Arsip Kategori: Katarsis

Rahasiamu di Balik Cadarmu

Cadarmu menyembunyikan rahasiamu. Menyembunyikan siapa dirimu. Cadarmu menyamarkan dirimu dengan teka-teki yang tersisa bagi diriku. Berlapis-lapis cadarmu yang tak berbilang menguliti lapisan upayaku menggapaimu hingga terhempas pada ketakberdayaan dan kenisbian. Kehabisan napas, kehabisan darah, kehabisan nyawa. Telah sirna segala yang ada pada diriku ditelan upaya, namun lapis-lapis cadarmu belum jua tersibak tuntas. Cadarmu telah banyak memakan korban tak berperi, termasuk diriku.

Bayang-bayang rindu menggelayut di ubun-ubunku, memancar dari sari dirimu, yang bersembunyi rapat di balik lapis-lapis cadarmu. Seakan kurasa pada setiap denyut nadi, pada setiap degup jantungku, terpompakan dari tebal lapis-lapis cadarmu, mengalirkan desir rindu penuh khawatir, apakah mungkin engkau bermurah hati menampakkan wajah dan diri aslimu, yang dalam lingkup waktu abadi tersembunyi rapih di balik cadarmu.

Terbayang di benak batinku, kesempurnaan lentik bulu matamu. Pancaran lembut nan indah bola matamu. Kerlingannya laksana penyamun tak berperi, sekilas lirik, mencuri segenap kesadaran yang memandangmu. Engkau menisbikan kesadaran yang menatapmu, walau hanya sekilas kerlingan jua. Pada saat yang sama, engkau menyergap dan meliputi segenap kesadaran yang ada, sehingga tampak engkau semakin mengukuhkan kehadiran dirimu.

Kesempurnaanmu nan indah, walau terhijab rapih di balik lapis cadarmu, telah menghabiskan segenap perhatihan dan dan kesadaran, tertuju hanya semata pada dirimu. Seakan engkau magnet cinta yang begitu dahsyat, tak menyisakan sedikitpun butir debu besi rindu untuk kau tarik menyatu pada dirimu. Di balik cadarmu, kau adalah api cinta yang menyeret laron-laron rindu, tak sadarkan diri dibakar habis oleh api cintamu. Di balik cadarmu, kau adalah api cinta yang membakar lilin rindu, hingga mencair tak tersisa. Setelah semua itu terjadi sempurna, kau tetap utuh tak tersentuh di balik cadarmu. Kau tetap utuh mengobarkan api cintamu yang senantiasa memancar membakar dan membakar dari balik cadarmu.

Aroma kesempurnaan keindahanmu, merebak dari balik cadarmu. Menggoyahkan akal dan hati yang menghirupnya. Membuat mabuk kepayang, mengusir akal dari panggung pelaminan cinta. Seandainya segenap bunga terindah di dunia ini dikumpulkan lalu disandingkan dengan dirimu, maka bunga-bunga itu layu seketika karena malu menyadari dirinya tak mampu menggapai walau sezarrah pun keindahanmu. Itupun yang tercerap bukan diri aslimu, baru hanya aroma keindahanmu yang merebak dari balik cadarmu.

Betapa penasaran dan rindu menerjang jantungku, namun tirai cadarmu tak juga tersibak sedikit pun. Kau ciptakan rindu bak samudera tak bertepi. Kau hadirkan keingintahuan lumpuh tanpa guna. Senyummu memesona di lubuk sanubariku, namun itu semampu aku menerka pesonanya. Aku tahu persis, begitu dahsyat pesona senyummu, jika tersibak di hadapanku, walau sekejap, maka seketika aku hangus dibakar habis oleh daya magis kesempurnaan senyummu. Betapa julur cadarmu menyelamatkanku sekaligus amat menyiksaku. Penasaran dan rindu tak berperi, tak bertepi. Aku rela sirna demi jumpa dan menyatu denganmu, namun julur cadarmu memaksa diriku selalu mengada terpisah dari dirimu.

Bagaikan pungguk merindukan bulan, kusadari, kau tak butuh cinta dan pengakuan dariku. Kesempurnaan keindahan yang menyatu pada lengkung alismu, pada lentik bulu matamu, pada binar bola matamu, pada rekah bibirmu, serta pada segenap apa yang ada pada dirimu, membuat segenap kekurangan dan kecacatan yang membaluri diriku begitu tampak sehingga aku tanpa arti sama sekali bagi dirimu. Namun, semua itu tak membuatku goyah, biarlah api gairah cintaku padamu membakarku, walau tanpa balas sedikit pun darimu.

Kusadari cinta sejati itu buta, tuli, bisu dan lumpuh. Biarlah kutatap indah tubuhmu tanpa mata. Kudengar bisik syahdumu tanpa telinga. Kucakap dirimu tanpa lisan. Kukejar bayangmu tanpa kaki. Walau kutahu harap cinta dan kasihku tanpa balas darimu, namun syukur sempurna kuhaturkan karena sempat merindu cinta padamu walaupun itu hanya tepuk sebelah tangan yang abadi. Berkesempatan memandang cadarmu, bagiku itu sudah anugerah besar dan kesempurnaan agung, walau menyiksa abadi batinku. Engkau tetap tak tergoyahkan tersembunyi rapi di balik cadarmu.

***

Tuhan, kata orang bijak, aku berasal dari-Mu. Ada tiupan Ruh-Mu lekat padaku. Mungkin karena ini jua semakin aku mejauh dari-Mu, kejauhan itu menyeretku pada-Mu. Mungkin karena ini jua semakin aku mencintai dan merindukan selain-Mu, kecintaan dan kerinduan itu semakin meringkusku kepada-Mu. Teka-teki Ketunggalan-Mu tak mengizinkan sesuatu apa pun, termasuk aku, lari dari Diri-Mu. Tiupan Ruh-Mu memaksaku menyatu dengan-Mu, namun keberadaanku memaksaku berpisah dengan-Mu. Betapa gumpalan lapis cadar hijab membentangiku dan merintangiku dari-Mu. Engkau tetaplah Engkau. Aku tetaplah aku. Abadi dalam pisah.

