Arsip Kategori: Resensi Buku

Mencari Makna Hidup dengan “Logoterapi”

“Hidup menyimpan makna tersembunyi dalam setiap keadaan, bahkan yang paling memilukan sekalipun” Viktor E. Frankl

Kalimat di atas terletak dan tersusun rapi di bagian pengantar buku Man’s Search For Meaning, akan tetapi terasa bergerak menampar saya berkali-kali. Bagaimana tidak, saya bertemu dan membaca buku ini di saat saya sibuk mempertanyakan seperti apa hidup yang seharusnya saya jalani. Ketakutan-ketakutan tentang masa depan yang tiada hentinya menyerang pikiran dan mental saya.

Buku ini menggambarkan kehidupan Frankl dengan berbagai penderitaan yang tak ada putus-putusnya sebagai tahanan Nazi pada saat itu. Kamp konsentrasi Auschwitz merupakan saksi atas pengalaman hidup para tawanan yang sejak detik pertama melihat wilayah tersebut, tidak lagi berpikir tentang bagaimana hidup dengan keluarga yang bahagia, melainkan memikirkan cara untuk tidak mati dalam keadaan mengerikan esok harinya.

Dengan segala bentuk dan macam kengerian, Frankl menyebutkan tiga fase reaksi mental kehidupan para tawanan di kamp konsentrasi. Fase pertama, reaksi mental yang dialami oleh para tawanan adalah perasaan terguncang dan syok. Fase ini diceritakan oleh Frankl, ketika ia dan teman-temannya menginjakkan kaki di kamp konsentrasi. Saat kereta yang mereka tumpangi telah memasuki Kawasan Auschwitz, mereka hanya bisa berharap dan mengkhayal untuk tetap bisa bersikap tenang. Sebab, jika sedikit saja mereka memberontak, kematian akan semakin dekat menghampiri mereka.

Hampir semua orang dalam kereta tersebut membayangkan tentang indahnya pengampunan yang akan mereka dapatkan dan pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Namun, harapan dan khayalan yang mereka bangun sejak berada dalam kereta api tiba-tiba saja hancur dinjak-injak oleh kenyataan sewaktu tiba di kamp konsentrasi. Para serdadu bahkan tidak membiarkan mereka menggunakan pakaian layak dan tidur dalam tenda yang membuat tulang-tulang mereka seakan tertusuk karena kedinginan. 

Banyak kejadian-kejadian tak terduga menyambut mereka dikamp konsentrasi. Salah satu contoh kejadian tersebut adalah para tawanan yang dahulunya berprofesi sebagai rekan medis menjadi sadar: “buku-buku yang kita baca ternyata bohong!”. Buku tersebut menjabarkan bahwa manusia tak dapat hidup hanya dengan sekian jam tidur. Di kamp konsentrasi, mereka hanya tidur beberapa jam, namun dapat membuat mereka melepaskan semua penat yang dirasakan dalam seharian bekerja.

Pada fase kedua, Frankl menunjukkan bahwa tawanan akan bersikap apatis dan relatif. Sebab, perasaan mereka menjadi kebal sehingga pada saat mereka melihat tawanan lainnya mendapatkan siksaan, mereka tidak merasakan apapun. Emosi mereka menjadi tumpul sehingga tidak lagi memedulikan apapun. Sebut saja misalnya, siksaan yang berujung maut pun dianggap sesuatu yang wajar terjadi di kamp konsentrasi. Tidak hanya itu, mereka juga hanya akan berpaling sejenak lalu berjalan kembali ketika melihat kawanan lain sedang sakaratul maut akibat wabah tifus yang menyerang kamp mereka.

Sikap apatis yang dirasakan para tawanan merupakan mekanisme pertahanan diri yang sangat dibutuhkan. Setidaknya, emosi dan perasaan hancur yang berlarut-larut akan mengurangi kemungkinan mereka untuk dekat dengan kematian. Pada saat mereka digiring untuk istirahat dalam tenda, mereka hanya akan mengatakan “bagus, satu hari lagi berlalu sudah”.

Fase ketiga, dialami oleh para tawanan ketika mereka telah dibebaskan. Menurut Frankl, reaksi mental pada tahap tersebut dinamai dengan depersonalisasi. Depersonalisasi merupakan kondisi psikologis yang menganggap bahwa kebebasan yang mereka dapatkan tidaklah nyata dan tidak mungkin terjadi. 

Mereka masih percaya bahwa kebebasan tersebut adalah mimpi yang hampir setiap malam datang sebagai pemanis tidur setelah bekerja dan disiksa secara terus-menerus. Mereka sudah lama dibohongi oleh mimpi-mimpi ketika suara peluit serdadu membangunkan mereka dengan brutal.

Suatu hari, para tawanan berada dalam kondisi sangat terpuruk dan membenci diri mereka sendiri. Mereka menganggap bahwa bunuh diri adalah satu-satunya plilhan diantara banyaknya pilihan lain untuk mengakhiri penderitaan. Melihat situasi itu, Frankl dengan aksi heroik, berdiri dihadapan tawanan lain dan menyatakan: penderitaan hidup yang sedang dirasakan dapat menjadikan kita sebagai manusia yang memiliki sedikit kebahagiaan, jika kita berhasil menemukan makna tersembunyi dari penderitaan tersebut. 

Menurut Frankl, ketakutan-ketakutan akan masa depan merupakan salah satu penyebab rusaknya mental seseorang. Sebut saja misalnya, kehidupan di kamp konsetrasi didominasi oleh orang-orang yang mempunyai rasa takut akan kehidupan. Sehingga yang dapat bertahan hidup adalah mereka yang pandai mengambil makna hidup dari sekecil apapun penderitaan yang dirasakan.

Teori Logoterapi ala Frankl

Logoterapi merupakan teori yang dicetuskan pertama kali oleh Frankl. Teori tersebut memusatkan perhatiannya kepada makna hidup dan upaya yang dilakukan dalam mencari makna hidup. Frankl percaya bahwa mencari makna hidup merupakan motivator utama seseorang dalam menjalani kehidupan. Tanpa pencarian makna hidup, seseorang akan mengalami perasaan tak layak dalam mengekspresikan kehidupan.

Keinginan manusia secara berlebihan untuk mencari makna hidup dapat menimbulkan frustasi. Peristiwa itu di dalam Logoterapi diberi nama frustasi eksistensial. Secara umum kata eksistensial dapat dimaknai sebagai keberadaan manusia. Lebih lanjut, eksistensial juga dapat disebut sebagai cara khusus yang dilakukan seseorang dalam menjalani hidupnya atau perjuangan untuk menemukan makna konkret untuk mencari makna hidup.

