Catatan KLPI Pekan 5

Awalnya agak ragu kelas menulis PI tidak jadi digelar. Tibatiba hujan datang. Deras. Tapi, selama berlangsung, kelas PI tidak pernah bolong. Sudah hampir tujuh bulan kelas dibuka. Sekarang, yang diuji konsisten. Juga disiplin.

Semangat bisa datang, bisa lapuk, bahkan hilang. Kali ini biar bagaimana pun kelas tak boleh gagal. Pasca hujan reda, gegas berangkat. Semangat masih ada, tidak bisa hilang.

Di sekretariat PI, sudah berkumpul beberapa mata. Melingkar seperti sudah sering. Banyak kertas berhamburan. Curiga, kelas sudah dibuka dari awal. Perbincangan sudah alot. Terkaannya, soal tulisan salahsatu peserta.

Sebelumnya, Kala dilipatgandakan. Dengan print sewaan. Juga dicopy. Kala sudah terbit lima pekan. Kali ini menurunkan tulisan Sandra Ramli. Dia tulis soal isu yang sedang dirundung pro dan kontra. LGBT. Begitu juga soal homofhobia. Baru kali ini Kala menurunkan tulisan yang sedang happening. Biasanya hanya tulisan yang tak punya kaitan dengan isuisu di masyarakat. Ini suatu kemajuan bagi Kala.

Kedua karya Muchniart AZ. Katanya Muchniart pulang sebelum kelas dimulai. Ada urusan mendesak. Esai yang dimuat mengomongkan lifestyle kaum muda. Dia pakai analisis Giddens, yang menyampir zaman yang bak Juggernaut. Lari tunggang langgang tanpa kendali. Normanorma bergerak tanpa arah. Sementara suatu pegangan tak kunjung jelas. Begitulah rasarasanya inti yang ditulis.

Di halaman terakhir Kala mengajukan satu polemik. Seperti yang sudahsudah dari sejarah sastra Tanah Air. Soal identitas kebangsaan. Apakah identitas harus selalu bagian dari tradisi masa lalu atau ini soal visi ke depan. Perdebatan mainnya di soal itu: keinginan merumuskan tradisi sebagai identitas, atau sebaliknya jauh lebih maju, identitas juga harus menggamit apa yang di depan, suatu tatanan yang modern.

Polemik kebudayaan setidaknya juga jadi wacana kembali. Biar bagaimana pun ini bagian dari sejarah selama ini. Aspek ini yang ingin disuarakan tulisan ketiga Kala. Walaupun tulisannya dadakan. Tapi redaksi punya mau, kalau bisa ini juga jadi topik gosip kawankawan di PI.

Karena telat, baru hampir pukul lima kelas dibuka. Saya yang jadi ketua kelas buka seperti biasa. Saya jelaskan mekanisme kelas. Soalnya saya melihat muka baru. Di kelas selama ini selalu ada peserta baru, walau belum tentu bisa bertahan. Ini maklum, bukan yang utama. Yang penting mereka tahu, kami konsisten.  Juga disiplin.

Omongomong disiplin, ini mungkin penyakitnya. Kesepakan bilang pukul tiga, namun kerap molor. Saya khawatir ini jadi akut, terutama peserta yang sering telat tiba. Saya juga begitu, kurang disiplin. Tapi, bicara konsisten, kawankawan sudah membuktikannya. Ini prestasi. Salut.

Di kelas tulisan begitu banyak. Melebihi jumlah peserta. Banyak titipan. Bahkan Ari membawa dua tulisan: satu esai satu puisi.  Beberapa yang lain cerpen. Ada juga puisi. Saya sendiri sejenis Esai. Sementara K Uly dan Ishak yang saya kira esai murni.

Mekanisme pertama dimulai: menarasikan tulisan. Saya memulai. Yang saya bawa tulisan bertajuk “Bukan Pahlawan.” Isinya bisa di telusuri di lini masa FB, atau blog saya. Kemudian Arhi, dia bawa esai apresiasi karya Sulhan Yusuf. Sandra Ramli bilang dia bawa cerpen, tajuknya menarik: “Mengantar ke Vihara Menuju Lahore.” Jalan ceritanya fresh. Juga tulisan Kak Uly yang menyitir soal parenting. Tulisannya sudah muat di Tempo Jum’at lalu. Bisa di baca di lini masa FB beliau. Banyak yang ingin membacanya. Saya duga karena tak sempat beli korannya.

