Arsip Kategori: Teori

Menggugat Kuasa Pengetahuan dengan Fenomenologi

“Ada tiga hal yang tidak bisa lama disembunyikan, yaitu matahari, bulan, dan kebenaran”, begitu kata Siddharta Gautama. tetapi, “Apakah kebenaran itu?”

Upaya manusia mencari kebenaran melahirkan sejarah panjang pengetahuan dan kemajuan peradaban manusia. Dalam perjalanan panjang sejarah manusia, pengetahuan, peradaban, dan kemajuan sosial telah menjadi pilar-pilar utama yang membimbing evolusi kita sebagai spesies. Dengan keingintahuan yang identik, manusia terus mencari pengetahuan, mengeksplorasi alam semesta, dan menggali makna kehidupan. Seiring dengan akumulasi pengetahuan, peradaban manusia berkembang. Dari perkembangan pertama dalam seni, ilmu pengetahuan, dan teknologi hingga munculnya sistem pemerintahan yang kompleks, peradaban adalah cermin dari kemajuan sosial manusia. Dengan demikian, pengetahuan, peradaban, dan kemajuan sosial adalah benang merah yang mengikat sejarah manusia, namun determinasi tidak berhenti pada kontribusi perkembangan pengetahuan terhadap suatu peradaban. Peradaban yang maju juga memberi implikasi besar pada konsepsi ilmu pengetahuan yang terus berkembang

Seperti belati bermata dua, kemajuan ilmu pengetahuan alam dan eksakta di awal abad ke-20 menjerumuskan kebudayaan ke dalam krisis kemanusiaan, kemudian mensimplifikasi manusia ke dalam makhluk satu dimensi (one dimensional), dan satu konsepsi kebenaran dengan objektivisme. Keragaman manusia dalam mempersepsikan realitas, terutama dalam cara pandang masyarakat terhadap diri sendiri dan orang lain dilupakan. Metode dan asumsi yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu alam dan eksakta telah mendominasi segala bidang, termasuk yang berkaitan dengan manusia. Pandangan manusia terhadap realitas dunia yang dianggap multidimensi telah didominasi dan bahkan “didominasi” oleh metode dan asumsi ilmu pengetahuan alam, seolah-olah hanya metode dan asumsi inilah yang paling valid. Itulah yang diungkapkan oleh Husserl dalam karya The Crisis of European Sciences (1936).

Penulis dalam tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana gelombang perkembangan metode pengetahuan fenomenilogis sebagai bagian dari fragmen sejarah perkembangan peradaban yang berkonsekuensi pula pada penafsiran kembali bagaimana manusia menerjemahkan realitas dan bagaimana perkembangan metodologi suatu ilmu.

Konsep fenomenologi dalam tradisi ilmu pengetahuan khususnya dalam hal epistemologi dipopulerkan oleh Edmund Husserl. Husserl belajar di kota Leipzig, Berlin hingga Wina dalam bidang matematika, fisika, astronomi, dan filsafat. Minatnya terhadap filsafat dibangkitkan oleh kuliah-kuliah filsafat Franz Brentano, seorang filsuf yang memainkan peran penting di Universitas Wina waktu itu. Dalam konsepsi ide Franz Brentano yang bagi penulis cukup spiritual, Brentano menggabungkan corak empirisme yang khas dari mazhab Lingkar Wina dengan tradisi berpikir skolastik, yang kemudian mempengaruhi lahirnya teori psikologi deskriptif. Tidak sulit untuk memperlihatkan pengaruh pemikiran Franz Brentano terhadap fenomenologi Edmund Husserl di kemudian hari khususnya ajaran tentang intensionalisme yang identik dengan corak fenomenologis

Konsep Utama Fenomenologi

Dalam membedah atau menerangkan suatu konsep teori pengetahuan secara umum kita bisa menelisik kedalam dua model analisis, analisis diakronik dengan melihat jejak geneologis suatu toeri atau analisis sinkronik dengan melihat secara holistik suatu teori dari beberapa ruang lingkup dan perspektif, seperti apa yang diterangkan sebelumnya.

Pemikiran Edmund Husserl soal fenomenologi juga tidak lepas dari pengaruh pemikiran psikologi diskriptif Franz Brentano yang menolak asumsi kausalitas dalam psikologi genetik dan penolakannya terhadap kebenaran yang hanya bisa diamati di luar diri manusia.

Menurut Brentano fenomena mental itu nyata. Dia tidak setuju dengan gagasan bahwa satu-satunya hal yang nyata adalah yang ada di dunia luar. Konsepsi kebenaran pluralistik dan penolakan terhadap objektivitas empiris menjadi pilar penting fenomenologi.

Adapun beberapa konsep kunci fenomenologi seperti kesadaran hanya dimiliki manusia, subyek yang berpikir, di mana kesadaran ini juga menuntut hal lain, yakni intensi. Intensi atau keterarahan ditujukan untuk sesuatu, yakni obyek, di mana dalam tradisi fenomenologi disebut “fenomena.”

Intensionalitas Keterarahan (intensionality) dapat dipahami dalam hubungannya dengan kesadaran (consiousness). Kesadaran akan sesuatu hanya mungkin terjadi karena adanya keterarahan atau intensionalitas pada sesuatu tersebut. Sejauh kita memiliki kesadaran akan sesuatu hal atau peristiwa tertentu, dalam arti fenomena, maka kita akan membentuk kesadaran akan hal itu, dan dari sana kemudian timbul pemahaman. Dan Epoche atau melepaskan keterhubungan.”

Epoche kerap diterjemahkan dalam bahasa Inggris dengan istilah bracketing, yaitu “menyekat” antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Dalam fenomenologi, bracketing ini kerap diartikan sebagai penundaan penilaian atau suspension of judgment, dari fenomena yang kita teliti, atau disebut juga sebagai reduksi fenomenologis. Husserl menekankan bahwa untuk memahami dunia, kita harus melepaskan semua konsep, praduga, tendensi dan pretensi, sehingga menunda dulu setiap penilaian yang ada, agar fenomena tersebut tampil sebagaimana adanya. Dalam domain filsafat fenomenologi bisa diuraikan kedalam bentuk piramida segitiga kembar, jika kita berbicara persoalan filsafat ilmu maka paling tidak dalam suatu konsep penting mengklasifikasi posisi ontologis, epistemologis dan metodologis dari suatu konsep, juga melihat posisi aksiologis sebagai tujuan akhir suatu konsep.

Secara ontologi konsep fenomenologi berada pada suatu kenyataan kebenaran yang berisfat relative bukan bersifat statis yang kenyataan itu tetap namun sejauh apa yang disadari manusia dengan melepas asumsi asumsi universal. Secara epistemologi kebenaran tidak berada pada luar tetapi melekat pada persepsi internal subjektifitas, sehingga dalam penentuan kebenaran suatu realitas tidak berdasar pada apa yang nampak namun apa yang disadari, sehingga melahirkan keberagaman kebenaran bukan bersifat tunggal, sehingga secara metodelogis fenomenologis bersifat deksripsi dan klasifikasi yang melihat suatu realita itu bersifat parsial dan plural, tidak melihat realitas sebagai hubungan kausalitas sebagai satu satunya metode pencarian akan kebenaran dengan jalan verifikasi.

Secara Aksiologis cita cita fenomenologi sebenarnya sederhana bagaimana menginterpretasikan makna di balik sebuah realitas dengan menggunakan kesadaran manusia yang tidak tereduksi oleh objektivitas empirirk.

Kuasa Pengetahuan dan Otoritas Keilmuan

Dalam kacamata Foucault kekuasaan harus dipahami pertama sebagai macam hubungan kekuatan yang imanen. Hubungan kekuatan itu berlaku dalam unsur-unsur pembentuk dan organisasinya. Kedua, permainan yang dengan jalan perjuangan dan pertarungan tanpa henti mengubah, memperkokoh memutarbaliknya. Ketiga, berbagai hubungan kekuatan yang saling mendukung, sehingga membentuk rangkaian atau sistem, atau sebaliknya, kesenjangan, dan kontradiksi yang saling mengucilkan, terakhir, strategi tempat hubungan-hubungan kekuatan itu berdampak, dan rancangan umumnya atau kristalisasinya  dalam lembaga terwujud dalam perangkat negara dan perumusannya.

Ini berbeda pada pengertian kekuasaan secara umum  dipahami dan dibicarakan sebagai daya pengaruh seseorang atau suatu organisasi untuk memaksakan kehendaknya kepada pihak lain. Dalam konteks ini, kekuasaan diartikan sebagai menindas, terkadang represif. Secara spesifik, dominasi terjadi antara subjek kekuasaan dan objek kekuasaan. Misalnya kekuasaan negara atas rakyat, kekuasaan laki-laki atas perempuan, dan kekuasaan pemilik modal atas buruh. Pemahaman  ini sering digunakan oleh para ahli sejarah, politik, dan masyarakat.

Dalam bidang epistemologi, ilmu pengetahuan modern, terutama ilmu alam dan ilmu-ilmu empiris, telah terlalu bergantung pada metode dan paradigma yang materialistik serta positivistik. Menurut Husserl, krisis ilmu muncul karena penekanan yang terlalu besar pada metode ilmiah yang mengabaikan aspek subjektif dari pengalaman manusia. Ia berpendapat bahwa ilmu pengetahuan modern telah terlalu terfokus pada objek luar dan mengabaikan subjek pengetahuan. Hal ini mengakibatkan kehilangan makna dan nilai dalam pengalaman manusia.

Upaya kembali ke akar-akar filsafat dan mengeksplorasi esensi subjektivitas manusia adalah suatu ikhtiar pengetahuan yang bertujuan untuk memahami pengalaman langsung subjek dalam segala kompleksitasnya, tanpa asumsi atau prasangka apapun.

Fenomenologi sebagai Metode Alternantif

Fenomenologi yang hadir sebagai jalan kedua metodelogi setelah penolakannya terhadap pilar positivistik yang dianggap dominan seperti rasionalisme empirik, kausalitas, dan esensialisme tunggal, upaya itu juga membuat pemikiran fenomenologi berkembang kebeberapa pemikiran seperti fenomenologi transendental Edmund Huserl tentang pencarian makna paling esensial yang diperoleh dari kesadaran manusia, atau fenomenologi interpretative ontologis Heidegger, atau eksistensialisme Jean Paul Satre dan Marleu Ponty.

Pada beberapa perbedaan konsep fenomenologi bagi penulis kesemua pemikir tersebut tetap membawa beberapa visi yang sama untuk mendobrak kemapanan konsepsi pengetahuan yang riskan dengan misi elektoral dan kepentingan kekuasaan, adapun beberapa poin yang dianggap penulis sebagai jalan alternatif.

Pertama pembaharuan metode, kritiknya atas Ketergantungan pada Metode Ilmiah Tradisional percaya bahwa ilmu pengetahuan modern telah terlalu bergantung pada metode ilmiah tradisional yang berfokus pada observasi empiris dan pengujian hipotesis. Ini menyebabkan penekanan yang terlalu besar pada objektivitas dan materialisme, mengabaikan aspek subjektif dari pengalaman manusia.

Kedua Membaeri tempat pada Subjektivitas fenomenologi menekankan pentingnya subjektivitas dalam pengalaman manusia. Menurutnya, pengalaman subjektif individu harus dipertimbangkan secara serius dalam membangun pengetahuan yang bermakna. bahwa pengetahuan yang lengkap tidak hanya terdiri dari apa yang dapat diamati secara eksternal, tetapi juga termasuk apa yang dirasakan dan dihayati secara subjektif oleh individu.

Ketiga kembali ke Filsafat, bahwa untuk mengatasi krisis ilmu, kita perlu kembali ke akar-akar filsafat. Penekanan pada pentingnya pemikiran filosofis yang mendalam untuk memahami esensi subjektivitas manusia dan hakikat pengetahuan. Bagi penulis krisis ilmu tidak hanya merupakan krisis epistemologis, tetapi juga mengenai krisis nilai dan makna dalam pengalaman manusia. kembali ke akar-akar filsafat dan menerapkan metode fenomenologi, kita dapat merumuskan kembali dasar-dasar ilmu pengetahuan yang lebih inklusif dan berdasarkan pengalaman manusia yang utuh.

Terakhir, manusia tidak akan pernah berakhir pada suatu konsep kebenaran yang ideal, bentuk dari keberadaan akal adalah perubahan itu sendiri, menjadi sebuah keniscayaan pengetahuan manusia akan terus bergerak maju dan merevisi konsepsi konsepsi yang sudah ada, begitupun dengan fenomenologi sebagai konsep dan metode adalah jalan alternatif untuk mengafirmasi kompleksitas manusa dan keberagaman pengalaman batin manusia, sehingga mengsimplifikasi dan mengobjektifikasi pengetahuan manusia yang harus berdiri pada satu standar pengetahuan yang mutlak adalah pengekangan terhadap gerak tumbuh pemikiran manusia.

Penulis ingin menegaskan bahwa apa itu kebenaran? Adalah hal yang masih misterium atau bahkan tidak ada, hanya upaya menormalisasi suatu standar tertentu dan menghakimi pemikiran tertentu dengan kalimat benar atau salah, singkatnya fenomenologi yang di uraikan penulis adalah sebuah ikhtiar bahwa kebenaran boleh saja bersifat plural dan upaya manusia adalah mencari makna realita dengan kesadaran sebagai kompas pengetahuan

Pemikiran Maulawi dan Miskawiah Tentang Metafisika Penciptaan

Berbagai varian dalam khazanah pemikiran Islam, secara keseluruhan hampir semuanya bersepakat bahwa Tuhan merupakan wujud niscaya yang tak tersentuh ‘adam atau ketiadaan─beberapa filosof menyebutnya wâjibul wujûd.[1] Ahli ‘irfan mengenalnya sebagai wujûd haqîqî[2]─ segala kesempurnaan ada pada-Nya. Di antara kesempurnaan dan kamâlât-Nya adalah Fayyâdh dan Jawâd, yaitu kemurahan-Nya yang tiada terbendung.[3] Karena itu kemurahan yang melimpah dari Tuhan mengejawantah dengan melakukan penciptaan, sehingga dengan demikian kelaziman Fayyâdh adalah tiada lain selain mencipta. Dengan kata lain jika sesuatu layak tercipta namun tidak diciptakan, maka tentu akan menyalahi kesempurnaan sebagaimana yang dimaksudkan. Karena itu dapat dikatakan Fayyâdh tidak lain dari zat Tuhan itu sendiri dan tidaklah di luar zat-Nya. Jadi sejatinya dalam konteks penciptaan, Tuhan sebagai pelaku serta tujuan final tidaklah terpisahkan dan satu kesatuan dari zat-nya.[4]

Dalam sebuah ungkapan ‘irfâni mengatakan bahwa pada maqam ‘izzah[5] tiada satupun bersama-Nya, pada maqam tersebut antara ‘isyq, ‘âsyiq, serta ma’syûq adalah satu dan tidaklah berbeda. Lalu Allah ingin menciptakan ghayr (yang lain), maka terciptalah alam (hudûts al-‘âlam). Dia membuka kanz[6] serta perbendaharaan ghaib yang terpendam dan tersembunyi, dan lalu memercikkan kanz pada alam yang kemudian menampakkan nama dan sifat-sifat-Nya dalam manifestasi-Nya.[7] Jika ditinjau dari sudut pandang levelitas dan tingkatan, maqam hakikat lebih utama dan mengatasi aspek khalqiat, maka ketika kesempurnaan mempunyai pengertian yang seharusnya tidak memiliki karakter yang bersifat melenyapkan, mewahdat dan murni, tentulah sistem pluralitas dalam penciptaan menjadi mungkin dan kontinu. Karena itu pada dimensi ini akan nampaklah Haq yang “termanifestasi pada makhluk” namun tetap terselubung dari aspek keburukan.[8] Sedangkan makhluq, ia terelasi dengan manifestasi yang membentang dari Haq kepadanya.[9]

Salah satu tokoh irfan kenamaan yakni syeikh Maulana Jalaluddin Muhammad Balkhi atau masyhur di Indonesia dengan sebutan Jalaluddin Rumi,[10] beliau menganggap dunia, alam raya dan kehidupan beserta berbagai haditsah, semuanya bernaung dalam satu konsep yaitu penciptaan, dan Jalaluddin memandang penciptaan dalam kerangka Wahdat. Menurutnya dunia adalah baru sementara manusia (idealnya) cenderung pada sesuatu yang Baqa (abadi) dan seyogianya sama sekali tidak hirau akan kebaruan karena di balik dunia hudûts[11] ini terdapat alam lain.

Menurut Maulana Jalaluddin terdapat saling pertentangan yang terus-menerus dalam hamparan semesta raya beserta kontinuitas gerakan dan perubahan pada materi. Setiap makhluq yang memiliki daya bernutrisi akan mengalami keteruraian dan pembagian. Tanah menyerap air, menumbuhkan ratusan macam tumbuhan, hewan hingga manusia. Maka dalam pandangan Maulana berlaku hukum âkil wa ma’kul sehingga alam dan penghuninya adalah maujud yang terserak dan terbagi. Dalam keyakinan Maulana terdapat kesatuan eksistensial antara alam dan âdam (manusia), namun meski demikian beliau percaya dengan pengamatan yang cermat akan terlihat dialektika tanpa henti di alam raya, antara zarrah dengan zarrah lain senantiasa bertentangan. Namun pertentangan dan dialektika tersebut merupakan dinamika yang berdiam dalam kesempurnaan.