Frustasi eksistensial dapat memicu penyakit neurosis noogenik. Penyakit ini bukan disebabkan oleh konflik antara naluri dan keinginan manusia, melainkan masalah-masalah terkait kehidupan. Frustasi akut dalam mencari makna hidup merupakan salah satu gejala dari penyakit ini.

Suatu waktu, seorang dokter dari Amerika mendatangi Frankl dan mengajukan pertanyaan “Apa perbedaan psikoanalisis dengan Logoterapi?” Frankl menjawab: Seorang pasien psikoanalisis akan tidur diatas sofa kemudian menyampaikan permasalahan-permasalahan hidup yang sangat berat sekalipun. Sedangkan Logoterapi diharuskan untuk duduk tegak sambil mendengarkan kenyataan-kenyataan yang kadang sulit untuk didengar.

Berbeda dengan psikoanalisis, Logoterapi hadir dalam upaya membantu pasien sadar akan makna hidup yang tersembunyi dalam kehidupannya. Yang dibutuhkan manusia bukan menghilangkan ketakutan serta ketegangan dengan resiko apapun, melainkan berusaha mencari makna potensial yang harus ia penuhi. 

Buku ini berhasil mengubah gagasan saya secara pribadi dalam memaknai hidup. Satu kalimat yang akan terus menetap dihati dan pikiran saya bahwa “Apapun bisa dirampas dari manusia, kecuali satu: kebebasan untuk menentukan sikap dalam setiap keadaan, kebebasan untuk memilih jalannya sendiri” -Viktor E. Frankl.

Identitas Buku:

Judul: Man’s Search For Meaning 

Pengarang: Viktor E. Frankl

Penerjemah: Haris Priyatna

Ketebalan buku: 233 Halaman

Penerbit: Noura Books

Tahun terbit: Cetakan ke-4, Maret 2019

ISBN: 978-602-385-416-5

Kader Promkes dan Pentingnya Literasi dalam Penanganan Covid-19

Membaca buku Kader Promkes untuk Literasi Kesehatan terbitan Liblitera membuat saya sadar, jika ada hal yang selama ini luput dari pembicaraan tentang isu Covid-19. Yakni peran kader promkes (promosi kesehatan) dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS), khususnya dalam penanganan Covid-19.

Buku hasil gotong royong Boetta Ilmoe dan Dinas Kesehatan Bantaeng itu seperti jendela bening dan bersih yang memperlihatkan dengan jelas, peran penting kader promkes dalam membuka cakrawala berpikir masyarakat tentang vaksinasi dan pola hidup sehat untuk meminimalkan penularan Covid-19.

Selama ini kita sibuk saling menyalahkan atas semua keadaan terpuruk akibat makhluk renik mematikan ini. Namun lupa bahwa, ada kelompok orang memilih aksi nyata dalam menyelesaikan problem yang telah melanda dunia selama dua tahun ini. Mereka ke desa-desa terpencil,  menghadapi bebalnya masyarakat, semata-mata untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat agar terhindar dari penyakit, terutama Covid-19.

Membaca buku ini membuat keadaan emosi saya campur aduk. Sesekali tersenyum, sesekali mengernyitkan dahi, dan sesekali bersedih atas lelahnya perjuangan para kader promkes Bantaeng dalam merevolusi mental masyarakat tentang kesehatan. Hal tersebut sekaligus menjadi penegasan jika Bantaeng memiliki kader promkes yang tangguh, telaten, dan berintegritas.

Pun melalui buku ini, kita mendapatkan satu poin penting: peran literasi tak bisa diabaikan dalam penanganan Covid-19. Secanggih apapun strategi dan teknologi medis untuk menghadapi Covid-19. Semua itu tidak berguna jika masih banyak masyarakat yang tidak percaya keberadaan mikroorganisme ini. Semua itu tidak ada artinya jika banyak masyarakat enggan mematuhi protokol kesehatan, enggan disuntik vaksin, dan meremehkan kondisi kesehatannya sendiri.

Selama dua tahun Covid-19 menyusahkan masyarakat dunia, saya akhirnya menyadari, hal yang paling sulit dihadapi di masa krisis adalah mentalitas manusia. Mudah terprovokasi dan dimanipulasi. Tapi susah sekali disembuhkan. Fenomena demikian nampak jelas selama wabah Covid-19 berlangsung.

Di awal Covid-19 mewabah di Indonesia, berita provokatif, hoaks, dengan segala teori konspirasi yang mengikutinya, juga sudah bermunculan. Informasi demikian sangat mudah dipercaya oleh masyarakat. Sekali terjangkit, sangat susah dibersihkan dari kesadaran masyarakat. Akhirnya banyak masyarakat yang menolak vaksin, tes antigen, enggan menerapkan 3 M, bahkan tak meyakini keberadaan Covid-19 karena terhasut oleh informasi hoaks.

Keadaan tersebut memberi dampak besar bagi suksesi penanggulangan Covid-19. Sejauh yang saya ketahui, berdasarkan pengalaman observasi saya dalam mengamati fenomena Covid-19,  penanganan virus tersebut terhambat karena sulitnya mengedukasi masyarakat tentang bahaya Covid-19, pentingnya vaksin, dan menjaga protokol kesehatan. Karena ada semacam krisis kepercayaan terhadap hal ikhwal terkait Covid-19, yang sedikit banyak terbentuk akibat informasi abal-abal yang mereka konsumsi di ruang digital.

Meski sulit mengubah mindset masyarakat mengenai Covid-19. Bukan berarti tidak mungkin. Covid-19 dapat ditangani dengan vaksin. Sementara virus hoaks dapat ditangani dengan literasi. Olehnya itu peran kader promosi kesehatan (promkes) tak bisa disepelekan dalam penanganan Covid-19. Bahkan, memberi sumbangsih yang besar dalam penanganan Covid-19 jika literasi kesehatan yang mereka perjuangkan berjalan efektif.

Hal tersebut terlihat jelas dalam buku ini. Bagaimana para promkes tak hanya menginformasikan tentang pola hidup sehat, namun juga berjuang memperbaiki pola pikir masyarakat tentang Covid-19, meski mereka dituding main proyek, dianggap menjadikan penyuluhan Covid-19 sebagai ladang uang.