Tiupan Ruh-Mu abadi padaku senantiasa mengusik buncah cinta dan rindu pada-Mu. Karena rindu adalah nyanyian keterpisahan untuk kembali menyatu pada inangnya, maka aku terikut rindu Ruh-Mu untuk kembali kepada-Mu. Namun cadar hijab segala selain-Mu membentang dan merintangiku dari-Mu, sehingga rasa cinta itu menjadi gumpalan mesiu rindu terkurung dalam bunker keterpisahan dengan-Mu.

Tuhan, berkat bisikan-Mu pada kekasih-Mu kutahu diriku adalah berhalaku. Bahkan berhala terdahsyat yang menyesatkanku dari Jalan-Mu. Telah kucoba menerabas segala jalan rintang menuju-Mu. Mengarungi lautan dan daratan keberadaan selain-Mu, perjalanan ini tak berujung. Aku tersesat dalam kejamakan. Terlempar jauh dari Ketunggalan-Mu. Berpangkal dari keberadaanku, maka membentang kejamakan daratan dan lautan, juga kejauhan angkasa keberadaan. Betapa semua itu menjelma jadi gumpalan awan hitam lapis-lapis cadar hijab yang memisahkanku dengan-Mu. Ya, sang aku pada diriku adalah berhala akbar yang menghadirkan segenap cadar hijab yang menyesatkanku dari Jalan-Mu. Aku tertumbuk buntu, tersesat dalam gumul lapis-lapis cadar hijab tak berbilang. Aku terjerat dalam kesesatan abadi.

Dalam kesesatan abadi ini, tampaknya bagi-Mu si dungu dan si cerdas sama saja. Kedunguan si dungu tak mungkin menjangkau-Mu. Juga, kecerdasan nalar si cerdas takkan pernah menghampiri-Mu. Dungu dan cerdas sama lumpuhnya tak dapat menyampaikan diri pada-Mu. Dungu dan cerdas sama-sama gumpalan cadar hijab pemisah. Engkau tak dijangkau oleh selain-Mu. Engkau hanya semata bertemu dengan Diri-Mu.

Seandainya aku umat Musa, maka kudatangi washi-nya menyerahkan diri untuk dituntun menuju Yang Mahaperkasa. Seandainya aku umat Isa putra Maryam, maka kudatangi washi-nya untuk menggandeng tanganku bertemu dengan Sang Mahakasih. Karena aku umat al-Mushtafa, maka kumunajat pada washi-nya untuk membimbingku kepada Yang Maharahman dan Maharahim Allah Swt., karena ujarnya benar adanya: bina urifallah, bina ubidallah.

Ramadan: Sair wa Suluk untuk Pulang Kampung

Sair wa suluk. Lorong khusus bagi pelancong rohani. Ramadan sebagai sair wa suluk adalah wahana khusus bagi manusia yang mengkhususkan diri untuk melancong menuju Tuhannya. Bagi mereka Ramadan bukan Ramadan biasa, Ramadan adalah hamparan jalan sutra cahaya yang dengan jalan ini Tuhan memperjalankan hamba-Nya untuk hadir di haribaan-Nya.

Ramadan bukan jalan untuk mereka lalui dengan kekuatan apa yang ada pada diri mereka, karena mereka tidak punya daya untuk itu. Tapi Tuhanlah pemilik daya sesungguhnya, sehingga perjalanan itu hanya bisa terjadi jika Tuhan yang memperjalankan mereka dalam wahana Ramadan. Mengandalkan kekuatan diri dalam wahana Ramadan untuk menghadap Tuhan adalah kesalahan besar dan akhlak tercela. Itulah Ramadan dalam persepsi mereka.

Para pelancong rohani Ramadan larut dalam kesendirin dan juga bisa larut dalam keramaian namun tidak terdeteksi kesendiriannya. Dalam persepsi mereka Ramadan adalah jalan. Jalan sutera emas untuk terserap ke dalam kekuatan Ilahi hingga wushul akhirnya, yaitu Allah Swt. Karena Ramadan adalah bahtera emas yang mengantarkan kepada Tuhan, maka bagi mereka muatan Ramadan bukan sekedar puasa, rasa lapar dan dahaga semata, akan tetapi juga semua lelakon spiritual seperti zikir, mengaji, shalat, sedekah dan segenap perbuatan baik lainnya adalah ritual penting dalam bulan Ramadan sebagai langkah-langkah dalam sair wa suluk menuju Allah Swt.

Bagi kesadaran mereka, semua lelakon baik di atas adalah lakon Tuhan yang terejawantah tajali-nya pada lakon hamba. Dalam sudut pandang kacamata fisik hanya tampak kebaikan itu lakon hamba, namun dalam sudut pandang kacamata rohani lakon kebaikan tersebut adalah lakon Tuhan yang tertajalli pada lakon hamba. Sehingga, pada lakon amal baik tersebut, secara rohani sang hamba terangkat menuju tingkat wujud lebih tinggi lagi untuk merapat kepada-Nya.

Ramadan adalah bulan yang membakar. Membakar segenap keburukan dan dosa. Demikianlah dipahami secara umum. Namun, bagi para kekasih Allah, Ramadan itu betul-betul bulan yang begitu digdaya membakar. Bukan sekedar membakar segenap dosa dan keburukan, bahkan secara maknawi membakar diri pelakon puasa hingga sirna tanpa jejak. Juga, Ramadan membakar segala sesuatu selain Allah hingga tiada tersisa sama sekali kenisbian dan yang hadir hanya Ketunggalan-Nya semata. Hasil akhir pembakaran Ramadan adalah hanya Dia yang hadir, selain-Nya sirna total.

