Arsip Tag: Pappalimbang

Kisah Pappalimbang Pulau Lae-Lae Makassar

Dalam menjalani hidup, ada banyak hal yang sering kali tidak sesuai dengan realita yang kita inginkan. Kadang ingin jalan yang lurus dan mulus, tapi ternyata kenyataan memberi jalan rusak dan berlubang. Begitulah proses hidup. Seringkali banyak dari kita membuat pilihan berat, baik itu untuk persoalan pendidikan, perkerjaan dan masih banyak lagi. Namun, ketika kita menerimanya, mencintai, dan mensyukuri apa yang sudah menjadi pilihan kita, baik itu persoalan pekerjaan maupun lainnya maka akan terasa lebih ringan dan mudah.

Awalnya saat pertama kali mengetahui tentang pappalimbang saya tidak memandang penting profesi ini. Namun, setelah ikut serta di dalam prosesnya rasa cinta saya tumbuh pada profesi pappalimbang karena sosok Pak Tiro. Seorang pria paruh baya yang begitu mencintai pekerjaannya. Beberapa hari yang lalu saya ingin menyeberang ke Pulau Lae-Lae. Sebelum melanjutkan mungkin saya jelaskan sedikit apa dan di mana Pulau Lae-Lae, barangkali ada yang belum mengetahuinya. Pulau Lae-Lae adalah sebuah pulau kecil yang berada di Sulawesi Selatan yang jaraknya hanya 1,5 km dari pesisir Pantai Losari Kota Makassar. Kira-kira 10 menit waktu perjalanan. Sekitar 90% penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan jasa transportasi penyeberangan antar pulau. Warga Makassar menyebut profesi ini dengan istilah khas lokal: “pappalimbang”.

Pappalimbang merupakan suatu pekerjaan jasa transportasi penyeberangan antar pulau yang biasa masyarakat lokal gunakan untuk aktivitas keseharian mereka maupun untuk berwisata. Pekerjaan di bidang jasa ini membutuhkan pelayanan yang baik agar kepuasan pengguna jasa meningkat dan apabila kepuasan pengguna jasa meningkat, maka akan berpengaruh pada peningkatan penumpang. Pappalimbang sangat penting bagi para warga Pulau Lae-Lae karena selain bisa menjadi jasa penyeberangan, ia juga dapat mengangkut bahan-bahan pokok dari kota ke pulau. Dermaga Kayu Bangkoa salah satu pusat pappalimbang yang ada di Kota Makassar.

Nah lanjut, beberapa hari yang lalu saya dan beberapa teman saya ingin menyeberang ke pulau Lae-Lae karena ada tugas dari tempat magang. Beberapa teman sudah menunggu kedatangan saya. Saat sementara memarkirkan motor di depan dermaga ada seseorang pria paruh baya menghampiri saya dan berujar “itu dek temanta di sana sudah menunggu” sambil menunjuk ke dalam dermaga. Saya pun dengan senyum menjawab “oh iye pak”. Ternyata ia adalah seorang pappalimbang dan sudah berbicara dengan teman saya mengenai jasa transportasi yang ia tawarkan.

Sambil berjalan memasuki dermaga saya berbincang dengan Pak Tiro. Ia seorang pappalimbang yang berumur 53 tahun, mempunya 2 anak. Ternyata Pak Tiro sebelumnya merupakan seorang nelayan tangkap. Biasanya Pak Tiro keluar sesudah salat Subuh untuk bekerja dan mangkal di Dermaga Kayu Bangkoa. Sambil menunggu penumpang Pak Tiro biasanya mencari pekerjaan tambahan seperti menjadi buruh angkat barang. Kegigihan Pak Tiro membuat saya kembali terkagum. Sesampai di hadapan teman-teman, Pak Tiro bertanya “Bagaimana sudah mau berangkat?” Tanya Pak Tiro. “Masih menunggu beberapa teman pak,” jawab saya.

Sambil menunggu teman yang lain datang, saya kembali berbincang dengan Pak Tiro. Ia bercerita dulu saat muda, saat masih menjadi nelayan pernah bekerjasama dengan sebuah perusahaan perikanan. Bersama teman-temannya, Pak Tiro menangkap ikan dan hasil tangkapannya di jual ke perusahaan. Uang hasil tangkapan yang diberikan perusahaan kemudian dibagi enam dengan teman satu kapal Pak Tiro.