Beberapa kader promkes dalam kisah yang ditulisnya, menceritakan tentang keadaan masyarakat yang tak percaya Covid-19 hingga terang-terangan menolak vaksin. Namun dengan cara yang humanis, pelan demi pelan kader promkes berhasil membangun pola hidup sehat masyarakat Bantaeng.

Tudingan miring atas fungsi dan peran kader promkes tak menyulutkan semangat mereka dalam membangun literasi kesehatan masyarakat. Yah, kita tahu, setiap perjuangan selalu ada aral melintang yang menghadapinya di tengah perjalanan. Jika para kader promkes berhasil melewati ujian itu, maka kita patut bertepuk tangan atas perjuangan mereka dalam membantu membantu penanganan Covid-19: kontribusi yang tak bisa disepelekan.

Anggi, Imaji, dan Wajah Pendidikan

Kalau boleh jujur, sudah sejak lama saya menyenangi segala hal ikhwal seputar pendidikan—baik pendidikan sebagai diskursus, maupun pendidikan dalam arti kebijakan dan praktik kebudayaan. Mungkin sudah lebih dari 10 tahun saya tertarik dengannya. Sayangnya, saya tidak menggelutinya secara dalam dan serius. Karenanya, hingga sekarang saya merasa tidak begitu piawai apalagi expert dalam mengomentari banyak hal mengenai pendidikan.

Oleh karenanya, tulisan pendek ini rasanya tidak tepat untuk disebut resensi, barangkali lebih sebagai ajakan kepada majelis pembaca untuk mau berbagi wawasan, kegelisahan, dan refleksi mengenai pendidikan. Serta yang tidak kalah penting, yaitu ajakan untuk membaca buku bertajuk Imajinasi, Problematika, dan Kompleksitas: Wajah Pendidikan Indonesia anggitan dari Bung Anggi Afriansyah.

Tentang Penulis

Anggi—penulis buku ini—adalah peneliti muda di sebuah lembaga penelitian terkemuka Indonesia, yakni LIPI (BRIN saat ini). Di lembaga itu, Anggi dikenal sebagai salahsatu esais paling produktif pada tema pendidikan. Jauh sebelumnya, Anggi pernah melakoni profesi sebagai pengajar, baik di sekolah, bimbingan belajar, maupun di perguruan tinggi. Aliran nasib lah yang kemudian membawanya menjadi peneliti di lembaga ‘plat merah’ tersebut.

Seperti diakui dalam pengantar bukunya, Anggi menggeluti topik pendidikan secara serius didorong oleh setidaknya dua alasan elementer (hal.viii-ix), yakni pertama, alasan personal, Anggi memang tumbuh dalam ekosistem keluarga pendidik. Ibu dan bapaknya adalah guru. Langsung atau tidak, situasi itu membentuk dan mempengaruhi Anggi.

Lalu, setelah tamat SMA, Anggi kemudian melanjutkan studinya ke kampus LPTK, yakni Universitas Negeri Jakarta (eks IKIP). Disana Ia memilih prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn). Begitu meraih gelar sarjana, Anggi lalu melanjutkan studi magisternya di Sosiologi UI, sembari nyambi menjadi guru, tentor dan asisten dosen. Bila melihat rute perjalanan dan pergulatan Anggi, memang sedikit banyak berkait kelindan dengan pendididikan. Tidak heran Ia menjadi sangat akrab dengan tema pendidikan.

Kemudian kedua, yakni alasan subtansial. Sebagai generasi muda terdidik, Anggi tentu saja mengalami gejolak, dilema, kegelisahan, dan akhirnya terpanggil untuk menggelutinya. Bagaimana tidak, Anggi menyaksikannya sendiri, bahkan dari jarak yang cukup dekat mengenai situasi dan problem kebangsaan kita, seperti kekerasan, intoleransi, diskriminasi, terorisme, politik kebencian, pengabaian nilai karakter, marginalisasi kelompok minoritas, kesenjangan sosial dan banyak lagi. Kondisi ini membuatnya kian terpanggil untuk masuk lebih dalam dan menggelutinya secara lebih intim lalu menuliskannya. Pendidikan kemudian Ia pilih sebagai lokus dan fokusnya. Ia melihat pendidikan adalah pintu masuk sekaligus pintu keluar dari problematika tersebut.

Perihal Buku

Buku ini saya terima (disertai tandatangan penulisnya) pada Februari 2022, tepatnya 22-02-2022. Tanggal cantik bukan? tapi bukan perkara tanggal cantik itu yang akan saya babarkan disini. Melainkan insight yang saya temukan setelah membacanya. Oiya, kalau boleh, izinkan saya berterima kasih lebih dulu kepada penerbit Pojok Cerpen & Tanda Baca karena menghadiahi saya buku tersebut, setelah ikut nimbrung dalam Bedah Buku yang digawangi oleh P2G dan Tanda Baca (Rabu, 19 Januari 2022).

Buku ini merupakan debut perdana Anggi secara solo. Sebab bukunya yang lain, Ia tulis dan terbitkan bersama kawan-kawannya. Karena itu, boleh dibilang inilah buku perdananya. Buku ini merupakan himpunan artikel pendek Anggi yang berserak dan tersebar di banyak media, baik nasional maupun lokal, cetak ataupun daring, yang ia terbitkan pada medio 2015-2019, misalnya di Harian Republika, Harian Media Indonesia, Koran Sindo, Koran Kompas, Koran Jakarta, detiknews, NU Online, Jawa Pos, Radar Tasikmalaya, dll.

Sesuai judulnya, keseluruhan artikel dalam buku ini menganalisis pendidikan dengan segala kompleksitas dan problematikanya. Tidak lupa, Anggi juga menarasikan imajinasinya tentang pendidikan yang humanis, yang egaliter, yang memerdekakan. Begitu juga imajinasinya tentang Indonesia yang lebih maju dan lebih makmur. Melalui artikel-artikelnya tersebut, Anggi berusaha menyajikan fakta bahwa pendidikan kita memang sedang tidak baik-baik saja, di beberapa bagian memang masih sangat buruk. Karenanya, melalui bukunya Anggi mengajak kita untuk menjadi bagian dari ikhtiar mengurai kekusutan dan silangsengkarut problematika pendidikan kita.

Buku setebal xii + 283 halaman ini memuat 52 artikel yang dikelompokkan dalam enam tajuk utama, yaitu (1) Wajah Pendidikan di Indonesia, memuat 8 artikel; (2) Problematika pendidikan di Indonesia, berisi 11 artikel; (3) Relevansi Ajaran Ki Hajar Dewantara dalam Konteks Kiwari, memuat 8 artikel; (4) Sekolah: Penguatan Dialog, Pancasila, Anti Kekerasan, berisi 12 artikel; (5) Menguatkan Siswa Membaca, berisi 6 judul artikel; serta yang terakhir (6) Pergulatan Pendidikan di Pesantren, memuat 7 artikel.

