Arsip Tag: Cerpen

Lebih Dari Sekedar Tubuh (Cerita tentang mitos kemuliaan perempuan)

Sebagai seorang mahasiswa disalah satu kampus ternama, di kawasan Indonesia Timur, Anggun  memang memiliki kebanggan besar. Meskipun ia sendiri tidak memiliki pemahaman yang memadai, tentang rasa kebanggan itu. Yang jelas ia bangga dengan kampusnya. Mungkin, perasaan ini seperti cinta, yang seringkali tak memiliki alasan yang jelas. “Pokoknya, aku bangga dengan kampus ini,” gumam Anggun.

Tentu, kebanggan ini berasal dari berbagai pengalamannya, menghabiskan waktu di kampus, yang membuatnya dikelilingi teman-teman baik, dan menghiasi hari-harinya dengan canda tawa. Anggun menyadari, meskipun sebenarnya kehidupan kampus adalah wahana ilmu pengetahuan, namun rasa-rasanya ia begitu nyaman dengan kondisi ini. Kuliah, belajar, dan diskusi seperlunya, serta bersenang-senang, dengan kekonyolan masing-masing.

Sebagai perempuan muda dan berkulit putih, Anggun juga sering menggunakan jilbab, dan pakaian yang menutupi kulit serta lekuk tubuhnya. Anggun menganggap, tubuhnya merupakan simbol kesucian. Setidaknya, itulah kesimpulan yang bisa ia pahami, dalam setiap ceramah agama, tentang kesucian dan kemuliaan perempuan. Anggun selalu berusaha sejauh mungkin, untuk menjaga tubuhnya, agar tidak dijamah oleh lelaki yang bukan muhrimnya. Ia percaya, bahwa menjaga tubuhhnya untuk tidak dilihat, apalagi disentuh oleh lelaki, merupakan bagian dari usaha untuk menjaga kesucian yang merupakan bentuk kemuliaan seorang perempuan.

Tubuh dan Kesuciannya

Kesucian tubuh perempuan, seringkali digambarkan seperti sebuah permen, yang terbuka dari bungkusnya, dan dikerumuni oleh banyak semut penerkam. Berbeda jika permen itu, tertutup dengan bungkusnya. Tak peduli seenak dan semanis apapun permen itu, semut tak akan bisa menjangkau, dan menerkam permen itu. Tentu ini sebuah analogi yang sangat mudah dipahami, untuk menggambarkan kesucian perempuan. Seorang perempuan yang tertutup dengan jilbab dan pakaiannya, akan lebih mudah terlindungi dari sentuhan siapapun. Mudah untuk berpikir, bahwa berhasil menjaga kesuciaan, akan memperoleh kemuliaan, sebagai perempuan.

Dalam nuansa agama, konsep kesucian memang cenderung luas dan lebih dalam dari pemahaman yang berkembang di masyarakat. Diberbagai fatwa agama, lelaki diminta untuk menjaga perilaku dan pandangan, agar mencegah terjadinya tatapan menarik hingga sentuhan, antara lelaki dan perempuan yang bukan jodoh (suami-istri). Bahkan, seorang lelaki diancam dengan model penyiksaan yang pedih, diakhirat kelak, ketika ia dengan sengaja, menyentuh kulit perempuan. Sebegitu berbahaya apakah, hingga seorang lelaki yang menyentuh tubuh perempuan, akan mendapatkan siksaan yang pedih di akhirat?

Pemahaman ini, membuat Anggun mengerti, bahwa menjaga tubuh dari sentuhan lelaki, sangat penting bagi seorang perempuan, dan merupakan sebuah keharusan. Begitu besarnya akibat yang diberikan kepada lelaki yang menyentuh tubuh perempuan, membuat perempuan menyadari, betapa mulianya kesucian tubuhnya. Tak jarang, bagi perempuan yang begitu mendalami ajaran agama, ia begitu menyesal jika kulitnya disentuh lelaki. Tentu tak bisa terpikirkan, jika sentuhan ini, sampai membuah keperawanannya hilang.

Tubuh perempuan, memang dianggap sebagai sesuatu yang begitu sakral. Disitu terdapat keindahan, dan tanggung jawab besar, yang bahkan bisa meruntuhkan langit dan bumi. Begitu kira-kira agama memandang tubuh perempuan, secara filosofis. Dikalangan masyarakat sendiri, konsep ini dipahami sebagai sebuah kesucian, yang harus benar-benar dijaga oleh perempuan. Dalam tubuh perempuan, ada kesucian yang bersemayang. Apabila tubuh itu disentuh dan kehilangan keperawanan, maka kesucian perempuan pun hilang bersamanya. Hal inilah yang membuat, perempuan menjaga tubuhnya. Karena jika tidak, maka kesucian direnggut, dan kemuliaannya sebagai perempuan, juga ikut lenyap.

Anggun dan banyak perempuan lainnya, meyakini konsep kesucian dan kemuliaan perempuan seperti ini. Menjaga tubuh, agar tetap dinilai suci, merupakan hal wajib yang harus dilakukan. Jika tidak, maka harga diri sebagai perempuan, bisa hilang dalam sekejap. Tak peduli apapun alasannya. Tubuh sangat penting untuk dijaga.

Mempertahankan Tubuh dan Kesucian

Hingga suatu saat, Anggun mendapatkan perilaku keji dari seorang lelaki, di kampus yang dibanggakannya itu. Ia dijegal oleh seorang lelaki, saat selesai mengerjakan beberapa tugas kampus di salah satu gedung perkuliahan. Suasana kampus yang sepi, dan langit yang mulai menghitam, dimanfaatkan dengan baik oleh lelaki itu, untuk memanggil Anggun mendekat ke tempatnya yang sunyi, dan tengah sendirian. Merasa tidak enak, Anggun pun mendekat, dan berbincang santai.

Beberapa saat kemudian, alur pembicaraan mulai mengarah ke pembahasan yang seksis. Anggun merasakan itu dengan baik. Sebagai perempuan yang sudah cukup dewasa, ia mengerti dengan narasi yang diucapkan lelaki paruh baya itu. Ia pun mulai merasa risih, dan memutuskan untuk menjauh, dan segera pulang ke rumahnya.

Mendapati suasana seperti ini, sang lelaki pun dengan sigap, menarik tubuh Anggun, dan menyeretnya ke salah satu ruangan yang cukup dekat, namun tersembunyi. Tubuh yang tidak lebih kuat dari lelaki, membuat Anggun dengan mudah ditarik, dan masuk ke tempat yang diinginkan lelaki itu.

Ia meronta sejadi-jadinya. Ia berteriak sekuat tenaga, namun tak kunjung ada pertolongan. Lagi-lagi, suasan yang sunyi, dan lokasi kejadian yang cukup tersembunyi, membuat perlawanan Anggun sia-sia dibekam oleh tubuh kekar dan kuat oleh lelaki itu. Anggun pun mulai menyadari, bahwa kemampuan perlawanan dari tubuhnya mulai terasa hampir mencapai puncak. Tubuh yang Lelah dihantam banyaknya tugas dan aktivitas perkuliahan, tentunya tak memberikan harapan yang lebih besar, untuk melakukan perlawanan dan terlepas dari bekaman lelaki bejat tersebut.

