Arsip Kategori: Unjuk Rasa

Kuntum Mawar Jingga di Tanah Tua

Seorang penghadir bertanya, “Mengapa bunga mawar yang ada di sampul buku berwarna jingga?” Tanya penasaran itu terlontar, tatkala satu hajatan literasi, “Bedah Buku Kuntum Mawar” dihelat di salah satu kafe, De Taman, Bantaeng. Sebagai pembedah, tercantum Sulhan Yusuf, selaku pendiri Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan dan pemantiknya, tiada lain penulisnya sendiri, Sri Rahmi, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Berlangsung sejak pukul 20.30-23.00 WITA, pada Kamis, 6 Oktober 2022.

Sri Rahmi selaku penganggit Kuntum Mawar, mendedahkan mindanya, mulai dari perkara proses kreatif kepenulisannya, sampai pada tradisi literasi dirinya. Proses kreatif berpadu tradisi literasi pada dirinya, telah melahirkan anak-anak ruhani, enam judul buku, sejumlah dengan anak biologisnya, enam lelaki.

Inspirasi Bunda, Perempuan yang Keluar dari Mihrab, Mawar Merah di Tapak Tauhid, Tuhan di Bilik Suara, Tahun Corona, dan Kuntum Mawar, adalah sederet buku anggitannya. Lima buku pertama, belum pernah disawalakan di Bantaeng, sebagai kampung halamannya. Buku keenamnya, menemukan takdirnya untuk dipercakapkan di depan puluhan orang, berbagai latar belakang sebagai penghadir.

Didapuk sebagai pembedah, saya langsung menyambar beberapa pantikan dari Sri Rahmi, lebih populis disapa Bunda Rahmi. Saya pun memulai dengan menyodorkan kerangka percakapan dalam dua lema pembatas, konteks dan konten Kuntum Mawar.

Konteks kelahirannya, lalu dipercakapkan cukup unik. Tergolong peristiwa garib. Khususnya dalam sudut pandang geliat literasi yang lagi moncer di Bantaeng. Betapa tidak, Bunda Rahmi seorang politisi, tapi menulis buku. Jumlahnya pun bukan kaleng-kaleng, enam judul. Dan, pengakuannya akan lahir lagi anak-anak ruhani berikut pada setiap tahunnya. Meskipun kelihatannya, anak-anak biologisnya sudah purna.

Peristiwa langka. Demikian penabalan saya. Sebab, galibnya ada banyak buku yang lahir terkait dengan seorang politisi, tapi bukan dia yang tulis, melainkan ghostwriter. Politisi penulis beda dengan penulis politisi. Bunda Rahmi, seorang politisi penulis. Faktanya? Ia duduk di kursi legislatif Kota Makassar dua periode dan legislatif Provinsi Sulawesi Selatan dua periode. Dan, ada enam buku ia lahirkan selama periode perpolitikannya.

Arkian, saya mengulik konten Kuntum Mawar. Isi buku, terdiri dari tujuh bagian. Keping-Keping Inspirasi Bunda, Suatu Hari di Rumah Bunda, Sahabat Sepanjang Perjalanan Bunda, Episode di Jalan Dakwah Bunda, Rumah Berdaya Bunda, Hidup Sehat Ala Bunda, dan Bunda dalam Sastra, itulah bagian sekotah bagian terpatri dalam  pagina demi pagina, setebal 208 lembar.

Saya mengeja dengan khusyuk dalam durasi sangat pendek. Setengah hari, nyaris tanpa jeda. Melintas-lintas dari tema ke tema maupun dari penggalan esai dan sederet puisi. Saya memanjat mindanya, tiba pada simpai pucuk simpulan: sangat personal bukunya.

Memang terkesan sangat personal, tapi beberan makna-makna dipaparkan bisa bersifat lintas personal. Inilah pesonanya. Mengapa? Sebab bisa saja, peristiwa yang disuai Bunda Rahmi, sama dengan yang dijumpai orang lain, tapi selaksa makna dia lahirkan lewat paparan narasi ringan nan padan.

Makin tenggelam dalam pusaran Kuntum Mawar, saya mengeja lalu membatin. Bunda Rahmi, sungguh mempersoalkan objek bersifat fenomenal, dengan sentuhan subjek berlapik nomenal. Menggugat diri pemburu citra lalu mengajak  menjadi diri apa adanya. Dari diri bentukan fenomena ke sari diri nomena. Persona yang bertualang kembali ke persona yang azali.

Sejurus dengan persona paripurna, diri telah menaklukkan cakrawala, bukan cakrawala menenggelamkan diri, meminjam ungkapan filosof-penyair Anak Benua India-Pakistan, Sir Muhammad Iqbal.

Sungguh, saya kagum bin takjub, dengan pendar-pendar narasi Kuntum Mawar. Betul-betul mawar yang tampakan lahiriahnya memukau karena citra indahnya, sekaligus batiniahnya harum mewangi menerungku rasa. Seolah William Shakespeare  menyata, “Apalah arti sebuah nama? Andaikan kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi.”

Andaikan Kuntum Mawar disodorkan apa adanya, tanpa dicantumkan Bunda Rahmi sebagai penulis berlatar politisi, maka saya tidak percaya, buku ini ditulis oleh seorang politisi. Jujur, hingga esai ini saya torehkan, isi kepala plontos saya masih penuh keheranan. Jika keheranan saya ini berlanjut, bisa-bisa rambut saya tumbuh kembali.

Beruntung para penghadir di acara bedah buku, sebab ke-politisi-an Bunda Rahmi tak terlalu dipercakapkan. Lebih berwajah serupa pegiat literasi dengan kesejatian literer. Hadir dengan isi kepala, bukan isi kantong.

