Hypatia, Perempuan Filosof Pecinta Ilmu Pengetahuan

“Saya tidak memikirkan representasi kecantikan yang lebih baik daripada seseorang yang tidak takut menjadi dirinya sendiri.” Pernyataan Emma Stone ini memberi sugesti pada saya betapa cantiknya seorang perempuan yang dikisahkan oleh dosen-dosen filsafat, dan yang digambarkan dalam film Agora yang pernah saya tonton.

Sekitar 8 Maret 415 Masehi, kota Alexandria (Mesir) telah menjadi saksi bisu atas manisnya sebuah ilmu, getirnya perjuangan, dan kerasnya risiko dari sebuah perbedaan paham. Di kota ini, hidup seorang perempuan bernama Hypatia, putri matematikawan handal, Theon. Hypatia dilahirkan sekitar tahun 370 M dan meninggal sekitar 415 M di Alexandria. Ia adalah seorang filosof dan ilmuwan yang sangat cerdas. Hypatia terkenal pada keahliannya dalam bidang matematika terutama soal kerucut dan astronomi. Sejarah mencatat bahwa ia pernah membuat astrolab dan hidrometer, tetapi perlu digarisbawahi bahwa dia bukanlah penemu awal kedua alat ini.

Hypatia adalah seorang paganisme, meskipun begitu ia adalah gadis yang sangat menjunjung tinggi toleransi. Ia sangat toleran pada orang-orang Kristen, Yahudi, dan yang lainnya. Bahkan beberapa muridnya beragama Kristen seperti Synesius. Hypatia mengambil alih akademia Alexandria dan memiliki banyak murid, ia disenangi oleh murid-muridnya karena kecerdasan dan sikapnya yang tidak membeda-bedakan. Pernah suatu ketika kedua muridnya sedang terlibat perdebatan, Hypatia menjadi penengah dan kalimat yang ia ucapkan sangat berkesan bagi saya:

“Banyak hal yang bisa menyatukan kita ketimbang yang menceraikan kita. Jadi, apa pun yang terjadi di luar sana, kita adalah saudara. Kita adalah saudara.”

Fantastic, sangat sesuai dengan apa yang terjadi di Alexandria kala itu. di mana di Agora (sebuah tempat pertemuan) sedang terjadi pertentangan sengit. Perang berkecamuk antara pemeluk Kristen dan penganut paham Yunani Kuno. Jika kalian pernah menonton film “Agora”, begitulah kira-kira gambaran yang terjadi di Alexandria, bahkan mungkin bisa saja jauh lebih sadis.

Hypatia mengajar di Alexandria selama bertahun-tahun, ia telah mengembangkan pemikiran filsafat terutama filsafat Plotinus. Ia terkenal dengan aliran Neo-Platonisme, kuliah-kuliahnya banyak disenangi orang tetapi juga tak sedikit yang membenci. Hypatia menjadi simbol kebebasan berpikir, dan bagi saya juga menjadi simbol kebebasan perempuan. Bisa kita bayangkan bersama, ia hidup di era di mana perempuan hanya memiliki sedikit kesempatan berbicara dan dianggap tak ubahnya sebuah barang. Tetapi, Hypatia ini dengan beraninya bergerak bebas di tengah lingkungan yang didominasi oleh budaya patriarki.

Neo-Platonisme disebut-sebut sebagai sintesis dari semua ajaran filsafat sampai saat itu. dan sebagai penerus Neo-Platonisme, Hypatia berpandangan bahwa agama-agama formal dan dogmatis itu semuanya keliru, tak semestinya diterima begitu saja sebagai sesuatu yang sudah final oleh mereka yang tahu menghargai dirinya. Demikianlah seorang Hypatia dalam menanggapi sesuatu di sekitarnya dengan sangat kritis dan rasional. Di dalam film Agora, sosok Hypatia dilakonkan sebagai seorang yang lincah, tidak bisa tenang (dalam arti selalu ingin mencari tahu sesuatu), ia tidak akan tinggal diam tanpa memikirkan tentang alam semesta, lalu mengambil alat peraga untuk uji coba. Hypatia adalah seorang pembaca yang ulung, ia lebih memilih untuk menyelamatkan buku-bukunya dibanding melarikan diri tanpa membawa ilmu-ilmu itu. 

Saat itu, umat Kristiani secara terang-terangan menyinggung tentang penyembah patung-patung atau berhala, karena keyakinan mereka bahwa Tuhan itu satu. Keluarga besar akademia Alexandria yang banyak menyembah patung ini akhirnya naik pitam dan mengumpulkan pasukan untuk menyerang umat Kristen. Perang terus berkecamuk hingga banyak nyawa yang berjatuhan, mereka pun saling menyandra. Alexandria ternyata telah didominasi oleh orang-orang Kristen, hingga pemerintah menengahi persoalan ini dan dengan sangat terpaksa membuat Hypatia bersama kawan-kawannya harus mengalah meninggalkan akademia. Di tengah kepanikan itu, Hypatia meminta tolong kepada Orestes untuk membawa Theon, ayahnya, yang tengah terluka agar pergi meninggalkan tempat mereka. Sementara Hypatia masih sibuk memasukkan buku-buku di perpustakaan ke dalam karung.

Suasana semakin genting, para parabolani (persaudaraan Kristen) telah berhasil mendobrak gerbang dan memasuki kawasan mereka. Davus, budak dari ayah Hypatia yang masuk Kristen itu, diminta untuk membawa karung-karung berisi buku. Hanya sedikit yang bisa ia selamatkan, karena pasukan Kristiani semakin dekat dan mencekam. Akhirnya, perpustakaan itu dibumihanguskan, buku-buku berhamburan dibakar oleh parabolani, patung-patung dihancurkan. Hari itu, menjadi babak awal dari kegentingan hidup filsuf perempuan ini.

Hypatia sempat menulis tafsir untuk Aritmetika karya Diofantos  dan juga tafsir untuk risalah Apolonios mengenai irisan kerucut. Hypatia sangat berpengaruh di kalangan elite politik Alexandria kala itu. Selain cerdas, Hypatia juga digambarkan sebagai sosok berparas cantik. Ia sempat menasehati Orestes, muridnya yang sekaligus juga prefek Romawi di Alexandria, yang saat itu tengah terlibat persaingan politik dengan Cryil, seorang uskup. Sehingga timbullah cerita yang mengatakan bahwa Hypatialah yang telah memengaruhi Orestes. Akhirnya, pada Maret tahun 415 M, ketika Hypatia sedang dalam perjalanan pulang ke perpustakaan, ia diadang oleh serombongan parabolani. Hypatia ditarik paksa lalu dibunuh dengan keji. Dalam film Agora digambarkan sosok hypatia ditelanjangi oleh sekelompok laki-laki parabolani kemudian dilempari batu hingga mati. Kemudian ada penjelasan di akhir film yang mengatakan bahwa tubuh Hypatia dimutilasi lalu diseret keliling kota Alexandria.