Akhirnya, dengan tubuh yang kerkulai lesu dan lemah, Anggun menyadari bahwa tubuhnya sedang diganyang oleh lelaki tersebut, dengan penuh nafsu. Ia melihat dengan jelas, bagaimana mulut dan tangan lelaki itu, begitu lincah menjelajahi seluruh bagian tubuhnya. Tubuh yang lunglai, bersandar dengan lemah, dilantai yang lembab. Suara dan tenaganya sudah habis untuk melakukan perlawanan. Satu-satunya yang tersisa, hanyalah hati yang terus meronta, dan perasaan yang berharap datangnya pertolongan, entah dari mana pun itu.

Tak berlangsung lama, Anggun menyadari bahwa keperawanannya telah hilang. Tubuhnya bergetar dingin, keringatnya terus bercucuran, dan hatinya yang terus memaki perlaku bejat si lelaki. Hingga semuanya pun selesai, Anggun berjalan dengan lunglai, menuju ke rumahnya. Tubuhnya yang lemah, perasaanya yang hancur, membuatnya tidak bisa berbuat banyak saat tiba dirumah, selain mengurung diri di kamar mandi, menyalakan air, dan menangis sejadi-jadinya.

Ia begitu merasakan, betapa langit dan bumi runtuh dalam sekejap. Keperawanannya telah hilang, kesuciannya telah direnggut, dan kemuliaannya telah sirna. Baginya saat ini, tak ada lagi yang bisa dipikirkan, selain penyesalan atas peristiwa terburuk yang menimpa dirinya, di kampus yang begitu ia banggakan.

Bayang-bayang peristiwa itu, terus menari di pikirannya. Anggun tak bisa menyembunyikan penyesalan dan sakit hatinya, karena peristiwa itu. Ia tak kuasa menahan mulut dan tubuhnya untuk meronta, dan menceritakan kebengisan ini, kepada beberapa kawan yang dipercayainnya. Sontak, peristiwa ini membuat teman-temannya marah, dan membuat permasalahan ini, gempar dikalangan mahasiswa. Selain sebuah Tindakan kekerasan seksual, pelakunya juga merupakan seorang kakak tingkat, yang cukup terkenal dan disegani banyak mahasiswa lainnya. Meskipun kita menyadari, bahwa siapa dan bagaimanapun status sosial seseorang, ia tetaplah pelaku kejahatan seksualitas.

Demi Nama Baik Kita Semua

Setelah kabar tak sedap ini beredar begitu cepat dikalangan mahasiswa, pihak birokrasi kampus segera melakukan pemanggilan, dan penanganan terhadap kasus kekerasan seksual ini. Anggun menyadari, meskipun penanganannya terbilang lambat, karena dirinya sudah sejak lama memasukan pelaporan ini kepada pihak kampus, namun ia tetap berharap besar, pihak kampus dapat mengambil langkah bijak, untuk memberikan hukuman, dan setidaknya memberikan ketenangan kepadanya, sebagai seorang korban.

Namun, harapan tak sesuai kenyataan. Bukannya malah mengambil langkah tegas secepat mungkin, untuk menangkap dan memberikan sanksi kepada pelaku. Pihak birokrasi kampus, masih melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait, meski seluruh bukti telah terpampang jelas, dan ketentuan hukumannya pun telah diatur dengan rinci dalam tata cara penanganan kasus kekerasan seksual, di lingkungan kampus. Alasannya, tak perlu diragukan lagi. “Kami lakukan ini, demi nama baik kampus dan martabat kita semua,” ungkap pimpinan kampus dengan lembut.

Setelah beberapa saat, Anggun kembali menerima beberapa pertanyaan tajam dan sinis, dari beberapa petinggi di kampus. Ia memahami, bahwa berbagai pertanyaan itu, ditunjukan untuk mengetahui dengan baik, bagaimana kelalaiannya dalam menjaga diri, tubuh dan kesucian, serta kemuliaannya sebagai perempuan.

Nyatanya, kampus dengan segudang prestasi dan rating di atas rata-rata pun, tak mampu memahami persoalan ini secara sederhana. Lagi-lagi, ada harga diri dan martabat kampus yang dipertahankan. Bagi birokrasi kampus, ini bukan sekedar kasus kekerasan seksual. Lebih dari itu, terbukannya kasus busuk seperti ini, di kampus yang terkenal, akan sangat merusak citra dan moralitas kampus, bersama orang-orangnya.

Dengan pengalaman puluhan tahun menjadi Dosen, beserta buku dan berkas yang bertumpuk di meja mereka, tak mampu memahami bahwa, ada kemanusiaan yang rusak, dan hati yang gelap, untuk berempati terhadap penderitaan seseorang.

Kampus pun mengambil langkah damai, dengan berharap bahwa aktivitas kuliah bisa kembali lancar, Anggun dan lelaki bejat itu bisa berdamai, dan suasana kampus kembali steril, serta  mahasiswanya kembali sibuk mengerjakan banyaknya tugas perkuliahan. Kampus pun tak memberikan hukuman tegas, karena sang lelaki yang cukup terkenal. Menghukumnya akan menimbulkan berbagai pertanyaan kepada pihak kampus, yang membuat birokrasi terus tenggelam dengan masalah tersebut.

Teguran internal diberikan kepada sang lelaki, agar tidak mengulang kesalahannya lagi. Sementara Anggun, diminta bersabar, dan lebih berhati-hati jika beraktifitas di kampus yang telah sunyi.

Seperti banyaknya perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual lainnya, Anggun juga tidak menerima perlakuan adil. Kampus yang begitu dibanggakannya, berubah menjadi sarang para manusia munafik, busuk, dan terus menyuburkan perilaku keji.

Dilema Perlawanan

Anggun merasa kampus tak kunjung berperilaku adil, dalam menangani kasusnya. Perasaan sakit hati, mendorongnya untuk terus berjuang, mencari keadilan. Ia menginginkan adanya sikap tegas, dari pihak kampus, untuk menghukum mereka yang bersalah.

“Jika tak mendapatkan sikap tegas, maka perilaku seperti ini pasti akan terus berulang,” gumam Anggun.

Baginya, keperawanan yang telah direnggut oleh lelaki itu, tak bisa ternilai dengan apapun. Itu merupakan simbol kesucian dan kemulian seorang perempuan, yang telah dirampas dan dirusak dalam sekejap.

Banyak orang juga berpikir, bahwa seorang perempuan yang tak mampu mempertahankan keperawanannya seperti ini, adalah perempuan jalang yang tak suci dan hilang kemuliaannya.