Bagi saya, ini serupa harapan baru, menjadi politisi, tidak mesti dengan modal berkantong tebal. Namun, menawarkan sekantong minda, tak kalah menariknya, walaupun tidak populis. Seorang politisi menyata dengan pikirannya, masih penting dan perlu.

Lalu, bagaimana dengan pertanyaan seorang penghadir tentang mawar jingga? Bunda Rahmi bertutur, dulunya ia bersosiaslisasi dengan mawar merah. Kiwari, melata di jagat dengan mawar jingga. Sebentuk perubahan. Karena perubahan merupakan keniscayaan. Merah ke jingga, sesederhana itu?

Saya mau bantu jawab, termaktub dalam Kuntum Mawar, pagina 120, pada tulisan, “Perubahan, sebuah Keharusan”.  Bunda Rahmi menulis, “Kenapa oranye? Oranye merupakan kombinasi antara warna merah dan kuning. Warna oranye memberi kesan hangat dan bersemangat serta merupakan simbol dari petualangan, optimisme, percaya diri, dan kemampuan dalam bersosialisasi.”

Ditegaskanya, “Warna oranye adalah peleburan dari warna merah dan kuning, sama-sama memberi efek yang kuat dan hangat … Nah, konon oranye ini disukai milenial. Karena Indonesia mengalami bonus demografi di tahun 2020-2035, puncaknya di 2030.”

Keren bingits bukan? Saya ingatkan, oranye itu kata lain dari jingga. Anehnya, saya lebih jatuh hati pada kata jingga. Amat elok bila saya tandaskan, kuntum mawar jingga di tanah tua. Mengapa? Bunda Rahmi mengada di Butta Toa, tanah tua Bantaeng bermodalkan sekuntum mawar jingga, penanda kekuatan dan kehangatan.

Kemah Literasi di Wisata Pendidikan

Sedianya, putri ketiga saya mengantar ke perwakilan bus di bilangan utara Kota Makassar. Namun, tak jadi jua. Perkaranya, sejak ia pulang dari acara mendiksar adik-adiknya di Mapala Marabunta, Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM), kurang sehat. Sudah hampir sepekan ia batuk, flu,dan hangat-hangat tahi ayam badannya. Dugaan saya, cuasa di lokasi diksar, Malino, kurang bersahabat. Atau sebaliknya, ia agak gagap membaca iklim.

Jurus jitu pun keluar. Minta tolong pada pasangan saya agar memesankan ojol. Menghampiri pukul 09.00, saya meninggalkan mukim menuju perwakilan PO. Bintang Prima di Jln. Perintis Kemerdekaan Km. 12, Kapasa, Tamalanrea, Makassar. Tepatnya, di depan Raider TNI AD.

Waima busnya berangkat pukul 9.30, saya lebih cepat ke perwakilan. Maklum, cuasa Kota Makassar tak menentu. Terik dan mendung makin sering bertikai. Tak mengenal waktu. Akibatnya, awan menangis. Hujan turun tiba-tiba. Sering orang menyebutnya sebagai bagian dari perubahan cuaca atau anomali iklim.

Setengah jam lebih, Pak Ojol memangsa waktu. Mungkin bisa lebih cepat, tapi rutinitas kemacetan kota, tak bisa dihindari. Sebagai bagian dari cara menghibur diri, kami bercakap-cakap, meski suara kendaraan kadang menenggelamkan suara kami. Apatah lagi, berkali-kali ada motor dan mobil, suara mesinnya meraung tak karuan.

Pak Ojol sudah menekuni profesinya sekira lima tahun. Sebelumnya, ia juga pengojek nonojol. Kami bercakap tentang keluarganya, asal muasal kampung halamannya, dan daerah-daerah mana saja ia pernah kunjungi. Mungkin ia terpancing bercerita, sebab ia tahu saya akan keluar kota.

Begitu tiba di perwakilan, saya turun dari sadel motor, sembari berucap terima kasih. Saya tidak langsung meninggalkannya, tapi membiarkan ia berlalu terlebih dahulu. Arkian, saya langsung ke loket tiket, memastikan kepastian jadwal pemberangkatan.

Lalu, mau ke mana sebenarnya? Saya akan ke Belopa, Kabupaten Luwu. Persisnya di areal Wisata Pendidikan, Desa Bone Lemo, guna menghadiri acara kemah literasi dan beberapa agenda bertajuk literasi lainnya. Lalu, lanjut bersafari literasi di Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

Sungguh, saat ini lumayan sulit mencari bus berangkat pagi ke Kabupaten Luwu. Beberapa PO (Perusahaan Otobus) saya kontak, tak menyediakan armada pagi. Umumnya tersedia malam hari. Sangat berbeda dengan berpuluh tahun lalu. Semisal tahun 90-an hingga beberapa tahun lalu, hampir semua PO menyediakan armada berangkat pagi, siang dan malam.

Kiwari, hanya PO Bintang Prima yang ada. Itu pun hanya satu bus. Kalau mobil nonbus banyak, tapi bukan tipe saya. Naik bus lebih santai dan leluasa menyerap energi perjalanan. Sebab, setiap orang punya cara mempersonalisasi rentang waktu, sekaligus mensubjektvikasi deretan objek perjalanan.

Bagi saya, perjalanan ke daerah mana saja, bagai membaca kitab suci. Bentangan ayat-ayat Tuhan jelas terpatri dalam dinamika sosial dan indahnya sajian alam. Inilah alasan utama saya, mengapa selalu memilih perjalanan siang. Sebab, jikalau perjalanan malam, semestinya ditempuh dalam senyap, tapi kebisingan senantiasa menari-nari sepanjang perjalanan.