Nah, beberapa sumber yang lain termasuk tulisan Cak Nur mengatakan bahwa Hypatia dikuliti layaknya binatang kemudian dibakar. Dialah Hypatia, perempuan yang dibunuh karena kecerdasannya, karena kegigihannya dalam mempertahankan apa yang ia yakini (filsafat Neo-Platonisme). Pembunuhan terhadap Hypatia telah mengguncang kekaisaran dan disematkanlah Hypatia sebagai martir untuk filsafat. Akhirnya, tokoh Neo-Platonisme sesudahnya menjadi semakin pedas dalam mengkritik Kristen.

Pada abad Renaissance, Hypatia menjadi simbol perlawanan terhadap agama Kristen. Pada abad ke-19 karya-karya sastra Eropa menjadikan Hypatia sebagai orang Helen terakhir. Jadi Hypatia juga dikatakan sebagai Neo-Helenisme. Lalu pada abad ke-20, Hypatia menjadi simbol dalam pergerakan hak perempuan. Sebenarnya sangat banyak yang membahas Hypatia dengan versi yang berbeda-beda. Untuk itu, saya berusaha menyajikan sesuatu yang cukup familiar tentang beliau. Oh ya, saya hampir lupa memberikan informasi ini, bahwa salah seorang muridnya yang menuliskan tentang beliau mengatakan bahwa Hypatia adalah seorang perawan. Ia tidak memiliki pasangan dan keturunan, dan kurang lebih meninggal pada usianya yang ke- 45 tahun.

Nama Hypatia dinobatkan sebagai seorang cendekiawan perempuan, dan menjadi teladan bagi wanita setelahnya. Sebagai bentuk penghargaan, beberapa jurnal feminis  internasional mengambil nama dari nama Hypatia, seperti Yunani Hypatia: Feminis Studies, dsb. Juga terdapat sebuah yayasan bernama Hypatia Trust. Dan di bidang astronomi, nama Hypatia diabadikan sebagai nama asteroid sabuk utama yaitu 238 Hypatia, kawah bulan Hypatia juga dinamai dari namanya.

Berabad-abad sebelum Kepler dan Galileo, Hypatia sudah berjuang lebih dulu di tengah otoritas gereja. Hypatia adalah cerminan perihal hegemoni dan relasi kekuasaan yang tidak seimbang tentang mayoritas-minoritas. Hypatia adalah simbol sejarah bahwa dari zaman ke zaman perempuan menjadi sosok yang paling sering dijadikan objek kekerasan. Akar budaya patriarki dengan anggapannya  bahwa perempuan merupakan makhluk yang lemah dan bodoh, secara tidak langsung pemikiran ini memberikan sumbangsi pada kesengsaraan kaum perempuan.

Saya tidak ingin terlalu jauh berapi-api melawan tindak kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Tetapi, kita mulai dengan prinsip 3M ala Aa Gym, yaitu: mulai dari diri sendiri, mulai dari sesuatu yang kecil, dan mulai dari sekarang. Hypatia adalah secuil contoh dari perempuan-perempuan hebat yang namanya abadi sepanjang sejarah, seperti Sitti Khadijah binti Khuwailid, Rabi’ah al-Adawiyah, Maryam binti Imran, Asma binti Abu Bakar, Maryam al-Astrolabe, dan masih banyak lagi . Mari meneladani keteguhan mereka, ketegaran, dan semangat mereka dalam belajar dan berjuang.  Kita belajar dari Hypatia bahwa semangat hidupnya untuk tetap mengabdi pada ilmu pengetahuan membuat namanya terkenal dan sangat diperhitungkan hari ini. Kita belajar dari sosok ini tentang bagaimana memupuk semangat untuk mandiri, cerdas, dan memiliki mental yang kuat. Hypatia, di tengah kecaman otoritas gereja, ia tetap berdikari di atas keyakinannya, dan ia tetaplah pengikut Plotinus yang setia. Kesetiannya sangat patut juga untuk ditiru. Termasuk pada karakternya yang tidak mudah mengumbar rasa kepada siapa pun. Karena baginya, logika ikut andil dalam penentuan pasangan, bukan hanya melulu perasaan. Itu yang membuatnya unik dan berbeda.


Sumber gambar: https://labiqbikul.medium.com/filsuf-perempuan-tersebut-bernama-hypatia-4dd5dfd49f71

Cita-Citaku Menjadi Orang Kaya

“Cita-cita kamu apa?”

Ini adalah sepenggal pertanyaan yang begitu membosankan bagiku. Aku masih, dan selalu ingat. Betapa orang-orang sering mengajukannya kala aku masih di Taman Kanak-Kanak. Mulai bapak dan ibu. Tante dan om. Nenek dan kakek. Juga sepupu yang usianya terlampau jauh di atasku. Di sekolah pun demikian. Para guru kerap melontarkan deretan kalimat ini. Aku jenuh.

Kupikir, selepas menamatkan taman kanak-kanak. Orang-orang sudah mulai tidak menyukai pertanyaan itu. Mungkin mereka akan mengajukan pertanyaan lain. Mungkin pertanyaan tentang cita-cita itu hanya salah satu prosedur bagi guru TK untuk membuka ruang komunikasi antar guru-murid-orang tua. Atau bisa saja pertanyaan itu hanya basa-basi umum seperti menanyakan cuaca atau aktivitas harian kala pertama kali bersemuka dengan seseorang. Rupanya aku keliru. Bahkan, hari pertama ketika aku resmi menjadi murid di sekolah dasar yang jaraknya tiga kali ukuran lapangan lompat jauh itu. Guruku melontarkan pertanyaan tabu itu.

***

Ketika itu. Usiaku baru saja memasuki angka enam. Di saat itu pula, kedua orang tuaku, setelah berembuk dengan kakek dan nenek, memutuskan agar aku dimasukkan di taman kanak-kanak. Katanya, sudah tibalah masa di mana aku harus menuntut ilmu. Seketika aku gentar. Apakah hari-hariku akan kian serius dan tidur pagiku terenggut? Bagaimana nanti aku melalui hari tanpa bermain bersama tetanggaku?