Dengan demikian pertentangan lahiriah merupakan akibat yang berharmoni dengan dinamika batiniah. Oleh karena itu alam raya senantiasa dalam perubahan. Setiap sebab memiliki pengaruh, dan pengaruh sendiri kemudian menjadi sebab hingga kemudian membuahkan hasil lain yang luar biasa. Setiap sebab lebih utama dari pada akibat. Maulana mencontohkan meskipun dahan yang melahirkan buah sehingga dianggap lebih utama, tetapi pada sisi estetik tentu buah lebih utama dari pada dahan. Secara universal maulana meyakini kontinuitas alam semesta tidaklah bergulir menuju kehancuran, namun senantiasa progres menuju kebaruan, perbaikan, dan keindahan.[12]

Sementara dari perspektif filsafat salah satu pemikiran tokoh yang cukup layak disebutkan terkait topik penciptaan ─meski beliau lebih dikenal sebagai filosof akhlaq─ Ibnu Miskawaih[13] yang banyak mengikuti pendapat dan metode berpikir Aristoteles, beliau menempatkan gerak materi sebagai struktur pondasi argumentasinya. Gerak yang mencakup berbagai varian perubahan adalah karakter yang tak terelakkan dari seluruh benda jasmani. Namun gerak tidak bersumber dari jism[14] sendiri dan karena itu butuh pada suatu sumber eksternal atau penggerak utama. Jika dianggap gerak datang dari zat jism sendiri, maka anggapan tersebut akan bertentangan dengan kebiasaan dan pengalaman. Misalnya, manusia dengan ragam anggota tubuhnya bergerak dengan bebas, namun satupun dari anggota tubuhnya tidak bergerak berpisah dari yang lainnya, dan ini berarti gerak tidak bersal dari organ tubuh. Jadi rangkaian sebab-sebab yang bergerak haruslah berakhir pada sebab yang ia sendiri tidak bergerak namun membawa segala sesuatu pada pergerakan. Secara zat sebab utama gerak haruslah tidak bergerak, karena asumsi gerak pada sebab utama melazimkan terjadinya tasalsul[15]pada sebab yang bergerak, dan ini adalah batil.[16]

Akan tetapi karakteristik hukum perubahan tidak berlaku pada perkara kulli[17]. Sementara perkara juz’i[18] menerima perubahan, karena sifat sesuatu yang kulli adalah tetap. Berdasarkan zatnya materi mengalami hukum perubahan, sementara maujud-maujud[19] yang makin terbebas dari materi maka akan makin berkuranglah ia terkena dan terdampak oleh perubahan. Karena itu Tuhan yang merupakan mujarrad[20] dan nonmateri murni, secara mutlak tak akan mengalami perubahan. Oleh karena aspek nonmateri-sempurnaNya Tuhan tersebut sehingga bagi kita manusia sulit untuk mengkonseptualisasi dan menggambarkan Tuhan, bahkan mustahil dan tidak mungkin.[21]

Berbagai korelasi materi seperti kategori bentuk dan warna adalah diawali oleh ketiadaan belaka, sehingga ia adalah huduts. Demikian pula materi utama[22] sebagaimana korelasi materi ia juga adalah huduts. Sebab meskipun sebagai materi pertama, ia merupakan perkara juz’i yang karakter tersebut meliputi dan identik pada seluruh zatnya. Sementara pada level substansi materi, ia-pun termasuk dari keseluruhan bagian materi yang tidak terpisah dengan forma dan shurah[23] serta tidak akan dapat aktual meng-ada di alam eksternal tanpa forma. Oleh karena itu materi pertama yang sebagaimana materi, ia sama sekali tidak lain dari perkara yang tidak akan terpisah dengan forma. Pun sebagaimana telah diketahui forma tidaklah qadim.[24] Maka materi pertama sebagaimana shurah dan forma adalah huduts.[25]

Sebab final atau illat nahayi[26]hanya menciptakan satu makhluk kemudian makhluk tersebut menjadi pencipta bagi maujud-maujud lainnya, yang kedua menarik yang ketiga, dan demikianlah seterusnya penciptaan kemudian berlanjut. Ibnu Miskawaih memiliki pemikiran tentang penciptaan dengan metode Neoplatonisme[27]. Emanasi-faydh[28] Ilahi dalam rentetanNya yang senantiasa dari kehalusan nonmateri membentang dan makin mendekat kearah terbentuknya materi, dan kemudian menciptakan unsur-unsur permulaan eksistensi kebumian. Unsur-unsur permulaan berhubungan dan saling terkait antara satu sama lain, dan dengan hubungan serta kesalingterkaitan tersebut bentuk-bentuk dan sifat transenden kehidupan terrealisasi. Dalam pandangan Ibnu Miskawaih kombinasi substansi-substansi awal menyebabkan manifestasi kehidupan yang paling terdahulu, yaitu alam yang masih beku. Kemudian evolusi sampai pada level yang lebih tinggi dan mulailah muncul alam nabati[29] ─mula-mula rerumputan yang tumbuh secara otomatis dan kemudian semak belukar serta ragam pepohonan yang memiliki sebagian sifat-sifat kehewanan, sehingga terhitung sebagai tapal batas alam kehewanan. Perwujudan kehidupan yang bukan hewan dan bukan tumbuhan adalah seperti marjan[30]/koral yang memiliki kedua-dua daya hewani dan nabati, sebagai perantara alam nabati dan alam hewani. Setelah makhluk-makhluk perantara tersebut bermunculanlah makhluk jenis siput yang memiliki kemampuan bergerak dan indra peraba. Indra peraba lambat laun berubah dan menyebabkan indra lain. Maka kemudian berlanjut ke level hewan tingkat tinggi dengan memanfaatkan kecerdasan yang kian bertambah, tapal batas tingkatan derajat insaniah adalah kehidupan golongan kera. Evolusi kemudian lebih menyempurna dan perlahan-lahan menjadi seperti manusia, tegak berdiri, dan percaya Tuhan. Pada akhirnya rentetan hewaniah setelahnya muncullah manusia.[31]

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim

Al-‘Abidi, Syaikh Falah dan Sayyid Sa’ad al-Musawi. Mizan al-Fikr. terj. Irwan Kurniawan, Buku Saku Logika: Sebuah Daras Ringkas. Cet.II; Jakarta: Sadra International Institute, 2019.

Amid, Hasan. Farhangge Farsi Amid. Cet.I; Rahe Rosyd, 1389 H.Sy.

Azmayesh, Sayyed Mostafa. Erfane Iran. Tehran: Entesyarate Haqiqat, 1387 H.Sy.

Baghir, Haidar. Buku Saku Filsafat Islam. Cet.II; Bandung: Mizan, 2006.

Brijanian, Marie dan Tayyebe Beigam rais. Farhangge Estelahate Falsafe va Olume ejtema’ei.Cet.II; Tehran: 1373 H.Sy.

Corbin, Henri. Tarikhe Falsafe-e Eslami.Terj. Jawad Thabathabai, cet.III; Entesyarate Kawir.

Gulpeinarli, Abdol Baqi. Mawlana Jalal al-Din: Life, Philosophy and selected. terj. dan syarah Taufiq Subhani, Mawlana Jalaluddin: Zendegani, Falsafe, Atsar wa Gozidei az Anha. Tehran: Pazyuhesygah-e Olum-e Ensani va Motale’at-e Farhanggi, 1375 H.Sy.

‘Iraqi, Fakhruddin. Lum’at. riset oleh Muhammad Khwajwi. Cet. I; Tehran: Entesyarate Movla, 1363 H.Sy.

 Jabir, Muhammad Nur. Dalil Pembuktian Tuhan: Antara Nalar dan Teks dalam Menyoal Doktrin Akidah. Cet.I; Makassar: Chamran Press, 2018.

Khomeini, Imam. Tafsir Sure-e Hamd. Tehran: Moassese-e Tanzim va Nasyre Atsare Emam Khomeini, 1375 H.Sy.

Lahuri, Muhammad Iqbal. Seire Falsafe dar Iran. Cet.IV; Tehran: Moassese-e Entesyarate Amir Kabir, 1357 H.Sy.

Muthahhari, Murtadha. Kulliyate Olume Eslamie 2: Kalam, Erfan, Hekmate ‘Amali. Cet.XXXV; Qom: Entesyarate Shadra, 1389 H.Sy.

Qasemi, Jawad. Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq. Cet.I; Masyhad: Bonyade Pazyuhesyhaye Eslami, 1385 H.Sy.

Sajjadi, Sayyid Ja’far. Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi. Entesyarate Sa’di, 1338 H.Sy.

Sajjadi, Sayyid Zia’uddin. Moqaddamei bar Mabanie Er fan va Tasawwuf. Cet.XV; Tehran: Sazmane Motale’e va Tadvine Kotobe Olume Ensanie Danesygahha, 1388 H.Sy.

Thabathabai, Muhammad Husain. Tarjume-e Tafsir Al-Mizan. Jil.17. Cet.V; Qom: Jame’e-e Modarresin Hauze-e Elmie-e Qom Daftare Entesyarate Eslami, 1374 H.Sy.

Yazdi, Muhammad Taqi Misbah. Ma’aref-e Qor’an: Khudasyenasi, Keyhansyenasi, Insansyenasi.Cet.VII; Qom: Entesyarate Mo’assese-e Amuzesyi va Pazyuhesyie Emam Khomeini, 1393 H.Sy.


[1]Muhammad Nur Jabir, Dalil Pembuktian Tuhan: Antara Nalar dan Teks dalam Menyoal Doktrin Akidah (cet.I; Makassar: Chamran Press, 2018), h. 89-91.

[2]Murtadha Muthahhari, Kulliyate Ulume Eslamie 2: Kalam, Erfan, Hekmate ‘Amali (cet.XXXV; Qom: Entesyarate Shadra, 1389 H.Sy), h. 89.

[3]وَمَا كَانَ عَطَاۤءُ رَبِّalكَ مَحْظُوْرًا

dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi (Q. S. 17:20).

[4]Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ma’aref-e Qor’an: Khudasyenasi, Keyhansyenasi, Insansyenasi (cet.VII; Qom: Entesyarate Mo’assese-e Amuzesyi va Pazyuhesyie Emam Khomeini, 1393 H.Sy.), h. 154-179.

[5]‘Izzah pada makna awalnya lebih berorientasi pada konsep Qahir dan Ghalib yang bermakna “kuat” ataupun “dominan” dan sama sekali tidak bermakna maqhur dan maghlub yaitu takluk dan tunduk. Akan tetapi makna hakikinya mengkhusus pada Allah Azza waJalla, sebab selain Allah semua maujud adalah faqir secara zat, dan pada dirinya sendiri maujud-maujud tersebut adalah zalil yaitu lemah, sementara tidak sedikitpun demikian pada Zat Allah sebagai Malik atau pemilik dan pemegang kuasa yang memberikan pengaruh -Nya. Akan tetapi dengan rahmat-Nya Allah memberikan manfaat pada maujud-maujud tersebut. Muhammad Husain Thabathabai, Tarjume-e Tafsir Al-Mizan, Jil.17 (cet.V; Qom: Jame’e-e Modarresin Hauze-e Elmie-e Qom Daftare Entesyarate Eslami, 1374 H.Sy.), h. 27.

[6]Sebuah hadits qudsi yang sangat terkenal “kuntu kanzan makhfiyan, fa ahbibtu an a’rifa  fakhalaqtu alkhalq: Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, tetapi Aku ingin dikenal maka Kuciptakanlah ciptaan”. Imam Khomeini, Tafsir Sure-e Hamd (Tehran: Moassese-e Tanzim va Nasyre Atsare Emam Khomeini, 1375 H.Sy), h. 73.

[7]Fakhruddin ‘Iraqi, Lum’at, riset oleh Muhammad Khwajwi (cet. I; Tehran: Entesyarate Movla, 1363 H.Sy), h. 4.

[8]Menururt hemat penulis keburukan yang dimaksud disini adalah kualitas dan karakteristik yang muncul oleh karena perbandingan di antara entitas yang berbeda-beda. Salah satu konsekwensi logis dari perbedaan adalah timbulnya semacam pemahaman bahwa entitas-entitas tersebut akan saling membatasi. Akibatnya, semua entitas tersebut akan dianggap terbatas, sementara keterbatasanlah yang berpotensi membuat keburukan dapat terjadi. Namun demikian hal ini hanya bisa terjadi pada entitas-entitas yang selevel serta memiliki esensi dan mahiyah, sementara pada level hakikat wujud dan eksistensi hal tersebut tidak mungkin terjadi, sehingga keburukan mustahil berlaku pada Zat Al-Haq.

[9]Sayyed Mostafa Azmayesh, Erfane Iran (cet.I; Tehran: Entesyarate Haqiqat, 1387 H.Sy), h. 105.

[10]Beliau bernama asli Jalaluddin Muhammad, ia dikenal pula dengan sebutan Mawlawi yaitu Yang Mulia, lahir pada tanggal 6 Rabiul Awal 604 H di Balkhan  yang  masuk Afganistan sekarang. Sejak umur 6 tahun ia mengikuti ayahnya menunaikan ibadah haji, dan kemudian turut mengembara ke berbagai negeri-negeri Persia seperti Naisyabur dan beberapa negeri lainnya, perjalanannya kemudian berakhir di Konya Romawi bagian timur sebelum Islam. Di Iran ia dikenal dengan nama Mawlawi atau Maulana, sementara di Barat ia masyhur sebagai Jalaluddin Rumi. Berdasarkan kelahirannya sebagai Jalaluddin Muhammad Balkhi tentu tidak akan keliru jika Jalaluddin dianggap milik Afganistan, namun Semua karya-karya Jalaluddin ditulis dalam bahasa Persia dengan keilmuan yang beliau dapatkan selama pengembaraannya di pedalaman Iran dan ditambah lagi guru-gurunya yang berasal dari Iran, akan dengan mudah jika ia diklaim sebagai milik Iran, sementara Konya sebagai persinggahan terakhirnya menjadi alasan penisbahannya sebagai Rumi. Boleh jadi karena ini, mungkinkah Maulawi menjadi sengketa pemilikan; Afganistan, Iran, atau Turki. Silahkan lihat Sayyid Zia’uddin Sajjadi, Moqaddamei bar Mabanie Er fan va Tasawwuf (Cet.XV; Tehran: Sazmane Motale’e va Tadvine Kotobe Olume Ensanie Danesygahha, 1388 H.Sy), h. 140-150.

[11]Secara umum hudûts bermakna sesuatu yang ada namun didahului oleh ketiadaan dan sesuatu yang membutuhkan hal lain sebagai sebab atau ‘illat. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi (Entesyarate Sa’di, 1338), h. 109.

[12]Abdol Baqi Gulpeinarli, Mawlana Jalal al-Din: Life, Philosophy and selected, terj. dan syarah Taufiq Subhani, Mawlana Jalaluddin: Zendegani, Falsafe, Atsar wa Gozidei az Anha (Tehran: Pazyuhesygah-e Olum-e Ensani va Motale’at-e Farhanggi, 1375 H.Sy),h. 293-295.

[13]Beliau bernama lengkap Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub Miskawaih semasa dengan Al-Biruni dan Ibnu Sina, ia merupakan salah satu filsuf Iran/Persia yang nasabnya tersambung pada Zartusyt. Salah satu karyanya yang sangat terkenal adalah sebuah risalah akhlaq filosofis yang berjudul Tahzib Al-akhlaq, karya lainnya adalah sebuah karya berbahasa Persia Jawidane Kherad. Henri Corbin, Tarikhe Falsafe-e Eslami,Terj. Jawad Thabathabai, (cet.III; Entesyarate Kawir), h. 208.

[14]Jism merupakan substansi parsial yang bisa ditunjuk secara lahiriah-indrawi serta boleh disentuh, atau perkara yang memiliki tiga dimensi yakni panjang, lebar, dan kedalaman/tinggi. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 103.

[15]Dalam istilah Inggris terdapat kata infinite regress atau regressio ad infinitum menurut versi latin yang sepadan dengan tasalsul. Secara bahasa tasalsul bermakna berurutan terus-menerus dan juga bermakna seperti rantai, namun secara istilah adalah rangkaian perkara yang tidak terbatas sedemikian rupa sehingga rangkaian sebelumnya berkonsekwensi pada rangkaian selanjutnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 82. Lihat pula Marie Brijanian dan Tayyebe Beigam rais, Farhangge Estelahate Falsafe va Olume ejtema’ei (cet.II; Tehran: 1373 H.Sy), h.  422. Dan juga Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq (cet.I; Masyhad: Bonyade Pazyuhesyhaye Eslami 1385 H.Sy), h. 44.

[16]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran (cet.IV; Tehran: Moassese-e Entesyarate Amir Kabir 1357 H.Sy) h. 30.

[17]Kulli disebut pula konsep universal, yaitu pahaman yang dapat diterapkan pada lebih dari satu objek. Syaikh Falah al-‘Abidi dan Sayyid Sa’ad al-Musawi, Mizan al-Fikr, terj. Irwan Kurniawan, Buku Saku Logika: Sebuah Daras Ringkas (cet.II; Jakarta: Sadra International Institute, 2019), h. 31.

[18]Juz’i adalah konsep partikular, yaitu pahaman yang tidak bisa diterapkan pada lebih dari satu objek Syaikh Falah al-‘Abidi dan Sayyid Sa’ad al-Musawi, Mizan al-Fikr, h. 31.

[19]Lafaz maujud kadang bermakna sesuatu yang ada dan kadang termaknakan pada wujud itu sendiri yaitu keberadaan. Dan maujud sebagaimana maujud tidak mengkhusus pada suatu perkara dan masalah fisik, namun secara mutlak adalah objek ilmu Ilahi. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 324.