Tampaknya dengan sudut pandang di atas, pertemuan dengan Tuhan menjadi valid. Hanya dengan sirnanya hamba dibakar Ramadan pertemuan bisa terjadi. Tak mungkin ada pertemuan antara yang nisbi dengan Yang Abadi. Juga, tak akan ada pertemuan antara Yang Tunggal dan yang jamak. Yang ada adalah pertemuan antara yang nisbi dengan yang nisbi dan antara Yang Abadi dengan diri-Nya sendiri. Tidak akan ada pertemuan antara hamba dengan Khalik. Yang ada adalah pertemuan hamba dengan hamba dan pertemuan Khalik dengan diri-Nya sendiri. Maka validlah diujung puasa Ramadan ada pertemuan dengan Tuhan, yaitu Tuhan bersua dengan diri-Nya. Sebab, diri pelakon puasa dan segenap selain Allah telah dibakar tuntas oleh Ramadan. Demikianlah para kekasih Allah dengan Kasih-Nya menyirna dibakar api Ramadan demi pertemuan-Nya dengan diri-Nya.

Bagi musafir ruhani, pada tahap paling awal, setidaknya ada dua aral melintang yang menjadi penghalang kuat dalam melintasi jalur sutra cahaya menuju Allah. Yang pertama  adalah keterikatan jiwa pada alam materi. Ruh yang sejatinya titisan Ilahi murni pada jiwa dan jiwa bertumbuh awalnya di alam materi, sehingga kesadaran jiwa lebih didominasi oleh kesadaran material. Akibatnya, jiwa mengidentikkan kesadaran dirinya dengan kekuatan material, sekaligus melupakan aspek murninya, yaitu titisan Ilahi. Semakin intens pergulatan jiwa dengan alam materi maka semakin terikat ia dengan alam materi dan juga ia semakin mengidentikkan dirinya dengan alam materi.

Bentuk ektrem dari safar material ini adalah pandangan bahwa jiwa manusia tidak lebih dari segenap aspek material yang melekat padanya. Yang melekat pada jiwa hanya aspek material belaka. Tidak ada selainnya. Jiwa yang telah terjerat penjara material ini memandang bahwa kesempurnaan hanya ada pada kesempurnaan material. Setiap kali ia ingin menyempurna, maka yang dia kejar adalah hal-hal yang bersifat material. Jiwa semacam ini jika mulai tersentuh pencerahan ilahi, maka pergulatan dahsyat yang dia alami pertama kali adalah ia menyadari bahwa ia telah terkurung dalam bunker beton kesadaran material dan berupaya keras untuk membongkar tembok kukuh tersebut. Ia harus mencari cara untuk keluar demi kelanjutan safar ruhani. Jika ia berhasil, maka ia harus melintasi aral berikutnya. Namun jika ia gagal, maka ia akan tetap berada di dalam bunker beton kesadaran material tersebut dan terpenjara di dalamnya.

Yang kedua adalah aku dan ke-aku-an menjadi aral melintang menghalangi diri untuk wushul pada tujuan akhir, yaitu Allah Swt. Para pesafar ruhani dengan tekad penuh begulat keras untuk melampaui alam materi, dengan curahan Kasih Tuhan, jika berhasil, maka akan sadar bahwa ia masih terpenjara oleh beton bunker berikutnya yang jauh lebih samar dan lebih kokoh dari beton bunker alam material sebelumnya, yaitu aku dan ke-aku-an. Para pelancong rohani menyebut aku dan ke-aku-an ini adalah berhala besar yang wajib dihancurkan jika ingin kembali kepada Tuhan. Berhala besar inilah yang ingin diluluh-lantakkan oleh Khalilullah Ibrahim as.

Kepentingan dan keinginan aku dalam diri begitu dominan dan kuat. Berusaha demi kepentingan aku. Berdoa demi kepentingan aku. Berbuat baik, juga berbuat jahat demi kepentingan aku. Bahkan beribadah demi kepentingan aku. Pokoknya segala sesuatunya demi kepentingan aku. Maka, secara sadar atau tidak sadar semua itu adalah demi kepentingan aku yang berarti semua itu adalah proses peruntukan diri, penyembahan diri sendiri dan bukan peruntukan dan penyembahan pada Tuhan. Jika proses ini tanpa disadari dan tanpa penyucian diri, maka diri telah menjelma jadi Fir’aun yang bukan saja menyembah diri sendiri akan tetapi mengarahkan orang lain untuk menyembah dirinya. Berhala nonmateri berupa aku dan ke-aku-an telah berdiri kokoh  menjadi hijab tertebal yang membuat jarak ruhani dengan Tuhan seakan tak mungkin terobekkan. Selama aku masih eksis, maka bentangan tak berbilang hijab kegelapan dan hijab cahaya menjadi pemisah abadi sang diri dengan Tuhannya. Nestapa keterpisahan tak menemui ujungnya.

Ramadan adalah bulan-Nya Allah. Oleh karena itu, semua yang masuk dalam Ramadan selayaknya teruntuk hanya pada Allah. Segala realitas yang masuk dalam Ramadan teruntuk hanya pada Allah. Diri manusia dan segenap aktivitasnya yang masuk ke dalam bulan Allah–Ramadan–juga semestinya hanya teruntuk pada Allah semata. Ramadan idealnya adalah proses segala realitas untuk terserap secara hakiki kepada Allah. Begitupun dengan diri dan segenap aktivitasnya yang masuk ke dalam Ramadan semestinya terproses dan terserap secara hakiki kepada Allah Swt. Mungkin ini yang dimaksud Ramadan adalah bulan yang membakar segala sesuatu, termasuk diri, dan pada akhirnya hanya Tuhan Yang Tunggal yang hadir. Diri menyirna, Tuhan menyata.