Sekalipun buku ini cukup tebal, tapi jangan terintimidasi karenanya. Sependek pengalaman saya membacanya, tulisan-tulisan yang ada di dalamnya sangat mengalir. Kita juga terbantu karena bisa memilah dan memilih topik yang ingin kita baca lebih dulu. Kesimpulan saya, Anggi memang sangat terampil menguraikan pikiran-pikirannya secara kritis dan reflektif. Tidak hanya itu, Anggi juga sangat piawai dalam memetakan situasi pendidikan kita kiwari dalam sudut pandang yang khas dan beragam, serta kemasan yang menarik dan menantang untuk dibaca.

Tak heran jika ia bisa menulis gagasannya secara lintas topik, misalnya dari masalah kebijakan pendidikan yang sangat normatif. Lalu berpindah ke isu minat baca siswa, kekerasan, politik kebencian, pendidikan kebangsaan, pendidikan di pesantren yang kesemuanya sangat sosiologis. Kemudian bergeser ke topik pendidikan yang dialogis, pendidikan yang egaliter, pendidikan yang memerdekakan, Pancasila di ruang kelas, dan masih banyak lagi yang kesemuanya sangat ideologis.

Lalu mengajak kita perlahan-lahan masuk pada gagasan-gagasan besar nama-nama seperti Ki Hadjar Dewantara, Driyarkara, Tan Malaka, Soekarno, Pram, Tilaar, Gus Dur, Roem, Quraish Shihab, Haryatmoko, Yudi Latif, dll. begitu juga dengan filosof dan pedagog kenamaan seperti Illich, Harari, Giroux, Freire, Mandela, Habermas, Gardner, Tom Nichols, Bikhu dan masih banyak lagi, diuraikan secara filosofis.

Sebelum menutupnya, saya ingin mengutip sepotong kalimat dalam salahsatu artikel di buku tersebut, yang berjudul “Membaca Sebagai Tugas Ilahiyah” disitu Anggi menulis ‘..membaca dapat membuka cakrawala, meningkatkan imajinasi, dan keluasan pandangan seseorang…’ saya kira itu benar adanya. Karenanya mari membaca, membaca apa saja—teks, konteks dan peristiwa—tentu saja termasuk buku ini.

Akhirnya sebagai penutup saya mengajak kepada hadirin pembaca, untuk bersama-sama menyelami buku Bung Anggi ini, dan lebih jauh dari itu ikut menjadi bagian dari usaha panjang mengembalikan pendidikan pada relnya yang semula, yaitu pendidikan yang memerdekakan—merdeka dari ketidaktahuan, ketertinggalan, kemiskinan, ketidakberdayaan, dan ketidakberadaban. Demikianlah, saya tidak akan menyimpulkan apa-apa, sebab seperti yang saya sampaikan di awal, tulisan ini lebih sebagai ajakan untuk membacanya semata, bukan untuk mereviewnya.

Terakhir, selamat kepada Bung Anggi atas debut buku terbarunya. Terimakasih atas analisis dan sajian gagasannya yang apik dan menggugah. 

Tentang buku:

Judul: Imajinasi, Problematika, Kompleksitas: Wajah Pendidikan Indonesia

Penulis: Anggi Afriansyah

Penerbit: Pojok Cerpen & Tanda Baca

Tahun Terbit: Desember 2021

Halaman: xii + 283 hlm.

Kategori: Non Fiksi

Pertanyaan-Pertanyaan Plato dari Palestina

Filsafat itu datang dari setan.” (hal. 83).

Apakah Anda pernah mempertanyakan tentang keberadaan Tuhan? Memikirkan tentang keadilannya, tidak lama setelah keburukan dan kejahatannya Anda renungkan seolah-olah diciptakan hanya khusus untuk Anda sendiri, dan melihat kesuksekan orang-orang sepertinya tidak layak untuk mereka rasakan, karena Anda tahu orang-orang yang Anda sesalkan pernah melakukan kejahatan di masa lalu yang sulit dilupakan?

Apakah Anda juga pernah berpikir tentang nasib Anda, dan bagaimana hubungannya dengan Tuhan,  lalu lantas mempertanyakan otonomi Anda sebagai manusia yang memiliki kebebasan, tapi di sisi lain Anda seringkali mendengar kehidupan Anda merupakan bagian dari rencana Tuhan sebagai zat Mahapengatur? Bagaimanakah memposisikan kebaikan dan keburukan melalui pemahaman bahwa Tuhan sebagai sumber kebenaran, sementara manusia itu makhluk yang nisbi?

Tapi, bukankah manusia memiliki akal budi, sistem pengindraan, dan dalam sejarah menciptakan institusi-institusi hukum dari semua itu untuk menegaskan ukuran kebaikan dan keburukan, yang berhak ditegakkan, atau sebaliknya mesti dienyahkan dari masyarakat? Di titik ini, keberadaan Tuhan terlalu berlebihan untuk dilibatkan hanya untuk mengatur kehidupan masyarakat. Jika memang Anda tidak mengakui eksistensi Tuhan, kepada apakah Anda memberikan hidup Anda? Seperti apakah kehidupan jika Tuhan tiada? Apakah Anda akan menjadi lebih baik, lebih saleh, atau sebaliknya?

Sekarang tidak sedikit orang enggan mengajukan pertanyaan-pertanyaan macam di atas, dan lebih memberikan perhatian kepada dilema-dilema konkrit tentang pemerintahan demokratis, kebebasan warga negara, keadilan sosial, hak-hak politik, dan identitas kewargaan yang lebih dianggap ril untuk dipecahkan karena masyarakat global lebih membutuhkan keputusan politik dibandingkan debat tak berujung seperti dijumpai di kelompok-kelompok filsuf, yang elitis, tapi juga paling tidak taktis.

Saya tidak akan menyarankan Anda untuk menjadi seperti seorang filsuf, jika yang Anda bayangkan dari pekerjaan mereka hanyalah mempertontonkan kemampuan eksplanasi, tapi tidak menunjukkan tanda-tanda sebuah pemahaman yang mereka katakan tidak pernah mereka alami sendiri. Tidak mungkin pula dapat disebut filsuf apalagi jika yang dimaksud filsuf adalah seseorang yang memiliki kegemaran berpikir esensialistik, mengkerucutkan semua jawaban kepada satu narasi tunggal, menganggap semua pandangan tidak layak diterima karena hanya jawaban Anda saja yang berpeluang membuat orang selamat.