[20]Para Hukuma berkata mujarrad adalah perkara ruhani murni dan tidak bercampur dengan materi, di antara yang dapat disebutkan sebagai mujarrad adalah aqal dan jiwa atau nafs, umumnya aqal dianggap sebagai mujarrad murni sementara nafs secara zat adalah maujud mujarrad namun masih terkait dengan materi dalam aktivitasnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h.  292.

[21]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[22]Secara istilah disebut materia prima atau hayula awwali (dalam bahasa Arab), yaitu materi pertama alam jasmani yang mengalami kerusakan dan kemenjadian. Jika dipikirkan lebih mendalam akan didapatkan bahwa jism dan benda terdapat sesuatu yang merupakan wadah pemberlakuan forma, dan intisari yang merupakan media perubahan dan perkembangan sebagaimana tanah berubah jadi tumbuhan yang menjadi benih hewan dan manusia. Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq, h. 170, lihat juga Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h.  361

[23]Hal yang menyebabkan keutamaan sesuatu dari yang lain dan menjadi keadaan aktualnya. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 167.[24]Para penganut dahriun menganggap materi pertama adalah qadim sedang forma/surah merupakan ma’lul dari aktivitas Tuhan dalam penciptaan. Jadi hayula atau materi original bertautan dari satu forma ke forma lain, karena itu forma yang lebih awal tentulah sirna secara keseluruhan. Sebab, jika forma terdahulu tidak sempurna meniada apakah ia harus pindah ke jism lain atau ataukah tinggal pada jism yang sebelumnya tersebut. Kemungkinan pertama tidak sesuai dengan pengalaman. Misalnya, jika suatu kubus dibuat dari sebatang lilin (yang bulat silinder), bentuk bulatnya yang asli tidaklah berpindah ke benda lain. Kemungkinan kedua juga tertolak karena menyebabkan dua bentuk berlawanan (bulat dan kubus) dapat berkumpul pada satu benda. Maka dapat dipahami dengan munculnya bentuk baru, bentuk lama mutlak akan meniada. Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[25]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 32.

[26]Sebab yang merupakan penggerak pertama tindakan dan secara pertimbangan mendahului sebab-sebab lain, dan pada wujud eksternalnya ditemukan setelah didapati mengaktualnya seluruh sebab-sebab tersebut. Jawad Qasemi, Farhangge Estelahate Falsafe, Kalam va Manteq, h. 57, dan Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 202.

[27]NeoPlatonisme merupakan suatu aliran filsafat yang bertolak dari gagasan Plato, dan menafsirkannya dengan cara khusus. Aliran ini mengaitkan segala sesuatu dengan suatu Zat transenden semacam Tuhan (Yang Satu atau The One) sebagai prinsip kesatuan, melalui deretan perantara-perantara yang turun dari Yang Satu itu lewat proses emanasi. Haidar Baghir, Buku Saku Filsafat Islam (cet.II; Bandung: Mizan, 2006), h. 15.

[28]Emanasi-faidh Ilahi adalah luberan dan limpahan Ilahi, doktrin penciptaan menurut kaum filosof. Yakni, suatu keadaan niscaya ─serta tak terjadi dalam waktu─ yang di dalamnya terwujud ciptaan-ciptaan dari Tuhan. Ciptaan-ciptaan ini terwujud secara bertingkat-tingkat. Dari ciptaan yang lebih tinggi atau “lebih dulu” secara niscaya, lalu terwujud ciptaan-ciptaan dalam tingkat yang lebih rendah. Tercakup dalam ciptaan-ciptaan ini adalah berbagai tingkat akal, malaikat, jiwa planet-planet beserta wadagnya, bermula dari Akal Pertama, Malaikat Pertama, Sfera (Planet) Paling Jauh, hingga ─yang terendah─ planet bumi, yang bersifat sepenuhnya material. Haidar Baghir, Buku Saku Filsafat Islam, h. 12.

[29]Salah satu dari tiga daya yang menjadi sumber serta penyebab tumbuh dan berkembang. Sayyid Ja’far Sajjadi, Farhangge Loghat va Estelahate Falsafi, h. 328. Hasan Amid, Farhangge Farsi Amid (cet.I; Rahe Rosyd, 1389 H.Sy), h. 1010.[30]Sejenis hewan laut yang mirip dengan tumbuhan dan menempel di permukaan tanah seperti tumbuhan. Hasan Amid, Farhangge Farsi Amid, h. 930.

[31]Muhammad Iqbal Lahuri, Seire Falsafe dar Iran, h. 35.

Problem Pengetahuan dan Realitas dalam Relasi Manusia, Teknologi, dan Cyberspace

Prolog

Di era cyberspace (dunia maya), kebutuhan akan informasi sangat mudah terpenuhi. Dengan dimediasi oleh teknologi informasi, masyarakat semakin mudah mengakses peristiwa-peristiwa terkini baik berupa foto, video, maupun teks yang berseliweran di media massa dan media sosial.  Cyberspace juga kini menjadi realitas dan ruang pengalaman baru manusia di era masyarakat informasi.  Pun, di dunia maya, semua orang bisa menyebarkan informasi kapan saja karena mediumnya disediakan dengan varian yang melimpah. Anda bisa beropini di Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, Blog dst.

Saat penyebaran dan konsumsi  informasi semakin mudah di era cyberspace, mengapa kebenaran justru semakin sulit ditemukan? Perdebatan apakah Covid-19 itu nyata atau tidak, konspirasi atau memang memang fakta biologis yang muncul tanpa kita duga justru terjadi di era teknologi informasi yang serba memudahkan. Kita tahu bahwa saat ini masyarakat terbelah antara percaya dan tidak percaya dengan Covid-19. Keyakinan yang terbelah tersebut dikarenakan sulitnya menyaring informasi yang pasti di dunia cyberspace.

Jika teknologi informasi menjadi jembatan antara masyarakat dan realitas, seharusnya kebenaran semakin mudah disingkap mengingat persepsi manusia terhadap realitas semakin luas. Anda bisa kemana saja dengan membawa smartphone sambil mencari informasi terkini melalui Google.  Semua orang bahkan bisa menambah pengetahuannya tentang kondisi sosial dan politik di Eropa tanpa harus menginjakkan kaki di sana. Dan semua itu bisa dilakukan dengan dimediasi oleh teknologi informasi. Dahulu kala, melihat detail-detail bulan sangat sulit dilakukan. Tapi kini, video dan foto astronomi bisa diakses dengan mudah di dunia maya. Kita tak perlu ke bulan hanya untuk menyaksikan kemegahan ciptaan Tuhan tersebut.

Jadi perkembangan teknologi sejatinya turut mengubah cara manusia berpengetahuan. Maka seharusnya kebenaran dan fakta-fakta bisa semakin mudah ditemukan dengan mediasi teknologi. Ketika Antonie Van Leeuwenhoek mengembangkan mikroskop lensa tunggal, apa yang mustahil dicerap oleh mata manusia menjadi mungkin. Seseorang akhirnya bisa mengamati ekstensi yang paling kecil sekalipun semisal sel darah merah, bakteri, atau protozoa. Teknologi mikroskop—yang mulanya dikembangkan pertama kali oleh Zacharias Jansen—mentransformasikan pengalaman manusia  kejangkauan lebih detail dan luas mengenai dunia sekitarnya.

Dulu, para ilmuwan dipusingkan dengan fakta-fakta astronomi yang terbelah menjadi dua: apakah bumi mengelilingi matahari (heliosentris) atau malah matahari yang mengelilingi bumi (geosentris). Copernicus percaya pada temuan Hipacrus, bahwa teori heliosentrislah yang benar. Sementara Ptolemeus percaya pada teori geosentris.

Lantas, bagaimana fakta-fakta astronomi ini menemukan titik temu kepastiannya? Pengembangan  teleskop oleh Galileo akhirnya menyudahi kebingungan itu. Dengan bantuan teleskop, Galileo mampu mengamati gunung-gunung dan ceruk kawah di Bulan, dan fakta-fakta astronomik lainnya, yang sebelumnya tak bisa dijangkau oleh pencerapan indrawi manusia. Kemudian, pengamatan-pengamatan Galileo itu memberi kepastian kebenaran terhadap heliosentris—meskipun kemudian Galileo dihadapkan pada petaka, karena gerejawan waktu itu lebih menyepakati asumsi Ptolemeus.

Dari penjelasan tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa pengetahuan yang dibangun secara teknologis bisa lebih jelas dan pasti ketimbang mengandalkan fungsi alamiah pencerapan. Ilmu pengetahuan akhirnya turut berkembang melalui temuan-temuan persepsi manusia yang dimediasi oleh teknologi. Pun demikian dengan teknologi informasi. Ia hadir semakin memudahkan manusia untuk mengetahui kehidupan di belahan bumi yang lain tanpa harus bersusah payah ke sana.

Informasi-informasi yang tumpah ruah dalam dunia cyberspace semakin memudahkan menggali pengetahuan baru. Orang-orang bahkan sanggup melakukan komunikasi jarak jauh dengan bantuan Whatsapp. Tapi di sisi lain, kepalsuan, kebohongan, juga bisa berseliweran di tengah-tengah limpahan informasi dalam dunia cyberspace  yang setiap hari kita masuki dan beraktivitas di dalamnya melalui perantara teknologi informasi.

Latar belakang inilah yang membuat saya tertarik mengkaji problem pengetahuan dalam hubungan manusia dan teknologi di era cyberspace.  Di sisi lain, teknologi dapat menjadi perpanjangan indera manusia dalam mempersepsi realitas yang sulit dijangkau oleh indera alamiah. Namun, di hadapan teknologi informasi, manusia justru rentan keliru dalam mempersepsi realitas,  dan bisa salah dalam meyakini kebenaran sebuah informasi.

Problem epistemologi (pengetahuan) tersebut pada akhirnya akan membawa kajian ini ke sebuah penelusuran lebih jauh tentang problem ontologis (realitas) cyberspace. Dunia yang setiap hari kita jelajahi melalui mediasi teknologi informasi. Dunia di mana antara kebenaran dan kepalsuan, fakta dan fiksi, realitas dan fantasi saling silang sengkarut, yang membuat kita menjauh dari kebenaran justru di tengah kelimpahan informasi yang tumpah ruah di ruang virtual.

Hubungan Manusia, Teknologi, dan Dunia Kehidupan

Manusia hidup dalam dunia kehidupan. Dalam pengertian fenomenologi dunia kehidupan adalah  dunia yang dihayati oleh manusia.  Husserl menyebut dunia manusia sebagai Lebenswelt, dunia yang diciptakan (dimaknakan) dan dihidupi oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.[1] Namun, sangat susah membayangkan manusia hidup tanpa teknologi. Manusia mengatasi setiap kesulitan-kesulitan dalam dunia kehidupannya  dengan menggunakan teknologi. Manusia dengan mudah menggali tanah dengan cangkul, seorang yang rabun dapat melihat dunia dengan jelas melalui mediasi kacamata, manusia dapat saling berkomunikasi jarak jauh melalui  sambungan telepon. Dari teknologi paling sederhana hingga yang paling canggih memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia.

Tak hanya memudahkan aktivitas keseharian manusia. Teknologi bahkan memiliki peranan penting dalam mentrasformasikan pengalaman manusia terhadap dunianya. Artinya, dunia kehidupan dimaknai dan dihayati melalui perantara artefak teknologi. Persepsi manusia terhadap dunia kehidupan bisa semakin luas berkat bantuan teknologi. Dari sini, teknologi bisa membantu manusia untuk mengetahui realitas secara lebih baik, dan sekaligus membantu manusia dalam menemukan pengetahuan baru tentang realitas yang sebelumnya tak pernah diketahui.

Don Ihde, pesohor fenomenologi instrumentasi mengatakan, dalam kenyataannya dunia kehidupan tanpa teknologi adalah sebuah ilusi. Sehari-hari manusia hidup dengan menggunakan teknologi. Maka, teknologi terletak di antara manusia dan pengalaman manusia akan dunia kehidupan. Manusia yang bertubuh mempersepsi dunia melalui teknologi.[2]

Itu artinya, teknologi membantu manusia menyingkap kebenaran. Maka dari itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Heidegger, teknologi tak hanya harus dipahami sebagai sesuatu yang instrumental dan antropologis. Jika teknologi dipandang sebagai sarana, maka teknologi dipandang sebagai sekadar instrumen. Jika teknologi dipandang sebagai aktivitas manusia, maka teknologi hanya dipandang dalam penafsiran antropologis. Meskipun hal tersebut tidak salah, namun bagi Heidegger pandangan tersebut tidak sepenuhnya benar. Teknologi mesti juga dilihat dalam arti ontologis, yakni suatu cara kebenaran mengungkapkan dirinya atau latar belakang di mana benda-benda atau peristiwa memunculkan diri dengan cara tertentu.[3]

Jika kebenaran terungkap melalui teknologi, maka kata Heidegger, teknologi merupakan suatu cara penyingkapan (lichtung)[4]. Saat penyingkapan ini terjadi, tersingkap pula aletheia, atau kebenaran. Dan pandangan tersebut sesuai dengan akar kata dari teknologi, yakni techne yang berasal dari bahasa Yunani.  Menurut Heidegger, techne mempunyai arti bukan hanya keahlian menukang dengan tangan, namun juga seni pikiran dan seni halus. Techne berhubungan dengan episteme dalam Yunani Kuno yang berarti pengetahuan. Techne melibatkan pengetahuan praktis, episteme melibatkan pengetahuan teoritis. Pengetahuan ini membawa suatu penyingkapan. Artinya techne adalah suatu cara penyingkapan terhadap apa yang belum berada di depan kita. Misalnya bagaimana seorang tukang membuat piala  dan melalui keahliannya itu piala menyingkapkan diri atau di munculkan ke hadapan.[5]

Sebagaimana contoh yang saya sebutkan sebelumnya, seseorang yang memiliki mata rabun dapat melihat dunia dengan lebih jelas melalui mediasi kacamata. Di sini, kacamata sebagai teknologi adalah suatu cara penyingkapan dunia kehidupan manusia. Pengalaman manusia terhadap dunia kehidupannya dimediasi oleh teknologi. Manusia mempersepsi dunianya melalui teknologi. Meski manusia dapat mempersepsi dunianya tanpa teknologi. Namun dengan bantuan teknologi, persepsi manusia terhadap dunianya ikut berubah. Tentu akan berbeda persepsi kita terhadap bulan tanpa bantuan teleskop dan dengan menggunakan teleskop. Detail-detail bulan yang kasar bisa kita amati, padahal sebelumnya kita mempersepsi bulan sebagai benda langit bulat yang halus ketika dilihat dengan pencerapan mata semata.

Menurut Don Ihde, dalam konteks ini terdapat dua jenis  persepsi, yakni mikropersepsi dan makropersepsi. Mikropersepsi adalah persepsi manusia yang langsung melalui tubuh dan semua indera. Sementara makropersepsi adalah persepsi manusia yang diperoleh melalui struktur atau budaya di mana manusia berada seperti cara berpikir, pemikiran yang sudah ada dalam diri manusia. Di samping dua persepsi itu, ada dimensi ketiga yang disebut Ihde sebagai dimensi teknologis di mana manusia memahami dunia kehidupan melalui instrumen.[6]

Saking pentingnya pengaruh teknologi terhadap manusia, pengalaman manusia pun sangat ditentukan dengan penggunaan instrumen. Meski demikian, sebagaimana yang dikatakan oleh Ihde,  hal yang tak boleh diabaikan juga adalah dalam penggunaan teknologi terdapat struktur magnifikasi dan sekaligus reduksi. Magnifikasi berarti pembesaran objek yang diteliti secara visual. Jadi terdapat peningkatan dan penajaman pada ciri tertentu dari realitas saat dipersepsi melalui teknologi. Namun demikian, struktur reduksi di sisi lain juga akan terjadi.[7]

Contohnya adalah penggunaan teleskop untuk meninjau bulan. Dengan menggunakan teleskop seseorang bisa melihat detail permukaan bulan yang tak akan kelihatan jika hanya mengandalkan penglihatan semata. Inilah yang disebut magnifikasi. Tapi pada saat yang sama terjadi reduksi yakni aspek lain dari bulan menjadi tidak kelihatan. Bulan tidak lagi dilihat sebagai benda bulat yang bertengger di tempat tertentu di luasnya langit malam.

Namun terlepas dari itu, pengalaman manusia menjadi berubah dengan bantuan teknologi. Bahkan hubungan manusia-teknologi menghasilkan berbagai macam pengalaman terhadap dunia kehidupan. Dalam fenomenologi instrumentasi yang dikembangkan  Ihde, ada empat variasi hubungan manusia-teknologi yang membuat pengalaman manusia terhadap dunianya menjadi beragam. Namun saya hanya akan membahas dua hubungan saja, yakni hubungan kebertubuhan dan hermeneutis karena memiliki keterkaitan dengan permasalahan yang saya angkat pada tulisan ini.

Pertama, hubungan kebertubuhan. Di dalam hubungan kebertubuhan, alat digunakan sebagai perpanjangan tangan dari tubuh manusia. Alat juga menjadi sebagian dari tubuh manusia dalam relasinya dengan dunia sekitarnya.[8] Kita kembali menggunakan contoh kacamata. Seseorang yang memiliki mata rabun dapat melihat dunia dengan lebih jelas melalui mediasi kacamata. Tubuh dan instrumen bersifat relasional. Realitas dapat dilihat, didengar, dirasakan melalui instrumen.[9] Hubungan kebertubuhan dapat digambarkan sebagai berikut.