Syukurnya. Realitanya tidak sedemikian monoton seperti yang kuduga. Meski pagi kian cepat menyambutku, tetapi setiap menjelang sore, aku diperkenankan bermain bersama teman sebayaku. Kami memainkan banyak hal. Mulai dari boneka, masak-masak, berakting jadi penjual dan pembeli, saling merias satu dengan yang lainnya, petak umpet, mengerumuni ayam peliharaan adiknya kakekku yang berjejer di kandangnya masing-masing, serta main layangan atau balap sepeda bareng kakak sepupuku. Tentu saja, adegan berkelahi hingga menangis kerap mengisi hari-hari kami. Hidupku sungguh penuh warna sebagai anak TK.

Menjelang magrib, ibu atau nenek akan meneriakkan namaku. Memanggilku pulang. Aku harus mandi sore dan melalui sepanjang malam di dalam rumah. Aktivitasku tidak membosankan sebenarnya. Aku serumah dengan beberapa orang sepupuku. Sehingga, tiap selesai makan malam. Kami selalu berkumpul bersama. 

Jika mereka tampak sibuk menuntaskan tugas sekolahnya. Sesekali aku suka mengganggui mereka. Namun, dibanyak kesempatan, aku sebenarnya terlampau  sibuk dengan duniaku sendiri. Di saat mereka fokus mengerjakan tugas yang diberikan guru mereka, aku malah asyik menggambar atau mewarnai. Aktivitas mewarnai adalah hal yang paling aku sukai. Diikuti menggambar dan menari. Aku tidak begitu suka menyanyi, yang aku tahu hanyalah berteriak. Kata ibu, sejak berumur 8 bulan, aku lebih gemar berteriak ketimbang menangis. Aku meneriakkan apapun yang ingin kuteriakkan.

Sejak menjadi murid taman kanak-kanak, kesenanganku pada aktivitas mewarnai ini semakin hari semakin dalam saja. Ibu bercerita jika buku mewarnai yang dibelikannya halaman sudah kuwarnai semuanya. Aku akan dengan manja atau merengek, mendesak agar ibu atau nenek segera membelikan buku mewarnai yang baru. Dengan syarat, buku mewarnai yang baru itu tidak boleh sama isinya dengan yang telah aku warnai sebelumnya.

Aku selalu merasa tertantang dengan gambar baru. Aku selalu merasa penasaran dengan motif baru yang kulihat. Aku selalu mengeksplorasi gaya mewarnaiku. Ini belum termasuk dengan rasa penasaranku terhadap sensasi dan hasil dari setiap alat mewarnai yang digunakan. Aku sangat ingin tahu bagaimana menggunakan krayon, pensil warna, dan kuas. Bagaimana alat-alat ini memberi kesan berbeda meski gambar yang digunakan sama.

“Rena boleh minta tolong,” ujarku sembari memberikan selembar gambar yang kurobek dari buku mewarnaiku.

“Apa itu?” respon paman Gunawan mengambil kertas pemberianku.

“Rena mau gambarnya jadi 3,”

“Oh, Rena mau gambarnya disalin jadi 3?” Paman Gunawan memastikan maksud pernyataanku

“Iyaaaaaa,” jawabku bahagia.

Yah, aku pernah melakukannya. Aku meminta paman Gunawan, adik bungsu bapak yang setiap awal bulan mengunjungiku dari kota seberang, menggandakan gambar tersebut. Lantas, pada masing-masing gambar, aku coba menggunakan alat mewarnai yang berbeda. Ahhh, sungguh, itu salah satu pengalaman menyenangkan dalam hidupku.

Melihat kegemaranku pada aktivitas mewarnai ini. Ibu dan bapak pada akhirnya mulai membuat aturan. Aku hanya boleh mewarnai satu lembar saja setiap harinya. Sebab, sebelumnya, aku sanggup melahap habis satu buku mewarnai dalam waktu seminggu saja. Tentu saja ini ditenggarai perkara ekonomi, buku mewarnai tidak murah. Kini, setelah aku dewasa  dan bekerja, aku paham bagaimana harus mengelola gaji untuk memenuhi semua kebutuhan bulanan.  

Buku mewarnai itu juga sukar ditemukan ragamnya di kota kami, berbeda ketika bapak sedang berdinas ke ibukota negara. Di sana, bapak dengan mudah menemukan jenis buku dan alat mewarnai. Di kotaku yang katanya ibukota provinsi ini dan juga kota lainnya, hanya akan memiliki segala sesuatu setelah ibukota negara telah miliki dan mungkin telah bosan mereka miliki.

Jujur saja, aku tidak mempermasalahkan aturan mewarnai yang diberikan ibu dan bapak. Selama aku masih diijinkan untuk terus mewarnai, perkara kuantitas tidak begitu aku ambil pusing. Yang menarik kemudian terjadi. Ibu mencoba mengajakku untuk mengeksplorasi kemampuanku. Peraturan ditambah. Aku hanya boleh memilih kemudian menggunakan sepuluh warna saja per hari. Di mana per dua minggu, jumlahnya menyusut satu. Aku mesti putar kepala untuk menghasilkan warna baru. Memikirkan matang-matang warna yang akan aku pilih. Aku semakin gembira menjalaninya.

Semua kesenanganku itu mendadak berhenti. Kakek dan nenekku memutuskan agar aku fokus belajar. Aku dipaksa untuk mengenali huruf dan angka. Aku harus pintar mengenali-melafalkan-menulis huruf dan angka. Aku merasa sedih luar biasa. Aku merasa tersiksa setiap kali memegang pensil dan menuliskan huruf  atau angka itu. Aku benci menulis. Aku tak suka mengeja.

Menulis dan mengeja telah merenggut kecintaanku. Kata nenek, aku terlampau terlena dengan aktivitas mewarnai itu. Ujar kakek, anak-anak seusiaku sudah pandai mengeja nama orangtuanya dan menuliskannya. Aku bermohon pada bapak dan ibu. Sayangnya, bapak dan ibu lebih memilih di pihak nenek dan kakek. 

Semua alat mewarnaiku disita lalu diberikan kepada orang lain. Aku hanya disediakan alat tulis-menulis. Aku belajar menulis dan mengeja saban hari. Tidak di sekolah, pun di rumah. Apa saja kertas yang berisi kata disodorkan padaku. Siapa saja yang kutemui meminta aku melafalkan nama mereka. Aku benci. Apa mereka, orang dewasa ini tak mampu mengeja nama mereka sendiri? Atau tidak dapat membaca kertas yang disodorkannya padaku itu? Kenapa aku selalu direpotkan membaca tulisan yang tentu mereka dapat baca itu?