Berfilsafat, jika dilakukan dengan cara seperti itu hanya akan membuat Anda menjadi seperti seorang pengkhotbah, dan hanya mau berbicara di hadapan kerumunan orang yang Anda ciptakan sendiri.

Bagi saya, filsafat adalah dialog, setidak-tidaknya dengan diri sendiri, jika memang Anda tidak menemukan sahabat (philia) untuk mencari suatu jawaban yang bisa memuaskan Anda.

Tapi, dalam berfilsafat, jawaban, tidak selalu merupakan apa yang bisa membuat diri Anda puas, melainkan yang paling bisa diterima ke dalam benak Anda, dan terkadang itu biasanya datang dari sahabat bicara Anda, yang dengan suatu cara itu akan membuat Anda mau menerimanya dengan mengakui terlebih dahulu bahwa tidak setiap saat diri Anda akan pasti benar (shopia).

Sebelum Anda menemukan sahabat dialog Anda, sama seperti Plato yang menemukan Socrates di masa lalu, saya akan lebih percaya diri menunjukkan satu buku yang menarik untuk dibaca di masa gabut seperti ini, satu buku yang ditulis oleh filsuf beneran, setidaknya dalam pengertian akademis, seorang pengajar filsafat dan perbandingan agama bernama Carlos Fraenkel, dari universitas McGill, Kanada. Buku memang disebut sahabat paling setia, sampai-sampai peribahasa Arab menyebutnya sekebun taman bunga yang bisa dikantungi ke mana-mana. Sahabat itu bernama: Bersama Plato di Palestina, Manfaat Filsafat di Dunia yang Terbelah.

Saya akan mulai dari frasa ”dunia yang terbelah” dan bersepakat dengan pilihan judul seperti itu. Dunia yang terbelah bisa Anda artikan macam-macam, seperti pertentangan di belahan orang-orang yang memiliki kebiasaan hidup ala Barat dengan tradisi kepercayaan di masyarakat Timur, antara ideologi politik ekonomi neoliberal dengan komunisme yang masih bertahan meski tidak lagi tekonsolidasikan seperti tiga dekade lalu, atau pertentangan dua tatanan universe antara misal kehidupan sekuler dengan  kehidupan yang menglorifikasi kehidupan ukhrawi di bawah taklid guru-guru kelompoknya. Masih banyak patahan-patahan secara konseptual yang membagi-bagi dunia menjadi partisi-partisi otonom tanpa saling terhubung dikarenakan didasarkan kepada satu model narasi yang berbeda, dan juga secara empiris tidak sedikit praktik kehidupan ini dialami oleh masyarakat yang membelah-belah dirinya ke dalam ikatan-ikatan sejarah, politik, dan agama, sehingga melahirkan konsep identitas yang terbelah, terisolasi dan menghindari sosialisasi di masa globalisasi seperti kiwari.

Di dalam konsep dunia semacam itulah yang menjadi latar belakang permenungan Fraenkel, setidaknya seperti yang saya tangkap dari keseluruhan isinya, mengapa akhirnya ia dapat melahirkan buku dengan nada optimis untuk menengahi “keterbelahan-keterbelahan” dunia seperti narasi di atas. Dan, optimisme itu tidak ia asalkan kepada pencapaian-pencapain pemikiran di abad ini, melainkan ia ambil dari masa silam, seperti dari kebijaksanaan Plato, Abu Hamid al Ghazali, Ibn Rusyd, Maimonides, Baruch Spinoza hingga Friedrich Nietzsche, saat perdebatan-perdebatan seperti pertanyaan pembuka di atas belum menjadi sekadar debat-debat akademis yang hanya ditemui di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi, tapi hidup sebagai wacana umum di ruang publik: filsafat.

Di tahun 2000 saat Fraenkel di Kairo, Mesir, untuk mendalami kemampuan bahasa Arabnya, saat menyelesaikan program doktoralnya, ia mendapatkan momen kritis untuk mengatakan bahwa di saat itu lah pertanyaan epistemologi buku ini disusun, yakni saat ia terlibat diskusi dengan mahasiswa-mahasiswa Mesir tentang pembuktian eksistensi Tuhan yang ia sebut dimotivasi dengan semangat untuk menyelamatkannya dari siksa api neraka. Mahasiswa Mesir mendorongnya untuk beriman ke dalam Islam, tapi tidak semudah bayangan sebagian orang, menawarkan iman baru membutuhkan argumen yang kuat, dan bagi orang seperti Fraenkel, yang mempelajari dan mengajar filsafat secara akademis, telah menyediakan benteng argumen ontologi melalui argumen Kantianisme.  

Karena itu, proyek besar buku ini seperti Fraenkel jelaskan di bagian pengantarnya adalah bertolak dari dua premis utama, yakni bagaimanakah filsafat bisa menjembatani perbedaan pandangan di antara pluralitas keyakinan, yang lahir di banyak pengalaman masyarakat melalui agama, budaya, dan bangsa. Apakah keanekaan itu bisa didamaikan melalui suatu cara, sehingga masing-masing tidak lagi tanpa risih dan berkewajiban terdorong menyadarkan orang melalui pendiriannya dikarenakan sudah memahami jalan berpikir si liyan.

Kedua, apakah filsafat bisa dikembalikan kepada karakternya yang deliberatif, sehingga bisa melibatkan semua orang dari berbagai macam kelas dan golongan agar filsafat tidak menjadi barang antik yang hanya bisa dinikmati oleh golongan elite di lingkungan akademis belaka?

Tidak ada spoiller untuk dua problem di atas, yang secara moral ungkapan ini tidak sepenuhnya akan membuat Anda terdorong memiliki buku ini. Tapi, jika sejak mula Anda menyadari arti penting dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan di bagian sebelum ini, saya kira Anda akan sangat antusias mengikuti perjalanan Fraenkel di beberapa tempar seperti bertemu mahasiswa-mahasiswa di Palestina dan Makassar (Indonesia), komunitas Yahudi Hasidik di New York (Amerika Serikat), remaja-remaja di daerah kumuh Itapua (Brasil), dan keturunan prajurit Iroquois Indian di Kanada. Di tempat-tempat inilah, melalui lokakarya filsafat, pertanyaan-pertanyaan di atas ia diskusikan untuk menguji metode yang ia sebut  dan tawarkan sebagai budaya debat, yang diharapkan mampu mengatasi perbedaan-perbedaan pendirian yang selama ini sulit menemukan jalan keluarnya.

