substansi novel pada aspek kemanusiaan para tokohnya—aktivis yang punya keluarga, punya kekasih, memiliki selera seni atau musik sendiri. Justru hal ini memberi efek kilau tersendiri yang membuat kita semakin kagum dengan perjuangan para tokohnya yang berumur 20-an dalam menyuarakan suara rakyat tertindas. Jadi mereka bukan dewa, tapi manusia biasa yang didorong oleh perasaan kemanusiaan yang dalam.

Kisahnya sederhana dan mudah diikuti—meskipun ada teknik maju mundur tadi. Namun, di tangan Leila S. Chudori, novel ini menjadi karya yang bakal meremas jantung dan perasaan kemanusiaan kita. Saya kira bakal sangat mudah memantik diskusi terkait peristiwa 1998 dengan generasi muda lewat novel ini. Anak muda tidak dijejali dengan teori politik, tapi diajak memahami politik melalui peristiwa kemanusiaan.

Kesan paling kuat yang saya tangkap seusai membaca novel ini adalah perbandingan peristiwa di dalam novel dengan realitas di luar novel. Saya tak bisa pungkiri, setuntas membaca “Laut Bercerita” ini mau tak mau saya menyandingkannya dengan kisah nyata beberapa anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang pernah diculik lalu dibebaskan atau hilang sampai saat ini. Contohnya, tokoh Sang Penyair mengingatkan saya pada sosok Wiji Thukul, yang kita tahu adalah korban penghilangan paksa yang belum kembali sampai saat ini. Masih banyak lagi. Tapi Leila sangat piawai menjadikan kisah mereka sebagai dunia fiksi tersendiri, yang membuatnya menjadi nilai universal.

Ini buku perlu dibaca agar kita senantiasa ingat pada peristiwa kemanusiaan yang sebagian besar kasusnya belum tuntas itu. Agar tidak lagi peristiwa serupa terjadi di masa mendatang. Sekaligus menyelami penderitaan samudera batin para keluarga penyintas yang anggota keluarganya masih sumir keberadaannya. Seperti kalimat salah satu tokohnya, Asmara Jati (245), “Dan yang paling berat bagi semua orangtua dan keluarga aktivis yang hilang adalah: insomnia dan ketidakpastian. Kedua orangtuaku tak pernah lagi tidur dan sukar makan karena selalu menanti “Mas Laut muncul di depan pintu dan akan lebih enak makan bersama”.

hari ini tepat #17TahunAksiKamisan . Saya juga baru tahu kalau ada aksi ini. benar-benar baru tahu setelah baca Laut Bercerita bulan Desember 2023 lalu. momennya sangat pas pula, genap berusia 17 tahun saat masa Pemilu 2024. siapa pun yg jadi presidennya nanti, semoga mampu menjawab.

“Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya”

Tuhan Satu, Dua, dan Tiga

“Hari sial”, ya, begitulah istilah yang sering dipakai sebagian orang ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dirinya. Seperti kehilangan uang, jatuh dari pohon, lost contact sama gebetan, dan masih banyak lagi. Setiap orang berbeda dalam menanggapi hal tersebut, bisa dilihat bagaimana kondisi seseorang yang baru saja ditinggal oleh pasangannya, raut wajahnya yang suram, semangatnya yang memudar, ditambah isi dompet yang menipis membuat dirinya merasa begitu hampa dan menyebut dirinya dengan istilah sad boy. Aneh jika dia ingin berlarut-larut dalam hal tersebut.

Tentu setiap orang ingin bahagia. Ketika “hari sial” terjadi, setiap orang punya cara masing-masing untuk beranjak dari kesialan menuju kebahagiaan. Ketika kehilangan uang, dia bisa bekerja untuk mendapatkan uang, ketika putus cinta, dia bisa mencari yang baru atau memulai kebiasaan baru seperti, bangun di sepertiga malam untuk mengeluh kepada Tuhannya, memohon pertolongan dari sakit hati yang berkepanjangan dan lain-lain. “hari sial” mungkin tidak terjadi setiap hari, tetapi dampak dari hari itu bisa membekas berhari-hari.