Di ujung Ramadan, dengan pembakaran yang tuntas, masuk ke zaman baru, yaitu zaman kecemerlangan dan kebangkitan fitri, sang aku telah menyublim dari keterpisahan abadi menjadi mazhar Tuhan, menjadi tajalli Tuhan dalam kesadaran hakikinya. Sebagai mazhar Tuhan, sang aku dan segenap aktivitasnya secara total telah kehilangan peruntukan, kecuali hanya kepada Allah Swt semata. Sehingga secara hakiki hanya Dia yang eksis, selainnya tiada.

Segenap ikhtiar penuh sang aku untuk memurnikan diri dalam Ramadan, adalah uluran Tangan Kasih Tuhan, yang membantunya untuk keluar dari bunker-bunker beton kukuh yang mengungkungnya, adalah sebentuk kerinduan sang aku untuk kembali ke kampung halamannya, yaitu Allah Swt. Dan sang aku tiada lain hanya mazhar-Nya semata.

Kredit gambar: Suara Muhammadiyah

Puasaku Ditelikung Pisang Ijo dkk

Menurut hadis, di ujung puasa, dua kenikmatan menanti: santap berbuka dan bertemu Tuhan. Ini keren sekali. Dapat dua sekaligus. Sekali rengkuh puasa langsung dapat dua, kenikmatan lahir dan kenikmatan batin. Makan yang enak cita-cita tinggi manusia materi bumi. Bertemu Tuhan cita-cita tertinggi manusia cahaya langit. Melalui puasa dua jenis manusia yang menyatu dalam satu tubuh ini menggapai cita-cita tertingginya. Ya, hadis Rasulullah saw. yang mulia ini mengisyaratkan di ujung puasa ada dua yang menanti: makanan dan Tuhan. Maka berbahagialah orang yang menjumpai keduanya sekaligus.

Tuhan juga berkata:”Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan memberinya ganjaran.” Demikian kata Rasulullah. Di ujung puasa ada Tuhan menunggu. Bahkan Tuhan menunggu dengan privacy-Nya: “Aku sendiri yang memberinya ganjaran”. Bukan selain Dia. Betapa mulianya orang yang berpuasa. Dia ditunggu oleh Tuhannya untuk Dia serahkan langsung ganjaran puasanya. Ini searah dengan hadis di atas:”bertemu Tuhannya.” Ini makin keren, bertemu untuk menerima ganjaran puasa dari Tuhan. Para malaikat pun tak tahu sesuatu yang amat mulia seperti apakah ganjaran yang akan diberikan bagi pelaku puasa. Waw, siapa yang tidak mau.

Dinukil dari para pelancong spiritual dijumpai kabar zaman baheula yang sangat menarik soal puasa, “Diriwayatkan pada era awal nabi-nabi terdahulu, ada tiga sekawan yang memasuki sebuah kota, yang di situ mereka menjadi orang asing. Ketika malam tiba, mereka berpencar ke arah yang berbeda untuk mencari makanan masing-masing. Mereka memutuskan untuk bertemu di tempat yang sama pada waktu tertentu keesokan harinya. Salah seorang dari mereka menerima sebuah undangan dan yang lain mendatangi rumah seseorang begitu saja. Teman ketiga, yang tidak punya tujuan mau ke mana, berkata dalam dirinya sendiri, ‘Aku ingin pergi ke mesjid dan menjadi tamu Allah.’ Ia pun pergi ke mesjid tempat ia tinggal malam hari, tetapi tetap lapar hingga keesokan paginya. Keesokan harinya, tiga sekawan bertemu di tempat yang telah ditetapkan dan mulai menceritakan apa yang menimpa mereka. Sebuah wahyu turun dari Allah Swt. turun pada nabi-Nya di zaman itu, yang dengan itu Dia memerintahkan sang nabi untuk menyampaikan, ‘Katakan pada tamu Kami bahwa Kami menerimanya sebagai tamu. Kami ingin memberinya makanan terbaik, lalu Kami mencari di Perbendaharaan Gaib Kami, dan tidak menemukan makanan apa pun baginya yang lebih baik daripada puasa dan rasa lapar.” Demikian penegasan Sayid MH Husaini Tehrani, dalam buku Pelancongan Rohani Sebuah Risalah Spiritual.

Waw mantap sekali. Hikayat di atas mengirim pesan di luar nalar biasa. Jamuan terbaik di sisi Tuhan yang dicari pada Perbendaharaan Gaib-Nya untuk tamu Tuhan adalah: puasa dan rasa lapar! Ini cocok dengan ujar cucu Rasulullah, Imam Shadiq, “Rasa lapar adalah bumbu orang mukmin, asupan bagi rohani dan makanan bagi hati”. Ternyata puasa dan rasa lapar adalah makanan juga. Keren keren. Pantas memang bahwa Ramadan itu bulan-Nya Allah. Yang masuk ke dalam Ramadan adalah tamu-Nya Allah. Dan, ini yang paling keren, para tamu tersebut disuguhi menu keren spesial dari Perbendaharaan Gaib terbaik Allah: puasa dan rasa lapar. Jadi, tidak ada makanan yang lebih baik dalam bulan Ramadhan kecuali puasa dan rasa lapar! Wuih mantap sekali dan di luar nalar biasa. Maka bagi yang berpuasa, berbahagialah, sebagai tamu Tuhan di bulan-Nya, selamat menikmati menu andalan dari langit suci berupa puasa dan rasa lapar.

Puasa dan rasa lapar bukanlah cemeti untuk mencambuk atau menyiksa, akan tetapi ia adalah makanan bergizi yang sangat berharga di perjamuan yang disiapkan Tuhan untuk pelaku puasa. Para filosof bijak berpesan, makanlah dengan cara terbaik agar engkau tidak dimakan oleh makananmu. Ini pesan bagi tubuh materi manusia. Sekaligus signal untuk tubuh nonmateri manusia. Dilema memang, pada saat makan, ada potensi untuk tergelincir dimakan oleh makanan. Namun, jika tidak makan, tubuh material membutuhkannya untuk tetap hidup.