Di kondisi ini, Fraenkel seolah-olah bagai Socrates dari masa lalu yang datang untuk menguji konsep kepercayaan agama, keadilan, moral, demokrasi, dan pemerintahan, melalui diskusi atau yang dia harapkan “berdebat”, yang itu tidak ia lakukan di pusat keramaian yang hari ini jika saja Agora masih bertahan—sama saat Socrates melakukannya—mungkin saja itu bisa berwujud sama seperti mal atau alun-alun kota.  

Tapi, Fraenkel bukan Socrates yang memiliki keberanian sebagai seorang kampiun dialog hingga rela memberikan satu-satunya nyawa demi tujuan mulia untuk mengubah anak-anak muda melahirkan sendiri kebenarannya. Meskipun tidak seperti itu, Fraenkel tetap gigih menawarkan ”budaya debat” agar setiap orang dapat sadar dan berkesempatan memeriksa ragam kepercayaannya agar tidak taklid begitu saja kepada otoritas tidak bertanggung jawab, seperti yang selama ini sudah lumrah diterima.

Seperti diabadikan dalam tarikh filsafat, Socrates adalah jawara diskusi, yang dengan kapasitas pertanyaan-pertanyaannya menyeret lawan bicara bakal menemukan sendiri pertentangan-pertentangan di sekujur pendapatnya. Modal Socrates cuma satu dalam hal ini, bahwa ia mengyakini setiap orang memiliki dan dapat mengandung kebenarannya sendiri, yang jika diberikan kesempatan untuk menyelidiki informasinya, dengan otomatis bakal menemukannya. Ini disebut metode bidan, yang membuat orang-orang ”melahirkan” sendiri anak kebenarannya.

Jadi, dikatakan sendiri oleh Fraenkel, budaya debat bukan saja ia maksudkan secara teknis sebagai  piranti logis dan semantis untuk meluruskan pandangan-pandangan seseorang agar dari itu tersusun argumen yang kokoh, tapi kemahiran dialektis untuk terlibat dalam upaya bersama dalam rangka mencari kebenaran. Usaha ini diingatkan olehnya tidak juga sekadar hanya untuk memenangkan opini daripada yang lain, tapi lebih mengacu kepada penghargaan atas kebenaran tertinggi tanpa menanggalkan kebajikan berdebat (virtues of debate)

Sekarang ini informasi dengan gampang dapat mengubah kepribadian seseorang, yang membuat banyak orang ketakutan karena telah banyak bukti-bukti, jika paparan informasi dibiarkan berkembang biak, yang berasal dari berbagai macam komunitas atau bangsa, kekuatannya akan membuat banyak hal berubah. Kepribadian yang berubah juga dengan sendirinya akan membuat pendirian seseorang ikut berubah. Dan, kekuatan informasi semacam  ini, yang bisa mengubah seseorang, yang paling dikhawatirkan oleh komunitas-komunitas agama, yang menganggap Tuhan tidak menciptakan perubahan untuk mereka, karena jika seseorang sedang merencanakannya, itu sama artinya telah melawan ketetapan takdir Tuhan.

Keyakinan seperti ini, bukannya tidak hilang meski globalisasi dan modernisasi sudah semenjana dipraktikkan, melainkan masih terus kokoh membentengi diri agar tetap menjaga kemurnian ajarannya. Manusia adalah wayang dari skenario Tuhan, sehingga satu-satunya kapasitas kemanusiaan yang mesti dipertahankan saat ini adalah menduplikasi model kehidupan orang-orang dari masa lalu, saat agama-agama masih perawan, karena dari orang-orang terdahulu lah Anda bisa menemukan kepribadian yang masih baik hatinya. Jadi dapat dipahami mengapa perubahan, dengan apa pun alasan dan istilahnya, tidak dianjurkan oleh kelompok semacam ini. Itu sama artinya Anda sudah berani bermain wayang, yang sedang menantang jalan cerita Tuhan untuk hidup Anda.

Maka itu menarik merenungi salah satu pertanyaan Fraenkel untuk mahasiswanya di UIN Alauddin Makassar mengenai hubungan wahyu dan perubahan: jika Tuhan menyesuaikan pesan-Nya selaras dengan keadaan sejarah yang beragam, mengapa Ia harus berhenti mewahyukan warta ilahi hanya sampai di Arabia abad ke-7? Apakah dunia tidak berubah sejak saat itu? Dengan kata lain, mengapa Tuhan berhenti menurunkan orang-orang pilihannya, dalam rangka membimbing umat manusia, hanya sampai di Rasulullah?

Pertanyaan terakhir hanyalah penegasan dari saya untuk memberikan efek klimaks dari pertanyaan intinya di yang pertama, dan kalau bersedia, itu pertanyaan yang cukup menantang sebenarnya untuk Anda carikan jawabannya jika Anda seorang muslim. Tapi, seandainya Anda merupakan orang Yahudi, terutama dari sekte Hasidik, kelompok ortodoks Yahudi yang lebih tertutup dan menganggap seperti misal modernisasi dapat menjauhkan sampai melunturkan iman kelompok Anda dari Taurat, maka persoalannya lebih pelik lagi.

Seandainya saja Tuhan hanya mempercayai Musa sebagai satu-satunya nabi pilihannya, dan karena itu tiada nabi selain dirinya yang lebih superior, mengapa warisan wahyu-Nya masih diteruskan kepada komunitas bangsa-bangsa lain, jauh setelah masa hidup Nabi Musa yang kurang lebih berjarak 1.900 tahun sampai kelahiran Nabi Isa, dan 2.500-an tahun sampai masa dipilihnya seorang utusan dari bangsa Arab bernama Muhammad? Itu artinya, dari kacamata umat Yahudi, Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada utusan-utusan setelahnya untuk mengantisipasi problem dan keadaan zaman yang masih terus berubah?

Ilmu pengetahuan tidak lahir dari ruang hampa, dan karena itu ia mesti diusahakan sebisa mungkin setelah pertanyaan-pertanyaan telah dilemparkan kepada Anda. Dalam hal ini, jawaban sama berharganya dan tidak kalah jauh berbahaya dari pertanyaan yang diberikan seseorang seperti pernah disebutkan Socrates. Saya menganggap, selama ini filsafat agak sulit diterima oleh banyak orang bukan karena pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan para filsuf itu sendiri, melainkan jawaban-jawaban atasnya yang ditakutkan tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan sendiri. Karena itu, jawaban-jawaban dari pertanyaan filsafat selalu memiliki sudut pandang yang khas, dan memiliki risiko perubahan sehingga tidak semua orang menginginkannya.