Pak Tiro dan beberapa teman satu kapalnya yang berasal dari Takalar pernah ditangkap di wilayah perairan Australia karena illegal fishing. Kata Pak Tiro, saat itu ia dan rekan kerjanya tidak menyadari ternyata ia sudah berlabuh sejauh itu untuk menangkap ikan. Saat ditangkap kata Pak Tiro tidak ada penyiksaan atau hal buruk lainnya, justru di sana dia diberi makan yang enak. Pak Tiro yang tadinya takut jadi senang karena diberi makan enak , “Di sana sudah kayak hotel” kata Pak Tiro sambil tertawa.

Sebenarnya sejak kecil Pak Tiro sering mengikuti sang ayah bekerja yang berprofesi sebagai pappalimbang. Ayah Pak Tiro pada saat itu masih menggunakan perahu dayung. Saat mengikuti dan mengamati sang ayah bekerja, ternyata Pak Tiro menyukai pekerjaan tersebut. Ia juga selalu membantu ayahnya bekerja dan dari pengalaman tersebut, Pak Tiro memutuskan berhenti menjadi nelayan dan beralih profesi menjadi pappalimbang, sebuah profesi yang ia sangat senangi dan cintai.

Dari mengikuti dan menemani sang ayah bekerja sebagai pappalimbang kini Pak Tiro sudah memiliki kapal sendiri untuk ia kemudikan mencari nafkah. Kapal yang Pak Tiro miliki seharga ratusan juta dan sebenarnya masih ada tanggungan. Menurut Pak Tiro Januari tahun 2024, kapal itu sudah lunas dan akan menjadi miliknya sepenuhnya. Pak Tiro membiayai keluarganya dengan penghasilan yang ia dapatkan sebagai papalimbang. Pak Tiro bahkan sudah membiayai anaknya sampai menjadi seorang pegawai kelurahan dengan hasil jerih payahnya dari pekerjaan yang dilakoni bertahun-tahun. Pak Tiro masih memiliki anak yang bersekolah di bangku SMA. Anak Pak Tiro tinggal bersama ibu Pak Tiro dikarenakan sekolah anak Pak Tiro berada di sekitar rumah ibu Pak Tiro.

Pada saat penerimaan siswa baru, Pak Tiro berusaha keras agar anaknya bisa bersekolah di sekitar Pulau Lae-Lae bahkan sampai ingin membayar berjuta-juta agar sang anak bisa bersekolah tidak jauh darinya. Namun, apa boleh buat pemerintah menetapkan sistem zonasi pada sekolah yang dampaknya sangat besar bagi Pak Tiro dan keluarga. Pak Tiro harus berpisah dengan sang anak yang lokasi sekolahnya jauh dari Pulau Lae-lae. Pak Tiro sedih, tetapi kata Pak Tiro mau bagaimana lagi demi pendidikan sang anak. Pak Tiro terkadang rindu, jadi biasanya sang anak akan pulang ke rumah pada hari jumat untuk menghilangkan rasa rindu. Sebenarnya tiga hari merupakan pertemuan yang sangat singkat bagi Pak Tiro tetapi sudah cukup mengobati rasa rindunya pada sang anak.

Keseharian Pak Tiro sebagai pappalimbang selalu membuat saya kagum karena dalam menjalani keseharian, Pak Tiro selalu melibatkan Tuhan-nya. Pak Tiro termasuk orang yang religius. Sebelum berangkat bekerja Pak Tiro salat Subuh dan mengaji sebentar untuk menunggu terbitnya fajar. Pada jam 6 pagi Pak Tiro sudah berangkat ke dermaga untuk mencari nafkah dan saat mendengar azan berkumandang dia akan menghentikan segala aktivitas yang ia kerjakan dan langsung menunaikan salat. Pak Tiro tidak berani meninggalkan salat karena bagi Pak Tiro rezeki berasal dari sang pencipta, “Kenapa mau meninggalkan salat sementara rezeki dari sana,” kata Pak Tiro sambil tersenyum. Pak Tiro juga baik dalam menjalankan perannya sebagai warga Pulau Lae-Lae, ia adalah sekretaris masjid yang biasa menjalankan sumbangan dari rumah ke rumah warga untuk masjid yang berada di Pulau Lae-Lae.