Setelahnya Rahmi, tak tanggungtanggung ternyata membawa dua tulisan. Cerpen dan Puisi. Saya tak sempat membacanya. Pikir saya bisa nanti. Di sebelahnya Jusnawati, kali ini dia hanya bawa puisi “Noktah Kita” Ada tafsir berkembang di forum, kalau itu tentang seseorang yang ditinggal pergi, atau seseorang yang lekas beranjak tapi di hadapannya masih dunia yang abuabu. Ada enggan yang menarik agar tetap di tempat, tapi keinginan mau pergi malah semakin besar.

Muhajir yang datang agak telat juga bawa karangan fiksi. Dia bawa cerpen. Saya juga belum baca. Katanya nanti diupload di FB. Dia punya alasan kalau tulisannya dikerjakan di waktu yang mepet, makanya belum sempat diedit. Kita tunggu saja diposting di blognya. Pasca itu ada Ishak. Dia konsisten tulis esai. Juga seperti dia bilang pada tema yang dia sukai, soal kebiasaannya: mendaki gunung.

Ishak tulis beberapa nama yang sudah menaklukkan gununggunung tinggi. Bahkan juga Khadijah, istri Muhammad. Tulisannya bilang Khadijah sering tahanust, suatu kebiasaan menyepi di bebukitan tinggi. Ini juga sekaligus aktifitas spiritual. Suatu yang sudah jadi tradisi. Dia juga singgung Soe Hok Gie, adik Arief Budiman, sosiolog yang terkenal itu. Dalam tulisannya, Gie mendaki sebagai bagian aktifitas politik, bahkan bentuk nasionalisme. Karena itu Ishak mendaku kalau pegiat alam yang gandrung bagi anakanak muda, jangan sampai hanya bagian dari soal yang sering merusak alam. Bisa dibilang hanya aktifitas gagahgagahan.

Khalik yang datang lebih awal menulis semacam prosa liris. Saya bilang tulisannya semacam aktifitas bathin yang gundah. Yang ditulis saat suatu perkara datang. Ini soal hati. Makanya hanya Khalik yang tahu persis gambaran karyanya. Di penyampaiannya, pasal Khalik adalah suatu yang sedang dia alami. Bahkan dia menulisnya di selasela yang mepet. Dia tulis di pagi ini. Katanya jam sembilan pagi. Dia merasa harus menulis sesuatu.

Jika mau mengangkat perkara, di sesi kedua masih soal penyakit lama. Ihwal EYD. Ini soal yang tak kunjung tuntas. Tapi, sekaligus langsung diwantiwanti. Bahaya kalau penyakit lama tak kunjung sembuh.  Kak Uly banyak sitir kebiasaan buruk jangan sampai menghambat perkembangan kualitas menulis. Halhal tekhnis harus segera diungsikan. Besokbesok sudah harus omong perkara konten. Ide. Kalau perlu gagasan.

Dari situ kritik dimulai. Banyak tulisan yang diintograsi. Bahkan penggeledahan semakin butuh ruang. Saya jauhjauh hari bilang tak ada tulisan yang cakap dan sempurna. Semua punya salah. Makanya setiap tulisan harus  dicurigai bersalah. Setiap tulisan punya cacat. Saya pikir itu yang mampu mendasari kami dalam melakukan kritik. Tapi, istilah kami, menggeledah. Setiap penulis tersangkanya.

Kelas hari ini tak ramai sedia biasanya. Banya kawankawan yang berhalangan datang. Beberapanya agak sakit. Yang lain tak ada kabar. Entah. Mungkin hujan jadi batu sandungnya. Cuaca memang bisa jadi penjara. Atau memang info datang tak sempat menyebar. Saya harap ini bisa diminimalisir kalau kawankawan saling bikin anjuran. Bisa mengingatkan satu dengan yang lain.

Makanya grup Paradigma Institute harus jadi pusat. Dunia kongkret sering membangun jarak. Waktu bisa ditempuh lama. Jauh dekatnya bisa ambil waktu. Di dunia maya, justru itu hilang. Dunia maya bisa melipat segalanya, juga waktu, apalagi ruang. Itulah kenapa, tulisan lebih baik di kirim ke sana. Di grup yang sudah lama ada. Ini penting, biar kawankawan di waktu tertentu bisa lebih leluasa berkomentar tentang apa saja. Tulisan akhirnya bisa lebih sempurna dikritik.