“Hari sial” terjadi pada setiap orang bisa dalam peristiwa yang sama dan berbeda. Dua orang bisa sama sialnya, yaitu kehilangan uang. Tapi cara mereka untuk mendapatkan uang bisa berbeda, si A dengan cara baik dan si B dengan cara yang buruk. Atau dua orang yang sama-sama putus cinta, keduanya juga bisa dengan cara yang sama untuk mengatasi itu, yaitu mengeluh kepada Tuhan, tapi berbeda dalam isi keluhannya. Si A mengeluh dan meminta Tuhan untuk membalas perbuatan mantannya, sementara si B memohon diberi kelapangan jiwa agar lebih sabar dan ikhlas.

Tuhan menjadi salah satu yang dibutuhkan ketika “hari sial” itu terjadi. Tuhan dibutuhkan berdasarkan kesialan apa yang terjadi. Anda kekurangan uang? Mintalah kepada Tuhan yang maha kaya, mintalah agar Tuhan mempercepat pertemuan anda dengan seseorang yang didambakan. Lalu, apa maksud dari hipotesis “Tuhan itu satu”? Apakah itu benar? Si A merasa terdzolimi oleh si B dan meminta agar Tuhan membalas perbuatan si B, sementara si B sangat yakin bahwa dialah yang benar. Apakah mereka punya Tuhan yang berbeda untuk saling mengadu sehingga terjadi perang antara dua Tuhan? Lalu aku bertanya, manakah yang menang di antara mereka wahai Tuhanku? Dan Tuhanku menjawab, “sungguh bodoh Tuhan yang disembah kedua orang itu”.

Masih dengan pertanyaan yang sama, bagaimana dengan hipotesis “Tuhan itu satu”? Jika lima orang dengan kesialan yang berbeda, bukankah mereka membutuhkan jalan keluar yang berbeda? Jika Tuhan itu satu, apakah mereka harus menunggu Tuhan menyelesaikan satu persatu kesialan mereka? Tuhan seperti penjual jajanan yang harus mengurus satu persatu pelanggannya. Aku bertanya kepada Tuhanku, manakah yang benar-benar Tuhan di antara kalian wahai Tuhanku? Dia menjawab, siapakah yang engkau yakini sebagai Tuhan?  Tentu saja Engkau Tuhanku. Dia berkata, mereka pun akan menjawab sepertimu jika ditanya yang mana Tuhan mereka.

Tapi, bukankan seseorang bisa mengalami kesialan yang berbeda-beda? Jika Tuhannya hanya satu, apakah dia akan meminta pertolongan kepada Tuhan temannya? untuk menyelesaikan kesialannya yang lain. Konsekuensinya, dia akan mengakui ada Tuhan selain Tuhannya sendiri. Apakah dia tega mengkhianati Tuhannya?

Si A memiliki kesialan yang berbeda dengan si B, C, dan D. Mereka mengeluh dengan keluhan yang berbeda kepada Tuhan. Apakah hal itu meniscayakan banyaknya Tuhan? Atau benar bahwa Tuhan itu satu dan memiliki kemampuan yang luar biasa, sehingga dia mampu menyelesaikan masalah-masalah hambanya? Keduanya bisa dibenarkan. Benar bahwa Tuhan itu banyak, si A memiliki Tuhan yang berbeda dengan si B, C, dan D. Tuhan banyak berdasarkan pemahaman setiap hamba yang berbeda tentang-Nya. Setiap orang punya pemahaman yang berbeda terhadap Tuhan. Lalu bagaimana dengan Tuhan itu satu? Ya benar, Tuhan juga satu. Dari Tuhan yang satu itulah muncul Tuhan yang banyak. Si A melihat Tuhan dari sisi ke-maha kayanya, si B melihat Tuhan dari sisi ke-maha kuatnya, begitu pun si C dan D, sehingga berbedalah Tuhan dalam pemahaman mereka. Mereka membutuhkan Tuhan berdasarkan kesialan apa yang mereka alami.