Pulau Lae-Lae dari tampakan atas drone (sumber: Indo Drone)

Di sela menunggu penumpang, kadang Pak Tiro menjadi buruh, kadang membantu mengangkat barang penumpang kapal lain yang juga penumpang teman Pak Tiro. Kata Pak Tiro jika diberi upah alhamdulillah dan jika tidak diberi juga tidak apa, Pak Tiro ikhlas membantu. Pak Tiro selalu bersyukur atas apa yang ia punya. Pak Tiro tidak pernah berselisih paham dengan papalimbang yang lain karena menurut Pak Tiro rezeki sudah ada yang atur, “kita juga harus saling menghargai apalagi sesama pappalimbang,” ungkapnya. Pak Tiro bercerita biasanya ada penumpang yang sebenarnya sudah tawar menawar dengannya, tapi setelahnya disalib pappalimbang lain yang entah bagaimana ceritanya bisa demikian. Mungkin pappalimbang tersebut tidak mengetahui kalau Pak Tiro lebih dulu berbicara dengan si penumpang, tetapi dengan keikhlasan dan kesabaran Pak Tiro ia mengalah demi menghindari perselisihan antar papalimbang.

Selain Pulau Lae-Lae yang menjadi pengantaran keseharian, Pak Tiro juga melayani dan mengantar ke semua pulau di sekitar Makassar tergantung permintaan penumpang dan tarif tergantung dengan jarak pulau yang akan dituju. Ada yang menelepon ke nomor Pak Tiro, ada juga yang bertemu langsung dengan Pak Tiro untuk negoisasi harga pengantaran ke beberapa pulau di sekitar Kota Makassar. Kebanyakan dari mereka bertujuan untuk berwisata ke Pulau Samalona yang jaraknya sekitar 30 menit dari Dermaga Kayu Bangkoa. Tarif yang Pak Tiro tetapkan ada perbedaan antara wisatawan lokal dan wisatawan asing, yang ia tetapkan untuk wisatawan asing lumayan lebih mahal.

Pak Tiro bercerita walaupun ia menetapkan tarif wisatawan asing lebih mahal dari wisatawan lokal, Pak Tiro lebih menyukai mengantar wisatawan lokal karena menurut Pak Tiro wisatawan asing pelit, “Bule biasanya sekke,” kata Pak Tiro sambil tertawa. Namun, tidak jarang Pak Tiro mengantar wisatawan asing. Ketika mengantar wisatawan terkadang Pak Tiro menjadi agen penghubung antara budaya lokal dan wisatawan karena selama di perjalanan Pak Tiro biasanya menyampaikan berbagai pengetahuan yang ia ketahui tentang suatu pulau yang ia sering kunjungi.

Remaja Pappalimbang

Berbeda dari Pak Tiro yang sejak dulu mencintai profesi pappalimbang, bagi Putra, pappalimbang merupakan salah satu jalan untuk melanjutkan hidupnya. Putra merupakan remaja berumur 17 tahun yang bekerja keras demi menghidupi kedua orangtuanya. Putra rela putus sekolah demi membiayai pengobatan kedua orangtuanya yang sakit-sakitan. Seperti anak-anak yang lainnya, Putra sangat ingin melanjutkan pendidikannya. Putra yang seharusnya sudah duduk di bangku SMA merelakan masa remajanya demi membantu kedua orangtua.

Putra memilih menjadi pappalimbang karena merasa harus membantu orang tuanya yang sudah tidak mampu bekerja. Orangtua Putra sudah tak mampu lagi menyekolahkan Putra akibat keterbatasan ekonomi. Putra sangat ingin bersekolah tetapi karena keterbatasan biaya, ia terpaksa menjalani hidupnya tanpa melanjutkan pendidikannya. “Sekolah kan juga butuh biaya apalagi orang tua sekarang sakit-sakitan dan sudah tidak bisa membiayai buat sekolah,” ujar Putra. Ketika ditanya kenapa tidak sekolah sambil bekerja saja, kata Putra dia tidak bisa karena menurutnya kurang efektif untuk mencari uang lebih apalagi untuk membiayai orangtuanya, dan kalau bersekolah tugas-tugas sekolah akan keteteran. Ayah Putra dulunya berprofesi sebagai nelayan yang langsung menjual hasil tangkapannya. Sedangkan ibunya menjual kue, itupun kue yang ia jual merupakan milik orang lain. Ibu Putra hanya keliling di sekitar rumah untuk menjualnya, tetapi karena sakit akhirnya berhenti bekerja.