Namun, alih-alih mendapatkan dukungan dari pihak kampus dan masyarakat. Anggun justru menerima narasi yang menyakitkan, dan membuatnya dilema luar biasa. Disisi lain, ia ingin memperjuangkan haknya, namun bertabrakan dengan martabanya yang terus terancam.

Mudah untuk mengetahui, bahwa masalah kekerasan seksual, adalah hal yang tabu, sekaligus sangat menarik untuk diketahui oleh banyak orang. Kenapa sangat tabu? Karena seksualitas adalah sesuatu yang sangat intim, yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Dan kenapa sangat menarik, karena keperawanan, dianggap sebagai simbol kemuliaan perempuan. Tentu, perempuan yang tidak lagi mulia, akan mudah dianggap sampah, dan orang lain akan berpikiran berkali-kali, jika harus berurusan bahkan menjalin hubungan serius dengan perempuan seperti itu.

Dengan kondisi batin yang masih terus tertekan, Anggun menerima nasihat dari berbagai Dosen di kampusnya, untuk menghentikan persoalan ini, dan kembalilah untuk fokus menyelesaikan kuliah. “kuliah yang benar, dan cepat. Ketika lulus, jadilah perempuan sukses, dan kau bisa berkuasa, untuk menghukum mereka, para predator seksual,” begitu kira-kira, narasi Dosen, saat menasehati Anggun.

Kebimbangan mulai bergelora dengan kuat di dalam dadanya. Jika kasus ini terus diperbesar, maka akan semakin banyak, mahasiswa dan masyarakat mengetahui, bahwa ia adalah korban kekerasan seksual, yang kini tak lagi suci, karena keperawanannya telah hilang. Namanya akan disebut-sebut, sebagai perempuan tanpa kemuliaan, yang tak pantas untuk diikuti oleh orang lain. Bahkan, bisa-bisa harus dijauhi.

Nama Anggun mulai ramai diperbincakangkan, baik oleh mahasiswa dan masyarakat di kampungnya. Ia diketahui, sudah dalam kondisi yang tidak perawan, tidak suci, dan berlumuran dosa dan kehinaan. Anggun pun terus merasa bimbang, sembari batinnya terus bergejolak. Rasa-rasanya, dengan banyaknya tekanan ini, ia tak mampu lagi melawan. Bukan hanya melawan tersangka, dan pihak kampus yang harusnya bertanggung jawab, ia juga tak mampu menahan pandangan buruk dari masyarakat, tentang kesuciannya yang telah hilang dan direnggut oleh lelaki sialan itu.

Terbukannya kasus Anggun secara umum, dapat membuat dirinya didiskriminasi, akibat kehilangan keperawanan, kesucian dan kemuliaan sebagai seorang perempuan. Dimasyarakat kita, kesucian seorang perempuan, sangat lekat dengan tubuh, yang berarti ketika tidak mampu dijaga oleh perempuan itu, maka ia tak lagi memiliki kehormatan sebagai perempuan.

Tentunya, sebagai seorang perempuan, Anggun sangat malu, jika kabar tentang keperawannya yang telah direnggut ini, beredar terus dikalangan mahasiswa dan masyarakat. Pilihan untuk menghentikan penanganan kasus, dan menutup masalah ini, menjadi satu-satunya opsi, yang nampaknya bisa menjaga Anggun, dari pandangan diskriminatif. Langkah seperti ini, nampaknya layak diambil, jika seseorang hidup dalam masyarakat yang cukup awam, dan dikuasai oleh pola pikir patriarki.

Dengan penuh tekanan dan ketabahan, Anggun menghentikan dan menutup kasusnya. Ia berharap, kasus ini bisa hilang dari permukaan, dan tak akan banyak yang mengetahui, bahwa keperawanannya telah hilang, dan martabatnya sebagai perempuan, akan tetap terjaga dengan baik.

Sejak saat ini, ia tidak lagi bangga dengan kampusnya, yang ternyata cacat dalam berempati terhadap penderitaan mahasiswanya. Sifat mudah berempati dengan penderitaan seseorang, memang luput diajarkan di ruang-ruang perkuliahan, oleh para Dosen dengan deretan gelar yang dimilikinya. Bahkan, mereka sendiri nampaknya, masih belum mudah bersikap demikian.

Mitos Kesucian

Apa yang dialami oleh Anggun, merupakan potret buruk, yang seringkali menimpa perempuan di negeri ini. Perempuan yang rentan dengan kekerasan seksual, malah harus menerima rasa sakit yang berlapis-lapis, karena ketidakmampuan dirinya untuk melawan, dan dipaksa untuk bersikap baik-baik saja. Padahal, ada dada yang begitu sesak, batin yang begitu hancur, dan harga diri yang sia-sia.

Kasus seperti ini, memang sering terjadi dalam masyarakat yang didominasi oleh pola pikir patriarki. Perempuan kerap kali menjadi obyek kesalahan. Patriarki, memang selalu memposikan perempuan sebagai mahluk kedua, yang jauh dari kesetaraan. Alhasil, jika cara pandang patriarki terus digunakan dalam menyelesaikan sebuah perkara, perempuan akan selalu mendapatkan dalih, untuk disalahkan. Meskipun sebenarnya, ia adalah korban. Namun, bisa dengan mudah, menjadi penyebab, dan pelaku utama dalam setiap kesalahan.

Tubuh perempuan begitu diagungkan, dan disimbolkan sebagai kesucian yang hakiki. Kehilangannya, sama seperti kehilangan kemuliaan sebagai perempuan. Cara pandang seperti ini, membuat perempuan sangat menjaga tubuhnya. Keperawanan adalah sesuatu yang mahal. Kepemilikannya, membuat perempuan punya harga yang tinggi. Jika tidak, maka sebaliknya. Perempuan hanya akan dianggap, sebagai sebuah tubuh tanpa ada kemuliaan.

Menjaga tubuh, tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Tentu banyak alasan, yang membuat perempuan kehilangan keperawanannya. Salah satunya seperti Anggun, yang kehilangan keperawanan, dengan cara yang kejam dan tak direlakannya. Ada juga yang rela kehilangan keperawanan, karena bertarung dengan keperluan hidup. Apakah mereka, tak lagi mulia, karena kehilangan keperawanan?

Perempuan begitu takut, untuk mengungkapkan pelecehan dan kekerasan seksual yang diterimanya. Alasanya tak lain adalah, ketakutan menerima pendangan buruk, dan dianggap kehilangan kesucian, serta mahkota sebagai perempuan. Apalagi, jika diketahui banyak orang. Perempuan akan semakin malu, dan terpuruk. Alhasil, pilihan satu-satunya, adalah memilih diam dan bersabar, dengan tekanan batin yang diterima, kala melihat pelaku kekerasan tersebut, berleha-leha didepan matanya. Sambil berharap, ada balasan dari Tuhan yang maha esa.

