Arsip Kategori: Unjuk Rasa

Akil, Amrin, dan Madjid

Akil, Amrin, dan Madjid. Siapa mereka? Mungkin bagi orang kebanyakan bukanlah siapa-siapa. Bukan para pesohor, tapi mereka penempuh jalan sunyi di keramaian masing-masing. Ketiganya pun menuntaskan kesunyiannya, karena telah berpulang pada keabadian.

Bagi sebagian orang, tentu selain keluarga masing-masing, ketiganya amat berarti bagi satu organisasi yang mengadernya, lalu menjadi aktivis, baik di zaman kemahasiswaan mereka, tepatnya di HMI MPO Cabang Makassar, maupun setelah menjadi alumni.

Bagi HMI MPO, khususnya Cabang Makassar, di Era Reformasi, maupun sesudahnya hingga di kekinian, mereka bertiga merupakan trio gelandang dalam satu tim sepak bola. Ibarat dalam kesebelasan Arsenal, trio gelandang bisa berfungsi sebagai gelandang serang maupun bertahan. Bila punya peluang, tak segan-segan mereka ikut cetak bola.

Waima usia biologis mereka berbeda-beda, tapi mereka segenarasi di HMI MPO Cabang Makassar. Uniknya, mereka bertiga tak pernah menjadi ketua umum. Bagai dalam tim kesebelasan sepakbola, mereka tidak pernah jadi kapten.

Namun, daya jelajah pengabdian boleh jadi melampaui jabatan struktural. Sebab, ketika mereka bertumbuh dalam arena mengemban amanah, jabatan ketua umum di HMI MPO Cabang Makassar, tak diperebutkan. Prosesnya nyaris selalu aklamasi.

Wafatnya Akil beberapa waktu lalu, Selasa, 28 Mei 2024, cukup mengagetkan banyak pihak. Pasalnya, pagi hari masih mengantar anaknya ke sekolah, setelahnya main bulu tangkis. Dan, di tempat berolah raga inilah ia pingsan. Lalu, sekitar pukul 10.00 WITA lewat, dokter menyatakan wafat.

Aku sendiri sedang di luar kota, berada di Bantaeng dengan beberapa agenda sampai akhir bulan. Sehingga tidak sempat melayat plus acara takziyah. Hanya pasanganku yang melayat. Urita wafatnya Akil pun kuperoleh dari japri pasangan saya, beserta video berdurasi 8 detik, saat Akil masih diberi pertolongan di lapangan oleh rekan-rekannya.

Muhammad Akil Rahman, salah seorang juniorku di HMI. Amat banyak kenangan bersamanya, baik sebagai aktivis semasa mahasiswa maupun setelahnya. Bahkan hingga berkeluarga. Keluargaku dan keluarganya sangat dekat, termasuk lokasi mukimnya tergolong tak terlalu jauh. Masih dalam kawasan Alauddin-Mannuruki Makassar.

Sewaktu Reformasi 1998 bergulir, selain aktif di HMI, ia juga bergabung dalam gerakan Solid Unhas. Ia pernah menjadi Bendahara HMI MPO Cabang Makassar. Sesudah mengurus HMI, ia banyak membantu saya di Paradigma Institute, menjadi lingkaran dalam. Lalu saya memintanya untuk bergabung ke Kopel Makassar. Arkian, Akil terangkat jadi dosen di UIN Alauddin Makassar, perlahan mulai konsentrasi mengajar dan studi. Ia sementara S3.

Bapaknya Akil, Abdul Rahman, mantan Kepala Kanwil Depag Provinsi Sulawesi Selatan. Sewaktu menjabat Kakanwil, bapaknya juga mengikuti kuliah S2, Pascasarjana UMI, program magister agama. Nah, saya bertemu dengannya sesama mahasiswa pascasarjana, satu kelas. Bahkan seringkali pergi dan pulang bersama, numpang di mobilnya. Dan, bila ibunya Akil mencarinya, cukup sang bapak mengontak saya, di mana Akil?

Sewaktu Akil telah berkeluarga, sebagai pasangan muda, ia membuka kursus sempoa. Dua putriku menjadi muridnya. Hubungan kami menjadi intim. Ketika ia sudah punya putri tiga orang, acapkali kugoda, agar punya anak laki-laki. Lalu, ia bertanya apa jaminannya, kalau yang lahir berikut sudah laki-laki? Dengan tangkas kujawab, jaminannya saya. Bukankah keluargaku, tiga putri berturut-turut? Nanti anak keempat: putra. Akil terkekeh, persis seperti bapaknya terkekeh, kala kami saling canda.

Perjumpaan terakhirku dengan Akil, sekitar tiga bulan lalu, kala Amrin wafat. Amrin Massalinri meninggal sehari sebelum Pemilu Legislatif dan Presiden 2024. Tepatnya, Rabu, 13 Februari 2024, sewaktu matahari masih semenjana teriknya. Amrin, juga junior saya di HMI MPO Cabang Makassar. Secara biologis lebih berumur tinimbang Akil. Wafatnya Amrin pun cukup mengagetkan, hanya demam tinggi selama tiga hari.

Sepak terjang Amrin selama ber-HMI dan setelahnya seperti Declan Rice, sang gelandang bertahan dan sesekali menyerang dari Arsenal. Tidak ada capeknya. Sekotah aktivitas dijelajahinya. Tukang demo, baik di kampus, jalanan, kantor gubernur, apatah lagi kantor DPR.

Saking aktifnya sebagai aktivis mahasiswa, ia tidak menyelesaikan studinya di UNM. Pungkas bermahasiswa, ia berkeluarga, lalu membuka usaha pengetikan di bilangan Tamalanrea depan Pintu 1 Unhas. Uniknya, banyak mahasiswa yang sementara S2 dan S3, pengelolaan datanya digarap oleh Amrin.