Si A mengatakan Tuhan itu maha kaya, si B mengatakan Tuhan itu maha kuat, si C dengan tegas mengatakan Tuhan itu maha kasih dan seterusnya. Bukankah benar bahwa begitulah Tuhan? Sehingga Tuhanku adalah 1, 2, 3 dan seterusnya berdasarkan sejauh mana pemahaman tentang Tuhan itu. Karena dari Tuhan yang satu itulah tercipta Tuhan yang banyak berdasarkan berapa banyak pemahaman tentang-Nya.

Maha suci Tuhan dari segala prasangka buruk ciptaannya yang lemah.

Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut ke Pantai

Bermula dari cinta terlarang moyak di rongga dada Sawerigading. Lantaran cintanya ditepis We Tenriabeng saudara kembarnya. “Di negeri Cina, ada putri yang berparas serupa denganku. Berangkatlah dan jemput ia,” begitulah We Tenriabeng menohok keberatan. Usai itu, putera raja Luwu purba yang terlanjur mabuk asmara, geliat memerah darah para budak selama sembilan hari sembilan malam, sebagai tumbal dibayar untuk menumbangkan I La Welenreng. Pokok pohon raksasa, yang kini tergolek itu, oleh Sawerigading dipahat menjadi perahu yang mengantarnya ke Cina. Di sana, Sawerigading meminang We Cudai, calon istrinya. 

Mungkin Sawerigading tak lagi menimbang, bahwa hasrat yang mendidih bakal menyisakan sejumlah malapetaka bagi para penghuni pohon. Seperti termaktub dalam epos I La Galigo, pada dahan-dahan I La Welenreng, ribuan burung menitipkan sarang dan telur. Dan tatkala pohon raksasa tumbang, ribuan butir telur rontok mengguncang bumi. Konon, tujuh kerajaan di sekitar pohon raksasa itu tenggelam banjir lendir telur. Sementara burung-burung yang tersisa meratap, kocar-kacir mencari tempat tinggal baru. 

Kecerobohan Sawerigading membuat Si Buaja Tasi’e dan Sang Ula Balu naik pitam. “Kalau saja kau bukan anak dewa, sekali kukibaskan ekorku, kamu akan tenggelam di dasar laut,” cetus Buaja Tasi’e. “Seandainya kamu bukan keturunan darah putih, sekejap saja kutelan, kamu bisa binasa di dalam perutku yang gulita,” kata Ula Balue. 

Kisah penebangan (Ritumpanna Wélenrénngé) menyulut angkara ini, kita jumpai dalam epos I La Galigo atau Sureq Galigo. Wiracarita I La Galigo ini disampaikan sejak abad ke-14 dalam bentuk lisan. Di abad kiwari, kita memamah cerita ini melalui buku atau gawai.

***

Cerita penebangan pohon raksasa (Ritumpanna Wélenrénngé) wiracarita I La Galigo ini, saya pakai menelisik pola sebaran etnis Bugis-Makassar. Pertama, pokok I La Welenreng dipahat Sawerigading menjadi perahu, mewakili pola  perantauan atau penjelajahan pelaut Bugis-Makassar melintasi samudra hingga ke Afrika. Pola sebaran ini disebut ‘Sompe’, yakni para pelakunya masih berniat untuk kembali ke kampung halaman. Kedua, burung-burung meratap kocar-kacir mencari tempat tinggal tatkala I La Welenreng tumbang, mewakili pola migrasi orang Bugis-Makassar ke seluruh Nusantara hingga semenanjung Malaysia. Pola migrasi ini dikenal sebagai ‘Mallekke Dapureng’, yang secara harfiah berarti ‘memindahkan dapur’ atau migrasi ke daerah lain yang tidak diniatkan untuk kembali. Dan sebagaimana yang kita tahu, Mallekke Dapureng sebetulnya, sebuah protes rakyat atas kesewenang-wenangan penguasa. 

Sompe

Terkenanglah oleh kita akan petatah-petitih Bugis-Makassar yang masyhur: “Nenek moyangku seorang pelaut”. Itu lantaran, menurut banyak sumber,  orang Bugis-Makassar sejak dahulu telah dikenal sebagai salah satu suku penjelajah bahari yang melintasi samudra hingga ke Afrika (Dick-Read, 2008). Dalam tradisi Bugis, penjelajahan atau merantau disebut ‘sompe’ yang secara etimologis artinya berlayar (Hamid, 2004; Kesuma, 2004), tujuannya adalah untuk membangun penghidupan yang lebih baik di luar kampung halaman. Penjelajahan tersebut biasanya untuk berdagang.