Semua itu semakin keruh saat seorang guru bertanya padaku. Menanyakan cita-citaku. Jujur saja aku terlampau cinta dengan aktivitas mewarnai. Dan, di kepalaku, yang ada hanya sesuatu yang berkaitan dengan warna. 

“Rena ingin jadi pelukis,” jawabku.

“Oh pelukis,” balasnya.

Responku ini rupanya sampai ke kakek dan nenek, sebelumnya ibu dan bapak mendengarnya dari guru kelasku. Mereka semua kompak menodongku dengan reaksi, “Mau jadi apa kamu nanti, Rena. Pelukis itu tidak punya masa depan.”

Semenjak hari itu. Aku benci ditanya tentang cita-citaku. Sebab, para orang dewasa ini tahunya hanya melarangku. Bukannya mengarahkanku. Mereka tidak mendengarkan dan menolak cita-citaku, serta tidak membuka ruang diskusi. Aku memang masih kecil, tapi aku sudah bisa bicara. Aku benci orang dewasa yang tidak memanusiakan anak-anak. Aku ingat betapa aku menangis terisak selepas mendengar ketidaksetujuaan mereka. 

Aku pikir. Setelah hari itu, aku sudah tak memiliki cita-citaku. Mereka merenggutnya. Mereka menyesuaikan cita-citaku dengan kemauan mereka. Mereka gemar menyuntikkan profesi semacam dokter, aparat negara, dan PNS di telingaku. Katanya, itu cita-cita yang memiliki masa depan. Tapi aku kan tidak suka.

Aku masih ingat, bahkan sampai duduk di bangku SMA pun. Profesi semacam penulis, tukang foto, pembuat film, industri kreatif, dan segala sesuatu yang bukan PNS, dokter, aparat negara masih saja dianggap sebagai cita-cita yang tidak layak. Mengapa preferensi cita-cita mereka terdengar monoton, tidak bervariasi, itu-itu saja. Apa para dokter tidak ingin sesekali membaca sebuah buku yang berkualitas? Atau, apa para aparat sipil negara itu tidak suka menyaksikan sebuah film yang telah memenangkan Oscar?

Ah, aku sebenarnya lebih nyaman dengan jawaban seorang teman sekolah dasarku. Setiap kali ditanya apa cita-citanya, dia selalu menjawab ingin jadi orang kaya. Lantas semua orang tertawa. Dalam hatiku, jawabannya tidak ditolak, semua meresponnya dengan senang. Cerdas juga temanku ini. Hingga akhirnya, aku memilih mengikutinya saja. Memelihara pemikiran ini sampai menyelesaikan SMA. Toh bapak dan ibu selepas melarangku menjadi pelukis, selama aku menuruti mereka, mereka juga bahagia, tepat seperti reaksi orang-orang yang mendengar jawaban ingin jadi orang kaya temanku itu. Aku cukup trauma berhadapan dengan pertanyaan cita-cita.

Sayangnya, ketika menjadi dewasa seperti saat ini. Menjadi kaya bukan perkara mudah, apalagi tanpa orientasi yang jelas.  Jujur saja, selepas kuliah, aku menerima pekerjaan yang pertama datang meminangku. Aku tak sempat menyortirnya. Aku hanya fokus ingin mengumpulkan pundi-pundi uang saja. Menuntaskan misi suciku, menjadi orang kaya. Tahun demi tahu kulalui, nyatanya, aku juga belum kaya. Atau setidaknya belum pantas merasa kaya.

Ada yang salah memang. Aku pernah mendengar kata para motivator ulung, bahwa kita hanya dapat meraih apapun itu, asal targetnya jelas, jalan yang akan ditempuh telah ditentukan. Aku panik. Aku harus merencanakan ulang cita-cita menjadi kayaku ini.

Kemudian, aku pusing, sebab rupanya kaya itu juga bertingkat-tingkat. Aku bisa kaya, tapi sekaligus bisa tidak kaya di hadapan orang yang lebih kaya dari padaku. Brengsek betul.

Seketika aku ingin memiliki mesin waktu. Rasa-rasanya aku ingin kembali ke masa kecilku. Aku ingin bersikeras mempertahankan kegemaranku itu. Sebab, di saat ini, hobi justru bisa jadi pekerjaan. Profesi kini begitu beragam. Jalan untuk mewujudkannya tersedia di mana-mana.

Sumber gambar: id.pinterest.com/pin/33847434693140867/

Waktu Fana, Sapardi Abadi

mengenang 3 tahun kepergian Sapardi Djoko Damono

SEJAK baheula manusia dikepung puisi. Sekira tahun 1.700 Sebelum Masehi di India, puisi sudah tengger di naskah kuno Veda dan Gathas. Puisi adalah ekspresi artistik mengenai pesona diri dan hidup. Ibarat bakul puisi mewadahi “benak” penyair, yang diperah dari peng-alam-an: imajinatif, emosional, dan intelektual—peng-alam-an ini dipahat penyair pada “loh batu”: imaji jadi teks, teks jadi jejak—penanda keberadaan.

Umberto Eco filsuf dan novelis Italia, tatkala menelaah puisi William Wordsworth penyair Inggris, Umberto berpendirian demikian, bahwa sewaktu pembaca tiba pada frasa “a poet could not but gay, seorang penyair hanya bisa bergembira.” Sebetulnya, akui Umberto, para pembaca tengah menjelajah “dunia” Wordsworth. Itu artinya, sebiji puisi bila dikuak, tak lain upaya “jelajah” diri penyair—subjek yang berdiri di belakang karya itu.

Menjelajahi hutan puisi Sapardi

Sebuah konklusi saya ajukan; jika ingin kenal betul “siapa” Sapardi Djoko Damono, maka bacalah kumpulan puisi DukaMu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1959 – 1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (1999). Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002), Kolam (2009), Mboel: 80 Sajak (2020).

Sapardi penyair tersohor Indonesia ini lahir pada 20 Maret 1940 di Surakarta, dan wafat pada 19 Juli 2020 di Tangerang, tepat ketika berusia 80 tahun. Ia telah meninggalkan sebelas buah buku puisi, untuk kita, adalah “sari” dirinya, yang enteng kita gali. Tentu, yang “tersembunyi” di belakang, bisa “diungkap”.

dari jemariku yang papa

kau pun menjelma secara gaib wahai nurani alam

(Kepada Sebuah Sajak,  Tonggak 2)

*

“Masuklah ke telingaku,” bujuknya.