Tubuh materi membutuhkan materi makanan untuk hidup dan kuat. Tubuh nonmateri butuh puasa dan lapar untuk mengeksiskan diri. Dalam urusan makanan, ada sejenis silang keperluan antara tubuh materi dan tubuh nonmateri. Kebutuhan keduanya untuk hidup rada-rada bertentangan. Yang satu butuh makanan material, yang satunya lagi tidak butuh makanan material, malah membutuhkan puasa dan rasa lapar.

Orang yang punya kecenderungan kuat pada kehidupan ruhani begitu menikmati hidangan berupa puasa dan rasa lapar untuk perjalanan panjang nan abadi menuju Tuhan. Para kekasih Allah menghabiskan hari-harinya dengan puasa dan lapar. Nabi Daud begitu terkenal dengan puasa fifty:fifty-nya. Sehari puasa, sehari tidak. Demikianlah selang-seling sepanjang hidupnya. Ada juga yang mencoba menghitung-hitung jumlah puasa Rasulullah: Puasa Ramadan, Senin-Kamis, pertengahan bulan, puasa karena tidak tersedia makanan dan lain-lain. Kesimpulannya: ternyata lebih kurang fifty:fifty juga Rasulullah berpuasa dalam setahunnya. Dalam setahun, lebih kurang, setengahnya beliau habiskan dengan puasa dan setengahnya lagi dengan berbuka. Dengan prinsip: makan saat lapar, stop sebelum kenyang. Rongga perut diisi sepertiga-sepertiga dengan imbang antara makanan, air dan udara. Tampaknya dengan pola semacam ini Rasulullah mengirim pesan kepada kita agar tidak dimakan oleh makanan.

Orang yang punya kecenderungan lebih berat pada kehidupan material juga tentu menikmati puasa. Bagi mereka urusan spiritual terlalu jauh untuk dijangkau. Mereka mencukupkan diri untuk berpuasa apa adanya. Puasa Ramadan itu wajib dan mesti dilaksanakan. Dengan asumsi bahwa di masa puasa terjadi perubahan pola makan dan akan memengaruhi kekuatan tubuh di siang hari. Sehingga, harus disiapkan menu dan pola makan sedemikian rupa sehingga tubuh tetap kuat untuk menunjang aktivitas keseharian. Puasa dan rasa lapar harus disiasati agar tubuh tetap kuat dan segar sehingga kehidupan sehari-hari berjalan normal dalam keadaan berpuasa. Demikianlah tubuh kita –tubuh fisik dan tubuh rohani– masing-masing membutuhkan jenis makanan untuk merealita.

Bagi para pelancong rohani di hamparan lautan Wahdatul Wujud, mereka melintasi diri mereka sendiri dalam dirinya untuk mengarungi Samudera Wujud, demi mencapai puncak wujud Ghaybul Guyub yang merangkul Alam Ahadiyah, Wahidiyah dan segenap eksistensi. Bagi mereka –selama berada dalam tataran fisik– tubuh fisik tetap butuh asupan makanan makanan sebatas menunjang tubuh fisik untuk memaksimalkan safar di tataran fisik menuju Tuhan. Namun, hal yang mereka sangat tekankan adalah jangan sampai makanan fisik berubah fungsi, malah menggangu bahkan mengacaukan safar rohani di tataran fisik untuk memasuki safar ruhani pada wilayah yang lebih tinggi dan lebih agung lagi. Wajar jika Rasulullah berkata bahwa perut kekenyangan itu dibenci oleh Allah. Sebab, perut kenyang itu menghalangi orang untuk ketemu dengan-Nya.

Dalam bulan Allah, Ramadan, kita semua adalah tamu-Nya, dan menghadiri resepsi-Nya dengan menu super khusus: puasa dan rasa lapar. Sepanjang rentang waktu imsak hingga berbuka adalah kesempatan emas paling halal untuk menikmati kedua menu tersebut, demi Dia Yang Menghidangkan. Bukan demi yang lain. Makanya ada saja diantara para pelancong rohani berlama-lama untuk tidak berbuka, karena mereka begitu menikmati dan larut dengan menu yang dihidangkan oleh Allah: puasa dan rasa lapar.

Dalam kopula sebab-akibat, hanya sebab yang berkontribusi pada akibat. Akibat sama sekali tidak memiliki apa-apa, oleh karena itu ia tidak bisa berkontribusi pada sebab. Sehingga, Tuhan sebagai Yang Mahasebab telah mengulurkan Tangan Kasih-Nya berupa puasa dan rasa lapar untuk menyempurnakan perjalanan rohani hamba untuk menggapai-Nya. Puasa dan rasa lapar yang terkurung an sich dalam kedirian hamba, yang bukan uluran Tangan Kasih Tuhan, tidak akan pernah bisa mengangkat hamba menuju ke haribaan-Nya. Sebab, hamba sebagi akibat dari-Nya tidak akan pernah berkontribusi kepada-Nya. Sehingga puasa dan rasa lapar yang terpenjara dalam ke-aku-an, bukan saja tidak bisa menjadi kendaraan menuju Tuhan, bahkan lebih dari itu, yaitu merusak diri yang bersangkutan, berupa gagalnya bertemu dengan Tuhan. Padahal jelas di awal tulisan ini disebut Rasulullah pada lakon puasa ada pertemuan dengan Tuhan. Untuk itu, memandang puasa dan rasa lapar sebagai realitas kiriman Tuhan untuk menarik hamba guna berada di haribaan-Nya adalah kemestian hakiki. Pesafar rohani Ramadan sibuk bercengkrama dengan Tuhannya melalui puasa dan rasa lapar beserta ibadah lain yang demi Tuhan semata, bukan dengan demi diri terikut di dalamnya. Bagi kekasih Allah, start-process-ending berpuasa senantiasa bersama Allah.