Yang baru dari kelas kali ini ada pembacaan puisi. Ridho yang memulainya. Puisinya sempat jadi obrolan. Rahmi bilang tidak menemukan estetika di dalamnya. Kritik Rahmi membuka wacana: yang mana disebut estetis dalam puisi. Apakah puisi gelap lebih indah dibanding puisi semacam Ridho tulis. Puisi Ridho dalam wacana tertentu dibilang puisi pamflet. Saya mengistilahkannya tadi puisi jalan raya, bukan puisi panggung. Tapi diskusi tak sempat panjang. Waktu mepet. Azan berkumandang. Kami pulang.

NB: Pekan depan kelasnya masih di sekretariat PI.

Catatan KLPI Pekan 2

Hari ini saya punya janji untuk mengikuti kelas literasi. Mau tidak mau saya harus ikut, soalnya sudah diingatkan oleh kanda Bahrul Amsal melalui lini masa FB. Apalagi beberapa hari sebelumnya saya sudah janjian dengan Aii Avicenna, kawan saya yang juga kebelet ingin ikut. Maka, siang ini saya bersiapsiap lebih awal, sembari menunggu jemputan Aii.

Kelas literasi sebenarnya sudah lama saya ketahui dari kabar yang diceritakan kanda Bahrul. Beberapa foto kegiatannya juga sering kali nongol di FB. Melihat kegiatankegiatan mereka, saya merasa harus ikut. Namun, waktu itu kepalang kelas sudah berjalan, makanya saya agak malu bergabung. Sampai belakangan ini saya dikabari kelas literasi angkatan kedua akan dibuka. Sontak saya senang bukan main. Ini kesempatan emas, saya harus ikut.

Sekarang saya sudah di TB Paradigma, tempat kelas literasi di selenggarakan. Hari ini pertemuan kedua. Banyak yang datang. Minggu kemarin kelas perdananya. Saat itu bagaikan mimpi, saya bisa berkumpul dengan orangorang yang memiliki minat yang sama. Apalagi pertemuan itu diawali dengan kuliah umum kanda Sulhan Yusuf. Beliau dengan santai omong banyak seputar gerakan literasi. Maqammaqam literasi, dan kecenderungankecenderungan orang terhadap dunia literasi. Saya tidak perlu menulisnya di sini, reportase kanda Bahrul sudah sempat membahasnya minggu lalu.

Hampir jam empat saya tiba dil okasi. Di dalam kelas ternyata sudah banyak orang. Termasuk kanda Bahrul yang datang lebih awal. Menurut info yang ditulisnya, hari ini kelas akan diisi diskusi santai bersama kanda Syafinuddin al Mandari. Katanya beliau sedang bertandang di Makassar, maka tak afdol kalau tidak mengundang beliau nimbrung di kelas.

Sambil menunggu kanda Syafi datang, begitu panggilan akrab yang saya dengar dari kawankawan, kelas dibuka dengan perkenalan singkat antara peserta. Setelah dibuka Kanda Bahrul, maka kami saling bertegur sapa mengenalkan diri. Ternyata ada duapuluh orang yang datang. Tidak semua nama saya kenal selain sebagian yang sudah saya ketahui sebelumnya. Setelah saling memperkenalkan diri, dan penjelasan Kanda Bahrul tentang mekanisme kelas yang selama ini dijalani, maka kelas dialihkan untuk mendengarkan persentase tulisan yang dibawa kawankawan. Kali ini saya sudah menyiapkan tulisan saya. Judulnya Mummy dan Ruang Anak yang Hilang.

Salah satu tulisan yang menarik ditulis Ishak Boufakar. Dia menulis tentang ilmu komuniskasi. Ulasannya menarik saat dia menjelaskan tulisannya. Juga Itto, yang sering membuat puisi tanpa judul. Memang Itto punya masalah ketika menulis puisi, ia sering membiarkannya tanpa judul. Kemudian Ali, peserta yang paling siap di antara kami. Ketika datang dia sudah menyiapkan map khusus untuk tulisantulisannya. Dia juga membawa puisi yang katanya dia tulis saatsaat galau.

Banyak hal yang diungkapkan kanda Syafi ketika ia membuka diskusi. Awalnya saya kaget dengan bahan diskusi yang menyinggungnyinggung soal pemanfaatan lahan yang minim di kota. Katanya suatu saat orangorang dengan pendekatan yang tepat dapat mengembangkan ilmu pertanian untuk memanfaatkan ketersediaan pekarangan yang minim. Sampaisampai beliau mengatakan pertanian akan jauh lebih maju dengan ilmu pertanian organik yang belakangan ini sedang marak. Jujur dipikiran saya apa kaitannya literasi dengan ilmu pertanian. Tapi saya dengarkan saja dulu ulasannya.