Gila:

ia digoda masuk ke telinganya sendiri

agar bisa mendengarkan apa pun

secara terperinci—setiap kata, setiap huruf

bahkan letupan dan desis

yang menciptakan suara.

“Masuklah,” bujuknya.

Gila! Hanya agar bisa menafsirkan sebaik-

baiknya apa yang dibisikkannya

kepada diri sendiri

(Telinga, 1982)

Pada puisi Kepada Sebuah Sajak,  Tonggak 2, kita jumpai suatu hubungan genealogis, yang diakibatkan pertalian asal-usul. Dari jemariku yang papa kau pun menjelma, frasa inimenujukkan sebuah struktur otonom yang saling terikat. Hubungan “sedarah” ini, oleh sosiolog Lucien Goldmann, disebutnya “struktur genetik”. Sebab, bagi Goldmann karya adalah jejak pengarang merespons “keadaan”—“peng-alam-an, yang dikorek dari habitusnya.

Puisi Telinga, 1982 adalah peta yang menuntun kita jelajahi “diri” Sapardi Djoko Damono. “Masuklah ke telingaku,” kiranya Sapardi mengajak pembaca masuk mendengarkan apa pun secara terperinci: bumi, laut, planet, waktu, angkasa, nol, musim, cuaca, gerak, dan cahaya.

Sapardi laiknya Albert Einstein atau Stephen W. Hawking mendialogkan semesta raya. Pasalnya, puisi-puisi Sapardi memberi segenap pembaca telinga dan mata tambahan: mendengar dan melihat benda tak kasat, sebagaimana diberi teleskop dan mikroskop.

Itu sebab, saya berpendapat, bahwa Sapardi itu penyair yang “saintis”. Keilmuwan Sapardi, adalah kemampuan menerangkan hal-hal pelik, dengan bahasa sederhana. Sapardi melukiskan sesuatu secara konkrit, dengan idiom dan metafora yang enteng. Walaupun ihwal yang dicakapkan Sapardi, dahsyat dan rumit. Namun dahsyat dan rumit itu, ditangannya, tidak sukar kita simak.

Nirwan Ahmad Arsuka mendaku dalam esai Sapardi: Geometri dan Memori. Bahwa yang dikerjakan penyair besar, adalah pemberian “hidup” pada benda-benda sepele: pada angin, pada burung, lampu jalan, kabel telepon, dll. Pemberian “hidup” ini bisa juga dilihat sebagai penciptaan.

Membaca Sapardi: Geometri dan Memori, sebetulnya, Nirwan mengajak kita jelajahi wajah perpuisian, yang pelan-pelan bergerak meninggalkan masa silam, yang dikepung puisi-puisi heroik, menuju khazanah perpuisian yang inovasi dan eksperimen. Dan Sapardi, kata Nirwan, telah menemukan perangkat literer baru, yang lebih canggih dari rima, yakni meramu khazanah matematika: barisan geometri dan simetri terbalik, dalam puisinya.

Artinya, Sapardi bergerak dari pengolahan peng-alam-an subjektif personal berupa gejala-gejala mikrokosmos; bahagia, sedih, harapan, dan kecewa. Menuju kematangan meramu peng-alam-an objektif universal seperti gejala-gejala makrokosmos; menyelidiki asal-usul, struktur dan hubungan ruang waktu—inilah tabiat para ilmuwan.

Saya jadi ingat nasihat Adonis penyair Suriah itu. Baginya, puisi menyediakan pengetahuan yang lebih tinggi, tinimbang ideologi-ideologi. Seorang penyair, saran Adonis, harus membangun wacana ilmu pengetahuan dalam puisi-puisinya. Inilah “pencipta” yang transformatif. Tentunya, Sapardi telah meletakkan “pondasi” itu. Sapardi bergerak membawa puisinya dari pengalaman subjektif personal, menuju objektif universal.

Dan ihwal yang lebih penting, saya kira, Sapardi telah membebaskan puisi dari “tapal batas” definisi perkakas dan taktik penyair nyatakan maksud. Menjadi sebuah keranjang mewadahi “nalar” pengetahuan rasional. Sebab, sebiji puisi diramu Sapardi bisa menafsirkan sebaik-baiknya suatu fenomena alam. Justru demikian itu, mudah kita cerna, ketimbang laporan penelitian.

apa yang kita harapkan dari hujan? Mula-mula  ia di udara

tinggi, ringan, dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin;

kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan

menimpa pohon jambu itu, tergelincir dari daun-daun,

melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah,

dan kembali ke bumi… bercakap tentang lautan.

(Hujan Dalam Komposisi 2, 1969)

*

Hei! Jangan kaupatahkan kuntum bunga itu

ia sedang mengembang; bergoyang-goyang dahan-dahannya

yang tua

yang telah mengenal baik; kau tahu,

segala perubahan cuaca.

Bayangkan: akar-akar yang sabar menyusup dan menjalar

hujan pun turun setiap bumi hampir hangus terbakar

dan mekarlah bunga itu pelahan-lahan

dengan gaib, dari rahim alam

Jangan; saksikan saja dengan teliti

bagaimana Matahari memulasnya warna-warni,

(Sonet: Hei Jangan Kaupatahkan!, 1967)

Sapardi: percakapan tentang semesta

kita saksikan burung-burung lintas di udara

kita saksikan awan-awan kecil di langit utara

waktu cuaca…

(Kita Saksikan, 1967)

Goenawan Mohamad, menulis sebuah catatan di Majalah Tempo, 25 Juli 2020, Kata dan Pengalaman: Sebuah Penghormatan untuk Sapardi Djoko Damono. Puisi Sapardi menembus kembali hal-hal alami dari dunia. Ada situasi terkesima di tiap bait, seakan-akan sang penyair melihat dunia buat pertama kalinya. Ia mirip anak-anak—atau juga seorang Einstein di depan tamasya kosmologis: kreativitasnya bermula dari ketakjuban. 