Aku pun buka Toko Buku dan Komunitas Papirus di Kompleks Pusat Dakwah Muhammadiyah (PDM) Tamalanrea Makassar. Jadi, aku bertetangga dengan Amrin. Begitu juga beberapa kawan yang ikut buka usaha.

Kawasan depan Pintu 1 Unhas dan Kompleks PDM, menjadi salah satu arena konsolidasi Alumni HMI MPO Cabang Makassar. Secara informal terbentuk jejaring Komunitas Hijau Hitam. Lagi-lagi Amrin menjadi gelandang jelajah, meskipun saya didapuk sebagai kaptennya.

Aktivitas terakhir Amrin, masih di kawasan Tamalanrea Makassar. Menjadi Marbot salah satu masjid, sembari bergiat sosial lainnya, lewat lembaga keagamaan dan komunitas sosial. Sesekali membantu Kopel, karena memang berkolega dengan pengelola Kopel. Paling terakhir, Amrin menjadi relawan pemenangan pasangan capres dan anggota legislatif, yang masih dalam jejaring alumni HMI MPO.

Salah seorang yang ikut meramaikan pergelandangan di area Pintu 1 Unhas dan Kompleks PDM, Madjid. Ada satu kios pengetikan komputer sekaligus jasa penerjemahan Bahasa Inggris digawangi Madjid. Maklum, Madjid sarjana Sastra Inggris Unhas.

Madjid Bati, putra kelahiran Tidore, merantau ke Makassar, menjadi mahasiswa Unhas. Ia pun masuk HMI MPO Cabang Makassar. Selain menjadi pengader, ia juga menjabat bendahara. Di tangan Madjid, disiplin penagihan iuran cabang melambung. Khususnya yang kurasakan.

Sebagai kenangan patutlah kuceritakan. Sekretariat cabang waktu itu di Pa’bambaeng. Aku sudah mukim di Alauddin, Gunung Sari. Sekali waktu, ia datang menagih iuran cabang. Jujur, uangnya belum tersedia. Madjid juga tidak bilang akan ke mukimku. Semacam sidaklah. Kutanya, naik apa Jid? Jalan kaki, katanya. Berikutnya, ia utarakan maksud untuk menagih iuran.

Ommale, karena terkesimak bin takjub atas jalan kakinya, aku tak kuasa untuk menolak bayar iuran. Akhirnya, pasanganku yang bergegas ke pasar dekat rumah, kucegat agar jangan ke pasar, berikan uangnya untuk Madjid. Pasanganku kaget binti heran. Nanti Madjid pergi baru kubilang duduk perkaranya. Aku sangat percaya militansi Madjid dan sering kuutarakan kepada bendahara berikutnya, agar mencontoh Madjid.

Madjid kemudian menceburkan diri ke aktivitas anti korupsi. Lembaga anti rusuah, Kopel menjadikan Madjid sebagai gelandang jelajahnya. Bahkan, mendelegasikan Madjid ke Jakarta untuk membuka perwakilan Kopel. Dalam aktivitasnya kemudian, masih senapas Kopel, ia menghembuskan napas terakhirnya. Madjid wafat, 23 Juni 2021.

Jadi, Akil, Amrin, dan Madjid, serupa trio gelandang yang berputar-putar dalam semesta HMI MPO Cabang Makassar, Paradigma-Papirus, dan Kopel. Sekotah tempat persinggahan itu, masih dalam satu selimut besar: Komunitas Hijau Hitam.  

Di keabadian mungkin saja mereka sementara merancang komunitas, paling tidak Komunitas Hijau Hitam, sebagaimana yang dijalani selama melata di bentala. Komunitas yang mereka bikin, tentulah dalam rangka mempersiapkan kedatangan kami, baik para kakandanya maupun adindanya di HMI MPO Cabang Makassar.

Imajinasiku mengemuka, tentu para senior atau yang lebih duluan berangkat pada keabadian, merasa bahagia karena kedatangan kalian bertiga. Mirip Arsenal yang baru saja mentransfer tiga gelandang jelajah, serang-bertahan, buat menghadapi perlagaan musim berikutnya.

Kalian tidak mati, melainkan masih hidup di antara kami, seperti janji Allah yang masih kupegang teguh. Cuma kalian lebih dahulu menyeberang ke alam yang pasti akan kutuju pula.

Akil, Amrin, dan Madjid, tolong konsolidasi dengan sekotah pentolan HMI MPO Cabang Makassar  yang pulang lebih dahulu pada keabadian. Temui Kalmuddin, mantan ketua cabang dan Arsyad Fadlan, mantan ketua Badko Intim. Jangan lupa, sowan ke Kak Udin (Syaharuddin Parakasi).

Satu harapanku, buatlah program kerja untuk menyambut kami yang datang belakangan. Ingat, karena kalian lebih dulu masuk ke alam sana, maka kalian pun akan jadi senior-senior kami yang masih tertinggal di bentala, yang makin ambyar bin rungkad ini.

Keharusan Mengeja Ulang Cak Nur

Hujan yang awet sejak Jumat hingga Sabtu malam, 13 Januari 2023, tak menyurutkan sekaum anak muda-mahasiswa, untuk menyata di Warkop Bundu Talasalapang. Mereka membikin hajatan bertajuk Makassar, Road to Bazar & Dialog Titik Temu Pemikiran: Cak Nur dan Buya Syafii Maarif. Bertema, “Meramu Pikiran; Merawat Keberagaman dalam Bingkai Keindonesiaan”.

Hajatan diinisiasi oleh HMJ PAI Unismuh Makassar. Saya perkirakan penghadir mendekati seratus orang. Pemantik percakapan sebagaimana tercantum di spanduk acara, Sulhan Yusuf (CEO Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng) dan Asratillah (Direktur Profetik Institute). Secara teknis, oleh pemandu acara, Sulhan diminta untuk membedah gagasan Cak Nur, sementara Asratillah mendedah pikiran Buya Syafii.