Kondisi ini nampaknya menjadi masalah runyam, dan sulit dilihat oleh masyarakat kita. Kesucian perempuan, tidak hanya sekedar tubuh. Ia lebih besar dari lapisan kulit yang merona. Dan lebih mulia, dari segupal daging di dalam celana.

Pemujaan terhadap keperawanan, menjadikan kemuliaan perempuan, bersandar pada sesuatu yang fana. Ia benar, kulit dan keperawanan, adalah raga, yang dalam falsafah penciptaan manusia, ia berasal dari lempur busuk (tanah). Maka sudah sepantasnya, ketika manusia meninggal, kulit yang mulus, serta tubuh yang seksi itu, akan kembali menjadi tanah, seperti sediakala.

Namun sayangnya, perempuan yang telah kehilangan keperawanannya, telah dianggap tak berharga, menjadi sisa, atau sampah dan barang bekas. Mudah untuk kita menemukan, bagaimana para perempuan yang ditinggal suaminya, disebut sebagia janda, yang hina dan rendahan. Mereka menjadi sasaran para istri, yang takut suaminya tergoda. Yah, karena jika suaminya berpindah hati, maka para istri inilah, yang juga akan menjadi barang bekas.

Kenapa seperti itu? Yah lagi-lagi, karena kita menganggap kemuliaan perempuan, hanya sebatas pada keperawanan, yang menjadi simbol kesucian. Maka, ketika tak lagi perawanan, perempuan harus menerima konsekuensi dari pandangan seperti itu. Menyakitkan memang, tapi itulah realitasnya.

Kondisi ini berbeda dengan seorang lelaki. Tak peduli, seberapa banyak ia gonta-ganti pasangan, dan seberapa banyak perempuan yang ditidurinya. Ia tetap spesial, karena kemuliaan dan kesuciannya dianggap tidak terletak pada keperjakaan. Namun pada kerja keras, dan tanggung jawabnya. Berbeda dengan perempuan, sekeras apapun kerja dan kasih sayangnya, ia tetaplah barang sisa, yang kehilangan kesucian. Apapun penyebabnya.

Lagi-lagi ini adalah cara pandang patriarki, yang sangat meminggirkan perempuan, sebagai mahluk yang dipilih Tuhan, menjadi kesempurnaan bagi semesta.

Penulis menyebutnya sebagai mitos kesucian. Bagi penulis, kemuliaan seorang perempuan, lebih dari sekedar tubuh dan keperaawanannya. Perempuan dianggap suci, ketika hatinya bersih dan memiliki kesungguhan dalam memberikan kasih sayang. Kesucian ini sangat sempurna, dan lebih dari sekedar kenikmatan tubuhnya.

Perempuan bisa kehilangan keperawanan dengan berbagai cara, tetapi tidak dengan kerelaannya. Ia bisa memberikan keperawanan, dengan tanpa kerelaan. Selain Tuhan, dirinyalah yang tahu, bagaimana semesta berguncang hebat, akibat ketidak relaan ini.

Tubuh dan keperawanan, memanglah sangat penting bagi perempuan. Tetapi mengukur kemuliaan dan kesucian, apalagi martabatnya, tidak cukup jika hanya bersandar pada raga seperti itu. Ia lebih dari sekedar materi, yang selalu erat dengan kepuasan dan kenikmatan nafsu.

Memiliki hati yang bersih, jiwa yang sehat, serta kasih sayang dan ketulusan yang tiada habisnya, adalah kemuliaan dan kesucian perempuan, yang tak akan pernah mampu diukur. Ia lebih dari sekedar perawan atau tidak. Dan ia lebih berharga dari sekedar tubuh, dan berbagai mitos kesuciannya.

Kita menyadari, bahwa menjaga tubuh dan kemurniannya, adalah hal yang harus dilakukan. Tetapi, menjadikannya sebagai standar untuk melihat kesucian dan kemuliaan perempuan, adalah sebuah kedangkalan berpikir. Atau bahkan, kita tak pernah berpikir, bahwa tubuh adalah raga yang fana. Sedangkan suci dan kemuliaan, adalah perwujudan jiwa yang terus melakukan perbaikan.

Perempuan punya hak untuk selalu melawan. Ia selalu punya alasan, untuk dihormati dan membangun kisah yang baru. Kemuliaannya akan bersinar cerah, ketika ia mampu melawan, dan memperjuangkan haknya selayaknya manusia lain. Perempuan tak bisa dibungkam oleh mitos kesucian, yang mengelilinginya. Dan yakinlah, Tuhan tahu benar, tentang itu. Bahwa tubuh, akan kembali ke tanah. Sedangkan jiwa yang bersih, serta hati yang tulus, akan terbang mengarungi semesta, menuju keagunggan Ilahi.

Terimakasih untuk para perempuan yang berani manabrak mitos, merobek tirani, dan melawan pembodohan. Kalian berkontribusi, dalam mencerdaskan dan mendewasakan bangsa ini.  

Tabik.

Perempuan Terakhir dari Keluarga Petualang

Terkadang kita sepakat perihal pembunuhan, demi kebahagiaan orang lain. Dan, kita rela mati—mengubur segala impian, demi sebuah kepatuhan terhadap orang terkasih.

***

Saking cinta pada dunia petualangan, ayahku menamaiku dari nama sebuah gunung di kota tempat aku dilahirkan, Gunung Binaya. Jika Shakespeare, dramawan Inggris, risih menyoal what is a name—apalah arti sebuah nama, hal berbeda dengan ayahku, menamaiku Binaya, harapannya aku tumbuh seperti dirinya, seorang petualang.

Sebenarnya aku sendiri begitu tak memahami, kenapa kedua orangtuaku, terutama ayahku lebih betah di gunung daripada di rumah? Atau, kerapkali memasksaku menjejaki jalannya?

Hingga tibalah di suatu hari, segala keresahan selama ini, pun tak kuasa kubendung, laksana awan tak kuasa menampung butir-butir air, lalu menumpahi  menjadi hujan.

“Ayah, kenapa…,” suaraku masih perawan di rongga mulut. Seperti mengetahui maksudku, Ayah lalu memotongnya.

“Kunamaimu, Binaya, kelak kau menapak jalan kami, jadilah seorang petualang, Nak.” Suara Ayah lirih. Lamat-lamat kubiarkan kata-kata ayah berlalu begitu saja. Bak angin menerbangkan debu, lalu tiada.

Kami terdiam sejenak. Kutatap Ayah dalam-dalam. “Ayah telah mengusik hidupku dengan takdir yang dibuat ayah atas diriku. Petualangan, bukanlah duniaku dan bukan pula takdirku,” pekikku seperti petir memorak-porandakkan semesta.

Ayah semakin tajam melototnya, air mukanya memerah bak terik matahari.

“Ayah, aku lebih damai di sini, bersama buku-buku. Aku tak mau lari dari kenyataan hidup. Di sini, aku bisa berbagi bersama mereka yang membutuhkan,” cetusku pelan seiring hembusan angin yang berlawanan arah.