Kedua, hubungan hermeneutis. Menurut Budi Hartanto, hubungan hermeneutis menjelaskan relasi antara manusia dengan instrumen sebagai yang terpisah dari tubuh. Dalam hal ini realitas yang dipersepsikan berada dalam instrumen itu sendiri. Konsekuensinya, dalam relasi hermeneutis diperlukan pembacaan.[10] Di sini, posisi teknologi seperti teks yang perlu diterjemahkan agar dapat dipahami. Sehingga yang menjadi objek persepsi adalah sesuatu yang dibaca dan menjadi teks di dalam teknologi.

Contoh yang paling baik adalah termometer yang dipasangkan di dinding luar rumah. Termometer tersebut menunjukkan suhu 40oC. Angka tersebut jika ditafsirkan akan menghasilkan pemahaman jika cuaca di luar rumah sedang panas. Penafsiran terhadap realitas bisa benar sejauh instrumen menunjukkan keadaan yang sebenarnya.  Namun, jika objek pada instrumen tersebut bukan keadaan sebenarnya maka realitas pun sulit untuk diketahui.  Hubungan hermeneutis tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Sekarang mari fokus pada teknologi informasi, instrumen yang menjadi fokus perhatian dalam tulisan ini.  Jika merujuk pada dua varian hubungan manusia-teknologi perspektif Ihde, maka hubungan manusia dengan teknologi informasi bisa sebagai hubungan kebertubuhan, dan juga hubungan hermeneutis.  Smartphone misalnya, adalah alat yang multifungsi. Alat tersebut bisa digunakan untuk menelepon, mengirimkan pesan singkat berbentuk teks, menonton video, mengambil gambar baik berupa foto, bermain game, dan melakukan interaksi sosial dengan menggunakan aplikasi media sosial.

Saat digunakan sebagai sarana telepon, maka antara pengguna dengan smartphone-nya memiliki hubungan kemenubuhan. Karena smartphone menjadi perpanjangan indera penggunanya untuk mendengar suara orang lain yang berkedudukan di tempat yang jauh dengan bantuan instrumen.

Di sisi lain, hubungan manusia dengan smartphone bisa sebagai hubungan hermeneutis. Smartphone menghadirkan objek persepsi dalam bentuk virtual seperti teks, video, maupun foto. Manusia perlu menafsirkan informasi dalam bentuk realitas virtual tersebut agar dapat memahami realitas yang tampil di balik layar smartphone. Realitas virtual inilah yang saat ini kerap dibilangkan sebagai cyberspace.

Karena segenap kejadian-kejadian dunia, informasi terkait situasi terkini, dicari melalui dunia maya, bahkan interaksi sosial antar manusia dilakukan melalui dunia maya, maka era saat ini kerap pula dibilangkan sebagai era cyberspace. Dunia dipersepsi dalam bentunya yang virtual, sejumlah aktivitas sosial, ekonomi, bahkan politik manusia pun dilakukan dengan berselancar di dunia maya. Namun apakah manusia dapat memahami dunianya dengan baik jika dunia yang dipersepsi direpresentasikan dalam bentuk cyberspace? Pertanyaan tersebut menjadi permasalahan yang menjadi tujuan utama dalam tulisan ini, dan akan dibahas dalam bagian selanjutnya.

Cyberspace : Ketika Realitas Menjadi Citra

Jika kacamata atau teropong masih menghubungkan manusia dengan dunia kehidupannya, maka lain halnya dengan teknologi informasi. Ia menghubungkan manusia dengan dunia cyberspace yang artifisial dan  imajiner.  Objek-objek dalam cyberspace berbeda dengan objek-objek yang kita persepsikan secara langsung maupun dengan instrumen dalam dunia harian kita. Objek dalam cyberspace berwujud maya.

Lebih jelas Yasraf Amir Piliang mengatakan, cyberspace  bukan mimpi, tetapi ia bukan yang nyata dalam arti dunia harian, disebabkan ia dibangun oleh ruang-ruang artifisialitas teknologis. Bila dikaitkan dengan arus kesadaran dalam durasi kehidupan manusia, cyberspace bukanlah dunia ketaksadaran atau bahwah sadar, melainkan dunia kesadaran, yang di dalamnya seseorang mengalami sebuah objek di luar dirinya lewat mekanisme penginderaan (gestalt). Akan tetapi, pengalaman yang dialami seseorang di dalam cyberspace berbeda dengan pengalaman di dunia nyata, disebabkan perbedaan objek yang ditangkap oleh pengalaman. Di dalam cyberspace, setiap orang lewat kesadarannya menangkap objek-objek namun kesemuanya bukanlah objek-objek nyata, melainkan objek-objek maya yang terbentuk lewat bit-bit komputer.[11]

Perbedaan objek inilah yang menjadikan dunia cyberspace menjadi persoalan serius, khususnya menyangkut kualitas pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui pemaknaan terhadap dunia maya yang dimediasi oleh teknologi informasi. Karena objek-objek dalam cyberspace bukanlah objek-objek fisik yang dialami secara nyata. Realitas itu sendiri diubah menjadi objek citra yang bersifat artifisial, fantasi, virtual, dan maya. Meski objek-objek dari cyberspace adalah gambaran dari dunia nyata (ada juga objek-objek dalam cyberspace yang tak memiliki referensi di alam nyata dan murni fantasi)  namun objek fisik dunia nyata tersebut telah ditransformasikan menjadi wujud citra.

Untuk itulah, sebagaimana yang dikatakan Yasraf, cyberspace adalah sebuah migrasi besar-besaran dari dunia fisik ke dalam dunia citraan, sehingga di dalamnya segala yang ada dalam dunia realitas (bahkan yang belum ada sama sekali) menemukan eksistensinya dalam wujud realitas artifisial. [12] Migrasi tersebut bukan dalam arti bahwa realitas citra dalam cyberspace adalah representasi dari realitas. Karena representasi masih memungkinkan adanya persamaan. Namun, realitas citra dalam cyberspace sudah terputus dari realitas, tak memiliki referensi yang jelas.

Ia adalah tiruan dari realitas, namun bersifat artifisial karena objek-objek dalam cyberspace hanyalah realitas buatan melalui pemograman kode yang rumit dari teknik komputasi. Maka dari itu, fakta dan fiksi, realitas dan citra, kepalsuan dan kebenaran sudah saling silang sengkarut dalam dunia cyberspace.  Karena objek-objek citra dapat dimanipulasi, diduplikasi, digandakan, didekonstruksi, ruang dapat direkonstruksi sesuka hati. Gagasan tersebut akan membawa kita pada istilah simulasi yang digagas oleh Baudrillard.

Simulasi bagi Baudrillard tidak lagi berkaitan dengan duplikasi “ada” atau substansi dari sesuatu yang diduplikasi, melainkan penciptaan melalui model-model sesuatu yang nyata tanpa asal-usul  atau realitas. Referensi dari duplikasi bukan lagi sekadar realitas, melainkan apa yang tidak nyata. Karena fantasi dapat disimulasi menjadi seolah-olah nyata, maka perbedaan antara realitas dan fantasi sudah tidak ada.[13]

Baudrillard mengemukakan ada beberapa tahap dalam perkembangan simulasi menjadi realitas. Tahap pertama, simulasi masih merupakan refleksi dari sebuah realitas yang diacunya. Kedua,  simulasi menutup dan membelokkan realitas sehingga realitas tak lagi hadir apa adanya. Ketiga, simulasi menutup kehadiran realitas yang diacunya. Tahap keempat simulasi meniadakan seluruh bentuk relasi dengan realitas apa pun. Tahap empat ini simulasi menjadi simulacrum murni. Tahap lanjut simulasi adalah kehadiran hiperealitas yakni ketika citra menjadi realitas.[14]

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dunia cyberspace adalah dunia objek-objek citra hipereal yang lahir melalui proses simulasi. Bagi baudrrillard, simulasi adalah proses atau strategi intelektual, sedangkan hiperealitas adalah efek, keadaan, atau pengalaman kebendaan dan atau ruang yang dihasilkan dari proses tersebut.[15]

Terjebak dalam Hiperealitas

Ketika realitas yang dihadapi dalam cyberspace adalah objek citra yang manipulatif dan artifisial, maka pemahaman kita terhadap objek tersebut sangat berpotensi keliru. Sebab objek yang kita persepsi di dalam layar smartphone  dan komputer adalah hiperealitas di mana fakta dan fiksi, keaslian dan kepalsuan, realitas dan fantasi, benar dan salah sudah bercampur baur. Hubungan manusia dan teknologi informasi di era cyberspace akhirnya menghasilkan suatu problem serius mengenai pengetahuan terhadap realitas yang dihadirkan melalui instrumen canggih tersebut.

Jika kita sedang memainkan smartphone, segala foto-foto yang berhamburan di media sosial, video viral yang dibagikan sampai jutaan orang, atau pun identitas- identitas pengguna Facebook adalah sebuah objek citra yang tak lagi jelas kebenaran dan kesalahannya, apakah itu fakta atau fiksi, nyata atau fantasi. Perempuan berkulit sawo matang dalam kehidupan nyata bisa menjadi putih bagai aktor Korea dalam unggahan fotonya di Facebook karena sudah dimanipulasi sedemikian rupa melalui aplikasi editing foto. Anda bahkan bisa berteman dengan seseorang di Facebook yang mengaku perempuan namun identitas sebenarnya adalah laki-laki.

Pun, seseorang bisa  membuat story di Instagram yang menampilkan rekaman dirinya berada di sebuah restoran mewah dengan makanan super mahal. Dengan sentuhan filter Instagram, wajahnya bisa terlihat bersih terawat khas anak orang kaya. Tujuan dari itu semua adalah hendak menciptakan citra kelas atas dan teman-temannya terkesima dengan kesuksesannya, padahal ia hanya pemuda kelas menengah yang lagi beruntung sedang ditraktir oleh teman kayanya.

Itu adalah beberapa contoh dari objek-objek citra yang kerap kita temukan saat berhubungan dengan dunia maya melalui perantara teknologi informasi. Namun kita kerap terjebak dalam kesalahan persepsi, keliru dalam menafsirkan objek citra, karena realitas yang kita hadapi sungguh berbeda dengan dunia fisik keseharian. Di dunia maya, kita akan dihadapkan pada kenyataan di mana segala hal yang bertentangan, saling silang sengkarut: melumernya batas-batas fakta-fiski, baik-buruk, benar-salah.

Maka bisa jadi konstruksi pengetahuan kita yang dibentuk dunia maya kita anggap benar padahal sebenarnya salah, atau malah sebaliknya.  Akan sangat mudah jika Anda ingin mengubah persepsi orang-orang terhadap Buya Syafi’i. Anda tinggal meng-upload foto Buya Syafi’i yang diedit secara profesional dengan menyelipkan perempuan di sampingnya, maka kondisi pemahaman orang-orang turut berubah. Bahkan penjahat bisa kita anggap bermoral, tergantung kode-kode pencitraan yang menjadi representasi fiktif yang Anda lekatkan padanya dalam objek citra.

Telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya bahwa hubungan antara manusia dan teknologi informasi adalah hubungan hermeneutis. Dalam hal ini realitas yang dipersepsikan berada dalam instrumen. Di sini, posisi teknologi seperti teks yang perlu diterjemahkan agar dapat dipahami. Namun, jika teks pada instrumen tersebut tidak menunjukkan keadaan sebenarnya maka realitas pun tak bisa diketahui.  Realitas yang tampil dalam layar smartphone  kadang tidak menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Maka untuk itulah kekeliruhan bisa terjadi saat menafsirkan objek citra yang tumpah ruah dalam dunia cyberspace.

Don Ihde memberi istilah lain untuk realitas yang mewujud secara fragmentasi lewat teknologi dengan nama plurikulturalitas. Plurikulturalitas menurut Ihde ada ketika realitas hadir secara teknologis dalam sebuah medium sehingga terciptalah imej kultur global. Lewat artefak teknologi, seperti televisi, kamera foto, sinema, komputer, imej diproduksi dan direproduksi.[16] Maka dalam konteks plurikulturalitas, cyberspace adalah ruang di mana dunia kehidupan mewujud sebagai citra dalam artefak teknologi. Dunia kehidupan cyberspace dalam pengertian plurikulturalitas menghadirkan realitas kebudayaan yang beragam.

Hal tersebut menjadi jelas ketika kita berselancar di dunia maya, dan didapati banyak objek-objek citra yang datang silih berganti dengan menampilkan keanekaragaman budaya global. Bagaimana tidak, puluhan juta orang di seluruh dunia saat ini terkoneksi satu sama lain melalui jaringan internet. Komunitas virtual pun tercipta tanpa dihalangi oleh sekat-sekat batas seperti batas geografis, nasionalitas, agama, kebudayaan, dan negara-bangsa. Keberagaman budaya yang tumpah ruah dalam dunia cyberspace pun tak terhindarkan lagi.

Plurikulturalitas menghargai dan menikmati keberanekaragaman. Dalam keberagaman ini, setiap budaya dihormati dan tidak ada satu budaya yang dianggap lebih unggul. Konsep budaya atau pusat budaya sudah tidak ada. Dalam arti ini, plurikulturalitas mirip dengan pascamodernisme di mana perbedaan dan budaya-budaya kecil diangkat.[17]

Meski demikian, meleburnya batas-batas dan berimigrasinya  dunia kehidupan ke dalam realitas citra menjadikan objek-objek persepsi dalam teknologi informasi semakin sulit dipahami. Sebab, batas-batas antara yang nyata dan yang fiksi, antara realitas dan citra, antara kebenaran dan kepalsuan telah hilang dan objek-objek hadir sebagai realitas manipulatif dan artifisial sehingga keasliannya telah hilang.

Realitas pun sangat berpotensi untuk tereduksi, yakni aspek lain dari realitas menjadi tidak kelihatan. Misanya gambar foto yang menceritakan peristiwa pembunuhan yang viral di media sosial. Di dalam foto tersebut terdapat seseorang yang memegang sebilah pisau dan seorang lagi yang tengah terluka akibat tikaman pisau. Jika melihat kejadian tersebut dalam bentuk foto, seseorang bisa mengira bahwa sang pemegang pisau tersebut adalah pelakunya, meski kejadian sebenarnya adalah sang pemegang pisau tersebut datang setelah kejadian tersebut dan hendak menolong korban. Hanya saja ia tertangkap kamera saat sedang memegang barang bukti berupa pisau.

Problem ontologis dan epistemologis yang kompleks dalam cyberspace tak hanya menghasilkan permasalahan reduksi tersebut. Namun juga sifat artifisial dan manipulatif dari objek citra menghasilkan banyak kekacauan. Karena menjadikan pemahaman seseorang terhadap realitas yang tampil di dunia maya tidak utuh. Kita bisa saja terkesima dengan melihat indahnya panorama alam dalam sebuah video, namun fenomena alam tersebut sudah tak tampil sebagaimana adanya, karena videografer telah memanipulasi realitas tersebut dengan teknik editing melalui aplikasi tertentu. Sehingga panorama alam yang sebenarnya tak seindah dalam video tersebut bisa menjadi lebih indah, artistik, lebih terang, dan lebih nyata.

Bahkan di dunia maya, seorang Jokowi tak lagi bisa dibedakan antara seorang presiden dan artis, politisi dan aktor. Saat Jokowi meninjau perbatasan Kalimantan di akhir tahun 2019 lalu, terlihat dalam sebuah video di dunia maya, ia dan pengawalnya menelusuri Trans Kalimantan dengan menunggangi motor custom. Warganet pun berdebat apakah Jokowi hanya sekadar pencitraan, atau memang sebagai presiden gaul yang sangat peduli dengan warga pedalaman. Perbedaan persepsi tersebut sangat bisa terjadi, mengingat video tersebut telah mengaburkan batas-batas antara tugas kepresidenan, enterteiment, kesungguhan, kerja, liburan, realitas apa adanya, atau sekadar pencitraan.  Di dunia cyberspace, apa yang kita saksikan bukan lagi sebagai realitas yang sejati.

Mencari Jalan Keluar

Lantas bagaimana jalan untuk keluar dari jebakan hiperealitas dalam cyberspace?  Jalan yang paling memungkinkan adalah bersikap kritis pada setiap objek-objek citra. Sekali lagi bahwa hubungan manusia-teknologi informasi adalah hubungan hermeneutis. Objek-objek citra yang kita hadapi di dalam teknologi informasi perlu ditafsirkan serupa teks, agar mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap realitas yang dicitrakan dalam ruang virtual. Sifat hermeneutis dalam hubungan manusia-teknologi informasi member peluang pada manusia untuk memaksimalkan potensi berpikirnya agar lebih kritis dalam membaca setiap objek-obek citra.

Sebagaimana yang dikatakan Francis Lim, citra selalu berhubungan dengan konsep “dengan melihat berarti percaya”. Konsep ini dikaitkan dengan pengalaman tubuh akan dunia kehidupan melaui teknologi citra. Di sini, diperlukan suatu sikap kritis terhadap realisme instrumental, yaitu sikap untuk selalu kritis dan mempertanyakan apa yang dilihat melalui teknologi citra. Citra yang ditampilkan melalui teknologi harus dipersoalkan secara kritis sebelum menerima bulat-bulat realitas oleh teknologi tersebut karena di dalamnya terkandung penyingkapan dan penyembunyian.[18]

Penyingkapan dan penyembunyian yang terkandung objek-objek citra karena objek citra sendiri  adalah hiperealitas yang mengaburkan batas-batas realitas, fantasi, kebenaran, kepalsuan, nyata dan ilusi. Sehingga objek citra mengandung aspek magnifikasi dan reduksi sekaligus. Pada aspek magnifikasi, terjadi penginkatan dan penajaman pada realitas sehingga realitas dapat ditelaah dengan lebih jelas. Pada aspek magnifikasi ini, realitas dapat tersingkap.