Di konteks ini, saya kira itulah yang membedakan sesuatu itu dapat disebut filsafat dan dogma. Filsafat lebih terbuka dan lebih transparan dalam hal jalan berpikirnya. Sebagai suatu ilmu, jalan berpikirnya dapat dicek melalui kriteria berpikir logis yang semua orang bisa mengaksesnya. Sementara dogma, sebaliknya, ia sesuatu yang diterima begitu saja atau bahkan dipaksakan untuk orang lain karena memang tidak ada cara lain, yang bersifat rasional atau logis, untuk diberikan kepada seseorang selain melalui cara desakkan atau paksaan. Tapi, dogma dalam praktik hariannya ternyata lebih fungsional dimanfaatkan untuk menarik perhatian masyarakat, oleh oknum tertentu, karena dogma lebih mewakili tentang apa yang disukai banyak orang daripada apa yang lebih benar untuk kebutuhan masyarakat.

Di akhir buku ini, yaitu pada bagian kedua, Fraenkel mengulas ketakutan-ketakutan banyak orang ketika mengangap filsafat sebagai sesuatu yang datang dari setan, seperti keyakinan mahasiswanya dari Brasil, sehingga budaya debat, yang merupakan turunan teknis dari cara kerja filsafat mesti dihindari sama seperti perlunya seseorang menghindari agama yang diyakini sebagai candu—di Brasil sejak 60-an Marxisme menjadi lebih berpengaruh di ilmu-ilmu sosial dan humaniora.

Di bagian kedua ini, dan ini dapat juga diartikan bagian yang memuat semacam pembelaan Fraenkel terhadap budaya debat, dipecah menjadi  8 sub-judul, untuk membuat semua orang percaya bahwa tradisi bertukar pikiran akan membuat setiap orang dapat lebih bertanggungjawab terhadap keputusan-keputusannya. Delapan delapannya yaitu: pertama, kemajemukan dan debat. Kedua, debat dan kebenaran. Ketiga, debat dan koersi. Keempat, debat dan kebijaksanaan Tuhan. Kelima, proyek etnosentri?. Keenam, debat dan otonomi. Ketujuh, debat atau multikulturalisme. Kedelapan, filsafat dan masyarakat.  Semua tematik debat yang dihubungkan dengan delapan wacana di atas sepertinya dipangkalkan Fraenkel dari pernyataan Socrates dalam Apologia karya Plato ini: ”Kebaikan terbesar bagi seorang manusia ialah berbincang mengenai kebijaksanaan setiap hari dan hal-hal lainnya yang engkau dengar dari saya untuk menguji diri saya sendiri dan manusia lainnya; sebab hidup yang tak teruji ialah kehidupan tidak layak dijalani.”

Karena itu dapat disimpulkan bahwa budaya debat dalam hal ini, bukan lagi sekadar menjadi keterampilan teknis seseorang dalam rangka menyusun dan mempresentasekan pemikirannya ke dalam sistem argumentasi yang logis dan rasional, tapi menjadi semacam wahana uji kehidupan publik bagi apa pun yang menjadi wacana dan keyakinan yang tumbuh di ranah kehidupan bersama. Di titik inilah, fungsi kritis filsafat akan menyediakan prasyarat-prasyarat rasional dan teruji secara pemikiran, untuk memberikan orientasi kepada publik berkenaan dengan konsensus-konsensus umum dalam praktik kehidupan sosial yang dilatarbelakangi berbagai macam pemikiran, kepercayaan, dan budaya.

Identitas buku:

Judul: Bersama Plato di Palestina, Manfaat Filsafat di Dunia yang Terbelah

Penulis : Carlos Fraenkel

Penerjemah : Zacky Khairul Umam

Penerbit: Marjin Kiri

Tahun terbit: Januari 2022

Jumlah halaman: i-xx + 206 hlm.

No. ISBN: 978-602-0788-23-4


Sejarah Lisan Dan Desa Yang Tidak Selamanya Menentramkan

Apakah kalian pernah menonton film Beauty and The Beast? Atau tahukah tokoh legenda fiksi barat Don Quixote karya Miguel de Cervantes? Mungkin juga  masih ingatkah akhir kisah cinta dari Henry dan Catherine dari roman Hemingway; A Farewell to Arms?

Bagi para penikmat kisah percintaan pertanyaan tersebut mungkin mampu dijawab dengan mudah. Tetapi bagi para awam mungkin akan membikin pening kepala. Namun ketiga pertanyaan tersebut dapat terjawab sekaligus apabila mau membaca Dawuk Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu karya Novelis Indonesia, Mahfud Ikhwan.

Jawaban tersebut terdapat dari lakon dan alur yang ada dalam novel. Ikutilah kisah cinta yang terjadi antara Mat Dawuk & Inayatun yang terlarang, tragis, menimbulkan tangis, tetapi juga romantis untuk pertanyaan pertama dan ketiga. Dan tentu renungkanlah tokoh Warto Kemplung, si pencerita handal kita untuk jawaban kedua. Di mana ceritanya mampu menyihir orang-orang di warung kopi Bu Siti, seperti Don Quixote menghipnotis Sancho Panza agar mau ikut dalam kelananya.

Berkenalan Dengan Sejarah Lisan

Aku tak melihat sendiri bagaimana pertemuan itu terjadi. Tapi seorang yang sangat tahu peristiwa itu, dan jelas bisa dipercaya, menceritakan padaku. Dan aku akan ceritakan ulang peristiwa itu kepada kalian. Begini… (hlm. 30).

“Mereka tidak membebaskanku. Cuma tak mau repot-repot terkait urusan soal aku,” demikian katanya selepas bebas, langsung kepadaku—percaya syukur, tak percaya ya sudah! (hlm. 135)

Dua kalimat tersebut adalah contoh dari sekian kalimat yang sering diucapkan Warto Kemplung kepada para pendengar kisahnya di warung Bu Siti. Sekaligus upayanya meyakinkan mereka bahwa kisah yang diceritakannya bersifat “istimewa”, tidak dapat ditemukan pada orang lain, bahkan terkesan sungguh-sungguh terjadi dan sebab itu layak mendapatkan secangkir kopi atau rokok gratis.