Sebagai pemantik yang didapuk membedah minda Cak Nur, saya memulainya dengan mengenalkan selintas kilas latar belakang kehidupan pendidikan sang guru bangsa. Nurcholis Madjid, popular dipanggil Cak Nur, lahir 17 Maret 1939. Wafat Senin, 29 Agustus 2005. Menempuh mendidikan di SR, masuk Pesantren Moderen Gontor, kuliah di IAIN Ciputat, lalu melanjutkan program doktornya di Universitas Chicago, Amerika Serikat.

Kalakian, memahami Cak Nur, saya ajukan dua sudut pandang: konteks dan konten. Konteks terikat tahapan aktivitas personal dan sosial, sebentuk pergerakan ragawi. Adapun konten, terkait  kandungan pemikiran, serupa pergulatan jiwa.  

Sebagai konteks, pertama saat aktivis HMI: menulis Nilai Dasar Perjuangan (NDP), 1969. Kedua, dinisbatkan selaku penarik gerbong pembaharuan pemikiran Islam: menyajikan makalah untuk diskusi terbatas dinisiasi oleh PII, 1970. Ketiga, cendekiawan muslim garda depan: tatkala menyampaikan pidato di TIM 1992, plus aktivitas di Paramadina, hingga wafat dan digelari guru bangsa, 2015.

Konteks gerakan bermuatan konten, pertama, NDP. Buku kecil ini, semacam pedoman ideologi Islam bagi HMI. Berisi gagasan: Dasar-Dasar Kepercayaan, Pengertian-Pengertian Dasar tentang Kemanusiaan, Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir), Ketuhanan Yang Maha Esa dan Perikemanusiaan, Individu dan Masyarakat, Keadilan sosial dan Keadilan Ekonomi, Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan. NDP ditulis setelah melakukan perjalanan ke Timur Tengah dan ibadah haji. Ketika safari, bertemu dengan banyak pemikir. Kala ibadah haji, lahir berbagai renungan.

Konten kedua, makalah  “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Sajian makalah ini memicu perdebatan panjang di kalangan cendekiawan muslim. Pro dan kontra tersaji sangat panas dan dinamis. Tak mengapa saya penggal gagasan utama dalam makalah tersebut. Pertama, tentang sekularisasi—desakralisasi, termuat pula tohokan minda, Islam Yes, Politik Islam, No? Minda defenitif Cak Nur berkaitan sekularisasi, tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum Muslim menjadi sekularis, tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang semestinya bersifat duniawi, dan melepaskan umat dari kecendrungan untuk meng-ukhrawi-kannya.

Kedua,  Intelectual freedom-Kebebasan berpikir. Menurut Cak Nur, seharusnya umat Islam mempunyai kemantapan kepercayaan bahwa semua bentuk pikiran dan ide, betapa pun aneh kedengarannya di telinga , haruslah mendapatkan jalan untuk dinyatakan . Sebab, tidak jarang dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang umumnya semula dikira salah dan palsu itu ternyata kemudian benar.

Ketiga, Idea of progress, sikap terbuka. Ditegaskan Cak Nur, kita harus bersedia mendengarkan perkembangan ide-ide kemanusiaan dengan spektrum seluas mungkin, kemudian memilih mana yang menurut ukuran-ukuran obyektif mengandung kebenaran.

Konten ketiga, Pluralitas ke Pluralisme. Pidato di TIM, menabalkan minda, kemajemukan atau pluralitas umat manusia, merupakan suatu kenyataan yang telah menjadi kehendak Tuhan. Maka pluralitas itu meningkat menjadi pluralisme, yaitu suatu sistem nilai yang memandang secara posistif-optimis terhadap kemajemukan itu sendiri, dengan menerimanya sebagai kenyataan dan berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan itu.

Arkian, bagi Cak Nur, pluralisme Indonesia terumuskan secara ideologis dalam Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila bersifat dinamis, maka Pancasila harus diperjuangkan dalam watak dan proses masyarakat yang dinamis pula. Di sini terletak arti pentingnya kebebasan-kebebasan asasi, khususnya kebebasan menyatakan pendapat.

Pucuk pemetaan pemikiran Cak Nur, saya kunci dalam penegasan pentingnya memahami Islam sebagai doktrin dan peradaban. Doktrin Islam bersifat universal dan kosmopolit, yang dibumikan menjadi peradaban. Strategi pembumian pemikiran Cak Nur, mewujud dalam rupa,  Islam diintegrasikan dengan kemanusiaan, kemoderenan, politik, dan keindonesiaan.

Nah, dikarenakan hajatan HMJ PAI ini bertujuan mencari titik temu pemikiran dengan guru bangsa lainnya, Buya Syafii Maarif, maka saya sodorkan satu kutipan pendakuan dari Buya, saat menulis satu pengantar terhadap buku, Cak Nur Sang Guru Bangsa, anggitan Muhammad Wahyuni Nafis. Artikel Buya berjudul, “Cak Nur, Sahabatku: Mengapa Cepat Pergi?”

Buya Syafii bilang, “Sekiranya tidak pernah sama-sama belajar di Universitas Chicago selama beberapa tahun pada seperlima terakhir abad ke-20, saya tentu tidak akan kenal dekat dengan Cak Nur, yang kemudian ditakdirkan muncul menjadi salah seorang intelektual kelas berat Indonesia. Penampilan fisiknya yang selalu sederhana, tetapi otak besarnya telah lama menggeluti masalah-masalah besar yang menyangkut keislaman, kemoderenan, keindonesiaan, dan kemanusiaan universal.”