Mendekati pukul 20.00, saya sudah tiba di Belopa, ibu kota Kabupaten Luwu. Seorang kawan, Asran Salam, pendiri Rumah Baca Akkitanawa (RBA), menjemput di tempat janjian. Tepat di depan Pertamina Belopa. Saya langsung dibawa ke warung makan, guna bersantap malam. Saya membatin, tanda-tanda kehidupan amat jelas. Waima saya tahu persis, kawan pegiat literasi ini, bukanlah sosok yang tergolong berdompet gemuk.

Di warung makan, saya mengontak dua kawan lama yang mukim di Belopa. Ikbal Daud dan Zaenal Abidin. Ada kerinduan pada dua sosok ini. Pasalnya, ketika dua orang ini kuliah di Makassar, termasuk aktivis mahasiswa, yang salah satu tempat singgahnya di mukim saya. Berlaksa detik kami tunaikan dalam percakapan. Nostalgia menggelandang ala aktvis mahasiswa, terkadang membikin kami tertawa lepas, saat mengenang beberapa kekonyolan saat melatai dunia kemahasiswaan.

Usai makan dan silaturahmi, mendekati pukul 22.00, bersama Asran dan seorang kawan fasilitator, Aziz Aripuddin, menerobos malam, berkendara motor menuju Desa Bone Lemo. Lebih dari 40 menit jarak tempuh, sejauh hampir 20 km. Kami tiba di rumah kepala desa, Baso Gandangsura, lebih akrab disapa Ubas.

Terjadi percakapan intim dengan Ubas. Meski jarang sua secara fisik, kedekatan minda nyaris tak berubah. Masih bening pikirannya. Kebiasaan menyeruput kopi dan mengisap rokok tiada surut. Kala ia menawarkan kopi, saya langsung menyela, agar kopinya nirmanis. Saya leluasa memohon kopi pahit, sebab manisnya kehidupan telah menerungku saya. Kopi memang pahit, tapi manisnya kehidupan telah mencampahnya.

Guna menandai perjumpaan, di sela percakapan dan seruput kopi, saya menyampaikan salam dan titipan dari dua orang kepala desa di Bantaeng. Keduanya menitipkan buku yang telah diterbitkan, anggitan masyarakat desanya. Sirajuddin Umar, Kepala Desa Labbo, bersalam lewat judul, Literasi dari Desa Labbo. Sedangkan Amiluddin Aziz, berkirim urita melalui buku, Menulis Desa Membangun Indonesia. Pun, tak ketinggalan, saya menghadiahkan dua buku saya, Pesona Sari Diri dan Maksim Daeng Litere.

Ubas adalah salah seorang sahabat karib saya yang menunaikan amanah selaku kepala desa. Ia juga pernah jadi anggota DPRD Kabupaten Luwu. Modalnya selaku aktivis mahasiawa semasa masih kuliah di Makassar dan pengalamannya menjadi aktivis pemberdayaan masyarakat, sudah lebih dari cukup untuk mengimajinasikan cita desanya. Hebatnya lagi, saya tidak putus kontak hingga kini, sehingga saya makin punya jejaring berbagi pengalaman dengan beberapa kawan muda, yang juga menjadi kepala desa di beberapa kabupaten.

Mendekati pergantian hari, saya, Asran dan Aziz, saya pamit ke Ubas, saya melanjutkan perjalanan ke lokasi perkemahan literasi, namanya Wisata Pendidikan Bonelemo. Jarak rumah Ubas dan lokasi perkemahan, dapat ditempuh sekira 10 menit. Ketika tiba di lokasi, bertepatan dengan selesainya beberapa mata acara pembukaan dan orientasi acara.

Tajuk acara kemah literasi yang diadakan oleh Rumah Baca Akkitanawa ini, sebentuk open recruitmen relawan literasi. Nama kegiatannta cukup keren, Sekolah Relawan Literasi (Relasi) Tema kegiatan menegaskan, “Mencari Relawan untuk Gerakan Literasi”. Berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad, 24-26 Juni 2022.

Saya diajak bergabung sebagai salah seorang pengisi acara. Saya didapuk untuk mengantarkan satu topik percakapan seputar, seperti apa relawan literasi. Pada sesi ini, tak lupa saya tabalkan tutur penguat buat bergiat, dari buku anggitan saya, Tutur Jiwa.

Saya menajamkan tutur, “Jangan bicara perjuangan manakala belum ada suka di dalamnya. Usah bilang pengorbanan jikalau tak tampak rela di atasnya.Sukarela adalah buah dari perjuangan-pengorbanan.Moga kesukarelaan tidaklah mati di negerimu, sebab itu sama artinya semesta sudah bubar.”

Selebihnya, saya lebih banyak melarutkan diri dalam buaian keindahan lokasi kemah. Memandangi hamparan sawah, menyerap aura sejuknya udara, menyelami suara aliran sungai. Juga, bercakap-cakap dengan beberapa kawan fasilitator dan panitia.

Di malam kedua, Ubas, sang kepala desa, menyambangi kami di lokasi perkemahan. Kembali saya dan beliau bercakap secara intim. Saking khusyuknya percakapan kami berdua, hingga menembus pukul 03.00 dini hari.

Ubas membabarkan begitu banyak minda terhadap desanya. Saya pun ikut menguatkan imajinasinya dengan cara berbagi pengalaman selama saya mendampingi beberapa kepala desa di Bantaeng. Khususnya terkait dengan imajinasi desa literasi dan literasi desa.