Ah, betapa konyolnya diri ini, sepanjang rentang puasa aku hanya menghabis-habiskan waktu bercengkrama dengan diri sendiri. Puasa dan lapar demi kepentingan diri. Ibadah-ibadah lain juga dilakukan demi kepentingan diri. Di ujung puasa kita ditunggu oleh menu-menu yang kita buat khusus untuk diri kita berbasis selera kita. Betapa dalam puasa kita memanjakan diri kita dengan menu kita sendiri. Para arif billah memberi isyarat bahwa berhala terbesar yang tidak ada lagi di atasnya adalah diri kita sendiri. Jihad akbar adalah berperang dengan diri sendiri, sebab keberadaanya adalah hijab tertebal untuk dapat ditarik mendekat syuhud kepada-Nya. Jika sang diri naif menjadi pemenang tempaan Ramadan ini, bisa dipastikan puasa hakiki ku telah ditelikung oleh es pisang ijo dkk. dan hanya mereka ini yang kujumpai disetiap saat berbukaku.

Gambar: surabayaonline.co

MENGEJA RAMADAN(1): Wahdatul Wujud ala Imam an-Nafri, “Antara engkau dan Aku tiada antara, hanya Aku yang ada semata.”

Ramadan, bulan berkah guna mendekat pada Khalik. Bahkan Rasulullah di sepuluh akhir Ramadan mengkhususkan dan mengkhusyukkan diri pada Allah semata. Citra bulan Ramadan menggambarkan momentum terbaik untuk safar rohani menuju sedekat-dekatnya pada Allah. Pesafar ruhani sejati mengikis diri profan tiada henti untuk tiba pada Ketunggalan Wujud, diri sirna sejati, yang maujud hanya Allah semata.

Adalah Imam an-Nafri, pesafar ruhani sejati yang begitu samar jejak biografinya, begitu pelit dan sedikit karyanya, namun karya ini juga begitu nyata memuat perasan inti hikmah yang menuntun perjalanan bagi pesuluk sejati. Ungkapannya singkat dan padat namun langsung masuk dalam jantung tauhid, jantung Wahdatul Wujud.

Kita tidak akan menemukan karya an-Nafri berjilid-jilid seperti karya Imam al-Ghazali, Ibnu Arabi atau Ibnu Athaillah al-Iskandari. Beberapa penulis menyebutkan bahwa “Al-Mawaqif al-Mukhotobah” karya Imam an-Nafri sempat jadi referensi bagi tokoh-tokoh besar yang disebutkan di atas(kitab ini ada dalam buku “Melihat Allah” karya Mustafa Mahmoud). Bedanya adalah Imam an-Nafri hanya mengurai hal-hal inti saja sekaitan dengan tauhid dan relasi dengan Allah, sementara Imam al-Ghazali, Ibnu Arabi dan Ibnu Athaillah mengurai lebih luas ungkapan-ungkapan Imam an-Nafri. Seolah-olah Imam an-Nafri hanya mengungkap aspek ontologis safar spiritual dengan cara yang begitu singkat dan padat, dan tokoh-tokoh besar di atas mengurai aspek epistemologisnya secara meluas.

Bagi an-Nafri segala sesuatu selain Allah semata, semakin diurai dan dielaborasi maka semakin mangaburkan sekaligus lebih menjauh lagi dari realitas tauhid. Mungkin karena alasan ini juga karya Imam an-Nafri begitu sedikit, sebagaimana sosoknya juga amat terbatas diketahui. Yang masyhur dikenal bahwa beliau berasal dari daerah Naffar, Irak. Sisa informasi tentang beliau begitu kabur. Beliau lebih banyak dikenal karena kitabnya yang disebutkan di atas. Tampaknya Imam an-Nafri merupakan sosok musafir kelana sejati, senantiasa bergerak di bumi tanpa dikenal dan tanpa kenal lelah, tapi konsisten menghunjam langit memasuki lautan cahaya Wahdatul Wujud dalam keabadian. Dia sepertinya tidak berurusan dengan dikenal atau mengenal, namun fokus total pada realitas hakiki, Wahdatul Wujud, hanya Allah semata yang ada.

“Antara Aku dan engkau tiada antara. Hanya Aku yang ada semata”. Demikian di antara tutur Tuhan dalam cerapan batin Imam an -Nafri. Dan, masih banyak lagi ungkapan singkat beliau namun begitu padat dan juga butuh cerapan jernih hingga bisa tiba pada makna pesan sesungguhnya. Para komentator sepakat menyebutkan karya an-Nafri setidaknya bukan untuk kalangan awam dan khusus, namun karya ini hanya cocok untuk kalangan khususnya khusus. Menangkap pesan Imam an-Nafri secara serampangan justru dapat menghasilkan konstruksi makna yang bertentangan secara diametral dengan realitas Wahdatul Wujud.

Memang terkadang pengungkapan kebenaran secara tepat begitu rumit. Banyak jeratan ambiguitas dan paradoks dapat dijumpai.  Hal ini bukan berarti ambiguitas dan paradoks inheren pada kebenaran, akan tetapi itu efek kelumpuhan nalar dan bahasa dalam mengungkap kebenaran. Bagaimana pun, realitas Wahdatul Wujud sangat berbeda dengan penjelasan tentangnya. Semakin diurai penjelasan ini sekomprehensif mungkin maka semakin menjauh dari realitas Tauhid. Segenap penjelasan tersebut hanya membangun realitas nisbi penuh keterbatasan dan sama sekali tidak mewakili realitas Wahdatul Wujud. Dalam ungkapan sederhana tangkapan batin Iman an-Nafri atas tutur Tuhan:”Akulah yang membuat nyata segala sesuatu dan bukan segala sesuatu membuat Aku nyata.”