Pendakuan Buya yang saya kutipkan, cukup menjadi jembatan pengantar untuk sesi penyajian pikiran Buya, didedahkan oleh Asratillah. Dan, eloknya lagi, pancingan saya langsung disambar oleh Asratillah. Selama penyajiannya, saya ikut membatinkan pikiran-pikiran Buya, sekaligus menyeleraskan minda Cak Nur. Simpai simpulan saya, tiada sedikit titik-titik temu pemikiran. Paling tidak, baik Cak Nur maupun Buya Syafii sama-sama berguru pada seorang cendekiawan muslim kelas dunia, Fazlur Rahman, selama kuliah di Universitas Chicago.

Respon penghadir terhadap bentangan pemikiran kedua guru bangsa tersebut, cukup mendapat apresiasi. Namun, hingga perjalanan pulang diiringi rintik hujan dan saya tiba di mukim, tersisa seonggok tanya, masihkah kaum muda mahasiswa serius mempercakapkan tema-tema pemikiran semacam itu?

Pasalnya, tak sedikit stigma dialamatkan kepada kaum muda mahasiswa, bahwa ketertarikan pada percakapan intelektual, tak banyak diminati lagi. Untungnya, saya sudah mempersiapkan pelampung, berupa rekomendasi agar mengeja buku-buku Cak Nur, bila ingin mendalami lebih jauh sepak terjang minda sang guru bangsa.

Cuman dua buku Cak Nur saya tunjukkan, Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan dan Islam Doktrin dan Peradaban, agar dieja oleh mereka, sebab saya pun mengeja ulang buku-buku tersebut, tatkala didapuk selaku pemantik. Waima, saya sudah membaca saat mahasiswa di akhir tahun 80-an dan awal 90-an, tapi ketika mengeja ulang di kiwari, rasanya makin tinggi nilai gizinya, buat menjalani kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Utamanya di tahun politik yang tunggang langgang dinamikanya.   

Semesta Manusia: Tribute to Nirwan Arsuka

Refleksi 100 hari wafatnya Nirwan Ahmad Arsuka

Bagi insan yang lebih dulu mencapai keabadian, hanya warisannya akan menjadi penanda jejak selaku pengabdi. Ia akan abadi karena abdinya. Dari pengabdian ke pengabadian. Baik di bentala, maupun di nirwana.

Begitulah sosok seorang pengabdi, Nirwan Ahmad Arsuka,  yang sementara diabadikan oleh para penerusnya. Nirwan lahir di Kampung Ulo, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 5 September 1967 dan wafat di Jakarta, 6 Agustus 2023. Lalu dimakamkan di tanah kelahirannya. Selain dikenal sebagai pejuang literasi, Nirwan pun diakrabi selakon seorang intelektual garda depan. Tulisan-tulisannya merambah dalam bidang sains, sosial, budaya, seni, sastra, dan agama.

Jelang hingga peringatan 100 hari wafatnya Nirwan, sang pendiri Pustaka Bergerak Indonesia (PBI), serangkaian helatan digelar. Ahad, 5 Nopember 2023, diadakan temu daring oleh keluarga besar Pustaka Bergerak Indonesia (PBI). Acara ini serupa persiapan menyambut peringatan 100 hari wafatnya Nirwan.

Selain itu, dibincangkan pula potret kelembagaan PBI dan mekanisme formalitasnya, serta korelasinya dengan sekotah simpul pustaka. Perbincangan ini dimediasi oleh Faiz Ahsoul, pelaksana tugas PBI. Simpai simpulan percakapan, bagaimana merawat warisan Nirwan yang semula bernuansa personal, diadaptasi dalam bentuk kelembagaan. Spiritnya, meneruskan kerja-kerja seorang pengabdi, Nirwan Arsuka, yang telah mengabadi.

Arkian, 18-26 Nopember 2023, hajatan sepekan Tribute to Semesta Manusia. Simpul-simpul PBI di seluruh Nusantara mengisi pekan peringatan 100 hari tersebut, beragam aktivitas. Didahului acara Prosesi Mattampung (penanaman batu nisan) di Barru oleh keluarga besar almarhum Nirwan Arsuka. Tepatnya, Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023. Prosesi Mattampung ini merupakan acara adat, sebentuk tradisi di kampung halaman Nirwan.

Berikutnya, sederet simpul pustaka mengadakan hajatan dengan caranya masing-masing. Sabtu, 18 Nopember, di Malioboro, Yogyakarta, Perpustakaan Gerak Girli Malioboro Bergerak, menyajikan acara Story Telling Mattampung dan Doa Bersama.

Lalu, Sabtu, 18 Nopember 2023,Ibuku dan Angkot Pustaka, mendedahkan acara Biblioterapi dan Doa Bersama, di Pesantren Sirojul Munir Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Tak ketinggalan simpul pustaka Rumba KIH, pada Ahad, 19 Nopember 2023, melakukan Penanaman Pohon dan Doa Bersama di Blitar, Jawa Timur.

Masih di hari Sabtu-Ahad, 18-19 Nopember 2023, simpul pustaka Sigupai Membaco dan Perpustakaan Rumah Teras Baca di Gorontalo, menghadirkan PakBukLing (Lapak Baca Buku Keliling) dan Doa Bersama. Pun dari RBCD, selain melakukan Lapak Buku, juga Baca Puisi dan Doa Bersama.

Dari Taman Kota Sumpiuh Banyumas, Jawa Tengah, simpul pustaka Lapak Baca Motor Pustaka Griya Baca Jelita (Jendela Literasi Tanah Air) melakukan Doa Bersama untuk Nirwan. Selanjutnya, Kamis, 23 Nopember 2023, Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng, via Motor Literasi (Molit) Peradaban, mengusung “Percakapan Hilirisasi Budaya ala Nirwan”, dirangkai Pembacaan Puisi dan Esai, Pidato Kebudayaan, dan Doa Bersama.