Keesokan harinya, Ahad, tidak ada lagi acara formal. Kegiatannya hanya makan-makan ikan bakar dan mandi-mandi di sungai, hingga tengah hari. Jelang Asar, acara dinyatakan selesai. Namun, sebelum ditutup, Asran meminta kepada saya untuk memberikan semacam refleksi untuk para calon relawan dan segenap penghadir acara.

Saya pun menabalkan beberapa simpaian simpulan. Hendaknya, komunitas literasi, Rumah Baca Akkitanawa, tetap memelihara keunikan setiap personilnya. Sebaiknya tumbuh bersama dengan keunikan masing-masing. Persis seperti hutan yang ada di lokasi perkemahan. Setiap pohon tumbuh dengan sari dirinya, sehingga lebatnya hutan menjadi indah karena keragaman pohonnya.

Tak elok satu komunitas, pengurusnya bertindak bak menggunduli hutan, lalu dijadikan kebun, yang hanya menanam tanaman tertentu, menyeragamkan tanaman. Kebun memang menghasilkan cuan dan tuan, tapi tidak menjanjikan keharmonisan semesta.

Saya mengunci penabalan dengan mengajak penghadir, agar menengok ke sekeliling, tampak persawahan dan sungai. Ada area yang masih berbentuk hutan dan ada yang sudah digunduli buat dijadikan kebun.

Arkian, saya mengajukan pertanyaan mana yang lebih elok bukit yang lebat pepohonannya dan yang sudah gundul? Saya tidak minta jawaban. Cuman memberikan isyarat agar memandang kepala saya yang gundul. Senyum, tawa, dan kekeh penghadir menghidu pucuk hajatan.

Usai acara penutupan, kami meninggalkan lokasi perkemahan, Wisata Pendidikan Bonelemo. Jelang sore kami tiba di markas besar Rumah Baca Akkitanawa, Pattedong, Belopa, Kabupaten Luwu. Malamnya, kami habiskan bincang-bincang lepas, sembari merefleksikan acara perkemahan, sekaligus mengimajinasikan beberapa agenda ke depan.

Tidak sampai larut. Kami memilih istirahat. Apatah lagi, esoknya, saya akan melanjutkan perjalanan ke Kota Palopo, serupa safari literasi, sebab beberapa agenda literasi telah menanti. Ah, tiga hari tiga malam di Luwu, tunai sudah.

Han Mira Kun

Sejumlah penghadir terkesan dengan tayangan twibbon ucapan selamat atas peluncuran buku, Empati untuk Kebaikan Baru, di Aula KPU Bantaeng, 25 Desember 2021. Ketika salah satu gambar menunjukkan seeokor kucing ikut memberikan ucapan selamat, tidak sedikit penghadir heran bin takjub. Lebih dari seorang ikut tersenyum lalu terkekeh. Lainnya, menabalkan ungkapan,  “Wow.. ommale, kungai nakke jeka. Oh mama, saya suka ini.”

Berlaksa detik usai hajatan, tidak sedikit yang mencari tahu dan bertanya, kenapa ada kucing? Siapa punya kucing itu? Sebagai penanggung jawab helatan, saya lalu mengajak yang bersangkutan agar mendekat. Lalu, saya memberikan penjelasan singkat, kucing tersebut merupakan kucing piaraan saya sekeluarga di mukim, Kota Makassar. Kucing itu mewakili, tepatnya salah seorang putri saya mewakilkan dirinya pada kucing itu.

Bagi kami di rumah, sudah sejak lama selalu ada binatang piaraan. Pernah ada kelinci, pun hamster. Bahkan ada putri saya, pernah membawa seekor anak anjing, titipan temannya buat dipiara. Namun, tidak berlanjut. Pasalnya, binatang ini kurang bisa diakrabi. Mungkin dikarenakan tradisi memelihara anjing tidak tumbuh sejak dini dalam keluarga besar kami. Alasannya sederhana, terkait dengan pemahaman keagamaan yang rumit jika tinggal bersama anjing.

Kucing peliharaan kami ini, agak unik. Mulai dari proses adopsi hingga tumbuh kembangnya. Sebelumnya, anak-anak di mukim suka pelihara kelinci, tapi usianya kadang tidak panjang. Padahal, pemeliharaannya sudah maksimal. Pernah seekor kelinci piaraan harus dibawa ke dokter hewan karena sakit. Ketidaksusesan memelihara kelinci, akhirnya beralih ke kucing. Jenisnya pun hanya kucing kampung.

Tatkala memelihara hewan piaraan, khususnya kucing, awalnya kami memperlakukan biasa saja. Berlangsung secara alamiah. Maklum, mukim kami di pinggiran bagian selatan Kota Makassar. Ada banyak kucing liar atau kucing kampung sering bertamu. Pastinya mencari makan. Ada interaksi, saling mengakrabi. Selanjutnya, ada yang mulai tinggal, meskipun masih sebatas di luar mukim.

Keakraban dengan kucing makin hari makin meningkat. Waima, ada anggota keluarga yang masih jaga jarak. Maklum, ia penderita asma akut, gangguan pernapasan. Secara teoritis harus menghindari kucing, sebab bisa menjadi pemicu kambuhnya asma. Sudah puluhan kucing kampung menjadi bagian dari keluarga kami. Pada setiapnya, ada nama dan hikayat masing-masing.