Bagi orang Bugis-Makassar Sompe dipandang sebagai tanda kedewasaan dan keberanian seorang laki-laki Bugis-Makassar. Dan karena ihwal tersebut, tradisi merantau telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebudayaan orang Bugis-Makassar (Bandung, 2020), sehingga kita akan mudah menemukan berbagai komunitas keturunan Bugis dan Makassar di berbagai wilayah di Nusantara, khususnya pada wilayah pesisir. 

Jauh dari kampung halaman tentu meremukan tradisi dan memori kolektif tanah asal, ini adalah problem kerap dihadapi para perantau, termasuk pelancong Bugis-Makassar. Itu sebabnya, untuk merawat tradisi dan memori kolektif, orang Bugis-Makassar di  tanah rantau terlibat dalam proses asimilasi hingga integrasi sosial budaya dengan masyarakat lokal. Sementara kemampuan bertahan hidup, orang Bugis-Makassar melakukan penguatan ekonomi dengan mengembangkan berbagai bidang usaha. Strategi sosial juga dilakukan dengan melalui jalur diplomasi, perkawinan hingga peperangan (Hendraswati, Dalle, dan Jamalie, 2019). Ketiga cara tersebut berpangkal pada filosofi ‘tellu cappa’ atau tiga ujung, yaitu cappa lila (ujung lidah), cappa’ laso (ujung kemaluan) dan cappa vadi (ujung badik).

Mallekke Dapureng

Pascaperang Makassar pada 1669, terjadi gelombang migrasi orang Bugis-Makassar yang cukup massif ke seluruh kepulauan Nusantara hingga semenanjung Malaysia. Gelombang migrasi berkaitan dengan protes dan respons atas situasi sosial yang terjadi di Sulawesi Selatan—gejolak sosial di masa itu  berkenaan dengan pertarungan antarelit di kerajaan Bugis dan Makassar, serta adanya bencana yang menyebabkan kesulitan ekonomi atau akibat kekalahan perang yang menyebabkan terganggunya kedaulatan dan otonomi dalam bidang sosial, budaya, politik dan ekonomi. 

Perang Makassar (1666-1667) yang berujung pada kekalahan Gowa atas VOC. Kekalahan ini menandai berakhirnya kekuatan dan kekuasaan Kesultanan Gowa sebagai salah satu negara maritim terkuat, jatuhnya Benteng Somba Opu, monopoli dagang oleh VOC di Pelabuhan Makassar dan ditandatanganinya perjanjian Bongaya pada 18 November 1667 yang sangat merugikan Kesultanan Gowa dan sekutunya (Yani, 2018). Perjanjian Bongaya berdampak besar secara ekonomi dan menjadi pukulan telak bagi perdagangan orang-orang Bugis dan Makassar dan pedagang Nusantara lainnya (Parani 2015), akibat monopoli dagang VOC di Pelabuhan Makassar dan pembatasan pelayaran niaga. 

Usai perjanjian Bongaya pola dan pelaku migrasi masyarakat Bugis dan Makassar mengalami perubahan. Jika sebelumnya pelaku migrasi dilakukan oleh masyarakat umum ke berbagai wilayah Nusantara guna mencari penghidupan yang lebih baik, pascaperjanjian Bongaya pelaku migrasi banyak dipelopori oleh kalangan bangsawan (Khusyairi, Latif, dan Samidi 2016). Sejumlah kalangan bangsawan beserta pengikutnya, utamanya dari Kesultanan Gowa dan sekutunya seperti Wajo dan Mandar melakukan perjalanan diaspora ke berbagai daerah di Nusantara. Migrasi rombongan Daeng Mangkona dari Wajo yang menyeberangi selat Makassar hingga masuk ke sungai Mahakam menjadi cikal-bakal berdirinya Kota Samarinda (Noor, Rasyid, dan Achmad 1986; Maharani, Hatta, dan Selvyani 2016). Rombongan migrasi lainnya ada yang berlabuh dan beranak-pinak di Bali (Khusyair et al. 2017). Lombok (Kesuma dan Murdi 2015) dan kepulauan Nusa Tenggara dan kepulauan Maluku. 