Tapi pada sisi lain, realitas tidak tampil secara keseluruhan sehingga terjadi reduksi. Realitas hanya potongan-potongan fragmen yang bahkan telah dimanipulasi sehingga menghilangkan keasliannya. Maka pada posisi ini, kebenaran akan tetap tersembunyi karena terhalangi oleh sifat manipulatif dan reduksi  dari realitas tersebut. Sehingga sikap kritis adalah jalan yang paling memadai untuk keluar dari jebakan hiperealitas dunia maya.

Saya mendefinisikan sikap kritis sebagai sikap yang tak mudah percaya akan suatu hal sebelum diperiksa kebenarannya melalui verifikasi dan analisa yang mendalam. Maka kita sebaiknya terbiasa bersikap spektis terhadap citra-citra yang tumpah ruah dalam cyberspace.  Kemudian membedah realitas tersebut sampai ke akar-akarnya, sampai kebenaran yang tersembunyi bisa menyingkapkan dirinya. Usaha tersebut semata-mata sebagai cara agar tetap waras saat berselancar di dunia maya.[]

 

 Catatan Kaki:

[1] Zainal Abidin, Analisis Eksistensial untuk Psikologi dan Pskiatri (Bandung: Refika, 2002) hlm 9

[2] Francis Lim, Filsafat Teknologi Don Ihde Tentang Dunia, Manusia, dan Alat (Yogyakarta: Kanisius, 2008) hlm 80

[3] Ibid hlm 43-46

[4] Arti kata lichtung adalah pembukaan atau pembersihan hutan. Namun Heidegger lebih mengaitkannya dengan kata licht yaitu cahaya, maka berarti penerangan. Lihat, Budi Hardiman, Heidegger dan Mistik keseharian: Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit (Jakarta: KPG, 2008) Cetakan ke II, hlm 67

[5] Francis Lim, op.cit, hlm 50

[6] Ibid, hlm 82-83

[7] Ibid, hlm 85

[8] Ibid, hlm 102

[9]Budi Hartanto, Dunia Pasca-Manusia: Menjelajahi Tema-tema Kontemporer Filsafat Teknologi (Depok: Kepik, 2013) hlm 8

[10] Ibid hlm 9

[11] Yasraf Amir Piliang, Masyarakat Informasi dan Digital: Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial, Jurnal Sosioteknologi Edisi 27 Tahun 11, Desember 2012, hlm 146 (diakses di : https://media.neliti.com/media/publications/41503-none-dcf5b5fa)

[12] Ibid, hlm 149

[13] Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna (Bandung: Jalasutra, 2003) hlm 32

[14] Hikmat Budiman, Lubang Hitam Kebudayaan (Yogyakarta: Kanisius, 2002) hlm 82

[15] Yasraf Amir Piliang, Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna op.cit, hlm 135

[16] Budi hartanto, op.cit, hlm 12

[17] Franis Lim, op.cit, hlm 142

[18] Ibid, hlm 149

 

Ilustrasi: https://humanrights.gov.au/our-work/rights-and-freedoms/publications/human-rights-and-technology-discussion-paper-2019

Kontribusi Logika, Bahasa, dan Matematika Bagi Perkembangan Keilmuan

 

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan tak lepas dari perkembangan penalaran manusia, ditemukannya bahasa sebagai media berkomunikasi, dan ditemukannya matematika sebagai alat pengukuran guna menghasilkan temuan-temuan sains yang baru. Ketiga instrumen tersebut membuat manusia dapat menghasilkan ilmu pengetahuan: maha karya manusia yang menjadi fondasi bagi perkembangan peradaban.

Mari sejenak berpetualang ke zaman Yunani Kuno, ketika filsafat ditemukan dan menjadi induk dari segala ilmu. Para pecinta kebijaksanaan mulai berani menggugat mitologi, sebagai sumber utama pengetahuan manusia tentang alam semesta kala itu.  Kemudian menelusuri sendiri hakikat alam semesta dengan kemampuan rasio yang sebelumnya tak terpikirkan, bahkan mungkin diabaikan: investigasi logis akal budi.

Kita mengenal mereka sebagai filsuf. Dengan ini para filsuf, semisal Thales, Anaximandros, Anaxagoras, dst, merenungkan imajinasi kosmologi, dan menelaah beberapa di antaranya yang dianggap logis, dan bisa dipertanggungjawabkan secara argumentatif. Maka di tangan para filsuf bayangan mengenai asal-usul alam semesta dianggap benar sejauh ia bisa dipertanggungjawabkan secara logis-argumentatif.

Di samping penalaran, filsafat juga berkembang karena adanya bahasa sebagai instrumen berkomunikasi. Teori-teori filsafat tentang alam semesta oleh para filsuf tak akan mungkin dipelajari oleh orang-orang, tak akan mungkin bisa dikritik dan kemudian dikembangkan jika sebelumnya tak mengungkapkan temuannya tersebut melalui bahasa. Melalui bahasa, para filsuf mentransformasikan pengetahuan filosofisnya ke publik, agar bisa dipahami. Orang-orang pun dapat mengkritik temuan teori filsafat sebelumnya, dan mengembangkan teori filsafat menjadi lebih mutakhir lagi. Seterusnya demikian.

Selanjutnya, kita melanjutkan perjalanan, melintasi ruang-waktu, memasuki abad modern. Di abad tersebut sains berkembang pesat. Modernitas akhirnya menjadi tanda “kelahiran baru” manusia, karena terjadi perubahan radikal atas kesadaran mengenai alam semesta. Pernah perubahan kesadaran itu terjadi, seperti penjelasan terdahulu, saat nalar mitologis manusia berubah menjadi nalar filosofis yang cenderung rasional.

Tapi yang radikal dalam kesadaran modern adalah saat manusia membayangkan dunia empiris ini sebagai satu-satunya kenyataan dan sumber Ilmu pengetahuan. Itu berbeda dengan—merujuk pada tipologi masyarakat Comte— masyarakat teologis yang yakin akan mitos mengenai yang maha gaib, dan masyarakat metafisik, yang yakin mengenai adanya realitas tertinggi yang non materil yang bisa dijelaskan secara logis dan argumentatif.

Saat dunia empiris dijadikan acuan satu-satunya bagi ilmu pengetahuan, saat itulah sains menghasilkan temuan yang baru mengenai alam semesta, yang sebelumnya tak bisa direngkuh oleh filsafat. Melaui sains, ilmu fisika berkembang dan menghasilkan sejumlah teori terkenal tentang  gravitasi dan teori relativitas. Astronimi ikut berkembang dan menghasilkan teori heliosentrisme. Dan masih banyak lagi temuan sains yang akhirnya diimplementasikan menjadi teknologi yang dapat dimanfaatkan oleh umat manusia.

Apapun bentuk ilmu yang dihasilkan sains modern, semuanya ditemukan dengan tak lepas dari peran penalaran dan bahasa. Bahkan, dalam sains modern, matematika menjadi salah satu ilmu alat utama dalam perkembangan ilmu pengertahuan, khusunya perkembangan teori fisika, kosmologi dan astronomi. Berdasarkan penjelasan di atas, artikel ini dibuat untuk mengkaji secara khusus kontribusi penalaran atau logika, bahasa dan matematika bagi perkembangan keilmuan. Mengingat ketiga instrumen ilmu pengetahuan tersebut sangat berjasa dalam bidang ilmu pengetahuan mansuia di sepanjang sejarah.

Logika dan Kontribusinya Bagi Keilmuan

Segenap pengetahuan manusia lahir dari proses penalaran. Pengetahuan yang benar lahir karena mengikuti kaidah berpikir yang benar pula. Kaidah berpikir inilah yang kemudian hari disebut sebagai logika. Sebagai mahluk berpikir, manusia telah dibekali logika oleh Tuhan, sebagai panduan memahami realitas. Sehingga logika, dalam pengertian tersebut adalah instrumen berpikir. Kemudian, filsuf Yunani Kuno, Aristoteles, menyusun kaidah berpikir benar tersebut agar dapat dipelajari oleh orang-orang, agar dapat menggunakan logikanya dengan baik. Tujuannya agar seseorang tak mengalami kesalahan berpikir. Karena kesalahan berpikir dapat menghasilkan pengetahuan yang salah pula.

Itulah mengapa logika sangat penting dalam keilmuan. Karena dengan logika, seseorang dapat mencapai pengetahuan yang benar, dan terhindar dari sesat pikir. Sehingga dapat dipastikan kontribusi logika sangat besar dalam keilmuan. Irving M. Copi (dalam Mundiri, 2005: 2) logika adalah “ilmu yang mempelajari metode dan hukum-hukum yang digunakan untuk membedakan penalaran yang betul dari penalaran yang salah”.  Dengan demikian, logika membantu manusia dalam melakukan proses penalaran agar mencapai kebenaran melalui hukum-hukum dan metode berpikir. Setidaknya ada dua bentuk penalaran yang telah dikembangkan. Yakni penalaran induksi dan penalaran deduksi.

Penalaran Induksi

Menurut Rapar (dalam Mustofa, 2016: 14), “Penalaran induksi cara berpikir untuk menarik kesimpulan dari pengamatan terhadap hal yang bersifat partikular ke dalam gejala yang bersifat umum atau universal. Sehingga dapat dikatakan jika penalaran ini bertolak dari kenyataan yang bersifat terbatas dan khusus lalu diakhiri dengan statemen yang bersifat kompleks dan umum”. Berdasarkan  definisi di atas, penalaran induksi selalu dimulai dari persepsi indrawi atas kenyataan yang bersifat khusus. Hasil pengamatan tersebut menghasilkan kesimpulan yang bersifat umum.

Salah satu jenis penalaran induksi, yang kerap digunakan dalam penelitian ilmiah adalah generalisasi. Mundiri (2005: 145) mengatakan, “generalisasi yaitu suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individu menuju kesimpulan umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki”. Agar mudah dipahami, penulis memberi contoh sebagai berikut:

Tembaga bila dipanaskan akan memuai.

Besi bila dipanaskan akan memuai.

Platina bila dipanaskan akan memuai.

Tembaga, besi, dan platina adalah jenis logam.

Jadi, semua jenis logam akan memuai.

Dalam contoh di atas, ada tiga jenis tembaga yang dipanaskan. Berdasarkan pengamatan, terlihat jika seluruh sampel logam yang dihadirkan ternyata memuai. Maka, dari hasil pengamatan tersebut, dapat dihasilkan kesimpulan jika semua jenis logam jika dipanaskan akan memuai. Kesimpulan tersebut menjadi generalisasi bagi seluruh jenis logam. Dari sini bisa dipahami, untuk melakukan generalisasi, hanya perlu sampel yang relevan dan mewakili populasi. Jika sampel tersebut diberi perlakuan, lantas mengalami gejala yang sama, bisa disimpulkan jika jenis logam yang serupa akan menghasilkan gejala yang sama pula. Namun perlu diingat, jika kesimpulan dalam penalaran induksi bersifat probabilitas. Artinya mungkin benar dan mungkin salah. Mengapa? Karena tidak semua realitas teramati.

Penalaran Deduksi

Jika induksi selalu berangkat dari umum ke khusus, maka sebaliknya, penalaran deduksi adalah cara berpikir dengan bertolak dari proposisi yang bersifat umum untuk mencapai kesimpulan yang bersifat khusus (Mundiri, 2005). Jika penalaran induksi selalu bermula dari pengamatan indrawi, maka penalaran deduksi tak berangkat dari pengalaman. Karena penalaran deduksi berpatokan pada proposisi umum yang bersifat apriori: sudah dapat diketahui meski tanpa pengalaman. Sebagai contoh:

Manusia pasti akan mati

Budi adalah manusia

Maka Budi pasti akan mati

Proposisi pertama disebut premis mayor. Proposisi kedua disebut premis minor. Sedangkan proposisi ketiga adalah konklusi atau kesimpulan. Kesimpulan yang dilahirkan tak perlu diuji secara empirik kebenarannya. Pasalnya, kesimpulannya sudah memiliki kebenaran yang bersifat pasti. Sejauh proses penarikan kesimpulannya benar, maka hasilnya pasti benar, meski tak diuji secara empirik. Namun, kelemahan penalaran induksi adalah, kesimpulan yang dilahirkan tak dapat menghasilkan pengetahuan baru. Sebab, kesimpulannya sudah terkandung di dalam premis mayor.

Karena terdapat kelemahan antara penalaran induksi dan deduksi, kedua metode berpikir tersebut akhirnya disatukan dalam kerja keilmuan. Metode penelitian saat ini telah menggunakan keduanya sebagai instrumen untuk melahirkan ilmu pengetahuan. Mustofa (2016) mengatakan, keduanya telah dielaborasi dan dimodifikasi dalam sistem penalaran modern saat ini. Sehingga melahirkan langkah-langkah metode ilmiah sebagaimana yang dirumuskan Anderson yakni, perumusan masalah, penyusunan hipotesis, melakukan pengujian hipotesis, pengumpulan dan pengolahan data, dan pengambilan kesimpulan. Langkah-langkah inilah yang kerap digunakan dalam penelitian ilmiah, dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Arinya, kontribusi logika (penalaran induksi dan deduksi) sangat penting dalam kegiatan keilmuan.

Bahasa dan Peranannya Bagi Keilmuan

Bakhtiar dalam buku Filsafat Ilmu (2004) mengatakan, pengetahuan manusia dapat berkembang dikarenakan adanya dua faktor, yaitu: pertama, manusia memiliki bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Kedua, manusia memiliki kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.  Poin kedua telah kita jelaskan pada penjelasan sebelumnya. Pada kesempatan ini, penulis ingin menjelaskan poin pertama.

Bahasa Sebagai Sistem Komunikasi, Sarana Pertukaran Pengetahuan

Mengapa pengetahuan manusia dapat berkembang, karena bahasa sebagai salah satu faktornya? Karena bahasa itu sendiri adalah sarana yang memediasi pengetahuan manusia agar sampai ke publik melalui komunikasi baik lisan maupun tulisan. Bahasa sebagai sistem komunikasi sudah dijelaskan dengan detail dalam KBBI.  Dalam KBBI, diterakan bahwa bahasa ialah “sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri”. Bahasa memiliki peranan yang sangat penting bagi manusia karena dengan bahasa manusia dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Bahasa juga digunakan manusia untuk menjalin kerja sama dalam memecahkan atau menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Berdasarkan pengertian di atas, bahasa membantu seseorang dalam berkomunikasi sehingga melalui bahasa, setiap orang dapat berinteraksi melalui bunyi dan simbol. Melalui interaksi dengan bahasa inilah, tercapai aktivitas tukar pikiran, pengetahuan dan gagasan antar umat manusia. Sehingga manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui bahasa, setiap orang dapat memahami dan mengerti segenap gagasan yang dimiliki seseorang ketika disampaikan. Andaikata tak ada bahasa, maka sulit kiranya manusia dapat saling memahami isi pikiran masing-masing.

Namun, berbahasa dengan cara yang biasa belum cukup untuk bisa menjadi sarana pengembangan ilmu dengan lebih terstruktur dan tersistematis. Ilmu pengetahuan yang baik dihasilkan melalui kegiatan ilmiah. Sementara, dalam kegiatan ilmiah, seseorang ilmuwan perlu memahami dengan baik tata bahasa, kosakata, dan makna bahasa agar dapat menyusun proposisi ilmiah guna menghasilkan ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara argumentatif dan empiris, juga dapat dengan mudah dipahami oleh masyarakat. Ikhwan Mahmudi (2008 : 19) mengatakan, “andaikata para ilmuwan tidak cukup menguasai tata bahasa, kosakata dan makna, persoalan-persoalan dalam kegiatan ilmiah bakal kian ruwet”.

Charlton Laird (dalam Ikhwan Mahmudi, 2008 : 18) mengartikan  “tata bahasa sebagai alat dalam mempergunakan aspek logis dan kreatif dari pikiran untuk mengungkapkan makna dan emosi dengan memakai aturan-aturan tertentu”. Dengan demikian, penguasaan tata bahasa secara pasif dan aktif memungkinkan seseorang menyusun pernyataan-pernyataan atau premis-premis dengan baik dan juga menarik kesimpulan dengan betul. Saking pentingnya struktur atau tata bahasa bagi kegiatan ilmiah, Suriasumantri (dalam Ikhwan Mahmudi, 2008 : 18) mengajukan pertanyaan retoris: “bagaimana mungkin seseorang bisa melakukan penalaran yang cermat tanpa menguasai struktur bahasa yang tepat?”.

Selain struktur atau tata bahasa, yang penting pula dikuasai oleh ilmuwan adalah kosakata dan maknanya. Dalam karya ilmiah, kosakata adalah hal yang penting guna mencapai keefektifan penyampaian gagasan. Penggunaan kaidah bahasa yang baku dalam karya ilmiah, misalnya, itu sangat dibutuhkan guna menghindari ambiguitas makna. Menurut Suwardjono (2008: 8), “masalah ilmiah biasanya menyangkut hal yang bersifat abstrak dan konseptual yang sulit dicari analoginya. Untuk mengungkapkan hal semacam itu, dibutuhkan struktur bahasa dan kosakata yang canggih”.