Tentu, masih banyak lagi aktivitas simpul pustaka yang belum saya deretkan. Sekadar penegasan saja, ada ratusan simpul pustaka berkegiatan, guna didedikasikan buat Nirwan, baik yang terpublikasi maupun menempuh jalan senyap.

Kalakian, pucuk acara Sepekan Tribute to Semesta Manusia, dalam rangka 100 hari wafatnya Nirwan, berpuncak pada sawala dan dialog buku Semesta Manusia, anggitan Nirwan Ahmad Arsuka. Sawala dilaksanakan secara daring, Ahad 23 Nopember 2023. Pemantik sawala, Ulil Absar Abdalla, FX Rudy Gunawan, Ernawiyati, dan Nur Sybli.

Dipandu oleh Fathul Rakhman dari simpul pustaka  Sekolah Literasi Rinjani. Sebelumnya dibuka oleh MC, Syamsiah Lukman dari simpul pustaka Perahu Pustaka Laica Abbacang. Tak lupa menyilakan perwakilan keluarga besar Nirwan, diwakili ponakan, Muh. Iftikar Sahid, untuk memberi sambutan. Ia bertutur, ada cita dari pamannya yang belum terwujud, membikin lembaga pendidikan bagi orang-orang kurang beruntung.

Tema “Semesta Manusia” diambil dari judul buku karya Nirwan Ahmad  Arsuka. Sebuah buku putih setebal bantal balita, 808 halaman, Penerbit Ombak. Berisi kumpulan tulisan yang merangkum hampir seluruh ide, gagasan, dan isi kepala almarhum.

Sekotah tulisan yang terhimpun dalam buku putih Semesta Manusia, sebelumnya pernah dimuat media, khususnya media cetak, termasuk teks Pidato Kebudayaan, Dialog Semesta, dan beberapa tulisan sempat masuk media online.

Secara garis besar, ada 8 tema yang diusung dalam buku putih: Sains, Manusia, Seni, Sastra, Agama, Indonesia, Pustaka Bergerak, dan Kuda. Namun, dalam diskusi, sebagai alat bantu Dialog Semesta Manusia, dirangkum menjadi empat tema: Manusia, Sains, Budaya, dan Pustaka Bergerak.

FX Rudy Gunawan bertindak selaku pemantik awal. Bagi Rudy, Nirwan adalah manusia multidimensional. Pembelajar otodidak. Mampu menyederhanakan pemikiran rumit. Seorang penggerak, punya mimpi besar untuk kemajuan bangsa. Sejak mahasiswa, bersama Nirwan sudah terlibat gerakan penghentian ketidakadilan dan kediktatoran.

Rudy bertemu kembali dengan Nirwan di Jakarta, ketika media cetak Tempo, Editor, dan Detik, diberedel oleh rezim Soeharto. Ikut mendinamisir Aliansi Jurnalistik Independen dan berkumpul di Komunitas Utan Kayu Jakarta. Setelah berkonsentrasi pada aktivitas mutakhir masing-masing, Nirwan memilih wilayah literasi untuk mewujudkan mimpinya. Jejaring Nirwan mesti diteruskan.

Nur Sybli menguatkan penabalan Rudy. Ia menegaskan, PBI merupakan rumah kita bersama untuk berbagi energi kebaikan. Apatah lagi, di rumah bersama ini, kita berangkat dari keragaman lintas agama, budaya, suku, profesi, pendidikan, dan latar sosial lainnya.

Saatnya menguatkan warisan Nirwan dengan memperkuat kualitas sumber daya manusia para penggerak. Penguatan kapasitas itu bisa beragam bentuknya, sesuai tantangan masing-masing. Namun, perlu ada kapasistas bersama, sebagai standar sebagai seorang pegiat dan penggiat literasi. Dan, sepertinya dibutuhkan sesi lain untuk menindaklanjuti sodoran minda ini.

Setelahnya, giliran Ernawiyati memaparkan pikiran. Erna lebih banyak mengapresiasi tulisan terakhir dari Nirwan Arsuka di harian Kompas, berjudul “Hilirisasi Budaya”. Menurutnya, minda Nirwan ditulisan ini sangat bernilai tinggi, satu warisan intelektual yang harus diapresiasi bersama. Tawaran hilirisasi budaya ala Nirwan, bisa dijadikan semacam peta pemajuan budaya, sebagai lapik pembangunan bangsa Indonesia. Menariknya, peta ini bisa ditafsirkan secara mandiri, sesuai dengan konteks masing-masing.

Akhirnya, Ulil Absar Abdalla memungkasi percakapan. Ia memulai dengan bagaimana ia bertemu dengan Nirwan di Freedom Institute, sesama pendiri. Perkawanan di Freedom Institute cukup lama, sehingga ia amat mengenal pemikiran Nirwan. Ulil berpendapat, Nirwan adalah persona yang memenuhi seorang intelektual yang sangat komplit. Minatnya sangat luas terhadap berbagai macam isu.

Ciri khas generasi Nirwan, kemampuan menulis dengan baik. Keunggulannya terletak pada daya jelajah pada sains sangat dalam. Bukan saja sains popular, tetapi pada inti sains. Lebih dari itu, kelantipannya mengawinkan sains dengan sastra. Sosok langka, hampir mustahil negeri ini melahirkan seorang Nirwan.

Sesudah tidak bersama lagi di Freedom Institute, Ulil kaget dengan pilihan Nirwan, mendirikan PBI dan menghabiskan energinya untuk gerakan literasi. Ulil menilai, pilihan Nirwan merupakan kelanjutan dari aktivitas di Freedom Institute, mengingat Nirwan mengepalai perpustakaan lengkap, berisi buku-buku bergizi tinggi.