Tetapi apa yang dibalas ayahku.  Aku sontak dibuat kaget. “ Maling Kundang, tak lagi tinggal dalam legenda, tetapi di rumah kita, dia adalah kau!”  pekiknya penuh kesal. Sembari pergi meninggalkanku seorang diri.

Sejak saat itu, di rumah kami seperti neraka. Pertentangan disemai, seperti bangsa jin terhadap manusia. Dendam pegitu apik dipelihara, dibiarkan bermukim di rumah kami.

Seperti ayahku, kumiliki komitmen yang sama keras. Aku terus menolak, sebab petualang bukan duniaku. Duniaku adalah dunia keheningan, di perpustakaan atau ruang-ruang senyap jiwaku tinggal. Di sana, telah matang kubekali diriku dengan membaca, berdiskusi, hingga terlibat di dalam gerakan-gerakan literasi.

Namun, begitulah orangtua, katanya lebih mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk bagi anaknya. Bagi ayahku, duniaku ini telah merampas segala hal dariku, dari wawancara kerja yang tak kunjung datang, jodoh yang masih dipeluk Tuhan, sampai-sampai aku tidak memiliki kebebasan dicecap. Tak seperti dunia mereka yang penuh purnarupa dan purnawarna.

Ayahku masih saja memaksa—dengan penuh kekesalan. “Andai saja saat itu, secuil kebebasan  diberikan Tuhan kepadakku, aku tak mau memilih lahir dari kantong rahim seorang petualang. Namun, kelahiranku adalah sebuah kutukkan bukan pilihanku,” gumamku, kali ini tanpa bersilat kata dengan Ayah.

Menyerahkan hidup demi sebuah kematian, seperti inilah imanku perihal petualangan. Atau, terkadang aku berpikir, sejatinya seorang pembunuh adalah orang-orang terdekat kita, meniadakan segala kehendak kita dan menggantikannya dengan kehendak mereka. Seorang pembunuh memiliki banyak cara melumat nyawa seseorang. Sama halnya seperti ayahku, pagi itu.

“Binaya. Sudah, siapkah kamu?” suara ayah melengking. Tingkah ayahku mirip-mirip tingkah penjajah yang berigas, sigap melumat darah leluhur-leluhur kita.

Ayo, packing!suaranya pelan tetapi beruris-giris, lalu darah bersimbah ruah. Kali ini, aku tak kuasa melawan, sebab dengan nekat ayahku menghunus  sebila belati ke leherku.

Aku begitu lemas tak berdaya, dengan sigap, sebuah keputusan begitu berat kubuat. Semata-mata demi pengabdian terhadap kedua orangtuaku. Terkadang kita sepakat soal pembunuhan, pembunuhan atas dunia sendiri, demi kebahagian orang lain.

Seperti dilahirkan kembali, kali ini aku mengimani rainkarnasi—diri yang baru dengan dunia yang baru. Aku sendiri tidak menyangka, dapatilah diriku di antara kesungguhan hidup dan kepura-puraan.

Di sana, di puncak gunung, aku merasakan hal yang berbeda, mungkin karena baru pertamakali dalam hidupku menjajaki bongkahan tanah yang lebih tinggi, hingga menyentuh singgasana Tuhan.

“Binaya, anakku, selamat datang di dunia kami, dunia petualangan. Gunung, rumah bagi jiwamu. Sebuah tempat pembebasan diri dari kekerasan dan pemerasan, tempat tinggal kita, Nak,” cetusnya.

Ayahku seperti meniup ruh ke dalam jiwaku. Di penghujung timpalnya yang sekarat, lalu ia tertawa lepas, dengan jiwanya yang bebas. Dari apa yang diucap ayahku, aku merasakan hal itu, seperti kawanan burung Walet yang terbang bebas di atas kepalaku, sembari mengajakku melihat  klorofil daun yang sedikit malu-malu dilukis cahaya matahari.

Bukan di rumah, tetapi di puncak gunung, awal kukenali dengan baik kedua orang tuaku. Sebab, setengah dari perjalanan hidup mereka dihabiskan di gunung. Keduanya percaya, gunung menjadi rumah kami yang kedua, di sana kebebasan dipetik, lalu rindu diterbangkan pada semesta.

Mulai detik itu, aku selalu mengekor ke mana pergi kedua orangtuaku. Dari besar jejeran gunung di negeri ini, kami telah menjejakinya. Kemolekan gunung kami dijamu,  seperti gadis perawan yang dikejar lelaki hidung belang, itulah kami terhadap gunung. Kebahagian semata, kami tunaikan dari setiap pendakian.

Terlalu jauh kaki menapak, terlalu banyak keindahan dipetik, aku telah melupakan tumpukan buku dan kesenyapan perpustakaan. Hingga, tiba pada sebuah pendakian, semua kembali beransur-ansur seperti semula. Hari di mana,  aku kembali kenali diriku yang sesungguhnya.

Hari itu, pagi masih buta, kami menyusuri hutan dengan melewati sebuah mukim yang tertutup bayangan pohon bambu.

“Wow, indah sekali negeri ini, Ayah.”

“Iya, Na,.” sahut Ayah dari punggung belakangku. Seketika itu, ibuku menoleh di wajahnya, sembari melemparkan senyumnya kepadaku. Kami pun berbalas senyum. Lalu, dari senyum itu, kembali kulempar pada kerumunan gadis dan pemuda belia yang berdiri di pojok-pojok gubuk membentuk kerumunan.

Mataku tak lepas dari sebuah kerumunan itu. Kuhentikan langkah kakiku. “Kenapa berhenti, Nak?” tegur ayah yang sudah berdiri disampingku.

“Apa yang kaulihat, Nak?” aku belum juga membalas tanya Ayah. Ibu berjalan mendekati arah kami, melempar pertanyaan yang sama. Dari kejauhan, seorang gadis kecil berjalan menghampiri kami, yang menepi dari badan jalan. Suaranya lepas dari badannya.

“Kalianlah guru yang dikirimkan untuk kami? ucapnya tidak jelas, tetapi aku bisa menangkap maknanya. Kami hanya berbalas pandang, tanpa menjawab tanyanya.  Sembari langkah kaki mendekat, aku merasakan nafasku sekarat.

“Ayo, Nak,” pinta Ibu, sembari melangkah meninggalkan kami. Aku masih terdiam seribu bahasa. Dalam hatiku, apa yang meski kusampaikan kepada gadis ini.

“Apa yang kau pikirka?” Sontak dibuat kaget dengan tanya Ayah.

“Oh, itu.” Kutatap muka gadis kecil itu dalam-dalam.

“Maksud kamu, gurunya, iya?” tanya Ayah lagi.

“Iya.” Sembari mengangguk kepalaku.

Gadis kecil itu, lalu membelakangi kami, pergi kembali pada kerumunan dengan jiwanya yang kosong, aku mengetahuinya dari sorot mata yang menatapku terakhir kalinya.