Di samping itu, masalah kosakata adalah hal yang penting, Sebab, “yang disampaikan oleh pembicara atau penulis kepada lawan bicaranya atau pembacanya sejatinya ialah makna (informasi, pengetahuan). Dan, makna ini diwadahi di dalam kosakata, yang dalam khazanah ilmiah dinamakan dengan istilah atau terminologi” (Ikhwan Mahmudi, 2008 : 19).

Kemudian problem makna. Persoalan makna bahasa dalam kegiatan ilmiah bahkan mulai menjadi perhatian serius di abad 20 ini, khususnya para filsuf analitik di Inggris baik penganut aliran atomisme logis maupun positivisme logis. Karena dalam kegiatan keilmuan, penyusunan proposisi dalam penyampaian gagasan ternyata perlu mempertimbangkan kepahaman atas ungkapan yang diajukan. Maksudnya, apakah seseorang dapat memahami suatu proposisi dalam kegiatan keilmuan atau tidak? Para filsuf analitik mengatakan, suatu ungkapan yang kerap disampaikan dalam bahasa keilmuan, khususnya bahasa filsafat oleh pemikir terdahulu sering tak terpahami karena kadang tak memuat unsur logis dalam ungkapannya. Masalah ini akan dibahas secara terpisah oleh penulis.

Filsafat Analitik: Problem Makna dan Pencapaian Pengetahuan Objektif

Di Inggris problem makna bahasa dan pengetahuan mulai dikaji secara serius para filsuf Mazhab Analisis Bahasa (MAB) seperti G.E. Moore, Bertrand Russel, Wittgenstein, dll. Pemikiran mereka kemudian akrab disebut sebagai filsafat analitik atau filsafat bahasa. Filsafat analitik lahir dengan mengemban tugas untuk membersihkan bahasa filsafat dari ungkapan yang tidak bermakna dari filsuf sebelumnya mengenai realitas. Singkatnya, ingin menyingkirkan bahasa yang dianggap cuma omong kosong mengenai realitas. Maka dari itu filsafat jenis ini menekankan kata “analisis”, yang diartikan sebagai penyelidikan atas konsep-konsep guna mengetahui benar-salah, logis-tak logis, dan bermakna-tak bermakna suatu konsep yang termanifestasikan dalam bahasa. Penganut filsafat analitik ini berkembang menjadi dua aliran. Yakni aliran atomisme logis dan positivisme logis

Atomisme logis adalah suatu paham atau ajaran yang berpandangan bahwa bahasa itu dapat dipecah menjadi proposisi-proposisi atomik atau proposisi-proposisi elementer, melalui teknik analisis logis atau analisis bahasa (Mustansyir, 2007 : 24-25). Maksud dari proposisi atomik adalah proposisi yang mengungkapkan bagian terkecil realitas. Itu artinya, paham atomisme logis percaya jika bahasa memiliki hubungan yang mutlak dengan realitas. Setidaknya ada dua filsuf utama yang mengembangkan aliran atomisme logik. Yakni Russel dan Wittgenstein.

“Russel menekankan bahasa logika dalam menganalisis suatu makna bahasa. Dengan bertitik tolak pada bahasa logika, Russell bermaksud menentukan corak logik yang terkandung dalam suatu ungkapan” (Mustansyir, 2007 : 49). Corak logis yang terkandung dalam bahasa selalui bermakna apakah bahasa tersebut mengandung fakta. Jadi, bahasa bagi Bertrand Russell (dalam Muhmidayeli, 2014) adalah simbol yang melukiskan realitas, menganalisis bahasa berarti mempelajari fakta-fakta. Dengan demikian, Bertrand Russell menyepadankan bahasa dengan realitas di dunia. Misalnya, “Muhajir adalah seorang mahasiswa pascasarjana UNM” dan “Sarah adalah seorang mahasiswa pascasarjana UNM”. Keduanya mengandung fakta yang sama, yakni sama-sama mahasiswa pascasarjana UNM. Inilah yang dimaksud dengan proposisi atomik, di mana bahasa yang bermakna adalah bahasa yang berkorespondensi dengan fakta. Russell menyebutnya sebagai prinsip isomorfi. Yakni terjadi kesepadanan antara unsur bahasa dan kenyataan.

Filsafat analitik memang lahir untuk menjernihkan pengetahuan dengan penggunaan bahasa yang jernih pula. Bahasa yang jernih adalah bahasa yang memiliki kesesuaian dengan realitas. Bahasa filsafat dalam pandangan filsafat analitik terkadang menggunakan suatu ungkapan yang tidak bermakna (tak memiliki kesepadanan dengan realitas), seperti metafisika, substansi, dll. Ungkapan yang tak logis dapat menghasilkan pengetahuan yang keliru. Maka dari itu Bertrand Russell (dalam Muhmidayeli, 2014) berpendapat bahwa analisis bahasa yang benar akan dapat menghasilkan pengetahuan yang benar pula tentang realitas dunia. Hal ini disebabkan karena unsur yang paling kecil dari bahasa yang disebutnya dengan istilah proposisi atomik merupakan gambaran dari unsur yang paling kecil pula dari fakta (fakta atomik).

Senada dengan Russel, Wittgenstein memahami “sebuah proposisi harus dapat menunjukkan pengertian tertentu tentang realitas, sehingga seseorang yang dihadapkan pada proposisi seperti itu hanya perlu mengatakan ya atau tidak” (Mustansyir, 2007: 65). Inilah yang oleh Wittgenstein sebut sebagai teori gambar yakni adanya hubungan mutlak antara bahasa dengan realitas. Hal tersebut ditegaskan oleh Wittgenstein, karena dia memandang, bahasa filsafat selalu mengalami kerancuan karena tidak memiliki tolok ukur yang dapat menjadi acuan bermakna-tidak bermaknanya suatu ungkapan. Akhirnya bahasa filsafat selalu tak terpahami karena tidak mencerminkan realitas tertentu.

Selanjutnya positivisme logis. Aliran yang mulanya dikenal sebagai Lingkaran Wina ini diinisiasi oleh para ahli matematika, logika dan sains. Maka dari itu sudah bisa ditebak, penggunaan kata “positivisme” dalam aliran ini, sebab para pencetusnya adalah orang-orang yang terbiasa dengan aktivitas penalaran ilmiah. Positivisme sendiri dikembangkan oleh bapak sosiologi, Aguste Comte. Positivisme kata Hardiman (2007) memandang pengetahuan indrawi, khususnya ilmu-ilmu alam menjadi satu-satunya norma dalam kegiatan pengetahuan. Dalam kata “positif” bukan hanya temuat prinsip normatif, bahwa pengetahuan kita hendaknya tidak melampaui fakta objektif, melainkan juga pengetahuan kita peroleh dengan menyalin fakta objektif. Kemudian, aliran ini disebut positivisme logis, karena aliran ini dipengaruhi secara nyata oleh filsafat analitik dari Russel dan Wittgenstein, khususnya dalam penerapan teknik analisis bahasa. Ada satu prinsip yang paling utama dalam positivisme logik dalam cara kerjanya memperoleh pengetahuan, yakni prinsip verifikasi atau pentasdikan.

Mari sejenak membahas prinsip verifikasi ini melalui pemikian salah satu pemikir utama dalam positivisme logis, Alfred Jules Ayer. Bagi Ayer, “prinsip pentasdikan (verifikasi) merupakan pengandaian untuk melengkapi suatu kriteria, sehingga melalui kriteria tersebut, dapat ditentukan apakah suatu kalimat mengandung makna atau tidak” (Mustansyir, 2007: 82). Kriteria yang dimaksud Ayer di sini adalah, suatu kalimat mengandung makna jika dapat diverifikasi secara empirik dan dianalisis.

Ada dua model verifikasi dalam pandangan Ayer, yakni verifikasi dalam arti ketat dan verifikasi dalam arti lunak. Verifikasi ketat adalah kebenaran pernyataan yang didukung pengalaman yang meyakinkan. Sementara verifikasi lunak adalah proposisi mengandung pengalaman yang dimungkinkan. Teori Ayer tentang verifikasi lunak ini, membuka kemungkinan menggali ilmu pengetahuan tentang sejarah dan prediksi ilmiah.

Implikasi dari prinsip verifikasi tersebut membuat penalaran ilmiah menolak proposisi metafisika mengenai substansi, eksistensi nonmaterial, keabadian jiwa, dll. Bagi Ayer, “proposisi seperti itu tidak dapat dianalisis bukan hanya lantaran tidak dapat ditasdik secara empirik, tapi juga lantaran bentuk-bentuk peristiwa tak mungkin relevan untuk dikatakan benar atau salahnya” (Mustansyir, 2007: 88).

Matematika dan Peranannya Bagi Keilmuan

Tak bisa dimungkiri, matematika berkonstribusi besar bagi penemuan sains, khususnya pada lapangan ilmu alam. Bahkan, matematika sudah mulai diterapkan dalam pengembangan ilmu sosial. Pun, teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan oleh masyarakat hari ini tak lepas dari implementasi matematika. Statistika, probabilitas, teori informasi, teori graf, aljabar booelan, matematika diskret, algoritma, dan kalkulus sangat dibutuhkan, bahkan menjadi dasar bagi perkembangan ilmu komputer.

Bukan hanya di abad modern. Matematika bahkan sudah menjadi instrumen ilmu pengetahuan di masa lampau, dalam ranah yang lebih praktis. Haryono (2014) mengatakan, di zaman dahulu, matematika kerap digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan teknis dan memecahkan suatu masalah. Misalnya pada zaman kuno, ketika peradaban Mesir dan Babilonia berdiri lebih kurang 4000 tahun SM. Kedua peradaban tersebut mengembangkan ilmu ukur, ilmu hitung, perbandingan dan aljabar, dalam membuat hal-hal yang rumit di masanya, seperti membuat istana, tempat ibadah, piramid, dan bangunan lainnya.

“Kita tidak sangsi bahwa sumbangan Matematika terhadap perkembangan Ilmu dan Teknologi sangat besar sekali. Boolean Aljabar untuk komputer berdigital modern, Splines untuk merubah bentuk 3 dimensi, Fuzzy (peralatan elektronik, finansial, peternakan), metoda numerik untuk bidang tehnik, rantai markov untuk bidang finansial dan ekonomi adalah beberapa contoh penggunaan matematika dalam bidang ilmu dan teknologi” (Sudradjat, 2008: 6). Tanpa bekal matematika yang baik sedikit sekali ilmu pengetahuan modern untuk dapat dipelajari, hal ini disebabkan hukum-hukum dasar pengetahuan alam dinyatakan dalam bahasa matematika. Karena matematika sifatnya dinamis, maka ilmu pengetahuan lainpun makin banyak menggunakan matematika.

Peranan matematika dalam ilmu pengetahuan modern juga diamini oleh Haryono. Kata penulis buku Filsafat Matematika itu (2014: 121), “perhitungan matetmatis misalnya menjadi dasar desain ilmu teknik, metode matematis memberikan inspirasi kepada pemikiran bidang sosial dan ekonomi bahkan pemikiran matematis dapat memberikan warna kepada kegiatan arsitektur dan seni lukis”.

Lebih lanjut Haryono (2014: 121) mengatakan, “melalui penggunaan abstraksi dan penalaran logika, matetmatika dikembangkan dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematik terhadap bentuk dan gerak objek-objek fisika”. Hal tersebut mengindikasikan, gerak dan dinamika alam dapat diketahui melalui ilmu fisika dengan bantuan matematika. Kita tahu, ilmuan seperti Newton dan Einstein memberikan sumbangan ilmu pengetahuan mengenai kosmologi, atau teori tentang alam semesta yang dipelajari hingga saat ini tak lepas dari peranan matematika.

 

Daftar Pustaka

Bakhtiar, A. 2014. Filsafat Ilmu, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hardiman, F. Budi. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis Tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas, Yogyakarta: Kanisius

Haryono, Didi. 2014. Filsafat matematika: Suatu Tinjauan Filosofis dan Epistemologis. Bandung; Alfabeta.

Mahmudi, Ikhwan. Bahasa Sebagai Sarana Berfikir Ilmiah: Analisis Pembelajaran Bahasa Kontekstual. At-Ta’dib 4 (1): 15-33. Diakses dari, ejournal.unida.gontor.ac.id

Muhmidayeli. 2014. Filsafat Analitik: Kritik Epistemologi ide Analitik Logis Bertrand Russel. Teologia. 25(1): 1-22. Diakses dari, journal.walisongo.ac.id.

Mundiri. 2005. Logika, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Mustansyir, Rizal. 2007. Filsafat Analitik: Sejarah, Perkembangan dan Peranan Para Tokohnya. Yogyakarta: Pustaka pelajar.

Mustofa, Imron. 2016. Jendela Logika Dalam Berpikir: Deduksi dan Induksi Sebagai Dasar Penalaran Ilmiah. Jurnal El-Banat. 6(2): 1-21. Diakses dari, academia.edu.

Sudradjat. 2008. Peranan Matematika dalam Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi: disampaikan pada seminar sehari “The Power of Mathematics for all Aplications” HIMATIKA-UNISBA, Januari.

Suwardjono. 2008. Peran dan Martabat bahasa Indonesia dalam Pengembangan Ilmu. Disampaikan Dalam kongres IX Bahasa Indonesia yang Diselenggarakan oleh Pusat Bahasa, 28 Oktober – 1 November, Jakarta Selatan. Diakses dari, luk.staff.ugm.ac.id.

 

Sumber gambar: https://kit8.net/illustrations/modern-science-city-and-space/

Eksistensialisme Muhammad Iqbal dan Kontekstualisasinya di Era Kenormalan Baru

 

Prolog

Tulisan ini hendak memberi tawaran konseptual alternatif guna membangkitkan gairah dan semangat juang manusia untuk bangkit dan melakukan perubahan di era kenormalan baru. Dalam kondisi yang extraordinary akibat Covid-19 ini, sangat membutuhkan peran aktif manusia— dengan kehendak bebas dan semangat pembaharunya—dalam mengubah keadaan dan menciptakan takdir baru untuk kelangsungan hidup di masa depan.

Tawaran alternatif tersebut digagas melalui sumbangan filsafat eksistensialisme Muhammad Iqbal (1877-1938) yang terejawantahkan dalam konsep khudi  atau ego.  Saya merasa jika filsafat ego Muhammad Iqbal adalah sejenis eksistensialisme teistik dan bisa diterjemahkan dalam konteks kenormalan baru. Melalui kontekstualitasi eksistensialisme Iqbal ini, diharap menjadi gagasan alternatif yang bisa menjadi rujukan untuk kembali menyemangati diri masing-masing agar berikhtiar dalam mengubah keadaan.

Sekilas Tentang Eksistensialisme

Karena di kesempatan ini saya membicarakan eksistensialisme Muhammad Iqbal, maka terlebih dahulu saya akan menjabarkan konsep dasar dari eksistensialisme. Penjabaran ini diharapkan dapat menjadi alat konseptual untuk menyelisik keterkaitan eksistensialisme dengan gagasan-gagasan Iqbal, khususnya tentang ego.

Eksistensialisme dibangun atas kata dasar “eksistensi”. Istilah “eksistensi” berasal dari akar kata ex-sistere, yang secara literal berarti bergerak atau tumbuh ke luar. Dengan istilah ini, hendak dikatakan oleh para eksistensialis bahwa eksistensi manusia (apakah itu terdapat dalam seni, filsafat, atau psikologi) seharusnya dipahami bukan sebagai kumpulan substansi-substansi, mekanisme-mekanisme, atau pola-pola statis, melainkan sebagai “gerak” atau “menjadi”, sebagai sesuatu yang mengada.[1]

“Mengada” dalam arti eksistensial adalah sadar akan kenyataan yang dihadapi dan bagaimana langkah untuk menghadapinya. “Mengada” menunjuk pada situasi individual manusia yang dinamis, dan menghadapi situasi yang dihadapi menunjuk pada tindakan subjek yang sadar akan kehendak bebasnya. Maka, pembahasan eksistensialisme tak akan jauh pada soal individualitas dan kebebasan manusia di dunia.

Robert C. Solomon mengatakan, setidaknya ada tiga tema yang disinggung dalam eksistensialisme. Pertama, a strong emphasis on the individual yang artinya penekanan pada individu. Tema pertama ini memiliki didefinisikan secara beragam oleh para eksistensialis. Kedua, The central role of the passions, as opposed to the usual philosophical emphasis on reason and rationality. Maksudnya peran sentral dari hasrat sebagai lawan dari penekanan filosofis pada rasionalitas. Ketiga, The importance of human freedom. existentialist are concerned with personal freedom, both political freedom and freewill. Maksudnya, eksistensialisme memandang penting pembahasan tentang kebebasan manusia. Bahwa eksistensialis peduli dengan kebebasan pribadi, baik kebebasan politik maupun kehendak bebas. [2]

Berdasarkan pembahasan di atas,  bisa disimpulkan jika eksistensialisme memusatkan pembahasannya mengenai situasi mengada dan kemenjadian manusia yang dinamis dan berkehendak bebas, yang timbul akibat respons serius terhadap kondisi eksistensial yang dihadapi. Maka, manusia bukanlah keberadaan yang mekanis seperti halnya robot. Manusia dengan kesadarannya yang tertanam dalam palung subjektivitasnya sanggup bertindak bebas.  Dengan kehendak tersebut, manusia menetapkan keputusan-keputusan eksistensialnya di dunia.