Hal yang membuat sulit dan krusial dalam pencapaian realitas Wahdatul Wujud adalah kehadiran aku dalam diri. Pada satu sisi yang umum disadari adalah satu-satunya cara individu untuk hadir adalah dengan megeksiskan diri. Tanpa eksistensi diri maka tiada diri individu. Di sisi lain realitas Wahdatul Wujud sama sekali tidak mengizinkan hadir wujud lain, termasuk diri, untuk mewujud. Sebab jika hadir wujud lain maka itu mencederai ketunggalan wujud dan terperangkap dalam kejamakan. Untuk terhindar dari dilema ini para pesafar ruhani yang tulus mengambil langkah ke arah kejujuran wujudiah diri yang azali, bahwa memang diri tidak memiliki wujud mandiri, akan tetapi bergantung murni pada Wujud Allah. Karena kebergantungan murni wujudiah inilah sehingga diri tidak memiliki wujud secara hakiki. Wujud yang ada pada diri hanya pinjaman. Namun dengan sudut pandang tegas dan radikal, dalam realitas Wujud Tunggal tidak ada pembagian dan gradasi, sehingga tidak memungkinkan hadir wujud pinjaman. Sedikit pertanyaan humor bisa dilontarkan: Keterpinjaman apa yang bisa terjadi pada realitas Wahdatul Wujud yang kukuh dengan ketunggalannya? Bukankah keterpinjaman itu mengusik keutuhan Wujud Tunggal?

Para pesafar rohani abai atas diri yang hadir mandiri, namun fokus total pada Yang Maha Tunggal. Sehingga setiap yang hadir dalam kesadarannya terhubung langsung dengan Yang Maha Tunggal. Karena, bagi pesafar ruhani sejati, dengan Dia segala sesuatu menjadi tampak dan bukan dengan segala sesuatu itu membuat Dia tampak.

Puasa mencakup aspek lahir dan batin. Dengan cakupan kadar masing-masing, semua aspek lahir dan batin berpuasa. Imam al-Ghazali membagi tiga tingkatan puasa: awam, khusus, dan khususnya khusus. Pada tingkat terakhir ini puasa mencakup berpuasa dari segala sesuatu selain Allah. Artinya puasa itu melatih diri untuk fokus total pada Allah semata. Sehingga hasil akhirnya yang maujud hanya Allah semata dan wujud yang lainnya tak lebih dari kebergantungan wujud murni pada-Nya. Puasa tingkat tiga dalam kategorisasi Iman al-Ghazali ini tak lain adalah untuk mencapai realitas Wahdatul Wujud, Allah SWT semata.

Secara operatif, dapat direnungkan: apakah puasanya diri yang membuat terbuka jalan menuju pada Ketunggalan Wujud, ataukah kesadaran Ketunggalan Wujud dalam puasa sehingga membuka jalan bagi leburnya diri dalam lautan cahaya Wahdatul Wujud?

Puasanya individu tidak akan pernah bisa menggosok individu menjadi diri berkilau untuk sampai pada Tuhan, akan tetapi puasa-Nya Tuhan pada diri dapat menyergap diri sehingga bisa menjadi manusia Tuhan. Dan, puasa memang milik Tuhan.

Sumber ilustrasi, www: rumahtahfidzrahmatplg.com

Tutur Tuhan: Relasi Mistik Manusia dengan Allah

Umat manusia senantiasa menyelami jati diri. Salah satu bentuk penyelaman diri tersebut adalah munculnya pertanyaan untuk mengetahui siapa diri manusia sebenarnya. Pertanyaan ini selalu muncul sepanjang umur umat manusia. Beragam jawaban atas pertanyaan ini telah hadir, namun jawaban-jawaban ini tetap saja memancing hadirnya pertanyaan baru. Pencarian jati diri manusia telah melahirkan lautan pertanyaan, namun jawaban terhadapnya juga menghadirkan samudera pertanyaan baru. Kenyataan ini menjadikan upaya pencarian jati diri manusia sebagai aktivitas mengarungi cakrawala keingintahuan tentang diri yang tak bertepi. Proses manusia untuk paham-diri memakan waktu sepanjang rentang umur umat manusia.

Pada saat Tuhan hadir dalam aktivitas pencarian jati diri manusia, pertanyaan baru pun muncul: seperti apa sesungguhnya hubungan manusia dengan Tuhan? Pertanyaan umum ini bisa mengambil bentuk yang lebih spesifik: apakah hubungan tersebut dalam bentuk yang dapat dipahami atau tidak dapat dipahami? Kalau dapat dipahami, apakah hubungan tersebut dalam konteks wujud jamak atau wujud tunggal? Kalau pada kedua konteks tersebut memungkinkan, seperti apa rincian masing-masing relasi tersebut? Dan masih panjang lagi rantai pertanyaan dengan berbagai cabang berikutnya. Semua rantai pertanyaan ini butuh jawaban yang tepat guna menyingkap teka-teki siapa manusia sebenarnya. Dinamika abadi pertanyaan dan jawaban atas jati diri manusia menunjukkan betapa upaya ini merupakan keseriusan tersendiri, juga menunjukkan betapa jelasnya kehadiran manusia dalam hidup ini tapi sekaligus menampakkan betapa kaburnya tentang siapa manusia sebenarnya.

Mengapa ketepatan kenal diri manusia begitu penting? Ketepatan mengenal diri ini berkaitan dengan seperti apa semestinya relasi manusia dengan Tuhan, manusia lain dan alam semesta. Pada saat manusia gagal mengenal diri, maka akan mengundang kerancuan dalam berbagai relasi, termasuk dalam berhubungan dengan Tuhan, manusia dan alam semesta. Kegagalan ini akan menghadirkan kekacauan sistematik dalam kehidupan secara luas. Pada saat manusia gagal mengenal diri yang sesungguhnya, maka ia akan bermasalah dengan dirinya sendiri dan dengan luar dirinya, termasuk dengan Tuhan. Kegagalan manusia dalam mengenal diri dalam arti yang sebenarnya akan meruntuhkan segenap pengetahuan kenal diri dan kenal luar diri yang ia miliki. Semua pengetahuan tersebut menjadi nisbi, tidak dapat dijadikan pegangan untuk merambat menuju kebenaran. Bagaimana mungkin pengetahuan seseorang dipandang benar, sementara dia sendiri tidak mengenal dirinya?