Nirwan percaya pada kekuatan buku yang mengubah seseorang, sebab buku menyebarkan tradisi berpikir saintifik. Berpikir ilmiah sewajah dengan fondasi penting dalam membangun masyarakat. Inilah yang menyemangati Nirwan, untuk memindahkan spirit perpustakaan di Freedom Institute ke seluruh penjuru mata angin di wilayah Nusantara, lewat PBI.

Simpulan Ulil memantapkan tentang warisan Nirwan. Tradisi menulis yang baik, berpikir saintifik, minatnya begitu luas meskipun tidak menarik bagi banyak orang. Di pucuk percakapan, Ulil mendakukan kesiapannya menjadi bagian dari PBI, sebagai bentuk perkawanan abadi dengan Nirwan.

Nirwan telah mengabadi dalam dua ruang. Di bentala karena ada warisan pengabdiannya. Di nirwana sebab itulah tujuan akhir sekotah insan. Ya, Nirwan nyata di bentala dan sunyata di nirwana.

Cerita-Cerita tentang Perbedaan Lebaran

Jelang salat Duhur di satu masjid, saya bersua dengan seorang kepala desa, yang pasangannya menjabat komisioner KPUD. Iseng-iseng saya bertanya, “Kapan lebaran Pakde?” Sembari tersenyum ia berujar, “Nyonyaku sudah lebaran besok, Jumat. Ia sudah izin ikut penetapan Majelis Tarjih Muhammadiyah. Kalau saya menanti pengumuman pemerintah, kemungkinan Sabtu.”

Saya segera bisa memahami pasutri tersebut. Maklum saja, sang nyonya merupakan aktivis perempuan Ortom Muhammadiyah sebelum menjadi komisioner. Sedang sang kepala desa, corak keberagamaanya lebih merujuk pada Nahdatul Ulama (NU). Apatah lagi, dugaan saya, ia mengikut pada putusan pemerintah sebab ia bagian dari aparatus pemerintah, meskipun tidak harus demikian.

Usai salat Duhur, saya mencarinya, ingin bercakap-cakap lebih dalam tentang sikap berbeda lebaran dalam satu keluarga. Namun, ia menghilang entah kemana dan sedang menyongsong urusan apa. Pastinya, saya sudah dapat gambaran bahwa tiada masalah bagi mereka untuk berbeda dalam melaksanakan lebaran Idulfitri, karena mereka telah melebarkan lapik fitrinya.

***

Esok harinya: Jumat. Lebaran Idulfitri berlangsung di salah satu masjid pusat Kota Bantaeng. Pelaksanaan salat Idulfitri dipusatkan di Masjid Raya Bantaeng buat warga Muhammadiyah dan yang mengikutinya. Pasalnya, tidak harus menjadi warga Muhammadiyah untuk ikut berlebaran di hari Jumat. Siapa pun asalkan seorang muslim dan setuju dengan penetapan Muhammadiyah, boleh berlebaran di hari Jumat tahun 2023 ini.

Saya pun meninggalkan mukim, menuju kantor, tempat mengasah pendapat buat mengasuh pendapatan, guna menyelesaikan satu naskah suntingan proposal kompetisi inovasi KIPP tingkat nasional, sekaligus mengunggah satu esai buat Kalaliterasi.com, buah pikir seorang kawan, terkait Idulfitri, berjudul, “Meniada di Hari Fitri”.

Kala saya berkhusyuk ria mengerjakan urusan kata-kata tersebut, muncul seorang kawan. Ia seorang direktur perkumpulan pemberdayaan masyarakat bentukan kami. Dia mampir ke kantor kami, sebab ia milihat motor saya parkir di depan kantor. Entah mengapa, antara bakal pertanyaan saya dan jawabannya sama. Terkait dengan dari mana dan jawabannya, “Mengantar istri salat Idulfitri di Masjid Raya Bantaeng.”. Kawan saya ini, seorang penghayat keagamaan ala NU, sementara istrinya, aktivis perempuan di Muhammadiyah. Selang berlaksa detik, ia pamit buat menjemput sang istri, karena sudah tunai salat Idulfitrinya.

***

Ketika kawan kerja saya menanti panggilan jemput sang istri, saya lalu bercerita penuh kelakar, bahwa di keluarga besar pasangan saya, kami pernah empat kali gelombang salat Idulfitri. Saya sudah lupa tahun persisnya, tapi peristiwanya akan selalu saya kenang, tatkala terjadi perbedaan pelaksanaan lebaran Idulfitri.

Di keluarga pasangan saya, punya tujuh saudara, dengan orientasi keberagamaan beragam. Pun, bapak dan ibu mertua saya. Sekali waktu, kami berkumpul di Makassar, untuk berlebaran yang saya sudah lupa tahun persisnya. seorang lago saya lebih awal melaksanakan salat Idulfitri, sebab merujuk pada fatwa kelompok muslim An-Nazir yang berpusat di seputar Danau Mawang, Kabupaten Gowa. Walaupun saat ia pergi ke lokasi salat, seperti mobil Panther, suaranya nyaris tak terdengar.

Sepulang dari salat, ia tersenyum penuh kegembiraan, penanda seseorang telah meraih kemenangan, setelah melalu pertempuran di bulan Ramadan. Ia menjabat tangan saya, sembari mengajak mojok, ingin mengatakan sesuatu, agak rahasia, “Saya sudama salat Idulfitri. Ikutka An-Nazir di Mawang. Banyak kuliat temanta di sana Kak. He..he..he”. Ia menggoda saya, seolah bertanya kenapa tak ikut. Memang di Jemaah An-Nazir, banyak kawan saya. Bahkan Imamnya, almarhum Ust. Lukman Bakti, merupakan junior saya di HMI MPO. Imamnya An-Nazir sekarang, Ust. Syamiruddin Pademmui, pun rekan seperjuangan saya di HMI MPO asal Cabang Palopo.