Putra hidup sederhana bersama kedua orang tuanya di sebuah kontrakan rumah yang berada di Pulau Lae-Lae. Sebelum tinggal di Pulau Lae-Lae, Putra dan kedua orang tuanya tinggal di salah satu daerah yang ada di Makassar. Putra memiliki satu saudara kandung, dan dua saudara tiri. Kedua saudara tiri Putra sudah berkeluarga dan memiliki anak. Kedua saudara Putra tinggal masing-masing bersama keluarga kecil mereka, walaupun berbeda ibu dengan Putra mereka juga tidak sungkan membantu Putra dalam urusan dapur. Putra memiliki adik kandung yang tinggal di Selayar bersama neneknya.

Putra menjadi pappalimbang sejak duduk di bangku SMP, ia mengikuti jejak kakaknya yang menjadi pappalimbang. Perahu yang Putra gunakan untuk mencari nafkah merupakan perahu milik kakak tirinya. Penghasilan yang Putra dapatkan dari hasil mencari penumpang ia bagi dua bersama sang kakak. Putra mendapat seratus ribu perhari, kadang juga dua ratus lima puluh ribu perhari tergantung banyaknya penumpang. Penghasilan Putra seratus ribu maupun dua ratus lima puluh ribu tadi masih kotor karena dibagi dua lagi bersama kakak dan untuk membeli bahan bakar perahu yang Putra gunakan. Hasil yang Putra dapatkan menjadi pappalimbang ia gunakan untuk membayar kontrakan yang Putra tinggali bersama dengan kedua orang tuanya, selain membayar kontrakan Putra juga membayar tagihan listrik dan air mereka.

Putra termasuk anak yang pekerja keras, selama menjadi pappalimbang Putra sudah membeli sepeda motor dari hasil jerih payahnya sendiri dan hebatnya diumur dia yang masih semuda ini. Motor yang Putra miliki biasanya ia pinjamkan ke sepupu yang sedang berkuliah. Kata Putra agar ada yang pakai karena ia sendiri jarang memakainya.

Kegiatan anak-anak sekolah Pulau Lae-Lae di pagi hari (sumber: Media Indonesia.com)

Tidak banyak remaja yang memiliki sikap yang seperti Putra, remaja yang putus sekolah demi membiayai kedua orangtua. Putra termasuk anak yang berbakti yang merelakan masa mudanya demi kedua orangtua. Remaja yang seumuran Putra biasanya menghabiskan waktunya untuk bermain, nongkrong sana-sini, tetapi Putra menghabiskan waktunya demi mencari nafkah untuk menghidupi kedua orangtuanya. Di luar sana banyak remaja yang memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik tetapi malah menyia-nyiakannya, di sisi lain ada Putra yang sangat menginginkan kesempatan tersebut.

Dilihat dari cerita di atas, pappalimbang memiliki peran yang penting dalam masyarakat karena selain sebagai jasa transportasi penyeberangan dan pengangkutan bahan-bahan pokok, pappalimbang juga dapat menjadi salah satu profesi alternatif bagi sebagian orang yang ingin melanjutkan hidupnya. Sekarang pappalimbang semakin banyak karena banyak nelayan yang berubah profesi menjadi pappalimbang karena menurut mereka pekerjaan ini tidak terlalu berat dan santai kerjanya, dibanding nelayan yang harus mencari tangkapan di laut lepas. Sebagian juga karena faktor umur yang sudah tidak bisa melaut. Belum juga dengan penghasilan sebagai nelayan yang tidak menentu dan akan jauh dari keluarga.

Banyak yang menggeluti profesi ini juga karena pappalimbang sebagai pekerjaan yang sudah diwariskan turun menurun, dan tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Semua bisa menjadi pappalimbang jika mereka mampu mengemudikan kapal. Pendidikan minim, kurangnya keahlian, dan ketatnya persaingan, tidak sedikit orang yang melakukan pekerjaan apapun demi menghidupi keluarga mereka. Di luar sana banyak sekali pekerjaan yang dianggap remeh dimasyarakat padahal pekerjaan yang dianggap remeh tersebut merupakan pekerjaan yang orang lain muliakan karena pekerjaan tersebut mereka dapat melanjutkan hidup dan menjadi pahlawan bagi keluarga mereka. Saya belajar banyak tentang kehidupan dari pappalimbang.