Di dalam perjalanan aku masih dihantui pertanyaan gadis itu. Aku merasakan diriku sebanarnya tinggal di sana. Membekali diri selama ini sebagai pegiat pendidikan, seharusnya di sanalah tempatku dengan segala impianku. Kali ini, aku benar-benar kehilangan sensasi kemolekan gunung atau danau-danau hijau. Hanya kembali menjadi pegiat pendidikanlah tingal di kepalaku, lalu turun membakar jiwaku.

Suatu hari, bermaksud kusampaikan niat untuk kembali ke mukim tersebut, kepada kedua orangtuaku, namun apa yang terjadi?

“Kamu siapanya mereka?”

“Ayah tidak mengizinkan.” Diujung timpalnya, airmukanya memerah.

“Tapi….,” bantahanku belum berakhir.  Disambut ayah lagi. “Pokoknya, Ayah tidak mengizinkan.”

Hari-hariku adalah pergolakan batinku, dengan ketidakiziman Ayah, sebagai pegiat pendidikan. Namun aku selalu percaya bahwa yang namanya pilihan harus ada yang dikorbankan. Entah, dalam bentuk apa?

Tepat hari Senin, tanpa kain bendera dikibarkan, di luar gubuk reyot btertulis nama, “Sekolah Alam.” Kupastikan diriku benar-benar berdiri berhadapan dengan gadis dan pemuda kecil yang kulihat, tempo hari.

“Namaku, Binaya, sahabat kalian.”

Sejak itu, kuyakinkan diriku sebagai sahabat mereka, bukan hanya menikmati keindahan alamnya saja, akan tetapi mendidik mereka agar tetap mempertahankan kemolekan alamnya, dari bidik panah sang pemburuh yang serakah, termasuk ayahku.

 

 

 

Rashomon: Membincang Kegilaan

Setelah membaca Rashomon (2015), kumpulan cerpen karya Akutagawa Ryunosuke, saya lantas dilanda heran. Mengapa juga orang yang pernah mengalami sakit jiwa, justru melahirkan karya yang sangat brilian? Anda mungkin mengenal Nietzsche, yang dalam kondisi kejiwaan yang sakit justru lebih produktif menulis buku yang berisikan pemikiran cerdas dan rumit. Konon, The Will to Power lahir di puncak-puncak kegilaannya. Lantas, bagaimana dengan Akutagawa? Membaca Rashomon maka anda mungkin akan sulit mempercayai jika penulisnya adalah persona yang pernah ditimpa schizophrenia, dan akhirnya bunuh diri di usia 35 tahun.

Rashomon berisikan kumpulan cerita hasil imajinasi cerdas Akutagawa, yang beberapa di antaranya sangat terkenal di masa abad 20, sampai sekarang. Buku dengan ketebalan 167 halaman ini memuat tujuh cerpen, termasuk yang paling panjang dan juga yang paling terkenal, “Kappa”. Meski ketebalannya cukup tipis, tidak mudah menghabiskannya hanya dengan satu malam, setidaknya bagi orang yang ingin lebih memahami kedalaman makna yang coba disampaikan oleh Akutagawa. Kekuatan simbolisme yang sangat kuat, juga bangunan konflik yang tak sederhana, menjadikan setiap pembaca mesti sedikit berpikir keras untuk memahami maksud terdalam pada setiap bangunan cerita.

Namun, secara umum, setiap isi cerita dalam Rashomon selalu mengangkat perkara nilai dan segenap batasannya yang kabur, juga kenyataan hidup yang penuh dengan ironi. kesemuanya digambarkan melalui hubungan antara orang-orang dan persona yang diposisikan sebagai the other, juga melalui imajinasi mahluk-mahluk aneh. Dalam satu kisah yang berjudul “Rashomon”, anda akan menyadari betapa rumitnya perkara moralitas itu. Simaklah bagaimana seorang nenek kurus melalukan satu tindak kriminal karena tuntutan hidup, dan bagaimana ia memahami tindakannya sebagai perihal yang mesti dimaklumi, sebab ia mengambil sesuatu dari orang yang di masa hidupnya kerap melakukan kejahatan. Dengan demikian, bukankah baik dan buruk itu batasannya begitu tipis, bahkan saling silang sengkarut?

Melalui cerita tentang si nenek pencuri, saya pikir, Akutagawa hendak berkisah mengenai kegilaan yang kerap menyelinap di setiap tindak tanduk manusia, toh ketika kegilaan itu dimaksudkan sebagai ihwal yang melampaui batas, kekacauan, dan perkara yang tak masuk akal. Yang lebih gila lagi apa yang dilakukan seorang genin, samurai kelas rendah yang hendak menghadang kejahatan yang dilakukan nenek itu. Di satu sisi ia mencoba menjadi penegak moralitas, namun di sisi lain turut pula melakukan kejahatan, dengan merampas pakaian yang dikenakan nenek itu.

Dalam buku ini, kegilaan tak berhenti hanya dalam satu cerita saja. Dalam cerita lainnya, “Kappa” misalnya, realitas sosial kemudian digambarkan sebagai ihwal yang centang perenan. Hal demikian dikisahkan melalui kehidupan masyarakat kappa, mahluk yang mirip katak namun memiliki paruh. Dari situ, kita akan menemukan kehidupan yang kacau dan rada-rada irasional. Seperti pembantaian buruh dianggap biasa saja, yang diperlihatkan melalui dialog antara tokoh “aku” dan seorang kappa kapitalis bernama Gael. Pun, potret pesimisme yang menjangkiti seorang individu, turut digambarkan melalui tokoh kappa penyair bernama Tock, yang kemudian mengidap schizophrenia, dan akhirnya bunuh diri. Tentu, hal tersebut hanyalah dua permasalahan, dari sekian banyak persoalan kehidupan yang diangkat dalam “Kappa” yang, sebegitu menyedihkannya, tokoh utama bahkan berusaha keluar dari carut-marut dunia yang dijalaninya, dan akhirnya menjadi gila.

Dan soal orang-orang yang terhina oleh relasi identitas dan kelas sosial adalah perihal yang turut diangkat, setidaknya dalam dua cerita: ”Bubur Ubi” dan “Hidung”. Dalam problem identitas hari ini, selalu saja ada yang merasa terpinggirkan, merasa sebagai the other ditelikung mayoritas. Beberapa di antaranya akan berupaya meniru citra mayoritas karena dianggap sebagai identitas yang lebih ideal. Namun, apakah mereka menemui kebahagiaan setelah itu? Kisah dalam “Hidung”, saya pikir menyinggung soal demikian. Diceritakan, seorang pendeta memiliki hidung panjang, dan menjadi terkucilkan karenanya. Dengan berbagai cara, ia akhirnya berhasil memendekkan hidungnya, seperti milik kebanyakan orang. Namun, justru orang-orang semakin menertawainya, karena bagi mereka, si hidung panjang menjadi semakin aneh karena tidak berhidung panjang. Pada akhirnya ia tak bahagia.