Migrasi orang Bugis-Makassar pascaperjanjian Bongaya ke arah barat berlabuh di sepanjang pantai utara Jawa. Sumatera hingga semenanjung Malaya. Karena itulah, hari ini kita akan menemukan sejumlah nama kampung Bugis dan Makassar di sejumlah daerah di Nusantara, bahkan hingga di Malaysia, Singapura dan Afrika. Tujuan mereka bermigrasi ada yang untuk membangun strategi melawan VOC dengan harapan keadaan di Sulawesi Selatan kembali pulih. Sekelompok lainnya melakukan migrasi guna membuka jalur pelayaran perniagaan yang baru di sejumlah wilayah (Andaya 2004), itulah sebabnya orang Bugis-Makassar dikenal sebagai pelaut dan pedagang yang ulung. Banyak yang melakukan migrasi meninggalkan tanah Sulawesi untuk kemudian bermukim secara menetap di daerah lain atau dalam istilah Bugis disebut mallekke dapureng. Pindah bermukim di daerah yang baru untuk membangun kehidupan yang baru dan mengusahakan penghidupan yang lebih baik dan merdeka.

Dalam perluasannya, migrasi orang Bugis-Makassar yang massif pascaperang Makassar pada 1669 dan pascaperjanjian Bongaya. Migrasi ini memaksa Christian Pelras mengulik pola kehidupan prakolonial orang Bugis-Makassar. 

Itu sebabnya, bilamana kita teliti membaca buku “Manusia Bugis” Christian Pelras. Pada halaman-halaman pertama, Pelras mengajak seganap orang Bugis (Makassar) untuk kembali memeriksa petatah-petitih mereka yang masyhur itu: “Nenek moyangku seorang pelaut”. Sejauh ini, kata Pelras, masyarakat Bugis sering diidentikkan dengan peranan mereka di laut baik sebagai pedagang yang tak segan menyeberangi lautan dan, terutama, sebagai pelaut itu sendiri.

Sekonyong-konyong Pelras menohok satu gagasan: “Nenek moyangku seorang pelaut” itu “mitos”. Pelras berpenderian bahwa: Sebagian besar anggota masyarakat ini adalah petani, petani, dan petani (hal. 4). Dan kegiatan laut masyarakat Bugis baru dimulai di abad ke-18, atau seabad setelah armada laut Kesultanan Gowa dan Tallo dihancurkan oleh VOC. Demikian pula kapal Phinisi yang mulai dikenal luas ternyata baru dibuat paling cepat di akhir abad ke-19. atau lebih tepatnya di awal abad ke-20. 

Selanjutnya, Pelras mendaku, profesi awal dari orang Bugis-Makassar adalah petani, namun mengalami perubahan pada abad-abad berikutnya, karena terjadinya perubahan sosial maupun situasi politik di wilayah Sulawesi Selatan tempat asal suku tersebut. Pasca perjanjian Bongaya dan masa-masa selanjutnya menandai masifnya migrasi orang Bugis dan Makassar ke beberapa wilayah di Nusantara (Purba, Sri Murlianti, dan Nanang 2017). Migrasi orang Bugis dan Makassar keluar dari Sulawesi Selatan secara komunal juga berkaitan dengan sikap protes dan respons atas situasi sosial yang terjadi di Sulawesi Selatan (Zid dan Sjaf 2009). 

Syahdan, orang Bugis-Makassar pascaperang Makassar pada 1669 dan pascaperjanjian Bongaya, adalah amsal burung-burung terbang dari I La Welenreng pohon raksasa mencari hunian baru yang asing dan ganjil. Sebagaimana termaktub dalam epos I La Galigo. Maka terkenanglah oleh kita akan petatah-petitih mereka yang masyhur: “Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai”.