***

Relasi manusia dengan tutur katanya. Apakah manusia dengan ucapannya merupakan wujud tunggal? Ataukah merupakan wujud berbeda yang masing-masing berdiri sendiri? Jika yang dimaksud adalah rekaman dari tutur manusia, dalam bentuk teks, audio atau lainnya, tentu manusia dan tutur katanya merupakan dua wujud yang berbeda. Yaitu, masing-masing bendiri sendiri, wujud manusia dan wujud rekaman tutur katanya. Manusia dengan wujudnya bisa eksis berdiri sendiri, begitu pun dengan wujud rekaman tutur kata manusia bisa eksis tersendiri tanpa bergantung pada keberadaan wujud manusia sebagai penutur. Dan, wujud manusia pun tidak bergantung pada wujud rekaman tutur katanya. Dalam konteks ini begitu tampak bahwa relasi manusia dengan tutur katanya merupakan relasi dua wujud yang berbeda, yaitu wujud manusia dan wujud rekaman tutur kata manusia.

Lain halnya jika yang dimaksud adalah manusia dan tutur kata aktualnya. Maka, relasi keduanya merupakan ketunggalan wujud. Yaitu, manusia dan tutur kata aktualnya berada pada wujud tunggal. Karena, wujud tutur kata aktual sangat tergantung pada manusia. Pada saat manusia sedang bertutur, maka saat itu tuturnya mengaktual. Dan, pada saat berhenti bertutur, maka tutur kata itu lenyap. Adanya atau mewujudnya tutur kata tersebut sangat tergantung pada manusia bertutur secara aktual, jika tidak sedang bertutur maka lenyap pula tutur kata aktual tersebut. Sehingga, secara jelas bahwa wujud tutur kata sangat bergantung pada wujud manusia. Jika direnungkan lebih dalam, maka didapati bahwa, dalam konteks ini, yang memiliki wujud sesungguhnya adalah manusia, sedangkan tutur kata aktualnya tidak memiliki wujud secara azali, hanya bergantung murni pada wujud manusia. Dengan demikian, manusia dengan tutur kata aktualnya ada dalam lingkup wujud tunggal. Berumah pada wujud yang sama.

***

Dalam pandangan tauhid, wujud tunggal, secara hakiki tidak mengizinkan adanya wujud selain Allah. Begitupun dalam memandang relasi Allah dengan manusia tetap harus dalam konteks wujud tunggal. Jika tidak demikian, maka sangat rentan terjatuh pada realitas kemenduaan atau lebih, tergelincir pada kemusyrikan. Kelompok tertentu peniti jalan Tuhan ada yang bermazhab bahwa  secara hakiki diri mereka tiada, bahkan selain diri mereka pun tiada, yang ada, yang wujud hanya Allah semata. Mereka hanya mengenal wujud tunggal, yaitu Allah, tanpa ada wujud lain. Segala bentuk wujud lain selain Wujud Tunggal, akan gagal hadir dan gagal dipahami tanpa adanya Wujud Tunggal, karena hanya Wujud Tunggal itulah semata yang ada dan menerangi. Keniscayaan adanya Wujud Tunggal merupakan cahaya yang menerangi segalanya.

Lalu seperti apa relasi Allah dengan manusia? Ada banyak jawaban yang telah hadir untuk menjawab pertanyaan ini. Diantara jawaban tersebut ada yang berupaya kukuh pada konsep ketunggalan wujud dengan berbagai pernak-perniknya. Untuk menjelaskan sebentuk relasi dalam konteks wujud tunggal ini mereka membuat sejenis analogi bahwa hubungan Allah dengan manusia sebagaimana hubungan Allah dengan Kalam Aktual-Nya, walaupun tak semirip persis ulasan hubungan manusia dengan tutur aktualnya pada penggalan tulisan di atas yang menunjukkan eksis dalam ketunggalan wujud.

Relasi Allah dengan manusia adalah sebentuk relasi Allah dengan Kalam Aktual-Nya. Relasi Allah dengan Tutur Aktual-Nya. Tutur Aktual atau Kalam Aktual Allah senantiasa bergantung murni pada Wujud-Nya, begitupun segenap wujud lainnya, termasuk manusia. Wujud-Nya melampaui ruang dan waktu, sehingga pada-Nya, di sisi-Nya segala sesuatu adalah aktual. Karena itu, kalaupun, untuk sekadar kepentingan pencerapan atau pemahaman, harus hadir relasi, maka relasi itu pun bentuknya aktual. Karena tiadanya wujud selain-Nya, maka segala bentuk relasi di sisi-Nya adalah niscaya dalam Wujud Tunggal. Begitupun relasi Allah dengan manusia, merupakan relasi aktual dalam konteks dan konsep Wujud Tunggal.

Manusia terpelanting masuk ke dalam wujud jamak dan keterpisahan, masuk ke dalam ambiguitas wujud sistematis kata Mulla Shadra,  namun ia sekaligus juga dirangkul dalam Wujud Tunggal-Nya, dalam Nafas Ar-Rahman kata Ibnu Arabi. Ia dan Nafas Ar-Rahman-Nya identik. Manusia berenang dalam keterpisahan di lautan wujud jamak, namun pada kedalaman Samudera Kasih-Nya, manusia ada pada Napas Ar-Rahman-Nya, yang Ia dan Napas Ar-Rahman-Nya utuh dalam Wujud Tunggal-Nya. Dan Tuhan pun berbisik lembut, menantang manusia untuk bermusafir kepada-Nya: “Aku lebih dekat padamu daripada kamu terhadap urat lehermu!”

 

Sumber ilustrasi: https://konsultasisyariah.com/24942-derajat-manusia-di-hadapantuhan-itu-sama.html