Syahdan, kisah-kisah dalam Rashomon akhirnya hadir tidak dalam rangka berkhotbah mengenai heroisme, dan penggambaran dunia ideal seharusnya seperti apa. Justru, ihwal yang retak, tak utuh, dan paradoks tentang kehidupan yang dijalani manusia. Sebagai seorang yang sempat gila, Akutagawa memang lihai membicarakan kegilaan.

Teror Hantu

Lucas baru saja datang dari wangsa yang jauh: Belanda. Ia mengunjungi Kelurahan Samalewa, Pangkep, untuk meneliti sejarah Kerajaan Siang. “Ruangannya sudah dibersihkan Pak, silakan masuk. Biar saya yang mengangkat barang-barangnya,” kata pemilik indekos. Tapi Lucas hanya mengajukan telapak tangannya ke arah pemilik indekos, sebagai tanda penolakan. “Biar aku saja,” katanya, dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih. Sehingga dibawalah sendiri barangnya memasuki kamar.

Di Samalewa memang cukup banyak tersebar indekos. Sebab orang yang berasal dari kabupaten lain, khususnya kabupaten terdekat, memilih menyekolahkan anaknya di suatu sekolah menengah ternama di Pangkep yang didirikan di Samalewa. Sehingga, warga setempat memanfaatkan kesempatan itu. Beberapa warga mendirikan indekos untuk anak-anak dari luar yang mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Tapi Lucas datang sebagai sejarawan. Dan sebenarnya ia bisa menyewa tempat yang lebih mewah lagi. Cuma ia merasa indekos itu lebih dekat dari tempat penelitiannya, sehingga ia lebih memilih menetap di sana.

“Hai Sukri….,” pemilik indekos memanggil orang yang melintasinya setelah beberapa detik yang lalu Lucas memasuki kamarnya. Orang itu menghampirinya. Kemudian terjadilah percakapan antara keduanya.

“ Tadi malam anakku mengaku ditakut-takuti oleh hantu itu.”

“Dia melihat wajahnya?”

“Seperti anak-anak yang lainnya, dia tidak melihatnya. Hantu itu menakut-nakutinya dengan membuat gelas di hadapannya melayang-layang.”

“Terus?”

“Yah, anak saya ketakutan. Dia tak mau keluar rumah.”

“Meskipun itu siang-siang?”

Pemilik indekos hanya menganggukkan kepalanya.

Permbicaraan mereka didengar oleh Lucas. Sebab si empunya indekos bercengkrama dengan Sukri tidak jauh dari kamarnya. Sehingga pastilah Lucas mendengarnya. Tapi, sepertinya bule itu menganggap serius pembicaraan mereka. Sehingga belum juga puas beristirahat, ia pergi mengintip mereka dibalik jendela, kemudian menguping pembicaraan mereka. Sukri menyadari bahwa Lucas sedang mengintip mereka. Sehingga saat Sukri menatapnya, Lucas berhenti mengintip, dan langsung menutup jendela dengan gorden.

“Dia datang dari Belanda, katanya mau meneliti,” kata pemilik indekos untuk memberikan penjelasan terhadap Sukri mengenai bule itu.

“Dari mana kau tahu?”

“Dia sendiri yang kasih tahu.”

“Memangnya kamu pintar bahasa bule?’

“Dia pintar bahasa Indonesia.”

***

Masih pagi-pagi sekali Lucas sudah mulai menjelajah untuk memulai penelitian. Ia hendak mengunjungi setiap tokoh masyarakat dengan didampingi oleh Sukri. Tentu saja kemarin, sudah terjadi kesepakatan antara Lucas dan Sukri untuk bersama-sama ke rumah masing-masing tokoh masyarakat. Setelah bercengkrama dengan pemilik indekos, Sukri mendatangi Lucas di kamarnya dan bercerita banyak hal khususnya mengenai kondisi Samalewa dan beberapa hal mengenai Kerajaan Siang. Oleh karena Lucas memberitahu niatnya untuk bertemu para tokoh masyarakat kepada Sukri, sehingga Sukri menawarkan kesediaannya untuk menemani Lucas. Pastinya Lucas menerima ajakan itu.

Tokoh masyarakat petama yang mereka kunjungi untuk hari ini adalah Syarifuddin. Seorang yang menurut Sukri bisa memberikan banyak informasi mengenai sejarah Kerajaan Siang dan perihal lain mengenai kebudayaan Pangkep. Mereka hanya berjalan kaki. Dari arah belakang, terlihat rombongan bocah mengikuti mereka sedari tadi. Tentulah bagi para bocah itu, melihat bule adalah hal yang sangat langka, dan hanya bisa mereka temui pada tayangan televisi. Tapi di tengah-tengah perjalanan, Lucas bertanya mengenai hal yang sebenarnya dianggap ganjil oleh Sukri. Sebab menurut Sukri, yang juga seorang guru fisika, sekiranya seorang peneliti tidak peduli dengan hal yang dipertanyakan oleh Lucas.

“Apakah benar di sini ada hantu?”

“Kenapa kau bertanya seperti itu? Kau juga percaya hantu?”

Lucas hanya diam, sembari ditatap penuh heran oleh Sukri.

“Kita sudah sampai”

***

Kediaman Syarifuddin adalah rumah panggung. Di dalam rumahnya berisi perabotan yang terbuat dari logam dan tembaga. Dinding rumahnya berhiaskan foto keluarga dan lukisan pantai di kala sore hari. Mereka kemudian duduk bersama di ruang tamu, dan ditemani oleh sang empunya rumah. Mereka berbincang-bincang sembari anak perempuan Syarifuddin menghidangkan teh dan pisang goreng di atas meja.

“Hmmm… kamu datang dari Belanda yah.” Syarifuddin memulai pembicaraan.

“Iya, Pak”

“Apa yang kamu mau ketahui tentang Kerajaan Siang?”

“Begini Pak….eeee….”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…….” Anak perempuan Syarifuddin tetiba berteriak saat memasuki dapur. Mereka segera menuju ke sana.

“Kamu kenapa, Nak?” Syarifuddin menghampiri anaknya.

“Ada hantu!” Anak perempuannya terlihat gemetaran dan menutup matanya saking ketakutannya.

Tapi Lucas, Sukri, begitu pun Syarifuddin tidak melihat apapun kecuali perabotan dapur ,beberapa ikat sayur, tiga ekor ikan bandeng mentah yang disimpan di atas piring, dan rempah-rempah.

“Bagaimana wajahnya?” kata Sukri.

Anak Syarifuddin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Panci itu tadi melayang-layang. pasti hantu itu yang melakukannya,” sembari menunjuk panci yang berada di atas kompor.

Kemudian istri Syarifuddin datang, dan menemani anaknya masuk ke kamarnya. Dan segera Syarifuddin membaca ayat kursi dan beberapa mantra kuno yang bahkan Sukri tidak tahu maksudnya apalagi Lucas.