Maka dari itu eksistensialis tersohor,  Jean Paul Sartre menyebut manusia sebagai etre pour soi. Istilah ini merujuk pada segala sesuatu yang memiliki kesadaran, yakni manusia. Dengan kesadaran teraebut, manusia mampu menyusun  tujuan hidupnya, memaknai diri sendiri sesuai kehendaknya, bahkan memaknai pihak lain.[3] Dengan kesadaran sebagai hakikatnya, manusia  dapat melakukan afirmasi maupun negasi terhadap sesuatu yang berhadapan dengan dirinya. Kesadaran membuat manusia dapat mengatasi, mengatur, memilih dan memaknai sesuatu.

Berbeda dengan keberadaan selain manusia yang tak memiliki kesadaran. Sartre menyebutnya etre en soi yakni segala sesuatu yang tak memiliki kesadaran, tak mampu menyusun tujuan hidupnya sendiri, tujuan keberadaan ditentukan oleh eksistensi lain.[4] Ciri lain dari etre en soi adalah esensi dan keberadaannya telah ditentukan. Sehingga ia tak dapat merealisasikan dirinya sendiri.

Ada banyak hal lainnya yang menjadi konsentrasi dari eksistensialisme. Untuk lebih jelasnya, saya akan mengemukakan sejumlah temuan-temuan eksistensialis mengenai eksistensi dan pengalaman manusia dalam buku Zainal Abidin  yang berjudul Analisis Eksistensial. Saya  pilah-pilah beberapa hal penting dalam konteks kajian kita.

Selain tema-tema tentang kebebasan dan kemenjadian manusia, eksistensialisme juga memandang bahwa eksistensi adalah pemberian makna melalui hubungan intensional antara manusia dan dunia.  Kita tahu jika intensionalitas adalah konsep inti dari fenomenologi. Maka pembahasan eksistensialisme sangat ertat kaitannya dengan fenomenologi. Melalui laku intensionalitas, manusia mengarahkan kesadarannya ke luar kemudian memaknai dunia dan menjinakkan dunia yang liar.

Eksistensialisme juga memahami bahwa manusia adalah ada di-dalam-dunia (in-der-welt-sein) sebagai struktur dasar mengadanya manusia dan terlibat secara eksistensial dalam dunia. Dunia dalam eksistensialisme dipahami sebagai dunia yang hidup dan dialami oleh manusia melalui keterlibatan di dunia. Di samping itu, eksistensi juga dipahami sebagai “milik pribadi” yang menegaskan keunikan manusia  dan tak ada satu pun yang identik.

Hal yang paling penting juga dalam eksistensialisme adalah pemahaman tentang eksistensi mendahului esensi yang menjadi salah satu pembahasan utama dalam eksistensialisme Sartre. Ringkasnya adalah bahwa keberadaan manusia (eksistensi) selalu mendahului gagasan dan konsepsi atau definisi  apapun yang ingin dilekatkan pada manusia (esensi). Dengan demikian, esensi tidak pernah ditentukan sebelum manusia bereksistensi.  Hal inilah yang membuat eksistensi itu unik dan satu sama lain tak identik.

Otentisitas eksistensi manusia juga tak bisa diabaikan dalam wacana eksistensialisme. Karena hal tersebut terkait dengan bagaimana manusia menentukan dirinya sendiri secara bebas. Dan masih banyak lagi yang menjadi konsentrasi dari eksistensialisme. Beberapa di antaranya menurut Zainal Abidin adalah kematian, kecemasan, waktu, ruang, tubuh, diri sendiri, dan rasa bersalah, Berdasarkan penjabaran tersebut, eksistensialisme mendudukkan manusia pada posisi paling penting dalam filsafatnya. Karena hampir seluruh tema-tema yang disinggung dalam eksistensialisme terkait dengan manusia sebagai individu.

Eksistensialisme yang menjunjung tinggi nilai-nilai manusia membuat aliran filsafat ini kerap dikaitkan dengan humanisme.  Dalam humanisme, manusia merupakan pusat atau sentral dari kenyataan. Meski demikian, ada perbedaan eksistensialisme dan filsafat humanistik lainnya seperti pragmatisme, sebagaimana yang dijelaskan Zainal Abidin dalam artikelnya berjudul Eksistensialisme. Katanya, perbedaan keduanya terletak pada posisinya memahami manusia. Eksistensialisme tak hanya membahas manusia pada umunya, namun menempatkan personalitas dan individualitas sebagai sentral. [5]

Lebih lanjut Zainal mengungkapkan, dalam eksistensialisme, kemerdekaan personal mendapatkan privileged-nya yang besar. Sementara dalam pragmatisme, kita masih menerima adanya sistem yang otoriter sekalipun jika sistem itu bermanfaat dalam hidup praktis manusia. Asas manfaat adalah segala-galanya bagi pragmatisme. Namun eksistensialisme tidak memberi tempat bagi sistem dan otoritas yang membelenggu kemerdekaan individu.[6]

Gagasan Iqbal tentang Ego

Pada bagian ini, saya hendak memperlihatkan kecenderungan eksistensialisme dalam filsafat ego yang digagas oleh Muhammad Iqbal. Namun sebelum itu, ada baiknya diuraikan terlebih dahulu konsep ego sebagai inti dari filsafat Iqbal agar dapat diketahui, pada titik mana persamaan antara filsafat ego dengan eksistensialisme.

Ajaran-ajarannya tentang ego banyak dituangkan Iqbal dalam puisi-puisinya. Karena diketahui bahwa Iqbal adalah seorang penyair.  Asrar-i-Khudi yang terbit pada tahun 1915 adalah salah satu karya monumental Iqbal tentang ego. Buku ini berisi teks-teks matsnawi. Hal inilah yang menyulitkan kita dalam memahami konsep ego Iqbal karena gagasannya tersebut dituangkan dalam karya sastra.

Meski demikian, kita bisa menemukan penjabaran sistematik dari konsep ego Iqbal melalui kumpulan-kumpulan ceramahnya yang dituangkan dalam buku berjudul The Reconstruction of Religious Thought in Islam.  Hal tersebut menegaskan jika Iqbal bukan hanya sekadar penyair, namun juga filsuf.

Iqbal memulai konsep egonya melalui keresahan terhadap gagasan Timur yang terjebak dalam pseudo-mistik yang cenderung mengabaikan kenyataan ego. Gagasan tentang peleburan Tuhan dan manusia dalam panteisme yang menghantui dunia Islam, dianggap mengabaikan ego sebagai sebuah kenyataan riil.  Hal tersebut membuat kaum muslim cenderung mengabaikan hakikat kedirian mereka bahkan lebih terlena untuk mengejar yang ukhrawi.

Iqbal menghargai gagasan Barat yang  lebih memerhatikan dunia nyata, dunia kongkrit yang dihidupi oleh manusia. Namun, Iqbal tidak sepenuhnya mengimani pemikiran Barat. Ilmu-ilmu alam yang berkembang di Barat cenderung melihat alam semesta, termasuk manusia, dideterminasi oleh hukum-hukum yang bersifat deterministik dan mekanis. Gagasan mekanisme ini kemudian ditolak oleh Iqbal demi menyelamatkan manusia dan alam semesta sebagai peristiwa-peristiwa organis yang hidup.

Posisi Iqbal justru ingin mensintesiskan gagasan Timur dan Barat dengan menitikberatkan filsafat egonya dalam hubungannya dengan dunia nyata, namun tak melupakan nilai-nilai agama, yang juga akan banyak dielaborasi oleh Iqbal dalam gagasannya mengenai ego. Filsafat Iqbal tak hanya lahir dari spekulasi filosofis, namun juga mendapatkan dukungan dari aya-ayat Alquran, khususnya tentang ego dan kemerdekaan manusia.

Pertama-tama Iqbal menegaskan jika ego suatu yang riil dan nyata dalam diri manusia. Iqbal menyebut beberapa karakteristik ego, salah satunya adalah sifatnya yang sendiri dan singular. Kesendirian ego ini membuat antara satu ego dengan ego lainnya bersifat unik dan tak sama. Untuk mendukung pandangan tersebut, Iqbal mengatakan, “Dokter gigi mungkin merasa simpati pada gigi saya yang sakit, tapi tidak dapat mengalami rasa nyeri gigi saya yang sakit.  Kenikmatan, penderitaan, dan keinginan saya adalah khusus milik saya, yang membentuk sebagian ego saya sendiri. Perasaan, kebencian dan cinta saya, pertimbangan dan keputusan saya, adalah khusus milik saya”.[7]

Karakteristik selanjutnya dari ego  adalah suatu kesatuan yang disebutnya sebagai keadaan-keadaan mental. Keadaan mental itu adalah suatu keseluruhan yang rumit dan jalin berjalin yang kerap dinamakan sebagai pikiran.[8] Mental dan pikiran inilah yang membuat tindakan menjadi mungkin.  Maka dari itu, sebagaimana yang dikatakan Donny Gahral Adian, ego dalam perspektif Iqbal adalah  pusat kesadaran dan kehidupan kognitif aktif manusia yang menjadi penggerak perbuatan dan usaha manusia.[9]

Tindakan-tindakan ego ini terjadi secara spontan dan terefleksikan dalam tubuh. Untuk itulah Iqbal mengatakan tubuh adalah akumulasi tindakan atau kebiasaan dari jiwa, dan antara keduanya adalah dua hal yang tak terpisahkan.[10] Tindakan sebagai karakteristik ego ini menyiratkan pandangan Iqbal tentang kehendak bebas manusia. Bahwa melalui egonya yang berkesadaran itu, manusia memiliki kemerdekaan dalam bertindak, dan bebas dalam mengambil keputusan. Sehingga manusia adalah tuan untuk nasibnya sendiri. Sejumlah ayat Alquran dikutip Iqbal untuk mendukung pandangannya tentang kemerdekaan manusia antara lain, 13:11, 18:29, 17:7.

Melalui kemerdekaan ini, ego membentuk dirinya dan didisiplinkan melalui pengalamannya sendiri. Dengan kata lain, manusia tak hanya sanggup mengubah dunianya melalui sederetan tindakan-tindakan, namun juga memiliki kemerdekaan dalam mengubah dirinya sendiri.  Perlu diketahui pula bahwa Iqbal memandang setiap keberadaan di dunia memiliki individualitas masing-masing. Meski itu wujud paling rendah sekalipun pasti memiliki ego.

Namun ego masing-masing keberadaan bertingkat-tingkat. Iqbal dengan bahasa yang puitis, mengibaratkan semesta wujud  sebagai lapangan-bunyi, di mana terdengar nada yang bertapak-tapak meninggi. Nada keegoan ini mencapai tingkat sempurnanya dalam diri manusia.[11]

Itulah mengapa manusia memiliki sifat kehendak kreatif yang juga dimiliki oleh Tuhan selaku Ego Terakhir, atau Ego Mutlak. Manusia diberi kedudukan yang tinggi dalam lapis-lapis realitas  sehingga dengan kesadarannya, sanggup mengikuti kreativitas Tuhan dan dengan kreativitas itu manusia mengubah dunia menjadi lebih baik. Di sini, Ego bersifat memimpin, karena Tuhan sendiri sebagai Ego Kreatif bersifat memimpin.

Berdasarkan pandangan di atas, kelihatan dengan jelas bahwa manusia dalam pandangan Iqbal bukanlah ciptaan pasif yang setiap geraknya dideterminasi sepenuhnya oleh kehendak Tuhan.  Meski Iqbal memahami jika Tuhan adalah sang seniman bagi terciptanya alam semesta, namun manusia hadir di tengah-tengah alam semseta ini sebagai partner Tuhan dan berpartisipasi dalam proses penciptaan.

Mengutip pernyataan Donny Gahral Adian, Tuhan adalah dasar spiritual mutlak dari segala kehidupan  yang bersifat abadi, dan mengungkapkan dirinya dalam keragaman dan perubahan. Manusia sebagai ko-kreator pilihan Tuhan berbagi creative genius Tuhan untuk direalisasikan di dalam dunia atau sederhananya: manusia diberkati Tuhan kebebasan untuk dapat berpartisipasi aktif dalam proses kreatif pencipta-Nya.[12]

Partisipasi aktif manusia dalam mencipta digambarkan Iqbal dalam salah satu puisinya di buku Pesan dari Timur (Payam-I Mashriq):

Kau mencipta malam, aku mencipta lampu yang meneranginya

Kau buat lempung, kubikin darinya cawan minuman

Kau bikin hutan liar, gunung dan padang rumputan

Kucipta kebun, taman, jalan-jalan dan padang gembala

Kurubah racun berbisa jadi minuman segar

Akulah yang mencipta cermin cerlang pasir[13]

Berdasarkan pandangan di atas, alam semesta adalah hasil dari kehendak kreatif Tuhan selaku Ego Mutlak yang memulai proses penciptaan. Sedangkan  manusia sebagai ego terbatas, sebagai hasil kreasi Tuhan, hidup di dunia dengan berpartisipasi dalam proses penciptaan di alam semesta. Maka boleh dikata, ego menjadi inti dari alam semesta. Bagi Iqbal, keberadaan adalah efek dari ego. Hal tersebut ditegaskan Iqbal dalam Asrar I-Khudi:

The form of existence is an effect of the Self

Whatsoever thou seest is a secret of the Self

 When the Self awoke to consciousness

It revealed the universe of Thought

A hundred worlds are hidden in its essence[14]

Melalui kehendak kreatif, ego bergerak dalam arus perubahan terus menerus. Jika kehidupan terus bergerak secara kreatif, maka ego pastinya memiliki tujuan dalam setiap geraknya. Namun, hidup yang terarah ke tujuan dalam pandangan Iqbal tak sebagaimana pandangan dalam filsafat teleologis. Pada posisi ini, Iqbal memiliki pandangan yang sama dengan Bergson yang menolak konsep teleologis sebagai sebuah rencana menuju pada suatu tujuan yang sudah ditetapkan. Hal ini tentunya tak jauh beda dengan determinisme takdir dalam agama dan gagasan mekanisme dalam pandangan ilmu alam.

Namun, sayangnya, Bergson menolak konsep teleologis karena memandang bahwa gerak kehidupan yang kreatif  pada hakikatnya memang tak memiliki tujuan yang dekat maupun jauh. Dorongan tersebut tak menuju pada suatu hasil namun bersifat arbitrer, chaos dan tak teramalkan.[15] Di posisi ini, Iqbal dan Bergson berpisah. Karena Iqbal tetap meyakini ego  adalah kehendak kreatif yang memiliki tujuan. Namun tujuan yang dimaksud di sini, bukanlah tujuan yang sudah ditetapkan dan ke sanalah ego bergerak.

Gerak kehidupan bagi Iqbal adalah pelaksanaan kemungkinan-kemungkinan yang terbuka.  Proses waktu mempunyai tujuan, namun tujuan ini bisa dipilih secara selektif. [16] Dengan demikian, sifat kehidupan  sebagai kemungkinan-kemungkinan memberi kesempatan pada ego untuk memilih setiap kemungkinan yang hendak ia jalani.

Bahkan seluruh isi alam semesta pun berjalan dengan prinsip demikian.  Alam semesta akhirnya dapat dipandang sebagai organisme hidup yang dinamis, yang tidak tunduk pada hukum-hukum yang mekanistik sesuai anggapan ilmu-ilmu alam. Namun alam semesta adalah sebuah gerak kreatif sebagai implikasi dari tindakan-tindakan ego.

Itulah mengapa Iqbal memandang alam semesta sebagai  wujud yang terus bertumbuh dan “menjadi” , bukan suatu hasil yang telah selesai. Begini kata Iqbal, “alam, seperti kita lihat bukanlah seonggok kematerialan murni yang mengisi sebuah rongga. Tetapi ia merupakan suatu struktur peristiwa-peristiwa, suatu cara tata laku yang sistematik,  sama organiknya dengan ego yang hakiki. Alam bagi ego ilahiat sama dengan watak ego manusia”.[17]

Dalam arus kehidupan yang terus mengalir ini, antara gerak alam semesta dan ego saling mengisi. Aliran kausalitas dari alam mengalir ke dalam ego dan dari ego ke alam. Karena itu ego dihidupkan oleh ketegangan interaktif dengan lingkungan. Dalam keadaan inilah Ego Mutlak membiarkan munculnya ego relatif yang sanggup berprakarsa sendiri dan membatasi kebebasan ini atas kemauan bebasnya sendiri.[18]

Ketegangan interaktif manusia-alam tersebut mencerminkan senbuah keadaan manusia yang menjalani hidup dengan mengatasi lingkungannya. Iqbal mengatakan, nasib manusia ditentukan oleh dirinya sendiri dengan mempergunakan tenaga-tenaga alam untuk mencapai tujuannya. Tuhan akan akan bertindak sebagai kawan kerja manusia dalam membantu pencapaian tujuan itu tergantung inisiasi manusia sendiri. “Tidaklah Tuhan akan mengubah nasib suatu bangsa, kalau bukan bangsa itu yang mengubah nasibnya sendiri” (13:11)[19]

Kemajuan ego manusia pun sangat ditentukan oleh seberapa keras ia melakukan interaksi dengan lingkungannya. Di sinilah perjuangan menjadi sangat penting dalam kelangsungan hidup manusia. Gagasan tentang kebebasan dan tindakan-tindakan kreatif  ego menyiratkan sebuah pandangan Iqbal tentang manusia sebagai subjek yang sanggup berjuang, berinisiasi dan berkemauan. Hidup manusia akhirnya ditentukan oleh seberapa besar perjuangannya melalui kebebasan yang dianugerahkan oleh Tuhan. Melalui puisinya, Iqbal menceritakan bagaimana ego menentukan nasibnya sendiri melalui daya juangnya:

Dengan kerja keras membanting tulang

Kau capai prestasi yang jarang

Walaupun di sana terselip dosa,

Ia kan memberikan ganjarannya sendiri[20]

Iqbal menjunjung tinggi kekuatan dan perjuangan. Melalui kebebasannya, manusia seharusnya hidup dengan penuh optimisme. Maka siapa pun yang tak memaksimalkan kebebasannya untuk berjuang maka ia akan terpuruk. Begini kata Iqbal:

Berhenti, tak ada tempat di jalan ini

Sikap lamban berarti mati

Mereka yang bergerak, merekalah yang maju kemuka

Mereka yang menunggu, sejenak sekalipun, pasti tergilas[21]

Kita bisa menangkap kepribadian Iqbal yang tidak menyukai sikap diam dan kelemahan. Hidup dimaknai sebagai perjuangan. Hal tersebut adalah konsekuensi dari  kemerdekaan yang dimiliki manusia, sehingga perjuangan itu menjadi mungkin. Bahkan, Iqbal justru menyerukan untuk hidup dalam bahaya. Iqbal menegaskan hal tersebut melalui puisinya:

Hiduplah dalam bahaya

Jika hidup sejati yang kau inginkan, wahai teman bijakku

Seperti pedang gagah-berani lemparkan dirimu

Atas batu keras curam, gosoklah dirimu supaya mengkilap

Bahaya justru memberimu segala yang baik

Bahayalah batu gosok yang sebenarnya bagi dirimu[22]

Sebab melalui bahaya, ego manusia berproses menjadi lebih baik lagi. Hal tersebut menunjukkan posisi Iqbal sebagai filsuf yang menghargai kekuatan, semangat dan keberanian sebagai unsur penting dalam diri manusia.