Saya semakin bingung ketika pembicaraannya menyinggung soal sampah. Katanya, jika seorang pemulung memiliki pengetahuan yang memadai, sampah justru dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Maka, pemda DKI Jakarta tak akan bingung masalah TPA yang dipermasalahkan oleh warga Bekasi. Contoh itu diambil Kanda Syafi kalau kita mampu mengelola sampah dengan baik. Dengan ilmu yang benar, kata Kanda Syafi, sampah bisa diolah jadi pupuk bubuk dan cair yang jauh lebih baik dari pupuk urea.

Sampai di sini saya semakin bingung dengan omongan beliau. Bukankah informasi Kanda Bahrul bahwa beliau diundang karena pengalamannya di dunia literasi? Kok omongannya tentang pertanian dan sampah? Hubungannya dengan literasi di mana? Sampai akhirnya beliau bilang bahwa literasi itu sebenarnya pencerahan. Ketika sektorsektor dibidang kehidupan dikelola ilmu yang baik dan tepat guna, maka area yang masih gelap akhirnya menemukan perspektif baru yang bisa dimajukan. Itulah literasi, semangat untuk memajukan lini kehidupan dengan ilmu pengetahuan.

Sampai di sini saya kaget. Ternyata literasi memiliki makna yang begitu dalam. Tidak seperti pemahaman hanya sekitar baca tulis. Pantasan kanda Syafi sempat membahas ilmu pengetahuan dan peradaban di awal diskusi. Ternyata kuncinya di situ, setiap sektor yang diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan, yang mencerahkan masyarakat dengan inovasiinovasi, itulah literasi. Usaha mencerdaskan bangsa, seperti amanat konstitusi kata kanda Syafi.

Pantas juga dari awal beliau menyinggung peradabanperadaban yang stagnan akibat mandegnya ilmu. Barang siapa berhenti mengembangkan ilmu pengetahuan, dengan sendirinya suatu peradaban akan tertinggal dan runtuh. Katanya ilmulahyang meninggikan derajat umat manusia. Hanya melalui ilmulah kemajuan peradaban bernilai tinggi dari peradaban sebelumnya.

Karena itulah gerakan literasi memiliki jangka yang panjang. Visi dan misinya harus menyentuh seluruh sektor kehidupan demi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Maka kanda Syafi menghimbau jangan meremehkan kelas yang kami jalani ini. Karena ini adalah salah satu cara untuk membangun gerakan literasi, walaupun denga cara mengumpulkan manuskrip setiap minggunya. Dengan cara berkumpul dalam komunitas, membangun semangat dan konsistensi.

Kanda Syafi juga menyinggung tugastugas pejuang literasi. Menurutnya yang utama dari gerakan literasi adalah membuat orang sadar dengan pandangannya. Bahkan memperkuat pandangan seseorang dengan jalan berpikir yang benar. Inilah esensi pencerahan. Esensi literasi yang sesungguhnya. Sehingga orang yang bergerak dan sadar dengan literasi bisa menjadi lilin yang menerangi di mana pun berada. Dengan begitu akan tercipta apa yang beliau sebut ledakan bom peradaban.

Terakhir kanda Syafi bilang, mudahmudah komunitas semacam ini bisa menjadi sekolah sosial yang berefek kepada banyak orang. Kalau konsisten, maka tidak tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Asalkan kita mau terus menggalakkan gerakan literasi. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, melalui tulisantulisan yang cemerlang. Agar tercipta perubahan di segala sektor kehidupan.

Berikut fotofoto yang diambil kanda Bahrul di saat beliau beraksi. Tak lupa pula beberapa kawankawan yang ikut bertanya seputar kiatkiat menulis. Bagaimana agar menulis dapat dimulai? Seperti apa tahapantahapan menulis? Bagaimana cara memancing ide menulis? Semuanya dijawab apik oleh Kanda Syafi. Kalau kamu masih penasaran, ikut saja kelas di minggu depannya. Dijamin menyenangkan loh?

Undangan Kelas Literasi

Selamat malam. Besok pertemuan kedua kelas literasi Paradigma Institute. Kali ini kita akan kedatangan seorang yang sedikit banyak dibesarkan dan membesarkan Paradigma Institute sampai sekarang. Alhamdulillah kanda Syafi bersedia datang membagi pengalaman dan ilmunya besok sore sekira pukul 15.00. Beliau sampai hari ini masih bergiat dengan tradisi literasi dan pengembangan keilmuan bagi anakanak muda. Bahkan itu dilakukannya ketika masih menjadi mahasiswa.