***

Hari berikutnya, masih bertengkar antara subuh dan pagi. Adik ipar saya yang kuliah di Universitas Brawijaya Malang, mendapat telepon dari temannya di Malang, menguritakan bahwa salah satu kampus Unismuh, akan melaksanakan salat Idulfitri. Mendengar urita sang kawan, tindakan pertamanya, membatalkan puasa, waima salat Idulfitrinya ikut ramai esoknya, seperti warga Muhammadiyah pada umumnya.

Seingat saya, urita sang kawan dari adik ipar saya, sejalan dengan waktu yang ditetapkan oleh Jemaah Tarekat Naqasandiyah berpusat di Sumatera. Adapun mayoritas rujukan salat Idulfitri di keluarga pasangan saya, khususnya di tahun yang saya sudah lupa persisnya itu, lebih banyak merujuk ke fatwa Majelis Tarjih Muhammadiyah. Termasuk mertua saya.

Cerita belum selesai. Ternyata, ada satu lagi lago, masih setia menanti penetapan pemerintah, yang penetapan waktu lebarannya sehari setelah keputusan Muhammadiyah. Nah, bayangkanlah kisanak-nyisanak, betapa dinamisnya cara beragama kami di keluarga pasangan saya. Cukup beragam, tapi seragam dalam menu lebaran: Burasa, ketupat, coto, opor, dan teman-temannya. Plus aneka kue kering dalam satu nama: kue lebaran.

***

Tahun 2023, kembali terjadi perbedaan lebaran. Muhammadiyah menetapkan 21 April 2023, Jumat, sebagai hari lebaran. Sementara pemerintah lewat Sidang Isbat dan NU, mengukuhkan 22 April 2023, Sabtu, sebagai 1 Syawal 1444 H. Reaksi umat pun beragam, mulai dari kajian ilmiah hingga meme lucu penghibur hati bermunculan. Namun, yang ajaib, dan kepastiannya tak terbantahkan, semua umat Islam Indonesia tetap sepakat, 21 April 2023, sebagai Hari Kartini, serupa hari raya buat kaum perempuan Indonesia. 

Mengapa Hari Kartini perlu diajukan sebagai interupsi di atas perbedaan? Agar semuanya menjadi tercerahkan. Pasalnya, kelompok paling menentukan suksesnya lebaran adalah kaum perempuan. Mau jatuh di hari Jumat atau Sabtu, kaum perempuan penentunya. Maka di hari lebaran yang berbeda, kaum perempuan, putri sejati, putri Indonesia, harum namanya.

Nah, bagi saya yang sudah pernah mengalami perbedaan empat gelombang pelaksanaan lebaran salat Idulfitri, jikalau hanya menghadapi perbedaan dua gelombang, terasa biasa saja. Lalu apa sikap paling mutakhir saya? Menjadi Nu-hammadiyah. Maksudnya, saya orang NU, tapi seiman dengan kaum perserikatan Muhammadiyah. Harapan saya selalu mengemuka, manakala terjadi perbedaan lebaran, puasa terakhir saya diundang oleh saudara seiman Muhammadiyah untuk berbuka di mukimnya, sebab burasa dan kawan-kawannya sudah siap disantap. Dan, usai bersantap, saya akan menabalkan kata, agar besok ke mukim saya, untuk bersantap burasa dan teman pengiringnya. Boleh berbeda hari lebaran, tapi burasa dan ketupat kita masih sama bentuknya.***

Kredit gambar: sangpencerah.id

Banjir Amarah

“Persamaan banjir dan marah,meluap kemana-mana. Apalagi jika bersatu: banjir marah, maka sempurnalah derita.” ( Maksim Daeng Litere, 160620)

Warga Kota Makassar cemas berjemaah. Air diperkirakan akan menggenangi kota hingga dua meter. Makassar siaga satu. Potongan video Wali Kota Makassar, Dani Pomanto, beredar mengimbau warga kota agar waspada. Kala mengimbau, ia sendiri berada di lokasi ketinggian air sepinggangnya. BMKG mengedarkan urita, pentingnya mewaspadai cuaca ekstrim, 12-16 Februari 2023. Pun, ketika saya tuliskan esai ini, hujan menderas, air masih menggenangi mukim saya. Pokoknya, pusat dan pinggiran Kota Makassar diterungku air. Pascabanjir, saya baca di teks berjalan televisi, ribuan orang mengungsi.

Sebagai warga Kota Makassar, pemukim di pinggiran kota, punya pengalaman intens dengan banjir. Sekadar menghangatkan ingatan. Tahun 1994, saya mulai mukim di bagian selatan kota. Enam belas tahun kemudian, pertama kalinya air menggenangi mukim saya. Banjir melanda Kota Makassar dengan ketinggian selutut di dalam rumah saya. Padahal, untuk ukuran sesama pemukim, rumah saya tergolong tinggi sejak awal dibangun, sekira pertengahan tahun 1980-an.

Tahun-tahun berikutnya, sudah jadi langganan banjir. Air selutut di dalam rumah sudah biasa. Seolah lutut saya jadi ukuran air. Lalu apa kerugian dari berkali-kali diserang banjir? Harta benda tidak banyak. Peralatan dan perabot berbahan serbuk kayu, sudah amblas sejak genangan pertama. Namun, harta paling berharga berupa bahan bacaan dan buku,  ratusan dimangsa air. Baik yang di toko maupun koleksi ruang baca. Maklum saja, rumah saya sekaligus menjadi tempat jual buku: Toko Buku Paradigma Ilmu.