Eksistensialisme dalam Pandangan Iqbal tentang Ego

Banyak yang beranggapan jika konsep ego Iqbal mengandung filsafat eksistensialisme, meskipun Iqbal tidak pernah mengatakan demikian apalagi mendaku diri sebagai eksistensialis. Berdasarkan pembahasan di atas, kita sudah bisa meraba-raba elemen-elemen eksistensialisme dalam gagasan ego Iqbal. Bagaimana Iqbal memahami manusia sebagai ego yang dinamis dan berkehendak bebas, unik dalam kesendiriannya, dan keterlibatan manusia melalui tindakan kreatif di dalam dunia, memiliki kemiripan dengan gagasan-gagasan eksistensialisme.

Maka tak berlebihan jika Muhammad Iqbal dikategorikan sebagai filsuf eksistensialis. Meski demikian, konsep ego Iqbal adalah sejenis filsafat eksistensialisme teistik. Dalam perkembangan filsafat eksistensialisme, setidaknya ada dua jenis aliran yang ditemukan: eksistensialisme ateistik dan teistik.

Eksistensialisme teistik masih memberi ruang pada Tuhan dalam hubungannya dengan manusia, sementara eksistensialisme ateistik mengabaikan konsepsi Tuhan dalam hubungannya dengan manusia. Karena ambisi menjadikan manusia sebagai pusat dan menjunjung tinggi otonomi manusia, maka Tuhan harus ditampik.

Sekali lagi, semangat yang dibawa Iqbal  memiliki kemiripan dengan semangat yang dikibarkan oleh para eksistensialis. Perhatian besar Iqbal terhadap individualitas adalah tema yang juga disuarakan dalam eksistensialisme. Nafas eksistensialisme Iqbal semakin jelas saat ia menyadari jika manusia adalah subjek yang berkehendak dan berkemauan, memiliki potensi untuk memutuskan langkah hidup sesuai pilihannya melalui tindakan-tindakan kreatif. Konstruksi manusia Iqbal jelas sangatlah eksistensialis. Yakni menghargai individualitas manusia sebagai subjek yang bebas.

Kebebasan ini membuat manusia hidup di dunia dengan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang harus ia pilih. Manusia akhirnya dipandang bukan sebagai individu yang mekanis. Manusia yang dianggap Iqbal sebagai ego yang berproses “menjadi” secara terus menerus juga senada dengan pandangan eksistensialime mengenai manusia yang bukan sebagai susunan tulang-daging yang sudah “jadi” namun suatu yang terus“menjadi”.

Dalam eksistensialisme, dunia dipandang sebagai realitas kongkrit yang hidup dan dialami oleh manusia. Pandangan demikian bisa kita temukan dalam gagasan-gagasan Iqbal. Alam semesta dalam pandangan Iqbal, sebagai organisme hidup yang dinamis, yang bergerak menuju proses kemenjadian terus menerus. Dan manusia terlibat dalam proses penciptaan sebagai wakil Tuhan di bumi. Keterlibatan manusia dalam dunia yang kongkrit, hidup, dan dinamis ini tentunya mengingatkan kita dengan istilah yang cukup penting dalam eksistensialisme: manusia “ada-dalam-dunia”.

Konsep “ada-dalam-dunia” mempunyai makna yang sangat eksistensial, yakni “keterlibatan”, “keterikatan”, dan “keakraban” . Dunia seperti ini akan terus berkembang dan bersifat subjektif  karena kontak manusia dengan realitas di luar dirinya selalu ditandai dengan subjektivitasnya.[23] Maka dunia dan manusia selalu dalam keadaan hubungan yang saling berdialektis. Hubungan dialektis ini terjadi karena hubungan dunia dan manusia bersifat intensional. Intensionalitas ini tak hanya dalam kaitanya dengan kesadaran dan keterarahan manusia pada benda-benda, sebagaimana dalam pandangan fenomenologi.  Tapi intensionalitas dalam eksistensialisme  juga adalah menjadi bagian dari dunia dan hidup serta bertindak di dalamnya. Dunia akhirnya menjadi sesuatu yang dikendalikan oleh manusia.

Iqbal sendiri memahami hal yang sama dalam eksistensialisme mengenai hubungan dialektis manusia dan realitas. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas, Iqbal memandang jika arus kausalitas mengalir ke dalam ego dari alam dan sebaliknya dari ego ke dalam alam. Ego berproses di dunia melalui ketegangan interaktifnya dengan dunia. Hubungan interaktif ini memperlihatkan posisi manusia yang terlibat dan berbuat di dalam dunia, dan mengendalikannya melalui tindakan-tindakan kreatif.

Di samping itu, penghargaan Iqbal atas kekuatan, semangat juang dan keberanian, serta penolakan terhadap sikap lemah bisa dikatakan sebagai sebuah refleksi filosofis terhadap eksistensi manusia. Gagasan yang sangat eksistensialis itu bisa kita temukan dalam eksistensialisme Nietzsche. Hal tersebut akhirnya membuat Iqbal selalu disamakan dengan pesohor eksistensialisme itu. Terlebih lagi Nietzsche sering kali disebut Iqbal dalam karya-karyanya.  Orang-orang akhirnya menganggap Iqbal sangat terpengaruh oleh Nietzsche.Namun hal yang perlu diluruskan adalah, meski ada persamaan, namun antara Nietzsche dan Iqbal sama sekali tak bisa bertemu.

Ali Audah melalui pengantarnya dalam buku Iqbal Membangun Kembali Pikiran Agama dalam Islam, mengatakan, rasa keagamaan Iqbal yang sangat dalam bertentangan dengan sikap pemutarbalikan nilai yang dianut Nietzsche. Semua nilai bagi Iqbal adalah kekal. Segala sesuatu baik atau buruk tergantung kepada apakah sesuatu itu memperkuat atau melemahkan ego.[24]

Syahdah,  dari sekian banyak elemen-elemen eksistensialisme dalam pandangan Iqbal, eksistensialisme teistik bagi saya yang cocok dilekatkan pada sosok penyair tersebut. Sebab di balik tindakan kreatif manusia dalam proses kehidupannya di dunia, ada Tuhan sebagai Ego Mutlak. Tuhan mengiringi proses kemenjadian manusia di dunia dengan intervensi-Nya dalam mencipta secara terus-menerus demi kelangsungan denyut alam semesta sebagai organisme hidup.

Namun, intervensi ini tidak berarti bahwa manusia kehilangan kebebasannya dalam menentukan perubahan diri dan perubahan lingkungannya. Proses kreatif Tuhan dalam penciptaan juga diikuti oleh manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia. Manusia memiliki posisi paling tinggi di antara setiap mahluk, dengan diberi kepercayaan untuk berpartisipasi dalam proses pembentukan dunia melalui kehendak bebasnya.

Kontekstualisasi Konsep Ego Iqbal di Era Kenormalan Baru

Covid-19 merajalela. Wabah ini tak hanya berdampak pada kesehatan dan nyawa manusia, tapi juga menghancurkan fondasi ekonomi di banyak Negara, termasuk Indonesia. Cara cemi cara dilakukan guna mengalahkan kedigdayaan virus kecil tak kasatmata ini. Hingga akhirnya kenormalan baru  menjadi pilihan alternatif di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Masyarakat diminta untuk beraktivitas kembali agar tetap produktif di tengah wabah. Pemerintah Indonesia membilangkan, “berdamai dengan virus”. Namun masyarakat tetap diminta untuk menjalankan protokol kesehatan dalam segenap aktivitasnya. Tatanan baru ini hendak membiasakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih agar sanggup beradaptasi dengan wabah.

Kelonggaran di era kenormalan baru turut memberi kesempatan pada  pusat-pusat perbelanjaan, kantor-kantor hingga institusi-institusi negara untuk beraktivitas kembali. Kini, masyarakat  sudah tidak takut lagi mengunjungi ruang-ruang publik. Seolah-olah tak ada masalah dengan virus. Seolah-olah tak takut dengan virus. Namun sejatinya, era kenormalan baru  dengan sendirinya memperlihatkan problem eksistensial manusia yang bagi saya cukup serius: kepasrahan, tanda menyerah, ungkapan bahwa umat manusia tak bisa berbuat apa-apa lagi di hadapan Covid-19.

Era kenormalan baru menggiring umat manusia untuk bersikap biasa-biasa saja di tengah kondisi yang luar biasa. Seolah-olah keadaan ini tak bisa lagi diubah. Wabah Covid-19 memang sangat banyak mempengaruhi kondisi eksistensial mansuia. Termasuk  semakin tumbuhnya sikap fatalistik di tengah pandemi. Masyarakat akhirnya menyerahkan hidup dan matinya pada nasib dan takdir Tuhan di tengah pandemi. Berharap Tuhan menyelamatkan umat manusia dengan menarik kembali Covid-19 dari dunia. “Jangan takut Corona, tapi takutlah pada Tuhan.”  Begitulah kepercayaan yang tumbuh di era pandemi ini. Individualitas manusia yang aktif dan kreatif tunduk pada keadaan.

Padahal semestinya manusialah yang mengubah keadaan. Manusia hadir di bumi melalui kehendak kreatif Tuhan, juga mewarisi sifat kreratif dari-Nya . Kehendak bebas tersebut diberikan pada manusia untuk mengelolah alam semesta agar menghasilkan sebuah perubahan yang dicita-citakan. Manusia diberikan ikhtiar pada Tuhan untuk membuat keputusan-keputusan dari sekian banyak kemungkinan-kemungkinan yang disediakan oleh Tuhan. Anugerah tersebut seharusnya dimaksimalkan guna mengatasi krisis di tengah Covid-19.

Iqbal telah mengajari kita bahwa dalam diri manusia bersemayam ego yang membuat manusia dapat berpikir dan sadar akan situasinya, dan sanggup melakukan tindakan-tindakan kreatif sebagai buah dari kemerdekaan yang diberikan oleh Tuhan. Keputusasaan, sikap menyerah dan sikap fatalistik mestinya ditampik untuk memberi ruang pada kehendak kreatif ego dalam berbuat sesuatu. Ego membuat manusia sanggup menjinakkan dunianya, bukan malah dijinakkan oleh keadaan. Kerjasama antara ego-ego sudah harus dilakukan guna mengatasi dunia yang menjadi ganas karena virus.

Tapi tak bisa ditampik jika di era kenormalan baru ini ruang gerak manusia tak sebebas dulu. Meski sudah diberi kelonggaran untuk kembali hidup produktif, namun dalam situasi tidak normal dan tak terkendali ini membuat mobilitas manusia terbatas. Oleh sebab itu, kehendak kreatif ego juga semakin terbatas dalam mengelolah dunianya menjadi lebih baik lagi.

Tapi situasi yang kacau ini seharusnya tak menjadi penghalang. Justru dunia—meminjam bahasa Iqbal—menjadi “batu gosok” untuk semakin menajamkan daya juang ego. Hubungan ego dan realitas seharusnya menjadi ketegangan interaktif untuk semakin menghidupkan ego, dan menguji tindakan kreatifnya dalam menciptakan hidup dan lingkungan menjadi lebih baik lagi. Realitas  juga seharunya menjadi arena pertarungan bagi ego dalam menguji keberaniannya dan berkata “ya” pada hidup.

Apalagi di masa Covid-19, di era kenormalan baru ini, menghasilkan keadaan eksistensial yang meresahkan manusia. Keadaan eksistensial itu tak hanya dalam bentuk kepasrahan diri pada wabah yang seharusnya bisa dikalahkan melalui tindakan kreatif, namun juga keputusasaan dan kegagalan. Krisis ekonomi membuat banyak pekerja di-PHK, ekonomi rumah tangga semakin tidak stabil, bisnis-bisnis kian terpuruk membuat orang-orang berpotensi terjatuh dalam situasi eksistensial dengan cukup dalam.

Namun, situasi eksistensial tersebut seharusnya tidak untuk diratapi saja tanpa berbuat apa-apa. Situasi eksistensial tersebut membutuhkan respons agar keadaan dapat berubah. Di sinilah ajaran Iqbal tentang perjuangan dan keberanian dapat diimplementasikan di era kenormalan baru. Keadaan terpuruk tersebut seharusnya dijawab dengan kerja keras meski wabah mengancam. Di sinilah dibutuhkan keberanian dalam menantang marabahaya, agar rintangan dunia dapat diseberangi. Rintangan ini seharusnya dijadikan latihan membenahi diri.

Melalui eksistensialismenya, Iqbal mengajarkan kita untuk tetap optimis menjalani hidup bahkan di tengah situasi yang tidak normal. Karena Iqbal tahu jika keadaan dapat diubah melalui tindakan-tindakan kreatif. Dunia ini bukan materi yang statis. Namun sebagai rentetan peristiwa-peristiwa yang bergerak dinamis. Itu artinya, segalanya dapat berubah, asal kita berusaha. []

 

Catatan kaki:

[1] Zainal Abidin, Analisis Eksistensial untuk Psikolog dan Pskiatri (Bandung: Refika, 2002) hlm 40.

[2] Profesor Robert C. Solomon, No Excuses: Exixtensialism and the Meaning of Life (The Teaching Company, 2000) hlm 4 https://www.yumpu.com/en/document/read/9828377/no-excuses-existentialism-and-the-meaning-of-life-filedumpnet

[3] Wahyu Budi Nugroho, Orang Lain adalah Neraka: Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Sartre, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013) hlm 67

[4] Wahyu Budi Nugroho, Loc.Cit

[5] Zainal Abidin, Eksistensialisme, (Yogyakarta: UGM, 1992) hlm 48 https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/31397/18984

[6] Zainal Abidin, Eksistensialisme, Loc.Cit

[7] Muhammad Iqbal, diterjemahkan Ali Audah dkk, Membangun kembali Pikiran Agama Islam (Jakarta: P.T. Tintamas Indonesia, 1982), hlm 110

[8] Ibid, hlm 109

[9] Donny Gahral Adian, Muhammad Iqbal: Seri Tokoh Filsafat, (Jakarta Selatan: TERAJU, 2003), cet. I, hlm. 77

[10] Muhammad Iqbal, Op.Cit, hlm 117

[11] Ibid, hlm 81

[12] Donny Gahral Adian, Op.Cit, hlm 67

[13] Muhammad Iqbal, terjemahan Abdul Hadi W.M, Pesan dari Timur, (Bandung: Pustaka, 1985) hlm 66

[14] Muhammad Iqbal, diterjemahkan Reynold A. Nicholson, The Secret Of The Self (ASRÁR-I KHUDÍ) A Philosophical Poem, (London: Macmilian And Co., 1920), hlm. 14-15 https://www.gutenberg.org/files/57317/57317-h/57317-h.htm#VII

[15] Muhammad Iqbal, Membangun kembali Pikiran Agama Islam, Op.Cit, hlm 60

[16]Ibid, hlm 63

[17] Ibid, hlm 64

[18] Donny Gahral Adian, Op.Cit, hlm 86

[19] Muhammad Iqbal, Membangun kembali Pikiran Agama Islam, Op.Cit, hlm 15

[20]  Miss Luce –Claude Maitre, diterjermahkan Djohan Effendi, Pengantar ke Pemikiran Iqbal, (Bandung: Mizan, 1989), cetakan III, hlm 26

[21] Muhammad Iqbal, Membangun kembali Pikiran Agama Islam, Op.Cit, hlm XVIII

[22] Muhammad Iqbal,  Pesan dari Timur, Op.Cit, hlm 66

[23] Zainal Abidin, Analisis Eksistensial untuk Psikolog dan Pskiatri, Op.Cit, hlm 40

[24] Muhammad Iqbal, Membangun kembali Pikiran Agama Islam, Op.Cit hlm XIX