Nah, mungkin perlu saya kemukakan manfaat punya hewan peliharaan. Apa pun jenisnya. Dari berbagai sumber yang sempat saya telusuri, tersimpai pada beberapa pengetahuan, dapat meningkatkan kekebalan tubuh, meredakan stress, dan mendukung tumbuh kembang anak. Selain itu, dapat menemani lansia, memantik pemeliharanya untuk senantiasa aktif bergerak, dan meningkatkan kemampuan berinteraksi.

Bila hewan piaraan itu berbentuk kucing, seperti kucing kampung di mukim kami, maka ada ada beberapa kemewahannya. Mudah diperoleh, itu sudah pasti. Ia makan apa saja, perawatannya mudah, dan tahan penyakit. Lincah dan aktif, serta pemburu hama terutama tikus.

Manfaat memelihara hewan piaraan, khususnya kucing kampung, telah menubuh pada kucing kami yang paling mutakhir ini. Ia bukan kucing pertama kami, tapi hasil pilihan dari sekian banyak kucing di sekitar mukim. Awalnya, ia berindukkan seekor kucing yang dipungut oleh salah seorang dari kami. Sang induk sudah berkali-kali beranak-pinak. Saking seringnya, sehingga sudah melebihi populasi yang kami inginkan. Sudah cenderung mengganggu, kadang mereka menghadirkan suasana kurang nyaman. Terutama kencing dan berak di sembarang tempat.

Tindakan pun diambil. Ada musyawarah bersama anggota keluarga. Kata mufakat lahir, mengungsikan semuanya, kecuali menyisakan satu. Sang induk yang beranak empat, diungsikan bersama tiga anaknya. Dengan pelabur yang cukup, kami ungsikan di tempat strategis, memungkin mereka tetap survive. Toh, kucing kampung bin liar, punya sederet kemampuan untuk tetap hidup. Dan, tidak menutup kemungkinan dapat rumah baru.

Tinggallah seekor anak kucing. Masih belia sekali. Kucing ini dirawat sedemikian intens, hingga makin hari makin menunjukkan sari dirinya selaku kucing kampung. Putra bungsu saya memberi nama: Mira. Saya lalu mengatakan kurang tepat, sebab ia berjenis kelamin jantan. Putra saya tetap yakin seekor betina. Mungkin karena saya melihat bakal biji pelir di bawah lubang duburnya, tapi putra saya justru melihat bakal puting di perutnya.

Si Mira pun bertumbuh. Semakin kentara biji pelirnya dan semakin tidak menunjukkan tanda-tanda punya puting. Percakapan pun berlangsung buat memperkarakan nama yang kurang elok. Kucing jantan tapi dipanggil betina, aneh bukan? Persepakatan bulat, nama Mira tetap dipertahankan. Cuma perlu ditambahkan. Usulan dari putri ketiga saya, agar ditambahkan Kun. Jadilah Mira Kun. Lama kelamaan, putri kedua saya menambahkan lagi satu kata di depannya, mewujudlah Han Mira Kun. Saya menduga, putri saya itu jatuh hati pada Guru Han, sosok penutur dalam buku saya, Tutur Jiwa.

Kiwari, Han Mira Kun benar-benar telah menjadi anggota keluarga. Bahkan, ia telah masuk jadi anggota grup WA kami, yang berisikan enam orang. Nama grup pun dialamatkan padanya, “Hanmirakun Daily”. Ia senantiasa nongol di grup. Pasangan saya paling rajin mengunggah tingkah lakunya. Padahal ia paling rentan berdekatan dengan kucing. Sejak pasangan saya ikut program olah napas, buteyko, sepertinya berdekatan dengan kucing sudah bukan masalah. Malah si Mira telah jadi kawan setianya.

Setiap ada unggahan tentang si Mira, pastilah anggota grup bersahut-sahutan komentarnya. Terkadang ada yang minta divideokan, sebab mukimnya jauh di kota lain. Saya sendiri, kala sedang di rumah, sering main bersama. Ia kadang menemani saya tatkala menulis atau baca buku. Paling suka jika saya baring santai sambil dengar musik lewat ponsel, ia juga ikut menikmati musik. Han Mira Kun memang hanya kucing kampung, tapi tidak kampungan.   

Lalu, bijimane si Mira bisa ikut menampang di twibbon ucapan selamat kala peluncuran buku? Saya kutipkan saja unggahan seorang gadis bermukim di Bali, putri kedua saya, Nabila Az-Zahra, lewat akun medsosnya, “Karena jarang berfoto, maka fotonya diwakilkan oleh kucing yang kuanggap adik sendiri. Kesayangan kami di rumah, Han Mira Kun.”

Empat Belas Ribu Empat Ratus Detik Lebih

Tas selempang berisi laptop dan sebuah buku ketinggalan di mobil angkutan umum. Untungnya, sopir mobil tersebut saya kenal. Maklum saja, saya sudah berlangganan cukup lama. Lebih dari lima tahun. Ini hanya salah satu mobil langganan. Paling tidak, ada sembilan sopir yang siap saya kontak, tatkala akan melakukan perjalanan dari Makassar ke Bantaeng atau sebaliknya. Bergantung  waktu yang saya akan pilih.

Kali ini, saya berangkat siang dari Bantaeng ke Makassar.  Sopir menjemput saya sekitar pukul 15.14 Wita. Saya kebagian tempat duduk paling belakang. Satu resiko dari telat kontak sopir, sehingga penumpang lain sudah menempati kursi depan dan tengah. Mobil tidak segera berangkat. Ada beberapa penumpang lainnya dijemput.