Banjir demi banjir bertamu. Marah demi marah bertumpuk. Hingga kemarahan tiada lagi tersisa. Banjir masih ada, tapi kemarahan saya sudah habis. Saya teringat dengan Maksim Daeng Litere (170620), “Prilaku marah, diutus sebagai jebakan. Persis sebagai perangkap tikus.” Jadi, banjir terkini melanda Kota Makassar, memang lebih tinggi dari biasanya di mukim saya. Naik sejengkal. Artinya sudah sepaha. Lumayan pertambahannya, dari lutut ke paha. Adakah kerugian? Beberapa buku berenang, menikmati kejayaan air.

Sewaktu banjir terkini mengepung Kota Makassar, banyak sekali kemarahan publik muncul. Di media sosial, warga kota memuntahkan kemarahannya. Saya mengempatinya dari luar kota, sebab saya berada di satu daerah, 120 km dari Makassar: Kabupaten Bantaeng. Saya tetap bertanya kabar keadaan di mukim, mereka tenang menghadapi banjir. Bahkan, ketika saya menyatakan ingin segera ke Makassar, pasangan saya mencegah, sebab siapa tahu perjalanan tidak mulus, bisa-bisa muncul masalah baru. Terkadang saya membatin, orang-orang marah mungkin karena pemula. Baru pertama kali kena banjir.

Hari kedua setelah banjir, baru saya ke Makassar. Tiba di rumah, saya tetap disambut keramahan, tiada kemarahan. Saya mulai menelisik dampak banjir, siapa tahu ada yang luput dari penyelematan. Benar saja adanya. Di salah satu kamar, selama ini didiami putri saya yang sudah hijrah ke Bantaeng, ada satu kardus dan kantongan, luput dari perhatian. Alamak. Isinya buku-buku bergizi tinggi dan berkas: ijazah.

Tandasnya kemarahan saya, kemungkinan besar karena saya menganggap air, juga sebagai korban. Pasalnya, banyak daerah resapan air, tempat air selama ini hidup tenang, menyuakakan diri telah diusik. Sebagai misal, di wilayah pemukiman saya, semulanya terdapat banyak rawa-rawa, tetapi disulap menjadi perumahan. Setidaknya, ada tiga kompleks perumahan. Tentu lebih banyak lagi di bagian lain dalam Kota Makassar.

Artinya, air diserobot mukimnya. Maka air mencari tempat lebih rendah. Air menemukan salah satu tempatnya di rumah saya, sebab lebih rendah. Belum pernah direnovasi untuk ditinggikan. Sesama korban, lebih baik berdamai. Yah, berdamai dengan banjir. Air bah saya perlakukan sebagai tamu. Ia bisa datang dan pergi kapan saja.

Di mukim kami, seisi rumah mulai tumbuh sikap beramah-tamah dengan air. Isi rumah ditata sedemikian rupa, agar air selaku tamu datang, bisa nyaman adanya. Kami mulai mengganti perabot tahan air, berbahan plastik dan aluminium. Rak buku, terbuat dari kayu, kami kosongkan dua jenjang paling bawah. Air pun tak kuasa memanjat, meskipun ada satu dua buku melompat. Mungkin buku ingin mencoba jadi ikan.  

Ada kisanak-nyisanak yang mengusulkan, agar lantai rumah dinaikkan dan badan rumah ditinggikan. Usulan jitu, tapi kami belum punya cuan. “Pengauasa-penguasa, beri hambamu uang,” kata Iwan Fals. Saran paling praktis, waima paling rumit. Kerumitannya bisa memancing hadirnya kemarahan baru. Maksim Daeng Litere (201020) menegaskan, “Marah serupa tahi kopi didasar gelas. Sesekali naik ke permukaan, ketika diaduk buat diadu.”

Cukuplah kerumitan itu, disetubuhi oleh obsesi para penata kota yang mengidamkan Makassar, sebagai kota dunia, Kota Metaverse. Ingat, semetropolis apa pun satu kota, pasti ada kumuhnya. Saya tidak sedang memproklamasikan, mukim saya merupakan salah satu representasinya. Namun, patut diperhitungkan sebagai “polisi tidur”, gundukannya menjadi interupsi bagi pelaju jalan.

Meskipun saya sudah kehabisan marah, tapi saya memaklumi warga Kota Makassar atau warga kota-kota lain langganan banjir, masih memuntahkan amarahnya, seperti air banjir meluap kemana-mana. Air bah sebagai simbol kemarahan, saya tetap ingin kendalikan agar menjadi keramahan. Sebab, rasa marah itu tidak seperti air mengalir di sungai. Banjir hanya serupa luapan dari terserobotnya aliran dan penampungan, serta peresapannya.

Benar kata bijak bestari, ketika kita merasa marah, sadari amarah kita. Saat kita menyadari perasaan itu, kita tidak lagi terhanyut di dalamnya. Kesadaran membuat kita mampu melihat perasaan itu dari luar. Kesadaran bersifat murni, sama seperti langit yang terbentang. Amarah bisa membuat langit mendung sejenak, tapi perasaan itu tak dapat mengotorinya. Perasaan negatif datang dan pergi seperti awan mendung, tetapi langit yang terbentang luas akan tetap ada.

Tutur bijak bestari tersebut, saya nukilkan secara lugas dari Haemin Sunim, seorang guru meditasi Budha Zen dan penulis paling berpengaruh di Korea Selatan. Sunim menabalkan dalam salah satu buku larisnya, terjual lebih tiga juta eksamplar di Korea Selatan, berjudul The Tings You Can See Only When You Slow Down. Hal-hal yang dapat terlihat, saat engkau melambat.

Kala melambat di tengah seruduk kecepatan sahut menyahut kemarahann warga, saya melihat air sebagai korban, terbirit-birit penuh kemarahan. Menyerbu kota, disumpahi secara serapah, tapi begitu tiba di mukim saya, ia tenang menggenang, menyisakan kenang. Kenangan genangan menjadi kesenangan, seperti tembang kenangan yang ditembangkan ulang, demi mengawetkan keramahan, biar derita hengkang tunggang-langgang.