“Dia sedang apa?” Tanya Lucas

“Mengusir hantu.” Sukri memandangi Lucas dan berkata, “Kamu sakit yah?”

Lucas dengan tubuh yang gemetaran, wajah yang pucat, dan berkeringat hanya mengeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah melakukan ritual pengusiran hantu, Syarifuddin langsung berkata penuh murka di hadapan Sukri dan Lucas. “Aku tidak terima kalau daerah ini diteror oleh hantu!” Kemudian ia menatap Sukri dan berkata, “Sampaikan pada pak lurah bahwa sebentar malam kumpul di rumahku. Biar saya yang kumpulkan semua tokoh adat. Kita akan lakukan ritual pengusiran hantu. Sudah banyak anak-anak yang diteror oleh hantu busuk itu. Ini tak bisa dibiarkan!”

Sukri hanya mengangguk.

***

Langit menghitam, dihiasi dengan pendar gemintang. Siang telah berganti malam. Di kamarnya, Lucas sedang sibuk membuat kalung yang talinya dilingkari susunan bawang putih. Setelah selesai, Lucas mengenakkannya di leher, sembari memegang salib. Raut wajahnya nampak cemas. Sedang tubuhnya disandarkan di pojok dinding. Dia terlihat sangat ketakutan.

Sebenarnya Lucas sangat takut dengan yang namanya hantu. Dia tidak pernah lupa akan trauma masa kecilnya. Suatu ketika, di usia 5 tahun, Lucas mengaku pernah ditakut-takuti oleh hantu. Saat Lucas sedang berak di kamar mandi, ia melihat sabun dan sikat gigi melayang-layang. Sehingga, belum juga ia selesai berak, ia langsung keluar dari kamar mandi menuju kasur, dan membungkus tubuhnya dengan selimut.

Beberapa kali dia memberitahu ibunya, kakaknya dan ayahnya, tapi mereka tidak percaya, bahkan hanya dianggap lelucon. “Mana ada sabun dan sikat gigi melayang –layang.” kata kakaknya. Tapi teman Lucas percaya terhadap ceritanya. Suatu ketika, Lucas menceritakan pengalamannya saat diteror hantu pada seorang temannya. Temannya juga mengatakan bahwa ia pernah mengalaminya. Dia menunjukkan suatu gambar hantu kepada Lucas. Gambar itu adalah drakula. “Sebenarnya Hantu itu adalah ini,” kata temannya sambil menunjuk gambar tersebut. Seketika Lucas ketakutan saat melihatnya, bahkan sempat kencing celana.

Saat ini, dia merasa pergi ke tempat yang salah. Sebab, ternyata tempat yang ia kunjungi di teror oleh hantu. Sementara, kita ketahui bersama, Lucas sangat alergi dengan hantu. Dan aura kamar yang hening, ditambah suara jangkrik yang mengepung telinganya, membuat ia semakin ketakutan. Oleh karena merasa sudah tak tahan, akhirnya ia menelpon Sukri, dan mengundang ke indekos untuk sekadar menemaninya.

“Halo, ini dengan Sukri?”

***

Sukri tertawa terbahak-bahak setelah melihat penampilan Lucas yang menggunakan kalung bawang putih. “Kau tak mengerti, ini juga cara mengusir Hantu,” kata Lucas membela dirinya dari sindiran Sukri.

“Kok peneliti percaya hantu sih.”

“Peneliti juga manusia.”

“Iya, tapi kan, seorang peneliti itu selalu bersikap ilmiah. Hal-hal yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah tak mungkinlah dipercayainya.”

“Jadi kau mau bilang tak usah mempercayai hantu?”

“Kita kan belum membuktikannya secara ilmiah. Kamu ini akademisi atau bukan sih.”

“Persoalannya, sudah banyak yang diteror olehnya.”

“Tapi kan bisa saja mereka hanya terpenjara oleh fantasinya. Sehingga hantu yang sebenarnya ilusi, kemudian dianggap nyata.”

Lucas hanya diam.

“Begini saja,” Sukri melanjutkan pembicaraan, “Kita ke rumahnya Pak Syarifuddin saja. Di sana dilangsungkan ritual pengusiran hantu. Siapa tahu dengan menyaksikannya, kamu menjadi lega, dan akhirnya tercipta sugesti dalam pikiranmu bahwa hantu itu benar-benar telah minggat. Gimana?”

Lucas hanya mengangggukkan kepala.

***

Seperti tadi siang, mereka hanya berjalan kaki menuju rumah Syarifuddin, namun sudah tidak lagi diikuti oleh kawanan bocah yang keheranan dan takjub karena melihat bule. Jalanan yang dilaluinya sangat gelap, karena tak ditunjang oleh lampu jalan. Pun, terlihat sangat sunyi karena semua warga memilih nimbrung di rumahnya masing-masing, apalagi dengan adanya rumor mengenai teror hantu, pastilah di malam hari mereka tidak berani keluar, meskipun hantu ini sangat pandai menyesuaikan diri dengan situasi. Sebab di siang hari, ia juga bisa melakukan teror.

Di tengah-tengah perjalanan, mereka berdua tetiba berhenti. Ada sesosok orang yang sedang berdiri di tengah-tengah jalanan. Oleh karena gelap, mereka tidak bisa mengenali orang itu. Pun, mereka hanya dibekali pencahayaan yang tak cukup terang dari handpone-nya. Maka pastilah tidak bisa digunakan untuk menerangi perihal yang jaraknya cukup jauh.

Maka untuk memastikannya, mereka berdua melanjutkan perjalanan, sembari mendekati orang itu. Dan setibanya di sana, “Ha…ha… hantuuuuuuuuuuuuu…..” Sukri berteriak dan lari terbirit-birit pasca melihat orang itu. Parasnya sangat jelek, seperti wajahnya dipenuhi bisul. Rambutnya panjang menyentuh tanah. Sedang pakaiannya serupa gamis berwarna putih, sangat kotor dan kumuh. Dia sangat menakutkan. Dialah hantu itu. Tapi yang aneh adalah, Justru Lucas tidak lari. Padahal hantu itu sudah jelas ada dihadapannya.

“Kata Sukri ada hantu tapi kok aku tidak melihatnya.” Lucas mengarahkan penglihatannya di setiap penjuru. Tapi tidak melihat apa pun, seperti batu yang melayang, atau ranting pohon yang melayang. Kemudian dia berkata, “Maaf, anda siapa?”

“Akulah hantunya.”

Lucas hanya diam, sambil memandangi hantu itu.

“ Kamu tidak takut yah?” kata hantu itu.

“Hahahaha…jangan bercanda begitu. Nanti hantunya benar-benar datang”

“Akulah hantunya, Bego!”

“ hahahahaha… kau kira saya goblok. Hantu itu pakai jas hitam, wajahnya pucat pasih, dan memiliki dua taring. ”

Hantu itu kebingungan. Dia akhirnya berlalu, meninggalkan Lucas seorang diri.