Posisi tempat duduk paling belakang, pojok kanan pula, ada plus minusnya. Saya pun selalu berusaha menikmatinya. Kondisi semacam ini hanya pengulangan dari ratusan perjalanan saya pergi-pulang, Makassar-Bantaeng. Naiklah penumpang pertama, tapi menunggu agak lama. Entah apa ritus pemberangkatan dari seorang gadis anak kuliahan. Mobil baru saja berangkat, eh ada yang ketinggalan. Mobil balik lagi ke rumahnya. Segera saja ada aura kurang nyaman saya rasakan. Semacam kesal, tapi teratasi dengan adem.

Penumpang berikutnya, pasutri dengan seorang putranya, masih kecil dan berpotensi rewel di perjalanan. Sebelum naik di mobil, kami harus menunggu lebih lama dari penumpang sebelumnya. Pasalnya, ketika sopir mengontak calon penumpang, si istri memberi tahu, suaminya pergi salat Asar  berjemaah di masjid. Saya sudah mempersiapkan diri dalam larutan penantian ini, sebab toa masjid baru saja mulai melantangkan azan.

Setelah pasutri itu berjalan ke mobil, dari mulut lorong, mata saya tertuju pada lelaki paru baya. Suami dari ibu muda dan ayah dari anak kecil itu. Penampilannya menunjukkan, ia seorang pemburu pahala salat berjemaah. Pastilah beda dengan saya dan sopir, dua lelaki tak terlalu perhatian pada janji pahala berlipat dari salat berjemaah. Soalnya, saya menjamak waktu Duhur dan Asar, sebab perkiraan saya, mobil akan berangkat seperti biasa, sekitar pukul empat belas lewat sedikit. Sedang si Sopir, pasti belum tunaikan Asar.

Arkian, kegiatan menjemput calon penumpang masih menyisakan satu. Tampaknya, penumpang tipe ini lebih siap. Kala sopir mengontak, ia sudah berkemas. Betul saja adanya. Tidak butuh waktu lama. Seorang perempuan, usianya mungkin lebih tua dari ibu muda sebelumnya. Tuntas sudah aktivitas jemput-jemput penumpang. Durasi menjemput penumpang, memangsa waktu kurang lebih satu jam. Total penumpang lima orang dewasa dan seorang bocah. Dua lelaki dan tiga perempuan.

Mobil meninggalkan Kota Bantaeng, hampir pukul enam belas lewat lima belas menit. Di perbatasan kota, ada seorang lelaki, lebih muda dari saya berdiri di pinggir jalan. Si sopir meminggirkan mobil. Sepintas terjadi percakapan. Rupanya penumpang tujuan Makassar. Duduklah ia di samping kiri saya. Setiba di Kota Jeneponto, ada lagi tambahan penumpang. Seorang gadis, nyaris seusia dengan penumpang yang duduk di kursi paling depan. Dari gaya bepergiannya, saya menebaknya sebagai seorang mahasiswi. Ia duduk paling kiri di kursi belakang.

Selanjutnya, mobil melaju dengan kecepatan terukur. Tidak lambat, pun tak ugal-ugalan. Kungai nakke jeka sopirka. Saya suka sopir sepeti ini. Tipe sopir seperti begini gue bingits. Pantas dijadikan sopir langganan permanen. Apalagi, ketika perjalanan memasuki Kota Takalar, ia menghentikan mobilnya, meminggirkan tepat di depan salah satu masjid. Saya pikir ia mau kencing. Allamak, dia singgah salat Asar.

Segera saja pikiran takjub saya menyembul. Ada minda buat menabalkan pendapat, sopir ini telah mengedepankan kesalehan sosial lalu menunaikan kesalehan individual. Sesudah menuntaskan sekotah urusan penumpangnya, barulah ia salat. Jujur, saya kagum padanya. Makin kuatlah saya untuk menjadikannya sopir langganan permanen.

Anehnya, ketika si sopir menunaikan kesalehan individualnya, salat Asar, ada dua penumpang ketus padanya. Herannya dua lelaki selain saya. Lelaki paru baya, ayah si bocah dan penumpang samping kiri saya. Si ayah nyelutuk dengan kata-kata tak elok saya dengar, “Kenapa baru salat.” Lain lagi dengan lelaki satunya, ia segera mau turun, bermaksud pindah mobil, sebab ia berburu waktu. Saya mencegahnya, setelah ia bertanya akan singgah lagi makan atau keperluan lainnya. Ia tidak jadi turun.

Usai sopir tunaikan Asar, mobil melaju dengan kecepatan stabil. Tetiba saja si bocah mulai rewel. Ia mau makan somai. Sepanjang jalan merengek, membikin penumpang lain tak nyaman, termasuk kedua orangtuanya. Si ibu bocah lalu meminta kepada sopir agar berhenti jika ada penjual somai, demi memenuhi keinginan bocahnya.  Setelah sekian menit, berhentilah mobil buat beli somai.

Sialnya, mobil berhenti tak jauh dari salah satu toko swalayan. Turunlah dua emak, masuk ke toko swalayan. Anda tahu bila emak-emak bertemu toko swalayan bukan? Tuntas berbelanja, keduanya lanjut beli somai gerobak. Bertusuk-tusuk ia beli. Saya mah berusaha menikmati laku emak-emak itu, tapi penumpang samping kiri saya tak tahan. Sikap berburu waktu kambuh lagi. Setiap ia menengok ke saya, hanya senyum mengulum sebagai balasan. Saya hanya berpikir, lelaki satu yang ketus pada sopir saat berhenti salat, sikapnya sudah dibayar kontan oleh ulah bocahnya.