Goenawan tidak sepenuhnya keliru menyebut Sapardi, “Einstein”. Lantaran penyair itu tak sekadar membuat pembaca terkesima pada: idiom, citraan, dan metafora. Juga takjub pada eksperimen—melibatkan pembaca dalam tualangnya kita saksikan burung-burung lintas di udara—sebuah pesona yang menarik siapa pun menuju jelajahnya, kita saksikan awan-awan kecil di langit utara. Tak cukup di situ, ia menyibak kulit gejala waktu cuaca…dan memberi jawaban pada hal-hal sepele.

ia turun dari ranjang lalu bersejingkat dan membuka jendela

lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa

gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di

luar semesta dan terus saja menunggu sebab serasa ada

yang lewat memberitahukan hal itu padanya…

(Catatan Masa Kecil, 1971)

Dunia anak-anak adalah dunia “bermain”— suatu fantasi, sekaligus kerumitan. Kita tahu, di sana “imaji” terbentuk secara natural, sepotong demi sepotong. Melalui puisi Catatan Masa Kecil, 1971. Saya berkeyakinan Sapardi menumbuhkan bakat ilmuwan sejak masa kanak. Ia, seorang bocah meninggalkan kesenangan bermain layang-layang, turun dari ranjang demi sebuah tualang menakjubkan: “apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar semesta.

 Larik-larik di atas, bukti kematangan sebuah perenungan. Puisi yang baik, kata Martin Heidegger, bisa menciptakan perenungan. Sebagamana lazimnya penyair, Sapardi bahkan melampaui itu; ia geliat menggali “orisinal”—“inti” sesuatu, termasuk dirinya, atau di luar dirinya. Menyibak yang tersembunyi dan mempertanyakan yang susut.

Perenungan “inti” muasal dimulai abad ke-6 SM, oleh Thales. “Apa inti alam semesta?” pemikir dari Miletos itu, berpendapat: “air” sebagai inti alam semesta. Bagi Thales, air adalah sebab yang pertama sebuah kehidupan. Gagasan ini, jadi lebih “logis” di tangan sekelompok ilmuwan, abad ke-20. Sebut saja, Fred Hoyle, Bandi, dan Gold. Menurut para “saintis” ini, “90 persen materi—inti alam semesta adalah hidrogen”—air.

aku adalah air,” teriakmu, “aku ganggang adalah lumut adalah

gelembung udara…

(Akuarium – 1972)

Pada puisi Akuarium, saya melihat kesamaan pandangan antara Sapardi dan Thales pemikir dari Miletos itu. Thales berkata: air sebagai inti alam semesta. Maka Sapardi mendaku: aku adalah air,” teriakmu, “aku ganggang adalah lumut adalah gelembung udara…Seeokor ikan kecil hidup dalam akuarium semacam alegori dipakai Sapardi menegaskan inti muasal.

Belakangan Perenungan “inti” muasal ini, dijawab Stephen Hawking, yakni “hukum fisika”. Bagi Hawking, andai bukan karena serangkaian hukum fisika, manusia dan bentuk-bentuk kehidupan menyerupainya tak bakal ada. Artinya, hukum fisika sebagai “sumber” yang menciptakan benda dan organisme. Namun, jauh sebelum itu, Isaac Newton, memberi kita kepastian: “hukum fisika—gravitasi, hanya menjelaskan pergerakan planet-planet, tidak bisa menjelaskan  siapa yang menggerakan planet itu. 

siap menggores di langit biru

siapa meretas di awan lalu

siapa mengkristal di kabut itu

siap mengertap di bunga layu

siapa meledak dalam diriku

:siapa aku

(Sonet: X, 1968)

Puisi Sonet: X, 1968: Siapa meledak dalam diriku/siapa aku semacam meditatif menyibak batas stetoskop dan mikroskop “ragu-ragu” memberi kita jawaban akan sumber kehidupan. Tapi dijawab Sapardi dalam puisi Kepada I Gusti Ngurah Bagus: dewa yang telah menciptakan bunga, dewa yang telah menciptakan gadis…”

Dalam kumpulan puisi Ayat-ayat Api, Sapardi membawa pembaca menjelajahi fantasi: waktu, ruang, gerak, dan cahaya—sebuah relasi terbangun secara alamiah, dengan manusia. Selain itu Sapardi semacam melarai silat pikir antara fisikawan abad ke-19 dengan pemikir mutakhir Albert Einstein mengenai konsep cahaya.

Cahaya memerlukan “eter”, suatu zat antara menggerakkan semua benda di angkasa dan eter itu harus diam mutlak. Maka Einstein, menolak eter. Baginya, tak ada ruang atau benda mutlak. Kita tahu pada akhir polemik, Einstein menjungkir-balik konsep “diam mutlak” dengan sistem “gerak relatif”. Dan saya kira, Sapardi menulis pendapatnya dalam puisi Di Depan Pintu:

di depan pintu: bayang-bayang bulan

terdiam di rumput. Cahaya yang tiba-tiba pasang

mengajak pergi

menghitung jarak dengan sunyi.

(Di Depan Pintu)

*

Marsinah buruh pabrik arloji,

mengurus presisi:

merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;

waktu memang tak pernah kompromi

ia sangat cermat dan pasti

ia hanya memutar jarum arloji

agar sesuai dengan matahari

“Ia tahu hakikat waktu,”

mereka kira waktu bisa disumpal

agar lenkingan detiknya

tadak kedengaran lagi

(Dongeng Marsinah,  1993-1996)

Puisi Dongeng Marsinah berpijak pada hakikat waktu—sesuatu yang menandai “eksistensi”: keberadaan sebuah manusia. Andai St. Agustinus, menganggap waktu semacam “paradoks”—tak bisa didefinisikan atau diatur, maka Sapardi membilangkan waktu tak pernah kompromi ia sangat cermat dan pasti.” Namun terkadang yang “pasti” ini diabaikan manusia—luput dari perhatian manusia. Kondisi ini digambarkan Sapardi, “mereka kira waktu bisa disumpal agar lenkingan detiknya tadak kedengaran lagi”. Atau dalam frasa paradoksal, seperti dalam puisi Lanskap, “waktu hari hampir lengkap” sedang kita “menunggu senja”.

Syahdan, puisi Sapardi ibarat bakul yang mewadahi pesona pengetahuannya. Ruangan yang ada dalam sepatah kata ternyata mirip…Sapardi. Itu sebab saya berkesimpulan, Sapardi Djoko Damono: penyair cum ilmuwan dengan kesederhanaan gaya ungkap. “Ia mirip anak-anak—atau juga seorang Einstein di depan tamasya kosmologis: kreativitasnya bermula dari ketakjuban…,” ujar Goenawan Mohamad.


Sumber gambar: Kompas.com

Masih Adakah yang Mau Mendengarkan Anak?