Tadi siang saya mendapat bocoran dari kanda Sulhan Yusuf bahwa beliau sedang bertandang di Makassar. Samarsamar bahwa kanda Syafi didapuk menjadi narasumber di salah satu hotel siang tadi. Alhasil atas desakan kanda Sulhan, beliau harus bisa mengisi di kelas literasi besok.

Terakhir kali kanda Syafi bertandang di Makassar sekira akhir 2015. Saat itu selain mendampingi kanda Judilherri Justam, beliau juga menjadi pembicara saat melaunching buku yang diinisiasinya; “Anak Tentara Melawan Orba”, otobiografi yang ditulisnya. Bersama Alto Makmuraltoyang menjadi pembicara, kegiatan itu sukses dengan banyaknya mahasiswamahasiswa yang berdatangan. Apalagi saat itu dua nama besar; Kanda Qasim Mathar dan Alwy Rachman, juga menjadi daya tariknya. Hingga sore, akhirnya kegiatan itu berakhir.

Setelah saya menelepon, respon positif langsung diberikan kanda Syafi. Dengan senang hati beliau akan menyempatkan bertandang di Paradigma Ilmu Toko Buku besok. Tak lama saya berbicara dengan beliau, sebab dari belakang sepertinya dia masih duduk jadi narasumber. Lamatlamat suara pembicara di sebelahnya sampai kedengaran. Dengan sigap saya langsung saja nyatakan niat agar kawankawan dapat bertemu tukar pikiran dengan beliau. Setelah belia iyakan, sayapun pamit.

Saya tidak tahu apakah besok ada kelas parenting. Tapi ini sekaligus saja sebagai ijin kepada yunda Mauliah Mulkin, barangkali besok akan banyak kawankawan yang berdatangan. Sekaligus temanteman yang tergabung jangan langsung pulang pasca kelas parenting. Karena saya kira kandaMuchniart Az, Ecce Andi Reski JNSiti Zahra IndahPutri Reski Ananda, serta dua sekawan Jusnawati As’Syifa dan Itto Danury bisa bertahan hingga sore. Apalagi tak ada orangorang ini, belum lengkap rasanya. Barangkali ada nama yang saya lupakan. Sekalian saja kalian menyampaikannya. Termasuk Tenry Nur Amriani.

Tapi orangorang semacam Muhammad Asrul Al-Fatih harus datang. Siapa tahu dia mau curhat dengan kanda Syafi. Atau butuh mantra dariRahmat Zainal. Atau konsolidasi dengan M Yunasri RiDhohAam Ahmad ArhamAdiyat RizkiHeri Sitakka serta Akmal Qabusy AL Ghazali pasca kelas literasi. Ini sekalian bisa mengabari kegiatan yang kamu rancang.

Namun saya sangat kecewa kayak Alik Nino’Trismegistirs dan Aii Avicenna yang menggebugebu kepingin gabung sedang besok batang hidungnya malah tidak nongol. Juga Boufakar Sisenimangila yang belakangan ini begitu rajin mengupload tulisantulisannya di FB. Datang besok ya. Awas sampai tidak datang.

Bila tak ada aral melintang besok kanda Syafi akan membincang pengalamannya membangun tradisi literasi. Apaapa saja persiapan yang harus disiapkan dari awal. Terus bagaimana merawat semangat dan menyalurkan energi pemikiran melalui tulisan.

Mudahmudahan besok pesertapeserta baru bisa lahap mendengarkan dan mengamalkannya.

Baiklah saya akhiri dulu. Intinya datanglah dengan semangat besok. Kalau ada cemilan yang bisa dibawa, saya pikir itu juga tidak salah diikutkan. Kalau yang satu ini saya kira Ecce yang paham. Peserta baru jangan lupa datang ya besok. Jam tiga siang loh. Rugi kalau tidak datang, siapa tahu kalian kepingin masuk koran seperti Muhajir Ajir? Kan lumayan numpang beken.

Saya akhiri dulu. Ujhe ElJaelani Akj, tolong panaskan air! Saya mau ngopi. Sambil main gitar flash, tentunya.

Nb: Sorry, namanama peserta baru belum sempat saya ketahui. Oh iyaSyahrul Al Farabi, gimana nih kabarnya?