Pukul dua puluh lewat tujuh menit, mobil tiba di Makassar. Sebelum masuk Terminal Mallengkeri, satu terminal antar kota di bagian selatan Kota Makassar, tiga orang penumpang turun. Tersisa saya, pasutri dan bocahnya, serta penumpang kursi depan yang akan diantar ke tujuan masing-masing. Sebelum mereka turun, saya lebih dulu meminta turun, tidak harus diantar sampai ke mukim. Biar saya berjalan kaki saja. Toh jaraknya tidak seberapa jauh. Masih lebih jauh, manakala saya nyeker keliling Kota Bantaeng.

Kala saya berjalan kaki itulah, aneka simpulan perjalanan menggado-gado menghidu saya. Terutama beragamnya karakter penumpang. Dari yang cerewet hingga yang tak bicara sama sekali selama perjalanan. Pun yang hanya memikirkan diri sendiri, abai pada nasib penumpang lain. Saya lalu teringat dengan percakapan dengan pasangan beberapa waktu lalu, tentang warisan kebijaksanaan kuno, tentang sifat-sifat api, air, angin, dan tanah yang senantiasa menubuh pada seseorang.

Pada laku-laku dari para penumpang, sepertinya memverifikasi percakapan tersebut. Ada yang apinya muncul, dua orang semirip angin, lainnya memilih laiknya air. Adapun saya dan sopir layaknya seperti tanah, menerima apa adanya. Pembelajaran penting akan sifat-sifat  api yang membakar, air mengalir, angin nirtampak tapi adanya terasa, dan tanah melaku seadanya, sekotahnya tuntas dalam waktu empat ribu empat ratus detik lebih, atau dua ratus empat puluh menit lebih. Singkatnya, empat jam lebih. Padahal, durasi perjalanan bila normal, biasanya tuntas paling lama tiga jam saja.

Ketika masih khusyuk dalam renungan perjalanan di saat berjalan kaki, ada kegariban menerungku. Apa yang kurang dari bawaan saya? Ransel sudah di punggung. Ternyata tas selempang, berisi laptop dan sebuah buku berjudul, A Philosophy of Walking, anggitan Frederic Gros, ketinggalan di mobil. Tepatnya, terselip di pojok kanan kursi belakang. Segera saja saya kontak sopir langganan, menguritakan perkara ketertinggalan tas. Ia memberi jawaban kepastian akan amannya barang mewah saya itu. Dan, saya pun menjemputnya di Terminal Mallengkeri.

Bayi

“Membayilah, maka dunia sekitar akan beradaptasi. Bukankah bayi mendikte setiap berurusan dengannya?” (Maksim Daeng Litere, 060320)

Life begin at forty, sederet kata bertuah, ditujukan pada pasangan saya, dari seorang saudarinya, tatkala ia sudah memangsa waktu 40 tahun. Kalimat tersebut, disertai ucapan happy birthday dan beberapa lembar foto, disatukan dalam satu bingkai foto lumayan besar. Satu hadiah ulang tahun yang garib.

Ajaib bin takjub, ada apa dengan angka 40, sehingga dinyatakan sebagai titik tolok memulainya kehidupan? Bukankah sebelumnya kehidupan sudah dimulai?

Begitu bayi lahir, maka sempurnalah perpaduan jasmani dan rohani. Seolah mengulang peristiwa paling purba, Roh Ilahi menemui seonggok tanah liat kering, berasal dari lumpur hitam, jadilah manusia. Ketika sudah berbentuk manusia, artikulasi setiap   penciptaan berikutnya, Ilahi meniupkan rohnya pada segumpal daging. Merahim dalam seorang ibu, setelah bapak merahmannya.

Jagat bayi mengalamatkan bahagia. Dunianya amat simpel. Kebutuhannya cukup sederhana. Inginnya nyaris tiada. Namun, keberadaannya mendikte alam sekitar. Orang dewasa takluk padanya. Siapa pun pengasuhnya, pasti bertindak meladeninya, bertingkah memenuhinya, dan berlaku sayang nan kasih.

Kebutuhan raganya sedikit, tapi jiwanya suci. Kelengkapan jasmaninya terbatas, tetapi rohaninya melangit. Coba bayangkan, kebutuhan makan minumnya hanya air susu ibu (ASI) dan makanan tambahan seadanya, kala sudah mencapai umur tertentu. Jiwa suci dan rohani melangit itu, mengantarkan ia pada status tak punya dosa. Ia serupa makhluk surga. Jika ia tak mampu melanjutkan hidupnya, maka ia bebas tes masuk surga.

Hanya manusia dewasa, entah itu keluarganya atau pengasuhnya, cukup repot menghadapinya. Mengapa? Sebab mereka menitipkan inginnya, semacam citanya pada si bayi. Kelengkapan raga mulai disuguhkan, perkakas jasmani sudah didedahkan. Sandang, pangan, dan papan segera dipersiapkan. Dari mula inilah, seiring dengan bertumbuhnya si bayi menjadi kanak, lalu remaja, matra jiwa dan rohaninya redup. Tidak lagi melangit, melainkan membumi. Melata di bumi dengan segala pernak-pernik raga dan jasmani.

Perjalanan dari masa remaja menuju dewasa, lebih mengedapankan kekuatan raga, mengandalkan jasmani. Jiwa suci samar cahanya dan rohaninya terjun bebas pecah berantakan di bumi. Laiknya biji-biji hujan tertumbuk di tanah. Capaian raga meninggi, prestasi jiwa merendah. Lejang jasmani naik, rejang rohani turun.