Sewaktu putri pertama kami berusia tiga tahun, ia mengalami serangan kegagapan dalam berbicara. Ia aslinya ceriwis, banyak tanya, bahkan banyak mempertanyakan segala sesuatu yang ia lihat aneh atau tidak sesuai dengan pemahaman yang ada di kepalanya. Misalnya kenapa tante A begini, sedangkan tante B begitu. Kenapa teman-temannya memanggil orangtuanya dengan bapak dan ibu, sementara ia beda. Dan seterusnya. Bahkan tak jarang spontanitasnya membuat kami harus memberinya isyarat jari telunjuk yang diletakkan di mulut, tanda tidak boleh berbicara seperti itu depan orang banyak.

Hari itu ia mendadak berbicara terbata-bata pada suku kata pertama kalimat yang akan ia ucapkan. Misalnya, untuk menyebut kata “di mana” ia perlu mengulang suku kata “di” tersebut hingga beberapa kali, barulah menyusul kata “mana” di belakangnya. Awalnya kami pikir, hal itu hanya terjadi sesaat saja. Kami pun menganggapnya sebagai kejadian biasa. Tetapi besok dan besoknya lagi masih terulang, maka kami mulai berpikir, pastilah ada sesuatu yang tidak beres dalam perkembangan kemampuan bicaranya.

Beruntungnya kami tidak tinggal di tengah keluarga besar, yang beragam, yang mana tidak mampu kami kontrol perilakunya. Sehingga penanaman metode pengasuhan tidak mendapat campur tangan dari pihak luar. Saat itu kami berdua (saya dan suami) dari awal berumah tangga sudah saling mengingatkan satu sama lain, sesiapa pun untuk menertawai hal-hal tidak lazim yang anak lakukan. Seperti kebanyakan reaksi orang ketika mendapati anak cadel misalnya, mereka biasanya ikut mengulang kata-kata cadel si anak. Lalu diakhiri dengan ekspresi tertawa. Karena muncul reaksi ketawa dari sekelilingnya, bagi anak hal itu identik dengan sesuatu yang disenangi. Yang mana akan mereka ulang-ulangi walaupun salah. 

Atau boleh jadi juga anak akan merasa ditertawai sehingga membuat dia justru akan merasa tegang dan akhirnya semakin banyak membuat kesalahan. Ini berlaku untuk ketawa yang dibarengi dengan komentar menjatuhkan di dalamnya. Orang dewasa perlu menyadarinya. Sebab jika tidak, kondisi tersebut akan semakin berat. Bukannya pulih, yang terjadi justru anak akan semakin sulit untuk dinormalkan.

Apa sesungguhnya penyebab anak bisa gagap pada usia tiga tahunan? Menurut ahli, kondisi tersebut terjadi dikarenakan kapasitas berpikirnya melampaui kecakapan bicaranya, juga karena perbendaharaan katanya yang masih sangat terbatas. Pengetahuan tersebut kami dapat dari hasil membaca sebuah buku pengasuhan. Alhasil setelah memahami alurnya, kami jadi lebih tenang dan mampu bersabar mendengarkan putri kami menyelesaikan kalimatnya tanpa disela sedikit pun.

Terapi mendengarkannya hingga akhir kalimat itulah yang akhirnya berhasil memulihkan kemampuan bicaranya bisa kembali normal seperti sedia kala. Betapa luar biasanya terapi mendengar ini.

Ingin didengar, tidak mau mendengar

Jika saya ditanya saat ini, apa jurus ampuh yang perlu dipraktikkan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Entah dengan anak, dengan pasangan, ataupun dengan orangtua. Maka jawaban saya adalah kecakapan mendengar. Bukan mendengar kosong yang hanya terlihat seolah-olah saja, tetapi yang sungguh-sungguh mendengar kata demi kata dan menyimaknya, mengolahnya masuk ke dalam pikirannya. Tidak mudah, tetapi sangat berharga untuk dilakukan. Banyak orang tidak menyadari bahwa kekuatan pengaruh kita terletak pada kemauan mendengar. Mereka pikir memengaruhi orang lain itu tercipta saat mereka bicara, dan orang tersebut mendengarkan mereka. Sepintas sepertinya betul. Namun pada hakikatnya justru sebaliknya yang terjadi.

Saat seseorang didengarkan, harga dirinya terangkat. Dan ketika harga dirinya terangkat, maka ia akan sangat senang dan boleh jadi akan memenuhi apa yang jadi keinginan kita. Bukankah kita sebagai pendengar telah berhasil memengaruhi dia? Seperti itu pula yang terjadi dalam dunia anak-anak. Olehnya itu, jika orangtua ingin si anak mematuhi perintahnya, tidak melakukan hal-hal yang tidak disenangi, maka banyak-banyaklah mendengarkan mereka. Bukan justru anak-anak itu yang disuruh terus-menerus mendengar orang dewasa.

Setelah orangtua mencontohkan dengan mendengarkan anak-anak, sebaliknya mereka pun akan meniru perilaku tersebut, turut mendengar ketika orangtua mereka berbicara dengan mereka. Sesederhana itu siklus yang perlu dilakukan. Adapun soal materi apa yang akan didengar, itu urutan berikutnya. Intinya adalah kemauan mendengar terlebih dulu. Perlu lebih sabar, lebih menyediakan waktu, dan mau menurunkan ego, meluaskan hati untuk memuliakan mereka. Dengan cara mendengarkan mereka.

Pengorbanan dan Keajaiban

 

Iduladha memiliki makna kembali berkurban, ditandai dengan penyembelihan sejumlah hewan ternak sebagai simbol pengorbanan seseorang. Kurban dan korban berbeda menurut KBBI. Kurban diartikan persembahan kepada Allah seperti biri-biri, unta, dan sebagainya yang biasa dilakukan saat lebaran haji. Sedang arti korban adalah pemberian untuk menyatakan kebaikan, kesetiaan, dan sebagainya. Makna lainnya, orang/binatang yang menderita/mati akibat suatu kejadian, perbuatan jahat, bencana, atau hal semacamnya.

Bermula dari ketaatan Nabi Ibrahim dalam mematuhi perintah Allah Swt. Membawa istrinya Hajar dan puteranya Ismail ke suatu lembah yang tidak menampakkan satu pun tanda-tanda kehidupan di sana. Dengan berbekal sedikit makanan dan air, beliau menurunkan istri dan anaknya dari atas unta, lalu meninggalkan keduanya tanpa penjelasan apa-apa. Kalimat protes sempat terlontar dari lisan bunda Hajar, namun ketika mengetahui semua ini adalah perintah Allah Swt, ia pun terdiam dan patuh.