Kalian pun juga pernah menjumpai hal serupa, ketika sedang mengobrol bersama kawan, dan kawan tersebut bercerita tentang suatu hal yang membuat kalian tertarik hingga mempercayainya, meski cerita kawan kalian tersebut berasal dari kawannya juga.

Tradisi berkomunikasi lewat lisan ke lisan sering kita jumpai pada kehidupan sosial masyarakat kita. Namun apabila digunakan sebagai bukti sejarah, tradisi itu menjadi pengertian dari sejarah lisan. Sejarah lisan dapat digunakan sejarawan untuk membuat kajian tentang suatu hal tentang masa lalu. Menurut Lesley (2018: 46) hal ini dikarenakan sejarah lisan merupakan pelopor semua bukti sejarah yang ada sebelum manusia mengenal percetakan.  Sejarah lisan ini semisal dongeng, hikayat, dan lain sebagainya.

Lesley dalam bukunya Afther The Prophet Kisah Lengkap Muasal Perpecahan Sunni Syiah, menuturkan bahwa para sejarawan islam awal, seperti Ibnu Ishaq dan Abu Jafar al-Tabari, dalam membuat kajian sejarahnya bersumber dengan bukti sejarah lisan itu sendiri. Para sejarawan awal itu berkeliling mengunjungi jazirah arab, mendengar kisah turun temurun yang dituturkan penduduk setempat, mengumpulkannya, menurutkan kisahnya, dan terakhir mencatatnya dengan  hati-hati (2018: 46).

Hal ini serupa -meski tak sama-  dengan apa yang dilakukan oleh Mustofa Abdul Wahab yang seorang wartawan. Ia yang dengan takdzim mendengarkan cerita Warto Kemplung di warung kopi Bu Siti, kemudian merasa tertarik dengan kisah antara Mat dan Inayatun. Mungkin sang wartawan menganggapnya cerita Warto adalah Urban legend dan patut dilestraikan. Ia kemudian menjadikannya sebagai bahan cerita bersambung pada medianya. Dengan gubahan sekadarnya, cerita itu akhirnya laku keras.

Meskipun begitu bukti sejarah lisan, karena sifatnya sangat terbuka, rentan dengan pemalsuan. Setiap orang dapat menambah dan mengurang ceritanya sesuai kehendaknya sendiri. Karena itu sejarah lisan perlu diverifikasi atau setidaknya, demi menjaga kemurniannya, dituangkan dalam bentuk catatan.

Desa Yang Berubah: Dari Rumah Setinggi Jati Hingga Pesona Perempuan Desa.

Mahfud Ikhwan memang menjadikan kehidupan desa sebagai segala unsur intrinsik dalam novel atau cerpennya. Dalam kumpulan memoarnya: Cerita, Bualan, Kebenaran, Mahfud mengakui bahwa dirinya memiliki kecintaan yang lebih terhadap kampung halaman. Meski telah lama menjadi perantauan, ia dapat mengingat dengan jelas pengalaman yang pernah ia rasakan di kampung halaman. Dalam menarasikan desa, Mahfud menghindari kesan kehidupan desa yang tenang dan tentram, yang mana hal ini sering kita lihat dalam sinetron atau novel lainnya. Ia melihat desa secara realistis. Kehidupan desa sama halnya dengan kehidupan kota, selalu bergerak, selalu dinamis. Sehingga desa yang bergerak ini menandakan bahwa desa mengikuti arus kehidupan. Baik itu nantinya makin baik atau makin buruk. (2020: 22-24).

Dalam Dawuk kalian dapat menemukannya. Mahfud memberikan wajah desa pada masa sekarang yang mungkin membuat pembaca tersenyum bangga, atau pandangan geli yang dibersamai dengan hasrat untuk mencela. Ambil contoh bagaimana perihal perubahan rumah penduduk Desa Rumbu Randu dulu dengan saat ini. Dari yang sederhana dan apa adanya menjadi rumit tetapi indah.

Rumah-rumah limas dengan tiyang kayu jati di empat penjuru, dinding dari gedek bambu, dan ruangan dalam yang dengan sangat sederhana biasanya hanya bisa dibagi dua, kini sudah tak tersisa. Bikin masuk angin, kata yang tua-tua. Ketinggalan zaman, kata yang lebih muda. Apa nanti kata tetangga, kata para istri……Hasilnya adalah rumah rumah megah yang lebih tinggi dari pohon jati, lebih luas dari lahan hutan yang mereka garap, dengan tatanan ruangan yang sama rumitnya dengan sulur-sulur gadung, dengan cat dinding made-in japan dalam warna-warna terang, dengan kusen-kusen-kusen yang miring kanan miring kiri (hlm139-140).

Selain itu, Mahfud juga memberikan hal yang mungkin biasa pada sinetron cinta, terkait pesona perempuan desa meski dengan penghayatan yang lebih dalam. Pesona yang mungkin mampu membuat pembaca pria tersenyum malu, serta tidak kalah dengan indah dengan perempuan kota dan aneka perawatannya. Memang ini subjektif, tapi jika pembaca mengiyakannya maka hal itu dapat dikatakan benar. Dari tokoh Inayatun pesona itu dijelaskan, tentu dengan sudut pandang Warto Kemplung pengkisah utama.

Bahwa ia tak sepolek dulu, berpupur sekadarnya saja, malah sering tak pakai liven, itu sama sekali tak mengurangi pesonanya. Bahkan jika ditangannya terjinjing ikatan kacang panjang atau di punggungnya terpanggul gulungan daun pisang atau jati, ia malah dirasa punya pesona yang lebih memabukan. Seperti tuak tua mungkin begitu orang-orang warungan bilang. Malah ada yang lebih jauh bilang, kalau muncul dalam keadaan seperti itu, ia seperti peri penunggu hutan berbusana kehijauan yang kesasar di perkampungan dan tak bisa pulang karena kesiangan (hlm. 50-51).

Membaca Dawuk Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu, novel yang memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2017, selain mengajak kita pada kehidupan desa yang sekarang, juga akan membawa kita ke hal lain, mungkin sejarah, agama, ilmu kanuragan, atau budaya. Seperti Warto Kemplung yang bercerita ini dan itu kepada para pendengarnya.

Judul                     : Dawuk Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu

Penulis                 : Mahfud Ikhwan

Penerbit              : Marjin Kiri

Cetakan               : Cetakan ke-4, Februari 2021

Tebal                     : vi+182 halaman

ISBN                      : 978-979-1260-69-5