Kemelataan gatra raga-jasmani mencapai puncak kejayaannya, ketika tiba di usia 40 tahun. Kekuatan fisik tubuh hanya mampu maksimal di angka ini. Selebihnya, hanya penurunan kekuatan. Sebagai misal, saya ambil contoh olahragawan, pemain sepak bola. Kematangan prestasinya, berkisar di angka 20-40 tahun. Setelah itu, gantung sepatu: pensiun. Paling mungkin menjadi pelatih sesudah pensiun. Tatkala menjadi pelatih, bukan lagi mengandalkan raga-jasmani, melainkan kekuatan berdimensi emosi, berupa sentuhan jiwa-rohani.

Begitu pun bidang kehidupan lain. Jika masih mengandalkan kekatan raga-jasmani, maka ambang batasnya, hanya di angka 40. Akumulasi capaian umur 40 tahun, berkonsekuensi langsung pada bagian-bagian fisik tertentu mulai minta masa persiapan pensiun. Beberapa kegunaan bagian tubuh mulai melemah. Tidak sedikit malah menurun drastis fungsinya. Terkadang banyak anggota tubuh meminta untuk ditunjang dengan alat tiruan. Kacamata, gigi palsu, alat bantu dengar, hingga tongkat. Tubuh pun mulai pilih dan pilah makanan dan minuman. Saat sebelum usia 40 tahun, semuanya boleh dimakan. Bahkan laku serakah mengemuka, bukan sekadar makan apa, tapi makan siapa.

Menurunnya kekuatan raga-jasmani setelah angka 40 tahun, bila tiba di usia 60 tahun ke atas, maka tubuh menjadi tua dan badan mewujud renta. Tak sedikit orang yang berusia 70 tahun ke atas, tubuhnya mirip bayi. Boleh dikatakan, tampaknya kehidupan seakan diputar kembali menjadi bayi. Ketidakberdayaan raga-jasmani menerungku. Seolah menjadi bayi, amat bergantung pada situasi sekitar, baik keluarga ataupun pengasuhnya. Pada situasi seperti ini, orang dewasa telah membayi.

Lalu apa yang mesti dilakukan tatkala usia 40 tahun tiba? Di sinilah kehidupan baru dimulai kembali. Life begin at forty. Jalan memutar kembali diputar, berjalan menuju dunia bayi. Jagat kehidupan yang lebih berorientasi pada penyucian jiwa dan pengaktualan rohani. Mengapa? Ada semacam hukum berlaku, manakala kekuatan raga-jasmani menurun, akan muncul peluang kekuatan jiwa-rohani mengaktualkan kembali sari dirinya, seperti saat masih bayi. Bukankah kebutuhan raga-jasmani bayi amat sedikit tapi capaian jiwa-rohani sangat banyak?

Perjalanan usia 40 tahun ke atas, bagi yang sudah mencapainya, mungkin perlu mengeja wejangan Pir Vilayat Inayat Khan, putra sulung dan pewaris spiritual Pir-o-Mursyid Inayat Khan, kelahiran India, pendiri Tarekat Sufi di Barat, sekitar tahun 1010, khususnya di buku, Awakening: A Sufi Experience, telah diterjemahkan dengan judul, Membangkitkan Kesadaran Spiritual. Ia mengajak pada satu kesadaran untuk menjadi seorang bayi dalam buaian Ilahi. Mengada sebagai anak sang waktu dan bernapas dengan lega.

Sungguh, ajakannya agar membayangkan diri sebagai pendatang dari alam semesta yang jauh, lalu mendarat di bumi. Selama melata di bumi, mengalami kehidupan sebagai manusia, pastilah banyak peristiwa unik sebagai makhluk Ilahi. Sejak diri memutuskan hadir di bumi, mungkin ada motivasi dan misi membuat tanda buat meningkatkan keadaan umat manusia. Namun, untuk dapat menyelesaikan tugas ini, diri perlu memiliki tubuh yang tercipta dari kedua orangtua.

Diri pun melata bak hewan berdimensi Ilahi. Pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan fisik dan sosial—bekerja keras, jatuh cinta, menjalin persahabatan, membangun keluarga, dan berkelana—lambat laun mulai melupakan kenangan pada muasal diri. Sari diri perlahan hilang dari kesadaran, hingga akhirnya lenyap sama sekali. Untuk sesaat kehidupan diri berjalan lancar, memenuhi berlaksa kesenangan.

Namun, secara alami, alarm hidup dan kehidupan mulai bunyi. Memberi isyarat akan hadirnya guncangan hidup. Boleh jadi aneka ragam bentuknya. Paling nyata adalah hadirnya batas-batas maksimal peralatan tubuh, sebagai penunjang kemelataan hidup. Simpai durasi waktu, disetujui atau tidak, alarm akan bordering nyaring di usia 40 tahun, dan akan semakin nyaring setelahnya. Pada momen inilah, seharusnya kerinduan pada muasal, ingatan sebagai pendatang di bumi merasuk ke alam sadar paling dalam.

Jadi, tuntutan membayi bagi diri, serupalah tuntunan untuk kembali pada muasal. Menjadi bayi kembali di pucuk dewasa. Manusia dewasa berkarakter bayi, akan mampu mendikte alam sekitar. Membayilah, supaya cakrawala tenggelam pada diri.  Dan, ini berlaku hingga kesetiaan Roh Ilahi berpisah dari tubuh. Roh yang masuk ke dalam segumpal daging, pulang ke langit menyatu dengan Ilahi dan sebadan daging kembali ke tanah, melebur dalam lumpur hitam.

Ilustrasi: crisisaction01.blogspot.com