Di tengah padang tandus nan gersang, rasa haus mulai melanda keduanya. Air susu pun sudah tidak lagi menghasilkan air. Dalam kecamuk tangis Ismail, Siti Hajar berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwa mencari-cari sesuatu yang bisa menjadi pengobat dahaga mereka. Atau berharap bertemu seseorang yang bisa ia mintai tolong membantunya keluar dari situasi tersebut.

Akhirnya setelah putaran ketujuh antara bukit Safa dan Marwah, Allah Swt pun menurunkan rahmat-Nya. Ismail kecil memukul-mukulkan kakinya di atas tanah dalam keadaan menangis. Tiba-tiba memancarlah keluar air dari bawah kakinya. “Zamzam…zamzam…” seru bunda Hajar. Artinya ”Terpancarlah…terpancarlah.” Pengorbanan tanpa lelah dan penuh keikhlasan akhirnya berbuah manis. Air yang tiba-tiba keluar dari tanah kering dan tandus adalah bentuk keajaiban yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Bahkan sumur tersebut hingga hari ini tidak pernah kering, dan menjadi tempat persinggahan para musafir dan orang-orang yang datang berhaji di tempat itu.

Beberapa tahun kemudian, saat usia Ismail mulai beranjak remaja, pada suatu malam Nabi Ibrahim bermimpi. Seperti yang kita ketahui dalam kisah-kisah sejarah, ia diperintahkan oleh Allah Swt untuk menyembelih putra satu-satunya, belahan jiwanya, yang sekian puluh tahun ia nanti-nantikan kehadirannya. Namun, ia sang pecinta sejati, tahu persis kemana cinta harus ia letakkan. Bukan kepada makhluk betapapun besar kasih dan sayangnya ia pada puteranya. Melainkan hanya ia tujukan kepada Sang Pemilik Kehidupan. 

Sang putera, Ismail, yang telah mewarisi sifat-sifat kenabian dari sang ayah, tumbuh menjadi anak yang patuh dan taat pada perintah Allah Swt. Walaupun begitu, Nabi Ibrahim tetap menyampaikannya perintah tersebut dengan penuh kelembutan. Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat di dalam mimpi, aku menyembelihmu, maka bagaimana pendapatmu?” (QS. Ash-Shaffat:102).

Puteranya dengan penuh ketaatan dan kesabaran justru menenangkan hati ayahnya dengan menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah Engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat:102)

Sebagaimana kisah yang lazimnya sampai pada kita hari ini, Ismail dengan kesabaran dan kepasrahannya, tunduk patuh dan berserah pada perintah Tuhannya, begitupun Nabi Ibrahim yang rela berkorban melepaskan putera terkasihnya, maka Allah Swt pun menunjukkan Rahman dan Rahim-Nya dengan menyelamatkan Ismail dari sasaran mata pisau dengan menggantinya dengan seekor hewan kurban. Keduanya berhasil melewati ujian berat tersebut dengan prestasi sangat gemilang.

Peristiwa inilah yang hingga kini menjadi menjadi sebuah hari istimewa yang diperingati oleh seluruh umat Islam sedunia sebagai Iduladha, hari raya Haji, atau hari raya Kurban.

Berkorbanlah dan jadilah ajaib

Sebagai bagian dari umat Islam dunia, jejak apa yang dapat kita tiru dari sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail? Seperti apa bentuk pengorbanan yang dapat kita lakukan sebagai upaya meneladani kisah mereka? Tidak perlu muluk-muluk, mengikuti jejaknya mengorbankan nyawa putera kita seperti yang telah mereka contohkan dalam sejarah. Sebab amatlah tinggi level ketaatan itu. Kita dapat memulainya dari hal-hal kecil sehari-hari.

Berkorban tidaklah identik dengan menderita. Namun berkorban dalam hal ini berarti bersedia menurunkan egosentris dalam dirinya dan menjadikan orang lain sebagai pusat kepedualiannya. Menempatkan mereka pada posisi lebih tinggi dan mulia. Berkorban tidaklah pula mesti disertai perasaan rendah diri, justru sebaliknya, jika seseorang rela berkorban demi orang yang dicintainya, maka itu penanda ia memiliki jiwa besar.

Pelajaran pertama tentang cinta. Sanggupkah kita mencintai pasangan atau anak-anak kita apa adanya, tanpa sebab suatu kondisi sebagai prasyaratnya? Misalnya saat anak-anak tidak melakukan hal-hal yang kita minta, atau pasangan tidak berperilaku sebagaimana yang diharapkan? Mampukah kita menahan diri—mengorbankan perasaan ingin didengar, ingin dipatuhi—untuk tidak marah, mengomel, dan mencerca mereka atas perbuatan yang kurang berkenan tersebut.

Pelajaran berikutnya tentang keikhlasan. Sudahkah kita menjadi manusia yang memiliki keikhlasan cukup tinggi untuk menerima segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan? Yang turut bahagia saat melihat orang lain mendapatkan keberhasilan. Yang turut bersorak paling kencang ketika teman sejawatnya maju ke atas panggung keberhasilan? Yang dengar rendah hati mau mendoakan dan turut mengaminkan setiap permohonan kawan-kawannya yang sama-sama berjuang menaiki tangga-tangga kesuksesan. 

Lalu mengapa semua itu disebut berkorban, karena kecenderungan manusia yang memang senang pada kenikmatan, inginnya dapat pelayanan tetapi tidak sebaliknya. Ingin dihargai, tetapi kurang mau menghargai. Senang menikmati perhatian orang lain, namun kurang memberikan perhatian pada orang lain. Inginnya hanya didengar, dan ketika orang lain, pasangan, atau anak yang bicara, mereka tidak mengindahkannya. Jika ada perselisihan pendapat, cenderung melihat orang lain yang salah, dialah yang benar. Begitu seterusnya.

Jika para nabi dianugerahi Allah Swt dengan mukjizat sebagai balasan atas kesabaran dan keikhlasannya menerima cobaan, maka kita sebagai manusia biasa dijamin hadiah keajaiban dari-Nya jika mau menjalani laku-laku pengorbanan sebagaimana yang dijelaskan di atas.

Lewat momen Iduladha ini, yang kehadirannya hanya sekali setahun, semoga dapat menggiring ruhani kita agar lebih siap dan mampu melakukan banyak pengorbanan dalam hidup kita. Bukan hanya pengorbanan materi, akan tetapi nonmateri pun semampu mungkin kita tingkatkan. Dengan berkorban, hidup akan menuai banyak keajaiban. Seperti halnya yang dijejakkan dalam teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Selamat Iduladha.